You are on page 1of 80

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Terjadinya transisi epidemiologi yang paralel dengan transisi
demografi dan transisi teknologi di Indonesia dewasa ini telah mengakibatkan
perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular
(PTM) meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases yang merupakan
faktor utama masalah morbiditas dan mortalitas. Terjadinya transisi
epidemiologi ini disebabkan terjadinya perubahan sosial ekonomi, lingkungan
dan perubahan struktur penduduk, saat masyarakat telah mengadopsi gaya
hidup tidak sehat, misalnya merokok, kurang aktivitas fisik, makanan tinggi
lemak dan kalori, serta konsumsi alkohol yang diduga merupakan faktor
risiko PTM (Balitbangkes, 2006).
Salah satu PTM yang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius
saat ini adalah hipertensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi didefinisikan
sebagai peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau
diastolik 90 mmHg atau lebih pada dua kali pengukuran dengan selang waktu
minimal lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang (Pusdatin,
2014). Hipertensi merupakan penyebab yang paling umum terhadap
morbiditas dan mortalitas pada usia yang lebih tua seperti stroke, penyakit
jantung iskemik dan insufisiensi ginjal dan prevalensinya meningkat seiring
bertambahnya usia (Sherlock et al., 2014).
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
terjadi di negara maju maupun negara berkembang. Angka kejadian hipertensi
di seluruh dunia mencapai 1 milyar orang dan sekitar 7,1 juta kematian akibat
hipertensi terjadi setiap tahunnya (Depkes RI, 2008). Berdasarkan Riskesdas
2013, prevalensi hipertensi di Indonesia hasil pengukuran pada umur ≥18
tahun sebesar 25,8 persen. Prevalensi hipertensi di Jawa Tengah mencapai
26,4% (Riskesdas, 2013). Data kasus hipertensi dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas menunjukkan bahwa jumlah kasus hipertensi pada
tahun 2014 sebesar 6398 kasus dengan temuan kasus baru dari Puskesmas II
Kemranjen sebesar 167 kasus baru, yakni 2,6% dari total kasus hipertensi

1

baru di Kabupaten Banyumas pada tahun 2014 (DKK Banyumas, 2014).
Penyakit hipertensi termasuk kedalam 10 besar kasus penyakit terbanyak di
Puskesmas II Kemranjen. Angka kejadian hipertensi di Puskesmas II
Kemranjen pada tahun 2013 mencapai 254 kasus, pada tahun 2014 meningkat
49,8% menjadi 510 kasus, dan pada tahun 2015 didapatkan 750 kasus,
sehingga dapat disimpulkan jumlah kasus hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas II Kemranjen selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyakit hipertensi yang
tidak terkontrol dapat menyebabkan tujuh kali lebih berisiko terkena stroke,
enam kali lebih berisiko menderita congestive heart failure (CHF), dan tiga
kali lebih berisiko terkena serangan jantung (Rahajeng et al., 2009).
Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor tiga pada semua umur di
Indonesia, yakni mencapai 6,8% setelah stroke (15,4 %) dan tuberkulosis (7,5
%) (Depkes RI, 2008). Oleh karena itu, perlu adanya pencegahan, deteksi dini
dan pengobatan yang adekuat untuk penderita hipertensi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi dibagi dalam
dua faktor yaitu faktor yang tidak dapat diubah seperti jenis kelamin, umur,
genetik dan faktor yang dapat diubah seperti pola makan, kebiasaan olah raga
dan lain-lain. Munculnya hipertensi memerlukan faktor risiko tersebut terjadi
secara bersama-sama (common underlying risk factor), dengan kata lain satu
faktor risiko saja belum cukup menyebabkan timbulnya hipertensi (Elsanti,
2009). Pengetahuan diduga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi
tindakan dan perilaku penderita hipertensi dalam mengendalikan penyakitnya.
Edukasi tentang penyakit dibutuhkan bagi masyarakat wilayah kerja
Puskesmas II Kemranjen seperti modifikasi gaya hidup sehat, konsumsi gizi
seimbang, pemeliharaan berat badan ideal, pembatasan konsumsi garam,
berolahraga serta tidak merokok yang merupakan upaya untuk pengendalian
hipertensi (Ningsih, 2009).
Angka kejadian hipertensi yang selalu meningkat menjadi latar
belakang dalam pengambilan kasus Community Health Analysis (CHA)
berdasarkan uraian diatas peneliti ingin mengetahui faktor risiko hipertensi

2

pada masyarakat Desa Kebarongan dengan angka kejadian hipertensi
tertinggi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen Kabupaten Banyumas.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Melakukan analisis kesehatan komunitas tentang faktor risiko hipertensi
di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen, Banyumas.
2. Tujuan khusus
a. Menentukan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian
hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen, Banyumas.
b. Mencari alternatif pemecahan masalah hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas II Kemranjen, Banyumas.
c. Memberikan informasi mengenai faktor risiko hipertensi sebagai
upaya promotif dan preventif terhadap komplikasi hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen, Banyumas.

C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Menambah ilmu dan pengetahuan di bidang kesehatan dalam
mencegah penyakit hipertensi, terutama faktor risiko yang dapat
menimbulkan terjadinya penyakit hipertensi.
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi masyarakat
Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit
hipertensi, faktor risiko dan cara untuk mencegah penyakit tersebut
sehingga diharapkan dapat mengontrol tekanan darah dan
mengurangi komplikasi hipertensi.
b. Manfaat bagi puskesmas
Membantu program enam dasar pelayanan kesehatan puskesmas
berkaitan dengan promosi kesehatan terutama masalah hipertensi
sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan menentukan
kebijakan yang harus diambil untuk menyelesaikan masalah.
c. Bagi mahasiswa
Menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai masalah
kesehatan di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen, Banyumas.

3

II. ANALISIS SITUASI

A. Deskripsi Situasi dan Kondisi Puskesmas dan Wilayah Kerjanya
1. Keadaan Geografis
Kecamatan Kemranjen terletak di bagian selatan Kabupaten
Banyumas dan dibatasi oleh Kecamatan Banyumas dan Kecamatan
Somagede disebelah utara, Kabupaten Cilacap disebelah selatan,
Kecamatan Sumpiuh di sebelah timur dan Kecamatan Kebasen di sebelah
barat. Kecamatan Kemranjen memiliki 15 desa, yaitu Desa Alasmalang,
Desa Grujugan, Desa Karanggintung, Desa Karangjati, Desa
Karangsalam, Desa Kebarongan, Desa Kecila, Desa Kedungpring, Desa
Nusamangir, Desa Pageralang, Desa Petarangan, Desa Sibalung, Desa
Sibrama, Desa Sidamulya dan Desa Sirau.

Gambar 2.1 Peta Kecamatan Kemranjen
Terdapat dua Puskesmas di Kecamatan Kemranjen yaitu
Puskesmas I Kemranjen dan Puskesmas II Kemranjen. Puskesmas II
Kemranjen merupakan puskesmas yang berada di Jalan Raya Buntu, Desa
Sidamulya, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas. Puskesmas II
Kemranjen memiliki luas wilayah kerja sekitar 250 km2, yang terdiri atas
wilayah Desa Sirau (47.3 km2), Desa Kebarongan (44.3 km2), Desa
Grujungan (25.6 km2), Desa Sidamulya (21.7 km2), Desa Pageralang (59.2
km2), Desa Alasmalang (30.2 km2) dan Desa Nusamangir (21.6 km2).
Batas wilayah Puskesmas II Kemranjen sebelah utara adalah Desa

4

398 2 5-14 2. Karangrau.027 3.238 jiwa. Keadaan Demografi Kecamatan Kemranjen a.846 3.189 2. Kecamatan Kemranjen. sebelah Timur berbatasan dengan Desa Karangjati. sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Mujur lor.847 5. Kecamatan Kroya.295 3.569 5. Desa dengan jumlah penduduk terpadat berada di desa 5 . Jumlah penduduk tertinggi berada di Desa Pageralang yaitu sebesar 10. yaitu sebesar 7. Kecamatan Kebasen.605 2. maka jumlah penduduk dalam kelompok umur 45- 59 tahun adalah yang tertinggi.804 6 45-59 3. Kepadatan penduduk Penduduk diwilayah Puskesmas II Kemranjen adalah bervariasi kepadatanya.033 20. berikut: Tabel 2.529 6.159 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 20.623 3 15-24 3. c.314 6. jumlah penduduk di wilayah Puskesmas II Kemranjen adalah 40.1.515 7 60-80 2. 2.209 1.174 Jumlah 20.152 jiwa. Kabupaten Cilacap.126 jiwa.515 jiwa. sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Adisana.009 6.126 40.609 5 35-44 3. sedangkan jumlah penduduk terendah berada di Desa Nusamangir yaitu sebesar 3.1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur di Wilayah Puskesmas II Kemranjen Tahun 2015 Jumlah penduduk Kelompok No Laki-laki + umur (tahun) Laki-laki Perempuan perempuan 1 0-4 1. Pertumbuhan penduduk Data dari Puskesmas II Kemranjen menunjukkan pada akhir tahun 2015 di bulan Desember.159 Sumber : Data Sekunder Puskesmas II Kemranjen Tahun 2015 Jika dilihat dari jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur pada tabel diatas.033 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 20. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas II Kemranjen berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 2.776 2. b.036 4 25-34 3. Kecamatan Banyumas.275 3.669 7.

21 setiap kilometer persegi. 2015 6 .931 3.128 17.25 jiwa setiap kilometer persegi.967 4.85 S2/ S3 35 23 58 0.951 47.3 Tingkat Pekerjaan Penduduk di Wilayah Puskesmas II Kemranjen pada Tahun 2015 Jenis Pekerjaan Jumlah (jiwa) Persentase (%) Petani 18. rata-rata kepadatan penduduk di wilayah Puskesmas II Kemranjen adalah 16.048 1.210 Sumber : Data Sekunder Puskesmas II Kemranjen Tahun 2015 e.41 Pedagang 7.035 15.75 Nuruh 7.266 3.243 8.2 Tingkat Pendidikan Penduduk yang Berusia 10 Tahun Ke Atas di Wilayah Puskesmas II Kemranjen pada Tahun 2015 Jumlah Pendidikan Laki.61 SMK 51 205 256 0.19 PNS 6.46 D3 91 123 214 0.17 Jumlah 3. Secara umum.038 2. sedangkan wilayah dengan tingkat kepadatan yang paling rendah berada di desa Sirau yaitu sebesar 13.61 D4/ S1 159 139 298 0.981 11. d. Tingkat Pekerjaan Penduduk Data tingkat pekerjaan penduduk di wilayah Puskesmas II Kemranjen tercatat pada tahun 2015 dapat diamati pada tabel berikut: Tabel 2.58 jiwa setiap kilometer persegi.36 SMP/ MTs 1.03 TNI 566 1.489 18.73 D1/ D2 78 83 161 0.95 SMA/ MA 455 811 1.65 Sumber: BPS Kabupaten Banyumas.086 5. Laki-laki + Persentase Perempuan laki perempuan SD/ MI 2. Sidamulya dengan tingkat kepadatan sebesar 22.050 1. Tingkat Pendidikan Data tingkat pendidikan penduduk yang berusia 10 tahun ke atas di wilayah Puskesmas II Kemranjen menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan tercatat pada tahun 2015 dapat diamati pada tabel berikut : Tabel 2.

Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas II Kemranjen Berdasarkan data sekunder dari Puskesmas II Kemranjen tahun 2015 didapatkan jumlah tenaga kesehatan sebagai berikut : Dokter umum PNS/Kontrak : 3 orang Dokter Gigi : 1 orang Bidan Puskesmas : 6 orang Bidan Desa : 11 orang Perawat Gigi : 1 orang Perawat PNS/Wiyata : 9 orang Petugas Laboratorium : 1 orang TU dan Staf Administrasi : 5 orang Petugas Farmasi : 2 orang Petugas Gizi : 1 orang Petugas Imunisasi/Bidan : 1 orang Petugas Kesling : 1 orang Epidemiologi : 1 orang Petugas Cleaning Service : 3 orang Supir : 1 orang B. Sumber Pelayanan Kesehatan a. 3. 7 . Cakupan Program Pelayanan Kesehatan Dasar Untuk memberikan gambaran derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. ditampilkan tabel berupa resum profil kesehatan di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015. Tempat Pelayanan Kesehatan Puskesmas :1 Puskesmas Pembantu :1 PKD :7 BPM : 13 Posyandu Balita : 59 Posyandu Lansia : 33 RS Swasta :1 BP Swasta :1 Dokter Praktek Swasta :1 b.

dengan 323 jiwa berjenis kelamin laki- laki dan 255 jiwa berjenis kelamin perempuan. b. Jumlah kasus AFP (non polio) pada tahun 2015 adalah 0 kasus. dan ibu nifas sebesar 173 per 100. c. Hal ini menunjukkan penangan pasien TB paru di Puskesmas II Kemranjen belum berjalan dengan baik c. Dapat dikatakan angka kematian ibu hamil. Jumlah kasus TB Paru kasus lama sebanyak 8 kasus. Angka kesembuhan dan pengobatan lengkap pada kasus TB Paru sebesar 55. Jumlah kelahiran hidup sebanyak 568 jiwa. Angka Kematian Bayi dan Balita Data profil Puskesmas II Kemranjen menunjukkan angka kematian bayi laki-laki dan perempuan sebesar 16 per 1000 kelahiran hidup. Jumlah Lahir Hidup Jumlah kelahiran di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015 sebanyak 578 jiwa. Angka Kematian Ibu Angka kematian ibu hamil. b. Angka Kesakitan (Morbiditas) a. Angka Kematian (Mortalitas) Berikut ini akan diuraikan perkembangan tingkat kematian pada periode tahun 2015 yaitu sebagai berikut : a. Pneumonia Pada Balita 8 . yaitu berjumlah 13 kasus kematian. ibu bersalin dan ibu nifas di Puskesmas II Kemranjen adalah 1.56%.1. 2. AFP Rate (non polio) < 15 tahun Acute Flaccid Paralysis non polia merupakan kasus kelumpuhan ekstremitas bawah yang tidak disebabkan oleh penyakit polio. Pada balita laki-laki dan perempuan. angka kematian sebesar 22 per 1000 kelahiran hidup. ibu bersalin. yaitu berjumlah 9 kasus kematian. dan jumlah kelahiran mati sebanyak 10 jiwa.000 kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan angka penemuan kasus mencapai 20. Jumlah Kasus TB Paru Jumlah perkiraan TB Paru kasus baru di Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015 adalah 94 kasus dengan jumlah kasus TB Paru yang ditemukan sebanyak 19 kasus.2%.

