You are on page 1of 38

SMF/Lab Ilmu Kedokteran Jiwa Laporan Kasus

Fakultas Kedokteran Umum
Universitas Mulawarman

INSOMNIA NON ORGANIK

Disusun Oleh:
OKKI MASITAH SYAHFITRI NASUTION
NIM. 0708015043

Pembimbing:
dr. Denny Jeffry Rotinusulu, Sp. KJ

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik
SMF/lab Ilmu Kedokteran Jiwa
Fakultas Kedokteran Umum
Universitas Mulawarman
2011

0

BAB 1

PENDAHULUAN

Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang
untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. 1
Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun dan beraktivitas
di siang hari. Sekitar sepertiga orang dewasa mengalami kesulitan memulai tidur
dan/atau mempertahankan tidur dalam setahun, dengan 17% di antaranya
mengakibatkan gangguan kualitas hidup.2 Sebanyak 95% orang Amerika telah
melaporkan sebuah episode dari insomnia pada beberapa waktu selama hidup
mereka. Di Indonesia, pada tahun 2010 terdapat 11,7% penduduk mengalami
insomnia.

Insomnia umumnya merupakan kondisi sementara atau jangka pendek.
Dalam beberapa kasus, insomnia dapat menjadi kronis. Hal ini sering disebut
sebagai gangguan penyesuaian tidur karena paling sering terjadi dalam konteks
situasional stres akut, seperti pekerjaan baru atau menjelang ujian. Insomnia ini
biasanya hilang ketika stressor hilang atau individu telah beradaptasi dengan
stressor. Namun, insomnia sementara sering berulang ketika tegangan baru atau
serupa muncul dalam kehidupan pasien.

Insomnia jangka pendek berlangsung selama 1-6 bulan. Hal ini biasanya
berhubungan dengan faktor-faktor stres yang persisten, dapat situasional (seperti
kematian atau penyakit) atau lingkungan (seperti kebisingan). Insomnia kronis
adalah setiap insomnia yang berlangsung lebih dari 6 bulan. Hal ini dapat
dikaitkan dengan berbagai kondisi medis dan psikiatri biasanya pada pasien
dengan predisposisi yang mendasari untuk insomnia.

Meskipun kurang tidur, banyak pasien dengan insomnia tidak mengeluh
mengantuk di siang hari. Namun, mereka mengeluhkan rasa lelah dan letih,

1

dengan konsentrasi yang buruk. Hal ini mungkin berkaitan dengan keadaan
fisiologis hyperarousal. Bahkan, meskipun tidak mendapatkan tidur cukup, pasien
dengan insomnia seringkali mengalami kesulitan tidur bahkan untuk tidur siang.

Insomnia kronis juga memiliki banyak konsekuensi kesehatan seperti
berkurangnya kualitas hidup, sebanding dengan yang dialami oleh pasien dengan
kondisi seperti diabetes, arthritis, dan penyakit jantung. Kualitas hidup meningkat
dengan pengobatan tetapi masih tidak mencapai tingkat yang terlihat pada
populasi umum. Selain itu, insomnia kronis dikaitkan dengan terganggunya
kinerja pekerjaan dan sosial.

Insomnia merupakan salah satu faktor risiko depresi dan gejala dari
sejumlah gangguan medis, psikiatris, dan tidur. Bahkan, insomnia tampaknya
menjadi prediksi sejumlah gangguan, termasuk depresi, kecemasan,
ketergantungan alkohol, ketergantungan obat, dan bunuh diri.

Insomnia sering menetap meskipun telah dilakukan pengobatan kondisi
medis atau kejiwaan yang mendasari, bahkan insomnia dapat meningkatkan resiko
kekambuhan penyakit primernya. Dalam hal ini, dokter perlu memahami bahwa
insomnia adalah suatu kondisi tersendiri yang membutuhkan pengakuan dan
pengobatan untuk mencegah morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup bagi
pasien mereka.

2

Oleh dokter spesialis kandungan. Pasien merasa bahwa sulit tidur dikarenakan pikiran pasien tentang penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Marfuah Umur : 31 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Status perkawinan : Menikah Pendidikan terakhir : Pekerjaan : IRT Suku : Alamat : Pasien datang bersama suami berobat ke Poliklinik Atma Husada Mahakam Samarida ANAMNESIS Keluhan Utama: Sulit Tidur Riwayat perjalanan penyakit sekarang : Autoanamnesis: Kesulitan tidur dirasakan pasien sejak 2 bulan yang lalu. Penyakit ini dirasakan pasien saat hamil besar. Pasien sudah mencoba memejamkan matanya namun tidak juga tertidur sehingga pasien merasa lemas dan lesu dikeesokan harinya. pasien diberitahu bahwa pasien mengalami hipertensi dan harus menjalani operasi pada saat 3 . BAB 2 LAPORAN KASUS PSIKIATRI RIWAYAT PSIKIATRI IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. pasien sering merasa melayang dan merasa pusing. pasien kesulitan memulai tidur dan saat terbangun pasien sering terjaga pada malam hari sampai pagi hari.

Hal inilah yang mungkin menyebabkan pasien merasa trauma dan takut penyakitnya tidak kunjung sembuh. Pasien sudah pernah dibawa ke dokter jantung dan mendapatkan obat. pasien juga tidak memiliki riwayat epilepsi. Kadang-kadang pasien sering merasa kesal dengan bayinya ketika menangis tengah malam sehingga bayi pasien dititipkan ke orang tuanya yang rumahnya bersebelahan. namun obat yang diminum pasien merasa berdebar-debar. Pasien juga mengaku mendengar perkataan orang bahwa kemungkinan masih ada yang tersisa di dalam kandungannya. pasien memang takut dengan jarum suntik dan operasi.melahirkan. Pasien sering dinasehati bahwa tidak perlu takut dan gelisah. sejak saat itu keluhan pasien tidak kunjung berkurang.  Gangguan Neurologi Pasien tidak memiliki riwayat gangguan neurologi. Riwayat Kebiasaan Tidak ada kebiasaan merokok maupun minum alkohol 4 . dan trauma kepala. typhoid. namun pasien tetap kepikiran tentang penyakitnya. Alloanamnesa: (oleh suami pasien) Menurut suami. kesal dan gelisah sehingga pasien tidak dapat tidur dan dapat terbangun tiba-tiba. hal inilah yang membuat pasien sering memikirkannya. Pasien menjalani operasi tanggal 1 desember 2011. pasien tetap merasa pusing dan terasa berat di kepala. Riwayat Medis dan Psikiatrik Lain  Gangguan mental dan lainnya Pasien tidak memiliki riwayat gangguan mental dan emosi  Gangguan Psikosomatik Pasien tidak memiliki riwayat gangguan psikosomatik  Kondisi Medis Pasien tidak memiliki riwayat malaria. Suami juga mengatakan pasien hanya tidur beberapa jam namun terbangun dan tidak dapat tidur lagi. Pasien memiliki riwayat operasi bulan desember 2011. merasa jengkel.

