BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keamanan dan keselamatan pasien merupakan hal mendasar yang perlu
diperhatikan oleh tenaga medis saat memberikan pelayanan kesehatan kepada
pasien. Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana rumah sakit memberikan
asuhan kepada pasien secara aman serta mencegah terjadinya cidera akibat
kesalahan karena melaksanakan suatu tindakan atau tidak melaksanakan suatu
tindakan yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan resiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan
implementasi solusi untuk meminimalkan resiko (Depkes 2008).

Setiap tindakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien sudah
sepatutnya memberi dampak positif dan tidak memberikan kerugian bagi pasien.
Oleh karena itu, rumah sakit harus memiliki standar tertentu dalam memberikan
pelayanan kepada pasien. Standar tersebut bertujuan untuk melindungi hak pasien
dalam menerima pelayanan kesehatan yang baik serta sebagai pedoman bagi
tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan kepada pasien. Selain itu,
keselamatan pasien juga tertuang dalam undang-undang kesehatan. Terdapat
beberapa pasal dalam undang-undang kesehatan yang membahas secara rinci
mengenai hak dan keselamatan pasien.

Keselamatan pasien adalah hal terpenting yang perlu diperhatikan oleh setiap
petugas medis yang terlibat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada
pasien. Tindakan pelayanan, peralatan kesehatan, dan lingkungan sekitar pasien
sudah seharusnya menunjang keselamatan serta kesembuhan dari pasien tersebut.
Oleh karena itu, tenaga medis harus memiliki pengetahuan mengenai hak pasien
serta mengetahui secara luas dan teliti tindakan pelayanan yang dapat menjaga
keselamatan diri pasien.

1

Mengetahui aplikasi patient safety saat memberikan pelayanan kesehatan. Definisi Manajemen Patient Safety Menurut penjelasan Pasal 43 UU Kesehatan No. B. Mengetahui standar keselamatan pasien rumah sakit. 36 tahun 2009 yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patient safety) adalah proses dalam suatu 2 . Tujuan a. Tujuan Khusus 1. Rumusan Masalah Dari pemaparan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalahnya adalah: Bagaimana penerapan manajemen patient safety dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi di rumah sakit ? C. Tujuan Umum Setelah mempelajari materi ini mahasiswa mampu memahami penyakit tentang “Penerapan Manajemen Patient Safety dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi di rumah sakit”. b. BAB II LANDASAN TEORI A. Mengerti definisi tentang manajemen patient safety. 3. 2.

Near miss ini dapat disebabkan karena: 1. Analisis risiko. Resiko terjadinya kesalahan atau kecelakaan kerja saat memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dapat diminimalisir dengan pengorganisasian risiko atau risk management secara benar. kejadian yang tidak diharapkan (adverse event). pelaporan dan analisis insiden.rumah sakit yang memberikan pelayanan kepada pasien secara aman termasuk didalamnya pengkajian mengenai resiko. Menurut Institute of Medicine (IOM). dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. dan nyaris terjadi (near miss). tetapi staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat tersebut diberikan. Patient Safety didefinisikan sebagai freedom from accidental injury. manajemen resiko terhadap pasien. Accidental injury juga akibat dari melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission). identifikasi. tetapi tidak timbul reaksi obat. Bertujuan untuk mengidentifikasi konsekuensi serta kemungkinan risiko yang akan terjadi serta untuk membagi penanganan terhadap suatu risiko berdasarkan tingkat prioritas atau kebutuhan. 2. Accidental injury dalam prakteknya berupa kejadian tidak diinginkan atau hampir terjadi kejadian tidak diinginkan (near miss). Yang dimaksud dengan insiden keselamatan pasien adalah keselamatan medis (medical errors). 3. Risk management tersebut meliputi : 1. tetapi diketahui secara dini lalu diberikan antidotenya. Pencegahan Contoh : suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan. Identifikasi risiko. 2. 3 . Accidental injury disebabkan karena error yang meliputi kegagalan suatu perencanaan atau memakai rencana yang salah dalam mencapai tujuan. Keberuntungan Contoh : pasien menerima suatu obat kontra indikasi. kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden. Peringanan Contoh : suatu obat dengan overdosis lethal diberikan.

