You are on page 1of 16

ARTIKEL HASIL PENELITIAN

FUNDAMENTAL LANJUTAN

TEORI SASTRA DARI BUDAYA SENDIRI
(PADA NOVEL, KABA, DAN PEPATAH MINANGKABAU)

Oleh Drs. Fadlillah. M.Si

Dibiayai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional
Melalui DP2M Dikti dan Dipa Unand Tahun Anggaran 2010
Surat Perjanjian No: 004/H.16/PL/PDF/III/2010
Tanggal 04 Maret 2010

FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS ANDALAS
2010

Semua teori sastra Eropa itu cendrung anti kemanusiaan dan anti dunia rasa (memang ada beberapa teori Eropa melakukan perlawanan 1 cf. philosophical and spiritual. seperti teori struktural. 1. 2003:169-236." word of "the language of aesthetics and good ethics." At the core of his literary power. Keywords: Kato. postpositivisme. A point of view (theory of literary culture Indonesia) in the word no longer in the sense of positivism. teori India. "people have the word" it. In the sense that the word contains stories. In this study. chaos. this is epistemology kato. Therefore. Rusli Marzuki Saria sampai Gus tf Sakai (Telaah dengan Pendekatan Teori Kato) Oleh: Drs. Helen Tiffin. pos-kolonial. Kaba. this is the actual words said. Pendahuluan Kato. teori Cina. political. Saya. the Kato is called (to distinguish the linguistic meaning of the word). identity concept. As for "presence" of the word is said. politics. resepsi sastra. people become "present" in the words. Ia merupakan teori sastra Indonesia yang berbeda dengan teori Eropa. was in kato (kata = word). 2 .. "saya". M. Aku. history. Human nature is in his words. nation. identity and integrity of the concept of. ideological. “Indonesia”. Gareth Griffiths. intertekstual. because literature is a country of words. was found in the word "aku". Then how he has "powers". sadness and grim aesthetic conflict. and the Minangkabau. there is "presence" actually. dekonstruksi. ideological.Artikel Penelitian Fundmental Lanjutan Teori Sastra dari Budaya Sendiri (Pada Novel.Si Abstract This review ("aku" Chairil Anwar and "Pertemuan" Gus tf Sakai with Rusli Marzuki Saria) based on the method of post-positivism with theories kato. That word is the word of "a sense of the check. it is the "truth. sosiologi sastra. fragments of broken. teori Afrika. Bill Ashcroft. Fadlillah." In a word. philosophical and spiritual. word is the social and cultural constructs. "pertemuan". semiotik. standing by itself. hermeneutik.1 sebuah konsep pendekatan dalam membedah karya sastra. sebagaimana juga pendekatan teori sastra Karibia. race. cultural studies. “Minangkabau”: about history. pos-struktural. Dan Pepatah Minangkabau) Dari Chairil Anwar.

dan ada yang “tidak”. Teori kritik sastra ini tidak lepas dari persoalan kemanusiaan dan budaya. logika. Adapun Kato. sebuah semangat egaliter. tanpa mematikan lampu dari dunia lain. fisik. itulah “kebenaran”. sama dengan stigma barat memberi label “primitif” kepada budaya timur. Di samping itu. Ini yang yang akan membedakannya dengan Eropa. teori kritik yang tidak anti kemanusiaan dan anti dunia rasa. Tidak ada hubungan dengan sesuatu di luarnya. Maka pada akhirnya. tidak boleh subyektif. Adapun yang disebut ilmiah adalah sesuatu yang pasti. dalam tegak sama tinggi duduk sama rendah. adalah pada kato (kata = word). adalah “ada” pada “kata”nya. setiap berbicara teori dan kritik sastra selain Eropa selalu disebut dengan lokal dan tidak universal. hal itu tidak diterima oleh science modern. yakni rasa dengan pariksa. Teori kritik yang tidak memisahkan estetika dengan etika. Teori kritik yang berkuasa di Indonesia dan paling besar di Eropa sampai saat ini adalah teori kritik struktural (salah satunya). Adapun “keberadaan” kata yang sebenar kata itu berdiri dengan sendirinya. dan internasional. Pada kata (kato) ada “keberadaan” yang sesungguhnya. suatu konsep berpikir dengan dasar yang dibangun (konstruk) dalam perspektif paradigma post-positivisme. Di samping itu dalam dunia ilmu tidak ada katagori lokal. maka semua akan sama dengan konsep pemikiran Eropa. karena 3 . jangan dicoba-coba untuk digabungkan. teori adalah bagaimana cara kita memandang. 2009:22-23). Sebagai suatu konsep berpikir. yang baik budi yang indah bahasa. inilah kata sebenar kata. Dengan demikian istilah kato untuk sedikit membedakkan dengan kata. teori dan ilmu dari cahaya Tuhan yang esa. “Keberadaan” kata yang sesungguhnya. Pada sastra yang kuat mempunyai integritas “kata yang sebenar kata”. apalagi dengan Tuhan atau agama. kaca mata apa yang dipakai (cf. Pengertian lokal sangat merendahkan dan menghina konsep pemikiran selain Eropa. Dengan demikian istilah lokal di sini tidak dapat diterima. inilah pertanyaan yang akan hadir. dan istilah ini berasal dari penelitian terhadap karya Gus tf Sakai sebelumnya. Hardiman. ketika berbicara tentang estetika maka tidak ada hubungannya dengan etika. etika. nasional. itulah yang dimaksud dengan otonom. pada inti kekuatan sastra. Apakah konsep dari budaya timur tidak bisa dipakai orang secara mendunia? Apakah konsep Barat merupakan konsep yang sebenar konsep pengetahuan? Apakah konsep barat (etik) lebih mulia? Pemberian istilah lokal adalah ukuran (standard) science (ilmiah) modern yang sesungguhnya banyak berlaku tidak adil pada humaniora dan budaya. Obyektif berdiri sendiri. Adapun persoalan “ada” atau “keberadaan” manusia. otonom. jika tidak. Dalam konsep ini dikaji persoalan “ada” sebagai unsur dasar filaafat. Di Barat. Dengan demikian agaknya perlu ditolak istilah “lokal”.seperti mazhab Frankfurt). dengan sejarah. hanya menyembah (bukan tidak mungkin memberhalakan) pada persoalan bentuk. Dengan demikian konsep pemikiran kato berdasarkan pada filosofi estetika. dengan nilai kemanusiaan masyarakatnya. serta metafisika (religi).