mudah sekali berteman. Genogram Pasien merupakan anak ke 4 dari 6 bersaudara sudah menikah tetapi belum mempunyai anak.Gambaran Kepribadian Pasien merupakan pribadi yang senang bergaul. Faktor Pencetus Memikirkan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh Riwayat perkawinan Pasien sudah menikah. Riwayat penyakit keluarga Tidak ada keluarga pasien yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. ayah pasien juga mengalami hipertensi Riwayat Religius Pasien rajin beribadah Hubungan dengan keluarga dan lingkungan Pasien mempunyai hubungan yang baik dengan anggota keluarganya. 5 . melahirkan anak pertama 2 bulan yang lalu Riwayat sosial ekonomi Pasien berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.

5 0 C Keadaan gizi : Baik Kulit : Anhidrosis Kepala : Alopesia (-).Keterangan : = Laki-laki = menunjukkan pasien = Perempuan = Perempuan yang sudah meninggal = Perempuan dengan gangguan tidur STATUS PRAESENS a. Trauma (-) Mata : Anemis (-) Ikterik (-) Pupil isokor Hidung : Deviasi Septum (-) Rhinorrhea (-) Telinga : Sekret (-) Pendengaran normal Mulut Tenggorokan : Higiene baik. Status Internus Keadaan umum : Tenang Kesadaran : Compos mentis Tanda vital Tekanan darah : 100/70 mmHg Frekuensi nadi : 98 x/ menit. edema (-) 6 . reguler kuat angkat Frekuensi nafas : 22 x/menit Suhu : 36. Mettalic Sound (-) Ekstremitas : Akral hangat. Hiperemi faring (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Deviasi trakea (-) Toraks : Simetris Jantung : Cor dalam batas normal Paru : Pulmo dalam batas normal Abdomen : Distensi (-) soefl Hepar Lien : Pembesaran (-) Ruang Trobe : Timpani Bising Usus : Normal.

Penampilan 1. terdapat kontak mata b. 2. Gangguan bahasa (-) 2. berpikir tentang kesembuhan penyakitnya 3. dan sedikit tertutup. Isi fikiran :tidak ada gangguan . Flight of ideas (-) 4. Mood  stabil 2. Gambaran umum : tenang. Gangguan persepsi 7 . Bicara Cukup banyak bicara intonasi sesuai c. strabismus (-) Pupil : isokor 3mm/3mm. Status Neurologikus Panca indera : Tidak didapatkan kelainan Tanda meningeal : Tidak didapatkan kelainan Tekanan intrakranial : tidak didapatkan kelainan Mata : Gerakan : normal. Mood dan Afek 1. Kelancaran berfikir / ide cepat III.b. Waham (-) II. kooperatif. Fikiran dan Persepsi 1. Status Psikiatrikus a. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Psikomotor dalam batas normal 3. Afek  sesuai d. Produktivitas Normal II. Gangguan berpikir I. Identifikasi pribadi : cukup pandai bergaul. kooperatif. Bentuk fikiran I. midriasis (-) Diplopia : Tidak ada Visus : secara kasar normal c.

Pengetahuan (+) 6. Kemampuan berpikir abstrak (+) 7. Penilaian I. Tilikan diri derajat VI 8. Kesadaran : Composmentis 2. Halusinasi : Auditorik (-) Visual (-) II. Orientasi I. Segera (+) 5. Ingatan I. Deprsonalisasi dan Derealisasi (-) 5. Masa dahulu (+) II. Keadaan Umum o Kesadaran : compos mentis o Sikap : kooperatif o Tingkah laku : Tenang o Perhatian : baik o Inisiatif : baik o Ekspresi wajah : Afek sesuai o Verbalisasi : (+) lancar 8 . Waktu (+) II. Penilaian sosial (+) II. I. Sensorik 1. Masa kini (+) III. Konsentrasi dan Berhitung (+) 4. Orang (+) III. Penilaian terhadap test (+) IKHTISAR & KESIMPULAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI A. Mimpi dan fantasi (-) e. Tempat (+) 3.

Diagnosis Formulasi Diagnosis  Seorang laki-laki. beragama Islam. SMEA. status menikah. Pasien mengaku apabila sulit tidur pasien mudah marah dan 9 . usia 31 tahun. Datang berobat ke Poli RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda diantar oleh istri pasien yang tinggal serumah pada hari Kamis.B. Keadaan Spesifik Keadaan Afek o Afek : sesuai o Arus Emosi : Stabill Keadaan dan fungsi Intelek o Daya Ingat : baik o Konsentrasi : baik o Orientasi : baik o Insight : baik Keadaan Proses berpikir o Bentuk fikiran : cepat o Arus fikiran : koheren o Isi : waham (-) Keadaan sensasi dan persepsi o Halusinasi : (-) visual dan auditori o Ilusi : (-) Keadaan intelektual dan perbuatan o Kegaduhan umum : (-) o Deviasi seksual : (-) Psikomotor : normal Kemauan : ADL (+) Mandiri C. tinggal di Samarinda.45 WITA  Pada proses autoanamnesis. 11 Januari 2012 Pukul 10. pasien mengalami sulit tidur sejak 3 tahun yang lalu.

tidak lebih dari masalah harian biasa. psikomotor dalam batas normal.51. Penatalaksanaan Psikofarmakoterapi Alganax 0-1/2-1 Psikoterapi 10 . sulit mengontrol emosinya tetapi pasien masih melakukan aktivitas fisik harian seperti biasanya. dan urine lengkap F. D. E. orientasi (+). kooperatif.0 Insomnia non organik  Aksis II : Tidak ada diagnosis untuk aksis ini  Aksis III : Tidak ada diagnosis untuk aksis ini  Aksis IV : Masalah ekonomi  Aksis V : GAF 90-81 gejala minimal berfungsi baik. koheren. emosi stabil. proses berfikir cepat. Faktor pencetus menurut pasien adalah masalah ekonomi keluarga dimana penghasilan pasien tidak cukup untuk memenuhi pengeluarannya. darah lengkap. intelegensi kesan cukup.  Riwayat trauma (-) kejang (-). dan afek sesuai. atensi (+). penyakit infeksi (-)  Riwayat konsumsi alkohol (+) dan Napza (+)  Riwayat mengkonsumsi rokok (+)  Pada pemeriksaan psikiatri didapatkan penampilan rapi. waham (-). Diagnosis Multiaksial  Aksis I : F. Pasien merupakan pribadi yang senang bergaul. halusinasi visual dan auditorik (-). tenang. mudah sekali berteman namun tertutup dan mudah tersinggung. Hal ini semakin mengganggu sejak 2 minggu belakangan ini. cukup puas. kemauan ADL mandiri. Usulan Pemeriksaan EEG. ilusi (-).

