You are on page 1of 17

SATUAN ACARA PENYULUHAN

1. Pokok Bahasan : Kemoterapi
2. Sasaran : Pasien kemoterapi ruang Al- insan RSUD Siti Aisyah
3. Waktu dan Tempat
- Tempat : Ruang Al- insan RSUD Siti Aisyah lubuklinggau
- Waktu : Rabu, 27 Juni 2016, pukul 10.30 WIB
4. Metode : Ceramah dan Tanya Jawab
5. Media : Leaflet
6. Tujuan
 Tujuan Umum :
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan sasaran mampu mengerti dan
memahami tentang pentingnya kemoterapi bagi upaya penyembuhan penyakit.
 Tujuan Khusus :
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan sasaran mampu :
 Menjelaskan tentang definisi kemoterapi
 Menjelaskan tentang tujuan kemoterapi
 Menyebutkan jenis kemoterapi
 Menjelaskan persiapan kemoterapi
7.. Manfaat
 Manfaat bagi mahasiswa :
 Mahasiswa mengetahui lebih dalam mengenai kemoterapi.
 Mahasiswa mengetahui persiapan yang dilakukan sebelum pasien
menjalani kemoterapi.
 Manfaat bagi masyarakat :
 Meningkatkan pengetahuan sasaran mengenai kemoterapi.
 Sasaran mengetahui manfaat kemoterapi bagi penyembuhan
penyakitnya.
8. Materi (Terlampir)
 Menjelaskan tentang definisi kemoterapi
 Menjelaskan tentang tujuan dan manfaat kemoterapi
 Menjelaskan tentang jenis kemoterapi
 Menjelaskan tentang persiapan sebelum kemoterapi
 Menjelaskan efek samping kemoterapi

10. Evaluasi : Evaluasi diberikan dengan cara memberikan pertanyaan kepada sasaran mengenai hal-hal yang telah dijelaskan oleh penyuluh. 3. Sasaran mampu menjawab semua pertanyaan dengan benar dan singkat. Sasaran mampu menjawab semua pertanyaan dengan benar dan lengkap yang diberikan secara rinci. 2. Adapun kriteria dari evaluasi sebagai berikut 1. . Sasaran mampu menjawab pertanyaan setelah diberiakan bantuan. Tahap Kegiatan Penyuluhan Tahap Kegiatan Penyuluh Kegiatan Sasaran Metode & Media Pembukaan  Memperkenalkan diri  Menjawab salam Ceramah (5 menit)  Menyampaikan maksud dan  Memperhatikan dan dan tanya tujuan dilaksanakannya menjawab pertanyaan jawab penyuluhan  Menggali pengetahuan sasaran tentang materi yang akan disampaikan Penyajian  Menyimak penjelasan Ceramah  Menjelaskan tentang (10 menit) dan tanya definisi kemoterapi  Mengajukan pertanyaan jawab  Menjelaskan tentang tujuan seputar materi -Poster dan manfaat kemoterapi -Leaflet  Menjelaskan tentang jenis kemoterapi  Menjelaskan tentang persiapan sebelum kemoterapi  Menjelaskan efek samping kemoterapi Penutup Ceramah  Memperhatikan (5 menit)  Memberi kesimpulan materi dan tanya penjelasan  Menyampaikan hasil jawab  Menjawab pertanyaan Leafleat evaluasi dan umpan balik dari penyuluh  Menutup acara penyuluhan 11. Sasaran mampu menjawab beberapa pertanyaan dengan benar dan singkat. 4.

Untuk kemoterapi bisa digunakan satu jenis sitostika. 2) Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi. 3) Mengurangi gejala Bila kemoterapi tidak dapat menghilangkan kanker. 1. . 4) Mengurangi komplikasi akibat metastase.3 Manfaat 1) Pengobatan Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis kemoterapi atau beberapa jenis kemoterapi. 1.1 Definisi Merupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat sitostatika yaitu suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker.1. Pada sejarah awal penggunaan kemoterapi digunakan satu jenis sitostika.1.2 Tujuan 1) Pengobatan. 2) Kontrol Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan kanker agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain. maka kemoterap yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita. 2005). seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukurran kanker pada daerah yang diserang. dalam usaha untuk mendapatkan hasiat lebih besar (Admin.1. Obat anti kanker yang artinya penghambat kerja sel (Munir. 2009).Materi penyuluhan KEMOTERAPI DALAM GINEKOLOGI 1.1 Gambaran Umum 1. 3) Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup. Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker atau menghambat proliferasi sel-sel kanker dan diberikan secara sistematik. namun dalam perkembangannya kini umumnya dipergunakan kombinasi sitostika atau disebut regimen kemoterapi.

