You are on page 1of 10

RUPTUR URETRA

I. Pendahuluan
Ruptur uretra adalah kerusakan kontinuitas uretra yang disebabkan oleh ruda
paksa yang datang dari luar (patah tulang panggul atau straddle injury) atau dari dalam
(kateterisasi, tindakan-tindakan melalui uretra). Ruptur uretra merupakan suatu
kegawatdaruratan bedah yang sering terjadi.1
Trauma uretra posterior yang paling sering dikaitkan dengan patah tulang
panggul, dengan kejadian 5% -10%. Dengan tingkat tahunan sebesar 20 patah tulang
panggul per 100.000 penduduk. Trauma uretra anterior kurang sering didiagnosis
kegawatdaruratan, dengan demikian, kejadian yang sebenarnya sulit untuk ditentukan.
Fraktur pelvis yang tidak stabil atau fraktur pada ramus pubis bilateral merupakan
tipe fraktur yang paling memungkinkan terjadinya cedera pada urethra posterior.
Dilaporkan, cedera pada urethra posterior sekitar 16% pada fraktur pubis unilateral dan
meningkat menjadi 41% pada fraktur pubis bilateral. Cedera urethra
prostatomembranaceus bervariasi mulai dari jenis simple ( 25%), ruptur parsial ( 25%)
dan ruptur komplit ( 50%).2

II. Anatomi
Sistem kemih seluruhnya terletak di bagian retroperitoneal, sehingga proses
patologi seperti obstruksi, radang, dan pertumbuhan tumor terjadi di luar rongga
abdomen, tetapi gejalanya dan tandanya mungkin tampak di perut menembus peritoneum
parietal belakang. Gajala dan tanda jarang disertai tanda rangsang peritoneum. Arteri
renalis dan cabangnya merupakan arteri tunggal tanpa kolateral (end artery) sehingga
penyumbatan pada arteri atau cabangnya mengakibatkan infark ginjal. Dinding ureter
mempunyai lapisan otot yang kuat, yang dapat menyebabkan kontraksi hebat disertai
nyeri yang sangat hebat. Dinding muskuler tersebut mempunyai hubungan langsung
dengan lapisan otot dinding pielumdi sebelah cranial dan dengan otot dinding buli-bulidi
sebelah kaudal. Ureter menembus dinding muskuler masuk ke kandung kemih secara
miring sehingga dapat mencegah terjadinya aliran balik dari kandung kemih ke ureter.
Sistem pendarahan ureter bersifat segmental dan berasal dari pembuluh arteri ginjal,
gonad, dan buli-buli.3

1

2. orificium uretra internum dan uretra prostatica. serta sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan antara uretra anterior dan posterior. Panjang uretra pada pria sekitar 8 inci (20 cm). yang saling berbatasan pada diafragma urogenital. Sfingter uretra eksterna terdiri atas otot bergaris dipersarafi oleh sistem somatik yang dapat diperintah sesuai dengan keinginan seseorang. Gambar 1: Potongan sagital organ pelvis pada pria dan perempuan.4 Secara anatomis. Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos yang dipersarafi oleh sistem simpatis sehingga pada saat buli – buli penuh. Urethra bulbosa.5 Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli – buli dan uretra. urethra pada pria terbagi dua menjadi pars anterior dan pars posterior. Urethra penil atau pendulosa berjalan di sepanjang penis dimana berakhir pada fossa naviculare dan meatus urethra eksternus. Uretra adalah saluran kecil yang dapat mengembang. yang berfungsi untuk menyalurkan urin dari vesika urinaria hingga meatus bermuara ke meatus urinarius externus. Struktur yang menjaga adalah ligamentum puboprostatika melekatkan prostat membran pada arkus anterior pubis. Urethra proksimal mulai dari perbatasan dengan buli-buli.5 2 . agak menonjol pada proksimal anterior. berjalan dari vesika urinaria sampai keluar tubuh. Pada saat kencing sfingter ini terbuka dan tetap tertutup pada saat menahan kencing. berjalan di sepanjang bagian proksimal korpus spongiosum dan berlanjut menjadi urethra pendulosa di sepanjang uretra anterior. sfingter ini terbuka. Urethra postatica seluruhnya terdapat di dalam prostat dan berlanjut menjadi urethra membranaceus. Urethra membranaceus terdapat pada ujung anterior diafragma urogenital dan menjadi bagian proksimal urethra anterior setelah melewati membran perineum. Ductus dari glandula Cowper bermuara di urethra bulbosa.

