You are on page 1of 51

Tavio, Ph.

D Struktur Beton II

SISTEM RANGKA
PEMIKUL MOMEN (SRPM)

PENDAHULUAN
‹ Dalam Bab ini di sajikan disain tipikal SRPM 8
l t i yang tterkena
lantai k b
beban
b gempa sesuaii SNI-
SNI
1726 (Ps)
‹ Proses penulangannya dilakukan sesuai SNI-
2847
‹ Dianggap semua dimensi potongan melintang
balok, kolom dan lantai dari lantai pertama
sampai atap adalah sama
‹ Diasumsikan SRPM ini berada di lokasi WG 6
dan berada diatas lapisan tanah yang
tergolong lunak. SRPM yang berada di WG 6
menurut SNI 2847 Pasal 23.2(4)

Department of Civil Engineering
Sepuluh Nopember Institute of
Technology (ITS) Surabaya - Indonesia Page: 1

Tavio, Ph.D Struktur Beton II

Data desain
z Mutu bahan :
fc’ = 30 Mpa
fy = 400 MPa
z Kategori gedung sebagai perkantoran.
z Beban hidup : lantai : 2,50 kN/m2.
atap : 1,00 KN/m2.
z Beban mati : beton : 24,00 kN/m3.
Partisi : 1,00 kN/ m2 l
Tegel + spesi : 0,45 kN/ m2
Plafon dan M dan E : 0,18 kN/ m2
z Dimensi komponen SRPMK ini adalah (untuk seluruh lantai):
- Tebal pelat lantai = 120 mm
- Dimensi balok = 500 x 700 mm
- Dimensi kolom = 750 x 750 mm

1 2 3 4 5 6
6m 6m 6m 6m 6m

A
6m

B
6m

U

C B T
Y
6m

X
S
D
6m

E
6m

F

8
3.5 m
7
3.5 m
6
3.5 m
5
3.5 m
4
3.5 m
3
3.5 m
2
3.5 m
1
3.5 m

6m 6m 6m 6m 6m
1 2 3 4 5 6

Department of Civil Engineering
Sepuluh Nopember Institute of
Technology (ITS) Surabaya - Indonesia Page: 2

Tavio, Ph.D Struktur Beton II

• ANALISA BEBAN GEMPA
• ANALISA BEBAN GRAVITASI
• KOMBINASI BEBAN
• DESAIN BALOK DAN LANTAI
• DESAIN KOLOM
• DESAIN HUBUNGAN BALOK
KOLOM

BACK

ANALISA BEBAN GEMPA

Department of Civil Engineering
Sepuluh Nopember Institute of
Technology (ITS) Surabaya - Indonesia Page: 3

Tavio, Ph.D Struktur Beton II

BEBAN GEMPA
„ Perhitungan beban mati (W)
„ Taksiran Waktu Getar Alami T, secara
Empiris
„ Perhitungan V
„ Distribusi Fi.
„ Analisis terhadap T Rayleigh
„ Hasil Analisa Struktur
„ Kinerja Batas Layan (Δs) dan Kinerja
Batas Ultimit (Δm).

ANALISA BEBAN GEMPA

„ Beban geser dasar nominal
statik ekivalen V yang terjadi
di tingkat dasar di hitung
sesuai Ps 6.1 : V ini harus di
bagikan sepanjang tinggi
struktur gedung ke masing-
masing lantai sesuai Ps 6.1.2.

Department of Civil Engineering
Sepuluh Nopember Institute of
Technology (ITS) Surabaya - Indonesia Page: 4

Tavio, Ph.D Struktur Beton II

Perhitungan Beban Mati

„ Beban gravitasi berupa beban mati dan
beban hidup yang bekerja di tiap
lantai/atap disimpulkan di Tabel 8-1
„ Beban hidup untuk perhitungan W ini,
sesuai SNI-03-1727-1987, pakai koefisien
reduksi 0,3

Balok Pelat *) 30% reduksi Elemen Jumlah
**)
beban hidup vertikal
(kN) (kN) (kN) (kN) (kN)
Lantai 8 3.024,0 2.592,0 270,0 1.292,4 7.178,4
Lantai 7 3.024,0 2.592,0 675,0 2.827,8 9.118,8
Lantai 6 3.024,0 2.592,0 675,0 2.827,8 9.118,8
Lantai 5 3.024,0 2.592,0 675,0 2.827,8 9.118,8
Lantai 4 3.024,0 2.592,0 675,0 2.827,8 9.118,8
Lantai 3 3 024 0
3.024,0 2 592 0
2.592,0 675 0 2.827,8
675,0 2 827 8 9 118 8
9.118,8
Lantai 2 3.024,0 2.592,0 675,0 2.827,8 9.118,8
Lantai 1 3.024,0 2.592,0 675,0 2.827,8 9.118,8
Jumlah berat bangunan = 71.010,0

Department of Civil Engineering
Sepuluh Nopember Institute of
Technology (ITS) Surabaya - Indonesia Page: 5

D Struktur Beton II Taksiran Waktu Getar Alami T.15 x 8 = 1. n = 0.OK n=8 Distribusi Fi.Tavio.2.88 „ Kontrol pembatasan T sesuai Ps 5.2 det > T empiris = 0.0731 (28)3/4 = 0.zi i =1 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya . ξ = 0. secara Empiris „ Rumus empiris pakai Methol A dari UBC Section 1630.88 --.2.6.zi Fi = n V ∑ Wi.15 T = ξ .0731 T = Ct (hn)3/4 = 0.Indonesia Page: 6 . Wi. „ Distribusi ini dilakukan sesuai rumus (27) yang berada di SNI 1726 Ps 6. Ph. Tinggi gedung hn = 28 m Ct = 0.3 .1.

02 3 10.410.60 „ Dipuncak gedung tidak ada beban horizontal gempa t terpusat t karena k ratio ti tinggi total gedung 28 = = 0 .05 6 21 0 21.118.118.80 7.388.118.40 200.40 694.80 223.5 9.5 9.3 i =1 n g ∑ Fi .118.619.27 1. sesuai Ps 6.79 3.579.22 2 7. dengan rumus : ∑ Wi .41 Σ= 71.01 1 3.20 1.2.00 1.178.094.80 231. harus dibandingkan dengan TRayleigh.39 4 465 44 4.40 7.936.60 1.915.2 tidak boleh menyimpang lebih dari 20% hasil T Rayleigh Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .44 5 17.457.99 5. 93 < 3 (Ps 6. Ph.00 1.548.80 191 494 80 191.0 9.80 95.60 462.80 127.118.D Struktur Beton II La n ta i hi Wi W i x hi Fi x-y Vi k e- (m ) (k N ) (k N m ) (k N ) (k N ) 8 28.494.43 4 14.0 9.465.80 159.80 31.di i =1 „ Besarnya T yang dihitung sebelumnya sebelumnya.0 7.457.Tavio.5 9.0 9 118 80 9.4).077.19 7. panjang denah gedung 30 Analisis terhadap T Rayleigh „ Besarnya T yang dihitung sebelumnya memakai cara-cara empiris.831.118.010.Indonesia Page: 7 .622.242.1.20 925.80 63.27 7 24.637.80 1 388 39 1.59 6.995.747.663.5 9.156.di n 2 T1 = 6.705.118.