Menghambat sintesis DNA 1. contoh pada tomur ganas yang berukuran besar (Bulky Mass Tumor) atau pada keganasan darah seperti leukemia atau limfoma. jenis obat yang digunakan pada tindakan kemoterapi ada beberapa macam. 3. mencegah kejadian pembelahan sel. sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi. Kemoterapi bekerja dengan cara: 1. 3) Obat golongan Topoisomerase-inhibitor. 4) Obat golongan Enzim seperti. disebut juga dengan pengobatan penyelamatan. bekerja langsung pada molekul basa inti sel.4 Pola pemberian kemoterapi (Munir. L-Asparaginase bekerja dengan menghambat sintesis protein. 2) Kemoterapi Adjuvan Biasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain seperti pembedahan atau radiasi. hal ini disebut Kemoresisten. 2005) 1) Kemoterapi Induksi Ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa tumor atau jumlah sel kanker. sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut. 1.2 Prinsip kerja obat kemoterapi (sitostatika) terhadap kanker. dan Taxanes bekerja pada gangguan pembentukan tubulin. sehingga memicu apoptosis 2. yang berakibat menghambat sintesis DNA. diantaranya adalah : 1) Obat golongan Alkylating agent. tujuannya adalah untuk memusnahkan sel-sel kanker yang masih tersisa atau metastase kecil yang ada (micro metastasis). sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja terutama terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi.1. dan Antibiotik Anthrasiklin obst golongsn ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel. sehingga terjadi hambatan mitosis sel. 2) Obat golongan Antimetabolit. .3 Obat-Obat Kemoterapi Menurut Munir (2005). Merusak aparatus spindel sel. Merusak DNA dari sel-sel yang membelah dengan cepat. Menurut Munir (2005). semakin aktif sel-sel kanker tersebut berproliferasi maka semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut Kemoresponsif. yang dideteksi oleh jalur p53/Rb. Vinca Alkaloid. platinum Compouns. sebaliknya semakin lambat proliferasinya maka kepekaannya semakin rendah .

Puri-netol®. Tegafur®. diberikan pada kanker yang bersifat kemosensitif. Xeloda®. dapat berupa bolus IV pelan- pelan sekitar 2 menit. Cisplastin. dapat pula per drip IV sekitar 30 – 120 menit.C. Taxotere. biasanya pemberian Bleomycin. tujuannya untuk memperkuat efek radiasi. 4) Oral Pemberian per oral biasanya adalah obat Leukeran®. jenis obat untukl kemoterapi ini antara lain Fluoruoracil. 1. 6) Topikal 7) Intra arterial 8) Intracavity 9) Intraperitoneal/Intrapleural Intraperitoneal diberikan bila produksi cairan acites hemoragis yang banyak pada kanker ganas intra-abdomen. Ara. 3) Radiosensitizer. yaitu jenis kemoterapi yang diberikan sebelum radiasi. Hydrea. Natulan®. hal ini sering dihindari karena resiko syok anafilaksis. Alkeran®. Myleran®. hydrea®. 3) Kemoterapi Primer Dimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor ganas.5 Cara pemberian obat kemoterapi (Munir. antara lain Cisplastin. 5) Subkutan dan intramuskular Pemberian sub kutan sudah sangat jarang dilakukan. Pemberian intrapleural . biasanya diberikan dahulu sebelum pengobatan yang lain misalnya bedah atau radiasi. Tujuannya adalah untuk mengecilkan massa tumor yang besar sehingga operasi atau radiasi akan lebih berhasil guna. atau dengan continous drip sekitar 24 jam dengan infusion pump upaya lebih akurat tetesannya. Pemberian per IM juga sudah jarang dilakukan. 4) Kemoterapi Neo-Adjuvan Diberikan mendahului/sebelum pengobatan /tindakan yang lain seperti pembedahan atau penyinaran kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi lagi. Taxol. Gleevec®. biasanya adalah L- Asparaginase. 2) Intra tekal (IT) Diberikan ke dalam canalis medulla spinalis untuk memusnahkan tumor dalam cairan otak (liquor cerebrospinalis) antara lain MTX. 2005) 1) Intra vena (IV) Kebanyakan sitostatika diberikan dengan cara ini.

