You are on page 1of 17

BAB II

TINJAU PUSTAKA
A. Konsep Dasar Pencegahan Infeksi Nosokomial

1. Pengertian Infeksi
Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit
atau kerusakan jaringan. Proses dimana hospes. Agen-agen patogen (infeksius) utama adalah
(Virus, bakteri, jamur, parasit dan protozoa). Jika mikroorganisme gagal menyebabkan cidera
yang serius terhadap sel atau jaringan, infeksi disebut Asimptomatik.dan jika penyakit infeksi
dapat ditularkan langsung dari satu orang ke orang lain,penyakit ini meupakan penyakit menular
atau contagious (Potter dan Perry., 2005).

2. Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat dari Rumah Sakit, infeksi tidak terjadi
di Rumah Sakit, infeksi tidak terjadi atau tidak dalam masa inkubasi pada saat pasien
masuk Rumah Sakit. Sedangkan menurut Depertemen Kesehatan (2003), Infeksi nosokomial
adalah suatu infeksi yang diperoleh atau dialami oleh pasien selama dirawat di rumah sakit dan
menunjukkan gejala infeksi baru setelah 72 jam pasien berada di rumah sakit serta infeksi itu
tidak ditemukan atau diderita pada saat pasien masuk ke rumah sakit.

Klien yang berada dalam lingkungan perawatan kesehatan dapat beresiko tinggi mendapatkan
infeksi. Infeksi nosokomial diakibatkan oleh pemberian layanan kesehatan dalam fasilitas
perawatan kesehatan. Infeksi entrogen adalah jenis infeksi nosokomial yang di akibatkan oleh
prosedur diagnostik atau terapeutik (Potter dan Perry., 2005).

Infeksi nosokomial adalah infeksi adalah infeksi yang terdapat dalam sarana kesehatan.
Sebetulnya Rumah Sakit memang sumber penyakit. Secara logis, rumah sakit adalah tempat
orang yang mengalami gangguan kesehatan, dimana berbagai penyakit yang diderita oleh para
pasien tersebar di rumah sakit secara terbuka. Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan
penunggu pasien merupakan kelompok yang paling beresiko mendapat infeksi nosokomial,
karena infeksi ini dapat menular dari pasien ke petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien ke
pengunjung, atau dari petugas kesehatan ke pasien. Hal ini biasa terjadi apabila petugas
kesehatan tidak terampil dalam menjalankan tugasnya atau tidak mengindahkan dasar-dasar
kewaspadaan umum dalam penanganan pasien. Di Negara maju pun, infeksi yang didapat dalam
rumah sakit terjadi dengan angka yang cukup tinggi. Misalnya, di Amerika Serikat, ada 20.000

Agen infeksi (Infection Agent) adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi. atau “load”). Kuman keluar dari sumber melalui tempat tertentu. yang ada pada sumber. maka infeksi dapat dicegah atau dihentikan. Rantai Penularan Infeksi nosokomial mulai dengan penyebab (di bagian tengah gambar berikut). Diseluruh dunia. kuman penyakit ini keluar dari pasien tersebut dan meneruskan rantai penularan lagi. Ada tiga faktor pada agen penyebab yang mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu : patogenitas. website spiritia. 3.4juta) pasien Rawat Inap di Rumah Sakit mengalami infeksi yang baru selama dirawat setiap tahun (Yayasan Spiritia. website spiritia. agen infeksi dapat berupa bakteri. Apabila satu mata rantai dihilangkan atau dirusak.or. ricketsia.id. kemudian dengan cara penularan tertentu masuk ke tempat tertentu di pasien lain.or. Kompenen yang diperlukan sehingga terjadi penularan infeksi tersebut adalah: a. 10% (1. mereka dapat tertular dan jatuh sakit ‘tambahan’. (Yayasan Spiritia.. virus.. website spiritia. Pada manusia. jamur dan parasit.id. Selanjutnya.id. kematian setiap tahun akibat infeksi nosokomial.1 Rantai Penularan Infeksi Sumber : Yayasan Spiritia.. Karena banyak pasien di Rumah Sakit rentan terhadap infeksi (terutama Odha yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah). 2003). virulensi dan jumlah (dosis. 2003). .or. Gambar 2. 2003 Untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi perlu mengetahui rantai penularan.

