You are on page 1of 16

KARAKTERISTIK PEMBUNGAAN DAN SISTEM PERKAWINAN NYAMPLUNG

(Calophyllum inophyllum) PADA HUTAN TANAMAN
DI WATUSIPAT, GUNUNG KIDUL
[Flowering characteristics and mating system of nyamplung (Calophyllum inophyllum)
plantation at Watusipat, Gunung Kidul]

ILG. Nurtjahjaningsih *, P. Sulistyawati, AYPBC. Widyatmoko, dan A. Rimbawanto
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
e-mail : iluh_nc@yahoo.com

ABSTRACT
Flowering are influenced by internal factors, such as genetic and phytohormone, and environment factors, such
as sunlight and nutrition intake. The flowering characteristics influence fruiting and genetic diversity seedlings
through mating systems. This study aims to assess flowering and fruiting characteristics and to determine
pattern of mating system of a Calophyllum inophyllum plantation at Watusipat, Gunung Kidul. Flowering and
fruiting were observed at 4 locations, 3 parts of crown, and 4 main directions to know the effects of sunlight,
nutrition intake and phytohormone in the flowering process. Mating system was assessed by comparing genetic
diversity values between parent trees and offsprings. The values of genetic diversity were analyzed using 5
RAPD primers with 17 polymorphic loci. Analysis of variant showed that the locations, crown parts, directions
and interaction between a location and direction significantly affected to differences number of flowers and
fruits. Values of genetic diversity (h) of parent trees ranged between 0.1471 and 0.3056. The values increased at
almost overall offsprings; it ranged between 0.2864 and 0.3750. Values of genetic distance (Da) between parent
trees were high and very high (0.197 – 0.364), but the values was decreased between parent trees and their
offspring, even between offspring populations. A dendrogram showed two main clusters; first cluster consisted
parent trees at up edge with rare trees and second cluster consisted sub cluster parent trees at up edge; sub
cluster parent trees at down middle; and sub cluster parent trees at down edge and overall offsprings. Flowering/
fruiting characteristics and pattern of mating systems of C. inophyllum were briefly discussed.
Key words : Flowering characteristic, genetic diversity, Calophyllum inophyllum, RAPD analysis

ABSTRAK
Proses pembungaan dipengaruhi oleh faktor internal seperti genetik dan fitohormon, dan faktor lingkungan,
seperti intensitas cahaya matahari dan unsur hara. Karakteristik pembungaan tersebut mempengaruhi proses
terbentuknya buah dan keragaman genetik benih yang dihasilkan melalui keberhasilan mating system. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pembungaan/pembuahan dan untuk mengetahui sistem
perkawinan di hutan tanaman Calophyllum inophyllum di Watusipat, Gunung Kidul. Jumlah bunga dan buah
diamati di 4 lokasi sub plot, 3 bagian tajuk, dan 4 arah mata angin, untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya
matahari, unsur hara dan fitohormon terhadap proses pembungaan/pembuahan. Sistem perkawinan pada
nyamplung diduga dengan cara membandingkan nilai keragaman genetik antara kelompok pohon induk dan
anakan. Analisis keragaman genetik dilakukan menggunakan 5 penanda RAPD yang terdiri dari 17 lokus
polymorfik. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa lokasi, tajuk, arah mata angin dan interaksi antara lokasi
dan arah mata angin secara nyata mempengaruhi jumlah bunga dan buah. Keragaman genetik (h) populasi
pohon induk berkisar antara 0,1471 dan 0,3056. Nilai h meningkat hampir pada semua populasi anakan, nilai
berkisar antara 0,2864 dan 0,3750. Nilai jarak genetik (Da) antara populasi pohon induk sangat tinggi (0,197 –
0,364), nilai Da turun antara populasi pohon induk dan anakannya, juga antar populasi anakan. Dendogram
membentuk dua kluster utama, kluster pertama terdiri dari pohon induk sub plot pinggir atas jarang, dan kluster
kedua terdiri dari sub kluster pohon induk pinggir atas, sub kluster pohon induk tengah bawah dan sub kluster
yang terdiri dari pohon induk pinggir bawah dan anakan di semua sub plot. Karakteristik pembungaan dan
sistem perkawinan C. inophyllum didiskusikan secara singkat.
Kata kunci : Karakteristik pembungaan, keragaman genetik, Calophyllum inophyllum, analisis RAPD

I. PENDAHULUAN inbreeding, ukuran populasi efektif dan level
Pola sebaran serbuk sari merupakan keragaman genetik di dalam dan antar
salah satu faktor yang ikut menentukan nilai populasi (Burczyk dan Prat 1997). Pola

Tanggal diterima : 19 Januari 2012; Direvisi : 26 Januari 2012; Disetujui terbit : 19 Juli 2012 65

