You are on page 1of 6

YULIANTI DAN GINTING: KARAKTERISTIK FISIK EDIBLE FILM DARI UMBI-UMBIAN

Perbedaan Karakteristik Fisik Edible Film dari Umbi-umbian yang
Dibuat dengan Penambahan Plasticizer

Rahmi Yulianti dan Erliana Ginting
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Jln. Raya Kendalpayak km 7, Kotak Pos 66 Malang, 65101
Email: rahmi_stp@yahoo.com

Naskah diterima 27 April 2011 dan disetujui diterbitkan 8 Juni 2012

ABSTRACT. Physical Characteristics of Edible Films Derived masing 1,7 N dan 2,6% serta 1,5 N dan 2,6%) serta memiliki sifat
from Tuber Crop Starches with Addition of Plasticizers. Starch fisik yang paling baik, diikuti oleh pati ubi jalar baik yang ditambah
is suitable for edible film, although the film produced is brittle. A sorbitol maupun gliserol.
study on preparation of edible film from starches of four tuber crops
with the addition of plasticizers was conducted at the Chemical and Kata kunci: pati umbi-umbian, plasticizer, edible film, karakter
Food Technology Laboratory, of the Indonesian Legumes and Tuber fisik.

E
Crops Research Institute (ILETRI), Malang, from March to July
2009. The trial was arranged in a randomized complete design with dible film merupakan lapisan tipis yang berfungsi
three replications. The first factors were four difference tuber crops
(cassava, edible canna, sweet potato, and arrowroot) and the
sebagai pengemas atau pelapis makanan yang
second factors were two kind of plasticizers (glycerol and sorbitol, sekaligus dapat dimakan bersama dengan produk
each at a concentration of 2% v/w starch). Observations were done yang dikemas (Guilbert and Biquet 1990). Robertson
on chemical and physical properties of the starches as well as (1992) menambahkan, selain berfungsi untuk mem-
physical characteristics of the edible film produced. Results showed
that the interactions between starches and plasticizers significantly
perpanjang masa simpan, edible film juga dapat
influenced colour, tensile strength, and elongation of the edible digunakan sebagai pembawa komponen makanan, di
film. However, the effect of plasticizer on thickness of the edible antaranya vitamin, mineral, antioksidan, antimikroba,
film was not significant. Arrowroot and cassava starches that have pengawet, bahan untuk memperbaiki rasa dan warna
the highest whiteness levels produced edible films with the highest
brightness values (L*). Edible films from the four tuber crops
produk yang dikemas. Selain itu, bahan-bahan yang
starches had similar thickness (0.02-0.03 mm). The arrowroot starch digunakan untuk membuat edible film relatif murah,
added with either sorbitol or glycerol produced edible films with the mudah dirombak secara biologis (biodegradable), dan
highest values of tensile strengh and elongation (1.7 N and 2.6%, teknologi pembuatannya sederhana. Contoh penggunaan
and 1.5 N and 2.6%, respectively), indicating for good physical
performances of edible films. These characters were followed by
edible film antara lain sebagai pembungkus permen,
starch of sweet potato that was treated with sorbitol or glycerol. sosis, buah, dan sup kering (Susanto dan Saneto 1994).
Keywords: tuber crop starches, plasticizer, edible film, Fungsi dan penampilan edible film bergantung pada
physical characterisctics. sifat mekaniknya yang ditentukan oleh komposisi bahan
di samping proses pembuatan dan metode aplikasinya
ABSTRAK. Pati sesuai untuk bahan baku pembuatan edible film (Rodriguez et al. 2006). Bahan polimer penyusun edible
(pelapis yang dapat dimakan), namun mudah sobek (getas), film dibagi menjadi tiga kategori yaitu hidrokoloid, lemak,
sehingga perlu penambahan plasticizer. Penelitian ini dilaksanakan
dan komposit keduanya (Krochta et al. dalam
di Laboratorium Kimia dan Teknologi Pangan Balitkabi, Malang, pada
bulan Maret-Juli 2009 dengan tujuan untuk membuat edible film Prihatiningsih 2000). Salah satu bahan edible film dari
dari empat jenis pati umbi-umbian dengan penambahan plasticizer. golongan hidrokoloid adalah polisakarida yang memiliki
Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap faktorial beberapa kelebihan, di antaranya selektif terhadap
dengan tiga ulangan. Faktor I adalah jenis pati (pati ubi kayu,
oksigen dan karbondioksida, penampilan tidak
ganyong, ubi jalar, dan garut) dan faktor II adalah jenis plasticizer
(gliserol dan sorbitol, masing-masing dengan konsentrasi 2% v/b berminyak, dan kandungan kalorinya rendah. Di antara
pati). Pengamatan meliputi sifat kimia dan fisik pati dan sifat fisik jenis polisakarida, pati merupakan bahan baku yang
edible film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi jenis pati potensial untuk pembuatan edible film dengan
dengan jenis plasticizer berpengaruh nyata terhadap tingkat
karakteristik fisik yang mirip dengan plastik (Lourdin et
kecerahan, kekuatan peregangan (tensile strength), dan
pemanjangan (elongasi) edible film, tetapi tidak berpengaruh al. dalam Thirathumthavorn and Charoenrein 2007),
terhadap ketebalannya. Pati garut dan ubi kayu yang derajat putihnya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa.
