You are on page 1of 8

STRATEGI DE-ESKALASI PADA PNEUMONIA

Novita Andayani
Abstrak. De-eskalasi antibiotik merupakan cara pengobatan pneumonia yakni pemberian
antibiotik awal berspektrum luas dengan probabilitas tinggi mencakup semua patogen yang
mungkin kemudian dalam waktu 48-72 jam dilanjutkan dengan pengalihan antibiotik spektrum
sempit berdasarkan data mikrobiologi yang dapat mencakup semua kuman penyebab (patogen
kausatif). Peran penting pada de-eskalasi adalah pada proses pengambilan keputusan dengan
memilih terapi spektrum luas secara empiris dan kebijakan menghentikan terapi antibiotik bila
hasil kultur sputum mikroorganisme sudah negatif dan terdapat tanda-tanda awal penyembuhan.
Tujuan utama dari de-eskalasi adalah berusaha mengganti rejimen terapi empiris kombinasi
menjadi rejimen monoterapi untuk mencegah resistensi selama pengobatan.
(JKS 2012; 3: 172-179)
Kata kunci : De-eskalasi antibiotik, pneumonia

Abtract. Antibiotic de-escalation is a way of treating pneumonia by giving broad spectrum
antibiotic followed by specific antibiotic after 48-72 hours based on the microbiology data which
include every micro organism associated. The important part of de-escalation is the decision of
choosing broad spectrum therapy empirically and the decision to stop the antibiotic therapy if
the result of sputum culture is negative and the signs of healing start to appear. The main
purpose of de-escalation is to try to change the regiment of empirical combination therapy to a
single therapy to prevent recystention during medication. (JKS 2012; 3: 172-179)
Key words : Antibiotic de-escalation, pneumonia

Pendahuluan pneumonia (HCAP) masih menjadi
Pneumonia merupakan masalah kesehatan penyebab angka kematian yang tinggi di
serius dan sering menimbulkan kematian di rumah sakit. Diperlukan penanganan dan
seluruh dunia baik di negara berkembang penatalaksanaan yang tepat pada
maupun negara maju. Dari data statistik pneumonia sesuai dengan panduan
kesehatan 2001, influenza dan pneumonia penanganan yang direkomendasikan oeh
merupakan penyebab kematian nomor American Thoracic Society- Infectious
enam di Indonesia. Laporan World Health Diseases Society of America (ATS-IDSA)
Organization (WHO) pada tahun 1999 tahun 2005 dan kelompok kerja pneumonia
menyebutkan bahwa penyebab kematian nosokomial Asia tahun 2008 yang
tertinggi akibat penyakit infeksi di dunia disesuaikan dengan data mikrobiologi
adalah infeksi saluran napas akut termasuk lokal. Rekomendasi terapi dipusatkan pada
pneumonia.1 Cara invasif untuk pemilihan antibiotik dan derajat penyakit
menemukan penyebab pneumonia di pasien.2
Amerika hanya ditemukan 50% sehingga Konsep strategi terapi saat ini adalah terapi
diperlukan pengobatan awal pneumonia secara de-eskalasi pada pasien pneumoni
dengan pemberian antibiotik secara berat seperti HAP, VAP dan HCAP.
