I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Terjadinya transisi epidemiologi yang paralel dengan transisi
demografi dan transisi teknologi di Indonesia dewasa ini telah mengakibatkan
perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular
(PTM) meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases yang merupakan
faktor utama masalah morbiditas dan mortalitas. Terjadinya transisi
epidemiologi ini disebabkan terjadinya perubahan sosial ekonomi, lingkungan
dan perubahan struktur penduduk, saat masyarakat telah mengadopsi gaya
hidup tidak sehat, misalnya merokok, kurang aktivitas fisik, makanan tinggi
lemak dan kalori, serta konsumsi alkohol yang diduga merupakan faktor
risiko PTM (Balitbangkes, 2006).
Salah satu PTM yang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius
saat ini adalah hipertensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi didefinisikan
sebagai peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau
diastolik 90 mmHg atau lebih pada dua kali pengukuran dengan selang waktu
minimal lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang (Pusdatin,
2014). Hipertensi merupakan penyebab yang paling umum terhadap
morbiditas dan mortalitas pada usia yang lebih tua seperti stroke, penyakit
jantung iskemik dan insufisiensi ginjal dan prevalensinya meningkat seiring
bertambahnya usia (Sherlock et al., 2014).
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
terjadi di negara maju maupun negara berkembang. Angka kejadian hipertensi
di seluruh dunia mencapai 1 milyar orang dan sekitar 7,1 juta kematian akibat
hipertensi terjadi setiap tahunnya (Depkes RI, 2008). Berdasarkan Riskesdas
2013, prevalensi hipertensi di Indonesia hasil pengukuran pada umur ≥18
tahun sebesar 25,8 persen. Prevalensi hipertensi di Jawa Tengah mencapai
26,4% (Riskesdas, 2013). Data kasus hipertensi dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas menunjukkan bahwa jumlah kasus hipertensi pada
tahun 2014 sebesar 6398 kasus dengan temuan kasus baru dari Puskesmas II
Kemranjen sebesar 167 kasus baru, yakni 2,6% dari total kasus hipertensi

1

baru di Kabupaten Banyumas pada tahun 2014 (DKK Banyumas, 2014).
Penyakit hipertensi termasuk kedalam 10 besar kasus penyakit terbanyak di
Puskesmas II Kemranjen. Angka kejadian hipertensi di Puskesmas II
Kemranjen pada tahun 2013 mencapai 254 kasus, pada tahun 2014 meningkat
49,8% menjadi 510 kasus, dan pada tahun 2015 didapatkan 750 kasus,
sehingga dapat disimpulkan jumlah kasus hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas II Kemranjen selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyakit hipertensi yang
tidak terkontrol dapat menyebabkan tujuh kali lebih berisiko terkena stroke,
enam kali lebih berisiko menderita congestive heart failure (CHF), dan tiga
kali lebih berisiko terkena serangan jantung (Rahajeng et al., 2009).
Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor tiga pada semua umur di
Indonesia, yakni mencapai 6,8% setelah stroke (15,4 %) dan tuberkulosis (7,5
%) (Depkes RI, 2008). Oleh karena itu, perlu adanya pencegahan, deteksi dini
dan pengobatan yang adekuat untuk penderita hipertensi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi dibagi dalam
dua faktor yaitu faktor yang tidak dapat diubah seperti jenis kelamin, umur,
genetik dan faktor yang dapat diubah seperti pola makan, kebiasaan olah raga
dan lain-lain. Munculnya hipertensi memerlukan faktor risiko tersebut terjadi
secara bersama-sama (common underlying risk factor), dengan kata lain satu
faktor risiko saja belum cukup menyebabkan timbulnya hipertensi (Elsanti,
2009). Pengetahuan diduga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi
tindakan dan perilaku penderita hipertensi dalam mengendalikan penyakitnya.
Edukasi tentang penyakit dibutuhkan bagi masyarakat wilayah kerja
Puskesmas II Kemranjen seperti modifikasi gaya hidup sehat, konsumsi gizi
seimbang, pemeliharaan berat badan ideal, pembatasan konsumsi garam,
berolahraga serta tidak merokok yang merupakan upaya untuk pengendalian
hipertensi (Ningsih, 2009).
Angka kejadian hipertensi yang selalu meningkat menjadi latar
belakang dalam pengambilan kasus Community Health Analysis (CHA)
berdasarkan uraian diatas peneliti ingin mengetahui faktor risiko hipertensi

2

pada masyarakat Desa Kebarongan dengan angka kejadian hipertensi
tertinggi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen Kabupaten Banyumas.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Melakukan analisis kesehatan komunitas tentang faktor risiko hipertensi
pada lansia di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten
Banyumas
2. Tujuan khusus
a. Menentukan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian
hipertensi pada lansia di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen
Kabupaten Banyumas
b. Mencari alternatif pemecahan masalah hipertensi pada lansia di Desa
Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas
c. Memberikan informasi mengenai faktor risiko hipertensi sebagai
upaya promotif dan preventif terhadap komplikasi hipertensi pada
lansia di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten
Banyumas

C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Menambah ilmu dan pengetahuan di bidang kesehatan dalam
mencegah penyakit hipertensi, terutama faktor risiko yang dapat
menimbulkan terjadinya penyakit hipertensi.

2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi masyarakat
Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit
hipertensi, faktor risiko dan cara untuk mencegah penyakit tersebut
sehingga diharapkan dapat mengontrol tekanan darah dan
mengurangi komplikasi hipertensi.
b. Manfaat bagi puskesmas
Membantu program enam dasar pelayanan kesehatan puskesmas
berkaitan dengan promosi kesehatan terutama masalah hipertensi
sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan menentukan
kebijakan yang harus diambil untuk menyelesaikan masalah.
c. Bagi mahasiswa

3

Menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. Banyumas. 4 .

Desa Pageralang. Desa Kecila. Keadaan Geografis Kecamatan Kemranjen terletak di bagian selatan Kabupaten Banyumas dan dibatasi oleh Kecamatan Banyumas dan Kecamatan Somagede disebelah utara. Kecamatan Kemranjen. sebelah Selatan berbatasan dengan 5 . Kecamatan Sumpiuh di sebelah timur dan Kecamatan Kebasen di sebelah barat.6 km2). Desa Sibrama. Desa Kebarongan. Kabupaten Cilacap disebelah selatan. Gambar 2.7 km2). Desa Grujugan. Desa Kebarongan (44. Desa Alasmalang (30. Desa Petarangan. Desa Karangjati. Desa Sibalung. Desa Sidamulya dan Desa Sirau. Kecamatan Banyumas. Desa Grujungan (25. Puskesmas II Kemranjen memiliki luas wilayah kerja sekitar 250 km2. II. Kabupaten Banyumas.2 km2). Deskripsi Situasi dan Kondisi Puskesmas dan Wilayah Kerjanya 1. Desa Karanggintung. Kecamatan Kemranjen memiliki 15 desa. Desa Sidamulya.1 Peta Kecamatan Kemranjen Terdapat dua Puskesmas di Kecamatan Kemranjen yaitu Puskesmas I Kemranjen dan Puskesmas II Kemranjen.3 km2).6 km2). ANALISIS SITUASI A. Desa Karangsalam. Desa Sidamulya (21. Desa Pageralang (59. Desa Nusamangir. yang terdiri atas wilayah Desa Sirau (47.3 km2). Desa Kedungpring. Batas wilayah Puskesmas II Kemranjen sebelah utara adalah Desa Karangrau.2 km2) dan Desa Nusamangir (21. yaitu Desa Alasmalang. Puskesmas II Kemranjen merupakan puskesmas yang berada di Jalan Raya Buntu.

159 Sumber : Data Sekunder Puskesmas II Kemranjen Tahun 2015 Jika dilihat dari jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur pada tabel diatas. Pertumbuhan penduduk Data dari Puskesmas II Kemranjen menunjukkan pada akhir tahun 2015 di bulan Desember. Jumlah penduduk tertinggi berada di Desa Pageralang yaitu sebesar 10.846 3.009 6.174 Jumlah 20. yaitu sebesar 7.152 jiwa.027 3. b.669 7. Desa Mujur lor.605 2. Keadaan Demografi Kecamatan Kemranjen a. Kecamatan Kemranjen.238 jiwa. sebelah Timur berbatasan dengan Desa Karangjati.569 5.033 20. 2.036 4 25-34 3. Kecamatan Kroya.515 7 60-80 2.295 3.623 3 15-24 3. c.515 jiwa.275 3. jumlah penduduk di wilayah Puskesmas II Kemranjen adalah 40.804 6 45-59 3.159 jiwa.529 6.847 5. pada bulan Maret tahun 2016 jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen sebanyak 40.776 2. maka jumlah penduduk dalam kelompok umur 45- 59 tahun adalah yang tertinggi. Kepadatan penduduk 6 .1.126 40. sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Adisana.648 jiwa. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas II Kemranjen berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 2.314 6.609 5 35-44 3. Kabupaten Cilacap.1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur di Wilayah Puskesmas II Kemranjen Tahun 2015 Jumlah penduduk Kelompok No Laki-laki + umur (tahun) Laki-laki Perempuan perempuan 1 0-4 1.398 2 5-14 2. Kecamatan Kebasen.209 1.189 2. Pendataan terakhir yang didapatkan dari data sekunder Puskesmas II Kemranjen. sedangkan jumlah penduduk terendah berada di Desa Nusamangir yaitu sebesar 3. berikut: Tabel 2.

Laki-laki + Persentase Perempuan laki perempuan SD/ MI 2.243 8.36 SMP/ MTs 1. Desa dengan jumlah penduduk terpadat berada di desa Sidamulya dengan tingkat kepadatan sebesar 22. Sumber Pelayanan Kesehatan a.21 setiap kilometer persegi.46 D3 91 123 214 0.58 jiwa setiap kilometer persegi.2 Tingkat Pendidikan Penduduk yang Berusia 10 Tahun Ke Atas di Wilayah Puskesmas II Kemranjen pada Tahun 2015 Jumlah Pendidikan Laki.17 Jumlah 3. Tempat Pelayanan Kesehatan Puskesmas :1 Puskesmas Pembantu :1 PKD :7 Posyandu : 59 RS Swasta :2 b.85 S2/ S3 35 23 58 0. Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas II Kemranjen 7 .25 jiwa setiap kilometer persegi. d.050 1.210 Sumber : Data Sekunder Puskesmas II Kemranjen Tahun 2015 3. rata-rata kepadatan penduduk di wilayah Puskesmas II Kemranjen adalah 16.61 SMK 51 205 256 0.73 D1/ D2 78 83 161 0.048 1.931 3. Secara umum.266 3. Penduduk diwilayah Puskesmas II Kemranjen adalah bervariasi kepadatanya. Tingkat Pendidikan Data tingkat pendidikan penduduk yang berusia 10 tahun ke atas di wilayah Puskesmas II Kemranjen menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan tercatat pada tahun 2015 dapat diamati pada tabel berikut : Tabel 2.086 5.61 D4/ S1 159 139 298 0.95 SMA/ MA 455 811 1. sedangkan wilayah dengan tingkat kepadatan yang paling rendah berada di desa Sirau yaitu sebesar 13.967 4.038 2.981 11.

yaitu berjumlah 13 kasus kematian. Pada balita laki-laki dan perempuan. b. dengan 323 jiwa berjenis kelamin laki- laki dan 255 jiwa berjenis kelamin perempuan. 8 . Angka Kematian Bayi dan Balita Data profil Puskesmas II Kemranjen menunjukkan angka kematian bayi laki-laki dan perempuan sebesar 16 per 1000 kelahiran hidup. Cakupan Program Pelayanan Kesehatan Dasar Untuk memberikan gambaran derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen. Jumlah Lahir Hidup Jumlah kelahiran di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015 sebanyak 578 jiwa. Jumlah kelahiran hidup sebanyak 568 jiwa. ditampilkan tabel berupa resum profil kesehatan di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015. angka kematian sebesar 22 per 1000 kelahiran hidup. Angka Kematian (Mortalitas) Berikut ini akan diuraikan perkembangan tingkat kematian pada periode tahun 2015 yaitu sebagai berikut : a. yaitu berjumlah 9 kasus kematian. 1. Berdasarkan data sekunder dari Puskesmas II Kemranjen tahun 2015 didapatkan jumlah tenaga kesehatan sebagai berikut : Dokter umum PNS/Kontrak : 3 orang Dokter Gigi : 1 orang Bidan Puskesmas : 7 orang Bidan Desa : 11 orang Perawat PNS/Wiyata : 9 orang Petugas Laboratorium : 1 orang TU dan Staf Administrasi : 5 orang Petugas Farmasi : 2 orang Petugas Gizi : 1 orang Petugas Imunisasi : 1 orang Petugas Kesling/Epidemiologi : 2 orang Petugas CS/Penjaga malam/Supir : 4 orang B. dan jumlah kelahiran mati sebanyak 10 jiwa.