namun masih mampu bekerja kantor ataupun pekerjaan rumah yang ringan. SGPT. tanpa hambatan untuk mengerjakan tugas kerja dan pekerjaan sehari-hari. tidak dapat melakukan pekerjaan lain. yang apabila diberikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan kemoterapi perlu pertimbangan sebagai berikut : 1. 50 % waktunya untuk tiduran dan hanya bisa mengurus perawatan dirinya sendiri. Grade 2: hambatan melakukan banyak pekerjaan. Grade 1: hambatan pada perkerjaan berat. c. Hal ini juga menjadi faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan terapi yang tepat pada pasien dengan sesuai status penampilannya. Leuko. lebih dari 50% waktunya untuk tiduran. 1. Creatinin dan Creatinin Clearance Test bila serum creatinin meningkat. d. Grade 0: masih sepenuhnya aktif. yaitu diberikan kedalam cavum pleuralis untuk memusnahkan sel-sel kanker dalam cairan pleura atau untuk mengehntikan produksi efusi pleura hemoragis yang amat banyak . Hb. Skala status penampilan menurut ECOG ( Eastern Cooperative Oncology Group) adalah sebagai berikut: a. Alkali phosphat. e. Trombosit. b) Fungsi hepar. Epirubicin).6 Prosedur Tindakan Kemoterapi Pada Pasien (Herdata. Status Penampilan Penderita Ca (Performance Status) ini mengambil indikator kemampuan pasien. b. SGOT. betul-betul hanya di kursi atau tiduran terus . dimana penyakit kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi penampilan pasien. d) Audiogram (terutama pada pemberian Cis-plastinum) e) EKG (terutama pemberian Adriamycin. Ureum. Grade 4: Sepenuhnya tidak bisa melakukan aktifitas apapun. Grade 3: Hanya mampu melakukan perawatan diri tertentu. contohnya Bleocin. hitung jenis. bilirubin. 2009) 1) Persiapan Pasien Sebelum pengotan dimulai maka terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan yang meliputi: a) Darah tepi. c) Fungsi ginjal. 2) Syarat pasien yang layak mendapat tindakan kemoterapi : Pasien dengan keganasan memiki kondisi dan kelemahan kelemahan. Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu status penampilan <= 2.

Buka gaun. Lakukan tehnik aseptik dan antiseptic 4.9 % 7. Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya tidak diberikan pada usia diatas 70 tahun. Penderita mengerti tujuan dan efek samping yang akan terjadi. Elektrolit dalam batas normal. 12. cara pemberian. informed concent.0000/ul 4. kirim ke incinerator / bakaran. 9. 3) Prosedur Pemberian Kemoterapi 1. Berikan anti mual ½ jam sebelum pemberian anti neoplastik (primperan. Bilirubin <2 mg/dl. 14. topi. 8. Creatinin Clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24 jam) (Tes Faal Ginjal) 6. zofran. waktu pemberian dan akhir pemberian. Jumlah lekosit >=3000/ml 3. kaca mata kemudian rendam dengan deterjen. kitril secara intra vena) 6. 7. Bila selesai bilas kembali dengan NaCl 0. 3. Pakai proteksi : gaun lengan panjang. sarung tangan dan sepatu. Periksa pasien. Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal Hb > 10 gram % 5. Lakukan aspirasi dengan NaCl 0. Jumlah trombosit>=120. 2. 10.9% 9. . 10. dosis obat. . 11. asker. jenis obat. Beri obat kanker secara perlahn-lahan (kalau perlu dengan syringe pump) sesuai program 8. topi. jenis cairan. 2. volume cairan. masker. Jenis kanker diketahui cukup sensitif terhadap kemoterapi. SGOT dan SGPT dalam batas normal ( Tes Faal Hepar ). Pasang pengalas plastik yang dilapisi kertas absorbsi dibawah daerah tusukan infuse 5. kaca mata. Diagnosis patologik 13. Bila disposible masukkkan dalam kantong plasrtik kemudian diikat dan diberi etiket. Faal ginjal dan hati baik. Riwayat pengobatan (radioterapi/kemoterapi) sebelumnya. Semua alat yang sudah dipakai dimasukkan kedalam kantong plastik dan diikat serta diberi etiket. Keadaan umum cukup baik.