empiris.2 Konsep tersebut digunakan untuk
Akhir-akhir ini terdapat kemajuan dalam menghindari terjadinya peningkatan angka
penatalaksanaan pneumonia, perawatan mortalitas dan morbiditas. Sebelumnya
dan tindakan pencegahan akan tetapi dikenal strategi terapi eskalasi yakni
ventilator-associated pneumonia (VAP), penatalaksanaan pneumonia berat seperti
hospital acquired pneumonia nosokomial VAP dengan memulai terapi pada satu jenis
(HAP) dan1 health-care associated antibiotik misalnya sefalosporin generasi
ketiga selanjutnya ditingkatkan terapi
Novita Andayani adalah Dosen Bagian dengan pemberian antibiotik lain yang
Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas memiliki spektrum lebih luas misalnya
Syiah Kuala/RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh

172

HAP dan HCAP. menyempitkan spektrum antibiotik dari menurunkan mortalitas. Tujuan kedua yakni waktu pada HAP. Prinsip kerja de-eskalasi dilanjutkan dengan pengalihan antibiotik adalah memilih paduan pengobatan terbaik spektrum sempit berdasarkan data untuk pasien pneumonia seperti HAP. Tujuan tersebut berguna disfungsi organ dan mempersingkat lama untuk meminimalkan terjadinya resistensi perawatan di rumah sakit dan menghemat antibiotik. VAP mikrobiologi yang dapat mencakup semua dan HCAP yakni dengan terapi antibiotik kuman penyebab (patogen kausatif). Menurut lebih dianjurkan daripada strategi eskalasi guideline ATS-IDSA pasien dengan faktor khususnya pada pasien pneumonia berat risiko terhadap kuman multi drug-resistant dan perawatan di Intensive Care Unit (MDR) disarankan untuk mendapatkan (ICU). 173 . Onset kuman penyebab. sudah negatif dan terdapat tanda-tanda awal Hal ini dilakukan untuk mencegah penyembuhan. Pada gambar 1 dijelaskan secara untuk penatalaksanaan yang jelas. risiko tinggi dengan menghindari Pemberian antibiotik spektrum luas tersebut penggunaan antibiotik yang tidak perlu juga harus memperhitungkan data sehingga mencetuskan terjadinya mikrobiologi dan pola resistensi setempat. mendapatkan terapi optimal serta biaya perawatan maka strategi de-eskalasi menghemat biaya perawatan.9 Pemberian antibiotik secara empiris juga diberikan bila didapatkan faktor risiko Tujuan Strategi De-eskalasi pada terhadap kuman MDR karena hampir Pneumonia semua pasien dengan HAP. mencegah dapat diartikan sebagai strategi dalam disfungsi organ dan menurunkan angka menyelaraskan kebutuhan pemakaian terapi perawatan di rumah sakit karena antibiotik awal yang adekuat pada pasien penanganan awal yang tidak adekuat.8 De-eskalasi antibiotik juga tingginya angka kematian.JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 golongan fluorokuinolon atau karbapenem menghindari pemakaian antibiotik jika bila pemeriksaan mikrobiologi diagnosis pneumonia telah disingkirkan.3-6 pengobatan antibiotik kombinasi.10 resistensi. menunjukkan resistensi kuman terhadap membatasi pemakaian antibiotik dengan antibiotik sebelumnya dan bila kondisi potensi aktifitas yang tinggi serta klinis pasien memburuk. Tujuan skematis algoritma strategi diagnosis dan pertama yaitu dengan memulai pengobatan penatalaksanaan secara empiris dan tepat antibiotik spektrum luas secara empiris dan untuk memulai pengobatan pada pasien memilih antibiotic yang bisa mencakup tersangka VAP. HAP dan mempunyai faktor risiko terhadap kuman HCAP memerlukan strategi de-eskalasi MDR.2 Definisi Strategi De-eskalasi Pengobatan Antibiotik Spektrum Luas De-eskalasi antibiotik merupakan cara Secara Empiris pengobatan pneumonia dengan dua ciri Tujuan de-eskalasi antibiotik yang telah penting yakni pemberian antibiotik awal disebutkan di atas agar dapat berspektrum luas dengan probabilitas tinggi meminimalkan resistensi kuman terhadap mencakup semua patogen yang mungkin antibiotik dan menurunkan biaya kemudian dalam waktu 48-72 jam pengobatan.VAP dan HCAP Penatalaksanaan pasien VAP.7 Peran spektrum luas yang bisa mencakup seluruh penting pada de-eskalasi adalah pada proses penyebab kuman patogen. Pemberian pengambilan keputusan dengan memilih antibiotik spektrum luas tersebut mampu terapi spektrum luas secara empiris dan dan efektif melawan kuman gram negatif kebijakan menghentikan terapi antibiotik dan gram positif serta harus segera bila hasil kultur sputum mikroorganisme diberikan jika terdapat tanda-tanda infeksi. mencegah spektrum luas. Saat ini untuk melakukan de-eskalasi pengobatan atau mencegah terjadinya resistensi. VAP dan HCAP telah dengan pembuktian diagnosis pneumonia.

