APENDISITIS AKUT

PEPER
APENDISITIS

Pembimbing :
dr. Yarie Hendarman Hudly, Sp.B. FinaCS

disusun oleh :
iku denyufa ( 10310181 )

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014

KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 1

APENDISITIS AKUT

APENDISITIS AKUT

PENDAHULUAN
Apendiks adalah organ yang berbentuk seperti cacing yang
berpangkal pada sekum, karena alasan inilah maka apendiks sering
juga disebut dengan vermiform appendix (vermi berarti cacing, form
(1)
berarti berbentuk).
Appendiks disebut juga umbai cacing.Istilah usus buntu yang
sering dipakai dimasyarakat awam adalah kurang tepat karena usus
buntu sebenarnya adalah sekum.Fungsi organ ini tidak diketahui
namun sering menimbulkan masalah kesehatan.Peradangan akut
apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah
komplikasi yang umumnya berbahaya.(2)
Penyakit ini merupakan salah satu kasus emergensi bedah dan
penyebab nyeri abdomen yang paling bayak ditemukan. Apendisitis
dapat disebabkan oleh berbagai sebab antara lain infeksi tetapi
mekanisme yang paling utama adalah obstruksi pada lumen apendiks.
(1,2)

Orang yang pertama sekali melakukan apendektomi adalah
Amyan, seorang ahli bedah militer inggris. Amyan melakukan
apendektomi tanpa tindakan anestesi, apendektomi ini dilakukannya
pada suatu kasus apendiks perforasi. Reginal H. Fitz adalah orang yang
pertama kali menjelaskan mengenai anatomi patologi dari apendisitis.
Pada abad ke-19 seorang ahli bedah inggris H. Hancock berhasil
melakukan tindakan apendektomi pada seorang pasien apendisitis
akut. Beberapa tahun kemudian seorang warga Amerika Serikat, Mc
Burney menerbitkan suatu serial laporan mengenai dasar dan tindakan
terapi pada apendisitis akut.(3,4)
Meskipun telah banyak dicapai kemajuan dalam hal diagnostik
dan penatalaksanaannya, apendisitis masih menjadi suatu

KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 2

5) KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 3 . apendisitis akan mudah dan cepat didiagnosis dan diterapi. Diagnosa dari apendisitis didasarkan atas gejala klinis yang dikeluhkan penderita. Jika muncul dalam bentuk klasiknya. riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis. Organ ini mulai muncul pada janin dengan masa kehamilan 5 bulan dan disertai dengan terbentuknya folikel-folikel limfoid pada mukosanya. Jika tidak ditanggulangi dengan baik maka akan dapat menyebabkan berbagai komplikasi antara lain perforasi atau sepsis. Dalam hal ini termasuk didalamnya pemeriksaan laboratorium dan foto yang digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis apendisitis.4) ANATOMI Panjang rata-ratanya adalah 8-10cm (dengan kisaran panjang 2-20cm).2. Folikel ini akan meningkat jumlahnya pada usia 8-20 tahun. APENDISITIS AKUT permasalahan emergensi bedah.(1.(3. Namun jika muncul dalam yang tidak khas akan menjadi suatu kasus yang membutuhkan penanganan yang cermat dan mendalam. Penyakit ini masih merupakan suatu penyebab paling banyak dari akut abdomen.

Pada orang dewasa panjang apendiks rata-rata 9-10 cm.Namun demikian pengankatan apendiks KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 4 .sedangkan persyarafan simpatis berasal dari n.5) Pada 65% kasus.5) Pada kasus selebihnya apendiks terletak retroperitonel.mesenterika superior dan a.2.yaitu dibelakang sekum.5) Persyarafan parasimpatis berasal dari cabang n.(1.4.2.(1.4.2.(1.retroileal.dibelakang kolon asendens.apendikular .atau ditepi lateral kolon asendens.5 cm. Perdarahan apendiks berasal dari a.Kedudukan ini memungkinkan apendiks bergerak-gerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks pegantungnya.vagus yang mengikuti a. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.(1.Jika arteri ini tersumbat .3. apendiks terletak intraperitoneal.ialah Ig A.5) FISIOLOGI Apendiks menghasilkan lendir 1-2ml perhari. terletak posteromedial sekum kira-kira 3 cm inferior dari valvula ileosekalis.4.(1.Immunoglobin itu sangat efektif sebgai pelindung terhadap infeksi.5) Immonoglobin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk apendiks .apendikular yang merupakan arteri tanpa koleteral.3.Gejala apendiks ditentukan oleh letak apendiks.misalnya trombosis pada infeksi .torakalis X.lendir ini secara normal dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir kedalam sekum.apendiks akan mengalami ganggren.2.memberikan gambaran klinis yang sama.Karena itu nyeri visceral pada apendisitis bermula di sekitar umbilicus.3.subileal atau di pelvis. APENDISITIS AKUT Tonjolan apendiks pada neonatus berbentuk kerucut yang menonjol dari apeks sekum sepanjang 4.Posisi apendiks bisa retrosekal.2.Pada masa kananak- kanak batas apendiks dari sekum semakin jelas dan bergeser ke arah dorsal kiri.