nyamplung telah diinisiasi dengan Fenologi pembungaan dikendalikan oleh gen dibangunnya uji provenan di beberapa lokasi pengendali sintesa hormon pembungaan dan di Jawa. Sebaliknya. benih yang dihasilkan pada musim berbunga Calophyllum inophyllum (nyamplung) yang berjumlah sedikit misalnya pada awal merupakan tanaman asli Indonesia dan maupun akhir musim berbunga di kebun tumbuh secara alami di area pantai sampai benih Psedotsuga menzesii (El-Kassaby dkk. Biji nyamplung mempunyai 1988) atau populasi yang terfragmentasi di nilai ekonomi yang tinggi terutama hutan alam Pinus sylvestris dimanfaatkan sebagai bahan mentah untuk (Robledo-Arnuncio dkk. karena keterbatasan jarak hasil silang dalam dan menurunnya kualitas terbang serangga (Chaix dkk. Penyerbukan diantaranya kecukupan sinar matahari. yang pada jenis konifer yang dibantu oleh angin dipengaruhi oleh topografi. yang membawa serbuk jumlah dan sinkronisasi kematangan bunga sari ke kepala putik sehingga terjadi jantan dan bunga betina. mempunyai variasi genetik yang tinggi khususnya serangga. Kemampuan berbunga dan fitohormon (Burczyk dan Chalupka 1997). 1988). pemindahan gen (gene flow) yang tidak produksi benih menurun karena banyak biji terlalu jauh. genetik benih yang dihasilkan juga diamati namun musim berbunga/berbuah paling pada jenis daun lebar seperti jenis banyak diamati pada bulan Agustus Eucalyptus (Chaix dkk. (Bustomi dkk. keberhasilan terjadinya buah/biji merupakan 66 . kematangan bunga jantan dan betina. pegunungan. juga dipengaruhi oleh fakor lingkungan Robledo-Arnuncio dkk. Pengaruh bahan bakar minyak nabati. cenderung mempunyai (El-Kassaby dkk. 2. 2004).80 sebaran ini ditentukan oleh fenologi Fenologi pembungaan juga didukung oleh pembungaan seperti kemampuan berbunga. 2003). September 2012. tanaman menyebabkan produksi benih meningkat dan yang penyerbukannya dibantu oleh hewan. 1988. kerapatan pohon. penyerbukan (El-Kassaby dkk. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6 No. 65 . faktor lingkungan seperti kecukupan jumlah produksi bunga dan sinkronisasi matahari dan kecukupan unsur hara. strategi pemuliaan tanaman pembungaan sampai terjadinya buah/biji. efektivitas polinator. 2003). Selain itu. seperti pada Pseudotsuga menzesii. Untuk memenuhi Proses reproduksi dipengaruhi oleh kebutuhan biji nyamplung berkualitas dalam banyak faktor yang diawali dengan fenologi jumlah cukup. dan Terbentuknya buah selain dipengaruhi oleh efektivitas polinator. Meskipun yang nyata pembungaan terhadap kualitas nyamplung berbunga sepanjang tahun. disertai posisi tajuk dan arah mata angin (Burzcyk musim berbunga yang berlimpah dapat dan Chalupka 1997). 2004). 2008).

(2) tengah bawah. 67 . Kidul dibangun sejak tahun 1958. Jumlah tanaman penting. BAHAN DAN METODE sari di hutan tanaman nyamplung tersebut. Patinarium dihasilkan merupakan informasi yang corymbosium Miq. di ditanam pada 78 petak dengan total area pinggir atas sebanyak 4 pohon. di tengah bawah sebanyak 4 pohon. AYPBC. permasalahan yang nyamplung di plot tersebut sebanyak ± 50 paling mendesak pada jenis ini adalah pohon dan pada umumnya jarak tanam 2 x 4 pembungaan cenderung tidak serempak. Pengamatan terhadap tanaman nyamplung di Watusipat. beraturan (Gambar 1). Gunung jumlah bunga/buah maupun analisis Kidul. tetapi karena beberapa pohon ada yang sehingga dikawatirkan dapat mempengaruhi mati. Oleh karena itu.29 dibatasi oleh tanaman Swietenia pembungaan dan kualitas benih yang candolei Pittier. 2004). materi genetik berasal dengan kemiringan tempat (topografi) mendekati 30o.12 nyamplung. Gunung menjadi 4 sub plot yaitu (1) pinggir bawah. 29 pengamatan membentang arah Barat-Timur tahun tanam 1967. pohon di plot pengamatan berbunga. P.. Gunung Kidul ILG. Sulistyawati. Plot no. pengaruh lokasi terhadap jumlah bunga/buah dan untuk mengetahui pola sebaran serbuk II. sehingga karakteristik dan no. dan A. (3) pinggir atas dan (4) merupakan hutan koleksi jenis tanaman pinggir atas jarang. tidak semua untuk mengetahui variasi pembungaan.12 tahun tanam 1958 dan petak no. dan konservasi. Rimbawanto parameter utama dalam menunjang dari pulau Jawa. penelitian ini perlu dilakukan dengan tujuan Pada saat pengamatan. m2. dan di seluas 10 Ha (Anonim. Untuk mengetahui maupun pemuliaan nyamplung. Masing-masing petak keberhasilan pelaksanaan strategi pemuliaan berukuran 40 m x 40 m. Jarak pembungaan dan pendugaan sistem antar sub plot dibatasi oleh sejumlah pohon perkawinan nyamplung dilakukan di petak yang tidak berbunga sama sekali. Antara petak no. Karakteristik Pembungaan Dan Sistem Perkawinan Nyamplung (Calophyllum Inophyllum) Pada Hutan Tanaman Di Watusipat. Deskripsi plot pengamatan 15 pohon induk tersebut dikelompokkan Hutan penelitian Watusipat. sehingga jarak tanam menjadi tidak kuantitas dan kualitas biji. Selain itu. Nurtjahjaningsih. Widyatmoko. Acacia catechu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat keragaman genetik hanya dilakukan terhadap diaplikasikan baik untuk program konservasi 15 pohon induk saja. Jumlah pohon berbunga introduksi untuk tujuan uji kesesuaian lahan di sub plot pinggir bawah sebanyak 5 pohon. Pengamatan pinggir atas jarang sebanyak 2 pohon. dari keberhasilan terjadinya buah dan mengetahui sekitar 50 pohon induk hanya 15 pohon yang sistem perkawinan pada nyamplung di hutan berbunga (Gambar 1). terdiri dari 39 jenis tanaman.