paling tinggi menghasilkan edible film dengan tingkat kecerahan
(L*) paling tinggi. Ketebalan edible film sama untuk semua perlakuan
Senyawa pati tersusun atas dua komponen, yakni
dan relatif tipis dengan kisaran 0,02-0,03 mm. Pati garut yang amilosa dan amilopektin. Menurut Guilbert dan Biquet
ditambah sorbitol atau gliserol menghasilkan edible film dengan (1990), kestabilan edible film dipengaruhi oleh
kekuatan peregangan dan pemanjangan yang paling tinggi (masing- amilopektin, sedangkan amilosa berpengaruh terhadap

131

28. 2 2012 kekompakannya. Bahan percobaan adalah ubi kayu pati garut dengan kadar amilosa cukup tinggi. yang menggambarkan Sifat kimia dan fisik pati yang digunakan sebagai bahan kekuatan film (Krochta et al. pati ubi jalar. 1997). Pati dengan kadar amilosa tinggi ganyong.5% pada pati garut Edible film dibuat dengan cara melarutkan pati butirat memberikan edible film lebih baik dibandingkan dengan plasticizer dalam akuades.9%. satu sama lain dengan nilai tertinggi pada pati ganyong 132 . Bahan yang digunakan untuk edible film dapat kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi). terbuat dari pati relatif mudah robek (getas). Auras et al. larutan lebah (beeswax) pada konsentrasi gliserol < 5%. dan garut dengan penambahan menghasilkan edible film yang lentur dan kuat (Lourdin plasticizer gliserol dan sorbitol. dan senyawa kecerahan warna dengan colour reader. karena struktur amilosa memungkinkan pembentukan ikatan hidrogen antarmolekul glukosa penyusunnya dan selama pemanasan mampu membentuk jaringan tiga BAHAN DAN METODE dimensi yang dapat memerangkap air sehingga Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan menghasilkan gel yang kuat (Meyer dalam Purwitasari Teknologi Pangan Balai Penelitian Tanaman Kacang- 2001). dalam Thirathumthavorn and Charoenrein 2007). gas. dan bulan Maret-Juli 2009. Ketebalan menentukan ketahanan Universal Testing Machine (Cuq et al. Setelah dicampur. PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL. dalam Prihatiningsih 2000). Selanjutnya. dalam kadar pati dengan hidrolisis asam yang dilanjutkan Rodriguez et al. Malang. untuk mengetahui ada tidaknya penambahan gugus Pemanjangan menunjukkan kemampuan rentang fungsi akibat interaksi pati dengan plasticizer. dan tingkat film terhadap laju perpindahan uap air. gliserol. et al. Plasticizer dari golongan dan derajat putih menggunakan Kett Whiteness Tester polihidrik alkohol atau poliol di antaranya adalah gliserol dengan MgO sebagai standar (85. 2008). ubi dalam suatu bahan pembentuk film untuk meningkatkan jalar. ubi jalar varietas Jago. ubi jalar. carboxy methyl sampai terjadi gelatinisasi. 1996).3% dan 28. Menurut Damat (2008).2 cm. dan lilin lebah. ganyong. Konsentrasi pati yang dengan penambahan sorbitol dan sirup glukosa (Damat digunakan adalah 8% b/v untuk volume total 100 ml. ganyong dan garut. Edible film yang dihasilkan dianalisis sifat penggunaan edible film antara lain ketebalan. (2009) juga mendapatkan struktur film sementara konsentrasi plasticizer gliserol dan sorbitol yang stabil dari campuran pati ubi kayu.9% (Richana et al. pemanjangan (elongation). lengkap faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. varietas Adira 4. gliserol. Juga dilakukan volatil lainnya. Penambahan sorbitol dapat meningkatkan nilai pemanjangan sehingga kerapuhan edible film menurun dan permeabilitasnya meningkat (Gennadios et al. masing. namun spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FTIR) kurang tahan terhadap uap air (Pagella et al. dan lilin masing-masing 2% v/b pati. 2006). 