4. mononukleosis.7) ETIOLOGI Apendisitis disebabkan oleh obstruksi pada lumen apendik. stasis fekal dan fecalit (lebih sering terjadi pada usia lanjut).(1.2.2.3.6. campak dan infeksi saluran nafas dan pencernaan. infeksi (terutama sekali pada anak-anak usia muda).(1.5) DEFINISI Apendisitis didefenisikan sebagai inflamasi atau peradangan sepanjang organ apendiks yang dapat menyebar kebagian lain sedangkan apendisitis perforasi merupakan salah satu dari komplikasi dari suatu apendisitis akut (komplikasi lainnya adalah peritonitis. Hiperplasia limfoid berkaitan dengan penyakit crohn. mekanisme terjadinya akan dijelaskan pada bagian berikutnya. parasit (sering ditemukan dinegara-negara timur).(1.4.5. amubiasis.6. Namun pada prinsipnya apendisitis perforasi merupakan komplikasi dari suatu apendisitis yang mengalami gangguan aliran darah akibat infeksi bakteri pada dinding apendiks KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 5 .2. APENDISITIS AKUT tidak mempengaruhi sistim imun tubuh sebab jumlah jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh.3. atau yang lebih jarang lagi disebabkan oleh benda asing dan neoplasma. Fekalit merupakan benda padat didalam apendiks yang terbentuk setelah presipitasi garam kalsium dan serat tidak diserap didalam suatu matrik material feses yang telah mengalami proses penyerapan air.7) Pada pasien apendisitis perforasi dan abses 20% diantaranya disebabkan oleh fekalit. Penyebab dari obstruksi ini adalah hiperplasi sekunder limfoid akibat Irritable Bowel Disease (IBD) atau inflamasi saluran cerna. abses dan pylephlebitis).5.

4. apendisitis akut masih merupakan kasus bedah emergensi.(1.5) Insiden apendisitis akut di negara maju lebih tinggi dari pada negara berkembang. Sedangkan tingkat kejadian yang tinggi pada anak-anak disebabkan apendiks yang masih tipis dan anak kurang komunikatif sehingga memperpanjang waktu diagnosis dan keterlambatan terapi.5) Tingkat kejadian apendisitis akut adalah 7 % dari seluruh populasi (US dan Eropa). ganggren dan perforasi akan dapat terjadi dalam 24 jam pertama. APENDISITIS AKUT dan akibat distensi lumen oleh pus atau nanah. namun dalam tiga dasarwasa terakhir menurun KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 6 .5) EPIDEMIOLOGI Dari laporan statistik. Setiap usia dapat mengalami apendisitis. Dari kasus apendisitis akut tersebut 12% diantaranya mengalami apendisitis perforasi.(1. Jarang sekali kasus apendisitis ditemukan pada neonatus dan prenatal.2.2. Faktor lainnya yang mempercepat terjadinya perforasi pada apendisitis anak adalah omentum anak belum berkembang dengan baik.2. terlebih lagi untuk apendisitis perforasi. 1 dari kasus apendisitis salah didiagnosis oleh dokter dan 15-40% dari pasien yang menjalani apendektomi ternyata memiliki apendiks yang sehat.3.(1. Faktor yang mempengaruhinya selain keterlambatan diagnosis dan penanganan adalah terdapatnya perubahan anatomis apendiks berupa penyempitan lumen. dan arteriosklerosis. Dilaporkan tingkat kejadian apendisitis perforasi 60% pada penderita usia diatas 60 tahun. dengan tingkat kejadian tertinggi dialami pada usia dekade kedua dan ketiga. Meskipun telah ditemukan berbagai jenis dan generasi antibiotika. Di negara-negara Asia dan Afrika tingkat kejadian apendisitis akut lebih rendah karena pola makan dari orang- orang di negara-negara tersebut.