Jaringan tubuh normal yang cepat proliferasi misalnya sumsum tulang. faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai pengaruh bermakna. selain itu efek samping yang timbul pada setiap penderita berbeda walaupun dengan dosis dan obat yang sama. Toksisitas pada hepar dan ginjal lebih sering terjadi dan sebaiknya dievalusi fungsi faal hepar dan faal ginjalnya. Kelainan neurologi juga merupakan salah satu efek samping pemberian kemoterapi. status penampilan (skala karnofsky. paru dan lain sebagainya. status hematologis. atau diberikan obat lain yang efek samping terhadap organ tersebut lebih minimal. Catat semua prosedur 12.7 Efek samping kemoterapi (Herdata. muntah anoreksia dan ulserasi saluran cerna. Untuk menghindari efek samping intolerable. sumsum tulang dan Sel pada traktus gastro intestinal. nadi. dosis pada setiap pemberian. dll). mukosa saluran pencernaan mudah terkena efek obat sitostatika. monitor tensi. skala ECOG). 1. sesak. dimana penderita menjadi tambah sakit sebaiknya dosis obat dihitung secara cermat berdasarkan luas permukaan tubuh (m2) atau kadang-kadang menggunakan ukuran berat badan (kg). lemah sadar baik. tampak kesakitan. Efek samping kemoterapi dipengaruhi oleh : . depresi sum-sum tulang yang memudahkan terjadinya infeksi. 11. kondisi jantung. folikel rambut. pada poor risk (apabila didapatkan gangguan berat pada faal organ penting) maka dosis obat harus dikurangi. 2008) Agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor tapi juga sel normal yang membelah secara cepat seperti sel rambut. Untuk menentukan keadaan biologik yang perlu diperhatikan adalah keadaan umum (kurus sekali. RR tiap setengah jam dan awasi adanya tanda-tanda ekstravasasi. status gizi. faal ginjal. asites. Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan kerontokan rambut. Penderita yang tergolong good risk dapat diberikan dosis yang relatif tinggi. yang dapat dievaluasi dengan EKG dan toksisitas pada paru berupa kronik fibrosis pada paru. Pada traktus gastro intestinal bisa terjadi mual. Efek samping yang muncul pada jangka panjang adalah toksisitas terhadap jantung. koma. sehingga dapat lebih lama dipengaruhi oleh sitostatika dan sel normal lebih cepat pulih dari pada sel kanker. faal hati. maupun dosis kumulatif. Akibat yang timbul bisa berupa perdarahan. Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat. Awasi keadaan umum pasien. Untungnya sel kanker menjalani siklus lebih lama dari sel normal. Selain itu faktor yang perlu diperhatikan adalah keadaan biologik penderita.

misalnya neuropati perifer. Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia). Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat. misalnya mual dan muntah. im. supresi sumsum tulang belakang akibat pemberian sitistatika dapat terjadi segera atau kemudian. dan tidak hanya membunuh sel-sel kanker. setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk menaikan kadar laukositnya kembali. penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari ke-8 sampai hari ke-14. Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala gastrointestinal. dan sel darah merah (anemia). mual dan muntah biasanya timbul selang beberapa lama setelah pemberian sitostatika dab berlangsung tidak melebihi 24 jam. Efek samping yang terjadi kemudian (Late Side Effects) yang timbul dalam beberapa bulan sampai tahun. Efek samping yang awal terjadi (Early Side Effects) yang timbul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu kemudian. Jadwal pemberian. 3. Cara pemberian (iv. 3. neuropati. 4. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. diare. faringitis. Dosis. 4. misalnya netripenia dan stomatitis. tetapi juga menyerang sel-sel sehat. misalnya keganasan sekunder. pada supresi sumsum tulang yang terjadi segera. terutama sel-sel yang membelah dengan cepat. muntah. Efek samping yang terjadi belakangan (Delayed Side Effects) yang timbul dalam beberapa hari sampai beberapa bulan. Masing-masing agen memiliki toksisitas yang spesifik terhadap organ tubuh tertentu. Umumnya efek samping kemoterapi terbagi atas : 1. per drip infus). Faktor individual pasien yang memiliki kecenderungan efek toksisitas pada organ tertentu. esophagitis dan mukositis. 2. supresi sumsum tulang. 5.1. Efek amping segera terjadi (Immediate Side Effects) yang timbul dalam 24 jam pertama pemberian. peroral. sel trombosit (trombositopenia). konstipasi. 2. Efek samping Kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat. Gejala gastrointestinal yang paling utama adalah mual. kerontokan rambut. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian penurunan kadar leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama .

efek samping yang jarang terjadi tetapi tidak kalah penting adalah kerusakan otot jantung. pencampuran dilakukan diruangan khusus yang tertutup dengan cara : 1. 1. uterus dan saluran kencing relatif kecil dan lebih mudah diatasi. Ambil obat sitostatika sesuai program. Sebelum membuka ampul pastikan bahwa cairan tersebut tidak berada pada puncak ampul. Kardiomiopati akibat doksorubin dan daunorubisin umumnya sulit diatasi. Pastikan bahwa obat yang diambil sudah cukup. sepatu. Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan ringan dampai pada kebotakan. sel lambung ini kemudian mengirim sinyal ke ” pusat muntah” di otak.9 Langkah-Langkah Pemberian Obat Kemoterapi Oleh Perawat Semua obat dicampur oleh staf farmasi yang ahli dibagian farmasi dengan memakai alat “biosafety laminary airflow” kemudian dikirim ke bangsal perawatan dalam tempat khusus tertutup. Mekanisme ini juga akan memicu mual dan muntah. Kemoterapi dapat mempengaruhi sel normal di lambung. bila tidak mempunyai biosafety laminary airflow maka. kelainan hati terjadi biasanya menyulitkan pemberian sitistatika selanjutnya karena banyak diantaranya yang dimetabolisir dalam hati. Leukopenia dapat menurunkan daya tubuh. gangguan hormonal. Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan mencapai nilai mendekati normal pada minggu keenam. Gunakan kasa waktu membuka ampul agar tidak terjadi luka dan terkontaminasi dengan kulit. Diterima oleh perawat dengan catatan nama pasien. dosis obat dan jam pencampuran. 3. topi. Meja dialasi dengan pengalas plastik diatasnya ada kertas penyerap atau kain 2. dengan tidak mengambil 2 kali . 4. masker. jenis obat. sebagian besar penderita meninggal karena “pump failure”. kerusakan ginjal. Pakai gaun lengan panjang. pada minggu kedua dan pada sekitar minggu ke empat dan kelima. efek samping pada kulit. reaksi anafilaksis. kerusakan hati. karena sinyal ini direspon berbeda sehingga memicu mual dan muntah. fibrosis paru. gangguan syaraf. kaca mata. dan perubahan genetik yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker baru. larutkan dengan NaCl 0. D5% atau intralit. trombositopenia dapat mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlabihan bila terjadi erosi pada traktus gastrointestinal. sterilitas. Menurut Admin (2009). sklerosis kulit. fibrosis paru umumnya iireversibel. saraf.9%. Ada kala kemoterapi akan langsung bekerja di “pusat muntah” di otak.

risiko tinggi hanya 50 % dengan angka kematian karena PTG berkisar 8-9%. kuretase cukup dilakukan satu kali.9 % atau D5% dengan volume cairan yang telah ditentukan 7. Kemoterapi pada PTG risiko rendah adalah kemoterapi tunggal. Evakuasi molahidatidosa dilakukan sesaat setelah diagnosis ditegakkan. Masukkan perlahan-lahan obat kedalam flabot NaCl 0. jenis obat. Histerektomi dilaporkan dilakukan pada kasus molahidatidosa usia tua dan terbukti mengurangi angka kematian dari koriokarsinoma. Cisplatinum). Andrijono. EP ( Etoposide. Buat label. Jangan tumpah saat mencampur.actinomycin.hal didasarkan perhitungan bahwa evakuasi dilakukan untuk menghindari abortus mola sehingga perlu tingakan akut. Kemoterapi pada PTG (Unsri. Kemoterapi tunggal lain yang dapat digunakan adalah Dactinomycin. Masukkan kedalam kontainer yang telah disediakan. risiko rendah 83. nama pasien. jam pemberian serta akhir pemberian atau dengan syringe pump.methotrexate.3% .Sedangkan pada PTG risiko tinggi menggunakan kemoterapi kombinasi diberikan kombinasi EMA-CO (etoposide. ikat dan beri tanda atau jarum bekas dimasukkan ke dalam tempat khusus untuk menghindari tusukan. menyiapkan dan saat memasukkan obat kedalam flabot atau botol infus. Dengan perkembangan kemoterapi yang mempunyai angka keberhasilan terapi yang tinggi. dengan pilihan utama Methotrexate. tanggal. melaporkan angka keberhasilan terapi pada PTG nonmetastasis 95. menghindari komplikasi hipertiroid atau perforasi serta untuk memperoleh jaringan untuk diagnosis histopatologi.cyclophosphamaide dan oncovin) sebagai terapi primer atau menggunakan kombinasi ME (Metothrexate. Masukkan sampah langsung ke kantong plastik. 9. 10. 1. Etoposide ). Kemoterapi adalah modalitas utama pada pasien dengan PTG. Angka keberhasilan terapi pada PTG risiko rendah adalah 100% dan lebih dari 80% pada PTG risiko tinggi.11 Penatalaksanaan Kemoterapi Berdasarkan Evidence Based 1. 5. 2008) Tatalaksana PTG adalah berdasarkan staging dan skoring.1%. Keluarkan udara yang masih berada dalam spuit dengan menutupkan kapas atau kasa steril diujung jarum spuit. 6. 8. Histerektomi juga .