Faktor Resiko “Healthcare-Associated Infections” (HAIs). Ada berapa cara penularan yaitu : (1) Kontak : langsung dan tidak langsung. tumbuh . Implantasi benda asing : 1) “indwelling catheter” 2) “surgical suture material” . Umur : neonatus dan lansia lebih rentan. c. e. tumbuhan- tumbuhan. obat-obat imunosupresan. Interupsi barier anatomis : 1) Kateter urin : meningkat kejadian infeksi saluran kemih (ISK) 2) Prosedur operasi : dapat menyebabkan infeksi luka operasi (ILO) atau “Surgical Site Infection” (SSI). status imunisasi. penyakit kronis. Pintu keluar meliputi saluran pernafasan.b. Pintu masuk (portal of entry) adalah tempat dimana agen infeksi memasuki penjamu (yang suseptibel). status gizi. berkembang biak dan siap ditularkan pada orang. Pintu keluar (portal of exit) adalah jalan dari mana agen infeksi meninggalkan reservoir. 3) Intubasi penafasan : meningkatkan kejadian : “Hosptal Acquired Pneumonia” (HAP/VAP). tanah. (3) airbone. d. air dan bahan organik lainnya. air/minuman. penderita keganasan. serata kulit yang tidak (utuh). luka bakar yang luas. saluran kemih dan kelamin. status ekonomi. 2009) 4. pecernaan. Pada orang sehat. Status imun yang rendah/tergantung (imuno-kompromais) : penderita dengan penyakit kronik. Pintu masuk biasanya melalui saluran pernafasan. gaya hidup. darah) dan (5) melalui vektor (biasanya seranga da binatang pengerat). trauma atau pembedahan. pekerjaan dan hereditas. b. (4) melalui vehikulum (makan. (Depertemen Kesehatan. permukaan kulit. Faktor lain yag mungkin berpengaruh adalah jenis kelamin. Reservoir yang paling umum adalah manusia. a. pengobatan dengan imunosuresan. selaput lendir selaput nafas atas. binatang. (2) droplet. “Blood Stream Infection” (BSI). 5) Luka dan trauma d. transplasenta dan darah serta cairan tubuh lain. usus dan vagina merupakan reservoir yang umum. rasa tau etnis tertentu. 4) Kanula vena dan arteri : menimbulkan infeksi luka infus (ILI). Penjamu (host) yang suseptibel adalah orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi serta mencegah terjadinya infeksi dan penyakit. Faktor yag khusus dapat mempengaruhi adalah umur. saluran kemih dan kelamin. kulit dan membrane mukos. Transmisi (cara penularan) adalah mekanisme bagaimana transport agen infeksi dari reservoir ke penderita (yang susptibel). Reservoir atau dimana tempat agen infeksi dapat hidup. selaput lendir. f. c. pencernaan.

Contoh metode fisik adalah pemanasan (Pasteurisasi atau Sterilisasi) dan memasak makanan seperlunya. atau pemberian imunasi pasif (imonoglobulin). Hepatitis C dan HIV. (Depertemen Kesehatan. Strategi Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Terdiri Dari : a. Inaktivasi agen infeksi dapat dilakukan dengan metode fisik maupun kimiawi. Perubahan mikroflora normal : pemakaian antibiotika yang tidak bijaksana menyebabkan timbulnya kuman yang resisten terhadap berbagai antimikroba (Depertemen Keseatan. d. 2009).3) “cerebrospinal fluid shunts” 4) “valvular/vascular prostheses” e. Promosi kesehatan secara umum termasuk nutrisi yang adekuat akan meningkatkan daya tahan tubuh. 2009) 7. tetapi hasilnya sangat bergantung kepada ketaatan petugas dalam melaksanakan prosedur yang telah diterapkan tidakan pencegahan ini telah disusun dalam suatu “Isolasi Precaoution” (Kewaspadaan Isolasi) yang terdiri dari dua pilar/tingkatan yaitu “Standard Precaoution” (Kewaspadan Standar) dan “Tranmision based Precaution” (Kewaspadaan berdasakan cara penularan). 2009) 5. (Depertemen Kesehatan. Tenaga kesehatan juga . c. Daya tahan penjamu dapat meningkatkan dengan pemberian imunisasi aktif (contoh vaksinasi Hepatitis B). Metode kimia termasuk klorinasi air. disinfeksi. agen infeksi (patogenesis. Peran Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial Tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya dan orang lain serta bertanggung jawab sebagai pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan. baik pada pasien ataupun pada petugas kesehatan. Tidakan pencegahan pejanan (“Post Exposure Prophylaxis”/PEP) terhadap petugas kesehatan. Penyakit yang perlu mendapat pehatian adalah Hepatitis B. Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Proses terjadinya infeksi bergantung kepada interaksi antara suseptibilitas pejamu. yang sering terjadi Karena luka tusuk jarum bekas pakai atau pajanan lainnya. Hal ini merupakan cara yang paling mudah untuk mencegah penularan penyakit infeksi. 6. Peningkatan daya tahan pejamu. Memutus rantai penularan. Identifikasi faktor resiko pada penjamu dan pengendalian terhadap infeksi tertentu dapat mengurangi insiden terjadinya infeksi (HAIs). b. Hal ini terutama berkaitan dengan pencegahan agen infeksi yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya. Inaktivasi agen penyebab infeksi. virulesi dan dosis) serta cara penularan.