dan melakukan pilihan tindakan tersebut. Standar ini mengacu pada “Hospital Patient Safety Standards” yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of Health Organizations. Bertujuan untuk membandingkan tingkat atau level dari suatu risiko yang ditemukan dengan kriteria risiko yang tidak dapat dihindari. USA. Bertujuan untuk menganalisis serta memisahkan risiko kecil yang dapat diterima dengan risiko besar yang tidak dapat diterima. Illinois. 3. analisis risiko juga bertujuan untuk mengumpulkan data yang dapat bermanfaat dalam proses evaluasi dan perencanaan penanganan risiko. mengkaji pilihan tindakan tersebut. Hak pasien Standar : 4 . Komunikasi B. merencanakan persiapan untuk penanganan risiko. Hasil akhir dari tahap ini adalah menyusun prioritas risiko sebagai dasar dalam melakukan tindakan yang lebih lanjut. 5. Tujuh standar tersebut adalah sebagai berikut : 1. tahun 2002. Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit Dalam melakukan prosedur perawatan pada pasien. Pengamatan secara terus menerus Bertujuan untuk menjamin atau memastikan bahwa pengorganisasian tindakan yang telah direncanakan bermanfaat dan dapat mengontrol pelaksanaan dari penganganan risiko tersebut. Penanganan terhadap risiko yang terjadi Bertujuan untuk mengidentifikasi atau menentukan pilihan tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani suatu risiko. 4. 6. terdapat tujuh standar keselamatan. Selain itu. Evalausai terhadap risiko yang terjadi.

Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan 5 . b. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan e. 2. jelas. Kriteria : a.Pasien dan keluarga mempunyai hak untuk mendapatkan informasi mengenai rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan). Harus ada dokter sebagai penanggung jawab pelayanan. lengkap dan jujur b. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab c. pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya kejadian tidak diharapkan. Kriteria : Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien dimana pasien berperan sebagai partner dalam proses pelayanan. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga memiliki kemampuan untuk : a. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa g. Dokter sebagai penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan. Karena itu. Memberikan info yang benar. Mengajukan pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti d. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah sakit f. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati 3. Mendidik pasien dan keluarga Standar : Rumah sakit harus mampu mendidik pasien dan keluarga mengenai kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan c. rumah sakit harus memiliki sistem dan mekanisme untuk mendidik pasien dan keluarga mengenai kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan pasien melalui penerapan ‘Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Koordinasi pelayanan disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya c. Kriteria : a. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien Standar : a. Komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan 4. b.Standar : Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan. Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja c. Penggunaan metode-metode dalam peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien Standar : Rumah sakit harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang ada. Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif d. Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan yang baik sesuai dengan ‘Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit’. Kriteria : a. Koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi d. Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis 5.’ 6 . Koordinasi pelayanan secara menyeluruh b. memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data. menganalisis secara intensif kejadian tidak diharapkan. dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja.

Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden. e. dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta meningkatkan keselamatan pasien. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi. d. Terdapat tim pendisiplin untuk mengelola program keselamatan pasien. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi serta koordinasi antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien. Tersedia program proaktif untuk mengidentifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan insiden atau kejadian tidak diharapkan.b. membatasi risiko pada orang lain. 6. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola pelayanan. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden. i. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk mengidentifikasi risiko keselamatan pasien dan program mengurangi kejadian tidak diharapkan. e. d. f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien 7 . Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur. b. mengkaji. c. Tersedia sasaran terukur. c. dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis. Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan. g. h. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien Kriteria : a. Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden termasuk asuhan kepada pasien yang terkena musibah. serta pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.

Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien. 7. Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal. 8 . Kriteria : a. pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas. Kriteria : a.Standar : a. c. Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik mengenai keselamatan pasien b. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat. Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien. b. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien. Standar : a. Rumah sakit memiliki proses pendidikan. b. Tersedia anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien. Mengintegerasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.

maka aplikasi keselamatan pasien dapat dilakukan pada tempat dan dengan standar aplikasi sebagai berikut. Area bebas terbatas (unrestricted area) Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian khusus kamar operasi. Lingkungan c. Setiap tindakan keperawatan yang dilakukan beserta dengan peralatan dan lingkungan sekitar sudah seharusnya dikondisikan secara sempurna untuk menunjang keselamatan pasien. Orang f. b. Penerapan Manajemen Patient Safety Pelayanan keperawatan yang baik adalah pelayanan keperawatan yang memperhatikan keselamatan pasien. Struktur b. C. 9 . lingkungan kamar operasi terdiri dari tiga area. Oleh karena itu. c. 1. Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap dan melaksanakan prosedur aseptik. masker. baju dan celana operasi. Secara umum. yaitu : a. Budaya Mengacu kepada enam bidang tersebut. diperlukan pengkajian terhadap keselamatan pasien. Proses e. baik elektif maupun akut. Area semi ketat (semi restricted area) Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi yang terdiri atas topi. Peralatan dan teknologi d. Kamar operasi Kamar operasi adalah suatu unit khusus di dalam rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada. Area ketat atau terbatas (restricted area). Pengkajian tersebut meliputi pengkajian dalam bidang sebagai berikut : a. Selain itu. b.

dan aman b. dan tidak mengandung zat beracun. pasien yang mendapatkan perawatan di UGD. masker. Sifat pasien yang mendapatkan perawatan di UGD adalah sebagai berikut : a. cepat. lingkungan. baju dan celana operasi. 5) Setiap petugas medis yang akan melakukan tindakan operasi wajib mengenakan pakaian khusus operasi. yaitu air yang tidak berwarna. Unit Gawat Darurat Unit Gawat Darurat (UGD) adalah suatu unit di dalam rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. dan keluarga c. Perlu mendapatkan informasi secara cepat dan tepat Selain itu. tidak berasa. Pelaksanaan atau aplikasi patient safety dalam kamar operasi dapat berupa hal sebagai berikut : 1) Semua peralatan yang ada di dalam kamar operasi harus beroda dan mudah dibersihkan. petunjuk penggunaaanya harus menempel pada alat tersebut agar mudah dibaca. 2. diklasifikasikan berdasarkan kondisi atau keadaan jasmani pasien. Mempunyai masalah patologis. tidak mengandung kuman pathogen. 4) Air yang tersedia dalam kamar operasi harus bersih. psikologis. 2) Untuk alat elektrik. tepat. Pasien TGDG “false emergency” (Label Hijau) Merupakan pasien yang memerlukan tindakan medis tidak segera b. petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap yang berupa topi. salah satu contohnya adalah mencuci tangan. tidak mengandung zat kimia. 6) Petugas medis wajib melaksanakan prosedur aspetik. 3) Sistem pelistrikan harus aman dan dilengkapi dengan elektroda untuk memusatkan arus listrik mencegah bahaya gas anestesi. Perlu mendapatkan pertolongan segera. Pasien DTG (Label Kuning) 10 . tidak berbau. Klasifikasi tersebut meliputi : a.

5) Petugas medis harus mampu mengatasi pasien secara cepat dan tepat. Intensif Care Unit (ICU) Intensive Care Unit (ICU) atau Unit Perawatan Intensif (UPI) adalah tempat atau unit tersendiri di dalam rumah sakit yang menangani pasien-pasien gawat karena penyakit. 6) Petugas medis harus memiliki kognitif yang baik dalam menangani pasien. Pasien yang perlu mendapatkan perawatan di ruang ICU adalah pasien yang dalam keadaan terancam jiwanya sewaktu-waktu karena kegagalan atau disfungsi satu atau multiple organ atau sistem dan masih ada kemungkinan dapat 11 . trauma atau komplikasi penyakit lain. 2) Peralatan medis yang terdapat pada UGD adalah alat yang steril. 7) Petugas medis wajib melaksanakan prosedur aseptik mencegah infeksi nosokomial. Intensive Care Unit (ICU) merupakan cabang ilmu kedokteran yang memfokuskan diri dalam bidang life support atau organ support pada pasien-pasien sakit kritis yang membutuhkan monitoring intensif. Merupakan korban tidak gawat tetapi memerlukan pertolongan medik untuk mencegah keadaan yang lebih gawat atau mencegah cacat. d. Pasien GD (Label Merah) Merupakan korban yang berada dalam keadaan nyawa terancam apabila tidak memperoleh pertolongan dengan segera. 3. 4) Petugas medis harus menerapkan komunikasi antar petugas dengan baik saat melakukan serah terima pasien sehingga tidak terjadi kesalahan saat melakukan tindakan kepada pasien. e. Pasien yang meninggal atau death on arrival (Label Hitam) Aplikasi keselamatan pasien dalam unit gawat darurat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1) Fasilitas yang terdapat dalam UGD terlah tersedia dengan lengkap. Pasien GTD (Label Putih) Merupakan pasien dalam keadaan parah yang tidak memiliki harapan atau harapan yang tipis jika diberikan pertolongan. c. 3) Menggunakan alat injeksi sekali pakai.

