LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM DENGAN SECTIO CAESARIA
A. Pengertian
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono ,
2005).
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui depan perut atau
vagina. Atau disebut juga histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar, 1998).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan diatas 500 gram melalui sayatan pada
dinding uterus yang utuh (Gulardi &Wiknjosastro, 2006).
B. Etiologi
a. Indikasi Ibu
1. Panggul sempit absolute
2. Placenta previa
3. Ruptura uteri mengancam
4. Partus Lama
5. Partus Tak Maju
6. Pre eklampsia, dan Hipertensi
b. Indikasi Janin
a) Kelainan Letak
1. Letak lintang
Bila terjadi kesempitan panggul, maka sectio caesarea adalah jalan/cara yang terbaik dalam melahirkan janin dengan segala
letak lintang yang janinnya hidup dan besarnya biasa. Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan sectio
caesarea walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit. Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara lain.
2. Letak belakang
Sectio caesarea disarankan atau dianjurkan pada letak belakang bila panggul sempit, primigravida, janin besar dan berharga.
b) Gawat Janin
c) Janin Besar
c. Kontra Indikasi
a) Janin Mati
b) Syok, anemia berat.
c) Kelainan congenital Berat
C. Tujuan Sectio Caesarea
Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan
serviks dan segmen bawah rahim. Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika
perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta previa, sectio caesarea juga dilakukan untuk kepentingan
ibu, sehingga sectio caesarea dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah mati.
D. Manifestasi Klinik Post Sectio Caesaria
Persalinan dengan Sectio Caesaria , memerlukan perawatan yang lebih koprehensif yaitu: perawatan post operatif
dan pera watan post partum.Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2001), antara lain :
a. Nyeri akibat ada luka pembedahan
b. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea tidak banyak)
e. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml
f. Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan ketidakmampuan menghadapi situasi baru
g. Biasanya terpasang kateter urinarius
h. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
i. Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan muntah
j. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
k. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang paham prosedur
l. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.

Sectio Caesarea (Ismika Profunda) Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10cm Kelebihan : a) Penjahitan luka lebih mudah b) Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik c) Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi uterus ke rongga perineum d) Perdarahan kurang e) Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan lebih kecil Kekurangan : a) Luka dapat melebar ke kiri. Pendarahan disebabkan karena : a) Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka . b) Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi. dan kanan sehingga mengakibtakan pendarahan yang banyak serta keluhan pada kandung kemih. sedangkan pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan. Komplikasi a. Abdomen (SC Abdominalis) a) Sectio Caesarea Transperitonealis Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada corpus uteri y a n g m e m p u n y a i k e l e b i h a n m e n g e l u a r k a n j a n i n l e b i h c e p a t . ke kanan dan bawah sehingga dapat menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan yang banyak. b. perdarahan kurang dan kemungkinan rupture uteri spontan kurang/lebih kecil. b) Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan. bawah. Sedangkan kekurangan dari cara ini adalah infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik danuntuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri spontan. b. penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik. c) Sectio caesarea ekstraperitonealis Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartum karena ketuban yang telah pecah terlalu lama. dianjurkan supaya ibu yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. dan sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal . Jenis . c) Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi dibandingkan dengan luka SC profunda.Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC) a. Infeksi Puerpuralis a) Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja. b) Sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi atau perut sedikit kembung c) Berat : dengan peritonitis. tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik. Dan memiliki kekurangan luka dapat melebar kekiri.E. d) Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri. Rasionalnya adalah memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik. sectio caesaria dapat dilakukan apabila : a) Sayatan memanjang (longitudinal) b) Sayatan melintang (tranversal) c) Sayatan huruf T (T Insisian) d. sepsis dan ileus paralitik. Kelebihan : a) Mengeluarkan janin lebih memanjang b) Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik c) Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan : a) Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonial yang baik. e. b) Sectio caesarea profunda : dengan insisi pada segmen bawah rahim dengan kelebihan penjahitan luka lebih mudah. Sekurang -kurangnya dapat istirahat selama 2 tahun. Sectio Caesarea Klasik (korporal) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10cm. Ruptur uteri karena luka bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan. F. Vagina (sectio caesarea vaginalis) Menurut arah sayatan pada rahim. Untuk tujuan ini maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim.