Prognosis Dubia ad bonam 11 .G.

angin semilir. Sebenarnya bentuk pola tidur dapat dibedakan dengan memperhatikan pergerakan bola mata yang dimonitor selama fase tidur. bantal enak dan empuk. yakni bagian otak terpenting atau fungsi mental tertinggi. yang terdiri dari aktivitas bangun / aktivitas harian dan siklus tidur yang juga dikenal sebagai activity / rest cycle. merupakan asam amino yang berfungsi sebagai neurotransmiter (penghantar sinyal saraf). seperti suara burung berkicau. Salah satu kriteria yang digunakan adalah “Siklus Kleitman”. Secara obyektif. kurang lebih selang 30 menit sudah tertidur. khususnya serebral korteks. bahkan ada orang begitu mencium bantal dalam 3-5 menit langsung tertidur. tapi juga mengistirahatkan otak. kasur dan bantal empuk. yang digunakan untuk mengingat. serta membayangkan. hipotalamus ini bekerja baik sehingga mampu memberi respon normal terhadap perubahan tubuh maupun lingkungannya.. ditambah jam rutin tidur serta sesuatu yang bersifat menenangkan di sekelilingnya. Siklus ini terdiri dari Rapid Eye Movement (REM) dan Non- Rapid Eye Movement (NREM). setelah badan lelah usai bekerja keras seharian. Dikatakan sehat dan normal bila begitu naik ke atas tempat tidur dengan tatanan rapi. EEG dapat digunakan untuk mencatat fase REM maupun NREM 12 . menilai dan memberikan alasan sesuatu. Rasa kantuk berkaitan erat dengan hipotalamus dalam otak. dll.1 Fisiologi Tidur Tidur merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang memiliki fungsi perbaikan dan homeostatik (mengembalikan keseimbangan fungsi-fungsi normal tubuh) serta penting pula dalam pengaturan suhu dan cadangan energi normal. Dalam keadaan badan segar dan normal. udara nyaman. memvisualkan. Sebenarnya tidur tidak sekedar mengistirahatkan tubuh. Namun. Disini yang berperan adalah suatu zat yang disebut GABA (Gamma Aminobutyric Acid). BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA 3. kemampuan merespon tadi berkurang sehingga menyebabkan seseorang mengantuk.

Stadium 0 adalah periode dalam keadaan masih bangun tetapi mata menutup. Bayi baru lahir total tidur 16-20jam/hari. jumlah tidur yang dibutuhkan setiapa hari akan makin berkurang dan disertai fragmen-fragmen tidur yang banyak sehingga jumlah SWS makin berkurang dan ini menunjukkan bahwa mereka mengalami masa tidur yang tidak terlalu nyenyak. kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur diatas 10 tahun dan kira-kira 7-7. maka orang itu belum tidur nyenyak. lalu diikuti oleh fase REM.5 jam/hari pada orang dewasa. Tonus otot meningkat. 8-12 siklus per detik. Siklus dari Kleitman akan berulang selama periode tidur setiap pengulangan diserati dengan pemendekan fase 3-4 dari NREM yang disebut SWS (Slow Wave Sleep) sedangkan lama REM lebih panjang. Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu: 1. Tipe Rapid Eye Movement (REM) 2. Pada usia lanjut. Aktivitas alfa menurun dengan 13 . anak-anak 10-12 jam/hari. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM) Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium. Tahap tidur normal orang dewasa adalah sebagai berikut : . cepat. Fase ini ditandai dengan gelombang voltase rendah. Sedangkan fase ini berjalan cepat. Tidur yang dipengaruhi oleh NREM ditandai dengan gelombang EEG yang bervoltase tinggi tetapi berfrekuensi rendah.selama tidur. sedangkan tidur yang dipengaruhi oleh REM ditandai oleh gambaran EEG yang berfrekuensi tinggi tetapi bervoltase rendah. Kenyenyakan tidur sebenarnya tergantung pada lamanya fase-fase yang dilalui dari fase pertama sampai fase empat dari NREM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antara 4-7 kali siklus semalam.

aktivitas positif. yang terjadi bersamaan dengan gerak bola mata yang cepat dan penurunan level muscle tone. Stadium 3 dan 4 sulit dibedakan. Periode ini dikenal sebagai desynchronized sleep. . Stadium 1 disebut onset tidur. Stadium 4 terjadi jika gelombang delta lebih dari 50%. Stadium 4 lebih lambat dari stadium 3. Stadium ini menduduki sekitar 50% total tidur. Stadium ini menghabiskan sekitar 10%-20% waktu tidur total. . Stadium 1 dan 2 dikenal sebagai tidur dangkal. Periode REM akan disertai dengan frekuensi pernafasan dan frekuensi jantung yang berfluktuasi. negatif. Rekaman EEG berupa delta. Stadium 1 NREM adalah perpindahan dari bangun ke tidur. amplitudo rendah. Tonus otot meningkat tetapi tidak ada gerakan bola mata. voltase rendah-sedang. Stadium 2 ditandai dengan gelombang EEG spesifik yaitu didominasi oleh aktivitas teta. Kompleks K yaitu gelombang tajam. . Tonus otot rendah. Kumparan tidur adalah gelombang ritmik pendek dengan frekuensi 12- 14 siklus per detik. Tidur dimulai dengan stadium NREM. Durasi tidur ini meningkat bila seseorang mengalami deprivasi tidur. kumparan tidur dan kompleks K. Pada stadium ini seseorang mudah dibangunkan dan bila terbangun merasa seperti setengah tidur. Stadium 3 ditandai dengan 20%-50% aktivitas delta. voltase tinggi. Ia menduduki sekitar 5% dari total waktu tidur. . tegangan rendah. Tidur ini terjadi antara sepertiga awal malam dengan setengah malam. frekuensi 1-2 siklus per detik. frekuensi 4-7 siklus per detik. predominan beta dan teta. sinyal campuran. dengan durasi 500 mdetik. Aktivitas bola mata melambat. 14 . meningkatnya rasa kantuk. Pada fase ini terjadi penurunan aktivitas gelombang alfa (gelombang alfa menurun kurang dari 50%). diikuti oleh gelombang lebih lambat. Pada fase mengantuk terdapat gelombang alfa campuran. REM ditandai dengan rekaman EEG yang menyerupai tahap pertama. amplitudo tinggi. tonus otot menurun. Stadium 3 dan 4 disebut juga tidur gelombang lambat atau tidur dalam. berlangsung sekitar 3-5 menit. frekuensi 2-3 siklus per menit. dan disebut juga tidur delta. nadi dan tekanan darah cenderung menurun.

