You are on page 1of 144

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA

INSTANSI PEMERINTAH
DITJEN PHKA TAHUN 2013

LAKIP DITJEN PHKA TAHUN 2013
DIPA BA - 29 TAHUN 2010

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN
DAN KONSERVASI ALAM
KEMENTERIAN KEHUTANAN

JAKARTA, 2014

Direktorat Jenderal PHKA telah melaksanakan seluruh aktivitasnya sesuai dengan TUPOKSI yang ditetapkan. diharapkan dapat menjadi sarana evaluasi atas pencapaian kinerja organisasi sehingga kedepan dapat lebih produktif. MM NIP. Februari 2014 Plt. Ir. Sebagai institusi yang memiliki komitmen untuk menjadi akuntabel. pengorganisasian. Jakarta. Semoga LAKIP ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Kolusi. Komitmen kinerja yang harus dicapai Direktorat Jenderal PHKA telah dituangkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2010-2014 dan Rencana Kinerja (Renja) Tahun 2013. 19550617 198103 1 008 LAKIP DITJEN PHKA 2013 i . Sebagai bentuk pertanggungjawaban baik secara internal maupun eksternal atas pelaksanaan tugas selama satu tahun. DIREKTUR JENDERAL. dan semua pihak yang peduli dan berperanserta dalam upaya perlindungan hutan dan konservasi alam. efektif dan efisien baik dari aspek perencanaan. Kewajiban untuk menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) ini ditetapkan dalam pasal 3 Undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Sonny Partono. Direktorat Jenderal PHKA menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah (LAKIP) Tahun 2013. dan Nepotisme dan Instruksi Presiden Nomor: 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dalam penyusunan dokumen LAKIP ini berpedoman pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor: 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dengan tersusunnya LAKIP Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 ini. manajemen keuangan maupun koordinasi pelaksanaannya untuk mencapai kinerja yang lebih baik Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pegawai lingkup Direktorat Jenderal PHKA serta mitra kerja.

4) Menegaskan dan menjamin hak-hak negara atas hutan dan hasil hutan. SM dan TB) dan HL (49. Secara umum pada tahun 2013 Direktorat Jenderal PHKA telah berhasil melaksanakan misi yang diembannya dalam rangka mewujudkan program dan sasaran yang telah ditatapkan. dengan rincian sebagai berikut:  Persentase penurunan konflik dan tekanan terhadap kawasan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA. maupun indikator kinerja kegiatan yang mendukung pencapaian sasaran strategis tersebut. perdagangan TSL illegal. Evaluasi pencapaian kinerja Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 dilakukan melalui pengukuran kinerja terhadap 6 (enam) indikator kinerja sasaran sebagaimana tertuang dalam dokumen Penetapan Kinerja (PK). Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 ini menyajikan berbagai keberhasilan maupun kegagalan capaian strategis pada tahun anggaran 2013.13%.30%)  Persentase penurunan hotspot di Pulau Kalimantan. Beberapa kesimpulan strategis atas pelaksanaan kinerja Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 adalah sebagai berikut: 1. Sebagaimana tertuang dalam Renstra Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2010-2014 mempunyai visi untuk lima tahun kedepan adalah “Menjadi Institusi Terdepan dan Terpercaya Dalam Penyelamatan Biodiversitas pada Skala Global”. Pulau Sumatera. Program yang diusung oleh Direktorat Jenderal PHKA dalam kurun waktu 2010-2014 adalah Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan. 2) Meningkatkan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam yang berkualitas dan lestari untuk kesejahteraan masyarakat. sasaran yang mengalami penurunan LAKIP DITJEN PHKA 2013 ii . Dalam pelaksanakan kegiatannya Direktorat Jenderal PHKA berkomitmen kuat untuk melakukan kinerja dengan baik berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja yang disusun. perambahan.25%. Direktorat Jenderal PHKA merupakan instansi yang diberikan mandat untuk melaksanakan upaya-upaya perlindungan hutan dan konservasi alam. 3) Memperkuat kapasitas kelembagaan perlindungan hutan dan konservasi alam. dan Pulau Sulawesi dari retara 2005-2009 (115.03%)  Jumlah peningkatan pengusahaan pariwisata alam di bandingkan tahun 2008 (150%)  Jumlah satker yang dipersiapkan dalam pembentukan satker PK-BLU (100%) 2. Capaian Kinerja enam Sasaran yang juga merupakan capaian PK Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 rata-rata sebesar 113.19%)  Persentase peningkatan populasi species terancam punah dari kondisi tahun 2008 sesuai ketersediaan habitat (150%)  Presentase penyelesaian kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging. Jika dibandingkan dengan tahun 2012. Untuk mewujudkan visi tersebut telah ditetapkan 5 (lima) misi yaitu : 1) Meningkatkan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam yang berkualitas dan lestari untuk kesejahteraan masyarakat. penambangan illegal dan kebakaran) (115. Berbagai capaian strategis tersebut tercermin dalam capaian sasaran strategis. rata-rata capaian kinerja sasaran tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 11. 5) Meningkatkan kapasitas pengendalian kebakaran hutan.

00 pecinta alam (KPA). perdagangan TSL illegal.. Untuk mendukung pencapaian sasaran strategis tersebut. kelompok swadaya masyarakat/ kelompok profesi (KSM/KP) yang dapat diberdayakan dibandingkan tahun 2009 19 Jumlah kegiatan pengembangan promosi.00 konservasi 12 Jumlah provinsi lokasi peningkatan kapasitas penanganan kasus 150.00 jenis keanekaragaman hayati secara lestari 9 Jumlah kegiatan kerjasama internasional dan konversi bidang KKH 100. Indikator Kinerja Kegiatan % Capaian 1 Persentase peningkatan pengelolaan ekosistem esensial sebagai 125. penambangan illegal dan kebakaran). 3. dengan capaian kinerja 15 Jumlah peningkatan ijin usaha pemanfaatan jasa lingkungan air 150.00 dan keuangan pada 6 satker pusat dan 77 satker UPT serta 33 Dinas Provinsi LAKIP DITJEN PHKA 2013 iii .000.00 3 Restorasi ekosistem kawasan konservasi.00 konservasi melalui pengelolaan berbasis resort 5 Jumlah provinsi lokasi peningkatan pengelolaan kawasan konservasi 100.62 4 Jumlah TN lokasi peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan 100. informasi dan 150. dilaksanakan berbagai kegiatan dengan capaian masing-masing IKK sebagai berikut: No. SM dan TB) dan HL dan Presentase penyelesaian kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging. perdagangan TSL illegal.00 8 Persentase peningkatan kegiatan penangkaran dan pemanfaatan 150.00 pengusahaan pariwisata alam dibandingkan tahun 2008 17 Jumlah lokasi pelaksanaan demonstration activity REDD di kawasan 150.85 mejadi minimal Rp.per bulan per kepala keluarga (sebesar 30%) melalui upaya pemberdayaan masyarakat 7 Jumlah aktifitas penyelenggaraan skema DNS 50. 447 ha mencakup 5 TN 112.00 konservasi hutan gambut 18 Persentase peningkatan jumlah kader konservasi (KK). mitigas dan penanganan bahaya kebakaran hutan.00 penyangga kehidupan 2 Jumlah propinsi prioritas penanganan perambahan kawasan hutan 100. 101. 800.00 10 Persentase penyelesaian tunggakan perkara tipihut (illegal logging.00 baru 16 Persentase peningkatan jumlah penerimaan PNBP di bidang 150.00 kondisi rerata 2005-2009 14 Jumlah DAOPS lokasi peningkatan kapasitas aparatur pemerintah 137. perambahan.00 pemasaran konservasi SDA 20 Jumlah dokumen program dan anggaran serta laporan evaluasi 100.00 perambahan. kelompok 150.00 ekosistem gambut 6 Persentase peningkatan pendapatan masyarakat sekitar KK tertentu 123. capaian yaitu Presentase penurunan konflik dan tekanan terhadap kawasan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA. penambangan illegal dan kebakaran 11 Persentase penyelesaian kasus hukum perambahan kawasan 150.50 dan masyarakat dalam usaha pengurangan resiko.00 kejahatan kebakaran hutan 13 Persentase penurunan luas kawasan hutan yang terbakar dibanding 150.

. 1. namun kedepan Direktorat Jenderal PHKA terus berkomitmen untuk memperbaiki sistem akuntabilitas kinerja dengan terus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak baik masyarakat.033.00 4. 1. pelatihan. 11.696.03%. Oleh karena itu. No. 5.-. non komersial. Perjalanan Dinas (OT).245.000. Paket Meeting / Pembahasan (OH) yang tidak optimal karena pagu yang terlalu besar (Satker pusat).897.679.273. serta anggaran belanja barang khususunya untuk Belanja Jasa.00 bersifat komprehensif dalam mendukung dinamika lapangan 24 Jumlah dokumen kerjasama dan kemitraan bidang KSDAH dan E 150..dan Hibah Luar Negeri sebesar Rp. dengan rincian Non Hibah sebesar Rp 1.328. Penyerapan anggaran sampai dengan tanggal 31 Desember 2013 sebesar Rp. Untuk pelaksanaan anggaran tahun 2013. perawatan Radio Komunikasi (SKRT) tidak dapat dilaksanakan karena belum ada petunjuk operasional pemeliharaan dari kementerian.Jumlah ini mengalami peningkatan 14.500.269. Belanja Pemeliharaan. Direktorat Jenderal PHKA memiliki pagu sebesar Rp 1.337. proses lelang terlambat.- atau 90.461. Beberapa kondisi yang mempengaruhi penyerapan anggaran tahun 2013 antara lain anggaran untuk pengadaan barang/jasa tidak terserap optimal karena keterbatasan SDM pejabat pengadaan barang.845.50 profesionalisme melalui pendidikan.083.94% dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar Rp. serta penganggaran sehingga untuk masa yang akan datang dalam penyusunan rencana pelaksanaan program dan kegiatan untuk pencapaian target indikator kinerja yang telah ditetapkan harus dilakukan secara lebih cermat dengan mempertimbangkan tujuan organisasi secara tepat dan kemampuan sumber daya yang tersedia.512.628. asistensi teknis dan program penghapusan hutang melalui DNS 25 Pembentukan UPT baru Direktorat Jenderal PHKA 0. perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut terhadap perencanaan dan pelaksanaan program.00 klasifikasi lengkap 23 Jumlah dokumen peraturan perundangan bidang KSDAHE yang 150. langkah percepatan pelaksanaan kegiatan pada awal tahun anggaran dan perkembangan masalah-masalah aktual di bidang KSDAHE. penanganan kasus tipihut tidak bisa dilaksanakan karena memerlukan kesiapan personel dari instansi lain seperti operasi gabungan pamhut. termasuk berbagai faktor yang mempengaruhi perubahan alokasi anggaran tahun berjalan.126. Indikator Kinerja Kegiatan % Capaian 21 Jumlah tenaga fungsional Polhut dan PEH dalam peningkatan 106. Meskipun capaian kinerja Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 sebagian besar telah melebihi dari target yang ditetapkan.000. ************** LAKIP DITJEN PHKA 2013 iv . swasta maupun instansi lain secara intensif.. dan pengalaman/penugasan 22 Jumlah UPT dalam peningkatan kapasitas kelembagaan dengan 100.00 dengan sumber daya bersifat hibah.517.

Tugas Pokok dan Fungsi 2 3.KATA PENGANTAR i RINGKASAN EKSEKUTIF ii DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vi DAFTAR GAMBAR viii DAFTAR FOTO ix DAFTAR LAMPIRAN x I PENDAHULUAN 1 A LATAR BELAKANG 1 B KELEMBAGAAN 2 1. Perbandingan Capaian Kinerja dengan Tahun Sebelumnya 93 D AKUNTABILITAS KEUANGAN 96 1. Visi dan Misi 10 2. Struktur Organisasi 2 C SUMBERDAYA DAN SARANA PENDUKUNG 3 1. Capaian Kinerja Sasaran 20 2. Sumber Daya Manusia 4 3. Realisasi Anggaran 2013 99 IV PENUTUP 103 A KESIMPULAN 103 B SARAN 103 LAMPIRAN-LAMPIRAN LAKIP DITJEN PHKA 2013 v . Sarana dan Prasarana 7 D SISTEMATIKA PENYAJIAN 8 II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA 10 A RENCANA STRATEGIS TAHUN 2010 . Kawasan Konservasi 3 2. Pagu Anggaran 2013 96 2. Sasaran Strategis 11 3. Kedudukan 2 2. Program dan Kegiatan 12 B INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) 13 C RENCANA KINERJA TAHUN 2013 14 D PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013 14 III AKUNTABILITAS KINERJA 16 A REVIEW TERHADAP DOKUMEN PERENCANAAN 16 B PENGUKURAN CAPAIAN KINERJA TAHUN 2013 17 C ANALISIS CAPAIAN KINERJA SASARAN 20 1.2014 10 1.

2012 pada Tahun 56 2013 Tabel 23 Perkembangan Penanganan Kasus Perambahan Tahun 2009 .2013 37 Tabel 14 Hasil Evaluasi Prakondisi dan Implementasi RBM di Taman Nasional Tahun 2013 38 Tabel 15 Perkembangan Lokasi Kegiatan Pengelolaan Ekosistem Gambut 40 Tabel 16 Daftar UPT Target dan Desa Sasaran Peningkatan Pendapatan Masyarakat 42 Sekitar KK Tabel 17 Daftar UPT Target dan Persentase Peningkatan Pendapatan Masyarakat 43 Tabel 18 Distribusi Site Monitoring Terhadap Spesies Prioritas 46 Tabel 19 Rata-rata Persentase Kenaikan Populasi Perspesies Tahun 2011 .2012 25 Tabel 10 Propinsi Lokasi Kegiatan Penanganan Perambahan Tahun 2010 . KPA dan KSM/KP) 83 sampai dengan Tahun 2013 (Kumulatif) Tabel 37 UPT yang Dipersiapkan Menjadi PK-BLU 87 Tabel 38 Daftar UPT Dengan Klasifikasi Lengkap Tahun 2009 – 2013 89 Tabel 39 Perbandingan Capaian Kinerja Sasaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2010 – 94 2013 Tabel 40 Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Satker 97 Tabel 41 Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Jenis Belanja 98 LAKIP DITJEN PHKA 2013 vi .2014 13 Tabel 4 Penetapan Kinerja Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 15 Tabel 5 Hasil Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 18 Tabel 6 Tingkat Pencapaian Misi Renstra Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014 Tahun 2013 19 Tabel 7 Kriteria dan Indikator Penangan Konflik 21 Tabel 8 Perkembangan Penyelesaian Konflik Kawasan Konservasi Tahun 2010 .2013 66 Tabel 29 Jumlah Hotspot Berdasarkan Fungsi Kawasan DI Pulau Sumatera.2012 58 Tabel 24 Target Pencapaian Kinerja Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Tahun 63 2010 – 2014 Tabel 25 Skenario Penurunan Jumlah Hotspot Tahun 2010 – 2014 63 Tabel 26 Toleransi dan Realisasi Hotspot Tahun 2013 64 Tabel 27 Sebaran Hotspot Per Bulan di 3 (tiga) Pulau pada Tahun 2013 65 Tabel 28 Jumlah Hotspot pada Pulau Sumatera. Indikator dan Unsur dalam Implementasi Pengelolaan Kawasan 36 Konservasi Berbasis Resort Tabel 13 Perkembangan Pengelolaan Berbasis Resort Tahun 2010 .2013 30 Tabel 11 Luasan Areal Restorasi Tahun 2011-2013 33 Tabel 12 Kriteria.Tabel 1 Rekapitulasi Fungsi dan Luas Kawasan Konservasi 3 Tabel 2 Rekapitulasi Pegawai Direktorat jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Usia 7 Tabel 3 Indikator Kinerja Utama (IKU) Direktorat Jenderal PHKA 2010 .2013 21 Tabel 9 Perkembangan Pengelolaan Ekosistem Esensial Tahun 2010 .2013 47 Tabel 20 Register Perkara Tahun 2013 53 Tabel 21 Progres Penyelesaian Kasus Tipihut dari Tahun 2010 – 2013 53 Tabel 22 Perkembangan Penyelesaian Tunggakan Kasus Tahun 2009 . Sulawesi Tahun 2011 . Kalimantan 67 dan Sulawesi Tabel 30 Luas Kebakaran Hutan di Seluruh Indonesia Tahun 2010 – 2013 69 Tabel 31 Daftar Daops Tahun 2013 71 Tabel 32 Perkembangan ijin usaha pengusahaan pariwisata alam tahun 2008 – 2013 76 Tabel 33 Pemegang IPPA/IUPSWA yang diberikan Surat Peringatan pada Tahun 2013 77 Tabel 34 Perkembangn Peningkatan Izin/MoU Usaha Pemanfaatn Airs s/d Tahun 2013 79 Tabel 35 Perkembangan PNBP Tahun 2008 – 2013 80 Tabel 36 Perkembangan Jumlah Mitra Bina Cinta Alam (KK. Kalimantan.

2013 98 Tabel 43 Pagu dan Realisasi Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan 99 Satker Tabel 44 Pagu dan Realisasi Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan 99 Jenis Belanja Tabel 45 Pagu dan realisasi anggaran Ditjen PHKA Tahun 2013 Berdasarkan 8 (delapan) 101 Kegiatan Tabel 46 Pagu dan Realisasi Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan 101 Enam Kegiatan LAKIP DITJEN PHKA 2013 vii .Tabel 42 Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Berdasarkan Jenis Belanja Tahun 2010 .

33/Menhut-II/2012 Gambar 2 Grafik Persentase Sebaran Pegawai Ditjen PHKA 2013 5 Gambar 3 Grafik Jumlah Pegawai Ditjen PHKA 2010-2013 5 Gambar 4 Grafik Persentase Komposisi Pegawai Lingkup Direktorat Jenderal 6 PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Tingkat Pendidikan Gambar 5 Grafik Persentase Komposisi Pegawai Lingkup Direktorat Jenderal 6 PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Jabatan Gambar 6 Grafik Persentase Komposisi Pegawai Lingkup Direktorat Jenderal 7 PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Usia Gambar 7 Visi dan Misi Direktorat Jenderal PHKA 2010 .2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 viii . Kalimantan.2015 10 Gambar 8 Perbandingan Capaian Kinerja Sasaran Penyelesaian Konflik 22 Kawasan Konservasi Tahun 2010-2013 Gambar 9 Grafik Peningkatan Penangkaran dan Pemanfaatn jenis TSL 51 Gambar 10 Perkembangan Penyelesaian Tunggakan Kasus Tahun 2009 . Sulawesi 66 Tahun 2011-2013 Gambar 12 Grafik perbandingan Luas Kebakaran Kawasan Hutan Tahun 2010 . 70 2013 Gambar 13 Grafik Perkembangan IPPA Tahun 2008-2013 (Kumulatif) 76 Gambar 14 Grafik Perkembangan Anggaran Direktorat Jenderal PHKA 2005 – 96 2013 Gambar 15 Perbandingan Alokasi Anggaran Per Jenis Belanja Direktorat Jenderal 98 PHKA Tahun 2013 Gambar 16 Perkembangan Realisasi Per Jenis Belanja Direktorat Jenderal PHKA 100 Tahun 2010 .40/Menhut-II/2010 Jo P.2012 57 pada Tahun 2013 dan Sisa Tunggakan Tahun 2014 Gambar 11 Grafik Jumlah Hotspot pada Pulau Sumatera.Gambar 1 Struktur Organisasi Direktorat Jenderal PHKA Berdasarkan Permenhut 3 No:P.

Foto 1 Kawasan Ekosistem Esensial Habitat Peneluran Burung Maleo dan Penyu di 28 Desa Taima Kec. BKSDA Sumatera 30 Selatan Foto 3 Pedoman Pengelolaan TN Merbabu Berbasis Resort Implementasi RBM 39 Foto 4 Fitur Terbaru Aplikasi SIM – RBM di BTN Komodo 39 Foto 5 Fitur Terbaru Aplikasi SIM – RBM di BTN Komodo 39 Foto 6 Dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan Monitoring Owa Jawa di TNGHS 49 Foto 7 Dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan Monitoring Owa Jawa di TNGHS 49 Foto 8 Operasi Gabungan Penanggulangan Penambangan Emas tanpa ijin di TN 55 Bukit Baka Bukit Raya Foto 9 Operasi Gabungan Penanggulangan Penambangan Emas tanpa ijin di TN 55 Bukit Baka Bukit Raya Foto 10 Penyerahan Piagam Penghargaan dari Kemenko Polhukam sebagai 58 Kementerian Terbaik Ketiga dalam Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri Foto 11 Pelatihan Rutin Menembak Balai Taman Nasional Wakatobi bekerjasama 60 dengan Kepolisian Resort Wakatobi Tahun 2013 Foto 12 Personil Manggala Agni BKSDA Sumsel Sedang Melaksanakan Ground 68 Check Hotspot Foto 13 Personil Manggala Agni BKSDA Sumsel Sedang Melaksanakan Ground 68 Check Hotspot Foto 14 Pembentukan Masyarakat Peduli Api di TN Laiwangi Wanggameti 73 Foto 15 Sarana dan Prasarana Pengadaan Tahun 2013 73 Foto 16 Sarana dan Prasarana Pengadaan Tahun 2013 73 Foto 17 Presiden RI menerima Plakat New7Wonders dari Bernard Weber 78 Foto 18 Pesan tertulis Presiden RI saat berkunjung ke TN. Bualemo. Komodo 78 LAKIP DITJEN PHKA 2013 ix . Banggai. Kab. Sulawesi Tengah Foto 2 Operasi Peranganan Perambahan di SM Gunung Raya.

2014 Lampiran 2 Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tingkat Unit Organisasi Eselon 1 Kementerian Kehutanan Lampiran 3 Penetapan Kinerja (PK) Dirtjen PHKA Tahun 2013 Lampiran 4 Pengukuran Pencapaian Sasaran Direktrat Jenderal PHKA tahun 2013 Lampiran 5 Data Spesies Prioritas Terancam Punah Lampiran 6 Perkembangan Pengusahaan Pariwisata Alam di Kawasan Pelestarian Alam s/d Desember 2013 Lampiran 7 Daftar MoU Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air Lampiran 8 Pagu dan Realisasi Per satker Ditjen PHKA Tahun 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 x .Lampiran 1 Form Rencana Strategis Ditjen PHKA Tahun 2010 .

Kolusi. yang dilaksanakan melalui tiga kegiatan yaitu: 1. Adapun alat yang digunakan untuk melaksanakan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah adalah Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). LAKIP Ditjen PHKA ini menggambarkan tingkat LAKIP DITJEN PHKA 2013 1 . LAKIP merupakan salah satu dokumen pelaporan yang merupakan bagian dari pertanggungjawaban instansi pemerintah dalam menjalankan tugas dan fungsi pemerintahan dan pembangunan. 3. Direktorat Jenderal PHKA berkewajiban menyusunan laporan hasil capaian kinerja sebagaimana tertuang dalam Inpres Nomor: 7 tentang 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. serta peranannya dalam pengelolaan sumberdaya yang dipercayakan selama satu tahun. dan Nepotisme. Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan untuk mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Ketentuan lain yang mengatur tentang kewajiban penyusunan LAKIP juga terdapat pada pasal 3 Undang-undang Nomor: 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Perlindungan sistem penyangga kehidupan. diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dapat selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan untuk mendukung pembangunan nasional. LATAR BELAKANG Pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan. Sebagaimana dalam Pasal 3 UU Nomor: 5 Tahun 1999.A. sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. 2. Direktorat Jenderal PHKA merupakan bagian dari institusi Kementerian Kehutanan yang memiliki tugas penting dalam upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Direktorat Jenderal PHKA pada tahun 2013 berupaya untuk memberikan kontribusi melalui berbagai pelaksanaan kegiatan melalui Program Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan. Untuk menjaga agar pemanfaatannya dapat berlangsung dengan baik. dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor: 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sebagai bentuk pertanggungjawaban publik atas pelaksanaan tugas dan fungsi. Menghadapi berbagai isu pembangunan sumber daya alam.

berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan d. pencapaian sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan Direktorat Jenderal PHKA sebagai penjabaran dari visi. c. e. tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal PHKA adalah sebagai berikut: 1.2014 melalui program dan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2013.40/Menhut-II/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati f. Struktur Organisasi Untuk melaksanakan Tugas Pokok dan Fungsinya. Perumusan kebijakan di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Direktorat Jenderal PHKA memiliki 77 (tujuh puluh tujuh) Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang terdiri atas Balai Besar (setingkat Eselon II) dan Balai (setingkat Eselon III). Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jenderal PHKA mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan.33/Menhut-II/2012. Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan. Sekretaris Direktorat Jenderal b. 3. KELEMBAGAAN Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. sebagai berikut: LAKIP DITJEN PHKA 2013 2 . kedudukan.40/Menhut-II/2010 Jo P. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. dan strategi yang terdapat dalam Rencana Strategis Ditjen PHKA Tahun 2010 . di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Direktorat Jenderal PHKA menyelenggarakan fungsi: a. Direktorat Jenderal PHKA dibantu oleh enam pejabat Eselon II di Pusat. Direktur Penyidikan dan Pengamanan Hutan c. Dalam melaksanakan tugasnya. yaitu: a.33/Menhut-II/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 2. Direktorat Jenderal PHKA dipimpin oleh Direktur Jenderal.40/Menhut-II/2010 jo P. Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung e. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Penyusunan norma. d. prosedur dan kriteria. misi. Pelaksanaan kebijakan di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kedudukan Direktorat Jenderal PHKA adalah unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Kehutanan. b. B. standar.

001. berikut: Tabel 1. 50 unit Taman Nasional (TN).34 LAKIP DITJEN PHKA 2013 3 .84 % dari total luas kawasan konservasi.362. Balai Taman Nasional = 42 UPT Selengkapnya Struktur Organisasi Direktorat Jenderal PHKA dapat digambarkan sebagai berikut: Direktorat Jenderal PHKA Sekretariat Ditjen PHKA Direktorat Direktorat Direktorat Pengendalian Direktorat Konservasi Direktprat Konservasi Kebakaran Hutan Penyidikan Kawasan dan Pemanfaatan Jasa Keanekaragaman dan Bina Hutan Lingkungan KK Hayati Pengamanan Lindung dan Hutan Hutan Lindung UNIT PELAKSANA TEKNIS Gambar 1. a.66 14. Balai KSDA = 19 UPT d. kawasan TN merupakan kawasan konservasi yang paling luas yaitu mencapai 59. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal PHKA Berdasarkan Permenhut Nomor: P. 75 unit suaka margasatwa (SM). dan 25 unit Kawasan Suaka Alam/ Kawasan Pelestarian Alam (KSA/KPA).923. 24 unit taman hutan raya (Tahura). yang terdiri dari: 221 unit cagar alam (CA) dan cagar alam laut(CAL).33/Menhut-II/2012 C. Rekapitulasi fungsi dan luas kawasan konservasi tahun 2013 disajikan dalam Tabel 1.40/Menhut-II/2010 Jo P. 13 unit taman buru. Kawasan ini terdiri atas taman nasional darat dan taman nasional laut. Balai Besar Taman Nasional = 8 UPT c. Dilihat dari luasannya. 115 unit taman wisata alam (TWA). SUMBERDAYA DAN SARANA PENDUKUNG 1. Balai Besar KSDA = 8 UPT b. Rekapitulasi Fungsi dan Luas Kawasan Konservasi No Fungsi Jumlah Luas (Ha) % Luas 1 Cagar Alam 216 3.050. Kawasan Konservasi Jumlah luas kawasan konservasi sampai dengan akhir tahun 2013 sebanyak 521 lokasi/unit dengan luas 27.83 Ha.

644. Selain kawasan hutan konservasi.588. 2013 Sampai dengan bulan Desember 2013.84 100 Sumber : Direktorat KKBHL. Jumlah itu meliputi areal seluas 27. terdapat kawasan Hutan Lindung seluas 30.04 4 Suaka Margasatwa 71 5. terdapat penambahan 3 (tiga) kawasan konservasi yaitu 2 (dua) unit KSA/KPA di Provinsi Sulawesi Barat seluas 212.323.362.40%) sebagaimana digambarkan dalam grafik berikut ini: LAKIP DITJEN PHKA 2013 4 .06 9 Taman Nasional Laut 7 4.36 ha yang saat ini pengelolaannya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah dan pembinaan serta ijin penggunaannya masih menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.34 45.024. Sumber Daya Manusia Perkembangan jumlah pegawai lingkup Direktorat Jenderal PHKA sampai dengan Desember 2013 mencapai 8.00 1.560 orang (93.539. Pengelolaan kawasan hutan konservasi tersebut saat ini masih menjadi kewenangan Pemerintah Pusat c.06 %) di Pusat dan 7.184 Ha dan Tahura Lati Petagis di Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur seluas 3.493 orang (43.523.53%) dan UPT KSDA sebanyak 3.480.248.83 ha.043.56 3 KSA-KPA 25 559.q Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) yang dikelola melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah.048 orang.30 14. Sehingga total tercatat sebanyak 523 unit kawasan konservasi (Tabel 1).362.541.41 1. Distribusi pegawai pada Direktorat Jenderal PHKA meliputi : 488 orang (6.823.951.610.050.85 0.36 5 Suaka Margasatwa Laut 4 5.80 Total 523 27. 2.94%) di UPT yaitu UPT TN sebanyak 4.94 11 Taman Wisata Alam Laut 14 491. Berdasarkan data Renstra Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung.964 Ha.050. No Fungsi Jumlah Luas (Ha) % Luas 2 Cagar Alam Laut 5 152.44 0.78 10 Taman Wisata Alam 101 257.02 6 Taman Buru 13 220.067 orang (50.00 0.138.328.30 2.81 7 Taman Hutan Raya 24 355.29 18.30 8 Taman Nasional 43 12.25 0.

6% 51% 43% PUSAT KSDA TN Gambar 2.58%). dan keluar dari instansi Kementerian Kehutanan. Penurunan jumlah tersebut karena pensiun normal.meninggal.739 orang (58. Grafik Jumlah Pegawai Ditjen PHKA 2010-2013 Dilihat dari tingkat/jenis pendidikannya.39%) dari seluruh pegawai yang ada. Grafik Persentase Sebaran Pegawai Ditjen PHKA 2013 Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dalam empat tahun terakhir dapat diketahui bahwa jumlah pegawai Ditjen PHKA terus mengalami penurunan. diberhentikan. Kenaikan jumlah pegawai hanya terjadi pada tahun 2011 karena ada penerimaan pegawai baru di lingkup Kementerian Kehutanan. Jika dibandingkan dengan tahun 2012 jumlah pegawai Ditjen PHKA pada tahun 2013 berkurang sebanyak 279 orang. lulusan S1 sebanyak 2. pegawai lingkup Direktorat Jenderal PHKA masih didominasi dari lulusan SMU/D1/D2 sebanyak 4. Jumlah pegawai dalam empat tahun terakhir disajikan dalam tabel dan grafik berikut ini: 8800 8582 8600 8419 8400 8327 8200 8048 8000 7800 7600 2010 2011 2012 2013 Gambar 3.059 orang (25. Gambaran selengkapnya disajikan dalam grafik berikut ini: LAKIP DITJEN PHKA 2013 5 . dan D3 sebanyak 514 orang (6. Sebaliknya tahun 2012 dan 2013 tidak ada penerimaan pegawai baru. pensiun dini/ atas permintaan sendiri.88%).

00 25.30%) dan polisi kehutanan sebesar 2.20 1.39 10.00 30.88 60.00 7.12 10.32 6. Besarnya jumlah polisi kehutanan memang bisa dipahami mengingat banyaknya kawasan yang harus dijaga dan permasalahan konservasi SDAH dan E yang sangat kompleks sehingga menuntut adanya tenaga pengamanan dalam jumlah yang cukup untuk ditempatkan di lapangan dan menjadi ujung tombak kegiatan perlindungan hutan. Calon Arsiparis.00 34. Calon Analisis Kepegawaian. Calon Penyuluh. Grafik Persentase Komposisi Pegawai Lingkup Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Jabatan Dilihat dari komposisi umur. Grafik Persentase Komposisi Pegawai Lingkup Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Tingkat Pendidikan Apabila dilihat dari segi jabatannya komposisi terbesar adalah untuk jabatan non struktural atau fungsional umum yang mencapai 3. Gambaran selengkapnya komposisi pegawai lingkup Direktorat Jenderal PHKA berdasarkan jabatannya adalah sebagai berikut: 43.76 0.58 30. pegawai lingkup Ditjen PHKA baik di pusat mapun dari UPT terlihat bahwa komposisi tertinggi jumlah pegawai pada usia 36- 40 tahun sejumlah 1.00 5. Calon Statistisi. Calon Polhut.00 50.45 0. 58.17 2. sehingga dalam aplikasi SIMPEG belum bisa dimasukkan ke dalam jabatan Fungsional Tertentu.07 0.04 1.4851 orang (43.30 50.00 20.70%).00 Gambar 4. Untuk jabatan Calon Fungsional Tertentu (Calon PEH.98%).72 20.00 40.815 orang (34.00 Gambar 5. Sedangkan komposisi terendah ada pada LAKIP DITJEN PHKA 2013 6 .00 0. dan Calon Pranata Komputer) masih masuk dalam golongan jabatan Fungsional Umum.00 0.98 40.505 orang (18. karena Surat Keputusan (SK) Fungsional Tertentu belum ada.00 12.

97 1.804.734.80%). Nilai tersebut mengalami penyusutan per tanggal 01 Januari 2013 sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor.atau sekitar (22. Berkaitan dengan hal tersebut perlu adanya strategi kepegawaian terkait dengan kebutuhan SDM bagi organisasi..612. usia < 25 tahun sejumlah 145 orang (1.193.95 12. Grafik Persentase Komposisi Pegawai Lingkup Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Usia Dari tabel maupun grafik diatas dapat dilihat bahwa pegawai Ditjen PHKA yang berusia lebih dari 51 tahun berjumlah 1.80 Sumber : Setditjen PHKA. Jumlah ini mengalami penurunan sebesar Rp 468.-.377 orang.203.96 17. Tabel 2. Rekapitulasi Pegawai Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan usia >56 51-55 46-50 41-45 36-40 31-35 26-30 <25 TOTAL UPT 6 1224 1258 1004 1438 1333 1153 144 7560 PUSAT 6 141 117 40 67 66 50 1 488 JUMLAH 12 1365 1375 1044 1505 1399 1203 145 8048 % 0. Secara lebih rinci aset Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 terdiri atas: a.80 0.70 17.08 12.008.140. 3.790.08 14. hal tersebut berarti dalam 7 tahun kedepan pegawai Ditjen PHKA yang memasuki usia pensiun berjumlah 1.70 17.377 orang.06/2013 tentang Penyusutan Barang Milik Negara berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat.97 18. Aset tetap dapat diperoleh dari dana LAKIP DITJEN PHKA 2013 7 .38 16. Berdasarkan komposisi umur kepegawaian lingkup Ditjen PHKA dapat dilihat dalam gambar 6.96 17.-.53%) dibandingkan tahun 2012 yang sebesar Rp 2.406.983. Sarana dan Prasarana Aset atau Barang Milik Negara Intrakomtabel yang dikelola oleh Direktorat Jenderal PHKA per 31 Desember 2013 dalam rangka pengelolaan kawasan konservasi mencapai Rp1.15 56-60 51-55 46-50 41-45 36-40 31-35 26-30 >25 Gambar 6.38 14. terutama untuk petugas di lapangan.1/PMK.15 16.95 1. 2013 18. Aset Tetap Aset Tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.081.

- c. dan aset tetap lainnya. BAB III.783.15. yang meliputi Renstra Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2010-2014. aset tak berwujud. Capaian kinerja (performance results) 2013 tersebut diperbandingkan dengan Rencana Kinerja 2013 sebagai tolok ukur keberhasilan tahunan organisasi. irigasi.572.956. pembangunan. SISTEMATIKA PENYAJIAN Pada dasarnya Laporan Akuntabilitas Kinerja ini mengkomunikasikan pencapaian kinerja Direktorat Jenderal PHKA selama tahun 2013.- D.197. Nilai aset lainnya pada Direktorat Jenderal PHKA per 31 Desember 2013 adalah sebesar Rp. gedung dan bangunan kantor.519. BAB II. keterkaitan kegiatan yang dilaksanakan dengan sasaran yang ingin dicapai. PENDAHULUAN Pada bagian ini dijelaskan latar belakang dan hal-hal umum tentang Direktorat Jenderal PHKA serta uraian singkat mandat yang dibebankan kepada Ditjen PHKA (gambaran tupoksi). aset lain-lain dan aset yang dibatasi penggunaannya. PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA Pada bab ini dijelaskan dokumen perencanaan yang dijadikan dasar dalam pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013. hibah atau donasi. Nilai aset tetap dengan saldo per 31 Desember 2013 Barang Milik Negara Intrakomtabel sebesar Rp. biasanya satu tahun. penjelasan terhadap perubahan kegiatan dengan adanya revisi DIPA sehingga kegiatan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan dokumen PK. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) bagi perbaikan kinerja di masa datang. Secara umum sistematika penyajian LAKIP Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 adalah sebagai berikut: BAB I.829. Aset lainnya antara lain TP/TGR. IKU PHKA. yang bersumber dari sebagian atau seluruh APBN melalui pembelian. serta perbandingan capaian indikator kinerja dengan tahun-tahun sebelumnya. LAKIP DITJEN PHKA 2013 8 . jaringan.- b. Aset tetap berupa tanah. Penyusunan LAKIP Dirjen PHKA Tahun 2013 berpedoman pada Peraturan Direktur Jenderal PHKA Nomor: P. Aset lancar Aset lancar adalah jenis aset yang dapat digunakan dalam jangka waktu dekat. Rencana Kerja Tahunan 2013 dan Penetapan Kinerja 2013.364. yaitu berupa kas. jalan dan jembatan.23. piutang dan persediaan.178.882. mengungkapkan permasalahan/ kendala yang dihadapi dalam pencapaian kinerja dan langkah-langkah antisipatif yang akan diambil.1.9/IV-SET/2013 Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Lingkup Ditjen PHKA. Nilai aset lancar Direktorat Jenderal PHKA per 31 Desember 2013 sebesar Rp. aset tetap dan investasi permanen. peralatan dan mesin. Aset Lainnya Aset lainnya adalah aset yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam aset lancar.689. evaluasi dan analisis terhadap pencapaian setiap indikator dalam Penetapan Kinerja. AKUNTABILITAS KINERJA  Balam bab ini disampaikan data hasil pengukuran kinerja sasaran strategis pada tahun 2013.

 Disajikan pula akuntabilitas keuangan dengan cara menyajikan rencana dan realisasi anggaran bagi pelaksanaan tupoksi atau tugas-tugas lainnya dalam rangka mencapai sasaran/tujuan organisasi yang telah ditetapkan. BAB IV. LAKIP DITJEN PHKA 2013 9 . termasuk analisis anggaran terkait pencapaian indikator kinerja dan permasalahannya serta disajikan perkembangan anggaran dengan tahun-tahun sebelumnya. PENUTUP Pada bagian ini dikemukakan simpulan secara umum tentang capaian kinerja organisasi selama tahun 2013 baik itu keberhasilan/ kegagalan. kendala utama yang dihadapi serta strategi pemecahan masalah dimasa yang akan datang.

Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 senantiasa berpedoman pada dokumen perencanaan yang meliputi Rencana Strategis Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014. dan efisien. sebagai berikut : LAKIP DITJEN PHKA 2013 10 . telah ditetapkan 5 (lima) Misi Pembangunan Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam yang akan dilaksanakan dengan konsisten. dan kegiatan. program. Tujuan Misi ditetapkan dengan mengacu pada pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada isu-isu dan analisis strategis yang berkembang. Meningkatkan Misi 3. serta sebagai pedoman dan pengendalian kinerja dalam pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal PHKA untuk pencapaian visi dan misi serta tujuan organisasi selama periode tersebut. A. Rencana Kerja 2013 serta Penetapan Kinerja 2013. Meningkatkan kapasitas pengendalian kebakaran hutan Misi 1. Memperkuat pemanfaatan jasa kapasitas kelembagaan lingkungan dan wisata perlindungan hutan dan alam yang berkualitas konservasi alam dan lestari untuk kesejahteraan masyarakat Gambar 7. 1. Mengoptimalkan keberadaan kawasan Mis 4. Visi dan Misi Direktorat Jenderal PHKA 2010 – 2015 Untuk mewujudkan visi tersebut diatas. efektif. Visi dan Misi Visi dan Misi Direktorat Jenderal PHKA untuk lima tahun kedepan adalah : Misi 5. RENCANA STRATEGIS TAHUN 2010-2014 Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2010-2014 disusun sebagai dasar acuan penyusunan kebijakan. Dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya secara akuntabel. Menegaskan dan konservasi beserta menjamin hak-hak negara biodiversitas hayati atas hutan dan hasil hutan sebagai bagian terpenting VISI : lingkungan hidup Menjadi Institusi Terdepan dan Terpercaya Dalam Penyelamatan Biodiversitas pada Skala Global Misi 2.

d. dan atau memiliki potensi wisata alam signifikan. Tujuan dari misi ini adalah meningkatkan penerimaan negara. Terlaksananya pengelolaan keanekaragaman hayati dan peningkatan populasi spesies prioritas utama yang terancam punah sebesar 3 % sesuai kondisi biologis dan ketersediaan Habitat. Trust Fund. Sasaran strategis yang hendak dicapai dalam periode 5 (lima) tahun ke depan (2010-2014) bagi pembangunan kehutanan bidang perlindungan hutan dan konservasi alam adalah: a. c. DNS. Tujuan dari misi ini adalah menjadikan institusi yang mampu melaksanakan sistem pengendalian kebakaran hutan secara optimal sehinga dapat melindungi dan menekan kerusakan ekosistem hutan dari kebakaran. Sasaran Strategis Untuk menjalankan misi maka ditetapkan sasaran strategis yang secara eksplisit dirumuskan sebagai outcome. yaitu hasil-hasil dari suatu program. Tercapainya penurunan bidang Tindak Pidana Kehutanan sebesar 50% dari tahun 2009 e. Misi 1: Mengoptimalkan keberadaan kawasan konservasi beserta biodiversitas hayati sebagai bagian terpenting lingkungan hidup. Misi 2 : Meningkatkan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam yang berkualitas dan lestari untuk kesejahteraan masyarakat. Tujuan dari misi ini adalah: 1) Meningkatkan pengelolaan keanekaragaman hayati 2) Meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi. Misi 5: Meningkatkan kapasitas pengendalian kebakaran hutan. sudah dapat mandiri untuk membiayai seluruh atau sebagian program pengembangan konservasi dalam bentuk BLU. hutan lindung. SM. penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat sekitar kawasan konservasi melalui pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam Misi 3: Memperkuat kapasitas kelembagaan perlindungan hutan dan konservasi alam. dan kolaborasi. 2. Tercapainya penurunan jumlah hotspot di 10 propinsi rawan kebakaran sebesar 20 % setiap tahun dan Penurunan luas areal hutan yang terbakar hingga 50 % dari rerata 2005 – 2009 LAKIP DITJEN PHKA 2013 11 . perambahan kawasan konservasi. dan perburuan. TB) dan HL sebanyak 5%. b. Terwujudnya Taman Nasional dan kawasan konservasi lainnya dengan potensi keanekaragaman hayatinya tinggi. Tujuan dari misi ini adalah untuk menekan aktivitas illegal di dalam kawasan baik dalam bentuk penebangan liar. Terwujudnya penurunan konflik dan tekanan terhadap kawasan Taman Nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA. dan kawasan ekosistem esensial. serta perdagangan dan peredaran hasil hutan illegal serta tumbuhan dan satwa liar dilindungi. terdapat spesies langka dan flagship. atau mempunyai fungsi pelindung hulu sungai. Tujuan dari misi ini adalah meningkatkan kelembagaan organisasi Ditjen PHKA Misi 4: Menegaskan dan menjamin hak-hak negara atas hutan dan hasil hutan.