Pneumonia Pada Balita Jumlah perkiraan balita penderita pneumonia pada tahun 2015 sebanyak 357 kasus. Hal ini menunjukkan pencapaian kasus pneumonia pada balita masih rendah.2%. dan ibu nifas sebesar 173 per 100. b. Angka Kesakitan (Morbiditas) a. AFP Rate (non polio) < 15 tahun Acute Flaccid Paralysis non polia merupakan kasus kelumpuhan ekstremitas bawah yang tidak disebabkan oleh penyakit polio.56%. Jumlah kasus TB Paru kasus lama sebanyak 8 kasus.000 kelahiran hidup. Penyakit Diare Jumlah kasus diare yang ditemukan dan ditangani pada tahun 2015 sebanyak 382 kasus. Angka pencapaian kasus diare yang ditangani sebesar 213.4% dari jumlah perkiraan kasus sebesar 179 kasus. ibu bersalin dan ibu nifas di Puskesmas II Kemranjen adalah 1. ibu bersalin. Hal ini menunjukkan penangan pasien TB paru di Puskesmas II Kemranjen belum berjalan dengan baik c. Jumlah kasus AFP (non polio) pada tahun 2015 adalah 0 kasus. Penyakit Demam Berdarah Dengue 9 . c. Hal ini menunjukkan angka penemuan kasus mencapai 20. dengan 181 kasus pada laki-laki dan 201 kasus pada perempuan. Kasus Pneumonia pada balita yang ditemukan dan ditangani di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen adalah sebanyak 5 kasus atau sebesar 1. Angka Kematian Ibu Angka kematian ibu hamil. Jumlah Kasus TB Paru Jumlah perkiraan TB Paru kasus baru di Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015 adalah 94 kasus dengan jumlah kasus TB Paru yang ditemukan sebanyak 19 kasus.4% dengan 1 kasus pada laki-laki dan 4 kasus pada perempuan. 2. e. Angka kesembuhan dan pengobatan lengkap pada kasus TB Paru sebesar 55. d. Dapat dikatakan angka kematian ibu hamil.

tetanus neonatorum.8% pada kelompok usia yang berisiko di wilayah Puskesmas II Kemranjen. Hipertensi Kasus penyakit hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015 sebanyak 750 kasus dengan angka insidensi sebesar 2. g. Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue pada tahun 2015 sebanyak 9 kasus. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi Data di Puskesmas II Kemranjen menunjukkan jumlah kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yang meliputi difteri. Kegiatan pokok Puskesmas biasa dikenal dengan istilah basic six atau enam program pokok puskesmas yang meliputi: Promosi Kesehatan (Promkes).000 penduduk. dan Pengobatan. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat. Kesehatan Ibu dan Anak termasuk KB. Sidamulya dan Pageralang. Hal ini didukung pula dengan pencapaian standar pelayanan minimal Puskesmas II Kemranjen terhadap imunisasi sudah berjalan maksimal. pertusis.4 per 100. Promosi kesehatan Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas II Kemranjen khususnya dalam bidang Promosi Kesehatan adalah melalui kegiatan- kegiatan berikut: 1) Penyuluhan PHBS Upaya penyuluhan PHBS yang dilakukan oleh Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2015 meliputi rumah tangga. f. a. 3. institusi 10 . polio dan hepatitis B sebanyak 0 kasus. diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular. Angka insidensinya sebesar 22. campak. Pasien DBD yang ditangani sebanyak 9 kasus yang berarti pencapaian pengobatan pasien DBD mencapai 100%. Kesehatan Lingkungan. Upaya Kesehatan Upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan dasar harus dilakukan secara tepat dan cepat. Masing-masing ditemukan di desa Kebarongan.

karena pencapaian kurang dari target. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat sarana kesehatan tahun 2015 yaitu 80%. dengan target yang dicapai 18%. dengan target yang dicapai 60.8%. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat rumah tangga tahun 2015 yaitu 80%. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2015 target PHBS untuk tingkat rumah tangga. dan insitusi tempat kerja.42% dari 8557 target. Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. Posyandu 11 . 38 posyandu purnama (64. Hal ini menunjukkan program sudah berjalan dengan baik. dan tempat kerja belum mendapatkan hasil yang baik. dengan target yang dicapai 77. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tempat kerja tahun 2015 yaitu 80%. posyandu purnama. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat institusi pendidikan tahun 2015 yaitu 100%. Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat institusi TTU tahun 2015 yaitu 100%. TTU. sarana kesehatan.90%). target bayi yang mendapat ASI ekslusif yaitu 80% cakupan dari 575 target dengan pencapaian 80%. dan 1 posyandu mandiri (1. pendidikan (sekolah).69%). 2) Bayi mendapat ASI eksklusif Salah satu promosi kesehatan yang gencar dilakukan di Puskesmas II Kemranjen adalah nasehat untuk memberikan ASI ekslusif oleh ibu kepada bayinya. dengan target yang dicapai 75%. institusi TTU. dan mandiri. Ketiga cakupan tersebut terlaksana pada tahun 2015 dengan pencapaian 59 posyandu (100%) terdiri dari target cakupan 20 posyandu madya (33. dengan target yang dicapai 100% . institusi sarana kesehatan. Puskesmas II Kemranjen mencanangkan program posyandu madya (baru). institusi pendidikan. 3) Mendorong terbentuknya upaya kesehatan bersumber masyarakat Untuk mendorong terbentuknya upaya kesehatan yang bersumber dari masyarakat.41%).

2% dari target sebesar 90%. dari 2165 tempat pembuangan sampah dan limbah yang diinspeksi. salah satu upaya promosi kesehatan yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas adalah melakukan penyuluhan Napza dengan sasaran siswa-siswi SD. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa cakupan rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen telah memenuhi target 2015. Kesehatan Lingkungan Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas II Kemranjen khususnya dalam bidang Kesehatan lingkungan adalah melalui kegiatan-kegiatan berikut: 1) Penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. sebesar 65. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa capaian tempat 12 . SMP dan SMP. hal ini menunjukkan program belum berjalan dengan maksimal. jumlah keluarga dengan sanitasi air bersih adalah 56. Cakupan program penyuluhan Napza di Puskesmas II Kemranjen mencapai 100% cakupan 40 target penyuluhan institusi pendidikan formal dengan pencapaian 50% pada 20 target. 4) Penyuluhan Napza Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. capaian rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas adalah 95.02% dari target sebesar 80%. 3) Penyehatan tempat pembuangan sampah dan limbah Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. b.26% telah memenuhi syarat sehat dari target sebesar 80%. 2) Penyehatan air Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. Pencapaian tersebut masih belum memenuhi target 2015. Hal ini masih menjadi perhatian Puskesmas dalam upaya penyediaan air bersih di wilayah kerjanya. aktif 100% yang menunjukkan program sudah berjalan dengan baik.

jumlah tempat umum dan pengelolaan makanan yang terdata di Puskesmas II Kemranjen adalah sebanyak 152 tempat. didapatkan hasil sebesar 54% dari 152 tempat yang diperiksa merupakan TUPM yang sehat. Dari pemeriksaan terhadap sanitasi makanan dan minuman pada tahun 2015. sehingga dapat disimpulkan bahwa capaian TUPM sehat pada tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas II masih belum memenuhi target.5% dari 13 . pelayanan kesehatan bagi ibu hamil sesuai standar untuk kunjungan lengkap mencapai 95. c. Kesehatan Ibu dan Anak Termasuk KB Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas Kemranjen tahun 2015 khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak termasuk KB adalah melalui kegiatan-kegiatan berikut: 1) Kesehatan ibu Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015.8% dari target sebesar 100%. Pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan sesuai standar mencapai 99. capaian sanitasi umum memenuhi syarat 40.89% dari 247 tempat dengan target 80%. 4) Sanitasi makanan dan minuman Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. Target TUPM sehat tahun 2015 adalah sebesar 75%. Hal ini menunjukkan bahwa sanitasi tempat umum pada wilayah kerja puskesmas II Kemranjen masih belum mencapai target. pembuangan sampah dan limbah pada tahun 2015 masih belum memenuhi target. 5) Sanitasi tempat-tempat umum Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. sejauh ini intervensi sanitasi tempat umum hanya dilakukan inspeksi tanpa adanya pembinaan. Target pembinaan 80% dari 152 tempat dan hanya terpenuhi 53%. hal ini menunjukkan program masih belum berjalan dengan baik.

14 .736 target. capaian pelayanan kesehatan bagi balita (minimal 8 kali) adalah 100% dari target sebesar 100% sedangkan capaian penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat adalah 100% dari target sebesar 100%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan cakupan kesehatan bayi telah memenuhi target 2015. 2) Kesehatan bayi Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015 capaian BBLR yang ditangani adalah 100% dari target 100%. dapat disimpulkan bahwa target 2015 untuk pelayanan kesehatan balita serta penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat telah terpenuhi. pelayanan nifas lengkap (ibu dan neonatus) sesuai standar (KN 3) mencapai 98. Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. capaian pelayanan kesehatan remaja mencapai 100% dari target 100%. dan pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbang anak pra sekolah. sedangkan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil masih belum memenuhi target. target sebesar 95%. Dari data yang telah dipaparkan. Dari data yang telah dipaparkan. capaian peserta akseptor KB aktif mencapai 100% dari 1. Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi. 3) Upaya kesehatan balita dan anak pra-sekolah Upaya kesehatan yang dilakukan Puskesmas II Kemranjen dalam rangka meningkatkan kesehatan balita dan anak pra-sekolah. 5) Pelayanan KB Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015. dapat disimpulkan bahwa cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan.4% dari target sebesar 95%. serta cakupan pelayanan nifas lengkap telah memenuhi target 2015. meliputi pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang balita (kontak pertama). 4) Upaya kesehatan anak usia sekolah dan remaja Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. Capaian pelayanan kesehatan anak usia sekolah dasar mencapai 100% dari 100% target.

sedangkan capaian akseptor KB aktif MKJP (metode KB jangka panjang) di puskesmas mencapai 64. Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi. kemauan dan kemampuan setiap keluarga di wilayah Puskesmas untuk mencapai Keluarga Sadar Gizi agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya melalui program: 1) Pemberian kapsul vitamin A Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015.7% dari target sebesar 80%. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat Tujuan umum upaya perbaikan gizi puskesmas adalah meningkatkan kesadaran. dapat disimpulkan bahwa capaian akseptor KB aktif di puskesmas sudah baik. 5) Balita dibawah garis merah/KEP Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi. capaian pemberian PMT pemulihan gizi buruk pada gakin mencapai 100% dari target 100%. d. capaian pemberian kapsul vitamin A mencapai 100% dari target 100%. . 2) Pemberian tablet besi pada ibu hamil Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. 4) Balita naik berat badannya Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. capaian pemberian tablet besi pada ibu hamil mencapai 95% dari target 95%. 3) Pemberian PMT pemulihan bayi gizi buruk pada gakin Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015. Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi. tetapi pada akseptor KB aktif MKJP masih belum mencapai target. Dari data yang tersebut. Hal ini menunjukkan program sudah berjalan dengan baik karena capaian telah melebihi target. capaian balita dibawah garis merah/KEP mencapai 100% dari target 95%. capaian balita yang naik berat badannya mencapai 93% dari target 80%. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular 15 . Hal ini menunjukkan target telah terpenuhi.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa program diare telah memenuhi target. capaian penemuan kasus dan penanganan diare 100% dengan target 100%. Capaian BIAS campak 100% dengan target 100%. Program-program yang dilakukan oleh Puskesmas Kemranjen khususnya dalam bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit menular adalah melalui kegiatan-kegiatan berikut: 1) Pencegahan dan Pemberantasan Tuberkulosis Paru Berdasarkan data dari programer Tuberkulosis Paru Puskesmas dapat diketahui bahwa pada tahun 2015. dan imunisasi TT pada WUS. Capaian imunisasi campak pada bayi 100% dengan target 100%. Hal ini menunjukkan upaya Puskesmas mengobati pasien dengan TB Paru belum berjalan dengan baik karena tidak memenuhi target. 2) Pelayanan Imunisasi Berdasarkan data petugas Puskesmas II Kemranjen tahun 2015.3 Data 10 penyakit terbesar di puskesmas II Kemranjen Periode Agustus – Oktober 2016 No Penyakit Agustus September Oktober Total 16 . Dari data tersebut yang masih belum memenuhi target yaitu drop-out DPT 3-campak. target pengobatan TB paru 100% dengan capaian 82%.8% dengan target 100%. Capaian imuniasasi TT WUS 61. Capaian imunisasi TT pada anak 100% dengan target 100%. Capaian program imunisasi meliputi imunisasi DPT 1 pada bayi < 7 hari 100% dengan target 100%. Capaian TT 2 100% dengan target 100%. capaian desa atau kelurahan Universal Child Imunization (UCI) sebanyak 100%. Capaian imunisasi DT pada anak 98% dengan target 100%. C. Capaian imunisasi HB 1 pada bayi <7hari 100% dengan target 100%. capaian drop out DPT 3-campak 93.3% dengan target 100%. imunisasi DT pada anak. Top-10 Diseases Tabel 2. 3) Diare Berdasarkan data puskemas II Kemranjen tahun 2015.