118. mula- mula dilakukan analisis struktur dilakukan secara 3 Dimensi menggunakan bantuan program SAP 2000 dengan asumsi yang digunakan sebagai berikut: 1.5 6 21.40 4.80 925 59 925.118.457.8 7 24.80 1.99 32.118.8 3 10.7 Ig 3.0 9.515.9 37.8 2 7.58 9.405.27 42.0 9. Tiap balok didefinisikan sebagai balok T 2.6 51.5 9.118.272.39 37.493.118.7 262.118.6 1.7 Ig • Untuk kolom persegi = 0.411.8 Jumlah 62. Ph.44 12.1 13.538.5 9.50 6 405 538 1 6.522.83 13.35 Ig = 0.848.606.80 231.4 1 3.40 1.3 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .8 5 17.7 5.80 462.029.3 66.572.19 19. Pertimbangan adanya retak sepanjang bentang komponen.178.693.410.460.388. maka komponen struktur direduksi Momen Inersia sbb.80 11.0 9 118 80 9.976.619.189.797.226.86 15.678.166.80 694.5 62.118.132.531.48 3.80 1.5 4 14 0 14.Tavio.846.80 1.156.59 26 50 26.0 7.79 40.: • Untuk balok T = 2 x I balok = 2 x 0.182.Indonesia Page: 8 . Hasil analisis disimpulkan di Tabel Analisa T Rayleigh akibat gempa arah sumbu Y 2 Lantai hx Wi F di Wi di F di ke - 2 m kN kN mm kN mm kN mm 8 28.D Struktur Beton II MENGHITUNG T RAYLEIGH Untuk menghitung besarnya T rayleigh.5 9.87 1.1 24 531 8 24.5 9.45 180.780.284.

Tavio.98 = 0.2.4. Hasil Analisa Struktur HASIL ANALISA STRUKTUR DAPAT DILIHAT PADA TABEL SEBELUMNYA Syarat pemodelan untuk efektifitas momen Inersia (penampang retak).182.846.98 9.3 63 = 0.20% x 0.3 „ Nilai T yang diijinkan = 0.D Struktur Beton II 62.5 (1).783dt „ Karena T1 = 0.88 > TRayleigh = 0.35 x 2 Ig balok biasa Kolom 0. •Berat masa tiap lantai di kenai eksentrisitas ed sesuai Ps 5.783.Indonesia Page: 9 . Ph. •Ec pakai ketentuan Pasal 10. •Kolom •Hasil gaya di ujung balok dibuat untuk nilai di muka kolom.3.848. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .98 .7 Trayleigh = 6. maka T1 hasil empiris yang dihitung di atas memenuhi ketentuan Ps 6.. yaitu : Balok T: 0.7 Ig kolom.800 x 262.

8 9 5 7 8 .6 4 2 4 0 4 .9 3 3 6 0 .1 7 7 .9 3 .3 3 4 0 7 .7 4 3 6 0 .7 8 .9 5 .8 4 3 6 0 .2 0 . Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .9 5 3 6 0 .3 2 1 .3 6 3 3 1 .Tavio.3.3 0 2 .5 4 3 8 0 .2 0 2 . A x ia l k o lo m (k N ) Kinerja Batas Layan (Δs) dan Kinerja Batas Ultimit (Δm).9 2 5 7 8 .6 5 9 .9 5 .9 3 .7 8 .0 6 .1 .3 6 0 .Indonesia Page: 10 .3 7 5 .2.3 4 0 .3 0 3 4 3 .3 8 8 .2 7 .3 7 6 .2 di atas.3 6 0 .7 4 .5 3 6 4 1 .7 7 5 .4 0 a .3 6 0 .9 3 .3 2 2 .0 .0 9 3 4 3 .0 0 .3 8 3 . dimana ΔM tiap lantai di hitung sesuai Ps 8.1 5 7 .3 6 0 .3 3 6 .5 5 3 7 5 .9 4 .8 0 4 0 2 .8 0 4 0 7 .0 2 .7 3 . „ Tabel 8-4 memberikan nilai ΔM dan nilai ΔS tiap lantai yang diperoleh dengan asumsi ketentuan- ketentuan tersebut di butir 8. Selain itu drift antar tingkat dari ΔS dan ΔM juga di sajikan di Tabel 8-5.1 5 3 .4 0 4 .9 0 6 4 3 .1 5 3 .2 2 3 2 2 .5 5 . yaitu ΔM = ξ R ΔS.8 3 .3 2 2 .1 5 7 .3 6 0 .3 8 0 .0 9 3 4 2 .3 6 1 .3 6 0 .3 3 6 .9 5 .8 .4 5 0 .8 2 1 7 9 1 .0 2 1 3 5 5 .3 4 0 .3 8 8 .0 6 3 7 5 .1 7 7 .0 1 1 .8 9 . Ph.8 2 .D Struktur Beton II 3 3 8 3 .4 0 .0 0 . M o m e n K o lo m (k N m ) 3 5 0 9 .7 8 2 4 4 . untuk memenuhi syarat kinerja batas layan.2 7 1 .2 0 2 .7 9 1 .5 3 .8 5 3 2 1 .5 6 .3 7 5 .3 3 1 .5 3 6 4 3 .8 5 .5 6 .1 .8 6 .0 1 0 .6 4 .2 2 .7 7 2 6 5 9 .5 3 c .9 0 b .3 6 .0 0 .9 1 1 8 2 .9 3 .8 4 .8 3 3 2 2 .9 1 3 4 2 .9 2 6 4 1 .8 3 .9 4 .9 3 .2.2 0 .3 5 5 .0 .5 0 9 .7 8 4 0 2 .5 4 .3 3 1 .8 6 3 7 6 .4 5 8 .7 3 1 8 2 . jika drift ΔS antar tingkat tidak boleh lebih besar dari atau 30 mm.5 .1. „ Menurut Ps 8.8 3 .3 6 1 . M o m e n t B a lo k (k N m ) 3 .0 0 2 4 4 .

02 x 3.14 7.5 34.02 .1 membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan struktur yang akan membawa korban jiwa manusia dengan membatasi nilai drift ΔM antar tingkat g tidak boleh melampui p 0.73 12. di samping untuk mencegah kerusakan non struktural dan ketidaknyamanan penghuni.2.35 OK 7 24.88 12.5 20.Tavio.08 12.08 12.61 7.35 OK 6 21.74 5.0 39. „ Ternyata pembatasan ΔS dan ΔM antar tingkat untuk SRPM yang di hitung di penuhi.45 12.69 8.35 OK 3 10.59 6.45 2.35 OK 2 7. antar tingkat drift Δs m mm mm mm 8 28. Perlu di ketahui bahwa UBC 1997 tidak mengadakan pembatasan ini. Tapi p p mensyaratkan y dilakukan perhitungan efek P-Δ (untuk zone 3 dan 4 yang setara WG 5 dan 6) bila drift antar tingkat melebihi 0.500 = 70 mm.02 hi / R.63 12.D Struktur Beton II „ SNI 1726 menetapkan ini untuk membatasi terjadinya pelelehan baja dan peretakan beton yang berlebihan.35 OK 5 17.35 OK 4 14. „ Selanjutnya Ps 8. Ph.0 12.45 12.37 3.15 12.35 OK Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .0 45. x tinggi gg tingkat yang bersangkutan.5 43.5 4.73 4.0 28.Indonesia Page: 11 . = 0. Analisa Δs akibat gempa arah U-S Lantai hx Δs drift Δ s Syarat Keterangan ke.35 OK 1 3.

