You are on page 1of 3

Aku memandang peta yang berukuran agak besar yang menempel di

dinding meja kerjaku, menghela nafas perlahan dan melepas kacamata
bacaku. “Kalau tiap minggu begini, bisa gila kali ya,” tuturku perlahan
dengan nada frustasi. Hampir setiap akhir minggu aku habiskan dengan
menyelesaikan pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya dari bosku,
pernah sekali aku berpikir lari dari pekerjaanku dan pergi kemana dimana
tidak ada macet dan terdapat udara segar agar bisa merelaksasikan
tubuhku yang sepertinya sudah tidak bisa bekerja terus-terusan ini. Aku
butuh istirahat, tetapi banyak tanggung jawab yang harus aku penuhi.

“Di, kamu masih kerja?” Teman sekamarku muncul dari balik pintu yang
baru saja pulang entah dari mana. “Kamu terlihat seperti membutuhkan
hidup yang nyata, ingin aku bikinkan makanan?” Tanyanya lagi.

“Udah makan kok, thanks.” Jawabku singkat. Aku sudah sangat ngantuk
dan ingin segera menyambar tempat tidurku yang terlihat sangat nyaman.
Teman ku pun mengangguk dan hilang dari balik pintu.

Setelah menyambar tempat tidur ku dan merasa dalam posisi yang
sangat nyaman, tiba-tiba rasa kantukku pun hilang, tetapi masih ada rasa
lelah pada tubuhku. Aku mencoba untuk menutup mataku,
membayangkan hal yang membuatku merasa rileks dan terlelap tidur.

***

“Di, kalau udah besar mau jadi apa?” Tanya suara yang sangat aku
kenal itu, Mama.

“Odi mau jadi penjelajah dunia Ma,” balasku ceria dalam suara yang
masih berumur 7 tahun. “Odi mau beli hot dog di Amerika, lihat bunga-
bunga cantik di Belanda, dan naik kapal-kapalan di Venice.”

“Kok kamu bisa tahu hal-hal seperti itu, Di? Di sekolah udah di ajarin?”

“Udah Ma, Michael Jackson tinggal di Amerika kan,” balasku polos.
Suara tawa Mama memenuhi ruangan, rasanya tidak ada suara yang lebih
merdu dari suara tawa Mama.

“Lucu kamu Odi, berarti kalau Michael Jackson tinggal di Indonesia,
kamu nggak usah jauh-jauh ke Amerika dong?” Tanya Mama lagi.

“Odi tetap mau ke Amerika, Ma. Mau makan hot dog, kata guru Odi
makanan disana enak-enak, banyak permen warna-warni.”

“Kalau begitu Odi mesti belajar bener-bener biar bisa beneran keliling
dunia dan ngerasain semua makanan enak sampai kenyang ya,” ucap
Mama pelan sambil mengelus kepalaku dengan lembut. Aku tersenyum.

***

“Di, Di! Bangun, udah jam 9 nih kamu nggak telat apa?” Seru teman
sekamarku yang sibuk mengguncang badanku. Aku membuka mataku
perlahan dan menyeringit karena sinar matahari yang sangat cerah dari
jendela, menengok ke arah jam dan memang benar sudah jam 9 pagi.