tengah dan bawah pada setiap pohon. September 2012. Untuk mengetahui pembungaan. Selatan. di 3 bagian tajuk yaitu terhadap 15 pohon induk dan beberapa atas. pembuahan Pengamatan variasi pembuahan Pengamatan variasi pembungaan dilakukan enam bulan setelah pengamatan dilakukan pada musim berbunga berlimpah pembungaan yaitu bulan Pebruari tahun pada nyamplung. terhadap 15 pohon yang sama tersebut 2009 terhadap 15 pohon yang sedang di atas. 2. pengamatan jumlah bunga dilakukan di 4 Pengambilan sampel untuk analisis RAPD lokasi/ sub plot pengamatan. pembuahan diamati di lokasi/ faktor lingkungan yaitu kecukupan cahaya sub plot pengamatan. yaitu bulan Agustus tahun 2010. Supaya lebih 68 . pohon induk tidak berbunga/berbuah Metode dan 4 mata angin yaitu Utara. matahari. 65 . Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6 No. Gunung Kidul Keterangan: pohon induk yang berbunga/berbuah. Seperti pada pengamatan berbunga (Gambar 1). pinggir atas dan menggunakan penanda RAPD dilakukan pinggir atas jarang. anakan di setiap sub plot. Posisi pohon induk nyamplung yang berbunga dan berbuah di masing-masing sub plot pengamatan di Watusipat. tajuk dan mata angin. unsur hara dan fitohormon. yaitu pinggir Analisis keragaman genetik bawah.80 Pinggir atas Pinggir atas jarang Utara Tengah bawah 30 o Kemiringan tempat = 4 meter Pinggir bawah Gambar 1. tengah bawah. Timur Pengamatan karakter pembungaan dan dan Barat.

di sub plot pinggir atas sebanyak 4 dNTP. kelompok anakan. Widyatmoko. AYPBC. di sub plot Proses PCR dilakukan menggunakan mesin tengah bawah sebanyak 13 anakan.2 mM pohon. bawah sebanyak 14 anakan. dan A. Karakteristik Pembungaan Dan Sistem Perkawinan Nyamplung (Calophyllum Inophyllum) Pada Hutan Tanaman Di Watusipat. Kondisi PCR terdiri dari denaturasi kelompok pohon induk sebanyak 15 pohon. Rimbawanto mudah dipahami. selanjutnya sampel pohon primer RAPD. di sub thermal cycler GeneAmp PCR system 9700 plot pinggir atas sebanyak 21 anakan dan di (Applied Biosystem). OPQ14. Analisis DNA menggunakan penanda RAPD Screening penanda RAPD pada nyamplung telah dilakukan terhadap 100 69 . Kemudian. Total sampel daun DNA. Jumlah untai DNA (70oC selama 30oC). dilanjutkan Sedangkan sampel daun kelompok anakan dengan 45 siklus yang terdiri dari denaturasi dikumpulkan dan dipilih secara acak dari (94oC selama 1. penempelan primer anakan yang ada di bawah pohon induk di (37oC selama 30 detik) dan pemanjangan masing-masing sub plot pengamatan. Sampel daun kelompok OPQ17 dan OPY14. Nurtjahjaningsih. Namun demikian dari 100 induk disebut sebagai kelompok pohon hanya 5 primer yang bersifat stabil dan induk dan sampel anakan disebut sebagai polymorfik yaitu OPQ13. jumlah sampel pohon disajikan pada Tabel 1. Sulistyawati. selanjutnya 5 primer ini pohon induk dikumpulkan dari semua pohon digunakan untuk analisis keragaman genetik. 0. Sesuai jumlah lokus polimorfik pada nyamplung Gambar 1 di atas. 0. sampel daun tersebut dimasukkan dalam amplop yang sudah diberi silica gel dan disimpan pada suhu ruang sampai dilakukan ekstraksi DNA. sub plot pinggir atas jarang sebanyak 10 anakan. induk yang sedang berbunga saja di Sekuen oligonukleotida 5 primer RAPD dan masing-masing sub plot pengamatan. Total sampel daun kelompok anakan sebanyak 58 anakan. pohon. pada suhu 94oC selama 5 menit. induk di sub plot pinggir bawah sebanyak 5 Larutan PCR terdiri dari 10μL campuran pohon.05Unit AmpliTaq stoffel polymerase. OPQ16.5 menit). kemudian sampel daun anakan di sub plot pinggir pemantapan pada suhu 70oC selama 5 menit. P. di sub plot tengah bawah sebanyak 4 10 x buffer stoffel. 3 mM MgCl 2 . Gunung Kidul ILG. dan di sub plot pinggir atas jarang 10μM primer RAPD dan 10 ng/μL template sebanyak 2 pohon.