08 12.0 5.15 30.00 OK 5 17.Indonesia Page: 12 . OK 1 3.0 .35 70.00 OK Catatan: „ Bila efek P-Δ sesuai ketentuan UBC-1997 diterapkan di sini.0 7.88 .5 8.73 28.5 6.02 hi / R = 0.35 70. 70.88 . BACK ANALISA BEBAN GRAVITASI Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .00 OK 4 14.45 38.45 44.08 48.02 x 3.5 4.5 = 8.00 . Ph.D Struktur Beton II Analisa Δs akibat gempa arah U-S Lantai hx drift Δ s drift Δ m Syarat Keterangan ke. 46.Tavio.07 70. 7.00 OK 7 24.00 OK 2 7.5 3.63 21.500 / 8.37 70.00 OK 6 21. ternyata semua „ drift Δs antar tingkat < 0.24 mm. antar tingkat antar tingkat drift Δ m m mm mm mm 8 28. „ jadi tidak perlu perhitungan efek P-Δ.00 OK 3 10.14 70.0 2.61 70.66 70.

3 sebagai mana dicantumkan di Tabel 8 8-6 6 berikut ini : Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya . Beban di lantai dan balok † Momen momen di lantai dan balok akibat beban Momen-momen gravitasi di taksir dengan menggunakan nilai momen pendekatan.3 (3).Tavio. akan dipakai momen pendekatan di Pasal 10. yang memenuhi semua syarat geometris dan batasan beban tersebut di Pasal 10.D Struktur Beton II Analisa Beban Gravitasi † Beban di lantai dan balok † Beban kerja aksial di kolom. Ph. Untuk balok-balok rangka ini.Indonesia Page: 13 .

Indonesia Page: 14 .227 terluar 16 Bentang Positif w ln2 58.118 25 057 25.40 kN/ m Berat dinding= 0.227 16 „ Catatan: „ ln = 6.057 11 Dalam Positif w ln2 50.58 kN/ m „ w beban hidup: beban hidup (q) = 2.5 x 0.530 27.7 x 2.563 interior 10 Bentang Negatif w ln2 74 118 74.236 19.00 1 00 x 0 0.25 m „ w beban mati terdiri dari: pelat lantai = 1 x 0.15 x 1.51 = 14.7 x 24 = 8.45 0 45 kN/ m2 ---------------------------------------------- Jumlah q = 3. Ph.956 17.50 kN/ m2 q ekuivalen (w) = 4 x 2.51 kN/ m2 q ekuivalen = 4 x 3.04 kN/ m Berat balok = 0.88 kN/ m2 Plafon = 1.8 = 7.D Struktur Beton II Bentang Lokasi Besar MD ML momen (kN m) (kN m) 1 2 3 4 5 Negative w ln2 50.75 = 5.18 = 0.45 45 = 0.18 kN/ m2 Spesi + tegel = 1.956 17.Tavio.14 kN/ m ------------------------------------------------- w beban mati = 29.00 x 0.688 Ujung 14 Negatif w ln2 81.5 = 10 kN/ m Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .12 x 24 = 2.0 – 0.

50 126.75 118. 1727-1989 { Di Tabel 8-7 dan 8-8 berturut-turut disajikan beban kerja aksial di kolom luar dan kolom dalam.00 18.50 27.D Struktur Beton II Beban kerja aksial di kolom.51 2.50 144.Tavio.51 2.72 199.00 1.00 1236.50 72.50 90.51 2.00 0.00 1418.00 1.00 870.50 27.50 108.Indonesia Page: 15 .06 1.80 Lantai 4 3. kolom dan dinding Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .50 27.00 1.00 322. dan beban hidup yang harus memperhitungkan reduksi beban dan tributary area yang diatur oleh SNI 03- 1727 1989.51 2.50 36. plafon.60 10.00 505.10 91.80 Lantai 3 3.80 Lantai 6 3.80 Lantai 7 3.00 1.51 2.80 Lantai 5 3.80 Lantai 2 3.41 145.00 688.80 Lantai 1 3. Beban Kerja Aksial di Kolom Luar Rangka Baris 5 Beban Beban Luas daerah 40% reduksi Beban Σ Σ *) mati Hidup kolom beban hidup Hidup b mati b hidup 2 2 2 2 2 (kN/m ) (kN/m ) (m ) (kN/m ) (kN/m ) (kN) (kN) Lantai 8 3.13 10.51 2.50 27.51 2.80 140.50 54. tembok.44 64.00 1.80 *) = termasuk berat balok.50 27.06 172.79 37.50 27.50 27. tegel dll. { Perhitungan beban kerja aksial di k l kolom meliputi li ti b beban b mati. ti yang berupa berat sendiri struktur dan beban tetap lain-lainnya berupa berat M & E.00 1053.00 1.00 1. Ph.

08 129.55 75.51 2.50 216. kolom dan dinding BACK KOMBINASI BEBAN Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .60 Lantai 2 3.00 0.00 892.51 2.60 Lantai 5 3.50 54.00 2539.50 72.60 Lantai 1 3.60 Lantai 3 3.01 21.50 54.00 1.50 144.00 1.51 2.51 2.00 1221.00 1.22 345.06 1.50 288.60 Lantai 6 3.D Struktur Beton II Beban Kerja Aksial di Kolom Dalam Rangka Baris 5 Beban Beban Luas daerah 40% reduksi Beban Σ Σ *) mati Hidup kolom beban hidup Hidup b mati b hidup 2 2 2 2 (kN/m ) (kN/m ) (m ) (kN/m ) (kN) (kN) (kN) Lantai 8 3.00 1.00 1.50 54.62 183.50 54.60 *) = termasuk berat balok.50 180.00 1551.69 291.50 54.50 54.76 399.15 237.50 252. Ph.50 54.50 108.51 2.00 562.00 1880.51 2.60 Lantai 4 3.51 2.60 21.00 2210.Indonesia Page: 16 .00 1.60 Lantai 7 3.Tavio.60 233.00 36.00 1.

2 sebagai berikut (hanya di tulis yang relevan untuk contoh ini) : • 1.2 + 1.2 + 1.0 • 0.Tavio.4 D • 1.6 L.D Struktur Beton II KOMBINASI BEBAN Kombinasi beban disain telah di tetapkan di Pasal 11.Indonesia Page: 17 .9 10E • 1.0 E BACK DESAIN BALOK DAN LANTAI Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .0 L ± 1. 0 9 ± 1. Ph.

Tavio.8 x 314 x 400 (95 – 4.298 kN m > M pelat = 8.85x30 x1.148 kN m (OK) Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .85.1 bil φ 10 mm jjarak diambil k 250 mm (A (As = 314 mm2 per m’) baik untuk di lapangan maupun di jepitan keempat sisinya.4.93 mm 0.93/ 2) = 9.000 • φMn = φ As fy (d – ½ a) = 0. • Kuat momen terpasang (φMn) palat dapat dihitung sebagai berikut: • a = As. fc. Ph.b 0.Indonesia Page: 18 . fy = 314x400 = 4. • Penulangan Lantai • Penulangan balok akibat momen lentur • Disain Tulangan Geser Balok • Pemutusan Tulangan Balok Penulangan Lantai • Penulangan lantai untuk momen tersebut di butir 8 4 1 di 8.D Struktur Beton II Disain Balok dan Lantai.