7) Pengembangan dan Pengelolaan Taman Nasional. f. serta indikator kinerja dan target-target yang terukur yang akan dicapai sampai dengan akhir tahun 2014. maka pada setiap program juga ditetapkan beberapa kegiatan yang mencerminkan tugas pokok dan fungsi unit eselon II di Pusat serta unit pelaksana teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal PHKA. 3) Penyidikan dan Pengamanan Hutan. Dalam rangka pencapaian sasaran pelaksanaan pembangunan bidang PHKA untuk lima tahun kedepan. utamanya dalam hal menekan terjadinya deforestasi dan degradasi hutan. terjaminnya hak-hak Negara atas kawasan dan hasil hutan. Dalam rangka implementasi Program Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan telah ditetapkan enam kegiatan dengan penanggung jawab masing – masing Eselon II di pusat. Terwujudnya peningkatanpemanfaatan jasa lingkungan dan destinasi wisata alam yang dapat berperan dalam pasar wisata nasional. Dalam setiap kegiatan ditetapkan output sebagai hasil yang akan dicapai. LAKIP DITJEN PHKA 2013 12 . Program dan Kegiatan Untuk melaksanakan misi maka ditetapkan program kerja yang mencerminkan tugas dan fungsi eselon I lingkup Kementerian Kehutanan. Ekosistem Esensial dan Pembinaan Hutan Lindung. Program yang ditetapkan pada Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam adalah: Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan Tujuan program adalah untuk terwujudnya peningkatan ‘kemandirian’ pengelolaan kawasan konservasi. 4) Pengendalian Kebakaran Hutan. Ringkasan Renstra Ditjen PHKA 2010-2014 selengkapnya terlampir dalam lampiran 1. Beberapa kegiatan akan sangat erat kaitannya dalam merespon isu-isu perubahan iklim. 6) Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis. Untuk menjamin bahwa outcome program dapat tercapai secara optimal. g. kelestarian keanekaragaman hayati. Tercapainya peningkatan kapasitas kelembagaan UPT PHKA dengan klasifikasi lengkapdi 68 UPT. Kegiatan- kegiatan tersebut meliputi: 1) Pengembangan Kawasan Konservasi. 5) Pengembangan Pemanfaatan Jasa Lingkungan. serta peningkatan penerimaan Negara dan masyarakat dari kegiatan konservasi sumberdaya alam. dan 8) Pengembangan dan Pengelolaan KSDA. 2) Pengembangan Konservasi Spesies dan Genetik. dan dua kegiatan di UPT yang mendukung pencapaian indikator kinerja kegiatan Eselon II di Pusat. 3.

penambangan illegal dan kebakaran hutan) pada tahun berjalan dapat diselesaikan 5 Tercapainya penurunan jumlah hotspot di 10 Hotspot (titik api) di Pulau 20% propinsi rawan kebakaran sebesar 20 % Kalimantan. dan kolaborasi 2 Terwujudnya penurunan konflik dan tekanan Konflik dan tekanan terhadap 5% terhadap kawasan Taman Nasional dan taman nasional dan kawasan kawasan konservasi lainnya (CA. sudah dapat mandiri untuk membiayai seluruh atau sebagian program pengembangan konservasi dalam bentuk BLU. B. IKU Direktorat Jenderal PHKA yang digunakan selama kurun waktu 2010-2014 sesuai periode Renstra adalah sebagai berikut: Tabel 3. INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) Direktorat Jenderal PHKA telah menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU) secara berjenjang sebagai ukuran keberhasilan organisasi dalam mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan. DNS. atau mempunyai fungsi pelindung hulu sungai.6/Menhut-II/2011 tanggal 31 Januari 2011 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU) LAKIP DITJEN PHKA 2013 13 . terdapat nasional spesies langka dan flagship.SM. Trust Fund. SM. perdagangan TSL illegal. 2009 perambahan. TB) dan konservasi lainnya (CA. dan HL menurun 3 Terlaksananya pengelolaan Populasi species prioritas utama 3% keanekaragaman hayati dan peningkatan yang terancam punah populasi spesies prioritas utama yang meningkatn dari kondisi terancam punah sebesar 3 % sesuai kondisi populasi tahun 2008 sesuai biologis dan ketersediaan Habitat kondisi biologis dan ketersediaan habitat 4 Tercapainya penurunan bidang Tindak Kasus baru tindak pidana 75% Pidana Kehutanan sebesar 50% dari tahun kehutanan (illegal logging. TB) HL sebanyak 5%. IKU ditetapkan dengan memilih indikator- indikator kinerja yang strategis/penting dan memiliki fokus pada perspektif stakeholders. dan atau memiliki potensi wisata alam signifikan. Indikator Kinerja Utama (IKU) Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Target 1 Terwujudnya Taman Nasional dan kawasan Terbangunnya sistem 12 unit konservasi lainnya dengan potensi pengelolaan BLU pada taman keanekaragaman hayatinya tinggi. Pulau Sumatera per setiap tahun dan Penurunan luas areal dan Pulau Sulawesi berkurang tahun hutan yang terbakar hingga 50 % dari rerata dari rerata 2005-2009 2005 – 2009 6 Terwujudnya peningkatan pemanfaatan Meningkatnya pengusahaan 60% jasa lingkungan dan destinasi wisata alam pariwisata alam dibanding yang dapat berperan dalam pasar wisata tahun 2008 nasional 7 Tercapainya peningkatan kapasitas - kelembagaan UPT PHKA dengan klasifikasi lengkap di 68 UPT Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.

transparansi. sebagai wujud nyata komitmen antara penerima amanah dan pemberi amanah. Ditjen PHKA menyusun Rencana Kinerja Tahunan (RKT) sebagai bagian dari dokumen Rencana Kerja (Renja) dan memuat rencana dan target kinerja yang hendak dicapai dalam satu tahun. Tujuan khusus penetapan kinerja antara lain untuk meningkatkan akuntabilitas. ada 6 (enam) IKU Ditjen PHKA yang telah ditetapkan menjadi IKU lingkup Kementerian Kehutanan yang harus dicapai dalam kurun waktu 2010-2014. D. Keenam IKU tersebut adalah: 1. Form RKT Tahun 2013 Direktorat Jenderal PHKA terlampir dalam lampiran 2. dan kinerja. Konflik dan tekanan terhadap kawasan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA. Meningkatnya pengusahaan pariwisata alam sebesar 60% dibanding tahun 2009. Kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging. Dengan adanya RKT Ditjen PHKA Tahun 2013. 3. Penyusunan dokumen RKT ini merupakan salah satu tahapan dalam proses perencanaan kinerja. 2. transparan. Hotspot (titik api) di Pulau Kalimantan. perambahan. PK pada dasarnya merupakan dokumen yang berisi pernyataan kinerja/kesepakatan kinerja/perjanjian kinerja antara atasan dan bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan pada sumber daya yang dimilikinya. TB) dan HL menurun sebanyak 5%. dan sebagai dasar penilaian keberhasilan/kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.173/IV-SET/2013 Tanggal 23 Mei 2013 Tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Tahun 2013. 5. PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013 Penetapan Kinerja (PK) merupakan amanat Inpres Nomor: 5 tahun 2004 dan Peraturan Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi Nomor: 29 tahun 2010. SM. RENCANA KINERJA TAHUN 2013 Dalam rangka meningkatkan kinerja (performance) dan akuntabilitas (accountability) penyelanggaraan pembangunan kehutanan Bidang PHKA pada seluruh Satker. LAKIP DITJEN PHKA 2013 14 . Oleh karena itu dikeluarkan Surat Keputusan Dirjen PHKA Nomor: SK. perdagangan tumbuhan dan satwa liar (TSL) illegal. Populasi species prioritas utama yang terancam punah meningkat sebesar 3% dari kondisi tahun 2008 sesuai ketersediaan habitat. diperlukan strategi dan penetapan lokasi yang menjadi target capaian. Untuk efektifitas pencapaian kinerja. Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi berkurang 20% setiap tahun. C. penambangan illegal dan kebakaran hutan) penanganannya terselesaikan minimal 75%. komprehensif dan bertanggunggugat sebagai perwujudan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pembangunan bidang PHKA yang profesional dan akuntabel. diharapkan tercipta suatu tatanan perencanaan yang terukur. 6. Penyiapan terbangunnya sistem pengelolaan BLU/kolaborasi/DNS atau trus fund di 12 UPT PHKA. 4. Kementerian Kehutanan.

2 % Berperan Signifikan Sebagai Kalimantan. penambangan illegal dan kebakaran) penangannya minimal terselesaikan Meningkatnya pengusahaan pariwisata 48% alam di bandingkan tahun 2008 Pernyataan PK yang telah ditandatangani oleh Menteri Kehutanan dan Dirjen PHKA selengkapnya terlampir dalam lampiran 3. perdagangan TSL illegal. SM dan TB) dan HL menurun Kasus baru tindak pidana kehutanan 15% (illegal logging. Penetapan Kinerja Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 No Sasaran Unit Organisasi Indikator Kinerja Uraian Target 1 Biodiversity dan Ekosistemnya Jumlah hotspot kebakaran hutan di Pulau 59. Pulau Sumatera dan Pulau Penyangga Ketahanan Ekologis Sulawesi berkurang dari rerata 2005-2009 dan Penggerak Ekonomi Riil serta Pengungkit Martabat Populasi species utama yang terancam 2% Bangsa dalam Pergaulan punah meningkat dari kondisi tahun 2008 Global sesuai ketersediaan habitat Terbangunnya persiapan sistem 4 UPT pengelolaan BLU di UPT PHKA Konflik dan tekanan terhadap kawasan 1% taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA. IKU Direktorat Jenderal PHKA yang tertuang dalam Penetapan kinerja tahun 2013 yang telah ditandatangani oleh Direktur Jenderal PHKA dengan Menteri Kehutanan adalah sebagai berikut: Tabel 4. perambahan. LAKIP DITJEN PHKA 2013 15 .

PK tersebut ditandatangani oleh Dirjen PHKA dan Menteri Kehutanan yang memuat rencana kinerja kunci Direktorat Jenderal PHKA. Direktorat Jenderal PHKA telah menetapkan IKU dalam Dokumen Renstra Ditjen PHKA 2010-2014. Untuk operasionalisasi Renstra dan IKU Direktorat Jenderal PHKA. maka ditetapkan kegiatan-kegiatan serta indikator dari kegiatan tersebut. dan berdasarkan Renja serta alokasi anggaran yang dituangkan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA). kegiatan-kegiatan yang ditetapkan pada Direktorat Jenderal PHKA mencerminkan tugas pokok dan fungsi unit eselon II pusat serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) sebagai unit kerja mandiri. Untuk Direktorat Jenderal PHKA program yang ditetapkan adalahKonservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan. Dalam konteks organisasi. IKU tersebut dipilih dari IKK yang memiliki faktor dominan untuk mencapai sasaran program. 51/Menhut-II/2010 Tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kehutanan Tahun 2010-2014 seluruh unit kerja Eselon I lingkup Kementerian Kehutanan perlu menyusun Renstra Tahun 2010-2014 sebagai penjabaran dari Renstra Kementerian Kehutanan. Sebagai pelaksanaan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: Per. maka disusunlah Rencana Kerja (Renja) Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Dirjen PHKA Nomor: SK. Sebagai langkah strategis untuk menjalankan misi maka ditetapkan arah kebijakan dan program. selanjutnya ditetapkan misi sebagai langkah untuk mencapai visi. Setelah ditetapkan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) selanjutnya ditentukan Indikator Kinerja Utama(IKU) sebagai indikator pencapaian sasaran dari program. Dengan mengacu pada Renstra Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014 serta IKU Direktorat Jenderal PHKA.09/ M. Untuk lebih merinci pencapaian program. Selanjutnya dalam Permenhut Nomor: P. REVIEW TERHADAP DOKUMEN PERENCANAAN Di dalam PeraturanPemerintah Nomor 40 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional disebutkan bahwa Pimpinan Kementerian/Lembaga diwajibkan menyusun Renstra-KL sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yang merupakan penjabaran dari visi dan misi Kementerian/Lembaga dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan nasional secara menyeluruh.A.193/ IV-SET/ 2012 tanggal 20 November 2012 tentang Rencana Kerja Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013. maka disusunlah Penetapan Kinerja (PK) Direktorat Jenderal PHKA. Struktur Renstra Direktorat Jenderal PHKA diawali dengan visi yang mencerminkan tujuan umum Direktorat Jenderal PHKA.PAN/5/ 2007 tanggal 31 Mei tentang Pedoman Umum penetapan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Instansi Pemerintah. PK Direktorat Jenderal PHKA tersebut dilengkapi dengan PK pada tingkat unit organisasi baik Eselon II pusat sebagai penanggung jawab kegiatan dan LAKIP DITJEN PHKA 2013 16 .

x 100% Rencana Jika terdapat beberapa indikator kinerja yang memiliki capaian sangat tinggi. maka pengukuran nilai capaian indikator kinerja menggunakan pembatasan maksimal yaitu sebesar 150% dengan tujuan agar dapat menggambarkan capaian kinerja yang sesungguhnya dari Direktorat Jenderal PHKA.x 100% Rencana Apabila diasumsikan semakin tinggi realisasi menunjukan semakin rendahnya pencapaian kinerja. Untuk mengetahui capaian sasaran strategis/ kinerja kunci Ditjen PHKA tahun 2013. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja yang ditetapkan dalam PK yang ditandatangani Direktur Jenderal PHKA. Metode pengukuran kinerja menggunakan formula sederhana yaitu menentukan persentase pencapaian kinerja. maka dilakukan pengukuran terhadap PK Ditjen PHKA Tahun 2013. capaian kinerja masing-masing sasaran strategis/outcome Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 adalah sebagai berikut: ‘ LAKIP DITJEN PHKA 2013 17 . PK UPT yang ditandatangani oleh masing-masing kepala satker dan diperjanjikan kepada Dirjen PHKA. dilakukan pengukuran kinerja dan analisis akuntabilitas kinerja. Untuk mendukung pencapaian target dari IKK dan IKU pada tahun 2013. PENGUKURAN CAPAIN KINERJA TAHUN 2013 Untuk mengetahui keberhasilan dan/atau kegagalan pencapaian sasaran strategis yang telah ditetapkan. untuk melengkapi gambaran setiap capaian kinerja maka disajikan evaluasi kinerja dalam bentuk analisis deskriptif setiap capaian indikator dan perhitungan tingkat efektifitas dan efisiensi pencapaian kinerja. Terdapat enam indikator sasaran yang juga menggambarkan kinerja outcome Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013.173/ IV-SET/ 2013 tanggal 23 Mei 2013 dibuat Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013. B. Pencapaian kinerja sasaran strategis pada hakekatnya merupakan hasil pengukuran terhadap dokumen Penetapan Kinerja Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013. maka digunakan rumus sebagai berikut: (Rencana-(Realisasi-Rencana)) Pencapaian Rencana Tk. Capaian = -----------------------------------------. melalui Surat Keputusan Dirjen PHKA Nomor: SK.Dalam melakukan pengukuran kinerja digunakan formulasi Pengukuran Kinerja sebagai berikut: Realisasi Pencapaian rencana tingkat capaian = --------------.

19 konflik dan tekanan konflik dan tekanan (5000Ha) (2459.00 pemanfaatan jasa pengusahaan pariwisata lingkungan dan destinasi alam di bandingkan wisata alam yang dapat tahun 2008 berperan dalam pasar wisata nasional 6 Terwujudnya Taman Jumlah satker yang 4 UPT 4 UPT 100. Tabel 5.03 jumlah hotspot di 10 hotspot di Pulau (maks (18.20% 68. Hasil Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun2013 SASARAN STRATEGIS NO URAIAN INDIKATOR TARGET REALISASI % 1 Terwujudnya penurunan Presentase penurunan 1% 0.027 titik) sebesar 20 % setiap tahun Sumatera. TB) dan HL sebanyak lainnya (CA. terdapat spesies langka dan flagship. 101 dari tahun 2009 logging. 88 kasus.778 titik) Provinsi rawan kebakaran Kalimantan.30 bidang Tindak Pidana kasus baru tindak pidana (dari 146 (dari 146 Kehutanan sebesar 50% kehutanan (illegal kasus. DNS.Terwujudnya penurunan konflik dan LAKIP DITJEN PHKA 2013 18 . masih terdapat satu sasaran yang capaiannya kurang yaitu Sasaran 1. Trust Fund.7Ha) terhadap kawasan Taman terhadap kawasan Nasional dan kawasan taman nasional dan konservasi lainnya (CA. dan Pulau dan Penurunan luas areal Sulawesi dari retara 2005- hutan yang terbakar 2009 hingga 50 % dari rerata 2005 . perambahan. kawasan konservasi SM.62% 150.49% 49. dan kolaborasi Rata-rata Capaian 113.10% 115. kasus kasus perdagangan TSL illegal. SM dan TB) 5%.2009 5 Terwujudnya peningkatan Jumlah peningkatan 12 UNIT 31 UNIT 150. atau mempunyai fungsi pelindung hulu sungai. selesai P21) selesai P21) penambangan illegal dan kebakaran) 4 Tercapainya penurunan Persentase penurunan 59.25 Dari enam sasaran strategis Direktorat Jenderal PHKA.00 Nasional dan kawasan dipersiapkan dalam konservasi lainnya dengan pembentukan satker PK- potensi keanekaragaman BLU hayatinya tinggi. dan atau memiliki potensi wisata alam signifikan.00 pengelolaan populasi species keanekaragaman hayati terancam punah dari dan peningkatan populasi kondisi tahun 2008 sesuai spesies prioritas utama ketersediaan habitat yang terancam punah sebesar 3 % sesuai kondisi biologis dan ketersediaan Habitat 3 Tercapainya penurunan Persentase penyelesaian 60% 69.18% 115. sudah dapat mandiri untuk membiayai seluruh atau sebagian program pengembangan konservasi dalam bentuk BLU. Pulau 24. dan HL 2 Terlaksananya Persentase peningkatan 2% 46.

Hal ini terjadi karena dari dua sasaran yang dilakukan untuk mendukung pencapaian misi tersebut. perambahan.03 kapasitas di Pulau Kalimantan. SM dan TB) dan HL (2459. dari retara 2005-2009 5 Meningkatkan Jumlah peningkatan 12 UNIT 31 UNIT 150 pemanfaatan jasa pengusahaan pariwisata alam lingkungan dan di bandingkan tahun 2008 wisata alam yang berkualitas dan lestari untuk kesejahteraan masyarakat.60 2 Memperkuat Jumlah satker yang 4 UPT 4 UPT 100 kapasitas dipersiapkan dalam kelembagaan pembentukan satker PK-BLU perlindungan hutan dan konservasi alam. punah dari kondisi tahun 2008 sesuai ketersediaan habitat Rata-rata Capaian Misi 1 99.pencapaian kinerja sasaran/outcome tersebut juga menggambarkan pencapaian misi Direktorat Jenderal PHKA yang dilaksanakan pada tahun 2013. perdagangan TSL illegal.19 keberadaan dan tekanan terhadap (5000Ha) kawasan kawasan taman nasional dan konservasi beserta kawasan konservasi lainnya biodiversitas hayati (CA. hanya satu misi yang belum tercapai yaitu Misi 1. Mengoptimalkan keberadaan kawasan konservasi beserta biodiversitas hayati sebagai bagian terpenting lingkungan hidup. SM.62% 150 terpenting populasi species terancam lingkungan hidup. ada satu yang angka capaiannya kurang yaitu terkait penurunan konflik LAKIP DITJEN PHKA 2013 19 . Tingkat pencapaian misi yang dijalankan tahun 2013 adalah sebagai berikut: TabeL 6.30 menjamin hak-hak baru tindak pidana kehutanan negara atas hutan (illegal logging. tekanan terhadap kawasan Taman Nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA. penambangan illegal dan kebakaran) 4 Meningkatkan Persentase penurunan hotspot 59. Dari 5 misi yang diemban Direktorat Jenderal PHKA.10% 115. dan Pulau Sulawesi kebakaran hutan.18% 115.Tingkat Pencapaian Misi Renstra Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014 Tahun 2013 NO MISI SASARAN INDIKATOR TARGET REALISASI % 1 Mengoptimalkan Presentase penurunan konflik 1% 0. Pengukuran sasaran strategis tersebut selengkapnya tersaji dalam Lampiran 4. 3 Menegaskan dan Presentase penyelesaian kasus 60% 69.49% dari target 1% tahun 2013. Dengan kerangka logis struktur perencanaan dalam dokumen Renstra Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014. Pulau pengendalian Sumatera.49% 49. dan hasil hutan. TB) dan HL yang hanya tercapai 0.7Ha) sebagai bagian Persentase peningkatan 2% 46.20% 68.

C. LAKIP DITJEN PHKA 2013 20 . dengan acuan umum merujuk kepada Undang-Undang 41 tahun 1999 tentang Kehutanan terutama pasal 50 dan UU 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya terutama pasal 19. Konflik pun melibatkan berbagai pihak seperti masyarakat adat. serta tipologi lainnya. masyarakat maupun Lembaga Swadaya Masyarakat. Konflik dan tekanan terhadap kawasan konservasi dapat terbagi menjadi berbagai tipologi berdasarkan tipe dan pihak yang terlibat. Berdasarkan data dasar yang dihimpun dari UPT TN dan KSDA pada tahun 2009. angka tersebut menjadi acuan target pada sasaran ini. dan UPT menjadi ujung tombaknya. Penyelesaian konflik dan tekanan terhadap kawasan konservasi dan hutan lindung dilakukan secara holistik. TB) Dan HL Sebanyak 5% Capaian Indikator sasaran 1: INDIKATOR SATUAN TARGET REALISASI % Presentase penurunan konflik % 1 0. Dari ketiga tipologi tersebut.000 ha dari total areal konflik. Konflik dan tekanan terhadap kawasan konservasi adalah segala aktifitas yang berinteraksi dengan kawasan konservasi dan hutan lindung secara illegal. luas area kawasan konservasi yang dikonfirmasi mengalami perambahan mencapai angka 461. SM.49 49.89 ha. Secara umum penyelesaian dimaksud dapat berupa tindakan hukum. pemanfaatan yang tidak prosedural. perambahan merupakan tipe konflik dan tekanan yang paling banyak terjadi di kawasan konservasi. Angka tersebut dibulatkan menjadi 500. pengusaha hingga instansi pemerintah lainnya. SM dan TB) dan HL Konflik dan tekanan terhadap lahan dalam berbagai bentuk merupakan persoalan yang nyata dalam pengelolaan kawasan konservasi. ANALISIS CAPAIAN KINERJA SASARAN Sasaran 1 Terwujudnya Penurunan Konflik Dan Tekanan Terhadap Kawasan Taman Nasional dan Kawasan Konservasi Lainnya (CA. dan tekanan terhadap kawasan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA. target penurunan konflik dan tekanan terhadap kawasan konservasi dan hutan lindung dalam lima tahun adalah sebesar 5% dari luas total yang dirambah (asumsi rata-rata 1% per tahun) atau sekitar 25. pendudukan kawasan sebelum penunjukan/penetapan kawasan.367.19 dan tekanan terhadap kawasan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA. 21 dan 23. Dalam periode Renstra Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014. perbedaan intepretasi peta termasuk tata batas dan SK. kesepakatan bersama parapihak atau rasionalisasi kawasan. seperti perambahan. SM dan TB) dan HL yang hanya tercapai 49. Tipologi konflik di kawasan hutan sangat beragam.000 ha. bekerjasama dengan para mitranya baik kalangan pemerintah.19%.

22/ KKBHL-6/2013 tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan Penurunan Konflik dan Tekanan Terhadap Kawasan Taman Nasional Kawasan Konservasi lainnya (CA. SM. Kriteria dn Indikator Penanganan Konflik Kriteria Indikator Verifikasi Prakondisi 1 Desk study persoalan konflik Laporan 2 Cek lokasi konflik Laporan 3 Identifikasi dan pemetaan Laporan stakeholders (person/ lembaga) yang terlibat 4 Kelengkapan dokumen terkait Laporan konflik 5 Analisis sejarah dan tipologi konflik Laporan 6 Penyusunan rencana penyelesaian Laporan konflik 7 Sosialisasi rencana penyelesaian Hasil pelaksanaan konflik sosialisasi 8 Konsultasi/ koordinasi penyelesaian Laporan hasil koordinasi konflik 9 Rapat penanganan konflik tingkat Laporan rapat Kecamatan/ Kabupaten/ Provinsi 10 Keputusan penyelesaian konflik Berita acara/ nota dinas (litigasi/ non litigasi) Mediasi/ 1 Mediasi/ fasilitasi penyelesaian Laporan hasil Non Litigasi pelaksanaan sosaialisasi 2 Kesepakatan pihak terkait 3 Sosialisasi dan pengawalan hasil kesepakatan Litigasi/ 1 Pendampingan bantuan hukum Perjanjian Kerjasama Proses 2 Sosialisasi dan pengawalan hasil Laporan pelaksanaan Hukum kesepakatan program Pasca 1 Pengamanan pasca penanganan Laporan Penanganan konflik 2 Kegiatan pasca penanganan Laporan konflik 3 Monev pecsa penanganan konflik Laporan Data penyelesaian konflik kawasan konservasi pada tahun 2010-2013 disampaikan pada tabel berikut: Tabel8. Kriteria dan indikator dapat dilihat pada tabel dibawah ini. . Perkembangan Penyelesaian Konflik Kawasan Konservasi Tahun2010-2013 No. 6. Penanganan Represif. kegiatan penurunan konflik dan tekanan di kawasan konservasi diukur dari berapa luas kawasan konservasi yang telah dibebaskan dari kegiatan perambahan. Berdasarkan SK Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung Nomor: S. Penanganan Non Represif. Aspek yang dinilai dan diuraikan dalam bentuk kriteria dan indikator untuk mengukur tingkat capaian penurunan konflik dan tekanan di kawasan konservasi dibagi dalam empat kriteria yaitu: Prakondisi. Tabel 7. Lokasi Kawasan 2010 2011 2012 2013 Total (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) 1 TN Way Kambas 6. dan Pasca Penanganan Perambahan. TB) dan Hutan Lindung sebesar 5%.000 .000 LAKIP DITJEN PHKA 2013 21 .

300 300 9 TN Bantimurung . .000 8.000 7. Sesungguhnya pada tahun LAKIP DITJEN PHKA 2013 22 .000 7 KSDA Sumatera Utara .559.24% dari target selama lima tahun.24 ha.200 1.70 26.46 ha dan TWAL Padamarang (Sulawesi Tenggara) seluas 2.200 4 TN Gunung Leuser 500 1.200 Watumohai 11 TWA Sibolangit (Sumut) 0. 200 200 8 KSDA Sumatera Selatan . 2. secara kumulatif total luas kawasan yang telah dibebaskan dari kegiatan perambahan adalah 26. Terjadi penurunan kinerja apabila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2012 yang mencapai 8100 ha.7 2000 konflik (Ha) 1000 0 2010 2011 2012 2013 Gambar 8.000 6 CA Kamojang . 1.300 .000 9. Namun demikian.000 ha.19% dari target tahunan sebesar 5.80 ha atau 106.459.459.24 2. karena sampai tahun 2013. . .500 5 TN Bukit Barisan Selatan . jika diakumulasikan selama tahun 2010-2013 pencapaian kinerja sudah melebihi target yang ditentukan sampai akhir periode Renstra. Perbandingan Capaian Kinerja Sasaran Penyelesaian Konflik Kawasan Konservasi Tahun 2010-2013 Penyelesaian konflik kawasan konservasi tahun 2013 dilakukan pada 2 (dua) lokasi yaitu di TWA Sibolangit (Sumatera Utara) seluas 0.100 2.70 ha atau hanya 49. 1. .46 0.459. 400 400 Bulusaraung 10 TN Rawa Aopa .000 2.459.Perbandingan capaian kinerja sasaran penyelesaian konflik kawasan konservasi tahun 2010-2013 dapat dilihat pada grafik berikut ini.459. No.70 Sumber : Dit.000 1. 1. KKBHL 2013 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa pada tahun 2013penurunan konflik dan tekanan terhadap Taman Nasional dan kawasan konservasi lainnya seluas 2.000 .559.46 12 TWAL Padamarang 2. 5. Lokasi Kawasan 2010 2011 2012 2013 Total (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) 2 TN Gunung Ciremai 2. 2.24 (Sultra) JUMLAH 9. 10000 9000 9000 8100 8000 7000 7000 6000 5000 4000 3000 Luas Penyelesaian 2459.000 4.300 3 TN Kerinci Seblat 200 . .

pusat PHKA. Direktur Jenderal PHKA telah mengusulkan TWA Ruteng menjadi Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) pada Tahun 2013 kepada Dirjen Planologi Kehutanan. TWA Ruteng (Nusa Tenggara Timur).311 KK (6. Upaya penyelesaian konflik di SM Kateri ini juga telah mendapat dukungan dari Bupati Belu.Dalam pencapaian sasaran ini terdapat permasalahan yang dihadapi. kecamatan. sehingga masih diperlukan keputusan politik tingkat nasional. Hasilnya diperoleh data sebanyak 1. Terkait usulan Bupati Manggarai tersebut. yaitu pemenuhan prakondisi ideal/rasional. antara lain: 1) Terbitnya Putusan MK Nomor 35/PUU-X/2012 yang menyatakan bahwa hutan adat tidak termasuk dalam hutan negara. Penyelesaian konflik di SM Kateri difokuskan pada penyediaan lahan garapan kepada pengungsi eks Timor Timur. LAKIP DITJEN PHKA 2013 23 .173/ IV- SET/ 2013 Tanggal 3 Mei 2013 Tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Ditjen PHKA Tahun 2013. pelaksanaan tatabatas. pemerintah desa) untuk mengetahui batas yang sebenarnya dan batas yang disepakati. dengan melibatkan Kemenkokesra. Penyelesaian konflik di TWA Ruteng diinisiasi dengan melakukan rekonsiliasi.19 Juni 2013.283 jiwa. hasil pertemuan tersebut menghasilkan kesepahaman para pihak (gereja. Bupati Manggarai telah mengusulkan perubahan TWA Ruteng menjadi unit yang dikelola sendiri atau menjadi Taman Nasional. asistensi dan fasilitasi agar akselerasi penyelesaian konflik dan tekanan menjadi lebih baik. SM Pulau Asam-asam ( Kalimantan Selatan). maupun di Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Berdasarkan ketentuan tersebut yang menjadi target lokasi untuk sasaran penyelesaian konflik kawasan adalah Blok Hutan Besitang (Tn Gunung Leuser). Kemenhankam dan pihak-pihak lain. Oleh karena itu telah dilakukan serangkaian pertemuan di tingkat daerah. gereja. pengelolaan kawasan berbasis resort. 2013 telah dikeluarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK. masyarakat adat. arahan dan kebijakan teknis dari pusat sebagai dasar pelaksanaan oleh UPT serta program pemberdayaan masyarakat menjadi fokus pelaksanaan kegiatan. serta Blok Hutan Dongi-dongi (TN Lore Lindu). zonasi/blok. Pada akhir Desember 2013 dilaksanakan cek batas secara bersama (adat. Pada tahun 2013 dilakukan sensus terhadap warga eks pengungsi Timor-Timur yang kehidupannya tergantung pada penggarapan di SM Kateri. desa) untuk menyelamatkan dan melindungi TWA Ruteng. Manggarai Timur pada 29 . Terpenuhinya prakondisi kawasan seperti tersusunnya rencana pengelolaan. Untuk melaksanakan upaya penyelesaian konflik dilaksanakan beberapa strategi/kegiatan. dapat menimbulkan konflik baru akibat perbedaan persepsi di tingkat tapak. Kementerian Sosial. tersedianya pedoman. melalui pembicaraan bersama sejak tahun 2012 dan Musyawarah Besar di Kisol. apabila tidak disikapi secara arif dan bijaksana dan segera dilakukan langkah-langkah konkrit untuk implementasinya secara sungguh-sungguh. SM Kateri. pemerintah kabupaten. Namun dalam pelaksanaannya tidak seluruhnya bisa selesai sebagaimana diharapkan.30 Mei 2013 serta di Manggarai pada 18 . evaluasi. Namun persoalan pengungsi eks Timor Timur tersebut merupakan isu yang sangat sensitif baik ditinjau dari kepentingan nasional dan internasional. tersebar pada 16 lokasi pemukiman) sebagai penggarap aktif di SM Kateri.

sebagian besar masih masih memerlukan pemenuhan prakondisi yang hanya berkaitan dengan studi dan analisis awal konflik. lintas sektoral. namun lebih kepada tipologi dan intensitasnya.21/KKBHL-6/2013 Tanggal 15 Maret 2013 tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan Penanganan Perambahan Kawasan Hutan pada 12 Provinsi Prioritas yang isinya berisi tahapan penyelesaian konflik dan perambahan di kawasan konservasi. juga dilaksanakan beberapa kegiatan dengan indikator keberhasilan sebagai berikut: 1) Pengelolaan Ekosistem Esensial Sebagai Penyangga Kehidupan Ekosistem esensial adalah ekosistem atau kawasan yang memiliki keunikan habitat dan atau memiliki jenis tumbuhan serta satwaliar yang mempunyai fungsi penting sebagai sistem penyangga kehidupan. berhubungan dengan sosial. Untuk mendukung upaya pencapaian sasaran tersebut di atas. bahkan telah ada yang memiliki sertifikat yang diterbitkan BPN. instansi dan lembaga baik secara vertikal maupun horizontal. sehingga proses penanganannya dapat memakan waktu yang cukup lama. Ekosistem esensial dapat berupa antara lain ekosistem danau. Hal tersebut membutuhkan pemahaman dan visi yang setara dalam membangun komitmen konkret antar parapihak tersebut. koridor satwa LAKIP DITJEN PHKA 2013 24 . Upaya-upaya dilakukan untuk menghadapi kendala yang ada. 3) Meskipun menyangkut status kewilayahan (spasial). ekonomi dan politik lokasi setempat sehingga penyelesaian pada setiap lokasi memerlukan strategi yang berbeda. hal tersebut menyebabkan waktu yang diperlukan untuk proses penyelesaian konflik menjadi lebih lama. gambut. 2) Menerbitkan Keputusan Direktur KKBHL Nomor SK. sehingga memerlukan studi dan analisis yang mendalam. banyak kasus konflik tidak dapat langsung diukur dengan satuan luas. habitat satwa migran. namun membutuhkan upaya-upaya strategis. sistematis. 4) Intensitas konflik dan status tingkat kemajuan penyelesaian konflik setiap lokasi sangat beragam. Maluku dan Papua untuk menyamakan pemahaman dan membangun komitmen konkrIt antar parapihak penyelesaian konflik dan tekanan terhadap kawasan konservasi terutama pasca terbitnya Putusan MK Nomor 35/PUU-X/2012. antara lain: 1) Menyelenggarakan kegiatan seminar fasilitasi penyelesaian permasalahan tenurial kawasan hutan di regional Sulawesi. sehingga penanganan perambahan memerlukan kerjasama parapihak (stakeholders). SM. sejarah. 2) Penyelesaian konflik khususnya perambahan tidak hanya melalui penanganan represif. hal tersebut mengakibatnya tidak konsistennya pencapaian kinerja setiap tahun. 5) Konflik bersifat site spesific. efektif dan manusiawi.22/KKBHL-6/2013 Tanggal 15 Maret 2013 tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan Penurunan Konflik dan Tekanan terhadap Kawasan Taman Nasional dan Kawasan Konservasi Lainnya (CA. karst. hal tersebut berimplikasi pada sulitnya mengukur luas wilayah konflik. mengingat banyak lokasi perambahan telah ada sebelum kawasan konservasi ditunjuk. budaya. TB) dan HL sebesar 5% dan Keputusan Direktur KKBHL Nomor SK.

habitat tumbuhan/satwa liar yang endemik. Prov. mangrove dan ekosistem lahan Esensial Habitat Satwa Bantul dan burung migran di basah di Kab. Minahasa. ekosistem Esensial Lahan Basah Kab. Tabel9. Peningkatan pengelolaan ekosistem esensial juga telah tertuang dalam Inpres Nomor: 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan Yang Berkeadilan. NTT 7 Kawasan ekosistem esensial peneluran Burung Maleo dan Penyu di Desa Taima. Sulawesi Tengah Sumber : Dit. Burung Migran Pantai Bengkalis-Riau Cemara. Hulu Kalimantan Timur karst di Ciamis. Lampung Sumatera Barat DKI Jakarta 2 Kawasan Kawasan lahan Kawasan Kawasan Ekosistem karst di Kab. Papua Papua (SM Jamursba Medi dan sekitarnya) - Prov.Prov. Manggarai.tempat persinggahan burung migran. Jambi 3 Kawasan Kawasan Karst Kawasan Kawasan Ekosistem gambut di Mangkalihat . Kidul Rambut . 2012 No 2010 2011 2012 2013 1 Kawasan Kawasan habitat Kawasan Kawasan Ekosistem karst di Kab. dimana telah ditetapkan 17 (tujuh belas) lokasi yang menjadi target peningkatan ekosistem esensial selama perode 2010-2014. basah pantai di ekosistem Esensial Habitat Maros dan Pantai Timur mangrove dan Burung Air dan Pangkep Jawa Timur gambut d Kab. terancam punah ataupun yang dapat dimanfaatkan Dalam dokumen Renstra Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014 telah mengamanatkan peningkatan pengelolaan ekosistem esensial sebesar 10% atau 2% setiap tahunnya. Papua Barat 5 Kawasan Ekosistem Esensial Habitat Satwa Liar Penyu di Kab. Sumatera Utara Jawa Barat 4 Kawasan Kawasan Ekosistem ekosistem Esensial Lahan Basah esensial di Kabupaten Asmat. Tanjung Jabung Timur. Perkembangan Pengelolaan Ekosistem Esensial Tahun 2010. Kapuas Sangkulirang di perairan dan di Kab. Kab. langka. Pada tahun 2013 telah dilaksanakan kegiatan pengelolaan ekosistem esensial pada tujuh lokasiyang disajikan pada tabel berikut ini. liar. KKBHL 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 25 . Liar Penyu di Pantai di Gunung SM Pulau Tulang Bawang Pariaman – Prov. Prov. Kepala Burung Prov. Sulawesi Utara 6 Kawasan Ekosistem Esensial Hutan Lindung Pota di Kab. Prov. Langkat.

Untuk mencapai target pada indikator kegiatan ini berdasarkan SK Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung Nomor: SK. Inventarisasi dan Validasi Data Ekosistem Kegiatan ini dilaksanakan para tiwulan pertama implementasi kegiatan Inpres 3/ 2010 di seluruh lokasi pelaksanaan Inpres 3/2010. Berdasarkan pada tabel diatas sampai dengan tahun 2013.173/ IV- SET/ 2013 Tanggal 3 Mei 2013 tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Ditjen PHKA Tahun 2013. Pembentukan Forum Kerjasama/ Kolaborasi Pengelolaan Kegiatan ini dilaksanakan pada triwulan keempat. tahapan pelaksanaan terbagi atas: Tahun Pertama: a. b. d. kegiatan pengelolaan ekosistem esensial telah dilaksanakan di seluruh lokasi melalui penyusunan kesepakatan dengan para pihak (Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/ Kota) setempat sehingga realisasinya mencapai 125%. tokoh masyarakat.Lokasi kegiatan ini juga telah sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK. Identifikasi. Penyusunan Kesepakatan Pengelolaan Ekosistem Esensial Kegiatan penyusunan kesepakatan dengan para pihak dilaksanakan pada triwulan tiga. b. Pada tahun 2014 direncanakan akan melakukan monitoring dan evaluasi pada ketujuh lokasi pengelolaan ekositem esensial tersebut diatas. lokakarya. Tahun Kedua: a. Monitoring dan Evaluasi Implementasi Rencana LAKIP DITJEN PHKA 2013 26 . dan rapat koordinasi. mencakup rencana kegiatan para pihak-pihak dan diharapkan menjadi arahan dan pedoman dalam pengelolaan EE secara sinergi. keberadaan forum kolaborasi yang legal formal dengan struktur. Kegiatan ini tersebut bertujuan untuk: (i) Membangun kesamaan persepsi dan pemahaman antara para pihak tentang pengelolaan ekosistem esensial.17/ KKBHL-6/ 2013 tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan Pengelolaan Ekosistem Esensial Sebagai Penyangga Kehidupan Meningkat Sebesar 10% Selama 5 Tahun (2010- 2014). Penyusunan Rencana strategis/ Aksi Rencana strategis/ aksi merupakan rencana yang disusun secara bersama oleh forum kolaborasi. pemerhati/ lembaga swadaya masyarakat. Sosialisasi dan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Esensial(EE) Kegiatan Sosialisasi dan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Esensialdilaksanakan pada triwulan kedua. Forum kolaborasi terdiri atas unsur pemerintah/ pemerintah daerah. dan dunia usaha/ swasta. dalam bentuk seminar. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyusun kesepahaman dengan para pihak serta rencana/ kebijakan strategis dalam EE. perguruan tinggi. (ii) Meningkatkan koordinasi para pihak dalam inisiasi pengelolaan Kawasan ekosistem esensial c. tugas dan tanggungjawab yang jelas akan mampu mengakselerasi pengelolaan EE menuju pengelolaan yang lestari dan berkelanjutan.

Kerjasama Nasional/ Internasional Pengelolaan EE Kegiatan ini bertujuan agar setiap kawasan EE didorong untuk memiliki forum- forum kerjasama secar nasional ataupun internasional. 552. Kab. Tanjung Jabung Timur. Heritage Sites dll. Kec Sambi Rampas LAKIP DITJEN PHKA 2013 27 . Sumatera Barat. tanggal 25 Juni 2013 4) Nota Kesepahaman Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Habitat Peneluran Burung Maleo dan Penyu di Desa Taima Kec.5/1139/Bappeda tanggal 27 November 2013 tentang Forum Bersama Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Habitat Burung Maleo dan Penyu di Kab. tanggal 04 Juli 2013 3) Nota Kesepahaman Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial di Desa Jaring Halus. Sumatera Utara. dengan hasil sebagai berikut: 1) Keputusan Walikota Pariaman No. tanggal 25 Juni 2013 2) Nota Kesepahaman Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Habitat Burung Air dan Burung Migran di Pantai Cemara. Sulawesi Tengah. tanggal 27 Juni 2013 6) Nota Kesepahaman Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Pesisir Pantai Timur Kab. 504 Tahun 2013 tanggal 27 Desember 2013 tentang Pembentukan Forum Kolaborasi Pengelolaan Ekosistem Esensial Pantai Cemara Kab. Bualemo. HK/83. Kegiatan Monev dilakukan untuk menilai efektifitas pelaksanaan kolaborasi dan akan dilaksanakan oleh UPT Ditjen PHKA setempat dan forum kolaborasi. Pada tahun 2013 telah berhasil disusun tujuh Nota Kesepahaman dengan para pihak.A/2013 tanggal 4 September 2013 tentang Pembentukan Forum Kolaboratif Pengelolaan Ekosistem Esensial Hutan Lindung Pota. Secanggang. 433/523/2013 tanggal 19 November 2013 tentang Penetapan Forum Kolaborasi Pengelolaan Ekosistem Esensial Kawasan Konservasi Perairan 2) Keputusan Bupati Tanjung Jabung Timur No. Sulawesi Utara. Kab. Banggai. Nusa Tenggara Timur.51-01/K/2014 tanggal 13 Januari 2014 tentang Pembentukan Forum Kolaborasi Pengelolaan Ekosistem Esensial Jaring Halus 4) Keputusan Bupati Banggai No. 522. Kab. Manggarai. Asmat. Tanjung Jabung Timur 3) Keputusan Bupati Langkat No. tanggal 02 September 2013. tanggal 24 September 2013 5) Nota Kesepahaman Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Hutan Lindung Pota di Kab. Kec. misalnya dengan skema sisterpark. Setelah adanya Nota Kesepahaman sesuai dengan tahapan pengelolaan Ekosistem Esensial yang telah ditetapkan maka langkah selanjutnya adalah Pembentukan Forum Kolaborasi Pengelolaan. Jambi. tanggal 24 Oktober 2013 7) Nota Kesepahaman Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah di Kab. c. Geopark. Banggai 5) Keputusan Bupati Manggarai Timur No. yaitu: 1) Nota Kesepahaman Pengelolaan Ekosistem Esensial Habitat Satwa Liar Penyu di Kota Pariaman. situs Ramsar. Papua. Langkat. Minahasa.

Berdasarkan Renstra Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014. terdapat 12 (dua belas) provinsi prioritas penanganan perambahan. Kalimantan Selatan. Kawasan Ekosistem Esensial Habitat Peneluran Burung Maleo dan Penyu di Desa Taima Kec.21/ KKBHL-6/ 2013 tentang Kriteria dan Indikator Kegiatan Penanganan Perambahan Kawasan Hutan pada 12 Provinsi Prioritas. Sumatera Selatan. Aktifitas perambah tidak terbatas pada usaha perkebunan atau pertanian saja tetapi dapat juga dalam bentuk penjarahan hutan untuk mengambil kayu-kayunya ataupun bentuk usaha lain yang menjadikan kawasan sebagai tempat berusaha secara illegal. Banggai. Sumatera Barat. Bualemo. sehingga perambahan hutan merupakan masalah yang berskala nasional dan perlu mendapat perhatian serius terutama dalam hal penanganannya. 711 Tahun 2013 tanggal 18 November 2013 tentang Pembentukan Forum Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Pesisir Pantai Timur Kab. Kalimantan Tengah. Kab. Foto 1. Kalimantan Timur. Riau. Untuk tahapan selanjutnya yaitu penyusunan Rencana Aksi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Forum Kolaborasi yang telah terbentuk di setiap lokasi serta kegiatan Monitoring dan Evaluasi Implementasi Rencana akan dilaksanakan pada tahun 2014. Dalam rangka melaksanakan penanganan perambahan pada 12(dua belas) provinsi prioritas sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung Nomor: SK. Direktorat KKBHL menetapkan roadmad(langkah-langkah) sebagai berikut: LAKIP DITJEN PHKA 2013 28 . Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah 2) Penanganan Perambahan Kawasan Hutan pada 12 Provinsi Prioritas Perambahan hutan dengan segala kompleksitas dan implikasinya merupakan masalah di berbagai kawasan hutan di tanah air. 8 Tahun 2014 tanggal 13 Januari 2014 tentang Forum Kolaboratif Pengelolaan Kawasan Konservasi dan Ekosistem Esensial di Kabupaten Asmat. Jambi. yaitu Sumatera Utara. 6) Keputusan Bupati Minahasa Utara No. Lampung. Minahasa sebagai Kawasan Ekosistem Esensial 7) Keputusan Bupati Asmat No. Kalimantan Barat.