2001). baku edible film disajikan pada Tabel 1. meliputi ketebalan dengan mikrometer digital. dalam Prihatiningsih 2000). lebih efektif digunakan gel kemudian diangkat dan dicetak menggunakan plat untuk mengemas dodol durian selama 25-44 hari (Harris kaca berukuran 20 cm x 10 cm x 0. Edible tersebut dipanaskan di atas waterbath sambil diaduk film yang dibuat dari pati ubi kayu. Pengamatan sifat kimia dan fisik pati intermolekuler sepanjang rantai polimernya. dan kekuatan peregangan pemanjangan dan kekuatan peregangan dengan (tensile strength).3%. sehingga Percobaan disusun menggunakan rancangan acak perlu penambahan plasticizer agar lebih lentur. sehingga film meliputi kadar air dengan metode oven (AOAC 1990). fisiknya. pati ganyong. Edible film relatif tahan terhadap pengamatan terhadap spektrum Infra Red (IR) dengan perpindahan oksigen dan karbondioksida. Kekuatan HASIL DAN PEMBAHASAN peregangan (tensile strength) merupakan tarikan Sifat Kimia dan Fisik Pati maksimum yang dapat dicapai sampai film tetap bertahan sebelum putus/sobek. pada berupa pati ubi kayu. akan lentur ketika dibengkokkan (Garcia et al. plat kaca dikeringkan dalam oven pada suhu 50oC Sifat fisik yang menentukan kualitas dan selama 4 jam. 31 NO. edible film yang dihasilkan. Penambahan gliserol 1. dan garut) dan faktor kedua jenis plasticizer (gliserol fleksibilitasnya. 39. yang diolah menjadi pati menggunakan tahapan teknik 2000. karena dapat menurunkan gaya dan sorbitol). 2002). Larutan yang telah menjadi cellulose (CMC). Plasticizer merupakan bahan yang ditambahkan ke Faktor pertama adalah jenis pati (ubi kayu. masing 29. kadar amilosa (Juliano 1971) dan konsentrasi plasticizer. dan sorbitol.6%). Utomo dan Antarlina 1997). karakteristik dengan analisis gula dengan metode Nelson-Somogyi fisik edible film dipengaruhi oleh jenis bahan serta jenis (Sudarmadji et al. Kadar air empat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik jenis pati umbi-umbian bervariasi dan berbeda nyata edible film yang menggunakan bahan baku pati ubi kayu. Namun edible film yang Utomo dan Antarlina (1997).

3%). Kadar pati dipengaruhi ketebalannya juga sama. Semakin tebal edible film yang dihasilkan Noerwijati 2008). pati saat diproses.2% bk.9%.3 0.1 c 36. umur panen. Ubi kayu 7. KK (%) 2. rendemen pati tertinggi (25. akibat oksidasi (8. Utomo dan bk = basis kering. Kadar pati umbi yang dipanen pada semakin tinggi kemampuannya untuk menghambat laju musim hujan relatif lebih rendah karena kadar airnya gas dan uap air.4%) dan terendah pada pati ganyong (63.7% bk) dan terendah Jenis Kadar Rendemen Kadar Kadar Derajat pada pati ubi kayu (32.1% bk.6%). Hal ini Ubi jalar 7. pasir/kotoran yang terikut.6 a 5. pencucian.0 c 86.4 0. secara langsung tidak berpengaruh terhadap mutu semakin bagus kenampakan produk yang dikemas. gas. ganyong. a MgO sebagai standar (85.7 (Tabel 2). tertinggi pada pati ganyong (42. Menurut Widowati standar mutu untuk kadar air pati ubi kayu.4 Derajat putih pati berbeda nyata antarpati dengan BNT 5% 0.2%). tetapi pada pati ubi jalar dan garut lebih tinggi. dan kondisi cuaca pada saat panen (Ginting dan volatil lainnya.3 0. ubi jalar.2 d masing-masing 31.5 c disebabkan oleh perbedaan varietas. jagung (zein) yang menggunakan sorbitol dan asam 133 . kadar air keempat jenis pati telah memenuhi alami terdapat pada umbi ganyong.4% bk).7-13. Penggunaan lingkungan tumbuh tanaman serta cara atau metode gliserol dan sorbitol memberikan warna edible film yang pengolahan pati menentukan rendemen pati yang relatif sama untuk masing-masing pati. Antarlina (1997) melaporkan bahwa pati ganyong Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0. Hal ini disebabkan oleh terbentuknya warna coklat pada saat pembuatan pati. berwarna lebih gelap.6%).1 a 42.0 0. terutama pada saat pemarutan umbi.2% (Dwiyitno terhadap warna atau tingkat kecerahan (L*) edible film 2002. 