You are on page 1of 3

Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara

yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan
kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan sering dihubungkan dengan
pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya bukan hanya pangan atau bahan kimia
saja yang dapat menyebabkan keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang
terdapat pada beberapa tumbuhan dan hewan. Salah satunya adalah gigitan ular
berbisa yang sering terjadi di daerah tropis dan subtropis.

Diperkirakan 15 persen dari 3000 spesies ular yang ditemukan di seluruh dunia
dianggap berbahaya bagi manusia. Kasus gigitan ular di Amerika Serikat dilaporkan
setiap tahun sekitar 45.000 kasus, namun yang disebabkan oleh ular berbisa hanya
8000 kasus.1-3 Selama 3 tahun terakhir, the American Association of Poison Control
Centers melaporkan bahwa dari 6000 kasus gigitan ular, 2000 diantaranya
merupakan gigitan ular berbisa. Kematian diperkirakan terjadi pada 5 sampai 15
kasus dan biasanya terjadi pada anak-anak, orang yang lanjut usia, dan pada kasus
yang tidak atau terlambat mendapatkan anti bisa ular. 2,3 Pasien korban gigitan ular
berbisa 15% sampai 40% akan meninggalkan gejala sisa.

Data Badan Pengawas Obat dan Makanan mencatat, kasus gigitan ular se-Indonesia
180 kasus atau 90 kasus per tahun . Dalam setahun (2015-2016), ada 148 kasus
hanya di IGD (Instalasi Gawat Darurat) Rumah Sakit Umum Daerah Koesna di
Bondowoso, Jawa Timur. Dengan memakai angka 150 kasus per kota atau kabupaten,
maka diperkirakan, kasus gigitan ular secara nasional 135.000 kasus. Itu jadi
perhatian karena mendekati penyakit-penyakit yang kini jadi prioritas pengurangan.

7%). pada tahun 1992 melakukan penelitian terhadap korban gigitan ular. mendapatkan tempat gigitan pada tungkai atau kaki (83. dan mereka memiliki racun yang sangat berbahaya. Waktu gigitan biasanya terjadi pada malam hari dan gigitan lebih sering terjadi pada ekstremitas. dan memiliki spesies dan populasi ular terbanyak. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi. Ular berbisa memiliki sepasang taring pada bagian rahang atas. Kebanyakan gigitan ular terjadi ketika orang tidak mengenakan alas kaki atau hanya memakai sandal dan menginjak ular secara tidak sengaja. tetapi merupakan campuran kompleks. pekerja perkebunan. terutama protein. Pada taring tersebut terdapat saluran bisa untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh mangsanya secara subkutan atau intramuskular. pawang ular. yang dapat melelehkan daging di sekitar gigitan mereka. dan efisiensi mekanik gigitan. merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama pada pedalaman tropis. Malik dkk. serta banyaknya serangan yang terjadi. Masyarakat pada daerah ini mengalami mortalitas dan morbiditas yang tinggi karena akses yang buruk menuju sarana kesehatan. nelayan. usia. ukuran ular. Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal. Negara Brasil merupakan salah negara beriklim tropis di Benua Amerika. Sekitar 90 persen kasus gigitan ular di Brasil berasal dari ular dari genus Bothrop. Ular ini dapat tumbuh dengan panjang lebih dari setengah meter. yang memiliki aktivitas enzimatik.3%) dan lengan atau tangan (17.Terkena bisa ular dan kematian yang disebabkan gigitan ular. yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. Pada umumnya korban gigitan ular terutama adalah petani. Bisa ular merupakan suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. dan penangkap ular. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata. pemburu. jenis kelamin. Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di daerah tropis. . Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Efek toksik bisa ular tergantung pada spesies.

Penggunaan tanaman untuk mengobati atau mencegah efek dari racun pada bisa ular telah banyak dipelajari dan dikembangkan. Studi dari kandungan kimia. Humirianthera ampla Miers adalah tanaman dari keluarga Icacinaceae yang dikenal sebagai '' surucucaı'na '' atau '' surucuı'na ''. Hal ini menyebabkan kerusakan yang ireversibel dan keumpuhan.dan triterpenoid: annonalide. Kehadiran senyawa inilah yang mungkin dapat memberikan efek luar biasa dari Humirianthera ampla mengobati peradangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh gigitan ular dan akibatnya memvalidasi penggunaan besar tanaman ini oleh penduduk asli Amazonia dalam kondisi ini. dan telah digunakan sebagai pengobatan para korban. tanaman ini mengandung senyawa di. bertujuan untuk memperlambat efek dari racun di gigitan ular. . Selain itu. Terapi antivenom sering diberikan terlambat. wilayah Amazon (Brasil). acrenol dan lupeol. memanfaatkan ekstrak etanol yang diperoleh dari akar tanaman Humirianthera ampla Miers.Pengobatan yang tersedia untuk kejadian ini adalah antivenom antibothropic. terutama Bothrops Atrox. humirianthol. sebagai zat b-sitosterol dan sitosterol glikosilasi juga diisolasi dari ekstrak etanol (EE) pada akar Humirianthera ampla. dengan mencari prinsip-prinsip farmakologi baru yang aktif dan efektif dari tanaman-tanaman yang digunakan dalam obat tradisional penduduk setempat. masyarakat pedesaan yang tidak memiliki perawatan medis yang cepat. Di daerah lembah Purus. ketika sudah dalam proses kerusakan jaringan. yang memiliki efek lemah dan terbatas efektivitasnya pada bagian local (sekitar bagian yan digigit).