Sistem gastrointestinal e. gas darah. 1. Sistem pernafasan c. sistem pernafasan. efek pengobatan. Pengelolaan pasien yang mendapatkan perawatan di ruang ICU adalah sebagai berikut. Identifikasi masalah dan strategi penanggulangannya 3. Pasien yang berada di ruang ICU adalah pasien yang berada dalam keadaan kritis atau kehilangan kesadaran atau mengalami kelumpuhan sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam diri pasien hanya dapat diketahui melalui monitoring yang baik dan teratur. B. ABC a. gastro intestinal. Pemeriksaan Fisik Meliputi pemeriksaan fisik secara umum. haematologi dan posisi pasien. Anamnesis Merupakan tindakan pengobatan sebelum diagnosis definitif ditegakkan. 12 . Informasi kepada keluarga 4. Kajian hasil pemeriksaan Meliputi biokimia. hematologi. foto thorax. Intubasi dan Pengelolaan Trakhea B. Pasien yang dirawat di ruang ICU mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap perawat dan dokter. Cairan a. kardiovaskuler. Serah Terima Pasien Bertujuan untuk mengetahui riwayat tindakan pengobatan sebelumnya dan sebagai bentuk aspek legal. D. monitoring TTV. ginjal dan cairan. CT scan. 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang diberikan kepada pasien meliputi : A. pemantauan dan pengobatan intensif. Jalan nafas dan kepala b. Pendekatan Pasien ICU A. Sistem sirkulasi d. penilaian neurologis. Monitoring rutin g. Pasien yang memperoleh perawatan di ruang ICU berbeda dengan pasien yang memperoleh perawatan di ruang rawat inap biasa. C. Anggota gerak f. anggota gerak. Diberikan pada pasien dengan kondisi dehidrasi.disembuhkan kembali melalui perawatan.

5) Petugas medis wajib melakukan prosedur aseptik. 3) Menggunakan alat injeksi sekali pakai. seperti : 1. transfusi maupun 13 . Dengan puluhan ribu obat yang ada saat ini di pasar. b. maka sangat signifikan potensi terjadinya kesalahan akibat bingung terhadap nama merek atau generik serta kemasan. 2. label. Stress ulcer dapat merupakan kompensasi dari penyakit akut. Rupa dan Ucapan Mirip. Solusi NORUM ditekankan pada penggunaan protokol untuk pengurangan risiko dan memastikan terbacanya resep. Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip (NORUM). Ada pula hal penting yang harus kita perhatikan dalam aplikasi keselamatan pasien di rumas sakit. 2) Tenanga medis harus berhati-hati saat hendak melakukan pemasangan kateter dan slang atau tube sehingga tida terjadi kesalahan. Pastikan Identifikasi Pasien. atau penggunaan perintah yang dicetak lebih dulu. C. Perhatikan Nama Obat. 6) Tenaga kesehatan harus menerapkan komunikasi yang baik antar petugas sehingga tidak terjadi kesalahan saat serah terima pasien dilakukan. maka aplikasi keselamatan pasien dalam ICU dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Fasilitas dalam ruang ICU tersedia lengkap sehingga monitoring terhadap kondisi pasien dapat berjalan dengan baik. 7) Tenaga kesehatan harus mampu melaksanakan prosedur pengelolaan pasien secara tepat dan aman. Kegagalan yang meluas dan terus menerus untuk mengidentifikasi pasien secara benar sering mengarah kepada kesalahan pengobatan.yang membingungkan staf pelaksana adalah salah satu penyebab yang paling sering dalam kesalahan obat (medication error) dan ini merupakan suatu keprihatinan di seluruh dunia. Perdarahan Gastrointestinal c. maupun pembuatan resep secara elektronik. Nutrisi Berdasarkan penjelasan diatas. 4) Peralatan medis yang tersedia harus dalam kondisi steril.