histaminergik. maka terjadi keadaan tidak 15 . kemudian terjadi periode REM. noradrenergik. Bila serotonin dari trypthopan terhambat pembentukannya. Pola tidur berubah sepanjang kehidupan seseorang.2. dan 2. Periode REM pada bayi berkisar antara 50-60 menit pada awalnya. Rangkaian dari tahap tidur selama tahap awal siklus adalah sebagai berikut : NREM tahap 1. Pada usia satu tahun lama tidur sekitar 13 jam dan 30 % adalah tidur REM. Siklus tidur lebih pendek pada bayi dibandingkan pada orang dewasa. Pada masa neonatus sekitar 50% waktu tidur total adalah tidur REM. asetilkolin.4. Siklus tidur dewasa berlangsung 70-100 menit selama masa remaja. dan dopamin yang saling berinteraksi dalam menidurkan dan membangunkan seseorang. Jumlah siklus REM bervariasi dari 4 sampai 6 tiap malamnya. Pola tidur-bangun berubah sesuai dengan bertambahnya umur. Bila aktifitas ARAS ini meningkat orang tersebut dalam keadaan tidur. Lama tidur sekitar 18 jam. kholinergik.3. Kebutuhan ini menetap sampai batas lansia. Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim ARAS (Ascending Reticulary Activity System). maka jumlah serotonin yang terbentuk juga meningkat akan menyebabkan keadaan mengantuk / tidur. orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Dewasa muda membutuhkan waktu tidur 7-8 jam dengan NREM 75% dan REM 25%. Pada orang dewasa muda normal periode tidur NREM berakhir kira-kira 90 menit sebelum periode pertama REM. periode ini dikenal sebagai periode REM laten. tergantung pada lamanya tidur. Aktifitas ARAS menurun. Dengan bertambahnya jumlah tryptopan.3. • Sistem serotonergik Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisme asam amino trypthopan. Aktifitas ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem serotoninergik. Waktu tidur menurun dengan tajam setelah itu. yang lama- kelamaan akan meningkat. Banyak penelitian menunjukkan bahwa peristiwa tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon antara lain serotonin.

Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan aktifitas neuron noradrenergik akan menyebabkan penurunan yang jelas pada tidur REM dan peningkatan keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi. • Sistem Adrenergik Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan sel nukleus cereleus di batang otak. Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di batang otak. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus patway. yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan tidur REM. mengakibatkan aktifitas gambaran EEG seperti dalam keadaan jaga. • Sistem histaminergik Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur. Sistem ini secara teratur mempengaruhi pengeluaran neurotransmiter norepinefrin. TSH. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur. serotonin yang bertugas mengatur mekanisme tidur dan bangun. 16 .bisa tidur / jaga. • Sistem hormon Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon seperti ACTH. • Sistem Kholinergik Sitaram et al (1976) membuktikan dengan pemberian prostigimin intra vena dapat mempengaruhi episode tidur REM. GH. Stimulasi jalur kholihergik ini. dan LH. Pada obat antikolinergik (scopolamine) yang menghambat pengeluaran kholinergik dari lokus sereleus maka tamapk gangguan pada fase awal dan penurunan REM. dopamin. sehingga terjadi pemendekan latensi tidur REM.

Insomnia bukan suatu penyakit. Tidur dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. disertai rasa tidak nyaman setelah episode tidur tersebut.3 Klasifikasi Berikut ini adalah gangguan tidur menurut DSM-IV-TR. Faktor-faktor inilah yang membentuk siklus 24 jam. Menurut The International Classification of Sleep Disorders. Sedangkan faktor eksternal dipengaruhi oleh siklus terang gelap. Faktor internal yang dimaksud disini adalah irama biologis tubuh. insomnia adalah kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam. 3. kinerja dan kualitas hidup. The International Classification of Diseases mendefinisikan Insomnia sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3 malam/minggu selama minimal satu bulan. Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk melakukannya. seperti kelainan emosional. 3. tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab. dimana dalam periode 24 jam. I. periode makan. Insomnia dapat mempengaruhi tidak hanya tingkat energi dan suasana hati tetapi juga kesehatan. Beberapa orang secara normal adalah petidur yang normal yang memerlukan tidur kurang dari enam jam setiap malam dan yang berfungsi secara adekuat.1 Dissomnia 17 . orang dewasa tidur sekali. dan penyelaras eksternal lainnya. Petidur lama adalah mereka yang tidur lebih dari sembilan jam setiap malamnya untuk dapat berfungsi secara adekuat. kadang 2 kali. GANGGUAN TIDUR PRIMER I. kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Jadi.2 Definisi Insomnia Menurut DSM-IV. Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya satu bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu. rutinitas harian.

1.c Narkolepsi I.1.1 c Sindrom menelan abnormal berhubungan dengan tidur 18 .c Gangguan tidur berjalan II. GANGGUAN TIDUR LAIN III.1.d Parasomnia yang tidak ditentukan II.b Nyeri kepala kluster & hemikrania paroksismal kronik berhubungan dengan tidur III.1.e Gangguan tidur irama sirkadian (gangguan jadwal tidur-bangun) I.2 Parasomnia II.d Gangguan tidur berhubungan dengan pernafasan I.a Insomnia primer I.1 Insomnia berhubungan dengan gangguan aksis I atau aksis II II. asma berhubungan dengan tidur III.2.1.1.a Gangguan mimpi buruk II.a Kejang epilepsi. I.1.2 Hipersomnia berhubungan dengan gangguan aksis I atau aksis II III.2. GANGGUAN TIDUR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN MENTAL LAIN II.b Gangguan teror tidur II.b Hipersomnia primer I.2.1.1 Gangguan tidur karena kondisi medis umum III.f Dissomnia yang tidak ditentukan I.2.

a Pemakaian obat hipnotik jangka panjang III. III.2.d Preparat tiroid III. kontrasepsi oral.2. Insomnia Sekunder Insomnia sekunder biasanya terjadi akibat efek dari hal lain.2.1.g Obat mirip hormon Adenokortikotropik (ACTH). insomnia atau susah tidur ini dapat mempengaruhi sekitar 3 dari 10 orang yang menderita insomnia.c Obat kemoterapi kanker III. Klasifikasi Insomnia Insomnia Primer Insomnia primer ini mempunyai faktor penyebab yang jelas.f Anti depresan III.2.1.b Obat antimetabolit III. kebiasaan sebelum tidur dan lingkungan tempat tidur seringkali menjadi penyebab dari jenis insomnia primer ini.e Gejala kardiovaskuler berhubungan dengan tidur III. misalnya kondisi medis.2.2. obat penghambat beta.f Refluks gastrointestinal berhubungan dengan tidur III.2. Pola tidur.2 Gangguan tidur akibat zat III.1.e Anti konvulsan III.d Asma berhubungan dengan tidur III.g Hemolisis berhubungan dengan tidur (Hemoglobinuria Nokturnal Paroksismal) III. Masalah psikologi seperti perasaan bersedih.1. alfa metil dopa. depresi dan dementia dapat 19 .