4.7%) kasus diantaranya rumah (nursing home) diklasifikasikan yang membutuhkan penggantian rejimen dengan risiko tinggi terhadap kemungkinan antibiotik disebabkan resistensi kuman kuman MDR. Penentuan antibiotik berdasarkan pola kuman mikrobiologi tersebut harus didasarkan atas pengetahuan setempat untuk menurunkan mortalitas. dapat mencapai ke lokasi infeksi/penetrasi menyederhanakan terapi menjadi spektrum ke jaringan untuk menyembuhkan infeksi.1% kuman MDR dengan kriteria tersebut disebabkan kurang baiknya respons klinis kemungkinan besar disebabkan pemberian terhadap pengobatan. Penyebab terjadinya risiko terhadap antibiotik dan sekitar 62.2 (penetrasi obat) melawan mikroorganisme Beberapa pasien dengan riwayat perawatan penyebab pneumonia. resistensi.2. yang lebih sempit dan menghentikan cara pemberian antibiotik yang benar baik antibiotik bila hasil kultur kuman negatif secara intravena atau oral serta terapi serta terjadi perbaikan klinis. pertimbangan rasional.5 Pemberian eskalasi untuk meminimalkan resistensi dan antibiotik adekuat sejak awal dapat menghemat biaya pengobatan. tentang mikroorganisme yang ada. VAP dan HCAP2 Prinsip strategi de-eskalasi yaitu strategi Pemberian Antibiotik Secara Tepat dan dengan cara pemberian antibiotik secara Dosis Adekuat adekuat (poten) sejak awal terapi kepada Kesembuhan pasien HAP dapat dicapai pasien yang memiliki faktor risiko tinggi dengan pemberian antibiotik kombinasi dengan menghindari penggunaan antibiotik yang tepat dan kuman penyebabnya masih kurang tepat. Menurut Alvarez- rumah sakit sebelumnya atau mempunyai lerma10 dari 490 kasus pneumonia di ICU riwayat fasilitas perawatan kesehatan di terdapat 214 (43. Novita Andayani. obat pemberian antibiotik spektrum luas. pola mencegah disfungsi organ dan resistensi kuman di lokasi setempat. Pemberian riwayat terapi terapi awal tidak lebih dari 4 jam sejak antibiotik yang tepat merupakan salah satu pasien dirawat di ICU dengan antibiotik syarat keberhasilan penatalaksanaan berspektrum luas dengan dosis tinggi pneumonia berat.2 Terapi antibiotik empiris pada tersangka HAP. Antibiotik yang tidak adekuat sensitif dengan antibiotik tersebut serta dan kurang tepat dapat memicu timbulnya pemberian terapi antibiotik yang adekuat. Strategi antibiotik secara kombinasi jika tersebut dilakukan dengan memberikan memungkinkan.VAP atau HCAP Onset lambat (≥ 5 hari) atau terdapat faktor risiko kuman MDR Tidak Ya Terapi antibiotik spektrum Terapi antibiotik spektrum luas sempit untuk kuman MDR Gambar 1 Algoritma pemberian terapi antibiotik pada HAP. Strategi De-eskalasi pada Pneumonia digunakan untuk mengklasifikasikan pasien terapi empiris sebelumnya yang kurang berdasarkan onset dini dan onset lambat tepat sehingga antibiotik tersebut tidak berdasarkan kapan dimulainya infeksi yang mampu melakukan aktivitas in vitro dihitung pada 4 hari pertama perawatan. Strategi de-eskalasi lainnya Terapi antibiotik yang tepat dan adekuat adalah dengan memperpendek durasi dalam arti tepat dosis (dosis optimal).11 meningkatkan angka ketahanan hidup 174 . mempersingkat lama perawatan di rumah pemilihan jenis obat berdasarkan sakit serta mengoptimalkan terapi de.