2011). sehingga pada pati ubi kayu (85. bila terlalu tebal akan berpengaruh dipanen dari umur panen optimum semakin rendah terhadap kenampakan dan rasa/tekstur produk saat kadar pati umbinya (Ginting dan Noerwijati 2008).3-81. Utomo dan Antarlina 1997). Selain dimakan.3% bk).3 d 89. Ketebalan edible film oleh jenis/klon. 2005). namun berdampak terhadap Interaksi pati dan plasticizer maupun masing-masing aspek ekonomi. Pembuatan edible film Kadar pati keempat pati berbeda nyata dengan nilai menggunakan alat dan cetakan yang sama serta suhu tertinggi pada pati ganyong (89.6%) dan terendah pada pati ubi jalar (7.4 a Ganyong 8. karena semakin banyak campuran. edible film yang lebih dominan disebabkan oleh rendemen pati juga dipengaruhi oleh granula pati perbedaan derajat putih masing-masing pati daripada berukuran kecil (sekitar 5% dari jumlah total) yang sangat plasticizer yang digunakan.2 1. umur panen optimum masing-masing berpengaruh terhadap laju uap air.3 0. YULIANTI DAN GINTING: KARAKTERISTIK FISIK EDIBLE FILM DARI UMBI-UMBIAN Tabel 1. kadar pati juga dipengaruhi oleh tingkat kemurnian mm (Skurtys et al.8 b 86. (1999) yang nilainya 20.2%) (Tabel 1). Perbedaan warna dihasilkan (Ginting et al. Semakin cerah warnanya. semakin rendah lebih tipis dibandingkan dengan edible film dari pati kadar patinya per satuan berat (Ginting et al.8 nilai tertinggi pada pati ubi kayu (89. sehingga daya simpan produk semakin tinggi. lebih rendah dari hasil penelitian Interaksi pati dengan plasticizer berpengaruh nyata sebelumnya yang berkisar antara 10. Sifat kimia dan fisik pati ubi kayu. Namun.3 d 89.1% bk) dan terendah dan waktu pengeringan yang sama. (2005).6 a 85.7 b 34. sebab pati dengan rendemen tinggi faktor tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap akan lebih menguntungkan (Ginting et al.7 a 63. Menurut Woolfe (1992). maksimum dalam Ginting et al. Karakteristik Fisik Edible Film Nilai terendah rendemen pati diperoleh pada pati ganyong (5.8% bk dan 32. Warna edible film dapat mudah membentuk koloid dan hilang ketika proses berpengaruh terhadap kenampakan/penampilan ekstraksi. Ketebalan edible film biasanya kurang dari 0. Umur. untuk menghambat aktivitas 15% (BSN 1994).5 0. varietas. dapat ditambahkan garam sulfit atau Rendemen pati yang dihasilkan juga bervariasi dan klorida ke dalam air rendaman pada saat pemarutan berbeda nyata antarpati (Tabel 1). dan pengendapan. Secara senyawa polifenol oleh enzim polifenolase yang secara umum.2 b 12. dan senyawa umbi. dan Garut 8.8 c 84.2 0. dan Kadar amilosa berbeda nyata antarpati dengan nilai garut yang digunakan sebagai bahan baku edible film.25 itu.2 d 16.7 b 85. produk yang dihasilkan. 2005).05 uji BNT. Semakin cepat atau semakin lama tanaman lama.4 d 32.5 b lingkungan tumbuh (Utomo dan Antarlina 1997). Rendemen pati produk yang dikemas. enzim polifenolase. Kadar amilosa pati pati air pati pati amilosa putiha ganyong sedikit lebih rendah dibandingkan dengan hasil (%) (%) (% bk) (% bk) (%) penelitian Utomo dan Antarlina (1997) yang nilainya 44. 2005).8 c 25. Edible film yang dihasilkan pada penelitian ini relatif seperti serat. dan dengan kisaran nilai 80. ketebalan edible film (Tabel 2). sedikit lebih tinggi dari hasil penelitian Marseno et al. Ubi kayu memiliki umbi.

