You are on page 1of 14

GIGITAN ULAR & SABU (Serum Anti Bisa Ular

)

11 Votes

PENDAHULUAN

Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara
yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan
kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan sering dihubungkan dengan
pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya bukan hanya pangan atau bahan kimia
saja yang dapat menyebabkan keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang
terdapat pada beberapa tumbuhan dan hewan. Salah satunya adalah gigitan ular
berbisa yang sering terjadi di daerah tropis dan subtropis. Mengingat masih sering
terjadi keracunan akibat gigitan ular maka untuk dapat menambah pengetahuan
masyarakat kami menyampaikan informasi mengenai bahaya dan pertolongan
terhadap gigitan ular berbisa.
Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di Indonesia. Spesies ular
dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular berbisa memiliki
sepasang taring pada bagian rahang atas. Pada taring tersebut terdapat saluran bisa
untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh mangsanya secara subkutan atau
intramuskular.
Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa
dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan
ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. Kelenjar yang
mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak
di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata. Bisa ular tidak hanya terdiri atas
satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks, terutama protein,
yang memiliki aktivitas enzimatik.
Efek toksik bisa ular pada saat menggigit mangsanya tergantung pada spesies,
ukuran ular, jenis kelamin, usia, dan efisiensi mekanik gigitan (apakah hanya satu
atau kedua taring menusuk kulit), serta banyaknya serangan yang terjadi. Ular
berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya bisa
yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh ular yang termasuk famili ini adalah ular
sapi (Zaocys carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali (Ptyas
korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus).

ketika ular memasuki rumah untuk mencari mangsa berupa ular lain. Bekas gigitan: dua luka gigitan utama akibat gigi taring Gambar 1. (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring. Bekas gigitan: luka halus berbentuk lengkungan Ciri-ciri ular berbisa: 1. pemburu. Bagaimana Mengenali Ular Berbisa? Tidak ada cara sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa. katak. Gigitan ular juga dapat terjadi pada penghuni rumah. ular tanah (Calloselasma rhodostoma). bentuk. Bekas gigitanan ular. dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris). Crotalinae memiliki organ untuk mendeteksi mangsa berdarah panas (pit organ). Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera russelli). ular sendok (Naja sumatrana). Beberapa contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora intestinalis). Bentuk kepala segitiga 2. Bentuk kepala segiempat panjang 2. (B) Ular berbisa dengan bekas taring . dan penangkap ular. Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk kepala segitiga. dan pada luka bekas gigitan terdapat bekas taring. Elapidae memiliki taring pendek dan tegak permanen. Bagaimanakah Gigitan Ular Dapat Terjadi? Korban gigitan ular terutama adalah petani. Namun. Dua gigi taring besar di rahang atas 3. atau Viperidae. Kebanyakan gigitan ular terjadi ketika orang tidak mengenakan alas kaki atau hanya memakai sandal dan menginjak ular secara tidak sengaja. Hydropiidae. cicak. dan ular king kobra (Ophiophagus hannah). nelayan. kebiasaan dan suara yang dikeluarkan saat merasa terancam. Beberapa spesies ular tidak berbisa dapat tampak menyerupai ular berbisa. Gigi taring kecil 3. yaitu Viperinae dan Crotalinae. beberapa ular berbisa dapat dikenali melalui ukuran. Ada dua subfamili pada Viperidae. warna. Ciri-ciri ular tidak berbisa: 1.Ular berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae. tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang mangsanya. ular weling (Bungarus candidus). pawang ular. pekerja perkebunan. ukuran gigi taring kecil. yang terletak di antara lubang hidung dan mata. atau tikus. Viperidae memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke bagian rahang atas.