UPGMA. Apabila hasil analisis menunjukkan III. dan (Takezaki dkk. OPQ-14 GGACGCTTCA 4 450. 2. 500. Jumlah bunga dan buah berbeda nyamplung. OPQ-16 AGTGCAGCCA 3 220. tajuk dan mata angin. 380. masing-masing interaksinya disajikan pada Sistem perkawinan pada tegakan Tabel 1. mata angin. 65 . dan tingkat linkage disequilibrium (L-D) dianalisis 70 . OPY-14 GGTCGATCTG 3 350. 2010). membandingkan parameter keragaman interaksi lokasi dengan mata angin.31 (Yeh dkk. menggunakan software POPTREE2 interaksi tajuk dengan mata angin. tingkat kepercayaan dengan 1. 650 2. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6 No. Primer RAPD dan jumlah lokus polimorfik No. Analisis sidik ragam dan dan buah di masing-masing lokasi sub plot uji LSD dilakukan menggunakan program pengamatan. 550 4. tajuk dan mata angin dan komputer SPSS versi 19. HASIL DAN PEMBAHASAN perbedaan yang nyata. Hasil dengan uji Least Significant Difference Variasi jumlah bunga dan buah (LSD) untuk membedakan rata-rata sumber Hasil analisis sidik ragam jumlah bunga variasi yang diuji. interaksi lokasi. 600 Jumlah 17 Analisis data menggunakan program komputer POPGENE Data hasil pengamatan terhadap jumlah versi 1. 1983) menggunakan metode yaitu lokasi sub plot. 1999). diduga dengan cara secara nyata pada lokasi. 700 5. 1050 3. interaksi lokasi dengan mata angin. genetik antara kelompok pohon induk dan anakan. analisis sidik ragam menggunakan 3 faktor Nei dkk. mata angin. untuk mengetahui kedekatan Analisis dilakukan berdasarkan data jumlah genetik antar kelompok pohon induk dan bunga dan buah pada setiap lokasi sub plot. 290. anakan. maka dilanjutkan A. 400. Dendrogram bunga dan buah dianalisis menggunakan disusun berdasarkan data jarak genetik (Da. 400.80 Tabel 1. tajuk dan mata angin. September 2012. tajuk.000 tajuk. OPQ-17 GAAGCCCTTG 3 300. 650. 550. Primer Sekuen (5’-3’) Jumlah lokus Ukuran lokus (bp) polimorfik 1 OPQ-13 GGAGTGGACA 4 350. interaksi lokasi dengan kali pengulangan (bootstrap) dan dianalisis tajuk. Parameter keragaman genetik yang digunakan yaitu tingkat keragaman genetik berdasarkan Nei (1973) (h).

86 b Keterangan: Rata-rata yang dihubungkan dengan huruf yang tidak sama.31 b 6.54 ± 4. Uji LSD rata-rata jumlah bunga dan buah berdasarkan tajuk pohon di hutan tanaman nyamplung di Watusipat. sedangkan berdasarkan arah mata angin disajikan pada jumlah buah paling banyak terlihat sebelah Tabel 4.07 ± 1364.D Pinggir Bawah 444. Tabel 3.D Atas 769.35 ± 64.29 c Pinggir Atas 1638.94 b 7. ns= Tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Rata-rata jumlah bunga dan buah banyak di lokasi pinggir atas maupun pinggir berdasarkan lokasi sub plot disajikan pada atas jarang namun terbentuknya buah lebih Tabel 2.3 * Tajuk 2 4768531. bagian tengah sampai dengan atas tajuk. Meskipun jumlah bunga lebih banyak di lokasi pinggir atas saja.93 b Keterangan: Rata-rata yang dihubungkan dengan huruf yang tidak sama.D Rerata Jumlah Buah ±S.16 a 43. Tabel 2.5 * 4610. Rata-rata jumlah bunga dan buah di sebelah Utara dan Timur. Rimbawanto Tabel 1. diamati di bagian atas sampai dengan tengah Jumlah bunga paling banyak diamati di tajuk.24 ab Bawah 566. AYPBC.1 * 5973. Analisis sidik ragam lokasi.9 * Mata angin 3 3099096.0 * 5561.21 a 19. berbeda nyata pada taraf uji 5% .0 * Tajuk*Mata angin 6 1180003.94 ab 25.71 a 23. 71 . tajuk dan mata angin terhadap jumlah bunga dan buah di hutan tanaman nyamplung di Watusipat Gunung Kidul Sumber variasi db Kuadrat tengah Bunga Buah Lokasi 3 19222390. dan A.2 ns Lokasi*Mata angin 9 2913273.90 ± 16.40 ± 788. Sulistyawati.81 ±1395.33 ± 574. Jumlah bunga paling banyak terlihat Utara saja.D Rerata Jumlah Buah ±S.71 b 1.75 ±15.19 a Tengah 1104.12 ±37.10 a Pinggir Atas Jarang 1153.4 ns 787.6 ns 1691. Widyatmoko. Uji LSD rata-rata jumlah bunga dan buah berdasarkan lokasi sub plot di hutan tanaman nyamplung Watusipat Gunung Kidul Lokasi Rerata Jumlah Bunga ±S.5 ns Keterangan: * Berbeda nyata pada taraf uji 5%.88 ± 39.8 * 17301.70 ± 57. Gunung Kidul ILG. Karakteristik Pembungaan Dan Sistem Perkawinan Nyamplung (Calophyllum Inophyllum) Pada Hutan Tanaman Di Watusipat. berbeda nyata pada taraf uji 5% Rata-rata jumlah bunga dan buah sedangkan jumlah buah paling banyak berdasarkan tajuk disajikan pada Tabel 3.7 ns Lokasi*Tajuk*Mata angin 18 413193.52 c Tengah Bawah 265. Nurtjahjaningsih.7 * Lokasi*Tajuk 6 1413676.67 ± 1725.9 ns 1349. Gunung Kidul Tajuk Rerata Jumlah Bunga ±S.75 ± 402.33 ± 1408. P.