1 Dispepsia 213 153 201 567 2 ISPA 137 187 237 561 3 Cephalgia 165 131 166 462 4 Gastroenteritis 99 85 133 317 5 Hipertensi 83 78 100 261 6 Arthritis 59 89 108 256 7 Myalgia 47 50 83 177 8 DM 46 50 75 171 9 Typhoid Fever 47 41 82 170 10 GERD 54 53 56 163 Dari data Tabel 2.3 menunjukan mayoritas dari top-10 disease berupa penyakit infeksi. 17 . Hal dapat dapat dikaitkan dengan program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang belum mencapai target serta program kesehatan lingkungan yang mayoritas programnya belum mencapai target.

III. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN DAN PRIORITAS MASALAH

A. Daftar Permasalahan Kesehatan
1. Input
a. Man ( Tenaga Kesehatan)
Tenaga kesehatan merupakan tenaga kunci dalam mencapai
keberhasilan pembangunan bidang kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan
dalam wilayah Puskesmas II Kemranjen adalah sebagai berikut:

1) Dokter Umum
Dokter yang ada di sarana kesehatan dalam wilayah Puskesmas II
Kemranjen 3 orang dokter umum. Menurut standar Indikator
Indonesia Sehat (IIS) tahun 2010 ratio tenaga medis per 100.000
penduduk adalah 40 tenaga medis, berarti tenaga medis masih
kurang.
2) Dokter Gigi
Dokter gigi di Puskesmas II Kemranjen ada 1 orang. Standar IIS
2010, 11/100.000 penduduk.
3) Tenaga Farmasi
Tenaga farmasi di Puskesmas II Kemranjen ada 2 orang.Standar IIS
2010, 10/100.000 penduduk
4) Tenaga Bidan
Tenaga Kebidanan jumlahnya 17 orang, bidan puskesmas 6 orang
dan bidan desa 11 orang. Standar IIS 2010, jumlah tenaga bidan
100/100.000, dengan demikian jumlah bidan di wilayah Puskesmas
II Kemranjen masih kurang.
5) Tenaga Perawat
Tenaga perawat kesehatan yang ada di Puskesmas II Kemranjen ada
9 orang. Standar IIS tahun 2010, adalah 117,5/100.000 penduduk.
6) Tenaga Gizi
Tenaga Gizi di Puskesmas II Kemranjen jumlahnya 1 orang. Standar
IIS 2010, 22/100.000 penduduk, dengan demikian tenaga gizi masih
kurang.

18

7) Tenaga Kesehatan Lingkungan
Tenaga Kesehatan Lingkungan ada 2 orang. Standar IIS tahun 2010,
40/100.000 penduduk (6,5), dengan demikian tenaga kesehatan
lingkungan masih kurang.
2. Proses
a. Promosi Kesehatan
1) Cakupan penyuluhan PHBS
Cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat rumah tangga tahun
2015 yaitu 80%, dengan target yang dicapai 60,42% dari 8557 target.
Target cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat sarana kesehatan
tahun 2015 yaitu 80%, dengan target yang dicapai 77,8%. Target
cakupan penyuluhan PHBS pada tingkat institusi TTU tahun 2015
yaitu 100%, dengan target yang dicapai 18%. Target cakupan
penyuluhan PHBS pada tempat kerja tahun 2015 yaitu 80%, dengan
target yang dicapai 75%.
2) Cakupan penyuluhan NAPZA
Cakupan program penyuluhan Napza di Puskesmas II
Kemranjen mencapai 100% cakupan 40 target penyuluhan institusi
pendidikan formal dengan pencapaian 50% pada 20 target, hal ini
menunjukkan program belum berjalan dengan maksimal.
b. Kesehatan Lingkungan
1) Penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga

Pencapaian rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas adalah
95,2% dari target sebesar 90%. Dari data tersebut dapat disimpulkan
bahwa cakupan rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas II
Kemranjen telah memenuhi target 2015.
2) Penyehatan air

Pencapaian jumlah keluarga dengan sanitasi air bersih adalah
56,02% dari target sebesar 80%. Pencapaian tersebut masih belum
memenuhi target 2015.

19

3) Penyehatan tempat pembuangan sampah dan limbah

Pencapaian tempat pembuangan sampah dan limbah pada
tahun 2015 masih belum memenuhi target sebesar 65,26% telah
memenuhi syarat sehat dari target sebesar 80%.
4) Sanitasi makanan dan minuman

Target TUPM sehat tahun 2015 adalah sebesar 75%, sehingga
dapat disimpulkan bahwa capaian TUPM sehat pada tahun 2015 di
wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen masih belum memenuhi
target. Target pembinaan 80% dari 152 tempat dan hanya terpenuhi
53%, hal ini menunjukkan program masih belum berjalan dengan
baik.
5) Sanitasi tempat-tempat umum

Pencapaian sanitasi umum memenuhi syarat 40,89% dari 247
tempat dengan target 80%. Hal ini menunjukkan bahwa sanitasi
tempat umum pada wilayah kerja puskesmas II Kemranjen masih
belum mencapai target.
c. Kesehatan Ibu dan Anak
1) Kesehatan ibu
Berdasarkan data Puskesmas II Kemranjen tahun 2015,
pelayanan kesehatan bagi ibu hamil sesuai standar untuk kunjungan
lengkap mencapai 95,8% dari target sebesar 100%.
2) Pelayanan KB
Pencapaian akseptor KB aktif MKJP (metode KB jangka
panjang) di puskesmas mencapai 64,7% dari target sebesar 80%.
Dari data yang tersebut, dapat disimpulkan bahwa capaian akseptor
KB aktif di puskesmas sudah baik, tetapi pada akseptor KB aktif
MKJP masih belum mencapai target.
d. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
1) Pelayanan Imunisasi
Proses yang belum memenuhi target yaitu capaian drop out
DPT 3-campak 93.8% dengan target 100%. Capaian imunisasi DT

20

yaitu Kelompok kriteria C penilaian terhadap tingkat kesulitan penanggulangan masalah 4. : kemudahan dalam penanggulangan. Capaian imuniasasi TT WUS 61. legality Adapun perincian masing-masing bobot kriteria pada prioritas masalah di Puskesmas II Kemranjen adalah sebagai berikut: 21 . economic. Output Berikut merupakan permasalahan output yang ada di Puskesmas II Kemranjen berdasarkan data 10 besar penyakit selama bulan Agustus sampai Oktober 2016. : besarnya masalah (magnitude of the problem) Kelompok kriteria A 2. : PEARL factor. 3. : kegawatan masalah.3% dengan target 100%. Penentuan Prioritas Masalah Penentuan prioritas masalah output di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen dengan menggunakan metode Hanlon Kuantitatif dengan empat kelompok kriteria. Tabel 3. penilaian terhadap Kelompok kriteria B dampak. urgensi dan biaya 3.1. No Penyakit Jumlah kasus 1 Dispepsia 567 2 ISPA 561 3 Cephalgia 462 4 Gastroenteritis 317 5 Hipertensi 261 6 Arthritis 256 7 Myalgia 177 8 DM 171 9 Typhoid Fever 170 10 GERD 163 Jumlah 3105 Sumber: Data Sekunder Puskesmas II Kemranjen Bulan Agustus sampai Oktober 2016 B. yaitu penilaian terhadap Kelompok kriteria D propriety. resources availability. yaitu: 1. acceptability. pada anak 98% dengan target 100%. Daftar 10 Penyakit Tertinggi di Puskesmas II Kemranjen Bulan Agustus sampai Oktober 2016.

2 Kriteria A Hanlon Kuantitatif No Output Besarnya Masalah Nilai 100-199 200-299 300-399 400-499 ≥500 1 Dispepsia x 5 2 ISPA x 5 3 Cephalgia X 4 4 Gastroenteritis x 3 5 Hipertensi x 2 6 Arthritis x 2 7 Myalgia x 1 8 DM x 1 9 Typhoid Fever x 1 10 GERD x 1 Sumber : Data Sekunder Puskesmas II Kemranjen 2. Kriteria A (besarnya masalah) Untuk menentukan besarnya masalah kesehatan diukur dari besarnya penduduk yang terkena efek langsung.1. Tabel 3. Kriteria B (kegawatan masalah) Kegawatan: (paling cepat mengakibatkan kematian) Skor : 1 = Tidak gawat 2 = Kurang gawat 3 = Cukup gawat 4 = Gawat 5 = Sangat gawat Urgensi : (harus segera ditangani karena dapat menyebabkan kematian) Skor : 1 = Tidak urgen 2 = Kurang urgen 3 = Cukup urgen 4 = Urgen 5 = Sangat urgen Biaya : (biaya penanggulangan) Skor : 1 = Sangat murah 2 = Murah 3 = Cukup mahal 4 = Mahal 22 .

Skor Nilai Kriteria C Masalah Nilai Dispepsia 2 ISPA 2 Cephalgia 2 Gastroenteritis 3 Hipertensi 4 Arthritis 2 Myalgia 2 DM 4 Typhoid Fever 3 GERD 2 4.7 Typhoid Fever 2 2 2 2 GERD 2 2 2 2 3. Skor : 1 = Sangat sulit ditanggulangi 2 = Sulit ditanggulangi 3 = Cukup bisa ditanggulangi 4 = Mudah ditanggulangi 5 = Sangat mudah ditanggulangi Tabel 3.2 Kriteria B Hanlon Kuantitatif Masalah Severity Urgency Cost Nilai Dispepsia 2 2 2 2 ISPA 1 1 1 1 Cephalgia 1 2 1 1. Kriteria D (P. skor yang diberikan makin kecil.3 Gastroenteritis 3 3 2 2. 5 = Sangat mahal Tabel 3. pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah sumber-sumber dan teknologi yang tersedia mampu menyelesaikan masalah: makin sulit dalam penanggulangan.A.7 Hipertensi 3 3 3 3 Arthritis 1 1 1 1 Myalgia 1 1 1 1 DM 3 2 3 2.E.L) Propriety : kesesuaian (1/0) Economic : ekonomi murah (1/0) 23 . Kriteria C (penanggulangan masalah) Untuk menilai kemudahan dalam penanggulangan.R.

L. Penetapan nilai Setelah nilai kriteria A.E.6 10.8 3 Typhoid Fever 1 2 3 1 9 9 7 GERD 1 2 2 1 6 6 9 Prioritas pertama masalah diperoleh dengan nilai NPT tertinggi. B. Berdasarkan hasil perhitungan dengan metode Hanlon kuantitatif urutan prioritas masalahnya adalah sebagai berikut: 1) Hipertensi 6) Cephalgia 2) Gastroenteritis 7) Typhoid Fever 3) DM 8) Arthritis 4) Dispepsia 9) GERD 5) ISPA 10) Myalgia 24 .3 2 1 10.6 6 Gastroenteritis 3 2. dan D didapatkan kemudian nilai tersebut dimasukkan ke dalam formula sebagai berikut : a. Hanlon Kuantitatif Masalah P E A R L Hasil Dispepsia 1 1 1 1 1 1 ISPA 1 1 1 1 1 1 Cephalgia 1 1 1 1 1 1 Gastroenteritis 1 1 1 1 1 1 Hipertensi 1 1 1 1 1 1 Arthritis 1 1 1 1 1 1 Myalgia 1 1 1 1 1 1 DM 1 1 1 1 1 1 Typhoid Fever 1 1 1 1 1 1 GERD 1 1 1 1 1 1 5. Nilai prioritas total (NPT) = (A+B) x C x D Tabel 3. Acceptability : dapat diterima (1/0) Resources availability : tersedianya sumber daya (1/0) Legality : legalitas terjamin (1/0) Tabel 3.1 17.A.8 14.4 Penetapan Prioritas Masalah Urutan Masalah A B C D NPD NPT prioritas Dispepsia 5 2 2 1 14 14 4 ISPA 5 1 2 1 12 12 5 Cephalgia 4 1.7 4 1 14.7 3 1 17.3 Kriteria P.R. Nilai prioritas dasar (NPD) = (A+B) x C b.1 2 Hipertensi 2 3 4 1 24 24 1 Arthritis 2 1 2 1 6 6 8 Myalgia 1 1 2 1 4 4 10 DM 1 2. C.