7) Obstruksi tersebut meyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan.Makin lama mucus tersebut makin banyak.2.Jarang di jumpai hipertropi jaringan limfoid.Obstruksi pada lumen adalah faktor dominan penyebab apendisitis akut. cacing terutama Ascariasis.Kejadian ini di duga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari. dan ulserasi mukosa.5. disebabkan oleh pengumpilan barium (kontras) pada sinar X.biji-bijian.6.dipedesis bakteri.6) KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 7 .Penyebab yang lain diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti Entamoeba histolytica.7) Bila sekresi mucus terus berlanjut. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.Jarang timbul pada masa muda.5) Apendisitis akut adalah kondisi yang sering terjadi pada abdomen.edema bertambah.5. tekanan akan terus meningkat.2.(1.Berbagai hal berperan sebagai faktor faktor pencetusnya.3.Hal ini akan meyebabkan obstruksi vena.(1.Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. sayur-sayuran.5.2) PATOFISIOLOGI Apendisitis akut merupakan infeksi bacterial. kemungkinan disebabkan karena konfigurasi apendiks pada umur ini membentuk obstruksi pada lumen. APENDISITIS AKUT secara bermakna.2.(1.(1.(1.Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema . dan bakteri akan menembus dinding peradangan yang timbul meluas mengenai peritoneum setempat sehingga meninggalkan nyeri didaerah kanan bawah.sehinga elastisitas tekanan intralumen meningkat.Fecalit biasanya menyebabkan obstruksi appendicial.penyakit ini biasanya terjadi pada segala umur tetapi sering pada masa-masa kehidupan 2-3 dasarwasa.3.

2. APENDISITIS AKUT Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan ganggren . (1.apendisitis akan sembuh dan masa periapendikular akan menjadi tenang dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.atau adneksa sehingga terbentuk masa periapendikular yang secara umum dikenal dengan istilah infiltrate apendiks.(1.(1.Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi.7) Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya.Perlengkatan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah.stadium tersebut ini disebut dengan apendisitis gangrenosa.(1. obstruksi akan menyebabkan peningkatan tekanan pada lumen KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 8 .4.2.2.5) Usaha pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup omentum.(1.3. Diluar dari fakor etiologinya. karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang.Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau hilang.2. ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. usus halus.Bila dinding yang telah rapuh itu pecah.anak.3.5. dinding apendiks lebih tipis.Jika tidak terbentuk abses.5) Bila semula proses diatas berjalan lambat .4.omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu masa lokal yang isebut infiltrat apendikularis.2.Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai mengalami eksaserbasi akut.5) Apendisitis terjadi akibat obstruksi pada lumen apendiks disebabkan oleh berbagai penyebab.akan terjadi apendisitis perforasi.6) Pada anak.

2.7. (1.(1.5) Tahap peradangan apendiks adalah: 1.4.3.6. bakteri usus akan berkembang biak didalam apendiks dan bakteri ini akan berusaha dimusnahkan oleh leukosit. Apendisitis akut (sederhana. Jika proses ini terus berlangsung akan timbul periapendikular abses dan peritonitis.5) Jika obstruksi tersebut menetap.2) Dalam beberapa jam.8) Apendisitis akut sering timbul dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat. tanpa perforasi) 2.Nyeri pada perut adalah gejala utama rasangan peritoneum lokal.keluhan ini sering disertai mual dan kadang-kadang ada KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 9 .(2.(1.5. Gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri visceral didaerah epigastrium disekitar umbilicus. APENDISITIS AKUT apendiks. keadaan yang masih bersifat lokal ini akan semakin memburuk dan menimbulkan trombosis pada arteri dan vena yang akan menyebabkan terjadinya perforasi dan ganggren pada apendiks. akan timbul peningkatan tekanan yang semakin tinggi didalam lumen dan akibatnya akan menimbulkan obstruksi pada aliran vena-vena apendik.disertai maupun tidak disertai rasangan peritoneum lokal.2. Akibat lanjutnya adalah timbulnya iskemia pada dinding apendik dan menimbulkan gangguan pada integritas epitel dinding apendiks dan bakteri akan dengan mudah menyerang dinding tersebut. Peningkatan ini dihubungkan dengan sekresi cairan dan mukus yang terus menerus oleh mukosa apendiks dan timbulnya stagnasi dari bahan-bahan tersebut.2. akibatnya akan terbentuk pus dan ini akan semakin meningkatkan tekanan didalam lumen. Pada saat yang sama. Apendisitis akut perforata (termasuk apendisitis ganggrenosa).5) GAMBARAN KLINIS(1.