75 b Barat 490.1 c 10.8±843.0 c Tengah Bawah*Selatan 304.8 bc Pinggir Bawah*Utara 1280.D Pinggir Bawah*Timur 1996.0±2405.0 c 4. Nilai linkage disequilibrium (L-D) sampai dengan 0.67 a 33.2±756.D Rerata Jumlah Buah ±S.0±613.0 bc 61. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6 No.07 ± 64.76 ± 17. Tabel 5 menunjukkan rata-rata jumlah Timur.0±109. Gunung Kidul Mata angin Rerata Jumlah Bunga ± S.31 bc 8.5 bc Tengah Bawah*Barat 440.5 bc Pinggir Bawah*Selatan 774. lebih tinggi dibandingkan kelompok pohon Tabel 6 menunjukkan tingkat keragaman induk berkisar antara 0.D Timur 1017.4 bc Keragaman genetik di dalam plot bawah).0±8259.6 bc Pinggir Atas Jarang*Utara 3280.7 bc Pinggir Bawah*Barat 1299.3 bc Pinggir Atas*Utara 8000.4 a Pinggir Atas*Selatan 2800.0±2137. Uji LSD rata-rata jumlah bunga dan buah berdasarkan interaksi lokasi dengan arah mata angin di hutan tanaman nyamplung di Watusipat.89 a Selatan 635.4 ab 108.0±596. serta pinggir atas jarang sebelah bunga dan buah berdasarkan interaksi lokasi Selatan.8±185.80 Tabel 4.9 c 14.8±9.5±5.0±6701.0±1866.67 ± 20.4 bc 107.34 b Utara 1107.5 bc Pinggir Atas Jarang*Timur 2656.0±2285.3056 (pohon induk pinggir kelompok anakan umumnya lebih tinggi 72 .5±140.70 b Keterangan: Rata-rata yang dihubungkan dengan huruf yang tidak sama. sedangkan buah banyak terlihat di dengan arah mata angin. Bunga banyak pinggir atas Utara.45 ±1656.3 c 0.5±137.3750 (anakan kelompok anakan di dalam sub plot pinggir atas jarang).0±995.67 ± 538.91 ±1320.0 ab 42. Gunung Kidul Lokasi* Mata angin Rerata Jumlah Bunga ±S.7 b Pinggir Atas*Barat 2584.9 bc Pinggir Atas Jarang*Selatan 6160.3 a 300.5 c 2.D Rerata Jumlah Buah ±S. Bahkan kenaikan nilai h pengamatan.8±17.0±1376.5 c 50.0 c Pinggir Atas*Timur 6280.6 c 36.1471 (pohon induk pinggir atas jarang) induk.4±471.38 ab 17.57 ± 38.5 c 19. 65 .8 c 37.6±65.6 bc 100.0±59.0±480. terlihat di pinggir atas sebelah Utara dan Tabel 5.73 ± 1055. Tingkat keragaman genetik (h) kelompok anakan di lokasi pinggir atas kelompok pohon induk berkisar antara jarang hampir 3 kali nilai h kelompok pohon 0.0±441.0±0.5±76.2864 (anakan pinggir genetik kelompok pohon induk dan bawah) sampai dengan 0.4 c 11. 2.80 c 10. Sedangkan nilai h kelompok anakan pengamatan.0±34.0±36.5 bc Tengah Bawah*Utara 1224.3±22.5±51.0±19.7 bc Pinggir Atas Jarang*Barat 1744. Uji LSD rata-rata jumlah bunga dan buah berdasarkan arah mata angin di hutan tanaman nyamplung di Watusipat. berbeda nyata pada taraf uji 5%.0±2149.4 bc Tengah Bawah*Timur 1216. September 2012.

Tingkat keragaman genetik dalam kelompok pohon induk dan anakan di setiap lokasi sub plot pengamatan Keragaman genetik Lokasi sub plot pengamatan Pinggir bawah Tengah bawah Pinggir atas Pinggir atas jarang Pohon Anakan Pohon Anakan Pohon Anakan Pohon Anakan induk induk induk induk N 5 14 4 13 4 21 2 10 h 0. Nurtjahjaningsih. Widyatmoko.2864 0.013-0.184 Keterangan: 1. 73 . Nilai Da antar pengamatan kelompok pohon induk dan anakan termasuk Tabel 7 menunjukkan jarak genetik (Da.217 0.181 0. Anakan Pinggir Atas Jarang Angka digarisbawahi: nilai Da antara kelompok pohon induk dengan kelompok anakan Angka ditebalkan: nilai Da antar kelompok pohon induk Angka dimiringkan: nilai Da antar kelompok anakan Gambar 2 menunjukkan dendrogram antar kelompok pohon induk dan anakan yang menunjukkan hubungan kekerabatan pada setiap sub plot pengamatan.197 0. Nilai Da antar termasuk dalam tingkat rendah kelompok pohon induk termasuk dalam (0.208 6 0.132 0. Anakan Tengah Bawah 5.3056 0. Anakan Pinggir Bawah 3. Rimbawanto dibandingkan kelompok pohon induk.188 0.224 0. Nei dkk.2230 0.101 0. Anakan Pinggir Atas 7. tingkat moderate sampai tinggi (0.6 x Naik 2.143 4 0. Pohon Induk Pinggir Atas Jarang 8. P.264 0.043 3 0.131 0.184).5 L-D 48 44 0 36 4 32 0 32 N:jumlah sampel. nilai L-D yang tidak signifikan (nilainya nol) Bahkan kelompok pohon induk di lokasi namun kelompok anakan di lokasi yang tengah bawah dan pinggir atas mempunyai sama mempunyai nilai L-D yang tinggi. Pohon Induk Tengah Bawah 4.111-0.184 0.013 7 0.3 x Naik 1.074 2 0.3594 0.111 0. dan A. Pohon Induk Pinggir Bawah 2.2647 0.057 0. Pohon Induk Pinggir Atas 6. Jarak genetik antar kelompok pohon induk dan anakan (Da. 1983) 1 2 3 4 5 6 7 8 1 0. 1983) kelompok pohon induk dan Sedangkan nilai Da pada kelompok anakan anakan antar plot pengamatan.033 0.364 0.9 x Naik 1.3559 0.032 5 0. Tabel 6.082 0. h: /keragaman genetik Nei (1973).178 0. AYPBC.3750 ↑↓h Turun 0.197-0.364).057). Karakteristik Pembungaan Dan Sistem Perkawinan Nyamplung (Calophyllum Inophyllum) Pada Hutan Tanaman Di Watusipat. Sulistyawati. L-D: linkage disequilibrium. Nei dkk.237 0.1471 0.220 0.051 0. ↑↓h:kenaikan/penurunan nilai h pohon induk terhadap anakan Keragaman genetik antar sub plot tinggi (0.213 0. katergori dalam nilai tinggi sampai sangat Tabel 7.203 0. Gunung Kidul ILG.