humanisme. jenderisme dan feminisme. boleh dikatakan dalam filosofi Barat science. Barat membuang dan menyingkirkan hal yang sakral dan moral dalam makna kata. Sulitnya. dan berakhir kepada “kebenaran” yang “berdiri dengan sendiri”. kata yang jadi roti dan daging. “Pada mulanya adalah kata”.1999:117). Dengan demikian kata sebenar kata berdasarkan “rasa dan periksa”. Sebagaimana dikatakan Jacques Derrida (1976:43) tradisi kebudayaan Barat bersifat logosentrik. menegakkan benang basah). Jika Barat pada mula (firman) dan akhirnya (dipisahkan dari firman).sastra adalah negeri kata-kata. atau berhala obyektifitas. hingga kernwoord. kata Derrida (Bertens). dan mereka juga memberikan pengertian kata sebagai logo (suatu kata Yunani yang berarti perkataan [jadi. tetapi dipelajari dari alam dengan dasar kosmologi “alam terkembang dipelajari”. yang dikenal dengan logosentrisme. Hanya yang membedakan filosofi Barat mengatakan “bermula dari kata”. dia adalah kata yang manusiawi. tidak ada kebenaran yang “tidur”. Tetapi relatif dan manusiawi serta multikultur. Kata (logo) dalam budaya Barat adalah firman. artinya berdasarkan kecerdasan emosional dan kecerdasan rasional. maka kata sebenar kata tidak bermula dari firman. mengutamakan dan terpusat pada logo atau kata sebagai dasar. kepastian. kata suci. Sebagaimana diungkapkan Chairil Anwar (1991:95) dengan sikap kepenyairannya yang terkenal dengan ungkapan “tiap kata akan kugali korek sedalamnya. “berakhir‟ atau “endis” yang berpengertian mutlak. hal itu dominan. berasal dari kebudayaan “negeri kata-kata”). Filsafat Barat adalah logologi. kata dogmatis. serta kecerdasan budaya dalam takaran yang manusiawi. Logo atau kata dalam logosentris budaya Barat didasari oleh keyakinan tentang “kehadiran” (ada) suatu metafisik. Dalam kondisi budaya keilmuan begitu ia melahirkan eksistensialisme. bahasa lisan] maupun rasio). kebenaran yang “diberdirikan” (baca. kata manusiawi bukanlah mendewakan obyektifitas dan bukan menafikan subyektifitas tetapi keduanya sehingga dia menjadi manusiawi. kata yang memberikan pengertian mutlak. Jika filosofi Barat lansung kepada yang mutlak “pada mula”. Barat terjebak menjadi mensakralkan science modern itu sendiri. Sedangkan kato atau kata (kata sebenar kata) bukanlah dalam pengertian yang mutlak. Sesungguhnya science Barat juga berdasarkan pada kata. karena itu tidak ada kata “mula”. akan tetapi Barat membangun science-nya dengan dasar desakralisasi atau sekularisasi terhadap kata (mengingkari kefirmanannya). dan dari filosofi Kristen. sedangkan kato (kata) berdasarkan kepada budaya Timur atau Indonesia memberikan pengertian untuk “inti dari kata”. kata manusia adalah kata bertanya (inti filosofi adalah posisi bertanya). materialisme. –the power of words– (Drakarde. bukan kata yang Tuhan. “hulu”. ke kernbeeld” (penyair yang –memakai istilah Jane Drakard– . (kalbu dan pikiran). yakni “kata yang berupa firman”. “pangkal”. dengan tempat berangkat dan kembali yakni pada Perjanjian Baru yang terkenal dengan ungkapan yang selalu dikutip oleh banyak orang. artinya manusia akan menemukan 4 . bukan kata pernyataan (firman). yakni kata yang sebenar kata.

hal berlawanan dengan kredo Tardji yang berdasarkan epistemologi Barat. sepertinya Tardji mengukuhkan puitika Nasrani. estetika melayu Riau– menegaskan. pada mulanya adalah kata. (14) etika. (13) estetika. (5) filsafat. pencarian kata yang sebenar kata. (12) sosiologis. Agaknya. (16) epistemologi. science modern. (4) sejarah. jelas estetika ini adalah estetika bertelanjang. makrokosmos) yang menyimpan banyak informasi. mikrokosmos) dan alam makro (alam besar. Derrida dengan “tak ada apa-apa di luar teks” (il n'y a pas de hors-texte) –artinya tidak ada Tuhan– . Adapun Barat hanya sampai kepada “keraguan”. sebagaimana Rene Descartes dengan “cugito ergo sum” (aku ada karena aku berpikir (ragu)”. ia dilahirkan oleh kultur manusia. Sebuah kata bukanlah salonsong. logika dan etika tersendiri sebagaimana kultur yang melahirkan dan menghidupinya. karena ia harus obyektif ilmiah. barangkali “kata” di Barat kehilangan kekuatan karena dipisahkan estetika dan etika dari dirinya sendiri. Berakhir jadi keraguan adalah tragik.13-14). Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri…‟. (9) ekonomis. Kata adalah seperti alam atau alam mikro (alam kecil. (6) ideologis. dalam pengertian lain. Dengan demikian kata di sini tidak lagi hanya dipandang sebagai sebuah kata biasa. sedangkan pengertian adalah isi. estetika menelanjangi kata. dan kata yang sesungguhnya adalah kata kebenaran. (7) agama. tetapi tidak mampu. (15) logika. Memang ada beberapa aliran filsafat dan pengetahuan mencoba bertahan di Barat dengan religiusitas. tetapi masing-masing orang akan menemukan makna hidup sesungguhnya. kata harus bebas dari penjajahan pengertian. yang dimurnikan dalam lagika semata. karena para ilmuwan intelektual dan sastrawan sudah tahu bahwa pada „mulanya adalah kata‟ 5 . –dapat dikatakan apa yang disebut dengan.kebenaran yang “berdiri dengan sendiri”nya. Dalam pengertian. Adapun filosofi barat berangkat dari keyakinan dan berakhir dengan keraguan (sikap intelektual yang baik bagi dunia Barat adalah skeptis). Seterusnya (estetika Melayu Riau) menurut Sutardji mengembalikan kata pada awal mulanya. „kata bukanlah alat tetapi pengertian itu sendiri. bahwa kata adalah pengertian. tragedi dalah pandangan estetika dunia Barat. filosofi keilmuannya melampaui (beyond atau post) pengetahuan Barat. (17) aksiologi. epistemologi kato. dari beban ide. (3) kekuasaan. (2) cerita. Nietzsche dengan “Tuhan sudah mati”. secara plural. egaliter dan majemuk). (8) politik. yakni kata yang sesungguhnya dari kata. Berbeda dengan semua itu. Kata sebenar kata berangkat dari “keraguan” menuju kepada nantinya “keyakinan” (keyakinan di sini bukanlah bersifat dogmatis.(18) imaji dll. Ungkapan Sutardji bahwa kata bukanlah alat tetapi pengertian itu sendiri. karena semuanya teks dan Tuhan pun adalah teks sama dengan kita sebagai teks. maka isi saja tanpa baju adalah telanjang. setiap kata sesungguhnya mempunyai estetika. Pada Sutardji (1981. kata sudah dalam pengertian (1) masalah. (11) antropologis. Comte dengan positivisme-nya. Marx dengan ungkapan “materialis sosialis”. (10) psikologis.

