You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini kegiatan berwisata sudah menjadi salah satu life style (gaya

hidup) di masyarakat dunia. Meningkatnya perekonomian masyarakat dan faktor

kejenuhan akan pekerjaan menuntut masyarakat modern untuk berkreasi ataupun

berwisata untuk menghilangkan kepenatan maupun berkumpul bersama keluarga.

Lebih dari enam dekade terakhir, pariwisata telah mengalami ekspansi dan

diversifikasi terus menerus, menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar dengan

pertumbuhan tercepat di dunia. Banyak destinasi baru telah bermunculan dan

memberikan tantangan bagi destinasi tradisional yang telah ada selama ini

(Pramno. J, 2013)

Pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan hal yang sangat penting

dicapai karena setiap negara menginginkan adanya proses perubahan

perekonomian yang lebih baik dan ini akan menjadi indikator keberhasilan suatu

negara. Menurut HDI (Human Development Indeks) atau dalam bahasa indonesia

disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Pembangunan manusia di Indonesia

pada tahun 2015 terus mengalami peningkatan yang mana telah mencapai angka

69,55. Angka ini meningkat sebesar 0,65 poin dibandingkan dengan IPM pada

tahun 2014 yang hanya mencapai 68,90. Selama periode 2014 hingga 2015,

komponen pembentuk IPM juga mengalami peningkatan. Bayi yang baru lahir
memiliki peluang untuk hidup hingga 70,78 tahun, meningkat 0,19 tahun

dibandingkan tahun sebelumnya. Anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk

bersekolah selama 12,55 tahun, meningkat 0,16 tahun dibandingkan pada 2014.

Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh

pendidikan selama 7,84 tahun, meningkat 0,11 tahun dibandingkan tahun

sebelumnya. Pengeluaran per kapita disesuaikan (harga konstan 2012) masyarakat

telah mencapai Rp 10,15 juta rupiah pada tahun 2015, meningkat Rp 247 ribu

rupiah dibandingkan tahun sebelumnya (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2015)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembangunan

ekonomi yaitu faktor sumber daya manusia, sumber daya alam, ilmu pengetahuan

dan teknologi, faktor budaya dan daya modal. Lalu jika melihat bagaimana

Indonesia mengelola kelima faktor tersebut, beberapa faktor masih belum dapat

dimaksimalkan. Untuk itu Indonesia bersama sembilan negara lainnya di kawasan

ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) membentuk ASEAN Economic

Community 2015 atau lazim disebut Masyarakan Ekonomi ASEAN. Salah satu

upaya yang dilakukan Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi ialah

melalui sektor pariwisata.

Sebagai destinasi pariwisata, nama Pulau Bali cukup diperhitungkan di

mata dunia, sehingga Bali bisa disebut sebagai salah satu amunisi yang dimiliki

Indonesia untuk bersaing dalam pariwisata di dunia. Sebagai salah satu tujuan

wisata, Bali mempunyai potensi alam yang mampu menarik minat wisatawan

untuk mengunjunginya. Salah satu dari sekian banyak potensi alam tersebut

adalah Pantai Kuta. Pantai Kuta yang terletak di wilayah Kabupaten Badung
bagian selatan merupakan salah satu pantai yang ramai dikunjungi karena

memiliki pasir pantai yang putih bersih, pemandangan matahari terbenam (sunset)

serta ombaknya yang sangat cocok untuk melakukan aktifitas selancar (surfing)

(Suryawan & Kusuma, 2016).

Tingginya aktivitas wisatawan untuk mengunjungi Pantai di Bali membuat

potensi untuk terjadinya kecelakaan saat beraktivitas di pantai juga sangat tinggi.

Jika dilihat dari data secara global, menurut laporan dari CDC (Centers of Disease

Control and Prevention) yang merupakan badan Departemen Kesehatan dan

Layanan Masyarakat Amerika Serikat, menyebutkan bahwa angka kejadian

kecelakaan pantai di perairan Amerika Serikat khususnya dengan kasus tenggelam

dari tahun 2005-2014 tergolong cukup tinggi dengan rata-rata 3.536 kasus terjadi

dalam tiap tahun atau sekitar 10 kasus perhari yang terjadi dan berakibat fatal.

Sedangkan di Indonesia sendiri, data kasus kecelakaan pantai yang diperoleh dari

www.emaritim.com pada tahun 2016 ditemukan sejumlah 66 kasus dengan korban

156 orang. Khusus untuk wilayah Bali yang merupakan salah satu daerah

penghasil pariwisata pantai terbesar di Indonesia, khususnya untuk pantai di Kuta

yang terletak di kawasan Kabupaten Badung, ditilik dari Badan Penyelamat

Wisata Tirta (Balawista), selama tahun 2011 ditemukan 205 kasus kecelakaan

dengan jumlah korban meninggal sebanyak 4 orang. Dikatakan bahwa kecelakaan

yang dialami pengunjung Pantai Kuta yang terdiri dari wisatawan dalam dan luar

negeri itu sudah berhasil ditekan, sehingga mengalami penurunan yang cukup

signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya karena selama tahun 2010,


Balawista menangani 348 kasus dimana 12 orang diantaranya meninggal akibat

terseret arus gelombang.