Pembahasan berbeda (1958 dan 1967) dan pengamatan Karakterisasi pembungaan dan pembuahan dilakukan pada musim bunga berlimpah. terpisah secara jelas dengan pohon induk kluster 1 terdiri dari pohon induk pinggir tengah bawah maupun pohon induk pinggir atas jarang dan kluster 2 terdiri dari 2 sub bawah dengan tingkat kepercayaan 100%. 65 . bawah. kluster yaitu sub kluster kelompok pohon Sedangkan sub kluster pohon induk tengah induk pinggir atas dan sub-kluster pohon bawah dan pohon induk pinggir bawah induk tengah bawah dan sub-kluster anakan terlihat terpisah namun mempunyai tingkat dari semua sub plot dan pohon induk pinggir kepercayaan rendah (35%).80 Dendrogram terbagi menjadi 2 kluster. Sub kluster pohon induk pinggir atas Kluster 2 Kluster 1 Gambar 2. Sub plot pinggir atas nyamplung ditanam pada dua tahun yang merupakan tanaman tahun 1967 sedangkan 74 . Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6 No. Dendrogram menunjukkan hubungan kekerabatan antar kelompok pohon induk dan anakan pada setiap sub plot pengamatan Keterangan: PIPB=Pohon Induk Pinggir Bawah ANPB=Anakan Pinggir Bawah PITB=Pohon Induk Tengah Bawah ANTB=Anakan Tengah Bawah PIPA=Pohon Induk Pinggir Atas ANPA=Anakan Pinggir Atas PIPAJ=Pohon Induk Pinggir Atas Jarang ANPAJ=Anakan Pinggir Atas Jarang B. hasil pengamatan menunjukkan bahwa tidak Penelitian ini menunjukkan bahwa semua pohon berbunga. 2. September 2012.

tajuk maupun arah pembungaan. Karakteristik Pembungaan Dan Sistem Perkawinan Nyamplung (Calophyllum Inophyllum) Pada Hutan Tanaman Di Watusipat. Intensitas cahaya dari arah dibandingkan di lokasi pinggir atas dan Utara dan Timur merupakan arah mata angin pinggir atas jarang karena di dua lokasi yang paling baik untuk pembungaan pada bawah tersebut pohon dewasa saling nyamplung dibandingkan Selatan dan Barat. cahaya) yang lebih banyak dibandingkan Faktor lingkungan seperti kecukupan lokasi sub plot lainnya dengan densitas cahaya matahari dan unsur hara pohon yang lebih rendah. Variasi jumlah bunga sering lokasi sub plot pinggir bawah dan tengah dilaporkan meskipun di hutan tanaman bawah masing-masing sebanyak 5 dan 4 seperti variasi produksi bunga antar klon. cahaya matahari. dan unsur hara tidak cukup mendukung Kecukupan cahaya matahari berhubungan proses pembungaan di dua lokasi bawah dengan tingkat fotosintesis sebagai sumber tersebut sehingga bunga berjumlah sedikit. dalam hal energi dan bahan pembangun bagi proses kerapatan pohon dan kecukupan kebutuahn pembentukan dan perkembangan bunga. intensitas cahaya mampu 1958. pohon sehingga di plot tersebut tajuk dan tahun pada kebun benih Pinus membutuhkan unsur hara (selain intensitas sylvetris (Burczyk dan Chalupka. Namun demikian perbedaan tahun menembus area diantara pohon-pohon yang tanam ini tidak berpengaruh terhadap ada. Widyatmoko. sedangkan Kondisi lingkungan di lokasi pinggir atas kecukupan unsur hara dalam tanah dan pinggir atas jarang menunjukkan kondisi berhubungan dengan ketersediaan suplai yang ideal untuk terjadinya bunga. P. Sulistyawati. efek persaingan cahaya matahari juga berlaku untuk antar individu pohon juga menentukan pengaruh tajuk dan arah mata angin terhadap proses pembungaan (Burczyk dan Chalupka. AYPBC. menutup satu sama lain. Selain intensitas cahaya. Kebutuhan cahaya mempengaruhi proses pembungaan. lokasi sub plot kelimpahan bunga. pembungaan. sementara di dua Banyak faktor yang mempengaruhi 75 . Jumlah bunga hara yang dibutuhkan selama proses bervariasi antar lokasi. dan A. namun bisa diamati bahwa pada setiap bagian tajuk yang berpengaruh tanaman di lokasi pinggir dan tengah bawah terhadap proses pembungaan (Burczyk dan memperoleh cahaya matahari lebih sedikit Chalupka. 1997). Nurtjahjaningsih. Selain itu. Tabel 2 menunjukkan juga dihubungkan dengan persaingan antar bahwa jumlah bunga antara dua tahun tanam individu pohon dalam mendapatkan unsur tersebut tidak berbeda nyata. Walaupun tidak mengukur secara distribusi fitohormon pembungaan berbeda langsung. Gunung Kidul ILG. Jumlah pohon berbunga di mata angin. Rimbawanto sub plot pinggir atas jarang ditanam tahun lokasi atas. energi bagi proses pembungaan. pengaruh fisiologi 1997). 1997). Fenomena intensitas Selain faktor lingkungan.

