You are on page 1of 20

DAFTAR ISI

Kata Pengantar..............................................................................................................................i
Daftar Isi......................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................................................1
B. Tujuan........................................................................................................................1
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Bronkiektasis...........................................................................................2
B. Etiologi Bronkiektasis................................................................................................3
C. Patofisiologi bronkiektasis.........................................................................................3
D. Manifestasi klinis.......................................................................................................5
E. Pemeriksaan diagnostik.............................................................................................6
F. Penatalaksanaan…………………………………………………………………...8
G. Asuhan Keperawatan…………………………...………………..
…………………….......9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………………………….….16
B. Saran…………………………………………………………….………….……..16
DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar belakang

DIKERTAS FOTOCOPI Ummi yg udh dilingkarin

B.Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan
diagnostik dari bronkiektasis

2. Untuk mengetahui bagaimana cara penatalaksanaan pada bronkiektasis

3. Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien bronkiektasis

4. Untuk dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan bronkiektasis

aspirasi benda asing. influenza. campak. . dan pembesaran nodus limfe.Pengertian Bronkiektasis Bronkiektasis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya dilatasi bronkus yang bersifat patologis dan berlangsung kronik. Bronkietaksis adalah dilatasi bronki dan bronkiolus kronis yang mungkin disebabkan oleh berbagai kondisi. dan gangguan immunodefisiensi. Individu mungkin mempunyai predisposisi terhadap bronkietaksis sebagai akibat infeksi pernafasan pada masa kanak- kanaknya. Bronkiektasis adalah dilatasi permanen abnormal dari salah satu atau lebih cabang-vabang bronkus yang besar ( Barbara E. atau massa yang menghambat lumen bronchial dengan obstruksi ( Hudak & Gallo.Klasifikasi Bronkiektasis Berdasarkan atas bronkografi dan patologi bronkiektasis dapat dibagi menjadi 3 yaitu : 1. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. dengan akibat lender menyumbat bronchial dan mengarah pada atelektasis.1997). aspirasi benda asing. (sumber buku pustaka) B. termasuk infeksi paru dan obstruksi bronkus. tuberkulosis. bronkiektaksis dapat terjadi ketika pasien tidak mampu untuk batuk secara efektif. dan tekanan akibat tumor. Bronkiektasis silindris 2. muntahan. atau benda-benda dari saluran pernafasan atas. Bronkiektasis kistik atau sakular. pembuluh darah yang berdilatasi. 1998). Setelah pembedahan. Bronkiektasis berarti suatu dilatasi yang tak dapat pulih lagi dari bronchial yang disebabkan oleh episode pneumonitis berulang dan memanjang. Bronkiektasis fusiform 3.

(Soeparman & Sarwono W. Pada waktunya pasien mengalami infusiensi pernafasan dengan penurunan kapasitas vital. Bronkiektaksis biasanya setempat. penurunan ventilasi. setiap tuba yang berdilatasi sebenarnya adalah abses paru. dan peningkatan rasio volume residual terhadap kapasitas paru total. yang eksudatnya mengalir bebas melalui bronkus. 1998) D. Retensi sekresi dan obstruksi yang diakibatkannya pada akhirnya menyebabkan alveoli di sebelah distal obstruksi mengalami kolaps (atelektasis). Etiologi Bronkiektasis 1. batuk rejan. Terjadi kerusakan campuran gas yang di inspirasi (ketidakseimbangan ventilasi-perfusi) dan hipoksemia. Sering penderita mempunyai riwayat pneumoni sebagai komplikasi campak. sehingga alam kasus bronkiektasis sakuar.C. menyebabkan kehilangan struktur pendukungnya dan menghasilkan sputum kental yang akhirnya dapat menyumbat bronki. Lobus yang paling bawah lebih sering terkena. Infeksi 2. Kelainan heriditer atau kelainan kongenital 3. Jaringan parut atau fibrosis akibat reaksi inflamasi menggantikan jaringan paru yang berfungsi. Patofiologi Bronkiektasis Infeksi merusak dinding bronchial. menyerang lobus atau segmen paru. atau penyakit menular lainnya semasa kanak-kanak. Infeksi meluas ke jaringan peribronkial. Faktor mekanis yang mempermudah timbulnya infeksi 4. Dinding bronchial menjadi teregang secara permanen akibat batuk hebat. (Sumber buku perpus) .