Berdasarkan pengukuran tekanan darah sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan JNC VII. Definisi Hipertensi dapat diartikan dengan penyakit tekanan darah tinggi yang melebihi batasan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Joint National Commite on Prevention. yang dikenal dengan hipertensi sekunder (Sherwood. 3. Klasifikasi Klasifikasi pada hipertensi salah satunya bertujuan untuk mempermudah dalam menentukan rekomendasi dan tatalaksana selanjutnya. 2012). TINJAUAN PUSTAKA A. 2. yang dikenal sebagai hipertensi primer (esensial). 25 . IV.1) (Martin. 2010).. hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps. JNC VII membatasi definisi hipertensi sebagai tekanan darah persisten dengan tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg. Kondisi ini terjadi pada 90% penderita hipertensi. hipertensi dapat dibagi menjadi pre- hipertensi. Hipertensi 1. 2008). gaya hidup dan genetik (Yeni et al. Hipertensi juga merupakan penyakit yang dapat terjadi akibat berbagai macam faktor termasuk lingkungan. 2005). 2004). Etiologi Sebagian besar hipertensi yang dialami masyarakat tidak diketahui penyebab medisnya. Pada populasi lanjut usia. sedangkan 10% lainnya dapat dideteksi penyebab definitifnya. Evaluation and Treatment on High Blood Pressure VII (JNC VII) (Davis dan Braverman. hipertensi derajat I dan hipertensi derajat II (Gambar 4. Beberapa ahli berpendapat bahwa hipertensi primer mempunyai kecenderungan genetik yang kuat bahkan sebagian peneliti mengemukakan adanya suatu mutasi genetik yang terkadang dapat dipengaruhi oleh tingkah laku maupun lingkungan sekitar penderita (Bolivar. Detection. 2013).

Patogenesis Hipertensi dapat terjadi bergantung pada kecepatan denyut jantung. kepekaan terhadap stress. 4. Hipertensi esensial Hipertensi esensial juga sering disebut sebagai hipertensi idiopatik. 2008) Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik Kategori Tekanan Darah (mmHg) (mmHg) Normal < 120 < 80 Pre-hipertensi 120 .99 Hipertensi derajat II > 160 > 100 Hipertensi juga dapat diklasifikasian berdasarkan penyebabnya. b. Gangguan organ lain tersebut diantaranya adalah gangguan sistem vaskuler. Faktor predisposisi genetik ini dapat berupa sensitifitas terhadap natrium. sistem endokrin dan sistem neuron (Davis dan Braverman. Kemungkinan penyebab hipertensi jenis ini diantaranya adalah genetik. menjadi hipertensi esensial dan hipertensi sekunder. Seseorang dapat dikatakan sebagai hipertensi esensial jika terdapat peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebab pastinya.1 Klasifikasi Hipertensi Sesuai JNC VII (Martin. Hipertensi sekunder Hipertensi sekunder merupakan peningkatan tekanan darah yang dapat terjadi sebagai akibat gangguan sistem organ lain yang sudah diketahui. sistem renal atau ginjal. Tabel 4. limgkungan dan tingkah laku. Menurut studi epidemiologi yang pernah dilakukan sekitar 10% pasien dengan hipertensi termasuk ke dalam hipertensi sekunder (Sherwood. a.139 80 . peningkatan reaktivitas vaskuler (terhadap vasokonstriksi) dan resistensi insulin (Setiawati. 2005). volume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR). 2004). Sekitar 90% kasus hipertensi termasuk kedalam hipertensi esensial.89 Hipertensi derajat I 140 -159 90 . 2012). Faktor keturunan bersifat poligenik dan terlihat dari adanya riwayat penyakit kardiovaskuler dalam keluarga. oleh karena itu 26 .

2012) Peningkatan tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain stres. konsumsi garam yang berlebihan. 2012). Gambar 4. obesitas. Pada dasarnya di dalam darah terdapat sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah secara akut dan berusaha mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam jangka panjang. hiperinsulinisme.peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi. 27 . 2008). dan rekfleks yang berasal dari atrium. Sistem kontrol tersebut ada yang beraksi segera seperti refleks kardiovaskular melalui refleks kemoreseptor. Berikut adalah bagan sistem pengaturan tekanan darah. respon iskemia susunan saraf pusat.1 Mekanisme Pengaturan Tekanan Darah (Sherwood. Tekanan darah = Curah jantung x denyut Jantung (Sherwood. baroreseptor. arteri pulmonalis. Besar tekanan darah seseorang dapat dihitung dengan rumus. dan otot polos (Yusuf.

Diagnosis hipertensi ditegakan bila dari pengukuran berulang tersebut diperoleh nilai rata-rata tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik > 90 mmHg (Amiruddin et al. Stres dan hiperinsulinisme akan meningkatkan saraf simpatis yang akan merangsang pengeluaran hormon katekolamin yang akan meningkatkan produksi renin dan kontraktilitas jantung. hal ini akan meningkatkan resistensi perifer sehingga akan terjadi peningkatan tekanan darah (Price. 2015). JNC VII menegaskan bahwa pengukuran tekanan darah untuk mendiagnosis suatu hipertensi harus dilakukan sekurang- kurangnya dua kali pada saat yang berbeda. Peningkatan kontraktilitas jantung. hal ini karena disfungsi endotel akan menurunkan reaktivitas NO dan vasodilator. 2006) 5. Diagnosis Penagakkan diagnosis hipertensi didasarkan pada objektifitas pemeriksa melalui pengukuran tekanan darah dengan menggunakan alat sphymomanometer. kemudian dibuka secara perlahan-lahan dengan 28 . Konsumsi garam berlebih mampu meningkatkan curah jantung dikarenakan meningkatnya konsentrasi Na+ sehingga meningkatkan venous return yang akan meningkatkan preload sehingga tekanan darah akan meningkat. dan obesitas akan meningkatkan curah jantung yang akan meningkatkan tekanan darah. untuk menghasilkan hasil yang akurat disarankan menggunakan sphymomanometer dengan ukuran cuff yang sesuai. Disfungsi endotel juga mempengaruhi kenaikan tekanan darah. dan disfungsi endotel. 2006).. selanjutnya balon di pompa sampai 20-30 mmHg diatas tekanan sistolik. Pada pengukuran pertama harus dikonfirmasi setidaknya dua kunjungan lagi dalam waktu satu sampai beberapa minggu bergantung dari tingginya tekanan darah tersebut. konsumsi garam yang berlebih. Pada saat melakukan pengukuran tekanan darah. yaitu saat pulsasi nadi tidak teraba lagi. Pengeluaran renin yang berlebihan akan merangsang pengeluaran angiotensinogen dan dengan bantuan angiotensin converting enzyme akan mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II yang akan meningkatkan resistensi perifer dan berdampak dalam peningkatan tekanan darah (Price.

1. Usia Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini 29 . mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kenaikan tekanan darah dan insiden hipertensi saat dewasa (Wang. yaitu faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi. Prevalensi peningkatan tekanan darah meningkat pada usia ≥45 tahun. Duprez (2008) melaporkan bahwa seseorang yang normal dengan riwayat hipertensi pada keluarga terjadi penurunan aktivitas saraf parasimpatis yang signifikan. Faktor risiko tidak dapat dimodifikasi a. kecepatan kira-kira 2-3 mmHg per detik. B. Usia menyebabkan arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku. 2008). dan denyutan terakhir atau korotkoff IV/V yang menunjukkan tekanan diastolik (Uliyah dan Aziz. selain itu. Riwayat keluarga hipertensi Seseorang dengan riwayat keluarga hipertensi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari auscultatory gap yaitu hilangnya bunyi setelah bunyi pertama terdengar yang disebabkan oleh kekakuan arteri. Perubahan saraf otonom ini diturunkan melalui genetik yang berperan dalam kejadian hipertensi b. Pembacaan hasil tekanan darah secara auskultasi dengan denyutan pertama atau korotkoff I yang merupakan tekanan sistolik. pada usia lanjut sensitivitas pengatur tekanan darah yaitu refleks baroreseptor mulai berkurang. Faktor Resiko Hipertensi Hipertensi memiliki dua garis besar faktor resiko yang dapat mempengaruhi kejadiannya. 2008). Orang yang mempunyai riwayat keluarga hipertensi 2-4 kali lebih berisiko terkena hipertensi dibandingkan yang tidak mempunyai riwayat keluarga hipertensi (Ranasinghe. Penelitian pendahuluan Johns Hopkins mengidentifikasi bahwa apabila terdapat hipertensi pada ayah dan ibu. 2015). sebagian gennya akan berinteraksi satu sama lain dengan lingkungan yang akan meningkatkan tekanan darah.

serta angka istirahat jantung dan indeks kardiak pada pria lebih rendah dan tekanan peripheralnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan perempuan yang belum menopause pada level tekanan arteri yang sama. Asupan garam kurang dari tiga gram setiap hari memiliki prevalensi hipertensi yang rendah sedangkan jika asupan garam antara 5-15 gram per hari menyebabkan prevalensi hipertensi meningkat antara 15-20%. Wanita terlindungi dari penyakit kardiovaskular sebelum menopause karena adanya peran hormon esterogen yang mampu melindungi kerusakan pada endotel pembuluh darah.29 untuk kenaikan tekanan darah sistolik dan 3. 2006). 2. Pada dasarnya konsumsi natrium bersama klorida yang terdapat dalam garam dapur dengan jumlah normal dapat membantu mempertahankan keseimbangan cairan tubuh untuk mengatur tekanan 30 . Saat menginjak masa menopause wanita akan kehilangan hormon esterogennya sehingga hipertensi mudah saja untuk terjadi pada wanita sesuai dengan faktor resiko yang lain (Basha. Nutrisi Asupan nutrisi yang mampu mempengaruhi kejadian hipertensi salah satunya adalah natrium atau garam. selain itu juga esterogen dapat meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). 2009). Faktor resiko dapat dimodifikasi a. mengakibatkan tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia (Anggara. Garam merupakan faktor yang sangat penting dalam patogenesis hipertensi. oleh karena itu WHO menganjurkan untuk pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari atau setara dengan 2400 mg natrium (Chobanian. 2004). 2013. b. Laki-laki mempunyai risiko terkena hipertensi lebih tinggi disebabkan oleh gaya hidup yang lebih berisiko. Syukraini.76 kali untuk kenaikan darah diastolik (Depkes. 2009). Jenis kelamin Laki-laki pada usia produktif lebih berisiko untuk terkena hipertensi dibandingkan perempuan dengan rasio sekitar 2.

Kolesterol yang banyak terdapat dalam LDL akan menumpuk pada dinding pembuluh darah dan membentuk plak. Pembuluh darah koroner yang menderita aterosklerosis selain menjadi tidak elastis. misalnya biskuit dan margarin) dan lemak jenuh (ditemukan pada mentega. Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma. Kebiasaan konsumsi lemak jenuh juga memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi. biskuit. 31 . Plak akan bercampur dengan protein dan ditutupi oleh sel-sel otot dan kalsium yang akhirnya berkembang menjadi aterosklerosis. dan krim) telah terbukti dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Namun natrium dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. curah jantung. pastry.. yang nantinya akan memicu terjadinya hipertensi Lemak trans (ditemukan pada makanan yang diproses. (Savica et al. juga mengalami penyempitan sehingga tahanan aliran darah dalam pembuluh koroner juga naik. 2008).darah. Vilareal. Mohan. cake. Begitu juga pada trigliserida dalam aliran darah dipecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas oleh enzim lipoprotein lipase yang berada pada sel-sel endotel kapiler (Vilareal. Chobanian. 2009. jika konsumsinya berlebihan dan akan meningkatkan terjadinya plak dalam pembuluh darah. 2008). Beberapa peneliti membuktikan bahwa mereka yang memiliki kecenderungan menderita hipertensi secara keturunan memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk mengeluarkan garam dari tubuhnya ((Savica et al. 2009). 2010. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. produk daging. dan tekanan darah. Patofisiologi dimulai ketika lipoprotein sebagai alat angkut lipida bersikulasi dalam tubuh dan dibawa ke sel- sel otot. 2010. lemak dan sel-sel lain.. sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik cairan di luar sel agar tidak keluar.

c. yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Zat-zat kimia beracun. membuat jantung berkerja lebih kuat dan cepat. Nikotin dalam tembakau merupakan penyebab meningkatnya tekanan darah. seperti nikotin dan karbon monoksida yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses atherosklerosis dan hipertensi. Begitupula stres yang dialami penderita hipertensi.. Seseorang lebih dari satu pak rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok. Nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil di dalam paru-paru dan diedarkan ke aliran darah dan mencapai otak. Perubahan fungsional tekanan darah yang disebabkan oleh kondisi stres dapat menyebabkan hipertropi kardiovaskuler bila berulang secara intermiten. Nikotin pada rokok juga mampu meningkatkan pelepasan epinefrin yang dapat mengakibatkan terjadinya penyempitan dinding arteri. Merokok Selain dari lamanya kebiasaan merokok. 2013). 2015).b. nikotin diserap oleh pembuluh- pembuluh darah di dalam paru-paru dan diedarkan ke aliran darah (Gumus et al. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin). Stres Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis. risiko merokok terbesar tergantung pada jumlah rokok yang diisap perhari. maka akan mempengaruhi peningkatan tekanan darahnya yang cenderung menetap atau bahkan dapat bertambah tinggi sehingga menyebabkan kondisi hipertensi menjadi lebih berat (Islami. Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk 32 . Seperti zat-zat kimia lain dalam asap rokok. Kondisi stres yang membuat tubuh menghasilkan hormon adrenalin lebih banyak. Apabila terjadi dalam jangka waktu yang lama maka akan timbul rangkaian reaksi dari organ tubuh lain.

sehingga menghasilkan Indeks Masa Tubuh (IMT) (Basha.8 tahun menyimpulkan kejadian hipertensi meningkat pada subjek yang memiliki kebiasaan merokok. 2007). Volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri. Banyak penelitian dilakukan dan menghasilkan dugaan bahwa meningkatnya berat badan normal relatif sebesar 10 % mengakibatkan kenaikan tekanan darah 7 mmHg. d. 2004). Obesitas Obesitas atau kegemukan ditentukan dengan membandingkan antara berat badan dengan tinggi badan kuadart dalam meter. yaitu dengan peningkatan terbanyak pada kelompok subjek dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang per hari (Rahyani. Obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi akibat dari beberapa sebab. Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kadar insulin dalam darah. Zat lain dalam rokok adalah Karbon monoksida (CO) yang juga mengakibatkan jantung akan bekerja lebih berat untuk memberi cukup oksigen ke sel- sel tubuh (Mannan et al. Makin besar massa tubuh. Berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah. bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. 2010).. Peningkatan insulin menyebabkan tubuh menahan natrium dan air.. 2012). Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi lemak. oleh karena itu. makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Penelitian cohort prospektif yang dilakukan di Brigmans Women’s Hospital Massachussets terhadap 28236 subjek dalam rentang waktu 9. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang dengan obesitas 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang dengan berat badan normal (Savica et al. penurunan berat badan dengan membatasi kalori bagi orang-orang yang obesitas dapat 33 .

Sugihartono. Aktivitas fisik Aktifitas fisik yang teratur seperti olahraga sering dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi.1 Selain itu. 2008. 2007). 2015). penerapan dietkombinasi Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH). C. 2006). dan pembatasan asupan alkohol. e. Non Farmakologis Terapi non farmakologi ditujukan untuk menurunkan tekanan darah pasien dengan jalan memperbaiki pola hidup pasien. Detection. dijadikan langkah positif untuk mencegah terjadinya hipertensi (Suparto. Hal ini dikarenakan olahraga isotonik yang teratur mampu menurunkan tahanan perifer yang dapat menurun juga tekanan darah (Yugiantoro. aktivitas fisik yang teratur. Penatalaksanaan Hipertensi 1. selain terapi dengan obat. Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantung harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Termasuk dalam modifikasi gaya hidup adalah penurunan berat badan.5% (Roehandi. Penelitian Oregon Health Science pada kelompok laki-laki dan wanita yang kurang aktivitas fisik dengan kelompok yang beraktivitas dapat menurunkan low density lipoprotein (LDL) sebesar 6. Joint National Committeeon Prevention. Makin keras dan sering otot jantung harus memompa. Kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko menderita hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan berat badan.. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa seseorang yang tidak melakukan olahraga teratur meningkatkan resiko hipertensi sebesar 2 kali dibandingkan orang yang berolahraga teratur. 2010). reduksi asupan garam. Evaluation and Treatmentof High Blood Pressure (JNC) menganjurkan modifikasi gaya hidup dalam mencegah dan menangani tekanan darah tinggi. makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri (Afrifa- Anane et al. berhenti merokok juga dianjurkan untuk mengurangi 34 . Terapi ini sesuai untuk segala jenis hipertensi.

Masing-masing mempunyai efek penurunan tekanan darah yang berperan dalam pencegahan komplikasi hipertensi dan bila dijalankan secara bersamaan akan mempunyai efek penurunan tekanan darah yang lebih nyata (Tabel 4.2) (Ridjab.resiko kardiovaskular secara keseluruhan. Apabila target yang diharapkan tidak tercapai setelah pelaksanaan modifikasi gaya hidup. 2007). penanganan hipertensi dapat dimulai dengan modifikasi gaya hidup. 2007). Pada penderita hipertensi stadium I tanpa risiko faktor penyakit serebrovaskular yang berarti (seperti penyakit jantung koroner. stroke atau diabetes melitus).2 Modifikasi Gaya Hidup untuk Penurunan Tekanan Darah Modifikasi gaya hidup dianjurkan pada setiap stadium hipertensi. Tabel 4. penanganan dengan menambahkan obat-obatan merupakan langkah berikutnya (Ridjab. 35 .

2) (Vila. Tujuan pengobatan adalah untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi yang berhubungan dengan kerusakan organ target. seperti gangguan kardiovaskular atau serebrovaskular. 36 . sehingga obat antihipertensi harus diminum seumur hidup. Antihipertensi hanya menghilangkan gejala tekanan darah tinggi dan tidak penyebabnya. Pedoman tatalaksana hipertensi terbaru ini terdiri dari 9 rekomendasi terkait target tekanan darah dan golongan obat hipertensi yang direkomendasikan (Gambar 4. adanya kerusakan organ target. JNC 8 telah merilis panduan baru pada manajemen hipertensi orang dewasa terkait dengan penyakit kardiovaskuler. tetapi setelah beberapa waktu dosis pemeliharaan pada umumnya dapat diturunkan (Tjay dan Kirana. yaitu derajat kenaikan tekanan darah.2. dan penyakit ginjal dengan memelihara tekanan darah sistolik di bawah 140 mmHg dan tekanan darah diastole di bawah 90 mmHg. 2015). 2007). gagal jantung. dan adanya penyakit kardiovaskular. Farmakologis Keputusan untuk memberikan pengobatan farmakologik mempertimbangkan beberapa faktor. Tatalaksana hipertensi pada pedoman terbaru ini lebih sederhana dibandingkan dengan JNC 7.

Mekanisme kerja diuretik dalam menurunkan tekanan darah ialah melalui efek diuresis yang menyebabkan volume plasma darah berkurang sehingga cardiac output akan menurun. dan hemat kalium. diantaranya adalah : a. b. Terdapat lima kelompok obat yang digunakan untuk pengobatan awal hiperternsi. hambatan sekresi 37 .. antagonis aldosteron. Diuretik Diuretik memiliki empat subkelas. yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel kembali menjadi normal (Syarif et al. yaitu tiazid. 2007). Pada dasarnya diuretik memiliki fungsi utama untuk memobilisasi cairan edema. diuretik kuat.2 Algoritma Terapi Hipertensi menurut JNC 8. β-blocker Mekanisme penurunan tekanan darah oleh β-blocker adalah dengan penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard yang akan menurunkan curah jantung. Gambar 4.

dan aktivitas simpatik dihambat (Neal. 38 . serta efek sentral yang akan mempengaruhi aktivitas saraf simpatis. e. c. sedangkan vena kurang dipengaruhi. di pembuluh darah. Angiotensin II Reseptor Blocker (ARB) ARB secara langsung menghambat reseptor angiotensin II sehingga efek angiotensin seperti vasokontriksi. D. 2006).. dimana angiotensin merupakan vasokonstriktor poten yang juga akan merangsang sekresi aldosteron (Syarif et al. antagonis kalsium terutama menimbulkan relaksasi arteriol. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) ACEI bekerja dengan menghambat enzim angiotensin converting sehingga menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. penurunan resistensi perifer ini sering diikuti efek takikardi dan vasokonstriksi (Syarif et al. 2007). pelepasan aldosteron. rennin. d. 2007).. Calcium Channel Blocker Ca Channe Blocker bekerja dengan menghambat influks kalsium sepanjang membran sel otot polos pembuluh darah.

Kerangka Teori Aktivitas fisik Rokok Stress Alkohol Obesitas Konsumsi garam Aktivitas simpatis Disfungsi endotel Keseimbangan garam dan air katekolamin Pelepasan Renin Volume darah ↑ Angiotensin I Angiotensin II Kontraktilitas jantung ↑ Volume sekuncup Vasokontriksi Resistensi tahanan perifer Curah Jantung Hipertensi 39 .

Gambar 4. Hipotesis 1. Terdapat hubungan antara stress dan hipertensi 5. Terdapat hubungan antara konsumsi tinggi garam dengan hipertensi 3. Terdapat hubungan antara genetik dan hipertensi 2. Terdapat hubungan antara rokok dan hipertensi 7.3 Kerangka Teori E. Terdapat hubungan antara konsumsi makanan lemak jenuh dengan hipertensi 4. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik yang kurang dan hipertensi 40 . Kerangka Konsep Genetik Konsumsi tinggi garam Hipertensi Konsumsi makanan lemak jenuh Stress Obesitas Rokok Aktivitas fisik Gambar 4. Terdapat hubungan antara obesitas dan hipertensi 6.4 Kerangka Konsep F.

Populasi Penelitian a. b. 2011). Besar sampel Seluruh lansia anggota posyandu lansia Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Teknik pengambilan sampel Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling. METODE PENELITIAN A. B. teknik ini memungkinkan peneliti mendapatkan seluruh jumlah pasien yang datang ke posyandu lansia. c. Populasi target Populasi target pada penelitian ini adalah warga Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas berusia ≥ 45 tahun pada bulan Desember 2016. Penelitian ini ingin mengetahui faktor risiko hipertensi yang ada pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen dimana pengamatan atau pengambilan data dilakukan satu kali melalui kuisioner dan tanpa dilakukan intervensi terhadap subjek penelitian (Sastroasmoro. Rancangan Penelitian Penelitian menggunakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. 41 . Subjek Penelitian a. Populasi terjangkau Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah warga Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas yang mengikuti posyandu lansia pada bulan Desember 2016. Populasi dan Sampel 1. Kriteria inklusi dan ekslusi 1) Kriteria inkusi: a) Individu berusia ≥ 45 tahun. b. 2. V.

diantaranya nutrisi. Variabel Penelitian 1. bapak dan atau ibu kandung. Hipertensi 2. Dikategorikan menjadi: 1. Dikategorikan menjadi: 1. Definisi Operasional Tabel 5. 2) Kriteria ekslusi kasus: Tidak kooperatif dalam melakukan tahap wawancara dan pengisian kuesioner.1 Definisi Operasional Variabel Keterangan Skala Kejadian Keadaan seseorang memiliki tekanan darah Nominal Hipertensi sistolik ≥140 mmHg dan atau Diastolik ≥90 mmHg yang diukur dengan menggunakan sphygmomanometer dalam kondisi istirahat pada posisi duduk. yaitu kakek dan atau nenek. merokok. b) Bersedia menjadi subyek penelitian dengan menandatangani lembar persetujuan menjadi subyek penelitian setelah membaca lembar informed consent. Dikategorikan menjadi: 42 . aktivitas fisik. Perempuan Genetik Ada atau tidaknya keluarga yang menderita Nominal hipertensi. obesitas. Variabel Terikat Variabel bebas pada penelitian ini adalah kejadian hipertensi. Banyumas. Variabel bebas termasuk skala nominal. Tidak hipertensi Jenis Pengelompokkan jenis manusia secara biologis Nominal Kelamin yang dibawa sejak lahir. c) Subjek penelitian berdomisili di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen. dan stress. 2. D. Laki-laki 2. C. Variabel tergantung termasuk skala nominal. Variabel Bebas Variabel terikat pada penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi.