Hal ini didukung pula dengan pencapaian standar pelayanan minimal Puskesmas II Kemranjen terhadap imunisasi sudah berjalan maksimal. e. 3.000 penduduk. Penyakit Demam Berdarah Dengue Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue pada tahun 2015 sebanyak 9 kasus. pertusis. Sidamulya dan Pageralang. 9 . dengan 181 kasus pada laki-laki dan 201 kasus pada perempuan. d. Angka insidensinya sebesar 22. Jumlah perkiraan balita penderita pneumonia pada tahun 2015 sebanyak 357 kasus.4% dari jumlah perkiraan kasus sebesar 179 kasus. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi Data di Puskesmas II Kemranjen menunjukkan jumlah kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yang meliputi difteri.4% dengan 1 kasus pada laki-laki dan 4 kasus pada perempuan. Masing-masing ditemukan di desa Kebarongan. Upaya Kesehatan Upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan dasar harus dilakukan secara tepat dan cepat. g. campak. tetanus neonatorum. polio dan hepatitis B sebanyak 0 kasus. Angka pencapaian kasus diare yang ditangani sebesar 213. Kasus Pneumonia pada balita yang ditemukan dan ditangani di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen adalah sebanyak 5 kasus atau sebesar 1. f. Pasien DBD yang ditangani sebanyak 9 kasus yang berarti pencapaian pengobatan pasien DBD mencapai 100%. Hipertensi Kasus penyakit hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015 sebanyak 750 kasus dengan angka insidensi sebesar 2.4 per 100. Penyakit Diare Jumlah kasus diare yang ditemukan dan ditangani pada tahun 2015 sebanyak 382 kasus.8% pada kelompok usia yang berisiko di wilayah Puskesmas II Kemranjen. Hal ini menunjukkan pencapaian kasus pneumonia pada balita masih rendah.

dan insitusi tempat kerja. Promosi kesehatan Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas II Kemranjen khususnya dalam bidang Promosi Kesehatan adalah melalui kegiatan- kegiatan berikut: 1) Penyuluhan PHBS Upaya penyuluhan PHBS yang dilakukan oleh Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015 meliputi rumah tangga. target bayi yang mendapat ASI ekslusif 10 . Kesehatan Ibu dan Anak termasuk KB. 2) Bayi mendapat ASI eksklusif Salah satu promosi kesehatan yang gencar dilakukan di Puskesmas II Kemranjen adalah nasehat untuk memberikan ASI ekslusif oleh ibu kepada bayinya. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat institusi pendidikan tahun 2015 yaitu 100%. institusi TTU. Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat sarana kesehatan tahun 2015 yaitu 80%. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular. institusi sarana kesehatan. Kesehatan Lingkungan. karena pencapaian kurang dari target. dengan target yang dicapai 77. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat institusi TTU tahun 2015 yaitu 100%.8%. dengan target yang dicapai 100% . Kegiatan pokok Puskesmas biasa dikenal dengan istilah basic six atau enam program pokok puskesmas yang meliputi: Promosi Kesehatan (Promkes). Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat rumah tangga tahun 2015 yaitu 80%. TTU. institusi pendidikan. dengan target yang dicapai 18%. institusi pendidikan (sekolah).diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi. dengan target yang dicapai 60. sarana kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2015 target PHBS untuk tingkat rumah tangga. dan tempat kerja belum mendapatkan hasil yang baik. dengan target yang dicapai 75%.42% dari 8557 target. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat. a. dan Pengobatan. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tempat kerja tahun 2015 yaitu 80%.

4) Penyuluhan Napza Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. salah satu upaya promosi kesehatan yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas adalah melakukan penyuluhan Napza dengan sasaran siswa-siswi SD. b. 38 posyandu purnama (64. dan 1 posyandu mandiri (1. Posyandu aktif 100% yang menunjukkan program sudah berjalan dengan baik. 11 .90%). Ketiga cakupan tersebut terlaksana pada tahun 2015 dengan pencapaian 59 posyandu (100%) terdiri dari target cakupan 20 posyandu madya (33.41%). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa cakupan rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen telah memenuhi target 2015. yaitu 80% cakupan dari 575 target dengan pencapaian 80%. posyandu purnama. dan mandiri. capaian rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas adalah 95. Hal ini menunjukkan program sudah berjalan dengan baik. SMP dan SMP. Cakupan program penyuluhan Napza di Puskesmas II Kemranjen mencapai 100% cakupan 40 target penyuluhan institusi pendidikan formal dengan pencapaian 50% pada 20 target. hal ini menunjukkan program belum berjalan dengan maksimal. 3) Mendorong terbentuknya upaya kesehatan bersumber masyarakat Untuk mendorong terbentuknya upaya kesehatan yang bersumber dari masyarakat.2% dari target sebesar 90%. Puskesmas II Kemranjen mencanangkan program posyandu madya (baru).69%). Kesehatan Lingkungan Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas II Kemranjen khususnya dalam bidang Kesehatan lingkungan adalah melalui kegiatan-kegiatan berikut: 1) Penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015.

dari 2165 tempat pembuangan sampah dan limbah yang diinspeksi. 4) Sanitasi makanan dan minuman Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. Dari pemeriksaan terhadap sanitasi makanan dan minuman pada tahun 2015. jumlah keluarga dengan sanitasi air bersih adalah 56. hal ini menunjukkan program masih belum berjalan dengan baik.02% dari target sebesar 80%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa capaian tempat pembuangan sampah dan limbah pada tahun 2015 masih belum memenuhi target. sejauh ini intervensi sanitasi tempat umum hanya dilakukan inspeksi tanpa adanya pembinaan. Pencapaian tersebut masih belum memenuhi target 2015. Target pembinaan 80% dari 152 tempat dan hanya terpenuhi 53%. 3) Penyehatan tempat pembuangan sampah dan limbah Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015.89% dari 247 tempat dengan target 80%. sehingga dapat disimpulkan bahwa capaian TUPM sehat pada tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas II masih belum memenuhi target. Hal ini masih menjadi perhatian Puskesmas dalam upaya penyediaan air bersih di wilayah kerjanya. Hal ini menunjukkan bahwa sanitasi tempat umum pada wilayah kerja puskesmas II Kemranjen masih belum mencapai target. Target TUPM sehat tahun 2015 adalah sebesar 75%. 5) Sanitasi tempat-tempat umum Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. capaian sanitasi umum memenuhi syarat 40. 12 .2) Penyehatan air Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. sebesar 65.26% telah memenuhi syarat sehat dari target sebesar 80%. jumlah tempat umum dan pengelolaan makanan yang terdata di Puskesmas II Kemranjen adalah sebanyak 152 tempat. didapatkan hasil sebesar 54% dari 152 tempat yang diperiksa merupakan TUPM yang sehat.

c. Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. pelayanan kesehatan bagi ibu hamil sesuai standar untuk kunjungan lengkap mencapai 95. Dari data yang telah dipaparkan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan cakupan kesehatan bayi telah memenuhi target 2015.4% dari target sebesar 95%. sedangkan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil masih belum memenuhi target. dapat disimpulkan bahwa cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. dapat 13 . 3) Upaya kesehatan balita dan anak pra-sekolah Upaya kesehatan yang dilakukan Puskesmas II Kemranjen dalam rangka meningkatkan kesehatan balita dan anak pra-sekolah. meliputi pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang balita (kontak pertama). dan pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbang anak pra sekolah. capaian pelayanan kesehatan bagi balita (minimal 8 kali) adalah 100% dari target sebesar 100% sedangkan capaian penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat adalah 100% dari target sebesar 100%. pelayanan nifas lengkap (ibu dan neonatus) sesuai standar (KN 3) mencapai 98. 2) Kesehatan bayi Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015 capaian BBLR yang ditangani adalah 100% dari target 100%. Kesehatan Ibu dan Anak Termasuk KB Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas Kemranjen tahun 2015 khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak termasuk KB adalah melalui kegiatan-kegiatan berikut: 1) Kesehatan ibu Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015.8% dari target sebesar 100%. Dari data yang telah dipaparkan. Pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan sesuai standar mencapai 99. serta cakupan pelayanan nifas lengkap telah memenuhi target 2015.5% dari target sebesar 95%.

3) Pemberian PMT pemulihan bayi gizi buruk pada gakin 14 . dapat disimpulkan bahwa capaian akseptor KB aktif di puskesmas sudah baik. tetapi pada akseptor KB aktif MKJP masih belum mencapai target. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat Tujuan umum upaya perbaikan gizi puskesmas adalah meningkatkan kesadaran. disimpulkan bahwa target 2015 untuk pelayanan kesehatan balita serta penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat telah terpenuhi. d. kemauan dan kemampuan setiap keluarga di wilayah Puskesmas untuk mencapai Keluarga Sadar Gizi agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya melalui program: 1) Pemberian kapsul vitamin A Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi. capaian pemberian kapsul vitamin A mencapai 100% dari target 100%.736 target. Capaian pelayanan kesehatan anak usia sekolah dasar mencapai 100% dari 100% target. capaian peserta akseptor KB aktif mencapai 100% dari 1. 5) Pelayanan KB Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. capaian pelayanan kesehatan remaja mencapai 100% dari target 100%. Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi. 4) Upaya kesehatan anak usia sekolah dan remaja Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015.7% dari target sebesar 80%. capaian pemberian tablet besi pada ibu hamil mencapai 95% dari target 95%. 2) Pemberian tablet besi pada ibu hamil Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. Dari data yang tersebut. Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi. sedangkan capaian akseptor KB aktif MKJP (metode KB jangka panjang) di puskesmas mencapai 64.

Hal ini menunjukkan upaya Puskesmas mengobati pasien dengan TB Paru belum berjalan dengan baik karena tidak memenuhi target. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas Kemranjen khususnya dalam bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit menular adalah melalui kegiatan-kegiatan berikut: 1) Pencegahan dan Pemberantasan Tuberkulosis Paru Berdasarkan data dari programer Tuberkulosis Paru Puskesmas dapat diketahui bahwa pada tahun 2015. Capaian imunisasi HB 1 pada bayi <7hari 100% dengan target 100%. capaian balita dibawah garis merah/KEP mencapai 100% dari target 95%. Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi. Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi. 2) Pelayanan Imunisasi Berdasarkan data petugas Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. Capaian imunisasi campak pada bayi 100% dengan target 100%. Capaian imunisasi DT pada anak 98% dengan target 100%. 4) Balita naik berat badannya Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. target pengobatan TB paru 100% dengan capaian 82%. e. capaian balita yang naik berat badannya mencapai 93% dari target 80%. Capaian program imunisasi meliputi imunisasi DPT 1 pada bayi < 7 hari 100% dengan target 100%. 5) Balita dibawah garis merah/KEP Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. capaian desa atau kelurahan Universal Child Imunization (UCI) sebanyak 100%. capaian pemberian PMT pemulihan gizi buruk pada gakin mencapai 100% dari target 100%. Hal ini menunjukkan program sudah berjalan dengan baik karena capaian telah melebihi target.8% dengan target 100%. capaian drop out DPT 3-campak 93. Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. Capaian 15 .

3) Diare Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. imunisasi DT pada anak. C. Capaian imuniasasi TT WUS 61. dan imunisasi TT pada WUS.4 Data 10 penyakit terbesar di puskesmas II Kemranjen Periode Agustus-Oktober 2016 No Penyakit Jumlah kasus 1 Dispepsia 567 2 ISPA 561 3 Cephalgia 462 4 Gastroenteritis 317 5 Hipertensi 261 6 Arthritis 256 7 Myalgia 177 8 DM 171 9 Typhoid Fever 170 10 GERD 163 Jumlah 3105 Dari data Tabel 2. 16 . Capaian TT 2 100% dengan target 100%. capaian penemuan kasus dan penanganan diare 100% dengan target 100%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa program diare telah memenuhi target.4 menunjukan mayoritas dari top-10 disease berupa penyakit infeksi. Dari data tersebut yang masih belum memenuhi target yaitu drop-out DPT 3-campak.3% dengan target 100%. Hal dapat dapat dikaitkan dengan program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang belum mencapai target serta program kesehatan lingkungan yang mayoritas programnya belum mencapai target. imunisasi TT pada anak 100% dengan target 100%. Capaian BIAS campak 100% dengan target 100%. Top-10 Diseases Tabel 2.