tidak efektif bersihan jalan nafas b/d peningkatan produksi secret .resiko tinggi penyebaran infeksi b/d proses penyakit kronis.gangguan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli . Batuk rejan) produksi sputum me Merusak dinding bronchial klien kesulitan bernafas Peningkatan secret di bronkus Kuman berkembang Obstruksi saluran nafas Sesak. produksi sputum .perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual. batuk tekanan intra pulmoner Dx: . malnutrisi . PATOFISIOLOGI WOC BRONKIEKTASIS INFEKSI KELAINAN HEREDITER FAKTOR MEKANIS RIWAYAT PNEUMONIA (Campak. muntah.

2. Batuk yang terus menerus dengan sputum yang banyak kurang lebih 200 . Batuk dengan sputum menyertai batuk pilek selama 1-2 minggu atau tidak ada gejala sama sekali ( Bronkiektasis ringan ) 3. 69 % penderita berumur kurang dari 20 tahun. lapisan tengah yang bening. Hemoptisis 3.D. setelah tiduran dan berbaring. Jari tabuh Jari tabuh karena insufiensi pernafasan. anemia. penurunan berat badan.300 cc. Bronkiektaksis tidak mudah didiagnosis karena gejala-gejalanya dapat tertukar dengan bronchitis kronik. Gambaran Klinis Bronkiektasis Bronkiektasis merupakan penyakit yang sering dijumpai pada usia muda. sputum sering mengandung bercak darah. Batuk yang menahun dengan sputum yang banyak terutama pada pagi hari. . Tanda dan Gejala 1.dan batuk darah. berat. Batuk kronik Batuk kronik karena pembentukan sputum purulen dalam jumlah yang sangat banyak. Manifestasi Klinis 1. Gejala dimulai sejak masa kanak-kanak. 2. dan lapisan bawah berpartikel tebal. Pasien hampir pasti mengalami infeksi paru berulang. 60 % dari penderita gejalanya timbul sejak umur kurang dari 10 tahun. Spesimen sputum akan secara khas “membentuk lapisan” menjadi tiga lapisan dari atas: lapisan atas berbusa. dan lemah badan kadang-kadang sesak nafas dan sianosis. Gejalanya tergantung dari luas. nyeri pleura. tidak ada nafsu makan. lokasi ada atau tidaknya komplikasi. disertai demam.

Biakan sputum dapat menghasilkan flora normal dari nasofaring. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum meliputi volume sputum. 2003) E. . a. warna sputum. c. Pemeriksaan darah tepi. Apabila ditemukan sputum berbau busuk menunjukkan adanya infeksi kuman anaerob. (Sylvia S. Biasanya ditemukan dalam batas normal. aerobakter. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik 1. d. stapilokokus aereus. Wilson. Pemeriksaan EKG EKG biasa dalam batas normal kecuali pada kasus lanjut yang sudah ada komplikasi korpulmonal atau tanda pendorongan jantung. kadang ditemukan adanya proteinuria yang bermakna yang disebabkan oleh amiloidosis. sel-sel dan bakteri dalam sputum. dan menjadi purulen dan mengandung lebih banyak leukosit dan bakteri.4. b. pseudomonas aeroginosa. klebsiela. Prince & Loranine M. Pemeriksaan Laboratorium. Pemeriksaan urine Ditemukan dalam batas normal. Imunoglobulin serum biasanya dalam batas normal kadang bisa meningkat atau menurun. hemofilus influenza. Kadang ditemukan adanya leukositosis menunjukkan adanya supurasi yang aktif dan anemia menunjukkan adanya infeksi yang menahun. streptokokus pneumoniae. Ditemukan jari-jari tabuh pada 30-50 % kasus.proteus. Bila terdapat infeksi volume sputum akan meningkat.