Kurang lebih sepertiga medial uretra. sedangkan pada uretra wanita sekitar 11/2 inci (4cm).4 III. seperti akibat pemasangan kateter. Etiologi Terjadinya ruptur uretra dapat disebabkan oleh cedera eksternal yang meliputi fraktur pelvis atau cedera tarikan ( shearing injury). dan bedah endoskopi.3. juga dapat disebabkan oleh cedera iatrogenik.11 1.3. Yang menurut kejadiannya. Selain itu. yaitu : 3 . yang berada di bawah simfisis pubis dan bermuara di sebelah anterior vagina. terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot bergaris. diantaranya adalah kelenjar skene. Dan terdapat sekitar 85% kasus rupture uretra anterior pars bulbosa akibat trauma tumpul. Fraktur pelvis Cedera urethra posterior utamanya disebabkan oleh fraktur pelvis. businasi. Tonus otot sfingter uretra eksterna dan tonus otot levator ani berfungsi mempertahankan agar urin tetap berada di dalam buli – buli pada saat perasaan ingin miksi. Di dalam uretra bermuara kelenjar pariuretra. dan relaksasi sfingter uretra eksterna. Miksi terjadi jika tekanan intravesica melebihi tekanan intrauretra akibat kontraksi otot detrusor. terbagi atas 3 tipe.7 Ruptur uretra anterior biasanya terjadi karena trauma tumpul (paling sering) atau trauma tusuk.

Cedera ini terjadi ketika tarikan yang mendadak akibat migrasi ke superior dari buli-buli dan prostat yang menimbulkan tarikan di sepanjang urethra posterior. Rupture uretra posterior Terletak di proksimal diafragma urogenital. paling berbahaya dan bersifat tidak stabil.7 2.  Cedera akibat kompresi anterior-posterior  Cedera akibat kompresi lateral  Cedera tarikan vertikal. Cedera urethra posterior terjadi akibat terkena segmen fraktur atau paling sering karena tarikan ke lateral pada uretra pars membranaceus dan ligamentum puboprostatika. uretra terpisah seluruhnya dan ligamentum puboprostatikum robek sehingga buli-bulidan prostat terlepas ke kranial. Ruptur uretra posterior dapat terjadi total atau inkomplit. mudah timbul infiltrate urin yang mengakibatkan sellulitis dan septisemia bila terjadi infeksi. Cedera ini juga terjadi pada fraktur pubis bilateral (straddle fraktur) akibat tarikan terhadap prostat dari segmen fraktur berbentuk kupu-kupu sehingga menimbulkan tarikan pada urethra pars membranaceus. Pada rupture total. Cedera uretra karena pemasangan kateter Cedera uretra karena kateterisasi dapat menyebabkan obstruksi karena edema atau bekuan darah. sedangkan uretra membranasea terikat di diafragma urogenital. Pada fraktur tipe III ini seringkali akibat jatuh dari ketinggian. Fraktur pelvis tidak stabil (unstable) meliputi cedera pelvis anterior disertai kerusakan pada tulang posterior dan ligament disekitar articulation sacroiliaca sehingga salah satu sisi lebih ke depan dibanding sisi lainnya (Fraktur Malgaigne). hampir selalu disertai fraktur tulang pelvis. Pada ekstravasasi ini.3 2. Ekstravasasi urin dengan atau tanpa darah dapat lebih meluas.3 IV. Pada fraktur tipe I dan II mengenai pelvis bagian anterior dan biasanya lebih stabil bila dibandingkan dengan fraktur tipe III dengan tipe tarikan vertical. Abses periuretral atau sepsis dapat mengakibatkan demam. Akibat fraktur tulang pelvis. Klasifikasi Berdasarkan anatomi. terjadi robekan pars membranasea karena prostat dengan uretra prostatika tertarik ke cranial bersama fragmen fraktur.7 3. Cedera tarikan ( shearing injury) Cedera akibat tarikan yang menimbulkan rupture urethra di sepanjang pars membranaceus (5-10%). rupture uretra dibagi menjadi:3 1. Rupture uretra anterior 4 .

