You are on page 1of 81

Sekotak Cokelat

[Ratu Marfuah] 1

Sekotak Cokelat

Sekotak Cokelat

Penulis
Ratu Marfuah

PNBB E-Book #39
www.proyeknulisbukubareng.com
www.facebook.com/groups/proyeknulisbukubareng

Ilustrasi
DepositPhoto

Penerbit Digital
Pustaka Hanan
www.pustakahanan.com

Publikasi
Pustaka E-Book
www.pustaka-ebook.com

©2013

Lisensi Dokumen

E-book ini dapat disebarkan secara bebas untuk tujuan non-komersial
(nonprofit) dan tidak untuk diperjualbelikan, dengan syarat tidak
menghapus atau merubah sedikitpun isi, atribut penulis dan pernyataan
lisensi yang disertakan.

[Ratu Marfuah] 2

Sekotak Cokelat

Sastra Kimia

Sejujurnya, saya hampir menyerah untuk menulis pengantar
buku ini. Namun, karena sudah terlanjur memberikan janji pada
penulisnya, maka saya memang harus menuliskannya, sebab kalau tidak,
saya tidak menginginkan di akhirat kelak saya akan dihukum karena tidak
bisa memenuhi janji ini.

Apa yang selama ini kita sebut sebagai suatu kesadaran,
seringkali justru digerakkan oleh kekuatan alam bawah sadar kita. Itulah
realitas yang sebenarnya. Namun, tidak banyak di antara kita yang
menyadarinya. Hingga sebagian besar di antara kita terus larut bersama
ketidaksadaran tersebut.

Kumpulan cerita yang ada di buku ini sungguh tidaklah biasa.
Mungkin sudah banyak Anda membaca karya sastra, novel, cerpen atau
puisi, tapi saya akan pastikan bahwa Anda belum pernah menelisik bentuk
seperti yang terdapat di buku ini. Rimbunnya tak biasa dan belukarnya
sukar diurai, maka kening yang berkerut sepanjang pembacaan buku ini
niscaya akan terjadi.

Tapi, kalau Anda pernah menonton film 'Sun Go Kong' di televisi,
pengembaraan Sun Go Kong -bersama guru dan saudara-saudara
seperguruannya- mecari kitab suci tak pernah usai. Membaca buku ini
mungkin Anda akan teringat kembali dengan berbagai falsafah kehidupan
yang sering terlontar dari lisan Biksu Tong, guru Sun Go Kong di film
tersebut. Namun demikian, cerita-cerita di buku ini tetap tidak bisa
dikatakan 'sealiran' dengan film Sun Go Kong.

Maka, dengan keterbatasan pengetahuan saya perihal sastra dan
literasi, setelah menuntaskan membaca buku ini, perkenankan saya untuk
menyebut apa yang Ratu Marfuah rangkai ini sebagai sebuah genre baru
dalam kesusastraan Indonesia dan atau mungkin juga Dunia!

[Ratu Marfuah] 3

Sekotak Cokelat

Seringkali kita mendengar adanya seseorang atau penulis
tertentu yang disebut memiliki imajinasi liar. Tapi, kali ini saya akan
bersaksi bahwa Ratu Marfuah tidak hanya sekedar liar. Namun,
perempuan yang lahir, membesar dan tinggal di tanah Banten ini adalah
penulis gila! Bahkan seorang Sujiwo Tejo pun menurut saya, tidak lebih
gila dari Ratu Marfuah. Sekali lagi, walau saya telah berhari-hari membaca
semua naskah yang penulis berikan ke saya, saya tetap tidak bisa
memastikan maksud sesungguhnya yang diinginkan penulis. Entahlah,
dengan pengetahuan yang lebih luas dan pemahaman yang lebih dalam,
mungkin Anda akan memperoleh kesimpulan yang lebih utuh dari saya.

Namun secara garis besar, secara umum, sebenarnya Ratu
Marfuah sedang mengajak kita untuk memahami, menerima dan
menjalani takdir sebagaimana harusnya. Untuk pesan itu, penulis tidak
mengutip ayat-ayat suci atau pun teks-teks bijak dari para cerdik pandai,
karena narasi dan diksi yang disuguhkannya seakan merupakan jelmaan
dari berbagai kutipan ayat dan ungkapan suci.

Maka, baca buku ini, cerna, pahami dan simpulkan. Anda akan
memperoleh kesadaran baru tentang realitas kehidupan. Pun Anda akan
mendapatkan apa yang saya sebut sebagai sastra logika kimia. Saya
berharap penulis buku ini meniatkan semua yang ditulisnya sebagai karya
ibadah, tulus karena Sang Pemilik semua yang nampak atau pun yang tak
nampak di Jagad ini, Allah 'Azza wa Jalla!

Di Udara Antara Kuala Lumpur - Surabaya, 23 Juli 2013

Abrar Rifai

[Ratu Marfuah] 4

logikanya. Anda akan menemukan hal-hal yang tak biasa tertemukan. Bermacam-macam dan bisa apa pun. Terima kasih terucap untuk Sang Kekasih Sejati yang telah memberikan imajinasi dan kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk mengembangkannya. cinta. dengan segala ceritanya. Sekotak cokelat itu adalah hidup. Di luar logika? Ya. Buku Sekotak Cokelat ini berisikan kumpulan cerpen yang berkisah tentang kehidupan. Pada sekotak cokelat itu tak selalu berisikan cokelat. dengan segala prilakunya. Sekotak Cokelat Kisah Sekotak Cokelat Pada sekotak cokelat. Pun sama seperti rasa dari sebuah cokelat. Setidaknya. dengan segala perjalanan dan perjuangannya. Terima kasih pun terucap untuk hijau dan cokelat [Ratu Marfuah] 5 . Sekotak cokelat itu adalah cinta. Mungkin banyak yang menganggap ini gila. karena logika itu tak selalu bisa dipakai dan dipergunakan dalam menjalani kehidupan. hasilnya menggila dan sepertinya kebablasan. energi. Imajinasi yang pernah terpasung sekian lama. tapi inilah kebebasan imajinasi itu. bahkan pelangi. itulah yang saya temukan ketika menuliskan buku ini. hanya akan tertemukan cokelat. Idenya lebih banyak berasal dari imajinasi yang meliar dan biasanya di luar logika. Sama seperti sekotak cokelat. nyatanya tak selalu seperti itu. yang ternyata beraneka rasa. dan ketika pasungannya terbukakan oleh waktu. Sekotak cokelat itu adalah semesta. cokelat dan cokelat. dengan segala penghuninya. dengan segala liku alurnya. bukankah kadang kegilaan itu diperlukan? Di buku ini. kadang berisikan bunga. Mungkin itulah sebabnya pula kenapa akhirnya saya memberikan judul Sekotak Cokelat pada buku elektronik ini. Sekotak cokelat itu adalah manusia. Sekotak cokelat itu energi yang hidup dan menghidupkan. Namun dalam perjalanan kehidupan. Tak mengapa. yang ternyata bukan hanya berisi cokelat. dengan segala liku alurnya. yang nyatanya di luar kendali kita sebagai makhluk yang bertuhan.

mesti orang lain menganggapnya kebablasan. Walau imajinasi itu tak nyata. Semoga buku ini bermanfaat. Bukankah banyak kenyataan yang berawal dari imajinasi. Selamat membaca dan selamat menuliskan imajinasi. terima kasih banyak untuk pihak-pihak yang telah membantu penerbitan buku elektronik ini. teruslah berimajinasi dan biarkan orang lain tahu imajinasimu. Karena jiwamu itu adalah sejatinya hidupmu. yang mendukung setia keliaran imaji. Astana Badranaya Ratu Marfuah Realis yang pengimaji [Ratu Marfuah] 6 . Jangan takut untuk menuliskan imajinasi. dan untuk pihak-pihak lain yang tak bisa disebutkan satu per satu. Bahkan kadang hidup pun ternyata terjalani dengan gila. Tak mengapa. asalkan jangan jiwamu yang gila. Untuk keluarga besar PNBB yang luar biasa. Untuk senja dan bulan yang mengajari arti kesungguhan dan perjuangan. bahkan gila. Boleh saja. Akhirnya. Tak mengapa jika tubuhmu terpasung dan terpenjara. Sekotak Cokelat yang selalu menyejukkan dan mendamaikan. namun ada kebolehjadian menjadi nyata. namun janganlah memasung dan memenjarakan imajinasimu. Maka. Pun untuk Setengah Jiwa.

Sekotak Cokelat Daftar Isi Sastra Kimia 3 Kisah Sekotak Cokelat 5 Daftar Isi 7 Gadis Kecil dan Layang-Layang Hijau 8 Batara Cahaya dan Kitab Cahaya 13 Sekotak cokelat 19 Kesabaran Sang Laut 23 Bunga dan Darah 29 Kuning di Biru 34 Likuan Alur Gadis Cokelat 38 Penulis dan Pelukis 47 Serenade Hujan 57 Kamboja Bermahkota Enam 68 Kisah PNBB 75 Kisah Peramu Cokelat 77 [Ratu Marfuah] 7 .

walau Ia tak nampak jelas. Membuatku terkagum dan semakin terpikat. hanya serupa titik kecil saja. Layang-layang itu berwarna hijau dengan corak hitam dan krem. kesadaranku kembali dan membuatku berdiri untuk mencari sang angin. Aku terkejut. Lara hatiku sedikit terobati. [Ratu Marfuah] 8 . kesedihan ini telah membuatku luruh. kokoh dan kuat. warna hijau selalu saja mampu membuatku terpikat. Sebuah tempat yang terletak di ujung barat kota. Ia memberikan benangnya untuk kupegang. Layang-layang itu beratraksi. meninggalkan tubuhku sendiri dalam sepi. namun hatiku masih mampu untuk berharap. Aku terduduk di sebuah kursi kayu. Pikiranku melayang-layang entah ke mana. Angin kencang datang. karena banyak ditumbuhi pohon hijau yang rimbun dan bebungaan yang menyegarkan. Namun ia tiada. Ia tersenyum manis ketika melihatku. Sekotak Cokelat Gadis Kecil dan Layang-layang Hijau Hari akan senja ketika kuputuskan untuk mengunjungi tempat itu. yang akhirnya membuatku mendatangi tempat ini. agar Ia tak terlarut arus angin. Ah…aku terpikat. Tempat itu selalu asri dan memesona. Ia terbang jauh dan tinggi ke sebuah negeri yang bernama Negeri Hujan. Sebuah tempat yang bernama bukit pengharapan. Aku masih terus melihat dan memperhatikannya. Tubuhku lemas dan tak berdaya untuk bangkit. namun pikiranku masih kembali ke sebuah kisah sedih. Sebuah layang-layang melayang indah di hadapku dan menjatuhkan diri di tanganku. Sebuah harapan yang akan membuatku hidup dan menghidupkan jiwaku yang hampir saja mati. telah berlalu pergi dariku. menampar wajahku berkali-kali dan menggeraikan rambutku tak menentu. Air mata jatuh membasahi pipi. Nampak sangat indah. terbang melayang dan bermanuver di angkasa.

” bisiknya sambil menunjuk ke awan biru. hingga akhirnya ia berkata. namun suaraku tercekal keterkejutan. Di mataku. pertanda setuju. “Gadisku…maukah kuajak kau terbang melayang ke langit tinggi dan mendiami sebuah awan biru bersamaku? Dan kita akan di sana selamanya. “Secepat inikah waktuku datang? Kurasa aku belum mampu untuk terbang dan mencapai awan biru. Jika kau memintaku untuk menanti. Bersediakah kamu menungguku. berapa lamakah waktunya?” Ia lalu terdiam dan berpikir. Aku masih memandangi tubuhnya yang mulai menghilang di balik awan biru. Ia pun menghampiriku. dan masih terduduk menantikan kedatangannya di suatu hari yang indah nanti. namun suaranya masih tertahan.” ucapnya sambil bersimpuh di kakiku. Nantikanlah aku dengan sabar dan dengan percaya. hingga aku telah cukup indah dan layak bersamamu. “Tapi…maafkan aku. Ia kembali bersuara. Cukup lama. Aku menyadari jika diriku belum cukup indah untuk bersamamu yang indah. pun masih terdiam bersama diamku. Ia lalu terbang melayang dan kembali ke tempatnya. Aku pun merasa tak indah dan tak layak untuk bersamamu. [Ratu Marfuah] 9 . Dedaunan berjatuhan. Lalu…kita akan terbang bersama ke sana. justru kamu yang terlihat indah. Sekotak Cokelat Setelah lama terbang jauh. Gadisku?” “Layang-layang…bukankah kita bisa belajar bersama agar saling mampu dan layak? Janganlah menganggapku indah. di Negeri Hujan. kurasa sekarang aku belum mampu membawamu terbang. tak pernah menduga perkataannya. Bukankah sayapku baru saja patah dan belum sembuh? Bisakah aku membersamainya?” lirihku dalam hati. sebab aku hanyalah seorang gadis kecil. Layang-layang itu masih melihat ke arahku. Ingin berucap. Aku terkejut. Dan aku hanya mampu mengangguk. “Saat aku telah memiliki sayap sepertimu. dan masih saja dengan pesona indahnya. Menemanimu.

Aku menantikan hari indah itu dengan segenap rasa yang membuncah indah. Sang layang-layang hijau akan datang dan telah bersiap untuk membawaku terbang. Namun. ia akan menuju awan biru bersama gadis itu. aku pun sungguh tak rela jika melepaskan dan membiarkannya terbang. Ia datang. Dalam hati pun. Angin lembut mendatangiku dan terus merayuku agar tak melepaskan layang- layang itu. nyatanya aku menginginkan mendiami awan biru bersama sang layang-layang hijau itu. Setiap waktu. mencapai awan biru di atas sana. aku akan datang dan mengajakmu terbang ke awan biru. Aku kembali terduduk di kursi kayu. Hari. Ia teramat ingin melihatku mendiami awan biru bersama layang-layang hijau itu. ia tak juga datang untuk sebuah pemenuhan janji. Jangan lepaskan aku lagi. Dan yang lebih menyakitkannya lagi. Ia tak mau terlarut arus angin. bulan. kupersiapkan sayapku agar bisa mengimbanginya terbang tinggi. Dalam lubuk hatiku. Aku bersorak gembira. Aku terjatuh. Aku tak menginginkannya. “Kumohon percayalah…suatu hari yang indah nanti. Aku melepaskan genggaman benangnya. Berilah aku waktu agar aku mampu untuk itu. dan memintaku untuk terus memegangi benangnya. Jiwaku pun bergelora bahagia. bahkan tahun terlewati sudah. menyampaikan rasa kecewanya. Hatiku luluh dan mau menuruti inginnya. Aku kecewa. sambil terus memandanginya yang telah jauh. dan memindahkan benangnya ke gadis lain. Lalu…aku seperti apa baginya? Tidakkah penantianku ini berarti baginya? Apakah ia melupakan janjinya dengan mudahnya? Kemanakah lenyapnya [Ratu Marfuah] 10 .” Matanya merajuk manja dan aku hanya bisa mengangguk. dan membiarkannya terbang bebas. Layang- layang hijau itu tiba-tiba saja melepaskan benangnya dari genggamanku. teramat sangat kecewa. yang entah kapan akan nyata. ketika tahu jika penantianku akan segera berakhir. Namun aku meraskan sakit terus tergantung-gantung dengan janji. Sekotak Cokelat Waktu berjalan dan terus berganti. hujan mengaliri hatiku dengan derasnya.

sakitnya masih ada dan masih terasa. “Ahhhh…tidak. Aku semakin membaik dan telah melupakan semua peristiwa lalu. belasan hingga puluhan kali. Ingatanku tentang goresan luka itu belumlah hilang. meski bukan bersamanya. Kertas hijau pembalut tubuhnya terobek dan tersayat-sayat hingga mengenai ulu hati. Aku sendiri. dan tanpa menanti. layang-layang hijau itu terbang di hadapku. Suatu hari nanti. Bumi berrotasi. Entah ke mana. tergilas oleh keangkuhan dan keegoisan gadisnya. aku pun akan terbang ke awan biru. tanpa layang-layang hijau. Ia tak mau tubuhnya terobek-robek dan hancur. Kamu pasti [Ratu Marfuah] 11 . Tanpa hembusan angin kencang. Layang-layang hijau itu kembali tersenyum kepadaku dan mengerahkan semua pesonanya untuk memikatku. Perjalanannya menuju awan biru pun terpaksa dihentikan. Ia tertunduk dalam diam yang sepi. bahkan membuatku tak bisa lagi menangis dengan sangat kencang. yang telah membuatnya jatuh terpikat. Hidup baruku dimulai. Ia dijatuhkan berkali-kali. bahkan aku pun telah merelakan kepergian layang-layang hijau itu. Keceriaan dan cahayanya meredup hilang. Dulu. bahkan kepingan- kepingannya pun telah terbang tertiup angin. Ia mengatakan ketidaksanggupan jika harus mendiami awan biru bersama gadisnya yang jahat. bahkan aku hampir tenggelam. Semua kebaruan yang baru mulai membersamaiku. tanpa janji-janji. Sama seperti dulu. Aku tetap sendiri dan hanya bersama hatiku. Tubuh gagahnya tak lagi segagah dulu. Sekotak Cokelat semua itu? Angin kencang mana yang menerbangkan semua itu? Bisakah Ia meraba hatiku? Remuk sudah dan tak lagi berbentuk. kamulah yang telah membuatku menangis. menangis dengan sangat kencang. Sebuah perahu yang bernama kesadaran menyelamatkan dan membawaku ke sebuah tempat baru. tak secantik wajahnya. Bukit tempatku duduk telah banjir oleh kesedihan. Sebuah hati yang kini mulai lahir dan bertumbuh dengan semangat kebaruan. hingga menabrak tebing curam dan terjatuh di palung yang dalam. padahal hanya tinggal beberapa langkah saja. Gadisnya ternyata jahat.

Sekotak Cokelat paham sakitnya. 12 Novembar 2011 [Ratu Marfuah] 12 . Ruang Cokelat. Ia terus berjalan. bukan? Dan maaf…aku tak bisa dan tak ingin mengulangi masa yang telah pergi.” Aku pergi meninggalkannya dan membiarkan kursi kayunya kosong. guna meraih kenangan-kenangan yang lebih besar dan lebih indah. semuanya telah terlambat. yang terus disesalinya. Waktu takkan bisa kembali untuk mengulangi sebuah kenangan. Layang-layang itu terdiam dan terduduk dalam sesal.