Terapi antibiotik awal yang tidak adekuat Pemberian Terapi Kombinasi dan dan lambat dalam memberikan terapi Monoterapi merupakan faktor risiko kematian pada Beberapa strategi telah disarankan dalam HAP dan VAP. HAP dan HCAP berada di atas garis minimal inhibitor diperlukan dosis antibiotik yang concentration (MIC) (T > MIC) yang bisa mempunyai efikasi yang tinggi dan dosis membunuh kuman seperti pada antibiotik tersebut diberikan pada pasien dengan β-laktam. karbapenem. Gabungan terapi antibiotik adalah bakterisid dan ada juga kombinasi harus antibiotik dari golongan bakteriostatik. Terapi kombinasi aminoglikosida dan golongan kuinolon kuman gram negatif biasanya dari 175 .13 berada diantara 2-4 MIC dan aktivitas Konsep terapi de-eskalasi telah muncul membunuh kuman terjadi jika T > MIC sebagai strategi untuk menangani infeksi lebih dari atau sama dengan 40%. Pada pedoman ATS- yang tepat dan adekuat sejak awal IDSA dikatakan bahwa pasien dengan merupakan faktor penting pada faktor risiko untuk kuman MDR kesembuhan pasien.5 konsentrasi obat antibiotik yang tetap Penanganan VAP. Konsentrasi antibiotik yang subletal menyebabkan kegagalan terapi akibat dapat mencetuskan terjadinya resistensi timbulnya resistensi kuman terhadap obat. fungsi ginjal yang masih baik.16 dan linezolid dapat melampaui konsentrasi Terapi antibiotic spektrum luas yang serum di sekret bronkial. Optimalisasi terapi antibiotik Terapi empiris yang adekuat adalah jika berdasarkan prinsip farmakokinetik satu atau lebih antibiotik yang digunakan dan farmakodinamik berperan dalam masih sensitif terhadap kuman penyebab mengurangi kejadian resistensi antibiotik. efikasi dan toksisiti. Pilihan memulai penggunaan antibiotik yang tidak perlu pengobatan dini harus berdasarkan faktor sebagai pemicu terjadinya resistensi risiko kuman yang spesifik. Terapi selama pengobatan. Mekanisme aksi diberikan harus ditambahkan terapi obat tertentu dapat mempengaruhi dosis kombinasi yang bisa melawan kuman obat. Antibiotik yang bekerja yang berbeda untuk mencegah mekanisme secara bakterisid adalah golongan terapeutik antagonis. tujuannya dipertimbangkan untuk menyeleksi dosis untuk memberikan terapi sederhana yang obat yang adekuat. Beberapa penyebab MDR. dosis glikopeptida dan linezolid. beberapa antibiotik yang tidak dapat Pemberian obat secara monoterapi pada bekerja baik ke lokasi infeksi dan tidak kuman P. dan jika pemberian obat berdasarkan pola Durasi pemberian obat tergantung pada kuman setempat.2 disarankan mendapatkan terapi awal Farmakodinamik antibiotik spesifik harus dengan rejimen kombinasi.JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 pasien tersebut pada saat data mikrobiologi yang dapat membunuh kuman lebih cepat belum tersedia dan sebaliknya pemberian pada consentration-dependent killing yang antibiotik yang tidak adekuat dapat tinggi. Obat ini disebut antibiotik pada pasien HAP.14-16 bakteri yang serius seperti HAP dan VAP. Terapi kuman. aeruginosa dan Enterobacter mencapai konsentrasi tinggi. monobaktam. Hal ini disebabkan ada bisa mencakup kuman tersangka MDR. VAP dan time dependent killing. Hampir spp kemungkinan besar dapat semua antibiotik β-laktam mempunyai menyebabkan resistensi obat misalnya konsentrasi serum di paru hanya mencapai diberikan hanya golongan sefalosporin kurang dari 50% sedangkan fluorokuinolon generasi tiga. obat. efek maksimal HCAP dapat dilihat pada tabel 2.4. Tujuan utama dari de-eskalasi antibiotik dapat diganti berdasarkan adalah berusaha mengganti rejimen terapi respons klinis pasien dalam 2 sampai 3 hari empiris kombinasi menjadi rejimen dan ditemukan hasil kultur semikuantitatif monoterapi untuk mencegah resistensi dari sekret saluran napas bawah.2.