Paling banyak mengenai lobus paru kiri. Kenaikan perbedaan tekanan PO2 alveoli-arteri 3.kadang-kadang ada gambaran sarang tawon serta gambaran kistik dan batas-batas permukaan udara cairan.e. g. Bronkografi dilakukan setelah keadaan stabil. karena mempunyai diameter yang lebih kecil kanan dan letaknya menyilang mediastinum. Hipoksemia 4. Foto dada PA dan Lateral Biasanya ditemukan corakan paru menjadi lebih kasar dan batas-batas corakan menjadi kabur. mengelompok. Spirometri Spirometri pada kasus ringan mungkin normal tetapi pada kasus berat ada kelainan obstruksi dengan penurunan volume ekspirasi paksa 1 menit atau penurunan kapasitas vital. Pemeriksaan bronkografi Bronkografi tidak rutin dikerjakan namun bila ada indikasi dimana untuk mengevaluasi penderita yang akan dioperasi yaitu penderita dengan pneumoni yang terbatas pada suatu tempat dan berulang yang tidak menunjukkan perbaikan klinis setelah mendapat pengobatan konservatif atau penderita dengan hemoptisis yang pasif. Ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi 2. (Marylin E doengoes. biasanya disertai insufisiensi pernafasan yang dapat mengakibatkan : 1. setelah pemberian antibiotik dan postural drainage yang adekuat sehingga bronkus bersih dari sekret.segmen lingual lobus atas kiri dan lobus medius paru kanan. Hiperkapnia f. 2000) .

meningkatkan sekresi bronchial.F. 5. meski tidak sering dilakukan. Pasien harus tidak merokok. Untuk meningkatkan pengeluaran sputum. 2. Objektif dari pengobatan adalah untuk mencegah dan mengontrol infeksi serta untuk meningkatkan drainase bronchial untuk membersihkan bagian paru yang sakit atau paru-paru dari sekresi yang berlebihan. 4. Simpatomimetik. Beberapa dokter meresepkan antibiotic sepanjang musim dingin atau ketika terjadi infeksi saluran pernafasan atas. karena merokok merusak drainase bronchial dengan melumpuhkan aksi siliaris. Intervensi bedah. Drainase postural pada awalnya dilakukan untuk periode singkat dan kemudian ditingkatkan dengan pasti. Drainase postural dari tuba bronchial mendasari semua rencana pengobatan karena drainase area bronkiektaksis oleh pengaruh gravitasi mengurangi jumlah sekresi dan tingkat infeksi. 1. (kadang-kadang sputum mukopurulen harus dibuang dengan bronkoskopi). dan menyebabkan inflamasi membrane mukosa. 3. Penatalaksanaan Bronkiektasis Tujuan pengobatan adalah memperbaiki drainase sekret dan mengobati infeksi. Pasien mungkin dimasukkan ke dalam regimen antibiotic yang berbeda pada interval yang bergantian. terutama Beta-adrenergik. mungkin diperlukan bagi pasien yang secara kontinu mengeluarkan sputum dalam jumlah yang sangat besar dan mengalami . Pasien harus divaksinasi terhadap influenza dan pneumonia pneumokokus. Daerah dada yang sakit mungkin diperkusi atau di “tepuk-tepuk” untuk membantu melepaskan sekresi. Infeksi dikendalikan dengan terapi antimikroba didasarkan pada hasil pemeriksaan sensitivitas pada organisme yang di kultur dari sputum. dapat digunakan untuk meningkatkan transfort sekresi mukosiliaris. Face tent baik untuk member kelembaban ekstra terhadap aerosol. mengakibatkan hyperplasia kelenjar mukosa. kandungan air dari sputum ditingkatkan dengan tindakan aerosolized nebulizier dan dengan meningkatkan masukan cairan peroral. Bronkodilator dapat diberikan pada individu yang juga mengalami penyakit obstruksi jalan nafas. Pasien dengan bronkiektasis hampir selalu mempunyai kaitan dengan bronchitis.