Etiologi Insomnia • Stres. kesehatan sekolah. 3. diabetes dan rasa nyeri juga dapat menyebabkan terjadinya insomnia sekunder ini dan biasanya mempengaruhi 1 dari 10 orang yang menderita insomnia atau susah tidur. perceraian atau kehilangan pekerjaan. • Kecemasan dan depresi. atau keluarga dapat membuat pikiran menjadi aktif di malam hari.menyebabkan terjadinya insomnia sekunder ini pada 5 dari 10 orang. Kekhawatiran tentang pekerjaan. Faktor ini dapat mempengaruhi 1-2 dari 10 orang yang menderita insomnia. penggunaan obat-obatan yang terlarang ataupun penyalahgunaan alkohol. Hal ini mungkin disebabkan ketidakseimbangan kimia dalam otak atau karena kekhawatiran yang menyertai depresi.5. depresi atau kecemasan  Konsentrasi dan perhatian berkurang  Peningkatan kesalahan dan kecelakaan  Ketegangan dan sakit kepala  Gejala gastrointestinal 3. dapat menyebabkan insomnia. seperti kematian atau penyakit dari orang yang dicintai. Selain itu masalah fisik seperti penyakit arthritis.4 Tanda dan Gejala Insomnia  Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari  Sering terbangun pada malam hari  Bangun tidur terlalu awal  Kelelahan atau mengantuk pada siang hari  Iritabilitas. sehingga sulit untuk tidur. Insomnia sekunder juga dapat disebabkan oleh efek samping dari obat-obatan yang diminum untuk suatu penyakit tertentu. Peristiwa kehidupan yang penuh stres. 20 .

Selama 21 . • Kondisi Medis. tetapi mencegah tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun di tengah malam. teh.6 Faktor Resiko Insomnia Hampir setiap orang memiliki kesulitan untuk tidur pada malam hari tetapi resiko insomnia meningkat jika terjadi pada:  Wanita. termasuk beberapa antidepresan.3. Nikotin merupakan stimulan yang dapat menyebabkan insomnia. gastroesophageal reflux disease (GERD). nikotin dan alkohol. penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer. obat jantung dan tekanan darah. Ritme sirkadian bertindak sebagai jam internal. Kebanyakan orang dengan kondisi ini tidur lebih baik ketika mereka berada jauh dari lingkungan tidur yang biasa atau ketika mereka tidak mencoba untuk tidur. dan suhu tubuh. stimulan (seperti Ritalin) dan kortikosteroid. Kopi.8 3. metabolisme. cola dan minuman yang mengandung kafein adalah stimulan yang terkenal. kesulitan bernapas dan sering buang air kecil. • 'Belajar' insomnia. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur. gagal jantung. Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis. • Kafein. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis. sehingga sulit untuk tidur. Kelelahan akibat perjalanan jauh atau pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya irama sirkadian tubuh. Alkohol adalah obat penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur. kemungkinan mereka untuk mengalami insomnia lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa gejala tersebut. Perempuan lebih mungkin mengalami insomnia. seperti ketika mereka menonton TV atau membaca. Hal ini dapat terjadi ketika Anda khawatir berlebihan tentang tidak bisa tidur dengan baik dan berusaha terlalu keras untuk jatuh tertidur. penyakit paru-paru.• Obat-obatan. kanker. obat alergi. • Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Perubahan hormon selama siklus menstruasi dan menopause mungkin memainkan peran. mengatur siklus tidur-bangun. stroke.

1. Stres dapat menyebabkan insomnia sementara. keadaan medikal umum.  Stres. depresi. stress jangka panjang seperti kematian orang yang dikasihi atau perceraian. Insomnia primer cirinya ditandai dengan adanya kesulitan dalam memulai atau mempertahankan tidur atau non restoratif atau tidur tidak nyenyak selama 1 bulan dan tidak disebabkan oleh gangguan mental. atau stres yang hebat.  Insomnia sekunder.  Usia lebih dari 60 tahun.7 Klasifikasi Insomnia Gangguan insomnia biasa terjadi sebelum seseorang berusia 40 tahun tetapi prevalensi tertinggi dijumpai pada usia di atas 65 tahun. menopause. penyakit organik atau akibat penggunaan obat tertentu (insomnia sekunder) atau mungkin idiopatik (insomnia primer). kecemasan. 22 . termasuk depresi. Bekerja di malam hari sering meningkatkan resiko insomnia. Karena terjadi perubahan dalam pola tidur. insomnia meningkat sejalan dengan usia. sering berkeringat pada malam hari dan hot flashes sering mengganggu tidur. mengganggu tidur. yaitu insomnia menahun dengan sedikit atau sama sekali tidak berhubungan dengan berbagai stres maupun kejadian.  Perjalanan jauh (Jet lag) dan Perubahan jadwal kerja.4 3. dapat menyebabkan insomnia kronis. Insomnia dikelompokan menjadi :  Insomnia primer.  Memiliki gangguan kesehatan mental. Menjadi miskin atau pengangguran juga meningkatkan risiko terjadinya insomnia. Insomnia dapat disebabkan oleh gangguan mental lainnya. yaitu suatu keadaan yang disebabkan oleh nyeri. dan penggunaan zat. kecemasan obat. Banyak gangguan. gangguan bipolar dan post-traumatic stress disorder.