Levofloksasin dosis mortalitas dan morbiditas yang disebabkan tinggi (dosis 750 mg).17 sempit atau malah menghentikan antibiotik Pengobatan dengan monoterapi bisa jika perlu. mengurangi durasi pengobatan dan atau Meropenem. 2. kuinolon atau menghentikan pengobatan berdasarkan aminoglikosida. ketiga. gram negatif dan yang masih tersisa untuk menekan anaerob. lebih rendah. Manfaat dari yang efektif untuk HAP dan VAP tanpa strategi ini yaitu dapat mengurangi factor risiko MDR atau nonpseudomonas masalah biaya. mengganti kecuali jika pengobatan monoterapi terapi dari spektrum luas menjadi spektrum golongan karbapenem seperti Imipenem sempit. pertama bila sensitif terhadap antibiotik golongan yang kombinasi tersebut memberikan sinergi. pemberian antibiotik yang tidak 8. influenza dan S. bisa menunda terjadinya resistensi dan aureus.2 176 . Piperaciline/Tazobactam. H.17 lama bisa didapatkan pada pengobatan kuman gram negatif dengan kombinasi De-eskalasi Antibiotik Menjadi antibiotik β-laktam dan aminoglikosida. Meskipun kombinasi respons klinis pasien dan hasil kultur golongan kuinolon lebih bagus mikrobiologi. Bila kriteria ini dipenuhi dan pertumbuhan kuman meskipun kadar diterapkan secara benar maka kecil antibiotik dibawah MIC.2 keempat bila terjadi infeksi campuran Postantibiotik effect (PAE) yaitu efek obat bakteri gram positif. Cefepim dan adekuat. Pasien dengan HAP tanpa faktor kombinasi menjadi monoterapi. Novita Andayani. Strategi ini harus aman dan digunakan pada pasien tanpa faktor risiko tepat dalam mengubah terapi dari MDR. Kombinasi minimal dua agen perbaikan dan lebih difokuskan pada antibiotik lebih baik untuk mengurangi antibiotik tertentu serta bila tidak terdapat mortalitas dan resistensi pada pasien kuman seperti P. Terapi tunggal Terapi de-eskalasi dapat dilakukan pada tidak direkomendasikan untuk pneumonia pasien yang menunjukkan respons klinis berat. Strategi ini risiko MDR kemungkinan besar respons harus berdasarkan data mikrobiologi dengan pengobatan monoterapi. aeruginosa tahap yaitu : diawali dengan pemberian tidak mempunyai efek PAE atau antibiotik empiris spektrum luas dengan mempunyai efek yang singkat misalnya tujuan mencegah terjadinya terapi yang pada antibiotik monoterapi β-laktam tidak adekuat dan kurang tepat.11 Meropenem. Singh dkk.dikutip dari 2 kedua apabila kuman masuk kategori berat menyatakan bahwa Ciprofloksasin sangat dan belum diidentifikasi.11. Spektrum Sempit Pengobatan secara monoterapi melawan Strategi de-eskalasi antibiotik ada beberapa kuman gram negatif seperti P. Hasil kultur negatif atau dengan HAP ringan tanpa faktor risiko tidak ditemukan kuman dan respons klinis MDR biasanya respons dengan obat pasien menunjukkan perbaikan setelah 2-3 Ciprofloksasin sedang obat monoterapi hari dengan pengobatan. Strategi De-eskalasi pada Pneumonia golongan β-laktam. Pemberian obat Acinetobacter spp pada pemeriksaan dengan monoterapi harus diberikan secara mikrobiologi dan hasil kultur optimal. Imipenem. menurunkan angka yaitu Ciprofloksasin. Efek PAE yang kemungkinan terjadinya MDR. aeruginosa atau dengan pneumonia berat. Terdapat empat kriteria terapi mikroorganisme biakan spesimen masih kombinasi antibiotik. Pasien sebelum diterapi. jika bisa efektif pada sebagian besar kasus kuman dibuktikan kalau terapi kombinasi tersebut Enterobacteriaceae. De-eskalasi dapat dilakukan penetrasinya dibandingkan aminoglikosida jika hasil kultur data mikrobiologi dan dan efek toksik ke ginjalnya lebih rendah profil kuman telah keluar setelah beberapa akan tetapi angka kesembuhan dengan hari yaitu sekitar 24-72 jam dengan kombinasi obat dengan aminoglikosida memberikan rejimen antibiotik spektrum lebih banyak terjadi.