3) Mendorong agar seluruh UPT menetapkan tim GIS untuk menganalisa dan bertanggungjawab menyiapakan data dan informasi open areadi masing- masing UPT. sejarah perambahan. peta pemain. untuk dapat menyiapkan perencanaan dan pelaksanaan penyelesaian perambahan secara lebih efektif. Lokasi kegiatan penanganan perambahan dari tahun 2010-2013 dapat dilihat pada tabel berikut ini LAKIP DITJEN PHKA 2013 29 . 5) Penyusunan kriteria dan indikator untuk melakukan penilaian keberhasilan penanganan perambahan. 2) Rapat koordinasi pemantapan pembangunan PHKA dengan tema “Perambahan Kawasan Konservasi”. 4) Penyiapan strategi penanganan perambahan periode Renstra 2015-2019. 2) Monitoring dan evaluasi. namun pada tahun 2010 dilaksanakan kegiatan penanganan perambahan di kedua provinsi tersebut. dan pasca penanganan. Tahap II (2011-2013) 1) Serangkaian kegiatan workshop di tingkat provinsi. sedangkan 2 provinsi (Jawa Tengah dan Jawa Barat) meskipun bukan merupakan provinsi prioritas. 4) Menyusun Petunjuk Teknis Penanganan Perambahan di KSA/ KPA yang dapat dikembangkan dan disesuaikan oleh masing-masing UPT mengacu kepada kondisi lokal. Tahap I (2009-2010) 1) Identifikasi open area pada kawasan-kawasan konservasi. 4) Pencermatan RKA-KL masing-masing UPT yang menjadi prioritas di 12 (dua belas) provinsi untuk memastika investasi(input anggaran) yang dialokasikan untuk menangani perambahan . 3) Fasilitasi penyelesaian penanganan perambahan mulai dari pra penanganan. dari 12 provinsi prioritas yang menjadi target Renstra sampai dengan tahun 2013 sudah tercapai 8 provinsi. 5) Pembentukan kelompok kerja untuk percepatan penanganan perambahan. Tahun 2013 penanganan perambahan dilaksanakan dengan fokus pada kegiatan pendampingan teknis kepada Balai/Balai Besar TN/KSDA. saat penanganan.Secara keseluruhan. 3) Pemutakhiran baseline data perambahan. Tahap III (2014) 1) Fasilitasi penyelesaian penanganan perambahan mulai dari pra penanganan. saat penanganan.Target penyelesaian perambahan pada tahun 2013melalui pendampingan teknis dengan penyelenggaraan workshop penanganan perambahan di tigaprovinsi. 2) Pendampingan langsung kepada UPT dalam menganalisis kasus perambahan di wilayah kerjanya(tipologi perambahan. dll). identifikasi dilakukan melalui dua pendekatan yaitu mengirimkan surat kepada seluruh Kepala UPT PHKA dan Analisa citra satelit. Pada tahun 2013 kegiatan ini terealisasi di provinsi Kalimantan Barat. dan pasca penanganan. Sulawesi Tenggaraserta Jambi.

Tabel 10. Jumlah realisasi provinsi kegiatan penanganan perambahan pada tahun 2013 sebanyak tiga sehingga apabila dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan maka capaian kinerja tahun 2013 adalah 100%. Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Foto 2. antara lain adalah dengan menerbitkan Keputusan Direktur KKBHL NomorSK. analisa sejarah perambahan. antara lain masih belum terpenuhinya kegiatan pra kondisi penanganan perambahan di berbagai lokasi perambahan diantaranya identifikasi perambahan dan pemetaan aktor pelaku. Akan tetapi apabila dilihat dari target lokasi yang telah ditetapkan maka yang terealisasi hanya Provinsi Sulawesi Tenggara. Provinsi Lokasi Kegiatan Penanganan Perambahan Tahun 2010-2013 No 2010 2011 2012 2013 1 Riau Lampung Kalimantan Kalimantan Barat Tengah 2 Lampung Sumatera Utara Jambi 3 Jawa Tengah *) Sulawesi Tenggara 4 Jawa Barat *) Sumber : Dit. analisa tipologi perambahan kawasan. Upaya-upaya dilakukan untuk menghadapi kendala yang ada.173/ IV-SET/ 2013 Tanggal 3 Mei 2013 Tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Ditjen PHKA Tahun 2013.21/KKBHL-6/2013 tanggal 15 Maret 2013 tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan Penanganan Perambahan Kawasan Hutan pada 12(dua belas) Provinsi Prioritas yang isinya berisi tahapan teknis penyelesaian konflik dan perambahan di kawasan konservasi. yaitu di Provinsi Kalimantan Selatan. sosialisasi rencana penanganan perambahan serta alokasi anggaran penanganan perambahan di dalam DIPA masing-masing UPT. Operasi Peranganan Perambahan di SM Gunung Raya. Dalam pencapaian sasaran ini terdapat permasalahan yang dihadapi. penyusunan rencana penanganan perambahan. BKSDA Sumatera Selatan LAKIP DITJEN PHKA 2013 30 . KKBHL 2013 Keterangan: *) Bukan Provinsi prioritas Lokasi yang telah ditetapkan sebagai target sebagaimana yang telah dicantumkan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK.

dan sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya konflik yang diakibatkan oleh adanya perbedaan persepsi atau cara pandang. dengan lokasi sebagai berikut: (a) TN Bromo Tengger Semeru: mewakili ekosistem yang sering terjadi kebakaran dan ekosistem danau yang mengalami sedimentasi. seluas 40 Ha. dan peranannya sebagai habitat suatu jenis tumbuhan/ satwa dalam mendukung sistem penyangga kehidupan. seluas 75 Ha. 18/ KKBHL-6/ 2013 Tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan Restorasi Ekosistem Kawasan Konservasi pada lima Lokasi target kegiatan ini menjadi lima TN seluas 455 Ha. Dalam Renstra Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014 ditargetkan empat TN lokasi pelaksanaan restorasi melalui kerjasama Kementerian Kehutanan dengan Pemerintah Jepang. seluas 90 Ha. 6) Restorasi Ekosistem Kawasan Konservasi Restorasi ekosistem kawasan konservasi adalah suatu upaya untuk memperbaiki dan mengembalikan kondisi ekosistem kawasan seperti sebelum mengalami gangguan dengan melakukan aktivitas tertentu guna menginisiasi atau mempercepat pemulihan kondisi kesehatan. (b) TN Gunung Merapi: mewakili ekosistem pegunungan yang mengalami degradasi akibat letusan gunungapi dan penambangan pasir. Pemahaman bahwa ekosistem hutan mempunyai nilai jasa lingkungan yang penting perlu terus menerus di promosikan kepada masyarakat sekitar ataupun kepada pihak-pihak terkait. (d) TN Manupeu Tana Daru: mewakili daerah kering savana yang mengalami degradasi akibat penggembalaan ternak dan kebakaran hutan. (e) TN Sembilang: mewakili daerah hutan mangrove yang mengalami degradasi akibat pembukaan tambak. Kawasan konservasi di beberapa lokasi saat ini mulai mengalami degradasi sehingga menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati serta penurunan kualitas habitat tumbuhan dan satwa liar yang mengganggu keseimbangan dan fungsinya. Selain itu restorasi ekosistem diharapkan dapat menjadi media komunikasi dalam meningkatkan optimalisasi pemanfaatan ruang. Restorasi ekosistem dilakukan dengan pendekatan yang melibatkan masyarakat terdampak dan masyarakat penerima manfaat. Sesuai dengan SK Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung (KKBHL) Nomor: SK. sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. integritas dan kelestariannya. pencegahan bencana. melaluiProject on Capacity Building for Restoration of Ecosystems in Conservation Areas (Proyek JICA-RECA) untuk periode waktu 2010 -2015. LAKIP DITJEN PHKA 2013 31 . Untuk memulihkan kondisi tersebut perlu dilakukan upaya restorasi yang bertujuan untuk mempertahankan serta meningkatkan fungsi ekosistem yang rusak agar dapat berfungsi kembali secara optimal sesuai daya dukung. Upaya pemulihan ekosistem kawasan konservasi yang mengalami kerusakan tersebut merupakan komitmen Kementerian Kehutanan. seluas 200 Ha. seluas 50 Ha. (c) TN Gunung Ciremai: mewakili daerah pegunungan yang mengalami degradasi akibat kebakaran hutan dan perambahan.

3) Studi banding tingkat lanjutan. 6) Pelatihan kepada kelompok kerja untuk melakukan survey baseline data. telah ditetapkanroadmap (langkah- langkah) sebagai berikut: Tahap I (2010 – 2011) 1) Membangun komunikasi dengan pihak JICA sebagai mitra utama dalam pelaksanaan kegiatan restorasi di kawasan konservasi. antara lain LAKIP DITJEN PHKA 2013 32 . Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Restorasi Ekosistem Kawasan Konservasi pada lima lokasi tersebut. Tahap II (2011 – 2013) 1) Identifikasi areal uji coba restorasi. 2) Finalisasi Pedoman Teknis Restorasi Ekosistem di Kawasan Konservasi. penunjang suksesi alam  Pemeliharaan  Monitoring dan Evaluasi 4) Pertemuan rutin dalam rangka evaluasi pelaksanaan kegiatan di lima lokasi.Disamping itu juga dilaksanakan monitoring di areal uji coba restorasi. pemeliharaan/ penyulaman tanaman dan pengamatan. pengayaan. GPS. Proyek JICA-RECA ini juga melibatkan kalangan akademisi dari universitas setempat. pelatihan pembibitan denganbiji yang melibatkan masyarakat di 5 TN. 2) Penyusunan rancangan uji coba restorasi 3) Melaksanakan uji coba restorasi  Pembangunan persemaian  Pengumpulan biji/ bibit/ stek  Membuat persemaian  Persiapan lahan  Penanaman. 9) Kajian terhadap kebijakan terkait rehabilitasi di kawasan konservasi. penanaman. 3) Penetapan konsultan pelaksana tingkat lapangan (diutamakan dari pihak Perguruan Tinggi). serta Penyusunan Buku Panduan Lapangan Jenis-Jenis Tumbuhan Restorasi. Kendaraan Roda 4. Tahap III (2013 – 2014) 1) Penyusunan Guide Book di masing-masing lokasi. 4) Final meeting di masing-masing lokai untuk pembuatan laporan akhir. 8) Studi banding kepada kelompok kerja. 6) Monitoring dan Evaluasi. dan Penyusunan Panduan Teknis Restorasi di Kawasan Konservasi. 2) Penandatanganan kerjasama antara Indonesia (Kemenhut-PHKA) dengan Jepang (JICA) untuk jangka waktu lima tahun (2010-2015). 4) Pembelian dan pembangunan sarana dan prasarana (Kamera. ekonomi dan biofisik sekitar lokasi restorasi. pembahasan-pembahasan dalam rangka penyusunan Pedoman Tata Cara Restorasi di Kawasan Konservasi. Pondok Kerja. 10)Penyusunan Draft Awal pedoman Teknis Restorasi Ekosistem di Kawasan Konservasi. 5) Seminar hasil pelaksanaan project restorasi. 7) Survey sosial. Laptop. dll) 5) Pembentukan kelompok kerja (pelibatan masyarakat lokal). Kegiatan Project JICA-RECA yang sudah dilaksanakan sampai saat ini adalah pembibitan jenis-jenis tanaman endemik.

5 (Lambosir) 2.50 25 36.50 12. Sampai dengan akhir tahun 2013 luas total areal yang telah dilakukan penanaman seluas 520.1 Sumber : Dit. TN Bromo RanuPani 10 30 30 70 Tengger Semeru 4. KKBHL. Universitas Kuningan dan Institut Pertanian Bogor dan beberapa perguruan tinggi lainnya. TN Sembilang Seksi 1. sehingga apabila dibandingkan dengan realisasi capaian indikator kegiatan ini adalah 112.60 188 169.00 5 0 5 Mriyan 7. TS Tech Indonesia di TNGM). 18/ KKBHL-6/ 2013 Tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan Restorasi Ekosistem Kawasan Konservasi pada lima Lokasi yaitu seluas 455 Ha. Resot 1 76 70 54 200 TOTAL 162. Universitas Gajah Mada. Universitas Sriwijaya. Sementara itu kegiatan penanaman yang dilakukan pada tahun 2013 di kelima TN tersebut seluas 169.31%.1 3.Ltd di TN BTSdan instansi penelitian seperti LIPI dan Litbang.5 Merapi Sumitomo 0.2013 Kegiatan restorasi ekosistem di lima lokasi TNtersebut.Luas areal yang sudah dilakukan penanaman pada kelima TN dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 11. Disamping itu juga dilakukan kolaborasi dengan perusahaan (kegiatan penanaman CSR dengan Yamaha di TNGC. maka capaian kegiatan ini sampai dengan tahun 2013 telah mencapai 114. TN Gunung Lambosir 5 5 0 10 Ciremai Karang Sari 5 5 0 10 Seda 3 2 0 5 Yamaha Forest 12.50Ha.00 25 25 50 TsTech 0. perambahan. TN Gunung Ngablak 16.10 Ha. Universitas Brawijaya. sedangkan target tahun 2013 untuk kegiatan ini yaitu seluas 150. Kegiatan restorasi ini sudah dimulai dari tahun 2010 dimana pada saat itu dilaksanakan tahap persiapan pada lokasi target kegiatan restorasi ekosistem dengan melakukan uji coba di demplot percontohan pada lokasi yang telah ditetapkan Selanjutnya pada tahun 2011 baru dilakukan penanaman seluas 162. Perusahaan MSIG dan PT.50 10 13 39. dilaksanakan dengan pola yang berbeda-beda sesuai dengan tipologi penyebab permasalahan/kerusakan ekosistem (areal bekas kebakaran. TN Manupeu 27 20 10 57 Tanadaru 5.60 Ha dan tahun 2012 seluas 188 Ha.62%.50 520.5 Ha.Apabila dibandingkan dengan target lima tahun sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam SK Direktur KKBHL Nomor: SK. erupsi gunungapi) dari masing-masing kawasan.50 37. tambak.50 12. pelatihan pengendalian kebakaran hutan dengan Sumitomo Forestry Co.60 3. Kedepan LAKIP DITJEN PHKA 2013 33 . Luasan Areal Restorasi Tahun 2011 – 2013 NO NAMA KAWASAN LOKASI UJI REALISASI PENANAMAN (Ha) Total COBA (Ha) 2011 2012 2013 1.

2) Serangkaian pertemuan dengan para pihak/ pakar dibidnag pengelolaan lawasan konservasi (workshop) baik di tingkat UPT maupun di tingkat pusat. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar setiap UPT Taman Nasional dapat menjalankan pengelolaan kawasannya secara efektif dan responsif terhadap berbagai persoalan yang mengancam eksistensi taman nasional. seolah-olah kawasan yang tidak ada pengelolanya dan merupakan awal masuknya berbagai pihak untuk menguasai kawasan dan melakukan berbagai kegiatan illegal. dinamika sosial-ekonomi-budaya yang mempengaruhi akan selalu terpantau sehingga kawasan akan selalu terjaga dan terkelola. bahkan ada beberapa taman nasional yang belum memiliki kantor resort. 4) Penyusunan draft Pedoman Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort. Dalam rangka mewujudkan pengelolaan yang efektif. jasa lingkungan dan wisata) serta aspek pengembangan masyarakat belum dapat dilakukan secara optimal. pengalaman ini diharapkan bisa menjadi masukan dalam penyusunan draft pedoman tatacara pelaksanaan restorasi ekosistem di kawasan konservasi. LAKIP DITJEN PHKA 2013 34 . kajian dan penetapan wilayah seksi pengelolaan dan dirinci ke dalam unit-unit lebih kecil yang disebut resort-resort pengelolaan. 3) Surat Edaran dari Dirjen PHKA kepada seluruh Kepala Balai Besar/ Balai TN untuk melakukan pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort dengan melakukan minimal beberapa kegiatan yang sifatnya persiapan. seperti pengelolaan potensi SDAHE (plasma nutfah. Sarana dan prasarana yang ada kurang mendukung pelaksanaan tugas di lapangan. perlu dibangun sistem pengelolaan taman nasional berbasis resort (Resort Based Management/RBM). Sesuai dengan Surat Keputusan Direktur KKBHL Nomor: SK. Dalam kondisi seperti ini. Rencana kegiatan yang dapat ditindak lanjuti antara lain melalui penataan kawasan antara lain trayek batas. Dengan manajemen berbasis resort diharapkan potensi kawasan dan perkembangannya akan teridentifikasi dan selalu ter-update. pemeliharaan batas. resort merupakan ujung tombak pengelolaan kawasan konservasi. 7) Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Melalui Pengelolaan Berbasis Resort Sebagai unit pemangkuan kawasan konservasi terkecil. Kondisi-kondisi resort umumnya juga sangat minim. telah ditetapkanroadmap (langkah-langkah) sebagai berikut: Tahap I (2010-2011) 1) Pengumpulan berbagai lesson learn dari beberapa Taman Nasional yang dianggap telah melakukan pengelolaan berbasis lapangan.19/ KKBHL-6/ 2013 tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Melalui pengelolaan Berbasis Resort di 50 Taman Nasional. Selama ini aktifitas petugas resort sebagian besar masih didominasi oleh aspek pengamanan. Petugas resort adalah petugas yang sehari-hari berada di dalam kawasan dan berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. penyusunan rencana pengelolaan dan zonasi serta pegembangan sistem monitoring yang efektif dan efesien serta berkelanjutan. sementara aspek lain dari pengelolaan kawasan konservasi.

Adapun kegiatan yang dilakukan adalag: 1) Monev terakhir terhadap beberapa UPT yang belum melakukan pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort. 6) Finalisasi Pedoman Pengelolaan TN Berbasis Resort. 10)Pendampingan terhadap beberapa UPT yang dinilai belum optimal dalam melakukan pengelolaan berbasis resort. 3) Persiapan untuk menyusun kriteria dan indikator terhadap dampak dilakukannya pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort. 3) Lokalatih pengelolaan TN Berbasis resort. 7) Penyusunan kriteria dan alat ukur penilaian pengelolaan kawasan berbasis resort. sarana prasarana dan alokasi anggarannya yang tersusun dalam suatu rencana tahapan pencapaian implementasi pengelolaan berbasis resort yang terkawal oleh tim kerja. (2) adanya rencana tahapan pencapaian implementasi RBM. (2) Pemenuhan unsur LAKIP DITJEN PHKA 2013 35 . 2) Pendampngan terhadap beberapa UPT yang dinilai belum optimal dalam melakukan pengelolaan konservasi berbasis resort. (3) adanya pengelolaan informasi. 8) Monitoring dan evaluasi/ melakukan penilaian pengelolaan kawasan berbasis resort menggunakan kriteria dan indikator. Aspek prakondisi terdiri dari tiga indikator yakni: (1) adanya tim kerja. Aspek yang diukur dalam penilaian implementasi RBM di taman nasional meliputi dua kriteria yakni prakondisi dan implementasi. Aspek prakondisi merupakan tahapan awal penyiapan sumber daya manusia. 4) Fasilitasi pengelolaan TN berbasis resort di beberapa Balai Besar/ Balai TN. Aspek implementasi terdiri dari empat indikator yakni: (1) Penataan wilayah kerja. Tahap II (2011-2013) Merupakan tahap lanjutan. 2) Penyusunan Sistem Informasi Management RBM. Strategi yang dilakukan dalam memfasilitasi tercapainya target kegiatan tersebut adalah: 1) Serangkaian workshop/ seminar tentang pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort. 9) Penyampaian surat terkait hasil monev yang berisikan hal-hal yang harus dipertahankan dan yang harus ditingkatkan . Tahap III (2013-2014) Merupakan tahap akhir dalam memastikan bahwa seluruh Balai besar/ Balai TN telah siap meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi melalui penerapan pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort. Kriteria Implementasi merupakan upaya pencapaian tahapan implementasi RBM sebagaimana yang telah disusun oleh UPT yang bersangkutan dalam dokumen perencanaannya. 5) Pembelian peralatan untuk pendukung pengelolaan berbasis resort. dimana prakondisi dan implementasi pengelolaan kawasan berbasis resort didorong agar terlaksana di masing-masing Balai Besar/ Balai TN.

Indikator dan Unsur dalam implementasi pengelolaan RBM: Tabel 12. Ketersediaan dan distribusi Alat Kerja (2011) minimal Resort (GPS. Kelengkapan Data 2. PRAKONDISI II. Tersedianya tally sheet yang digunakan 5. Analisa data 4. potensi. (4) evaluasi. Adanya protokol data dari Resort ke aliran data Balai 4. Kriteria. SK Penetapan Wilayah Kerja Resort Bagian Tata Usaha (anggaran dan 2. Dilakukan evaluasi secara reguler implementasi RBM B. Keakuratan data RBM UPT 3. landuse) dalam Peta Resort tertuang dalam legenda peta B. Penetapan Wilayah Kerja Resort 1. (3) pengelolaan informasi. Penggunaan hasil evaluasi sebagai umpan balik dalam perencanaan ke depan Masing-masing-masing indikator memiliki unsur yang mengandung bobot dan nilai tersendiri. administrasi. topografi dsb) masing2 Resort 4. Pembagian Tugas Tim yang memadai 3. Ketepatan waktu dan kontinuitas 3. Evaluasi A. Proses Penyusunan Dokumen Rencana 1. potensi. Penyusunan Rencana Pengelolaan Berbasis Resort 1. kelembagaan resort. Pembangunan Kelembagaan Resort 2. Tersedianya aplikasi SIM RBM UPT 1. Jumlah rata-rata personil masing- kantor resort masing resort 5. Dukungan (distribusi) anggaran Transportasi kegiatan di tingkat resort per tahun 6. Peta Kerja Wilayah Resort yang perlengkapan). Pembentukan Tim Kerja RBM UPT A. Penetapan Tugas Minimal Resort Pengelolaan Berbasis Resort 2. Informasi (jalan. bangunan. SK Kepala balai tentang pengelola SIM 2. Penggunaan data sebagai bahan untuk kebutuhan collecting data perencanaan dan kebijakan D. Bidang Wilayah/Seksi Wilayah. Peningkatan kualitas (pengetahuan 3. SK Kepala Balai tentang Penempatan dan ketrampilan) petugas resort personil (diadakan Balai maupun 4. SK Kepala balai ttg Tim Kerja RBM dilampiri Peta Kerja Bidang/Seksi 2. Penetapan Wilayah Kerja Resort didasarkan kajian tertulis tipologi (Kerawasan/tekanan kawasan. Indikator dan Unsur dalam Implementasi Pengelolaan Kawasan Konservasi Berbasis Resort I. Nilai total seluruh unsur akan memberikan informasi kuantitatif mengenai capaian masing-masing UPT dalam pemenuhan kriteria prakondisi LAKIP DITJEN PHKA 2013 36 . aksebilitas. Perencanaan Anggaran Implementasi RBM C. Peta Kerja dan 5. sungai. permasalahan. Pengelolaan Informasi C. Ketersediaan Kantor Resort atau pengiriman) Pondok kerja yang difungsikan sebagai 3. Terimplementasinya distribusi sarpras Kamera Digital) kerja minimal resort 7. Dokumen Perencanaan RBM B. Pengelolaan Informasi 1. 1. Berikut ini disajikan tabel Kriteria. Ketersediaan dan Distribusi Sarana Alat 4. IMPLEMENTASI A. Fungsional) telah dicetak dengan ukuran skala 3. Representasi unsur dalam tim kerja RBM Wilayah dan Resort (Resort.

maka capaian kinerja indikator ini mencapai 100%. Setiap akan UPT mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi setempat dalam rangka meningkatkan performa organisasinya. Perkembangan Pengelolaan Berbasis Resort Tahun 2010-2013 No Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 1 TN Kerinci Seblat TN Bukit Barisan TN Gunung TN Bukit Duabelas Selatan Palung 2 TN Ujung Kulon TN Ciremai TN Kelimutu TN Bromo Tengger Semeru 3 TN Gunung TN Gunung TN Tanjung TN Betung Kerihun Halimun Salak Merapi Putting 4 TN Gunung Gede TN Gunung TN Gunung TN Bogani Nani Pangrango Merbabu Rinjani Wartabone 5 TN Karimun Jawa TN Meru Betiri TN Batang TN Danau Gadis Sentarum 6 TN Baluran TN Kutai TN Way TN Bunaken Kambas 7 TN Alas Purwo TN Bantimurung TN Manupeu TN Kepulauan Bulusaraung Tanadaru Seribu 8 TN Rawa Aopa TN Lore Lindu TN Bukit Baka Bukit Watumohai Raya 9 TN Komodo TN Gunung TN Teluk Leuser Cenderawasih 10 TN Laewangi TN Takabonerate Wanggameti 11 TN Bukit Tigapuluh 12 TN Wakatobi 13 TN Sembilang Sumber: Dit. Hal yang diperhatikan dalam penilaian ini adalah keragaman kondisi masing-masing UPT baik tantangan dan potensi kawasan serta faktor budaya dari pengelolanya telah mendorong pembentukan kultur organisasi yang tidak sama antar UPT satu dengan UPT lainnya. Suatu UPT dinyatakan berhasil mengimplementasikan Pengelolaan Kawasan Berbasis Resort apabila kriteria prakondisi dan kriteria Implementasi mencapai nilai lebih besar atau sama dengan 90 (sembilan puluh). KKBHL. Jika setiap tahun ditargetkan ada 10 (sepuluh) taman nasional yang dikelola dengan berbasis resort. 2013 Dalam rangka efektivitas implementasi RBM Direktorat KKBHL selaku penanggung jawab kegiatan telah melakukan kegiatan Evaluasi Prakondisi dan LAKIP DITJEN PHKA 2013 37 . Pola atau metode tersebut merupakan kreatifitas yang perlu diapresiasi sebagai added value dalam penilaian kinerjanya dalam rangka implementasi pengelolaan kawasan berbasis resort. Pada tahun 2013 telah dilaksanakan peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi melalui pengelolaan berbasis resort di 10 (sepuluh) UPT. Dalam kurun waktu empat tahun ini jumlah TN yang telah melaksanakan pengelolaan berbasis resort sebanyak 39 (tiga puluh sembilan) UPT sebagaimana dalam tabel berikut: Tabel 13.Peran Pusat merupakan faktor penting untuk mendorong keberhasilan melalui program-program dalam pendampingan teknis. maupun kriteria implementasi.

Kutai 19. Teluk Cendrawasih 38. Gunung Leuser Melengkapi ditujukan kepada UPT 12. Kerinci Seblat cukup/kurang intensif 49. Way Kambas kebutuhan teknis mendukung dan 31. Bukit Barisan Selatan Melakukan ditujukan kepada UPT 2. Hasil Evaluasi Prakondisi dan Implementasi RBM di Taman Nasional Tahun 2013 No Kategori Taman Nasional Saran Tindak Lanjut 1. Bogani Nani Waftabone 23. Wakatobi 2. Karimun Jawa 6. Merapi pengelolaan RBM mendukung dan 16. yang dihadiri oleh 50 UPT Taman Nasional. Pemantapan: 11. Laiwangi Wanggameti 40.Taniung Puting 8. diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 14.Manupeu Tana Daru 21. Lore Lindu 37. Kepulauan Seribu pengelolaan RBM implementasinya cukup 32. Siberut Pembinaan lebih ditujukan kepada UPT 43. Kegiatan evaluasi tersebut menghasilkan empat kategori rencana tindak terhadap prakondisi dan implementasi RBM di taman nasional. Betung Karihun kebutuhan teknis mendukung/cukup 15. Berbak kekurangan yang tahap 29. Taka Bonerate 41. Bukit Baka Bukit Raya 35. Gunung Palung asistensi lebih prakondisinya 45. Bali Barat 20. Pembinaan: 42. Komodo 9. Bantimurung Bulusaraung 22. Rawa Aopa Watumohai 10. Ciremai intensif 33. Sebangau 36. Bunaken 26. Halimun Salak implementasinya intensif 5. Kelimutu 24. Sembilang 50. Gunung Merbabu implementasinya 17. Meru Betiri intensif/cukup intensif 18. Bromo Tengger Semeru administrasi dan prakondisinya 14. Implementasi RBM di Taman Nasional yang dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 8 – 9 Oktober 2013. Lorentz intensif dari KKBHL kurang/cukup 46. KKBHL. Alas Purwo 7. Tesso Nillo lanjut dengan yang tahap 44. Togean mendukung dan 47. Rinjani 39. Bukit Dua Belas Pengelolaan RBM mendukung dan 4. Pendampingan: 27. Aketatawe Lolobata 4. Manusela 3. 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 38 . Baluran 34. Ujung Kulon kekurangan yang tahap 13. Kayan Mentarang Sumber: Dit. Wasur implementasinya 48. Berdasarkan kategori nilai evaluasi. Batang Gadis Melengkapi ditujukan kepada UPT 28. Bukit Tigapuluh administrasi dan prakondisinya cukup 30. Danau Sentarum 25. Gunung Gede Pangrango Monitoring yangtahap prakondisinya 3. Pengembangan: 1.

akan dilakukan hal-hal sebagai berikut: (1) Memprioritaskan UPT yang masuk kategori saran tindak pembinaan untuk pembinaan lebih lanjut. Terhadap hasil evaluasi prakondisi dan implementasi tersebut maka sebagai tindak-lanjutnya.FiturterbaruAplikasiSIM-RBM di BTN Komodo 5) Peningkatan Pengelolaan Kawasan Konservasi Ekosistem Gambut Ekosistem gambut adalah ekosistem yang unik.Kondisi tersebut membentuk habitat yang berkadar keasaman tinggi dan dalam keadaan basah serta memiliki keanekaragaman hayati yang sangat teradaptasi. Mengingat keunikannya. maka ekosistem gambut menuntut upaya manajemen komprehensif untuk mencegah kerusakannya. Pada periode 2010-2014. Renstra Direktorat Jenderal PHKA telah mengamanatkan untuk meningkatkan pengelolaan ekosistem gambut di LAKIP DITJEN PHKA 2013 39 . (2) Memfasilitasi proses pembelajaran antar UPT.Perubahan sifat ini relatif permanen sehingga perlu dicegah dan dijadikan tolok ukur (measuring stick) bagi keberhasilan pengelolaan ekosistem gambut. Pedoman Pengelolaan TN Merbabu BerbasisResortImplementasi RBM Foto4dan5. terbentuk dari sisa tumbuhan yang terjebak dalam keadaan terendam selama ribuan tahun. Foto 3. utamanya mencegah berubahnya gambut dari sifat hydrophilic(menahan air) menjadi hydrophobic (tidak menahan air). dan (3) Menyelesaikan Pedoman Pelaksanaan RBM.

TN Berbak (Jambi). 2) Workshop pengelolaan lahan basah (termasuk gambut) Tahap II (2011 – 2013) 1) Workshop pengelolaan ekosistem gambut. 4) Monitoring dan Evalusi ke tingkat UPT. 2) Penyusunan Naskah akademis sebagai dasar Penyusunan Pedoman Pengelolaan Ekosistem Gambut dalam Kawasan Konservasi. Papua. Perkembangan lokasi pengelolaan ekosistem gambut dari tahun 2011-2013 dapat dilihat pada tabel berikut ini. 7) Koordinasi dengan para pihak dalam penyusunan One Peat Map. TN Rawa Aopa (Sulawesi Tenggara). Perkembangan Lokasi Kegiatan Pengelolaan Ekosistem Gambut No 2011 2012 2013 1 Riau Kalimantan Selatan *) Papua 2 Kalimantan Barat Kalimantan Tengah LAKIP DITJEN PHKA 2013 40 . Tahap III (2014) 1) Monitoring dan Evaluasi 2) Pengusulan kawasan konservasi yang memiliki ekosistem gambut sebagai situs Ramsar Pada tahun 2013. dan menggunakan peta gambut yang diterbitkan oleh Weetland International Indonesia Program (WII). 8) Koordinasi dalam rangka penyusunan RPP Pengelolaan Ekosistem Gambut. yaitu TN Danau Sentarum (Kalimantan Barat). delapan Provinsi. Tabel 15. pengelolaan ekosistem gambut dilaksanakan di dua lokasi yaitu Papua dan Kalimantan Tengah. 5) Pengusulan kawasan konservasi yang memiliki ekosistem gambut sebagai situs Ramsar. Hal tersebut terjadi karena untuk Provinsi Kalimantan Selatan bukan merupakan Provinsi target akan tetapi termasuk dalam capaian pada tahun 2012. 3) Penyusunan Pedoman Pengelolaan Ekosistem Gambut dalam Kawasan Konservasi.Sampai dengan tahun 2013 kegiatan ini telah terlaksana di tujuh lokasi. adalah sebagai berikut: Tahap I (2009-2010) 1) Identifikasi ekosistem gambut. akan tetapi kenyataannya terdapat dua lokasi yang belum dilaksanakan yaitu Provinsi Papua Barat dan Provinsi Sulawesi Tenggara (TN rawa Aopa). identifikasi dilakukan melalui dua pendekatan. 6) Fasilitasi pelaksanaan Restorasi ekosistem gambut. TN Sebangau (Kalimantan Tengah).Jika dibandingkan dengan target tahun 2013 yaitu dua Provinsi.20/ KKBHL-6/ 2013 tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan pengelolaan Kawasan Hutan Konservasi Ekosistem Gambut di 8 Propinsi. maka capaian peningkatan pengelolaan kawasan konservasi ekosistem gambut adalah 100%. Papua Barat dan Riau. yaitu mengirimkan surat kepada seluruh Kepala UPT PHKA. apabila dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan dalam Renstra Ditjen PHKA 2010-2014 berarti untuk kegiatan ini tersisa satu lokasi yang belum dilaksanakan. Tahapan pelaksanaan kegiatan peningkatan Pengelolaan Kawasan Hutan Konservasi Ekosistem Gambut sesuai dengan Surat Keputusan Direktur KKBHL Nomor: SK. TN Sembilang (Sumsel).

penyegaran serta seminar-seminar dan symposium. politis. Upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas dalam pengelolaan lahan gambut. Kebakaran hutan dan lahan menjadi penyebab utama kerusakan lahan gambut. kebakaran. perkebunan. (c). untuk meningkatkan pemahaman masyarakat atas pengelolaan sumberdaya lestari. pembuatan saluran drainase serta pembukaan lahan gambut untuk pertanian. Upaya peningkatan pemahaman. Rendahnya kepedulian antar pihak terhadap kasus kebakaran serta belum terintegrasi program dan kegiatan seluruh sektor terkait yaitu pusat. kebakaran hutan dan lahan penebangan illegal dan aktifitas merusak lainnya. utamanya untuk mendorong pengelolaan ekosistem gambut secara lestari. Belum adanya penegakan hukum yang tegas. hampir 80% hotspot/kebakaran berada di luar kawasan hutan. (d). sehingga data ilmiah belum mampu mendukung pengelolaan c) Pengamanan dan pengawasan: keterbatasan sumberdaya manusia serta sarana dan prasarana yang terbatas d) Aspek sosial: tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat yang rendah akan kelestarian lingkungan. industri dan pemukiman. kabupaten/kota. Permasalahan utama dalam kebakaran hutan dan lahan antara lain: (a) kebakaran hutan dan lahan merupakan permasalahan rutin pada setiap musim kemarau. Penyebab kerusakan ekosistem lahan gambut antara lain disebabkan oleh penebangan hutan. pertambangan. (e). 2013 Keterangan: *) Bukan Provinsi prioritas Pada tahun 2013 kegiatan yang dilaksanakan berupa koordinasi dengan para pihak serta dan instansi terkait. penyadaran masyarakat serta pengembangan mata pencaharian alternatif diperlukan. (f). ekologis. LAKIP DITJEN PHKA 2013 41 . baik pada skala regional maupun global (climate change ) Adapun upaya rekomendasi dan alternatif solusi untuk peningkatan efektifitas pengelolaan ekosistem gambut antara lain (a). KKBHL. kehati serta penegakan hukum melalui pelatihan. (c). No 2011 2012 2013 3 Jambi (TN Berbak) 4 Sumatera Selatan Sumber: Dit. Upaya terpadu dan koordinasi lintas instansi/institusi untuk menanggulangi aktifitas penambangan rakyat illegal. (b). internalisasi serta sinergisitas program antara rencana aksi Renstra Ditjen PHKA dengan rencana kegiatan di tingkat Balai KSDA/TN menyangkut pengelolaan lahan gambut. (b). provinsi. Program penjangkauan. sosial. inventarisasi dan monitoring yang masih terbatas. Dampak kebakaran lahan dan hutan merugikan aspek ekonomis. Permasalahan utama dalam pengelolaan ekosistem gambut antara lain: a) Tata kelola kawasan: pengelolaan ekosistem gambut belum menjadi titik fokus dalam pengelolaan kawasan b) Terbatasnya dukungan data-data ilmiah: pengetahuan dan keterampilan dalam proses identifikasi.

000. 800. Daftar UPT Target dan Desa Sasaran Peningkatan Pendapatan Masyarakat Sekitar KK No UPT / Kawasan Konservasi Desa Sasaran 1... BTN Baluran Desa Sumberanyar Desa Sumberwaru Desa Wonorejo 5. BKSDA Lampung Desa Sebesi 3.Per Bulan Per Kepala Keluarga (Sebesar 30%) Melalui Upaya Pemberdayaan Masyarakat Pada tanggal 15 Maret 2013 telah diterbitkan Surat Keputusan Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung Nomor SK. BKSDA Nusa Tenggara Desa Senggigi Barat Desa Seloto Desa Sampir Desa Meraran 7. BTN Kep. Karimun Jawa Desa Kemujan 4.000. 6) Persentase Peningkatan Pendapatan Masyarakat Sekitar KK Tertentu Mejadi Minimal Rp.16/KKBHL-6/2013 tentang Kriteria dan Indikator Penilaian Kegiatan Peningkatan Pendapatan Masyarakat di Sekitar Kawasan Konservasi Tertentu Menjadi Minimal Rp.per Bulan per Kepala Keluarga. BTN Bali Barat Desa Blimbingsari Desa Sumberklampok Kelurahan Gilimanuk 6. 800.. 800. BTN Bogani Nani Desa Mengkang Wartabone Desa Totabuan Desa Tunggulo Sumber : Dit.000. Dengan mempertimbangkan jumlah desa di sekitar kawasan konservasi dan jumlah desa MDK yang cukup banyak maka pembinaan difokuskan pada beberapa desa sasaran. BTN Sembilang Desa Tabala 2. telah ditetapkan delapan UPT target dan 17 (tujuh belas) desa sasaran.Per Bulan Per Kepala Keluarga (Sebesar 30%) Melalui Upaya Pemberdayaan Masyarakat adalah sebagai berikut: Tahap I (2010-2011) 1) Identifikasi desa-desa di sekitar kawasan konservasi 2) Penyiapan pendampingan kelompok masyarakat 3) Pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat 4) Penentuan potensi desa oleh kelompok masyarakat (metode PRA) LAKIP DITJEN PHKA 2013 42 . Tabel 16.Untuk itu. BTN Sebangau Desa Mekartani 8. KKBHL 2013 Tahapan pelaksanaan kegiatan Peningkatan Pendapatan Masyarakat Sekitar KK Tertentu Mejadi Minimal Rp.

BKSDA Lampung 1 desa 1.73% Wartabone Rata-rata persentase peningkatan pendapatan masyarakat 123.00% 2013 4. Pelaku bisnis) 6) Sosialisasi pedoman dan juknis terkait Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga Kawasan Konservasi Tahap III (2013-2014) 1) Penyusunan Kuisioner penilaian Pendapatan masyarakat/ Kelompok Masyarakat di sekitar kawasan konservasi 2) Monitoring dan Evaluasi Untuk penghitungan persentase peningkatan pendapatan masyarakat di desa-desa sasaran. Berdasarkan data awal pendapatan masyarakat diasumsikan sebesar Rp 550. BTN Sebangau 1 desa 850. BTN Baluran 3 desa 650. Tahap II (2011-2013) 1) Peningkatan kapasitas kelompok melalui peningkatan kapasitas SDM pengelola pemberdayaan masyarakat 2) Penyusunan Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pemberdayaan Masyarakat di Daerah Penyangga Kawasan Konservasi 3) Penyusunan Juknis Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga Kawasan Konservasi 4) Penyusunan Juknis Monev Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga Kawasan Konservasi 5) Pembangunan kemitraan dengan para pihak (Pemda.500.55% 8.000.000 54.000 18.000.18% 5. 550. BTN Bogani Nani 3 desa 1. BTN Bali Barat 3 desa 1.799.Dengan menggunakanrumus perhitungan persentase berikut : % PM = P2013 – P0x 100 % P0 % PM =persentasecapaianpeningkatanpendapatanmasyarakat P2013 = rata-rata peningkatanpendapatanmasyarakatpadatahun 2013 P0 = asumsi data awalpendapatanmasyarakat (Rp. Daftar UPT Target dan Persentase Peningkatan PendapatanMasyarakat No UPT / Kawasan Konservasi Jumlah Rata-rata Persentase Desa Pendapatan Peningkatan masyarakat per Pendapatan bulan tahun 2013 Masyarakat 1. Karimun Jawa 1 desa 1.09% 6. BKSDA NTB 4 desa 1.350.85% Sumber : Dit.64% 3.-) Hasil perhitungan disajikan dalam tabel berikut: Tabel 17.700.000 172.20% 2. KKBHL 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 43 .000 209.605 227..450. BTN Sembilang 1 desa tidak ada data 0.45% 7. BTN Kep.000 163.000 145. dilakukan dengan membandingkan pendapatan masyarakat pada tahun 2013 dengan asumsi data awal.

sampai dengan akhir tahun 2013 terdapat satu UPT yang tidakmelaporkan data rata-rata pendapatan masyarakat perbulan yaitu BTN Sembilang. b) Peningkatan Keterampilan Petugas/ Fasilitator Mengenai Teknik Komunikasi dan Penguatan Kelembagaan Masyarakat dalam Pengelolaan Daerah Penyangga Kawasan Konservasi. BTN Sebangaurata-rata peningkatan pendapatan sudah melebihi target yaitu 54. Dari data kedelapan UPT target didapatkan rata-rata presentase peningkatan pendapatan masyarakat sebesar 123. Dari delapan UPT target yang telah ditetapkan menjadi lokasi kegiatan peningkatan pendapatan masyarakat. c) Peningkatan Kapasitas SDM UPT Pengelolaan Data Base Daerah Penyangga Kawasan Konservasi.18%). Untuk mencapai indikator kinerja kegiatan tersebut. e) Supervisi Pengelolaan Daerah Penyangga Kawasan Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga Kawasan Konservasi. telah dilakukan kegiatan- kegiatan di tingkat UPT dan Direktorat. LAKIP DITJEN PHKA 2013 44 . d) Workshop Multipihak Pengelolaan Daerah Penyangga Kawasan Konservasi Dalam Upaya Penanganan Perambahan. f) Monitoring dan Evaluasi Penyelenggaraan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat.55%. e) Peningkatan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan. Hasil perhitungan yang disajikan dalam tabel diatas presentase peningkatan pendapatan masyarakatnya di BTN Sembilang dianggap 0. Hal tersebut terjadi karena pada tahun 2013 UPT tersebut tidak melakukan pengukuran peningkatan pendapatan masyarakat pada desa yang telah ditetapkan. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Direktorat KKBHL sebagai penanggungjawab kegiatan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat adalah: a) Semiloka Pemanfaatan Plasma Nutfah di Kawasan Konservasi dalam rangka Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga. Untuk UPT Target telah dilakukan: a) Pendataan sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi. dan penyuluhan masyarakat sekitar kawasan konservasi. c) Sosialisasi. pembinaan. Dari pengukuran pendapatan masyarakat pada UPT dan Desa target dapat diketahui bahwa terdapat lima UPT yang rata-rata peningkatan pendapatan masyarakatnya yang sudah lebih dari 100%. b) Pengembangan ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi. g) Monev implementasi pengelolaan ekosistem esensial.85% . d) Pelatihan usaha ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi. sedangkan untuk BTN Baluran masih belum mencapai target yang diharapkan (18. f) Monev kegiatan MDK/ SPKP/ Penyangga.

kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity lost) di Indonesia semakin masif terjadi. Namun. keterancaman (jenis dan tingkat ancaman) serta status pengelolaan spesies (ketersediaan rencana pengelolaan spesies). Banteng (Bos javanicus). Kekhawatiran munculnya kepunahan terhadap keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia membuat Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam yang bertanggungjawab dalam kelestarian keanekaragaman hayati menetapkan 14 (empat belas) spesies prioritas untuk ditingkatkan populasinya sebanyak 3% sampai dengan 2014 melalui keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: 132/IV-KKH/2011 tanggal 8 Juli 201. Spesies prioritas yang telah disepakati antara lain Harimau Sumatera (Panthera tigris). letak ini menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. kondisi habitat (luas dan mutu habitat).Kriteria khusus diterapkan dalam taksa tertentu sesuai dengan karakteristik khas taksa tersebut. para stakeholder dan pengelola keanekaragaman hayati mempertimbangkan kriteria generik dan kriteria khusus setiap taksa sebagaimana terdapat dalam Permenhut Nomor 57/Menhut- II/2008 mengenai Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008 – 2018. Sasaran 2 Terlaksananya Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Peningkatan Populasi Spesies Prioritas Utama yang Terancam Punah Sebesar 3 % Sesuai Kondisi Biologis Dan Ketersediaan Habitat Capaian indikator kinerja dalam sasaran 2: INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI % Persentase peningkatan populasi species 2% 46. Jalak bali (Leucopsar rothschildi). Bekantan (Nasalis larvatus). Maleo (Macrocephalon maleo). Dalam tiga dekade semakin banyak satwa Indonesia yang masuk dalam daftar terancam punah dari IUCN. Babirusa (Babyrousa babyrussa) . dan kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea). Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Anoa (Bubalus spp). Kriteria generik merupakan kriteria yang diterapkan secara umum pada semua kelompok taksa baik flora maupun fauna yang meliputi endemisitas (penyebaran).Untuk itu pemerintah memberikan status perlindungan kepada jenis satwa tertentu dan melakukan konservasi keanekaragaman hayati.00 terancam punah dari kondisi tahun 2008 sesuai ketersediaan habitat Indonesia terletak di daerah yang beriklim tropis dan dilewati oleh garis khatulistiwa. Elang jawa (Spizaetus bartelsi). Owa jawa (Hylobathes moloch). Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Komodo (Varanus komodoensis).62% 150. Pemilihan spesies prioritas tersebut bukan tanpa dasar. status populasi (ukuran dan kondisi populasi di alam). ketersediaan data dan informasi mengenai penyebaran dan LAKIP DITJEN PHKA 2013 45 .Selain kedua kriteria tersebut. Gajah Sumatera (Elephas sumatranus).

pelatihan dan peningkatan kapasitas dan pengembangan sistem pangkalan data.2013 Pada tahun 2013 penetapan 95(sembilan puluh lima) site monitoring pada 48(empat puluh delapan) UPT tersebut diatas dikuatkan dengan adanya Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK. populasi.Terdapat 95(sembilan puluh lima) site monitoring yang tersebar di 48 (empat puluh delapan) UPTdengan rincian distribusi site monitoring terhadap spesies prioritas sebagaimana pada Tabel berikut. Penetapan spesies prioritas utama tersebut ditindaklanjuti dengan penetapan Peta Jalan Peningkatan Populasi 14 Spesies Prioritas Utama Terancam Punah melalui SK Dirjen PHKA Nomor: SK. 109/ IV-KKH/2012 tanggal 19 Juni 2012 sebagai acuan bagi seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal PHKA dan mitra terkait dalam pencapaian peningkatan populasi terancam punah di wilayah kerjanya sehingga dapat diperoleh upaya yang maksimal dan data yang dapat dipertanggung- jawabkan secara ilmiah. diperoleh gambaran bahwa rata-rata persentase kenaikan populasi masing-masing jenis sangat bervariasi. penertiban perburuan serta perdagangan ilegal. Pelaporan terhadap upaya peningkatan populasi spesies prioritas selanjutnya menyesuaikan dengan peta jalan dimaksud. Kegiatan inventarisasi dan monitoring spesies merupakan fokus utama kegiatan pencapaian target peningkatan populasi spesies prioritas disamping kegiatan pembinaan populasi dan habitat. Distribusi Site Monitoring Terhadap Spesies Prioritas No Spesies Target Jumlah Site 1 Banteng 6 2 Badak jawa 1 3 Harimau sumatera 17 4 Gajah sumatera 10 5 Babirusa 5 6 Anoa (dataran rendah dan tinggi) 15 7 Owa jawa 3 8 Orangutan kalimantan 9 9 Bekantan 4 10 Komodo 4 11 Jalak bali 2 12 Maleo 7 13 Elang jawa 5 14 Kakatua jambul kuning 7 JUMLAH 95 Sumber : Dit. serta dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Jenis menjadi pertimbangan selanjutnya dalam pemilihan spesies prioritas.Perkembangan populasi 14 spesies target dari tahun 2011-2013 dapat dilihat pada tabel berikut: LAKIP DITJEN PHKA 2013 46 . Dari hasil penghitungan terhadap keempat belas spesies target. data selengkapnya ada pada lampiran 5. penanggulangan konflik manusia dengan satwa liar. KKH. Tabel 18.173/ IV-SET/ 2013 Tanggal 3 Mei 2013 Tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Ditjen PHKA Tahun 2013. intensitas pelaksanaan inventarisasi.