pada hakekatnya berbeda). logika. pikiran dan rasa serta etika. manusia jadi ada. kata tempat berangkatnya semua kata dan kata tempat kembalinya semua kata. ungkapan di atas menurut Teeuw (1983. Adapun membebaskan kata dari ide. kata yang mempunyai kekuatan –berhimpunnya. punya rasa. dan ia tidak hanya persoalan pilihan tetapi bagaimana dia disusun jadi cerita sehingga menjadi tajam melebih pisau dan oase. Oleh sebab itu. opini masyarakat dan budaya. kata tanpa pengertian dan ide manusia tentulah tidak mungkin. Mungkin karena itu huruf awal Allah bagi Sutardji (1981. Karena merupakan asal segala hal. Dalam hal ini ada dua cara kerja untuk dipergunakan menelaah karya sastra. sebuah alam. kata yang mempunyai energi negatif) maka ia merupakan kata yang dapat jadi pegangan (agreement) dan kata yang bergaram (empiris). karena dia adalah kata manusiawi. dan dasar puitika Eropa. duduk sama rendah tegak sama tinggi. Dengan demikian di dalam karya sastra akan ada kata tempat berhimpunnya semua kata. bukankah pengertian itu dari manusia atau jati diri manusia itu sendiri.merupakan puitika Perjanjian Baru2. estetika. Manusia ada pada alam kata-nya. tegas Teeuw. yakni yang benar berdiri dengan sendirinya. etika). Adapun yang membedakan kedudukan kata adalah persoalan kebenaran saja. (lain pikiran dan lain pula rasa hati maka itu adalah kata yang terintegritas. dan naskah drama adalah kata pilihan. Kosmologi. orang linguistik menyebut diksi (istilah ini berdasarkan posivistik. bertentangan dengan kata sebagai bahasa (alat). egaliter. 6 . Di samping itu. kosmologi kato. bagi Sausure lisan lebih tinggi dari tulisan dan Derrida sebaliknya) adalah egaliter dan multikultur. Dengan demikian. Kata yang ada pada karya prosa. (kata tempat berangkat. mempunyai fungsi sendiri-sendiri. jelas membebaskan kata dari manusia.131) kecil saja. bukan kata Tuhan-wi. Kata. Sutardji jelas berbeda dengan epistemologi kato ini. Pada karya sastra yang jadi persoalan adalah bagaimana manusia dihadirkan oleh kata. kata tempat berhimpun –pengikat. Dalam kata sebenar kata persoalan kedudukan lisan dan tulisan (sebagaimana kasus Sausure dengan Derrida. Dia juga merupakan obat sekaligus juga kekuasaan. (2) mencari 2 Sebagaimana kata Selden (1993:88) bahwa „logos” (perkataan Yunani untuk „kata‟) adalah sebuah istilah yang dalam Perjanjian Baru membawa kosentrasi kehadiran yang mungkin yang paling besar: “Pada mulanya adalah Kata”. peradaban. yakni (1) mencari kata sebenar kata. membebaskannya dari penjajahan pengertian tentu bermaksud membebaskannya dari manusia. yang mempunyai kekuatan. syair. kata tempat kembali. Kata yang mempunyai kekuatan adalah kata yang sesuai mulut dengan hati. dengan karya sastra maka manusia jadi hadir. Dalam maksud di sini “bagaimananya itu”. manusia ada pada kata. Oleh sebab itu dia merupakan kata yang dominan dan integritas. “Kata” itu menjamin kehadiran dunia secara penuh. adaptif dan demokrat serta kosmopolit.147-148). maka dalam budaya Indonesia yang dipegang pada manusia adalah kata. segala sesuatu adalah akibat dari sebab yang satu ini. kekuasaan terhadap wacana.

yakni bahasa Minangkabau. belum ada yang membahas secara geneologis. yakni konsep kemerdekaan jati diri. Hal ini menarik. tanggal 27-29 Juni 1988 di Padang6. serta ada sejarah yang disimpannya.” Artinya diksi “aku” sudah merupakan kernwoord. Barangkali secara geneologis dan sosiolinguistik hal ini dapat diterangkan dengan teori konsep Den dan Awak yang diungkapkan oleh Khaidir Anwar dalam makalahnya pada temu Budaya Daerah Propinsi Sumatera Barat. akan lebih menghantarkan wawasan pemikiran dan apresiasi (banyak orang) ketika kata “aku” dihubungkan dengan kebudayaan. dan berakhir kepada “kebenaran” yang berdiri dengan sendiri. 5 Kemudian dari sekian banyak pakar yang membahas Chairil Anwar. 4 Dalam kamus M. karena bertolak dari ungkapan Chairil (1991:95) sendiri “tiap kata akan kugali korek sedalamnya. yakni kata yang sebenar kata berangkat dari “keraguan” menuju kepada nantinya “keyakinan”. dan psikologis. dengan integritas rasa percaya diri yang kuat. mengapa Chairil menjatuhkan pilihannya pada kata “aku”. Walaupun yang membedakan kata “aku” dan “saya” dalam KUBI (1984:20-885) adalah bahwa kata “aku” merupakan suatu pronomina persona tunggal dalam ragam akrab. yakni kosmologi “alam terkembang dipelajari”.25). 7 . Ada tiga penemuan Yusriwal secara geneolgis. yakni Minangkabau. Thaib utan Pamoentjak (1935:6. 6 Judul makalah itu “Pandangan Pemangku Kebudayaan Daerah/Suku Bangsa tentang Kebudayaan Nasional”. ke kernbeeld. suatu einmalig. sampai hari ini. ke kernbeeld. Dalam hal ini tentu akan lebih menarik lagi kalau dihubungkan secara geneologisnya. pertama sintaksis. pertentangan adat dan agama. adapun kata “saya” suatu pronomina persona tunggal dalam ragam resmi atau biasa.kosmologi (ruang. Luhak nan Tigo dan Rantau. kecuali sebuah esai yang ditulis Yusriwal (Kompas. 29/04/1986). ketiga ada dualisme. waktu. tanggal 11 Juli 1988. 3 Diragukan linguistik struktural dapat menjawabnya. aku (subyek) yang merupakan konsep kekuasaan berada pada ego. bagaimana Chairil melakukan itu. tetapi ada makna kebudayaan. tulisan itu dimuat di harian Haluan. karena dapat diungkapkan bagaimana hubungan antara Chairil dengan geneologinya. dua kutub yakni vitalitas dan melankolis. dan gerak). sudah tidak mungkin berulang lagi. Agaknya. 2. halaman VII. Adapun kata “aku” akan menjadi kata “aden”4 bukan “awak atau ambo”. mengapa tidak kata “saya”. sebagai subyek dalam puisinya3. Kosmologi Kato pada “aku” Chairil Anwar Sebagai suatu bahasan. politik. Tetapi. Dalam konsep Den dan Awak ini. sosial. kedua hiperbol. sebagai keturunan budaya Minangkabau. hingga kernwoord. politik. Mengapa begitu. tentu tidak sekedar mengandung makna pernyataan diri pronomina persona tunggal.13. “Aku” sebagai kata subyek. Koto Piliang dan Bodi Chaniago. tentang karakter budaya Minangkabau. dan psikologi. secara geneologis5.