Tujuannya adalah untuk memungkinkan agar percabangan trakeobronkial kering (sekering mungkin) untuk mencegah komplikasi (atelektasis. Tujuan tindakan pembedahan dalah untuk menjaga jaringan paru normal dan menghindari komplikasi infeksius. Keuntungan utama dari tindakan iini adalah bahwa hanya jaringan yang sakit saja yang diangkat dan jaringan paru yang sehat terpelihara. dan emfisema). serbuk sari atau jamur) . Asuhan Keperawatan Bronkiektasis 1. Pengkajian Data Dasar A. sehingga fungsi paru pascaoperatif akan adekuat. Riwayat atau adanya faktor-faktor penunjang 1) Merokok produk tembakau sebagai faktor penyebab utama 2) Tinggal atau bekerja di daerah dengan polusi udara berat 3) Riwayat alergi pada keluarga B. Pembedahan didahului dengan periode persiapan operasi yang cermat. pneumonia. (Sumber buku pustaka) G. dengan suksion langsung melalui bronkoskop. Riwayat atau adanya faktor-faktor pencetus eksaserbasi seperti : 1) Allergen ( serbuk. penyakit pneumonia dan hemoptisis berulang meskipun kepatuhan pasien terhadap regimen pengobatan. Tujuan ini dicapai dengan cara drainase postural atau tergantung pada letak abses. Namun demikian. penyakit harus hanya mengenai satu atau dua daerah paru yang dapat diangkat tanpa menyebabkan insufiensi pernafasan. lobus (lobektomi). Mungkin ada baiknya untuk mengangkat suatu segmen lobus (reseksi segmental). kulit. atau keseluruhan paru (pneumonnektomi). Serangkaian terapi abtibakterial mungkin diresepkan. debu. Semua jaringan yang sakit diangkat. Bronkografi membantu dalam menggambarkan segmen paru. Reseksi segmental adalah pengangkatsubdivisi anatomi dari lobus paru. fistula bronkopleura.

7) Kaji tingkat kesadaran. Bila produktif tentukan warna sputum. Pernafasan cuping hidung 5) Kaji ekspansi dada : simetris/ asimetris 6) Kaji batuk : produktif/ nonproduktif. Pemeriksaan diagnostik meliputi : 1) Gas darah arteri (GDA) menunjukkan PaO2 rendah dan PaCO2 tinggi . Pemeriksaan fisik berdasarkan fokus pada system pernafasan yang meliputi : 1) Kaji frekuensi dan irama pernafasan: RR meningkat/ menurun/ normal 2) Inspeksi warna kulit dan warna menbran mukosa: pucat/ sianosis/ ikterik 3) Auskultasi bunyi nafas: vesikuler/ wheezing/ ronchi 4) Pastikan bila pasien menggunakan otot-otot aksesori bila bernafas : a. D. Retraksi otot-otot abdomen pada saat bernafas c. 2) Sress emosional 3) Aktivitas fisik yang berlebihan 4) Polusi udara 5) Infeksi saluran nafas 6) Kegagalan program pengobatan yang dianjurkan C. Mengangkat bahu pada saat bernafas b.

Kaji persepsi diri pasien F. 2000) 2. 2000) 3. Intervensi Keperawatan Bronkiektasis 1) Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret. (Marylin E doengoes. Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret atau sekresi kental 2. 6) Tes hemoglobolin E. Diagnosa Keperawatan Bronkiektasis 1. 2) Sinar X dada memunjukkan peningkatan kapasitas paru dan volume cadangan 3) Klutur sputum positif bila ada infeksi 4) Esei imunoglobolin menunjukkan adanya peningkatan IgE serum 5) Tes fungsi paru untuk mengetahui penyebab dispneu dan menentukan apakah fungsi abnormal paru ( obstruksi atau restriksi). dispneu. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah. (Marylin E doengoes. sekret kental. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli 3. Kaji berat badan dan masukan rata-rata cairan dan diet. .produksi sputum.

Catat rasio inspirasi dan ekspirasi Tachipneu biasanya ada pada beberapa derajat dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ proses infeksi akut. 4. Misalnya mengi. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas Derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat /tak dimanisfestasikan adanya bunyi nafas. Rencana Tindakan : 1. Kaji /pantau frekuensi pernafasan. Pernafasan melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi 2. ronchi.Tinggi kepala tempat tidur dan duduk pada sandaran tempat tidur Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan mempergunakan gravitasi. Observasi karakteriktik batuk dan Bantu tindakan untuk efektifan upaya batuk . krekels. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman. 3.Tujuan : Mempertahakan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas. Bantu latihan nafas abdomen atau bibir Untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara 5. Kriteria hasil : Menujukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas ( batuk yang efektif. dan mengeluarkan secret). Dan mempermudah untuk bernafas serta membantu menurunkan kelemahan otot- otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.