Kateter biasanya terpasang 24 . Patofisiologi Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan. belajar berjalan. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan. Kateterisasi Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan diri. hari demi hari. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 .48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita. Mobilisasi a) Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi : b) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 . berupa air putih dan air teh. dan saraf . d. dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. H. Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya perut pada dinding uterus. emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonalisasi terlalu tinggi. Selain itu. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi c. b. Pemberian cairan Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi. misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis. maka pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi. menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. partus tidak maju. Pemeriksaan Penunjang a. partus lama. e) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler) f) Selanjutnya selama berturut-turut. atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Setelah proses pembedahan berakhir. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah sectio caesarea klasik. pembuluh darah. dehidrasi. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).10 jam pasca operasi. distosia serviks. Luka pada kandung kemih. Penatalaksanaan a. daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op. Pemeriksaan elektrolit I. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Diet Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Urinalisis / kultur urine e. dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan. Tes golongan darah. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%. Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan. penyembuhan. Pemberian obat-obatan a) Antibiotik Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap institusi . penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya. dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi. e. rupture uteri mengancam. G. dan malpresentasi janin. garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. waktu pembekuan darah d.b) Atonia Uteri c) Pendarahan pada placenta bled c. b.saraf di sekitar daerah insisi. pre-eklamsia. lama perdarahan.10 jam setelah operasi c) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah sadar d) Hari kedua post operasi. c. panggul sempit. disproporsi cephalo pelvic. d. yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah resiko infeksi. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari.

nadi. C f. bila basah dan berdarah harus dibuka dan diganti g. Perawatan Payudara Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak menyusui. Perawatan luka Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi. (Manuaba. h. pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi.b) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan 1. Supositoria : ketopropen sup 2x/24 jam 2. biasanya mengurangi rasa nyeri. Oral : tramadol tiap 6 jam atau paracetamol 3. tekanan darah. Injeksi : penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu c) Obat-obatan lain Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit. 1999) . Perawatan rutin Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu.dan pernafasan.

Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik akibat tindakan anestesi dan pembedahan 3. Data Riwayat penyakit a) Riwayat kesehatan sekarang. keadaan umum tanda vital. suku bangsa. Keadaan klien meliputi : a) Sirkulasi Hipertensi dan pendarahan vagina yang mungkin terjadi. c) Riwayat Kesehatan Keluarga d) Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada juga mempunyai riwayat persalinan plasenta previa. Suhu : 36-37 0 C. Pengkajian a. Kemungkinan kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira- kira 600-800 mL b) Integritas ego Dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda kegagalan dan atau refleksi negatif pada kemampuan sebagai wanita. dan beraktivitas sesuai kemampuan Intervensi : 1. agam. dapat berisitirahat. frekuensi. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur pembedahan. karakteristik. e) Nyeri / ketidaknyamanan Mungkin mengeluh nyeri dari berbagai sumber karena trauma bedah. dan nifas sebelumnya bagi klien multipara d. Diagnosa Keperawatan a. Identitas klien dan penanggung jawab Meliputi nama. Lakukan pengkajian secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi. e. Riwayat kehamilan. cara masuk. Keluhan utama c.paru vesikuler dan terdengar jelas. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin.efek anesthesia. Gangguan Integritas Kulit b. alasan masuk. nomor medical record. persalinan. . g) Keamanan h) Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda / kering dan utuh. ruang rawat. alamat. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka kering bekas operasi. ketakutan.d tindakan pembedahan d. e. c) Makanan dan cairan Abdomen lunak dengan tidak ada distensi (diet ditentukan). Rencana Kperawatan a. efek . nyeri tekan uterus mungkin ada. prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea) b. f. f) Pernapasan Bunyi paru . pendidikan. diagnosa medik. Nadi : 80-100 x/menit d) Wajah tidak tampak meringis e) Klien tampak rileks. yang mengirim. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah pasien operasi. b) Riwayat Kesehatan Dahulu Meliputi penyakit yang lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang. b. TD : 120/80 mmHg. Menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan. pekerjaan. menarik diri. RR :18-20x/menit. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin. intensitas nyeri dan faktor presipitasi. penyembuhan dan perawatan post operasi. durasi. penurunan sirkulasi c. status perkawinan. kelemahan. atau kecemasan. umur. Maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama (Plasenta previa). d) Neurosensori Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anestesi spinal epidural. Aliran lokhea sedang. kualitas. distensi kandung kemih . prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea) Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri klien berkurang / terkontrol dengan kriteria hasil : a) Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang b) Skala nyeri 0-1 ( dari 0 – 10 ) c) TTV dalam batas normal . Intoleransi aktivitas b/d tindakan anestesi. i) Seksualitas Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus. 2.