Dalam hal ini peran fasilitas pelayanan kesehatan sangatlah penting terkait

dengan penanggulangan kasus kecelakaan khususnya kecelakaan pantai. Menurut

Korompit. G, (2015), pelayanan kesehatan ialah setiap upaya yang

diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk

memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan

penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atau

masyarakat. Sesuai dengan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa bentuk

dan jenis pelayanan kesehatan ditentukan oleh pengorganisasian pelayanan, ruang

lingkup kegiatan, dan sasaran pelayanan kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan

yang selama ini dikenal oleh masyarakat adalah rumah sakit dan Puskesmas.

Fasilitas pelayanan kesehatan akan meberikan tindakan rujukan sesuai dengan

tingkat kegawatan dari penyakit yang dialami oleh pasien itu sendiri. Sistem

rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang

melaksanakan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas kasus penyakit

atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik vertikal

dalam arti dari satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan

kesehatan lainnya, maupun horizontal dalam arti antara strata sarana pelayanan

kesehatan yang sama, hal ini akan mempermudah pihak fasilitas pelayanan

kesehatan dalam menolong pasien.

Namun, beberapa waktu terakhir telah terjadi sebuah ketimpangan yang

terjadi dalam sistem pelayanan kesehatan sehingga muncul sebuah fenomena


berupa peran fasilitas pelayanan kesehatan yang dirasa kurang begitu optimal

khususnya untuk wilayah Puskesmas yang mewadahi Pantai Kuta, dimana selama

ini hampir semua wisatawan yang mengalami kecelakaan di pantai lebih memilih

untuk dibawa langsung ke rumah sakit khususnya rumah sakit internasional

daripada dirujuk ke Puskesmas. Hal ini salah satunya dikarenakan para wisatawan

merasa penanganan yang diberikan oleh rumah sakit Internasional lebih cepat dan

profesional, dan juga fasilitas yang ada dirasa lebih mumpuni daripada di

Puskesmas

Dari uraian tersebut, penulis tergugah hatinya untuk melakukan penelitian

tentang Peran Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagai Rujukan Kasus Kecelakaan

Pantai di Kabupaten Badung.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini

dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah peran fasilitas pelayanan kesehatan sebagai rujukan kasus

kecelakaan pantai di Kabupaten Badung

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian tentang Peran Fasilitas Pelayanan Kesehatan

sebagai Rujukan Kasus Kecelakaan Pantai di Kabupaten Badung yaitu:

1.3.1 Tujuan Umum


Tujuan umum dari penelitian ini ialah agar peneliti mampu memahami

bagaimana peran fasilitas pelayanan kesehatan sebagai rujukan kasus kecelakaan

pantai di Kabupaten Badung

1.3.1 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini ialah:

1. Mengidentifikasi peran fasilitas pelayanan kesehatan sebagai rujukan

kasus kecelakaan pantai di Kabupaten Badung

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat

memberikan manfaat yaitu sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam

pengembangan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan agar nantinya bisa

menjadi evidence based dan menjadi referensi untuk penelitian terkait

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Rumah Sakit


Manfaat praktis penelitian ini bagi rumah sakit yaitu dapat digunakan

sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan kesehatan khususnya

kepada pasien yang mengalami kecelakaan pantai


2. Bagi Perawat
Manfaat praktis penelitian ini bagi perawat ialah perawat dapat mengambil

sikap dalam melaksanakan asuhan keperawatan optimal untuk pasien yang

mengalami kecelakaan pantai


3. Bagi Instansi Akademik
Manfaat praktis penelitian ini bagi instansi akademik yaitu dapat dijadikan

sebagai referensi dan acuan dalam memberikan pengajaran kepada anak

didik tentang kecelakaan pantai


4. Bagi Tempat Penelitian
Manfaat praktis penelitian ini bagi tempat penelitan yaitu diharapkan

pengelola pantai bisa memperoleh gambaran mengenai peran fasilitas

pelayanan kesehatan sebagai rujukan kasus kecelakaan pantai di

Kabupaten Badung

1.5 Keaslian Penelitian

Berdasarkan eksplorasi yang dilakukan oleh penulis, ditemukan beberapa

penelitian yang memiliki kemiripan dengan penelitian ini. Diantaranya:

1. Pemanfaatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah dan Swasata di

Kabupaten Sleman Yogyakarta. Jenis penelitiannya deskriptif analitik

dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional dengan unit

analisis keluarga. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah

cluster sampling dua tahap dengan jumlah sampel penelitian 240

responden yang diambil dari 30 cluster (dusun) sehingga dari setiap cluster

ditarik 8 responden. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada

penelitian ini berupa kuesioner yang dibagi menjadi enam bagian meliputi

identitas responden, pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan, status


ekonomi keluarga, persepsi akses fasilitas pelayanan kesehatan, persepsi

terhadap kualitas pelayanan kesehatan, dan persepsi sehat sakit. Analisis

data menggunakan metode analisis data katagorikal dengan uji chi-square

dengan nilai = 0,05. Kesamaan dengan penelitian yang dilakukan penulis

ialah jenis variabelnya, yaitu fasilitas pelayanan kesehatan.


2.