Jumlah tenaga kesehatan dalam wilayah Puskesmas II Kemranjen adalah sebagai berikut: 1) Dokter Umum Dokter yang ada di sarana kesehatan dalam wilayah Puskesmas II Kemranjen 3 orang dokter umum. 5) Tenaga Perawat Tenaga perawat kesehatan yang ada di Puskesmas II Kemranjen ada 10 orang. 2) Dokter Gigi Dokter gigi di Puskesmas II Kemranjen ada 1 orang. Input a. Standar IIS tahun 2010. Menurut standar Indikator Indonesia Sehat (IIS) tahun 2010 ratio tenaga medis per 100. bidan puskesmas 6 orang dan bidan desa 11 orang. berarti tenaga medis masih kurang.000 penduduk. 10/100.000 penduduk adalah 40 tenaga medis. Man ( Tenaga Kesehatan) Tenaga kesehatan merupakan tenaga kunci dalam mencapai keberhasilan pembangunan bidang kesehatan. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN DAN PRIORITAS MASALAH A.000 penduduk. Standar IIS 2010.000 penduduk 4) Tenaga Bidan Tenaga Kebidanan jumlahnya 17 orang.5/100. Standar IIS 2010. 11/100. dengan demikian jumlah bidan di wilayah Puskesmas II Kemranjen masih kurang. jumlah tenaga bidan 100/100.Standar IIS 2010. III. 17 . 3) Tenaga Farmasi Tenaga farmasi di Puskesmas II Kemranjen ada 2 orang.000. adalah 117. Daftar Permasalahan Kesehatan 1.

dengan demikian tenaga gizi masih kurang. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa cakupan rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen telah memenuhi target 2015. dengan target yang dicapai 18%. dengan target yang dicapai 77. dengan target yang dicapai 75%.42% dari 8557 target.000 penduduk (6.000 penduduk. Promosi Kesehatan 1) Cakupan penyuluhan PHBS Cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat rumah tangga tahun 2015 yaitu 80%. 22/100. 40/100. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tempat kerja tahun 2015 yaitu 80%. Kesehatan Lingkungan 1) Penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga Pencapaian rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas adalah 95. 2) Cakupan penyuluhan NAPZA Cakupan program penyuluhan Napza di Puskesmas II Kemranjen mencapai 100% cakupan 40 target penyuluhan institusi pendidikan formal dengan pencapaian 50% pada 20 target. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat sarana kesehatan tahun 2015 yaitu 80%.8%.2% dari target sebesar 90%. 18 . 2.5). dengan target yang dicapai 60. Standar IIS tahun 2010. b. 7) Tenaga Kesehatan Lingkungan Tenaga Kesehatan Lingkungan ada 1 orang. Standar IIS 2010. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat institusi TTU tahun 2015 yaitu 100%. hal ini menunjukkan program belum berjalan dengan maksimal. Proses a. dengan demikian tenaga kesehatan lingkungan masih kurang. 6) Tenaga Gizi Tenaga Gizi di Puskesmas II Kemranjen jumlahnya 1 orang.

pelayanan kesehatan bagi ibu hamil sesuai standar untuk kunjungan lengkap mencapai 95.8% dari target sebesar 100%. 4) Sanitasi makanan dan minuman Target TUPM sehat tahun 2015 adalah sebesar 75%. Hal ini menunjukkan bahwa sanitasi tempat umum pada wilayah kerja puskesmas II Kemranjen masih belum mencapai target. 5) Sanitasi tempat-tempat umum Pencapaian sanitasi umum memenuhi syarat 40. 3) Penyehatan tempat pembuangan sampah dan limbah Pencapaian tempat pembuangan sampah dan limbah pada tahun 2015 masih belum memenuhi target sebesar 65. sehingga dapat disimpulkan bahwa capaian TUPM sehat pada tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen masih belum memenuhi target. tetapi pada akseptor KB aktif MKJP masih belum mencapai target.7% dari target sebesar 80%. Dari data yang tersebut. dapat disimpulkan bahwa capaian akseptor KB aktif di puskesmas sudah baik. hal ini menunjukkan program masih belum berjalan dengan baik. 2) Penyehatan air Pencapaian jumlah keluarga dengan sanitasi air bersih adalah 56. Pencapaian tersebut masih belum memenuhi target 2015. 2) Pelayanan KB Pencapaian akseptor KB aktif MKJP (metode KB jangka panjang) di puskesmas mencapai 64. c.26% telah memenuhi syarat sehat dari target sebesar 80%. Kesehatan Ibu dan Anak 1) Kesehatan ibu Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015.02% dari target sebesar 80%. 19 . Target pembinaan 80% dari 152 tempat dan hanya terpenuhi 53%.89% dari 247 tempat dengan target 80%.

Output Berikut merupakan permasalahan output yang ada di Puskesmas II Kemranjen berdasarkan data 10 besar penyakit selama bulan Agustus sampai Oktober 2016.1. : kegawatan masalah. yaitu Kelompok kriteria C penilaian terhadap tingkat kesulitan penanggulangan masalah 4. : kemudahan dalam penanggulangan. d. yaitu penilaian terhadap Kelompok kriteria D propriety. Penentuan Prioritas Masalah Penentuan prioritas masalah output di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen dengan menggunakan metode Hanlon Kuantitatif dengan empat kelompok kriteria. penilaian terhadap Kelompok kriteria B dampak. Capaian imuniasasi TT WUS 61. acceptability. economic. yaitu: 1. Daftar 10 Penyakit Tertinggi di Puskesmas II Kemranjen Bulan Agustus sampai Oktober 2016 No Penyakit Jumlah kasus 1 Dispepsia 567 2 ISPA 561 3 Cephalgia 462 4 Gastroenteritis 317 5 Hipertensi 261 6 Arthritis 256 7 Myalgia 177 8 DM 171 9 Typhoid Fever 170 10 GERD 163 Jumlah 3105 Sumber: Data Sekunder Puskesmas II Kemranjen Bulan Agustus sampai Oktober 2016 B. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular 1) Pelayanan Imunisasi Proses yang belum memenuhi target yaitu capaian drop out DPT 3-campak 93. : PEARL factor. urgensi dan biaya 3. Tabel 3.8% dengan target 100%. resources 20 .3% dengan target 100%. 3. : besarnya masalah (magnitude of the problem) Kelompok kriteria A 2. Capaian imunisasi DT pada anak 98% dengan target 100%.

2 Kriteria A Hanlon Kuantitatif No Output Besarnya Masalah 100. Kriteria A (besarnya masalah) Untuk menentukan besarnya masalah kesehatan diukur dari besarnya penduduk yang terkena efek langsung. Tabel 3. availability. 200. 300. legality Adapun perincian masing-masing bobot kriteria pada prioritas masalah di Puskesmas II Kemranjen adalah sebagai berikut: 1. 400. ≥500 Nilai 199 299 399 499 1 Dispepsia x 5 2 ISPA x 5 3 Cephalgia x 4 4 Gastroenteritis x 3 5 Hipertensi x 2 6 Arthritis x 2 7 Myalgia x 1 8 DM x 1 9 Typhoid Fever x 1 10 GERD x 1 Sumber : Data Sekunder Puskesmas II Kemranjen 2. Kriteria B (kegawatan masalah) Kegawatan: (paling cepat mengakibatkan kematian) Skor : 1 = Tidak gawat 2 = Kurang gawat 3 = Cukup gawat 4 = Gawat 5 = Sangat gawat Urgensi : (harus segera ditangani karena dapat menyebabkan kematian) Skor : 1 = Tidak urgen 2 = Kurang urgen 3 = Cukup urgen 4 = Urgen 5 = Sangat urgen Biaya : (biaya penanggulangan) 21 .

7 Typhoid Fever 2 2 2 2 GERD 2 2 2 2 3. dimana skor tertinggi merupakan masalah yang paling mudah ditanggulangi. Skor : 1 = Sangat murah 2 = Murah 3 = Cukup mahal 4 = Mahal 5 = Sangat mahal Tabel 3.3 Gastroenteritis 3 3 2 2.7 Hipertensi 3 3 3 3 Arthritis 1 1 1 1 Myalgia 1 1 1 1 DM 3 2 3 2. Kriteria C (penanggulangan masalah) Untuk menilai kemudahan dalam penanggulangan. Skor : 1 = Sangat sulit ditanggulangi 2 = Sulit ditanggulangi 3 = Cukup bisa ditanggulangi 4 = Mudah ditanggulangi 5 = Sangat mudah ditanggulangi Pada tahap ini dilakukan pengambilan suara dari tiga orang yang kemudian dirata-rata untuk menentukan skor.4 Skor Nilai Kriteria C Masalah Nilai Dispepsia 2 ISPA 2 Cephalgia 2 22 .3 Kriteria B Hanlon Kuantitatif Masalah Severity Urgency Cost Nilai Dispepsia 2 2 2 2 ISPA 1 1 1 1 Cephalgia 1 2 1 1. skor yang diberikan makin kecil. pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah sumber-sumber dan teknologi yang tersedia mampu menyelesaikan masalah: makin sulit dalam penanggulangan. Adapun hasil konsensus tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 3.

Hanlon Kuantitatif Masalah P E A R L Hasil Dispepsia 1 1 1 1 1 1 ISPA 1 1 1 1 1 1 Cephalgia 1 1 1 1 1 1 Gastroenteritis 1 1 1 1 1 1 Hipertensi 1 1 1 1 1 1 Arthritis 1 1 1 1 1 1 Myalgia 1 1 1 1 1 1 DM 1 1 1 1 1 1 Typhoid Fever 1 1 1 1 1 1 GERD 1 1 1 1 1 1 5. Kriteria D (P. Penetapan nilai Setelah nilai kriteria A.A.E.6 10.L.1 17.1 2 Hipertensi 2 3 4 1 24 24 1 Arthritis 2 1 2 1 6 6 8 Myalgia 1 1 2 1 4 4 10 DM 1 2. Nilai prioritas total (NPT) = (A+B) x C x D Tabel 3.R.7 3 1 17.3 2 1 10.L) Propriety : kesesuaian (1/0) Economic : ekonomi murah (1/0) Acceptability : dapat diterima (1/0) Resources availability : tersedianya sumber daya (1/0) Legality : legalitas terjamin (1/0) Tabel 3. B.E.7 4 1 14.8 3 Typhoid Fever 1 2 3 1 9 9 7 23 . Nilai prioritas dasar (NPD) = (A+B) x C b.5 Kriteria P.6 6 Gastroenteritis 3 2. dan D didapatkan kemudian nilai tersebut dimasukkan ke dalam formula sebagai berikut : a. C.A.8 14. Gastroenteritis 3 Hipertensi 4 Arthritis 2 Myalgia 2 DM 4 Typhoid Fever 3 GERD 2 4.4 Penetapan Prioritas Masalah Urutan Masalah A B C D NPD NPT prioritas Dispepsia 5 2 2 1 14 14 4 ISPA 5 1 2 1 12 12 5 Cephalgia 4 1.R.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan metode Hanlon kuantitatif urutan prioritas masalahnya adalah sebagai berikut: 1) Hipertensi 2) Gastroenteritis 3) DM 4) Dispepsia 5) ISPA 6) Cephalgia 7) Typhoid Fever 8) Arthritis 9) GERD 10) Myalgia 24 . GERD 1 2 2 1 6 6 9 Prioritas pertama masalah diperoleh dengan nilai NPT tertinggi.

. 2013). 2004). JNC VII membatasi definisi hipertensi sebagai tekanan darah persisten dengan tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg. yang dikenal dengan hipertensi sekunder (Sherwood. Beberapa ahli berpendapat bahwa hipertensi primer mempunyai kecenderungan genetik yang kuat bahkan sebagian peneliti mengemukakan adanya suatu mutasi genetik yang terkadang dapat dipengaruhi oleh tingkah laku maupun lingkungan sekitar penderita (Bolivar. Kondisi ini terjadi pada 90% penderita hipertensi. hipertensi derajat I dan hipertensi derajat II (Gambar 4. IV. 2.1) (Martin. hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps. Hipertensi 1. 25 . Berdasarkan pengukuran tekanan darah sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan JNC VII. gaya hidup dan genetik (Yeni et al. 2010). hipertensi dapat dibagi menjadi pre- hipertensi. 2005). Evaluation and Treatment on High Blood Pressure VII (JNC VII) (Davis dan Braverman. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Klasifikasi pada hipertensi salah satunya bertujuan untuk mempermudah dalam menentukan rekomendasi dan tatalaksana selanjutnya. Detection. Etiologi Sebagian besar hipertensi yang dialami masyarakat tidak diketahui penyebab medisnya. Pada populasi lanjut usia. Hipertensi juga merupakan penyakit yang dapat terjadi akibat berbagai macam faktor termasuk lingkungan. 3. Definisi Hipertensi dapat diartikan dengan penyakit tekanan darah tinggi yang melebihi batasan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Joint National Commite on Prevention. sedangkan 10% lainnya dapat dideteksi penyebab definitifnya. 2008). yang dikenal sebagai hipertensi primer (esensial). 2012).

b. a. Faktor predisposisi genetik ini dapat berupa sensitifitas terhadap natrium. 2008) Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik Kategori Tekanan Darah (mmHg) (mmHg) Normal < 120 < 80 Pre-hipertensi 120 . sistem endokrin dan sistem neuron (Davis dan Braverman.89 Hipertensi derajat I 140 -159 90 . oleh karena itu 26 . Seseorang dapat dikatakan sebagai hipertensi esensial jika terdapat peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebab pastinya. Menurut studi epidemiologi yang pernah dilakukan sekitar 10% pasien dengan hipertensi termasuk ke dalam hipertensi sekunder (Sherwood. limgkungan dan tingkah laku. peningkatan reaktivitas vaskuler (terhadap vasokonstriksi) dan resistensi insulin (Setiawati. menjadi hipertensi esensial dan hipertensi sekunder. Patogenesis Hipertensi dapat terjadi bergantung pada kecepatan denyut jantung. sistem renal atau ginjal.99 Hipertensi derajat II > 160 > 100 Hipertensi juga dapat diklasifikasian berdasarkan penyebabnya.1 Klasifikasi Hipertensi Sesuai JNC VII (Martin. Tabel 4. kepekaan terhadap stress.139 80 . Hipertensi esensial Hipertensi esensial juga sering disebut sebagai hipertensi idiopatik. 2012). Kemungkinan penyebab hipertensi jenis ini diantaranya adalah genetik. Sekitar 90% kasus hipertensi termasuk kedalam hipertensi esensial. 2004). volume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR). Faktor keturunan bersifat poligenik dan terlihat dari adanya riwayat penyakit kardiovaskuler dalam keluarga. 4. Hipertensi sekunder Hipertensi sekunder merupakan peningkatan tekanan darah yang dapat terjadi sebagai akibat gangguan sistem organ lain yang sudah diketahui. Gangguan organ lain tersebut diantaranya adalah gangguan sistem vaskuler. 2005).

konsumsi garam yang berlebihan. 2012). 2012) Peningkatan tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain stres. Pada dasarnya di dalam darah terdapat sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah secara akut dan berusaha mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam jangka panjang. dan rekfleks yang berasal dari atrium. obesitas. Berikut adalah bagan sistem pengaturan tekanan darah. Besar tekanan darah seseorang dapat dihitung dengan rumus. Tekanan darah = Curah jantung x denyut Jantung (Sherwood. arteri pulmonalis. respon iskemia susunan saraf pusat. dan otot polos (Yusuf.1 Mekanisme Pengaturan Tekanan Darah (Sherwood. Tekanan darah arteri rata-rata Curah jantung Resistensi perifer total Kecepatan Volume Jari-jari Viskositas denyut jantung sekuncup arteriol darah Aktivitas Aliran Kontrol Kontrol vaso- Aktivitas Jumlah simpatis dan balik metabolik konstriktor parasimpatis eritrosit epinefrin vena lokal lokal Volume Aktivitas Aktivitas Aktivitas simpatis Vasopresin dan darah pernapasan otot rangka dan epinefrin angiotensin II Pergeseran cairan pasif antara Keseimbangan kompartemen vaskuler dan cairan Vasopresin dan RAA sistem garam dan air interstisium Gambar 4. Sistem kontrol tersebut ada yang beraksi segera seperti refleks kardiovaskular melalui refleks kemoreseptor. peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi. 2008). baroreseptor. hiperinsulinisme. 27 .