bernanah. APD harus digunakan secara benar. Sedangkan dalam keadaan basah. dan membantu mempertahankan lingkungan bersih dan aman. Bertanggung jawab melaksanakan dan menjaga kesalamatan kerja dilingkungan. serta meningkatkan kembali Tuberkulosis di banyak Negara. Secara rinci kewajiban dan tanggung jawab tersebut meliputi : a. 8. Mengetahui kebijakan dan menerapkan prosedur kerja. bila tidak memungkinkan maka tenaga kesehatan tersebut sebaiknya tidak merawat pasien. SARS dan infeksi lainnya (Emerging Infectious Diseases). pemakaian APD yang tepat dan benar menjadi semakin penting. pencegahan infeksi. . wajib mematuhi intruksi yang dibeikan dalam rangka kesehatan dan keselamatan kerja. c. pemakaian APD menjadi juga sangat penting untuk melindungi petugas. pengolahan Rumah Sakit. misalnya tenaga kesehatan dengan status HIV positif dan menderita eksim basah. Dengan munculnya infeksi baru seperti flu burung. baik dari dirinya kepada pasien atau sebaliknya. penyelia dan para petugas kesehatan harus mengetahui tidak hanya kegunaan dan keterbatasan dari APD tertentu. yang disebut secara umum disebut sebagai alat pelindung diri (APD). 2003). Misalnya gaun dan duk lobang telah tebukti dapat mencegah infeksi luka bila hanya dalam keadaan kering. kain beraksi sebagai spons yang menarik dari kulit atau peralatan melalui bahan kain sehingga dapat mengkontaminasi luka operasi. Sebagai konsekuensinya. Alat Pelindung Diri Pelindung barrier. Sebagai contoh misalnya. e. Namun dengan munculya AIDS dengan Hepatitis C. Tenaga kesehatan yang menderita penyakit yang dapat meningkatkan resiko penularan infeksi. b. bertanggung jawab dalam mengunakan saran yang telah disediakan dengan baik dan benar serta memelihara sarana agar selalu siap pakai dan dapat dipakai selama mungkin. dan mematuhinya dalam pekerjaan sehari-hari. (Depertemen Kesehatan. pasien penyakit kulit yang basah seperti eksim. harus menutupi kelainan kulit tersebut dengan plester kedap air. d. sebaiknya tidak merawat pasien secara langsung. tetapi peran APD sesungguhnya dalam mencegah penyakit infeksi sehingga dapat digunakan secara efektif dan efisien. Agar menjadi lebih efektif. telah digunakan selama bertahun-tahun untuk melindungi pasien dari mikroorganisme yang ada pada petugas kesehatan. Bagi tenaga kesehatan yang megidap HIV mempunyai kewajiban moral untuk memberi tahu atasannya tentang status serologi bila dalam pelaksanaan pekerjaan status serologi tersebut dapat menjadi resiko pada pasien.

topi dan gaun) serta duk. alat pelindung mata (pelindung wajah dan kaca mata). masker. Alat pelindung diri mencakup sarung tangan. para pasien atau pekerja lain. . 2) Lepas atau ganti bila perlu segala perlengkapan APD yang dapat digunakan kembali yang sudah rusak atau sobek segera setalah anda mengetahui APD tersebut tidak berfugsi optimal. 2009). topi. 2009). karena cairan dapat tembus dengan mudah sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi. Topi atau masker yang terbuat dari kertas tidak boleh digunakan ulang karena tidak ada cara untuk membersihkannya dengan baik. a) Perkiraan resiko terpajan cairan tubuh atau area terkontaminasi sebelum melakukan kegiatan perawatan kesehatan. gaun dan duk sering terbuat dari kain atau kertas. Bahan yang tahan air ini tidak banyak tersedia karena harganya yang mahal. Jika tidak dapat dicuci jangan digunakan lagi. Di banyak Negara. kain katun ringan (dengan jumlah benang 140/inci 2) adalah bahan yang paling umum digunakan untuk pamakaian bedah (masket. b. sulit dicuci dan memerlukan waktu yang terlalu lama untuk kering. untuk menghidari kontaminasi silang. Di banyak Negara lain. gaun apron dan pelindung lainnya. Denim. masker. 4) Buang semua perlengkapan APD dengan hati-hati dan segera bersihkan tangan. c) Menyediakan sarana APD bila emergensi dibutuhkan untuk dipakai (Depertemen Kesehatan. katun yang ringan tersebut tidak merupakan penghalang yang efektif. Sebaliknya bahan kain yang digunakan berwarna putih atau terang kotoran dan kotaminasi dapat terlihat dengan mudah. topi. dan diri anda sendiri. terlalu tebal untuk ditembus oleh uap pada waktu pengukusan sehingga tidak dapat di sterilkan. Jenis-jenis alat pelindung diri 1) Sarung tangan : melindungi tangan dari bahan yang dapat menularakan penyakit dan melindungi pasien dari mikroorganisme yan berada ditangan petugas kesehatan. kanvas dan bahan berat lainnya. Pedoman umum alat pelindung diri 1) Tangan harus selalu bersih walaupun mengunakan APD. namun pelindung yang paling baik adalah yang terbuat dari bahan yang telah diolah atau bahan sinetik yang tidak tembus air atau cairan lain (darah atau cairan tubuh). a. Sayangnya. 3) Lepaskan semua APD sesegera mungkin setelah selesai memberikan pelayanan dan hindari kontaminasi : lingkungan di luar ruang isolasi. Sarung tangan harus diganti antara setiap kontak dengan satu pasien dengan pasien lainnya. Sarung tangan merupakan penghalang (barrier) fisik paling penting untuk mencegah penyebaran infeksi. b) Pilih APD sesuai dengan perkiraan resiko terjadinya pajanan. (Depertemen Kesehatan. disisi lain.