Ruptur uretra posterior Rupture uretra posterior harus dicurigai jika terdapat tanda fraktur pelvis. nyeri saat miksi dan adanya hematuria. pancaran urine. 1.12 .Dengan timbulnya darah. 5 . menjadi:1. Pada penderita yang sadar . yaitu:8 _ Bulbous urethra _ Pendulous urethra _ Fossa navicularis Namun.6 Menurut Collpinto dan McCallum tahun 1977 cedera uretra posterior dapat diklasifikasikan berdasarkan luas dari cederanya. yang paling sering terjadi adalah rupture uretra pada pars bulbosa yang disebabkan oleh Saddle Injury.Perdarahan per uretra Merupakan tanda utama dari rupture uretra posterior.11 ♦ Tipe I : Cedera tarikan uretra ♦ Tipe II : Cedera pada proksimal diafragma genitourinaria ♦ Tipe III : Cedera uretra pada proksimal dan distal diafragma genitourinaria V. Terletak di distal dari diafragma urogenital. Terbagi atas 3 segmen. ditemukan pada 37%-93% penderita dengan cedera urethra posterior . riwayat miksi perlu diketahui untuk mengetahui waktu terakhir miksi. dimana robekan uretra terjadi antara ramus inferior os pubis dan benda yang menyebabkannya.10. Diagnosis Dapat diduga terjadi cedera urethra dari anamnesis atau trauma yang nyata pada pelvis atau perineum.3 Gambar 2: Uretra pada laki-laki.

. Kadang terjadi retensi urine. Uretra anterior terbungkus di dalam korpus spongiosum penis.12 2. setiap instrumentasi terhadap urethra ditunda sampai keseluruhan urethra sudah dilakukan pencitraan (uretrografi).12 Pada ruptur uretra anterior. Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum darah dan urin 6 . Korpus spongiosum bersama dengan corpora kavernosa penis dibungkus oleh fasia Buck dan fasia Colles.12 - Pada pemeriksaan uretrografi didapatkan ekstravasasi kontras dan terdapat fraktur pelvis. . dan pars bulbosa. 14 . Ruptur uretra anterior Trauma uretra anterior yang terdiri dari uretra pars glanularis. pars pendulans. Perdarahan per-uretra/ hematuri. didapatkan:12.12 - Retensi urin 12 - Pada pameriksaan Rectal Tuse didapatkan Floating prostat yakni prostat seperti mengapung karena tidak terfiksasi lagi pada diafragma urogenital. Darah di introitus vagina ditemukan pada 80% penderita perempuan dengan fraktur pelvis dan cedera urethra. Hematom kupu-kupu/butterfly hematom/ jejas perineum.

9.Realignment primer Awalnya teknik ini dilakukan repair secara open dengan mengeluarkan hematom. meningkatkan impotensi. dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis. maka ditangani dengan pemberian cairan maupun transfuse darah. Bila hal ini terjadi.2 7 .1. Penanganan Pertama kali yang perlu dilakukan dalam mengatasi kegawatan yang mungkin timbul setelah trauma utamanya gangguan hemodinamik . pilihan penanganan yang dapat dilakukan yaitu : .15 Gambar 3: Ruptur uretra pars anterior dengan perdarahan per uretra. analgetik dan antibiotika.Syok sering terjadi akibat perdarahan rongga pelvis.14. Teknik ini tidak dilakukan lagi karena dilaporkan menimbulkan banyak kehilangan darah selama operasi. jaringan dan melakukan jahitan secara langsung. Namun jika fasia Buck ikut robek. Oleh karena itu robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu. dan hematom kupu-kupu VI. obat-obat koagulansia. Kemudian teknik ini berubah yaitu melakukan stenting dengan kateter secara indirect maupun endoskopik tanpa melakukan jahitan atau diseksi pelvis.10 Terdapat beberapa kontroversi akan penaganan ruptur urethra posterior akibat fraktur pelvis. striktur dan inkontinensia. keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck. ekstravasasi urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen.