sindrom restless legs. insomnia kronis bisa juga disebabkan oleh faktor perilaku. Salah satu penyebab kronik insomnia yang paling umum adalah depresi. gagal jantung. meskipun hanya sedikit jumlah orang-orang dengan insomnia yang berkonsultasi ke dokter. Insomnia kronis adalah kesulitan tidur yang dialami hampir setiap malam selama sebulan atau lebih. Inadequate sleep hygiene g. dan stres kronik. Transient insomnia sering terjadi pada orang yang biasanya tidur normal. sleep apnea. insomnia diklasifikasikan menjadi: a. dan orang-orang dengan masalah medis kronis. Insomnia due to mental disorder f. Physiologic insomnia. termasuk penyalahgunaan kafein.8 Diagnosis 23 . wanita. unspecified (nonorganic) k. Psychophysiologic insomnia c. Acute insomnia b. Bentuk insomnia ini terjadi bersamaan dengan adanya stres piskologis akut. unspecified (organic) 3. Keadaan ini cenderung untuk sembuh sendiri. Namun demikian. seperti saat kehilangan. parkinson. Insomnia due to medical condition j. Paradoxical insomnia (sleep-state misperception) d. siklus tidur/bangun yang disebabkan oleh kerja lembur dan kegiatan malam hari lainnya. Kesulitan tidur lebih sering terjadi pada orang tua. Insomnia not due to substance or known physiologic condition. Berdasarkan International Classification of Sleep Disordes yang direvisi. dan hypertyroidism. Behavioral insomnia of childhood h. gangguan ginjal. Insomnia due to drug or substance i. individu dengan pendidikan rendah dan status ekonomi rendah. Penyebab lainnya adalah arthritis. Idiopathic insomnia e. dan substansi lain. Insomnia sering terjadi di masyarakat umum dan lebih sering terjadi pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. alkohol.

Batasi waktu ditempat tidur setiap harinya. Gangguan tidur seringkali timbul sebagai eksaserbasi yang dapat memberi petunjuk apakah berkaitan dengan peristiwa hidup tertentukah? Atau mungkin disebabkan oleh etiologi lainnya.  Aktivitas fisik  Diagnosis berdasarkan kebutuhan tidur secara individual. Insomnia juga dapat menjadi suatu keluhan dari pasien yang sebenarnya menderita sleep apnea atau myoclonus-nocturnal. atau obat terlarang. Pengukuran ini meliputi : . . Pada pasien dengan insomnia primer harus diperiksa riwayat medis dan psikiatrinya.  Pemakaian obat-obatan.Bangun dan pergi ke tempat tidur pada waktu yang sama setiap hari.  Tingkatan stres psikis. Untuk mendiagnosa insomnia. walaupun pada akhir pekan. atau obat terlarang. riwayat medis. Riwayat medis harus dinilai secara seksama. alkohol. 24 . dilakukan penilaian terhadap : pola tidur penderita. alkohol. Demikian pula riwayat pola tidur maupun siklus harian (rest/activity cycle) sangat bermanfaat dalam menentukan suatu diagnosis. aktivitas fisik Insomnia cenderung bertambah kronis jika terjadi stres psikologi (contohnya : perceraian. dilakukan penilaian terhadap:  Pola tidur penderita.  Riwayat medis. pemakaian obat-obatan. Untuk mendiagnosis insomnia. Pengukuran sleep hygiene digunakan untuk memonitor pasien dengan insomnia kronis. tingkatan stres psikis. kehilangan pekerjaan) dan juga penggunaan mekanisme pertahanan yang keliru. mengenai riwayat penggunaan obat dan pengobatan.

Gangguan tidur (atau kelelahan siang hari yang menyertai) menyebabkan penderitaan yang bermakana secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial. delirium). Keluhan yang menonjol adalah kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur. pekerjaan. dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43. atau fungsi penting lain. medikasi) atau suatu kondisi medis umum. . • Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan adanya gangguan. Meskipun demikian.2) Kriteria Diagnostik untuk Insomnia Primer menurut DSM-IV-TR A. Gangguan tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan mental lain (misalnya. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya.0) atau gangguan penyesuaian (F43. nonton TV atau bekerja.Meninggalkan tempat tidur dan tidak kembali selama belum mengantuk . selama sekurangnya satu bulan. gangguan tidur berhubungan pernafasan. . gangguan depresi berat. 25 . D. Banyak aspek dari program yang mungkin akan menyulitkan pasien. kalau hal ini akan mengganggu tidur).. rokok dan obat-obat hipnotik-sedatif. obat yang disalahgunakan. atau tidur yang tidak menyegarkan.Menghindari tidur siang. gangguan kecemasan umum. B. .Pemutusan atau pengurangan konsumsi alkohol.Latihan minimal tiga atau empat kali tiap minggu (tetapi bukan pada sore hari. C. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada “transient insomnia”) tidak didiagnosis di sini.Tidak menggunakan tempat tidur sebagai tempat untuk membaca. minuman yang mengandung kafein. atau parasomnia. E. Gangguan tidur tidak terjadi semata-mata selama perjalanan narkolepsi. cukup banyak pasien yang termotivasi untuk meningkatkan fungsinya dengan cara melakukan pengukuran ini. gangguan tidur irama sirkadian. oleh karena luasnya variasi individual.

Kriteria Diagnostik Insomnia Non-Organik berdasarkan PPDGJ • Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti: a.9 Tatalaksana 1.0) atau gangguan penyesuaian (F43. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur. Non Farmakoterapi a. atau kualitas tidur yang buruk b.2) 3. dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43. Terapi tingkah laku ini umumnya direkomendasikan sebagai terapi tahap pertama untuk penderita insomnia. Terapi Tingkah Laku Terapi tingkah laku bertujuan untuk mengatur pola tidur yang baru dan mengajarkan cara untuk menyamankan suasana tidur. Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan c. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada “transient insomnia”) tidak didiagnosis di sini. Teknik Relaksasi. • Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan adanya gangguan. Terapi tingkah laku meliputi . Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan • Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari d. oleh karena luasnya variasi individual. Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik. . 26 .

seperti mandi air hangat. Strategi ini dapat membantu Anda mengontrol pernapasan. seperti menghindari kebisingan  Olahraga dan tetap aktif. . nadi. seperti olahraga selama 20 hingga 30 menit setiap hari sekitar lima hingga enam jam sebelum tidur. . tonus otot. Restriksi Tidur. . Cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan saat tidur. membaca. Meliputi merelaksasikan otot secara progresif. membuat biofeedback.  Tidak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa. Gaya hidup dan pengobatan di rumah Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia :  Mengatur jadwal tidur yang konsisten termasuk pada hari libur  Tidak berada di tempat tidur ketika tidak tidur.  Hanya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur. dan mood. Terapi ini dimaksudkan untuk mengurangi waktu yang dihabiskan di tempat tidur yang dapat membuat lelah pada malam berikutnya. Kontrol stimulus Terapi ini dimaksudakan untuk membatasi waktu yang dihabiskan untuk beraktivitas. Terapi kognitif. dan latihan pernapasan. b. Meliputi merubah pola pikir dari kekhawatiran tidak tidur dengan pemikiran yang positif. 27 .  Menyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur. latihan pernapasan atau beribadah  Menghindari atau membatasi tidur siang karena akan menyulitkan tidur pada malam hari.  Relaksasi sebelum tidur. Terapi kognitif dapat dilakukan pada konseling tatap muka atau dalam grup.

Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpecah-pecah menjadi beberapa bagian (multiple awakening). Phenobarbital) Pemilihan obat. Pengaturan Dosis 28 . dan nikotin  Menghindari makan besar sebelum tidur  Cek kesehatan secara rutin  Jika terdapat nyeri dapat digunakan analgesik 2. Non benzodiazepine (Chloral-hydrate. Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk kembali ke proses tidur selanjutnya) Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Prolong latent phase Anti- Insomnia”. ditinjau dari sifat gangguan tidur : . Misalnya pada gangguan stres psikososial. a. dan Estazolam) b.  Menghindari kafein. Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep Maintining Anti- Insomnia”. Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur) Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep inducing anti-insomnia” yaitu golongan benzodiazepine (Short Acting) Misalnya pada gangguan anxietaS . yaitu golongan phenobarbital atau golongan benzodiazepine (Long acting).Trizolam. Farmakologi Pengobatan insomnia secara farmakologi dibagi menjadi dua golongan yaitu benzodiazepine dan non-benzodiazepine. yaitu golongan heterosiklik antidepresan (Trisiklik dan Tetrasiklik) Misalnya pada gangguan depresi . alkohol. Benzodiazepine (Nitrazepam.

Kesulitan pemberhetian obat seringkali oleh karena “Psychological Dependence” (habiatuasi) sebagai akibat rasa nyaman setelah gangguan tidur dapat ditanggulangi. resiko terjadinya kecelakaan meningkat lebih 29 . Efek Samping Supresi SSP (susunan saraf pusat) pada saat tidur Efek samping dapat terjadi sehubungan dengan farmakokinetik obat anti- insomnia (waktu paruh) : . Ada laporan yang menggunakan antidepresan sedatif dosis kecil 2-3 kali seminggu (tidak setiap hari) untuk mengatasi insomnia pada usia lanjut Lama Pemberian . Jika ini terjadi pada pengendara kendaraan bermotor. tidak lebih dari 2 minggu. . dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih perlahan-lahan. agar resiko ketergantungan kecil. Waktu paruh panjang. Pemberian tunggal dosis anjuran 15 sampai 30 menit sebelum pergi tidur. Penggunaan lebih dari 2 minggu dapat menimbulkan perubahan “Sleep EEG” yang menetap sekitar 6 bulan lamanya. seperti Estazolam  gejala rebound lebih ringan . Pemakaian obat antiinsomnia sebaiknya sekitar 1-2 minggu saja. seperti Nitrazepam  menimbulkan gejala “hang over”. Waktu paruh sedang. Waktu paruh singkat. untuk menghindari oversedation dan intoksikasi . kemudian secepatnya tapering off (untuk mencegah timbulnya rebound dan toleransi obat) . Hang over adalah efek sisa yang disebabkan adanya akumulasi dari sisa metabolit aktif.. seperti Triazolam (sekitar 4 jam)  gejala rebound lebih berat pada pagi harinya dan dapat sampai menjadi panik . . Pada usia lanjut. Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan dipertahankan sampai 1-2 minggu.

g. Overdosis jarang menimbulkan kematian. Obat anti-insomnia + CNS Depressants (alkohol dll) menimbulkan potensiasi efek supresi SSP yang dapat menyebabkan “oversedation and respiratory failure” . resiko kematian akan meningkat. tetapi bila disertai alkohol atau “CNS Depressant” lain. Obat golongan benzodiazepine tidak menginduksi hepatic microsomal enzyme atau “produce protein binding displacement” sehingga jarang menimbulkan interaksi obat atau dengan kondisi medik tertentu. Juga benzodiazepine dieksresikan melalui ASI. Penggunaan Benzodiazepine pada wanita hamil mempunyai risiko menimbulkan “teratogenic effect” (e. berefek pada bayi (penekanan fungsi SSP) 3. pada pagi harinya dan juga “intensifying daytime sleepiness” Penggunaan lama obat anti-insomnia golongan benzodiazepine dapat terjadi “disinhibiting effect” yang menyebabkan “rage reaction” Interaksi obat . Kontraindikasi : o Sleep apneu syndrome o Congestive Heart Failure o Chronic Respiratory Disease . . dari lima kali lipat. Perhatian Khusus . Insomnia dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik. 30 .cleft-palate abnormalities) khususnya pada trimester pertama.10 Komplikasi Tidur sama pentingnya dengan makanan yang sehat dan olahraga yang teratur.

 Masalah kejiwaan. 3.  Saat berkendara. Lebih buruk jika gangguan ini disertai skizophrenia 31 . Komplikasi Insomnia Komplikasi insomnia meliputi  Gangguan dalam pekerjaan atau di sekolah. dan diabetes. contohnya tekanan darah yang tinggi. sakit jantung. seperti kecemasan atau depresi  Kelebihan berat badan atau kegemukan  Daya tahan tubuh yang rendah  Meningkatkan resiko dan keparahan penyakit jangka panjang.11 Prognosis Prognosis umumnya baik dengan terapi yang adekuat dan juga terapi pada gangguan lain spt depresi dll. Gambar 1. Sehingga meningkatkan reaksi kecelakaan. reaksi reflex akan lebih lambat.

energi dan suasana hati tetapi juga DBD (+) kesehatan. waktu seperti kecemasan. kegelisahan.  Kesadaran orientasi tempat. Insomnia dapat mempengaruhi tidak hanya tingkat  Riwayat trauma (-). afek normal badan dan otaknya tidak lelah. dan orang tidak ada gangguan. usia 31 tahun Insomnia adalah keluhan  Gejala-gejala : sulit untuk memulai dalam hal kesulitan untuk memulai tidur. berlangsung setidaknya satu bulan  Keluhan dirasakan sejak 3 tahun dan menyebabkan gangguan yang lalu signifikan atau gangguan dalam Riwayat Penyakit Dahullu fungsi individu. depresi atau kecemasan  Konsentrasi dan perhatian berkurang  Peningkatan kesalahan dan kecelakaan 32 . kontak dan seringkali timbul bersamaan visual (+) dengan gangguan emosional. kejang (-). kelainan fisik. intelegensia cukup Tanda dan gejala insomnia adalah:  Kemauan mandiri  Kesulitan untuk memulai tidur  Psikomotor normal pada malam hari  Sering terbangun pada malam hari  Bangun tidur terlalu awal  Kelelahan atau mengantuk pada siang hari  Iritabilitas. DIAGNOSIS Fakta Teori Anamnesis  Pasien laki-laki. BAB 4 PEMBAHASAN a. kinerja dan kualitas  Riwayat konsumsi alkohol (+) dan hidup. gelisah. Penyebab dari insomnia itu Napza (+) sendiri terdiri dari berbagai  Riwayat merokok (+) penyebab seperti kelainan  Tidak pernah dirawat di Rumah emosional. Status Psikiatrikus Sulit tidur sering terjadi.sering terbangun pada malam atau mempertahankan tidur atau hari. Kadang Atensi (+) seseorang sulit tidur hanya karena  Emosi stabil. depresi. lesu. tidur non-restoratif yang kurang berkonsentrasi. atau ketakutan.  Proses berfikir. dan Sakit Jiwa pemakaian obat-obatan. baik  Kesan umum rapi pada usia muda maupun usia lanjut.  Kontak verbal (+) sulit. mudah marah .

