You are on page 1of 3

Utama Menjaga Keseimbangan

Oleh : Nila Pertina Dewi
T
ap…tap…sejauh kaki melangkah… di desa kecil ujung Timur Bali. Menyambut kita
dalam keadaan menakjubkan…betapa sadarnya masyarakat desa ini dengan lingkungan.
Hutan-hutan yang mengelilingi desa itu tampak hijau dipandang dari jauh.
Bali dikenal dengan keunikan budaya yang bernafaskan Agama Hindu. Desa
Tenganan Pegringsingan jejak catatan dari ujung Timur Bali yang kental dengan budayanya.
Desa Bali Aga yang menggunakan pola hidup tradisional dengan aturan tradisi yang terbilang
‘ketat’. Data yang dikutip dari www.erhanana.wordpress.com bahwa 917 ha wilayahnya,
66,41 persen tanah di Tenganan Pegringsingan merupakan tanah tegalan yang sekaligus
berfungsi sebagai hutan, 25,73 persen lahan persawahan, dan 7,86 persen merupakan wilayah
pemukiman. Itu semua diatur dalam awig-awig (aturan) desa tersebut. Walaupun tanah
tersebut atas nama individu atau pun kelompok tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah
kepada orang luar. Tak heran wilayah Tenganan Pegringsingan sejak abad ke-11 hingga
sekarang tetap sama. Tidak ada kata jual beli tanah! Hutannya pun masih tetap lestari.
Tak hanya mengatur luas wilayah Tenganan juga menyentuh tradisi budaya tenun
gringsing dan perang pandan. Yang pada dasarnya itu wujud dari keharmonisan alam. Kain
gringsing pun sengaja dibuat bermotif membentuk tanda tambah menggambarkan filosofi
hidup orang Tenganan, yaitu ‘keseimbangan’. Juga dengan adanya awig-awig, keberadaan
hutan di sekitar desa adat sudah dijaga jauh sebelum kesadaran masyarakat terhadap
lingkungan disentak oleh isu Global Warming. Ketika demam perubahan iklim melanda
masyarakat Indonesia dengan aksi tanam sejuta pohon, masyarakat Desa Adat Tenganan
Pegringsingan, Karangasem, Bali, ternyata sudah mengatur konservasi lingkungannya. Justru
mereka telah lebih awal bertindak demi menjaga alam.
Sesungguhnya orang Bali tidak punya kebiasaan menanam pohon. Memang, mereka
dikenal sebagai masyarakat yang tidak gegabah menebang pohon, tetapi tidak berarti mereka
gemar menanam. Maka itulah kita bisa mengacu pada masyarakat disini dengan kebiasaan
masyarakat Tenganan Pegringsingan di Karangasem, yang dikenal di seluruh dunia sebagai
kelompok yang sangat ketat menjaga kelestarian hutan desa dan bukit-bukit timur desa.

hutan di sepanjang desa itu hijau sepanjang tahun. pangi. akan didenda. Telajakan seperti lazimnya pekarangan rumah-rumah Bali. Di saat banyak orang yang mengatakan Global Warming kita orang Bali bisa memulainya dengan kegiatan menanam pohon di kala Tumpek Uduh. Secara prinsip mereka sadar bahwa budaya yang dilakukan dan dipertahankan mempunyai tujuan akhir untuk keberlanjutan hidup. Kegiatan serentak yang dilakukan masyarakat Bali menanam . Tak hanya dikenal dengan sebutan ‘pecinta lingkungan’ tapi lebih tepat karena mereka ‘patuh’ dengan awig- awig yang turun-temurun dari para penglingsir (tetua) mereka. tehep. Mereka diperkenankan mencari kayu bakar di hutan. Di telajakan biasanya tanaman. otonan tanam- tanaman. Dengan adanya larangan menebang pohon. Tak hanya menghaturkan sesaji berupa banten pada tumbuh-tumbuhan namun actionnya yang diperlukan disini. tetapi hanya memungut dahan dan ranting kering yang jatuh ke tanah. sebagai hari untuk memuliakan tanaman yang telah berjasa dalam kehidupan kita sehari-hari. bunga-bunga tumbuh subur. Buah dari tanaman ‘terlarang’ tersebut hanya dapat dinikmati bila sudah jatuh dari pohonnya. Desa yang memiliki tradisi turun-temurun perang pandan atau yang lebih dikenal mageret pandan ini. dan kemiri. Ketika kita berkeliling desa. Lalu mengapa orang Bali yang hidup bukan di daerah Tenganan mengikutinya? Orang Bali mengenal hari khusus yang dikenal sebagai Tumpek Uduh. Budaya Tenganan menjaga hutan bahwa mereka bagian dari alam. Mereka telah mempertahankan hutan dari ‘jubah’ hutan yang terkikis di Indonesia. rumput. Ketika orang luar ingin melihat ‘kebudayaan’ Tenganan Pegringsingan. Buah kemiri tidak boleh dipetik harus ditunggu sampai jatuh ke bumi. Tenganan memiliki awig-awig yang melarang warganya sembarang menebang pohon. Jika melanggar hal buruk melanda desa itu. Mereka percaya tanaman tersebut tidak boleh diambil buahnya apalagi ditebang. Jika ada yang berani merenggut ranting kering di pohon. kita akan menjumpai rumah-rumah masyarakat Tenganan denganadanya telajakan. hal itu dapat dilihat dalam hidup keseharian masyarakatnya. Hal itu mendarah daging di diri setiap masyarakat. Karena kebudayaan merupakan sebuah proses. memiliki kepercayaan untuk melindungi beberapa tanaman yang terdapat di sana. Menyumbang pasokan oksigen di tengah Global Warming. Tanaman itu durian. Orang Bali tak memiliki awig-awig resmi untuk menanam pohon tapi dengan adanya hari khusus Tumpek Uduh ini apakah orang Bali tidak memanfaatkannya? Dari adanya hari khusus Tumpek Uduh inilah merupakan suatu kesempatan untuk kita Orang- orang Bali untuk menanam pohon. bukan barang antik yang harus dimuseumkan.