75 2.02 13. Penurunan populasi Gajah sumatera dan Orangutanterjadi pada beberapa site monitoring.62 11 Jalak Bali 17. Orangutan. Waktu pengamatan burung jalak bali yang tidak tepat.38 19.95 Rata-rata Peningkatan Spesies 13.88 8. Burung jalak bali yang akan diamati kemungkinantelahmemisahkandiridarikelompoknya karenaketerbatasanpakansehingga merekamenyebaruntukmencari lokasi/titik- titikbaruyangmenyediakanpakanlebihbanyak.51 22.97 2 Badak Jawa -27.08 1.76 12 Maleo 4.86 10 Komodo 34. 2.apabila dibandingkan dengan target tahun 2013 sebesar 2% maka capaian kinerja sasaran ini melebihi 150% (2331%).19 1. dan Jalak Bali. KKH2013 Sampai dengan tahun 2013 rata-rata kenaikan populasi 14 spesies prioritas adalah sebesar 46.50 2. Adanyakematianatau hilangbaikyangdisebabkanolehalammaupun faktormanusia(adanyaperburuanillegal).68 32.34 8 Orangutan 1.02 103. yaitu: LAKIP DITJEN PHKA 2013 47 .24 26. 3.14 2331.40 46. Pada tahun 2013 terdapat tiga spesies yang mengalami penurunan populasi yaitu Gajah sumatera.19 286.00 1.45 9 Bekantan 105.54 72.48 4 Gajah Sumatera 0.81 -26.03 2160.86 11. Tabel 19.15 39.10 78. yaitu: 1.29 59.62%.68 7 Owa Jawa 0.32 -8.25 20.01 6 Anoa 0.43 5 Babirusa 4. Penyebabnya antara lain karena kematian beberapa ekor satwa akibat konflik satwa dengan manusia terkait kegiatan pembukaan lahan untuk perkebunan.10 52. misalnya saat musim bertelur sehingga burungtidak terlihat karena tidakkeluardari sarangnya.Jenis yang memiliki rata– rata persentase peningkatan populasi terbesar pada tahun 2013 adalah bekantan dan yang terendah adalah orangutan.48 126.00 Sumber : Dit.44 14 Kakatua Kecil Jambul Kuning 10.00 39.08 6.14 13 Elang Jawa 5. Untuk melaksanakan upaya peningkatan populasi 14(empat belas) spesies prioritas dilaksanakan beberapa strategi/kegiatan.00 Capaian Kinerja 1368.75 28.08 84.15 19.90 -4.62 Target Tahun 1.63 20. Sedangkan untuk Jalak Bali penurunan populasi ini bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan. Rata-Rata Persentase Kenaikan Populasi Per Spesies Tahun 2011-2012 NO Nama Spesies Target Rata-rata % Rata-rata % Rata-rata % Kenaikan per Kenaikan per Kenaikan per spesies 2011 spesies 2012 spesies 2013 1 Banteng 23.83 3 Harimau Sumatera 10.58 1.

 Permenhut Nomor: P. pembinaan populasi.132/IV-KKH/2011 tanggal 8 Juli 2011. LAKIP DITJEN PHKA 2013 48 . Mempedomani SK Dirjen PHKA Nomor: SK. Penetapan site monitoring terkait peningkatan populasi spesies prioritas terlambat dipetakan. 2. Beberapa Peraturan yang diterbitkan pada tahun 2013 adalah:  Permenhut Nomor: P. Penyiapan perangkat regulasi dan kebijakan terkait upaya peningkatan populasi antara lain melalui peraturan tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Species prioritas. 5. antara lain: 1. Mendorong terutama UPT target agar mengalokasikan anggaran untuk kegiatan monitoring populasi pada site yang telah ditetapkan serta kegiatan pokok dalam rangka intervensi peningkatan populasi. yang mengamanatkan bahwa dalam rangka pencapaian peningkatatan populasi 14 spesies prioritas dilakukan kegiatan-kegiatan: monitoring dan inventarisasi spesies terancam punah. elang jawa. arus data). verifikasi/ validasi data. 2.  Permenhut Nomor: P. 1. 3. 4. 2. jalak bali.  Permenhut Nomor: P.54/ Menhut-II/2013 Tentang Strategis dan Rencana Aksi Konservasi Anoa Tahun 2013-2022. Pemenuhan sarana prasarana monitoring 14 (empat belas) spesies prioritas. owa jawa. kakatua jambul kuning. Peningkatan penyadartahuan masyarakat terkait Konservasi Keanekaragaman Hayati. komodo. 3.56/ Menhut-II/2013 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Bekantan Tahun 2013-2022. Struktur dokumen perencanaan spesies prioritas utama terancam punah belum memadai. 4. Cara pengukuran indikator kinerja terlambat ditetapkan. Pengelolaan dan pengembangan database.57/ Menhut-II/2013 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Tapir Tahun 2013-2022. pembinaan habitat. Pemenuhan dokumen perencanaan spesies prioritas melalui penetapan Strategis dan Rencana Aksi maleo. Pengorganisasian data/ mekanisme arus data disusun terlambat (SDM. Pemetaan site monitoring. database. Meningkatkan kerjasama UPT dengan para mitra dalam upaya peningkatan populasi spesies prioritas dan meningkatan sinergisitas kegiatan bidang KKH dengan pencapaian IKK-IKU. 5.55/ Menhut-II/2013 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Babirusa Tahun 2013-2022. 4. studi daya dukung kawasan. Upaya yang dilakukan untuk pencapaian Indikator Kinerja Sasaran peningkatan populasi spesies terancam punah sebesar 3% dari kondisi tahun 2008 sesuai ketersediaan habitat. Kendala/ permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian kinerja sasaran antara lain: 1. Sarana prasarana monitoring/ inventarisasi spesies belum memadai. 3.

meningkatkan kehidupan masyarakat yang secara konsisten turut melindungi hutan di Kalimantan . untuk melindungi keanekaragaman hayati yang signifikan secara global. karbon hutan yang aman.2014 ditargetkan ada dua kegiatan DNS yang akan dilaksanakan yaitu DNS The Tropical Forest Conservation Act(TFCA) II dan DNS VI antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jerman. dan juga The Nature Conservancy (TNC) serta Yayasan World Wide Fund for Nature Indonesia (WWF Indonesia) sebagai swap partner. gajah sumatera. kerja antara Pemerintah Amerika Serikat (AS).DokumentasipelaksanaankegiatanmonitoringOwaJawa di TNGHS Pencapaian sasaran peningkatan jumlah populasi species prioritas pada tahun 2013. LAKIP DITJEN PHKA 2013 49 . tidak bisa dilepaskan dari berbagai upaya lain yang mendukung sebagaimana tercermin dari Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) sebagai berikut: 1) Aktifitas Penyelenggaraan Skema DNS Skema DNS (Debt for-Nature Swap) adalah skema pendanaan alternatif melalui pelaksanaan program konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya yang disepakati sebagai penghapusan utang Indonesia kepada negara lain. Pemerintah Republik Indonesia (RI). Selama tahun 2010. program yang telah dijalankan dengan menggunakan skema DNS tersebut adalah DNS TFCA II. badak sumatera dan badak jawa dipastikan tidak akan terealisasi karena tidak ada kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman dalam mekanisme pendanaannya. Sampai dengan tahun 2013.Perjanjian TFCA II ditandatangani pada tanggal 29 September 2011. Sedangkan DNS VI antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jerman dengan fokus kegiatan untuk mendukung upaya pengelolaan empat species yaitu harimau. Foto6 dan 7.

penangkapan. Selama tahun 2013 ada kenaikan jumlah penangkar sebanyak 52 unit sehingga jumlahnya menjadi 776 unit pada Desember 2013. baik berupa lembaga pemerintah maupun lembaga non-pemerintah.  peningkatan unit Lembaga Konservasi (LK) Penangkaranyaitu kegiatan perbanyakan melalui pengembangbiakan atau pembesaran TSL dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya serta pengambilan dari alam. Provinsi Kepulauan Riau. museum zoologi. 3). Bintan. pemeliharaan. Lembaga Konservasi mempunyai fungsi: 1).18%. Kenaikan jumlah pengedar TSL pada tahun 2013 sebesar 6. Jumlah Lembaga Konservasi (LK) per 31 Desember 2012 sebanyak 58 unit. pengembangbiakan terkontrol dan/atau penyelamatan tumbuhan dan satwa dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. dan herbarium. yaitu Taman Safari PT. Dengan demikian dibandingkan tahun sebelumnya jumlah LK yang LAKIP DITJEN PHKA 2013 50 . jumlah ijin pengedar TSL tahun 2012 tercatat 205 unit. taman satwa. taman safari.34%. taman tumbuhan khusus. antara lain : pusat penyelamatan satwa. 2). penitipan sementara. kebun botani. peningkatan penyadartahuan masyarakat tentang penangkaran dan peredaran TSL. Sulawesi Selatan.Jumlah unit penangkar per 31 Desember 2012 adalah sebanyak724 unit. dan pada tahun 2013 terdapat penambahan jumlah ijin edar sebanyak 13 unit. Taman Satwa PT. pusat latihan satwa khusus. pusat rehabilitasi satwa.  peningkatan jumlah ijin edar pemanfaatan TSL. Bentuk Lembaga Konservasi. apabila dibandingkan dengan tahun 2012 Lembaga Konservasi (LK) adalah lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan/atau satwa liar di luar habitatnya (ex-situ). Berdasarkan data yang ada. Ijin LK yang terbit di Tahun 2013 sejumlah tiga unit. tempat pendidikan. pengangkutan specimen tumbuhan atau satwa liar. Safari Lagoi Bintan Kawasan Pariwisata International Lagoi. Kawasan Wisata dan Budaya Benteng Somba Opu. Mirah Megah Wisata. Taman Satwa Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta. 2) Peningkatan Kegiatan Penangkaran dan Pemanfaatan Jenis Keanekaragaman Hayati Secara Lestari Di saat tekanan terhadap keberadaan keanekaragaman hayati semakin meningkat yang pada akhirnya mengancam keberadaan keanekaragaman hayati. Indikator kinerja dari diukur melalui tiga hal yaitu:  peningkatan jumlah unit penangkar. sehingga totalnya sebanyak 218 unit. pengumpulan. sarana rekreasi yang sehat serta penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Apabila dibandingkan dengan tahun 2012 makamengalami peningkatan sebesar 7. penyempurnaan peraturan perundangan terkait penangkaran TSL. maka prinsip konservasi yang bukan hanya pengawetan dan pelindungan tapi juga pemanfaatan secara lestari diharapkan dapat meminimalisir tekanan tersebut. Tata usaha pengambilan atau penangkapan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar bertujuan untuk menciptakan tertib peredaran untuk kelestarian populasi tumbuhan tumbuhan dan satwa liar melalui pengendalian kegiatan pengambilan. taman satwa khusus. kebun binatang. sumber indukan dan cadangan genetik untuk mendukung populasi in-situ. Dalam rangka pengembangan penangkaran dilakukan upaya-upaya antara lain pendelegasian wewenang perizinan penangkaran TSL generasi F2 dan seterusnya kepada UPT KSDA. peragaan.

ada terdapat peningkatan sebesar 5. Di tingkat internasional. Perkembangan jumlah penangkar. Indonesia telah LAKIP DITJEN PHKA 2013 51 . 2) Pembinaan kepada penangkar. Berdasarkan realisasi kinerja tiga indikator di atas. Grafik Peningkatan Penangkaran dan Pemanfaatan Jenis TSL Kendala/ permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian IKK antara lain: 1) Penetapan kuota tangkap dan lokasinya belum berdasarkan survey/ monitoring dan prinsip kehati-hatian 2) Perburuan/ perdagangan illegal/ penyelundupan 3) Implementasi restocking 10% hasil penangkaran belum dilaksanakan Upaya yang dilakukan untuk menghadapi kendala/ permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian IKK antara lain: 1) Sosialisasi peraturan terkait penangkaran. proses perizinan ketiga LK yang ditargetkan tersebut masih belum selesai. pengedar dan Lembaga Konservasi 3) Kerjasama Internasional dan Konvensi Bidang KKH Indonesia sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan laju degradasi yang tinggi pula. Sampai akhir tahun 2013. Lokasi LK yang telah terealisasi di tahun 2013 tidak sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK. mempunyai kepentingan yang besar untuk menjalin kerjasama di bidang konservasi keanekaragaman hayati baik di tingkat internasional maupun regional. maka rata-rata capaian kinerja peningkatan kegiatan penangkaran dan pemanfaatan jenis keanekaragaman hayati secara lestari adalah sebesar 6. ijin edar dan LK sampai 2013 dapat digambarkan sebagai berikut 776 800 701 709 724 700 600 500 Penangkar 400 Izin Edar 300 202 205 218 LK 195 200 47 52 55 58 100 0 2010 2011 2012 2013 Gambar9.173/ IV-SET/ 2013 Tanggal 3 Mei 2013 Tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Ditjen PHKA Tahun 2013.33%.45%. Karena pada SK Dirjen PHKA tersebut target penambahan LK pada tahun 2013 ada di Provinsi Jawa Timur (1 unit) dan Provinsi Jawa Tengah (2 unit). tertib peredaran dan Lembaga Konservasi.

Direktorat Jenderal PHKA selaku penanggungjawab perlindungan hutan telah melakukan upaya penegakan hukum terhadap para pelaku perusakan hutan dan peredaran illegal hasil hutan (tumbuhan dan satwa liar). Penyusunan Kertas Posisi DELRI (CITES CoP 16. dan Bimtek AHP di Batam dan Makasar. Kegiatan yang telah dilaksanakan selama tahun 2013 diantaranya adalah Bimtek (BIMTEK CITES di Sumatera Barat dan Lampung. meratifikasi Convention on Biological Diversity (CBD). East Asian Australasian Flyway Partnership (EAAFP) dan beberapa kerjasama lain. 5 species Koral. Python reticulatus). Dokumen SRG EU (Python Reticulatus.18% 115. kasus baru yang ditangani sejumlah 146 kasus dan yang berhasil diselesaikan sampai tahap P 21 adalah sebanyak 101 kasus atau sebesar 69. Di tingkat regional Indonesia tentu saja menjadi anggota ASEAN dimana Ditjen PHKA menjadi focal point untuk ASEAN Working Group on Nature Conservation and Biodiversity (AWGNCB).30 pidana kehutanan (illegal logging. Ramsar dan World Heritage Convention.18%. Berdasarkan hasil yang dicapai dibandingkan dengan LAKIP DITJEN PHKA 2013 52 . Selain itu. penambangan illegal dan kebakaran) Luas kawasan hutan di Indonesia mencapai lebih dari 133 juta ha. Namun demikian luas kawasan hutan tersebut tidak lepas dari ancaman deforestasi dan degradasi. The Indian ocean and South East Asia (IOSEA). Disamping itu Indonesia juga menjadi signatory party pada Kesepakatan Heart of Borneo (HoB). Saat ini modus deforestasi dan degradasi hutan selain illegal logging juga sudah bergeser kepada pola eksploitasi sumberdaya alam seperti kegiatan perkebunan dan pertambangan di dalam kawasan hutan tanpa izin. Berdasarkan rekapitulasi data penanganan kasus (register perkara) selama tahun 2013. perambahan. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES). 3 Dokumen RST (Macaca fasciluris. Indikator kinerja untuk sasaran ini pada tahun 2013 adalah persentase penyelesaian kasus tipihut sebesar 60%. perdagangan TSL illegal. Bimtek IOSEA Marine Turtle di TN Wakatobi.1 juta ha merupakan kawasan konservasi. Naja sputatrix. dimana 20%atau sekitar 27. eksploitasi hasil hutan non kayu seperti perburuan dan peredaran illegal Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) juga semakin marak. 3 fasilitas penangkaran). Sasaran 3 Tercapainya Penurunan Bidang Tindak Pidana Kehutanan Sebesar 50% Dari Tahun 2009 Capaian Indikator sasaran 3: INDIKATOR TARGET REALISASI % Persentase penyelesaian kasus baru tindak 60% 69.

pada tahun 2013 hanya 101 kasus. Kebakaran 0 0 1 1 0 0 0 0 Jumlah 182 131 162 145 211 125 146 101 % Capaian 71.Register Perkara Tahun 2013 No Kategori Kasus Jmlh Proses Penyelesaian Kasus Dalam Kasus Proses Non. Kategori Kasus 2010 2011 2012 2013 Jumlah P21 Jumlah P21 Jumlah P21 Jumlah P21 kasus kasus kasus kasus 1. maraknya perdagangan dan perburuan TSL ini tentu akan berdampak buruk terhadap kelestarian berbagai jenis TSL ini di habitatnya. jumlah kasus terkait TSL jauh lebih tinggi dibandingkan kasus perambahan. Lidik Proses Yustisi (Belum yustisi P (Pembi. Jika dibandingkan dengan tahun 2012. Kebakaran 0 0 0 0 0 0 0 0 0 TOTAL 146 0 1 145 2 101 0 6 43 Sumber : Dit.98 89. jumlah kasus yang ditangani dan progres penyelesaian kasus setiap tahun sangat bervariasi.sedangkan 2012 mencapai 125 kasus.51 59. jumlah kasus pada tahun 2013 jauh menurun untuk semua kategori. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas peredaran TSL ilegal masih cukup banyak di lapangan. Illegal Logging 98 65 59 51 75 57 70 56 2. hanya 43 kasus yang prosesnya belum selesai sampai P21. Progres Penyelesaian Kasus Tipihut dari Tahun 2010-2013 No. Kondisi register perkara tahun 2013 selengkapnya disajikan dalam tabel berikut. bahkan pada tahun 2011 mencapai 145 kasus yang dapat selesai sampai P21. selalu dapat diselesaikan proses hukumnya sampai P21. Tabel20. Khusus di tahun 2013 dari 146 kasus yang ditangani. Trend lain yang dapat dilihat adalah bahwa pada tahun 2013.18 LAKIP DITJEN PHKA 2013 53 . Perambahan 24 0 0 24 1 12 0 0 11 3. Berdasarkan kategorinya jumlah kasus illegal logging masih mendominasi setiap tahunnya. Hanya sebagian kecil saja yang tersisa dan menjadi tunggakan yang akan menjadi target penyelesaian di tahun berikutnya. TSL 37 32 43 38 50 38 45 31 4. Penambangan 7 0 1 6 1 2 0 0 4 Ilegal 5. TSL 45 0 0 45 0 31 0 2 14 4.24 69. PPH 2013 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar kasus tipihut yang dihadapi. Berikut ini disajikan data progres penyelesaian kasus tipihut selama empat tahun terakhir. targetmaka capaian kinerja untuk sasaran ini adalah sebesar 115. Namun jika dilihat dari kasus yang diselesaikan. Illegal Logging 70 0 0 70 0 56 0 4 14 2. Penambangan 8 5 1 1 11 2 7 2 Ilegal 5. Perambahan 39 29 58 54 75 28 24 12 3. Jika dilihat perkembangannya dari tahun 2010 sampai 2013. Tabel 21.30%. Sidik SP 3 P 21 Sdg Vonis 21/SP3 naan) ) 1. Jika tidak ditangani dengan serius.

Kawasan Hutan Register 45 Kab. . II. seperti konflik sosial dan masyarakat. pada tahun 2013 telah dilaksanakan kegiatan antara lain : 1) Fasilitasi dan pembinaan penanganan tipihut kasus baru 2) Operasi Operasi represif kasus-kasus baru di Wilayah I. yang antara lain terdapat di :  Kasus Perambahan. Lampung. memiliki isu nasional. Kementerian Kehutanan juga perlu berkoordinasi dan bekerja sama dengan banyak instansi serta seringkali berhubungan dengan Isu-isu sosial lainnya. Selama tahun 2013 telah dilaksanakan operasi yustisi terhadap 29(dua puluh sembilan) kasus. operasi represif dilaksanakan untuk memberantas pembalakan liar dalam kawasan TN Berbak. III. Untuk mendukung pencapaian target kinerja yang telah ditentukan dalam sasaran ini. pada tahun 2013 telah dilaksanakan operasi represif di enam lokasi. Prov.Taman Nasional Tesso Nilo. operasi represif dilaksanakan untuk menangani perambahan oleh masyarakat pada kawasan hutan tersebut untuk pemukiman dan perkebunan. 3) Operasi Yustisi tipihut kasus-kasus baru. terutama pemanfaatan kayu illegal untuk pembuatan Kapal. operasi dilaksanakan untuk menangani kasus pendudukan kawasan dengan kepemilikan sertifikat oleh masyarakat dan pencurian hasil hutan (getah pinus). . Sumber : Dit. dan waktu yang segera. sebab tipihut dapat terjadi sewaktu-waktu. BBKSDA Jabar  Kasus Perambahan Tambak Udang. Hal ini dilakukan untuk suatu kasus yang khusus. Selanjutnya Pihak TNGGP memenangkan perkara ini. Dalam penanganannya. Jawa Timur LAKIP DITJEN PHKA 2013 54 . Mesuji. Pada pelaksanaan operasi ini berhasil dihancurkan gubuk perambah dan menangkap getah curian serta melanjutkan proses hukum para tersangka. operasi represif dilaksanakan untuk penanganan perambahan untuk pemukiman dan perkebunan kelapa sawit. dan sertifikat yang ada dalam kawasan TNGGP untuk dicabut oleh BPN. . BTN Tesso Nillo  Kasus Illegal Logging. BBKSDA Riau  Kasus TN Tesso Nillo. merupakan kegiatan penyidikan (penegakan hukum) yang dilaksanakan langsung oleh Direktorat Penyidikan dan Pengamanan Hutan. Hasil operasi tersebut antara lain ditemukannya 11 Kapal Kayu dan tersangka yang saat ini masih dalam proses hukum. Sumatera Utara  Kasus Perambahan TN Gunung Leuser  Kasus CA Bungkuk.Taman Nasional Komodo.Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). yaitu : . operasi dilaksanakan untuk menanggulangi perburuan illegal satwa. BTN Berbak  Kasus Illegal Logging. . operasi represif dilaksanakan untuk penanganan perambahan kawasan TNBNW untuk kebun dan penambangan illegal. BBKSDA Jabar  Kasus Illegal TSL.Taman Nasional Berbak. Dari operasi ini telah diserahkan kebun masyarakat seluas 3000 Ha dan pembuatan parit gajah sepanjang + 20 Km .Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). PPH 2013 Sebagian besar penanganan tindak pidana kehutanan kurang dapat dipastikan tata waktu pelaksanaannya.

pelaksanaan operasi perairan merupakan kegiatan pencegahan dan penyergapan diwilayah perairan terhadap kejahatan kehutanan. Kalimatan Tengah. TN Kutai 200 m3 kayu. bangka belitung. Sulawesi Utara  Kasus TSL Nurita. Kalimantan Tengah 4) Pengumpulan Bahan dan keterangan. Kalimantan Barat  Kasus Perkebunan Illegal. Riau. 5) Penanganan Barang Bukti Kegiatan ini dilaksanakan di TN Sebangau untuk pemusnahan 244. Kab. yakni :  Operasi Perairan Kepulauan Seribu  Operasi Perairan Sekitar Jakarta  Operasi Perairan Selat Sunda. Lampung  Operasi Perairan Pantai Utara Jawa. Jawa Tengah. Operasi Gabungan Penanggulangan penambangan Emas Tanpa Ijin di TN Bukit baka Bukit Raya LAKIP DITJEN PHKA 2013 55 .pemusnahan satwa hasil peredaran ilegal oleh BKSDA DKI Jakarta. BKSDA NTB (3 kasus)  Kasus Pertambang Illegal. Berau 420 batang. Dishut Prov. Bali dan NTT  Operasi Perairan Kepulauan Komodo Foto8 dan 9.  Kasus Illegal Logging. Kalimantan Selatan  Kasus Pertambang Illegal. Kalimantan Barat  Kasus TSL Orang Utan. Kalimantan Timur. NTB. Sulawesi Tenggara  Kasus Illegal Logging.924 batang kayu. 6) Operasi Perairan. dan Maluku. bali. Sumatera Utara. Kalimantan Selatan  Kasus Perkebunan Illegal. Kalimantan Barat  Kasus Perkebunan Illegal. Sulawesi Tenggara  Kasus Illegal Logging TN Bogani Nani. Dishut Prov. BBKSDA Sulawesi Selatan  Kasus Illegal Logging. penanganan barang bukti kasus perambahan kawasan TN Gunung Leuser. Prov. Kep. NTB 833 batang. Kalimatan barat. Lampung. Selama tahun 2013 telah dilaksanakan limakali operasi perairan. Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2013 telah dilaksanakan Pulbaket untuk mendukung penyelesaian kasus tipihut di Prov. Jawa Timur. Papua  Kasus Pertambang Illegal. Jawa barat. BKSDA Sulawesi Utara  Kasus Illegal Logging dan Perambahan. Sultra  Kasus TSL Burung Nuri. Riau. Gorontalo  Kasus Illegal Logging. Kalimantan Tengah  Kasus Pertambangan Illegal.

tunggakan kasus yang dapat diselesaikan sampai dengan P21 sebanyak75kasus atau sebesar 25.Target penyelesaiannya adalah 25% per tahun sampai P. beberapa upaya telah dilaksanakan antara lain dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan lainnya sebagai berikut: 1) Penyelesaian Tunggakan Perkara (Illegal Logging. penambangan illegal 18 kasus dan kebakaran 1 kasus. Penambangan 5 0 5 3 0 3 1 1 0 9 2 7 18 3 15 Ilegal 5. Pada tabel dan grafik tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar tunggakan kasus yang berhasil diselesaikan adalah illegal logging dan TSL. Untuk memenuhi amanat Renstra KL. Dengan demikian sisa tunggakan kasus 2009-2012 yang harus diselesaikan di tahun 2014 sebanyak 221 kasus. Jika dibandingkan dengan target tahunan maka kinerja penyelesaian tunggakan kasus tipihut ini mencapai 101%. Untuk mendukung pencapaian indikator sasaran tersebut. Kebakaran 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 Total 121 31 90 71 24 47 25 11 14 79 9 70 296 75 221 Sumber : Dit. Penambangan Illegal dan Kebakaran) sebanyak 25%. selanjutnya kasus perambahan sebanyak 84 kasus. Tunggakan kasus tipihut tahun 2009-2012 yang belum dapat diselesaikan sebanyak 296 kasus.34%. Kasus-kasus yang tidak selesai pada tahun berjalan akan menjadi tunggakan dan diselesaikan dan dipantau di tahun-tahun berikutnya.21. Perkembangan Penyelesaian Tunggakan Kasus Tahun 2009-2012 pada Tahun 2013 No Kategori Tunggakan Kasus Tunggakan Kasus Tunggakan Tunggakan Kasus Total Tunggakan Kasus Tahun 2009 Tahun 2010 Kasus Tahun 2011 Tahun 2012 Kasus Jml P21 Sisa Jml P21 Sisa Jml P21 Sisa Jml P21 Sisa Jml P21 Sisa 1. Perdagangan TSL Illegal. Illegal Logging 66 14 52 41 11 30 10 3 7 16 4 12 133 32 101 2. Perambahan. Perambahan 19 4 15 12 2 10 8 4 4 45 2 43 84 12 72 3. seluruh tunggakan perkara yang ada sejak tahun 2009 secara bertahap harus diselesaikan. Jumlah ini melebihi target penyelesaian tunggakan perkara tiap tahun yang hanya sebesar 25%. PPH 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 56 . Sisa kasus yang berkaitan dengan perambahan juga masih cukup banyak yaitu 72 kasus. Meskipun demikian sisa tunggakan kasus illegal logging masih cukup banyak yaitu mencapai 101 kasus. Tabel 22. dan sebagian besar adalah kasus-kasus tahun 2009. TSL sebanyak 60 kasus. TSL 30 12 18 15 11 4 6 3 3 9 1 8 60 27 33 4. sedangkan untuk kasus terkait kebakaran sudah tidak ada tunggakan lagi karena telah diselesaikan seluruhnya.Pada akhir tahun 2013. Tunggakan kasus terbanyak berasal dari kategori illegal logging yang mencapai 133 kasus.Perkembangan penyelesaian tunggakan kasus tahun 2009-2012 pada tahun 2013 dan sisa tunggakan kasus tahun 2014 selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 21dan Grafik 10.

b) Supervisi Pelaksanaan Proses Yustisi TIPIHUT Kegiatan Supervisi Pelaksanaan Proses Yustisi ini bertujuan agar setiap proses kasus Tipihut dapat dipantau dan diikuti perkembangannya berdasarkan peraturan yang berlaku. Kasus-kasus yang tidak selesai pada tahun berjalan akan menjadi tunggakan dan diselesaikan dan dipantau di tahun-tahun berikutnya. 140 120 100 80 60 40 20 0 Jml P21 Sisa Jml P21 Sisa Jml P21 Sisa Jml P21 Sisa Jml P21 Sisa Tunggakan Kasus Tunggakan Kasus Tunggakan Tunggakan Kasus Total Tunggakan Tahun 2009 Tahun 2010 Kasus Tahun 2011 Tahun 2012 Kasus Illegal Logging Perambahan TSL Penambangan Ilegal Kebakaran Gambar 10.21. kegiatan Advokasi Penanganan Perkara bertujuan untuk memberikan bantuan hukum atas kasus Tipihut didaerah (UPT) yang sedang berjalan dan dapat menjadi salah satu cara untuk mencapai suatu penyelesaian. Penyelesaian tunggakan kasus tipihut tersebut dilakukan dengan upaya- upaya diantaranya melalui kegiatan : a) Proses penyidikan.21 serta menjamin tegaknya peraturan perundangan di bidang konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya serta memberikan efek jera kepada para pelakukan tindak pidana bidang kehutanan. Proses penyelesaian kasus tipihut memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi sesuai dengan jenis dan bobot kasusnya. c) Advokasi Penanganan TIPIHUT Dalam hal penanganan perkara tindak pidana kehutanan. Perkembangan Penyelesaian Tunggakan Kasus Tahun 2009-2012 pada Tahun 2013 dan Sisa Tunggakan Tahun 2014 Penanganan kasus tipihut akan terus berjalan sampai selesai mencapai tahap P21 atau SP3 (sesuai kewenangan PPNS) dan terus dipantau sampai mendapat putusan pengadilan tetap. Proses Penyidikan/Yustisi bertujuan untuk menyelesaikan kasus-kasus tipihut dan menuntaskan penyelesaian kasus sampai P. selain melibatkan PPNS yang ada di pusat (Direktorat PPH) kegiatan ini juga melibatkat PPNS yang didaerah dimana kasus tersebut terjadi. sehingga seringkali suatu kasus membutuhkan waktu yang lama dalam penyelesaiannya. LAKIP DITJEN PHKA 2013 57 . Kegiatan Proses Penyidikan/Yustisi yang dilakukan. Tujuan kegiatan ini adalah menuntaskan penyelesaian kasus sampai P.

03%). sehingga realisasinya sebesar 45. Penyerahan Piagam Penghargaandari Kemenko Polhukam sebagai Kementerian Terbaik Ketiga dalam Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri LAKIP DITJEN PHKA 2013 58 . Jika dibandingkan dengan target tahun 2013 yaitu sebesar4% maka capaian kinerjanya melebihi 150% (1. PPH 2013 Dari tabel tersebut diatas dapat dilihat bahwa jumlah kasus perambahan pada tahun 2012 paling besar yaitu mencapai 86 kasus dan dengan realisasi penyelesaian paling rendah hanya 30 kasus. sampai dengan akhir tahun 2013 yang dapat terselesaikan sebanyak 14 kasus. Tabel 23. Penyelesaian kasus hukum ini bertujuan membebaskan kawasan konservasi dari aktivitas perambahan. Renstra mengamanatkan 20% kasus hukum perambahan terselesaikan dalam jangka lima tahun. 2010-2014.16%. Pelaksanaan Instruksi presiden oleh Kementerian Kehutanan mendapat apresiasi dan piagam penghargaan dari KemenkoPolhukam sebagai Kementerian Terbaik Ketiga dalam Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri. Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya jumlah kasus perambahan pada tahun 2013 relatif kecil.13% 71.21% 34.05% 86. Perkembangan Penanganan Kasus Perambahan Tahun 2009-2012 Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 Kasus Perambahan 61 38 58 86 31 P21 44 27 50 30 14 % Penyelesaian 72.16% Sumber : Dit. Dari 31 kasus tersebut. Berdasarkan register perkara tahun 2013 terdapat 31kasus perambahan kawasan konservasi. Pelaksanaan penyelesaian kasus perambahan termasuk dalam Inpres 02 Tahun 2013 tentang penanganan gangguan keamanan dalam negeri dimana yang menjadi anggota tim terpadu penanganan gangguan keamanan dalam negeri adalah Ditjen PHKA. Untuk mengetahui perkembangan penanganan kasus perambahan dari tahun 2009- 2013 tersaji pada tabel berikut ini.129.88% 45. 2) Penyelesaian Kasus Hukum Perambahan Kawasan Konservasi Sebanyak 4% Perambahan merupakan salah satu permasalahan serius yang mengancam keberadaan sebagian besar kawasan konservasi di Indonesia. Foto10.

e) Perambahan kawasan Hutan Lindung Gunung Bawang di Kab. Saat ini berkas perkara telah selesai dan diserahkan ke Kejagung (Tahap I). saat ini telah P 21. Berkas perkara telah diserahkan ke Kejaksan dan telah P 19. WIL. Tersangka ditahan di Rumah Tahanan Mabes Polri selama 50 hari. b) Perambahan Kawasan hutan lindung Lokpaikat Kec. SPORC. PHJ. Saat ini sedang dilakukan pemberkasan dan ketiga tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan Mabes Polri sejak tanggal 23 November 2013. c) Membuka lahan untuk kebun sawit seluas 4. kasus perambahan kawasan hutan yang ditangani oleh PPNS Kehutanan antara lain : a) Perambahan kawasan hutan produksi Desa Lapao Pao Kec. LAKIP DITJEN PHKA 2013 59 . tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan Mabes Polri selama 120 hari dan masa penahanan sudah habis. Bengkayang untuk kegiatan penambangan oleh PT. Sungai Raya. 3) Peningkatan Kapasitas Penanganan Kasus Kejahatan Kebakaran Hutan Di 10 Provinsi. Kab.280 Ha di dalam kawasan hutan produksi tanpa IPPKH dari Menhut di Kab. i) Perambahan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo dengan tersangka 3 orang. Tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan Mabes Polri selama 63 hari. Sultra untuk penambangan oleh PT.Saat ini kasus tersebut telah mendapatkan Putusan tetap PN Bengkayang. d) Membuka lahan untuk kebun sawit seluas 850 Ha di dalam kawasan hutan produksi tanpa IPPKH dari Menhut di Kab. Kalimantan Selatan. tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan Mabes Polri selama 120 hari dan masa penahanan sudah habis. j) Perambahan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dengan tersangka 4 orang. Hulu Sungai Selatan. Saat ini masih dalam proses pemenuhan P 19 dari Kejaksaan Agung. Kotawaringin Timur. Sambas seluas 800 ha oleh PT KMP dengan tersangka a. Prov. dan saat ini dalam proses penyidikan. dan PPNS. Tersangka ditahan di Rumah Tahanan Mabes Polri selama 40 hari. Saat ini berkas perkara telah selesai dan diserahkan ke Kejagung (tahap I). Saat ini masih dalam proses pemenuhan P 19 dari Kejaksaan Agung. Pada tahun 2013. Kotawaringin Timur. f) Perambahan kawasan hutan tanpa Ijin Pelepasan Kawasan Hutan (IPKH) untuk perkebunan di TWA Gunung Melintang Kab. saat ini sedang dilaksanakan pemenuhan P 19 oleh PPNS g) Membawa dan memiliki kayu yang patut diduga berasal dari kawasan hutan di Provinsi NTB. Saat ini telah dilakukan pemberkasan Tahap I dan sedang dalam Pemenuhan P 19 dari Kejaksaan Agung. Peningkatan kapasitas penanganan kasus kejahatan kebakaran hutan dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan bagi Polhut. Wolo Kabupaten Kolaka Prov. h) Membawa dan memiliki kayu yang patut diduga berasal dari kawasan hutan di Provinsi NTB.n MS.

2) Untuk tunggakan kasus terdapat beberapa kasus yang sulit diselesaikan antara lain disebabkan karena pelaku/tersangka belum dapat dihadirkan (masih dalam DPO). terutama PPNS. 3) Tenaga pengamanan hutan. sangat terbatas bila dibandingkan dengan permasalahan dan kasus-kasus yang terjadi. melalui kerjasama pelatihan dengan Kopasus yang diikuti oleh Pembina Harian SPORC dan Komandan Brigade SPORC. sehingga apabila realisasi tahun 2013 adalah 26(dua puluh enam) provinsi maka capaian kinerjanya sebesar 260%. c) Peningkatan Kemampuan SORC. Selain kegiatan pendidikan dan pelatihan. satu orang PPNS dapat menangani beberapa kasus dalam waktu bersamaan sehingga seringkali penyelesaian kasusnya membutuhkan waktu yang lama. LAKIP DITJEN PHKA 2013 60 . Pada tahun 2013 kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung capaian indikator kinerja kegiatan ini adalah: a) Diklat pembentukan PPNS Pada tahun 2013 dilaksanakan diklat pembentukan PPNS sebanyak 130 orang yang terbagi dalam tiga angkatan.Pelatihan Rutin Menembak Balai TamanNasional Wakatobi bekerjasama dengan Kepolisian ResortWakatobiTahun 2013 Kendala dan permasalahan yang dihadapai dalam pencapaian kinerja sasaran antara lain: 1) Kegiatan penanganan tindak pidana kehutanan sebagian kurang dapat diprediksi tata waktu pelaksanaannya karena tindak pidana kehutanan dapat terjadi sewaktu-waktu. Target tahunan dalam indikator kegiatan ini adalah 10(sepuluh) provinsi . Pada tahun 2013 telah dilaksanakan pengadaan : 1) Mobil Patroli sebanyak 10 unit 2) Motor Patroli sebanyak 450 unit 3) Peralatan Polhut Foto 11. b) Penyegaran Polhut dan PPNS yang diikuti oleh 60 (enam puluh) orang Polhut dari 26(dua puluh enam) Provinsi. untuk mendukung kinerja tenaga pengamanan hutan Direktorat PPH juga melakukan pengadaan sarana prasarana pendukungnya. membutuhkan koordinasi yang melibatkan banyak instansi dan adanya isu-isu sosial lainnya.Pelatihan dilaksanakan di Pusdikreskrim Polri Megamendung Jawa Barat.

Bea Cukai. perlu dilakukan sosialisasi. 8) Rendahnya penanganan kasus kebakaran lahan dan hutan disebabkan kebanyakan kasus tersebut terjadi diluar kawasan hutan. serta kelestarian lingkungan dan sesuai koridor hukum yang berlaku. Bareksrim.59 tahun 1998). sehingga dalam penanganan masalah tidak konprehensif. LAKIP DITJEN PHKA 2013 61 . 4) Penyelesaian kasus TSL yang menjadi perhatian dunia internasional (harimau. 5) Meningkatkan kemampuan Polhut dan PPNS melalui berbagai pelatihan 6) Mengoptimalkan jejaring kerjasama di level regional maupun internasional 7) Meningkatkan dan mengoptimalkan penggunaan sarana prasarana pengamanan hutan 8) Pecepatan penyelesaian penanganan kasus khususnya tunggakan kasus 9) Membangun Sistem Informasi Manajemen Penanganan Kasus (SIMPAK) untuk memonitor perkembangan kasus yang sedang ditangani oleh penyidik langsung. dan masyarakat yang dibayar untuk bermukim). arwana). Balai Karantina Pertanian. monitoring. 4) Alokasi anggaran untuk kegiatan PPH pada beberapa UPT masih sangat kecil sehingga penangangan tipihut tidak tuntas 5) Kurangnya koordinasi antar aparat penegak hukum terhadap penegakan hukum tindak pidana kehutanan (tipihut) menghambat penyelesaian penanganan tipihut. BIN). sehingga dalam penanganan masalah dilaksanakan dengan memperhatikan hak-hak ekonomi. kejahatan hidupan liar dan kebakaran hutan) secara menyeluruh sebagai dasar untuk merumuskan Rencana Aksi Nasional dalam penanganan Tipihut. 9) SDM belum memadai baik kuantitas maupun kualitas. serta peningkatan kerjasama dengan mitra penegak hukum (Otoritas Pelabuhan Udara dan Laut. 2) UPT Direktorat Jenderal PHKA dan Dinas Kehutanan diwajibkan membuat pemutakhiran data dan informasi yang akurat untuk menetapkan target dan sasaran dalam penanganan penggunaan kawasan non prosedural berikut tahapan kegiatannya 3) Penggunaan kawasan hutan yang tidak prosedural oleh masyarakat perlu identifikasi tipologi masyarakatnya (masyarakat adat. gading gajah. sosial dan budaya. 6) Meningkatnya penggunaan kawasan non prosedural yang mengarah pada penyelesaian perdata 7) Tingginya kasus tenurial pada kawasan hutan oleh masyarakat tidak dibarengi dengan dukungan bahan dan keterangan yang lengkap dari stakeholder. pembalakan liar. masyarakat pendatang. dengan terlebih dahulu mengidentifikasi tipologi jenis dan pelaku tindak pidana kehutanan yang terjadi di setiap wilayah. trenggiling. alokasi SDM belum sebanding dengan luasnya areal kerja 10) Peranserta masyarakat dalam pengamanan hutan masih rendah Strategi yang diterapkan dalam upaya mengatasi permasalahan yang ada antara lain: 1) Evaluasi terhadap kebijakan bidang penegakan hukum Tipihut (penggunaan kawasan non prosedural. revisi aturan tentang perizinan (PP.

Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan yang paling besar dan sangat merugikan. untuk segera dilakukan upaya tindak lanjut di lapangan. Akibatnya kebakaran yang terjadi akan semakin meluas dan menimbulkan kerusakan yang hebat. Pemantauan hotspot(titik api) bertujuan untuk memperoleh informasi dan indikasi awal kemungkinan terjadinya kebakaran di suatu lokasi agar dapat segera dilakukan tindakan dan antisipasi di lapangan. Seriusnya masalah kebakaran hutan di Indonesia menjadi perhatian pemerintah. Perbaikan kerusakan hutan akibat kebakaran memerlukan waktu yang lama.03 Kalimantan.Oleh karena itu dilakukan berbagai upaya dan tindakan melalui kegiatan pemantauan.2 % 68. Hutan merupakan ekosistem alamiah yang keanekaragaman hayatinya sangat tinggi. terlebih lagi untuk mengembalikannya menjadi hutan kembali. Dalam periode Renstra Direktorat Jenderal PHKA tahun 2010-2014 telah ditargetkan penurunan jumlah hospot sebesar 67. Planologi. Sasaran 4 Tercapainya Penurunan Jumlah Hotspot di 10 Propinsi Rawan Kebakaran Sebesar 20% Setiap Tahun dan Penurunan Luas Areal Hutan yang Terbakar Hingga 50% dari Rerata 2005 . dan Pulau Sulawesi dari retara 2005-2009 Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang memiliki wilayah hutan yang sangat luas. Salah satu penyebab utama dari kebakaran hutan adalah dari faktor manusia yang melakukan aktifitas pembakaran hutan dan lahan untuk perkebunan dan areal pertanian. yang disebabkan oleh kebakaran. Skenario penurunan hotspot di Pulau Kalimantan. Data tersebut berupa jumlah hotspot. Kondisi ini akan semakin parah bila dilakukan di musim kemarau yang panjang dan disertai angin yang kencang. pengendalian di lapangan. akhir-akhir ini kebakaran hutan di Indonesia semakin sering terjadi.Kegiatan pemantauan hotspot telah dilaksanakan setiap hari melalui maillinglist Sipongi kepada anggota maillinglist dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen PHKA.2% dari jumlah rerata hotspot tahun 2005-2009. Sayangnya. koordinat hotspot yang diintegrasikan dengan peta dasar (fungsi lahan) bersumber dari Ditjen. Pulau Sumatera LAKIP DITJEN PHKA 2013 62 . Keberadaan hutan di Indonesia sangat penting tak hanya untuk bangsa Indonesia tetapi juga bagi semua makhluk hidup di bumi. pengembangan sistem serta pemantauan dampak kebakaran untuk mencegah dan membatasi kerusakan hutan. kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu prioritas nasional. Pulau Sumatera.10% 115. Dinas Kehutanan Provinsi dan Dinas Kehutanan Kabupaten/ Kota.2009 Capaian indikator kinerja dalam Sasaran 4: INDIKATOR TARGET REALISASI % Persentase penurunan hotspot di Pulau 59. bahkan dalam Kabinet Pembangunan Bersatu Jilid II.

112 37. dan Pulau Sulawesi dan penurunan luasan kebakaran serta peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat setiap tahunnya adalah sebagai berikut: Tabel24. Bengkulu.904 3.8% 59.152 24.027 19. dst Sumber: Dit.2% Keterangan : B04=Bulan ke-4.Dari ketiga pulau yang dimaksud terdapat 20 (dua puluh) provinsi yang diukur pencapaiannya yaitu: Sumatera Utara. Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi berkurang 20% setiap tahun dari rerata 2005-2009 Terjaminnya kawasan hutan yang 10% 20% 30% 40% 50% terbakar ditekan hingga 50% dalam 5 tahun dibanding kondisi rerata 2005- 2009 Peningkatan kapasitas aparatur 6 12 18 24 30 pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangan bahaya kebakaran hutan di 30 Daops (10 Provinsi) Sumber: Direktorat PKH. Sulawesi Utara. Target Pencapaian Kinerja Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Tahun 2010-2014 Indikator Jumlah Rerata Tahun Kinerja (2005-2009) 2010 2011 2012 2013 2014 Kegiatan 58.001 B06 9. Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara. Skenario Penurunan Jumlah Hotspot Tahun 2010-2014 Bulan Juml. Kalimantan Timur. Kalimantan Barat.676 3. Gorontalo.37/Menhut-II/2013 tentang Pedoman Pemantauan dan Pengukuran Kinerja Kementerian Kehutanan Tahun 2013. Kalimantan Tengah. 2010 2011 2012 2013 2014 B04 6. Nangroe Aceh Darusalam. PKH.890 47. LAKIP DITJEN PHKA 2013 63 .8% 59.306 5. Sulawesi Tengah. 2013 Indikator kinerja sasaran mengacu kepada Permenhut No. Sumatera Selatan. Sulawesi Selatan.132 7.297 B10 57.890 Terjaminnya hotspot di Pulau 20% 36% 48. Rerata hotspot Target Target Target Target Target ke.173/ IV-SET/ 2013 Tanggal 3 Mei 2013 Tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Ditjen PHKA Tahun 2013 sebagai berikut.316 Besar Penurunan Akumulasi: 20% 36% 48.2% 67. 2005-2009 dari Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Januari s/d bulan ke.392 25.842 36.880 3.P.844 4.673 29.123 2. Kalimantan Selatan.2%. Sumatera Barat. Riau.091 16.113 20.Target penurunan hotspot di tiga pulau pada tahun 2013 adalah 59. Jambi.339 23. 2013 Skenario penurunan hotspot setiap tahunnya adalah sebagai berikut: Tabel 25.302 45. Kepulauan Riau.726 2. Lampung.808 10. Batas toleransi jumlah hotspot pada 20 (dua puluh) provinsi tersebut telah ditetapkan dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK.100 4.995 B08 31.489 2. Bangka Belitung.2% Kalimantan.690 30.379 18.073 12.2% 67.795 B12 58.

Dari kelima provinsi tersebut yang jumlah hotspotnya melebihi batas toleransi adalah Provinsi Riau dan Provinsi Kalimantan Timur.558 2.Perkembangan jumlah hotspot di Pulau Sumatera. PKH. Bengkulu.531 12 Kalimantan Tengah 2. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Pada Tabel diatas dapatdilihatlimaprovinsi yang mempunyaihotspottertinggi yaitu Provinsi Riau. Kalimantan Timur.221 4. Sulawesi Tengah. Bangka Belitung. Sumatera Utara. LAKIP DITJEN PHKA 2013 64 . Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi berkurang 20% setiap tahun dari rerata 2005-2009” dapat dikatakan berhasil.860 8 Bangka Belitung 394 309 9 Bengkulu 123 109 10 Lampung 224 524 11 Kalimantan Barat 3. Realisasi Toleransi Sulawesi) (1 Jan-31 Des) (1 Jan-31 Des) 1 Nangroe Aceh Darusalam 666 350 2 Sumatera Utara 997 848 3 Sumatera Barat 462 287 4 Riau 5.137 15 Gorontalo 17 63 16 Sulawesi Utara 16 21 17 Sulawesi Tengah 182 104 18 Sulawesi Barat 44 51 19 Sulawesi Selatan 261 239 20 Sulawesi Tenggara 256 140 Sumber: Dit. Toleransi dan Realisasi Hotspot Tahun 2013 No Provinsi 2013 3 Pulau (Sumatera.196 1.288 4. kedua provinsi ini bisa menurunkan jumlah hotspot sampai pada level di bawah batas toleransi yang telah ditentukan. Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi pada 20 (dua puluh) provinsi sepanjang tahun 2013 tersaji pada Tabel berikut ini. 2013 *) Nama provinsi yang dicetak warna merah menunjukkan bahwa jumlah hotspot di Provinsi tersebut pada tahun 2013 melebihi batas toleransi Pada tabel di atas. Tabel26.465 13 Kalimantan Selatan 491 786 14 Kalimantan Timur 1.144 1.082 5 Kepulauan Riau 56 38 6 Jambi 1. Keberhasilan indikator kinerja ini pada tahun 2013 diharapkan dapat terus berlanjut pada tahun-tahun yang akan datang dengan terus melakukan pembinaan dan upaya-upaya pengendalian kebakaran hutan terutama pada provinsi rawan dan provinsi yang mempunyai hotspot melebihi batas toleransi. Kalimantan.182 4.Hal ini perlu mendapatkan perhatian ekstra agar di tahun mendatang. Sumatera Barat. Riau. Meskipun begitu secara umum. terdapat 11(sebelas) Provinsi yang mempunyai jumlah hotspot melebihi batas toleransi yang telah ditetapkan pada tahun 2013 yaitu Nangroe Aceh Darusalam.223 7 Sumatera Selatan 1. Kepulauan Riau. Indikator Kinerja Sasaran “Terjaminnya hotspot di Pulau Kalimantan.

realisasi hotspot di tiga pulau (20 provinsi) pada tahun 2013 adalah 18. Dengan melihat data pada tabel tersebut.288 Tengah Kalimantan 2 16 17 10 11 13 3 40 128 223 23 5 491 Selatan Kalimantan 46 57 138 25 31 76 26 121 266 304 73 33 1. 2013 Keterangan: : Jumlah hotspot tertinggi pada provinsi rawan : Jumlah total hotspot (>1.112 titik dari rerata 2005-2009.182 Kep.890 titik. Sulawesi) Sumatera 19 22 122 44 95 174 270 153 61 27 6 4 997 Utara Riau 127 167 372 207 360 1.119 295 96 13 13 5. Juli (1760 titik).612 315 131 18.154 2. Keberhasilan capaian indikator penurunan hotspot di tiga pulau pada tahun 2013 lebih dari 100%.923 3. Agustus (3923 titik). Jika dilihat perkembangan hotspot per bulan.516 897 1.10%sehinggacapaianpenuru nanhotspot sebesar 115.154 616 408 26 12 3.221 Barat Kalimantan 57 80 73 45 53 94 32 211 602 970 53 18 2.558 Selatan Kalimantan 126 33 284 59 44 320 139 1.144 Sumatera 10 23 128 11 45 166 59 348 527 203 37 1 1.000 titik) Pada tabel diatas. PKH. Riau 2 7 20 4 3 4 4 3 6 3 0 0 56 Jambi 22 58 136 38 51 212 113 316 162 28 6 2 1.778 Sumber: Dit. Bulan Agustus merupakan bulan dengan jumlah hotspot tertinggi pada tahun 2013. Dengan kata lain. Jumlah hotspotmulai mengalami peningkatan secara berturut-turut ketika memasuki musim kemarau yaitu pada bulan Juni (2836 titik). Tabel 27. Sebaran Hotspot Per Bulan di 3 (tiga) Pulau pada Tahun 2013 Provinsi Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des Jml 3 Pulau (Sumatera. Perkembangan jumlah hotspot pada Pulau Sumatera.592 titik. September (3154 titik) dan Oktober(2612 titik). sedangkan reratahotspot 2005-2009 adalah 58. maka kesiapsiagaan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan sudah harus dimulai pada awal tahun dan harus lebih intensif pada bulan- bulan di musim kemarau. Hal ini berarti pada tahun 2013 berhasil menurunkan jumlah hotspot sebanyak 40.760 3.196 Timur Sulawesi 10 14 33 9 7 12 0 21 53 67 24 11 261 Selatan Aceh 21 9 121 15 59 47 155 54 125 39 14 7 666 Sumatera 21 21 42 31 58 114 38 105 15 6 6 5 462 Barat Bangka 10 10 41 2 0 20 0 143 129 35 4 0 394 Belitung Bengkulu 1 12 26 6 3 29 5 30 3 5 0 3 123 Lampung 7 18 9 12 13 26 12 32 54 31 3 7 224 Gorontalo 0 1 0 0 3 0 0 1 5 6 0 1 17 Sulawesi 0 1 1 1 1 1 0 2 4 5 0 0 16 Utara Sulawesi 17 9 12 8 3 3 1 17 45 54 7 6 182 Tengah Sulawesi 2 6 13 2 0 6 1 4 6 4 0 0 44 Barat Sulawesi 2 8 4 11 1 3 5 49 52 98 20 3 256 Tenggara Jumlah 502 572 1.778 titik. LAKIP DITJEN PHKA 2013 65 .03%. padatahun 2013 target penurunanhotspotsebesar59.2%berhasilturunsampai68. kecuali di bulan Maret yang mencapai 1.592 540 841 2.836 1. pada saat musim penghujan jumlah hotspot relatif rendah. Kalimantan.

000 37.690 35. Pengukuran penurunan jumlah hotspot di Indonesia.690 30. Sebagai contohProvinsi Sumatera Utara mempunyai jumlah hotspot tertinggi pada bulan Juli (270 titik).000 18. PKH. Kepulauan Riau mempunyai jumlah hotspot tertinggi pada bulan Maret (20 titik). 2013 40.152 28. selain berdasarkan lokasi tiga pulau. Sumatera Selatan.027 25. Jambimempunyai jumlah hotspot tertinggi pada bulan Agustus (316 titik). Kalimantan. sedangkan Kalimantan Tengah. Kalimantan Barat.154 titik). sehingga capaian kinerjanya melebihi 100%. Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan mempunyai jumlah hotspot tertinggi pada bulan Oktober. Sulawesi Tahun 2011- 2013 Uraian 2011 2012 2013 Jumlah Hotspot menurut Skenario penurunan 37.323 18.152 24.03 Sumber: Dit. Sedangkan untuk tahun 2012 jumlah hotspot melebihi target yang telah ditetapkan sehingga capaian kinerjanya tidak sampai 100%. Riau. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. LAKIP DITJEN PHKA 2013 66 .027 Hotspot (Target) Jumlah Hotspot (Realisasi) 28. Kalimantan Selatan. Jambi.000 30.44 115. Tabel 28. Grafik Jumlah Hotspot pada Pulau Sumatera.000 32.778 Capaian Kinerja (%) 143.516 titik). Kalimantan Barat mempunyai jumlah hotspot tertinggi pada bulan September (1. seringkali juga difokuskan pada 10 (sepuluh) provinsi rawanyaitu Sumatera Utara.000 24.47 92. Sulawesi Tahun 2011-2013 Dari tabel dan grafik diatas dapat diketahui bahwa jumlah hotspot pada tahun 2011 dan 2013 lebih rendah dari target yang telah ditetapkan pada skenario penurunan hotspot. Sumatera Selatan mempunyai jumlah hotspot tertinggi pada bulan September (527 titik). dan Sulawesi di 20 (dua Puluh) Provinsi tahun 2011-2013 disajikan dalam tabel dan grafik berikut ini.778 15.000 0 2011 2012 2013 Gambar 11.474 20. Jumlah Hotspot pada Pulau Sumatera.000 Jumlah Hotspot menurut Skenario penurunan Hotspot (Target) 10. Kepulauan Riau.323 30. Riau mempunyai jumlah hotspot tertinggi pada bulan Juni (1. Kalimantan. kalimantan. Provinsi-provinsi rawan tersebut mempunyai jumlah hotspot tertinggi pada bulan yang berbeda-beda sebagaimana disajikan dalam Tabel 27.474 32. Kalimantan Tengah.000 Jumlah Hotspot (Realisasi) 5.

hutan lindung. Dengan memperhatikan data tersebut maka setiap provinsi mempunyai perbedaan waktu dalam melaksanakan kesiapsiagaan dan meningkatkan kewaspadaan bahaya kebakaran hutan dan lahan.10 Hutan Lindung 243 1. kalimantan dan Sulawesi Fungsi Kawasan Hotspot Presentase (%) APL/Lahan 12.87 IUPHHK-HA 1.146 titik. 2013 Jika dilihat pada tabel di atas. Jumlah hotspot yang banyak ditemukan di luar kawasan hutan sudah seharusnya dapat mendorong dan meningkatkan peran aktif semua pihak dalam upaya pengendalian kebakaran hutan. Jumlah HotspotBerdasarkan Fungsi Kawasan di Pulau Sumatera.31% nya. Sedangkan untuk di Hutan Lindung (HL) dalam satu tahun hanya dijumpai hotspotsebanyak 243 titik dan Kawasan Konservasi (KK) sebanyak 759 titik. PKH.50 Perkebunan 786 4. sebaran hotspotdi Pulau Sumatera. Tabel 29. (2) Peningkatan Kapasitas SDM dan kelembagaan dalam penanganganan LAKIP DITJEN PHKA 2013 67 . dan BKSDA Kaltim (30 kali).863titik.69% dari seluruh hotspot yang ada.50% atau sebanyak 12. BKSDA Sumsel (25 kali). Jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah hotspot yang diketemukan di kawasan hutan baik di konservasi.04 Jumlah kawasan hutan 5.19 Jumlah non hutan 13. Disamping itu juga dilakukan pembinaan teknis serta dukungan operasional groundcheck dan verifikasi hotspot oleh Pusat dimana pada tahun 2013 telah dilaksanakan sebanyak 250 kali yaitu BBKSDA Riau (30 kali).129 27.29 Kawasan Konservasi 759 4. sehingga kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah (Ditjen PHKA) namun juga tanggung jawab pemerintah daerah. swasta dan masyarakat.778 100 Kawasan Hutan dan Non Hutan Sumber: Dit. hotspot di kawasan hutan lebih banyak terjadi di hutan produksi khususnya yang memiliki IUPHHK-HT sebanyak 2.981 15. BKSDA Jambi (20 kali). BKSDA Kalbar (65 kali). sedangkan hotspot di kawasan hutan hanya 27.Jumlah hotspot terbesar terdapat di APL/lahan yaitu mencapai 68. Untuk melaksanakan upaya penurunan hotspot dilaksanakan beberapa strategi/kegiatan yang dilakukanseperti (1) Pemantauan hotspot dan GrouncheckHotspotyang dilakukan oleh satkeruntuk memastikan ada tidaknya kebakaran di lokasi-lokasi yang terpantau adanya hotspot.69 IUPHHK-HT 2.31 Jumlah Hotspot di 18.649 72. BKSDA Aceh (30 kali).863 68. Kalimantan dan Sulawesiyang paling besar terdapat di kawasan non hutan yang mencapai 72. BKSDA Kalteng (50 kali). IUPHHK-HA.981 titik dan IUPHHK-HA sebanyak 1. Dilihat fungsi kawasan.146 6. IUPHHK-HT. Kondisi selengkapnya sebaran jumlah hotspot berdasarkan fungsi kawasan disajikan dalam Tabel berikut.

BTN Bukit Dua Belas. BKSDA Kalsel. Pencapaian sasaran penurunan jumlah hotspot pada tahun 2013. BBKSDA Jabar. BBTN Gn. (4) Rapat Kerja Manggala Agni. Daops Banyuasin) dan 17 nonDaops (BKSDA Jogjakarta. BKSDA Bengkulu. Merbabu. BTN Sebangau. Daops Dumai. Daops Batam. BTN Rawa Aopa Watumohai). Daops Bitung. Daops Lahat. serta merumuskan penanganan permasalahan dalkarhutla antara pusat dan daerah sebagai bahan penyusun rencana kerja pengendalian kebakaran hutan. Daops Sibolangit. BTN. Leuser. Daops Tanah Bumbu. (3) Sosialisasi dan publikasi dalam rangka Pencegahan Kebakaran Hutan baik melalui media televisi dan media cetak. Kepala BBKSDA/BKSDA/Kepala BBTN/BTN non Daops. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan untuk mengevaluasi dan mengkaji permasalahan yang telah. Kepala BPPLHD. Daops Sintang. Peserta raker Manggala Agni adalah seluruh Kepala BBKSDA/BKSDA Daops. Daops Jambi. BTN Ciremai. Foto 12 dan 13. Gede Pangrango. Buku Informasi Data Hotspot serta mengikuti kegiatan pameran Kegiatan Pengendalian kebakaran Hutan. BBKSDA Jawa Timur. tidak bisa dilepaskan dari berbagai upaya lain yang mendukung sebagaimana tercermin dari Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) sebagai berikut: LAKIP DITJEN PHKA 2013 68 . sedang dan yang akan dihadapi serta menetapkan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam pelaksanaan kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (dalkarhutla) menjelang musim kemarau pada tahun berjalan. Gn Halimun Salak. Personil Manggala Agni BKSDA Sumsel Sedang Melaksanakan Ground CheckHotspot. Sekretaris Daops Manggala Agni. Bimbingan Ketenagaan dan Manajemen Sarpras di 16 Daops (Daops Malili. BBTN Gn.pencetakan Buku seperti Permenhut P. Kepala Dinas Kehutanan. Kepala Daops. kebakaran melalui Pelatihan Dasar Dalkarhut dan Pembentukan Regu Brigdalkarhut. Buku Petunjuk Pemetaan Titik Panas. BKSDA Bali. Daops Banjar. BTN Berbak. Daops Muba. BTN Kutai. dan Ka UPT PKHL. BTN Gn. website dan LED Running text. Daops Putusibau. Daops Singkawang.12/Menhut-II/2009 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan. BKSDA Sumbar. Daops Paser. Daops Muara Teweh.

terdapat 18(delapan belas) provinsi yang terjadi kebakaran hutan dengan luas kejadian mencapai4. Dishut Kabupaten/Kota.12 7090.10 6 Lampung 106 1217 0 0 7 DIY Jogjakarta 2818.4 21.Berikut ini rekapitulasi luas kebakaran hutan tahun 2010-2013.504. Jika dibandingkan dengan rerata luas kebakaran hutan tahun 2005-2009 sebanyak 12. IUPHHK-HA.45 6.00 8 Jawa Timur 204.10 20 Kalimantan Selatan 0 148.72 1270.55 Sumber: Dit. a.55 Ha.9 1608 2935. maka luas kawasan hutan yang terbakar dapat ditekan sebesar 61.5 834 1. baik dari Dishut Provinsi.8 60.12 0 0 0 16 Papua 39 0 0 0 17 Jawa Tengah 0 203.5 0 22 Jawa Barat 0 2015. BBTN/BTN.70 19 Kalimantan Tengah 0 44 55.768. serta Radio Komunikasi dari daerah.378 8268.BBKSDA/BKSDA.3 36.50 13 Sulawesi Tenggara 16 59.50 10 NTB 2 950 0 12.85%.272.25 26 Sulawesi Tengah 0 0 0 1.352.00 25 Sulawesi Utara 0 0 0 0. Luas Kebakaran Hutan di Seluruh Indonesia Tahun 2010-2013 No.898 509. IUPHHK-HTI.077.5 417.95 1.00 3 Sumatera Barat 56 0 3.8 252.80 23 Sumatera Selatan 0 32 0 484.5 0 4 Riau 26 93.1 250 60.00 JUMLAH 3500.65 4.5 0 6. Tabel 30.05 624.00 11 NTT 95 31. PKH. Terjaminnya Kawasan Hutan Yang Terbakar Ditekan Hingga 40% Dibanding Kondisi Rerata Tahun 2005-2009 Dalam upaya menekan kawasan hutan yang terbakar pada tahun 2013.5 121 11.15 3.67 ha maka terjadi penurunan luas kebakaran sebanyak 7.25 199. telah dilakukan dan pengumpulan laporan luasan kebakaran hutan dari daerah.768.14%.20 18 Kalimantan Barat 0 537 565. Berdasarkan data yang dihimpun sampai dengan Desember 2013.Jika dibandingkan dengan target penurunan luas kebakaran hutan tahun 2013 sebesar 40% maka capaian kinerja untuk indikator ini adalah 152.14 9 Bali 10.12 ha.15 24 Sulawesi Tenggara 0 0 0 13.7 22.5 0 14 Maluku Utara 10 0 0 0 15 Papua Barat 1. Provinsi Luas (ha) 2010 2011 2012 2013 1 NAD 5 0 13 0 2 Sumatera Utara 80 25 1181 175.11 12 Sulawesi Selatan 28 4 45. 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 69 .50 21 Kaltim 0 0 51.06 454 31.50 5 Jambi 2.

Sejak dua tahun terakhir Provinsi Jawa Timur menjadi Provinsi dengan luas kebakaran paling banyak. Pada tahun 2013 luas kawasan hutan kawasan konservasi yang terbakar tersebar di 18 provinsi dan yang paling luas ada di Jawa Timur seluas 1. Data luasan areal yang terbakar sampai dengan saat ini masih merupakan data yang sulit untuk dikumpulkan dan diyakini kebenarannya (tingkat validitasnya masih rendah).000.00 0. Hutan Produksi.00 8.352.090.500.2011 dan 2013.000.000.50 Ha yang disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi.72 Ha pada Taman Nasional. Selanjutnya luas kawasan hutan yang terbakar pada tahun 2011 tersebar di 15(lima belas) provinsi. Hutan Suaka Alam.268. dan provinsi yang kawasan hutannya paling luas terbakar adalah Provinsi Jawa Barat seluas 2. kebakaran tersebut terjadi di TN Baluran. provinsi yang kawasan hutannya paling luas terbakar adalah DI Yogyakarta seluas 2.Untuk itu penghitungan luasan kebakaran harus dilakukan dengan metode yang tepat dalam pengukurannya dan ketepatan waktu dalam pelaporannya sehingga data luasan kebakaran dapat digunakan lebih efektif dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan.00 1. Hutan Lindung. Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui pada tahun 2010 luas kawasan hutan yang terbakar tersebar di 16(enam belas) provinsi.00 2010 2011 2012 2013 Gambar12.015. dan provinsi yang kawasan hutannya paling luas terbakar adalah Provinsi Jawa Timur seluas 2.768.000.000.000.000.00 4.00 6.38 8.00 3.818.Grafik perbandingan luas kebakaran kawasan hutan tahun 2010-2013 Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa untuk tahun 2013 luas kebakaran hutan berkurang apabila dibandingkan dengan luas kebakaran hutan dua tahun terakhir. Perbandingan luas kebakaran hutan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada grafik berikut ini 9.00 7. LAKIP DITJEN PHKA 2013 70 .000.00 2.55 5.65 7. Pada tahun 2012 merupakan tahun dengan luas kebakaran hutan paling besar apabila dibandingkan dengan tahun 2010.12 4. Kawasan hutan yang terbakar pada tahun 2012 tersebar di 17 (tujuh belas) provinsi.015.00 3.14 Ha. Dalam mengukur capaian indikator kinerja ini sesungguhnya bukan hal yang mudah. Hutan Lindung dan Hutan Produksi.000.72 Ha pada Kawasan Konservasi.

Balai Besar KSDA 1 Pematang 4 59 15 Sumut Siantar 2 Labuan Batu 4 55 13 LAKIP DITJEN PHKA 2013 71 . b) Melaksanakan sistem pelaporan kejadian karhutla online melalui website Direktorat PKH sebagai penanggungjawab kegiatan. Riau. e) Sewa pesawat dalam rangka pengendalian kebakaran hutan. mitigasi. pengamanan hutan lainnya dan pengelolaan kawasan konservasi dari udara diempat lokasi (Papua Barat. Daops Sarolangun dan Daops Muara Bulian. Kegiatan peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam usaha pengurangan resiko mitigasi dan penanganan bahaya kebakaran hutan dilaksanakan melalui penguatan kapasitas kelembagaan pengendalian kebakaran hutan yang ada di DAOPS dan non DAOPS Pada tahun 2013. Daops Muara Tebo. Tugasnya meliputi pencegahan.Realisasi yang dicapai adalah 33 Daops. pengamanan hutan lainnya. Kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam upaya mengurangi resiko. dan penanganan bahaya kebakaran hutan di 30 Daops (10 provinsi)” mempunyai target di 24 Daops. c) Melaksanaan damkarhut di daerah rawan kebakaran d) Memberikan dukungan operasional dalkarhut. Mitigasi Dan Penanganan Bahaya Kebakaran Hutan Di 24 Daops.5%. Daops Bukit Tempurung. monitoring dan evaluasi serta koordinasi dalam rangka menangani suatu areal setelah terbakar guna mengurangi dampak buruk pada lingkungan b. TN Komodo. Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam rangka penurunan luas kebakaran pada tahun 2013 antara lain: a) Bimbingan teknis pemadaman karhut di provinsi jambi yaitu di lima daops yaitu Daops Kota Jambi. Provinsi No Nama Daops Jumlah Regu Anggota SMART 1.Sejak tahun 2002 Kementerian Kehutanan telah membentuk brigade pengendalian kebakaran hutan yang sering disebut dengan manggala agni. pemadaman dan penanganan pasca kebakaran hutan. f) Melaksanakan sidak kesiapsiagaan damkarhutla g) Melakukan penanganan pasca karhut dan rescue (Penyelamatan) yang meliputi inventarisasi. melakukan mitigasi dan menangani bahaya kebakaran hutan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan. dan pengelolaan kawasan konservasi. Indikator Kinerja “Terjaminnya peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam usaha pengurangan resiko. Terjaminnya Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah Dan Masyarakat Dalam Usaha Pengurangan Resiko. Daftar Daops disajikan dalam tabel berikut: Tabel 31. Daftar Daops Tahun 2013 No. hal ini berarti capaian kinerja dari indikator ini sebesar 137. Yogyakarta) dan dukungan operasional pemadaman darat di daerah rawan kebakaran di dua lokasi (TN Berbak dan TN Way Kambas).

kekuatan regu Manggala Agni juga terdapat di UPT Non Daops (39 UPT) dengan jumlah regu sebanyak 78(tujuh puluh delapan) regu dengan total personil 1. Balai KSDA Kaltim 32 Paser 4 60 11 10. Sampai dengan tahun 2013.170 orang. LAKIP DITJEN PHKA 2013 72 . PKH. dimana 70 orang diantaranya telah mengikuti pelatihan SMART. dilakukan hal-ha sebagai berikut: 1) In house trainingGeographic Information System (GIS) bagi Anggota MA. Balai KSDA Jambi 9 Kota Jambi 3 45 17 10 Muara Bulian 3 45 17 11 Sarolangun 4 60 16 12 Muara Tebo 4 60 15 13 Bukit Tempurung 2 30 - 4. Balai Besar KSDA 4 Pekanbaru 2 28 17 Riau 5 Siak 4 56 14 6 Dumai 4 52 18 7 Rengat 4 56 15 8 Batam 2 30 13 3.Kegiatan pengendalian kebakaran hutan tentu saja tidak terlepas juga dari peran serta masyarakat. telah terbentuk juga 7. Balai KSDA Sulut 33 Bitung 2 30 3 Jumlah 117 1712 461 Sumber: Dit. 2013 Pada tahun 2013 telah dipersiapkan dua calon Daops baru yaitu Daops TN Kutai dan Daops Tinanggea. Balai KSDA Kalbar 14 Pontianak 4 60 16 15 Sintang 4 60 17 16 Singkawang 4 60 15 17 Ketapang 2 30 16 18 Semitau 3 45 17 5. No. Balai KSDA Kalsel 25 Tanah Laut 4 60 12 26 Tanah Bumbu 4 60 12 27 Banjar 4 60 6 8. In house trainingPenyuluhan Bagi Anggota Manggala Agni. Balai KSDA Sulsel 23 Goa 4 60 17 24 Malili 4 60 19 7. Selain anggota Manggala Agni yang terdapat di daops. Pemantapan kelembagaan melalui penguatan manggala agni yang didukung dengan personil dan sarana dan prasarana yang memadai. Balai KSDA 19 Palangkaraya 6 84 17 Kalteng 20 Kapuas 3 42 6 21 Muara Teweh 2 28 13 22 Pangkalanbun 3 42 14 6. Provinsi No Nama Daops Jumlah Regu Anggota SMART 3 Sibolangit 4 60 15 2.909 orang Masyarakat Peduli Api (MPA) yang tersebar di 23(dua puluh tiga) provinsi. TN Rawa Aopa Watumohai yang telah dilengkapi pembentukan regu dan sarana prasarana. In house trainingSistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) bagi Anggota Manggala Agni. Balai KSDA 28 Banyuasin 4 59 19 Sumsel 29 Musi Banyuasin 4 59 18 30 Ogan Komering 4 59 16 Ilir 31 Lahat 4 58 12 9.

Selang ukuran 1. Kendaraan roda-2 dan peralatan regu tersebutsudah didistribusikan ke UPT Direktorat Jenderal PHKA sebagai pembina Manggala Agni sesuai dengan kebutuhan. In house trainingMekanik Peralatan Damkarhut)dan Pembekalan Teknis Logistik Dalkarhut bagi Anggota Manggala Agni. Penyusunan Buku Standar Tenaga Dalkarhut. kebijakan. Penyusunan Buku Profil MA(Bahasa Inggris) dan Buku Kompilasi Peraturan Perundangan Bidang PKH. 3) Revitalisasi sarana prasarana Kebutuhan untuk revitalisasi dan pemenuhan kebutuhan kendaraan roda-4 untuk pengendalian kebakaran hutan dinilai mendesak untuk dilakukan. Direktorat PKH sebagai penanggungjawab IKK ini melaksanakan proses pengadaan kendaraan roda-4 untuk jenis Slip-on unit. Penyusunan Buku Program Silabus dan Kurikulum In House Training Dalkarhut. dan Masker (585 unit). Penyusunan Draft Juknis Pembuatan Peta Kerawanan. Penyusunan Buku Pembentukan MA. Dirjen PHKA No. serta kendaraan operasional Daops dengan jumlah total 115 unit.21/Kpts/DJ- IV/2002). Mobil personil dan logistik. dan Penyusunan Buku Standar Peralatan Dalkarhut. kendaraan angkut peralatan. juklak dan juknis bidang dalkarhut yang meliputi. Foto14. Tahun 2013.peralatan khusus regu Damkarhut yang terdiri dari Pompa Jinjing (139 unit). Penyusunan Buku Protap Dalkarhut.Penyusunan Rancangan Juknis Masyarakat Peduli Api (MPA). Jet Shooter (121 unit). Penyempurnaan Rancangan Pedoman Perhitungan Kerugian Akibat Kebakaran Di Kawasan Hutan. 2) Penyusunan dokumen perencanaan. Reviu Pedoman Pembentukan Brigade Dalkarhutdi Indonesia (Kpts.Pembentukan Masyarakat Peduli Api di TN Laiwangi Wanggameti Foto15 dan 16. Kendaraan yang sudah ada saat ini sebagian besar dalam kondisi yang membutuhkan peremajaan terutama kendaraan hasil pengadaan tahun 2002. Sarana dan Prasarana Pengadaan Tahun 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 73 . 115 unit kendaraan roda dua. Penyempurnaan Rancangan Pedoman Perhitungan Kerugian Akibat Kebakaran Di Kawasan Hutan.5” (310 unit).

5) Peningkatan peran semua pihak dan pemberdayaan masyarakat. 5) Masih kurangnya kesadaran masyarakat dan instansi lainnya akan bahaya kebakaran hutan dan lahan sehingga kebakaran hutan dan lahan masih sering terjadi. 2) Perhitungan luasan kebakaran memerlukan metode yang tepat dalam pengukurannya 3) Perbaikan receiver NOAA perlu dilakukan agar data hotspot dapat diproses secara mandiri 4) Pemantapan operasional pengendalian kebakaran hutan. sedangkan kebakaran lahan sulit diketahui luasannya karena kewenangan Direktorat PKH sebagai penanggungjawab kegitana ini hanya sebatas pada kebakaran pada kawasan hutan Dari beberapa permasalahan yang ada. Beberapa kendala yang ada dalam pencapaian sasaran dan kegiatan pengendalian kebakaran hutan. penanganan pasca kebakaran hutan dan penyelamatan. antara lain : 1) Provinsi rawan yang pada tahun 2013 mempunyai jumlah hotspot melebihi batas toleransi harus diberikan pembinaan dan pemantauan secara terus menerus agar pada tahun 2014 jumlah hotspot dapat ditekan sehingga tidak melebihi batas toleransi. 6) Luas kawasan hutan yang terbakar untuk tahun 2013 mengalami penurunan. Terkait dengan kejadian kebakaran di kawasan perkebunan dan lahan masyarakat perlu dilakukan penegakan hukum/law enforcementterhadap pelaku pembakaran untuk menimbulkan efek jera dengan harapan kejadian kebakaran untuk tahun depan akan menurun. 2) Distribusi hotspot tahun 2013 di Indonesia berdasarkan penggunaan/fungsi kawasan terkonsentrasi pada kawasan non-hutan/lahan (72. 4) Data luasan real yang terbakar sampai dengan saat ini masih merupakan data yang sulit untuk dikumpulkan dan diyakini kebenarannya/ tingkat validitas masih rendah. meliputi pencegahan. Seluruh stake holder/para pihak agar bersama sama berusaha mengubah perilaku masyarakat agar tidak membuka lahan dengan membakar dengan cara sosialisasi pembukaan lahan tanpa bakar dll. beberapa langkah-langkah yang dilakukan untuk pencapaian sasaran dan kegiatan pengendalian kebakaran hutan. 3) Peralatan receiver satelit NOAA mengalami gangguan sehingga harus mengambil data dari sumber lain. pemadaman. implementasi Instruksi Presiden No. 16 Tahun 2011 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan oleh pihak-pihak terkait sesuai dengan kewenangannya masih belum berjalan maksimal. LAKIP DITJEN PHKA 2013 74 . antara lain: 1) Terdapat provinsi rawan yang mempunyai jumlah hotspot melebihi batas toleransi hotspot di tingkat provinsi pada tahun 2013.9%). 6) Pemantapan kelembagaan melalui penguatan manggala agni yang didukung dengan personil dan sarana prasarana yang memadai. Sementara itu.

Oleh karena itu banyak pihak yang tertarik untuk mengembangkan kegiatan pariwisata alam di kawasan konservasi. Sasaran 5 Terwujudnya Peningkatan Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Destinasi Wisata Alam yang Dapat Berperan Dalam Pasar Wisata Nasional Capaian indikator kinerja dalam sasaran 5 INDIKATOR TARGET REALISASI % Jumlah peningkatan pengusahaan pariwisata 12 unit 31 unit 150 alam di bandingkan tahun 2008 Kawasan konservasi di Indonesia dikenal memiliki potensi keanekaragaman hayati dan keindahan alam yang sangat menarik untuk di kunjungi. Taman Nasional. 8) Optimalisasi mailist si-Pongi (Analisa data hotspot. Dan Taman Wisata Alam. usaha jasa cinderamata. distribusi. usaha sarana olahraga minat khusus. Taman Nasional. Taman Hutan Raya. usaha jasa makanan dan minuman. usaha jasa transportasi. taman nasional. dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: 48/Menhut-II/2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam Di Suaka Margasatwa.IUPSWA terdiri dari usaha sarana wisata tirta. Berdasarkan Permenhut Nomor: 4/Menhut-II/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: 48/Menhut-II/2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa.IUPJWA terdiri dari usaha jasa informasi pariwisata. usaha sarana akomodasi. pemberian ijin terkait kegiatan pengusahaan wisata alam dibagi 2 (dua) jenis yaitu Ijin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) dan Ijin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA). usaha sarana wisata petualangan. usaha jasa pramuwisata. dan Taman Wisata Alam. 7) Melaksanakan sosialisasi/ penyuluhan/ kampanye pencegahan kebakaran hutan. Taman Nasional. TN dan TWA diterbitkan oleh Kepala UPT. Persetujuan prinsip IUPSWA di SM. respon balik). dan Taman Wisata Alam. taman hutan raya dan taman wisata alam.IUPJWA di kawasan SM. usaha sarana transportasi. 9) Penyelamatan manusia atau satwa korban kebakaran hutan. TN dan TWA diterbitkan oleh Direktur Jenderal PHKA atas nama Menteri Kehutanan sedangkan LAKIP DITJEN PHKA 2013 75 . Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) adalah izin usaha yang diberikan untuk mengusahakan kegiatan pariwisata alam di areal suaka margasatwa. Taman Hutan Raya. Ketentuan mengenai pengusahaan wisata alam telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 36 Tahun 2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam Di Suaka Margasatwa. usaha jasa perjalanan wisata. Taman Hutan Raya.IUPSWA adalah izin usaha yang diberikan untuk penyediaan fasilitas sarana serta pelayanannya yang diperlukan dalam kegiatan pariwisata alam. IUPJWA adalah izin usaha yang diberikan untuk penyediaan jasa wisata alam pada kegiatan pariwisata alam.

KSDA NTB. Cipta Bunga Bangsa di TWA Gunung Baung Nusa Tenggara Barat dan PT. Tabel 32. Penambahan IUPSWA dan UPJWA pada tahun 2013 tersebut sebagian besar belumsesuai dengan lokasi target yang telah ditetapkan. KSDA Bali. TN Ujung Kulon. Linggar Jati Wigena di TWA Linggar Jati Jawa Barat. TN Gunung Rinjani. KSDA NTT. KSDA Riau. Empat Naga Lombok diTWATanjungTampaNusaTenggaraBarat.173/ IV-SET/ 2013 Tanggal 3 Mei 2013 Tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Ditjen PHKA Tahun 2013. Sedangkan untuk lokasi lain masih dalam tahap penyiapan/ prakondisi yaitu penataan blok dan desain tapak. Beberapa yang sesuai adalah IUPSWA di KSDA Jawa Barat.Gede Pangrango.Pada tahun 2013 terdapatsatu IUPSWAyangdicabutyaituPT. Keempat unit IUPSWA yaitu atas nama PT. 70 65 60 50 35 IPPA 40 30 29 30 24 24 25 25 23 Izin Prinsip 22 1517 1512 1818 20 Permohonan 8 10 2 0 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Gambar 13. Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK.733/Menhut-II/2013 tanggal 25 Oktober 2013. Perkembangan Ijin Usaha Pengusahaan Pariwisata Alam Tahun 2008 – 2013 Tahun Status 2008 2009 2010 2011 2012 2013 IPPA 24 24 25 25 35 65 Izin Prinsip 8 15 15 18 22 23 Permohonan 2 17 12 18 29 30 Sumber : Dit. TN Way Kambas. TN Ciremai.33%. Halimun Salak. serta KSDA Kalimantan Timur. TN G. Amanah Sembilan Belasdi TWA Cimanggu Jawa Barat. TN Kepulauan Seribu.PutriNagaKomodopadatanggal25Oktober2013berdas arkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. Grafik Perkembangan IPPA Tahun 2008 – 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 76 . TN G. CV. untuk IUPSWA di terbitkan oleh Menteri Kehutanan. lokasi yang ditetapkan menjadi target dalam pencapaian Indikator Kinerja Sasaran ini adalah: KSDA Jawa Barat. sedangkan di Tahura di terbitkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota. KSDA NTB serta IUPJWA di TN Gunung Ciremai.PJLKKHL2013 Dari data yang ada dalamTahun2013 terdapat penambahan31 IPPA yang terdiri atas empat unit IPPA/IUPSWA dan 27 (dua puluh tujuh) unit IUPJWA yang dikelola oleh perusahaan/ koperasi dan perorangan.Gambaran perkembangan IPPA 6 (enam) tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut ini. PT. TN Komodo.Target penambahan Ijin pengusahaan pariwisata alam untuk tahun 2013 adalah sebanyak 12(dua belas) unit sehingga apabila realisasi nya sebanyak 31(tiga puluh satu)unit maka capaian kinerjanya sebesar 258. KSDA Jawa Timur. SK.