8. tidak dispneu. tidak ada batuk. Berikan obat sesuai indikasi Mempercepat proses penyembuhan. Cairan antara makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekana diafragma. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli. Kriteria : GDA dalam batas normal. frekuensi nafas 12. Kaji frekuensi.cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. .mempermudah pengeluaran. 7. 2. Tingkatan masukan cairan sampai 3000ml/hari sesuai toleransi jantung serta berikan hangat dan masukan cairan antara sebagai penganti makan Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret. frekuensi nadi 60-100x/mt. Pertahankan polusi lingkungan minimum Misalnya. Tujuan : Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. kedalaman pernafasan serta catat penggunaan otot aksesori untuk mengevaluasi derajat distress pernafsan/ kronisnya suatu penyakit.Mengetahui keefektifan batuk. dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu. asap. debu. bunyi nafas bersih. Rencana Tindakan : 1.24x/mt. warna kulit membaik. 6.

dispneu.2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah. 3. Dorong untuk pengeluaran sputum/ penghisapan bila ada indikasi Sputum menganggu proses pertukaran gas serta penghisapan dilakukan bila batuk tidak efektif. Tingikan kepala tempat tidur dan Bantu untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas . Awasi tanda vital dan status jantung Perubahan tekanan darah menunjukkan efek hipoksia sistemik pada fungsi jantung 6.Kaji / awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa Suplai oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas. 4. Rencana tindakan : . 3.produksi sputum. Awasi tingkat kesadaran / status mental Manisfestasi umum dari hipoksia 5. Berikan oksigen tambahan dan pertahankan ventilasi mekanik dan Bantu intubasi Dapat memperbaiki atau mencegah terjadinya hipoksia dan kegagalan nafas serta tindakan untuk penyelamatan hidup. Tujuan : Peningkatan dalam status nutrisi dan berta badan pasien Kriteria hasil : Pasien tidak mengalami kehilangan berat badan lebih lanjut atau mempertahankan berat badan.

Untuk mengidentifikasi adanya kemajuan atau penyimpangan dari yang diharapkan 2. jika tidak mendapat infus.lingkungan yang bebas dari bau selama waktu makan suasana dan lingkungan yang tak sedap selama waktu makan dapat meyebakan anoreksia 3. 2000) . untuk mengatasi dehidrasi pada pasien. Dorong klien untuk minum minimal 3 liter cairan perhari. 4. jumlah makanan yang dikonsumsi serta timbang berta badan tiap minggu. (Marylin E doengoes. Rujuk pasien ke ahli diet untuk memantau merencanakan makanan yang akan dikonsumsi Dapat membantu pasien dalam merencanakan makan dengan gisi yang sesuai. Pantau masukan dan keluaran tiap 8 jam. Ciptakan suasana yang menyenangkan .1.

penyebab. bagaimana cara penatalaksanaan serta tindakan keperawatan yang bisa dilakukan. Amin. BAB III PENUTUP A. dan juga untuk mendapatkan penyuluhan keesehatan tentang bronkiektasis. oleh karena itu saran dari semua dosen pengajar dan teman-teman yang membangun kami untuk lebih baik kedepannya.SARAN Dalam makalah kami ini mungkin terdapat kekurangan. . oleh karena itu individu yang mengalami bronkiektasis atau mengalami tanda dan gejala dari bronkiektasis segera melakukan tindakan lanjut. B.KESIMPULAN Dari pengertian di atas dapat diketahui apa itu bronkiektasis. tanda dan gejala. yaitu dengan datang kedokter maupun rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya.

Jakarta. EGC. Marilynn E.com (internet) tambah lgi dgn buku perpus n buku nic . Rencana Asuhan keperawatan Medikal. Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. www. (2000).penyakit bronkiektasis. Jakarta Doengoes. EGC.(1999). DAFTAR PUSTAKA Barbara E.Bedah Volume I..

0040)  ARIS KURNIAWAN (0.TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH “BRONKIEKTASIS” DISUSUN OLEH:  ADINDA DWITAMI LESTARI (0.0041) .1.3.8.0.3.1.0.8.

8. Kep. Sp. KMB PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (PSIK) STIKes PAYUNG NEGERI PEKANBARU T.1.0042) TINGKAT: III B Dosen Pembimbing: Ns.3. 2010 .0. Sri Yanti M.A.  AYU ASTUTI (0.