Setelah digigit ular a. Gejala sistemik muncul setelah 5 menit atau setelah beberapa jam. tenggorokan. coral snakes. pandangan kabur Gigitan Elapidae (misal: ular kobra. ular cabai. Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain adalah tanda gigitan taring (fang marks). melepuh. otot melemah. menggigil. pendarahan lokal. radang. atau setelah beberapa jam berupa bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota badan. mambas. Gigitan Viperidae/Crotalidae (ular: ular tanah. 3. otot lemas. Gambaran sakit yang berat. Kematian dapat terjadi dalam 24 jam. kraits) 1. melepuh. yaitu bisa yang mempengaruhi sistem saraf dan otak. 3. bibir. Gejala sistemik: hipotensi. pembengkakan kelenjar getah bening. 2. nyeri tekan pada luka gigitan. Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa padakorbannya. ular sendok. berkeringat. b. akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada semua gigitan ular. bisa ular dapat dibedakan menjadi bisa hemotoksik. lidah. bisa neurotoksik. meskipun tidak ada bisa yang diinjeksikan ke tubuhnya dapat menjadi panik. kelopak mata menurun. dan kepala menjadi pening. nafas menjadi cepat. pandangan kabur. susah menelan. Gejala lokal: edema. GEJALA KLINIS : Secara umum. ular welang. muntah. tangan dan kaki menjadi kaku. yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem pembuluh darah. Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut. ular weling. ular hijau. dan Tanda Gigitan Ular Berdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa. bengkak di sekitar mulut. 15 menit: muncul gejala sistemik. kaku pada kelopak mata. sakit kepala. 2. hipersalivasi (ludah bertambah banyak). dan nekrosis jaringan (terutama akibat gigitan ular dari famili Viperidae). mual. ular anang. mati rasa di sekitar mulut. dan bisa sitotoksik. Gejala dan tanda-tanda gigitan ular akan bervariasi sesuai spesies ular yang menggigit dan banyaknya bisa yang diinjeksikan pada korban. yaitu bisa yang hanya bekerja pada lokasi gigitan. nyeri kepala.Sifat Bisa. kulit dingin. memar. sehingga sukar bicara. nyeri lokal. muntah. Orang yang digigit ular. Gigitan Hydropiidae . Gejala. infeksi lokal. ekimosis (kulit kegelapan karena darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit). Gejala lokal timbul dalam 15 menit. 10 jam: paralisis urat-urat di wajah. ular bandotan puspo): 1. dan kulit yang rusak. Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut dalam waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.

nyeri di daerah gigitan. Pertolongan pertama. berkeringat. Tujuan pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa. spasme otot rahang. ular hijau. 4. Segera timbul sakit kepala. Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang cemas. Kemudian segera bawa korban ke tempat perawatan medis. Metode penggunaan torniket (diikat dengan keras sehingga menghambat peredaran darah). Gejala lokal: ditemukan tanda gigitan taring. 2. dan muntah. trombositopeni. Rasa nyeri pada gigitan ular mungkin ditimbulkan dari amin biogenik. 2. semua ini indikasi perlunya pemberian polivalen crotalidae antivenin. pembengkakan. Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri menyeluruh. pallor (muka pucat). mioglobulinuria yang ditandai dengan urin warna coklat gelap (ini penting untuk diagnosis). hindari gangguan terhadap luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa dan menimbulkan pendarahan lokal. paralisis otot. pulselesness (denyutan). paresthesia (mati rasa). Terapi yang dianjurkan meliputi: . mempertahankan hidup korban dan menghindari komplikasi sebelum mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini yang membahayakan. Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya. pertimbangkan pressure-immobilisation pada gigitan Elapidae. dilatasi pupil. henti jantung. hipotensi. 2. seperti histamin dan 5-hidroksitriptamin.(misalnya: ular laut): 1. pemberian antihistamin dan kortikosteroid harus dihindari karena tidak terbukti manfaatnya. yang ditemukan pada Viperidae. pendinginan daerah yang digigit. Gigitan Rattlesnake dan Crotalidae (misalnya: ular tanah. imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi kontraksi otot. lidah terasa tebal. Anemia. insisi (pengirisan dengan alat tajam). harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. ular bandotan puspo) 1. Pengobatan gigitan ular Pada umumnya terjadi salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular. Hindari pergerakan atau kontraksi otot untuk mencegah peningkatan penyerapan bisa. ekimosis. karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening. ginjal rusak. 3. pengisapan tempat gigitan. yaitu terjadi edem (pembengkakan) pada tungkai ditandai dengan 5P: pain (nyeri). Hal ini dapat dilakukan oleh korban sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. Penatalaksanaan Keracunan Akibat Gigitan Ular Langkah-langkah yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular adalah: 1. paralysis (kelumpuhan otot). dengan cara yang aman dan senyaman mungkin. Sindrom kompartemen merupakan salah satu gejala khusus gigitan ular berbisa.