Tavio.0 0 2 1 .9 2 . syarat-syarat 23 2 23 7 disamping pasal 3-19.8 6 N e g a t if t e rlua r 3 5 8 .1 7 3 0 9 .9 6 N e g a t if int e rio r .8 6 No K o m b ina si N e g a t if t e rlua r .0 0 G e m p a ( E) P o sit if 0 .6405 = 2.5 3 7 1 .8 6 2 5 5 .1 2 9 .2 7 .Resume Momen H id u p ( L ) P o sit if 1 9 .4 D P o sit if 8 1 . Ph.3 4 N e g a t if int e rio r .8 8 0 .9 D + 1 .0 0 M ati (D ) P o sit if 5 8 . „ Ratio > 0.0 E P o sit if 5 2 .25 m > 4 d = 4 x 0.0 00 .1 4 . Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .1 2 N e g a t if t e rlua r .3 7 5 .2 D + 1 .7 1 .5 0 .D Struktur Beton II Penulangan balok akibat momen lentur Beban Lo ka si B e nt ang U ju ng ( kN m ) D a la m ( kN m ) N e g a t if t e rlua r .7 4 .7.6 L P o sit if 1 0 1 .2 23 0 .3 9 0 .4 5 3 .1 5 2 6 1 .6 4 0 .2-23.0 0 .3 8 8 8 .5 3 .2 D + 1 .1 4 1 .8 1 .0 0 1 1 . Untuk komponen balok berlaku Pasal 23.5 0 5 .8 6 N e g a t if int e rio r .9 6 0 .0 0 4 0 .6 9 1 7 .5 6 3 0 7 .2 4 5 0 .4 4 2 .Indonesia Page: 19 .0 0 3 1 .5 7 7 8 .4 8 9 .1 1 4 .2 5 .8 8 . khususnya untuk WG 5 dan 6 berlaku syarat syarat tersebut di Pasal 23.5 d.0 3 N e g a t if t e rlua r 3 2 5 .1 7 .3 (1) berikut ini : „ Beban aksial tekan terfaktor memang kecil sekali.9 4 .0 L + 1 .0 0 baris no 5 lantai 2 N e g a t if int e rio r . „ Bentang bersih min 5.3 7 N e g a t if int e rio r .3 8 0 .1 0 3 .1 5 Sebelum dilakukan penulangan baiknya dilakukan kontrol syarat-syarat komponen beton bertulang yang merupakan bagian dari SPBL tersebut di Pasal 23.0 0 .1 5 0 .4 4 9 .3 4 0 .5 6 .4 1 4 5 . „ bw = 500 < lebar kolom + 1.7 7 N e g a t if t e rlua r .3 „ bw = 500 > 250 min.0 6 Balok Rangka N e g a t if t e rlua r 4 0 4 .7 1 N e g a t if int e rio r .2 3 Disain Di N e g a t if int e rio r .0 E P o sit if 8 9 .56 m.2 (1(4)).7 1 0 .5 5 .9 5 .0 0 0 .4 8 2 .0 2 0 .

375 120 00 700 0 70 d 10 250 dp10-250 500 5.375 1.134 248.120.120.1 bal.7 balok persegi 255.3 Positive 88.5 mm2 As min = 1.Tavio.418 345.549. Ph.375 mm.3 4 D19 = 1.15 1. Mu As perlu As terpasang φ Mn Ket.9 balok Span persegi 261. Neg -505.Indonesia Page: 20 .096.9 mm2 As max = 8.4b d = 1.3 5 D19 = 1. 1 2 3 4 5 6 7 Ext.134 248. T Span Int.38 1.6 9 D19 = 2. Neg -482.9mm w 2 fy . Tiap potong balok harus ada tulangan min 1.507.1 bal.835 576. h = 700 mm.639. be = 1.64 1.86 2.3 6 D19 = 1.95 2.701 334.701 362.656.134.3 balok persegi 325.096.2 9 D19 = 2.552 553.1 mm2 dp10-250 dp10-250 1.500 m 500 Penulangan Tipikal Lantai Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .3 4 D19 = 1.71 1.006.34 2.320.D Struktur Beton II Penulangan Balok Rangka Tingkat 2 basis 5.86 1. dengan As = 1. T Interior Negatif -489.285.552 492.3 mm2 Balok berukuran b = 500 mm. Lokasi (kN m) (mm2) (mm2) (kN m) .0 6 D19 = 1.ini dipenuhi oleh tulangan 4 D19.1 • Catatan: As D19 = 283.0 End Positive 101.1 10 D19 = 2.

3 (2(2)) : Di tiap potongan sepanjang balok tidak boleh ada kuat momen positif maupun negatif yang kurang dari ¼ kuat momen max = ¼ x 576. † Pasal 23. maka h atau d = 640.25 m 6.2 KNm → OK. Ini di penuhi pula oleh tulangan min tersebut di atas. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .5xM.1 mm2.= 288.0 m Penulangan Balok Rangka Tingkat 2.D Struktur Beton II 750 mm 750 mm 9 D19 4 D19 10 D19 700 mm 4 D19 6 D19 6 D19 5.3 (2(1)) : Tiap potongan baik di sisi bawah maupun atas harus ada 2 batang tulangan. baris 5 Selanjutnya perlu di kontrol pula pemenuhan ketentuan- ketentuan berikut ini : † Pasal 23.5 (1(4)) : Bila tulangan longitudinal menembus HBK. † Pasal 23. Tiap potongan terpasang 4 φ 19 = 1134. Di ujung bentang tengah syarat ini juga di penuhi → OK.3 > 0.Indonesia Page: 21 . † Pasal 23. ini ekivalen dengan kuat momen sebesar 226 KNm > 144.7 = 144. Ph.Tavio.5 mm > 20 db = 380 mm → OK. ini di penuhi karena M+ = 362.3 ((2(2)) ( )) : Kuat momen p positif terpasang p g di muka kolom > 50 % kuat negatif.35.2.

Ph. 25 x 400) = 111.D Struktur Beton II Disain Tulangan Geser Balok † Pasal 23.1 kNm Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya . ggaya y ggeser rencana Ve harus ditentukan dari peninjauan gaya statik pada bagian komponen struktur antara dua muka tumpuan † Momen Mpr dengan tanda berlawanan gg p bekerja dianggap j pada p muka-muka kolom tadi dan komponen struktur tersebut di bebani penuh beban gravitasi terfaktor † Ve harus di cari dari nilai terbesar akibat beban gempa arah ke kanan dan ke kiri. Rumus berikut boleh dipakai untuk menghitung Mpr.85.2 mm = 0.85 x30 x500 „ Mpr = As (1.5 – 111. ). Mpr harus di hitung dari tulangan terpasang dengan tegangan tarik 1. „ Mpr= As (1.835 (1.b Untuk kasus balok di bentang ujung oleh arah gempa ke kanan akan dihasilkan momen Neg (Mpr-) sebagai berikut: Tulangan g terpasang p g = As =10 φ φ19 = 2.25 fy) (d-) „ a = As(1.3 ((4).Indonesia Page: 22 .25 fy dan faktor reduksi φ = 1. 25 fy ) 2.835 mm2 „ a = As (1.2/2) = 829. fc'.0.835 x (1.25 x 400) (640.25 fy ) 0.= 2.25 fy)(d .Tavio.85 fc' b 0.