dan terendah pada pati ganyong (dengan Ubi kayu Gliserol 0.3 ab 2. Dengan sorbitol.03 81. dan ganyong tidak memberikan palmitat sebagai plasticizer dengan ketebalan 0. 0. meskipun nilainya cenderung dibandingkan dengan edible film dari pati garut dengan lebih tinggi pada penambahan sorbitol (Tabel 2). Menurut Suyitno (1998).7 a 1.9 abc 1.4 d 1.5 ab 0.8 b 1. dodol atau yang digunakan.6 a pati ubi kayu (40 cp) (Perez et al.028 mm (Yunchaled relatif sama.05 mm). Sorbitol merupakan derivatif gliserol dan sifat konsentrasi gliserol yang relatif rendah (< 0.4 c 0.2 0. Tingkat Kekuatan Peman- Perlakuan balan kecerahan peregangan jangan ketebalan film 0. semakin baik van Der Wall hidrogen antarmolekul penyusun edible kekuatannya dalam menahan tekanan/tarikan sehingga film. nyata pada taraf 0.2 mm.0 a 1. ganyong.6 a lebih tinggi dari pati garut (Tabel 1) menunjukkan nilai pemanjangan yang lebih rendah.6 ab 2. Sifat fisik edible film dari beberapa jenis pati dan plasticizer.9 0.0 berpengaruh nyata terhadap pemanjangan edible film.5%). pati ganyong yang kadar amilosanya Ubi jalar 0.0 Nilai pemanjangan tertinggi diperoleh pada perlakuan BNT 5% tn tn 0. Tabel 2 Plasticizer (B) menunjukkan interaksi jenis pati dengan plasticizer Gliserol 0. menghasilkan edible film dengan fleksibilitas tinggi (Mc Hugh and Krochta dalam Prihatiningsih 2000). 2011). baik dengan penambahan gugus fungsi baru akibat interaksi pati gliserol maupun sorbitol.02 81. seperti yang dilaporkan pemanjangannya justru lebih kecil pada penambahan oleh Proborini (2006) dan Safitri (2006). relatif sama dengan hasil penelitian ini. Fenomena tersebut didukung oleh hasil analisis Interaksi jenis pati dengan plasticizer berpengaruh spektrum dengan spektrofotometer Fourier Transform nyata terhadap kekuatan peregangan edible film (Tabel Infra Red (FTIR) yang menunjukkan penambahan 2).7 8. kekuatan peregangan edible film dari pati garut butirat dengan plasticizer gliserol 1.1 b pemanjangan film pada saat ditarik sampai putus.0 b Garut 0.7 c Ganyong 0.03 80.3 a 2. dan ketebalan film dapat menyebabkan Jenis pati (A) perbedaan tersebut.5% sebesar 8.7 bc 1.4 d dengan nilai viskositas (pada suhu 50°C) yang lebih tinggi Ganyong 0. Pemberian sorbitol pada protein whey dapat tn = tidak nyata.6 18.8 0. Pati garut dan ubi jalar menunjukkan nilai peregangan sorbitol dan gliserol pada pati ubi kayu.03 80. Sementara nilai terendah diperoleh pada puncak baru.03 81. Hal ini berkaitan Ubi kayu Sorbitol 0.3 tn pati garut.5 ab 2.2 bc 1.03 80. Demikian pula bila masing jenis pati tersebut.03 81.03 81.0 ditarik/dipanjangkan. Namun pada penelitian ini.3 film karena lebih elastis dan tidak mudah sobek.03 80. Edible disebabkan oleh perbedaan karakteristik bahan/pati film yang tipis sesuai untuk pelapis permen.03 80.0 abc 1. Hal ini mengindikasikan tidak terjadinya perlakuan pati ubi kayu dan ganyong.7 a 2.5 d Pada penelitian ini.9 c 1. sehingga nilai pemanjangannya Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda kecil. 