Kasus- kasus dengan pelaksanaan prosedur yang keliru atau pembedahan sisi tubuh yang salah sebagian besar adalah akibat dan miskomunikasi dan tidak adanya informasi atau informasinya tidak benar. Rekomendasinya adalah untuk mencegah jenis-jenis kekeliruan yang tergantung pada pelaksanaan proses verifikasi prapembedahan.pemeriksaan. serta penggunaan protokol untuk membedakan identifikasi pasien dengan nama yang sama. Rekomendasi ditujukan untuk memperbaiki pola serah terima pasien termasuk penggunaan protokol untuk mengkomunikasikan informasi yang bersifat kritis. memberikan kesempatan bagi para praktisi untuk bertanya dan menyampaikan pertanyaan- pertanyaan pada saat serah terima. pelaksanaan prosedur yang keliru orang. standardisasi dalam metode identifikasi di semua rumah sakit dalam suatu sistem layanan kesehatan.dan melibatkan para pasien serta keluarga dalam proses serah terima. dan partisipasi pasien dalam konfirmasi ini. 3. dsb. dan adanya tim yang terlibat dalam prosedur’Time out” sesaat sebelum memulai prosedur untuk mengkonfirmasikan identitas pasien. dan didalam serta antar tim pelayanan. prosedur dan sisi yang akan dibedah. termasuk keterlibatan pasien dalam proses ini. penyerahan bayi kepada bukan keluarganya. Pastikan Tindakan yang benar pada Sisi Tubuh yang benar. Penyimpangan pada hal ini seharusnya sepenuhnya dapat dicegah. Kesenjangan dalam komunikasi saat serah terima/ pengoperan pasien antara unit-unit pelayanan. Faktor yang paling banyak kontribusinya terhadap kesalahan-kesalahan macam ini adalah tidak ada atau kurangnya proses pra-bedah yang distandardisasi. bisa mengakibatkan terputusnya kesinambungan layanan. dan potensial dapat mengakibatkan cedera terhadap pasien. 4. Komunikasi Secara Benar saat Serah Terima / Pengoperan Pasien. pemberian tanda pada sisi yang akan dibedah oleh petugas yang akan melaksanakan prosedur. 14 . Rekomendasi ditekankan pada metode untuk verifikasi terhadap identitas pasien. pengobatan yang tidak tepat.

vaksin dan media kontras memiliki profil risiko. dan pencegahan atas campur aduk / bingung tentang cairan elektrolit pekat yang spesifik. 5. Rekomendasinya adalah menganjurkan perlunya perhatian atas medikasi secara detail / rinci bila sedang mengenjakan pemberian medikasi serta pemberian makan (misalnya slang yang benar). biologics. Kendalikan Cairan Elektrolit Pekat (concentrated). dan komunikasikan daftar tsb kepada petugas layanan yang berikut dimana pasien akan ditransfer atau dilepaskan. Gunakan Alat Injeksi Sekali Pakai. serta memberikan medikasi atau cairan melalui jalur yang keliru. Hindari Salah Kateter dan Salah Sambung Slang (Tube). Kesalahan medikasi terjadi paling sering pada saat transisi / pengalihan. Rekomendasinya adalah membuat standardisasi dari dosis. Pastikan Akurasi Pemberian Obat pada Pengalihan Pelayanan. 7. sebagai perbandingan dengan daftar saat admisi. Rekonsiliasi (penuntasan perbedaan) medikasi adalah suatu proses yang didesain untuk mencegah salah obat (medication errors) pada titik-titik transisi pasien. cairan elektrolit pekat yang digunakan untuk injeksi khususnya adalah berbahaya. Sementana semua obat-obatan. Slang. unit ukuran dan istilah. 8. 15 . penyerahan dan atau perintah pemulangan bilamana menuliskan perintah medikasi. Rekomendasinya adalah menciptakan suatu daftar yang paling lengkap dan akurat dan seluruh medikasi yang sedang diterima pasien juga disebut sebagai “home medication list”. kateter. dan bilamana menyambung alat-alat kepada pasien (misalnya menggunakan sambungan & slang yang benar). dan spuit (syringe) yang digunakan harus didesain sedemikian rupa agar mencegah kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan) yang bisa menyebabkan cedera atas pasien melalui penyambungan spuit dan slang yang salah. 6.

dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. dan pengukuran kepatuhan penerapan kebersihan tangan melalui pemantauan / observasi dan tehnik-tehnik yang lain. 9. Salah satu keprihatinan global terbesar adalah penyebaran dan HIV. Diperkirakan bahwa pada setiap saat lebih dari 1. Kebersihan Tangan yang efektif adalah ukuran preventif yang pimer untuk menghindarkan masalah ini. Rekomendasinya adalah mendorong implementasi penggunaan cairan “alcohol-based hand-rubs” tersedia pada titik-titik pelayan tersedianya sumber air pada semua kran. Rekomendasinya adalah penlunya melarang pakai ulang jarum di fasilitas layanan kesehatan. HBV. dan HCV yang diakibatkan oleh pakai ulang (reuse) dari jarum suntik.4 juta orang di seluruh dunia menderita infeksi yang diperoleh di rumah-rumah sakit. pelatihan periodik para petugas di lembaga-lembaga layanan kesehatan khususnya tentang prinsip-pninsip pengendalian infeksi. BAB III KESIMPULAN A. manajemen resiko terhadap pasien.edukasi terhadap pasien dan keluarga mereka mengenai penularan infeksi melalui darah. pendidikan staf mengenai teknik kebarsihan taangan yang benar mengingatkan penggunaan tangan bersih ditempat kerja.dan praktek jarum sekali pakai yang aman. Proses tersebut meliputi pengkajian mengenai resiko. KESIMPULAN Keselamatan pasien adalah proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan pelayanan pasien secara aman. pelaporan dan analisis insiden. kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden. identifikasi. Tingkatkan Kebersihan Tangan (Hand hygiene) untuk Pencegahan lnfeksi Nosokomial. Pelayanan 16 .

Pabuti. keselamatan pasien juga dilindungi oleh undang-undang kesehatan sebagaimana yang diatur dalam UU Kesehatan No. diagnosa. Jika terjadi kesalahan saat menjalani salah satu proses keperawatan. implementasi. perencanaan. keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan. seperti kamar operasi. Tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien sudah seharusnya menunjang keselamatan pada pasien karena proses keperawatan tersebut sangat berhubungan dengan patient safety atau keselamatan pasien. orang. Indonesia 17 . penggunaan metode. (2010) Community&Patient Safety Dalam Perspektif Hukum Kesehatan. maka kesalahan tersebut akan memungkinkan timbulnya kecelakaan kerja yang dapat mengancam keselamatan pasien. 44 tahun 2009. (2011) Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien (KP) Rumah Sakit. Aumas. mendididik pasien dan keluarga. peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien. dan komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien. lingkungan.metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien. 36 tahun 2009 serta UU Rumah Sakit No. Selain mengacu pada tujuh standar pelayanan tersebut. dan evaluasi. Proceedings of expert lecture of medical student of Block 21st of Andalas University. Veronica. mendidik staf tentang keselamatan pasien. peralatan dan teknologi. Proses keperawatan tersebut meliputi proses pengkajian. Aplikasi keselamatan pasien tersebut diterapkan dengan memperhatikan sisi struktur. ICU. Aplikasi keselamatan pasien dapat diterapkan pada beberapa tempat yang terdapat di rumah sakit. proses. DAFTAR PUSTAKA Komalawati. dan UGD. dan budaya.kesehatan yang diberikan tenaga medis kepada pasien mengacu kepada tujuh standar pelayanan pasien rumah sakit yang meliputi hak pasien.