3 lantai 2 Gempa Kanan + b G i i Gravitasi -137.8 Gempa Kiri + B Gravitasi 361. Selain ditunjukkan pengaruh beban gravitasi.4 829.29 Disain gaya geser 516. dihasilkan momen positif (Mpr+) berdasarkan tulang terpasang 6 D 19 =1. sebesar 516.D Struktur Beton II „ Dengan cara yang sama.1 -122.701 mm. untuk bentang ujung ini.Indonesia Page: 23 . Ph. „ Gambar 8 8-5 5 memberi ilustrasi perhitungan Ve untuk balok di bentang ujung rangka baris no 5 pada tingkat 2.1 untuk balok ujung Gempa Kanan di rangka baris 5 -256.5 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya . 750 mm 750 mm 9 D19 4 D19 10 D19 700 mm 4 D19 6 D19 6 D19 525 cm 600 cm 1 2 D + L = 45 1.2 45.4 kNm.Tavio. Dapat diamati bahwa Ve maximum hasil kombinasi gaya geser desain selalu lebih besar dari Ve hasil analisa struktur.8 -241.0 375. ditunjukkan pula besar Mpr negatip dan positip dari gempa arah kanan dan kiri.29 119.3 516.6 753.3 256.496 496 Beban Gravitasi 119.4 Gempa Kiri 241.

Tavio.75 { Koefisien reduksi diambil 0.(4(2)) yang menyatakan Vc = 0 apabila : 1.8 kN Sehingga = φ 0. Ph.5 total geser (akibat Mpr + beban gravitasi) dan 2.3.3 > 0.8 187 8 kN { gaya aksial yang kecil sekali maka Vc = 0 Vn 375.D Struktur Beton II „ Biasanya kuat geser ditahan oleh beton (Vc) dan tulangan dalam bentuk tulangan transversal. G Gaya aksial k < Ag fc ' k i l ttekan 20 Dalam Kasus ini { karena gaya geser akibat gempa = 256.6 = 500.75 karena Vn diperoleh dari Mpr balok (Pasal 11.5 0 5 x 375.6 375 6 = 187. Namun pada komponen struktur penahan h SPBL b berlaku l k kketentuan t t P Pasall 23.Indonesia Page: 24 .3(2(3)) Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya . Gaya geser akibat gempa saja (yaitu akibat Mpr) > 0.

8 x 10 3 „ Kontrol kuat geser nominal tak boleh lebih besar dari Vs max (Pasal 13.5 x =1.5(6(8)) Vs max = 2/3 bw d = 2/3 x 500 x 640.3 ((3(1)) ( )) dipakai p jjarak s = 120 mm. Ph.4 mm = Vs 500.D Struktur Beton II „ Dengan memakai tulangan geser 3 kaki φ 12 mm (Av = 339 mm2) diperoleh s sebesar „ s = A v f y b 339 x 400 x 500 = 135.400 mm tidak boleh lebih besar dari (Pasal 23 23.169.3(3(3)) „ smax sepanjang sendi plastis diujung balok 2h = 2x 700 = 1.4 > 488.31 kN Juga Vs < 1/3 bw d = 1/3 x 500 x 640 640.55 x = 584 584.7 7> 488.Indonesia Page: 25 . Longtdinal = 152 mm = 24 db hoop = 240 mm = 300 mm dengan g hasil ini sesuai ketentuan p pasal 23.3 3 (3(2)) d s max = = 160 mm 4 = 8 db tul.Tavio. hoop pertama φ 12 mm dipasang 50 mm dari muka kolom di kedua ujung balok. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .31 kN „ Catatan bahwa 3 kaki φ 10 juga memenuhi kebutuhan tulangan transversal untuk penahan tekuk tulangan longitudinal (Pasal 23.

dd 226 x 400 x 640.07 Vs = = = 265. 12 mm Av = 226 mm2.5 640 5 = 218 mm s= = Vs 265.4 dan 13.3.42 kN φ 0 .D Struktur Beton II „ Pemasangan begel di luar sendi plastis (di luar 2h = 2 x 700 = 1. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .3.ff y . Ph. maka A v .450+1 = 13 buah di s 200 bagian tengah balok.400 mm) Vu = 199.Indonesia Page: 26 .42x 103 „ Syarat pemasangan begel di luar sendi plastis ((Pasal 23.07 kN (pada jarak 1.Tavio.400 mm) Vu 199. 75 Jika dipakai begel 2 kaki dengan dia.3(1(11)) p ( ( )) : …½ d = ½ x 640.5 = 320 mm „ Jadi dipasang begel 2 dp12 – 200 sebanyak ln− 4h +1 = 2.

2. Ph. harus dipakai kombinasi beban 0.92 kNm dihitung sebagai berikut .3.62 .1 = 226 x2 .x + 829.326.9D 0 9D + kemungkinan kuat momen Mpr diujung komponen.24.62 kN/ m 26. karena itu 6 φ19 boleh dihentikan bila kuat momen perlu sudah menurun menjadi 226 kNm (lihat Gambar 8-6) Jarak penampang dengan Mn = 208.11 kN m q = 26.Indonesia Page: 27 . ½ x2 . Kuat momen nominal (φMn) dari 4 φ19 adalah 226 kNm. Diketahui Mpr = 829 829.(2(1)) { Agar diperoleh panjang penghentian terbesar.3 = 0 diperoleh x = 2 2.01 01 m Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .5 x + 45.D Struktur Beton II Pemutusan Tulangan Balok { Contoh perhitungan lokasi penghentian tulangan negatif di atas perletakan interior balok bentang ujung { Tulangan diatas perletakan ini ada 10 φ 19 dan misalkan akan dihentikan sekaligus 6 φ19 setelah memenuhi Pasal 23.Tavio.

1 5.65 ≈ 2.019 = 2 24 m dari muka kolom 2.4 a 829.Tavio.1 Gambar 8-6 Diagram momen untuk penghentian tulangan negatif pada perletakan interior „ Sesuai Pasal 14.4 1.2 516.25 m -186.7 m (menentukan) atau l = x + 12.01 + 0.6405 = 2.db = 2.10(3) Tulangan 6 φ 19 akan dihentikan sejauh = (pilih yang lebih besar) = l = x + d= 2. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .62 kN/ m a 516.Indonesia Page: 28 .33 x = 2. Ph.42 326.24 kolom.9 D = 26.01 226 829 1 829.D Struktur Beton II 0.01 + 12 x 0.

Tavio.λ = d b 10 fc ' ( c + K tr ) db Dimana.2 7 x2 „ γ = 0.β .0 db 19 „ Ktr = 0 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .3 c = 40 + 10 +19/2 = 59.D Struktur Beton II „ Panjang = 2.7 m ini harus lebih panjang dari yaitu panjang penyaluran (Pasal 14 10 (4)) yang dihitung dengan rumus 14.10.Indonesia Page: 29 . „ α = 1.2 + 0 = = 1.43 „ λ = 1.2 mm 500 − 2(40 + 10) − 19 „ β = 1.2(3) ld 9 fy α .5 pakai c = 27.(4)) tersebut di pasal 14.0 c= = 27. Ph.8 c + K tr 27.∂.

10 (5(1)) atau 14. Ada 2 pilihan pengamanan sebagaimana tersebut di Pasal 14.Indonesia Page: 30 .34 m dari muka kolom > = 2 2.91 m ternyata l = 2. „ Perlu diamankan pula bahwa penghentian tulangan ini tidak boleh dilakukan didaerah tarik kecuali kondisi Pasal 14.D Struktur Beton II ld 9 fy α . titik balik momen kira-kira berada 3. Karena tempat penghentian berada di daerah tarik.Tavio.8 x1 Jadi = = = 47.3 x1.2 db ld = 47.10 (5(2)).7 > ld = 0.8 db 10 fc' (c + K tr ) 10 x 30 27.γ .91 m jadi panjang 6 φ19 dipasang p g sepanjang p j g 2.7 7 mm mm.λ 9 x 400 1.10(5) dipenuhi. Dalam kasus ini.0 x0.8 x 19 = 908 mm = 0.β . perlu ada pengamanan.7 m dari muka kolom. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya . Ph. Dicoba dulu solusi kemungkinan Vn dari tulangan geser terpasang lebih besar dari gaya geser berfaktor Vu.