Umumnya nafsu makan menurun.Yang perlu diperhatikan ialah pada kehamilan trimester pertama.  Biasanya nyeri mula-mula dirasakan didaerah periumbilikal atau epigastrium dan menyebar kekuadran kanan bawah abdomen.Pada bayi 80 % . Riwayat Penyakit:  Gambaran gejala penyakit yang paling sering dikeluhkan penderita adalah nyeri abdomen. sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. tapi biasanya 4 – 6 jam ). APENDISITIS AKUT muntah. pada bayi dan anak-anak sering tidak dapat menunjukkan letak sakitnya. KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 10 . mual dan muntah. Bila terdapat peransangan peritoneum biasanya pasien megeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. Pada kehamilan keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut.90 % apendisitis baru diketahui setelah perforasi.Pada kehamilan lanjut sekum dengan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan diperut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan. nyeri akan kekuadran kanan bawah ketitik Mc Burney.Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan.Sering juga terjadi mual dan muntah.Karena gejala yang tidak khas tadi.Kadang-kadang tidak ada nyeri epigastrium tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar.Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. yang akan menetap disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatic setempat.Dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah-muntah dan akan menjadi lemah dan letargi.Setelah beberapa jam ( 1 – 12 jam. biasanya sakit dirasakan diseluruh tubuh.

 Tanda lainnya adalah nyeri meningkat pada saat batuk (Dunphy Sign). dan kadang-kadang ditemukan tanda-tanda guarding (sikap penderita atau posisi yang diambil penderita untuk melindungi bagian yang sakit). Untuk dapat menjelaskan diagnosis banding perlu ditanyakan riwayat penyakit gastrointestinal. dan akan semakin tinggi jika telah terjadi perforasi. Gejala klinis lain adalah:  Keadaan umum penderita terlihat benar-benar sakit.  Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara hati-hati dan tidak hanya terbatas pada daerah abdomen.  Pada palpasi akan didapatkan nyeri pada titik McBurney di kuadran kanan bawah abdomen (McBurney Sign). Pada saat ini demam biasanya belum muncul. muntah dan anoreksia.  Suhu tubuh sedikit meningkat. Pada apendik yang perforasi dapat menyebabkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan:  Demam tinggi (rata-rata 38.  Nyeri lepas didapatkan jika terdapat iritasi pada peritoneum (Blumberg Sign). KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 11 . APENDISITIS AKUT  Jika penyakit berlanjut gejala yang dirasakan adalah nyeri bersamaan dengan mual. Sedangkan pada penderita wanita harus dilakukan pemeriksaan pelvik (VT).  Pada penderita harus dilakukan pemeriksaan rektum (RT) terlebih pada penderita dengan gambaran klinis yang tidak jelas. Pada penderita wanita harus ditanyakan mengenai riwayat ginekologisnya. dan berbagai penyakit infeksi lainnya.3 0C).  Dehidrasi ringan sampai berat tergantung derajat sakitnya. saluran kemih dan kelamin.