Pada pasien dengan stadium I. 373 ( 93. Mengecilkan penyebaran sel tumor pada saat operasi b. semuanya menunjukkan remisi komplit tanpa tambahan terapi. Pada 1 seri yang terdiri dari 29 pasien yang diterapi pada satu institusi dengan histerektomi primer dan adjuvant kemoterapi tunggal.dilakukan pada keadaan darurat pada kasus perforasi. dapat diberikan kemoterapi kombinasi. pada suatu penerlitian dengan kemoterapi tunggal yang diberikan pada 399 pasien dengan stadium I PTG. c. a. Pengobatan metastatis yang tersembunyi yang telah ada pada saat operasi. Pada penatalaksanaan PTG Stadium satu. Penyakit trofoblas gestasional adalah radiosensitive. yaitu : histerektomi + kemoterapi. Kemoterapi adjuvant yang digunakan harus memenuhi 3 alasan : a. Kemoterapi tunggal Kemoterapi tunggal lebih baik pada penderita dengan stadium I yang masih membutuhkan fertilitas.pada kasus metastasis liver.5%) mengalami respon komplit. Jika sistem anak fertilitas. 1. Histerektomi juga selalu dilakukan pada stadium I PSTT. Mempertahankan level sitotoksik kemoterapi pada peredaran darah dan jaringan yang merupakan tempat penyebaran tumor pada saat opertasi. Stadium I. Radioterapi dapat dilakukan pada metastasis otak atau pada pasien yang tidak bisa diberikan kemoterapi karena alasan medis. Penatalaksanaan PTG. kemoterapi aman diberikan pada saat histerektomi tanpa peningkatan risiko perdarahan atau sepsis. a. histerektomi hanya dilakukan pada penyakit yang nonmetastatik dan merupakan pengobatan kuratif. histerektomi dengan adjuvan agen kemoterapi tunggal mungkin merupakan pengobatan primer. seleksi penangananya adalah berdasarkan fertilitas penderita. karena radiasi mempuyai efek tumorosidal serta hemostatik. Dua puluh enam pasien yang resisten mengalami remisi pada kemoterapi kombinasi atau operatif. Pada pasien yang resisten terhadap kemoterapi tunggal dan masih membutuhkan sistem reproduksi . Pada penderita PSTT metastatik yang pernah dilaporkan mengalami remisi setelah kemoterapi. otak yang tidak respon terhadap kemoterapi serta pada kasus PSTT. Jika pasien resisten terhadap kemoterapi tunggal dan kemoterapi kombinasi dan masih ingin mempertahankan sistem reproduksi dapat dilakukan . Sebab PSTT resisten terhadap terapi .

Stadium II dan stadium III. Jika direncanakan reseksi lokal USG preoperatif. 2. Kemoterapi kombinasi Sejak ditemukannya kemoterapi yang efektif. Regimen MEA dari suatu penelitian tanpa siklofosfamid. Kontrasnya hanya 2 dari 8 . Walaupun mekanisme keganasan kedua setelah kemoterapi sekuensial/ kombinasi dengan etoposide belum diketahui. b. Risiko leukemia mieloid. Laporan terbaru dari RS Charing Cross terhadap regimen ini menunjukkan 78% remisi komplit. Efek samping MEA yang didapatkan adalah mielosupresi. Leuko dan trombositopenia grade 4 terjadi pada 5.4% dari 94 siklus. alopesia reversibel) grade 2-3) dan nausea ( grade 2). Uji klinik acak dengan faktor risiko tinggi yang sama dapat mendefinisikan regimen optimal untuk wanita dengan PTG risiko tinggi. walaupun agaknya tidak mungkin karena pada penyakit jarang ini ada tingkat respon yang tinggi terhadap banyak regimen terapi. tetapi pada PTG risiko tinggi kesembuhan hanya berkisar 52-89% bahkan dengan MTX-Actinomisin-D dan Sikloposfamid/ klorambusil (MAC) sebagai terapi primer PTG risiko tinggi yang metastatik. a. Metastasis ke pelvis dan vagina Pada penelitian dengan 26 pasien stadium II yang diterapi dengan kemoterapi tunggal memberikan remisi komplit sebanyak 16 dari 18 ( 88.3 dan 6.9%) pada penderita dengan risiko rendah. Pergantian kemoterapi EMA/CO juga dilaporkan efektif dan dapat ditoleransi untuk pasien PTG risiko tinggi. ca kolon dan ca mammae secara bermakna meningkat. reseksi uterus lokal. pasien yang diberi etoposide perlu di follow up lebih ketat. Baru-baru ini keganasan kedua yang terjadi setelah regimen kemoterapi yang mengandung etoposide telah dilaporkan. maka kesembuhan pada semua pasien dengan PTG risiko rendah dapat diharapkan. Vinkristin adalah kombinasi yang dapat ditolerir dan efektif dalam mengobati wanita dengan PTG risiko tinggi. 86% tingkat survival 5 tahun kumulatif dan toksisitas minimal kecuali untuk keganasan. MRI atau arteriogram mungkin menolong mendefinisikan bagian tumor yang resisten. dan pasien dengan risiko tinggi dengan kemoterapi kombinasi primer yang intensif. ke2. Pasien dengan risiko rendah diterapi dengan kemoterapi tunggal.