Pemberian antibiotik secara singkat dan oral adalah sama seperti Doksisiklin. Pasien yang mendapat suatu antibiotik oral yang dapat digunakan terapi singkat mempunyai respons klinis untuk melakukan alih terapi adalah yang sama dengan pasien yang mendapat kesamaan potensi obat atau area under the terapi lebih lama dengan angka kekambuhan curve (AUC) dengan sediaan intravena atau dan resistensi antibiotik minimal.21 mendekati 100% namun hal terpenting adalah kemampuan obat mencapai target Alih Terapi (switch therapy) organ dengan kadar yang sama atau diatas Masa perawatan di rumah sakit sebaiknya MIC. Singh dkk. aeruginosa maka durasi pemberian dibandingkan terapi intravena dikenal antibiotik bisa dipersingkat menjadi 7-8 dengan step down terapi misalnya hari. waktu pengobatan dengan rentang waktu Pengalihan terapi oral dihubungkan dengan 14-21 hari akan tetapi bila kuman penyebab penurunan kadar obat dalam serum bukan P. eskalasi yang dapat menurunkan efek terapi sekuensial dan switch over. Parameter farmakokinetik dan dipersingkat oleh karena dapat mengurangi farmakodinamik untuk optimalisasi terapi resistensi antibiotik. dikutip dari 9 tersebut harus mempunyai sifat menggunakan sistem skoring CPIS untuk farmakokinetik dan mampu mencapai organ mendiagnosis pasien tersangka VAP dan target dengan kadar diatas MIC sehingga mendapat pengobatan antibiotik selama 3 mampu mengeradikasi kuman penyebab hari.JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Pemendekan Durasi Antibiotik parenteral kepada antibiotik oral yang efektif Pemendekan durasi atau waktu pemberian pada pengobatan kasus infeksi yang serius. Terapi samping antibiotik dan mencegah risiko sekuensial adalah pengalihan obat dari kuman terhadap kolonisasi serta tumbuhnya intravena ke oral dengan prinsip kadar obat kuman yang resisten terhadap antibiotik dalam serum mencukupi dan dipertahankan akibat pemberian antibiotik yang terlalu sehingga kadar obat yang dicapai intravena lama. strategi tersebut dengan antibiotik dapat dilihat pada gambar 2.17 Sefalosporin generasi III intravena menjadi Penelitian sebelumnya telah dilakukan Amoksisilin atau Eritromisin oral. berbeda dengan sistem lama yaitu infeksi. angka dengan kadar obat yang sama misalnya mortalitas dan angka kekambuhan ketika sefalosporin generasi III intravena menjadi dibandingkan dengan pasien yang tidak siprofloksasin oral.9. efek samping. Salah satu kriteria farmakokinetik selama 10-21 hari. antibiotik dipersingkat dari terapi empiris Dalam pelaksanaannya alih terapi dapat spektrum luas melalui pendekatan de. Syarat sediaan oral dilakukan de-eskalasi. berhubungan dengan rendahnya risiko Linezolid dan golongan Kuinolon seperti terhadap resistensi antibiotik dibandingkan Levofloksasin serta Moxifloksasin.23 melakukan pengalihan terapi antibiotik Konsentrasi waktu Gambar 2 Parameter farmakodinamik dan farmakokinetik23 177 .22. dilakukan dengan cara step down terapi. tentang de-eskalasi dari terapi empiris Sedangkan istilah switch over adalah antibiotik yang aman setelah 3 hari dengan pengalihan jenis obat yang berbeda tetapi respons yang sama.

