PRESENTASI : LAPORAN KASUS MEDIK

Nama Peserta : dr. Raissa Safitry

Nama Wahana : RSUD KOTA KENDARI

Topik : Gastroenteritis Akut

Tanggal (Kasus) : 13 September 2016 Presentan : dr. Raissa Safitry

Nama Pasien :Ny. KL No. RM :

Tanggal Presentasi : 2016 Nama Pendamping :
dr. Putu Gede Darmadi

Tempat Presentasi : RSUD Kota kendari

Obyektif Presentasi :

ü Keilmuan ü Keterampilan ü Penyegaran ü TinjauanPustaka

ü Diagnostik O Manajemen ü Masalah O Istimewa

O Neonatus O Bayi O Anak O Remaja ü Dewasa O Lansia O Bumil
Deskripsi :
Ny.W datang dengan keluhan nyeri perut dan buang air besar encer

Tujuan : Penegakan diagnosis dan tatalaksana yang sesuai

Bahan Bahasan ü TinjauanPustaka O Riset ü Kasus O Audit

Cara Membahas ü PresentasidanDiskusi O Diskusi O Email O Pos
Nama :Ny. W No Registrasi :
Data Pasien

Data Utama Untuk Bahan Diskusi
1. Diagnosis/Gambaran Klinis

1

Gastroenteritis akut / Pasien datang dengan keluhan nyeri perut dan bab encer sejak 1
hari yang lalu (14 Oktober 2016) sekitar pukul 10.00 wita sebanyak +5
kali/hari, konsistensi cair, ampas (+) sedikit, lendir (+), dan darah (-).
Pasien juga mengeluhkan mual sejak 1 hari yang lalu +pukul 17.00 wita
disertai muntah sebanyak 3 kali dengan volume 30 – 50 cc tiap muntah, isi
sisa makanan dan air, tanpa darah maupun lendir. Selain itu pasien juga
dikatakan demam sejak pukul 07.00 wita namun tidak dilakukan
pengukuran suhu tubuh.Makan dan minum dikatakan berkurang karena
pasien mual, dan sejak pukul 07.00 wita pasien tidak makan apapun
namun minum dikatakan hanya sedikit karena takut muntah. BAK
dikatakan sedikit dan terakhir pukul sekitar pukul 11.00 wita.

2. Riwayat Pengobatan

3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
Riwayat DM disangkal
Riwayat Hipertensi disangkal
Riwayat alergi obat dan makanan disangkal

4. Riwayat Keluarga
Riwayat DM disangkal
Riwayat Hipertensi disangkal

5. Riwayat Pekerjaan
Kegiatan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, kegiatan hanya di sekitar rumah dan jarang
berolahraga

6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik (Rumah, Lingkungan, Pekerjaan)
Pasien tinggal di rumah bersama suami dan 1 orang anak laki-laki.

7. Riwayat Imunisasi
Tidak diketahui

2

8. Lain-lain
Keluhan baru pertama kali dirasakan.

ANALISIS

Identitas Pasien
Nama : Ny. W
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 56Tahun
Alamat : Jl. Sao Sao
Bangsa : Indonesia
Suku : Tolaki
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Status : Menikah
Nomer RM : 117640
Tanggal MRS : 14 Oktober 2016
Tanggal Pemeriksaan : 14 Oktober 2016

Anamnesis
Keluhan utama
BAB cair
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien masuk UGD dengan keluhan mencret sejak 1 hari yang lalu (14
Oktober 2016) sekitar pukul 10.00 wita sebanyak +5 kali/hari. BAB
dikatakan berwarna kuning, konsistensi cair, ampas (+) sedikit, lendir (+),
dan darah (-). Pasien juga mengeluhkan nyeri perut yang hilang timbul
dikatakan seperti melilit terutama saat akan BAB. Pasien juga mengeluhkan
mual sejak 1 hari yang lalu +pukul 17.00 wita disertai muntah sebanyak 3
kali dengan volume 30 – 50 cc tiap muntah, isi sisa makanan dan air, tanpa
darah maupun lendir. Selain itu pasien juga dikatakan demam sejak pukul
07.00 wita namun tidak dilakukan pengukuran suhu tubuh.Makan dan

3

Makanan di rumah biasanya dimasak sendiri dan untuk minum menggunakan air mineral dalam kemasan galon. Saat di ruangan RS. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengatakan dirinya memiliki riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu namun hanya minum obat (pasien lupa nama obat) 2x1 saat nyeri kepala dan berhenti saat obat tersebut habis. Pemeriksaan Fisik Tanda-tanda Vitalsaat pemeriksaan 4 . muntah (-). BAK dikatakan sedikit dan terakhir pukul sekitar pukul 11. Riwayat Pengobatan Pasien tidak ada mengkonsumsi obat sebelumnya. Pasien mengatakan dirinya jarang mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. BAB (+) 1 kali dikatakan masih cair.minum dikatakan berkurang karena pasien mual. penyakit ginjal. Riwayat DM dan penyakit kronis disangkal. mual sudah berkurang. Riwayat Pribadi dan Sosial Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya membersihkan rumah dan membuat banten untuk upacara keagamaan.00 wita pasien tidak makan apapun namun minum dikatakan hanya sedikit karena takut muntah. Pasien mengatakan dirinya tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat-obatan dan makanan tertentu. penyakit hati. dan sejak pukul 07. Riwayat makan makanan pedas maupun berminyak disangkal. Riwayat penyakit jantung. Riwayat Penyakit Keluarga Pada keluarga pasien diketahui bahwa ayah pasien pernah menderita hipertensi selama 10 tahun kemudian meniggal. Saat ini pasien tidak sedang mengkonsumsi obat tersebut.00 wita. Riwayat operasi disangkal. diabetes dan asma pada keluarga disangkal oleh keluarga pasien. pasien mengatakan badannya lemas. minum baik namun makan hanya sedikit.