Kehadiran konsep awak bukan suatu kehadiran dapat diterima. tetapi kehadiran yang menimbulkan peristiwa pahit yang sulit diterima dan menimbulkan trauma. kedalaman pengertian konsep manusia akan dapat ditemukan dalam sastra ketika dunia sastra sudah mengeksplorasi konsep jati diri dari manusia. Pertama. “awakDen” (Aku). yang 8 . Konsep itu barangkali paling menonjol pada penyair Chairil Anwar dengan puisinya yang paling kuat yakni “Aku”. Kehadiran konsep “awak” bukan suatu kehadiran dapat diterima oleh manusia Minangkabau. sehingga sosok aku. karena kekuasaan diri berada pada ego sendiri. Dalam hal ini Anwar mengatakan. Konsep itu merupakan konsep kemerdekaan jati diri. Hal ini relevan dengan apa yang dapat diamati dari karakter orang Minangkabau. “awak tidak berarti apa-apa dalam konteks nasional”. Tetapi konsep “den” sebagai individu yang merdeka menjadi hancur berantakan dalam bentuk serpihan tertindas oleh sistem awak. menurut Khaidir Anwar. kedua oleh penjajahan Belanda dan Jepang. ”inti sari budaya itu ialah penghargaan terhadap DEN sebagai individu dan kami yang terdiri dari pada DEN yang merdeka”. tetapi kehadiran yang menimbulkan peristiwa pahit yang sulit diterima dan menimbulkan trauma. aku. keberadaan manusia sebagai manusia dan menjadi manusia. Dalam pada itu. antara harapan dan realitas. antara kekasih dan ibu. menulis bahwa oleh karena pengalaman pahit itu maka ada dalam realitas sikap setengah masyarakat yang begitu benci pada konsep awak itu. dan yang paling khas adalah. sudah tidak lagi membedakan antara kenyataan dan mimpi. Ketika ego. atau “Aden lain” (aku lain dari mereka). menurut Anwar. Dalam hal ini. yakni konsep eksistensi. sebagai konsep den. Anwar. yakni teori konsep “Den”. Tetapi konsep “den” sebagai individu yang merdeka menjadi hancur berantakan dan tertindas oleh sistem “awak”. tiga oleh rezim Soekarno dan Orde Baru. dan lahirlah ucapan-ucapan seperti. Hal itu tidak hanya dikatakan oleh Awar tetapi juga didukung oleh fakta sejarah bahwa bangsa Minang mengalami tiga kali ketercerabutan budaya ego jati diri. Aku yang merupakan konsep kekuasaan berada pada ego. antara masa lalu dan masa sekarang. “Bak nyoDen” (SesukaKu). dalam sastra diberikan kedalaman dimensi kemanusiaan. Di sini orang Minangkabau memperlihatkan karakter bangsa dalam bentuk harga diri dan eksistensi diri yang merdeka atau tidak dibawah perintah (hegemoni) orang lain. sudah menjadi lemah maka yang lebih kuat adalah id. merupakan kosep ego yang menghadirkan rasa percaya diri yang kuat. dengan integritas rasa percaya diri yang kuat. Di sinilah fungsi sastra. Khaidir Anwar mengatakan bahwa inti sari budaya Minangkabau ialah penghargaan terhadap DEN (ego –pen) sebagai individu dan kami yang terdiri dari pada DEN yang merdeka. “Aden kan ganjia” (Aku berbeda dengan mereka). Orang Minangkabau apabila dalam kritis dan terdesak maka akan ke luar hal yang asli dari jati dirinya. oleh penjajahan kerajaan Dharmasraya ke Pagaruyung. Konsep “den”. ketika dihubungkan dengan sastra. maka ia akan berkata “Aden” (aku). Sedangkan pada satu sisi super ego ditolak kehadirannya sebagai nilai-nilai represif dari konsep awak.

Brouwer. “awak film”. konsep yang berupa sinonim dari “hamba”. iyo. Hamka yang mundur jadi ketua MUI pada waktu rezim Orde Baru. manusia telah ditundukan dan dikuasai kosep lain yang lebih kuat dari “aku”.B. A. (Jakarta: Gramedia. konsep merantau dan konsep “den” pada hakekatnya baru dimengerti dengan adanya konsep (1) narasi kepengecutan kerajaan Dharmasraya yang mau menyerahkan anak gadisnya pada ekspedisi militer Pamalayu.” pada peraturan pemerintah. tidak ada yang ingin diperintah. yang merupakan pengungkapkan jati diri sistem sosial budaya berada di bawah perintah. dalam realitas bangsa Minangkabau yang mempunyai konsep mundur ketika ia tidak setuju dengan kehadiran konsep awak yang represif otoriter feodal. Konsep mundur. dalam surat dan pidato radionya dan menjadi pusat dunia dalam puisi. anak buah (anak buah kapal). Persoalan konsep “aku” hadir dalam seluruh puisi Chairil Anwar. Dalam konsep den dan konsep rantau inilah dapat dipahami adanya konsep mundur bagi bangsa Minangkabau. mereka sedikit sekali yang menganggap dirinya sebagai orang bawahan (odergeschikhheid. kadang-kadang seorang yang 7 superindividualis . Konsep awak merupakan konsep yang padanannya ada pada kata “awak kapal”. atau di sini dapat dikatakan konsep “den”. “awak pentas”. Konsep “aku” merupakan persoalan utama bagi manusia karena ia menyangkut kemerdekaan diri. Pernyataan ini juga tidak berbeda dengan apa yang dikatakan Saanin dalam penelitian patologis sosial bahwa seorang Minangkabau adalah seorang individualis. tahun 1984. istilah De Stuers). seperti yang dilakukan Bung Hatta (1 Desember 1956) yang mundur jadi wakil presiden ketika rezim Soekarno. (2) kedatangan Dhamasraya menjajah Pagaruyung serta Minangkabau.H. Mukhlis Ibrahim gubernur Sumatra Barat mundur jadi gubernur menjelang kejatuhan pemerintahan rezim Orde Baru. maka konsep “aku” sudah berubah ke dalam konsep “awak”. yakni sebagai tokoh yang terindas. 9 . “iyo. Selanjutnya dikatakan bahwa orang Minangkabau selalu menjawab.menghantarkan manusia ke gerbang katarsis kesadaran bahwa ia adalah manusia yang merdeka. kalau dipaksa atau diancam mereka akan meninggalkan kampung dan berdiam di hutan- hutan yang luas di sana hanya untuk melarikan diri dari orang-orang yang ingin memerintah mereka. Saanin Dt. tetapi terpinggirkan dalam peristiwa dan masalah. kemerdekaan pribadinya begitu penting.W. Tan Pariaman yang dibukukan dalam buku bunga rampai Kepribadian dan Perubahannya dengan editor M. karena ketika “aku”. Halaman 182-231). semua orang mau memerintah. dan kekuasaan tidak lagi pada ego “aku”. (3) penyerahan tanah Minangkabau oleh kerajaan Pagaruyung kepada Aceh dan kepada 7 Analisis patologis sosial ini merupakan penelitian H. Watak dari konsep “den” ini dikuatkan oleh Amran (1981:445) yang menuliskan apa yang dikatakan oleh De Stuers bahwa orang Minangkabau berbeda dengan orang Jawa. oleh kekuasaan konsep “awak”. seseorang yang mempunyai majikan (induk semang dalam bahasa Melayu) dibawah kekuasaan.