faktor lingkungan yang yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (ruangan.) 5. Lakukan latihan gerak secara pasif 3. dan hubungan sosial) 4. 3. tidur. Gangguan Integritas Kulit b. Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan /kondisi klien 5. suhu. kognisi. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas c. latihan napas dalam. Observasi respon nonverbal dari ketidaknyamanan (misalnya wajah meringis) terutama ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara efektif. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum 3. Ajarkan menggunakan teknik nonanalgetik (relaksasi. Intoleransi Aktivitas b.2. Jaga kelembaban kulit . jika perlu.d kelemahan. perasaan. dan suara) 6. cahaya. Berikan perhatian dan perawatan pada kulit 2. b. Kaji efek pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup (ex: beraktivitas. distraksi. penurunan sirkulasi Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Kriteria Hasil : klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri Intervensi : 1. 4. Kontrol faktor . Kolaborasi untuk penggunaan kontrol analgetik.. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas 2. Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi 4.d tindakan pembedahan Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3 x 24 jam diharapkan integritas kulit dan proteksi jaringan membaik Kriteria Hasil : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit Intervensi : 1. rileks. istirahat. sentuhan terapeutik.

Anjurkan klien dan keluarga untuk mencuci tangan sebelum / sesudah menyentuh luka 6. dolor.9 10^3 / uL) Intervensi : 1. rubor. Kaji adanya tanda infeksi (kalor. dan perawatan post operasi Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 6 jam diharapkan ansietas klien berkurang dengan kriteria hasil : a) Klien terlihat lebih tenang dan tidak gelisah b) Klien mengungkapkan bahwa ansietasnya berkurang Intervensi : 1. Dukung dan arahkan kembali mekanisme koping 5. Berikan informasi yang benar mengenai prosedur pembedahan. Diskusikan pengalaman / harapan kelahiran anak pada masa lalu 7. Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat / rembesan. Kolaborasi untuk pemeriksaan Hb dan Ht. 6.5 -37. nadi. dan pemeriksaan laboratorium jumlah WBC / sel darah putih 7. frekuensi nadi = 60 -100x/ menit) c) WBC dalam batas normal (4. rubor. Tetap bersama klien. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik 4. bersikap tenang dan menunjukkan rasa empati 3. fungsio laesa) 3. Lepaskan balutan sesuai indikasi 5.tanda infeksi (kalor. tumor. 2. penyembuhan. dolor.d. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur pembedahan. Anjurkan intake nutrisi yang cukup 9. Observasi respon nonverbal klien (misalnya: gelisah) berkaitan dengan ansietas yang dirasakan 4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka bekas operasi (SC) Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan klien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil : a) Tidak terjadi tanda . Tinjau ulang kondisi dasar / faktor risiko yang ada sebelumnya. tumor.10-10. Evaluasi perubahan ansietas yang dialami klien secara verbal .50 C. dan perawatan post operasi. Pantau peningkatan suhu. fungsio laesea) b) Suhu dan nadi dalam batas normal ( suhu = 36. penyembuhan. Catat perkiraan kehilangan darah selama prosedur pembedahan 8. Catat waktu pecah ketuban. Kolaborasi penggunaan antibiotik sesuai indikasi e. Kaji respon psikologis terhadap kejadian dan ketersediaan sistem pendukung 2.