Jika kegiatan seperti ini dilakukan orang Bali maka Bali akan hijau jaya raya.beribu-ribu pohon. tapi inilah jalan yang ditempuh masyarakat disana. Banyak protes yang datang bahwa Bali bukan Bali lagi. warung-warung yang berada di pekarangan rumah masyarakat kota. Jangan hanya protes pada pemerintah menuntut hak agar lingkungan Bali tetap terjaga tapi bergeraklah. Walaupun atas semua itu harus menghalalkan segala cara. Jangan-jangan orang Bali hanya bisa gegap gempita berteriak. Kita orang Bali juga bergabung dalam dinamika banjar. mari beramai-ramai menanam pohon!” Adakah Orang Bali rutin tiap bulannya di kegiatan banjar menanam pohon? . Walau pun awig-awig tersebut telah usang tapi masih tetap mereka pertahankan dan wujudkan dengan kegiatan yang tidak menebang pohon. Alangkah baiknya jika masyarakat di luar desa bercermin dari apa yang dilakukan masyarakat Tenganan Pegringsingan untuk menjaga hutannya. Termasuk merusak lingkungan. Tidak sedikit pun muncul program menanam pohon. “ Ayo. Sadar bahwa Bali ini milik kita bersama jagalah lingkungan Bali seperti kita menjaga diri kita sendiri. Menjaga hutan demi anak cucu. membabat semak belukar. indah dan bersih. jangan menebang pohon!” Mereka tidak mengajak. “ Hei. Tidak perlu jauh-jauh menanam pohon bisa dimulai dari telajakan rumah masing-masing. Sebaiknya kita belajar dari Tenganan menjaga likungannya. hidup mewah dan kesenangan. Bali tak seperti dulu lagi asri. Banyak kegiatan yang dilakukan masyarat semua mengejar kekayaan. Mulailah dari kegiatan di banjar-bajar dengan menggalakkan menanam pohon. Jika anggota banjar gotong royong. Kadangkala ketika kita melihat telajakan-telajakan di rumah-rumah di daerah kota seperti kota Denpasar. villa. Dalam kegiatan bersih-bersih ini justru acap kali mereka menebang pohon. Banyak sekali hal-hal yang kita lakukan demi menjual pariwisata di Bali justru mengeksploitasi Pulau Bali. Hotel-hotel mewah. sehingga lingkungan menjadi gersang. Tenganan Pegringsingan yang justru desa tua di ujung Timur Bali sangat damai dengan awig-awig yang mereka masih pertahankan dari leluhurnya. restaurant yang tidak seharusnya berdiri tegak di kawasan jalur hijau yang ujung-ujungnya menebang pohon. biasanya yang dilakukan hanya kegiatan bersih-bersih. Semua berfikir apa yang mereka dapatkan bukan akibatnya pada lingkungan. Tidak ada hukum yang memberatkan mereka seperti dipenjara baru mau melakukan kegiatan seperti aturan. telajakan itu sudah tak ada lagi berubah dengan ruko.