sebagai uasaha untuk 10 .16). Sebab setelah PRRI. dengan makalah “Masyarakat Sumatera Barat dan Kehidupan Intelektual”. merupakan interaksi simbolik atau suatu bentuk pemberontakan bangsa Minangkabau kepada konsep “awak”.. Misalnya ada yang bernama Ridwan yang berasal dari Surian. Konsep den (1). (Jakarta: Sinar Harapan.” Hal ini juga dikatakan oleh Abdul Aziz Saleh dalam diskusi Yayasan Genta Budaya yang dimuat dalam jurnal kebudayaan Genta Budaya (No. konsep merantau (2). ketidakmerdekaan diri. orang yang kalah. segala yang “berbau” Minangkabau akan menghadapi kesulitan dalam kehidupan sosial politik. Di samping rasa malu. Tujuannya hanya untuk dapat “menyembunyikan” identitas. 9 Orang Minangkabau tidak berani “aku” atau “aden” tetapi menggantinya menjadi “hamba sahaya” atau “saya”. Pada Chairil Anwar nampak sekali. Diperkirakan konsep “awak” ditawarkan Adityawarman (kepada bangsa Minangkabau) yang membuat kerajaan di Pagaruyung dengan menaklukan tanah Minangkabau untuk menguasai sumber emas dan jalur perdagangan emas. yang fasis. atau nama-nama yang tidak lazim di Minangkabau. Mereka menyembunyikan identitas jati dirinya. kemudian terus berkembang dengan adanya tragedi penyerahan tanah Minangkabau (yang terkenal dengan nama perjanjian Plakat Panjang) oleh kerajaan Pagaruyung kepada Belanda. tahun 1995. tahun 1998. dengan demikian dapat dipahami mengapa tidak ada lagi lahir tokoh nasional dari tanah Minangkabau9. “sia den tu?” (siapa aku itu?) “bara arago dentu” (berapa harga aku itu). konsep mudur (3). Persoalan bangsa Minangkabau yang mengganti identitas diri diungkapkan oleh Mestika Zed dkk. (4) dan pemusnahan mentalitas bangsa oleh rezim Soekarno dan Orde Baru terhadap narasi PRRI. Dia mengatakan: “Nama-nama orang Minangkabau yang lahir sejak parohan kedua dasawarsa 60-an. Bahkan banyak anak yang lahir pada periode ini diberi nama “asing”. Namun kehancuran itu tetap berdampak sangat buruk sampai pada rezim Orde Baru sehingga akhir Orde Baru. Narasi ini mungkin dapat bersambung dengan narasi Harun Zein (Zed. sehingga tidak lagi “berbau” Minangkabau. dari pengalaman banyak orang. dan dianggap kasar di Minangkabau8. “la manden yo” (sudah memakai kata aku ya). usaha menyembunyikan identitas diri ini juga disebabkan oleh teknan oplitik. Mungkin sekali ada kaitanya dengan –sadar atau tidak sadar. Setelah PRRI akhirnya mengganti namanya menjadi Ridwan Suryanto.1 Tahun 1 Edisi Agustus s. Inilah yang mengakibatkan kosep “den” asing. halaman 161). akan di cemoohkan dengan kata-kata. Oktober. orang Minangkabau tetap mengalami trauma mendalam terhadap orang-orang berseragam hijau atau militer. fenomena ini sampai zaman akhir Orde Baru. “Indikator yang menunjukkan usaha orang Minangkabau menyembunyikan identitas dirinya dapat dilihat dari banyaknya orang menukar namanya. untuk keluar dari kehancuran harga diri. halaman 15. Solok.Belanda. dkk. tidak mudah untuk diidentifikasi sebagai nama orang Minangkabau. dalam buku Sumatra Barat di Panggung Sejarah 1945-1995. terutama terhadap mereka yang terlibat PRRI. Pada waktu itu orang Minangkabau secara besar-besaran dan bergelombang mengganti nama anak-anak mereka dengan nama yang tidak berbau bangsa dan agama. Adalah fakta bahwa rezim Orde baru merupakan rezim militer. atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Minangkabau. ego. 8 Bahkan bagi subyek yang memakai “aden” atau “den” untuk kata ganti dirinya.d. Inilah salah satu gambaran krisis identitas dan kepercayaan diri yang terjadi pada mayoritas masyarakat setelah terjadinya peristiwa PRRI. 1998:161-165) yang mengalami interograsi tentara dan bertemu dengan mahasiswa Minangkabau yang berwajah mati. dan terkejam dari yang pernah ada di dalam lembaran sejarah Nusantara.