2 2012 Tabel 2.6 c Pemanjangan edible film menunjukkan tingkat Ubi alar 0.03 80. Spektrum infra merah edible film dari pati garut tidak mudah sobek. Dengan viskositas yang tinggi tersebut.6 a Semakin besar nilai pemanjangan semakin baik edible BNT 5% tn 0. edible film BNT 5% tn 0. Damat (2008) melaporkan nilai disajikan pada Gambar 1. ubi jalar.9 b 1. sehingga pada jenis bahan campuran pati ubijalar dengan agar dapat menghasilkan tertentu dapat menghasilkan nilai pemanjangan yang edible film yang cukup tipis.4 0.3 ab 1. perbedaan dapat saja terjadi yang et al.5 a 2.08 mm nilai pemanjangan yang berbeda nyata untuk masing- dan 0.0 b 2. a L* = berkisar dari hitam (0) sampai putih (100).0 bc gliserol dan sorbitol) dan pati ubi kayu dengan sorbitol. Perbedaan jenis pati terutama (mm) (L*)a (N) (%) amilosa dan interaksinya dengan masing-masing plasticizer.0 1. ubi tertinggi. Puncak yang dihasilkan dari 134 . 31 NO. Sorbitol 0. Ubi kayu 0.9 1.7 cd (660 cp) dibandingkan dengan pati garut (170 cp) dan Ubi jalar 0. dalam Moorthy 2002).3 cenderung keras dan kurang fleksibel/elastis pada saat KK (%) 5 0. baik dengan penambahan sorbitol maupun Interaksi (AxB) gliserol.08 mm) dan pati ubi jalar Perkecualian tampak pada pati ubi kayu yang nilai dengan sorbitol 20% (0. baik dengan penambahan sorbitol maupun jalar maupun garut tidak mengakibatkan munculnya gliserol. Ganyong 0.6 a 2. PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL.024-0.3 ab 0.9 c 2. sosis sehingga tidak terasa kasar saat dimakan/dikunyah.3 c 1. namun hanya berupa interaksi ikatan semakin tinggi nilai peregangan edible film. Namun.8 N dengan Kete. penambahan sorbitol dan gliserol pada pati garut. dengan plasticizer.02 81.1 b Garut 0.3 b 0. Garut 0. keduanya hampir sama.02 81. penambahan gliserin 30% (0.05 uji BNT.03 80.13 mm (Prihatiningsih 2000).4 a 0.

penggunaan konsentrasi plasticizer yang tinggi dapat menyebabkan perbedaan nilai pemanjangan tersebut.5-2. Titik ikatan hidrogen dengan pati. memiliki tiga gugus O-H (Sudjadi 1983).1%) dan penulisan makalah ini.7% (Prihatiningsih 2000) dan dari pati teknis dan informasinya dalam pelaksanaan penelitian kentang dengan penambahan 20% gliserol (12. kayu dan ganyong. SP. Spektrum infra red (IR) edible film dari pati garut (a) Pati garut dan pati ubi jalar lebih sesuai untuk bahan dan yang diberi penambahan sorbitol (b) dan gliserol pembuatan edible film dibandingkan dengan pati ubi (c). 135 . Kecilnya nilai pemanjangan edible film pada penelitian ini juga berkaitan dengan relatif tipisnya edible film yang b dihasilkan. Penggunaan gliserol dan sorbitol tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap sifat fisik edible fim yang dibuat dari kedua jenis pati tersebut. Nilai kekuatan peregangan cenderung semakin besar dengan bertambahnya nilai pemanjangan edible film pada keempat jenis pati (Tabel 2). sedangkan gliserol hanya Sundari. sehingga mudah putus bila ditarik. (1. Berdasarkan nilai kekuatan peregangan dan pemanjangannya. hanya posisi puncak dengan penambahan sorbitol (Gambar 1b) lebih lebar dan bergeser ke arah kanan dibanding puncak edible film dengan penambahan gliserol (Gambar 1c). Pemanjangan dan kekuatan peregangan yang semakin besar dapat mengakibatkan edible film lebih elastis dan tidak mudah patah ketika c diberi beban. Joko S. Yogyakarta. YULIANTI DAN GINTING: KARAKTERISTIK FISIK EDIBLE FILM DARI UMBI-UMBIAN a (Rodriguez et al.6%) lebih kecil dibandingkan dengan edible film Hendra Budianto dan Sdr. Damat (2008) juga melaporkan fenomena yang sama pada penelitian edible film dari pati garut butirat dengan penambahan gliserol.0%) untuk pati ubi jalar dengan penambahan 20% sorbitol. Menurut Guilbert dan Biquet (1990). 