penatalaksanaan fungsi pernafasan. Tindakan ini kurang berguna jika dilakukan lebih dari 30 menit paskagigitan. Bungkus rapat dengan perban seperti membungkus kaki yang terkilir. serta kerusakan ginjal dan komplikasi nekrosis lokal. c. Bila belum tersedia antibisa. b. tetapi ikatan jangan terlalu kencang agar aliran darah tidak terganggu.a. Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi penatalaksanaan jalan nafas. Gambar 2. Pemberian serum antibisa. Karena bisa ular sebagian besar terdiri atas protein. penatalaksanaan sirkulasi. g. Di Indonesia. hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka. e. d. atau bila korban pernah mendapatkan toksoid maka diberikan satu dosis toksoid tetanus. f. antibisa bersifat polivalen. mulai dari ujung jari kaki sampai bagian yang terdekat dengan gigitan. Cara pemberian SABU : Penatalaksanaan Sebelum dibawa ke rumah sakit: 1. ikatlah 2 ujung yang terkena gigitan. Setelah dibawa ke rumah sakit: Beri SABU (Serum Anti Bisa Ular) polivalen 1 ml berisi: 1. Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara intramuskular. Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril. shock perdarahan. Imobilisasi bagian tubuh menggunakan perban. Penggunaan torniket tidak dianjurkan karena dapat mengganggu aliran darah dan pelepasan torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang lebih berat. 25-50 LD50 bisa Naya sputarix 4. . 10-50 LD50 bisa Ankystrodon 2. 25-50 LD50 bisa Bungarus 3. kelumpuhan saraf pernafasan. Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katun elastis dengan lebar + 10 cm. Fenol 0. Pemberian suntikan antitetanus. maka sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat dari serum kuda. yang dibalutkan kuat di sekeliling bagian tubuh yang tergigit. Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut cepat mati/panik. Diistirahatkan dalam posisi horizontal terhadap luka gigitan 2. yang mengandung antibodi terhadap beberapa bisa ular. panjang 45 m. penatalaksanaan resusitasi perlu dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan shock.25% v/v. Serum antibisa ini hanya diindikasikan bila terdapat kerusakan jaringan lokal yang luas. kondisi yang tiba-tiba memburuk akibat terlepasnya penekanan perban.

The Cold Blooded News Vol. tidak terdapat data reliabel yang tersedia untuk mengetahui angka mortalitas dan morbiditas gigitan ular. Fadel Maulana Diperkirakan 15 persen dari 3000 spesies ular yang ditemukan di seluruh dunia dianggap berbahaya bagi manusia. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir. 28. March. . World Health Organization. 2005. American Association of Poison Control Centers telah melaporkan rata-rata terdapat 6000 kasus gigitan ular (snake bites) per tahun nya.Teknik Pemberian: 2 vial @ 5 ml intravena dalam 500 ml NaCl 0.Ked Editor : dr. Pedoman Pertolongan Keracunan untuk Puskesmas. namun kurang dari 20 kematian dicatat setiap tahunnya. Snake Venom: The Pain and Potential of Poison. Maksimal 100 ml (20 vial). 2002. Untuk Indonesia.9 % atau Dextrose 5% dengan kecepatan 40-80 tetes per menit. Number 3. Penulis : Ali Khomaeni S. Edward Pandu W. misalnya Komodo. Gigitan ular dan kematian dilaporkan pada beberapa pulau. dan 2000 kasus diantaranya disebabkan oleh ular berbisa. Daftar Pustaka: Guidelines for the Clinical Management of Snakes bites in the South-East Asia Region. 2001.