Kalimat-kalimatnya berbaris rapi dengan indah dan harmonis. Anehnya. Aku memang terbiasa memakannya saat aku terjatuh dan tersirami hujan deras. Dengan pelan-pelan. Tapi…siapakah Batara itu? Dan kenapa tiba-tiba kitabnya bisa jatuh di hadapanku? Angin mana yang telah menerbangkannya dan membawanya kepadaku? Puluhan tanya menari-nari di benakku. aku sama sekali tak mendapatkan pemahaman. Kitab yang cukup tebal. Pun telah kukunci rapat mulutku. Saat terdiam. di sebuah pohon yang teduh dan rindang. tergeletak puluhan bungkus cokelat dan beberapa bungkus cokelat yang masih utuh. Gadis Cokelat. otakku mendadak tumpul untuk mengartikannya. Kuteruskan membaca lembarannya. aku mengangkatnya dan mulai membuka lembarannya. Di sampingku. Aku teruskan menjelajahinya dengan seksama. dengan sampul berwarna hitam pekat. aku duduk bersandar. Dengan cara itu. aku tak menyerah untuk terus menjelajahinya. Walau terus kucoba berulang kali. begitulah namaku. Cahaya nampaknya belum juga berkenan menyinggahi dan menghapus kebutaan ini. meski bersampul hitam dan tanpa hiasan larik pelangi. kegagalan selalu saja kutemui. Kitab hitam itu berisikan kisah perjalanan hati sang Batara dalam mengarungi kehidupan. Namun. Kurapatkan kedua kakiku dengan perut dan kubenamkan wajahku dalam-dalam. Otakku memerintahkan untuk mengambil dan membacanya. Namun. walau kebutaan selalu kutemui. kesakitan yang kurasa akan sedikit berkurang. Sekotak Cokelat Batara Cahaya dan Kitab Cahaya Di atas bukit. agar tak ada lagi suara-suara kesakitan yang melantun dan menghampiri telingaku. kitab itu terlihat sangat indah di mata dan hatiku. Mataku kubuat menunduk agar tak ada lagi air yang tertumpah menderas. sebuah kitab tiba-tiba datang dan terjatuh di hadapanku. seperti hari-hari yang telah lalu. Aku memandanginya dengan teliti dan tanpa berkedip. walau tak juga menyembuhkan. Kurasakan perjalanan mengukir kalimat-kalimat ini [Ratu Marfuah] 13 .

Tapi. Rasa ini. Tanpa lantunan bahasa yang terbahasakan. entah apalah namanya. namun keteduhan terasa membersamainya. [Ratu Marfuah] 14 . Sensasi yang berhasil membuatku menari. cahayanya pun mampu menerangi gelapnya jalan ukir yang selama ini menghilang karena terbanjiri derasnya hujan kesedihan. hatiku terus melena. aku mulai merasa dan terus merasa. Tubuh yang belum pernah kukenali sebelumnya. Terangnya cahaya itu mampu mengukirkan mozaik-mozaik keindahan. Rasa penasaran mulai menghinggapi otakku. suara Batara itu terus menggema di telingaku. jalan yang seperti labirin. yang membuat kakiku terluka dan terbanjiri tangis. siapakah ia? Jejak-jejaknya terasa begitu istimewa dalam menjejak dan meninggalkan jejak. Selain itu. bersenandung tanpa henti. Sekotak Cokelat bukanlah sebuah perjalanan yang biasa. tetapi memperhatikan dan mempelajari pengalaman-pengalaman yang tersaji. bagaimana bisa ia merubah segala hal yang selama ini memenuhi jalanku. walau kakiku masih luka. Aku bahkan sama sekali tak mengerti dan tak menduga bahwa aku mengalaminya. yang terus berputar-putar dan tanpa ada jalan keluar. Meski tanpa raga. seraut cahaya biru lembayung muncul dari dalam kitab itu. mengitari pohon dan juga bukit tempatku berada. Dan pasti sang pengukirnya pun bukanlah orang biasa. yang mampu menerangi apa saja yang ada di dekatnya. Jalan pikir yang selama ini licik dan picik pun telah mampu diperbaikinya. namun tak lagi berpikir dan menganalisa. Sempat tak habis pikir dengan kitab itu. tubuh yang penuh dengan cahaya terang. Tanpa mengucapkan kata. Dalam kebutaan pengartian. Sesosok tubuh hadir di hadapanku dan membuatku terkejut. Kitab sang Batara ini telah menghadirkan sensasi lain dalam jiwaku. Sensasi yang berhasil membuatku bangkit dan berjalan. Batara itu telah sangat berjaya dan berhasil memperdaya kesedihanku. aku tak tahu dan tak mampu mendefinisikannya. Dan tanpa lantunan irama musik yang terpetik. yang juga penuh dengan onak dan duri. Otakku kembali aktif bekerja. sensasi yang belum pernah sama sekali kurasakan seumur hidup. Cahaya yang sangat terang dan menyilaukan mata.

Dan Ia akan datang dengan segera. Tiba-tiba saja ia terjatuh di hadapanku. Sekotak Cokelat “Aku Batara Cahaya. maaf. Aku tak tahu jika kitab ini adalah milikmu. Batara cahaya. Ia tak pernah menolak panggilanku. Lelah yang seperti tak berkesudahan. pemilik kitab hitam yang ada di tanganmu. Tak hanya itu. yang mampu mengubah cara-caraku yang selama ini salah. Kelembutannya telah berhasil mengobati kesakitan akut yang kuderita. aku pun memanggilnya.” ucapnya panjang lebar. Amarah yang akhirnya mengakumulasi dan mengisi penuh hampir seluruh hatiku. yang kini mengisi tiap inci relung hatiku. Namaku Gadis Cokelat. Seketika. Ia langsung datang dari tempat pertapaannya. Kitab cahayanya menjadi perbincangan utama. walau ini adalah pertama kali kita berjumpa. dan aku mencarinya. Kamu seorang diri? Di mana teman-temanmu. itulah kata yang kuhamparkan kala aku terpeluk erat oleh kesempitan dan kesakitan. tak lagi kembali. di langit tinggi. Adakah yang salah dengan diriku? Batinku berbisik. begitu dalam. Kedatangannya berhasil menghancurkan tembok kesempitan yang kokoh dan angkuh. lelahku pun berhasil digantinya. di sebuah jumantara sukma. sehingga tak mungkin lagi terbangun. akhirnya usai sudah. “Oo. Saat kerdil menjiwaiku. Amarah karena tersakiti dan terabaikan. Semua amarahku berhasil diusirnya pergi. Amarah yang dulu senantiasa berkecamuk dan mengisi hati. aku pun menghadirkan bayangnya. membagi cahayanya guna menerangiku. menjadi kepingan-kepingan kecil. Kitab itu terterbangkan oleh angin. Hanya ada kedamaian dan keluasanlah. sedang berlari dan mencari sebentuk ketenangan. karena terjatuhkan dan terbuang. Lama-lama aku selalu kecanduan untuk terus memanggilnya. Terpecahkan menjadi kepingan-kepingan kecil dan tertiup angin. Dan anehnya. dan maafkan karena aku telah lancang pula membacanya.” Sang Batara hanya tersenyum memandangku. [Ratu Marfuah] 15 . Aku sendiri di sini. Saat kelam menyapa. lagi dan lagi. Lalu kita terlarut dalam perbincangan. hingga sampailah aku di sini. Kitab yang kunilai sangat unik dan tak biasa.

Sang Batara hadir menyapa. dengan cahaya temaram yang membersamaiku. dan menarikan impian malamnya. Kita berdua dalam istana cokelat. Aku lalu mendatangi alam mimpinya. sehingga aku terbangun. dengan segaris senyum yang selalu terlukis indah. Aku hanya ikut tersenyum kala melihatnya tersenyum. Sukmaku terbang melesat jauh. Sekotak Cokelat Sang Batara selalu ada membersamaiku. menuju tempat pertapaan Sang Batara. ia sedang tertidur pulas. sang Batara menjumpaiku dan mengajakku terbang jauh ke negeri di atas awan. Saat di hadapanku. aku hanya terdiam. yang menjadi tempat kita tinggal hingga suatu waktu nanti. Tenang dan tanpa ada gejolak. di mana hanya kedamaianlah yang ada dan mengisi penuh ruangnya. diam-diam aku terdiam. Dalam mimpi tidurku. ke rumah pohon di atas bukit. Di hatinya. Di sana. Tarian yang kutarikan untuk mengiringi tidurnya. Aku kembali ke tempatku. walau telah sebening kaca. Hati itu sangat sulit tertembus. Kulihat segaris senyum di wajahnya kian mengembang. tak seperti biasanya. di jumantara sukma. Ada apakah gerangan? Kenapa Ia terlihat sangat lain dari biasanya. kita mendirikan sebuah istana cokelat. lalu menyelaminya dengan sangat dalam. Apakah itu karena lukisan dan tarianku? Entahlah. Aku mendatangi hatinya. Tarian yang tanpa musik dan lagu. Aku mencoba tidur. Pada sebuah malam. setelah mendapati kelelahan karena menyelami hatinya. walau kadang hanya berupa bayang yang tak nyata di mata. Setelah lukisan harapan hatiku selesai. Saat menyisir taman bunga di ujung barat bukit. Mimpi semalam adalah mimpi yang sungguh indah dan sempurna. Semoga menjadi nyata. Di wajahnya terlukis kedamaian yang tak biasa tertampakkan. kulukiskan harapan hati dengan sangat hati-hati. Cahayanya terlihat sangat terang. Kulihat. Dalam hening yang selalu bergetar dalam vibrasi yang tak tertangkap oleh indera. tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Sebentuk hati yang indah dan damai. Ia melangkahkan kakinya dan mendekatiku. Sinar mentari pagi menyapa kasar wajahku. hingga ujung waktu. agar terlelap dan selalu berada dalam kedamaian. Aku dan dia telah melebur dan menjadi kita. tangannya terulur dan [Ratu Marfuah] 16 .

yang belum mampu baik sepertimu. Tak salahkah kau memintaku?” Kalimat itu keluar menderas dari mulutku. Sebab. Kamu bodoh. Hatiku menginginkannya dengan sangat. Gadis. Sekotak Cokelat menggenggam erat kedua tanganku. Sadar!! “Gadis Cokelat…maukah untuk terus membersamaiku hingga waktu berujung? Aku dan kamu akan menjadi kita. Semua kegelapan dan kesakitan yang selama ini menghampirimu. apalagi menapaki rumit alur. seolah- olah tak terjadi apa-apa. walau kegelapan masih tetap menyelimutiku. walau hatiku sangat menolaknya. belum mampu unggul. bukan? Kasta kita pun sangat jauh berbeda. “Batara…aku hanyalah Gadis Cokelat. bukankah nantinya akan terasa sangat timpang. “Cinta itu tak mengenal kasta. hingga tak ada lagi sebuah kata yang bisa kita ucap?” sinar matanya menunjukkan permintaan dan tepat menatap ke mataku. dan cintalah yang akan menyatukan pemisahan itu. Jantungku berdegup kencang dan semakin kencang. Aku hanyalah kaum proletar yang tak istimewa. walau telah berkali-kali [Ratu Marfuah] 17 . Jangan bermimpi. kamu tak sedang tidur. yang selalu bermandikan cokelat untuk mengusir semua sakit dan kesakitan. nyatanya telah berhasil menguatkanmu. dan akan senantiasa bersama dan membersamai. namun aku berhasil menutupinya. Jiwa ini masih tunggal. Gadis…hanyalah gadis istimewa yang diberikan jalan yang gelap dan berputar-putar. tetaplah tinggal membersamaiku. menyapa seluruh ruas tulang dan sendi tubuhku. Mata elang itu tepat menusuk jantungku. Gadis Cokelat. belum juga mampu untuk senantiasa tegak berdiri. dan logikaku berperan kuat dalam jawaban kali ini. lalu mulai mengalir bersamaan dengan aliran darah. Aku pun belum bisa sebaik dirimu. Tapi aku juga harus melihat kenyataan yang ada. Lagi pula apalah artinya kasta? Bukankah itu hanya sebuah pemisah. yang tak adil. Tapi…bukankah kasta kita jauh berbeda. gelap dan berputar-putar. Oh Batara Cahaya. hanya dialah yang berhasil membuatku terlepas dari rasa gelap. Hingga hening dan senyap. Ada aliran kehangatan yang singgah di tanganku. Kamu masih tetap berdiri. Kamu tentu sangat tahu bagaimana perjalananku. Bodoh! Kenapa aku terasuki keinginan ini.

karena kamu adalah bagian diriku yang hilang. belum pernah kurasakan kebahagiaan seperti ini. Logikaku yang keras pun mulai melunak. Ada kedamaian dan ketenangan di jiwanya. Gadis. seolah-olah tak mau melepaskan dan membiarkanku berlalu darinya. Cinta berhasil mengalahkan keangkuhan logikaku. kau terlalu kencang menggenggamnya. Pelukannya pun kian erat memeluk tubuhku yang perlahan menguat dengan segala ringkih. yang kini telah menjadi satu. Akhirnya aku menganggukkan kepalaku. Hal ini memang sama sekali tak bisa terlogikakan. Kamu istimewa. keseriusan di ucapnya. Jiwa kami menyatu dan melebur jadi satu. “Batara…tanganku sakit. Gadis.” “Maafkan aku.” Perlahan Ia melepaskan genggaman tangannya dan mengusapi tanganku dengan kedua tangannya yang kokoh. dan kesungguhan di hatinya. Tubuhku ditarik mendekati tubuhnya. Sedangkan yang lain telah tumbang dan menumbangkan diri. “Aku menemukan diriku di dalam dirimu.” Sang Batara kian erat menggenggam tanganku. Aku melihat ketulusan di wajahnya. Sekotak Cokelat terjatuh dan dijatuhkan. Ada kekuatan dan perlindungan di dada bidangnya. 17 Desember 2011 [Ratu Marfuah] 18 .” Seulas senyum terlukis indah di wajah teduhnya. Dan itulah yang berhasil menumbuhkan cinta di hatiku. dan akhirnya menyerah. Sang Batara berteriak kegirangan dan kian erat memegangi tanganku. pertanda menyetujui permintaannya. mengalah. Ruang Cokelat. Aku teramat bahagia. Ada getar dan gerak yang seirama berdenyut di kedua jantung kita.

Bukankah semuanya memerlukan pembuktian dan pengujian? Tahun ini musim panas telah berlangsung. Setiap hari. manusia pun tak jauh beda. Matahari mulai terasa terik menyinari. beta dan gamma yang sangat panas. terdapatlah sebuah laut yang indah dan memesona. Laut terlihat sangat senang dan bahagia. Sang Penciptanya pun tersenyum menyaksikan ketundukan dan ketaatan sang Laut. Sang Pencipta memberikan ujian untuk menguji ketaatan dan kepatuhannya. Memasuki bulan ketujuh. Laut mulai gelisah. Ikan-ikan senang karena mereka banyak mendapatkan asupan sinar matahari. bahkan panasnya sangat terik. Laut tetap terlihat tenang. bahkan [Ratu Marfuah] 19 . Hari terlewati. sebab kebeningan airnya menyebabkan sinar matahari mudah masuk. Tak hanya itu. Tapi…apakah pujian dan tasbihnya akan terus terlafaz jika keadaannya diubah? Lalu. kunjungan selalu ramai. Ikan-ikan nampak senang tinggal di dalamnya. Ribuan. sebab dia bisa berguna dan membahagiakan orang lain. Lautnya luas dan dalam. dan juga banyaknya terumbu karang yang bisa jadi tempat tinggal ikan dan plankton. Bulan-bulan pun datang silih berganti. evaporasi besar-besaran pun terjadi. Ia menyukai belaian hangat sang mentari dan sentuhan lembut partikel-partikelnya. Menyejukkan mata dan hati. Sekotak Cokelat Kesabaran Sang Laut Di sebuah tempat di koordinat bumi. Riak-riak air selalu bersenandung merdu di atas permukaannya. Tubuhnya terasa sangat nyeri karena terus-menerus terbaluri alfa. beta dan gamma terus-terusan membelai mesra tubuh sang Laut. yang telah memberikannya amanah terindah. mereka senang berjemur di pasir pantainya. pun juga manusia. jutaan. musim panas tetap saja berlangsung. Alfa. Dia terus memuji dan bertasbih kepada Penciptanya yang telah begitu indah menciptakannya. Airnya berwarna biru dan menyegarkan. Ternyata tak hanya ikan saja yang menyenanginya. Baik untuk sekadar melihat keindahannya ataupun untuk bermain- main dengan raik airnya yang kecil dan jenaka.

Tak hanya ikan yang meninggalkannya. panas terik kembali terjadi. Hatinya kosong dan hampa. Ikan-ikan yang dulu senang bernaung di dalamnya perlahan-lahan meninggalkannya. [Ratu Marfuah] 20 . Volume air Sang Laut terus berkurang. Laut mulai bersedih. Riak-riak air yang riang dan jenaka kini mulai menghilang pergi. Tapi Awan hanya diam saja. kenapa Awan tak juga mau menurunkan airnya yang selama ini diserap? Bukankah evaporasi telah berlangsung lama. Dan. tak lagi ada yang menemaninya. sebab Ia meyakini bahwa ini semuanya terjadi atas izin Penciptanya. Hari ini. Laut menangis dan meraung. namun tak lagi menangis dan meratap. Bahkan kini. Kapan itu terjadi? Saat ia telah mencukupi mahar yang telah ditentukan oleh Penciptanya. lantas kenapa tak jua turun hujan? Sebesar apakah Awan yang ada di atasnya ini? Di tengah tangisan dan ratapan. sebab titah untuknya belum turun. ia pun ikhlas seandainya ia harus berakhir manjadi sebuah jurang yang dalam. Volume airnya yang dulu melimpah dan tak pernah surut. Laut pun bersedih. Hari terus berganti. dengan tangisan yang memilukan dan menyayat. Sekotak Cokelat milyaran Avogadro partikel airnya terserap oleh Awan. tanpa tergenangi lagi oleh air. ia pun tetap meyakini bahwa setelah semua kedukaan panjang ini. matanya sembab. Awan sebenarnya merasa kasihan. bahkan kini hanya tersisa duaperlapan bagian saja. sebab volume airnya pasti akan semakin berkurang. Laut tak lupa untuk terus memuji dan tunduk pada Penciptanya. manusia yang dulu senang mengunjunginya pun mulai enggan datang. Laut kesepian dan merasa sendirian. kini mulai surut dan hanya tinggal separuh. namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia menyenandungkan ratapan. Ia justru semakin memuji dan tunduk pada Penciptanya. Isakan-isakannya mulai terdengar. seolah-olah tak mendengarkan rintihan Laut. Kali ini. Ia sungguh tak mengerti. Laut bersedih. namun musim panas belum juga berlalu. ia akan memperoleh kesukaan yang besar. memanggil sang Awan yang tak juga mau menurunkan hujan. yang tersisa hanyalah ombak besar kegelisahan dan ratapan yang memilukan.

volume airnya hanya berjarak sehasta dari permukaan tanah. Laut semakin lemah dan ringkih. Ia membayangkan hujan turun dengan sangat lebat dan memenuhi tubuhnya dengan air. tetap setia membersamai Laut. dan mimpi itulah yang membuatnya terus bertahan di tengah segala kelemahannya. Kilatan cahaya terus berkejar-kejaran. Ia kembali lagi seperti dulu. Laut tersentak dan membuka matanya yang telah terpejam dalam kepasrahan. Laut semakin tertunduk dan memuji Penciptanya. sebab mimpinya tak jua menjadi nyata. Ia pun semakin ikhlas dengan hal buruk yang sepertinya akan menimpanya. namun musim panas belum juga mau pergi. Ia pun tertidur pulas dengan senyuman. Penciptanya tersenyum. sepertinya hari ini tugasnya akan berakhir. Ia tak lagi menyangsikan ketaatan sang Laut. Di atas sana. Laut semakin lemah dan ringkih. karena ia menyangka tak akan lagi terbangun. Sekotak Cokelat Dua purnama terlewati sudah. Awan tunduk dan langsung menjalankan titah. ribuan. Laut semakin lemah dan kesulitan bernafas. sehingga semua ruang kosong Laut terisi penuh dengan genangan air. Guntur-Guntur mulai bersenandung dan saling bersahut-sahutan. Ia tak mau lagi bermimpi. bahkan trilyunan Avogadro partikel air membelainya dengan manja. Tiba- tiba…ratusan. Ia terpejam dan terus memejamkan matanya. Batinnya berkata bahwa sebentar lagi hujan akan segera turun. Laut terdiam dan semakin ikhlas dengan keadaannnya. Mimpinya sangat indah. jutaan. Satu jam berlalu sudah. dan terus [Ratu Marfuah] 21 . disenangi oleh ikan dan manusia. Ia pun menitahkan Awan untuk menurunkan hujan yang sangat lebat. tapi hujan yang diharapkannya tak jua datang. ia terus membisikkan harapan pada semesta. bergembira. Laut tersentak dengan keadaan. Langit perlahan menghitam. Di tengah kelemahan itu. semua simpul mimpinya dilepaskan dan diterbangkan ke angkasa. sehingga membuatnya susah bernafas dan menghirup udara bebas. Salinitasnya semakin tinggi saja. Laut tersentak.