Memiliki predisposisi genetik. Tidak obesitas (IMT < 25. Ya 2. Indeks Brinkman didapatkan dari hasil perkalian antara jumlah batang rokok rata-rata yang dihisap dalam sehari dikalikan lama merokok dalam tahun. Perokok Sedang: IB Score 200-600 4.0) 2. Aktivitas fisik cukup Obesitas Nominal Kelebihan berat badan yang diukur menggunakan IMT dengan rumus berat badan dalam kg dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter. atau jogging). Dikategorikan menjadi: 1. Merokok Responden dikatakan merokok apabila Ordinal menjawab pernah atau sedang memiliki kebiasaan merokok. Perokok Berat: IB Score > 600 Aktivitas Melakukan olahraga teratur minimal tiga kali Nominal fisik seminggu selama 30 menit dengan jenis olahraga aerobik (berjalan. berenang. Dikatakan tidak merokok apabila menjawab tidak pada saat wawancara. 1. Dikategorikan menjadi: 1. Derajat merokok dinilai dengan menggunakan Indeks Brinkman. Tidak 43 . Dikategorikan menjadi: 1. bersepeda. Bukan Perokok 2.0) Konsumsi Nominal tinggi garam Konsumsi makanan yang memiliki kadar garam ≥ 6 gram dalam sehari atau setara dengan ≥ 1 sendok teh per hari. Perokok Ringan: IB Score < 200 3. Aktivitas fisik kurang 2. Obesitas (IMT ≥ 25. 2. Dikategorikan menjadi: 1. Tidak memiliki predisposisi genetik.

Ya 2. Tidak stress (skor 0-14) E. Konsumsi Nominal makanan Kebiasaan mengonsumsi makanan yang lemak jenuh mengandung lemak jenuh dan memakannya minimal tiga kali atau lebih dalam seminggu. Dikategorikan menjadi: 1. F. 2. Instrumen Pengambilan Data Sumber data adalah primer yang diperoleh dari wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner. maka analisis dilakukan dengan menggunakan uji Fisher Exact Test sebagai alternatif. kemudian dihitung frekuensi dan presentasinya. Dikategorikan menjadi: 1. Stress (skor >14) 2. Jika data tidak memenuhi syarat uji Chi Square. 2. Dinilai menggunakan kuesioner DASS (Depression Anxiety and Stress Scale) yang mengkaji tingkat stress. Analisis situasi. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden dengan mendeskripsikan tiap variabel hasil penelitian. Identifikasi dan analisis penyebab masalah. c. b. Tahap pelaksanaan 44 . Tahap persiapan a. Tidak Stress Respon non spesifik terhadap berbagai perintah Nominal yang menekan keadaan psikis seseorang. Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan variabel bebas dan variabel terikat menggunakan uji Chi Square. Studi pendahuluan (orientasi) di Puskesmas II Kemranjen. Tata Urutan Kerja 1. Rencana Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. G.

a. H. Mencatat dan menentukan nama responden. b. Melakukan pemecahan masalah. f. e. Waktu dan Tempat Kegiatan dilaksanakan pada: Tanggal : 20-31 Desember 2016 Tempat : Puskesmas II Kemranjen. 45 . Kabupaten Banyumas. Penyusunan laporan CHA. c. d. Pengambilan data primer. Menyusun alternatif pemecahan masalah sesuai hasil pengolahan data. Tahap pengolahan dan analisis data.

Analisis Univariat Pada penelitian cross-sectional yang dilakukan pada lansia Desa Kebarongan.3% Usia 45-49 tahun 60-69 tahun ≥70 tahun Jenis Kelamin Perempuan 48 94% Laki-laki 3 6% Obesitas (IMT ≥25 kg/m2) Ya 20 39.4% Merokok Bukan Perokok 48 94. 1.1% Perokok Ringan 1 2% Perokok Sedang 2 3.6% Tidak 16 31. Penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara menggunakan kuisioner kepada lansia yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.7% Tidak 18 35.9% Perokok Berat 0 0% Stress (Skor DASS >14) Ya 18 35. didapatkan karakteristik responden sebagai berikut : Tabel 6. Karakteristik Responden Variabel Frekuensi % Tekanan Darah Hipertensi 33 64. VI. Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas pada bulan Desember 2016.2% Tidak 31 60.7% 46 . Hasil Pelaksanaan penelitian dilakukan di Desa Kebarongan.6% Tidak 16 31. Penelitian dilakukan bersamaan dengan Posyandu Lansia dengan total jumlah peserta 51 lansia.1.3% Tidak 33 64. HASIL DAN ANALISIS PENYEBAB MASALAH A.4% Konsumsi makanan berlemak Ya 35 68.8% Konsumsi garam Ya 35 68.

Berdasarkan pengujian diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 6.8% Genetik Ya 28 54. Hubungan Faktor Risiko Hipertensi dengan Kejadian Hipertensi di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Faktor Risiko P Genetik 0. 35 responden (68.006 Stress 0.6%) yang mengonsumsi garam lebih dari 1 sendok teh per hari.2. Aktivitas fisik Ya 21 41.004 Obesitas 0. maka dilakukan analisis menggunakan uji Fisher dengan melihat nilai p value. dan 28 responden (54.7%).9%) mempunyai riwayat keluarga hipertensi. Terdapat 35 responden (68.04 47 .000 Merokok 0.006 Konsumsi makanan berlemak 0.8%) memiliki aktivitas fisik kurang.7%) tidak mengalami stress.6%) yang mengonsumsi makanan berlemak lebih dari 3 kali seminggu. 33 orang (64. Usia responden didominasi kelompok usia 45-59 tahun sebanyak 30 orang (33%). 2. Analisis Bivariat Untuk menilai ada tidaknya hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas dapat digunakan uji hipotesis Chi-Square. 48 responden (94%) tidak merokok.1 didapatkan responden penelitian yang menderita hipertensi sebanyak 33 orang (64. Penelitian ini menggunakan CI 95% sehingga variabel dinyatakan berhubungan signifikan apabila p value lebih besar dari 0.217 Konsumsi garam 0.419 Aktivitas fisik 0. Jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan sebanyak 48 orang (94%). Namun. apabila terdapat variabel yang tidak memenuhi syarat Chi-Square. 30 orang responden (58.9% Tidak 23 45.2% Tidak 30 58.1% Berdasarkan tabel 6.05 atau nilai X 2 hitung lebih besar dari X2 tabel.

Hubungan Konsumsi Makanan Berlemak dengan Kejadian Hipertensi Konsumsi Makanan Hipertensi Jumlah P 48 .5.3. Hubungan Konsumsi Garam dengan Kejadian Hipertensi Tabel 6. Hubungan Obesitas dengan Kejadian Hipertensi Tabel 6. Hubungan Obesitas dengan Kejadian Hipertensi Obesitas Hipertensi Jumlah P Ya Tidak Obesitas 15 5 20 0.006 <1 sdt/hari 6 10 16 Jumlah 33 18 51 Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan antara konsumsi garam dengan kejadian hipertensi. Hubungan Genetik dengan Kejadian Hipertensi Genetik Hipertensi Jumlah P Ya Tidak Ada faktor genetik 23 5 28 0. Hubungan Konsumsi Garam dengan Kejadian Hipertensi Konsumsi Garam Hipertensi Jumlah P Ya Tidak >1 sdt/hari 27 8 35 0. d.004 Tidak ada faktor genetik 10 13 23 Jumlah 33 18 51 Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan antara genetik dengan kejadian hipertensi. Hubungan Genetik dengan Kejadian Hipertensi Tabel 6. c.a.6.217 Tidak obesitas 18 13 31 Jumlah 33 18 51 Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi. Hubungan Konsumsi Makanan Berlemak dengan Kejadian Hipertensi Tabel 6.4. b.

04 49 .000 <3 kali/minggu 3 13 16 Jumlah 33 18 51 Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan antara konsumsi makanan berlemak dengan kejadian hipertensi. Hubungan Stress dengan Kejadian Hipertensi Stress Hipertensi Jumlah P Ya Tidak Ya 15 3 18 0. f. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi Tabel 6.419 Perokok ringan 1 0 1 Perokok sedang 2 0 2 Perokok berat 0 0 0 Jumlah 33 18 51 Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara merokok dengan kejadian hipertensi.7.8. Hubungan Stress dengan Kejadian Hipertensi Tabel 6. Hubungan Merokok dengan Kejadian Hipertensi Merokok Hipertensi Jumlah P Ya Tidak Bukan perokok 30 18 48 0. e.9. Berlemak Ya Tidak >3 kali/minggu 30 5 35 0.06 Aktivitas fisik kurang 24 6 30 Jumlah 33 18 51 Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi. Hubungan Merokok dengan Kejadian Hipertensi Tabel 6. g. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi Aktivitas Fisik Hipertensi Jumlah P Ya Tidak Aktivitas fisik cukup 9 12 21 0.

konsumsi garam (p=0. faktor-faktor yang signifikan secara statistik mempengaruhi kejadian hipertensi adalah genetik (p=0.004). 2004).006). Berdasarkan hasil penelitian. Hipotesis yang peneliti ajukan yaitu terdapat faktor resiko yang mempengaruhi kejadian hipertensi pada lansia Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Selain itu.05). dan stress (p=0.04). Signifikansi hubungan dapat dilihat pada nilai p value dari setiap variabel. Pembahasan Penelitian ini meneliti mengenai identifikasi faktor resiko hipertensi pada lansia di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. konsumsi makanan berlemak (p=0. Tidak 18 15 33 Jumlah 33 18 51 Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan antara stress dengan kejadian hipertensi. Berdasarkan hasil penelitian diantara tujuh faktor risiko yang diteliti. terdapat lima faktor risiko yang berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi pada lansia Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen.419). B.04 kali dibandingkan dengan orang 50 . berisiko terkena hipertensi 4. subyek perempuan berjumlah 48 (94%) lebih banyak dibandingkan dengan subyek laki-laki yang berjumlah 3 (6%). Pada penelitian ini. dan merokok (p=0.006). Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat genetik dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0.217). Sebagian besar responden adalah anggota posyandu lansia di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen.04 (p<0. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sugiharto (2007) yang menyatakan bahwa orang yang orang tuanya mempunyai riwayat hipertensi. Hal ini disebabkan karena subyek perempuan lebih aktif dalam mengikuti posyandu lansia dibandingkan dengan subjek laki-laki. aktivitas fisik (p=0. Sedangkan faktor-faktor yang tidak signifikan secara statistik dengan kejadian hipertensi yaitu obesitas (p=0. saat menginjak masa menopause wanita akan kehilangan hormon esterogennya sehingga hipertensi mudah saja untuk terjadi pada wanita sesuai dengan faktor resiko yang lain (Basha.006).

Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi garam dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0. Untuk menormalkannya cairan intraselular ditarik keluar.yang orang tuanya tidak hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah.000). 2011). yaitu gen yang terdapat pada kromosom kelamin. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sugiyarto (2011) yang menyatakan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi lemak jenuh berisiko terserang hipertensi sebesar 7. Jika kedua orang tua mempunyai hipertensi. sehingga jantung harus memompa lebih keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang yang semakin sempit. Hal ini tidak 51 . hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan.000 (p<0. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi makanan berlemak jenuh >3 kali seminggu dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0.05).217 (p>0. sehingga volume cairan ekstraselular meningkat. Pewarisan hipertensi bukan bersifat X-linked. Menurut Sheps (2005). Di sampung itu. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0. Konsumsi natrium yang berlebih akan menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraselular meningkat. dan akibatnya adalah terjadinya hipertensi (Anggraini. karena baik ayah atau ibu. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Suci (2008) yang menyebutkan ada hubungan yang bernakna antara konsumsi garam dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia lebih dari 30 tahun (p = 0. Meningkatnya volume cairan ekstraselular tersebut akan menyebabkan meningkatnya volume darah. konsumsi garam dalam jumlah tinggi dapat mengecilkan diameter arteri.006 (p<0. 2008). risiko meningkat menjadi 60%.72 kali dibandingkan dengan orang yang tidak biasa mengonsumsi lemak jenuh.05). Jika seseorang salah satu orang tuanya mempunyai hipertensi berisiko 25% terkena hipertensi. dapat mewariskannya baik pada keturunan laki-laki maupun perempuan (Henuhili.05).

1 dibandingkan dengan dengan orang yang memiliki kebiasaan olahraga teratur. menghindari faktor risiko tulang keropos.006 (p>0. meningkatkan mobilitas.05). 2008). akan memperberat kerja jantung dan secara tidak langsung memperparah hipertensi (Vilareal.menunjukkan hubungan langsung pada kejadian hipertensi.50% daripada yang aktif. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara merokok dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0. Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya endapan kolesterol dalam dinding pembuluh darah. dan mengurangi stres. Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30. Oleh karena itu. Aktivitas fisik secara teratur sebanyak tiga kali dalam seminggu dapat memaksimalkan tekanan darah.419 (p<0. Penelitian membuktikan bahwa orang yang berolahraga memiliki faktor risiko lebih rendah untuk menderita penyakit jantung. Dengan demikian. 2008). Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggara tahun 2012 yang menyatakan orang yang tidak teratur melakukan olahraga akan meningkatkan risiko terkena hipertensi sebesar 44. tekanan darah tinggi. dan kolesterol tinggi. 52 . Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh .05). Aktivitas fisik atau olahraga dapat menjaga tubuh tetap sehat. Akumulasi dari endapan kolesterol apabila bertambah akan menyumbat pembuluh nadi dan mengganggu peredaran darah. latihan fisik antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi (Cortas.

Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara stress dengan kejadian hipertensi dengan nilai p=0. membuat jantung berkerja lebih kuat dan cepat (Islami. yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap.05). Kondisi stres yang membuat tubuh menghasilkan hormon adrenalin lebih banyak. 2015) 53 . Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis.04 (p<0.

Senam jantung 5. Masalah yang diatasi besar 5. dan stress menjadi pengaruh paling besar terhadap kejadian hipertensi di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen. sedangkan efisiensi jalan keluar dikaitkan dengan biaya yang diperlukan untuk melakukan jalan keluar. Masalah yang dapat diatasi kecil 3. M (besarnya masalah yang dapat diatasi) : 1. BAB VII ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH A. konsumsi lemak jenuh. Penentuan Alternatif Terpilih Efektifitas jalan keluar meliputi besarnya masalah yang dapat diatasi. Tidak langgeng 3. Dengan melihat analisis data maka dapat dibuat beberapa alternatif pemecahan masalah yaitu : 1. I (pentingnya jalan keluar yang dikaitkan dengan kelanggengan selesainya masalah): 1. pentingnya jalan keluar. Penyusunan Alternatif Pemecahan Masalah Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian hipertensi di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen maka dapat diketahui faktor genetik. Cukup langgeng 4. Penyuluhan tentang faktor risiko hipertensi terutama riwayat keluarga. Pengecekan kolesterol B. 1) Kriteria efektifitas jalan keluar a. Masalah yang dapat diatasi sangat kecil 2. V (sensitivitas jalan keluar yang dikaitkan dengan kecepatan penyelesaian masalah): 54 . Langgeng 5. Sangat tidak langgeng 2. Pelatihan kader mengenai pengukuran tekanan darah dan upgrading pengetahuan mengenai hipertensi 3. Masalah yang dapat diatasi cukup besar 4. Masalah yang diatasi dapat sangat besar b. dan stress kepada masyarakat 2. konsumsi garam. Sangat langgeng c. aktivitas fisik yang kurang. konsumsi garam. konsumsi lemak jenuh. aktivitas fisik yang kurang. Pembagian leaflet mengenai hipertensi 4.

Penyelesaian cukup cepat 4. Penyelesaian masalah cepat 5. Penyelesaian masalah sangat lambat 2.1. Biaya mahal 3. Biaya murah 5. Biaya cukup mahal 4. Prioritas Pemecahan Masalah dengan Metode Rinke No Alternatif Efektivitas Pemecahan Efisiensi MxIxV/C Prioritas M I V Masalah 1 Penyuluhan 4 3 3 4 9 3 Hipertensi 2 Pelatihan kader 4 4 3 4 12 1 3 Pembagian leaflet 3 3 3 3 9 4 4 Senam 4 4 3 4 12 2 5 Cek kolesterol 3 2 2 2 6 5 Berdasarkan hasil perhitungan prioritas pemecahan masalah menggunakan metode Rinke. 1. Biaya sangat murah Prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan metode Rinke untuk masalah faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian hipertensi pada lansia di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas adalah sebagai berikut Tabel 7. Penyelesaian masalah sangat cepat 2) Kriteria efisiensi jalan keluar (yang dikaitkan dengan biaya yang dikeluarkan dalam menyelesaikan masalah) 1. 55 . maka didapat dua prioritas pemecahan masalah. Penyelesaian masalah lambat 3. yaitu melakukan pelatihan kader mengenai pengukuran tekanan darah dan upgrading pengetahuan mengenai hipertensi serta senam jantung. Biaya sangat mahal 2.

Salah satu PTM yang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius saat ini adalah hipertensi. Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di negara maju maupun negara berkembang. penyakit jantung iskemik dan insufisiensi ginjal dan prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia (Sherlock et al. prevalensi hipertensi di Indonesia hasil pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 25. Hipertensi merupakan penyebab yang paling umum terhadap morbiditas dan mortalitas pada usia yang lebih tua seperti stroke. Data kasus hipertensi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas menunjukkan bahwa jumlah kasus hipertensi pada tahun 2014 sebesar 6398 kasus dengan temuan kasus baru dari Puskesmas II 56 . Latar Belakang Terjadinya transisi epidemiologi yang paralel dengan transisi demografi dan transisi teknologi di Indonesia dewasa ini telah mengakibatkan perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular (PTM) meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases yang merupakan faktor utama masalah morbiditas dan mortalitas. Prevalensi hipertensi di Jawa Tengah mencapai 26. misalnya merokok. 2008). Angka kejadian hipertensi di seluruh dunia mencapai 1 milyar orang dan sekitar 7. Hipertensi atau tekanan darah tinggi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau diastolik 90 mmHg atau lebih pada dua kali pengukuran dengan selang waktu minimal lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang (Pusdatin. Terjadinya transisi epidemiologi ini disebabkan terjadinya perubahan sosial ekonomi.1 juta kematian akibat hipertensi terjadi setiap tahunnya (Depkes RI. serta konsumsi alkohol yang diduga merupakan faktor risiko PTM (Balitbangkes.8 persen. Berdasarkan Riskesdas 2013. saat masyarakat telah mengadopsi gaya hidup tidak sehat. 2006). kurang aktivitas fisik. makanan tinggi lemak dan kalori. 2013). lingkungan dan perubahan struktur penduduk. 2014). BAB VIII RENCANA KEGIATAN A..4% (Riskesdas. 2014).

2009). pemeliharaan berat badan ideal. dan pada tahun 2015 didapatkan 750 kasus.4 %) dan tuberkulosis (7.6% dari total kasus hipertensi baru di Kabupaten Banyumas pada tahun 2014 (DKK Banyumas.5 %) (Depkes RI. pada tahun 2014 meningkat 49. genetik dan faktor yang dapat diubah seperti pola makan. Munculnya hipertensi memerlukan faktor risiko tersebut terjadi secara bersama-sama (common underlying risk factor). berolahraga serta tidak merokok yang merupakan upaya untuk pengendalian hipertensi (Ningsih. konsumsi gizi seimbang. dengan kata lain satu faktor risiko saja belum cukup menyebabkan timbulnya hipertensi (Elsanti. yakni 2. 2014). 2009). 2008). Angka kejadian hipertensi di Puskesmas II Kemranjen pada tahun 2013 mencapai 254 kasus. 2009). deteksi dini dan pengobatan yang adekuat untuk penderita hipertensi.8% setelah stroke (15. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi dibagi dalam dua faktor yaitu faktor yang tidak dapat diubah seperti jenis kelamin.Kemranjen sebesar 167 kasus baru. umur. kebiasaan olah raga dan lain-lain. pembatasan konsumsi garam. Edukasi tentang penyakit dibutuhkan bagi masyarakat wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen seperti modifikasi gaya hidup sehat. yakni mencapai 6. perlu adanya pencegahan. Oleh karena itu. sehingga dapat disimpulkan jumlah kasus hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pengetahuan diduga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi tindakan dan perilaku penderita hipertensi dalam mengendalikan penyakitnya.8% menjadi 510 kasus.. dan tiga kali lebih berisiko terkena serangan jantung (Rahajeng et al. Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor tiga pada semua umur di Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan tujuh kali lebih berisiko terkena stroke. Penyakit hipertensi termasuk kedalam 10 besar kasus penyakit terbanyak di Puskesmas II Kemranjen. Angka kejadian hipertensi yang selalu meningkat menjadi latar belakang dalam pengambilan kasus Community Health Analysis (CHA) berdasarkan uraian diatas peneliti ingin mengetahui faktor risiko hipertensi 57 . enam kali lebih berisiko menderita congestive heart failure (CHF).

Ked Dyah Ajeng Permatahani. Personil a. Tujuan 1. dan pencegahan hipertensi serta senam jantung sehat. C. Amir Fuad b. M. S.000. Rencana Anggaran Konsumsi : Rp. Bentuk Kegiatan Kegiatan akan dilaksanakan disajikan dalam bentuk pelatihan kader berupa mengenai pengukuran tekanan darah dan upgrading pengetahuan mengenai faktor risiko.00 WIB d. Pelaksana : Maya Alvionita. Tempat: Mushola RT 02 RW 08 Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen F. Indra Purwa dr. Meningkatkan pengetahuan warga Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen mengenai faktor risiko hipertensi. Kegiatan ini bertujuan agar kader dapat mensosialisasikan hasil penyuluhan dan menerapkan kegiatan senam jantung secara rutin di setiap posyandu lansia di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas.Ked d. Sasaran Kader Posyandu Lansia Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Waktu : 09. Pelaksanaan 1. Pembicara : Maya Alvionita. Tanggal : 27 Desember 2016 c. Penanggung jawab : dr. S. 2.Ked 2. Indah Kumalasari Ibu Bidan Nur Rochmawati Ibu Bidan Desy Trianita c.00 58 . 200. E. D. tanda gejala. Pembimbing : dr.Ked Dyah Ajeng Permatahani. Hari : Selasa b. Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan kader Posyandu Lansia Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen mengenai hipertensi. B. Waktu dan Tempat a. penyebab. pada masyarakat Desa Kebarongan dengan angka kejadian hipertensi tertinggi di wilayah kerja Puskesmas II Kemranjen Kabupaten Banyumas. S.00 WIB – 11. S. komplikasi.

230.000.00 Jumlah : Rp.000. 30.00 59 .CD : Rp.

dan F. Hipertensi : Faktor Risiko dan Penatalaksanaan Hipertensi. Dirjen P&PL 60 . NA. AG. Charles. 2004. 2015. Jurnal Ilmiah Kesehatan. Gramedia Pustaka Utama Amiruddin. Almatsier. F.A.medscape. The Association of Physical Activity. A. Balitbangkes. Pedoman Teknis. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tekanan Darah di Puskesmas Telaga Murni. B. 1 : 1- 11 Cortas K. BMC Public Health. Makasar: Bagian Epidemiologi FKM UNHAS.com/article/241381-overview. A. 2014/2015 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. dan E.. Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Hipertensi. Hypertension.. 5 (1) : 20-25 Armilawati. Prayitno. Ghana. 2006. Samuel.. Bhuana Ilmu Komputer Depkes RI. Danes. 3 (1) : 125-129 Anggara. Hipertensi dan Faktor Risikonya Dalam Kajian Epidemiologi. O. Essential Hypertension : An Approach to Its Etiology and Neurogenic Pathophysiology. Lintong. 2008. Gbenga. 2007. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Jurnal e-Biomedik. Jakarta : Bolivar.. Diakses pada : 20 April 2016 Davis. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Body Mass ndex and the Blood Pressure Levels Among Urban Poor Youth in Accra. 2003. Aikins. Analisa Hasil Pengukuran Tekanan Darah Antara Posisi Duduk dan Posisi Berdiri pada Mahasiswa Semester VII (Tujuh) TA. Indonesia Sehat. D dan N. Braverman. S.. Depkes RI. M. Operational study an integrated community- based intervention program on common risk factors of major non- communicable diseases in Depok-Indonesia. Ernest. Jakarta : PT. 2013. Jakarta : PT. J. V. A. H. 2008. J. Penyakit Jantung dan Penyembuhannya Secara Alami. R. Jakarta: Depkes RI Basha. Cikarang Barat Tahun 2012. 2015. Available at : http://emedicine. 2013. Internasional Journal of Hypertension. DAFTAR PUSTAKA Afrifa. 2004. R. Ghana.