8 dari muka kolom.25 .65. m sehingga gg tidak ada sisa untuk pemutusan tulangan dari kiri maupun kanan. namun jumlah pemutusan tulangan d dapat t dilakukan dil k k lain.D Struktur Beton II 2 2 φ Vn = x0.8 m) karena 2/3 φ Vn > Vu maka penghentian 6 φ 19 Boleh dilakukan pada = 2.03 kN = 305.640.400. Prosedur pemutusan tulangan dari tumpuan kiri yang berjumlah 9 D19 lalu dihentikan sebanyak 5 D19.75(Vs + Vc) 3 3 ⎛ 235.8 kN (pada jarak 2.5 m Mengingat g g bentang g bersih balok 5.5 30 ⎞ ⎜ + 500. selanjutnya diteruskan 9 D19.03 kN > Vu = 52. maka tulangan 10 D19 hanya diputus 1 D19. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya . l i sesuaii pertimbangan ti b praktis.Tavio. dapat dilakukan sama seperti di atas. Pemutusan sebagian 6 D19 dapat dilakukan seperti contoh di atas sesuai kebutuhan. „ Catatan Contoh ini memberi ilustrasi pemutusan tulangan 10 D19 menjadi 4 D19. diperoleh sebesar 2.640. Ph. kti Momen positif di kedua ujung balok menggunakan tulangan 6 D19 yang menurut Pasal 23.Indonesia Page: 31 .75 ⎜⎝ 190 6 ⎠ = 305.5 ⎟ ⎟ = 2/3 x 0.3.(2(2)) hanya perlu diteruskan 4 D19.

Sesuai Pasal 23.5 (1.200 3 dp12 .4 √fc’ „ Jadi = 260 mm masuk dalam kolom dengan panjang kait 12 db = 228 mm ((Pasal 9.= 257 mm 5.5.000 mm Gambar 8-7 Detail Penulangan Balok Bentang Ujung Rangka baris 5 tingkat 2 BACK Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .450 1. Ph.(2) ( ) seperti p dapat p dilihat p pada Gambar 8-7 750 mm 750 mm 2.400 2.120 1.400 6.1.700 mm 260 mm 9 D19 10 D19 6 D19 50 mm 50 mm 3 dp12 .Indonesia Page: 32 .Tavio.D Struktur Beton II „ Tulangan longitudinal yang masuk dan berhenti dalam kolom tepi yang terkekang (Pasal 23. atau fy db = --------.120 2 dp12 .(4(1)) ldh diambil yang lebih besar dari = 8 db = 8 x 19 = 152 mm = 150 mm.(3)) dan harus berupa panjang penyaluran dengan kait 900.

B2) dan Tabel 8-13 dan 8-14 untuk kolom tepi (eksterior. Ph.D Struktur Beton II DESAIN KOLOM Di bawah ini diberikan garis besar disain kolom tepi dan tengah di rangka baris 5 di bawah lantai 2.Tavio. Tabel 8-11 dan 8-12 memberikan beban-beban desain untuk kolom interior (tengah.Indonesia Page: 33 . Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya . A2).

34% tulangan.85 x 30 x 7502(1- 1.80 φ [0.85fc’ (Ag-Ast)+(fy x Ast)] = 0.2 .926.53 arah gempa U-S (lihat Gambar 8-2) jadi efek orthogonal Ps 5.80 x 0.34% x 7502] = 8.Indonesia Page: 34 .8.8.1 y yang g berbunyi: y efek orthogonal tidak diperhitungkan bila beban aksial oleh salah satu arah beban gempa < 20% beban aksial maximal kolom yang bersangkutan.2 tidak diterapkan dalam desain ini.846.785 kN > 791.65 [0.D Struktur Beton II Pengaruh beban gempa orthogonal Menurut Ps 5.34%)+ 400 x 1. Tapi untuk menggunakan ketentuan ini.Tavio. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .3 (5(2)) : φPn max = 0. maka kapasitas beban aksial adalah (Pasal 12. Bila diasumsikan kolom-kolom berukuran 750 x 750 mm memakai 1. akan dimanfaatkan pengecualian efek orthogonal ini sesuai UBC Section 1633.0 N ∼ 8. Ph.0 kN 20% φ Pn = 1.Pengaruh gempa dalam arah utama harus dianggap gg p terjadi j bersamaan dengan g 30 % dalam arah tegal lurus pada arah utama pembebanan tadi .925.

15 401 57 401.D Struktur Beton II Penulangan memanjang kolom Syarat dimensi kolom menurut Pasal 23.20 -7.38 -19.Indonesia Page: 35 .90 *) Hidup (L) 403 20 403.5 kN „ karena 1.4 Æ OK h 750 Kesimpulan beban Pu dan Mu pada kolom tengah antara lantai 1 dengan 2 Jenis Beban Axial (kN) Momen (kN m) Mati (D) 2.30 3.95 407.26 4 0.297.6 L 3.2D + 1.5 kN ini lebih kecil dari beban aksial terfaktor yang tercantum di Tabel 8-11 s/d 8 14 maka berlaku 8-14 ‰ ukuran penampang terkecil 750 mm > 300 mmOK ‰ rasio b = 750 = 1 > 0.9D 0 9D + 1 1.6(9(2)) Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .99 *) pakai rumus (92) pasal 13.57 1.66 2 1.0E 3.988.210.41 392.4 D 3.0E 0E 1 990 15 1.094.054.056.Tavio. Ph.990.fc’/10 „ = 7502 x 30/10 = 1.78 No Kombinasi beban 1 1.4(1) harus dipenuhi bila: „ kolom sebagai bagian SPBL „ menerima beban aksial berfaktor lebih besar dari Ag.22 -6.25 -413.51 -423.31 -9.20 7 20 *) Gempa (E) 0.80 3 1.687.0L + 1.2 D + 1.687.

9D + 1.2D + 1.90 *) Hidup (L) 291.D Struktur Beton II Tabel 8-12 Kesimpulan beban Pu & Mu pada kolom tengah antara lantai 2 dengan 3 Jenis Beban Axial ((kN)) Mom en ((kN m ) Mati (D) 1.553.Tavio.687.0E 1.67 2 1.66 2.26 +) Momen neg.0E 1.48 -35.4 D 2.97 -9.48 +) Hidup (L) 172.15 *) pakai rumus (92) pasal 13.586.772.6(9(2)) Tabel 8-13 Kesimpulan beban Pu dan Mu pada kolom tepi antara lantai 1 dengan 2 Jenis Beban Axial (kN ) Mom en (kN m ) +) Mati (D) 1.143.20 *) Gem pa (E) -5.42 4 0.62 355.60 3 1.880.62 -368.10 213.Indonesia Page: 36 . terluar/ 2 (lihat Tabel 8-6) Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .62 Gem pa (E) 659.75 996 25 996.6 L 1.40 452.33 No Kom binasi beban 1 1.25 -283 283.80 -8.94 No Kom binasi beban 1 1.82 244.73 1.63 -267.0L + E 2.00 361.236.697.83 353.06 -25.0L + E 2.4 D 1.69 -6.6 L 2. Ph.75 3 1.9D + 1.730.42 377.251.632.52 52 4 0.79 -12.95 -35.2 D + 1.66 2 1.431.43 -377.2 D + 1.28 221.60 -7.2D + 1.