saat yang tepat untuk melakukan al. 2006. Alvarez-Lerma F. Youssef NCM. 2006. Diagnosis of ventilator-associated pengalihan terapi merupakan faktor pneumonia. adekuat dapat mencegah kemungkinan 6. 36 : 83-92. farmakoekonomi pada pasien pneumonia. 2. mikrobiologis dan bila memungkinkan Respir and Crit Care Med. Treatment recommendations of memberikan dan mengurangi komplikasi hospital-acquired pneumonia in Asian pemberian antibiotik intravena. Niederman MS. Durasi antibiotik dipersingkat untuk ventilator-associated pneumonia. luas ke spektrum sempit bila terdapat 8. Ranieri VM. lokal. Lagamayo EN. in the Intensive Care Unit setting. Rea-Neto A. 2006. 2008. Chastre J. pneumonia: state of the art. Asian HAP working group. 36 : 101-8. mengetahui pola resistensi kuman 5. Med. Ventilator-associated setempat. The Importance of de- escalating antimicrobial therapy in patients with ventilator-associated pneumonia. antibiotik yang datanya diperoleh secara 3. Abroug F. Kearifan dokter untuk menentukan Brunkhorst F. 27 : 45-20. Niederman MS. dapat dilakukan secara empiris dan and healthcare-associated pneumonia. Am dengan pengobatan antibiotik secara J Respir Crit Care Med. Crit 5. et al. Song JH. Antimicrobial resistance in memperhitungkan jenis kuman yang major pathogens of hospital-acquired ada. American Thoracic Society. 1. Strategi de-eskalasi sebaiknya diawali and healthcare-associated pneumonia. Tuche F. for the management of adults with Pemilihan antibiotik untuk keperluan ini hospital-acquired. 17 : kuman penyebab dan uji resistensi 388-416. Frutos-Vivar F. Crit Care Med. Pemberian antibiotik dengan tepat dan Crit Care Med. The Importance of de- tanda-tanda perbaikan klinis dan hasil escalating antimicrobial therapy in patients negatif pada pemeriksaan kultur with ventilator-associated pneumonia. sebaiknya berdasarkan pola resistensi Am J Respir Crit Care Med. Guidelines for the management of adults with Kesimpulan hospital-acquired. 165 : 867-93. Tejerina E. Optimizing antibiotic therapy bila diagnosis pneumonia disingkirkan. Melakukan pengalihan terapi untuk Care Med. Am J Respir 2. Crit Care pasien dengan pneumonia berat. ventilator-associated. 2005. mempersingkat lama perawatan dan 10. Anzueto A. spectrum antibiotic therapy of nosocomial 6. 5 : 189-95. resistensi terhadap obat dengan 7. risk factors. Empiric broad- mencegah resistensi obat. Craven DE. Fagon J. countries : first consensus report by the meningkatkan kepatuhan pasien. J Crit menghindari efek samping obat dan Care. terjadinya resistensi obat dan kematian. 11. and outcome of 3. Niederman MS. Palizas F. Am J 4. 9. 2008. pneumonia in Asian Countries. 2006. 171 : empiris dengan spektrum luas dengan 388-416.22 4. Am J Infect mengurangi kejadian resistensi kuman Control. 178 . 