Tiga hari tiga malam sudah hujannya berlangsung tanpa henti. Sekotak Cokelat memuji Penciptanya. ia menikmati kesukaan. Keadaannya pun kembali seperti dulu : airnya biru dan sejuk. 2 Mei 2012.02x 10^23 Partikel Ruang Cokelat. Ia pun kini mulai mengerti dengan siklus hidup dan kehidupan. Penciptanya pun tersenyum. volume air sang Laut telah kembali penuh seperti sedia kala. yang telah mengajarinya banyak hal. Kini. Dan kini. Laut terus melafazkan pujian untuk Penciptanya. Maharnya telah terpenuhi. kedukaannya telah tuntas dijalankan. Keterangan : Evaporasi = penguapan Salinitas = kadar garam Avogadro = 6. Laut kembali ceria dan berbahagia. Dan dari atas sana. Di tengah semua kesukaan itu. [Ratu Marfuah] 22 . ikan-ikan berdatangan dan manusia pun ramai mengunjunginya.

Mataku memang ditutup erat karena sedang dipersiapkan untuk melihat keindahan setelahnya dan menikmati cahaya terang di ujung koridornya. karena nyatanya itu semuanya tak membuatku berhasil keluar dari koridor gelap ini. tertancap duri. Lukaku tertutup sempurna dan darah pun berhenti mengalir. Maka kini. Semua jalan yang kutuju nyatanya keliru dan membuatku terjatuh dalam jurang yang dalam dan pengap. langkahku tak lagi mempunyai tujuan. Kuhapus sisa air mata yang masih menggenang dan mulai bangkit berdiri. Pelan-pelan aku berjalan sambil meraba-raba dinding koridor yang beku dan kaku. laksana es. yang kulakukan adalah terus-menerus mengafirmasi diriku. sambil merintih dan menangis. penuh luka dan berdarah. Aku mulai membalut lukaku dengan merobek kain yang kukenakan. Gelap gulita. Kakiku tersandung batu. bahwa aku sedang melakukan sebuah permainan yang menantang adrenalin dan akan mendapatkan hadiah istimewa setelah menyelesaikan permainannya. tak pernah menyangka akan mengalaminya. Langkah kaki membawaku memasuki sebuah koridor yang panjang dan gelap. setelah aku berhasil keluar dan terbebas dari bayangan tentang jurang itu. Badanku pun memar karena menabrak dinding berkali-kali. Tak ada terang seberkas pun. Aku hampir saja mati karena kesulitan bernafas. Kuikuti saja kemana kakiku melangkah. Ini koridor teraneh yang pernah kulalui. Sepanjang perjalanan. Sekotak Cokelat Sekotak Cokelat Aku berjalan tanpa arah dan tujuan. Aku hanya mampu terduduk lemas. Afirmasi-afirmasi ini [Ratu Marfuah] 23 . Kakiku telah kuat kembali. Kuhentikan semua rintihan dan tangisan. Kubiarkan saja kakiku menentukan ke mana langkahku selanjutnya. karena aku sama sekali tak menemukan kain yang tergeletak di koridor.

Aku mulai merasakan suatu kebaruan. Aku tak lagi melakukan rintihan dan tangisan. dan kamu akan mampu melihatku. “Teruslah berjalan. aku tak merasakan sendirian dan ketakutan lagi. Maka afirmasi-afirmasi pun terus kulakukan. Aku selalu bersamamu dalam setiap langkahmu. Tiada gunanya berhenti dan duduk terdiam. Aku yakin bahwa aku akan menemui ujung koridornya dan. Yang kutahu. namun gagal. Sisi-sisi dinding koridor mulai nampak. Kuikuti semua perintahnya dan aku mulai mendapati kehadiran cahaya temaram yang menerangi langkahku. Sebab dengan melakukan afirmasi. Kulewati koridor gelap ini dengan penuh percaya diri dan berani. Sekotak Cokelat nyatanya sangat membantu. yang sangat berbeda. Kutajamkan mataku agar mampu membaca relief-relief di sisi-sisi koridornya. Gelap yang kualami tak lagi pekat. walau kakiku kembali terluka karena tertusuk duri dan paku. Setiap menemui satu kesulitan. Aku menjadi diriku yang baru. Ah. Setiap mendapati kejadian buruk. afirmasi pun kuucapkan. Aku mulai merasakan bahwa kegelapan di koridor mulai meluntur dan mulai hadirlah seberkas cahaya. apakah aku salah merasa? Ataukah mataku telah mampu beradaptasi dengan gelap? Entahlah. aku harus terus berjalan dan mencapai ujung koridor. sehingga mampu [Ratu Marfuah] 24 . dan mencoba berdialog dengan hati.” hatiku berbisik. Aku tak lagi suka merintih dan menangis atau merutuki kenapa bisa menempuh koridor ini. walau masih samar. tapi tidak mampu untuk membacanya. Aku menghentikan langkah. Aku hanya mampu melihatnya dengan samar. di sana akan ada keindahan serta cahaya yang terang. Benarkah ini? Aku mengucek- ngucek mataku berkali-kali. Cahaya yang tak kutahu dari mana datangnya. Aku mulai menikmati dan berbahagia melewati koridor yang sangat menuntunku untuk selalu mawas diri dan berhati-hati. karena aku sama sekali tak mendapati lampu yang menyala atau atap koridor yang berlubang. Cukuplah menundukkan pandangan mata. afirmasi kuucapkan sampai benar-benar tertanam kuat. duduk terdiam.

aku keliru menanggapi semuanya. dan segala rupa hal tentang menjalani hidup dan kehidupan. “Jadi…ini cahaya dari mana?” aku membatin. Semakin membacanya. Aku semakin mengerti dan semakin memahami perjalananku. Aku hanya terbiasa dengan ramai. tapi mempunyai keindahan filsafat dan ajaran hidup. Dengan cahaya yang semakin terang. Dan. Padahal. karena tak ingin sedikit pun terlewati membaca relief-reliefnya yang berharga. sehingga tak mengenali koridor. cara menghadirkan bahagia. sehingga keliru dalam mengartikan gelap. semakin membuatku menangis dengan sangat kencang.” gumamku dalam hati saat mampu melihat reliefnya dengan jelas. Di sana tergambar bagaimana kehidupan itu sebenarnya : cara menjalani kehidupan dengan segala liku. gelapnya koridor yang kini kujalani. Ya. Aku hanya terbiasa dengan taman. Aku terus berjalan dengan pelan-pelan. ternyata menuntunku untuk keluar dari kesalahan yang selama ini kupakai dan mengarahkanku pada sikap yang seharusnya kulakukan. sehingga aku tak lagi sering tertancap paku atau tertusuk duri. Nyatanya aku belum benar-benar mengerti tentang perjalanan hidup yang kujalani. Aku…aku…aku…astaga. Relief-relief pun telah mampu [Ratu Marfuah] 25 . Relief-reliefnya bukan hanya indah dalam pandangan mata. sehingga tak memahami makna sepi. aku semakin mudah melangkah dan memilih jalan yang akan kulalui. sama seperti tadi. Aku hanya terbiasa melihat dengan terang. aku tak menemui sebuah lampu pun yang bersinar atau cahaya dari luar yang masuk dari atap koridor yang berlubang. “Relief-relief yang indah. Gulita yang berangsur menghilang dan cahaya temaram yang membersamaiku membuatku bisa melihat dan membaca dengan jelas relief-relief pada sisi koridornya. Aku tersentak kaget ketika mulai membacanya. Tapi terlebih pada sikapku yang belum mampu menerima luka yang menghinggapi dan menerima kenyataan sampai pada tempat ini. Bukan karena mengingat luka-lukaku dan merutuki kenapa aku sampai di tempat ini. Sekotak Cokelat memasukkan cahaya dari luar. Cahaya temaram yang sedari tadi menerangi langkahku kian terang saja cahayanya. cara mendapatkan ketenangan jiwa.

Semuanya. sama seperti yang kurasakan tadi. Tapi. Aku duduk. sepertinya ini adalah langkah awal yang baru kutempuh. Dan koridor adalah guru yang hebat daripada taman. Aku mulai mampu memandang dari sudut pandang yang berbeda. “Tersenyumlah…aku memang untukmu dan akan selalu membersamaimu sampai nanti. dan aroma wanginya mampu melegakan semua kesesakan yang masih tersisa dalam rongga dada. Ini sama seperti yang kubayangkan dan tergambar dalam reliefnya. rerumputan hijau. Usai menyegarkan badan. Ah…aku memutar-mutarkan badanku. bahkan kuputuskan untuk segera berlari. Ia tersenyum manja dan kemudian menyapa. Aku memikmati perjalanan ini dan juga pembelajaran dari setiap relief-reliefnya. Gelap adalah teman yang sejati daripada terang. Tak ada yang berbeda. Sekotak Cokelat kubaca dengan cepat dan senantiasa kuterapkan dalam perjalananku.” sekotak cokelat ini mulai bersuara. kupu- kupu. [Ratu Marfuah] 26 . Samar-samar kudengarkan suara nyanyian burung dan candaan kupu- kupu. Menari. tertunduk. aroma wanginya rerumputan hijau. nyatanya tak lagi kupermasalahkan. Cahaya kian terang kurasakan. dan memejamkan mata. Menggambarkan semua keindahan dalam imajinasiku. Sekotak cokelat hadir di hadapanku. bayu dan air. desiran manjanya bayu. Suasana yang kulihat. Aku semakin mempercepat langkahku. Dan…aku mencapai ujung koridor. dan gemericik riangnya air. Perjalanan yang panjang dalam sebuah koridor dan kulakukan seorang diri. kakiku tak lagi luka dan badanku pun telah kuat. Aku menatapnya tanpa berkedip karena tak ingin melewatkan sisi keindahannya walau sedetik pun. Burung. Senyumnya mampu membuat hatiku berdesir. langkahku kian cepat. aku melangkahkan kaki menuju sebuah pohon rindang dan memutuskan untuk menikmati indahnya. membacaku kian lancar. Aku membuka mataku dengan cepat saat menyadari kehadiran sesuatu dan mencium aroma wangi.

” Sekotak cokelat itu semakin mendekatiku. Atau justru kembali lagi menuju pintu masuk dan memutuskan untuk tak melewati koridornya. Tapi. “Ya…semua perkataanmu itu benar adanya. Merintih dan menangis. Tapi. memikirkan semua perkataannya. dan terus berusaha menguatkan diri atas segala kelemahan yang mengikutiku. “Sudah…duniamu kini telah baru. Sekotak Cokelat “Ka…ka…kamu. Sungguh aku pun tak tahu kenapa bisa bertahan melewati panjangnya koridor gelap itu. hingga akhirnya menemukan pintu keluarnya dan mendapati dunia yang berbeda. [Ratu Marfuah] 27 . menyerah kalah. untukku?” aku bertanya dengan terbata-bata. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja. “Aku bukanlah imajinasi atau mimpi seperti yang kamu pikirkan. “Kamu lucu. karena ini memang untukmu. “Baik. Kamu tidak seperti itu. atmosfermu pun telah berganti. aku nyatanya tak sedang tidur. tidakkah kamu menyadari. katamu? Aku pemenang? Kakiku saja masih dibalut kain untuk menutupi luka. takdirmu. Aku hanya terdiam. itu semua kulakukan. bukan? Jadi mengapa kamu masih menganggap dirimu itu tak layak?” suara sekotak cokelat itu meninggi. Kamu pemenangnya. jatahmu. dan kini telah ada dalam genggaman tanganku. Sebuah hadiah yang memang tersediakan untukmu. Nikmatilah. bahwa kamulah sang pemenang? Sebab yang lainnya justru memilih untuk terus berdiam diri dalam koridornya dengan menangis dan meratap. sebab kamu telah berhasil melalui koridor gelapnya dengan baik. berharap jika sekotak cokelat ini hanyalah imajinasi liarku yang akan segera hilang. atau ini hanyalah mimpiku yang tentunya akan hilang saat kuterbangun. Badanku memar dan membiru karena menabrak dinding berkali-kali. Tak salahkah kamu berkata?” aku mencoba merasionalkan ucapannya dengan bukti yang kutemukan. sebab lenganku merasakan sakit saat kucubit.” tawanya menggema. Aku mengucek-ngucek mataku berkali-kali.” lanjutnya lagi. Hahaha. Aku adalah hadiah yang layak kamu dapatkan.

14 Mei 2012 [Ratu Marfuah] 28 . kamboja cokelat bermahkota enam yang tak biasa. ternyata bukan hanya berisi cokelat. walau nyatanya aku memang berjalan sendiri. dedaunan hijau yang berharmonisasi menyempurna. Kotak berwarna cokelat itu. Aku tak pernah lagi berjalan sendirian. serta bunga wijaya kusuma yang indah dan wangi. Sekotak Cokelat Aku membuka penutup atas dari kotak cokelatnya dan mendapati isi kotak yang tak pernah kuduga sebelumnya. tapi berisi pelangi dengan larik-larik yang indah. dan menyempurnakan perubahan yang kutemui. senja yang romantis dan merona. membuat jiwaku bertambah baik. rembulan dengan sinar yang teduh dan menghangatkan. Ruang Cokelat. Semuanya mengenergiku. Sekotak cokelat itu kini menyatu dalam jiwaku dan mengikutiku ke mana pun kakiku melangkah.

sesosok tubuh terlihat berjalan menjauhiku. wangi itu tak jua membuatku mau menegakkan kepala. Langkah kakinya sangat lebar. tapi gagal. Kuputuskan untuk berlari. Kutundukkan kepalaku dan kupandangi jemari tanganku yang semakin meramping. Apakah dia yang tadi berkata? Kuputuskan untuk menghampirinya. Hujan menderas di mataku dan membasahi tangan. Berhasil. namun aku tak mempedulikannya. Namun. kupercepat lariku. "Apakah tadi kau yang berbicara?" [Ratu Marfuah] 29 . namun masih kokoh berdiri. tercium wangi yang mengusik hidung. Beban berat terasa di atas kepalaku sehingga tak mampu kutegakkan. Beberapa saat kemudian. tapi tak ada seorang pun di sampingku. Hidup itu seperti roda yang terus berputar. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Hujan yang tak hanya membanjiri. Nimas. "Usahlah terus bersedih. yang terdapat jurang dalam di depannya. Aku terduduk di sebuah saung bambu yang telah tua. Kenapa begini? Tanya itu terus-menerus kulontarkan. tapi juga menyayat. Namun nyatanya. namun belum juga mampu mendekatinya. kutetap mengejarnya. kutegakkan kepalaku untuk mengetahui sumber suaranya. aku kini ada di belakangnya." Kalimat itu terdengar nyata di telingaku. Aku mempercepat langkah kakiku agar bisa menyusulnya. Sekotak Cokelat Bunga dan Darah Senja ini kembali kuterdiam di taman bunga yang ada di sebuah bukit yang menghadap ke barat. Keringat membasahi badanku. Seketika. Lalu terdengar langkah kaki yang menginjak ranting kering dan menuju ke arahku. wangi yang sangat harum dan menyegarkan.

walau sosok itu tetap membisu. jika dia selalu memperhatikanku dari tempatnya dengan caranya. Sekotak Cokelat "Iya Nimas. sosok itu kembali datang. Hanya aliran darahlah yang menyampaikan. Bahkan sosok itu pun tetap tak mau membalikkan badan sehingga aku hanya bisa memandangi punggungnya. "Mari ikut denganku. [Ratu Marfuah] 30 . Kumohon. Dan kebisuannya pun membuatku membisu. Sesaat kemudian. Seulas senyum selalu menghiasinya. Setelah dua puluh sembilan purnama. "Jangan pergi dariku. walau tak ada hal yang ia lakukan selain membiarkanku menangis sepuasnya di punggungnya." ajaknya sambil menggandeng tanganku." "Lalu kenapa kau menjauhiku?" Hening. Dan hanya hatilah yang menautkan. Sosok itu hanya diam dan mematung. Raka?" tanyaku penasaran. "Ke mana. Kepalaku tepat menyentuh tengkuknya. Sosok itu tak pernah lagi muncul di hadapanku. Aku merasakan kenyamanan dan ketenangan. Hanya hembusan nafaslah yang berbicara. namun aku sangat tahu. aku Rakamu. tangisku pecah di punggungnya. Mengangkat beban berat di pundakmu dan meringankan langkahmu. Purnama-purnama terlewati. Hari-hari berganti. Kali ini. Semua sakit terbuka. Semua luka ternganga. Raka yang akan selalu melindungi dan menjagamu. Semua lara tercurah. aku melihat wajahnya yang teduh dan bersinar. Aku belum mampu untuk sendiri dalam menapaki rumitnya alur. Nimas." Aku semakin mendekatinya dan kemudian melingkarkan kedua tanganku di perutnya yang rata. Entah kenapa sosok ini membuatku bahagia dan damai.

Aku hanya berdiam diri. "Ini untukmu. Dia terus menggandeng tanganku dan menuntunku untuk mendekati melati. Rangkaikanlah. Nimas.. puluhan. [Ratu Marfuah] 31 . wanginya kadang membuatku sesak nafas. sampailah kami di sebuah tempat yang indah. tak mengikuti apa yang sedang dilakukannya. seolah ikut bahagia melihat kami. Kami terus berjalan dan dia mulai memetik melati yang bermekaran. seperti biasanya. dan telah menjadi rezekimu." "Mampukah kau menghindar jika ini telah menjadi takdirmu. ah kenapa ia ada di sini? Aku sama sekali belum menyukainya. bahkan mungkin ribuan kuntum melati telah berhasil dikumpulkannya. "Untuk apa?" tanyaku. ratusan." Tapi ia hanya diam dan tersenyum. telah menjadi jatahmu. "Raka. Sebuah taman bunga tersenyum menyambut kedatangan kami. Pun juga termasuk dengan bunga cempaka putih. Sebuah keranjang bunga besar tergelatak di sisi melati." aku berteriak saat menyadari keadaannya.lihatlah tubuhmu penuh darah. Namun dia hanya tersenyum. Sementara tanya-tanya terus berputar di kepalaku." "Apa maksudmu? Aku tak mengerti. Taman bunga ini dipenuhi dengan tanaman melati dan cempaka." "Buat apa? Kuarasa aku belum membutuhkannya. Dia mengambilnya dan mengangkatnya. Bunga-bunga bergoyang ke kanan dan kiri. Belasan. Melati.." Beberapa waktu kemudian. Sekotak Cokelat "Ikutlah saja." "Untukku?" "Ya.