Bas. Di. “Tapi ini tidur ternyenyak kamu yang pernah aku liat deh. capek banget nih kayak zombie kerjanya kayak laki nggak habis-habis. segera mengirim pekerjaanku lewat email. lewat telepon tapi tadi dia nyuruh aku ke kantor ntar jam 3. Aku memang mimpi indah. Ta? Kebanyakan nonton film nih.” Ucapku cemas.” “Duh Bas. ngagetin aja sih. “Kalimantan.” “Sorry deh. kalau nggak bisa kacau nih. kan dongkol. Di? Kok kamu butek?” Canda Ubas. “Ta. Nggak tau ya?” “Seriously? Dayak? Katanya orang-orang Dayak terkenal cantik dan putih gitu kan. lagi kepikiran mau ambil cuti. pengen pulang kampung.” curhatku. ambil cuti satu tahun aja kayak di film Eat. “Untung aja kamu bangungin Ta.” aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke dapur untuk mencari sarapan. “Terus kapan kamu mau ambil cuti? Udah bilang sama Popis belum?” “Sebenernya udah ngomong sih Bas. kamu cari sarapan diluar aja dulu Di. “Deadline!” Aku bangkit dari kasur dan menyambar laptop. “wah bagus tuh. tetapi tidak ada hubungannya dengan lelaki.” “Lagian orang lagi ngomong panjang kali lebar malah bengong.” sarannya. Entah darimana kata-kata itu berasal.” balasku perlahan. Love terus kamu jalan-jalan ketemu orang baru sampai akhirnya jatuh cinta di Bali.” balasnya senang. asli suku Dayak.” dia menjelaskan sembari mengambil air mineral. “Kamu kok malah nyamain film sih. “kamu kenapa sih? Melamun mulu. Di. *** “Di!” Seru Ubas sambil memukul bahuku perlahan. mereka hanya keluar begitu saja dari mulutku. jadi habis deh hehe. “Kok aku agak takut ya.” ucapku lega kepada Gheta. Gheta tersenyum. . Pray. aku tertawa kecil. “Ntar aku belanja lagi deh. tidak menjawab. “tadi malam anak-anak pada main kesini terus pada lapar dan malas keluar. “Hah? Pulang kampung? Ke mana? Bukannya kampung kamu disini ya?” Tanya Gobas bingung dengan perkataanku. Kamu mimpi apaan semalam? Mimpi tentang cowok nih? Iya ya?” Godanya.” balasku.. Mama aku lahir disana. Aku tertawa. “Ngomong-ngomong kok nggak ada makanan? Bukannya habis belanja keperluan dapur tiga hari yang lalu ya?” Tanyaku. kayaknya aku mau ambil cuti deh. Gheta mengangguk- ngangguk. Dengan langkah malas aku bersiap-siap untuk mencari sarapan diluar.

aku harus menempuh kira-kira setengah sampai satu jam untuk sampai di Pampang. badai kayak anak-anak yang lagi eksis sekarang. Gheta berada di depan laptop hanya untuk menyaksikan para beauty vlogger di salah satu website terkenal. Aku benar-benar berterima kasih kepada atasanku yang dengan baik hati memberikan aku cuti. Hari ini aku akan pergi cuti ke Kalimantan. yaitu Bandara Soekarno-Hatta. . “Udah semua. Gheta selalu mengetahui perkembangan zaman. Udah lengkap kecuali catokan. kampung halaman Mama. “Barang-barang kamu udah semua. ngapain aku bawa catokan?” “Biar rambut kamu badai Di. salah satu jembatan yang terkenal di Kalimantan. entah karena bawaan kerja sehingga membuatku kehilangan tenaga atau sesuatu yang lain. jam 9 nih belum macetnya ntar telat! Bye Ta! Jaga diri ya. Di? Nggak ada yang ketinggalan? Alat mandi? Baju tidur? Make up? Catokan? Charger?” Tanya Gheta memastikan. Aku hanya bisa tersenyum kecil. *** “Okay siap berangkat!” Seru ku dengan penuh antusias. lalu aku mulai melewati Masjid Islamic Center yang merupakan salah satu Masjid terbesar di Asia Tenggara. bisa berubah jadi zombie kamu lama-lama. aku melewati jembatan Mahakam. walaupun tidak lama tetapi aku rasa itu sangat cukup. sekarang tempat tersebut sudah menjadi tempat wisata tetapi disitulah Mama dulu lahir dan meranjak dewasa sampai bertemu dengan Papa. “Kalau Popis sampai nggak ngasih kamu cuti. “Ya ampun. tapi aku tidak tahu apa itu. Aku masuk dalam taksi dan menyebut tempat tujuanku. Pesawatku berangkat pada pukul 10.45 dari Jakarta ke Balikpapan dan harus menempuh perjalanan memakai mobil ke Samarinda selama 2 jam.” tutur Ubas tanpa henti. aku nggak ngerti lagi. Ta.” balasnya sambil tertawa. Begitu taksi melaju dan mulai memasuki Samarinda.” ucapku sambil menarik koper dan memberi pelukan ke Gheta sesaat. Di Samarinda. sedangkan aku hanya terus-terusan bertatap muka dengan layar laptop menyelesaikan data-data yang diberi oleh atasanku. Perjalanan yang cukup jauh untuk ditempuh. Kerjaan kamu udah kayak kerja rodi. nggak ada berhentinya.