konsumsi garam yang berlebih. 2006). dan disfungsi endotel.. Disfungsi endotel juga mempengaruhi kenaikan tekanan darah. Diagnosis Penagakkan diagnosis hipertensi didasarkan pada objektifitas pemeriksa melalui pengukuran tekanan darah dengan menggunakan alat sphymomanometer. hal ini akan meningkatkan resistensi perifer sehingga akan terjadi peningkatan tekanan darah (Price. Diagnosis hipertensi ditegakan bila dari pengukuran berulang tersebut diperoleh nilai rata-rata tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik > 90 mmHg (Amiruddin et al. Pada saat melakukan pengukuran tekanan darah. Pada pengukuran pertama harus dikonfirmasi setidaknya dua kunjungan lagi dalam waktu satu sampai beberapa minggu bergantung dari tingginya tekanan darah tersebut. kemudian dibuka secara perlahan-lahan dengan 28 . JNC VII menegaskan bahwa pengukuran tekanan darah untuk mendiagnosis suatu hipertensi harus dilakukan sekurang- kurangnya dua kali pada saat yang berbeda. dan obesitas akan meningkatkan curah jantung yang akan meningkatkan tekanan darah. untuk menghasilkan hasil yang akurat disarankan menggunakan sphymomanometer dengan ukuran cuff yang sesuai. yaitu saat pulsasi nadi tidak teraba lagi. Konsumsi garam berlebih mampu meningkatkan curah jantung dikarenakan meningkatnya konsentrasi Na+ sehingga meningkatkan venous return yang akan meningkatkan preload sehingga tekanan darah akan meningkat. hal ini karena disfungsi endotel akan menurunkan reaktivitas NO dan vasodilator. Pengeluaran renin yang berlebihan akan merangsang pengeluaran angiotensinogen dan dengan bantuan angiotensin converting enzyme akan mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II yang akan meningkatkan resistensi perifer dan berdampak dalam peningkatan tekanan darah (Price. 2015). Stres dan hiperinsulinisme akan meningkatkan saraf simpatis yang akan merangsang pengeluaran hormon katekolamin yang akan meningkatkan produksi renin dan kontraktilitas jantung. 2006) 5. Peningkatan kontraktilitas jantung. selanjutnya balon di pompa sampai 20-30 mmHg diatas tekanan sistolik.

sehingga meningkatkan volume darah. Pembacaan hasil tekanan darah secara auskultasi dengan denyutan pertama atau korotkoff I yang merupakan tekanan sistolik. kecepatan kira-kira 2-3 mmHg per detik. dan denyutan terakhir atau korotkoff IV/V yang menunjukkan tekanan diastolik (Uliyah dan Aziz. Beberapa peneliti membuktikan bahwa mereka yang memiliki kecenderungan menderita hipertensi secara keturunan memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk mengeluarkan garam dari tubuhnya (Chobanian. Nutrisi Asupan nutrisi yang mampu mempengaruhi kejadian hipertensi salah satunya adalah natrium atau garam. 29 . yaitu faktor resiko yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari auscultatory gap yaitu hilangnya bunyi setelah bunyi pertama terdengar yang disebabkan oleh kekakuan arteri. namun natrium dalam jumlah yang berlebih dapat menahan air (retensi). Asupan garam kurang dari tiga gram setiap hari memiliki prevalensi hipertensi yang rendah sedangkan jika asupan garam antara 5-15 gram per hari menyebabkan prevalensi hipertensi meningkat antara 15-20%. Faktor resiko dapat dimodifikasi a. akibatnya jantung harus bekerja lebih keras untuk memompanya dan tekanan darah menjadi tinggi. oleh karena itu WHO menganjurkan untuk pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari atau setara dengan 2400 mg natrium (Chobanian. Pada dasarnya konsumsi natrium bersama klorida yang terdapat dalam garam dapur dengan jumlah normal dapat membantu mempertahankan keseimbangan cairan tubuh untuk mengatur tekanan darah. 2009). 2008). Garam merupakan faktor yang sangat penting dalam patogenesis hipertensi. B. 2009). Faktor Resiko Hipertensi Hipertensi memiliki dua garis besar faktor resiko yang dapat mempengaruhi kejadiannya. 1.

Kolesterol yang banyak terdapat dalam LDL akan menumpuk pada dinding pembuluh darah dan membentuk plak. juga mengalami penyempitan sehingga tahanan aliran darah dalam pembuluh koroner juga naik. Rasa stres seperti tertekan. Plak akan bercampur dengan protein dan ditutupi oleh sel-sel otot dan kalsium yang akhirnya berkembang menjadi aterosklerosis. selain itu peristiwa yang menyebabkan stres mendadak dapat belum dapat dipastikan untuk mampu meningkatkan tekanan darah (Nurkhalida. Kebiasaan konsumsi lemak jenuh juga memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. rasa bersalah) dapat merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat. dendam. yang nantinya akan memicu terjadinya hipertensi (Vilareal. Jika stres berlangsung cukup lama. 2003). rasa marah. jika konsumsinya berlebihan dan akan meningkatkan terjadinya plak dalam pembuluh darah. murung. Pembuluh darah koroner yang menderita aterosklerosis selain menjadi tidak elastis. 2008). Stres Stres telah lama diketahui mampu merangsang peningkatan tekanan darah. lemak dan sel-sel lain. sehingga tekanan darah akan meningkat. Begitu juga pada trigliserida dalam aliran darah dipecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas oleh enzim lipoprotein lipase yang berada pada sel-sel endotel kapiler (Vilareal. b. rasa takut. 30 . 2008). Patofisiologi dimulai ketika lipoprotein sebagai alat angkut lipida bersikulasi dalam tubuh dan dibawa ke sel- sel otot. tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis yang mungkin menetap.

Merokok Nikotin dalam tembakau merupakan penyebab meningkatnya tekanan darah segera setelah hisapan pertama. Zat lain dalam rokok adalah Karbon monoksida (CO) yang juga mengakibatkan jantung akan bekerja lebih berat untuk memberi cukup oksigen ke sel-sel tubuh (Mannan et al. 2003). Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung. 2004). Banyak penelitian dilakukan dan menghasilkan dugaan bahwa meningkatnya berat badan normal relatif sebesar 10 % mengakibatkan kenaikan tekanan darah 7 mmHg. Hal ini menunjukkan bahwa volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri (Khomsan. 2011). Obesitas dapat terjadi ketika seseorang lebih banyak mengkonsumsi lemak dan protein tanpa memperhatikan serat.. penurunan berat badan dengan membatasi kalori bagi orang-orang yang obesitas dapat 31 . oleh karena itu. Zat nikotin yang terdapat dalam rokok dapat mengakibatkan kerusakan endotel pembuluh darah yang dapat memicu terjadinya plak dan penyempitan lumen (Gunawan. Semakin besar masa tubuh. Nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil di dalam paru-paru dan diedarkan ke aliran darah dan mencapai otak. selain itu nikotin juga mampu meningkatkan pelepasan epinefrin yang dapat mengakibatkan terjadinya penyempitan dinding arteri. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. sehingga menghasilkan Indeks Masa Tubuh (IMT) (Basha. d.c. Obesitas Obesitas atau kegemukan ditentukan dengan membandingkan antara berat badan dengan tinggi badan kuadart dalam meter. makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. 2012).

2006). Faktor risiko tidak dapat dimodifikasi a. dijadikan langkah positif untuk mencegah terjadinya hipertensi (Suparto. Riwayat keluarga dekat yang mempunyai hipertensi akan meningkatkan risiko hipertensi sebesar 4 kali lipat (Nurkhalida. b. Seseorang rentan mengalami hipertensi pada usia antara 30-55 tahun. selain itu. e. Aktivitas fisik Aktifitas fisik yang teratur seperti olahraga sering dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi. Usia Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Duprez (2008) melaporkan bahwa seseorang yang normal dengan riwayat hipertensi pada keluarga terjadi penurunan aktivitas saraf parasimpatis yang signifikan. Hal ini dikarenakan olahraga isotonik yang teratur mampu menurunkan tahanan perifer yang dapat menurun juga tekanan darah (Yugiantoro. perubahan saraf otonom ini diturunkan melalui genetik yang berperan dalam kejadian hipertensi. Hal ini 32 . bahkan seseorang yang tidak pernah melakukan aktivitas fisik secara aktif cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa seseorang yang tidak melakukan olahraga teratur meningkatkan resiko hipertensi sebesar 2 kali dibandingkan orang yang berolahraga teratur. 2. sebagian gennya akan berinteraksi satu sama lain dengan lingkungan yang akan meningkatkan tekanan darah. Riwayat keluarga hipertensi Seseorang dengan riwayat keluarga hipertensi. 2003). Usia menyebabkan arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku. 2007). sehingga otot jantung harus bekerja lebih keras setaip kontraksinya (Sugihartono. 2010). pada usia lanjut sensitivitas pengatur tekanan darah yaitu refleks baroreseptor mulai berkurang.

Termasuk dalam modifikasi gaya hidup adalah penurunan berat badan. c. Non Farmakologis Terapi non farmakologi ditujukan untuk menurunkan tekanan darah pasien dengan jalan memperbaiki pola hidup pasien. Detection. Wanita terlindungi dari penyakit kardiovaskular sebelum menopause karena adanya peran hormon esterogen yang mampu melindungi kerusakan pada endotel pembuluh darah. dan pembatasan asupan alkohol. Evaluation and Treatmentof High Blood Pressure (JNC) menganjurkan modifikasi gaya hidup dalam mencegah dan menangani tekanan darah tinggi. Jenis kelamin Prevalensi hipertensi antara wanita dan pria sebenarnya sama saja. namun sebelum memasuki usia lanjut. Hal ini lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. 2004). selain terapi dengan obat. C. 2007).1 Selain itu. Terapi ini sesuai untuk segala jenis hipertensi. reduksi asupan garam. berhenti merokok juga dianjurkan untuk mengurangi resiko kardiovaskular secara keseluruhan. satu diantara lima orang pria dewasa memiliki peluang untuk hipertensi. 33 . Penatalaksanaan Hipertensi 1. selain itu juga esterogen dapat meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL).2) (Ridjab. aktivitas fisik yang teratur. penerapan dietkombinasi Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH). Joint National Committeeon Prevention. mengakibatkan tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia (Syukraini. Masing-masing mempunyai efek penurunan tekanan darah yang berperan dalam pencegahan komplikasi hipertensi dan bila dijalankan secara bersamaan akan mempunyai efek penurunan tekanan darah yang lebih nyata (Tabel 4. 2009). Saat menginjak masa premenopause wanita akan kehilangan hormon esterogennya sehingga hipertensi mudah saja untuk terjadi pada wanita sesuai dengan faktor resiko yang lain (Basha.

2 Modifikasi Gaya Hidup untuk Penurunan Tekanan Darah Modifikasi gaya hidup dianjurkan pada setiap stadium hipertensi. Antihipertensi hanya menghilangkan gejala tekanan darah tinggi dan tidak penyebabnya. adanya kerusakan organ target. penanganan hipertensi dapat dimulai dengan modifikasi gaya hidup. stroke atau diabetes melitus). penanganan dengan menambahkan obat-obatan merupakan langkah berikutnya (Ridjab. Apabila target yang diharapkan tidak tercapai setelah pelaksanaan modifikasi gaya hidup. Tabel 4. yaitu derajat kenaikan tekanan darah. dan adanya penyakit kardiovaskular. Pada penderita hipertensi stadium I tanpa risiko faktor penyakit serebrovaskular yang berarti (seperti penyakit jantung koroner. 2. Farmakologis Keputusan untuk memberikan pengobatan farmakologik mempertimbangkan beberapa faktor. 2007). Tujuan pengobatan adalah untuk menurunkan morbiditas 34 .

Terdapat lima kelompok obat yang digunakan untuk pengobatan awal hiperternsi. 2015).2) (Vila.2 Algoritma Terapi Hipertensi menurut JNC 8.dan mortalitas akibat hipertensi yang berhubungan dengan kerusakan organ target. Gambar 4. JNC 8 telah merilis panduan baru pada manajemen hipertensi orang dewasa terkait dengan penyakit kardiovaskuler. 2007). gagal jantung. sehingga obat antihipertensi harus diminum seumur hidup. seperti gangguan kardiovaskular atau serebrovaskular. Pedoman tatalaksana hipertensi terbaru ini terdiri dari 9 rekomendasi terkait target tekanan darah dan golongan obat hipertensi yang direkomendasikan (Gambar 4. diantaranya adalah : 35 . dan penyakit ginjal dengan memelihara tekanan darah sistolik di bawah 140 mmHg dan tekanan darah diastole di bawah 90 mmHg. Tatalaksana hipertensi pada pedoman terbaru ini lebih sederhana dibandingkan dengan JNC 7. tetapi setelah beberapa waktu dosis pemeliharaan pada umumnya dapat diturunkan (Tjay dan Kirana.

2007). e. Angiotensin II Reseptor Blocker (ARB) ARB secara langsung menghambat reseptor angiotensin II sehingga efek angiotensin seperti vasokontriksi. di pembuluh darah. Calcium Channel Blocker Ca Channe Blocker bekerja dengan menghambat influks kalsium sepanjang membran sel otot polos pembuluh darah. yaitu tiazid. dimana angiotensin merupakan vasokonstriktor poten yang juga akan merangsang sekresi aldosteron (Syarif et al. antagonis aldosteron. hambatan sekresi rennin. Pada dasarnya diuretik memiliki fungsi utama untuk memobilisasi cairan edema. antagonis kalsium terutama menimbulkan relaksasi arteriol. Diuretik Diuretik memiliki empat subkelas.. pelepasan aldosteron. yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel kembali menjadi normal (Syarif et al. b. 2006). diuretik kuat. c. 2007). sedangkan vena kurang dipengaruhi. dan aktivitas simpatik dihambat (Neal. 2007). β-blocker Mekanisme penurunan tekanan darah oleh β-blocker adalah dengan penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard yang akan menurunkan curah jantung.a. Mekanisme kerja diuretik dalam menurunkan tekanan darah ialah melalui efek diuresis yang menyebabkan volume plasma darah berkurang sehingga cardiac output akan menurun. penurunan resistensi perifer ini sering diikuti efek takikardi dan vasokonstriksi (Syarif et al. 36 .. dan hemat kalium.. d. serta efek sentral yang akan mempengaruhi aktivitas saraf simpatis. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) ACEI bekerja dengan menghambat enzim angiotensin converting sehingga menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II.