PEMERIKSAAN FISIK(1.  Peristaltik usus menurun sampai hilang karena ileus paralitik.Ini juga menandakan adanya ransangan peritoneal.6.  Nyeri tekan dan defans muskular di seluruh perut (mungkin dengan pungtum maksimum diregio iliaka kanan). dan T12 tidak selalu menyertai keadaan apendisitis akut yang sering terjadi.  Perut menjadi tegang dan kembung.Peningkatan temperatur jarang lebih dari 1 derajat.5.Perubahan- perubahan yang bermakna biasanya pada kasus yang mengalami komplikasi atau diduga penyakit lain.8) Pemeriksaan fisik ditentukan oleh posisi anatomi apendiks yang meradang. Penderita dengan apendisitis lebih suka dengan posisi supine dan tungkai kanan ditekuk untuk mengurangi rasa sakit.Nyeri tekan yang maksimal yaitu 1/3 lateral dari garis yang ditarik dari Sias ke Umbilikus.7.Tanda-tanda fisik tidak banyak berubah pada apendisitis yang tidak mengalami komplikasi.Untuk memeriksa hiperestesia tersebut dapat dilakukan dengan KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 12 . Rovsing Sign adalah nyeri perut kanan bawah apabila dilakukan palpasi pada perut kiri bawah. pada daerah dipersyarafi T10.3. Nyeri kanan bawah merupakan tanda yang sering dijumpai pada peradangan apendiks. Hiperestesia pada kulit. APENDISITIS AKUT  Nyeri yang hebat serta meliputi seluruh perut.Jika pasien disuruh bergerak maka pasien akan bergerak dengan hati-hati karena gerakan lain bisa menimbulkan rasa nyeri. T11. kecuali abses diregio kanan.2. abses rongga peritoneum bisa terjadi bila mana pus yang menyebar bisa dilokalisir disuatu tempat. Tekanan biasanya normal atau sedikit meningkat.4.

Psoas Sign menandakan adanya focus iritasi pada proximal dari otot tersebut.testnya dilakukan secara pasif memfleksikan tungkai kanan dan kemudian dilakukan internal rotasi. APENDISITIS AKUT merangsang dengan jarum.dilakukan dengan mengekstensikan tungkai kanan sehingga menimbulkan peregangan pada otot ileopsoas.Disebut positif jika timbul nyeri. Defans muscular pada palpasi dari dinding abdomen sesuai dengan derajat inflamasi. Obturator Sign adalah nyeri pada hipogastrika yaitu pada peregangan musculus obtirator internus juga mengindikasikan adanya iritasi pada lokasi tersebut. Iritasi ransangan peritoneal yang berlanjut meningkatkan spasme otot dan tidak menimbulkan gerakan involunter. Obturator Sign KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 13 .

3.8) 1.000/mm3 dengan PMN yang dominan.Ini adalah suatu indikasi daripada apendisitis akut yang tidak mengalami komplikasi . KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 14 . Radiologi .2. . Tanda – tanda peritonitis kuadran kanan bawah. 2.000.Jika leukosit lebih dari 18.7. Foto polos pada apendisitis perforasi : a. .Gambaran terselubung mungkin terlihat “Ileal atau caecal Ileus”. Gambaran perselubungan lebih jelas dan dapat tidak terbatas di kuadaran kanan bawah.12. Patognomik bila terlihat gambaran fecalit. . Foto polos abdomen dikerjakan apabila dari hasil pemeriksaan riwayat sakit dan pemeriksaan fisik meragukan. Pemeriksaan Darah : Leukositosis dijumpai 10. APENDISITIS AKUT Psoas Sign LABORATORIUM(1.000 /mm3 atau jika shift to the left (PMN) dijumpai berarti mengalami perforasi.

Tanda.8) Komplikasi apendiks akut adalah : 1. Peritonitis KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 15 . Penebalan dinding usus disekitar letak apendiks.tanda obstruksi usus seperti garis –garis permukaan cairan akibat paralysis usus-usus lokal didaerah proses infeksi. c. DIAGNOSA BANDING(1.7) 1. Urolitiasis pielum / ureter kanan . d.6. diverkulitis kolon. Kehamilan Ektopik Terganggu 5. Infeksi Panggul (salfingitis.3 derajat celcius. Perforasi Perforasi sering diagnosa dengan adanya nyeri dan demam yang tinggi yaitu diantara 38. PID) 4. Endometriosis Eksterna . pankreatitis. KOMPLIKASI(1. obstruksi usus awal. dan mukokel apendiks). Penyakit lain (divertikulitis meckel.3.7. Scoliasis kekanan e.5. 2. demam tipoid abdominalis.4. Gastroenteritis 2. APENDISITIS AKUT b. perforasi tukak duodenum atau lambung. kolesistis akut. Demam Dengue 3.2.Inflamasi akut pada apendiks sampai terjadinya perforasi terjadi dalam 12 jam pertama. karsinoid. Garis lemak praperitoneal menghilang. seperti sekum dan ileum. perforasi kolon.

dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. APENDISITIS AKUT Secara makroskopik. Pemasangan NGT. Massa Periapendikular Masa apendiks terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi pendindingan oleh omentum daun atau lekuk usus. PENATALAKSANAAN(1.8) 1.dan gerakan ileus yang berkurang (peristaltic menurun) didapati pada pasien peritonitis. nadi dibawah 120 x/1` 3.Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi . Pasien dipuasakan 2. pembedahan dilakukan jika rehidrasi dan usaha penurunan suhu tubuh telah tercapai.serta bertambahnya kenaikan leukosit. Bila terjadi perforasi akan terbentuk abses apendiks. produksi urin 1-2 ml/kgBB/jam.dan pembengkakan massa.bertambahnya nyeri tekan dan otot yang kaku. transfusi bila diperlukan) 4.4. peritonitis yang terlokalisir dijumpai dengan adanya ganggren apendiks. 3. Dipasang sebelum melakukan tindakan pembedahan.7.Keadaan peritonitis biasanya dinyatakan secara tidak lansung pada cavitas peritoneum yang luas.bertambahnya nyeri . Penanganan syok septik bila ada KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 16 .2.3.Oleh karena itu.Pada masa periapendikular yang pendindingannya belum sempurna.distensi abdominal. di sarankan masa periapendikular yang masih mobil dioperasi segera untuk mencegah penyulit tersebut. suhu tubuh tidak melebihi 380C. Perbaikan keadaan umum dengan pemasangan infus (koreksi cairan dan elektrolit.

Antibiotika umum kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob (sebelum dilakukan kultur kuman) 6. kulit dibiarkan terbuka untuk kemudian dijahit bila dipastikan tidak ada infeksi. Jakarta 1997:P.tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat kecil.2.Editor Syamsuhidajat R. Pada anak tidak usah dipasang penyalir intraperitoneal karena dapat menyebabkan komplikasi infeksi. supaya dapat dilakukan pencucian rongga peritoneum dari pus maupun pengeluaran fibrin secara adekuat (dilakukan dengan larutan saline)  apendisektomi 7.865 – 875. Pada penderita dengan usia lanjut tingkat kematian mencapai 5% dan pada anak-anak tingkat mortalitas adalah 1-4% akibat keterlambatan dalam mendiagnosis. APENDISITIS AKUT 5.Jong WB. Edisi Revisi.Apendiks. Pada saat pembedahan dilakukan teknik insisi yang panjang. DAFTAR PUSTAKA 1. PROGNOSIS(1. Pieter J. Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan.Serangan berulang dapat terjadi bila apendiks tidak diangkat. Buku Ajar Ilmu Bedah.3.Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi..EGC.Usus Halus.5) Pada pasien tanpa perforasi prognosa baik.4. sedangkan pada apendisitis perforasi tingkat kematian adalah 1%. Dianjurkan pemasangan penyelir subfasia. KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 17 .Kolon dan Anarektum .

Large Medical Book. P. KATA PENGANTAR Dengan rasa syukur kepada Allah SWT.emedisine/surg/topic 1531 html. 8. Ten Edition. Lawrence MD.Desember 29. Edisi Ketiga. penulis telah selesai menyusun paper ini guna Karya Ilmiah Kepaniteraan Klinik Senior di Rumah Sakit Umum Dr.Suprohaita. KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 18 . Schwartz Shires Spencer . 6.2002.610 – 614. Adam. Adam. A.emedisine/surg/topic Treament Case Reviewed. Wahyu Ika Wardhani. Penerbit FKUI.April 2. 7. Wiwek Setio Wulan. Jakarta 2000 .Bedah Digestif: Kapita Selekta Kedokteran. Schwartz I Seymour. P. P. 1995: 109-126. Pirngadi Medan dengan judul “Appendisitis Akut”. APENDISITIS AKUT 2. VOL 3. Appendicitis. Internet: http:// www. Way W. 3.1307 –1316.Appendicits internet:http:// www. Kartono D. Apendisitis Akut: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Internatinal Edition.Desember 29.2002. 5.Apendix Principles of Surgery. Appendix : Current Surgical Diagnosis and Treatment. Santacrase L.Jilid Kedua.2002. Appendectomy Internet: http:// www. Gagiardi S. Jakarta. 4. Editor Reksopradjo S.emedisine/surg/topic Treament Case Reviewed.Penerbit Media Aesculapius FKUI. Sixth Edition. 307 – 310. Mansjol A.