d. Pada penderita resisten yang telah dilakukan torakotomi. Semua . 3. Stadium IV. c. 2. Remisi gonadotropin diinduksi dengan kemoterapi tunggal pada 71 dari 85 ( 83. Ketika perdarahan ini substansial akan dapat dikontrol dengan melokalisir vagina atau dengan lokal eksisi yang luas. b. Kontrasepsi yang efektif selama interval follow-up hormonal. Histerektomi. Semua pasien yang resisten terhadap kemoterapi tunggal sebagian mengalami remisi dengan kemoterapi kombinasi. bagaimana pun torakotomi mungkin bisa mengeksisi fokus yang resisten. Dari penelitian terhadap 130 pasien dengan stadium III yang diterapi 129 (99%) menunjukkan remisi komplit. histerektomi mungkin secara substansial menghambat tumor trofoblas dan membatasi untuk pemberian kemoterapi. Torakotomi merupakan batas pemanfaatan pada stadium III. Pengukuran hCG tiap minggu sampai kadarnya normal selama 3 minggu berturut-turut. Metastasis ke paru-paru. Follow-up Semua pasien dengan stadium I sampai stadium III harus difollow-up dengan : 1. Embolisasi Arteriografi arteri hipogastrika mungkin bisa mengontrol perdarahan metastasis vagina.5%) pasien dengan risiko rendah. 3. Pasien-pasien stadium IV mempunyai risiko terbesar untuk tumbuh secara progresif cepat dan tidak respon terhadap terapi multimodalitas. Metastasis vagina mungkin menyebabkan perdarahan yang hebat sebab mempunayai vaskuler yang banyak. Selanjutnya pada pasien- pasien yang tumornya meluas. Jika pasien mengalami metastasis pulmo yang persisten dan diberikan kemoterapi intensif. Histerektomi mungkin dilakukan pada pasien dengan metastasis untuk mengontrol perdarahan uterus atau sepsis. Pengukuran hCG setiap bulan sampai nilainya normal 12 bulan berturut-turut. kemoterapi harus diberikan pada postoperatif untuk mengobati mikrometasis yang tersembunyi. orang yang mempunyai risiko tinggi mengalami remisi dengan kemoterapi tunggal dan lainnya dengan kemoterapi kombinasi.