Subyek “aden” berasal dari tradisi kelompok suku Bodi Chaniago. Subyek “aku” memang menghadirkan rasa percaya diri yang kuat. dianggap kasar. akan tetapi setelah Soeharto jatuh dan zaman reformasi. ego yang penuh dengan rasa sosial dan kemanusiaan. represif. mereka tidak mau menyebut diri sebagai orang Minang tetapi orang Padang. tidak sopan. sampai Orde Baru hancur. demokrat. Tradisi budaya subyek “saya” bersifat komunal (hidup berkelompok) dan tidak menyukai tradisi budaya individual (penghargaan terhadap personal). Adapun orang Minangkabau sekarang. karena mengendung konsep egaliter. Dengan demikian pemakaian kata “aku” dianggap kasar dan tidak sopan oleh para pemakai subyek “saya”. Dalam konsep “aku” tidak ada kelas atau strata. diksi subyek “aku” Chairil Anwar berhubungan dengan diksi subyek “aden”. padahal tidak juga. orang Minangkabau lebih banyak menyelamatkan dirinya. Individualis dianggap tidak sosialis. Sesungguhnya sifat egois (mementingkan menyembunyikan identitas. mamak beraja kepada penghulu. “lebih Jawa daripada orang Jawa”. yang terkenal dengan azas dasarnya “duduk sama rendah tegak sama tinggi” dan “bulak air pada pembuluh. Azas mereka terkenal dengan “bertangga naik. Dalam konsep “aku” Chairil Anwar tersimpan geneologis. Hal itu disebabkan kata “saya” merupakan diksi subyek yang berasal dari “hamba sahaya” yang mempunyai makna ada kelas atau strata yang lebih tinggi dari dia. budaya individualis menghargai personalitas. penghulu beraja kepada kebenaran. Dalam tradisi budaya subyek “saya” dianggap sangat jelek dan berasal dari Eropa. Di zaman pemerintahan Soehato. Keadaan ini juga pernah terjadi dalam masyarakat Amerika keturunan Jerman pada Perang Dunia II. tidak ada kelas di atas atau di bawahnya. Dalam bentuk lain. Artinya. bahkan sangat sedikit. Pemakaian kata “saya” lebih cenderung dalam budaya otoriter. kebenaran berdiri dengan sedirinya”. 1996:164). otokrat. Berserpihan di sini adalah secara psikologis. kata Ma’arif (dalam Najib. 2000:134-137). Mereka ramai- ramai mengganti nama. masih tetap seperti itu. juga punya rasa tolong menolong (lih. demokrat. bulak kata pada mufakak”. tidak resmi. karena resikonya terlalu besar sekali. sedangkan dalam budaya komunal personalitas lebur dalam kelompok. maka dia dianggap ragam akrab. berjenjang turun” dan “kemenakan beraja kepada mamak. vitalitas kemerdekaan diri. pemakaian subyek “aku” tidak begitu banyak. egaliter. pemakaian diksi subyek “aku” begitu banyak. 11 . padahal ternyata masyarakat Eropa juga punya rasa sosial dan kemanusiaan. subyek menempatkan diri tidak sebagai hamba sahaya. yakni berserpihan. karena geneologis budayanya. Tradisi “perdebatan” pemikiran intelektual di Minangkabau sudah tidak ada lagi. tetapi bukan arogan (bahkan yang arogan sesungguhnya lebih banyak ditumbuhkan dalam subyek “saya”. sebagai akibat dari krisis tersebut. karena tradisi budayanya yang otokrat). Dalam hal ini sesungguhnya. karena tidak ingin dikenal sebagai orang yang ada kaitan dengan Jerman”. artinya egaliter. dan berserpihan secara sosial budaya. Sedangkan subyek “ambo” dan “awak” merupakan konsep dari kelompok suku Koto Piliang yang mempunyai strata. hal ini menandakan teks jati diri orang Minangkabau sudah mengalami kerusakan yang parah. Koentjaraningrat.

Dalam tradisi komunal pribadi yang kuat hanya ada satu. sebuah keniscayaankah? Kepastian untuk jawaban pertanyaan ini tidak ada. Dengan demikian. bahwa ia tidak dikuasai oleh bacaannya tetapi ia menguasai bacaannya. floating massa. personal-personal yang kuat. yang berani berkata tidak. pribadi yang integralistik. barangkali. sebagai “watak yang memisahkan diri dari kumpulannya”. kata “terbuang” agak berlawanan jika diterjemahkan dengan “memisahkan diri”. bukan dikuasai11. sebab jika semua mempunyai kepribadian yang kuat maka akan terjadi perpecahan. mandiri. 3. dikarenakan suatu puisi? Pertanyaan demi pertanyaan akan datang. Sosok personal komunal tidak mempunyai tradisi untuk berkata tidak dalam komunalnya. sangat sedikit yang persuasif) untuk personal menjadi lebur dalam komunal. Novel TSP menjadi ada dan lahir. tetapi bukanlah ego yang egoistis. Dalam konsep individualis. mengapung. Sebagaimana Muhammad Iqbal bahwa penting membangun ego. ketika pengarang T(SP) membaca puisi Rusli Marzuki Saria yang bertajuk 10 Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer (2003:101) menerjemahkan kalimat puisi “dari kumpulannya terbuang” Chairil Anwar. arogan dan pemaksaan kehendak lebih banyak menguasai tradisi komunal.kelompok sendiri). “Aku” Chairil merupakan “aku” yang menguasai (kecuali Tuhan). Individual Chairil Anwar bukanlah individual yang a-sosial. Benarkah inspirasi menulis Novel T(SP) muncul dari sebuah puisi? Itulah yang terjadi. 12 . agaknya selalu menimbulkan renungan. atau a-religius. Hal ini agak aneh dan tidak sinkron. membangun individu-individu yang kuat. yang merdeka. karena perebutan kekuasaan komunal yang tidak menghargai personal. konsep subyek “aku” Chairil Anwar. karena jika memang benar demikian kejadiannya maka orang dapat mengatakan dengan mudah bahwa hal itu mungkin hanya sebuah kebetulan. 11 Sebagaimana dikatakan Sapardi Djoko Damono (1999:44). seseorang baru dapat berharga apabila sesuatu yang didapatnya adalah berkat usahanya sendiri. Sedangkan subyek diri komunal adalah subyek yang dikuasai oleh ideologi dan azas komunal. Di sini nampak bahwa ada pemaksaan kehendak dan tidak dapat menerima ada personal yang berdiri sendiri dan tidak mau berkelompok. selain itu adalah personalitas yang lemah. karena harus menghimpun kekuatan (represif. tersebab hanya oleh sebuah puisi maka dia ditulis. Kosmologi Kato “Pertemuan” Gus Tf Sakai dengan Rusli Marzuki Saria Novel Tambo (Sebuah Pertemuan) karya Gus tf Sakai –selanjutnya ditulis T(SP)– yang monumental. Oleh sebab itu. personal-personal yang tidak berbobot. sedangkan dalam komunal sesuatu baru dapat dihargai bila ia merupakan usaha bersama. Novel itu. bila ada personal yang menyendiri atau keluar maka dianggap pembangkangan10. yang tidak mengambang. mungkin mendasar. sedangkan sosok individual mempunyai tradisi untuk berkata tidak kepada sesuatu yang tidak disukainya. sesuatu yang terjadi tanpa sengaja.