Medan. ii Pendahuluan ……………………………………………………………………………………………… 1 KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 19 .B dan Dr. Juli 2007 Penulis DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar ………………………………………………………………………………………. APENDISITIS AKUT Pada kesempatan ini tak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Franscisco. .. Marahakim L. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan serta dapat menjadi arahan dalam mengimplementasikan penatalaksanaan kasus bedah di masyarakat. Bahwasanya hasil usaha penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan tidaklah mengherankan karena keterbatasan pengetahuan yang ada pada penulis. Kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan penyusunaan paper lain dikemudian kesempatan. Tobing. i Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………. atas kesediaan beliau membimbing dalam penulisan makalah ini.Sp. .

.. 3 Etiologi………………………………………………………………………………………………………....................………………………………………………………………………………………..... RM: 607443 KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 20 ... Kel. 5 Gejala Klinis……... Agama : Islam Pendidikan: SD No....... 16 Status Pasien Nama : An.......... F Umur : 11 Tahun Alamat: Rancabentang RT 08 RW 06....... 13 Komplikasi………………………………………………………………………………………………….. 8 Pemeriksaan Fisik……………………………………………………………………………………... 15 Prognosis…………………………………………………………………………………………………….......... Kab... Bandung. 2 Fisiologi………………………………………………………………………………………………………....………....... 14 Penatalaksanaan……………………………………………………………………………………….. 3 Definisi................... 13 Diagnosis Banding………... 10 Laboratorium…………………………………………………………………………………………….... Ciumbeleuit. 4 Epidemiologi……………………………………………………………………………………………….....…………………………………………………………………………….... 4 Patofisiologi………………………………………………………………………………………………. 15 Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………...... APENDISITIS AKUT Anatomi……………………………………………………………………………………………......

Riwayat nyeri tenggorokan dan sesak nafas disangkal. Riwayat nafsu makan yang menurun dan penurunan berat badan dalam 3 bulan terakhir disangkal. seluruh palatum molle dan uvula KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 21 . TB: 120 cm 1) Tanda vital Nadi : 119x/menit Tensi darah : 110/80mmHg Respirasi : 20x/menit Suhu : 37. APENDISITIS AKUT Tgl.0 C 2) Status Generalis Kepala : Mata : konjungtiva tidak anemis Sclera tidak ikterik Pupil isokor +/+. pasien merasa nyeri perut kanan bawah terutamanya bila berjalan dan berkurang bila pasien berbaring. Riwayat alergi terhadap obat-obatan tidak ada. Riwayat kontak dengan penderita batuk lama atau berdarah disangkal. Keluhan didahului dengan nyeri pada perut atas dan kemudian berpindah ke kanan bawah. reflek cahaya +/+ Mulut : Kelihatan pharyngeal pillars. Riwayat luka sulit sembuh disangkal. Diperiksa: 19 April 2007 Anamnesis Keluhan Utama: Nyeri Perut Kanan Bawah Anamnesis Khusus: Kurang lebih 2 hari SMRS. Riwayat mual muntah diakui pasien. Riwayat mencret disangkal. Masuk RS: 19 April 2007 Tgl. Pasien belum pernah berobat sebelumnya dan baru pertama kali mengalami keluhan seperti ini. Riwayat pernah dioperasi disangkal. Riwayat penyakit asma disangkal. tampak sakit sedang Status gizi : BB: 25 kg . Pemeriksaan Fisik Kesadaran umum : Compos mentis. Keluhan disertai dengan panas badan. Riwayat sering panas badan tidak begitu tinggi tanpa sebab yang jelas disangkal.