Metastasis hepar Penanganan metastasis hepar sebagian sulit. sulit pengamatan lanjut. dilakukan irradiasi seluruh otak (3000 cGy dengan 10 fraksi). dan sebagainya . 2. Pada pasien-pasien Yang resisten dengan kemoterapi sistemik. d. 2. pasien stadium IV harus diterapi secara primer dengan kemoterapi intensif dan penggunaan radioterapi yang selektif dan pembedahan. Metastasis cerebral. Bila fungsi uterus masih diperlukan: cryosurgery. 1. Remisi terbaik yang dilaporkan pada pasien dengan metastasis kranial yang diobati secara intravena yang intensif dengan kombinasi kemoterapi dan metotreksat intratekal. Kraniotomi. 3 diantaranya mengalami remisi komplit. Jika didiagnosis metastasis cerebral. Tehnik terbaru tentang embolisasi arteri mungkin diperlukan untuk intervensi pembedahan. Reseksi hepar mungkin bisa juga untuk mengontrol perdarahan akut atau untuk mengeksisi fokus tumor yang resisten. Risiko perdarahan spontan cerebral mungkin bisa terjadi karena kombinasi kemoterapi dan irradiasi otak sebab keduanya mungkin bersifat hemostatik dan bakterisidal. Histerektomi diindikasikan pada patologi ginekologi lain. c. Weed dkk melaporkan bahwa kraniotomi untuk mengontrol perdarahan pada 6 pasien. Pasien dengan metastasis cerebral yang mengalami remisi umumnya tidak mempunyai sisa defisit neurologis. Kraniotomi dilakukan untuk dekompresi akut atau untuk mengontrol perdarahan. Nilai hCG tiap minggu sampai normal selama 3 minggu berturut-turut. infus arteri hepatika mungkin menghambat remisi komplit pada kasus-kasus yang selektif. Follow-up. Stadium 0 a. a. b. Kemoterapi pada kanker serviks Penetapan pengobatan kanker serviks berdasarkan Standar Pelayanan Medik Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (2006) : 1. Nilai hCG setiap bulan sampai normal selama 24 bulan berturut. terapi laser atau LLETZ (Large Loop Electrocauter Transformation Zone). konisasi.

Stadium Ib/IIa a. atau penderita menolak/ada kontraindikasi operasi maka diberikan radiasi. Ia2 – histerektomi abdomen dan limfadenektomi pelvik. dan bila respon baik maka radiasi dapat diberikan secara lengkap. maka pengobatan selanjutnya adalah histerektomi radikal. Satu atau dua ovarium pada usia muda dapat ditinggalkan dan dilakukan ovareksis keluar lapangan radiasi sampai diatas L IV. maka pengobatan adalah operasi radikal. usia <50 tahun. Dapat diberikan kemoterapi intra arterial dan bila respon baik dilanjutkan dengan histerektomi radikal atau radiasi bila respon tidak ada. dilakukan histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvik. Pengamatan Pap Smear lanjut pada tunggul serviks dilakukan tiap tahun. Post operatif dapat diberikan ajuvan terapi (kemoterapi. Secara induksi: bila radiasi diberikan 4-6 minggu sesudah kemoterapi.70 dan tidak ada kontraindikasi operasi.70.0 >0. b. Bila kemudian ada resistensi. modifikasi histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvik c. Stadium IIb-IIIb a.4% 2. radiasi atau gabungan) bila :  Radikalitas operasi kurang  Kelenjar getah bening pelvis/paraaorta positif  Histologik : small cell carcinoma  Diferensiasi sel buruk  Invasi dan atau limfotik vaskuler  Invasi mikroskopik ke parametria  Adenokarsinoma/adenoskuamosa b. 45Stadium IVa d. c. I. Diberikan radiasi. lesi primer <4 sm. 3. Bila respon radiasi tidak baik maka . Stadium Ia Skuamousa : a. histerektomi vaginal/abdominal pada pasien usia tua. bila kelenjar getah bening membesar ≥1. lesi >4 sm. dapat diberikan radiasi.5 sm dilakukan limfadenektomi dan dilanjutkan dengan radiasi. Dengan kekambuhan 0. Bila bentuk serviks berbentuk “barrel”. Bila ada kontraindikasi operasi. Secara simultan: bila radiasi diberikan bersamaan dengan kemoterapi. 4. b. Bila usia 50 tahun. Dilakukan CT-Scan dahulu.0) <0. dapat diberikan secara induksi atau simultan. Radiasi diberikan dengan dosis paliatif. b. Ia1 – dilakukan konisasi pada pasien muda. Pada risiko tinggi kemoterapi dapat ditambah untuk meningkatkan respon pengobatan. indeks obesitas (I. Keadaan diatas PLUS tumor anaplastik atau invasi vaskuler–limfatik.

dilanjutkan dengan kemoterapi. Bila ada simptom dapat diberikan radiasi paliatif dan bila memungkinkan dilanjutkan dengan kemoterapi. Dapat juga diberikan kemoterapi sebelum radiasi untuk meningkatkan respon radiasi. maka dilakukan terapi embolisasi (sel form) intra arterial (iliaka interna/hipogastrika). Stadium IVb a. atau kalau memungkinkan dapat diberikan kemoterapi. c. Bila tidak ada simptom tidak perlu diberikan terapi. Catatan : bila terjadi perdarahan masif yang tidak dapat terkontrol. b. 5. .