" ajaknya." Dia menuntun tanganku dan kami melewati jalanan yang berhiaskan pepohonan hijau di kanan kirinya. Purnama ini. Tiba-tiba semua hal menjadi putih dan akhirnya hitam." "Tenanglah. Aku akan membuatmu bahagia dengan sesuatu yang pastinya tak kau duga. 7. Lalu dia menghentikan langkahnya. darah membanjiri tubuhku. "Mari ikut denganku." dia sedikit berteriak dan mengagetkanku. "Ke mana? Jangan ke taman itu lagi ya. sosok itu kembali datang. Kepalaku langsung pusing hebat. "Kamboja berbunga ungu dengan ukuran sebesar piring. "Lihatlah. 4. mungkin kami telah sampai di tempat yang ingin dia tuju. Bau anyir khas darah langsung menyeruak dan mengganggu hidungku." "Apa itu?" "Nanti kau juga akan tahu. Nyatakah ini. dan 9.. Raka?" "Apa kau menyangsikan apa yang diperlihatkan pada indera penglihatanmu?" "Bukankah ini tak umum?" "Tak umum tapi bukan berarti tak ada. Wajahnya tetap teduh dan bercahaya. Aku pingsan." Aku? Tubuhku berdarah? Seketika langsung kuperhatikan tubuhku. Nimas. Rona kedewasaan dan kebijakan tergambar jelas di wajahnya. Bermahkota 3. 6. bukan?" [Ratu Marfuah] 32 . Sekotak Cokelat "Darah? Lihatlah tubuhmu pun berdarah karena menyelamatkanku.. dan benar saja. Kesadaranku hilang.

Raka? Ruang Cokelat. Entahlah. Kupetik beberapa kuntum kamboja ungu besar itu. bajumu pun berdarah!" Teriakku saat mengetahui jika bajunya pun berdarah. Itu kalimatmu kah. sangat bahagia. pink. Lalu kenapa bisa berdarah? Darah itu mengotori baju putihku. "Nimas. Kali ini. serta merah." Aku menurutinya. tapi isi." Sebaris kalimat itu terdengar nyata di telingaku. Kini kau di mana Raka? Kenapa kemunculanmu selalu saja berhubungan dengan bunga dan darah? "Bukan hanya rupa. Aneh. Kondisiku pun tetap sadar. Sekotak Cokelat "Iya. tak pingsan seperti dulu. yang jelas aku bahagia. Aku bahagia. ada darah di bajumu?" "Darah? Apakah tanganku terluka. atau karena aku pergi bersamanya. tapi bukankah kamboja tak berduri. bau anyir tak lagi tercium dan aku tak lagi merasakan pusing. 13 September 2012 [Ratu Marfuah] 33 . mungkin saja terluka saat memetik kamboja. Aku tak mau memikirkan alasannya. Darah itu dari mana asalnya? Darah-darah itu menghiasi baju-baju putih yang kami pakai sehingga membuat bajunya berwarna merah. Itulah maknanya. "Raka. dan juga kamboja putih." "Petiklah bunga-bunganya. padahal sejak tadi ia hanya melihatku memetik bunga. Sepertinya mereka ingin segera disentuh tanganmu. Entah karena berhasil menemukan dan memetik kamboja yang tak umum. Raka?" aku memperhatikan tanganku. cukup banyak.

Kali ini. semuanya masih sama dan tak berubah. puluhan. Kejadian yang pernah kulewati kembali muncul di ingatanku.. Slide-slide ingatan lalu tiba-tiba bermunculan hebat di kepalaku. semua kemunculan itu tak lagi berpengaruh kepadaku. "Ibu. "Silakan masuk. pak. Tunggu. "Terima kasih. taman bunganya. aku segera melangkahkan kaki menuju rumah biru itu. kini telah dipadati orang-orang yang berbaju hitam-hitam. dan hanya ada seorang ibu saja yang menungguinya. Catnya. bermaksud mencium [Ratu Marfuah] 34 . tapi bukan aku. Aku mengulurkan tangan. aku hanya seperti sedang menonton film dengan tokoh utamanya seseorang yang mirip denganku. di mana aku sering mendatanginya." spontan kalimat itu kuucapkan kepada sopir.kenapa ada bendera kuning yang dipasang di batang pohon di depan rumahnya? Bukankah pemasangan bendera kuning adalah sebagai pertanda bahwa ada penghuni rumahnya yang meninggal? Siapakah yang meninggal? "Kiri." balasku sambil mencari arah sumber suaranya. pepohonannya. bahkan jumlahnya ratusan. Usai membayar ongkos dan menerima kembaliannya. Ada kemacetan besar di jalur protokol. Rumah biru itu kenapa sekarang dipenuhi banyak orang? Belasan. Rumah biru itu masih sama seperti dua setengah tahun yang lalu. karena penghuninya belum kembali. Namun. Halaman rumah yang dulu jadi tempat untuk memandang senja. sebab angkot yang kunaiki melewati jalan yang tak seharusnya." sapa seorang ibu mengejutkanku. sebab aku telah dapat menghilangkan rasanya.." lanjutku lagi. sehingga arus lalu lintas dialihkan. Nak. dan angkot pun berhenti. Sekotak Cokelat Kuning di Biru Hari ini tanpa sengaja aku kembali melewati rumah biru. Ada apa ini? Bukankah saat jam segini biasanya kosong. walau lewat beberapa meter dari rumah itu. walau karena itu tubuhku terdesak-desak. Aku putuskan tetap melangkah dan memasuki rumahnya.

adalah abang." teriakku saat menyadari yang sedang terjadi. "Astaga. dengan tubuh yang telah kaku ini. Memang sudah dua setengah tahun aku tak menjumpainya. Bu?" aku tak percaya dengan yang kulihat.. "Abangggg.. Dan abang telah pergi untuk selamanya. dan beliau tak pernah menampiknya. Benarkah ini yang terjadi? Aku mencubiti lenganku berkali-kali. "Ah. Abang yang dulu jadi sahabat sekaligus kakak angkatku. "Kamu sedih? Tak salah? Bukankah kamu bahagia dengan keadaan ini?" ibu memandangku dengan tatapan mata yang tajam dan mengerikan.kenapa tatapan ibu seperti itu? Apa salahku?" [Ratu Marfuah] 35 . Tapi kini. walau beliau bukanlah ibu kandungku. kenapa beliau berlaku seperti itu? "Sini. Namun seorang yang kupanggil ibu itu malah menampik tanganku. Kenapa menunjukkan sikap seperti ini? Seolah- olah aku adalah pembunuh abang..Abang! Jadi yang meninggal Abang. "Salahkah jika aku ingin mencium tangan ibu?" tanyaku dengan nada keheranan. "Masihkah kamu ingat dengan wajah ini?" lanjut ibu sambil membuka kain panjang yang semula digunakan untuk menutupi tubuh itu. Wajah yang dulu lembut dan menyejukkan itu. malah senang.. Berarti ini bukanlah mimpi. yang seluruh tubuhnya telah ditutupi dengan kain panjang.. kini berubah menjadi garang dan kasar. Bukankah dulu kebiasaan itu selalu kulakukan. sebab hal itu menunjukkan jika aku menghormatinya. ikut ibu!" Beliau menggenggam tanganku dan kemudian menariknya dengan kencang. "Lihatlah. Dan wajah yang telah pucat." teriak ibu saat kami sampai di depan sebuah tubuh yang telah terbujur kaku... walau merasakan kesakitan di pergelangan tanganku karena kuatnya genggamannya. kenapa sekarang ibu berlaku seperti ini?" aku membatin. Aku hanya diam. "Bu. Sekotak Cokelat tangannya. dan kesakitanlah yang kurasakan. namun masih jelas kuingat wajahnya.. Ini adalah kenyataan.

Kami melewati kerumunan orang. Aku bergeming dan mematung. kamu. Ibu membuka pintunya dengan kasar. Kerumunan orang telah terlewati. puluhan. dan ceria. Ada apakah ini? Kenapa mereka seperti itu? Aku bukanlah pembunuh. "Lihatkan apa yang dia lakukan? Masihkah kamu menyangsikan apa yang dia rasakan padamu? Dia mencintaimu. sehingga dindingnya penuh dengan fotoku.. dan kamu saja. Setiap mimpinya. Setiap doanya. Sekotak Cokelat "Masihkah bertanya apa salahmu? Apa kamu tak pernah menyadarinya?" ibu lalu menarik paksa tanganku dan membawaku pergi menjauhi tubuh kaku itu.. Tapi. "Kamu tahu. membasahi pipinya yang telah berkerut termakan usia. Belasan. Nak? Sejak mengenalmu. yang dibicarakannya hanya kamu. tak tahu harus berkata atau berbuat apa. Masihkah kurang bukti jika dia mencintaimu?" Suara ibu terdengar semakin meninggi.. bahkan mungkin ratusan fotoku ditempel. hanya mengharapkanmu. karena dia ingin agar kamu juga mencintainya. hanya berisi kamu. koridor rumah pun terlampaui." aku terkejut dengan apa yang kulihat. Setiap hari.kenapa kamu setega itu? Kenapa kamu menolaknya [Ratu Marfuah] 36 . dia menjadi berubah. bersemangat. Ibu terduduk di tepi ranjang. dan anehnya. Semua kelakuan buruknya telah ditinggalkannya. Foto-fotoku terpajang di dinding kamar.. akhirnya kami sampai di sebuah pintu yang bercat hijau. kerumunan orang itu memandangku dengan tatapan tajam dan mengerikan. Dia menjadi rajin. dengan air mata yang terus menderas. Setiap harapannya. bahkan mungkin sangat mencintaimu. dan akan diperlihatkan bukti-bukti seperti ini. Aku sama sekali tak menyangka akan mengalami kejadian ini. Semua itu karenamu. pun juga termasuk dengan semua temannya yang kurang baik. "Astaga. Tangan mereka pun diangkat seperti ingin memukulku. tak ada yang lainnya. dan kembali menarik tanganku agar memasuki ruangan di balik pintu itu. sementara air matanya telah meleleh. hanya meminta agar kamu bisa menjadi miliknya.

[Ratu Marfuah] 37 . Pelan tapi pasti. Kamu pembunuh. tiba-tiba ibu berdiri dan mendorong tubuhku hingga tersungkur di lantai. 16 September 2012.. mungkin ini karena tadi menghantam tembok. Sosok di depanku itu hanya diam. sosok itu melangkah mendekatiku. karena terbentur tembok. Tapi dari ekspresi wajahnya. Ruang Cokelat.. Beberapa detik kemudian. Ada aroma balas dendam yang muncul.. dan aku kehilangan kesadaran. Aku merasakan nafasku sesak. bukan maksudku untuk menghancurkan semua impian abang. Nak. Semua benda yang kulihat tiba-tiba menjadi berwarna putih. aku melangkahkan kaki untuk mendekati ibu.. rupanya ujung bibir dan keningku berdarah. tapi." ibu berteriak histeris dan memanggil-manggil nama abang berkali-kali. lalu setitik hitam muncul. Ada aroma sakit hati yang mencuat. anyir darah tercium. Sekotak Cokelat dan menghancurkan semua impiannya. Ada aroma kemenangan yang terlihat.. aku tahu apa yang dirasakannya. Kamu jahat. Kamu.maafkan aku.. Apalagi yang akan dilakukannya padaku? Kepalaku mendadak pusing dan berputar-putar. tak jua menjawab tanyaku. "Kenapa ibu setega ini padaku?" aku merasakan tubuhku sakit dan ujung bibirku nyeri. Separah inikah kesalahanku? Tidakkah ibu bisa memaafkanku? Sosok itu mengarahkan matanya ke meja kecil di tepi tempat tidur. sambil menggenggam gunting di tangan kanannya. seperti ada batu yang menghalangi jalur pernafasaku. Dengan terseret. dan kemudian tersenyum senang saat melihat ada gunting." belum selesai aku melanjutkan kalimatku. "Bu.

namun begitulah adanya. pemahaman. karena ia adalah sebuah energi yang tinggi. dan dari dominasi material menjadi dominasi spiritual. mungkin terkesan unik dan tak biasa. serta hasil-hasil penemuan. Setelah bertahun-tahun menjalaninya. itulah tempat kediamanku. Pada sebuah kitab tebal yang bersampul hitam. di sinilah selanjutnya aku melakukan meditasi dan kontemplasi. seperti dahulu kala. yang tak hanya [Ratu Marfuah] 38 . Proses-proses penyucian diri dan pertapaan. yang kadang seperti mimpi. Hingga reinkarnasiku kali ini mencapai kesempurnaan. Serangkaian proses dari hitam menjadi putih. sebab bagiku. kumpulan jejakku bersemayam dengan tenang. akhirnya aku bisa meraihnya. dan akhirnya aku kembali lagi menjadi seorang Batara. Setelah mengalami rangkaian penyucian diri dan pertapaan panjang. Ada fase-fase yang tak bisa terlogikakan dan dipahami. dan kontemplasi yang kulakukan. Sekotak Cokelat Likuan Alur Gadis Cokelat Hari ini pun sama seperti hari-hari yang telah terlewati sebelumnya. dan sempat membuatku berdarah-darah. yang sisi-sisi lembarannya mulai menguning. meditasi. melukiskan jejak-jejak perjalanan hati dalam mengarungi lautan diri. hitam itu indah dan memesona. Proses-proses yang tentu saja tak mudah. Aku tetaplah menulis. Begitulah perjalanan hidup yang kulalui dan kulakoni. di alam Sunyaruri. Kalimat-kalimat dalam kitab ini. bagi yang membacanya. Di sebuah jumantara sukma. semuanya kutuliskan dalam sebuah kitab yang kuberi nama Kitab Cahaya. yang tanpa hiasan larik pelangi. agar mencapai kesempurnaan hidup dan menemukan kebenaran sejati. dari ada menjadi tiada. di langit tinggi. dan hitam pun merupakan kumpulan warna-warna yang telah terrangkai menjadi satu. atau pun hari-hari yang akan datang. yang paling kuat daya serapnya terhadap sinar matahari. Aku sengaja menyampulnya dengan warna hitam pekat. dari isi menjadi kosong.

aku menulis di lembaran terakhir Kitab Cahaya. sejuk. menyeimbangkan. Sebuah perjalanan yang hanya akan dimengerti oleh hati yang juga mengalami perjalanan yang serupa. Aku telah diperlihatkan jiwanya yang indah. sehingga kita akan menemukan persamaan-persamaan. dan penuh dengan kedamaian. Lalu kita akan merasakan kemudahan-kemudahan. Aku telah merasakannya. akan semakin lebih baik bagi kita dan juga bagi semesta. Namun di sisi lain. kitab ini berisikan perjalanan jiwaku dan juga perjalanan hatiku. dan mengharmoniskan. yang mulanya kita anggap bagai sebuah kebetulan belaka. Sebuah tulisan tentang penemuan dengan setengah jiwaku. Sebab. ada perbedaan-perbedaan besar yang membentang lebar. akan membuat kita merasakan kedamaian dan kebahagiaan. sehingga aku tak bisa menghentikan gerakan tanganku ketika menulis. namun jiwa kami telah lama dipertemukan. tapi juga melibatkan hati dan alam bawah sadar. tak akan tertemukan gejolak antara kita. Aku akan bersamamu. yang ternyata dengannya bisa membuat kita saling mengisi. atau hampir serupa. bukan karena keinginan ragaku. Dan saat kubaca ulang. Sekotak Cokelat menuntut penggunaan pikiran saja. kita adalah satu yang terbelah. Berdua. yang ada hanya keterkejutan. dan pencapaian-pencapaian yang sebelumnya kita anggap sulit. [Ratu Marfuah] 39 . sebab kita berhasil menemukan bagian dari diri kita yang sebelumnya terpisahkan. Bukankah hanya hati yang mampu menyentuh hati? Hari ini. yang kini entah berada di mana. Alam bawah sadar kita telah mengikatkan hal-hal mendasar bagi kita. “Ketika kita saling menemukan. Pun seperti aku. yang terpisahkan. tapi karena kebutuhan jiwaku. Walau kami belum pernah bertemu secara raga. Jiwa yang membuatku sangat tertarik dan tak bisa melepaskan diri. bercahaya. begitulah kamu adanya. Entah kenapa aku bisa menuliskannya? Benarkah nantinya dia akan seperti yang telah kutuliskan? Aku tak tahu. Jadi.” Kalimat-kalimat itu menderas dari hatiku. Dan kebersamaan itu. dan akan dipertemukan di waktu yang telah tertakdir.