33/IV-PJLKKHL/2013 Permata IUPSWA tanggal 25 Januari 2013 2. cinderamata. Batu Alam Pemegang Peringatan II S. CV. PT.Daftar perusahaan/ pemegang IPPA dan lokasinya disajikan dalam lampiran 6. Pemegang IPPA/ IUPSWA yang diberikan Surat Peringatan pada Tahun 2013 No Nama Status Sanksi Nomor dan Tanggal Surat Perusahaan 1. Untuk memacu persaingan yang sehat. berupa pembinaan maupun teguran. Sebagian besar penambahan IUPJWA pada tahun 2013 lokasinya di TN Gunung Ciremai. Disamping itu kegiatan pariwisata alam juga memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung berupa multiplier effect bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar yang bersumber dari pengeluaran/belanja para wisatawan untuk akomodasi. Ria-So Mila Pemegang Peringatan II S. CV. Para pengusahaharus memenuhi kewajiban sebagaimana tercantum dalam SK IPPA.35/IV-PJLKKHL/2013 Indah IUPSWA tanggal 25 Januari 2013 4. PT. restoran. hal itu disebabkan karena IPPA terdiri atas IUPJWA dan IUPSWA. kendaraan. IUPJWA dapat diajukan perorangan dan diterbitkan oleh Kepala UPT dengan persyaratan yag mudah sehingga penambahannya sangat banyak. Tabel 33. RPPA. PT. kegiatan lainnya dan iuran/pungutan dari kegiatan pengusahaan pariwisata alam oleh pihak ketiga.40/IV-PJLKKHL/2013 IUPSWA tanggal 25 Januari 2013 9. maka dilakukan melalui penertiban IPPA.34/IV-PJLKKHL/2013 Kencana IUPSWA tanggal 25 Januari 2013 3. dalam hal ini pihak swasta atau BUMN/BUMD.38/IV-PJLKKHL/2013 Abadi IUPSWA tanggal 25 Januari 2013 7. Indosuma Pemegang Peringatan II S. Sinar Pemegang Peringatan II S.41/IV-PJLKKHL/2013 Indah IUPSWA tanggal 25 Januari 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 77 . PT. Putra Walmas Pemegang Peringatan II S. PT. Wana Wisata Pemegang Peringatan II S.Hasil penilaian ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Pada tahun 2013 telah dikeluarkan 10 (sepuluh) surat peringatan dari Direktur Jenderal PHKAkepada para pemegang IPPA/IUPSWA yang tidak memenuhi kewajibannya. Moyo Safari Pemegang Peringatan II S. transportasi dan sebagainya. Teluk Mekaki Pemegang Peringatan II S. PT.39/IV-PJLKKHL/2013 Putra Citra IUPSWA tanggal 25 Januari 2013 8. PT. Hal inilah yang menjadi dasar penilaian terhadap kinerja pemegang IPPA.37/IV-PJLKKHL/2013 Wisata IUPSWA tanggal 25 Januari 2013 6. RKL dan RKT. antara lain melalui penerimaan PNBP dari karcis masuk pengunjung. pelayanan aktivitas wisata. Kegiatan pariwisata alam sesungguhnya memiliki prospek besar di dalam memberikan kontribusi bagi negara. Suryainti Pemegang Peringatan II S.36/IV-PJLKKHL/2013 Pantai Indah IUPSWA tanggal 25 Januari 2013 5. Pada gambar 13 diketahui bahwa penambahan jumlah IPPA pada tahun 2013 mengalami kenaikan sangat drastis yaitu sebanyak 31 (tiga puluh satu) IPPA.

dll. Mitra Alam Pemegang Peringatan I S. Peta 50 Taman Nasional. PresidenRI menerimaplakatNew7WondersdariBernardWeberdanPesan tertulis Presiden RIsaatberkunjungkeTN. e) Promosi dan pemasaran. pameran di tingkat nasional dan regional. Zonasi/ Blok dan Desain Tapak b) Melakukan inventarisasi obyek dan daya tarik wisata alam(ODTWA) lainnya c) Monitoring dan evaluasi pengusahaan pariwisata alam. pelatihan jurnalistik.495/IV-PJLKKHL/2013 Persetujuan tanggal 11 Oktober 2013 Prinsip Sumber : Dit.RencanaKerja LAKIP DITJEN PHKA 2013 78 . PT.Komodo Dalam rangka mengembangkan pariwisata alam di kawasan konservasi dilakukan juga kerjasama antara Kementerian Kehutanan dan Korea Forest Service(KFS) yangditanda- tanganipadatanggal12Oktober2013.telahdilakukanthe1 International WorkshopdiSeoulpada8November2013dantechnicalmeetingantaraKFS dan MoFor pada tanggal 18 Desember 2013. CD Interaktif 50 Taman Nasional.Menindaklanjutikerjasamatersebut.dalamrangkamengembangkanecotourism di kawasan konservasi di st Indonesia. f) Peningkatan promosipelayanan publik dalam pelayanan perijinan usaha pariwisata alam g) Meningkatkan fasilitas dan infrastruktur pengelolaan dan pengusahaan pariwisata alam Foto 17 dan 18. di Jawa dan luar Jawa. d) Peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan pelatihan interpreter dan pemandu wisata alam. No Nama Status Sanksi Nomor dan Tanggal Surat Perusahaan 10. leaflet dan booklet serta website). penyebarluasan informasi melalui bahan-bahan publikasi (Buletin Konservasi Alam.PJLKKHL 2013 Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Sasaran inipada Tahun 2013 antara lain: a) Mendorong UPT untuk menyusun Rencana Pengelolaan.

Izin/MoU pemanfaatan jasa lingkungan air untuk tahun 2013 terjadi pengurangan sebanyak lima unit. TWA Gunung Tampa. TWA Bangko-Bangko dan TWA Suranadi. Pencapaian sasaran peningkatan pemanfaatan jasa lingkungan dan destinasi wisata alam yang dapat berperan dalam pasar wisatapada tahun 2013. LAKIP DITJEN PHKA 2013 79 . 5) Promosidanpemasaranekowisatamelaluipemanfaatanwebsitedikedua institusi. Hal ini disebabkan karena kelima perjanjian kerjasama atau MoU pemanfaatan air di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memerlukan peninjauan ulang terkaitdengan adanya rencana review zonasi di TNGC. PerkembanganPeningkatanIzin/MoUUsahaPemanfaatanAirs/dTahun2 013.dansudah terealisasi 35(tiga puluh lima) unit (175%).PJLKKHL. tidak bisa dilepaskan dari berbagai upaya lain yang mendukung sebagaimana tercermin dari Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) sebagai berikut: 1) Jumlah Peningkatan Ijin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air Baru UntukIndikator“Jumlahpeningkatanijin/kerjasamausahapemanfaatan jasa lingkungan air baru” dengan target sampai dengan Tahun2013 yaitu 20(dua puluh)unit. 4) Pemerintah Korea akan mendesignprogram pelatihan untukbidangekowisata dan konservasi yang akan dilaksanakan di Korea. maka capaian kinerja untuk IKK ini sudah mencapai 175%. Namun jika dibandingkan dengan target selama lima tahun (2010-2014) jumlah yang harus dicapai 25(dua puluh lima) unit izin/MoU pemanfaatan jasa lingkungan air danpada tahun 2013 telah realisasi sebanyak35(tiga puluh lima) unit maka realisasi tersebut sudah memenuhi bahkan sudah melampaui target selama periode Renstra Ditjen PHKA2010-2014. No Jenis Kegiatan Target Jumlah Mou IKU/IKK 5 2010 2011 2012 2013 Tahun (Kumulatif) 1 Mou Pemanfaatan 25 unit 13 unit 23 unit 40 unit 35 unit Jasling Air Sumber : Dit. 2) Pembangunanpilotproject‘CommunityBasedEcotourism’diTNGunungRinjani. Realisasi pemanfaatan jasa lingkungan air tersebut masih dalambentukkerjasama(MoU)denganpihakke-3. Perkembangan peningkatan izin/ MoU usaha pemanfataan air untukl e b i h jelasnyadapatdilihat pada tabel dan grafik dibawah ini. 3) Peningkatankapasitaspegawai/stafkeduanegaramelaluiprogramexchange officer ataupenyelenggaraan seminar/workshop bersama. Tabel34.Jika dibandingkan dengan target sampai dengan 2013 jumlah izin/ Mou yang harus dikeluarkan sebanyak 20 unit. pengembanganekowisatadankonservasiantaraKorea-Indonesia pada tahun 2014- 2019 meliputi: 1) Penyusunan master planpengembanganpariwisata untuk Pulau Lombok yang meliputi konektivitas antara TN GunungRinjani dan TWA Tunak.2013 Dari data diatas.Daftar 35 MoU Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air selengkapnya disajikan pada lampiran 7.

212.076. c) DraftPerdirjenPHKAtentangPembangunanSaranadanPrasaranaSertaFasilitasP enunjang Pemanfaatan Air dan Energi Air di SM.272.832 7. Tahura dan TWA. dan Tahura.493.242.492 20.64/menhut-II/2013 tanggal 3 Desember 2013 tentang Pemanfaatan Air dan Energi Air di Suaka Margasatwa.584.420.679.566 193. b) Draft Perdirjen PHKA tentang Pedoman Penilaian Rencana PengusahaanPemanfaatan Air dan Energi Air di SM.444.500 118.262 5.000 7. Akan tetapi berdasarkan peraturan tersebut.278 20.922.798 2010 294.900.400 7. tarif yang berlaku saat ini sangat rendah dan sudah tidak layak untuk pengembangan dan pemeliharaan kawasan wisata alam.554 2012 358. 2) Persentase Peningkatan Jumlah Penerimaan PNBP Di Bidang Pengusahaan Pariwisata Alam Dibandingkan Tahun 2008 Kegiatan pariwisata alam merupakan salah satu sumber kontribusi untuk penerimaan negara dibidang kehutanan.936. Pungutan Masuk Obyek Wisata Alam/Karcis Masuk. telah terbit Permenhut Nomor: P. pada Tahun 2013 telah disiapkan lima draft Peraturan Direktur Jenderal PHKA yaitu : a) Draft Perdirjen PHKA tentang Pedoman Inventarisasi Sumber Daya Air. TN.660 1. Penerimaan bidang pariwisata alam meliputi Pungutan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (PIPPA).904.262.235.142.000 188.946.037.418.157 2009 192. d) DraftPerdirjenPHKAtentangPelaksanaanPengawasan.586 19.858. e) Draft Kajian Tatacara Pembayaran Ganti Rugi Bagi Pihak Ketiga Dalam Izin Pemanfaatan dan Izin Usaha Pemanfaatan Air dan Energi Air di SM. Tahura dan TWA.895 5. Dalam rangka mendukung pencapaian IKK ini. revisiPPNomor59tahun1998 pada saat ini sudah berada di Sekretariat Negara dan akan segera diterbitkan.Rincian penerimaan PNBP dari bidang pariwisata alam selama enam tahun terakhir disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel35.821 26.870.815. Taman Nasional.426 20.672 2011 102.319. Perkembangan PNBP Tahun 2008 – 2013 Tahun PIPPA IHUPA Karcis Masuk Jumlah 2008 1. Tahura dan TWA Dalam rangka untuk meningkatkan pengetahuan SDM UPT dibidang jasa lingkungan air telah dilakukan Pelatihan SDM bidang jasling air. TWA.Untuk mendukung pelaksanaan Permenhut dimaksud.233 26. Peraturan terkait dengan PNPB adalah Peraturan Pemerintah Nomor: 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran PNBP dan Peraturan Pemerintah Nomor: 59 Tahun 1998 jo Peraturan Pemerintah Nomor: 92 Tahun 1999 tentang Tarif dan Jenis PBNP yang berlaku di Departemen Kehutanan.901.555.956.685. TN. Bimbingan teknis jasling air dan fasilitasi pelaksanaan inventarisasi sumber daya air.517.danPembinaa nPemanfaatan Air dan Energi Air di SM. TN. taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam.137.555. Dengan terbitnya Permenhut tersebut. dan Iuran Hasil Usaha Pengusahaan Pariwisata Alam (IHUPA). TN. diharapkan 35(tiga puluh lima) unit MoU yang sudah ada dapat diproses menjadi izin.Evaluasi.320.770 LAKIP DITJEN PHKA 2013 80 .

telah dilaksanakan demonstration activity REDD (DA-REDD) pada empat lokasiyaitu di dualokasi di lahangambutdandualokasi di areal non gambut.891.157. nasional maupun internasionalserta adanya reformasi birokrasi melalui penyederhanaan prosesperijinanpengusahaanpariwisataalam. Capaian ini telah melebihi target yang ditetapkan yaitu meningkat 80% dibandingkan tahun 2008. 2013 55. disamping dilakukan juga pameran maupun promosi di tingkat daerah.891 Sumber : Setditjen PHKA2013 Pada tahun 2013.Pelaksanaan DA-REDD di kawasan konservasi tersebut dilakukan melalui kerjasama dalam pemanfaatan karbon.371.000 241. kredit yang diperoleh dapat diserahkan ke lembaga pendanaan yang dibentuk untuk menyediakan kompensasi finansial bagi negara negara peserta yang melakukan konservasi hutannya. sehingga capaian kinerja indikator ini telah melebihi 150% (639.742.CR/016/III/1998 tanggal 1 Maret 2011. yaitu: a) TN.maka terjadi peningkatan sebesar 511.946.788.1/PJLKKHL-6/2011 dan No.293 36.36. Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan ini pada Tahun 2013 antara lain: a) Menertibkan pungutan karcis masuk b) Menggali dan mengkaji potensi-potensi sumber PNBP c) Penertiban pemungutan dan penyetoran PNBP d) Melakukan pengawasan dan evaluasi IPPA e) Meningkatkan promosi dan pelayanan publik dalam perijinan usaha pariwisata alam 3) Jumlah Lokasi Pelaksanaan Demonstration Activity REDD Di Kawasan Konservasi Hutan Gambut REDD atau Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (Pengurangan emsisi dari deforestasi dan degradasi hutan) adalah sebuah mekanisme untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca(GRK) dengan cara memberikan kompensasi kepada pihak-pihak yang melakukan pencegahan deforestasi dan degradasi hutan.Skema REDD memperbolehkan konservasi hutan untuk berkompetisi secara ekonomis dengan berbagai kegiatan ekonomi lainnya yang memicu deforestasi.01/FOSPFW/WWF-TP/03 dan No.598 36.153.188/DJ-VI/Binprog/1998 dan arahan program dan rencana operasional No.073.Jumlah kredit karbon yang diperoleh dalam waktu tertentu dapat dijual di pasar karbon.623.60%).153. Sampai dengan tahun 2013.371.Halinidisebabkanadanyaupayauntukmendorong UPT untuk meningkatkan PNBP di masing-masing kawasan yang potensial wisata. LAKIP DITJEN PHKA 2013 81 .Sebagai alternatif. Sebangau dengan WWF Indonesia No.5. PNBP bidang pariwisata alam sebesar Rp. Pengurangan emisi atau deforestasi yang dihindari diperhitungkan sebagai kredit.Dari tebel diatas dapat di lihat bahwa dari tahun ke tahun terdapat kenaikan PNBP yang cukup signifikan.PKS..142.-Jika dibandingkan PNBP tahun 2008 yang hanya sebesar Rp.67%.

Direktorat PJLKKHL sebagai penanggungjawab kegiatan ini juga memfasilitasi IJ-REDD+ antara Indonesia-Jepang terkait pelaksanaan REDD+ di Provinsi Kalimantan Barat (TN Gunung Palung) dan Kalimantan Tengah. Meru Betiri dengan Puspijak-Litbanghut.1/PJLKKHL-6/2011 dan 01/FOSPFW/WWF/TDP 230 tanggal 1 Maret 2011. Selain itu TN Tesso Nilo harus terlebih dulu mengajukan surat permohonan persetujuan DA REDD kepada Menteri Kehutanan cq Direktur Jenderal PHKA. masa berlaku 6 tahun (2011-2016).CR/016 /III/1998. d) TN.188/DJ-VI/Binprog/1988 dan No.PD.1923/BTNMB-1/2013 tanggal 19 Agustus 2013 perihal Registrasi Areal Kerja DA REDD+ di Taman Nasional Meru Betiri.549/Menhut-II/2013 tanggal 31 Juli 2013 tentang Persetujuan DA REDD+ pada TN Berbak seluas ±142. Kerjasama ini terwujud melalui penandatanganan Record of Discussion (RoD) pada tanggal 4Februari 2013 dan resmi beroperasi pada tanggal 17 Juni 2013 sampai jangka waktu 3tahun kedepan (2013-2016). LATIN. masih perlu adanya perbaikan dan persyaratan yang harus dipenuhi supaya proposal tersebut layak untuk dinilai. arahan program dan rencana operasional No.TN Nasional Meru Betiri sebagai pemrakarsa DA REDD+ telah mengajukan permohonan registrasi DA REDD+ melalui surat Nomor: S.Proyek ini bertujuan untuk membantu pengembangan mekanisme REDD+ di Indonesia terutama dalam hal identifikasi enabling condition dan pembuatan model implementasi REDD+ dengan mendorong integrasi REDD+ dan RAD/RAN GRK dalam pembangunan daerah (sub nasional) dan nasional. masa berlaku 4 tahun(2011-2014).DA REDD+ ini telah mendapat persetujuan Menteri Kehutanan sesuai SuratKeputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. Masa berlaku mulai tahun 2011 sampai dengan Desember 2012. Berbak dengan The Zoological Society of London (ZSL) No. Litbanghut dengan ITTO) tanggal 8 Oktober 2011.Persetujuan DA REDD+ TN Berbak telah terbit melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. TN Tesso Nilo telah mengajukan Proposal DA REDD+. Tesso Nilo dengan WWF Indonesia No. PKS. masa berlaku 4 tahun (2010-2013). masa berlaku 6 tahun (2011-2016).26/BGR/X/2011 tanggal 12 Oktober 2011. Sumber Biaya ITTO No. s/d saat ini masih dalam proses. Proyek inidiharapkan dapat mendukung pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan Direktorat Jenderal PHKA terkait pengembangan Demonstration Activities (DA) di Kawasan Konservasi.1(F) (Project Agreement: Pemerintah Indonesia.519/08 Rev. antara lain :  Bimtek Demplot Jasling dan REDD+  Evaluasi Pemanfaatan Jasa Lingkungan  Kajian Nilai Pemanfaatan Jasa Lingkungan di KSA/KPA LAKIP DITJEN PHKA 2013 82 . namun berdasarkan hasil telaah di Direktorat PJLKKHL.IJ-REDD+ merupakan proyek kerjasama teknis antara Kementerian Kehutanan Indonesia dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan nilai ¥ 490. b) TN.427/BTNB- 1/2011 dan No.831/Menhut-II/2013 tanggal 26November 2013 tentang Persetujuan DA REDD+ pada Taman Nasional Sebangau seluas ±74. c) TN.167 Ha. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mendukung pelaksanaan peningkatan aktifitas DA REED+. Disamping keempat kerjasama tersebut diatas.000.750 Ha.SP.000.

317 67 17 84 2010 34.350 67 17 84 Sumber : Dit.  Updating Data dan Informasi Jasling  Menjaring masukan dalam penyusunan kebijakan  Pelatihan peningkatan Kapasitas SDM di bidang pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Pelatihan Teknik pengelolaan Pemanfaatan jasa lingkungan  Focus Group Discussion (FGD)  Evaluasi Pemanfaatan Jasling Hutan (REDD). Sehingga rata-rata peningkatan adalah sebesar 47.823 527 2. Pada tahun 2013 tingkat madya hanya bertambah 141 orang dan tingkat utama hanya bertambah 54 orang. hal itu sangat jauh perbandingannya apabila dilihat dari penambahan jumlah KK tingkat pemula yang mencapai 848 orang. KPA danKSM/KP)sampai dengan Tahun 2013 (Kumulatif) Tahun Kader Konservasi (KK) Kelompok Pencita Alam Kelompok Swadaya (KPA) Masyarakat/ Kelompok Profesi (KSM/KP) Pemula Madya Utama Jmlh Aktif Tidak Jmlh Aktf Tidak Jmlh Aktif Aktif 2009 33. Perkembangan Jumlah Mitra Bina Cinta Alam (KK.317 kelompok. dan selama ini kegiatan masih berkisar pada pembentukan kader konservasi. Kelompok Swadaya Masyarakat/ Kelompok Profesi (KSM/KP) = 84 kelompok. Kelompok Swadaya Masyarakat/Kelompok Profesi (KSM/KP) yang dapat diberdayakan/dibentuk dari Tahun 2009” dengan target s/d Tahun 2013 sebesar 8%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. pada tahun 2013 jumlah KK meningkat sebanyak 3.640 1. 2013 Dibandingkan dengan tahun 2009.823 527 2.350 67 17 84 2013 36. hanya sedikit sekali yang melakukan kegiatan perjenjangan. Kelompok Pecinta Alam (KPA).PJLKKHL. Capaian ini telah melebihi target yang ditetapkan (8%) yaitu lebih dari 150% (598%). Hal itu ditandai dengan sedikitnya penambahan KK tingkat madya dan utama pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012.980 4.285 4.131 681 42.043 kelompok (133.80%).94%. Kelompok Pecinta Alam (KPA) = 1. 4) Persentase Peningkatan Jumlah Kader Konservasi (KK).850 4. Kelompok Swadaya Masyarakat/ Kelompok Profesi (KSM/KP) Yang Dapat Diberdayakan dari Tahun 2009 Untuk Indikator “Peningkatan jumlah Kader Konservasi(KK). sedangkan jumlah KSM/KP (aktif) tidak mengalami peningkatan.467 1.922 627 38. Tabel36.834 orang.215 4. Untuk Kelompok Pecinta Alam(KPA) dan Kelompok Swadaya Masyarakat/ Kelompok Profesi (KSM/ KP) dalam tiga tahun terakhir jumlahnya tetap. jumlah kader konservasi (KK) = 38.765 780 537 1.990 627 41. Kelompok Pecinta Alam (KPA). jumlah KPA (aktif) mengalami peningkatan 1.923 627 39.990 627 41.834 780 537 1.806 orang (9. Berdasarkan data pada Tabel 36 diketahui bahwa kegiatan penjenjangan pada KK belumdilaksanakan secara simultan pada UPT PHKA.823 527 2.317 67 17 84 2011 35.597 1. Sebagai base line data untuk Tahun 2009. LAKIP DITJEN PHKA 2013 83 .72%).350 67 17 84 2012 35.828 5.

Kalimantan Timur. Maluku serta Sultra terdapat UPT yang menjadi target lokasi IKK ini akan tetapi tidak mengalami penambahan jumlah KK. perlu dicari upaya memberdayakan KK terutama dari segi kemampuan untuk mencari sumber-sumber pendanaan untuk mendukung kegiatan tersebut. dan KSDA Maluku. Berkaitan dengan hal tersebut. TN Bogani Nani Wartabone. 5) Jumlah Kegiatan Pengembangan Promosi. TN Bali Barat. Realisasi kegiatan untuk Tahun 2013 sebanyak dua kegiatan Apabila dibandingkan dengan target pada tahun 2013 sebanyak satu kegiatan maka LAKIP DITJEN PHKA 2013 84 . semangat. Kalteng. Jawa Barat. Bengkulu. Sedangkan untuk provinsi Nangroe Aceh Darusalam. Nusa Tenggara Barat. Lampung. jiwa. Penerbitan Surat Keputusan tersebut dimaksudkan agar HKAN yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus dapat untuk mempersatukan tekad. Sulteng dan Sulsel bukan termasuk lokasi target IKK ini akan tetapi pada kenyataannya mengalami penambahan jumlah KK. Riau. KSDA Sulawesi Utara. KSDA Riau. Jambi. Kalimantan Tengah. rasa dan karsa seluruh elemen bangsa dalam konservasi alam nasional. Jawa Barat.cipta. KSDA Jambi dan KSDA Bengkulu. Sedangkan untuk lokasi target prioritas 2(dua) yaitu TN Siberut. Dengan demikian penambahan tersebut dihitung berdasarkan provinsi dimana UPT TN tersebut berada. TN Way Kambas. Jawa Tengah. KSM/KP. Bali. KSDA Jatim.TN Ujung Kulon. KPA. TN Rawa Aopa. serta menumbuhkembangkanspirit untuk melakukan upaya konservasi. Sulawesi Tengah. Akibatnya aktivitas KK hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan tertentu yang bersifat seremonial dan telah diagendakan pemerintah. Kegiatan KK masih sangat tergantung pada dukungan kegiatan dan anggaran pemerintah yang jumlahnya terbatas. Penambahan KK/ KPA/ KSM/KP dihitung berdasarkan provinsi sedangkan lokasi target IKK ini di TN. Penambahan KK pada Tahun 2013 berasal dari Provinsi: Sumatera Barat. Banten.Provinsi Papua Barat. Untuk itu perlu ditingkatkan promosi dalam rangka penyebarluasan informasi kepada publik mengenai potensi-potensi wisata yang ada di kawasan konservasi. TN Gunung Rinjani.376/Menhut-IV/2013 tanggal 23 Mei 2013 tentang Logo “Hari Konservasi Alam Nasional” (HKAN). Kaltim. Papua. Jawa Timur. Salah satu kendala rendahnya aktivitas dan peranan KK adalah KK belum bisa secara mandiri merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Menteri Kehutanan Republik Indonesia telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor SK. Sumatera Utara. Untuk meningkatkan peran aktif masyarakat khususnya KK. Papua dan Papua Barat. Informasi Dan Pemasaran Konservasi SDA Potensi obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA) yang berada di Taman Nasional dan Taman Wisata Alam baru sebagian kecil yang dikenal masyarakat luas. Sulawesi Utara. KSDA Sumatera Utara. Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK. Disamping itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat serta penyelenggara pembangunan nasional untuk lebih berperan dalam upaya KSDAHE dan mengkomunikasikan kegiatan HKAN. Sulawesi Selatan.173/ IV-SET/ 2013 Tanggal 3 Mei 2013 Tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Ditjen PHKA Tahun 2013yang menjadi lokasi target prioritas 1(satu) pada IKK ini adalah KSDA Nanggroe Aceh Darusalam.

masterplan pengembangan pariwisata alam. Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan pengembangan Promosi. dan lain sebagainya. bina cinta alam dan kegiatan- kegiatan konservasi lainnya). TN Komodo. TN Takabonerate.Untuk memudahkan pengunjung/pembaca website menemukan lokasi kawasan. buletin.go. banner. Kegiatan pengembangan sistem promosi dan pemasaran online/ website diarahkan pada kawasan yang potensial untuk dikembangkan terutama kawasan perairan seperti pada wilayah TN Ujung Kulon.dephut. jasa lingkunganair/karbon/panas bumi). pin.Namun demikian. desain tapak dan perhitungan potensi air/karbon sebagai persyaratan/kesiapan kawasan untuk diusahakan. capaian kinerja kegiatan ini sebesar 200%. promosi dan pemasaran konservasi sumberdaya alam saat ini belum menjadi program prioritas bagi sebagian UPT. foto-foto. dengan alamat jasling. TN Bunaken dan BKSDA Kalimantan Selatan. stiker. Dalam rangka meningkatkan kemampuan SDM Ditjen PHKAdanuntuk menghasilkan bahanpublikasidanpromosiyangmudahdipahamidanmenarikbagimasyarakat luas. buletin. Secara umum. sehingga menjadi kendala bagi investor untuk berinvestasi di bidang tersebut.denganpenekananpadapemanfaatanjasalingkungan(wisata alam.id.dll) d) Membangun dan meningkatkan jejaring kerja dengan mitra dan para pihak terkait e) Meningkatkan kapasitas SDM di bidang promosi dan pameran.makatelahdilaksanakanPelatihanJurnalistikdenganpesertapelatihansebanyak 30(tigapuluh)orangyangberasaldariUPTlingkupDitjenPHKA(28orang)danDirektorat PJLKKHL (2 orang). Informasi tersebut secara garis besar diwujudkan dalam bentuk beritadanartikel. namun belum dilakukan penataan zona/blok. fasilitas yang disediakan. Informasi dan Pemasaran SDA pada Tahun 2013 antara lain: a) Melakukan promosi melalui event pameran di provinsi/ kabupaten maupun tingkat nasional b) Melakukan promosi melalui online dengan membuat website setiap UPT c) Menyusun dan memetakan potensi investasi pariwisata alam melalui pembuatan materi promosi pariwisata alam(booklet. TN Cenderawasih. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan PengembanganPemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam antara lain: 1) Masihterdapatbeberapalokasikawasanpelestarianalammaupunhutanlindung yang potensial untuk diusahakan oleh pihak ketiga. informasitersebutdisajikandalambentukpeta. website mitra.Promosi dan pemasaran konservasi alam melalui website. BKSDA NTB.SelainitumasihterdapatUPTyangpotensialdibidangjasalingkunganyangbel ummempersiapkanprakondisikawasanantaralain rencanapengelolaandanpenataan zona/blok kawasan. leaflet. majalah.Sebagai pendukunglaindisajikan dalam bentuk video. UPT lebih memprioritaskan kegiatan dan mengalokasikan anggaran yang cukup besar pada kegiatan pengamanan dan perlindungan kawasan. Kegiatan yang telah dilakukan yaitu kegiatan Pengembangan sistem promosi dan pemasaran online/ website dan paket pertemuan/pameran termasuk kegiatan pendukungnya. LAKIP DITJEN PHKA 2013 85 . dan disain tapak.

sehingga menyebabkan proses perizinan maupun pelaksanaan IPPA menjadi terhambat. 5) MendorongUPTPHKAuntukdapatmeningkatkanpenerimaanPNBPmelaluikarcismasuk danpengembanganpaketwisataatauinvestasipariwisataalammelaluikegiatanbimbi nganteknispeningkatan PNBP. upaya tindak lanjut yang dilakukan antara lain: 1) Mendesak kepada UPT maupun SKPD yang bertanggung-jawab di bidangkehutanan untuk melakukan penataan zona/blok. terkait dengan persyaratan izin yang harus dipenuhi. padahal hal tersebut merupakan landasan dalam melakukan tindakan pengelolaan kawasan konservasi termasuk didalamnya sebagai dasar menentukan proyeksi pemanfaatan air dan energi air. pengawasan dan evaluasi 3) MeningkatkankoordinasidenganDirektoratKKBHLuntukmendorongpercepatan pengesahan dokumen RP dan zonasi/penataan blok dalam rangka memberi landasan/kejelasan lokasi bagi pihak ke-3 yang akan berusaha di bidang jasa lingkungan. 4) Pemberianarealizinyangbelumclearandclean. 3) Masih adanya perbedaan persepsi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkait dengan persyaratan penyusunan dokumen UKL dan UPL dalam pengusahaan pariwisata alam di kawasan konservasi. LAKIP DITJEN PHKA 2013 86 . pemberian tanda batas. desain tapak dan perhitungan potensi air/karbon sebagai persyaratan/kesiapan kawasan untuk diusahakan pihak ketiga. RKL dan RKT). SKPD yang bertanggung-jawab di bidang kehutanan dan lembaga terkait lainnya termasuk calon investor. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas. penyusunan dokumen perencanaan (Rencana Pengusahaan.khususnyapadaarealyangdimohon/d iusahakan. 2) Masih banyak UPT PHKA yang belum memperoleh pengesahan RencanaPengelolaan maupun penataan zonasi/blok. 2) Melakukansosialisasaiperaturanterkaitpemanfaatanjasalingkungandanwisataalam kepada UPT. 4) MelakukankoordinasidenganKementerianLHagardapatmalakukansosialisasi bagiaparatnyadidaerahterkaitdenganpemenuhandokumenUKLdanUPL dalam persyaratan perizinan pariwisata alam.

mandiri dan kreatif. BTN Tanjung Puting. UPT yang Dipersiapkan Menjadi PK-BLU No 2011 2012 2013 1 BBKSDA Jawa Barat BBTN Gunung Gede BTN.00 pembentukan satker PK-BLU Dalam rangka mewujudkan kemandirian dalam pengelolaan SDAHE. Realisasi baik secara jumlah maupun lokasi untuk Indikator Sasaran ini adalah sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Sehingga capaian kinerja untuk sasaran ini sebesar 100%. Sasaran 6 Terwujudnya Taman Nasional dan Kawasan Konservasi lainnya dengan Potensi Keanekaragaman Hayatinya Tinggi. Tanjung Puting Sumber : Setditjen PHKA 2013 Kendala yang dihadapi diantaranya : LAKIP DITJEN PHKA 2013 87 . Tabel 37.173/ IV-SET/ 2013 Tanggal 3 Mei 2013 Tentang Penetapan Lokasi Target Capaian Kinerja Indikator Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Ditjen PHKA Tahun 2013 yaitu BTN Alas Purwo. sekaligus meningkatkan fleksibilitas pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktifitas serta penerapan praktek bisnis yang sehat. BTN Gunung Halimun Salak. DNS. Alas Purwo Pangrango 2 BBTN Bromo Tengger BTN Gunung Halimun Semeru Salak 3 BTN Komodo BTN. khususnya bagi UPT yang memliki potensi PNBP besar dalam hal pengembangan pariwisata alam di kawasan hutan konservasi dan pengawetan keanekaragaman hayati. maka dalam Renstra Direktorat Jenderal PHKA diamanatkan tentang pembentukan dan operasionalisasi Pengelola Keuangan-Badan Layanan Umum(PK-BLU). TARGET Trust Fund. atau Mempunyai Fungsi Pelindung Hulu Sungai. BTN Ujung Kulon. Pada tahun 2013 telah ditargetkan empat UPT yang akan dipersiapkan menjadi PK-BLU sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK.Perkembangan UPT yang telah dipersiapkan menjadi PK-BLU dari tahun 2011-2013 disajikan dalam tabel berikut ini. Sudah Dapat Mandiri untuk Membiayai Capaian indikatorSeluruh atau kinerja dalam Sebagian sasaran 6 Program Pengembangan Konservasi dalam Bentuk INDIKATOR BLU. dan atau Memiliki Potensi Wisata Alam Signifikan.%dan REALISASI Kolaborasi Jumlah satker yang dipersiapkan dalam 4 UPT 4 UPT 100. Ujung Kulon 4 Bantimurung Bulusaraung BTN. terdapat Spesies Langka dan Flagship. yaitu empat UPT. Tujuan kegiatan ini adalah dalam rangka mewujudkan suatu satuan kerja yang ideal.

Apabila target selama periode Renstra sebanyak 5. Dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas-tugas di lapangan diperlukan pendidikan dan pelatihan. Pelatihan. baik itu melalui telepon. sehingga capaian dari indikator ini adalah sebesar 106. Pelatihan.Pada tahun 2013 beberapa upaya yang dilakukan meningkatkan profesionalisme tenaga fungsional Polhut dan PEH melalui: a) Diklat pembentukan PEH tingkat ahli sebanyak 17 orang. Tercapainya indikator ini diupayakan dengan pengkajian dan penyusunan program dan anggaran berupa Renstra dan Renja. Hal ini menyulitkan dalam kegiatan penyampaian data dan informasi terkait program ataupun keuangan.5%. pelatihan dan pengalaman/ penugasan selama tahun 2013 sebanyak 1065orang. Pada tahun 2013 realisasinya telah tercapai sesuai dengan target atau 100%. 2) Optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk mengurangi ketergantungan terhadap Rupiah Murni APBN. Dalam kegiatan penyusunan dokumen-dokumen tersebut. Jumlah tenaga fungsional Lingkup Ditjen PHKA yang mengikuti pendidikan. ataupun jejaring sosial. disebabkan kesiapan satuan kerja belum memadai baik dai sisi Penerimaan Negara Bukan Pajak maupun persyaratan administratif. LAKIP DITJEN PHKA 2013 88 . penyusunan RKAKL dan dokumen DIPA. penyelenggaraan rapat koordinasi/rapat kerja teknis.000 orang. 2) Jumlah Tenaga Fungsional Polhut Dan PEH Dalam Peningkatan Profesionalisme Melalui Pendidikan. rekonsiliasi keuangan SAI. dan pengalaman/ Penugasan 5000 Orang”. email. Tahun 2013 keberhasilan kinerja Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen PHKA berdasarkan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) adalah sebagai berikut: 1) Jumlah Dokumen Program Dan Anggaran Serta Laporan Evaluasi Dan Keuangan Pada 6 Satker Pusat Dan 77 Satker UPT Serta 33 Dinas Provinsi Pencapaian target ini adalah dengan penyusunan dokumen pengganggaran sejumlah 116 dokumen sesuai dengan jumlah satker lingkup Ditjen PHKA dan dinas kehutanan Provinsi yang mendapatkan dana dekonsentrasi Bidang PHKA.000 orang sehingga target tahunannya 1. masih jauh dari dari standar atau kriteria satker PK-BLU. dan Pengalaman/Penugasan Tenaga fungsional Polhut dan PEH merupakan ujung tombak pelaksana kegiatan di lapangan. Dalam dokumen Renstra Ditjen PHKA tahun 2010-2014 dalam kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen PHKA terdapat IKK “Peningkatan Profesionalisme Tenaga Fungsional Polhut dan PEH melalui Pendidikan. dan sistem administrasi pelaporan yang tertib dan evaluasi kegiatan secara berkala dan komprehensif. Upaya untuk mengatasinya adalah dengan memperluas jaringan dengan satker Direktorat Jenderal PHKA. penyusunan laporan kinerja lingkup Ditjen PHKA dan penyusunan data dan informasi. terdapat beberapa permasalahan yaitu jumlah satker Direktorat Jenderal PHKA yang cukup banyak yaitu 116 satker. 1) Belum tersusunnya Sistem Pelayanan Minimum (SPM) terhadap empat satker tersebut.

i) Pendidikan. 3) Jumlah UPT Dalam Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Dengan Klasifikasi Lengkap Dalam rangka melihat peningkatan kapasitas kelembagaan UPT. Tabel38. Capaian IKK ini tiga tahun terakhir selalu mengalami peningkatan. e) Diklat Teknis Kegiatan Fasilitasi Peningkatan Kemampuan SPORC yang diselenggarakan DI PUSDIKPASSUS BATUJAJAR-BANDUNG sebanyak 77 Orang. PPH sebanyak 67 Orang g) Test 4 Kriteria utama dalam rangka pengembangan SDM Kehutanan melalui Tugas Belajar S2/S3 lingkup Ditjen PHKA diikuti sebanyak 157 orang. Sarana Transportasi dan Komunikasi dan Peralatan Perkantoran. Ada tiga kategori yang digunakan yaitu baik (lengkap). Pusdiklat maupun di UPT sendiri diikuti oleh 445 Orang. Daftar UPT Dengan Klasifikasi Lengkap Tahun 2009-2013 No 2009 2010 2011 2012 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 89 . Khusus untuk tahun 2013 dari target sebanyak 13 (tiga belas) UPT yang ditingkatkan kategorinya menjadi lengkap. antara lain: ketersediaan gedung kantor Balai Besar/Balai. Bidang/Seksi dan Resort/ Pos Jaga. Direktorat Jenderal PHKA berupaya mengklasifikasikan kondisi UPT di daerah. bahkan untuk tahun 2012 dan 2013 capaiannya selalu melebihi target yang telah ditetapkan atau 100%. f) Diklat Teknis Peningkatan Kemampuan POLHUT Lingkup Ditjen PHKA yang diselenggarakan oleh Dit. Pada tahun 2009 dari 77 (tujuh puluh tujuh) UPT PHKA hanya teridentifikasi sembilan UPT yang masuk dalam kategori lengkap. c) Diklat alih jenjang jabatan dari POLHUT tingkat terampil ke POLHUT tingkat ahli sebanyak 63 orang. BKSDA Kalimantan Selatan diikuti sebanyak 32 orang dan BTN Berbak diikuti sebanyak oleh 56 Orang. h) Coaching Dupak Jabatan Fungsional. cukup baik dan kurang. Apabila target pada akhir periode Renstra ditjen PHKA Tahun 20110-2014 semua UPT (77 UPT) dalam peningkatan kapasitas kelembagaan dengan klasifikasi lengkap maka pada tahun 2014 yang merupakan akhir dari periode Renstra masih ada 20(dua puluh) UPT lagi yang menjadi target IKK ini. Perkembangan UPT klasifikasilengkapdaritahun 2009 sampaidengantahun 2013 dapatdilihatpadatabelberikutini. Beberapa parameter yang digunakan untuk mengklasifikasikan UPT dalam masing-masing kategori tersebut. terealisasi sebanyak 13UPT sehingga capaian kinerjanya 100%. pelatihan dan pengalaman/ penugasan yang dilakukan baik di Balai Diklat. dilaksanakan di 3 UPT yaitu BBKSDA Papua yang diikuti sebanyak 68 orang. b) Diklat alih jenjang jabatan dari PEH tingkat terampil ke PEH tingkat ahli sebanyak 14 orang. sampai dengan tahun 2013 jumlah UPT dengan klasifikasi lengkap sebanyak 57(lima puluh tujuh) UPT. d) Pengembangan SDM Kehutanan melalui Uji Kompetensi Kawasan Konservasi bekerja sama dengan LSP-HI sebanyak 69 orang.

BKSDA DKI BTN BTN Jakarta Bantimurung Wakatobi Bulusaraung 11 . BKSDA Jawa BTN Sebangau BKSDA Tengah Bengkulu 12 . . . BKSDA BTN Gunung BKSDA DI Lampung Palung Yogyakarta 10 . BKSDA Bali BTN Sembilang BTN Taka Bonerta 13 . Gede BTN Berbak BTN Meru Betiri BKSDA BBTN Lore Pengrango Kalimantan Lindu Tengah 5 BBTN Kerinci BTN Alas B TN Bali Barat BKSDA BKSDA Seblat Purwo Kalimantan Maluku Barat 6 BBTN Bukit BTN Baluran BTN Gunung BKSDANTB BTN Tesso Nilo Barisan Selatan Rinjani 7 BBTN Bromo BTN Way BTN Komodo BKSDA BTN Laiwangi Tengger Semeru Kambas Kalimantan Wanggameti Timur 8 BTN G.Halimun BKSDA Jambi BTN Bunaken BTN Kelimutu BKSDA Salak Sulawesi Tengah 9 BTN Ujung Kulon . . 4) Jumlah Dokumen Peraturan Perundangan Bidang KSDAHE Yang Bersifat Komprehensif Dalam Mendukung Dinamika Lapangan Dalam melaksanakan tupoksinya Direktorat Jenderal PHKA memerlukan perangkat regulasi atau kebijakan untuk dijadikan aturan atau pedoman. LAKIP DITJEN PHKA 2013 90 . . No 2009 2010 2011 2012 2013 1 BBKSDA BBKSDA Riau BBTN Teluk BBKSDA BBKSDA NTT Sumatera Utara Cenderawasih Sulawesi Selatan 2 BBKSDA Jawa BBTN Gunung BTN Kepulauan BKSDA BBTN Betung Barat Leuser Seribu Sulawesi Utara Kerihun 3 BBKSDA Jawa BTN Bukit Tiga BTN Karimun BKSDA BTN Tanjung Timur Puluh Jawa Sulawesi Putting Tenggara 4 BBTN G. . BKSDA Sumatera Barat Sumber : Setditjen PHKA 2013 Kendala yang dihadapi dalam pencapaian IKK ini adalah: keterbatasan dalam mendapatkan informasi tentang keadaan/ kondisi BMN yang disajikan dalam SIMAK BMN secara aktual. BKSDA BTN Bogani BKSDA Kalimantan Nani Sumatera Selatan Wartabone Selatan 14 .