Masyarakat pada daerah ini mengalami mortalitas dan morbiditas yang tinggi karena akses yang buruk menuju sarana kesehatan.Terkena bisa ular dan kematian yang disebabkan gigitan ular. Gejala sistemik muncul setelah 5 menit atau setelah beberapa jam. C. sakit kepala. 2. ular bandotan puspo) 1. Setelah digigit ular · 15 menit : muncul gejala sistemik · 10 jam : paralisis otot-otot wajah. Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut dalam waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat. yaitu taring. bibir. kulit dingin. merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama pada pedalaman tropis. Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. dimana bisa dapat dimasukkan jauh ke dalam jaringan dari mangsa alamiahnya. Warna ular berbisa cenderung lebih gelap seperti coklat sampai hitam sedangkan warna ular tidak berbisa cenderung berwarna terang hingga berwarna-warni. kraits) 1. pada bagian depan dari rahang atasnya. Gejala dan tanda gigitan ular berdasarkan jenis ularnya : A. parestesia di sekitar mulut. susah menelan. ptosis. Elapidae (misalnya : ular kobra. Segera timbul sakit kepala. sehingga sukar berbicara. dan kulit rusak. 3. Viporidae/Crotalidae (misalnya : ular tanah. bengkak di sekitar mulut. mambas. Taring – taring ini mengandung saluran bisa (seperti jarum hipodermik) atau alur. pandangan kabur. ular anang. itulah mengapa luka gigitan ular berbisa berciri dua titik luka tembus yang dihasilkan oleh kedua taringnya dan luka gigitan ular tidak berbisa berupa luka yang berbaris membentuk huruf U. Gejala lokal timbul dalam 15 menit. tenggorokan. lidah terasa tebal. Perbedaan Ular Berbisa dan Ular Tidak Berbisa ialah bentuk kepala ular berbisa biasanya elips atau segitiga sedangkan ular berbisa bulat. ular hijau. otot lemas. dan muntah. muntah. Bila manusia tergigit. Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut. setelah beberapa jam berupa bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota tubuh. kaku pada kelopak mata. Kematian dapat terjadi dalam 24 jam. melepuh. Hydropiridae (misalnya : ular laut) 1. ular cabai. Gambaran sakit yang berat. B. bisa biasanya disuntikkan secara subkutan atau intramuskular. lidah. ular sendok. ular weling. . coral snake. 2. Gigi taring ular berbisa berupa dua taring besar sementara gigi ular tidak berbisa hanya berupa gigi-gigi yang cenderung berukuran sama. 3. berkeringat. Ular berbisa yang bermakna medis memiliki sepasang gigi yang melebar.

urtikaria. spasme otot rahang. Pemberian cairan intravena berupa RL. Pathmeswaran A. Itu menyebabkan angka kasus yang tercatat di lembaga pemerintah amat rendah. Jawa . lakukan penatalaksanaan jika terdapat masalah pada Airway. 3. Data Badan Pengawas Obat dan Makanan 1998-2000 mencatat. bila ada tanda – tanda laringospasme. 3. kasus gigitan ular se-Indonesia 180 kasus atau 90 kasus per tahun. Gold. World Health Organisation. Joe Alcock. dapat diulangi sesuai keparahan gigitan dan gejala klinis. 2002.2. Penatalaksanaan Keracunan Akibat Gigitan Ular Berbisa.com. Premaratna R. Pemberian adrenalin 0. Breathing. dan Circulation. dilatasi pupil. mioglobinuria yang ditandai dengan urin berwarna coklat gelap (penting untuk diagnosis). Pemberian fibrinogen 4. Richard C. Imobilisasi daerah yang tergigit kemudian letakkan lebih rendah dari jantung. Dalam setahun. and Robert A. Di lapangan 1. Di rumah sakit 1. 2014. dan Circulation. NaCl. Pemberian kortikosteroid 5. plasma atau transfusi 2. Snakebite. de Silva H . Pastikan apakah ular yang menggigit korban termasuk golongan ular berbisa. serta henti jantung. 2012. Review Article: Current Concepts Bites of Venomous Snakes. Imobilisasi dapat dilakukan dengan pemasangan bidai. 2005. Langkah – langkah yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular: A. Kondisi itu menunjukkan penanganan kasus gigitan ular belum jadi prioritas. Savioli L. The Global Burden of Snakebite: a Literature Analysis and Modelling Based on Regional Estimates of Envenoming and Deaths. Penyuntikan serum anti bisa ular intravena/intra arteri. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bite in The South East Asia Region. Insisi daerah sekitar gigitan dengan tujuan mengeluarkan bisa ular yang masih tersisa di sekitar bekas gigitan. B. kerusakan ginjal. 2008.2014. Barish. Kasturiratne A. "Itu tak mungkin. Gunawardena NK. Breathing. 2015-2016. paralisis otot. Dart. de Silva N. ada 148 kasus hanya di IGD (Instalasi Gawat Darurat) Rumah Sakit Umum Daerah Koesna di Bondowoso.5 mg (1:1000) IM dan hidrokortison 100 mg IV. Lalloo DG. Lakukan penilaian awal terhadap Airway. Pemerintah dinilai masih mengabaikan pendataan kasus gigitan ular berbisa di Indonesia. Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri menyeluruh. 2. huffingtonpost. Sentra Informasi Keracunan Nasional Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Dominique Mosbergen. hipotensiPemberian antibiotik spektrum luas dan vaksinasi tetanus Sumber : Barry S. 4. Wickremasinghe A R.