60 -8. Seperti terlihat di Gambar 8-8.202.9D + 1.880.39 179. Ph.79 -36.2 D + 1.36 4 0.766. kolom tengah (B2) cukup diberi tulangan sebanyak 1.99 +) Momen neg. sebuah diagram interaction yang dibuat dengan program PCACOL D PCACOL.18 3 1.632.4(3(1)) yaitu harus diantara 1% .85 -225.182.77 202.97 -36.60 171.34 % untuk kolom tepi dibawah lantai 2 (A2). Dengan cara sama di diperoleh l h ttulangan l 24 φ 20 atau 1.6 L 2. terluar/ 2 (lihat Tabel 8-6) „ Berdasarkan kombinasi beban di Tabel 8-11.0E 2.2D + 1.34 % atau 24 φ 20.0L + E 2. telah dipenuhi.66 -242.62 Gempa (E) 509. inter action diagram kolom ini disajikan di Gambar 8-10.038.D Struktur Beton II Tabel 8-14 Kesimpulan beban Pu dan Mu pada kolom tepi antara lantai 2 dengan 3 Jenis Beban Axial (kN) Momen (kN m) +) Mati (D) 1.Tavio.69 -25.73 No Kombinasi beban 1 1.Indonesia Page: 37 .431.6%. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .47 1. Prosentase tulangan kedua kolom ini sesuai syarat Pasal 23.18 2 1.84 +) Hidup (L) 291.72 2.4 D 2.

087 Gbr.6 1 042 1.3 1.Tavio.042 Gbr 8-9.988. Ph.687.D Struktur Beton II 1. Diagram Interaksi Kuat Rencana Kolom tengah antara lantai 2 & 3 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya . 8-8 Kuat rencana diagram Interaksi Kolom Tengah antara Lantai 1 & 2 1.Indonesia Page: 38 .

Dalam hal ini hanya kombinasi beban dengan beban gempa yang dipakai untuk t k memeriksa ik syaratt strong t column-weak l k beam ini.” „ Sesuai filosofi “Capacity Design”. 452. konsisten dengan arah gempa yang ditinjau.4(2) mensyaratkan ∑Me>Perlu dipahami b h bahwa Me M harus h dicari di i d darii gaya aksial k i l terfaktor yang menghasilkan kuat lentur terendah. maka Pasal 23.6 873 Gbr 8-10.Tavio. Diagram Interaksi kuat rencana kolom tepi antara Lantai 1 & 2 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .Indonesia Page: 39 . Ph.D Struktur Beton II Persyaratan “Strong Columns Weak Beams.

129 kN m 6/5 ∑Mg = 6/5 x 1.042 042 kN yang dihasilkan dih ilk d darii P Pu terkecil = 1.Indonesia Page: 40 . Ph.091. kuat momen nominal balok-balok yang bertemu di HBK dengan memperhitungkan tulangan pelat lantai selebar be yang menyatu pada balok. Dengan cara yang sama Me untuk kolom tengah di bawah lantai 2 didapat.25 kN (lihat Tabel 8-11).089 kN m. dengan b t bantuan Gambar G b 8-9.310 kN m 2.3 + 362. hasil kombinasi dengan Pu = 1. dengan bantuan Gambar 8-8.D Struktur Beton II 1.3 = 1.129 > 1.6 = 1.62 kN (lihat Tabel 8-12). sebesar 1. Hasilnya adalah sbb: ∑Me = 1.687.988. diperoleh ∑Mg = 729.087 = 2.310 (OK) Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .182.6 kN m „ Me untuk kolom tengah diatas lantai 2 diperoleh.091.042 + 1.Tavio. 8 9 sebesar b 1 1.9 993 Gbr 8-11 Diagram Interaksi kuat rencana kolom tepi antara Lantai 2 dan 3 „ Untuk kolom tengah B5.

1 mm2 atau Ash = 0.4(4(4)).3 [100 x (750 – 2 x 40 – 20) x 30/ 400] [(7502/ (750 – 2 x40)2 –1] = 370.4(4(3)) dipasang Ash 4φ 12 =452. mm ffyhh = 400 MPa.75 mm2 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .09 [100 x (750 – 2 x 40 – 20) x 30/ 400) = 438.3 (s hc fc’/ fyh) (Ag/ Ach –1) Ash = 0. „ Ash min sesuai Pasal 23. ujung-ujung kolom sepanjang o harus dikekang dengan spasi sesuai P Pasall 23 23. Ph.09 (s hc fc’/ fyh) „ Dengan asumsi as msi s = 100 mm.4 mm2 > 438.75 mm2 „ Untuk memenuhi pasal 23.Indonesia Page: 41 .4(4(2)) 4(4(2)) oleh l h tulangan l tranversal(Ash) l(A h) „ lo ≥ h = 750 mm ≥ 1/6 ln = 467 mm ≥ 450 mm „ dengan s memenuhi ketentuan berikut: ¼ x 750 mm = 187 mm 6 x D = 6 x 20 = 120 mm 100 mm sehingga s diambil = 100 mm.4 (4(1)) diperoleh dari nilai lebih besar dari hasil 2 rumus berikut ini: Ash = 0. MPa dan selim selimutt beton 40 mm dan φs = 12 mm Ash = 0.Tavio.D Struktur Beton II Pengekangan Kolom Memenuhi Pasal 28.

25fy „ Dengan bantuan Gambar 8-12.Tavio.: Mpr (. Ph.= -----------------------. Mpr ini diambil sama dengan momen balance diagram interaksi dari kolom ybs namun pakai fs = 1. Mpr.0. dari setiap ujung komponen struktur yang bertemu di HBK ybs „ Mpr ini ditentukan berdasarkan rentang beban aksial terfaktor yang mungkin terjadi dengan φ=1.Indonesia Page: 42 .1 516. maka gaya geser desain berdasarkan Mpr positif dan negatip dari balok-balok yang bertemu di HBK didapat dari Gambar 8-8 sbb.)+ Mpr( +) 829 1 + 516 829.8 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .5 < 1.4(5(1)) harus ditentukan dari kuat momen max.475 kN l1 2.065 kN m „ Bila dianggap Mpr untuk kolom tengah diatas dan dibawah lantai 2 sama besar maka Ve = (2 x Mpr)/hin = (2 x 2.065)/ 2. untuk menentukan kebutuhan tulangan geser kolom menurut Pasal 23. Ve.D Struktur Beton II Penulangan Transversal untuk beban geser „ Gaya geser rencana.= 480.43 43 „ Vu = ---------------------.8 = 1.475 Kn „ Dengan anggapan momen lentur di atas dan di bawah kolom penyangga lantai 2 sama. Mpr = Mb = 2.

688 = 471.245 kN s 100 Maka : „ φ (Vs + Vc)= 0.fc’/20 = 7502 x 30/20 = 843. Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .62 kN) lebih besar (lihat Table 8-12) dari Ag.75 kN maka Vc diambil sesuai Pasal 13.687.4 dan s terpasang = 100 mm (lihat tulangan pengekangan) Vs = A s f y d = 452.5 kN (OK) „ Ini berarti Ash terpasang berdasarkan persyaratan (Pasal 23.400.3 (1(2)) Vc = (1 + 14NuAg ) 6 bw.687.62 ⎞ 30 fc ' ⎟ 750.Tavio. Ternyata Ve > Vu = 480.d = ⎛⎜⎝1 + 14 1.245 + 471.688 = 1.16) = 1.4.75 x (1.10 > Vu = 480.D Struktur Beton II „ Disini l 1 = tinggi bersih kolom tengah. Ph.4(4(1)) di sudah cukup untuk menahan geser. „ Sisa panjang kolom tetap harus tulangan transversal dengan s ≤ 6 db tulangan memanjang = 120 mm atau ≤ 150 mm „ Kebutuhan penulangan kolom tepi dapat diperiksa dengan cara yang sama.287.Indonesia Page: 43 .16 kN 2 x750 ⎠ 6 „ Berdasarkan Av 4 dp 12 = 452.5 kN „ mengingat beban aksial terfaktor kolom tengah ini (min 1.