Jarak dengan pohon itu semakin dekat. Gejolak pun sama sekali tak timbul. sehingga lama waktu berselang untuk saling menemukan? Betari seperti apakah gerangan ia sebenarnya? Perjalanan ke barat ini begitu menyenangkan. Ada kekacauan [Ratu Marfuah] 40 . langkah kakiku telah mengantarkanku ke tempat ini. Aku melihat gadis itu. sebab banyak kutemui hal-hal baru. Ini sesuatu yang tak biasa terjadi padaku. Purnama ini adalah purnama kedua belas. Kuikuti saja ke mana ia terbang. Namun nyatanya. dan juga pelajaran-pelajaran kehidupan yang tak biasa. dan tingginya gunung. aku memasuki sebuah bukit. Aktivitas hatiku biasa. hingga selama ini perjalanan yang kutempuh? Atau mungkin ia adalah seseorang yang luar biasa. Kali ini. derasnya aliran sungai. apakah mungkin kitab cahayaku melintasi bukit yang sepertinya tak berpenghuni ini. Ia berpayungkan kotak hijau di jiwanya. kitab cahaya itu terbang menjauh. dengan pepohonan yang berbaris rapat. Sekotak Cokelat Saat beranjak dari tempat dudukku. Kitab itu melintasi rerimbunan pohon. seseorang yang merupakan perwujudan setengah jiwaku. terhitung sejak aku mengikuti perjalanan kitab cahaya. Namun aku belum juga menemukannya. seperti yang terucap oleh Batara Guru? Entahlah. Entah hendak ke mana ia terbang. Apakah itu sinar dari kitab cahayaku? Langkah-langkah kakiku terjejak. Di balik sebuah pohon rindang. padahal mungkin sebentar lagi aku akan menemui takdirku. Aku ragu. Mungkinkah ia akan menemui seseorang yang telah tertakdir untuk membacanya. aku melihat sebuah sinar biru lembayung yang terang. Teramat jauhkah ia berada. di antara derasnya hujan yang mengguyurnya. sama sekali tak ada getaran. Kitab cahayaku itu telah terbuka dan terbaca oleh seorang gadis. Aneh! Aku menemukannya. Aku pun mengejarnya. dan hatiku pun menyuruhku untuk ke sini. Ada cikal bakal sinar biru lembayung yang lemah di dalam dirinya. seperti yang ada di kitab cahayaku.

dan aku mencarinya. Aku tak tahu jika kitab ini adalah milikmu. yang sempat dinilainya unik dan tak biasa. Ah…bodoh. kenapa namanya begitu? Apa karena ia terbalut busana yang semuanya berwarna cokelat? Karena rambut panjangnya berwarna cokelat? Karena bola matanya berwarna cokelat? Atau karena ia gemar memakan cokelat? Aku menemukan banyak sekali bungkus cokelat di sampingnya. Ah. Aku sendiri di sini. “Aku Batara Cahaya. maaf. hingga sampailah aku di sini. kami terlarut dalam perbincangan. sedang berlari dan mencari sebentuk ketenangan. namun sayangnya tertutupi selaput hitam pekat. Tapi nampaknya. Ini adalah perbincangan kami yang pertama. aku pun manusia biasa? Aku hanya bisa tersenyum menemukan kebodohanku. tiba-tiba saja ia terjatuh di hadapanku. dan dengan segala labirin yang memusingkan jalannya. pemilik kitab hitam yang ada di tanganmu. dan juga cokelat yang masih terbungkus. ia bukanlah Betari.” Gadis Cokelat . Kamu seorang diri? Di mana teman-temanmu?” “Oo. [Ratu Marfuah] 41 . Kitab itu terterbangkan oleh angin.. walau kadang ringkih dan terbanjiri oleh tangis. dan maafkan karena aku telah lancang pula membacanya. ia hanyalah manusia biasa. kenapa ia memakan cokelat sebanyak itu? Aku menatap matanya dalam-dalam. Lalu. Ah…kenapa serumit itu likuan alurnya? Aku mendekatinya dan memberanikan diri untuk bertanya. Namaku Gadis Cokelat. Kitab yang membutuhkan waktu lama baginya. Nampaklah kebeningan jiwa yang terpancar. namun kami langsung akrab. Sekotak Cokelat vibrasi yang mengganggu kestabilannya. untuk sekedar bisa membacanya. Bukankah sebelum menjadi Batara. Jiwanya kuat. sama sepertiku. Gadis itu terus bertanya tentang kitab cahayaku. Sebentuk hatinya terasa sejuk dan penuh dengan kedamaian. Ia kah takdirku itu? Ia kah setengah jiwaku yang telah lama terpisahkan? Semula kupikir jika takdirku adalah seorang Betari.. seperti telah lama saling mengenal saja.

apalagi jika melihat masa lalunya yang rumit. Selaput hitam yang dulu melingkupi jiwanya. Saat kau tak mengalami pengalamannya. menerima likuan alurnya yang rumit dan pelik. rasa yang telah lama menghilang dan kuhilangkan. maka mustahil bagimu untuk bisa membacanya. yang banyak bertanya. dan menerima labirin besar yang masih menempatkannya seorang diri di bukit ini. Ia mulai bisa menerima kenyataan yang terjadi. Aku sendiri tak pernah menyangka jika perkembagannya secepat ini. dan keajaiban- keajaiban yang tak pernah kuduga. apalagi memahaminya. atau keluhan. dan jiwanya mulai terekat di jiwaku. Kadang. Aku sangat terkejut ketika melihat sukma indah Gadis Cokelat telah berada di [Ratu Marfuah] 42 . bertanya jawab tanpa henti. Ketenangan dan kedamaian. amarah. yang selalu protes. kurasakan sebuah vibrasi besar yang berhasil menghentikan perjalanan sukmaku dan menempatkan sukmaku kembali lagi ke dalam tubuhku. jika aku mulai mencintainya. Menjemukan. Sungguh ini sangat luar biasa. dan tak langsung menerima. ia bukan lagi Gadis Cokelat yang dulu kukenali. Matanya pun tak lagi terbanjiri hujan kesedihan. Merepotkan. Segala hal tentang kitab itu terus-menerus ditanyakannya. kini mulai tersibak. Aku baru menyadarinya. Namun di balik semua itu. Inikah penemuan yang telah digambarkan itu? Bersama jalannya waktu. timbul rasa jengah atas sikapnya. ternyata kudapatkan penemuan-penemuan baru yang indah. Kini. bahkan hingga purnama berganti berkali-kali. Mulutnya tak lagi melantunkan rintihan. Gadis cokelat…perlahan nama itu mulai terekam di otakku. Menjengkelkan. pun mulai mengisi hatinya yang semula kosong dan hampa. Pada suatu malam. ketika aku tengah tertidur pulas.” aku berucap saat melihatnya kebingungan dengan kitabku. Lama waktu berselang. Mencintai Gadis Cokelat yang dulu sangat merepotkan dan terus menggangguku. terjadi perkembangan ke arah yang semakin baik. sehingga jiwa putihnya mulai terlihat dan bersinar. Perlahan. Tanya jawab pun terjadi di antara kami. Sekotak Cokelat “Kitab itu dibaca dengan pengalaman hidup. kami masih tetap saja seperti itu. timbullah rasa yang tak biasa di hatiku.

Ia mendatangi hatiku. Ia bisa melakukannya? Bagaimana mungkin? Aku hanya diam. bahwa aku pun juga mempunyai rasa yang sama. belum juga ia sadari. Apa yang kulihat di wajahnya. Ia melukiskan harapan hatinya dengan sangat hati-hati. aku melepaskan sukmaku. Cukup lama. terang dan damai. atau karena takdir menyuratkannya seperti itu. ia tak melakukannya. Rasa cinta yang timbul. dan menyelaminya dengan sangat dalam. Aku terkejut saat menyadari jika sukma indah Gadis Cokelat itu telah pergi dari sisiku. Aku memerhatikannya. Tarian yang ditarikannya untuk mengiringi tidurku. wajahnya bersih. ia telah tertidur pulas karena merasakan kelelahan setelah menyelami hatiku. Rasa indah yang baru saja bertunas dan terus tumbuh berkembang. Namun akhirnya ia tersenyum. karena ia berpasrah penuh. Akhirnya kudatangi alam mimpinya. Setelah lukisan harapan hatinya selesai. memerhatikan apa yang akan ia lakukan. Di hatiku. setelah berhasil kubaca makna dari semua kelakuannnya. Aku hanya bisa tersenyum dengan semua kelakuannya. terlihat sekali dari raut wajahnya yang menegang. sesungguhnya itu adalah gambaran dari hatinya. hingga kupikir ia akan kembali ke tempatnya. Ia lalu mendatangi alam mimpiku dan menarikan impian malamku. Dan senyumku kian lebar. yang jelas. Namun nyatanya. yang sayangnya. dan menuju ke kediamannya. bersinar. Mungkin ia telah kembali ke rumahnya. dengan cahaya temaram yang membersamainya. agar ia pun tahu yang sebenarnya tengah terjadi di hatiku. Lalu. seperti yang tengah dirasakannya. entah karena lama kebersamaan kita. Ternyata ia juga mempunyai rasa yang sama denganku. sampai saat ini. setelah aku berhasil memecahkan ribuan kebekuan dan [Ratu Marfuah] 43 . Tarian yang tanpa musik dan lagu. Akan kulakukan apa yang seharusnya kulakukan. Benar saja dugaanku. Nyaris tanpa kesulitan. di rumah pohon di atas bukit. Ia lalu terdiam. Sekotak Cokelat sampingku. Ia nampak terkejut dengan kedatangaku. Cinta yang kurasakan ini sangat mengenergiku dan memberikan efek positif yang berlipat-lipat. Aku tak ingin tahu alasannya kenapa. aku sangat bahagia dengan ini.

Sekotak Cokelat menerangkan ruang-ruang kosong yang selama ini merangkaikan ambiguitas di antara kita. kembali menuju ragaku. Kehangatan yang lalu mengalir bersama aliran darahnya. dan ternyata. Kurasakan jantungnya berdegub kencang dan semakin kencang. sama seperti yang terjadi sebelum kita berinkarnasi. Fajar hampir terbit ketika aku menyelesaikan semua lukisan dalam mimpinya. Memintaku untuk tetap tinggal dan [Ratu Marfuah] 44 . Sekarang. menyatukan sukmaku dengan ragaku. menyapa seluruh ruas tulang dan sendi tubuhnya. Aku semakin melangkahkan kakiku dan mendekatinya. Tak lagi terpisah. Pencapaianku semakin bertambah pula. Aku menggandeng tangannya. ternyata aku telah merasakan harum jiwanya. yang akan menjadi tempat tinggal kita di suatu hari nanti. Keharuman dari jiwa yang telah diperbaharui dan semakin membaik bersama bertambahnya waktu. dan mengajaknya terbang ke negeri di atas awan. dan semakin terkejut saat aku mengalirkan kehangatan di tangannya. Tapi kenapa aku tak berhasil menemukannya. seperti baru pertama kali saja melihatku. aku menemukannya tengah membelai lembut bebungaan. aku pun langsung menuju ke sana. Di sana. seolah-olah tak terjadi apa-apa. padahal aku telah berkeliling mencarinya? Apa mungkin ia sedang berada di taman bunga di ujung barat bukit. Bahagiaku kini semakin bertambah. Nampak sekali ia terkejut dengan sikapku. Ada raut tak biasa di wajahnya saat melihatku. Aku pun kembali pulang. Pagi ini. namun terus berusaha ditutupinya. Ternyata benar. Dan selanjutnya kita berdua tinggal dalam istana cokelat hingga waktu berujung. Saat berada tepat di hadapannya. aku mengunjungi rumahnya. ini membuatku semakin berenergi dan semakin menguatkan jiwaku. Dari jarak yang sejauh ini. jiwanya mulai berkata-kata. dengan jiwa yang semakin mengenergi. kita lalu mendirikan istana cokelat. Kudengar. aku dan ia telah melebur jadi satu dan menjadi kita. seperti biasanya? Tanpa menunggu lama. di mana hanya ada kedamaian yang mengisi penuh ruangnya. tanganku terulur dan kemudian menggenggam kedua tangannya dengan erat.

walau telah sangat memahami. lama dan cukup lama. andai saja ia tahu. merasa tak pantas untuk bersamaku karena menyadari ada keberbedaan yang jauh dan merentangkan keterpisahan kasta di antara kita. Tersebab tak ingin ia membenarkan penilaiannnya yang salah. terus saja berusaha melogikakan peristiwa yang terjadi. walau hatinya tak berkata seperti itu. agar membuatnya yakin dan percaya. Hal ini terjadi karena ia belum bisa mengenali dirinya sendiri hingga menyebabkannya beranggapan demikian. yang selalu bermandikan cokelat untuk mengusir semua sakit dan kesakitan. Hingga hening dan senyap. setelah kuyakinkan bahwa aku serius dengan ucapanku. Aku pun belum bisa sebaik dirimu. sepertinya tak memercayai kalimat yang didengarnya. namun ada keraguan besar yang dirasakannya. Gadis. bahwa logika tak selamanya diperlukan dalam menjalani kehidupan yang nyatanya di luar kendali kita sebagai mahluk yang bertuhan. dan cintalah [Ratu Marfuah] 45 . hingga akhirnya berucap. bukankah nantinya akan terasa sangat timpang. “Gadis Cokelat…maukah untuk terus membersamaiku hingga waktu berujung? Aku dan kamu akan menjadi kita. Kamu tentu sangat tahu bagaimana perjalananku. Lagi pula apalah artinya kasta? Bukankah itu hanya sebuah pemisah yang tak adil. dan akan senantiasa bersama dan membersamai. Tak salahkah kau memintaku?” Kalimat itu menderas dari mulutnya. karena kebersamaan kami yang terjalin karena garisan takdir. Padahal. “Batara…aku hanyalah Gadis Cokelat. Aku mengerti dan memahaminya. gelap dan berputar-putar. Ia tertunduk karena tatapan mataku. Ia memang keras kepala. Sekotak Cokelat membersamainya. bahwa apa yang kunyatakan itu adalah yang sebenarnya dari hatiku. Maka aku pun menatap mata cokelatnya. bahwa ternyata karenanyalah aku bisa terus meningkat seperti ini. maka aku pun langsung mengatakan apa yang sebenarnya tengah terjadi di hatiku. hingga tak ada lagi sebuah kata yang bisa kita ucap?” Ia terdiam. bukan? Kasta kita pun sangat jauh berbeda. “Cinta itu tak mengenal kasta.

menemukan diriku sendiri yang terupa dalam bentuk lain. Ia merasakan ketenangan dan kedamaian. kau terlalu kencang menggenggamnya. dan tanpa tersadari. pertanda menyetujui permintaanku. hingga menyinarkan semua pergolakan. Perlahan. terus berusaha meyakinkannya akan kebenaran ucapanku dan meluruskannya bahwa logikanya kali ini tak bisa digunakan dalam memahami tataran takdir yang telah tergaris sejak lama. Logikanya yang keras terlemahkan karena cinta. walau telah berkali-kali terjatuh dan dijatuhkan. Kulihat ia menganggukkan kepala. teriakan keluar dari mulutku.” Lalu aku melepaskan ganggaman tanganku dan kuusapi tangannya yang tadi merasakan kesakitan karena ganggaman tanganku. kegelisahan. Gadis. Semua kegelapan dan kesakitan yang selama ini menghampirimu nyatanya telah berhasil menguatkanmu. Gadis…hanyalah gadis istimewa yang diberikan jalan yang gelap dan berputar-putar. Aku bahagia. sangat bahagia. hingga mendekati tubuhku. sang Gadis Cokelat. dan pertentangan jiwanya yang semula meninggi. Merasakan pencapaian tertinggiku dan penemuan terbesarku. Sedangkan yang lain telah tumbang dan menumbangkan diri. Kamu masih berdiri. Gadis. dan akhirnya menyerah. [Ratu Marfuah] 46 . kumulai merasakan jika logikanya mulai melunak. Di saat yang sama. Aku menarik tubuhnya. Sekotak Cokelat yang akan menyatukan pemisahan itu. “Batara…tanganku sakit. 7 Juli 2013. mengalah. Aku teramat bahagia. Ia.” “Maafkan aku. akupun merasakan hal yang serupa. Dan itulah yang berhasil menumbuhkan cinta di hatiku. belum pernah kurasakan kebahagiaan seperti ini. Merasakan kedamaian dan ketenteraman. Kamu istimewa. Astana Badranaya.” Aku kian erat saja menggenggam tangannya.

Ada gejolak. dan luka bertebaran di sekujur badan. di sisi kanan [Ratu Marfuah] 47 . Juga ada sebuah harapan yang bisa membuatmu bertahan untuk terus hidup. dan terus berjalan. Ada tangis. atau pun berpikir akan ketersinggungan. yang nanti akan kau datangi. sunyi. tersebab keterjatuhanmu di jurang. Larik-larik kata yang tak biasa dan lain terasa. hanya berjalan. serta sebuah awan biru yang indah. Kau hanya bertemankan dengan buku dan pena. Tak pernah sekali pun kita bersinggungan. Perlahan-lahan kau bisa melewati panjangnya waktu gelap dan tak menyenangkannya. Ketika menapaki jurang itu. sepi. Lintasan yang telah lama kau tinggalkan. Lama terdiam dan melamun. bahkan juga di geografis yang berbeda. Hanya saat itu saja. setelah lama mengabaikannya. walau terjalankan pada garis start dan lintasan yang berbeda. Tak sedetik pun. aku pun mulai berjalan dengan penuh riang dan dibersamai bunga indah di sepanjang jalan. lalu kau mulai menulis. Kau juga menuliskan pelangi di langit tinggi. Kau sangat senang menjalaninya. yang telah kau bawa dari lintasan terdahulu. membiru. tiba-tiba jalanmu mulai terjal. kakimu tergelincir dan kau terjatuh. aneka bunga yang bermekaran dan mewangi. Waktu yang terlewati setelahnya adalah gelap. Sangat jauh berbeda. Ada suka. penuh liku. hingga akhirnya kau menemui sebuah jurang yang curam. Dengan garis start yang berbeda. Ada duka. Namun setelah banyak menemui jalan mulus. Apa yang kita pikirkan adalah apa yang sedang terjalani saat itu. hingga akhirnya kau kembali berjalan di lintasan yang seharusnya kau lintasi. Luka-luka itu cukup dalam dan serius. Kita berjalan. Jalanmu sangat mulus dan tanpa hambatan. dan tak berkawan. Kau menuliskan semua rasa yang terasa. dengan larik- larik kata yang kau serap dari sekitarmu. sehingga membuatmu terdiam sangat lama. Sekotak Cokelat Penulis dan Pelukis Kita telah sama-sama berjalan. Bermimpi tentang ketersinggungan denganmu pun tak sama sekali ada. Badanmu memar.

Setiap mata memandang. Tak mengapa. Namun hanya itu. Lama waktu mencoba bangkit. akhirnya aku mulai terbiasa dengan lontar dan tinta. Mungkin [Ratu Marfuah] 48 . tersebab lontar dan tinta. dan akhirnya aku mampu bangkit. hingga ratusan kali. dan terbersamai. Purnama muncul. Lintasan-lintasan kita pun kembali terjalani seperti semula. hanya kuisi dengan lukisan dan lukisan. Bukankah yang utama adalah kita berjalan dan melintasi lintasannya? Bumi sampai pada porosnya. Aku pun mulai melukis lukisan abstrak yang tanpa warna. tak ada yang lain. dan kembali muncul. hingga menyebabkan banjir dan membuatku terjatuh dalam sebuah jurang yang dalam dan pengap. walau kadang berhenti sejenak. kembali berputar. Setiap waktu yang kutemui. walau kini lintasannya menjadi berbeda. yang hanya membisu dan berdiam diri. Di suatu malam. Setidaknya ia adalah temanku yang telah setia menemani dalam sepi dan bisu. hujan turun menderas. tiada berkawan dan berteman. Waktu terlalui dan terlampaui. Kita berjalan. terlewati. Jurang yang kudiami perlahan menjadi indah dan terang. kecuali hanya dengan diriku sendiri yang kadang terlarut dalam kehampaan. Aku melihat ke sekitarku. dan akhirnya saling bersinggungan. tersebab pernah lama kita tinggalkan. yang terlihat hanya ada indah dan indah. lalu kembali berjalan di lintasan yang juga pernah kutinggalkan. walau lukisannya hanya berupa garis-garis yang tak lurus dan berbelok-belok. Hingga akhirnya kita kembali berjalan sendirian. lintasan kita sejajar. tapi yang ada hanya daun lontar kering dan tinta yang hampir mengering. Aku meraihnya dan mulai terpikir untuk menggunakannya. dan sampai lagi pada porosnya. Hingga suatu hari. Lembaran-lembaran lontar pun terkumpul karena lukisan-lukisan tintaku yang abstrak. Sekotak Cokelat dan kiri. dan terus berjalan. hingga belasan kali. ketika sinar bulan teramat teduh dan indah. aku tetap mengumpulkannya. Semuanya terlewati. Menemui yang tergaris. hilang. dan terus menderas. tersebab keterjatuhan di jurang yang kualami. Walaupun begitu. Aku hanya sendiri.