2001. a systematic review of penentu dalam pertimbangan literature. Reinhart K. 2002. Strategi de-eskalasi merupakan strategi pneumonia in the intensive care unit: a yang aman digunakan untuk mengobati prospective observational study. et. ventilator-associated. Infectious penyebab infeksi paru terhadap antibiotik Diseases Society of America. Kollef MH. 27 : menghentikan pemberian antibiotik 45-50. Guidelines dan dapat menekan biaya perawatan. Menyempitkan antibiotik dari spektrum Infect Control. Strategi De-eskalasi pada Pneumonia Beberapa keuntungan yang diperoleh dari Daftar Pustaka alih terapi antibiotik ini antara lain adalah 1. Restrepo MI. 12 : 1186-97. 14 : 1-11. Novita Andayani. 2005. 2008. Incidence. Respir Crit Care Med. 21 : 56-65.

153 : 22. Liebovici L. Nosocomial combination therapy for sepsis in pneumonia the importance of a de. Zurlinden E.Curr Anaest And Crit Care. Estes LL. Chest. 23. treatment of ventilator-associated 14. Chambers RM. resistant Staphylococcus aureus 2003. 2002. Diagnosis. 2005. acquires and ventilator-associated antimicrobial therapy and prevention. Bowton DL. 2001. 122 : 2183-96. 57 : 366-71. Bauer T. 18 : 301-11. Cammarata SK. Am J Respir Crit Care Med. 124 : 19. Pharmacodynamic 17. 2002. acquired pneumonia in adults : diagnosis. Guidelines 1711-25. Antimicrob pulmonary physician in critical care : Agents Chemother. Linezolid pneumonia during mechanical ventilation vs vancomycin : analysis of two double. 2008. J. Chest. 2002. revisited. Kollef MH. Am J 199-205. Respir Crit Care Med. 46 : 1475–80. Zahar JR. and preventive antimicrobial de-escalation. Kollef MH. Benuri-Silbiger I. Intrapulmonary 20. nosocomial pneumonia. 16 : 209-19. Brun-Buisson C. Conte JE Jr. Soares-Weiser optimization of β-lactams in the patient K. 2004. American Thoracic Society. β-Lactam monotherapy care setting. trials. : the clinical pulmonary infection score blind studies of patients with methicillin. The importance of community acquired pneumonia. Hospital.JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 12. Kipps pneumonia. Diagnosis and 1789–97. J Respir Crit Care. initial Computer-based monitoring as a tool for antimicrobial therapy. 12 : versus β-lactam–aminoglycoside 1-5. Rello J. Thorax. 130 : 597-604. Crit Care Med. 2006. 15. Hoffken G. 2008. for the management of adults with 16. Chest. Paul M. 3 : strategies [consensus statement]. 21. assessment of severity. 163 : 1730-54. The pharmacokinetics of linezolid. Golden JA. American Thoracic Society. antimicrobial resistance in hospital. Maitre B. assessment of severity. Torres A. Fartoukh M. 2003. 179 . Nicolau DP. Porzecanski I. 13. 1996. 18. BMJ. Wilson JW. Ewig E. nosocomial pneumonia. Cerf C. Am pneumonia. 168 : 173-9. Diagnosing Croos-Dabrera RV. immunocompetent patients : systematic escalating strategy for antibiotic treatment review and metaanalysis of randomised of pneumonia in the ICU. Wunderink RG. Niederman MS. Honore S.