0 c = 40 + 12 + 20/2 = 62 mm c = 52.5 (max) „ Jadi db 20 ld = 26.0 c + K tr = 52.0 6x2 = 52.2(3) panjang sambungan lewatan tulangan φ 20 dari kolom tengah harus dihitung dengan rumus ld 9 fy f αβγλ βλ = d b 10 fc' c + K tc ) ( ) db dimana : α = 1.2 mm 750− 2(40+12) − 20 c= β = 1.3 x 20 = 526 mm Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .0 10 K = Atr f yt = 4 x113x 400 = 0.D Struktur Beton II Gambar 8-12 Diagram interaksi Kuat Disain Kolom Tengah Dengan fs=1. Ph.25fy dan φ =1 Sambungan Lewatan Tulangan Vertikal Kolom „ Sesuai Pasal 14.5 + 0.Tavio.30 tr 1.n 1.500.62 diambil 2.Indonesia Page: 44 .s.3 = 2.500 x100 x 4 λ = 1.2 mm γ = 1.

5fy.3= 683. jadi sambungan lewatan ini termasuk kelas B (Pasal 14.Indonesia Page: 45 . Dari Gambar 8-9 dapat diperkirakan bahwa akibat kombinasi beban berfaktor dengan beban gempa tegangan tulangan yang terjadi fs > 0.8 mm ≈ 684 mm. Ditail penulangan kolom tengah dapat dilihat di Gambar 8-13. Ph.Tavio.800 mm 4 dp12-100 684 4 dp12-120 4 dp12-100 450 00 mm 70 Gambar 8-13 Detail Penulangan Kolom Tengah BACK Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .17(2(3)) yang panjangnya harus 1. 750 mm 750 24 D20 700 mm 750 4 dp12-100 dp 12 450 4 dp12-120 2.D Struktur Beton II „ Sesuai Pasal 23.4(3(2)) sambungan lewatan harus diletakan ditengah panjang kolom dan harus dihitung sebagai sambungan tarik.

Indonesia Page: 46 .4 harus dipasang dalam HBK. kecuali bila HBK tersebut dikekang oleh komponen struktur sesuai Pasal 23.Tavio.5(2(2)) Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .5 menentukan Tulangan Transversal berbentuk hoop seperti diatur Pasal 23.D Struktur Beton II DESAIN HUBUNGAN BALOK KOLOM Disain Hubungan balok kolom „ Pasal 23. Ph.4.

Tavio. Mu = 672.5(2(11)) untuk kesederhanaan penditailing. pakai saja Ash ujung kolom untuk tulangan transversal HBK ini.75 kN m Vh = 480.417.D Struktur Beton II „ Di HBK yang keempat mukanya terdapat balok- balok dengan lebar setidak-tidaknya selebar ¾ lebar kolom.75 kN m Gambar 8-8 Analisa Geser dari HBK Kolom Tengah di baris 5 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .25.54 480 54 kN Mu = 672. harus dipasang tulangan transversal sedikitnya separoh yang disyaratkan oleh Pasal 23.4 kN m x x Mpr.6 kN 6 D19 Vh = 480.1 kN m C1 = T1 T2 = 850. Maka sesuai Pasal 23.25 h atau 150 mm. Ph. Namun contoh SRPM ini memiliki lebar balok 50 cm < ¾ h kolom = 56.= 829.54 kN 10 D19 C2 = T2 T1 = 1.4(4(1)) dan s ≤ 0.6 1 417 6 kN Mpr+ = 516.Indonesia Page: 47 .

25.3 x 1.Indonesia Page: 48 . 1. „ Gaya geser yang mungkin terjadi di potongan x-x adalah T1 + T2 – Vh.417.6 kN „ Dimana As1 dan As2 diambil dari Tabel 8-10 Mpr+ + Mpr. 1.835. fy = 1. fy = 2.25 x 400 = 850.75 kN m 2 2 sehingga Mu 2 x 672.Tavio.1 + 516.= --------------------. = 672.= --------------.2 x 1. Ph.75 „ Vh = --------.8 Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .4 „ Mu = -------------------. 829. „ T1 d dan T2 di diperoleh l hddarii tulangan l tarik ik b balok-balok l kb l k yang menyatu di HBK diarah U-S. = 480.25 x 400 = 1.701.D Struktur Beton II „ Kuat geser nominal yang diperiksa adalah di arah U- S pada baris ke-5.6 kN „ T2 (6 D19) = As2 . „ T1 (10 D19) = As1 .54 kN hin /2 2.25.

D Struktur Beton II „ Dimana hin adalah panjang bersih kolom tingkat 2 dan Mpr+ diambil dari Gambar 8-5.04 kN h in / 2 2.618.75 x 1.66 kN „ Untuk HBK yang terkekang pada keempat sisinya balokan kuat geser nominal φVc= 0. Ph. baris ke-5 lantai 2.Indonesia Page: 49 .417. x 1.75 – 269.006.5.787.65 Vh = = = 269.Tavio.2.8 kN > (Vx-x) Æ OK Hubungan Balok Kolom Tepi „ Kuat Geser HBK tepi yang diperiksa adalah arah U-S di kolom luar.7 = 0.04 =1. „ Gambar 8-15 menunjukkan analisis momen kolom Mn dari gaya geser diujung kolom Vh. HBK ini hanya dikekang oleh 3 balok sehingga hi sesuaii P Pasall 23.29 = 376.Vh = 1.275. Dengan cara yang sama seperti di HBK tengah diperoleh Mu = M pr = 753.6 + 850. x (500 ( x 750)) x = 2.8 Geser di potongan x-x Vx-x= T1 .6 – 480.65 kN m 2 2 Mu 2 x 376. „ Dengan hasil perhitungan diatas dan Mpr– dihitung untuk tul.7 x Aj x fc' = 30 .2.75 .Vh „ Vx-x = 1. kuat tarik tulangan atas balok T1 dan kuat tekan C1 yang = T1. 23 5 2 2 ttulangan l ttransversall di ujung j kolom perlu dipasang dalam HBK. 6 D19 „ Gaya geser di xx-x x = T1 + T2 .54 = 1.71 kN Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .

75 x 1.3 kN m C1 = T1 6 D19 Vh = 269.5(3(1)) φ Vc = 0.65 kN m Vh = 269.04 kN 9 D19 T1 = 1275.6 kN> Vx-x Æ OK Mu = 376. Ph.D Struktur Beton II „ Kuat geser nominal sesuai Pasal 23.04 kN Mu = 376.Indonesia Page: 50 .25 x (500 x 750) x 30 = 1.= 753.75 kN x x Mpr.65 kN m Gambar 8-15 Analisa Geser dari HBK Kolom tepi di baris 5 BACK Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .75 x 1.925.25 Aj fc' = 0.Tavio.

Ph.Tavio.D Struktur Beton II TERIMA KASIH Department of Civil Engineering Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) Surabaya .Indonesia Page: 51 .