tetapi pengertian kemampuan di sini hanyalah kemampuan dalam pengertian kata (kato) atau cerita. atau manusia yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pencerahan dirinya. ia hanyalah sekumpulan kata-kata yang indah. itu ternyata bukan hanyalah sekedar kumpulan kata-kata indah.”. Sebaliknya ada jawaban yang akan mengatakan tidak mesti demikian. mempunyai kekeramatan. atau dapat diterima oleh sistem berpikir dan sistem dunia rasa manusia. sesuatu yang dibuat manusia. karena ada persoalan pertemuan pemikiran. sebagai “sesuatu hal yang akan terjadi”. 12 Beri aku Tambo jangan Sejarah Karena yang pertama ada riak menjarah sedang yang kedua sepi dari Hero (Rusli Marzuki Saria. kemampuan kosmologi kato untuk menghantarkan kepada kesadaran. menimbulkan inspirasi.. hanyalah sekumpulan kata-kata indah yang enak dibaca. yakni sesuatu yang menghantarkan orang kepada kesadaran. Tetapi mungkin banyak orang dapat percaya bahwa ada kata (kato) mempunyai kemampuan. Memang hal ini akan menjadi perdebatan apakah kata (kato) yang mempunyai kemampuan pencerahan. Puisi. 1995:10) 13 . Inilah yang sering tidak dipahami. yakni puisi yang membukakan pemikiran. Kata (kato) pada sisi lain hanyalah konsep-konsep yang dihadirkan dalam perlambang. alternatif itu hanya salah satu. Apakah kata (kato) sama dengan mantra-mantra yang mempunyai kekuatan sihir. puisi itulah yang pertama kali mengantarkanku kepada kesadaran. sesudah itu terjadi “pemasukan ide” pemikiran dan “jiwa atau pemikiran” sehingga sistem berpikir seseorang pembaca menjadi terbuka menemukan banyak hal yang baru. Adapun tentang puisi “Beri Aku Tambo Jangan Sejarah”. Sakai (2000:156) mengatakan. Jawabannya tentulah tidak. barangkali pada kebanyakan orang. puisi yang mencerahkan jiwa pembaca adalah. Dari memahami sistem yang ada dalam kata (kato) maka sistem kata (kato) tersebut telah memberikan alur yang membukakan pemikiran dan sistem rasa manusia ke pintu-pintu sistem berpikir yang lebih luas dengan banyak sisi. dalam pengertian lain sistem yang ada dalam teks menemukan kesamaan dan keserasian dengan sistem berpikir manusia yang membacanya. sehingga ia mampu memberi kesadaran orang.“Beri Aku Tambo Jangan Sejarah”12. Kata (kato) hanyalah berupa sistem dan konkretisasi dari sistem berpikir manusia. tetapi ternyata ada sesuatu yang membuat puisi menjadi berarti. “Apa pun isi atau maksud larik-lariknya. adanya “kekuatan” puisi yang disebut sebagai puisi yang berhasil. bahwa kata (kato) sesungguhnya tidak memberikan kekuatan apa-apa. mempunyai tuah. yakni kata-kata atau sekumpulan kata yang mempunyai konfigurasi kekuatan gaib? Mantra kata orang. Inilah yang tidak pernah diduga.

mungkin seperti pertemuan dengan bunyi saluang yang pedih di lembah kehidupan pada waktu bulan purnama. tetapi barangkali juga dia sesungguhnya hanyalah suatu akibat dari sebab tak terperkirakan oleh banyak orang. atau mengapa hanya dengan satu orang saja terbuka pikirannya. seperti pertemuan dari kedalaman perasaan yang sulit untuk diceritakan. komposisi. fakta simbolik yang menguraikan estetika pemikiran. ia sudah mengandung banyak makna. Pertemuan genersi tua yang lebih berdalam perasaan dengan pertemuan generasi muda yang berdalam pemikiran. membangun dan memberikan gambaran yang lebih luas. inilah yang disebut dengan imaji pertemuan. ia sudah merupakan sentuhan-sentuhan dunia rasa dan kedalaman pemikiran yang berbicara tentang keindahan dan tragedi sebagai dunia rasa. akan hadir dalam pikiran manusia gambarannya. tetapi manusia yang membaca kata (kato) tersebut mempunyai kemampuan untuk membentuk kata (kato) baru dalam alam pikirnya. ia lebih bersifat meluas. seperti sebuah perjodohan itu. Pertemuan di sini tidak lagi dalam arti biasa. seperti saluang (musik alat tiup tradisi dari bangsa Minangkabau yang memerlukan keahlian khusus untuk dapat meniupnya). dosen STSI 14 . sesuatu yang membukakan pikiran. Seperangkat kepingan kata (kato) ini dibaca dengan sistem kata (kato) yang ada dalam pemikiran manusia. pertemuan barangkali mungkin sering dikatakan suatu kebetulan tetapi bisa jadi ia hanya satu dari rangkain sistem besar dari gerak alam. sebagaimana gerak sistem magnet. Pertemuan yang barangkali banyak tak teperkirakan. sedangkan puisi Rusli Marzuki Saria merupakan fakta perasaan yang bersifat mendalam. bahwa sistem positive hanya mungkin akan bertemu dengan sistem negative. yang juga merupakan seperangkat sistem imaji yang dihadirkan dalam kepingan kata (kato). Pertemuan itu. takdir. dalam dunia seni merupakan pertemuan yang dalam. Kata (kato) yang ada dalam pikiran manusia yang dikembangkan manusia. Tetapi mengapa “pertemuan” dengan kata (kato) tersebut membukakan pemikiran orang yang membacanya. keseluruhan keberadaan kata (kato) itu. benar agaknya. Persoalan pembacaan kata (kato) inilah terjadi pada Sakai terhadap puisi Saria merupakan “sebuah pertemuan”. Pertemuan dua tokoh ini. jodoh. Pertemuan kepingan-kepingan (Sakai menyebut serpihan) budaya yang sudah lama terpisahkan oleh suatu ketertindasan dari dua generasi. pertemuan budaya. sedangkan orang lain tidak terbuka pemikirannya. kata (kato) itu terbentuk setelah membaca kata (kato) yang ada di luar pikiran. Ia bisa berarti pembacaan. Sebuah pertemuan kata (kato). Pertemuan itu suatu kesunyian tragik. Novel T(SP) hanyalah sebuah fakta metafor. sesuatu yang berbeda? Inilah pertanyaan yang juga akan mengungkapkan bahwa walaupun kata (kato) itu tidak mempunyai kekuatan. ia terjadi begitu saja. namun sistem. maka sesuai dengan kapasitas sistem kata (kato) dalam pikiran manusia. ia seperti tidak perlu berbicara dengan verbal. tetapi. Kata (kato) sebagai suatu sistem tidak mempunyai kekuatan apa- apa. atau orang lain terbuka pemikiran untuk hal yang lain. Musik ini menurut Firman. Pertemuan.