Bahkan. yang kini Kepala IGD RS Paru Dungus. jumlah orang dengan HIV di Indonesia hingga 2015 mencapai 191. Di Indonesia barat. itu terhambat karena tidak melalui dinas kesehatan. dan Kalimantan yang hanya 5 persennya berbisa. Amir Hamidy. ia menyebarkan borang ke puskesmas dan rumah sakit untuk menghimpun data kasus gigitan ular agar mendapat angka kasus riil. Tri yang juga dokter ahli gigitan ular itu memaparkan." kata dokter Tri Maharani. menurut peneliti herpetologi LIPI. Karena SABU impor dari Australia. Jadi. banyak kasus gigitan selain jenis ular itu. Jawa. (JOG) . pendataan seharusnya dilakukan Kementerian Kesehatan dan dinas kesehatan. Kegiatan itu diprakarsai Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerja sama dengan The Japan Society for Promotion of Science dan The Kyoto University Museum.000 per ampul. padahal satu korban butuh 3-4 ampul. SABU yang ada ialah SABU polivalen (untuk mengobati gigitan lebih dari satu ular) produksi Biofarma. Jawa Barat. dan satu pasien biasanya menghabiskan 2 ampul.2 juta per ampul. Menurut Tri. Senin (24/10/2016). Misalnya. Dengan memakai angka 150 kasus per kota atau kabupaten. welang (Bungarus fasciatus). kasus gigitan ular secara nasional 135. Jika diimpor dari Malaysia. untuk gigitan ular kobra Jawa (Naja sputatrix). Harganya Rp 500. ular hijau (Trimeresurus albolabris) termasuk penyebab kasus gigitan utama.Timur. karena belum jadi prioritas. Namun. Anti bisa Di sisi lain.000 kasus. riset serum anti bisa ular (SABU) di Indonesia tak berkembang. tak seperti di Sumatera. penanganan kasus itu memakai serum monovalen Green Pit Viper Antivenin yang diimpor. dan ular tanah (Agkistrodon rhodostoma). perlu riset atau kolaborasi dengan produsen. jenis ular penggigit berbeda jauh karena berkerabat dengan jenis ular di Australia. 90 persen dari semua jenis ular di Papua berbisa. harganya sekitar Rp 3. Untuk itu. Di Indonesia timur. ada 7 jenis ular berbisa di Papua yang biasa menyerang warga. Padahal. Itu jadi perhatian karena mendekati penyakit-penyakit yang kini jadi prioritas pengurangan. Jepang. Jadi. harganya Rp 65 juta per ampul. khususnya Papua. Jawa Timur. Ia mengungkapkan hal itu di sela simposium internasional terkait keragaman spesies vertebrata Asia. di Bogor. Universitas Kyoto. Tri memperkirakan.073 jiwa. hampir semuanya neurotoksin (menyerang sel saraf). Madiun.

Pulau Penuh Ular di Brasil Ilha da Queimada Grande di Brasil disebut-sebut sebagai pulau paling mematikan di dunia karena populasi ularnya yang terlampau tinggi.Ilha da Queimada Grande. .

ada banyak tempat indah di Brasil. Ilha da Queimada Grande (Prefeitura Municipal de Itanhaem/Wikimedia Commons) Dari air terjun Iguazu hingga Taman Nasional Lençóis Maranhenses. . Ilha da Queimada Grande. sebuah pulau yang terletak sekitar 90 mil dari kota Sao Paulo.