pelindung wajah dan visor. petugas kesehatan harus menggunakan gaun pelindung setiap masuk ruangan untuk merawat pasien karena ada kemungkinan percikan atau semprotan darah cairan tubuh. lalu cuci tangan segera untuk berpindahnya organisme. membersihkan pasien. 3) Alat pelindung mata : melindungi petugas dari percikan darah atau cairan tubuh lainnya dengan cara melindungi mata. Ketika merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular tersebut. petugas kesehatan dapat menggunakan kacamata pelindung atau kacamata biasa serta masker. kacamata pengaman. mulut. tetapi tujuan utamanya adalah untuk melindungi pemakainya dari darah atau cairan tubuh yang terpercik atau menyemprot. Bila tidak tersedia pelindung wajah. dan rambut pada wajah (jenggot). Kacamata koreksi atau kacamata dengan lensa polos juga dapat digunakan. 5) Gaun pelindung : digunakan untuk menutupi atau mengganti pakai biasa atau seragam lain. Aureus 30 kali dibandingkan dengan perawat yang memakai baju seragam dan ganti tiap hari. Masker digunakan untuk menahan cipratan yang sewaktu petugas kesehatan atau petugas bedah berbicara. sekresi atau eksresi. jika melakukan tugas yang memungkinkan adanya percikan cairan secara tidak sengaja kearah wajah. Setelah gaun dilepas pastikan bahwa pakaian dan kulit tidak kontak dengan bagian potensial tercemar. batuk atau bersin serta untuk mencegah percikan darah atau cairan tubuh lainnya memasuki hidung atau mulut petugas kesehatan.2) Masker : harus cukup besar untuk menutupi hidung. Pelindung mata mencakup kacamata (goggles) plastik bening. pada saat merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui droplet/airbone. Petugas kesehatan harus menggunakan masker dan pelindung mata atau pelindung wajah. 6) Kontaminasi pada pakaian yang dipakai saat bekerja dapat diturunkan 20-100 kali dengan memakai gaun pelindung. Bila masker tidak terbuat dari bahan yang tahan dari cairan. bagian bawah dagu. Meski pun topi dapat memberikan sejumlah perlindungan pada pasien. Petuagas kesehatan harus mengunakan apron dibawah gaun penutup ketika melakukan perawatan langsung pada pasien. Pemakain gaun pelindung terutama adalah untuk melindungi baju dan kulit petugas kesehatan dari sekresi respirasi. tetapi hanya jika ditambahkan pelindung pada bagian sisi mata. 7) Apron : yang terbuat dari karet atau plastik. merupakan penghalang tahan air untuk sepanjang bagian depan tubuh petugas kesehatan. maka masker tersebut tidak efektif untuk mencegah kedua hal tersebut. Topi harus cukup besar untuk menutup semua rambut. 4) Topi : digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan kulit dan rambut tidak masuk kedalam luka selama pembedahan. Perawat yang menggunakan apron plastik saat merawat pasien bedah abdomen dapat menurunkan transmisi S. Pangkal sarung tangan harus menutupi ujung lengan gaun sepenuhnya. Lepaskan gaun sebelum meninggalkan area pasien. atau .