Kerangka Konsep Genetik Nutrisi Hipertensi Stress Obesitas Rokok Aktivitas fisik Gambar 4.4 Kerangka Konsep 37 .3 Kerangka Teori E.D. Kerangka Teori Aktivita Rokok Stress Alkohol Obesita Konsumsi garam s fisik s Aktivitas Disfung simpatis si Keseimbangan endotel garam dan air katekolam in Pelepasan Volume darah ↑ Renin Angiotensi nI Angiotensin II Kontraktilitas jantung Volume Vasokontriksi ↑ sekuncup Resistensi tahanan Curah Jantung perifer Hipertensi Gambar 4.

2) Kriteria inklusi kontrol: 38 . d. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor resiko hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. Populasi target Populasi target pada penelitian ini adalah semua penderita hipertensi di Kabupaten Banyumas b. Banyumas. Kriteria inklusi dan ekslusi 1) Kriteria inkusi kasus: a) Individu berusia ≥ 30 tahun yang telah didiagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan. METODE PENELITIAN A. b) Bersedia menjadi subyek penelitian dengan menandatangani lembar persetujuan menjadi subyek penelitian setelah membaca lembar informed consent. Populasi terjangkau Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen pada bulan April 2016. c. Banyumas. Rancangan Penelitian Penelitian menggunakan studi observasional analitik dengan pendekatan case control. Populasi dan Sampel 1. V. B. d) Subjek merupakan peserta program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) dan datang ke Puskesmas II Kemranjen bulan April 2016. Besar sampel Dua puluh tiga sampel pada kelompok kasus dan dua puluh tiga sampel pada kelompok kontrol e. Populasi a. c) Subjek penelitian berdomisili di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen. Teknik pengambilan sampel Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probaility sampling dengan teknik consecutive sampling.

aktivitas fisik. obesitas. Variabel Bebas Variabel terikat pada penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi. Variabel bebas termasuk skala nominal. c) Subjek penelitian berdomisili di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen. D. b) Memiliki penyakit yang dapat menjadi faktor risiko hipertensi seperti penyakit metabolik. a) Individu berusia ≥ 30 tahun yang tidak menderita hipertensi. merokok. penyakit ginjal. dan stress. Variabel Penelitian 1. Variabel Terikat Variabel bebas pada penelitian ini adalah kejadian hipertensi. Definisi Operasional Tabel 5. penyakit jantung dan pembuluh darah.1 Definisi Operasional Variabel Keterangan Skala 39 . 4) Kriteria ekslusi kontrol: a) Tidak kooperatif dalam melakukan tahap wawancara dan pengisian kuesioner. 3) Kriteria ekslusi kasus: a) Tidak kooperatif dalam melakukan tahap wawancara dan pengisian kuesioner. Variabel tergantung termasuk skala nominal. 2. b) Memiliki penyakit kronis lain yang berperan sebagai underlying disease dari penyakit hipertensi. C. diantaranya nutrisi. b) Bersedia menjadi subyek penelitian dengan menandatangani lembar persetujuan menjadi subyek penelitian setelah membaca lembar informed consent. Banyumas.

Aktivitas fisik cukup Obesitas Kelebihan berat badan yang diukur Nominal menggunakan IMT dengan rumus berat badan dalam kg dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter. Dikategorikan menjadi: 1. Berisiko (> 45 tahun) 2. Laki-laki 2. Bukan Perokok Aktivitas Melakukan olahraga teratur minimal tiga kali Nominal fisik seminggu selama 30 menit dengan jenis olahraga aerobik (berjalan. Dikategorikan menjadi: 1. Dikategorikan menjadi: 1. Perokok 2. 2. Perempuan Genetik Ada atau tidaknya keluarga yang menderita Nominal hipertensi. Tidak memiliki predisposisi genetik. Tidak hipertensi Umur Rentang kehidupan seseorang yang diukur Nominal dengan satuan tahun. atau jogging). Hipertensi 2. Dikategorikan menjadi: 1. yaitu kakek dan atau nenek. berenang. Tidak berisiko (< 45 tahun) Jenis Pengelompokkan jenis manusia secara biologis Nominal Kelamin yang dibawa sejak lahir. Dikategorikan menjadi: 1. Dikategorikan menjadi: 40 . Merokok Perilaku menghisap batang rokok atau Nominal menghirup asap rokok yang dibakar dan atau pernah merokok dalam sehari-hari.Kejadian Keadaan seseorang memiliki tekanan darah Nominal Hipertensi sistolik ≥140 mmHg dan atau Diastolik ≥90 mmHg yang diukur dengan menggunakan sphygmomanometer dalam kondisi istirahat pada posisi duduk. bersepeda. bapak dan atau ibu kandung. Memiliki predisposisi genetik. Aktivitas fisik kurang 2. Dikategorikan menjadi: 1.

Ya 2. Ya 2. Dikategorikan menjadi: 1. Stress (skor >14 untuk perempuan dan skor >12 untuk laki-laki) 2. Rencana Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.0) 2. Dinilai menggunakan kuesioner khusus yang mengkaji tingkat stress. 1. Dikategorikan menjadi: 1. Tidak Konsumsi Kebiasaan mengonsumsi makanan yang Nominal makanan mengandung lemak jenuh dan memakannya lemak jenuh minimal tiga kali atau lebih dalam seminggu. Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan variabel bebas dan variabel terikat menggunakan uji Chi Square. 2. kemudian dihitung frekuensi dan presentasinya. F. Instrumen Pengambilan Data Sumber data adalah primer yang diperoleh dari wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner. Wawancara dilakukan saat pelaksanaan Prolanis yang dilakukan di Puskesmas II Kemranjen. Jika data tidak memenuhi 41 . Tidak stress (skor ≤14 untuk perempuan dan skor ≤ 12 untuk laki-laki) E. Tidak Stress Respon non spesifik terhadap berbagai perintah Nominal yang menekan keadaan psikis seseorang.0) Konsumsi Konsumsi makanan yang memiliki kadar garam Nominal tinggi garam ≥ 6 gram dalam sehari atau setara dengan ≥ 1 sendok teh per hari. Dikategorikan menjadi: 1. Obesitas (IMT ≥ 25. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden dengan mendeskripsikan tiap variabel hasil penelitian. Tidak obesitas (IMT < 25.

maka analisis dilakukan dengan menggunakan uji Fisher Exact Test sebagai alternatif. 2. Menyusun alternatif pemecahan masalah sesuai hasil pengolahan data. Tahap persiapan a. b. Studi pendahuluan (orientasi) di Puskesmas II Kemranjen. Pengambilan data primer. b. syarat uji Chi Square. 42 . G. c. Tata Urutan Kerja 1. f. Mencatat dan menentukan nama responden. Penyusunan laporan CHA. Melakukan pemecahan masalah. e. H. Waktu dan Tempat Kegiatan dilaksanakan pada: Tanggal : 19 April 2016 Tempat : Puskesmas II Kemranjen. Tahap pelaksanaan a. Identifikasi dan analisis penyebab masalah. Analisis situasi. Tahap pengolahan dan analisis data. c. Kabupaten Banyumas. d.

Data hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 48.5% responden lainnya tidak.5% Konsumsi tinggi lemak jenuh Ya 36 69.8% Jenis kelamin Laki-laki 14 26.8% Tidak 36 69. Dari 52 responden.9% Kebiasaan Merokok Ya 20 38.1 Karakteristik Responden Karakteristik Frekuensi Persentase Hipertensi Ya 26 50% Tidak 26 50% Usia Berisiko 49 94.9% Sumber : Data primer penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 52 responden terdapat sebanyak 26. mayoritas responden yakni sekitar 94.7% Cukup 22 42.5% Tidak 19 36.7% diantaranya tercatat memiliki aktivitas fisik kurang sedangkan 42.8% Stress Ya 38 73.9% lainnya tidak memiliki riwayat keluarga penyakit hipertensi.5% responden memiliki kebiasaan merokok sedangkan 61. Sebanyak 43 .2% dengan usia berisiko dan 5. Sebanyak 38. Analisis Univariat Responden penelitian ini adalah masyarakat wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen yang datang berobat ke Puskesmas II Kemranjen pada bulan April.2% Tidak berisiko 3 5. HASIL DAN PEMBAHASAN A.5% Tidak 32 61.2% Tidak 16 30.1% Tidak 27 51.5% Aktivitas fisik Kurang 30 57.2% Konsumsi tinggi garam Ya 33 63.1% Genetik Ya 25 48.1% responden memiliki riwayat keluarga penyakit hipertensi dan 51. VI.3% Obesitas Ya 16 30.9% orang laki-laki dan 73.1% orang perempuan yang menderita hipertensi.8% tidak berisiko. Hasil 1. 57. berusia lebih dari 30 tahun yang berjumlah 52 orang dengan karakteristik sebagai berikut: Tabel 6.3% lainnya memiliki aktivitas fisik cukup.1% Tidak 14 26.9% Perempuan 38 73.

2.9% lainnya tidak sesuai dengan kuesioner khusus yang telah dibuat oleh peneliti.05 atau nilai X2hitung lebih besar dari X2tabel (3.841).014. 2. dengan melihat nilai p value. kemudian sebanyak 73. Kebiasaan konsumsi tinggi lemak dimiliki oleh 69. OR=4.1% responden tergolong stress dan 26. Namun. Usia (X2h= 6.2.8% lainnya tidak memiliki kebiasaan tersebut. p = 0. Sebanyak 63. p = 0. terdapat variabel yang tidak memenuhi syarat Chi-Square yaitu variabel usia dengan nilai expected count kurang dari 5.2 44 . Penelitian ini menggunakan CI 95% sehingga variabel dinyatakan berhubungan signifikan apabila p-value lebih besar dari 0.2% responden dan 30. maka dilakukan analisis menggunakan uji Fisher exact test.2).5% responden memiliki kebiasaan konsumsi tinggi garam dan 19 responden lainnya atau sekitar 36. Kebiasaan merokok (X2h=5.041). Hal ini menunjukkan bahwa responden dengan kebiasaan merokok mempunyai kemungkinan 4. Hasil Analisis Bivariat Sumber : Data primer penelitian Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kejadian hipertensi antara lain: 1. Berdasarkan pengujian diperoleh hasil sebagai berikut Tabel 6.438. 30.5% tidak memiliki kebiasaan konsumsi tinggi garam.8% responden memenuhi kriteria obesitas dan 69. Analisis Bivariat Untuk menguji ada tidaknya hubungan antara variabel independent dan dependent digunakan uji Chi-Square.2% sisanya tidak memenuhi kriteria obesitas.783.

p = 0.028.109). konsumsi tinggi garam. obesitas.05). Hal ini menunjukkan bahwa responden dengan aktivitas kurang mempunyai kemungkinan 3. genetik. 4.923. OR=4. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian hipertensi dengan usia. konsumsi tinggi garam. Responden pada penelitian ini adalah masyarakat yang berobat ke Puskesmas II Kemranjen pada bulan April. konsumsi tinggi lemak jenuh. OR=7. Variabel yang tidak berpengaruh signifikan adalah jenis kelamin (X2h=0. kebiasaan merokok. 5.704). konsumsi tinggi garam (X2h=0. p = 0. 3. Hipotesis yang peneliti ajukan yaitu terdapat hubungan hipertensi dengan usia.564. konsumsi tinggi lemak jenuh (X2h=6.9 kali untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki kebiasaan konsumsi tinggi lemak jenuh. Aktivitas fisik (X2h= 4. genetik.67).029. p = 0. Pada penelitian ini jumlah responden dengan usia yang berisiko sebesar 91. Banyumas. obesitas. konsumsi tinggi lemak jenuh.2% dan memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian 45 . p = 0. p = 0.o5). OR=3.9). kebiasaan merokok. dan stress di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. konsumsi tinggi garam.000. B. dan stress di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. dan stress (p>0.077. jenis kelamin. p = 0.57).57 kali untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan responden dengan aktivitas cukup. Obesitas (X2h= 9. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebiasaan konsumsi tinggi lemak jenuh mempunyai kemungkinan 4.67 kali untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak obesitas. sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan jenis kelamin. p = 0. aktivitas fisik. Hal ini menunjukkan bahwa responden dengan obesitas mempunyai kemungkinan 7. Banyumas. obesitas. genetik (X2h=0.746.008. kebiasaan merokok.829).014. Pembahasan Penelitian ini meneliti mengenai hubungan hipertensi dengan faktor resiko hipertensi berupa usia. jenis kelamin. genetik.155). aktivitas fisik. dan stress (X2h=1. aktivitas fisik dan konsumsi tinggi lemak jenuh (p<o.718. kali untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki kebiasaan merokok.

014). curah jantung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi (p=0.. Tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. 2005).9 kali lebih besar untuk terjadinya hipertensi. Hasil penelitian Sihombing (2010) menemukan bahwa orang dengan obesitas yang berumur 55 tahun ke atas memiliki resiko 8. 2010). Carbon monoxide (CO) pada rokok adalah salah satu komponen yang memiliki peran dalam penyakit kardiovaskuler yaitu aterosklerosis dan pembentukan trombus. Obesitas adalah suatu keadaan penimbunan lemak yang berlebihan di dalam jaringan adiposa tubuh yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. penurunan elastin. Merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 10–25 mmHg dan menambah detak jantung 5–20 kali per menit. Dengan menghisap sebatang rokok maka akan mempunyai pengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah atau hipertensi (Jegathes. Menurutnya secara umum tekanan darah 46 . volume darah. isi sekuncup jantung.4 kali untuk terkena hipertensi dibandingkan orang obesitas usia 18-24 tahun. baik tunika intima maupun tunika media. Faktor – faktor yang menyebabkan penebalan pembuluh darah ini adalah peningkatan kolagen. dan juga kalsifikasi (Webb et al. mengalami penebalan sehingga menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku. Obesitas akan mengaktifkan kerja jantung dan dapat menyebabkan hipertrofi jantung dalam kurun waktu lama. dan tekanan darah juga cenderung naik.hipertensi (p=0. Hal ini disebabkan oleh semakin bertambahnya usia. Pada usia 40 tahun ke atas. Perilaku merokok meningkatkan risiko 6. dan tekanan darah . dinding pembuluh darah. Nikotin pada rokok memiliki peran penting dalam peningkatan cardiac output. Faktor lain yang mempengaruhi kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen adalah obesitas (0. heart rate. seseorang sudah banyak yang mengalami hipertensi. Merokok dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah melalui kandungan nikotin yang menyebabkan pelepasan epinefrin. kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar.041). Kandungan tar juga mempercepat terjadinya aterosklerosis.014).