Sehari kemudian. salah satu jenis ular paling mematikan di dunia. dan menunggu hingga racun bekerja sebelum menelusuri jejak mangsa kembali. Beberapa ilmuwan juga berpikir bahwa bisa ular bisa menjadi alat yang berguna dalam obat- obatan. nekrosis jaringan otot. sekitar tiga atau lima kali lebih kuat dibanding ular-ular lainnya sehingga dapat membunuh sebagian besar mangsa termasuk manusia dalam waktu singkat. Peneliti memperkirakan bahwa ada satu sampai lima ular dalam setiap satu meter persegi di beberapa titik di pulau itu. Pemerintah Brasil mengharuskan dokter hadir pada setiap kunjungan yang resmi secara hukum. Untuk menemukan makanan. Karena bahaya. Sebab. . Sekitar 11. tapi kebanyakan dari mereka tak pernah bermimpi untuk pergi kesana. Sebuah rumor yang beredar luas mengisahkan seorang nelayan malang yang mendarat di pulau tersebut untuk mencari pisang. Bisa ular tersebut dapat menyebabkan gagal ginjal. Angkatan Laut Brasil tidak pernah berhenti di pulau tersebut untuk pemeliharaan mercusuar tahunan. Itu menyebabkan spesies ular yang hidup di pulau—diduga sebagai ular jararaca— mengalami evolusi dengan cara berbeda dengan saudara-saudara mereka di daratan utama. Mereka diberi izin khusus mengunjungi pulau tersebut untuk mempelajari golden lancehead viper. mereka dapat memahami genus Bothrop secara keseluruhan dan mengobati secara efektif kecelakaan yang berhubungan dengan ular di seluruh Brasil. sehingga mereka dapat bereproduksi dengan cepat. Seringkali. Pulau ini juga merupakan laboratorium penting bagi ahli biologi dan peneliti. Jadi kemudian mereka mengembangkan racun yang efisien. Satu gigitan dari golden lancehead viper bisa membunuh manusia dalam waktu kurang dari satu jam. untuk membangun mercusuar. kenyataannya populasi ular yang padat di pulau itu sudah berkembang selama ribuan tahun tanpa campur tangan manusia. ia ditemukan tewas di perahu. permukaan air laut naik cukup tinggi sehingga mengisolasi llha da Queimada Grande dari daratan Brasil. Tapi. Racun ular ini dapat membunuh manusia dalam waktu kurang dari satu jam. Ular-ular yang terdampar di Queimada Grande tidak memiliki predator di atas permukaan tanah. Sekitar 90 persen kasus gigitan ular di Brasil berasal dari ular dari genus Bothrop.000 tahun lalu. Bahkan tanpa larangan pemerintah sekalipun. pendarahan otak dan pendarahan usus. dengan banyak gigitan ular di tubuhnya.sekilas tampak seperti salah satu tempat indah di negara itu. menggigit. Banyak legenda lokal menceritakan nasib mengerikan yang menunggu siapa pun yang berani berjalan ke pantai “Pulau Ular” tersebut. Hampir semua penduduk Brasil mengetahui pulau tersebut. pulau itu dihuni oleh sekitar 2. Tetapi ular jenis golden lancehead viper tidak mampu menelusuri mangsa yang sudah ia gigit. ular-ular itu mengintai mangsanya. Meskipun ada beberapa orang yang mengklaim bahwa ular-ular tersebut ditempatkan di pulau itu oleh bajak laut untuk melindungi emas mereka. yang sejak tahun 1920-an telah disetel menjadi otomatis. mereka juga tidak memiliki mangsa di permukaan tanah. beberapa orang pernah tinggal di pulau tersebut. Ilha da Queimada Grande mungkin tidak akan menjadi tujuan wisata top.000 golden lancehead viper (Bothrops insularis). pemerintah Brasil mengontrol secara ketat kunjungan ke Queimada Grande. Ahli biologi berharap dengan mempelajari golden lancehead viper dan evolusinya.000-4. sebab konsentrasi ular di pulau itu terlalu tinggi. penjaga percusuar terakhir dan seluruh keluarganya tewas ketika sekelompok ular merayap masuk ke dalam rumah melalui jendela. Dari tahun 1909 hingga 1920-an. mereka memangsa burung migran yang mengunjungi pulau selama penerbangan panjang. Namun menurut kisah lokal lain.