tentang Anggang yang datang dari laut. maka dalam budaya yang dipegang pada manusia adalah kata. Jiwa orang Minang sepertinya adalah musik ini. panjajahan. dan tidak seorang pun dapat menjawab mengapa begitu. ya kesadaran. dengan karya sastra maka manusia jadi hadir. manusia ada pada kata. dan Lima Puluh Kota). dari pertemuan dua tokoh ini. disimpan dalam rasa. mulai dari demokrasi sampai otoriter. Oleh sebab itu. kebijakan. “kita”. Gus tf Sakai dan Rusli Marzuki Saria. “kami” ternyata menyimpan sejarah. berpusat di nagari-nagari pinggang gunung Singgalang (diduga nama Singgalang adalah nama Sanskerta tempat para pendeta Hindu dan Budha) dan menyebar di luhak nan tigo (yakni. dari generasi kegenerasi. Pada karya sastra yang jadi persoalan adalah bagaimana manusia dihadirkan oleh kata. Tentang pembicaraan filsafat hidup yang perlahan. Agam. bukan sekedar lagu atau nyanyian cengeng. Dengan demikian setiap peradaban sulit untuk berkelit dari peradilan sejarah. sufistik. Musik ini melagukan kesedihan dan tragedi. musik ini. *** 4. Penutup Kata “saya”. “aku”. *** 15 . secara tragedi narasi kebudayaan hal ini sesungguhnya adalah jejak yang membawa kepada kemungkinan bahwa bangsa Minang mengalami trauma berat dari sekian kali ketercerabutan budaya. Akan tetapi. terlepas dari asuhan budaya Minang. sekarang lokasinya sekitar kabupaten Tanah Datar. Agaknya. Dalam maksud di sini adalah “bagaimananya itu”. Manusia ada pada alam kata- nya. Sudah tidak masanya para penguasa bersembunyi. yang tidak akrab dengannya. dan kesadaran diri. satu musik narasi Keminangkabauan (grand musik). Sebaliknya. yang sering dituduhkan orang-orang modern.Padang Panjang. Saluang merupakan narasi kesedihan yang sangat berat. ada sejarah di situ. lagu melankolis yang mematahkan semangat. militeristik. Sesuatu yang dalam. akibat penindasan militer dan ekonomi yang akhirnya keterpecahan jati diri. yang seakan menghantarkan orang dalam kesunyian dan perjalanan jauh seorang diri. karena dari satu kata yang dipakainya akan dapat dibaca sampai kepada dasar filosofinya. Saluang identik dengan rasa keminangkabauan. sejarah kekalahan. yang dikenal dengan istilah “ratap”. Itulah kesadaran. sistem politik. sesuatu yang hidup. Itulah. hanya generasi Minang yang dilahirkan di rantau. yang sangat mendukakan. Begitu juga kata “pertemuan” dan bagaimana is menyimpan kepedihan sejarah dan politik. manusia jadi ada. Bukankah pertemuan yang diberkahi adalah pertemuan yang mengantarkan kepada kesadaran. kemerdekaan dan penjajahan yang tidak terjangkau oleh ilmuwan sejarah.

Yogyakarta: Matahari. Menelajangi Kuasa Bahasa Teori dan Praktik Sastra Poskolonial. Khaidir. Zed. 2003. Kamoes Bahasa Minangkabau Bahasa Melajoe-Riau. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Sastra Revolusioner. 1935. Anwar. 16 . Pamoentjak. Padang: Jurnal Kebudayaan Genta Budaya. Yogyakarta: Qalam. Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia. Jakarta: Pustaka Firdaus. Sitor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1991. M.O Amuk Kapak Tiga Kumpulan Sajak Sutardji Calzoum Bachri. Gramedia: Jakarta. Helen Tiffin. Demokrasi dalam Persepektif Budaya Nusantara. Yogyakarta: LKPSM. Helen Tiffin. ed. Yogyakarta: Kanisius. Oktober. Anwar. Damono. F. Sapardi Djoko. 1995. Thaib. Aku Ini Binatang Jalang. Batavia: Balai Poestaka. Anwar.1 Tahun 1. Ashroft. Jakarta: Gramedia. ed. Gareth Griffiths. 2003.1. Padang: Jurnal Kebudayaan Genta Budaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.. Mestika. Gareth Griffiths. Drakarde. 2009. Sutardji Calzoum. 1981.” (artikel). Budi. Chairil.W. 1983.1999.1981. Panduan Pembaca Teori sastra Masa Kini. Cetakan ketiga. A Kingdom Of Words Language and Power in Sumatra. Mohammad. Najib. Brouwer. Pramoedya Ananta. Selden. Menelajangi Kuasa Bahasa Teori dan Praktik Sastra Poskolonial.d. dkk. Raman. 1976. Pamusuk Eneste. Edisi Agustus s. Jassin. A. gelar St. Abdul Aziz. Padang: Harian Haluan. Tahun 1.. London: The Johns Hopkins University Press. Edisi kedua. Edisi Agustus s. Edisi Ketiga. Derrida. 1998. Aku ini Binatang Jalang.1996. Yogyakarta: Qalam. 1975-1992. Sumatra Barat di Panggung Sejarah 1945 -1995. “Pandangan Pemangku Kebudayaan Daerah/Suku Bangsa tentang Kebudayaan Nasional. “Masyarakat Sumatera Barat dan Kehidupan Intelektual” (diskusi Yayasan Genta Budaya). Khaidir. ed. Bachri. Jane. Rusli. Terj.B. 2004. No. Jakarta: Sinar Harapan. Kritik Ideologi Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. Ashroft. 1999. New York: Oxford University Press. 2003. “Masyarakat Sumatera Barat dan Kehidupan Intelektual” (artikel). Chairil. Of Grammatology. Jaques. Saria. Bill. Jakarta: Sinar Harapan. Oktober. Kepribadian dan Perubahannya. Saleh. Jakarta: Gramedia. Bill.1993. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia dan Karangan Lain. Jakarta: Lentera Dipantara. Toer. Padang: Dewan Kesenian Sumatera Barat Anwar. Sembilu Darah: Lima Kumpulan Sajak. Situmorang. Kamus Besar Bahasa Indonesia. dkk. 1995. 1995. 1988. No. Jakarta: Sinar Harapan.Rachmat Djoko Pradopo. 11 Juli. 1984. H.Bibliografi Amran. M.d. Rusli Marzuki. Hardiman. Jakarta: Balai Pustaka. 2004. Sihir Rendra: Permainan Makna. 1994.