2) 33 . Ketegangan dan sakit kepala  Gejala gastrointestinal Kriteria Diagnostik Insomnia Non-Organik berdasarkan PPDGJ • Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti: a. Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan c. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari d. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada “transient insomnia”) tidak didiagnosis di sini. atau kualitas tidur yang buruk b. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan • Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan. dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43. • Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan adanya gangguan. oleh karena luasnya variasi individual. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur.0) atau gangguan penyesuaian (F43.

estazolam b. Farmakoterapi . pemakaian obat-obatan. b. phenobarbital b. Demikian pula riwayat pola tidur maupun siklus harian (rest/activity cycle) sangat bermanfaat dalam menentukan suatu diagnosis. Berdasarkan teori yaitu Pemilihan obat. tingkatan stres psikis. Berdasarkan anamnesa yang diperoleh secara autoanamnesa maupun alloanamnesa yang dialami pasien mencakup sebagian besar dari gejala gangguan tidur insomnia. Insomnia juga dapat menjadi suatu keluhan dari pasien yang sebenarnya menderita sleep apnea atau myoclonus-nocturnal. kehilangan pekerjaan) dan juga penggunaan mekanisme pertahanan yang keliru. aktivitas fisik. PENATALAKSANAAN Fakta Teori a. ditinjau dari sifat gangguan tidur : 34 . Gangguan tidur seringkali timbul sebagai eksaserbasi yang dapat memberi petunjuk apakah berkaitan dengan peristiwa hidup tertentu atau mungkin disebabkan oleh etiologi lainnya. Gejala utama dari insomnia adalah Penderita mengalami kesulitan untuk tertidur atau sering terjaga di malam hari dan sepanjang hari merasakan kelelahan.Terapi suportif . Psikoterapi .Non bezodiazepine : Cholaral hydrate. Alganax 0-1/2-0 triazolam. dilakukan penilaian terhadap : pola tidur penderita. Insomnia cenderung bertambah kronis jika terjadi stres psikologi (contohnya : perceraian.Benzodiazepine : nitrazolam.Terapi kognitif perilaku . alkohol. Farmakoterapi a. atau obat terlarang. Farmakoterapi yang diberikan pada pasien ini kurang sesuai dengan yang ada diliteratur. riwayat medis. Psikoterapi . Untuk mendiagnosa insomnia.

Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Prolong latent phase Anti-Insomnia”. Efek samping dari penggunaan obat anti insomnia berhubungan dengan farmakokinetiknya dimana obat dengan waktu paruh singkat (sekitar 4jam ex. . Indikasi penggunaan obat anti insomnia terutama pada kasus transient dan shortterm Insomnia. Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpecah- pecah menjadi beberapa bagian (multiple awakening). sangat berhati-hati pada kasus longterm insomnia. Penggunaan lama obat anti isomnia golongan nezodiazepine dapat terjadi disinhibitting effect yang menyebabkan rage reaction (perilaku penyerang dan ganas). Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur) Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep inducing anti-insomnia” yaitu golongan benzodiazepine (Short Acting) Misalnya pada gangguan anxietas . Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk kembali ke proses tidur selanjutnya). dan waktu Paruh panjang (nitrazepam) menimbulkan gejala hang over pada pagi harinya dan juga intensifying day time sleepiness. 35 . yaitu golongan phenobarbital atau golongan benzodiazepine (Long acting). Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep Maintining Anti-Insomnia”. Misalnya pada gangguan stres psikososial. yaitu golongan heterosiklik antidepresan (Trisiklik dan Tetrasiklik) Misalnya pada gangguan depresi. Obat golongan Benzodiazepine tidak menyebabkan REM supression dan rebound.triazolam) gejala rebound lebih berat pada pagi harinya dan sampai menjadi panik. Selalu diupayakan untuk mencari penyebab dasar dari gangguan tidur dan pengobatan ditujukan pada penyebab dasar tersebut. . Waktu paruh sedang (Estazolam) gejala rebound lebih ringan.

aktivitas fisik. Pada pasien ini prognosis adalah bonam apabila dengan terapi yang adekuat dan sesuai dengan jenis dari insomnia. dan Estazolam). Phenobarbital). Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti stres. dan kebutuhan tidur secara individual. Trizolam. Tatalaksana insomnia secara non farmakologis dapat berupa terapi tingkah laku dan pengaturan gaya hidup dan pengobatan di rumah seperti mengatur jadwal tidur. Insomnia dapat ditatalaksana dengan cara farmakologi dan non farmakologi. pemakaian obat-obatan. kesulitan dalam mempertahankan tidur. BAB 5 KESIMPULAN Insomnia merupalan kesulitan untuk masuk tidur. Selalu diupayakan untuk mencari dasar dari penyebab gangguan tidur tersebut dan mengobati pada penyebab dasar tersebut.C. kecemasan berlebihan. atau obat terlarang. riwayat medis. atau tidak cukup tidur. perubahan lingkungan. PROGNOSIS Fakta Teori Bonam Prognosis umumnya baik dengan terapi yang adekuat dan juga terapi pada gangguan lain. Obat-obatan yang biasanya digunakan untuk mengatasi insomnia dapat berupa golongan benzodiazepin (Nitrazepam. dan non benzodiazepine (Chloral- hydrate. alkohol. dan kondisi medis. tingkatan stres psikis. Insomnia didiagnosis dengan melakukan penilaian terhadap pola tidur penderita. bergantung pada jenis dan penyebab insomnia. pengaruh makanan dan obat- obatan. 36 .

2004. 2011. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. M. Ilmu Kedokteran Jiwa. DAFTAR PUSTAKA Kaplan. Buku Saku Psikiatri Ed 6. Sadock. 1997. David A.com Diakses tanggal 10 Januari 2012) 38 . Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.E.emedicina. W. Grebb. 2001.com/article/1187829. Surabaya. Maramis. 2009 Maslim. 2001. Rusdi. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri Klinis Jilid Satu. (http://www. Airlangga Press. Tomb. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.R. Editor: Selim R Benbadis. Rusdi.medscape. Jakarta: EGC Zeidler. Jakarta: Binarupa Aksara. Maslim. Insomnia.