jaringan scar pada tempat disrupsi urethra sudah 8 .1 . Pemasangan kateter secara retrograde dapat pula dilakukan dengan panduan melalui jari pada bladder neck. Ada pula yang menggunakan teknik dengan memasang tube sonde no 8 secara antegrade sampai tube keluar di meatus kemudian diikatkan dengan kateter utnuk kembali dimasukkan ke buli-buli. dan dilanjutkan dengan pemeriksaan uretrosistografi. Diskontinuitas uretra dapat dijembatani dengan beberapa variasi. Setelah 3 bulan.1 Dengan stenting menggunakan kateter dilakukan lebih awal.2 Pada penderita politrauma dengan fraktur pelvis yang berat paling mungkin dilakukan teknik dengan memasukkan sistoskopi fleksibel melalui jalur suprapubik.7 Standar baku dalam penanganan rekonstruksi uretra posterior adalah kateterisasi suprapubik selama 3 bulan dan dilanjutkan anastomosis end-to-end bulboprostatika. Uretroplasty Primer Repair primer dengan end-to-end anastomosis hanya dapat dilakukan pada penderita non trauma atau tidak disertai dengan fraktur pelvis. pasien dalam keadaan optimal dan terbukti mengalami ruptur urethra posterior. Realignment ini sebaiknya dilakukan sesegera mungkin (dalam 72 jam setelah cedera). Pertama kateter uretra dimasukkan dengan panduan jari kedalam buli-buli. Dapat dilakukan open sistostomy dan melihat buli-buli untuk adanya kemungkinan rupture. kemungkinan untuk timbulnya komplikasi striktur berkurang bila dibandingkan dengan hanya memasang sistostomi saja. Kemudian dilakukan perabaan pada anterior prostat sehingga kateter dapat diposisikan. Keuntungan lainnya yaitu urethra yang avulse dan prostat yang awalnya berjauhan kembali didekatkan sehingga akan memudahkan saat dilakukan uretroplasty.Pasien ditempatkan dalam posisi litotomy rendah dengan tetap memperhatikan adanya segmen fraktur pelvis. bila tidak didapatkan ekstravasasi maka kateter dapat dikeluarkan dengan tetap mempertahankan kateter suprapubik.1. bila cedera penyerta lainnya tidak massif dapat dilakukan realignment. Beberapa penulis menilai dengan pemasangan kateter dini dapat memperpendek panjang striktur. Kateter urethra dipertahankan selama 6 minggu.Bila hal ini gagal dapat dilakukan dengan sistoskopi fleksibel. sistoskopi rigid melalui uretra dan kawat pemandu diantara keduanya sehingga kateter dapat lewat melalui kawat pemandu .

stabil dan matang menjadi indikasi untuk dilakukaknnya prosedur rekonstruksi. Komplikasi Komplikasi dari cedera pada pelvis sulit dibedakan dengan komplikasi akibat pasca uretroplasti atau cedera buli-buli. dimana pasien ditempatkan pada posisi litotomi dan insisi midline atau flap inverted. dan disebabkan oleh kerusakan pada Bladder Neck. Inkontinesia Insiden terjadinya inkontinensia urine rendah ( 2-4 %). abses periuretral. Urethra bulbosa dibebabaskan dan disisihkan menjauhi defek urethra ke mid-scrotum.9 1.1 Sebelum rekonstruksi dilakukan. 2. Teknik yang digunakan yaitu transperineal. Saat dilakukan pencitraan ini pasien diminta untuk berusaha berkemih sehingga bladder neck terbuka dan defek rupture dapat dievaluasi lebih akurat. yaitu: 1. Komplikasi dini yang dapat terjadi setelah rekonstruksi uretra adalah infeksi. Jaringan skar defek rupture uretra dieksisi dan urethra prostatica diidentifikasi pada apex prostat. pubektomi inferior dan re- routing uretra untuk mendekatkan gap. fistel uretrokutan. inkontinensia meningkat pada penderita yang dilakukan Open Bladder Neck sebelum dilakukan operasi. dapat dilakukan beberapa maneuver seperti pemisahan krus. dan epididimitis. 12-15% penderita terbentuk striktur.7. Biasanya 96% kasus berhasil ditangani dengan dilakukan penangan secara endoskopi. 3. dilakukan pencitraan uretrosistografi retrograde untuk mengetahui karakteristik defek uretra.2. Striktur Setelah dilakukan rekonstruksi rupture uretra posterior. Pemeriksaan yang lebih akurat yaitu dengan MRI. selain itu cedera penyerta lainnya telah stabil dan pasien sudah rawat jalan.3 Sedangkan komplikasi lanjut yang sering terjadi. Cedera pada saraf parasimpatis penil merupakan penyebab terjadinya impotensi setelah fraktur pelvis.7 VII. Impotensi Ditemukan 13-30% dari penderita dengan fraktur pelvis dan pada cedera uretra yang dirawat dengan pemasangan kateter. hematoma. 9 . Oleh karena itu. Untuk membuat anastomosis yang non tension atau karena ujung-ujung defek berjauhan.1.

10 .