44 mmHg dan tekanan darah diastolik sebanyak 3.92 mmHg (Ridjab. serta fungsi pembuluh darah. Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30. Penurunan berat badan sebanyak 5. meningkatkan mobilitas. yaitu adanya gangguan sistem otonom. Hubungan antara obesitas dengan hipertensi telah lama diketahui. Setiap kilogram penurunan berat badan menurunkan tekanan darah sistolik sebanyak 1. Aktivitas fisik atau olahraga dapat menjaga tubuh tetap sehat.57 mmHg. Phase II.akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan semakin meningkat lagi dengan berat badan lebih dan obesitas. menunjukkan penurunan berat badan berhubungan dengan penurunan tekanan darah dan penurunan resiko terjadinya hipertensi. dan abnormalitas struktur. karena penyebabnya multifaktorial dan saling berhubungan.05 mmHg dan diastolik 0.1 kg menurunkan tekanan darah sistolik sebanyak 4. dan kolesterol tinggi. seperti riwayat keluarga dan stress. dan mengurangi stres. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara aktivitas fisik dan kejadian hipertensi (p=0. Hal ini dapat dicapai bahkan dengan penurunan berat badan yang sedikit. namun mekanisme yang pasti bagaimana terjadinya hipertensi akibat obesitas saat ini masih belum jelas. tekanan darah tinggi. resistensi insulin. Patogenesis obesitas sehingga mengakibatkan suatu hipertensi merupakan hal yang kompleks.008). Peningkatan tekanan darah akan menjadi lebih besar lagi bila ada faktor lain. Studi Trials of Hypertension Prevention.50% daripada yang aktif. latihan fisik antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari 47 . menghindari faktor risiko tulang keropos. 2007). Penelitian membuktikan bahwa orang yang berolahraga memiliki faktor risiko lebih rendah untuk menderita penyakit jantung. Oleh karena itu. kadar lemak dan mortalitas. Sebagian peneliti menitikberatkan patofisiologi tersebut pada tiga hal utama. Aktivitas fisik secara teratur sebanyak tiga kali dalam seminggu dapat memaksimalkan tekanan darah. Penurunan berat badan sebanyak 5-10% dari berat badan awal berkaitan dengan reduksi tekanan darah.

Prinsip terpenting dalam olahraga bagi orang yang menderita hipertensi adalah mulai dengan olahraga ringan yang dapat berupa jalan kaki ataupun berlari-lari kecil. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Hubungan ini tidak terjadi secara langsung. Dengan demikian. akan memperberat kerja jantung dan secara tidak langsung memperparah hipertensi (Almatsier. Salah satu bentuk latihan fisik adalah dengan berolahraga. maka organ yang demikian akan mengalami hipertensi sedemikian terus-menerus sehingga stress menjadi resiko (Armilawaty. Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya endapan kolesterol dalam dinding pembuluh darah. Akumulasi dari endapan kolesterol apabila bertambah akan menyumbat pembuluh nadi dan mengganggu peredaran darah. Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi. Jenis kelamin yang tidak bermakna ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Basha 48 . Apabila stres berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap. 2008).penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi (Cortas. Jenis kelamin. Pada penelitian ini sebagian besar responden memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak jenuh tinggi. dan tampaknya tidak ada jalan untuk mengatasinya atau menghindarinya. 2007).05) sehingga faktor-faktor risiko tersebut tidak memiliki hubungan bermakna dengan kejadian hipertensi. Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalaui saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara stres dan kejadian hipertensi. Meskipun dapat dikatakan bahwa stress emosional benar-benar meningkatkan tekanan darah untuk jangka waktu yang singkat. Hanya jika stress menjadi permanen. 2003). reaksi tersebut lenyap kembali seiring dengan menghilangnya penyebab stress tersebut. genetik dan konsumsi tinggi garam juga memiliki nilai p (> 0.

Perbedaan hasil yang mungkin terjadi pada penelitian ini dikarenakan adanya perbedaan jumlah takaran sebagai standar banyak dan sering mengkonsumsi garam. 2013). Pada penelitian lain juga menyebutkan bahwa natrium yang dikonsumsi akan mempengaruhi kejadian hipertensi melalui jalur transport ion Na + (Syahrini et al. Subyektifitas responden dalam mengakui jumlah konsumsi garam juga sedikit banyak mempengaruhi hasil (Maria et al.(2004) bahwa pada wanita setelah menopause memiliki perbandingan kejadian hipertensi yang sama dengan pria. Konsumsi kadar garam yang tinggi dalam penelitian kali ini juga tidak memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggara dan Prayitno (2013) yang menyebutkan bahwa konsumsi natrium memiliki hubungan yang signifikan dengan hipertensi dengan risiko 15 kali lebih besar terjadi pada orang yang sering dan mengkonsumsi tinggi natrium. namun menurut hukum Mendel. 2012). selain itu terdapat faktor lain yang lebih bermakna dibandingkan dengan asupan natrium. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kalangi et al (2015) bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan natara faktro genetik dengan kejadian hipertensi pada 80 responden. Hasil yang tidak signifikan ini mungkin disebabkan karena responden wanita pada penelitian kali ini sudah termasuk ke dalam menopause sehingga hormon esterogen yang dimilikinya mengalami penurunan sehingga kadar LDL akan meningkat disertai dengan tidak adanya hormon yang melindungi sel endotel pembuluh darah dari kerusakan (Novitaningtyas. selain itu penelitian lain yang pernah dilakukan juga menyebutkan bahwa pada 220 responden 77 orang mengalami hipertensi dengan komplikasi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan jenis kelamin (Sofyan et al. maka kemungkinan anaknya untuk tidak menderita hipertensi 49 . jika hanya salah satu orang tua menderita hipertensi..04)... Pada dasarnya penelitian oleh Henulili et al (2011) tentang pola pewarisan penyakit hipertensi dalam keluarga mengemukakan bahwa gen hipertensi bersifat dominan. 2014). Nilai p value genetik pada penelitian ini tidak signifikan (p =1. 2015).

Konsumsi tinggi lemak jenuh (p = 0.704) 2. Genetik (p = 0. alel dominan hipertensi tidak diwariskan kepada mereka (Kalangi et al. Sedangkan. faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi kejadian hipertensi adalah : 1. Usia (p = 0.014) 3.109).008) 5. Obesitas (p = 0. faktor-faktor yang tidak secara signifikan berhubungan dengan kejadian hipertensi adalah : 1. C. Berdasarkan hasil penelitian.041) 2. Signifikansi hubungan dapat dilihat pada nilai p value dari setiap variabel.029).014) 4. oleh karena itu dari teori tersebut. Stress (p = 0. Aktivitas fisik (p = 0. Jenis kelamin (p = 0. yaitu 50%.. 2015). Kebiasaan merokok (p = 0.829) 3.155) 4. diambil kesimpulan jika salah satu orangtua responden tidak hipertensi. Kebiasaan Obesitas merokok Usia Hipertensi Aktivitas Konsumsi fisik tinggi lemak 50 . Kesimpulan Penyebab Utama Masalah Berdasarkan hasil penelitian diantara sembilan faktor risiko yang diteliti terdapat lima faktor risiko yang berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Konsumsi tinggi garam (p = 0.

1 Analisi fish bone Dari hasil analisis fish bone dapat dilihat bahwa faktor kebiasaan merokok. Gambar 6. Hal ini merupakan faktor resiko yang dapat dirubah. konsumsi tinggi lemak memiliki kontribusi dalam mempengaruhi kejadian hipertensi. oleh karena itu peneliti akan melakukan intervensi terhadap resiko tersebut dengan cara melakukan tindakan nyata pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen khususnya terhadap resiko tinggi hipertensi. 51 . Berdasarkan hasil analisis bivariat faktor risiko dengan p value paling rendah dan odd rasio paling besar adalah obesitas. obesitas. aktivitas fisik.

VII. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

A. Penyusunan Alternatif Pemecahan Masalah
Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang faktor risiko yang berpengaruh
terhadap kejadian Hipertensi di Kemranjen maka dapat diketahui bahwa usia,
kebiasaan merokok, obesitas, aktivitas fisik yang kurang, dan konsumsi tinggi
lemak jenuh memberikan pengaruh terhadap kejadian hipertensi di wilayah
kerja Puskesmas II Kemranjen. Dengan melihat analisis data, faktor risiko yang
paling berpengaruh adalah obesitas yang merupakan faktor risiko yang dapat
diubah, maka dapat dibuat beberapa alternatif pemecahan masalah terkait
dengan obesitas dan faktor risiko yang dapat diubah lainnya terhadap kejadian
Hipertensi di Kemranjen, yaitu:
1. Penyuluhan dan pembagian leaflet tentang obesitas, dengan materi
komplikasi yang dapat timbul akibat obesitas, serta pentingnya pencegahan
obesitas seperti olahraga, pengaturan diet, dan cara pengolahan makanan
yang sehat.
2. Pembagian poster mengenai obesitas kepada masing-masing desa di wilayah
kerja Puskesmas II Kemranjen.
3. Inisiasi pembentukkan klub olahraga di tiap desa yang ada di wilayah kerja
Puskesmas II Kemranjen.

B. Penentuan Alternatif Terpilih
Pemilihan prioritas pemecahan masalah harus dilakukan karena adanya
berbagai keterbatasan baik dalam sarana, tenaga, dana, serta waktu. Salah satu
metode yang dapat digunakan dalam pemilihan prioritas pemecahan masalah
adalah metode Rinke. Metode ini menggunakan dua kriteria, yaitu efektifitas
dan efisiensi jalan keluar.
Kriteria efektifitas terdiri dari pertimbangan mengenai besarnya masalah
yang dapat diatasi, kelanggengan selesainya masalah, dan kecepatan
penyelesaian masalah. Efisiensi dikaitkan dengan jumlah biaya yang
diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Skoring efisiensi jalan keluar adalah
dari sangat murah (1), hingga sangat mahal (5).
Tabel 7.1 Kriteria dan Skoring Efektivitas dan Efisiensi Jalan Keluar

52

C
M I V (jumlah biaya
(besarnya (kelanggengan (kecepatan yang diperlukan
Skor
masalah yang selesainya penyelesaia untuk
dapat diatasi) masalah) n masalah) menyelesaikan
masalah)
1 Sangat kecil Sangat tidak Sangat Sangat murah
langgeng lambat
2 Kecil Tidak langgeng Lambat Murah
3 Cukup besar Cukup langgeng Cukup cepat Cukup murah
4 Besar Langgeng Cepat Mahal
5 Sangat besar Sangat langgeng Sangat cepat Sangat mahal

Prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan metode Rinke adalah
sebagai berikut :
Tabel 7.2 Prioritas Pemecahan Masalah Metode Rinke
Efektivitas Efisiensi Urutan
Daftar Alternatif MxIxV
No Prioritas
Jalan Keluar M I V C C
Masalah
1 Penyuluhan dan 3 3 3 1 27 1
pembagian leaflet
tentang obesitas,
dengan materi
komplikasi yang
dapat timbul akibat
obesitas, serta
pentingnya
pencegahan obesitas
seperti olahraga,
pengaturan diet, dan
cara pengolahan
makanan yang sehat
2 Pembagian poster 3 4 3 4 9 2
mengenai obesitas
kepada masing-
masing desa di
wilayah kerja
Puskesmas II
Kemranjen
3 Inisiasi 4 4 1 3 5,33 3
pembentukkan klub
olahraga di tiap desa
yang ada di wilayah
kerja Puskesmas II
Kemranjen

53

Berdasarkan hasil perhitungan prioritas pemecahan masalah menggunakan metode
Rinke, didapatkan proioritas alternatif pemecahan masalah, yaitu Penyuluhan dan
pembagian leaflet tentang obesitas, dengan materi komplikasi yang dapat timbul
akibat obesitas, serta pentingnya pencegahan obesitas seperti olahraga, pengaturan
diet, dan cara pengolahan makanan yang sehat.

54

VIII. RENCANA KEGIATAN

A. Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi didefinisikan sebagai
peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau diastolik
90 mmHg atau lebih pada dua kali pengukuran dengan selang waktu minimal
lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang (Pusdatin, 2014).
Hipertensi merupakan penyebab yang paling umum terhadap morbiditas dan
mortalitas pada usia yang lebih tua seperti stroke, penyakit jantung iskemik
dan insufisiensi ginjal dan prevalensinya meningkat seiring bertambahnya
usia (Sherlock et al., 2014). Hipertensi merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang terjadi di negara maju maupun negara
berkembang. Angka kejadian hipertensi di seluruh dunia mencapai 1 milyar
orang dan sekitar 7,1 juta kematian akibat hipertensi terjadi setiap tahunnya
(Depkes RI, 2008). Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi hipertensi di
Indonesia hasil pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 25,8 persen.
Prevalensi hipertensi di Jawa Tengah mencapai 26,4% (Riskesdas, 2013).
Penyakit hipertensi termasuk kedalam 10 besar kasus penyakit
terbanyak di Puskesmas II Kemranjen. Angka kejadian hipertensi di
Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2013 mencapai 254 kasus, pada tahun
2014 meningkat 49,8% menjadi 510 kasus, dan pada tahun 2015 didapatkan
750 kasus, sehingga dapat disimpulkan jumlah kasus hipertensi di wilayah
kerja Puskesmas II Kemranjen selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak
terkontrol dapat menyebabkan tujuh kali lebih berisiko terkena stroke, enam
kali lebih berisiko menderita congestive heart failure (CHF), dan tiga kali
lebih berisiko terkena serangan jantung (Rahajeng et al., 2009). Hipertensi
merupakan penyebab kematian nomor tiga pada semua umur di Indonesia,
yakni mencapai 6,8% setelah stroke (15,4 %) dan tuberkulosis (7,5 %)
(Depkes RI, 2008). Oleh karena itu, perlu adanya pencegahan, deteksi dini
dan pengobatan yang adekuat untuk penderita hipertensi.