2006). (2008) pada pati ubikayu yang ditambah dengan 20% dan 45% gliserol. Selain jenis bahan yang berbeda. diikuti oleh pati ubi jalar dengan penambahan sorbitol atau gliserol. Jusuf. KESIMPULAN Gambar 1. Sorbitol UCAPAN TERIMA KASIH mempunyai enam gugus O-H yang dapat membentuk Penulis menyampaikan terima kasih kepada Dr. meningkatnya kekuatan peregangan dapat meningkatkan daya patah (putus) edible film. Fakultas Teknologi Nilai pemanjangan edible film dalam penelitian ini Pertanian Universitas Gadjah Mada. edible film yang dihasilkan dari pati garut dengan penambahan sorbitol atau gliserol paling baik keragaan fisiknya. Dayu Senoaji (mahasiswa dari protein whey dengan penambahan 30% sorbitol FMIPA-Kimia Universitas Negeri Malang) atas bantuan yang nilainya 3. sehingga penggunaannya sebagai pengemas hampir mirip seperti plastik. (2004) dan Bergo et al. spektrum sama. Sdr. Dr. dalam Larotinda et al.. Suprapto. Safitri (2006) mendapatkan nilai pemanjangan yang jauh lebih tinggi (66. M. Utomo. Dr. Laboratorium Pangan dan Gizi. Peningkatan nilai pemanjangan juga diamati oleh Morais et al.

d/siding/datos/public-files/ Guilbert. Ginting.. da Silva.B. VCH Publishers. Jurusan Teknologi plasmanutfah ubi kayu untuk bahan pangan dan bahan baku Hasil Pertanian.436-442 Dalam: F.A. R. Arroyo. Guilbert. 1992.G. Prosiding Utomo. 22p. Zumiatun. Charoenrein. Spigno. 333-339..L. 1999. Bandung. Pagella. Padaga. J. dan M. 2004. 1994. htpp//intrawww. Food packaging principles and practice. St. Hidayat. V. Dewanti-Hariyadi. O.T. Osorio. and S. and B. 2006. Yunchaled.N.M. Damat. Pedreschi. makanan. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Sudjadi. DeFaveri. Skripsi (tidak dipublikasikan). Prihatiningsih. 2011. 2002.pdf (diakses 26 Juli 2011).. Malang: Jurusan Teknologi 61(8):463-471. Larotinda. D. Djagal W.. Laurindo. 1990.O. Brazillian Arch. Starch 54:559-592.S. S. dan S.R. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pangan. Noerwijati. AOAC. Hasil Pertanian. Food Science 3:580-583. Ghalia Indonesia 3 (2): 99-106. A. Perhimpunan Ahli Teknologi PI-Menpangan RI. S. of starch based edible coatings. SNI 01- 3451-1994.). PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL. Mativi. and D. A simplified assay for milled rice amylose. 1997. F.ac. S.. Biquet.B. 1971.). C.. N. Denpasar 16- Moorthy. Starch Proporsi Penambahan Gliserin). P. edible films and coating. Lestari.. Koswara. Dwiyitno dan Rufaidah.B. 2000. Sudarmadji. J. B. starch. Penentuan struktur senyawa organik. karakteristik edible film dari pati garut butirat. Agritek 16(3): Robertson. Family.B.R. Production and properties arundinaceae L) (Kajian Konsentrasi Suspensi Pati dan of spin-coated cassava starch-glycerol-beeswax films. S. New York. Pengaruh konsentrasi suspensi pati ubijalar (Ipomoea batatas L) dan proporsi penambahan sorbitol Ginting. New York. Food Res. cassava starch edible films). Safitri. Characterization Cambridge University Press. Skurtys. Haryono dan Suhardi. hlm. Enrions.ing. Satiawiharja (eds. Sobral. 2005. Ziani. dan R. dan M. 1992. Budijanto. F. 2008. of starch based edible films. Zakaria. R. palmitat terhadap ketebalan film dan sifat mekanik edible 136 . 2006. Food hydrocolloid edible films and Tanaman Pangan 24 (1): 8-16. Dalam: S. Habitante. Fakultas Technology and Science 21(2):85-89. Prosiding Seminar Nasional Persatuan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI).N. Dalam: S.C. and S.pdf (diakses 26 Juli 2011). Dalam myofibrillar protein-based biopacking as affected by film L. p. Edible films and coatings. Physical properties of edible films based on cassava suspensi tapioka dan konsentrasi karaginan terhadap sifat starch as affected by the plasticizer concentration. Haryadi. Hariyadi dan S. Prison. Maneepun.th/staff/cc/cc177. Antarlina. Identifikasi 15 klon terhadap sifat fisik dan kimia edible film. Potensi ganyong dan produknya Rodriguez. Int. B. J. Purwitasari. 