tetapi harus dijaga tetap bersih dan bebas kontaminasi darah atau tumpahan cairan tubuh lain. Tabel 2. umumnya sebelum memasuki ruangan. sebuah penelitian menyatakan bahwa penutup sepatu dari kain atau kertas dapat meningkatkan kontaminasi karena memungkinkan darah merembes melalui sepatu dan sering kali digunakan sampai diruang operasi. Penutup sepatu tidak diperlukan jika sepatu bersih. sadal. 3) Lepas dan buang secara hati-hati jangan menyebarkan kontaminasi. 1992). “sandal jepit” atau sepatu yang terbuat dari bahan lunak (kain) tidak boleh dikenakan. Lepas masker di luar ruangan.1 Pemilihan Alat Pelindung Diri Pilihan Alat Pelindung Jenis Pajanan Contoh Diri Resiko Redah :  Kontak dengan Kulit  Injeksi  Sarung tangan esensial  Tidak terpajan darah langsung Perawatan luka ringan Resiko Sedang : Kemungkinana terpajan darah Pemeriksaan pelvis  Sarung tangan namun tidak ada cipratan  Insersi IUD  Mungkin perlu gaun  Melepas IUD pelindung atau Celemek  Pemasangan kateter intra vena  Penanganan spesimen laboratorium  Perawatan luka berat  Ceceran darah . Sepatu boot karet atau sepatu kulit tertutup memberikan lebih banyak perlindungan. 2) Gunakan dengan hati-hati jangan menyebarkan kontaminasi. c. Kemudian di lepas tanpa sarung tangan sehingga terjadi pencemaran (Summers at al. 5) Segera lakukan pembersihan tangan dengan langkah-langkah membersihkan tangan sesuai pedoman. Oleh karena itu. Sepatu yang tahan terhadap benda tajam atau kedap air harus tersedia di kamar bedah. melakukan prosedur dimana ada resiko tumpahan darah. 4) Lepas danbuang secara hati-hati ketempat limbah infeksius yang telah disediakan di ruangan ganti khusus. Hal ini sangat penting bila gaun pelindung tidak tahan air apron akan mencegah cairan tubuh pasien mengenai baju dan kulit petugas kesehatan. cairan tubuh atau sekresi. Faktor – Faktor Penting Yang Harus Diperhatikan Pada Pemakaian Alat Pelindung Diri 1) Kenakan APD sebelum kontak dengan pasien. 8) Pelindung kaki : digunakan untuk melindung kaki dari cedera akibat benda tajam atau benda berat yang mungkin jatuh secara tidak segaja ke atas kaki.

Siapakan area yang cukup luas. Kuku dijaga agar selalu pendek 3. Persiapan klorin 0. sehingga bagian lung jari- jari tengan terbuka. Ambil salah satu sarung tangan dengan memegang pada sisi sebelah dalam lipatannya. Masukan tangan (jaga srung tangan supaya tidak menyentuh permukaan). Pasang sarung tangan yang kedua dengan cara memasukan jari-jari tangan yang belum memakai sarung tangan. letakan sarung tangan dengan bagian telapak tangan menghadap ke atas. 7. Jenis sarung tangan sesuai jenis tindakan 2. 2009 d. meminta bantuan petugas lain untuk membuka pembukus sarung tangan. Ambil sarung tangan ke dua dengan cara menyelipkan jari-jari tangan yang sudah memakai sarung tanagn kebagian lipatan. (Depertemen Kesehatan. yaitu bagian yang akan besentuhan dengan kulit tangan saat dipakai. 5. bersih dan kering untuk membuka paket sarung tangan. dan atur posisi sarung tangan sehingga terasapas dan enak di tangan. Resiko Tinggi :  Kemungkinan terpajan darah  Tidakan bedah mayor  Sarung tangan dan kemungkinan terciprat  Bedah mulut  Celemek  Perdarahan massif  Persalinan pervagina  Kacamata pelindung  Masker Sumber : Depertemen Kesehatan. Cuci tangan 2.5% dalam wada yang cukup besar. 6. Buka pembungkus sarung tangan. yaitu bagian yang tidak akan bersentuhan dengan kulit tangan saat dipakai. 2. 4. 3. Sarana cuci tangan 3. Kantung penampung limbah medis . Posisikan saung tangan setinggi pinggang dan gantungkan ke lantai. Prosedur Cara Pemakaian Alat Pelindung Diri 1) Prosedur Pemakaian Sarung Tangan Steril Persiapan : 1. 2009) 2) Prosedur Melepas Sarung Tangan Persiapan : 1. kemudian luruskan lipatan. Lepas cincin dan perhiasan lain 4. Perhatikan tempat menaruhnya (steril atau minimal DTT). Cuci tangan sesuai prosedur standar Prosedur : 1.