retraksi -/- Pulmo : Sonor. ronchi -/- Cor : BJ murni regular.000 /mm3 (150-144 Rb) INR PT: 1. Ileus obstruktif Pemeriksaan Penunjang Laboratorium: Hb: 12. .4 dtk) SGOT: 25 (s/d 37 U/L 37°C) SGPT: 8 (s/d 40 U/L 37°C) Ureum: 17 (15-50 mg/dL) KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 22 .3 (12-16 dtk) APTT: 31. a/r area McBurney: Nyeri tekan (+) Diagnosis Kerja . muscle guarding (-). Obturator Sign (-). tidak teraba massa BU (+) normal Hepar dan lien tidak teraba 3) Status Lokalis . .4-43.6 Rb) Hct: 36 % (40-52) Platelet: 309.9 gr/dL (13-18) Leukosit: 19100 /mm3 (3.2) PT: 13. nyeri lepas (rebound tenderness) (-). Palpasi di perut kanan bawah: nyeri tekan (+). murmur (-) Abdomen : Datar lembut.Appendicitis akut .0-1.8-10. APENDISITIS AKUT (Malampati I) Leher : JVP tidak meningkat KGB tidak teraba membesar Dada : Bentuk dan gerak simetris. wheezing -/-. Psoas Sign (-).06 (1.9 (23. VBS kiri = kanan.

APENDISITIS AKUT Kreatinin: 0.Kor dan pulmo tidak tampak kelainan Rencana Anestesi KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 23 .0 Bilirubin urin: (-) Leukosit: 1-3 Eritrosit: (-) Sel epitel: 0-3 Bakteri (-) Radiologi ( thorax foto): Cor .015 pH:7.7-1. Tidak tampak perbercakan lunak Kesan .5 mEq/dL) Urine rutin: BJ: 1. Cor tidak membesar .0 Nitrit: (-) Protein: (-) Glukosa: (-) Urobilinogen: 1. Hilus normal .5 (3.2 mg/dL) Glukosa Sewaktu: 97 ( <140 mg/dL) Natrium: 138 (135-145 mEq/dL) Kalium: 4.6-5.61 (0. Corakan paru normal . Sinus dan diafragma normal Pulmo .

maintenance dengan inhalasi  Obat untuk induksi sedatif : propofol 2-3 mg/kg. fecolith 1/3 tengah. diameter 1 cm. Prognosis Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad malam Durante Operasi Manajemen Intra-Operatif  Diagnosis pra-bedah: Appendicitis Akut  Jenis pembedahan: Laparotomi  Metode anestesi: anestesi umum maintenance dengan anestesi inhalasi  Teknik : Semi-closed  Posisi penderita: terlentang KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 24 . perforasi 1/3 Diagnosis Post Operatif: Peritonitis local ec appendicitis akut.5mg/kg.5 mg/kgBB  Durante operasi :  Induksi melalui intra vena.15 µg/KgBB  Maintenance anestesia: N2O / O2 70 % : 30 % ditambah volatile anestesi Sevoflurane 2. Analgetik: fentanyl 0. APENDISITIS AKUT General Anestesi Intravena  Persiapan Prabedah:  Puasa 4 jam sebelum op  Premedikasi: midazolam 0.5 Diagnosis Operasi : Ditemukan cairan peritoneum bercampur pus ± 20 cc Ditemukan apendix letak retrocaecal panjang 8 cm.3-0. muscle relaxant : atracurium 0.

APENDISITIS AKUT  Intubasi : Oral Gas Inhalasi O2. GI function Pencernaan  Cairan dimulai pada hari ke-2. Tanda vital 2. Sevoflurane dan N20 Terapi cairan : 4 x 10 cc 2 x 10 cc 1 x 5 cc Total 65 cc Puasa 4 jam. 4 x 65 cc = 260 cc Total kebutuhan 325 cc RL 1 jam pertama ½ dari kebutuhan cairan setelahnya ½ kebutuhan dalam 1 jam ke-2 Post Operasi Pasien ditunggu sadar total dengan tanda vital yang baik dan dipindahkan ke recovery room dan diteruskan monitoring pasca operasi Rencana post operatif: Monitoring: 1. Makanan dimulai pada POD ke-3 atau ke-4 bila bising usus (+)  Posisi kepala 30º  Pemberian Oksigen dengan nasal kanula KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 25 . CBC 4. Urine output 3.

Drip analgetik (Tramadol 50mg dalam 500mL NaCl) 15 gtt/min KKS SMF BEDAH RSUPM 2007 26 . APENDISITIS AKUT Analgetika: .