Lokasi ditunjukkan di sub plot pinggar atas dan pinggir atas menunjukkan keberhasilan pinggir atas jarang yang mempunyai jumlah terjadinya buah yang paling banyak bunga yang sama banyak namun tidak diikuti dibandingkan tiga lokasi lainnya. Nilai h yang meningkat di lokasi ini lebih mudah terlihat oleh mata kelompok anakan dibandingkan indukannya facet serangga. dan arah mata angin Utara diantaranya kematangan bunga betina dan dan Timur menunjukkan jumlah bunga yang jantan. penyerbukan dan efektivitas polinator. 65 . bunga di pohon induk. September 2012. Serbuk dan anakan sari nyamplung bersifat relatif basah dengan Hampir semua nilai keragaman genetik bunganya yang harum sehingga proses (h) kelompok anakan meningkat penyerbukan lebih didominasi oleh serangga dibandingkan pohon induk di semua sub plot seperti kumbang. Nilai L-D meningkat mata angin lainnya. posisi tajuk yang mempengaruhi terbentuknya buah. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6 No. 2. mengindikasikan sistem perkawinan random Penelitian ini juga menunjukkan bahwa (El Kassaby dkk. 1984). Selain itu. 76 . bahkan plot pinggir atas jarang Serangga menyukai kondisi dengan sinar nilai h kelompok anakan meningkat hampir 3 matahari yang cukup yaitu di pinggir atas kali lipat dibandingkan nilai kelompok dan pinggir atas jarang. tidak semua bunga yang telah bunga yang tersedia dan efektifitas polinator diserbuki menghasilkan buah. Lokasi pinggir atas di hampir semua kelompok anakan dan sebelah utara menghadap area terbuka di plot nilainya termasuk tinggi. tengah ke atas. diantaranya jumlah Selain itu. kupu-kupu dan lebah. disebutkan di atas bahwa jumlah bunga Selain produksi bunga. kesehatan embrio setelah lebih berlimpah dibandingkan lokasi lainnya. Hal ini (Burczyk dan Chalupka 1997). Selain jumlah bunga.80 terbentuknya buah. banyak faktor lain berlimpah di lokasi pinggir atas. Tingginya nilai L-D pengamatan. Lokasi pinggir keragaman genetik didalam populasi dan atas di sebelah Utara menunjukkan menunjukkan asosiasi allele yang tidak pembuahan yang paling banyak random pada beberapa lokus pada proses dibandingkan interaksi lokasi dengan arah segregasi/perkawinan. interaksi lokasi dengan mata angin Nilai L-D adalah salah satu parameter mempengaruhi jumlah buah. pengamatan. sehingga memberi peluang menunjukan bahwa anakan yang dihasilkan yang lebih besar terjadinya pembuahan. Seperti dengan jumlah buah yang sama banyak. terbentuknya buah juga dipengaruhi oleh efektivitas polinator yang Keragaman genetik kelompok pohon induk membantu terjadinya penyerbukan.

Hal yang sama juga dilaporkan di semua plot pengamatan menunjukkan bahwa kebun benih klon Pseudotsuga menziesii banyak pohon induk yang berbunga di sub bahwa nilai L-D meningkat di awal dan akhir plot pinggir bawah (5 pohon induk yang dibandingkan puncak musim pembungaan berbunga) mampu menyerbuki semua pohon dimana pembungaan di musim tersebut berbunga di berbagai sub plot sehingga berjumlah sedikit (El Kassaby dkk. Gunung Kidul ILG. AYPBC. Widyatmoko. beralasan karena pohon induk yang berbunga Informasi kedekatan genetik pohon induk di hutan tanaman Nyampung hanya beberapa pinggir bawah dengan kelompok anakan di saja. 2004). Selain itu terbentuknya pohon induk dan anakan. Karakteristik Pembungaan Dan Sistem Perkawinan Nyamplung (Calophyllum Inophyllum) Pada Hutan Tanaman Di Watusipat. dan ini membantu mempertahankan keragaman interaksi antara lokasi dan arah mata angin. Rimbawanto berasal dari kombinasi gamet beberapa pinggir bawah. dan A. sedangkan pohon induk pohon induk saja yang berkerabat. bahkan nilainya semakin menurun pohon induk berbunga yang lebih banyak antar kelompok anakan. Gene flow yang tidak terhalang sub plot. unsur kekerabatan secara genetik antar kelompok hara dan fitohormon. Dominansi serbuk sari dalam suatu namun nilai tersebut menurun di kelompok proses penyerbukan di plot dengan jumlah anakan. genetik suatu populasi (Dow dan Ashley. tajuk. lingkungan yang mendukung proses Dendrogram menunjukkan hubungan pembungaan seperti cahaya matahari. Hal ini mengelompok dalam kelompok yang lain. pinggir atas dan pinggir atas kelompok pohon induk dikategorikan tinggi jarang. anakan mengelompok dengan pohon induk Nilai keragaman genetik (h) kelompok 77 . 1988). Hal ini juga diamati di hutan alam Pinus radiata mengindikasikan bahwa sebaran serbuk sari (Robledo-Arnuncio dkk. arah mata angin. KESIMPULAN berbunga hanya beberapa pohon saja namun Penelitian ini menunjukkan bahwa polinator bergerak bebas membantu proses jumlah bunga berbeda secara nyata di lokasi penyerbukan. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor 1998). Nurtjahjaningsih. Meskipun pohon induk yang IV. Nilai jarak genetik (Da) antar tengah bawah. Sulistyawati. Dari hasil buah tidak hanya ditentukan oleh jumlah dendrogram tersebut terlihat bahwa semua bunga saja namun juga efektivitas polinator. P. mempunyai potensi sebaran serbuk sari yang Nilai jarak genetik (Da) adalah salah satu lebih luas dibandingkan plot yang parameter keragaman genetik antar populasi mempunyai jumlah pohon berbunga yang dan menunjukkan perbedaan genetik antar sedikit seperti tiga sub-plot lainnya yaitu populasi. tidak terhalang dari satu sub plot ke sub plot yang lain.