55

PH c.000. N. D.B. Muhammad Amir Fuad b. dan cara pengolahan makanan yang sehat. Agung Saprasetya Dwi Laksana M. Penanggung jawab : dr. Hari : Senin b. pengaturan diet. Personil a. Tanggal : 25 April 2016 c.000. C. 2) Inggit Adzani 3) Athifa Muthmainnah 2. Pelaksanaan 1. Meningkatkan pengetahuan terkait obesitas diantaranya komplikasi yang dapat timbul akibat obesitas. dengan materi komplikasi yang dapat timbul akibat obesitas. Waktu dan Tempat a.00 + Rp 210. E.00 56 .000.00 Konsumsi : Rp 150.Sc. Rencana Anggaran Biaya: Leaflet : Rp 60. Tujuan Meningkatkan pengetahuan mengenai salah satu faktor risiko hipertensi yaitu obesitas. pengaturan diet. serta pentingnya pencegahan obesitas seperti olahraga. Bentuk dan Materi Kegiatan Penyuluhan dan pembagian leaflet tentang obesitas. dan cara pengolahan makanan yang sehat. Tempat : Balai Desa Pageralang F. serta pentingnya pencegahan obesitas seperti olahraga. Pelaksana dan pemberi materi: 1) Gagah Baskara A. Sasaran Kader kesehatan dari masing-masing desa di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. Pembimbing : dr.

Evaluasi Setelah dilakukan penyuluhan kepada kader kesehatan yang datang.G. dilakukan evaluasi untuk mengetahui apakah informasi dalam penyuluhan yang dilakukan dapat diterima dan dipahami oleh peserta. Evaluasi yang dilakukan adalah diskusi berupa tanya jawab antara pemberi materi penyuluhan dan peserta penyuluhan. 57 .

Pelaksanaan Kegiatan Intervensi kesehatan yang dilakukan adalah penyuluhan dan pemberian leaflet mengenai komplikasi yang dapat timbul akibat obesitas. komplikasi yang dapat timbul akibat obesitas. 7) Penyampaian materi : Penyampaian materi dilakukan dengan lisan dan tulisan untuk menjelaskan tentang pengertian obesitas. Kemranjen Kab. serta pentingnya pencegahan obesitas seperti olahraga. Amir Fuad (selaku Kepala Puskesmas II Kemranjen) 5) Pelaksana : Dokter Muda Unsoed (Gagah Baskara A. Athifa M. 2) Hari/Tanggal : Senin. Tahap Persiapan 1) Materi Materi yang disiapkan adalah materi tentang pengertian obesitas. 25 April 2016 pukul 10. Tahap pelaksanaan 1) Judul Kegiatan : Penyuluhan tentang Obesitas sebagai Faktor Risiko Hipertesi dan Pencegahannya. IX. 4) Penanggungjawab : dr. dan cara pengolahan makanan yang sehat. pengaturan diet. Penyuluhan yang dilakukan diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan tingginya angka kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. Evaluasi Hasil Pelaksanaan 1. dan leaflet. Banyumas. PELAKSANAAN DAN EVALUASI KEGIATAN A. serta pentingnya pencegahan obesitas seperti olahraga. M. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dilaksanakan melalui 3 tahap yaitu : a. dan cara pengolahan makanan yang sehat. komplikasi yang dapat 58 .N.) 6) Peserta : Kader kesehatan masing-masing desa di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. Inggit A.00 WIB 3) Tempat : Balai Desa Pageralang Kec. pengaturan diet. b. 2) Sarana Sarana yang dipersiapkan berupa alat tulis.

Antusiasme peserta penyuluhan dinilai cukup. Hal ini dilihat dari antusias peserta pada saat diskusi yang 59 . 1) Evaluasi sumber daya Evaluasi sumber daya meliputi evaluasi terhadap 5 M yaitu man. c) Method Metode penyuluhan yang digunakan adalah melalui pemberian materi secara lisan dan tulisan dengan pembagian leaflet serta dilakukan diskusi. pengaturan diet. meliputi sesi penyuluhan hipertensi 30 menit dan tanya jawab selama 30 menit. method. machine. money. materi penyuluhan diperoleh dari buku ilmu penyakit dalam. Penyuluhan yang dijadwalkan pada Hari Senin. Berikut ini akan dijelaskan mengenai hasil evaluasi masing-masing aspek. c. b) Money Sumber dana juga cukup untuk menunjang terlaksananya diskusi termasuk untuk menyiapkan sarana dan prasarana.00 WIB sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan. Secara keseluruhan sumber daya dalam pelaksanaan diskusi sudah termasuk baik karena narasumber memiliki pengetahuan yang cukup memadai mengenai materi yang disampaikan. dan cara pengolahan makanan yang sehat. d) Material Materi yang diberikan pada penyuluhan telah dipersiapkan dengan baik. Proses penyuluhan berlangsung kurang lebih 60 menit. material. yaitu evaluasi sumber daya. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi adalah melakukan evaluasi mengenai 3 hal. Evaluasi pada metode ini termasuk cukup baik dan sasaran penyuluhan tertarik untuk mengikuti dan mendengarkan penjelasan narasumber. evaluasi proses. serta pentingnya pencegahan obesitas seperti olahraga. evaluasi hasil. a) Man. 2) Evaluasi proses Evaluasi terhadap proses disini adalah terhadap proses pelaksanaan penyuluhan. 25 April 2015 pukul 10. timbul akibat obesitas.

Kesimpulan Dan Saran a. Saran Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen perlu untuk meningkatkan pengetahuan terkait faktor risiko hipertensi dan mulai untuk membiasakan diri hidup lebih sehat untuk mengontrol faktor risiko hipertensi dengan cara : 1. B. Faktor risiko yang memiliki hubungan paling kuat dengan kejadian hipertensi adalah obesitas. 2. Peserta yang hadir terdiri dari para kader kesehatan dari seluruh desa di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. obesitas. dan konsumsi tinggi lemak jenuh dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. Kesimpulan Terdapat hubungan yang bermakna antara usia. a. dinilai cukup aktif. Secara keseluruhan pelaksanaan penyuluhan berlangsung baik. aktivitas fisik. 60 . Mengikuti program pengelolaan penyakit kronis untuk menghindari kejadian komplikasi yang mungkin terjadi. kebiasaan merokok. 3. 4. Melakukan survey dan pendataan kejadian hipertensi di masyarakat terutama keluarga pasien yang sudah menderita hipertensi. Ikut serta aktif dalam berbagai kegiatan olah raga yang berhubungan dengan hipertensi. Mengadakan penyuluhan secara periodik dan terpadu kepada masyarakat Kemranjen tentang pentingnya upaya pengendalian hipertensi.

DAFTAR PUSTAKA Almatsier. dan E. 2014. 2011. V. 2006. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular.A. S. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tekanan Darah di Puskesmas Telaga Murni. 3 (1) : 125-129 Anggara. Pedoman Teknis. R.medscape. 2013. M.com/article/241381-overview. Profil Kesehatan Kabupaten Banyumas Tahun 2014. Hipertensi : Faktor Risiko dan Penatalaksanaan Hipertensi. Internasional Journal of Hypertension. Jurnal Ilmiah Kesehatan. dan F. L. Dirjen P&PL Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Operational study an integrated community- based intervention program on common risk factors of major non- communicable diseases in Depok-Indonesia. Hypertension. Kasus Penyakit Tidak Menular di Puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten Banyumas. Jakarta : Bolivar. Depkes RI. 2013. 2008. B. 5 (1) : 20-25 Armilawati. Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Hipertensi. Jakarta : PT. 2014/2015 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. 2008. Hipertensi dan Faktor Risikonya Dalam Kajian Epidemiologi. Jakarta : PT. 2015. Diakses pada : 20 April 2016 Davis. 2007. Lintong. Analisa Hasil Pengukuran Tekanan Darah Antara Posisi Duduk dan Posisi Berdiri pada Mahasiswa Semester VII (Tujuh) TA. D dan N. Jakarta: Depkes RI Basha. Indonesia Sehat. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Gizi. R. H. Yogyakarta : Kanisius 61 . Danes. 2003. Jurnal e-Biomedik. Penyakit Jantung dan Penyembuhannya Secara Alami. Braverman. Makasar: Bagian Epidemiologi FKM UNHAS. Bhuana Ilmu Komputer Depkes RI. Cikarang Barat Tahun 2012. Prayitno. Available at : http://emedicine. Essential Hypertension : An Approach to Its Etiology and Neurogenic Pathophysiology. A. 2004. 1 : 1- 11 Cortas K. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi. F. Balitbangkes. Gramedia Pustaka Utama Amiruddin. J. 2004. J.. Purwokerto : DKK Banyumas Gunawan.

Faktor Risiko Kejadian Hipertensi di Waliyah Kerja Puskesmas Bangkala Kabupaten Jeneponto Tahun 2012. Makasar : Repositori Universitas Hasanudi Maria. 3 (3) : 91-97 Neal. 2009. D. 2003. The Journal of Lancaster General Hospital. Skripsi Sarjana Ilmu Gizi FIK UMS. A. Baturaja : Politeknik Kesehatan Departemen Kesehatan Sumatera Selatan Novitaningtyas. Hipertensi. Hubungan Faktor Genetik dengan Tekanan Darah Pada Remaja. 1-14 Nurkhalida. Gambaran Pengetahuan. J. 2011. V. 2012. Journal e-Clinic. Sikap Dan Tindakan Penderita Hipertensi Dalam Upaya Mencegah Kekambuhan Penyakit Hipertensi Di Kelurahan Saung Naga Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Tanjung Agung Kecamatan Baturaja Barat Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2009. Tingkat Pendidikan) dan Aktivitas Fisik denagn Tekanan Darah Pada Lansia di Kelurahan Makamhaji Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo. S. Puspita dan Y. T. dan V. Raja Grafindo Mannan.. 2014. Jakarta : Penerbit Erlangga Ningsih. R. At a Glance Farmakologi Medis Edisi 5. Yuliati. A. Journal Ilmiah Universitas Respati.. 2014. Skripsi.Hanulili. Pateda. M. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI 62 . A. T. Semarang : Repository Universitas Diponegoro Price. dan L. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade I pada Masyarakat. 2008. H.U. Jakarta : EGC Pusat Data dan Informasi. A. 2015. G. Rahayu. 242-247 Kalangi. Sulistyowati. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Umboh. J. 2003. Jakarta : PT. Seminar Nasional Penelitian.. J. 3 (2) : 11-24 Martin. 3 (1) : 66-70 Khomsan. Wahiduddin dan Rismayanti. 2006. Pendidikan dan Penerapan MIPA. 2006. Hypertension Guidlines : Revisting The JNC 7 Recomendations. Pola Pewarisan Penyakit Hipertensi dalam Keluarga sebagai Sumber Belajar Genetika. Hubungan Asupan Natrium dan Kalium dengan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Unit Rawat Jalan di Rumah Sakit Guido Valadares Dili Timor Leste. Jenis Kelamin. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Nurkhasanah. E. Hubungan Karakteristik (Umur.

International Journal of Epidemiology. Ebrahim. Tesis. S. dan A. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : EGC. Muchtar. Republik Indonesia Sheps. 1 (2) : 315-325 Syarif. Udiyono. dan Hipertensi dengan Kejadian Stroke. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Estuningtyas. and Control. Departemen Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Susanto.. A.Minicuci. L. Perkembangan Penyakit Degeneratif. A. Awareness. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 6. 43: 116- 128 Sherwood. Setiawati. H. 2014. Faktor Risiko yang Paling Berperan Terhadap Hipertensi Pada Masyarakat di Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade II pada Masyarakat. Majalah Kedokteran Indonesia. Hypertension Among Older Adults in Low and Middle Income Countries: Prevalence. A. P. 2013. Sofyan. 2012. Konsumsi Makanan/Minuman. dan S. 2015. Profil Kesehatan Puskesmas II Kemranjen Kabuoaten Banyumas Tahun 2015. 2015. Tesis. Sihombing. M. A.L. Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2009... Tuminah. dan Y. Jakarta : Intisari Mediatama Sherlock. A. Sihombing. Beard. Hubungan Perilaku Merokok. Modifikasi Gaya Hidup dan Tekanan Darah. 59(12): 12-14 Ridjab.Puskesmas II Kemranjen. Mengatasi Tekanan Darah Tinggi. Sheldon. 2007. Chatterji. Universitas Muhammadiyah Semarang Syahrini. 2012. N. N. I. S. 2007. 2005. Journa of Neuroscience. 60 (9): 406-412. J. 2010. 2 (5) : 24-30 Sugihartono. A. 54 (3) : 159-165 Riset Kesehatan Dasar. Setiabudy. Ascobat. Hamra. Hubungan Umur. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Primer di Puskesmas Tlogosari Kulon Kota Semarang. P. E. 2007. M. Majalah Kedokteran Indonesia. S. 2010. Universitas Diponegoro Suparto. E. Y. Prevalensi hipertensi dan determinannya di Indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia. Purwokerto : Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas Rahajeng. dan Aktivitas Fisik dengan Penyakit Hipertensi pada Responden Obes Usia Dewasa di Indonesia. Jakarta : Gaya Baru 63 . D. R. Jenis Kelamin.

New York : A Wiley Medical Publication Yeni. Texas Heart Institute Journal. N. dan R. 2007. H. Gambaran Kebiasaan Merokok pada Pasien-pasien Hipertensi yang Datang ke Bagian Dalam RSUP H. dan Solikhah. M. Areview of The JNC 8 Blood Pressure Guidline. J. Kirana. 64 . Praktikum Keterampilan Dasar Praktik Klinik. Jakarta : Salemba Medika Vila.. Jakarta: Elex Media Komputindo Uliyah. Universitas Sumatera Utara Tjay. (2010). H. 2009. I. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Hipertensi Esensial. Obat-obat penting: Khasiat. Analisis Faktor Resiko Hipertensi pada Masyarakat Nagari Bungo Tanjung. 42 (3) : 226-228 Vilareal. 2010. Djannah. M. Sumatera Barat. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2008. Y.Syukarini. Medan : Universitas Sumatra Utara. Skripsi. S. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi Pada Wanita Usia Subur di Puskesmas Umbulharjo I Yogyakarta Tahun 2009. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jegathes. 2008. Penggunaan dan efek- efek sampingnya. Hypertension. T. Adam Malik Medan. Aziz. 4 (2) : 76-143 Yugiantoro. E. 2006. 2015. Dan A.

4 100.0 100.6 Bukan perokok 34 65.5 100.0 100.0 Total 52 100.0 Total 52 100.0 Usia Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Berisiko 46 88.1 73.0 50.0 Jenis Kelamin Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Laki-laki 14 26.9 26.0 100.1 100.1 48.9 Perempuan 38 73.0 50.4 65.5 Tidak Berisiko 6 11.0 Tidak Hipertensi 26 50.0 100.Lampiran 1 ANALISIS UNIVARIAT Kejadian Hipertensi Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Hipertensi 26 50.0 Genetik Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Memiliki predisposisi genetik 25 48.0 50.1 48.5 88.0 genetik Total 52 100.9 100.5 88.5 11.6 34.0 Total 52 100.9 26.9 51.6 34.0 Total 52 100.0 Kebiasaan merokok Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Perokok 18 34.0 65 .1 Tidak memiliki predisposisi 27 51.0 100.0 100.