2008. T. dan S. Yogyakarta. 2001. 30-31 Juli 2002. Aquilera. tropical tuber starches: A Review. Oses. M.S. P. 1998.ifrpd. Teknologi pengemasan bahan Cereal Sci. Teknologi Pertanian. Liberty. Made.M. Badan Standarisasi Nasional. Pembuatan Edible Film dari Pati Garut (Maranta Auras. P. Fakultas Teknologi Pertanian. F. Widodo. R.S. Dewanti. and A.M. 1997. Aging effect on Marseno. Budijanto (ed). Physicochemical and functional properties of 17 Juli 1997. L. Universitas Brawijaya. M.W. Blitar. Skripsi (tidak dipublikasikan). BSN. Richana. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas industri. Proborini.. Fakultas Teknologi Pertanian. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. G.J. Washington D. Chilmijati dan S. H. Gontard. Selke. B.).C.puc. Suyitno.A. 1990.Q. Multon (eds. Starch 59:493-497.M. p. and J. 1996. 2002. N. 2007. Pengujian sifat fisik bahan pangan. 2 2012 DAFTAR PUSTAKA film dari zein. coating. Bergo. Universitas Gadjah Mada. Kajian sifat fisiko-kimia pati Seminar Nasional Persatuan Ahli Teknologi Pangan Indonesia umbi-umbian selain ubi kayu. dan B. Jakarta. Prosedur analisa Harris. Y. effect of plasticizers and surfactants on the physical properties Wijanarko. D. Sweet potato an untapped food resource. N. Solorza-Feria. 2011.). Skripsi (tidak dipublikasikan). Yogyakarta. E. K. Suhartono (eds. 31 NO. Kemungkinan penggunaan edible film dari pati untuk bahan makanan dan pertanian. Combined sebagai bahan pangan alternatif. Acevedo. Carvalho.S. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Indonesia. A. 47(3):477-484.N. Rahayuningsih. R. J. and Tech. 2001. Official methods of analysis of association of official Skripsi (tidak dipublikasikan). Malang. dan Saneto.V. F. Food packaging. 2002. Mate. K. Widowati. Sifat mekanik sorbitol-and non-crystallizing sorbitol-plasticized tapioca edible film dari pati ketela pohon (mechanical properties of starch films. E.M. F. 2006. 10-11 Oktober 2000. dan K.I. 1994. Vaidirsoldi. and Karakteristik pati beberapa varietas ubi jalar. 396-406. Universitas Brawijaya.D. J... Zakaria. A. Today 16:334-340. tapioka untuk pengemas lempuk. C. Food and Bioproducts Processing 80:193-198. Pengaruh penambahan sorbitol dan asam ku.. P.. 2000.241-248. Jurnal Penelitian J. and J. Standar Nasional Indonesia untuk tapioka. Jakarta. dos Santos. Prosiding Seminar Nasional Industri Pangan Volume I. 2009. Malang. Bio. S. (PATPI).C. Nuraida. Marcel Dekker. Prasitdoung and S. Malang. analytical chemist. R. M. Cambridge. garut dan sagu) dan Cuq. N. and S. Yuwono (eds. volume I. p. Yogyakarta. Packaging fisik edible film). Efek jenis dan konsentrasi plasticizer terhadap Surabaya. profes/fpedreschi-GTSNWOEDCWJOGDA/Food Hydrocolloid Bureau and J. Thirathumthavorn. AOAC Int. www. 39: 840-846. thickness. Pembuatan edible film (kajian konsentrasi 2008. Woolfe JA. Functional properties of pemanfaatannya menjadi glukosa cair. Karakterisasi bahan berpati (tapioka.A.13-18.B. J. PATPI. PAU Pangan Biodegradable film made from raw and acetylated cassava dan Gizi. N. Universitas Gadjah Mada. Agritek 16(3):418-424. Susanto. Juliano. Yusuf. Brawijaya. In: G. Utilization of amylose from fractionate sweet potato starch. 1983.