Suatu malam. seorang ilmuwan Butantan Institute Brasil yang mempelajari reptil berbisa untuk keperluan farmasi. Selama 15 tahun terakhir. dan tiga anaknya. Bisa ular dari spesies lain juga telah menunjukkan potensi sebagai obat anti kanker.000-30. populasi ular di sana telah menyusut hingga hampir 50 persen. penyelundup satwa liar kerap kali mengunjungi pulau tersebut. Menempati area seluas 430. Dia tidak sengaja digigit oleh ular di pulau itu.com. tetapi mereka kembali digigit oleh ular-ular yang bergelayut di cabang pohon. Pulau ini tak tersentuh oleh manusia karena para peneliti memperkirakan bahwa di pulau itu hidup antara satu sampai lima ular per meter persegi. Ilha da Queimada Grande telah dikenal luas sebagai rumah bagi ribuan spesies endemik Bothrops. Ular ini dapat tumbuh lebih dari setengah meter.000 meter persegi. golden lancehead viper saat ini masuk ke dalam daftar merah hewan terancam punah IUCN Ilha da Queimada Grande memang kerap dijuluki sebagai Pulau Ular. “Bisa dari golden lancehead viper menunjukkan tanda-tanda menjanjikan dalam membantu pengobatan penyakit jantung. Mereka menangkap ular dan menjualnya melalui jalur ilegal. Kisah pertama menceritakan tentang seorang nelayan yang tanpa sadar mengembara ke pulau itu untuk memetik pisang.000 dolar AS. dan berhasil kembali ke kapal. pulau ini berada di lepas pantai yang hampir 93 mil jauhnya dari pusat kota Sao Paulo. mengungkapkan kegunaan golden lancehead viper di bidang medis. golden lancehead viper (Bothrops insularis). Karena tingginya permintaan pasar gelap oleh para ilmuwan dan kolektor hewan. yang dapat melelehkan daging di sekitar gigitan mereka. Mereka berusaha melarikan diri ke arah kapal. Ular jenis ini bertanggung jawab atas 90 persen kematian yang terkait dengan gigitan ular di Brasil. Seekor golden lancehead viper bisa dijual seharga 10. . Angkatan Laut Brasil melarang keras siapa pun untuk mendarat di pulau itu. Kisah lain menceritakan tentang seorang operator mercusuar dan keluarganya yang tewas digigit ular. yang merupakan salah satu ular paling berbisa di dunia. beberapa ular masuk melalui jendela dan menyerang operator mercusuar itu. istrinya. Degradasi habitat dan penyakit juga turut andil terhadap kerusakan populasi ular di pulau tersebut. Dia ditemukan beberapa saat kemudian di dek kapalnya yang telah digenangi darah. dan mereka memiliki racun yang sangat berbahaya. sirkulasi dan pembekuan darah. Marcelo Duarte. Sebagaimana dilansir atlasobscura. di mana dia kemudian meninggal akibat racun ular tersebut. Penduduk yang tinggal di kota-kota pesisir dekat Queimada Grande juga kerap menceritakan dua kisah mengerikan tentang kasus kematian di pulau ini. Brasil. Ular-ular itu hidup makmur karena ada banyak burung migran yang menggunakan pulau itu sebagai tempat istirahat.Dalam sebuah wawancara dengan Vice.

Ilha da Queimada Grande tetap bukan tempat yang aman untuk dikunjungi. seorang ahli biologi yang telah mengunjungi Pulau Ular itu lebih dari dua puluh kali.1-5 ular per meter persegi .adalah berlebihan. [des . Meski begitu. Menurut Marcelo. mengatakan bahwa apa yang telah dikatakan oleh penduduk setempat .Golden lancehead viper (Bothrops insularis)/Photo by MichaelMostert Marcelo Duarte. kemungkinan rasionya adalah satu ular per meter persegi.