Hanya bagian depan atas gaun bedah (diatas pinggang) saja yang dianggap steril dan boleh bersinggungan dengan lapangan. Celemek kedap air dipakai disebelah dalam gaun pelindung bedah Pesiapan Penggunaan Gaun Pelindung Steril : 1. 3. 7. 2. Masukan sarung tangan yang masih dipakai kedalam larutan klorin. Cuci tangan setelah sarung tangan dilepas. Jangan dibuka sampai terlepas sama sekali. 3. Hal ini penting untuk mencegah terpajannya kulit tangan yang terbuka dengan permukaan sebelah luar sarung tangan. biarkan sebagian masih berada pada tangan sebelum melepas sarung tangan yang tangan ke dua. gosokan untuk mengangkat bercak darah atau cairan tubuh lainnya yang menempel. Prosedur : 1. Gaun dapat dipakai sendiri oleh pemakai atau dipakaikan oleh orang lain 5. karena tujuan pemakain gaun untuk melindungi pakaian dari infeksi. Cara memakai gaun bedah mengikuti proses tanpa singgung. Pada akhir setelah hampir diujung jari. Handuk/lap steril 2. lalu pegang sarung tangan yang kedua pada lipatannya lalu tarik kearah ujung jari hingga bagian dalam sarung tangan menjadi sisi luar. ada kemungkinan sarung tangan berlubang namun sangat kecil dan tidak terlihat. Perlu diperhatikan bahwa tangan yang terbuka hanya boleh menyetuh bagian dalam sarung tangan. 4. 3) Pengunaan Gaun Pelindung Ketentuan : 1. maka secara bersamaan dan dengan sangat hati-hati sarung tangan tadi dilepas. Biarkan sarung tangan pertama sampai disekitar jari-jari. Satu gaun pelindung dikenakan untuk menangani satu pasien 7. yaitu dengan mengusahakan agar bagian luar gaun tidak bersinggungan langsung dengan kulit tubuh pemakai 4. Gaun pelindung steril . 6. 2. Pegang salah satu sarung tangan pada lipatan lalu tarik ke arah ujung ujung jari-jari tangan sehingga bagian dalam dari sarung pertama menjadi sisi luar. Selalu digunakan dalam kamar bedah dan tidak dibawa keluar kecuali untuk dicuci. Demikian dilakukan secara bergantian. 5. Hanya bagian luar gaun saja yang terkontaminasi. Tidakan mencuci tangan setelah melepas sarung tangan ini akan memperkecil resiko terpajan. termasuk ke ruangan makan atau yang lainnya 6.

Pembedahan Prosedur : 1. . masukan tangan-tangan ke dalam lubang. Posisi lengan diletakan setinggi dada. Ambil gaun pelindung dengan memegang bagian dalam yaitu pada bagian pundak. Pengertian Usia Usia adalah indeks yang menempatkan individu-individu dalam urutan perkembangan (Fry. Konsep Dasar Usia 1. Keringkan tangan dan lengan satu per satu bergantian dimulai dari tangan kemudian lengan bawah memakai anduk steril 2. menjauh dari tubuh 4. 2001 dalam psikologi perkembangan) Lebih lanjut dikatakan bahwa pada umur sekitar awal atau pertengahan umur 30 tahun. Cuci tangan aseptik 5. Sarung tangan steril 4. 2003 B. Gambar 2. Bagian belakang gaun ditutup/diikat dengan bantuan petugas lain yang tidak steril.2 Pemakaian Alat Pelindung Diri Sumber : Departemen Kesehatan . 2001 dalam psikologi perkembangan). Jaga agar tangan tidak menyentuh gaun pelindung steril taruh haduk bekas pada suatu wadah 3.3. (Depertemen Kesehatan. Gerakan lengan dan tangan ke dalam lubang gaun pelindung 5. 2003). Biarkan gaun pelindung terbuka. kebanyakan orang telah mampu memecahkan masalah mereka dengan baik sehingga menjadi stabil dan tenang (Fry.

b. seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. 2001). d. Notoatmodjo (2005). Terbentuknya perilaku baru terutama pada orang dewasa. pangetahuan itu sendiri dapat diperoleh melalui pengalaman diri sendiri atau orang lain (Notoatmodjo. C. Usia yang optimal dalam memahami dan mengambil keputusan adalah diatas 30 tahun. Pengetahuan bisa didefinisikan atau diberi batasan sebagai berikut ini: a. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). rasa dan raba. Dalam hal ini perawat yang berusia lebih dari 30 tahun dianggap lebih matang dalam bersikap. pengalaman dan media masa. bahwa pengetahuan dapat di peroleh diantaranya melalui pendidikan formal. 1995 dalam Nursalam. Konsep Dasar Pengetahuan 1. 2001). menyatakan bahwa pengetahuan yang ada pada manusia bertujuan menjawab masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya sehari-hari dan digunakan untuk menawarkan berbagai kemudahan bagi manusia tersebut. 2003). Sesuatu hasil persesuaian subjek dengan objek. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yakni indera penglihatan. pendengaran. 1998) dalam (Nursalam. dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus berupa materi atau objek diluarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru dalam bentuk sikap . tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. c. Pengetahuan dapat diibaratkan sebagai alat yang dipakai manusia dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. (Notoatmodjo. 2005). Menurut Notoatmodjo (2005). Usia adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun (Elisabeth B. Dari segi kepercayaan masyarakat. penciuman.H. Sesuatu yang ada atau dianggap ada. dimulai pada domain kognitifatau pengetahuan. Hasil kodrat manusia ingin tahu. (Hurclok. Lebih lanjut. lebih menyadari bahaya penularan infeksi sehingga timbul suatu kepatuhan dalam dirinya untuk mengikuti dan mematuhi pedoman-pedoman pencegahan infeksi nosokomial. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Hasil persesuaian antara induksi dengan dedukasi. 2005). karena usia dibawah 30 tahun atau kurang dari 30 tahun cenderung dapat mendorong terjadinya kebimbangan dalam memahami dan mengambil keputusan (Soediman dalam Nursalam. non formal. lebih baik dalam berfikir dan bekerja. Semakin cukup usia.

dapat dikelompokan menjadi dua.2005). 2) Cara kepuasan atau otoritas Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik teradisi. yaitu: 1) Segala sesuatu yang positif. maupuna ahli ilmu pengetahuan. yakni: a. 3) Gejala – gejala yang muncul secara bervariasi. Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2005) dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah. . Cara modern dalam memperoleh pengetahuan Cara ini disebut” metode penelitian ilmiah”. kemudian akhirnya akan menimbulkan respon yang lebih jauh berupa tindakan (Notoatmodjo. yajni gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan. 3) Berdasarkan pengalaman pribadi Dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalah yang dihadapi pada masa yang lalu. 2) Segala sesuatu yang negative. 2. 4) Melalui jalan pikiran Kemampuan manusia menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuanya. sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis. Menurut Deobold Van Dalen. b. otoritas pemerintah. mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan pengamatan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung. dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil. yakni gejala yang muncul pada saat dilakukan pengamatan. otoritas pemimpin agama. Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia menggunakan jalan pikirannya. Cara tradisional untuk memperoleh pengetahuan Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh pengetahuan. yaitu gejala-gejala yang berubah-ubah pada kondisis-kondisi tertentu. atau lebih popular disebut riset metodologi. dicoba kemungkinan yang lain. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok. dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek yang diamati. Cara-cara ini antara lain: 1) Cara coba-coba (trial and Eror) Melalui cara coba-coba atau dengan kata yang lebih dikenal “trial and error” cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinann dalam memecahkan masalah. terhadap objek yang diketahuinya.

dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Tingkat Pendidikan Pendidikan dapat menambah wawasan atau pengetahuan seseorang. Yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan luas dibandingkan tingkat pendidikan lebih rendah. Keyakinan Biasanya kenyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. c. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang. dan situasi yang lain. Koran. c. rumus. d. radio. Fasilitas Fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang misalnya. yaitu sebagai berikut : a. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan dapat dipengaruhi oleh beberapa factor. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. meramalkan dan sebagainya. televise. menyimpulkan. prinsip. d. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Keyakinan ini bisa mempengaruhi pengetahuan seseorang. Tahu(know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. Analisis (Analysis) . Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. menyebutkan contoh. majalah dan buku. metode. Pengalaman Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orange lain. menyatakan dan sebagainya. Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif a. Orang yang telah paham tehadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. 4.3. mendefinisikan. b. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. b. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan menguraikan.

Pernyataan objektif. dan sebagainya). yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang. Pengukur pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo 2003). Konsep Dasar Sikap 1. atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan diatas. Sedangkan pernyataan objektif lebih disukai karena lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan lebih cepat dinilai. betul salah dan pernyataan menjodohkan. dan masih ada kaitannya satu sama lain. Sikap juga dikatakan sebagai suatu sindrom atau kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek. Sikap hanyalah sebagian dari perilaku manusia (kwick dalam Notoatmodjo. b. dan gejala kejiwaan lain (Notoatmodjo. Pernyataan essay disebut pernyataan subjektif karena penilaian untuk pernyataan tersebut melibatkan factor subjektif dari penilai. . Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian- bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 2003). 2005). Pernyataan yang dapat dipergunakan untuk mengukur pengetahuan secara umum dapat dikelompokan menjadi 2 jenis: a. f. sehingga sikap itu melibatkan pikiran. baik-tidak baik. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. e. Pernyataan subjektif. misalnya : jenis pertanyaan essay. Pengertian Sikap Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu. perhatian. Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri. Sikap dapat dipandang sebagai suatu kecenderungan menghadapi tindakan terhadap suatu objek berdasarkan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi suatu objek. tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut. D. misalnya: pernyataan pilihan ganda. perasaan. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. setuju-tidak setuju.