G. Anggraeni. Rostiwati. Y. Bustomi. S. Sudradjat. Kosasih. Triyanta. T. (2003) Gene flow estimates with microsatellites in a Malagasy dengan keragaman tinggi akan lebih tinggi. (eds. seed orchard of Eucalyptus grandis. Chalupka.. Sekilas hutan penelitian: Watusipat Playen Gunung Kidul.... N. 2. Namun pembungaan/ pembuahan dan pengumpulan materi demikian. untuk mendapatkan benih berkualitas Dow. D.S. P.. penanggung jawab lapangan di hutan karakteristik sistem perkawinan di tipe hutan penelitian Watusipat. D. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6 No. Sziklai. S.80 anakan lebih tinggi dibandingkan kelompok UCAPAN TERIMA KASIH pohon induk menunjukkan bahwa Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Subagyo. Penulis juga menyampaikan terima kasih disequilibrium (L-D) pada kelompok anakan kepada Ibu Wahyuni Sari dan Bapak Y. Gunung Kidul yang telah tanaman seperti Gunung Kidul mendekati banyak membantu dalam kegiatan pengamatan sistem perkawinan random. gene flow in bur Oak revealed by paternity famili yang ada di populasi pemuliaan harus analysis using microatellites. Jakarta. Male reproductive success in Pseudotsuga menziesii (Mirb. Reproductive phenology and its impact on 78 . 62 p.) musim tersebut kemungkinan terjadinya Franco: the effects of spatial structure and flowering characteristics. teknisi di Laboratorium Genetika Molekuler Balai menunjukkan indikasi kawin kerabat karena Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan hanya beberapa pohon saja yang Tanaman Hutan. Heredity 79: 638-647 perkawinan acak/random lebih besar Chaix. Nyamplung genetik (benih/anakan) yang digunakan (Calophyllum inophyllum) sumber energi biofuel yang potensial. and Prat. Departemen menunjukkan bahwa plot dengan jumlah Kehutanan. Flowering and cone pohon berbunga terbanyak. 2008. Rendahnya nilai jarak mengumpulkan materi genetik di lapangan maupun genetik (Da) antar kelompok anakan kegiatan penelitian di laboratorium. Y.M. I. A. yang lebih tinggi untuk menyebarkan serbuk Annual Science Forest 54: 129-144 sari dan mendominasi proses penyerbukan.. Fashler. 2004. dibandingkan kelompok indukannya menunjukkan sebaran serbuk sari (gene flow) DAFTAR PUSTAKA yang luas di lokasi tersebut. Theoretical and Applied Genetics 107: 705-712 Selain itu. Hamon. S... Vigneron.. O. V. Priyono.. September 2012. N... B. 11 hal. (1998) High levels of dalam jumlah cukup/memadai pada uji pemuliaan. Gerber. Anonim. Y. berbunga yang berlimpah. Leksono. Burczyk.. (1984) tinggi antar individu pohon. and untuk pembangunan plot konservasi maupun Widyaningtyas. M. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 1997. B.. karena pada Burczyk. dan Rachman.K. 65 . Pusat Penelitian dan mengelompoknya pohon induk pinggir Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan bawah dengan semua kelompok anakan Tanaman Hutan. sehingga kemungkinan mendapatkan benih Verhaegen. Djaenudin. Departemen uji pemuliaan harus diperoleh dari musim Kehutanan.A.. Mile. W.V. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan... A. 1997. memberi peluang production variability and its effect on parental balance in a Scots pine clonal seed orchard.S. D. Selain itu. E. R. Razafimaharo. D. J.). Syamsuwida. yang telah banyak membantu baik menghasilkan bunga.. Yogyakarta. Penelitian ini menunjukkan bahwa materi Lisnawati. and Ashley. Mahfudz.. J. tingginya nilai linkage genetik. The Journal of Heredity 89 (1): 62-70 mempunyai tingkat sinkronisasi pembungaan yang El-Kassaby.D.

Nurtjahjaningsih. (1988) The role of reproductive phenology upon the mating system of a Douglas-fir seed orchard... H. Karakteristik Pembungaan Dan Sistem Perkawinan Nyamplung (Calophyllum Inophyllum) Pada Hutan Tanaman Di Watusipat. Ritland. F. Molecular Ecology 13: 2567-2577 Takezaki N. Alia.. Widyatmoko. Yang. J. Y. 19: 153-170 Robledo-Arnuncio..C. University of Alberta... (2004) Increased selfing and correlated paternity in a small population of a predominantly outcrossing conifer.2. 79 .J.A. Tsumura. Boyle. K. J Mol Evol. M. L.B. Rimbawanto genetically improve seed production in a Douglass-fir seed orchard. Y. R. Y. (2004) Variation of paternal contribution in a seed orchard of Cryptomeria japonica determined using microsatellite markers. Devitt. Nei. Molecular Biology Evolution 27(4):747-752 Yeh...X. A. Tajima. POPGENE 3. N. dan A. Canadian Journal of Forest Research 34: 1683-1690 Nei.Ye..B. W. Accuracy of estimated phylogenetic trees from molecular data. F. Sulistyawati. Silvae Genetica 33 (4-5): 120-125 El-Kassaby. Fashler. T.H..J. AYPBC. 1999. Molecular Biology and Biotechnology Center. Silvae Genetica 37 (2): 76-82 Moriguchi. Gil. The user-friendly shareware for population genetic analysis.. Pinus sylvestris. Tani. Mao. R. M. P. Y.J.M. Gunung Kidul ILG.K. Tateno.C. Z. Tamura. Edmonton.. (2010) POPTREE2: Software for constructing population trees from allele frequency data and computing other population statistics with windows interface.K. Taira. (1983).. and J.

Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6 No. September 2012. 65 . 2.80 80 .