Pun jua termasuk dengan impian indah dan harapan tinggi yang ingin kuraih. Terdiamkan dengan ketersinggungan itu. kulihat. dan tak tahu ke mana harus mengembalikannya. karena hal-hal yang kau tuliskan pun sama dengan hal-hal yang kulukiskan dalam lembaran-lembaran lontarku. atau memang itu adalah skenario takdir yang telah tergaris untuk kita? Entahlah. walau dengan bentuk yang berbeda. Kau membawa lembaran-lembaran lontarku. di lintasan masing-masing. Buku yang kau pegang terlepas menjadi berlembar-lembar. kau dengar. mungkin karena itulah kita salah membawa. serta kau rasakan. yang ada hanyalah keterkejutan dan keterkejutan belaka. Kita bertabrakan cukup keras. kau pun terpaksa membaca lukisanku yang tergambar dalam lembaran-lembaran lontar. serta kurasakan. dan tak tahu ke mana harus mengambalikannya. Kita terdiam dan saling terdiam. Semua hal yang kualami. Tersebab aku salah membawa. Ada apa ini sebenarnya? [Ratu Marfuah] 49 . Setelah saling mampu dan menguasai keterdiaman. Semua hal yang kau alami. dan aku malah membawa lembaran-lembaran bukumu. karena hal-hal yang kulukiskan pun sama dengan hal-hal yang kau tuliskan dalam lembaran-lembaran bukumu. Kumpulan lontarku pun terjatuh dan tercecer satu-satu. Saat membacanya. hingga saling terjatuh. sampai bumi berotasi berkali-kali. kau tuliskan semua dalam lembaran-lembarannya. walau dengan bentuk yang berbeda. kita membungkuk dan saling mengambil kepunyaan kita masing-masing. lalu kembali berjalan seperti semula. hal yang di luar dugaanlah yang terjadi. juga takdir. Kepunyaan kita tertukar. Sekotak Cokelat tepatnya dipersinggungkan oleh keadaan dan waktu. kudengar. kulukiskan semuanya. Saat kau membacanya. yang ada hanyalah keterkejutan dan keterkejutan belaka. Tak ada pikiran lanjut atas kejadian itu. memang lembaran-lembaran bukumu dan lembaran-lembaran lontarku itu hampir serupa. Sekilas. Pun jua termasuk dengan impian indah dan harapan tinggi yang ingin kau raih. aku pun terpaksa membaca lembaran-lembaran bukumu. kau lihat. Ada apa ini sebenarnya? Pun tersebab kau salah membawa. Namun.

Tiba-tiba saja kulihat sebuah sosok muncul dan berjalan mendekatiku. Purnama tepat bersinar di atas kepalaku. kita masih juga menerka-nerka yang sebenarnya telah terjadi dan mungkin akan terjadi. Ini sungguh sebuah kejutan yang indah. Kita masih juga tergantung-gantung dengan tanya. dan keyakinan. ternyata tak berhasil membuat kita menemukan satu hal pun. "Aku telah menemukanmu. yang baru sepintas terlihat dalam bayang nyata. sosok itu pun sama terdiam juga sepertiku. hingga membuatku terdiam. bahwa kau menyukai purnama. Hal itu bukanlah pertanda [Ratu Marfuah] 50 . kala langit telah kelam. Dan akhirnya. aku hanya bisa tersenyum. Apakah sosok itu adalah kau. kita telah saling menemukan. Sekotak Cokelat Waktu demi waktu terlewati. proses-proses yang mengarah pada penemuan jawaban pun tak sama sekali kita temukan dan dapati. dan malam semakin menua. kenapa pemikiran kita punya banyak kesamaan? Hal ini semakin membuatku penasaran dengan sosokmu. namun tak juga kumengerti maksudnya. Aku melihatnya dari tempatku dan kuyakin kau pun melihatnya juga dari tempatmu. Ah. Dan nyatanya. Sosok itu semakin mendekat dan akhirnya sampai di hadapanku. walau banyak usaha yang telah kita lakukan bersama. Terlihatlah seraut wajah yang bercahaya. belum juga mengalami perjodohan dengan jawaban- jawaban. kesabaran. tersebab ia menggambarkan sebuah perjuangan panjang." Aku berusaha mencerna baik-baik kalimatnya. Siapakah sebenarnya sosok itu? Kurasa aku belum mengenalnya. yang bayangnya pernah tertangkap rasaku? Mata elangnyanya tepat menatap mataku. bahkan lebih terang lagi. Semua hal yang telah kita lakukan sepertinya sia-sia belaka. ketika sosok itu mengucapkan sebuah kalimat. juga dengan pribadimu. Bahkan. Namun dari semua hal yang telah kita lakukan. dan mengenergi. yang tak pernah kuduga sebelumnya. yang belum juga berkesudah. bak cahaya terang purnama. Purnama muncul dengan sinarnya yang indah. Tanda-tanda tanya yang telah lama muncul dan menghantui. dan kau telah menemukanku. Sinar purnama semakin terang. terang. Itulah satu hal yang kudapat dari membaca bukumu.

walau jeda terbentang sangat panjang. sehingga masing-masing kita telah saling mengetahui perjalanan yang telah tertempuh. akhirnya mulai berwarna-warni ceria. tapi tetap juga kubaca setiap waktu. yang kini banyak bercerita tentang intuisi dan imajinasi. kita saling meneruskan tarian jemari kita. Dari sudut ruang di sebelah sana. Tulisan yang kadang tak kumengerti. Tulisan dan lukisan kita lah yang menceritakan dan memahamkannya. duhai sosok berwajah terang? Pertemuan itu akhirnya menempatkan aku dan kau dalam sebuah ruang. Waktu baru sesaat terlalui. kosong. Ruang yang semula putih. Lukisanku itu kini lebih banyak bercerita tentang mimpi-mimpi dan hal-hal yang telah kualami. Sekotak Cokelat bahagiaku atas kehadirannya. Pun dari sudut ruang ini. tertawa. yang berbeda dalam rupa. hening. pun beserta lukisanku. Kau tetap menulis dan aku tetap melukis. namun nyatanya. seakan telah lama saling mengenal dan bersama. namun kita telah saling mengerti dan memahami. telah kembali terisi dan hidup. tersenyum. Dan kau juga selalu menunjukkan tulisan tanganmu. nyatanya telah menjadi warna dan jiwa. yang kian lama kian tumbuh subur di hatiku. tulisanmu itu berhasil menumbuhkan bibit kekaguman. serta terterangi oleh pendar cahaya indah. Walau kadang tulisanmu kuanggap liar dan kebablasan. dan sepi. juga tulisanmu. Kita saling bercerita dan berbicara dengan gaya dan bahasa kita masing- masing. pun juga penuh terisi makna. namun sama dalam rasa dan makna. dengan jeda yang sangat jauh. di mana hanya terisi oleh kita. melainkan itu adalah pertanda atas ketidakmengertianku. Siapa kau sebenarnya. dan selalu juga kutunjukkan padamu. atau juga terbahak. sehingga ruang kosong yang selama ini mati. aku pun selalu berbicara kepadamu melalui lukisan-lukisanku. Tentunya hal ini tersebab tertukarnya lembaran-lembaran bukumu dengan lembaran-lembaran lontarku. kau selalu berbicara kepadaku. Keberadaan dan kebersamaan kita. walau kadang terisi dengan bahasa dan pemahaman yang ambigu. Kadang kau terdiam. saat melihat dan membaca [Ratu Marfuah] 51 . Selanjutnya.

Namun entah kenapa. Bahkan tak jarang. Rotasi-rotasi bumi tertempuh. padahal kita tak pernah bersepakat ataupun berdiskusi sebelum menarikan jemari. Masih tetap saling berbicara. aku tak bisa melakukannya. Hari ini adalah hari yang kesekian ratus dalam kebersamaan kita dan kita masih tetap saja berada di keadaan dan ruang yang sama. Dan hal itu nyatanya sering sekali terjadi pada kita. dan dalam waktu yang sama pula. dan aku pun terus mendukungmu untuk bersamanya. purnama-purnama terlewati. seorang gadis yang sempurna bak Bidadari. karena rasa itu semakin tumbuh subur dan berhasil memudarkan kemarahanku. karena melihat jiwamu semakin bertumbuh maju dan tulisanmu [Ratu Marfuah] 52 . kau pun menilai lukisanku itu cacat dan kurang benar. dan kita masih tetap juga berada dalam ruangan ini. Awalanya aku marah dan berpikir akan mendiamkanmu. aku tak mengetahui nama yang tepat untuk hal itu. Kesakitan yang merupakan akibat dari membaca tulisan-tulisan tanganmu yang kini sering sekali menceritakan tentang gadis yang melenakan jiwamu. Kulihat kau semakin produktif dalam menulis dan semua tulisanmu kini bercerita tentang Bidadari mimpimu itu. bahwa rasamu telah terberi untuknya. mungkin ini memang salahku yang masih saja menyimpan rasa untukmu. Inikah sebuah kebetulan yang indah. Di satu sisi aku bahagia. walau labirin-labirin terus tumbuh dan menjedakan keberadaan kita yang memang tak dekat. Namun di hadapanmu. Sekotak Cokelat lukisanku. Sedangkan aku. Kuakui. Aku masih tetap duduk di sudut ruangan ini dan bersamamu. Sepertinya ini adalah kebodohan terbesarku. dan juga menarikan jemari di atas lembaran kertas dan lontar. Namun nyatanya. Entah kenapa. hatiku mulai merasakan kesakitan yang semakin menjadi-jadi. tak berubah sedikit pun. melihat. Aku hanya mampu menelan ludahku dan merasakan kesakitan yang semakin menikam jiwa. ataukah sebuah perpaduan yang manis? Entahlah. mungkin tak ada seujung kuku pun jika dibandingkan dengannya. walau teramat sangat kutahu. kadang tulisan dan lukisan kita menceritakan hal yang sama. aku selalu berpura-pura seolah-olah tak terjadi apa-apa denganku. atau justru berlari darimu.

Tak adakah sedikit bayangku mengisi hatimu? Haruskah kubunuh rasaku. aku yang pergi darimu. namun itu semua kulakukan untuk menyelamatkan jiwaku dari kesakitan yang akan semakin parah. tak menerima jika harus pergi darimu. nyatanya aku kembali melakukan kebodohan. atau mungkin kebodohanku. tak mengucap sepatah kata pun untukku. Rasaku membuncah. Aku berkemas. Aku memilih untuk membiarkanmu pergi. Hanya saja selalu kutemukan tulisan-tulisan tentang lukisanku di lembar kertasmu yang kau taruh di dinding ruangmu. ini adalah pilihan yang sulit untukku. yang ternyata semuanya berisi tentangmu. Hanya senyuman dan senyuman yang selalu kau berikan. Namun kali ini pun. kupilih untuk meninggalkanmu dan membiarkanmu bersama gadis yang kau cintai. aku mendatangimu untuk berpamitan. lukaku telah sampai pada puncaknya. yang selalu saja memerlihatkan semua lukisanku padamu. atau lebih tepatnya adalah. Dan inilah pembuktian dari rasa cintaku itu. tanpa pernah kutahu dengan jelas apa makna di balik senyumanmu itu. Adakah itu bentuk jawabanmu atas lukaku. walau ternyata ini teramat sakit bagiku. Lukaku. bahwa mencintai itu tak selalu harus memiliki dan bersama. Mungkin kini sudah seharusnya kulakukan apa yang selalu kau tuliskan. mimpi indah yang mungkin tak akan menjadi nyata. atau itu hanya sebuah kebetulan dan persamaan imajinasi? Aku tak pernah tahu karena kau tak menjelaskan apa pun. kurasa rasaku telah terkuras habis. Sekotak Cokelat semakin menyempurna. dan sakitku pun telah teramat sakit. Namun di sisi lain. imajinasi liar yang mungkin tetap selamanya menjadi imajinasi. agar aku terbebas dari luka ini? Ataukah harus kumenjauhimu agar rasaku itu memudar? Aku tak bisa memilih. mengumpulkan semua lontarku yang terserak. hingga akhirnya kubuat sebuah keputusan besar bagi diriku. Sakit memang. Kau diam. akhirnya hanya bisa kutuangkan dalam lukisan- lukisanku yang semakin tak tahu arah dan tak berbentuk. Hari ini. [Ratu Marfuah] 53 . namun sekuat tenaga kutahankan. nyatanya hatiku sangat terluka. Entah itu keluguanku. sakitku.

bersama tumpukan lontar. namun aku tak bisa mengatakannya. Sekotak Cokelat “Kenapa pergi? Bukankah kau menganggapku sebagai sahabat. Aku mendustai hatiku. Doaku. “Apa kau tak mau tahu siapa Bidadariku itu?” [Ratu Marfuah] 54 . suaramu memanggil namaku. kini kembali muncul. namun langsung kuseka. kau masih juga memberiku tulisan yang menceritakan tentang Bidadari mimpimu. Aku pun menghentikan langkah. kau kan sudah punya seseorang yang harus kau perhatikan. Sudahlah.” Ada raut kesedihan yang kulihat di wajahmu. Ah. “Ini untukmu. aku suka diksinya. Setelah beberapa langkah kulalui. menemui takdirku selanjutnya.” ucapmu sambil menyodorkan selembar kertas berwarna hijau. “Tulisanmu semakin bagus saja. Namun keegoisan cintaku yang tersakiti tetap menyuruhku pergi. Aku mengambilnya dan mulai membacanya. “Kau kan selalu menyebutku sebagai pengganggumu.” Aku menyimpan kertasnya dalam ranselku. apa mungkin kau tak merelakan aku pergi? Jauh dalam lubuk hatiku pun. Kesakitan yang tadi berhasil kuhilangkan. aku tak mau pergi. Kusimpan ya. Air mataku yang tadi sudah kuseka. dan seorang sahabat itu takkan pernah meninggalkan sahabatnya. jadi ada baiknya sekarang aku pergi.kenapa kau teramat tega sekali? Di pertemuan kita yang terakhir ini. sebagai bukti bahwa aku pernah bersahabat denganmu.” Bulir-bulir bening hampir berjatuhan dari mataku.. jadi lebih baik aku pergi saja. Lagi pula aku telah lama berada di sini. Lalu kumelangkahkan kaki. agar kau tak tahu bahwa aku menangis. semoga kau menjadi penulis yang bukan hanya penulis. Sebenarnya aku cemburu. menjauhimu. kini kembali menyeruak.

dengan olah pikir dan olah jiwa. dan hampir kuhilangkan secara paksa. kutemukan takdirku.” “Dia adalah kamu. Di hari ini.” Aku terdiam. Penemuan ini sungguh indah karena berhasil membuat kita tersadar. namun tak kusadari keberadaannya. Rasa yang kini kembali muncul dan bersemi indah. bahwa selama ini kita lebih banyak tak menyadari dengan pencomblangan-pencomblangan yang dilakukan oleh waktu dan alur kehidupan. mencerna baik-baik ucapannya. dari jauh-jauh hari. kau menjemput takdirmu. Di hari ini pula. “Jadi masihkah ingin pergi dariku?” Aku menggelangkan kepala. Kamulah bidadari mimpiku itu. Hidup ini [Ratu Marfuah] 55 .” “A…aku?” “Ya. ada getaran hebat yang terjadi. yang ternyata sudah sejak lama bersamaku. bukan dengan sikap yang kadang dibuat-buat. ini sungguh di luar logika. Sekotak Cokelat “Untuk apa? Siapa pun dia. Ternyata kau mencintaiku.” “Benarkah? Tapi kenapa selama ini aku tak pernah melihat sikapmu yang menunjukkan rasa cinta?” “Haruskah selalu rasa cinta itu diungkapkan dengan sikap? Aku mencintaimu dengan diamku. bahkan sebelum pertemuan. Bagaimana aku bisa pergi jika ternyata aku pun mempunyai rasa yang sama denganmu? Rasa yang telah lama kusimpan. aku tetap mendoakanmu agar selalu berbahagia bersamanya. Getaran karena keterkejutan atas fakta yang kudengar. kamulah orangnya. Namun di hatiku. yang telah membuatku banyak berubah. namun belum kau yakini kebenarannya. yang sudah sejak lama kau tahu. dan yang telah menyempurnakan perubahanku. yang selalu menjadi inspirasiku dalam menulis.

walau kebedaan membentang lebar. Aku melukis dengan tulisan. sama seperti sebelum saat kita terpisahkan oleh kelahiran. dan tataran takdir selalu saja tak terduga likuan alurnya. Tulisan menjadi lukisan. Lukisan menjadi tulisan. Kini kita memahami. Kebersatuan kita ternyata membuat kita saling mengisi dan melengkapi. dan kau pun menuliskan apa yang telah kulukiskan. Satu. Astana Badranaya. tulisanmu dan lukisanku pun menyatu. Harmonisasi terjalin semakin erat. dan k au menulis dengan lukisan. dan tulisanmu pun selalu bersama dengan lukisanku. Lukisanku selalu bersama dengan tulisanmu. [Ratu Marfuah] 56 . 9 Juli 2013. Sejak hari ini. Kini aku melukiskan apa yang telah kau tuliskan. bahwa takdir selalu mempunyai kebaikan. menyatu. aku menyatu denganmu. Sekotak Cokelat adalah sebuah kejutan besar. Dan tak hanya itu saja.

hari terakhir yang menjadi awal dari sebuah kebaruan. Memancing- mancingku untuk terus-menerus mengingat. akan kuganti saja panggilan untukmu. Lelaki Bermata Teduh itu. hujan itu apa?” Sebuah tanya mengusik diamku. Ia pun menjadi bayang-bayang yang tak selalu nyata di mata. Dan rasanya. Panggilan itu terdengar sangat merdu di telingaku. Namun hari itu. namun akhirnya sangat kunikmati. “Apa?” Ia mendesak. “Kalau begitu. “Apakah karena aku belum memahami arti kerelaan?” batinku bertanya. Hingga akhirnya kusampai juga di ujung ambang batas tegarku. Sejak kecil. hingga hitunganku tak juga mendapatkan kepastian bagi tempat pesemayaman terakhirnya. Aku kalah lagi hari ini untuk yang kesekian kalinya. “Hujan…mmm…. tapi aku tak juga bisa memastikan jumlah pastinya. “Bagimu. mencoba menemukan jawaban. Bulir-bulir bening luruh satu per satu dari mataku. entah kenapa aku suka sekali memandang hujan dan tak jarang pula ikut menari bersama hujan. yang sedang bergeming memandangi hujan. Rasanya memang telah lama sekali. Rinai-rinai hujan ini kian menggodaku saja. baru kemarin saja terjadi. Sebuah panggilan yang awalnya kurasa aneh. Sekotak Cokelat Serenade Hujan Kumengingat dan mulai menghitung panjangnya masa yang terjeda.” Aku bergumam. Rinai-rinai hujan berhasil memudarkan daya hitungku. memanggilku dengan nama Gadis Hujan. ya?” ia kembali melanjutkan kalimatnya. [Ratu Marfuah] 57 . Dan entah akan sampai kapan aku terus begini. masih dapat kuingat dengan jelas. Hingga dia.

sama seperti yang kini kurasakan padamu.” kalimatnya terhenti. Bukankah lama waktu terjeda untuk penemuan indah ini?” katanya malu-malu. “Gadis Hujan…bagiku hujan itu rindu. tergambar bahwa Dewa Hujan sedang menangis kencang tersebab kerinduan pada kekasihnya sudah membuncah sangat tinggi.” “Aku sedang merindu…merindukanmu. Dan.” lanjutnya lagi. tapi ia tetap diam untuk waktu yang lama. Lalu kepalaku diketuknya perlahan. “Apa?” aku balik bertanya. Pun seperti yang dirasakan tanah pada langit. “Bagiku. Dalam kepalaku.” katanya sambil menjulurkan lidah. yang akan semakin bertambah bersama jalannya waktu. “Oiya. “Hujan itu bahagia. pada kotak imajinasi liarku. Yaitu….” Ia berceloteh panjang lebar. hujan itu adalah sebuah cokelat dengan aneka rasa. Hahaha. “Tumben? Biasanya kau adalah pendukung setia keliaran imajiku. mencoba memecahkan diam yang sudah menjalari kami.” tawaku pecah. Hujan itu rasa. “Imajinasimu itu…terlalu ya. [Ratu Marfuah] 58 . Kulihat rona wajahnya memerah. Sekotak Cokelat “Hujan itu cinta. hingga akhirnya wajahku diperciki oleh rinai-rinai hujan. walau bening rinai hujan bertebaran di sekitar kami.” aku mantap menjawabnya. yang menjadi pengobat dari kerinduan panjang. Dan selanjutnya. “Hahahaha. Dan aku. tanah akan mengeluarkan aroma wangi? Itulah wangi dari sebuah pertemuan. arti hujan hanya satu. kami saling percik-memerciki rinai-rinai hujan. Meledekku. tepat di bawah hujan. sama sekali tak bisa mendesaknya. Mengejutkan dan memesona. Hujan itu bunga. Bukankah setelah hujan. yang tak bisa kau tebak sendiri rasanya.” aku kembali tertawa. sangat lama. Seperti biasanya. Sudah sangat-sangat rinduuu. Nampaknya ia tak mau menjawab tanyaku.