56/ Menhut-II/2013 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Bekantan Tahun 2013-2022. namun sampai akhir tahun anggaran sebanyak 15 (lima belas) peraturan. Peraturan-peraturan tersebut adalah sebagai berikut : a) Permenhut Nomor: P. g) Permenhut Nomor: P.05/IV-SET/2013 tanggal 15 Juli 2013 tentangPetunjukTeknisPenyusunanRencanaKerjadanAnggaranBidangPerlin dunganHutandanKonservasiAlamTahunAnggaran 2014. k) PeraturanDirekturJenderalPerlindunganHutandanKonservasiAlamNomor: P. Kendala yang dihadapi untuk pencapaian IKK ini antara lain : 1) Kurangnya respons dari UPT di daerah untuk memberikan masukan atas draf rancangan peraturan perundang-undangan mengakibatkan lambatnya proses pengumpulan materi.Tahura dan TWA.02/IV-SET/2013 Tentang Sistem Pendataan dan Pelaporan Ditjen PHKA.01/IV-SET/2013 Tentang ProsedurTetapPenggunaanSenjataApiPolisiKehutanan. j) Perdirjen Nomor: P. sehingga proses penyusunan harus diulang kembali dengan menambahkan materi yang baru.58/ Menhut-II/2013 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Elang Jawa Tahun 2013-2022. 3) Berkembangnya ilmu konservasi mengakibatkan peraturan harus ikut berkembang menyesuaikan kebutuhan. o) Perdirjen Nomor: P.P. b) Permenhut Nomor: P.08/IV-SET/2013 Tentang Pedoman Kehadiran PNS Ditjen PHKA.55/ Menhut-II/2013 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Babirusa Tahun 2013-2022.64/ Menhut-II. d) Permenhut Nomor: P. i) Perdirjen Nomor: P. yang terdiri atas delapan Peraturan Menteri dan enamPeraturan Direktur Jenderal PHKA. m) Perdirjen Nomor: P. h) Permenhut Nomor: P. f) Permenhut Nomor: P. Pada tahun 2013 ditargetkan tiga peraturan perundang-undangan bidang PHKA yang disusun. 58/ Mehut-II/2013 Tentang Tata Cara Memperoleh Spesimen TSL untuk Lembaga Konservasi. e) Permenhut Nomor: P. c) Permenhut Nomor: P. 2013 Tentang Pemanfaatan Air dan Energi Air di SM.09/IV-SET/2013 Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Lingkup Ditjen PHKA. 2) Masukan UPT dan Direktorat terkait sering kali diterima ketika draf rancangan peraturan perundang-undangan sudah hampir selesai disusun.10/IV-SET/2013 Tentang Pedoman Review Dokumen Akuntabilitas Lingkup Ditjen PHKA.54/ Menhut-II/2013 Tentang Strategis dan Rencana Aksi Konervasi Anoa Tahun 2013-2022. l) Perdirjen Nomor: P.57/ Menhut-II/2013 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Tapir Tahun 2013-2022. TN. LAKIP DITJEN PHKA 2013 91 . n) Perdirjen Nomor: P.07/IV-SET/2013 Tentang Kode Etik PNS Lingkup Ditjen PHKA.19/ Menhut-II/ 2005 Tentang Penangkaran TSL. 2013 Tentang Perubahan Atas Permenhut No.69/Menhut-II.

perencanaan dan pelaksanaan monitoring evaluasi. dikembangkan kerjasama dan kemitraan bidang KSDAHE dengan sumber dana bersifat hibah. Kendala yang sering muncul dalam pelaksanaan kegiatan adalah koordinasi dalam penyusunan dokumen perjanjian tersebut yang memerlukan sinkronisasi program kegiatan. Padatahun 2013 realisasinyayaitusebanyaktigadokumen perjanjian kerjasama yang ditandatangani yaitu : a) Project ITTO di Betung Kerihun. pelaksanaan kegiatan yang masih memerlukan pendalaman dan koordinasi seperti pada penatausahaan hibah dan kerjasama dan evaluasi kerjasama diupayakan untuk se-optimal mungkin dan berkembang seiring dengan dinamika kerjasama dan peraturan baru yang menjadi landasan dalam pengelolaan kerjasama melalui "learning by doing" dan penentuan skala prioritas untuk dapat mencapai Indikator Kinerja. Selain itu. dan Maluku Utara. 4) Kurangnya tenaga legal drafter. b) kerjasama dengan JICS c) Plan of Operation antara PHKA dengan UNESCO. khususnya dalam pendanaan. MoU. non komersial dan asistensi tehnik. Bangka Belitung. Hal ini dimaksudkan untuk mengisi ”gap” input dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi PHKA. Banten. Tujuannya adalah agar pelaksanaan pengelolaan KSDA-E terlaksana secara optimal. 5) Jumlah Peningkatan Dokumen Kerjasama Dan Kemitraan Bidang KSDAH Dan E Dengan Sumber Daya Bersifat Hibah. telah difinalkan juga dokumen kerjasama (Proposal. Sulawesi Barat. mengakibatkan lambatnya proses penyusunan. Meminta masukan UPT dan Direktorat terkait secara berkala agar mendapatkan respons secara cepat guna penyusunan draf peraturan perundang-undangan. 6) Pembentukan UPT Baru Direktorat Jenderal PHKA Dengan telah terbentuknya beberapa Provinsi baru maka dipandang perlu untuk membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Konservasi Sumber Daya Alam Baru di Provinsi-Provinsi pemekaran. kapasitas Sumber Daya Manusia maupun sarana dan prasarana. Tindak lanjut untuk menghadapi permasalahan diatas diantaranya adalah: 1. Asistensi Teknis Dan Program Penghapusan Hutang Melalui DNS Dalam rangka mendukung pengelolaan SDAH dan Ekosistemnya. d) Rencana pelaksanan proyek Ecosystem Leuser. c) Proposal kerjasama dengan Korea Environment Institute. Sampai saat ini LAKIP DITJEN PHKA 2013 92 . Rencana Kerja) yaitu: a) Host Country Agreement IUCN. b) MSP antara Kemenhut dengan Fauna Flora Internasional. yaitu Kepulauan Riau. Gorontalo. Non Komersial. Namun demikian. e) rencana kerja kerjasama antara Ditjen PHKA dengan Korea National Park Service.

telah dilaksanakan pembahasan struktur organisasi. tugas pokok dan fungsi Balai KSDA. Menyikapi hal tersebut pada tahun 2012 masih terus dilakukan kegiatan koordinasi dan konsultasi baik dengan Biro Hukum dan Organisasi serta Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. PERBANDINGAN CAPAIAN KINERJA DENGAN TAHUN SEBELUMNYA Seyogyanya capaian kinerja dari suatu instansi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Naskah tersebut telah disampaikan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal PHKA ke Biro Hukum dan Organisasi melalui Surat Nomor S. terdapat kebijakan bahwa tidak diperbolehkan merencanakan dan/atau membentuk lembaga/badan/institusi baru lainnya maupun mengubah struktur/tugas pokok/fungsi dari lembaga/badan/institusi lainnya yang sudah ada kecuali atas perintah langsung Presiden. dan penelaahan tingkat kesiapan Unit Pelaksana Teknis (UPT) baru. Per/18/MPAN/11/2008 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis Kementerian dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian untuk pembentukan UPT baru harus dilampiri dengan Naskah Akademis Pembentukan UPT KSDA. D.Perkembangan pencapaian kinerja sasaran yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal PHKA dari tahun 2010-2013 dan pencapaian target terhadap rencana 5 tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini LAKIP DITJEN PHKA 2013 93 . Akan tetapi berdasarkan Kontrak Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II 2009 – 2014. Sesuai Peraturan Menpan No. 2816/ Set-2/ 2011 perihal Naskah Akademis Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam.

Tabel 39. Perbandingan Capaian Kinerja Sasaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2010 –2013
NO Sasaran Strategis Hingga Targe 2010 2011 2012 2013
2014 t s.d. Rencana Realisasi % % thd Rencan Realisasi % % thd Rencana Realisasi % % thd Rencana Realisasi % % thd
Tahun kinerja target a kinerja target 5 kinerja target 5 kinerja target 5
2014 5 tahun thn thn thn
1 Terwujudnya penurunan 5% 1% 1,80% 180 36,00 1% 1,40% 140 48,00 1% 1,62% 162 96,40 1% 0,49% 49,19 106,24
konflik dan tekanan
terhadap kawasan 5000 ha 9000 ha 5000 ha 7000 ha 5000 ha 8100 5000 ha 2.459,7 ha
Taman Nasional dan ha
kawasan konservasi
lainnya (CA, SM, TB) dan
HL sebanyak 5%.
2 Terlaksananya 3% 0% 0% 0 0 1% 13,68% 1368 456 1,50% 32,40% 2160 1080 2% 46,62% 2331 2331
pengelolaan
keanekaragaman hayati
dan peningkatan
populasi spesies prioritas
utama yang terancam
punah sebesar 3 %
sesuai kondisi biologis
dan ketersediaan
Habitat
3 Tercapainya penurunan 75% 15% 61,58% 410,55 82,11 30% 84,57% 281,89 112,76 45% 59,24% 131,65 78,99 60% 69,18% 115,3 90,43
bidang Tindak Pidana 0
Kehutanan sebesar 50% Juml Juml Jml Jmlh
dari tahun 2009 kasus=17 kasus=162, kasus=21 kasus=146,
7, P21= P21 137 1, P21=101
109 P21=125
4 Tercapainya penurunan 67,20 20% 68,41% 342,05 342,05 36% 51,65% 143,47 143,47 48,80% 45,11% 92,44 92,44 59,20% 68,10% 115,0 115,03
jumlah hotspot di 10 % 3
Provinsi rawan 8252 28.474 32.323 18.778
kebakaran sebesar 20 % titik titik titik titik
setiap tahun dan
Penurunan luas areal
hutan yang terbakar
hingga 50 % dari rerata
2005 - 2009

LAKIP DITJEN PHKA 2013 94

NO Sasaran Strategis Hingga Targe 2010 2011 2012 2013
2014 t s.d. Rencana Realisasi % % thd Rencan Realisasi % % thd Rencana Realisasi % % thd Rencana Realisasi % % thd
Tahun kinerja target a kinerja target 5 kinerja target 5 kinerja target 5
2014 5 tahun thn thn thn
5 Terwujudnya 60% 3 unit 0 0 0 6 unit 1 unit 16,67 6,67 9 unit 11 unit 122 73,33 12 unit 31 unit 258,3 258,33
peningkatan (15 3
pemanfaatan jasa unit)
lingkungan dan destinasi
wisata alam yang dapat
berperan dalam pasar
wisata nasional
6 Terwujudnya Taman 12 4 0 0 0 4 4 100 33,33 1 1 100 41,67 4 4 100 75
Nasional dan kawasan unit
konservasi lainnya
dengan potensi
keanekaragaman
hayatinya tinggi,
terdapat spesies langka
dan flagship, atau
mempunyai fungsi
pelindung hulu sungai,
dan atau memiliki
potensi wisata alam
signifikan, sudah dapat
mandiri untuk
membiayai seluruh atau
sebagian program
pengembangan
konservasi dalam bentuk
BLU, DNS, Trust Fund, dan
kolaborasi

LAKIP DITJEN PHKA 2013 95

Berdasarkan tabel 39 dapat diketahui terdapat empat sasaran strategis yang
realisasi kinerjanya telah melebihi target selama lima tahun sebagaimana ditetapkan
dalam Renstra Direktorat Jenderal PHKA 2010-2014. Terdapat dua sasaran strategis yang
capaian kinerjanya sampai dengan 2013 belum melebihi target 5 (lima) tahun yaitu
sasaran ketiga”Tercapainya penurunan bidang Tindak Pidana Kehutanan sebesar 50%
dari tahun 2009”capaian kinerjanya sebesar 90,43%; dan sasaran keenam “Terwujudnya
Taman Nasional dan kawasan konservasi lainnya dengan potensi keanekaragaman
hayatinya tinggi, terdapat spesies langka dan flagship, atau mempunyai fungsi pelindung
hulu sungai, dan atau memiliki potensi wisata alam signifikan, sudah dapat mandiri untuk
membiayai seluruh atau sebagian program pengembangan konservasi dalam bentuk
BLU, DNS, Trust Fund, dan kolaborasi” capaian kinerjanya sebesar 75%.

Apabila dibandingkan dari tahun 2010-2013 kinerja sasaran yang mengalami
penurunan capaian kinerja yaitu sasaran pertama “Terwujudnya penurunan konflik dan
tekanan terhadap kawasan Taman Nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA, SM, TB)
dan HL sebanyak 5%”, akan tetapi apabila dibandingkan dengan target selama lima
tahun capaian kinerjanya telah lebih dari 100%. Realisasi penurunan konflik dan tekanan
terhadap KK seluas 26.559,8 Ha, sedangkan target yang telah ditetapkan selama lima
tahun sebesar 25.000 ha.

E. AKUNTABILITAS KEUANGAN

1. Pagu Anggaran 2013
Kegiatan Direktorat Jenderal PHKA selama tahun 2013 didukung oleh anggaran
sebesar Rp. 1.679.517.845.000,- yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) Bagian Anggaran 029. Dibandingkan dengan tahun 2012
besarnya anggaran pembangunan bidang bidang PHKA tahun 2013 mengalami
peningkatan sebesar 14,94%. Anggaran tersebut mengalami peningkatan
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.Gambaran selengkapnya perkembangan
anggaran Direktorat Jenderal PHKA tahun 2005-2013 (dalam ribuan) seperti dibawah
ini.

1.800.000.000
1.600.000.000
1.400.000.000
1.200.000.000
1.000.000.000
800.000.000
600.000.000
400.000.000
200.000.000
0
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Pagu 377.21 441.68 721.79 717.24 730.82 1.209. 1.282. 1.461. 1.679.

Gambar 14.Grafik Perkembangan Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2005 -
2013

LAKIP DITJEN PHKA 2013 96

000 3. Komposisi pagu anggaran per jenis belanja disajikan dalam tabel berikut: LAKIP DITJEN PHKA 2013 97 .165. Anggaran Direktorat Jenderal PHKA digunakan untuk membiayai satu program dan delapan kegiatan. sedangkan jumlah UPT KSDA sebanyak 27 satker.45 1 5 Direktorat KKH 20.000 3.20 1 6 Direktorat PJLKKHL 21. dan belanja modal.517.297.441. Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Satker NO. Besarnya alokasi anggaran untuk Kegiatan Pengembangan dan Pengelolaan Taman Nasional dan Kegiatan Pengembangan dan Pengelolaan KSDA disebabkan karena jumlah UPT Taman Nasional banyak yaitu 50 satker. Dana dekonsentrasi bidang PHKA diberikan kepada 33 (tiga puluh tiga) Dinas Kehutanan Provinsi untuk membiayai kegiatan pengembangan kawasan konservasi dan ekosistem esensial dan pembinaan hutan lindung. Rincian alokasi anggaran Ditjen PHKAberdasarkan Satker Pusat dan Daerah selengkapnya disajikan dalam tabelberikut: Tabel 40.929. selain itu juga diberikan kepada pemerintah daerah melalui mekanisme dana dekonsentrasi.387.000 2.913.188.40%.163.26 1 4 Direktorat KKBHL 41.60%.453. Dilihat dari jenis belanjanya.375.679.289.83% dan yang kedua yaitu untuk Kegiatan Pengembangan dan Pengelolaan KSDA sebesar 37.36 1 3 Direktorat PKH 88.000 42. penyidikan dan pengamanan hutan.000 82. anggaran Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 terdiri dari tiga jenis belanja yaitu belanja pegawai.845.392. Satker Daerah 1 Balai/Balai Besar TN 719.454.000 1.000 5.518.26 1 Jumlah A 292.87 1 2 Direktorat PPH 56.360.60 110 JUMLAH A + B 1. sedangkan untuk satker pusat hanya 17.000 17.60%.732.17 33 (Dana Dekonsentrasi) Jumlah B 1.000 100 116 Sumber: Setditjen PHKA. SATKER ANGGARAN (Rp) % Jumlah Satker A.439. 2013 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa alokasi anggaran Ditjen PHKA terbesar digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan di satker daerah yaitu mencapai 82.000 1. belanja barang.267.60 27 KSDA 3 Dinas Kehutanan 36. Alokasi anggaran paling besar adalah untuk Kegiatan Pengembangan dan Pengelolaan Taman Nasional sebesar 42.000 37.83 50 2 Balai/Balai Besar 631.787.230.40 6 B.395. Satker Pusat 1 Setditjen PHKA 64.228.000 2. pengendalian kebakaran.Anggaran tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan bidang PHKA yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal PHKA baik di Pusat maupun UPT di daerah.705.

517. dapat dilihat bahwa belanja barang mempunyai alokasi anggaran terbesar dibandingkan dengan jenis belanja yang lainnya.37 3 Belanja Modal 355.793.48 218. Tabel 41.37 60. yaitu sebesar 52.33 192.882.07 2013 444.833.213.47 21.00 26.000 21.845.731. Perbandingan Alokasi Anggaran Per Jenis Belanja Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Perbandingan komposisi pagu perjenis belanja tahun 2010-2013 dapat dilihat pada tabel 42.735. Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Jenis Belanja NO.726. terbesar kedua yaitu anggaran untuk belanja pegawai yaitu sebesar 26.47 879.265.000 0.000 14.03 4.334.275. bahkan untuk belanja sosial untuk tahun 2013 tidak dianggarkan atau 0. JENIS BELANJA ANGGARAN (Rp) % 1 Belanja Pegawai 444. 2013 LAKIP DITJEN PHKA 2013 98 .16 20.801.275.334. akan tetapi berbeda halnya untuk belanja modal dalam tiga tahun terakhir presentasenya meningkat.608.561.000 28. Pada Tahun 2013 tidak dialokasikan pagu belanja sosial. 52.000 15.000 21.000 0.620.00 Sumber: Setditjen PHKA.00 - Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Gambar 15. 2013 Berdasarkan komposisi pagu anggaran 2013 berdasarkan jenis belanja.000 49.28 722. Gambaran alokasi anggaran per jenis belanja disajikan dalam gambar berikut.97 975.500.679. Tabel 42.16 JUMLAH 1.209.47%.000 26.557.119.594.37%.620.47 2 Belanja Barang 879.000 26.000 52.000 26.000 52.92 593.737.35 2012 430.737.000.000 29.00 2011 362.00 40. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa trend tiga tahun terakhir belanja pegawai dan belanja barangdari segi persentase semakin menurun.562.37 355.562.48 810.307.534.000 56.05 290.833.03 0 0.000 55.000.805.000 100 Sumber: Setditjen PHKA.16 0 0. Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Berdasarkan Jenis Belanja Tahun 2010- 2013 Tahun Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Belanja Sosial Rp % Rp % Rp % Rp % 2010 325.000 24.698.

441.go.897 90.58 1 4 Direktorat KKBHL 41.000 420.000 60. Rincian pagu dan Realisasi anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 berdasarkan satker disajikan dalam Tabel berikut: Tabel 43.97 6 B.913.328.004.20%. Realisasi Anggaran 2013 Dari pagu anggaran Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 sebesar Rp 1.512.033. JENIS BELANJA ANGGARAN (Rp) REALISASI (Rp) % 1 Belanja Pegawai 444.66 1 Jumlah A 292..41 110 JUMLAH A + B 1.696.000 92.845.268.000 19. Satker Daerah 1 Balai/Balai Besar TN 719.03 116 Sumber: www.392. Satker Pusat 1 Setditjen PHKA 64.267.85 1 3 Direktorat PKH 88.721 93.33%.000 551.679.monev.-.705.20 50 2 Balai/Balai Besar KSDA 631.228.285.478.732.000 656.454.anggaran.505.787.787.395.000 32.084.324.632 104. Pagu dan Realisasi Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Jenis Belanja NO.427 89.399.387.452.453.246 92.245.343.325.000 47.240.806 91.163. sedangkan untuk satker daerah penyerapan anggaran terkecil pada Balai/ Balai Besar KSDA yaitu 87.375.439. Untuk penyerapan anggaran terkecil pada satker pusat yaitu Direktorat KKBHL sebesar 83.611.000 1. Pagu dan Realisasi Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013Berdasarkan Satker NO.620.000 34.03%.Berikut ini disajikan penyerapan anggaran tahun 2013 Direktorat Jenderal PHKA berdasarkan jenis belanja: Tabel44.742.165.740.897.056.408 87.33 27 3 Dinas Kehutanan 36.57 1 5 Direktorat KKH 20. SATKER ANGGARAN (Rp) REALISASI (Rp) % Jumlah Satker A. Realisasi per Satker Lingkup Ditjen PHKA dapat dilihat pada lampiran 8.588 94.275.289.360.58% hal tersebut karena terdapat realisasi non kas yang berasal dari Hibah Luar Negeri (HLN) yaitu proyek Hibah Luar Negeri yang berupa barang/ jasa dari JICA pada Direktorat PKH.683. dengan total realisasi hibah Rp.350.atau 90.id.56 LAKIP DITJEN PHKA 2013 99 .000 17.01 1 2 Direktorat PPH 56. 2.328.033.929. Selain realisasi DIPA.679.459.2013 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa penyerapan anggaran terbesar untuk satker pusat yaituDirektorat PKH sebesar 104.297.328.518.09 33 (Dana Dekonsentrasi) Jumlah B 1.512.074 87.03 1 6 Direktorat PJLKKHL 21.917.393. 11.depkeu.517.470 92. Sedangkan untuk satker daerah yang mempunyai realisasi terbesar adalah Balai/ Balai Besar Taman Nasional sebesar 91.000 1.517.770.000 271.133 83.547 90.230.330 83.57%.606.000. penyerapan anggaran sampai dengan tanggal 31 Desember 2013 adalah sebesar 1.845..188.

845.104.03 Sumber: www.224 87.07 94.334. Kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan.53 74.19 94.go.56 B.85 0 Gambar 16.21 3 Belanja Modal 355. Terdapat tiga kegiatan yang di laksanakan oleh Dinas Kehutanan 33(tiga puluh tiga) Provinsi di seluruh Indonesia dalam mekanisme dana dekonsentrasi yaitu Kegiatan Pengembangan Kawasan Konservasi. realisasi terbesar adalah belanja pegawai (94. Untuk belanja modal realisasi tahun 2013 lebih rendah apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2012.328. 2013 Berdasarkan tabel diatas dapat dikerahui bahwa berdasarkan jensi belanja.000 767.517. Sosial B.512.221. dan Kegiatan Penyidikan dan Pengamanan Hutan.46 82.000 324.anggaran.56%) sedangkan yang terendah adalah realisasi belanja barang (87.01 73. Jika dilihat perkembangan realisasi anggaran Direktorat Jenderal PHKA empat tahun terakhir 2010-2013 per jenis belanja.897 90.id.21). Pegawai 40 20 B.365.Perkembangan Realisasi Per Jenis Belanja Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2010-2013 Penganggaran Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 digunakan untuk membiayai delapan kegiatan. Sosial 0 67.476. NO.737. Barang 69. Untuk belanja barang realisasi tahun 2013 lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.depkeu.38 101.78 59.000 1. Sedangkan untuk belanja sosial realisasi tahun ini 0 karena tidak ada anggaran untuk belanja sosial.monev.32 B. Modal 80. Gambaran perkembangan realisasi per jenis belanja Direktorat Jenderal PHKA tahun 2010-2013 disajikan dalam grafik berikut: 120 100 80 60 B. dapat dilihat bahwa pada tahun 2013.02 91.085 91.66 87. untuk belanja pegawai realisasinya lebih tinggi dari tahun 2012.21 B.033. Ekosistem Esensial dan Pembinaan Hutan Lindung.679.562.32 JUMLAH 1. JENIS BELANJA ANGGARAN (Rp) REALISASI (Rp) % 2 Belanja Barang 879. Modal 2010 2011 2012 2013 B. Barang 0 B. Pegawai 101.833.51 91. Realisasi anggaran berdasarkan kegiatan disajikan dalam tabel berikut: LAKIP DITJEN PHKA 2013 100 .

000 166.68%).806724.806 91.242.913. sebagaimana disajikan dalam Tabel 46.454.360.512.24 Species dan Genetik LAKIP DITJEN PHKA 2013 101 .65 Hutan 2 Pengembangan Kawasan 184.000 41.depkeu.id.090 85.721 92.62% disebabkan karena beberapa kegiatan penanganan kasus tipihut di pusat maupun di daerah tidak dilaksanakan.992. serta kegiatan Penyidikan dan Pengamanan Hutan sebesar85.328.705.738.000 101.94 Konservasi. Besarnya realisasi untuk kegiatan ini disebabkan karena adanyaalokasi untuk belanja gaji.022.20 Pengelolaan Taman Nasional 8 Dukungan Manajemen dan 64.255.929.anggaran.Pada tabel tersebut dapat diketahui bahwa total penyerapan untuk kegiatan Penyidikan dan Pengamanan Hutan paling rendah yaitu 85.439.897 90.435.375.03 Sumber: www.914. Ekosistem Esensial dan Pembinaan Hutan Lindung 3 Pengendalian Kebakaran Hutan 174. Ekosistem Esensial.611.490.96 5 Penyidikan dan Pengamanan 74.459.165.197.518.033.000 63.81 Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam TOTAL 1. Pagu dan Realisasi Anggaran Direktorat Jenderal PHKA Tahun 2013 Berdasarkan Enam Kegiatan No.406. Nama Kegiatan Pagu Realisasi % 1 Penyidikan dan Perlindungan 193.830.693.000 74. dan Pembinaan Hutan Lindung 2 Pengembangan Konservasi 20.305.408 87.69 4 Pengembangan Konservasi 83.000 166. sehingga anggaran Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 dapat dikelompokkan menjadi enam kegiatan. Tabel 46.00 159.517.611.33 Konservasi Sumber Daya Alam 7 Pengembangan dan 719.084.379 85.557.00 60.267.000 656. dan Pembinaan Hutan Lindung mempunyai realisasi paling rendah sebesar 84.770. Tabel 45. Kegiatan UPT baik di KSDA maupun TN sesungguhnya melaksanakan kegiatan- kegiatan yang menjadi tanggungjawab eselon II pusat.2013 Dari tabel 45 diatas diketahui bahwa dua kegiatan paling rendah realisasinya yaitu Kegiatan Pengembangan Kawasan Konservasi.478.514.087.475 95.864.000 1.94%.go.820 84.326.246 92.317.231 86.679.845.393.165. pembangunan gedung yang masuk didalamnya.000 19.325.090. Ekosistem Esensial.270.865 89.285.230.monev.66 Jasa Lingkungan 4 Pengendalian Kebakaran Hutan 98.282. dan keperluan perkantoran.056.29%.000 17. tunjangan.732 102.074 87.55 Konservasi.000 551. Sedangkan untuk realisasi terbesar adalah pada kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas teknis lainnya Ditjen PHKA (90.29 Hutan 6 Pengembangan Pengelolaan 631.606.754.03 Spesies dan Genetik 3 Pengembangan Pemanfaatan 21. Pagu dan Realisasi Anggaran Ditjen PHKA Tahun 2013 Berdasarkan 8 (delapan) Kegiatan NO KEGIATAN PAGU(Rp) REALISASI (Rp) % 1 Pengembangan Kawasan 49.

Penyerapan komponen belanja pegawai yang masih rendah adalah untuk belanja honorarium. 4.monev. Meningkatkan jumlah dan kemampuan SDM khususnya terkait pengadaan barang dan jasa melalui pelatihan dan melakukan proses pengadaan barang dan jasa lebih awal. Belanja Pemeliharaan. LAKIP DITJEN PHKA 2013 102 . realisasi anggaran Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 tidak cukup tinggi.689.679. Kegiatan Pengelolaan Radio Komunikasi berupa jasa perawatan Radio Komunikasi tidak dapat dilaksanakan karena menunggu petunjuk operasional pemeliharaan SKRT dari Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan. 5.220. Paket Meeting / Pembahasan (OH) karena pagu yang terlalu besar (khususnya Satker pusat) Upaya tindak lanjut yang dilakukan.284 89. 3. Meningkatkan koordinasi dalam rangka mendorong percepatan penyusunan petunjuk opreasional pemeliharaan SKRT Kementerian kehutanan 4.857.anggaran.563 90.978.03%. belanja tunjangan khusus dan pegawai transito 2. Mengoptimalkan perencanaan baik dalam hal penganggaran maupun teknis pelaksanaan di lapangan. antara lain: 1. dan KPK.71 Jasa Lingkungan 6 Dukungan manajemen dan 963. Mengoptimalkan penganggaran khususnya untuk kegiatan terkait perjalanan dinas (OT).897 90. proses lelang terlambat sehingga realisasi tidak maksimal atau bahkan tidak terrealisasi sama sekali. belanja lembur. beberapa kegiatan penanganan kasus tipihut tidak bisa dilaksanakan karena memerlukan kesiapan personel dari instansi lain seperti operasi gabungan pamhut.391. Anggaran untuk pengadaan barang/jasa tidak terserap optimal karena keterbatasan SDM pejabat pengadaan barang. yaitu sebesar 90. No.680.000 1.000 71. paket meeting/pembahasan (OH) sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan organisasi. seperti Kepolisian. Memprioritaskan lokasi penanganan tindak pidana kehutanan berdasarkan data kasus yang ada.id.196. 5.000 873.go.depkeu. Nama Kegiatan Pagu Realisasi % 5 Pengembangan Pemanfaatan 79.03 Sumber: www. 2013 Secara umum. Belanja Barang yang yang tidak optimal terserap antara lain: Belanja Jasa.65 pelaksanaan tugas teknis lainnya Ditjen PHKA TOTAL 1. 2.033. Perjalanan Dinas (OT). Meningkatkan kapasitas SDM khususnya Polhut dan PPNS serta koordinasi dengan berbagai pihak. Kejaksanaan.328.512.112.517. Terkait kegiatan penyidikan dan pengamanan hutan. Beberapa hal yang menjadi kendala dalam penyerapan anggaran adalah sebagai berikut : 1.845. 3.

245. perambahan.94% dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar Rp.03%.517.328. Berbagai capaian tersebut tercermin dalam capaian Penetapan Kinerja Tahun 2013 beserta analisisnya. 11. 2. 1. dengan rincian sebagai berikut:  Presentase penurunan konflik dan tekanan terhadap kawasan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA. Pulau Sumatera. SARAN 1.033. Hasil capaian kinerja enam sasaran strategis yang ditetapkan ..512.25%. dan Pulau Sulawesi dari retara 2005-2009 (115.628.000. dengan mempertimbangkan tujuan organisasi secara tepat dan kemampuan sumber daya yang tersedia serta kemampuan yang ada termasuk berbagai faktor yang mempengaruhi perubahan alokasi anggaran tahun berjalan. Agar pelaksanaan program dan kegiatan dapat dilaksanakan secara optimal sesuai dengan target indikator kinerja yang telah ditetapkan. 1.30%)  Persentase penurunan hotspot di Pulau Kalimantan.500.-. Penyerapan anggaran sampai dengan tanggal 31 Desember 2013 adalah sebesar Rp.696. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 ini menyajikan berbagai keberhasilan maupun kegagalan capaian kinerja pada tahun anggaran 2013.atau 90. perdagangan TSL illegal. secara umum dapat memenuhi target dan rencana yang telah ditetapkan dalam dokumen Penetapan Kinerja yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal PHKA dengan Menteri Kehutanan.273. KESIMPULAN 1. SM dan TB) dan HL (49.000. Direktorat Jenderal PHKA memiliki pagu sebesar Rp 1..Jumlah ini mengalami peningkatan 14.19%)  Persentase peningkatan populasi species terancam punah dari kondisi tahun 2008 sesuai ketersediaan habitat (150%)  Presentase penyelesaian kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging.461. Hasil pengukuran kinerja sasaran menunjukkan rata-rata capaian sasaran Direktorat Jenderal PHKA tahun 2013 sebesar 113. penambangan illegal dan kebakaran) (115. B.679. dengan rincian Non Hibah sebesar Rp 1.dan Hibah Luar Negeri sebesar Rp.269.845. A. 2..337. Untuk pelaksanaan anggaran tahun 2013..126. langkah percepatan pelaksanaan kegiatan pada awal tahun anggaran dan perkembangan masalah-masalah aktual di bidang KSDAHE.897. Penyusunan rencana pelaksanaan program dan kegiatan guna pencapaian target indikator kinerja yang telah ditetapkan harus dilakukan secara lebih cermat.03%)  Jumlah peningkatan pengusahaan pariwisata alam di bandingkan tahun 2008 (150%)  Jumlah satker yang dipersiapkan dalam pembentukan satker PK-BLU (100%) 3.083. maka optimalisasi LAKIP DITJEN PHKA 2013 103 .

LAKIP DITJEN PHKA 2013 104 . Dengan sinergitas tersebut. sehingga realisasi anggaran yang digunakan untuk melakukan kegiatan berbanding lurus dengan output maupun outcomes kegiatan yang bersangkutan. 4. mekanisme manajemen internal organisasi di lingkungan Direktorat Jenderal PHKA akan ditingkatkan untuk secara pro aktif memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan berbagai kegiatan yang dilaksanakan. mengingat berbagai pencapaian target indikator yang telah ditetapkan hanya dapat dilakukan dengan melibatkan segenap instansi pemerintah pusat dan daerah. bermanfaat dan akuntabel. kinerja organisasi dapat benar-benar terukur. Upaya koordinasi dan peningkatan kerjasama dengan berbagai instansi terkait baik di pusat maupun daerah akan dilakukan dengan lebih intensif. dunia usaha dan stakeholders lainnya. masyarakat. 3. Perlu diupayakan sinergitas antara laporan kinerja dan laporan keuangan sebagai satu kesatuan.

Trust Fund. lingkungan hidup pelindung hulu sungai. dan kolaborasi. TB) dan dan HL sebanyak 5%. . SM. Trust konservasi Fund. sudah dapat serta mandiri untuk peningkatan membiayai seluruh atau penerimaan sebagian program negara dan pengembangan masyarakat dari konservasi dalam kegiatan bentuk BLU. pengembangan konservasi lainnya termasuk kelestarian hayati sebagai terdapat spesies langka konservasi dalam bentuk HL dan ekosistem esensial keanekaragaman bagian dan flagship. sumberdaya alam. atau BLU. DNS. terpenting mempunyai fungsi kolaborasi. terjaminnya hak. Terwujudnya penurunan Prosentase penurunan konflik dan tekanan konflik dan tekanan terhadap kawasan terhadap kawasan Taman Nasional dan Taman Nasional dan kawasan konservasi kawasan konservasi lainnya (CA. Lampiran 1. FORM RENCANA STRATEGIS DITJEN PHKA TAHUN 2010-2014 Visi : Menjadi Institusi Terdepan dan Terpercaya Dalam Penyelamatan Biodiversitas pada Skala Global Tujuan Misi Sasaran Cara Mencapai Tujuan dan Sasaran Keterangan Uraian Uraian Uraian Indikator Kebijakan Program Terwujudnya Mengoptimalkan Terwujudnya Taman Jumlah TN dan KK lainnya Meningkatkan Konservasi Tujuan yang peningkatan keberadaan Nasional dan kawasan yang sudah dapat pengelolaan dan Keanekaragaman tercantum kemandirian kawasan konservasi lainnya mandiri untuk membiayai pendayagunaan Hayati dan merupakan pengelolaan konservasi dengan potensi seluruh atau sebagian sumberdaya alam taman Perlindungan tujuan kawasan beserta keanekaragaman program nasional dan kawasan Hutan Program konservasi. biodiversitas hayatinya tinggi. hak negara atas dan atau memiliki kawasan hutan potensi wisata alam dan hasil hutan signifikan. HL sebanyak 5%. TB) lainnya (CA. DNS. dan hayati. SM.

perdagangan hasil hutan dan peredaran hasil hutan illegal serta tumbuhan dan satwa liar dilindungi.2009 Meningkatkan Terwujudnya Jumlah pemanfaatan Meningkatkan penerimaan pemanfaatan peningkatan jasa lingkungan dan negara. dan . perambahan hak-hak negara Kehutanan sebesar 50% Kehutanan sebesar 50% kawasan konservasi.Tujuan Misi Sasaran Cara Mencapai Tujuan dan Sasaran Keterangan Uraian Uraian Uraian Indikator Kebijakan Program Terlaksananya Prosentase pengelolaan Menyelamatkan spesies pengelolaan keanekaragaman hayati kunci dilindungi dan keanekaragaman dan peningkatan meningkatkan kualitas hayati dan populasi spesies prioritas konservasi peningkatan populasi utama yang terancam keanekaragaman hayati spesies prioritas utama punah sebesar 3 % sesuai dan nilai produk tumbuhan yang terancam punah kondisi biologis dan dan satwa liar sebesar 3 % sesuai ketersediaan Habitat. tenaga kerja dan jasa lingkungan pemanfaatan jasa destinasi wisata alam pendapatan masyarakat dan wisata alam lingkungan dan yang dapat berperan sekitar hutan dari yang berkualitas destinasi wisata alam dalam pasar wisata pemanfaatan jasa dan lestari untuk yang dapat berperan nasional lingkungan (khususnya air kesejahteraan dalam pasar wisata dan carbon) dan wisata masyarakat nasional alam. Menegaskan Tercapainya penurunan Prosentase penurunan Menekan aktivitas illegal dan menjamin bidang Tindak Pidana bidang Tindak Pidana logging. kondisi biologis dan ketersediaan Habitat. Meningkatkan Tercapainya penurunan Prosentase penurunan Meningkatkan upaya– kapasitas jumlah hotspot di 10 jumlah hotspot di 10 upaya sistem pencegahan pengendalian propinsi rawan propinsi rawan pemadaman. atas hutan dan dari tahun 2009 dari tahun 2009 perburuan. kebakaran hutan kebakaran sebesar 20 % kebakaran sebesar 20 % penanggulangan dampak setiap tahun dan setiap tahun dan kebakaran hutan dan Penurunan luas areal Penurunan luas areal lahan hutan yang terbakar hutan yang terbakar hingga 50 % dari rerata hingga 50 % dari rerata 2005 – 2009 2005 .

konservasi alam dan dukungan teknis Ditjen PHKA secara optimal yang didorong kepada kemandirian dan produktifitas . (di 68 UPT) pembinaan.Tujuan Misi Sasaran Cara Mencapai Tujuan dan Sasaran Keterangan Uraian Uraian Uraian Indikator Kebijakan Program Memperkuat Tercapainya Jumlah UPT dengan Meningkatkan kapasitas peningkatan kapasitas klasifikasi lengkap karena kelembagaan kelembagaan kelembagaan UPT PHKA adanya peningkatan pengelolaan kawasan perlindungan dengan klasifikasi kapasitas kelembagaan konservasi (UPT). koordinasi. hutan dan lengkap di 68 UPT.

per bulan per kepala keluarga (sebesar 30%) melalui upaya pemberdayaan masyarakat. SM dan TB) dan HL 2 Persentase peningkatan % 2 pengelolaan ekosistem esensial sebagai penyangga kehidupan 3 Jumlah propinsi prioritas propinsi 3 penanganan perambahan kawasan hutan 4 Restorasi ekosistem kawasan Ha 150. 447 ha mencakup 5 TN 5 Jumlah TN lokasi peningkatan TN 10 efektifitas pengelolaan kawasan konservasi melalui pengelolaan berbasis resort 6 Jumlah provinsi lokasi provinsi 2 peningkatan pengelolaan kawasan konservasi ekosistem gambut 7 Persentase peningkatan % 24 pendapatan masyarakat sekitar KK tertentu mejadi minimal Rp.000 terhadap kawasan Taman terhadap kawasan taman Hayati dan Ekosistem Esensial dan OUTPUT : Nasional dan kawasan nasional dan kawasan Perlindungan Hutan Pembinaan Hutan 1 Persentase penurunan konflik dan % 1 konservasi lainnya (CA. SM. 2 Terlaksananya Persentase peningkatan % 2. URAIAN INDIKATOR TARGET URAIAN INDIKATOR SATUAN TARGET 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 Terwujudnya penurunan Persentase penurunan % 1 Konservasi Pengembangan INPUT : konflik dan tekanan konflik dan tekanan Keanekaragaman Kawasan Konservasi. SM Lindung tekanan terhadap kawasan TB) dan HL sebanyak 5%..Lampiran 2 RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TINGKAT UNIT ORGANISASI ESELON 1 KEMENTERIAN KEHUTANAN Eselon I : Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Tahun : 2013 (FORM RKT) SASARAN PROGRAM KEGIATAN KET NO.0 Pengembangan INPUT : pengelolaan populasi species Konservasi Species Dana Rp. dan TB) dan HL taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA.364. konservasi lainnya (CA. 189. 800.585.5 konservasi.222.176.000. Dana Rp.000 keanekaragaman hayati terancam punah dari dan Genetik OUTPUT : dan peningkatan populasi kondisi tahun 2008 sesuai 1 Persentase peningkatan populasi % 2 spesies prioritas utama ketersediaan habitat species terancam punah dari yang terancam punah kondisi tahun 2008 sesuai sebesar 3 % sesuai kondisi ketersediaan habitat biologis dan ketersediaan Habitat 2 Jumlah aktifitas penyelenggaraan aktifitas 2 skema DNS 3 Persentase peningkatan kegiatan % 1 penangkaran dan pemanfaatan jenis keanekaragaman hayati secara lestari . 85.

000 lingkungan dan destinasi alam di bandingkan Lingkungan OUTPUT : wisata alam yang dapat tahun 2008 1 Jumlah peningkatan unit 12 berperan dalam pasar pengusahaan pariwisata alam di wisata nasional bandingkan tahun 2008 . penambangan illegal dan kebakaran) 3 Persentase penyelesaian kasus % 4 hukum perambahan kawasan konservasi 4 Jumlah provinsi lokasi provinsi 10 peningkatan kapasitas penanganan kasus kejahatan kebakaran hutan 4 Tercapainya penurunan Persentase penurunan % 59.355. Pulau Sumatera hingga 50 % dari rerata dan Pulau Sulawesi dari retara 2005 . OUTPUT : penambangan illegal dan 1 Persentase penyelesaian % 60 kebakaran) dalam tahun penanganan kasus baru tipihut berjalan (illegal logging.000 propinsi rawan kebakaran provinsi rawan kebakaran sebesar 20 % setiap tahun dari retata 2005-2009 OUTPUT : dan Penurunan luas areal 1 Persentase penurunan hotspot di % 59. perambahan.2009 2005-2009 2 Persentase penurunan luas % 40 kawasan hutan yang terbakar dibanding kondisi rerata 2005-2009 3 Jumlah DAOPS lokasi peningkatan DAOPS 6 kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam usaha pengurangan resiko.232. perambahan.238.2 Pengendalian INPUT : jumlah hotspot di 10 jumlah hotspot di 10 Kebakaran Hutan Dana Rp.000 Kehutanan sebesar 50% logging. 106. perdagangan TSL illegal.2 hutan yang terbakar Pulau Kalimantan.520. mitigas dan penanganan bahaya kebakaran hutan 5 Terwujudnya peningkatan Jumlah peningkatan % 36 (12 Pengembangan INPUT : pemanfaatan jasa pengusahaan pariwisata Unit) Pemanfaatan Jasa Dana Rp. 162. URAIAN INDIKATOR TARGET URAIAN INDIKATOR SATUAN TARGET 1 2 3 4 1 2 3 4 5 4 Jumlah kegiatan kerjasama kegiatan 1 internasional dan konversi bidang KKH 3 Tercapainya penurunan Persentase penyelesaian % 60 Penyidikan dan INPUT : bidang Tindak Pidana kasus baru TIPIHUT (illegal Pengamanan Hutan Dana Rp. perambahan. perdagangan TSL illegal. dari tahun 2009 peredaran TSL illegal. spesies prioritas utama ketersediaan habitat yang terancam punah sebesar 3 % sesuai kondisi biologis dan ketersediaan Habitat SASARAN PROGRAM KEGIATAN KET NO.201. 103.213. penambangan illegal dan kebakaran) pada tahun berjalan 2 Persentase penyelesaian % 25 tunggakan perkara tipihut (illegal logging.

kelompok pecinta alam (KPA). terdapat 1 Jumlah UPT dalam penyiapan satker 4 spesies langka dan terbangunnya sistem pengelolaan flagship. dan dan PEH dalam peningkatan kolaborasi profesionalisme melalui pendidikan. kelompok swadaya masyarakat/ kelompok profesi (KSM/KP) yang dapat diberdayakan dibandingkan tahun 2009 5 Persentase peningkatan jumlah % 80 penerimaan PNBP di bidang pengusahaan pariwisata alam dibandingkan tahun 2008 6 Jumlah kegiatan pengembangan kegiatan 1 promosi. atau mempunyai BLU pada Taman Nasional fungsi pelindung hulu sungai. Trust Fund.000 konservasi lainnya dengan pembentukan satker PK. informasi dan pemasaran konservasi SDA 6 Terwujudnya Taman Jumlah satker yang satker 4 Dukungan Manajemen INPUT : Nasional dan kawasan dipersiapkan dalam dan Tugas Teknis Dana Rp. Lainnya Ditjen PHKA potensi keanekaragaman BLU OUTPUT : hayatinya tinggi. DNS. sudah dapat dan keuangan pada 6 satker mandiri untuk membiayai pusat dan 77 satker UPT serta 33 seluruh atau sebagian Dinas Provinsi program pengembangan konservasi dalam bentuk 3 Jumlah tenaga fungsional Polhut orang 1000 BLU.096. dan pengalaman/penugasan 4 Jumlah UPT dalam peningkatan UPT 13 kapasitas kelembagaan dengan klasifikasi lengkap 5 Jumlah dokumen peraturan dokumen 3 perundangan bidang KSDAHE yang bersifat komprehensif dalam mendukung dinamika lapangan . wisata nasional URAIAN INDIKATOR TARGET URAIAN INDIKATOR SATUAN TARGET 1 2 3 4 1 2 3 4 5 2 Jumlah peningkatan ijin usaha unit 20 pemanfaatan jasa lingkungan air baru 3 Jumlah lokasi pelaksanaan KK 2 demonstration activity REDD di kawasan konservasi hutan gambut 4 Persentase peningkatan jumlah % 8 kader konservasi (KK). dan atau memiliki 2 Jumlah dokumen program dan dokumen 116 potensi wisata alam anggaran serta laporan evaluasi signifikan.933. pelatihan.150. 5 Terwujudnya peningkatan Jumlah peningkatan % 36 (12 Pengembangan pemanfaatan jasa pengusahaan pariwisata Unit) Pemanfaatan Jasa lingkungan dan destinasi alam di bandingkan Lingkungan wisata alam yang dapat tahun 2008 berperan dalam pasar SASARAN PROGRAM KEGIATAN KET NO. 1.

asistensi teknis dan program penghapusan hutang melalui DNS 7 Pembentukan UPT baru Direktorat UPT 6 Jenderal PHKA . non komersial. URAIAN INDIKATOR TARGET URAIAN INDIKATOR SATUAN TARGET 1 2 3 4 1 2 3 4 5 6 Jumlah dokumen kerjasama dan dokumen 2 kemitraan bidang KSDAH dan E dengan sumber daya bersifat hibah. SASARAN PROGRAM KEGIATAN KET NO.

.