Diagnosa Keperawatan. Jilid 2.B. Operasi Kebidanan Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Dokter Umum. 2005. Jakarta : PT Gramedi . 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Rustam. I.J. Jakarta : EGC  Mochtar. Jakarta : EGC  Manuaba. 2001. Prawiroharjo. DAFTAR PUSTAKA  Carpenito. Edisi 8. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi. Jakarta : EGC  Manuaba. Jakarta : EGC  Doengoes. 2001. Ilmu Kandungan. 1999.B. 1998. Marylinn. Edisi 2. Sinopsis Obstetri. Cetakan ke-4. Jakarta : EGC  Sarwono. I. I..

2013). 2007) 1. Tes kimia darah : ureum. b. Pemeriksaan Penunjang (Handayani. D. atas permintaan. 4. Partus lama (prolonges labor) 6. Distosia serviks 8. presentasi dahi dan muka (letak defleksi). keratin. presentasi rangkap jika reposisi tidak berhasil. Disporsi sefalopelvik : ketidakseimbangan antara ukuran kepala dan ukuran panggul 4. komplikasi kehamilan yaitu preeklampsia-eklampsia. DM). kehamilan yang disertai penyakit (jantung. letak bokong. Kusuma. mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin. Panggul sempit 3. 2013) . gemeli. sayatan hurut T (T-incision). Pre-eklamsia dan hipertensi 9. asam urat. Seksio sesarea ismika (profunda) : dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim (low cervical transfersal) kira-kira sepanjang 10 cm. solutsio plasenta tingkat I-II. Pengertian Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut (Nurarif dan Kusuma. plasenta previa terutama pada primigravida. ada sejarah kehamilan dan persalinan buruk. 3. SGOT . C. 2013 1. menilai fungsi ginjal. Seksio caesarea abdomen : transperitonealis 2. primi para tua disertai kelainan letak ada. kegagalan persalinan vakum atau forseps ektraksi. 2013) 1.Etiologi yang berasal dari janin Fetal distress/ gawat janin. Letak lintang. Partus tak maju (obstructed labor) 7. Pre eklampsia : a. sayatan melintang (transversal ) menurut kerr. terdapat penyempitan panggul. Rupture uteri mengecam 5. Mal presentasi janin . gangguan perjalanan persalinan (kista ovarium. disproporsi sefalo pelvik (disproposisi janin/ panggul). Manifestasi Klinis (Nurarif dan Kusuma. LAPORAN PENDAHULUAN IBU POST PARTUM SECTIO CAESAREA A. B.Etiologi berasal dari ibu Pada primigravida dengan kelainan letak. Tes fungsi hati: bilirubin. Etiologi (Nurarif. Jenis-jenis operasi seksio sesarea menurut Nurarif dan Kusuma. mioma uteri dan sebagainya) . E. Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior) 2. Seksio sesarea klasik (Corporal) : dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm. Seksio sesarea vaginalis : sayatan memanjang (longitudinal) menurut kronig. prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil. tetapi saat ini teknik ini jarang dilakukan karena memiliki banyak perlengketan organ cara ini dapat dipertimbangkan.