Aku masih juga diam. Apakah tanah sudah tak lagi bisa menampung curahan kerinduan dari langit? Apakah akan seperti itu juga yang terjadi padaku saat waktu memertemukan denganmu? Tapi…akankah hal itu terjadi? Bukankah hujan pulalah yang telah membawamu pergi menjauh dari sisiku. gunungan kerinduan itu terpecahkan menjadi kepingan-kepingan kecil. sedih. namun ini nyata adanya. Bulir-bulir bening di mataku kini semakin turun menderas.” Sebuah suara terdengar dan membuatku menyadari keadaan. dan akhirnya luruh bersama dengan meresapnya air hujan ke dalam tanah. Aku diam. tak mau membalas kalimatnya. Seperti pengalaman yang sedang bercerita padaku. atau mengalami hal-hal menyakitkan lainnya. bahkan juga dimensi? Kini mataku semakin terasa berat. Namun sorot matanya terus mengisyaratkan agar aku menerimanya. tak menerimanya. Aku tahu. mungkin kau akan tertawa mendengarnya. “Kamu tahu? Aku terbiasa seperti ini saat sedang kecewa. karena aku tak mengenal pemberinya. Dengan bersahabat [Ratu Marfuah] 59 . Di bawah hujan. bersamaan dengan menderasnya hujan. dan akhirnya kembali menderaskan hujan yang sejak sedari tadi menderas. bahwa ternyata aku tak lagi sendiri di tempat ini. Sekotak Cokelat Hujan itu rindu. Hujan itu bahagia. melintasi ruang dan waktu. maka bersahabatlah dengan cokelat. “Rupanya hujan itu luar biasa ya? Buktinya ia berhasil membuatmu hujan. dan berhasil meluruhkan air matamu.” Lalu ia membuka tasnya dan mengambil dua batang cokelat ukuran besar. Sebuah cokelat dipegangnya dan sebuah cokelat lagi disodorkan padaku. aku hanya ingin sendiri dan menenangkan diri. Lagipula. Kuperhatikan air mulai menggenang di mana-mana. dalam keadaan seperti ini. “Kala ambang batas tegarmu telah sampai. Entah sejak kapan ia datang dan memerhatikanku.

” “Makanya jangan kebanyakan mikir. entah yang keberapa kalinya. hahaha. Apakah ia juga sedang terluka sepertiku. lelaki kadang suka berpura-pura menyembunyikan perasaannya. pelan-pelan egoku menjadi stabil dan tak lagi berguncang. membuka perlahan kertas pembungkus cokelatnya dan mulai melahapnya. Makanya aku tak menyukai lelaki. Saat cokelatnya meleleh di dalam mulutku. isi pikirannya. Kebetulan yang indah. mulai melemah guncangannya. kumulai membuktikan kebenaran ucapannya. bahwa tak ada kebetulan di dunia ini. yang sedari tadi berguncang-guncang hebat. atau ia melakukannya agar aku juga melakukan hal yang sama dengannya? “Kupikir yang melankolis hanya kaum Hawa saja. Egoku.” Kalimat terakhirnya membuatku ikut tertawa.” “Makanya jangan kebanyakan menyangka. yang berbeda hanya fisiknya saja. Kali ini. tak jauh beda. pasti itu adalah kebetulan yang telah dirancang oleh semesta. Atau jika pun ada. Hanya saja. [Ratu Marfuah] 60 . “O…kamu bisa bicara juga ya? Semula kusangka kau bisu. Kecuali memang tak normal. kami biasa menyebutnya dengan nama itu. “Itu wajar dan sebuah keharusan.” Kulihat batangan cokelat di tangannya telah habis setengah bagian. Walau kami juga teramat tahu. “Kebetulan lagi ya?” katanya membuka perbincangan. Lelaki dan perempuan.” sebuah kalimat terucap dari mulutku. Isi hatinya.” Aku menggerakkan tanganku. waktu telah memertemukan kami. Dan egoku semakin stabil bersamaan dengan banyaknya lelehan cokelat yang kunikmati. Sekotak Cokelat bersama cokelat. perasaanya.

” “Memangnya kamu sakit apa?” aku bertanya. ia menjawab. Lalu aku berdiri di bawah hujan dan membiarkan rinai-rinai hujannya menusuk-nusuk kulitku. Sebab setiap kutanya. Selalu turun hujan dan selalu ada cokelat yang membersamai kita. Dari satu tempat ke tempat lainnya. Sekotak Cokelat “Ya.” Ia tertawa. maka akan semakin menyembuhkanku. rasa penasaranku akannya terus [Ratu Marfuah] 61 . Ia kembali melahap cokelatnya dan sepertinya tak mau menjawab tanyaku. aku tak banyak mengetahui bagaimana ia sebenarnya. Pun semakin banyak kunikmati rinai hujan cokelatnya.” Lagi-lagi aku menyerah. Sedangkan untuk namanya. Hahaha. bahwa ia adalah seseorang yang berhasil mengeluarkanku dari kotak gelap yang telah lama mengurungku. Semakin banyak tusukannya. sebab tak banyak cerita tentangnya yang ia ungkapkan. dari satu dimensi ke dimensi lainnya. dan aku pun adalah cokelat. “Tersebab hidup itu adalah sebuah perjalanan. ia menyebut dirinya sebagai Lelaki Pejalan. Dan entah kenapa. Ketika kutanya kenapa ia senang menyebut dirinya dengan nama itu. Dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Dan akhirnya. Kemudian aku akan berafirmasi. Ia mengeluarkan dua batang cokelat dan kami menikmatinya bersamaan dengan serenade hujan yang merdu. tak lagi bertanya tentang dirinya. Sejujurnya.” “Karena aku adalah hujan. memamerkan barisan gigi putihnya dan. Dari satu pencapaian ke pencapaian lainnya. selanjutnya aku bisa menebak apa yang akan terjadi. yang sedang terjadi ini adalah hujan cokelat. Yang kutahu. maka aku akan semakin sembuh. kebetulannya selalu disusul dengan kebetulan selanjutnya. bahwa setiap tusukan rinai hujan itu adalah kesembuhan. Selama ini. jawaban yang ia berikan selalu saja sebuah frase yang membuatku berpikir lama untuk mengartikannya. “Pada ruang imajinasiku. Dari satu penemuan ke penemuan lainnya. dan membantuku menemukan hal-hal unik untuk menolong diriku sendiri. atau membuatku sama sekali tak mengerti.

Sekotak Cokelat meninggi.” lanjutnya lagi. dan hujan adalah bahagia. “Sedang memikirkan aku. Aku terkejut mendengarnya. dan akhirnya berhasil membuat bendungan air mataku berlubang. bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan. “Ti…ti…tidak. “Hujan adalah rindu. “Jika kau beranggapan seperti itu. kenapa pikiranmu selalu kosong dan akhirnya menangis saat memandangi hujan?” Mataku semakin perih. hujan itu apa?” lanjutnya lagi. Hujannya indah. Ketika kau telah sampai di suatu jalan. ya?” Sebuah tanya terlontar darinya dan membuatku menyudahi putaran slide-slide peristiwa lalu dengannya. “Bukankah sudah kubilang. karena di mataku. [Ratu Marfuah] 62 .” Bagimu. Kau jangan mau menjadi gila dengan membiarkan tubuhmu berada di jalan ini. karena selalu datang bersama dengan hujan dan cokelat. “Kamu menganggapku misterius. ya?” aku sengaja berbohong demi menyembunyikan keterkejutan atas pertanyaan-pertanyaannya yang entah kenapa sama seperti yang sedang kupikirkan.” Kalimat yang kuucapkan itu. Perlahan bulir-bulir beningnya bermunculan dan menetes. ia telah menjelma menjadi sosok misterius. Semakin banyak hujan. maka akan semakin bahagia. “Yang benar?” ia menggodaku. maka yang harus kau lakukan adalah menikmati jalannya dan mempersiapkan dirimu untuk menghadapai rintangan-rintangan yang tersebar di badan jalan. yang selalu datang bersama dengan hujan dan cokelat. “Kau menganggapku bisa membaca pikiranmu ya?” tanyanya kembali terucap. aku sedang memerhatikan hujan. tak tersadari telah memantikkan api indah kenangan masa lalu. hingga tak kujawab tanyanya.

agar tak tersesat pulang. Dan pada kenyataannya. Sekotak Cokelat tapi jiwa dan ingatanmu berada di jalan yang sudah kau lalui. “Hujan itu adalah sebuah proses panjang. maka satukan jiwa dan ragamu untuk berada di sini.” Sebenarnya. “Untuk hujan. atau pun di jalan yang akan kau lalui setelahnya. agar kita bisa mengerti arti pertemuan kembali dan kebersamaan. dan hal itu dapat terlihat dari ketenangan sikapnya dalam menghadapi letupan-letupan egoku dan juga dari pemahaman-pemahamannya tentang proses hidup. tapi ia adalah sebuah pertemuan indah. Ada mahar yang harus terbayarkan sebelum pertemuannya terjadi.” [Ratu Marfuah] 63 . ya?” “Aku belajar dari pengalamanku. pasti tak akan ada suka. kan?” “Berkata memang mudah. ia bukanlah rindu seperti yang kau ucapkan. Jiwamu boleh mengembara. pasti tak akan ada tawa. Ketika kau ada di sini.” “Memang tak mudah. apapun itu. likuan alur apa saja yang telah dialami oleh Lelaki Pejalan ini? Kurasa pengalamannya telah banyak sekali. Itu adalah mimpi dan ketakpastian yang bisa menyakiti dirimu. namun bukan berarti tak bisa. Hahaha. Atau sebagai jeda dari sebuah penemuan yang lebih tinggi. perpisahan itu sangat dibutuhkan. Jika tak ada tangis. Kau mengerti?” “Entahlah…sepertinya aku masih belum rela. bukan? Semua yang terjadi padamu. Ini tak mudah bagiku. namun jangan terlalu jauh. Cukup jelas. yakinilah sebagai yang terbaik untukmu. yang berakhir dengan bahagia. Jika tak ada duka.” Ia menatap rinai-rinai hujan yang semakin berharmonisasi dengan nada-nada merdu yang dihasilkan dari percikannya.

Gunakanlah matamu untuk memandang hidup. Aku terdiam. Padahal. Uap-uap air itu terus melayang menuju langit yang tinggi dan akhirnya menjadi kumpulan uap air yang sangat besar.” “Katamu. atau karena jiwaku akhirnya tersadar dari sebuah ketidaksadaran panjang yang selama ini membelengguku? “Setelah kuperhatikan. uap-uap air tersebut [Ratu Marfuah] 64 .” “Makanya jangan membiarkan dirimu tersakiti atau pun terlenakan oleh keadaan apa pun. ternyata hujan itu indah. Ada semesta di matamu dan matamu itu akan memengaruhi daya pandanganmu akan semesta. aku masih berada di tempat yang sama.” Pandangan dan ucapannya membuatku menunduk dalam. “Matamu indah. Di awan yang tinggi. Perlahan kuangkat kepalaku dan kembali memerhatikan rinai- rinai hujan. namun harus tetap kau yakini bahwa itulah yang terbaik untukmu. mencerna kalimatnya. ucapannya benar adanya. dan masih pula memandangi hujan yang sama. Padahal. Rupanya. Ajaibnya. maka jangan selalu kau hiasi dengan tangis ketakrelaan atau kekosongan. hatiku tak lagi merasakan kesakitan seperti tadi. setelah kepergiannya. selama ini aku telah berlaku bodoh dengan membiarkan diriku tersakiti keadaan dan itu semakin diperparah dengan tak membiarkan masa lalu indahku itu berlalu. Kuasailah dirimu dan jadilah tuan atas dirimu sendiri. Walau pada kenyataannya hidup itu tak selalu indah. Apakah ini karenanya. Sekotak Cokelat Ia kemudian mengalihkan pandangan matanya dari rinai-rinai hujan dan lantas menatap mataku. Dan yang kusadari. Mengapa begitu?” “Kau tahu proses turunnya hujan? Bermula dari air-air di daratan yang menguap karena terpapar panas matahari. Jangan mau diperbudak. hujan adalah pertemuan. aku hanya merasakan jka hujan itu adalah sebuah kesakitan.

dan suhu udara inilah yang menyebabkan butiran-butiran esnya berubah wujud menjadi cair. sebab itulah janji semesta. yaitu proses jatuhnya butiran-butiran air atau es tersebut ke permukaan bumi. sebab setelah kehilangan. Karena masanya yang berat dan tak mampu lagi ditopang oleh angin. proses membentuk hujan itu tak mudah. Jika ada manusia yang menilainya begitu. langit akhirnya menyadari. jika ia bisa melihat dan mengetahui keadaanku. sebab ia kehilangan sebagian dari pengisi dirinya. bahwa suatu hari nanti. Namun jika suhu udaranya rendah. akan ada sebuah pertemuan yang telah terjanjikan. butiran-butiran esnya tak akan berubah wujud. atau justru ia akan berbangga karena ternyata aku di sini tak bisa juga melupakannya? Entahlah. awan-awan tadi saling bertemu dan membesar. Perpisahan dengannya. Di alam sana. apakah ia akan menangis karena kebodohanku yang terus- menerus menyakiti diri sendiri karena keterpisahan. akhirnya terjadilah proses presipitasi. Ia tak pernah datang terlambat atau pun salah waktu. maka suhu udaranya semakin tinggi. yang pastinya sudah garisan takdir. hingga akhirnya membentuk butiran es dan air. Namun. aku tak tahu jawaban pastinya. Bagi langit. Yang justru terjadi [Ratu Marfuah] 65 . bumi bersedih. Apa kau tahu bagaimana perasaan bumi dan langit? Ketika air-air di bumi menguap. Sekotak Cokelat mengalami proses kondensasi (pemadatan) sehingga membentuk awan. jika ia mengetahui bahwa di sini kau terus menangisi dan tak merelakan kepergiannya. namun aku tak juga bisa merasakan kerelaan untuk melepaskannya. dan kemudian menuju ke atmosfer bumi yang suhunya lebih rendah (dingin). Berat. akan ada proses penemuan yang menjadi proses penghapus kerinduannya. tak lebih itu karena keegoisan dirinya dan ketidakmengertiannya akan hukum alam.” Kalimat-kalimatnya serasa menamparku berkali-kali hingga akhirnya aku semakin terbangun dan semakin menyadari ketidaksadaranku. Itulah yang dinamakan proses menabung rindu. Tapi kemudian ia rela. Karena ketinggian langit semakin rendah. Dengan bantuan angin. Hingga hujan yang turunnya menjadi hujan salju. “Tak ada kebanggaan di dirinya. Hujan itu selalu datang di waktu yang tepat.

Terima kasih banyak ya.” “Haha…rupanya kau telah tertulari imajinasi gilaku. aku tersenyum padanya. bukan untuk masa lalumu yang terus berlalu. Setiap tusukan-tusukan hujannya pun semakin membangunkan kesadaranku. Hiduplah untuk masa sekarang dan masa depanmu. mungkin kini saatnya kubangkit dan bergerak maju. Sungguh ini adalah sebuah keajaiban yang dikirimkan oleh waktu. kini telah berganti menjadi irama merdu yang menghentak kesadaran. karena akhirnya aku menemukan diriku [Ratu Marfuah] 66 . tak bisa lagi surut ke belakang walau hanya untuk satu detik saja. Waktu berjalan maju. Aku merasakan derasnya hujan telah berhasil memecahkan gunungan keegoisanku dan meluruhkannya bersamaan dengan kejatuhannya menuju bumi.” Aku bahagia…sangat. Ini sama sekali tak perah kuduga atau pun terdetak di hati. “Ya. dan aku sangat menikmatinya. atau ini adalah sebuah kebetulan yang indah? Terima kasih tataran takdir dan semesta. berkatmu yang sudah memahamkan semuanya. Sekotak Cokelat adalah rasa sedih karena kau terpuruk keadaan. Serenade rinai hujan yang sedari tadi melantunkan irama sendu. asalkan jangan jiwaku yang gila. “Kau sudah merasa lebih baik?” “Ya. meninggalkan puing- puing indah masa lalu. “Apa kau merasa ini hujan cokelat?” tanyanya.” Ah…kenapa ia sepertinya tahu apa yang sedang kupikirkan.” Tak tersadari. yang menjadi hakku. kemudian berproses demi kemajuan diri hingga akhirnya menjemput penemuan-penemuan indah yang telah terjanjikan. Dan ia pun berbalas hal yang sama.” “Tak apa. Ya. “Sini…” ia menarik tanganku dan mengajakku berdiri tepat di bawah hujan.