Menerima (Receiving). 2003) menyatakan bahwa sikap seseorang terhadap sesuatu adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable). 2003) menyatakan bahwa sikap sebagai suatu pola perilaku. Tingkatan Sikap Sikap terdiri dari berbagai tingkatan. Mann (dalam Notoatmodjo. Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Struktur Sikap Struktur sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang. Komponen kognitf merupakan representasi dari apa yang dipercayai oleh individu pemiik sikap. diimplementasikan dalam bentuk ajakan terhadap orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah. 3. Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. b. 2. yaitu : a. . diimplementasikan dalam bentuk kemauan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Merespon (Responding). maupun perasaan tidak mendukung (unfavorable) pada objek tersebut. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. dan komponen konatif. c. komponen efektif. Komponen afektif merupakan komponen perasaan yang meyangkut aspek emosional. maka dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan respon terhadap rangsangan atau stimulusyang timbul dari kondisi yang terjadi di lingkungan sekitarnya yang menimbulkan respon positif (mendukung) atau negatif (tidak mendukung) dalam bentuk reaksi yang dinyatakan dalam suatu perilaku yang dimunculkan oleh seseorang. Adapun Le Pierre (dalam Notoatmodjo. tendensi atau kesiapan anti sipasi. Hal ini menunjukan bahwa ada proses penerimaan ide yang disampaikan. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan para ahli di atas. yaitu : komponen kognitif. presisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi social secara sederhana. Senada dengan hal tersebut Berkowitz (dalam Notoatmodjo. terlepas dari apa yang dijawad atau dikerjakan itu benar atau tidak. Komponen konotatif dalam struktur sikap menunjukan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. 2003) menjelaskan bahwa komponen kognitif dapat disamakan dengan pandangan. Menghargai (Valuing). terutama bila menyangkut masalah. diimplementasikan dalam bentuk memberikan jawaban atas suatu pertanyaan. mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang diberikan.

2. maka perawat harus patuh terhadap apa yang menjadi tugasnya. Untuk mencegah terjadinya penularan infeksi. Peran Perawat Dalam Kepatuhan Berkaitan dengan tugas keperawatan. sikap perawat juga memegang peran penting dalam upaya membantu tenaga medis lainnya. Pengetian Kepatuhan Kata “Kepatuhan” berasal dari kata “patuh“ yang memiliki arti suka menurut (perintah). pengetahuan saja tidaklah cukup. 2003). Untuk mempercepat proses penyembuhan. Namun. untuk itu perawat dituntut dapat menjalankan dan melaksanakan kewaspadaan universal dengan baik dan benar secara konsisten. Konsep Kepatuhan 1. 2004). Teori ini didasarkan pada asumsi-asumsi : 1. 3. maka perawat harus patuh terhadap apa yang menjadi tugasnya. Pengetahuan tersebut merupakan modal dasar terhadap apa yang harus dilaksanakan oleh perawat. 2. anjuran. Kepatuhan dapat diartikan sebagai suatu bentuk respon terhadap suatu perintah. Untuk itu.d. kepatuhan didefinisikan sebagai suatu respon terhadap suatu perintah. harus diperankan oleh perawat sebagai tenaga kesehatan dalam merawat pasien selama dirawat di Rumah Sakit. perawat dituntut dapat melaksanakan dan menjalankan pemakain alat pelindung diri dalam pencegahan infeksi dengan baik dan benar secara konsisten. Manusia mempertimbangkan semua informasi yang ada. . D. Bertanggung Jawab (Responsible). Tugas dokter yang tidak dapat mendampingi pasiennya. seperti dokter dalam menangani pasien agar segera sembuh dari penyakitnya. atau ketetapan melalui suatu aktifitas konkrit . Kepatuhan juga merupakan bentuk ketaatan pada aturan atau disiplin dalam menjalankan prosedur yang telah ditetapkan. para perawat dituntut mempunyai pengetahuan yang baik berkaitan dengan tugas keperawatannya. Bahwa manusia umumnya melakukan sesuatu dengan cara yang masuk akal. taat kepada aturan dan berdisiplin (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Penanganan yang salah akan berakibat buruk. anjuran atau ketetapan yang ditunjukan melalui suatu aktifitas konkrit. Bahwa secara eksplisit maupun implisit manusia memperhitungkan implikasi tindakan mereka. bahkan akan mengakibatkan kematian. Menurut Icek Ajzen dan Martin Fishbein (Azwar. diimplementasikan dalam bentuk kesiapan menerima resiko dari apa yang telah diperbuatnya atas dasar pilihan yang telah disiapkan.