Prolaktin menurun pada wanita yang tidak meneteki pada bayinya dan akan meningkat pada wanita yang meneteki. putting susu menonjol. normal kembali dalam 24 jam pertama. Adaptasi psikologis . 4. c. Sistem endokrin Mengalami perubahan secara tiba-tiba dalam kala IV persalinan. Leukosit d. Hematokrit c. Menstruasi biasanya setelah 12 minggu post partum pada ibu yang tidak menyusui dan 36 minggu yang menyusui. areola mamae berwama hitam dan kembali normal setelah minggu pertama. e. Sistem reproduksi : Terjadi proses involsio uteri dimana terjadi perubahan penebalan alat genetalia interna dan eksterna yang berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Setelah plasenta lahir terjadi penurunan estrogen dan progesteron. Golongan darah F. jika 3+ atau 4+ urine 24 jam mengandung 5 gram protein atau lebih pre eklampsia dinyatakan berat. peristatik usus terjadi penurunan segera setelah bayi lahir. 2) Lochea sanguinolenta : berwarna merah kecoklatan pada hari ketiga sampai hari ketujuh pasca persalinan. 2. 2007) 1. Tekanan darah : Tekanan darah normal setelah melahirkan. Adaptasi fisiologi a. Tanda-tanda vital : suhu 24 jam pertama meningkat < 38oC akibat adanya dehidrasi dan perubahan hormonal. atau pendarahan yang berlebih (hemorogie post partum). endometriasis. Sistem muskuloskeletal : Terjadi peregangan dan penekanan otot. 2.c. khususnya bila disertai adanya sakit kepala atau gangguan penglihatan menunjukan pre ekslampsia. Sistem perkemihan : Kandung kemih oedema dan sensitifitas menurun sehingga menimbulkan overdistension. Sectio caesaria : a. Sistem kardiovaskuler : Dapat terjadi bradikardi setelah persalinan. penambahan sistolik 30 mmHg atau penambahan diastolik 15 mmHg. takhikardi bisa menunjukan adanya kesulitan dalam proses persalinan yaitu persalinan lama. Adaptasi Fisiologis dan Psikologi Post partum (Handayani. f. Sistem gastrointestinal : Pengendalian fungsi defekasi lambat dalam minggu pertama. b. g. Laktasi : Produk ASI mulai hari ke 4 post partum. Lochea alba : berwarna putih setelah dua minggu pasca persalinan. mastitis pembengkakan payudara pada hari kedua ketiga dapat menyebabkan peningkatan suhu pasien. kolostrum berwarna kuning keputihan. bila kenaikan suhu lebih dari 2 maka pada pasien menunjukkan adanya sepsis peurpeural infeksi traktus urinarus. oedema ekstremitas bawah akan berkurang dalam minggu pertama. i. pembesaran payudara. Hemoglobin b. relaksasi otot. Macam-macam lochea dan darah nifas adalah : 1) Lochea rubra : berwarna merah pada hari pertama sampai hari kedua pasca persalinan. 3) Lochea serosa : berwarna merah kekuningan pada hari ketujuh sampai hari keempat belas pasca persalinan. Urinalisis : proteinuria merupakan kelainan yang khas pada pasien dengan pre eklampsia. h. d.

2007) a. 1998 dalam Daniati. anastesi dan antibiotik. misalnya menggendong dan menyusui. yang menyebabkan berkurangnya hak ibu dalam kebebasan dan hubungan sosial. kenaikan suhu disertai dehidrasi dan perut kembung • Berat. Luka kandung kemih. Kemungkinan ruptura uteri atau terbukanya jahitan pada uterus karena operasi sebelumnya. kenaikan suhu beberapa hari saja • Sedang. perhatian terhadap fungsi-fungsi tubuh (mis. Fase taking hold Mulai pada hari ketiga setelah melahirkan. perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan tubuhnya. Ibu menjadi perhatian pada kemampuannya menjadi orang tua yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap janin. G. Ibu berusaha keras untuk menguasai keterampilan untuk merawat bayi. sepsis dan ileus paralitik.Apalagi pada rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan tenaga ahli. c. eliminasi).a. b. Perdarahan. c. . Fase taking go :terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberkan oleh keluarga. serta umumnya terjadi depresi postpartum. dengan peritonitis. Fase taking in : periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan. emboli paru dan komplikasi lainnya yang jarang terjadi. kematian ibu tidak lebih 2/1000. ibu akan mengulang-ulang pengalamannya waktu bersalin dan melahirkan dan tidur dengan nyaman. H. serta butuh peningkatan nutrisi. Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi. Ibu pada umumnya pasif dan tergantung. 2008). Komplikasi (Menurut Handayani. (Rustam. Ia harus beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang sangat tergantung. karena : • Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka • Atonia Uteri • Perdarahan pada plasenta. maka angka kematian ibu dan janin sangat menurun. Infeksi Puerperal (nifas): • Ringan. b. Prognosis Dengan semakin maju ilmu perkembangan dan teknologi terutama dalam teknik operasi. d.