Pun juga dengan penemuan kembali dengan setengah jiwaku. hingga bisa kubaca hitam di atas putih. Sebenarnya kamu siapa. jika kau ingin menemuiku. Aku menjadi aku yang telah diperbaharui. Aku bersedia. sebab itu dapat mengganggu kestabilan magnetku. [Ratu Marfuah] 67 . jika kau ingin mendatangiku. Aku ikhlas. sedangkan aku belum juga berhasil. maka biarkanlah aku berdiri di tengah lapangan sambil menunggu hujan deras. duhai Lelaki Pejalan? Astana Badranaya. yang semakin bergerak menuju kemajuan. Tapi. Bimbing aku ke jalan cahaya dan jadikan aku tak lagi ketakutan. menjemput hak-hak yang sejak dulu terjanjikan untukku. “Sesungguhnya Tuhanmu sedang mendengarkan doamu. jika melati dan kantil telah bertemu dalam rangkaian dan mengharum menyempurna. Aku mau. boleh kuminta satu syarat? Janganlah kau pancarkan medan magnetmu. Aku pasrah. serta membantu menyirami bibit tanaman yang terkubur. 20 Juli 2013. walau pastinya ia datang dengan rupa yang tak lagi sama. Dan jika benar. Hujan yang akan menghapuskan dan menghanyutkan semua. kau adalah tokoh utama di paragraf terakhir dari kisah yang sedang kutuliskan.” Dan lagi-lagi. Temuilah. sepertinya ia tahu apa yang sedang kupikirkan. Tapi. Sekotak Cokelat sendiri. yang bisa membantuku melihat. Pegang erat tanganku agar aku tak lagi tersesat dan disesatkan. maka berikanlah aku waktu untuk mengerti dan mendegradasikan terangnya purnama dari RAS (Recticular Activating System). apalagi saat ini sedang hujan. Cukup pancarkan terangnya luminositas cahayamu saja. Datanglah.

sinar mentari terasa semakin panas. Walaupun sebenarnya. baru juga menyelesaikan proses penyempurnaanku. saat terasakan dinginnya uap air di wajahku telah menjadi panas karena terpapari sinar mentari yang perlahan muncul di ufuk timur. sebab akhirnya aku mempunyai banyak teman. yang senantiasa kutemui di pemahamanku sebelumnya. dan tentu saja kami bisa saling bercakap-cakap tentang keindahan dunia yang baru saja kami nikmati. sebelum akhirnya kami gugur memeluk tanah dan kembali tiada. dan aku menjadi aku yang sejati. aku pun sama. Dan saat kuperhatikan tubuhku. aku merasakan tatapan mata yang tak bersahabat dan pandangan yang aneh. Ketika mataku telah terbuka dengan sempurna. Waktu berjalan. ternyata hal itu benar adanya. Sapaan yang telah berulang kali kulantuntkan. Sapaanku tak [Ratu Marfuah] 68 . Uap-uap air semakin banyak yang menguap karena terpapari sinar mentari yang semakin meninggi kedudukannya. “Adakah yang salah dengan diriku ini?” aku membatin. Proses penyempurnaanku kini telah terselesaikan. proses perkembangan kehidupannya telah sempurna terjalani. bahwa di pagi ini. tersebab tersadari. entah kenapa tak juga membuat mereka atau salah satu di antara mereka menjawabnya. Aku memberanikan diriku untuk mengucapkan sapaan pada mereka karena telah menyelesaikan proses penyempurnaannya. Sekotak Cokelat Kamboja Bermahkota Enam Di pagi ini aku terbangun. Namun tak mengapa jika aku yang lebih dulu menyapa. aku merasakan suatu kebedaan. yang terdengar kemudian adalah sorakan-sorakan kegembiraan. Hal ini tentunya menyenangkan. namun entah kenapa hal itu tak jua merubah sikap mereka padaku. Tentu saja hal ini membuat suhu menjadi panas hingga menyebabkan teman di sekitarku banyak yang terjaga. Ketika mata-mata mereka terbuka. Tapi kenapa aku seperti ini? Menjadi berbeda dari yang lainnya. Justru yang terjadi. sama seperti mimpiku sejak dulu.

ia bunga yang aneh.” sahut Kamboja yang lainnya. bukan?” lanjutnya lagi. dan kesyukuranku itu membuatku semakin mudah dalam menjalankan tugasku dalam berfotosintesis. sedangkan aku [Ratu Marfuah] 69 . kenapa terus menangis seperti itu? Bukankah kini kau telah mendapatkan mimpimu. “Hei. dalam membagi-bagikan makanan ke seluruh bagian tumbuhan dan juga menghasilkan oksigen yang sangat berguna bagi semua kehidupan aerobik di bumi. ia itu bunga yang aneh. dan akhirnya…tak kuasa juga kutahankan air mata ini. ternyata tetesan air mataku itu mengganggu kenyamanannya. Akhirnya kumulai menyeka air mataku. Dan tatapan mata mereka itu terus menusuk ke dalam jantungku. tak usah ditemani.” seru Kamboja di samping kananku. aku semakin tertunduk saja. Adakah yang bisa kubantu untukmu?” tanya tetanggaku yang letaknya di bawah posisiku. “Kau aneh? Bagiku kau sama saja seperti teman-temanmu yang lainnya. Kau telah sempurna berproses. “Iya. “Mereka memandangku aneh karena tubuhku terrupakan seperti ini. Sekotak Cokelat pernah dijawab walau kuterus mengulanginya tanpa jengah. “Kenapa aku terwujudkan berbeda seperti ini? Yang lain hanya mempunyai mahkota lima. Rasanya berat sekali untuk menegakkan kepalaku dan untuk membela diriku sendiri dari pergunjingan mereka. “Sudahlah. Kemudian aku mencoba menjawab tanyanya. Mendengar semua itu. Akupun bersyukur karena aku terrupa menjadi daun. Tanpa tersadari.” Aku kembali tertunduk. Ia turun perlahan dan kemudian menderas. kau kenapa? Tangisanmu itu mengganggu proses keberlangsungan hidupku. dan mulai menguatkan diriku atas segala kelemahan yang menggelayutiku.” “Eh Daun…jangan berbicara kepadanya. Bersyukurlah karena kau terlahir sebagai bunga yang indah. membuatku semakin tertunduk dalam.

Setiap mahluk yang kutemui pastinya selalu kutanyakan tentang keanehan yang nampak pada diriku. [Ratu Marfuah] 70 . Tapi dari sekian banyaknya yang kutanya. aku pun tertidur di pelukan dinginnya malam. Aku masih juga tenggelam dalam lautan tanya yang entah kapan akan berkesudahan. Sekotak Cokelat bermahkota enam. “Apakah aku ada hanya untuk mendapatkan hinaan dari mereka saja?” sebuah tanya menutup runtutan tanya yang sejak pagi kulontarkan. namun tak jua kutemukan jawaban-jawaban yang kubutuhkan. Namun aku masih enggan untuk membuka mata. Ia memang terupa berbeda. Hanya itu saja. Pagi kini telah menjadi siang. untuk apa aku terbangun jika nantinya masih harus mendengarkan hinaan tentang diriku? Bukankah sebaiknya aku kembali tidur.” Sang Daun membelaku. ia hanya menerima apa yang sebelumnya pernah tergariskan. dan kalimatnya itu berhasil membubarkan gerombolan Kamboja normal yang sedari tadi mengerumuniku dengan pandangan kebencian. dan aku pun kembali sendiri. hanya memang jumlah mahkotaku saja yang berlebih satu. hingga akhirnya. tapi itu kan bukan maunya. dan lebih baiknya lagi. Panas mentari pagi ini membaluri tubuhku hingga membuatku terbangun. Lalu semuanya kembali ke tempatnya masing-masing. Gemuruh di hatiku masih tetap menjadi gemuruh yang semakin membuatku terkerdilkan. tubuhku tak mengalami keluhan apa-apa. dan kemudian berganti malam. Apa aku bunga yang mempunyai kelainan? Tapi kurasa. Adilkah ini bagiku?” “Sudahlah…ayo kembali pada tugas masing-masing. tak pernah terbangun. biasa saja. Waktu bergulir. kembali menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang diriku yang kulontarkan entah pada siapa. tak satu pun bisa memberikan jawaban. Ah. Mataku terasa sangat lelah sebab telah menangis seharian.

” [Ratu Marfuah] 71 . pasti kau sangat bahagia dengan kehidupanmu. nasibku masih saja sama. “Rupanya sekarang kau menjadi tuli ya? Hahaha. aku masih juga mendapatkan perlakuan yang sama. Aku diam. akan kugunakan waktu yang masih kupunyai untuk lebih memerhatikan keadaan sekitarku. Waktu-waktu selanjutnya. Aku ini kadang sedih melihat sebangsaku yang menjadi perburuan manusia hanya karena menurutkan ego. Aku yakin. sudah rupamu aneh.” sapa kupu-kupu yang melintas di atasku. manusia pun juga. Agar nanti kubisa tersenyum bahagia ketika waktuku berakhir. Keindahan itu kadang menjebak. Sepertinya. dan kuncup- kuncup bermekaran menjadi bunga kamboja baru.” lanjutnya lagi. menuju hari terakhirku. Nyatanya. sebentar lagi aku akan gugur memeluk tanah. Bahkan hingga bunga-bunga kamboja yang semula menghinaku itu dipetik oleh manusia. Sekotak Cokelat “Kau ini. yang tak menyukaiku itu bukan hanya dari golonganku saja. penuh warna-warni ceria. Akhirnya aku menyerah sudah dan menerima nasibku yang tak seberuntung mereka. “Hei. karena aku selalu terlewatkan dari prosesi pemetikan. Tak sepertiku.” sapa Kamboja yang kemarin menghinaku. Tubuhmu indah sekali. Sesiang ini masih saja tidur.” “Kata siapa? Tak semua yang terlihat indah di mata itu akan indah pula kehidupannya. penuh dengan hinaan dan kebencian dari sekitarku. “Ya. dan aku belum juga terpetik. yang menjadikan kami sebagai koleksi pribadi dengan cara diairkerasi. tak berniat membalas ucapannya. Hari ini adalah hari ketujuh dari saat kelahiranku. Maka. Astaga…tidakkah ia lelah karena terus-menerus menghinaku? Aku saja yang mendengarnya sudah merasakan kebosanan. ternyata pemalas juga.

Sekotak Cokelat

“Tapi itu lebih baik dariku. Bangsamu kan bisa terbang jauh
melintasi langit biru, sedangkan aku, hanya terdiam di sini. Dan yang lebih
menyedihkan lagi, aku justru dihina oleh sebangsaku.”

“Dalam kehidupan, setiap mahluk hidup telah mempunyai
jalannya masing-masing. Semuanya memang tak sama, tapi semuanya
sudah mempunyai garis takdirnya. Tak semuanya menemui keindahan
saja, atau menemui ketakindahan saja, karena fase kehidupan itu
berputar. Memangnya kau kenapa sampai dihina oleh sebangsamu?”

“Tidakkah kau perhatikan rupa tubuhku ini?”

“Kulihat tak ada yang salah dengan tubuhmu, justru aku
mendatangimu karena tertarik dengan warna tubuhmu yang menyala
terang itu.”

“Mahkotaku berjumlah enam, ini berbeda dengan yang lainnya,
yang mempunyai mahkota lima. Itulah sebabnya mereka menghinaku dan
menganggapku aneh, karena aku berbeda dengan mereka.”

“Hahaha…” kupu-kupu tertawa hingga membuatku
beranggapan jika ia sama seperti sebangsaku, menghinaku juga. “Eh
maaf…aku bukannya menertawakanmu, tapi aku justru menertawakan
teman-temanmu itu,” katanya lanjut.

“Kenapa kau justru menertawakan teman-temanku? Bukankah
yang terlihat aneh adalah aku?”

“Mungkin kau terlihat aneh bagi banyak yang memandang
karena rupa tubuhmu itu tak umum. Namun bukankah itu adalah
ketentuan takdir? Bukankah Tuhanmu itu adalah Tuhan yang Maha Kuasa,
yang bisa menciptakan apa pun sesuai dengan kemauan-Nya? Dan
rupamu yang katanya aneh ini, adalah bukti dari ke-Maha-anNya, bahwa
ternyata tak semua yang tak umum itu tak ada. Buktinya kau ada, bukan?”

“Tapi…”

[Ratu Marfuah] 72

Sekotak Cokelat

“Ketika mereka menilaimu aneh, berarti merekalah yang
mengurung dirinya dalam kotak dan tetap tak mau ke luar dari kotaknya,
sehingga apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, atau pun alami, adalah
hal-hal yang hanya ada di dalam kotak. Ketika mereka dipertemukan
dengan hal-hal yang tak ada di dalam kotak, maka mereka akan selalu
berusaha melogikakannya. Jika hal itu masuk logika, maka mereka pasti
menerimanya. Tapi jika hal itu tak masuk logika, maka mereka akan
memandangnya sebagai sebuah keanehan atau imajinasi.”

“Jadi?”

“Cara pandang merekalah yang semestinya diubah, bahwa
ternyata ada kehidupan lain di luar kotaknya. Dan ketika mereka mau ke
luar dari kotaknya, maka hal-hal yang mereka lihat, dengar, rasakan, atau
pun alami, adalah hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah
tertemukan di dalam kotak. Hingga pertemuan-pertemuan itu pun
ternikmati adanya dan tak berusaha dilogikakan lagi. Mengalir saja.
Karena pada kenyataannya, kehidupan itu sangat luas dan tak terbatas.
Batasnya itu ada pada indrawi yang diberi kemampuan terbatas. Di luar
kita, di batas kemampuan kita yang terbatas, ternyata masih sangat
banyak hal yang tak diketahui, tak disadari, atau tak diyakini
keberadaannya. Sesungguhnya dunia ini sangat luas, begitu juga dengan
langit, pun ruang di antara keduanya. Sudahkah kau memahami
penjelasanku?”

“Ya. Jadi aku tak aneh, kan? Aku hanya bukti dari ketidakumuman
saja?”

“Ya. Dan ternyata, di luar sana, ada banyak kamboja yang jumlah
mahkotanya lebih dari enam, bahkan juga ada yang empat. Tapi memang
tak sering terjadi. Ketika kau percaya, maka keajaiban akan terjadi dan
diperlihatkan di hadapanmu. Jadi masihkah kau bersedih, duhai Kamboja
unik?”

Aku menggelengkan kepalaku. Kesedihanku menghilang sudah,
dan yang ada adalah kelegaan luar biasa. Kini aku mengerti dan juga

[Ratu Marfuah] 73

Sekotak Cokelat

memahami dengan diriku yang terlihat berbeda, yang bagi sebagian besar
dinilai tak umum. Ini takdirku. Takdir yang semula kupikir tak indah,
namun ternyata sangat luar biasa, setelah aku berhasil memahami dan
mengetahui fungsi penciptaanku. Tak ada penciptaan yang sia-sia, itu
sebuah kemutlakan. Bukankah Tuhanku menciptakan aku karena suatu
alasan dan aku ada karena alasan itu?

Astana Badranaya, 20 Juli 2013.

[Ratu Marfuah] 74

Sekotak Cokelat

Kisah PNBB
PNBB? Mmmm…..

Oleh Hazil Aulia

Bila ada yang bertanya tentang apa itu PNBB, maka hal tersebut
adalah suatu kewajaran, karena bisa jadi orang itu memang
belum ngeh dengan PNBB, bisa jadi pula karena sepanjang yang mereka
ketahui hanyalah PBB, bahkan karenanya mungkin pula menyalahkan,
sebab penulisan yang benar adalah PBB bukan PNBB, padahal mereka
belum tahu bahwa PNBB itu benar adanya, dan berbeda sama sekali
dengan PBB. Jauh jek!

Keingintahuan mereka akan semakin bertambah-tambah saat
bertemu dengan saya atau dengan beberapa gelintir penghuni PNBB.
Bagaimana tidak, saya dan beberapa gelintir penghuni PNBB itu, memiliki
T-Shirt keren (ehm), limited version pula, dengan logo PNBB dibordir pada
saku depannya, sedangkan di bagian punggung tertera tag line PNBB
“Tulis apa yang ada di pikiran, jangan memikirkan apa yang akan ditulis”,
berikut alamat situsnya di internet.

Tapi bila ingin penjelasan yang sederhana, awam, dan mudah
dibayangkan, maka “apa itu PNBB” adalah simpel sekali.

Coba bayangkan tengah duduk di kantin bersama teman-teman
sambil menikmati bakso hangat, siomay, atau nugget goreng dengan
cocolan sambalnya, lalu bersenda gurau bersama. Bisa pula
membayangkan sedang berada di pantai berpasir putih di Bali, diiringi
gemerisik pepohonan, desiran angin sepoi-sepoi, sembari duduk di bawah
pohon dan dipijat oleh pemijat lokal, sementara tangan asyik mengetik
membuat tulisan pada notebook sambil sesekali terkantuk-kantuk
menikmati pijatan tersebut. Atau, mumpung masih di pantai, bayangkan
saat sedang bebakaran bersama teman-teman, entah itu ikan bakar

[Ratu Marfuah] 75

Sudah bisa membayangkannya? Bisa merasakan kenikmatannya? Ya. menerbitkan buku bersama. bersahabat. di PNBB kita akan menemukan hal- hal seperti itu. “tak betah” dan sebagainya terlontar dari mulut mereka.facebook. Jadi.proyeknulisbukubareng. sudah seperti teman lama. Tetapi herannya. cumi bakar saos asam manis atau cuma sekedar jagung manis bakar. sudah tidak ada lagi kata “merasa asing”. perbelajaran bahkan perkulineran.com [Ratu Marfuah] 76 . begitulah PNBB. Di PNBB. Sekotak Cokelat bumbu pedas. penghuni PNBB yang menggunakan BB alias Blackberry kadangkala menggerutu karena harus merestart BB-nya.com Website : www. Ya. terkadang syahrini eh syahdu. Sungguh mengasyikkan. apalagi bila sesama anggota bisa saling bertemu di dunia nyata. Terlalu padat notifikasinya. bahkan didorong pula untuk menerbitkan buku sendiri. lengkap dengan aneka minuman segar yang menggairahkan. cobalah nyemplung ke dalam kancah grup PNBB di jejaring Facebook agar merasakan orgasme perkawanan. berpenulisan. tak sekali pun kata “kapok”.com/groups/proyeknulisbukubareng/ proyeknulisbukubareng@groups. Bukankah tak kenal maka tak sayang. kawan akrab. begitu kata mereka. dan bila sudah sayang maka kasih pun menjelang? Informasi Komunitas Facebook grup : http: //www. atau bisa tertawa sendiri di angkutan umum saat tengah membaca komentar-komentar anggota PNBB tentang status atau tulisan anggota yang lain (konon katanya yang pernah mengalami lho). kita belajar untuk menulis bersama. Konon pula. dengan dukungan moril dari anggota yang lain. Ramai.

Sekotak Cokelat Kisah Peramu Cokelat Ratu Marfuah : penggila hijau. 12 Mei 1985.ly/UPyhOO). Lahir di Cilegon. Menjadi contributor dari beberapa buku antologi. dan Jejak Perjalanan (http://bit. pemandang bulan. Dapat dihubungi di : Ratu Marfuah / www. dan telah menghasilkan Ebook Analogi (http://bit. Kini membiasakan menjejakkan rangkaian aksara. Saat ini aktif di komunitas menulis PNBB (Proyek Nulis Buku Bareng). namun justru menekuni teknik kimia ketika kuliah. serta menjadi jalan bagi pertemuan dan penemuannya dengan banyak keajaiban.ly/H6fTxG).facebook. karena aksara itu unik. Mantra Bahagia (http://bit.com/dhegreenarmy azzurithijau125@gmail. membuat dunianya berpelangi. pecandu cokelat. mengejutkan. Senang jalan-jalan dan diperjalankan ke berbagai ruang. Sempat membenci kimia. dan penikmat senja. Seorang idealis yang termetamorfosakan menjadi realis yang pengimaji.ly/W4C4Xh).com [Ratu Marfuah] 77 .

Sekotak Cokelat [Ratu Marfuah] 78 .

Sekotak Cokelat [Ratu Marfuah] 79 .

Sekotak Cokelat [Ratu Marfuah] 80 .

Sekotak Cokelat [Ratu Marfuah] 81 .