Lampiran 5:
DATA SPESIES PRIORITAS TERANCAM PUNAH

BASELINE DATA JML POPULASI % Kenaikan % Kenaikan %Kenaikan
No. SPESIES UPT 2011 (Target 2012 (Target 2013 (Target
POPULASI 2010 2011 2012 2013 1%) 1,5%) 2%)

Banteng BTN Kayan Mentarang 14 14 22 7 12 57.14 -50.00 -14.29

Banteng BTN Ujung Kulon 124 124 124 124 124 0.00 0.00 0.00

Banteng BBKSDA Jawa Timur 28 28 28 25 25 0.00 -10.71 -10.71
1
Banteng BBKSDA Jawa Timur 19 19 19 18 18 0.00 -5.26 -5.26

Banteng BTN Meru Betiri 56 56 62 58 58 10.71 3.57 3.57

Banteng BTN Alas Purwo 57 97 100 120 120 75.44 110.53 110.53

2 Badak Jawa BTN Ujung Kulon 48 48 35 51 58 -27.08 6.25 20.83

Harimau Sumatera BBKSDA Sumatera Utara 4 4 4 6 5 0.00 50.00 25.00

Harimau Sumatera BBTN Bukit Barisan Selatan 1 1 2 4 3 100.00 300.00 200.00

Harimau Sumatera BTN Berbak 7 7 12 13 13 71.43 85.71 85.71

Harimau Sumatera BTN Bukit Tigapuluh 19 19 19 25 35 0.00 31.58 84.21

Harimau Sumatera BTN Way Kambas 22 22 24 24 24 9.09 9.09 9.09

Harimau Sumatera BBTN Gunung Leuser 8 8 8 8 5 0.00 0.00 -37.50

Harimau Sumatera BBTN Gunung Leuser 4 4 4 4 4 0.00 0.00 0.00

Harimau Sumatera BBTN Gunung Leuser 6 6 6 6 6 0.00 0.00 0.00

3 Harimau Sumatera BBTN Gunung Leuser 4 4 4 4 4 0.00 0.00 0.00

Harimau Sumatera BBTN Kerinci Seblat 22 22 22 22 22 0.00 0.00 0.00

Harimau Sumatera BBTN Kerinci Seblat 33 33 33 33 33 0.00 0.00 0.00

Harimau Sumatera BBTN Kerinci Seblat 16 16 16 16 16 0.00 0.00 0.00

Harimau Sumatera BBTN Kerinci Seblat 93 93 95 95 95 2.15 2.15 2.15

Harimau Sumatera BKSDA Jambi 12 12 12 12 6 0.00 0.00 -50.00

Harimau Sumatera BKSDA Jambi 3 3 3 3 3 0.00 0.00 0.00

Harimau Sumatera BKSDA Jambi 6 6 6 6 6 0.00 0.00 0.00

Harimau Sumatera BKSDA Bengkulu 16 16 16 16 18 0.00 0.00 12.50

Gajah Sumatera BTN Way Kambas 215 215 215 215 139 0.00 0.00 -35.35

Gajah Sumatera BBTN Kerinci Seblat 40 40 40 40 40 0.00 0.00 0.00

Gajah Sumatera BBTN Kerinci Seblat 30 30 30 30 30 0.00 0.00 0.00

Gajah Sumatera BBTN Kerinci Seblat 20 20 20 20 20 0.00 0.00 0.00

Gajah Sumatera BKSDA Jambi 8 8 8 8 6 0.00 0.00 -25.00
4
Gajah Sumatera BKSDA Jambi 117 72 117 117 72 0.00 0.00 -38.46

Gajah Sumatera TN Tesso nilo 177 177 192 192 175 8.47 8.47 -1.13

Gajah Sumatera TN Tesso nilo 8 8 9 9 9 12.50 12.50 12.50

Gajah Sumatera BBKSDA Riau 400 400 318 363 407 -20.50 -9.25 1.75

Gajah Sumatera KSDA Bengkulu 70 70 71 71 71 1.43 1.43 1.43

Babirusa BKSDA Sulawesi Tengah 36 36 36 55 55 0.00 52.78 52.78

Babirusa BTN Bogani Nani Wartabone 362 394 394 399 400 8.84 10.22 10.50

5 Babirusa BTN Kepulauan Togean 37 37 37 44 44 0.00 18.92 18.92

Babirusa BKSDA Sulawesi Utara 200 200 200 210 210 0.00 5.00 5.00

Babirusa BBTN Lore Lindu 7 7 8 8 10 14.29 14.29 42.86

Anoa BBKSDA Sulawesi Selatan 6 6 6 5 5 0.00 -16.67 -16.67

Anoa BBKSDA Sulawesi Selatan 2 2 2 2 2 0.00 0.00 0.00

6

82 1.00 BTN Gunung Gede 7 Owa Jawa 347 347 347 347 347 0.67 500.00 Anoa BKSDA Sulawesi Utara 136 136 136 136 136 0.00 Bekantan BKSDA Kalimantan Selatan 29 29 36 22 26 24.00 340.45 1.02 Orangutan BTN Bukit Baka Bukit Raya 33 33 33 23 8 0.00 -6.44 4.76 Orangutan BTN Sebangau 17 17 17 19 19 0.58 25.00 50.00 0.27 80.65 6 Anoa BKSDA Sulawesi Tenggara 12 12 12 20 23 0.34 Bekantan BKSDA Kalimantan Selatan 3 8 16 16 21 433.00 0.14 -24.00 0.00 0.00 0.29 1.00 200.00 63.33 Owa Jawa BTN Ujung Kulon 188 188 188 188 188 0.00 0.76 36.00 66.00 286.24 4.26 5.41 Komodo BTN Komodo 95 95 95 100 100 0.05 73.53 Orangutan BBTN Betung Kerihun 688 688 688 688 633 0.33 433.56 217.00 -50. BASELINE DATA JML POPULASI % Kenaikan % Kenaikan %Kenaikan No.00 5.00 Anoa BKSDA Sulawesi Utara 24 24 24 24 24 0.00 75.26 84 100 146 Jalak Bali BKSDA bali 84 118 19.14 -10.75 5.81 Anoa BKSDA Sulawesi Tenggara 34 34 34 38 40 0.00 0.76 11.79 Komodo BTN Komodo 1336 2707 2355 2406 3271 76.00 Maleo BKSDA Sulawesi Utara 320 320 320 350 350 0.76 Elang Jawa BBKSDA Jawa Timur 2 2 2 2 3 0.00 Anoa BBTN Lore Lindu 75 75 76 76 76 1.85 63.26 7.00 0.61 Orangutan BTN Danau Sentarum 888 888 896 896 0.00 Orangutan BKSDA Kalimantan Barat 372 372 372 372 372 0.30 -75.00 7.58 14.86 Anoa BTN Bogani Nani Wartabone 345 344 344 350 351 -0.00 11.00 0. SPESIES UPT 2011 (Target 2012 (Target 2013 (Target POPULASI 2010 2011 2012 2013 1%) 1.85 Maleo BTN Bogani Nani Wartabone 1000 1200 1200 1325 1370 20.17 -4.90 -100.00 9.76 Orangutan BTN Sebangau 19 19 19 21 21 0.00 0.76 17.56 95.10 14.62 -66.89 Anoa BTN Rawa Aopa Watumohai 3 3 3 9 9 0.00 0.00 Maleo BKSDA Sulawesi Tengah 877 877 877 1437 1437 0.14 17.33 120.00 Pangrango Owa Jawa BTN Halimun Salak 57 57 58 60 61 1.50 37.00 Bekantan BKSDA Kalimantan Selatan 45 45 29 88 143 -35.78 2.76 36.00 0.00 200.00 -49.00 0.00 0.67 -50.00 75.33 1.00 136 186 Maleo BTN Lore Lindu 136 186 186 36.78 3.67 91.99 8 Orangutan BKSDA Kalimantan Tengah 3116 960 3248 3248 132 4.94 Anoa BKSDA Sulawesi Tenggara 31 31 31 38 39 0.84 10 Komodo BTN Komodo 131 131 131 66 44 0.00 -30.81 40.33 1.38 9.00 Anoa BKSDA Sulawesi Tengah 55 55 56 56 56 1.00 11.00 32.00 22.00 0.48 11 30 35 15 Jalak Bali BTN Bali 30 15 16.58 Orangutan BTN Kutai 1779 1248 1858 1861 1861 4.00 10.38 Maleo BKSDA Sulawesi Utara 4558 4558 4558 4558 4558 0.74 Anoa BTN Bogani Nani Wartabone 180 186 185 185 187 2.53 10.00 13 .61 4.00 9 Bekantan BKSDA Kalimantan Selatan 35 35 35 35 154 0.76 Orangutan BTN Tanjung Puting 6000 6000 6006 6875 6875 0.65 126.67 Anoa BKSDA Sulawesi Tenggara 28 28 28 30 33 0.00 12 Maleo BTN Rawa Aopa Watumohai 8 8 6 14 14 -25.82 Anoa BKSDA Sulawesi Tenggara 81 81 81 76 77 0.00 0.90 0.82 1.00 Maleo BKSDA Sulawesi Tengah 15 15 15 58 90 0.5%) 2%) Anoa BBKSDA Sulawesi Selatan 1 1 1 1 1 0.33 600.24 -95.00 0.78 Komodo BTN Komodo 1288 2550 2065 2842 2921 60.00 -7.09 144.

00 0.60 -7.00 Kuning Kakatua Kecil Jambul BTN Komodo 85 85 85 85 98 0.00 15.00 25.67 28.00 BTN GN Halimun Salak 2 2 Elang Jawa 6 6 8 0.00 300.00 80.00 400.00 400.00 Kuning Kakatua Kecil Jambul BBKSDA Jawa Timur 10 10 15 11 22 50.00 -28.00 200.33 Kuning JUMLAH SITE MONITORING = 95 SITE DI 48 UPT .00 -49.00 25.00 -49.00 80.00 10.00 Kuning Kakatua Kecil Jambul BTN Komodo 100 111 111 136 51 11. SPESIES UPT 2011 (Target 2012 (Target 2013 (Target POPULASI 2010 2011 2012 2013 1%) 1.00 Kakatua Kecil Jambul BBKSDA NTT 3 3 6 15 15 100.29 Kuning Kakatua Kecil Jambul BKSDA NTB 60 20 20 77 77 -66.00 Kuning Kakatua Kecil Jambul 14 BTN Komodo 500 382 382 461 500 -23.00 36.5%) 2%) BTN Gunung Gede Elang Jawa 65 65 65 65 33 0.00 120.00 0.23 Pangrango 13 Elang Jawa BTN Gunung Ciremai 7 4 7 5 5 0.57 -28.57 4 4 5 Elang Jawa BTN Gunung Merapi 5 5 25. BASELINE DATA JML POPULASI % Kenaikan % Kenaikan %Kenaikan No.00 Kuning Kakatua Kecil Jambul BTN Rawa Aopa Watumohai 10 10 10 18 18 0.33 28.80 0.

DAFTAR PEMEGANG IPPA/IUPSWA DI TAMAN NASIONAL NO NAMA PERUSAHAAN SURAT KEPUTUSAN LOKASI NO & TANGGAL MASA BERLAKU Nama Kawasan Luas Luas Kawasan Kabupaten/ Kota Propinsi Kawasan IPPA (Ha) (Ha) 1 PT. Wana Wisata Alam 704/Kpts-II/1992 1992 s/d 2022 TN. Bali Barat 19.25 m2 Probolinggo Jawa Timur 19 September 2003 Tengger Semeru 8 PT. Bromo 4. A.002.176. Perkembangan Pengusahaan Pariwisata Alam di Kawasan Pelestarian Alam s/d Desember 2013.89 251. Wanasari Pramudita 9006/Kpts-II/2002 2000 s/d 2030 TN. Bromo Permai 324/Kpts-II/2003 2003 s/d 2033 TN. Trimbawan Swastama 635/Kpts-II/98 1998 s/d 2028 TN. Plengkung Indah Wisata 434/Kpts-II/1992 1991 s/d 2021 TN. Bali Barat 19. Alas Purwo 43.230 5 Banyuwangi Jawa Timur 6 Mei 1992 2 PT. Bali Barat 19. Adhiniaga Kreasi Nusa S.5 Jembrana dan Bali 27 Pebruari 1998 Buleleng 6 PT. Lampiran 6. Bukit Barisan 100 Lampung Barat Lampung 26 Pebruari 2007 Selatan .89 30 Buleleng Bali 18 Nopember 2003 7 PT. Shorea Barito Wisata 184/Kpts-II/1998 1998 s/d 2028 TN.002.230 5 Banyuwangi Jawa Timur Ananta 24 September 2002 4 PT.230 15 Banyuwangi Jawa Timur Hayati 11 Juli 1992 3 PT. Alas Purwo 43. Disthi Kumala Bahari 385/Kpts-II/2003 2003 s/d 2033 TN.002. Alas Purwo 43.89 284 Buleleng Bali Sejati 15 September 1998 5 PT.118/Menhut-II/2007 1992 s/d 2022 TN.

Graha Rani Putra SK.Sukawayana 16 8. Lintas Daya Kreasi 27/Menhut-II/2004 2003 s/d 2032 TWA Telaga Warna 5 22 Bogor Jawa Barat 18 Juni 2004 TWA.124 Sukabumi Jawa Barat 18 Oktober 2004 11 PT. Punti Kayu 50 39. DAFTAR PEMEGANG IPPA/ IUPSWA DI NON TAMAN NASIONAL NO NAMA PERUSAHAAN SURAT KEPUTUSAN LOKASI NO DAN TANGGAL MASA BERLAKU Nama Kawasan Luas Luas Kawasan Kabupaten/ Kota Propinsi Kawasan IPPA (Ha) (Ha) 1 PT.Pangandaran 37. Pancar 447. Moyo Safari Abadi 313/Kpts-II/1992 1991 s/d 2022 TB/TWAL P. Putra Walmas Wisata 790/Kpts-II/98 1997 s/d 2027 TWA.7 20 Ciamis Jawa Barat 20 Pebruari 1993 16 PT. Sinar Kencana 192/Kpts-II/95 1996 s/d 2026 TWA. Nusa Bali Abadi SK. Gn.9 Kota Sumatera 22 September 1999 Palembang Selatan 8 PT. Teluk Mekaki Indah 548/Kpts-II/91 1995 s/d 2023 TWA.60 Jakarta DKI Jakarta 22 Agustus 1997 6 PT.3 Tabanan Bali 16 Agustus 2007 Tamblingan 12 PT.50 20. Ria So Milla Pantai SK. Grojogan 64. Satonda 2. Sangiang 700. Batu Alam 403/Menhut-II/2004 2003 s/d 2033 TWA.50 Bogor Jawa Barat 8 Pebruari 1993 5 PT.15 Serang Banten 12 Pebruari 1993 4 PT.63 100. Kembang 60 6 Barito Kuala Kalimantan 9 April 1995 Selatan 10 CV. D.703 20.35 591. Moyo 6.306/Menhut/II/2009 2008 s/d 2037 TWA. 29 Mei 2009 Tangkuban Parahu 14 PT. Batu Putih 615 15 Bitung Sulawesi Utara 17 Desember 1998 7 PT.50 447.661/Menhut-II/2009 2009 s/d 2029 TWA. Buyan 1. Wana Wisata Indah 54/Kpts-II/93 1992 s/d 2022 TWA. Indosuma Putra Citra 735/Kpts-II/1999 1995 s/d 2025 TWA. Murindra Karya Lestari 537/Kpts-II/1997 1993 s/d 2023 TWA.537 Sumbawa NTB 3 PT. Tretes 10 4 Pasuruan Jawa Timur 22 September 2008 13 PT.B. 283/Menhut-II/2007 2005 s/d 2034 TWA. Pondok Kalimaya Putih 66/Kpts-II/93 1992 s/d 2022 TWA. P.600 49 Dompu NTB Indah 2 Agustus 2010 . G.438/Menhut-II/2010 2010 s/d 2064 TWA P. Pelangan 500 200 Lombok Barat NTB 16 Agustus 1991 2 PT. Suryainti Permata 347/Menhut-II/2008 2007 s/d 2037 TWA. 370 250 Subang Jawa Barat Persada tgl. P.000 22. Duta Indonesia Djaja SK. Angke Kapuk 831.3 Karanganyar Jawa Tengah 15 Oktober 2009 Sewu 15 Perum Perhutani 104/Kpts-II/93 1993 s/d 2023 TWA. Jember 50 9 CV.

734/Menhut-II/2012 2012 s/d 2068 TWA. Penyediaan jasa cinderamata 2. Makanan dan minuman .50 102. 771/Menhut-II/2013 2013 s/d 2068 TWA Tanjung Tampa 49.36/Men hut-II/2013 2011 s/d 2066 TWA Linggarjati 5. Gubernur Bali 2012 s/d 2067 Tahura Ngurah Rai 1. Bina Wana Lestari SK. Penyediaan jasa Berbadan hukum Taman Nasional Komodo (5 informasi pariwisata thn) 2.5 10 Pasuruan Jawa Timur 24 Mei 2013 21 PT.543/BTNK-1/2012 21 Februari 2012 1. NO NAMA PERUSAHAAN SURAT KEPUTUSAN LOKASI NO DAN TANGGAL MASA BERLAKU Nama Kawasan Luas Luas Kawasan Kabupaten/ Kota Propinsi Kawasan IPPA (Ha) (Ha) 17 CV. Empat Naga Lombok SK.398/Menhut-II/2013 2013 s/d 2068 TWA Gunung Baung 195. TN Gunung Palung Nasalis Tour and Travel (5 SK. Tirta Rahmat Bahari SK.96 Lombok NTB tanggal 6 Nopember Tengah 2013 TAMAN HUTAN RAYA 22 PT. Informasi pariwisata Berbadan Hukum thn) 2.428/Men hut-II/2013 2011 s/d 2066 TWA Cimanggu 21. Pramuwisata 3. DAFTAR PEMEGANG IUPJWA NO LOKASI KAWASAN PEMEGANG IZIN SK KEPALA BALAI JENIS KEGIATAN KETERANGAN NOMOR TANGGAL 1 2 3 4 5 6 7 1. TN Komodo Koperasi Serba Usaha SK.22 Kota Denpasar Bali Nomor : 1.373. Linggarjati Wigena SK. Amanah Sembilan SK. Cinderamata 6. Transportasi 4.5 Bandung Jawa Barat 11 Desember 2012 18 PT. Penyediaan jasa pramuwisata 3.051/03- L/HK/2012 27 Juni 2012 C. Cimanggu 30 5. Penyediaan jasa makanan dan minuman 4.70/BTNGP-1/2012 1 Februari 2012 1.51 Kuningan Jawa Barat 16 Jan 2013 19 CV. Cipta Bunga Bangsa SK.32 Bandung Jawa Barat Belas 12 Juni 2013 20 PT. Perjalanan wisata 5.

2 thn) 9.NO LOKASI KAWASAN PEMEGANG IZIN SK KEPALA BALAI JENIS KEGIATAN KETERANGAN NOMOR TANGGAL 1 2 3 4 5 6 7 3. Resort Sangiang. TN Alas Purwo KPRI Makmur Sejahtera ( 5 SK.9-8/2012 8 Mei 2012 Pramuwisata Perseorangan (Perseorangan.286/BTNAP-1. TN Alas Purwo Sdr. Jasa cinderamata 6. Majalengka 11.63/BTNGC/IUPJWA/2011 20 Desember 2011 Informasi pariwisata.253/BTNAP-1/5/2012 11 Juni 2012 Penyediaan transportasi Perseorangan darat 8. Penyediaan jasa Berbadan Hukum thn) informasi pariwisata 2.18/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan Lokasi: Zona pemanfaatan Situ Sangiang.5/2012 12 September 2012 1.5/2012 8 Oktober 2012 Penyediaan transportasi Perseorangan darat 7. TN Gunung Ciremai Lilis Nurhayati (2 tahun) SK. TN Bukit Barisan Koperasi Pegawai Republik SK. Jasa pramuwisata 3. TN Alas Purwo Suyitno Dwi Pri (2 thn) SK. 275/BTNAP-1. TN Gunung Ciremai PDAU Darma Putra SI. Penyediaan jasa Berbadan Hukum thn) makanan dan minuman 2. TN Gunung Ciremai Een (2 tahun) SK. TN Alas Purwo Bumdes Firma Loh Jinawi (5 SK.44/BBTNBBS-2/2012 19 Juni 2012 Berbadan Hukum Selatan Indonesia Raflesia (5 thn) 4. wisata Kuningan Lokasi: jalur pendakian linggarjati-puncak Ciremai 10.23/BKSDA.19/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan Lokasi: Zona pemanfaatan Situ Sangiang. Jasa cinderamata 3. 269/BTNAP-1. Berbadan Hukum Kertaraharja (2 tahun) pramuwisata dan perjalanan BUMD Pemda Kab. Jasa perjalanan wisata 4. BKSDA Aceh Anhar Sitanggang SK.5/2012 27 November 2012 1. Resort Sangiang. Jasa transportasi 5. Majalengka . Jasa makanan dan minuman 6. Jasa transportasi darat 5. Giran (2 thn) SK.

NO LOKASI KAWASAN PEMEGANG IZIN SK KEPALA BALAI JENIS KEGIATAN KETERANGAN
NOMOR TANGGAL
1 2 3 4 5 6 7

12. TN Gunung Ciremai Mustopa (2 tahun) SK.20/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka

13. TN Gunung Ciremai Kabin Kusmiadi (2 tahun) SK.21/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Buper Panten,
Resort Argalingga,
Majalengka
14. TN Gunung Ciremai Mimin ( 2 tahun) SK.22/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
15. TN Gunung Ciremai Nunung (2 tahun) SK.23/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
16. TN Gunung Ciremai Nining (2 tahun) SK.24/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang,Mmajalengk
a
17. TN Gunung Ciremai Sairawati (2 tahun) SK.25/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka

18. TN Gunung Ciremai Siti Hodijah (2 tahun) SK.26/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka

NO LOKASI KAWASAN PEMEGANG IZIN SK KEPALA BALAI JENIS KEGIATAN KETERANGAN
NOMOR TANGGAL
1 2 3 4 5 6 7
19. TN Gunung Ciremai Unah (2 tahun) SK.27/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
20. TN Gunung Ciremai Iis (2 tahun) SK.28/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
21. TN Gunung Ciremai Nurul (2 tahun) SK.29/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
22. TN Gunung Ciremai Ihin Solihin (2 tahun) SK.30/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
23. TN Gunung Ciremai Nana Sujana (2 tahun) SK.31/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata Perseorangan
Lokasi: Buper Panten,
Resort Argalingga,
Majalengka
24. TN Gunung Ciremai Marta Atmaja (2 tahun) SK.32/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata Perseorangan
Lokasi: Buper Awi Lega
dan Curug Cipeuteuy,
Resort Argalingga,
Majalengka

25. TN Gunung Ciremai Kosi Kosasih (2 tahun) SK.33/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Jasa makanan dan minuman Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
26. TN Gunung Ciremai Subuh (2 tahun) SK.34/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan situ

NO LOKASI KAWASAN PEMEGANG IZIN SK KEPALA BALAI JENIS KEGIATAN KETERANGAN
NOMOR TANGGAL
1 2 3 4 5 6 7
sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
27. TN Gunung Ciremai Emeng Durahman (2 tahun) SK.35/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata (juru kunci) Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan situ
sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
28. TN Gunung Ciremai Muhro (2 tahun) SK.36/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata (juru kunci) Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan situ
sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
29. TN Gunung Ciremai Eming (2 tahun) SK.37/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata (juru kunci) Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan situ
sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
30. TN Gunung Ciremai Yayat (2 tahun) SK.38/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata (juru kunci) Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan situ
sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
31. TN Gunung Ciremai Misbahun (2 tahun) SK.39/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata (juru kunci) Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan situ
sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
32. TN Gunung Ciremai Ujang Saepudin (2 tahun) SK.40/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata (juru kunci) Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
33. TN Gunung Ciremai Asep Suhendra (2 tahun) SK.41/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata (juru kunci) Perseorangan
Lokasi: Zona
pemanfaatan Situ
Sangiang, Resort
Sangiang, Majalengka
34. TN Gunung Ciremai Juha (2 tahun) SK.42/BTNGC-1/2013 26 Februari 2013 Pramuwisata (juru kunci) Perseorangan

Resort Sangiang. PJLKKHL 2013 . NO LOKASI KAWASAN PEMEGANG IZIN SK KEPALA BALAI JENIS KEGIATAN KETERANGAN NOMOR TANGGAL 1 2 3 4 5 6 7 Lokasi: Zona pemanfaatan Situ Sangiang.6 /2013 3 September 2013 IUPJWA di kawasan TN Berbadan Hukum tahun) Karimunjawa. TN Karimunjawa CV. Lokasi: Zona Jawa Tengah pemanfaatan darat dan Zona pemanfaatan wisata bahari Sumber : Dit. Jepara. Majalengka 35. Kab. Karimunjawa Explore (5 SK.125/BTNKJ-1.

Bangun Tirta Lestari dan 001/BTL/II/2012 energi air (PLTMH). Sukabumi 10.1053/11-TU/2 /2011 3 Oktober 2011 Pemenuihan kebutuhan air baku dan PDAM Tirta Bumi dan PDAM Tirta Bumi Wibawa Kota Wibawa Kota Sukabumi 415. BBTN Gunung Gede 233/11-TU/2 /2012 dan 21 Feb 2012 Pemanfaatan air secara lestari di Pangrango dan PDAM 690/18/PKS. Bergonia Pratama dan 023/BP/PLTM/IV. BBTN G.JABAR. 1 Juni 2009 Pelestarian Sumber Daya Air CA PT Krakatau Industri 1/2009 dan 14/MOU/DU. BBKSDA Jawa Barat dan PKS. BBTN Kerinci Seblat dan PKS. BTN Gunung Halimun SKB 243/IV-T.177/IV-10 /BTK/2012 10 Okto 2012 Pemanfaatan jasa lingkungan PT.13 29 April 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Desa Pulosari Kec. BBKSDA Jawa Timur dan SKB. energi air PLTM Muaro Sako PD/2012 5.A/2005/IV/2010 8. 12. BTN G.13 /KH/2010 29 April 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Desa Cidahu Kec. Rawa Danau Kab. Cikidang Kab. Daftar 35 MoU Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air NO PIHAK YANG MoU TUJUAN/JUDUL MoU BEKERJASAMA NOMOR TANGGAL 1. BBTN Kerinci Seblat dan PKS. Chakra Perkebun-an 2010 dan CA Gunung Tilu Teh Dewata 10/CHK-MoU/VII /2010 14.1/ 12 Juli 2010 Pengamanan dan perlindungan PT.PPA.861/BBKSDA.Lampiran 7.114/IV-8.16/BBKSDA. /Kerjasama/2010 dan untuk masyarakat Kalapanunggal Kab.4/319/PDAM/X/2011 Sukabumi. BTN G.34/2010 untuk masyarakat . energi air PLTM Induring PD/2012 4. Halimun Salak dan SKB 240/IV-T. Sukabumi 115/198. Sumber Bening masyarakat 2.2/2010 10 Agustus 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Ds Sungai Teluk dan 474/04 untuk rumah tangga dan irigasi /437. Cidahu dan untuk masyarakat Kab. 140/01/2005 /IV/2010 Sukabumi 9. Serang – KTI /2009 Banten 13.1118/IV-10 /BTU/2010 15 Oktober 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Ds. 11. Bergonia Pratama dan 022/BP/PLTM/IV.117. BBTN Kerinci Seblat dan PKS.13 /KH 29 April 2010 Pembangunan PLTMH Koperasi Bangkit Maju /2010 dan Bersama 001/IV/MoU/2010 7.13 /KH 29 April 2010 Mengoptimalkan pemanfaatan Salak dan PDAM Kab. BTN G. PT. /2010 dan PKS PDAM/01 secara lestari SDA TNGHS melalui Sukabumi /IV/2010 pemanfaatan air sungai/saluran irigasi Citamiang berdasarkan prinsip konservasi 6.JABAR. BBTN Kerinci Seblat dan PK. 3. Gde Pangrango SP.13 /KH 29 April 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Desa Gunungmalang /2010 dan 610/II/06/2010 untuk masyarakat Kec. taman nasional wilayah kerja Kabupaten Sukabumi PDAM/II/2012 resort model PTN Bodogol Seksi PTN wilayah V Bodogol Bidang PTN wilayah III Bogor (PDAM). 743/IV-10 /BTK/2012 20 Juni 2012 Pemanfaatan jasa lingkungan PT. BTN G. Halimun Salak dan SKB 241/IV-T. Halimun Salak dan SKB 242/IV-T. BBKSDA Jawa Barat dan PKS. Halimun Salak dan SKB 245/IV-T. 744/IV-10 /BTK/2012 20 Juni 2012 Pemanfaatan jasa lingkungan PT.

PPA. dan 593-PDAM di kawasan TNGC (PDAM). Tirta Mekar dan 01/MoU-TM/VIII di kawasan TNGC (AMDK). Cowek (HIPPAM) dan 400/133 untuk rumah tangga dan irigasi /424. BTN Gunung Rinjani dan S. Arena Maju dan 007 sumber daya air Sungai Palamar Bersama /AMB. Kedemungan dan 141/210/424.439/BTNGR-1 /2011 18 Mei 2011 Pemenuhan air baku untuk PDAM Lombok Timur dan HK. HM/VII/2012 perkebunan).8. BTN Manupeu Tanah Daru PKS. Senduro /427.201.2/2010 11 Agustus 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Ds.NO PIHAK YANG MoU TUJUAN/JUDUL MoU BEKERJASAMA NOMOR TANGGAL 15. Kertosari dan 08.2010 16.PPA.2.PPA.424.2 /2010 10 Agustus 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Ds.PPA. BBKSDA Jawa Timur dan SKB 111/IV. Tetebatu dan 005/685 kepentingan rumah tangga /Ekbang/2011 27. Mulya.2/2008 23 Sep 2008 Pemenuhan kebutuhan air bersih Semeru dan Desa dan 503/111 untuk masyarakat Argosari Kec.2/2010 30 Juli 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Desa Patar Selamat untuk rumah tangga 22.12 /2010 untuk masyarakat 18. BTN Gunung Ciremai dan PKS.MRKT/MoU.01/57 produksi PDAM /PDAM/V/2011 26.348/BTNMT/2009 28 Sep 2009 Penyediaan sarana air bersih dan Pemkab Sumba dan 411. .118/IV.PPA.23/520 untuk masyarakat Tengah /147/53.476/BTNGR-1 /2011 1 Juni 2011 Pemenuhan air bersih untuk Ds. BBKSDA Jawa Timur dan SKB. BBKSDA Jawa Timur dan SKB. BBKSDA Jawa Timur dan SKB. BTN Gunung Rinjani dan S.2004 untuk rumah tangga dan irigasi /2010 untuk masyarakat 17.09/BB.917.210/2010 untuk masyarakat 19. 02/BTNGC /2012 26 Janr 2012 Pemanfaatan jasa lingkungan air CV. BBKSDA Jawa Timur dan SKB 112/IV-8.115/IV. Lumajang 23. 01/BTNGC /2012 26 Jan 2012 Pemanfaaan jasa lingkungan air PDAM Tirta Kemuning.2 /2010 10 Agustus 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Ds.11/2008 Kab.113/IV. PPA.08.2/2010 10 Agustus 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Ds.17/2009 24.04/2010 untuk masyarakat 20.8. dan 119 /334-LITBANG di kawasan TNGC (PDAM).117.8. BBKSDA Jawa Timur dan SKB. Kab.8. masyarakat Ds. Puncak. 208.11. BBTN Bromo Tengger BA.2/2010 10 Agustus 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Ds. BTN Gunung Ciremai dan PKS.116/IV. BBKSDA Jawa Timur dan SKB.201.8. Balik Terus dan 474/131 dan PLTMH /437. Cirebon 28.115/BTNMT/2011 28 Maret 2014 Pengelolaan dan pemanfaatan dan PT.8. 06/BTNGC-1 /2012 10 Juli 2012 Irigasi (pertanian dan Kelompok Tani Harapan dan 01/KT. BTN Gunung Ciremai dan PKS.117/IV. BTN Gunung Ciremai dan PKS.PPA. Semut dan 470 /17 untuk rumah tangga dan irigasi /424. /2012 30. BTN Manupeu Tanah Daru PKS. untuk rumah tangga dan irigasi 206. Kuningan KNG/2012 29.21/BW. 41/BTNGC /2011 28 Des.2/2010 30 Juli 2010 Pemenuhan kebutuhan air bersih Desa Gunung Teguh untuk rumah tangga dan irigasi untuk masyarakat 21. 2011 Pemanfaatan jasa lingkungan air PDAM Tirta Jati Kab.PLTMH di Kawasan TNMT /III/2011 25.

BTN Gunung Ciremai dan PKS. masyarakat Ds. BTN Gunung Ciremai dan PKS.SP/VII/2012 irigasi (pertanian dan masyaraka Ds perkebunan). 35 BKSDA Jawa Tengah dan PKS. Mekar. 10/BTNGC-1/2012 10 Juli 2012 Irigasi (pertanian dan Kelompok Tani Karya dan 05 /KT. 33.NO PIHAK YANG MoU TUJUAN/JUDUL MoU BEKERJASAMA NOMOR TANGGAL 31.MS/VII/2012 perkebunan). Cisantana. Padabeunghar.1664/IV-K. 13/BTNGC-1 /2012 10 Juli 2012 Air minum (keperluan RT) dan Kelompok Penggerak irigasi (pertanian dan Pariwisata Desa perkebunan).KM/VII/2012 perkebunan).16 14 Nov 2012 Irigasi (pertanian dan Kelompok Pemanfaat Air /Pwt/2012 perkebunan). BTN Gunung Ciremai dan 09/BTNGC-1 /2012 dan 10 Juli 2012 Air minum (keperluan RT) dan Kelompok Tani Sipedang. BTN Gunung Ciremai dan PKS. dan 27/KT . PERSADA Sumber : Dit. 34. Padabeunghar. PJLKKHL 2013 . 32. 08/BTNGC-1 /2012 10 Juli 2012 Irigasi (pertanian dan Kelompok Tani Mekarsari I. 05 /KT.

000 22.131.325.352.85 19 549519 Balai KSDA Kalteng 29.895 89.398.000 22.020.329.518.879.000.246 92.078.000 25.250 90.83 7 604193 Balai Besar TN Lore Lindu 17.505.360.000 12.705.000 30.259 78.190.313.736.608.44 3 239853 Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan 25.818.01 JUMLAH PUSAT 292.34 24 238652 Balai KSDA Sulawesi Tenggara 17.300.306.022.507.826.328.187 83.632 104.010.72 5 238645 Balai Besar KSDA Sulsel 29.690.26 2 238514 Balai Besar KSDA Riau 34.819.81 27 238691 Balai KSDA Nusa Tenggara Barat 23.000 15.98 17 238560 Balai KSDA Lampung 16.283.34 4 239807 Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango 92.274.882.864.496.000 18.904 93.03 3 500674 Direktorat PJLKK 21.000 21.004.48 26 238687 Balai KSDA Bali 11.092.12 7 239917 Balai Besar KSDA Papua 34.163.500.514 92.995.000 26.950.787.999 90.575 92.000 30.500.545.974.65 23 238624 Balai KSDA Sulawesi Tengah 16.000.946.631.470 92.268.27 4 238432 Balai Besar KSDA Jawa Timur 27.000 19.000 23.752 90.974.260.89 3 238399 Balai Besar KSDA Jawa Barat 42.165.080.000 23.97 14 238521 Balai KSDA Jambi 26.214 84.228.49 20 238598 Balai KSDA Kalsel 22.547. PAGU DAN REALISASI PER SATKER DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM TAHUN 2013 NO.573.526.748.917.439.32 16 238713 Balai KSDA Bengkulu 17.632.455 94.500.459.000 271.052 86.956.15 6 604299 Balai Besar TN Betung Kerihun 16.40 24.836.075 72.082.421.000 14.770.620 14.479.363 90.000 22.728.65 15 238542 Balai KSDA Sumatera Selatan 29.575.684.560.782.58 5 500643 Direktorat PPH 56.643.062.056.297.936 95.37 25 238666 Balai KSDA Maluku 20.074 87.644.133 83.355 78.683.000 16.784.290.700.740.310.136. Kode Satker Satker Pagu (RP) Realisasi (RP) (%) SATUAN KERJA PUSAT 1 500668 Direktorat KK dan BHL 41.791.623.782.000 551.000 15.800.942.60 12 238467 Balai KSDA Aceh Darusalam 14.33 SATUAN KERJA BALAI TAMAN NASIONAL 1 239828 Balai Besar TN Gunung Leuser 28.098 95.787 82.459.574 82.34 22 238610 Balai KSDA Sulawesi Utara 18.000 15.000 10.94 2 549530 Balai Besar TN Kerinci Seblat 22.020.500.569.85 6 427366 Setditjen PHKA 64.583.102.000 11.593.343.000 26.278.984.94 13 238500 Balai KSDA Sumatera Barat 14.000 60.000 14.441.843.154 89.909 93.000 16.581.866.188.200.565.640.66 4 500637 Direktorat PKH 88.295.913.606.249.730.57 2 500652 Direktorat KKH 20.907 93.972.115.000 17.054.25 18 238577 Balai KSDA Kalbar 28.330 83.770.000 18.540.55 8 239921 Balai Besar KSDA Papua Barat 26.478.016 90.721.857.463 88.721 93.981.537.606.177.000 22.996 91.230.230.000 15.541.090.15 .000 39.115 92.380.590.134 88.64 21 549523 Balai KSDA Kaltim 25.90 9 238322 Balai KSDA DKI Jakarta 15.017.000 47.000 15.725.630.393.225.684 89.034.94 6 239881 Balai Besar KSDA NTT 26.99 10 238411 Balai KSDA Jawa Tengah 15.130.267.392.459 88.909.000 24.69 JUMLAH KSDA 631.224 88.809.929.943.895.080.993.415.098.286.639.794.471.97 SATUAN KERJA BALAI KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM 1 238488 Balai Besar KSDA Sumut 34.000 19.32 11 613150 Balai KSDA Yogyakarta 12.000 92.085.483.408 87.000.844.629 86.399.520.000 11.762.276.000 34.532.536. Lampiran 8.529.200.000 23.757 5 549544 Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru 19.611.981.762.014.839 88.000 30.614 79.000 21.067.

760.600.750.240.24 48 604261 Balai TN Wasur 14.09 24 574312 Balai TN Sembilang 10.951.500.000 921.871.817.800.088.164.000 10.000.39 6 060039 Dishut Nanggroe Aceh darusalam 976.120 94.410.251 79.807.350.81 29 238581 Balai TN Tanjung Putting 13.33 22 574314 Balai TN Bukit Dua Belas 8.273.737.000 13.578.301.594 94.430.481.000 94.874.17 49 574326 Balai TN Akatajawe Lolobata 11.291.532.229.910.328.838.852.92 50 238382 Balai TN Ujung Kulon 18.223.397.766.32 39 604325 Balai TN Wakatobi 12.618 83.000 9.103.455.682 91.315.346.739.465.220.000 11.070.960.671.247 96.201.869.379.539.065.000 13.000 12.450.806 91.784 91.414.000 99.454.75 34 604215 Balai TN Bunaken 12.552.328.60 44 574318 Balai TN Laiwangi manggameti 9.420 95.233.371.450 94.600 99.000 1.000 14.854.000 798.086.409 93.000 18.19 2 025113 Dishut Jawa Barat 1.30 .816.000 11.000 11.92 45 574319 Balai TN Manupeu Tanadaru 10.000 14.275.884.319.71 40 604367 Balai TN Manusella 11.995.65 27 604332 Balai TN Gunung Palung 11.214.51 17 604201 Balai TN Alas Purwo 14.000 8.188.715.029.819 92.588 94.61 47 574327 Balai TN Lorenz 15.643.000 821.820.000 10. Kode Satker Satker Pagu (RP) Realisasi (RP) (%) 8 604236 Balai Besar TN Teluk Cenderawasih 28.40 23 604282 Balai TN Berbak 11.29 33 427372 Balai TN Bogani Nani Wartabone 13.120.000 14.073.110.71 41 427381 Balai TN Bali Barat 12.74 46 604311 Balai TN Kelimutu 11.317 93.001.37 31 238603 Balai TN Kutai 13.000 12.922.646.881 96.379 86.003.14 10 574315 Balai TN Gunung Cermai 9.000 8.438.000 8.971.705.000.119 95.071.31 38 604304 Balai TN Rawa Aopa Watumohai 14.03 26 574320 Balai TN Danau Sentarum 13.983.490.000 9.616.000 13.000.405.803.861.716.312.938.998.000.815.000 25.018.730 98.034.800.060.000 7.136 75.150 79.906.132.596.590.273 94.000 10.979.310.86 13 604257 Balai TN Karimun Jawa 14.262.000 17.87 42 604388 Balai TN Gunung Rinjani 12.540.550.124.000 11.911.000 10.460.55 4 045134 Dishut DI.814.519 92.538 92.350 79.095.000 9.32 JUMLAH TN 719.20 DINAS KEHUTANAN PROVINSI 1 015108 Dishut DKI Jakarta 866.468 99.000 11.455 80.687.144 82.700.14 14 574316 Balai TN Gunung Merapi 10.580.000 10.527 95.299.388.395.611.20 15 238446 Balai TN Baluran 11.000 10.50 21 604350 Balai TN Bukit Tiga Puluh 9.911.71 37 604346 Balai TN Takabone Rate 13.580.244.000 12.833 94.75 5 055113 Dishut Jawa Timur 1.948.792.559 90.137.084.217.504 94.000 816.215.29 12 574317 Balai TN Gunung Merbabu 8.220.000 10.079 79.402.867.800.000 7.031.800.865 90.377.100.830.380 90.587.98 9 604222 Balai TN Kepulauan Seribu 15.356.000 27.39 25 604189 Balai TN Way Kambas 25.110.240.492.290.030 83.031.100.000 656.000 8.291.700.667.491 99.799.354.852 89.391 86.573.000 8.08 36 574325 Balai TN Bantimurung Bulusaraung 12.000.18 32 445971 Balai TN Kayan Mentarang 13.957.457.601.000 11.519 95.447 90.000 11.550.600.173.NO.360.405.490.314.628.375.000 13.356 85.000 1.38 20 574313 Balai TN Teso Nilo 9. Yogyakarta 1.369.93 28 604371 Balai TN Bukit Baka Bukit Raya 9.15 19 604278 Balai TN Siberut 13.450.37 7 075142 Dishut Sumatera Utara 1.018.000 8.766.256.894.000.605.000 9.078.801.902 88.668.765.94 43 239895 Balai TN Komodo 20.842 94.26 35 574323 Balai TN Kepulauan Togean 10.000 9.000 10.657.150.285.353.194.382 90.58 30 445965 Balai TN Sebangau 12.181.871 89.23 11 604240 Balai TN Gunung Halimun 13.349.022 89.053 87.117.650.28 16 604172 Balai TN Meru Betiri 11.901.000.163.728.18 18 574311 Balai TN Batang Gadis 10.717.164.000 11.088.582.268.87 3 030061 Dishut Jawa Tengah 1.280.014.946.801.070 90.013.000 1.913.

000 822.000 944.451.192.02 17 170060 Dishut Sulawesi Utara 1.15 20 200080 Dishut Sulawesi Tenggara 946.000 1.038.000 77.000.25 27 280041 Dishut Maluku Utara 984.000 32.111.054.600.000 1.518.500.000 982.61 29 300036 Dishut Bangka Belitung 910.787.000 968.100 98.375.24 13 135127 Dishut Kalimantan Barat 1.764.600 99.350 90.000 1.940.850 97.807.250.000 696.000 1.213.500 93.395.000 979.000 931.764.000 99.300 98.85 26 260050 Dishut Bengkulu 1.000 82.86 18 180048 Dishut Sulawesi Tengah 1.319.23 10 100082 Dishut Jambi 1.000 1.53 23 230058 Dishut Nusa Tenggara Barat 1.512.300.000 1.000.31 9 090055 Dishut Riau 1.400.189.407.000 88.051.04 JUMLAH DINAS 36.600 90.040.000 1.100 63.540.000 1.226.679.000 1.64 33 340018 Dishut Sulawesi Barat 950.900.000 1.541.024.86 28 290042 Dishut Banten 982.100.143.86 31 320016 Dishut Kepulauan Riau 907.268.247.328.000 1.517.200 43.045.000 889.160.12 14 145130 Dishut Kalimantan Tengah 1.093.500.732.000 1.340.976.NO.018.482.04 12 120082 Dishut Lampung 1.550.200 99.000 1.512.988.040.580 89.487.500 93.700 91.253.104.246.03 .500 90.74 21 210048 Dishut Maluku 1.425.158.800 94.960.570.573.197 94.096.870.381.738.128.000.059.817.000 527.56 19 190031 Dishut Sulawesi Selatan 1.58 32 330027 Dishut Papua Barat 1.000 805.000 81.340 97.11 15 150054 Dishut Kalimantan Selatan 1.024.547 90.897 90.000 999.83 25 250058 Dishut Papua 1.129.011.115.850 89.48 22 220078 Dishut Bali 885.000 98.000 1.09 TOTAL 1.168. Kode Satker Satker Pagu (RP) Realisasi (RP) (%) 8 080053 Dishut Sumatera Barat 1.250.127.000 97.000 865.200.000 792.033.29 16 160081 Dishut Kalimantan Timur 1.255.207.57 11 110055 Dishut Sumatera Selatan 1.61 30 310037 Dishut Gorontalo 1.000.000 96.920.104.131.018.000.075.845.490.64 24 240054 Dishut Nusa Tenggara Timur 1.713.220.758.149.100.