0 Obesitas Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Obesitas 16 30.0 100.0 Total 52 100.5 36.0 100.2 69.5 100.2 100.5 36.5 63.0 Konsumsi tinggi garam Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Ya 33 63.0 100.0 50.0 Total 52 100.8 30.0 100.5 Tidak 19 36.5 100.0 Aktivitas fisik cukup 26 50.0 Total 52 100.1 73.5 63.9 26.0 66 .1 73. Aktivitas Fisik Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Aktivitas fisik kurang 26 50.5 63.0 Total 52 100.5 63.0 100.9 100.0 50.8 30.5 Tidak 19 36.0 50.8 Tidak obesitas 36 69.0 100.0 Stress Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Stress 38 73.1 Tidak stress 14 26.0 Konsumsi tinggi lemak jenuh Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Ya 33 63.0 Total 52 100.

(2.0 46. Sig. b. The minimum expected count is 3.0 3.011 Linear-by-Linear Association 6.0 6. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square 6. 2 cells (50.0 23.023 .652 1 .010 N of Valid Cases 52 a.313 . Exact Sig.00. (2.435 .003 Fisher's Exact Test .783a 1 .0 Total Count 26 26 52 Expected Count 26.0 Tidak Berisiko Count 0 6 6 Expected Count 3.Lampiran 2 ANALISIS BIVARIAT Usia Berisiko * Kejadian Hipertensi Crosstab Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Usia Berisiko Berisiko Count 26 20 46 Expected Count 23.103 1 .009 b Continuity Correction 4.0 26.0 Chi-Square Tests Asymp.0 52.710 1 .030 Likelihood Ratio 9.604 Hipertensi = Tidak Hipertensi N of Valid Cases 52 67 . Exact Sig. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper For cohort Kejadian .0%) have expected count less than 5.

0 19.0 68 . Jenis Kelamin * Kejadian Hipertensi Crosstab Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Jenis Kelamin Laki-laki Count 7 7 14 Expected Count 7.0 52.0 38.0 Total Count 26 26 52 Expected Count 26.0 Perempuan Count 19 19 38 Expected Count 19.0 26.0 14.0 7.

Sig. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Jenis Kelamin 1. Exact Sig.542 1.000 Likelihood Ratio .00. The minimum expected count is 7. 0 cells (.000 .000 1 1.000 . (2.000 . (2.846 Hipertensi = Tidak Hipertensi N of Valid Cases 52 69 .000 .000 Fisher's Exact Test 1.000 1 1.542 1. Chi-Square Tests Asymp.0%) have expected count less than 5.846 Hipertensi = Hipertensi For cohort Kejadian 1.000 b Continuity Correction .000a 1 1.294 3.000 N of Valid Cases 52 a.406 (Laki-laki / Perempuan) For cohort Kejadian 1.622 Linear-by-Linear Association . Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square .000 1 1. b.

(2.5 27.466 (Memiliki predisposisi genetik / Tidak memiliki predisposisi genetik) For cohort Kejadian 1. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square .076 1 .781 Fisher's Exact Test 1.167 .000 1 1.000 Likelihood Ratio .0 52. b.080 .926 . Exact Sig.0%) have expected count less than 5.0 26.5 13.859 Hipertensi = Hipertensi For cohort Kejadian .5 12.50. (2.0 Total Count 26 26 52 Expected Count 26. Exact Sig. The minimum expected count is 12.5 25.781 Continuity Correctionb . Genetik * Kejadian Hipertensi Crosstab Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Genetik Memiliki predisposisi genetik Count 13 12 25 Expected Count 12.000 . 0 cells (.500 Linear-by-Linear Association .0 Tidak memiliki predisposisi Count 13 14 27 genetik Expected Count 13.393 3. Sig.077 1 .627 1.599 Hipertensi = Tidak Hipertensi N of Valid Cases 52 70 .077a 1 .0 Chi-Square Tests Asymp.783 N of Valid Cases 52 a.536 1. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Genetik 1.

Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Kebiasaan 4.040 .129 3.041 Likelihood Ratio 5. 0 cells (.0 9.213 14.00.0 26.333 1 .0 17. Exact Sig. (2.204 .0 Total Count 26 26 52 Expected Count 26.889 1.159 Hipertensi = Hipertensi For cohort Kejadian .021 N of Valid Cases 52 a. Kebiasaan merokok * Kejadian Hipertensi Crosstab Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Kebiasaan merokok Perokok Count 13 5 18 Expected Count 9.438a 1 .200 1.018 Fisher's Exact Test .0 52.450 .020 Continuity Correctionb 4. Sig.583 1 . (2.541 merokok (Perokok / Bukan perokok) For cohort Kejadian 1.991 Hipertensi = Tidak Hipertensi N of Valid Cases 52 71 .0 18.163 1 . b. Exact Sig. The minimum expected count is 9.0 34. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square 5.0 Bukan perokok Count 13 21 34 Expected Count 17.0 Chi-Square Tests Asymp.020 Linear-by-Linear Association 5.0%) have expected count less than 5.

0%) have expected count less than 5. Exact Sig.138 11.0 52.568 1.0 Aktivitas fisik cukup Count 9 17 26 Expected Count 13.052 Likelihood Ratio 5. Aktivitas Fisik * Kejadian Hipertensi Crosstab Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Aktivitas Fisik Aktivitas fisik kurang Count 17 9 26 Expected Count 13.291 .004 1 .027 b Continuity Correction 3. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square 4. (2.039 3. (2.0 13. Exact Sig.00.185 (Aktivitas fisik kurang / Aktivitas fisik cukup) For cohort Kejadian 1.026 Linear-by-Linear Association 4.0 13. Sig.028 N of Valid Cases 52 a.529 .051 .0 Chi-Square Tests Asymp. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Aktivitas Fisik 3.828 1 . b.889 1.0 26. The minimum expected count is 13.0 Total Count 26 26 52 Expected Count 26.0 26.769 1 . 0 cells (.434 Hipertensi = Hipertensi For cohort Kejadian .923a 1 .025 Fisher's Exact Test .0 26.962 Hipertensi = Tidak Hipertensi N of Valid Cases 52 72 .

332 1 .0 26. The minimum expected count is 9.0 Chi-Square Tests Asymp. (2. Konsumsi Tinggi Garam * Kejadian Hipertensi Crosstab Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Konsumsi tinggi garam Ya Count 18 15 33 Expected Count 16.50.0 Total Count 26 26 52 Expected Count 26. b. (2.392 N of Valid Cases 52 a. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square . Exact Sig.732 1 .158 tinggi garam (Ya / Tidak) For cohort Kejadian 1.0 52.387 Fisher's Exact Test .5 19.460 1. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Konsumsi 1.5 33.0%) have expected count less than 5.0 Tidak Count 8 11 19 Expected Count 9.749 1 .746a 1 .565 .283 Linear-by-Linear Association .5 9. 0 cells (.565 Likelihood Ratio .785 . Exact Sig.388 b Continuity Correction .341 Hipertensi = Tidak Hipertensi N of Valid Cases 52 73 .650 .5 16.295 .702 2. Sig.390 Hipertensi = Hipertensi For cohort Kejadian .528 5.

900 1. Konsumsi tinggi lemak jenuh * Kejadian Hipertensi Crosstab Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Konsumsi tinggi lemak jenuh Ya Count 21 12 33 Expected Count 16. Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square 6.5 9.020 .308 1 .0 Total Count 26 26 52 Expected Count 26. 0 cells (. (2.50.5 33.413 16.021 Likelihood Ratio 6. The minimum expected count is 9.092 5.009 Fisher's Exact Test .5 16. Exact Sig.494 .0 52.010 Linear-by-Linear Association 6.0%) have expected count less than 5.292 .418 1.0 Tidak Count 5 14 19 Expected Count 9.0 26.010 N of Valid Cases 52 a. b. Exact Sig.5 19.0 Chi-Square Tests Asymp.357 Hipertensi = Hipertensi For cohort Kejadian . Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Konsumsi 4.010 b Continuity Correction 5.589 1 .834 Hipertensi = Tidak Hipertensi N of Valid Cases 52 74 .925 1 .718a 1 .988 tinggi lemak jenuh (Ya / Tidak) For cohort Kejadian 2. (2.

0 Chi-Square Tests Asymp.547 . (2.534 1 .178 Hipertensi = Tidak Hipertensi N of Valid Cases 52 75 .0 Total Count 26 26 52 Expected Count 26. Stress * Kejadian Hipertensi Crosstab Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Stress Stress Count 21 17 38 Expected Count 19.696 .0 7. b.209 Fisher's Exact Test .564a 1 .00.211 b Continuity Correction .627 7.0 14.880 1 .348 Likelihood Ratio 1. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Stress (Stress 2.0 52. The minimum expected count is 7.581 1 . (2. 0 cells (. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square 1.725 3.0 Tidak stress Count 5 9 14 Expected Count 7.0 19.224 . Sig.349 . Exact Sig.216 N of Valid Cases 52 a.0%) have expected count less than 5.305 Hipertensi = Hipertensi For cohort Kejadian .0 26.890 / Tidak stress) For cohort Kejadian 1. Exact Sig.0 38.174 Linear-by-Linear Association 1.411 1.

(2. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square 9.0 36.00.103 .965 (Obesitas / Tidak obesitas) For cohort Kejadian 2.293 . Exact Sig.0 18.0 26. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Obesitas 7.0 8.028a 1 .002 Fisher's Exact Test .007 Likelihood Ratio 9.839 31. The minimum expected count is 8.0 Total Count 26 26 52 Expected Count 26.373 3.0 Tidak obesitas Count 13 23 36 Expected Count 18.006 .003 Linear-by-Linear Association 8.313 1 .854 1 .0 Chi-Square Tests Asymp.838 Hipertensi = Tidak Hipertensi N of Valid Cases 52 76 . Obesitas * Kejadian Hipertensi Crosstab Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Obesitas Obesitas Count 13 3 16 Expected Count 8.0 52.667 1.250 1.553 1 .003 b Continuity Correction 7.0%) have expected count less than 5. 0 cells (. Sig.688 Hipertensi = Hipertensi For cohort Kejadian .0 16.003 N of Valid Cases 52 a. b. (2. Exact Sig.

dr. Purwokerto.1 Purwokerto Informed Consent LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Saya yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Usia : Alamat : Telah memahami dan mensetujui penelitian yang dilaksanakan oleh para dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman dan akan memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan melalui jawaban kuesioner dalam rangka menganalisis faktor risiko hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas II Kemranjen. April 2016 Responden 77 .Lampiran 3 INFORMED CONSENT KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN PURWOKERTO Kampus RSUD Prof. dr. Kabupaten Banyumas tahun 2016. Gumbreg No. MargonoSoekardjo Jl.

1. Pendidikan terakhir :  Tidak tamat SD  Tamat SD/sederajat  Tamat SMP/sederajat  Tamat SMA/sederajat  Tamat Sarjana/sederajat 5.Lampiran 4 KUESIONER KUESIONER ANALISIS FAKTOR RISIKO HIPERTENSI PUSKESMAS II KEMRANJEN KABUPATEN BANYUMAS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Bagian A: Data Demografi Jawablah daftar pertanyaan berikut ini dengan menuliskan check list pada kolom dan mengisi pada isian titik-titik yang telah tersedia. Pekerjaan :  PNS  Pegawai swasta  Wiraswasta  Pension  Tidak bekerja  Lainnya (tuliskan) 6. Jenis kelamin :  Laki-laki  Perempuan 4. Umur : 3. Berat badan : Tinggi badan : IMT : 78 . Inisial nama : 2.

daging kambing. kebiasaan merokok. Di satu bulan yang lalu. Gambaran Faktor Risiko Hipertensi (Riwayat keluarga. seberapa sering Tidak Hampir Kadang Cukup Sangat Anda merasakan hal ini: pernah tidak sering sering pernah Bagian 1 0 1 2 3 4 1 Saya merasa kecewa karena mengalami hal yang tidak diharapkan 2 Saya merasa tidak mampu mengatasi hal penting dalam hidup saya 3 Saya merasa gugup dan tertekan 4 Saya merasa tidak mampu mengatasi segala sesuatu yang harus saya atasi 79 .1 Faktor Risiko Hipertensi : Stress Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan memberikan tanda checklist No. kebiasaan mengonsumsi makanan asin. ibu. jeroan. telur ayam. atau anak) mempunyai riwayat tekanan darah tinggi yaitu tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih 2 Saya suka makan makanan asin dan memakannya 3 kali dalam seminggu atau lebih 3 Saya suka makan makanan berlemak seperti gorengan. kebiasaan olahraga) Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan menuliskan tanda check list pada pilihan jawaban Ya atau Tidak No.1. Pertanyaan Ya Tidak Bagian 1 1 0 1 Keluarga saya (ayah. dan memakannya 3 kali dalam seminggu atau lebih 4 Saya saat ini adalah perokok 5 Saya mempunyai kebiasaan merokok lebih dari 2 bungkus setiap hari 6 Anggota keluarga saya ada yang merokok 7 Saya sering terpapar dengan asap rokok Bagian 2 0 1 8 Saya terbiasa berolah raga minimal 3 kali setiap minggu 9 Saya terbiasa menggunakan waktu selama 30-45 menit setiap kali berolah raga Bagian B. kebiasaan mengonsumsi makanan lemak jenuh. daging sapi.Bagian B B.

5 Saya marah karena sesuatu diluar kontrol saya telah terjadi 6 Saya merasa kesulitan-kesulitan menumpuk semakin berat sehingga saya tidak mampu mengatasinya Bagian 2 4 3 2 1 0 7 Saya percaya terhadap kemampuan sendiri untuk mengatasi masalah pribadi 8 Saya merasa segala sesuatu telah berjalan sesuai dengan rencana saya 9 Saya mampu mengatasi semua masalah dalam hidup saya 10 Saya merasa sukses Terima kasih atas partisipasi Anda dalam pengisian kuesioner ini. semoga hasil penelitian ini dapat berguna bagi masyarakat Puskesmas II Kemranjen untuk kehidupan yang lebih sehat dan sejahtera  80 .