Jegathes. J. Hypertension Guidlines : Revisting The JNC 7 Recomendations. 2015. 2003. 2008. Wahiduddin dan Rismayanti. Jakarta : PT. J. T.. Surakarta. Rahayu. Journal e-Clinic. A. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Kalangi. D. At a Glance Farmakologi Medis Edisi 5. Skripsi. 2014.. The Effect of Cigarette Smoking on Blood Pressure and Hypertension. Gambaran Pengetahuan. Gunawan. 242-247 Islami. Makasar : Repositori Universitas Hasanudi Maria. Jakarta : Penerbit Erlangga Ningsih. 2011. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hubungan Faktor Genetik dengan Tekanan Darah Pada Remaja. Journal Ilmiah Universitas Respati. 2009. Nurkhasanah. Rize. 3 (1) : 66-70 Khomsan. K. Kasus Penyakit Tidak Menular di Puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten Banyumas. (2010). G. dan L. 2015... Baturaja : Politeknik Kesehatan Departemen Kesehatan Sumatera Selatan 61 . dan V. Pola Pewarisan Penyakit Hipertensi dalam Keluarga sebagai Sumber Belajar Genetika. Umboh. Recep Tayyip Erdogan University. Gambaran Kebiasaan Merokok pada Pasien-pasien Hipertensi yang Datang ke Bagian Dalam RSUP H.. J. 2013. 3 (2) : 11-24 Martin. Servet. Hubungan Antara Stres dengan Hipertensi Pada Pasien Rawat Jalan di Puskesmas Rapak Mahang Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. A. dan Unal. 2006. Purwokerto : DKK Banyumas Gumus. Department of Pulmonary Medicine. Halit.. R. M. Adam Malik Medan.. 2011. A. E. S. 3 (3) : 91-97 Neal. A. Medan : Universitas Sumatra Utara. Hubungan Asupan Natrium dan Kalium dengan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Unit Rawat Jalan di Rumah Sakit Guido Valadares Dili Timor Leste. Yuliati. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi. L. J.U. Seminar Nasional Penelitian. Sikap Dan Tindakan Penderita Hipertensi Dalam Upaya Mencegah Kekambuhan Penyakit Hipertensi Di Kelurahan Saung Naga Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Tanjung Agung Kecamatan Baturaja Barat Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2009. 2012.Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Yogyakarta : Kanisius Hanulili. Faktor Risiko Kejadian Hipertensi di Waliyah Kerja Puskesmas Bangkala Kabupaten Jeneponto Tahun 2012. Sulistyowati. H. The Journal of Lancaster General Hospital. V. Puspita dan Y. Pendidikan dan Penerapan MIPA.K. C. Profil Kesehatan Kabupaten Banyumas Tahun 2014. Pateda. Raja Grafindo Mannan. Turkey.

dan S.Minicuci. The Effect of Nutrition on Blood Pressure.. 59(12): 12-14 Ranasinghe.L. International Journal of Epidemiology. 2015. B. 2006. 2014. 54 (3) : 159-165 Riset Kesehatan Dasar. R. BMC Public Health Journal. Jenis Kelamin. Majalah Kedokteran Indonesia. Prevalensi hipertensi dan determinannya di Indonesia. Modifikasi Gaya Hidup dan Tekanan Darah. Tuminah. 1-14 Nurkhalida. S. P. DOI : 10. Joel. Mengatasi Tekanan Darah Tinggi. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI Puskesmas II Kemranjen. Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan RI. P. Awareness. Jakarta : Intisari Mediatama Sherlock. Chatterji. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. 2015. Majalah Kedokteran Indonesia.1186/s12889-015-1927-7 Ridjab. N. 2009. 2007. and Control.Novitaningtyas. A. Cooray. J. 2003. S. Profil Kesehatan Puskesmas II Kemranjen Kabuoaten Banyumas Tahun 2015. Sheps. Tingkat Pendidikan) dan Aktivitas Fisik denagn Tekanan Darah Pada Lansia di Kelurahan Makamhaji Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo. Hypertension Among Older Adults in Low and Middle Income Countries: Prevalence. 2013. Hipertensi. Italy. DN. 43: 116- 128 62 . Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Beard. 2014. Skripsi Sarjana Ilmu Gizi FIK UMS. V. Jayawerdana.. Sheldon. The Influence of Family History of Hypertension on Disease Prevalence and Associated Metabolic. Departemen Kesehatan. Semarang : Repository Universitas Diponegoro Price. Papardo Hospital. P. Katulanda. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade I pada Masyarakat. Ebrahim. 2005. Perkembangan Penyakit Degeneratif. Republik Indonesia Savica. E. DK. Units of Nephrology and Dialysis. Purwokerto : Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas Rahajeng. Jakarta : EGC Pusat Data dan Informasi. 2010. 2014. D. Hubungan Karakteristik (Umur. T.. Guido. S.. University of Messina.

2008. Praktikum Keterampilan Dasar Praktik Klinik. Universitas Sumatera Utara Tjay. I. Muchtar. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Tesis. Blood Presure Change and Risk of Hypertension Associated with Parental Hypertension : the Johns Hopkins Precursoes Study. Mengatasi Tekanan Darah Tinggi. Hubungan Perilaku Merokok. Jakarta : Gaya Baru Syukarini. 42 (3) : 226-228 Vilareal. Sofyan. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. L. Jakarta: PT Intisari Mediatama. 2012. Sihombing. Obat-obat penting: Khasiat. 2007. Jakarta : Salemba Medika Vila. 60 (9): 406-412. T. Arch Intern Med. Jakarta : EGC. Analisis Faktor Resiko Hipertensi pada Masyarakat Nagari Bungo Tanjung.. Majalah Kedokteran Indonesia. Faktor Risiko yang Paling Berperan Terhadap Hipertensi Pada Masyarakat di Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar. Sihombing. N. 2012. A. Konsumsi Makanan/Minuman. New York : A Wiley Medical Publication Wang. Journa of Neuroscience. Susanto. 2008. Setiawati. M. Sheps. Hubungan Umur. Sumatera Barat. Kirana. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 6. Tesis. A. Areview of The JNC 8 Blood Pressure Guidline. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Primer di Puskesmas Tlogosari Kulon Kota Semarang. Penggunaan dan efek- efek sampingnya. 2 (5) : 24-30 Sugihartono. A. dan Aktivitas Fisik dengan Penyakit Hipertensi pada Responden Obes Usia Dewasa di Indonesia. Aziz. P. Jakarta: Elex Media Komputindo Uliyah. S. 2015. A.. dan A. 2008. A. Jenis Kelamin. Mayo Clinic Hipertens.Sherwood. Skripsi. Y. 2005. Udiyono. M. E. Estuningtyas. dan Y. dan R. 1 (2) : 315-325 Syarif. Universitas Diponegoro Suparto. H. 2015. Universitas Muhammadiyah Semarang Syahrini. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade II pada Masyarakat. et all. M. Ascobat. R. 2010. H. A. dan Hipertensi dengan Kejadian Stroke. 2009.. 2007. H. S. Hypertension. 2007. Hamra. Setiabudy. I. Texas Heart Institute Journal. E. NY. Volume 168(6) : 643-8 63 . Dan A. 2010..

Y. N. S. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi Pada Wanita Usia Subur di Puskesmas Umbulharjo I Yogyakarta Tahun 2009.. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Hipertensi Esensial. M. Djannah. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 64 . Jurnal Kesehatan Masyarakat. 4 (2) : 76-143 Yugiantoro. dan Solikhah.Yeni. 2010.

faktor risiko dan cara untuk mencegah penyakit tersebut sehingga diharapkan dapat mengontrol tekanan darah dan mengurangi komplikasi hipertensi.Lampiran 1. peneliti ingin melakukan penelitian mengenai faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Tujuan Penelitian Mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Manfaat Penelitian Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit hipertensi. Oleh karena itu. M. M. Amir Fuad Judul Penelitian Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi di Desa Kebarongan Keamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. 65 . Lembar Informasi KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO Tim Penelitian Peneliti : Maya Alvionita Dyah Ajeng Permatahani Pembimbing : dr. Yudhi Wibowo. Hipertensi menduduki peringkat sepuluh penyakit dengan angka kunjungan tertinggi di instalasi rawat jalan Puskemas II Kemranjen. Latar Belakang Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah dimana tekanan sistol lebih dari 140 mmHg dan diastole 90 mmHg dan merupakan salah satu penyakit degenerative yang prevalensinya terus meningkat.PH dr.

Setelah responden menyetujui. 66 . Hak Responden Responden berhak mengikuti atau tidak mengikuti penelitian ini.Prosedur Penelitian Pertama responden akan diminta melakukan persetujuan setelah pemberian informasi. berat badan. dan diwawancarai untuk mengisi kuisioner. Semua prosedur penelitian tidak menimbulkan bahaya atau kerugian apapun bagi responden penelitian. Responden juga berhak memutuskan untuk berhenti ditengah jalan walaupun sebelumnya diawal penelitian sudah memutuskan untuk mengikuti penelitian ini. Risiko Penelitian Tidak ada risiko apapun dari penelitian ini. kemudian responden akan diukur tinggi badan. tekanan darah. Sukarela atau Kerahasiaan Keikutsertaan penelitian ini bersifat sukarela yang berarti bahwa responden tidak akan dipungut biaya dan tidak ada paksaan untuk ikut serta dalam penelitian ini. Hasil segala tes yang dilakukan juga dijamin kerahasiaannya dan hanya akan dibertitahukan secara personal kepada masing-masing responden.

Informed consent KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO Informed Consent LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Saya yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Usia : Alamat : Telah memahami dan mensetujui penelitian yang dilaksanakan oleh para dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman dan akan memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan melalui jawaban kuesioner dalam rangka menganalisis faktor risiko hipertensi di Desa Kebarongan. Desember 2016 Responden 67 . Purwokerto.Lampiran 2. Kemranjen. Kabupaten Banyumas tahun 2016.

Inisial nama : 2. berapa kali ditensi? a. Jenis kelamin : 5. 1 bulan sekali 4. Pekerjaan : 7. kebiasaan olahraga) Jawablah pertanyaan dibawah ini : 3. Alamat : 4. Kuisioner KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO Bagian A: Data Demografi Jawablah daftar pertanyaan berikut ini dengan menuliskan check list pada kolom dan mengisi pada isian titik-titik yang telah tersedia. Pengukuran Berat badan : Tinggi badan : IMT : Tekanan darah : Bagian B Gambaran faktor risiko hipertensi (riwayat keluarga. Lampiran 3. Apakah Anda pernah melakukan pemeriksaan tekanan darah/tensi? a. kebiasaan mengonsumsi makanan lemak jenuh. Pendidikan terakhir : 6. Umur : 3. Tidak 4. Jika sudah pernah. 2 minggu sekali c. 1-3 kali b. >6 kali 3. 68 . 1. Apakah Anda ditensi secara rutin? Jika “ya”. Pernah b. 1 minggu sekali b. 3-6 kali c. Berapa tensi terakhir Anda? …………………………………………. biasanya kapan Anda ditensi? a. kebiasaan merokok. kebiasaan mengonsumsi makanan asin.

batang 2) Lamanya meroko : ………. ayah. jeroan. telur ayam. daging sapi) sebanyak ≥ 3 kali a. Apakah Anda terbiasa berolah raga minimal 3 kali setiap minggu selama masing-masing 30-45 menit? c. Tidak 9. Tidak 10. Berapa banyak anda konsumsi garam dalam sehari? a. nenek. Ya 1) Jumlah konsumsi rokok per hari : ………. ≤ 1 sendok teh/hari b. >1 sendok teh/hari 8. Ya b. Tidak 7. 5. Apakah keluarga Anda (kakek. Tahun b. Apakah Anda pernah diberitahukan oleh dokter/mantra/bidan bahwa Anda menderita hipertensi? a. Tidak pernah 6. Pernah b. Ya b. Apakah dalam seminggu Anda makan makanan berlemak (seperti gorengan. daging kambing. atau ibu) mempunyai riwayat tekanan darah tinggi yaitu tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih? a. Apakah Anda mempunyai kebiasaan merokok? h. Ya b. Tidak 69 .

14 Saya menemukan diri saya mudah gelisah. 3 Saya merasa sulit untuk bersantai. 2 Saya cenderung bereaksi berlebihan terhadap suatu situasi. atau tidak pernah. Saya sulit untuk sabar dalam menghadapi gangguan terhadap hal 11 yang sedang saya lakukan. 9 Saya merasa bahwa saya sangat mudah marah. 12 Saya sedang merasa gelisah. Saya tidak dapat memaklumi hal apapun yang mengahalangi saya 13 untuk menyelesaikan hal yang sedang saya lakukan. 4 : Sangat sesuai dengan saya. atau lumayan sering. Saya merasa telah menghabiskan banyak energy untuk merasa 5 cemas. 7 Saya merasa bahwa saya mudah tersinggung. 3 : Sesuai dengan saya sampai batas yang dapat dipertimbangkan. PERNYATAAN 0 1 2 3 1 Saya merasa bahwa diri saya menjadi marah karena hal-hal sepele. Kuisioner DASS KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO TES DASS Petunjuk Pengisian 1 : Tidak sesuai dengan saya sama sekali. 4 Saya merasa menemukan diri saya mudah merasa kesal. Saya menemukan diri saya menjadi tidak sabar ketika mengalami 6 penundaan (misalnya: kemacetan lalu lintas. atau sering sekali. Saya merasa sulit untuk tenang setelah sesuatu membuat saya 10 kesal. menunggu sesuatu). Lampiran 4. 2 : Sesuai dengan saya sampai tingkat tertentu. atau kadang-kadang. No. 70 . 8 Saya merasa sulit untuk beristirahat.