89 Kg/m2 Status General Mata : konjungtiva pucat (-). tipe torakoabdominal Suhu aksila : 37. batas kiri 2 jari MCL S ICS VI 5 . batas kanan PSL D. inflamasi (-/-).Keadaan umum : Sakit sedang Kesadaran : Compos mentis (E4V5M6) Tekanan darah : 100/60 mmHg pasien sempat didapatkan TD 150/80 saat di UGD Nadi : 90 kali/menit. discharge (-/-) Hidung : bentuk normal. deviasi septum (-) Tenggorokan: mukosa bibir kering (+). pada saat di UGD suhu tubuh pasien 38. batas bawah MCL S ICS V. reflex pupil (+/+) isokor. tonsil (T1/T1).4◦C Nyeri : 4-5. sklera ikterus (-/-). regular.atropi papil lidah (-). epigatrium dan umbilikal Berat badan : 55 Kg Tinggi badan : 155 Cm BMI : 22. Reg. faring hiperemis (-) Leher : JVP PR + 0 cmH2O. mata cowong (+) THT : Telinga : bentuk normal (+/+).7oC. discharge (-/-). isi cukup Pernapasan : 20 kali/menit. pembesaran kelenjar getah bening (-/-) Aksila : pembesaran kelenjar getah bening (-/-) Thoraks : Cor Inspeksi : ictus cordis tidak tampak Palpasi : ictus cordis teraba 2 jari MCL S ICS VI Perkusi : batas atas MCL S ICS II.

-Sonor Sonor . - + + - + + . denyut epigastrial (-) Auskultasi : bising usus (+) meningkat Palpasi : nyeri tekan (+) epigastrium dan umbilikal. - 6 . shifting dullnes (-). vesika urinaria kosong. - + + . ginjal kanan & kiri tidak teraba. Auskultasi : S1S2 tunggal reguler murmur (-) Pulmo Inspeksi : dinding dada simetris saat statis dan dinamis N N Palpasi : vokal fremitus N N N N Perkusi : Sonor Sonor Sonor Sonor . - Abdomen : Inspeksi : distensi (-). . - Auskultasi : vesikuler ronchi wheezing . - . CRT < 2” . undulating wave (-) Inguinal : pembesaran kelenjar getah bening (-/-) Genital : tidak ada abnormalitas Ekstremitas :hangat edema . hepar & lien tidak teraba. turgor kulit agak kurang Perkusi : timpani (+).

7.00 % Mono 5.00 .72.00 .1 % 0.90 10 µL 7 .00 .00 # Neut 7.50.14.8 % 0.70 # Mono 0.40 # Baso 0.5.10.65 6 4.01 103µL 0.50 103µL 1.5 % 37.0 % 0.00 .00 103µL 0.1.70 # Eos 0.0.5.96 103µL 1.00 .10 RBC 4.00 .00 % Baso 0. Laboratorium Darah Lengkap (18 Oktober 2016) Remark Pemeriksaan Hasil Satuan Normal s WBC 8.3.80 .99 3 4.52 103µL 0.80 10 µL % Neut 88.40 .00 % Lymph 5.00 Rendah # Lymph 0.00 .00 – 0.00 % Eos 0.0.00 . Pemeriksaan Penunjang a.50 .6 % 20.

17 – 0. Hemoglobin 12.34.90 % 35.3 g/dL 31.00 RDW-SD 39.70 .00 MCH 26.2 fL 9.4 fL 80.0 – 54.1 % 11.0 – 17.00 .15.0 Kesan : Normal Elektrolit Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks Na 130 mmol/ 136 – 145 Rendah L K 3.36.6 fL 37.450.00 .100.00 MCHC 33.00 .00 .50 Hematokrit 36.30 g/dL 11.00 PLT 175 3 150.35 PDW 16.00 .00 PCT 0.00 – 47.00 MCV 79.21 % 0.0 RDW-CV 14.1 Rendah 8 .5 Pg 26.16.00 10 µL MPV 12.5 – 5.13.0 mmol/ 3.9 fL 9.00 .

L Kesan : Hiponatreamia dan Hipokalemia Feses Lengkap Pemeriksaan Hasil Normal MAKROSKOPIS Warna Coklat Coklat muda - coklat Bau Khas Khas Konsistensi Cair Agak lunak dan berbentuk Lendir Positif (+) Negatif Darah Neg Negatif MIKROSKOPIS Leukosit 4-6/lpb Negatif Eritrosit 0-2/lpb Negatif Epitel Normal Normal Lemak 3-5/lpb 2-7 9 .

Sisa Makanan Serat Daging Negatif Negatif Serat Tumbuhan 0-2/lpb 0-4 Amoeba Tropozoit Negatif Negatif Kista E.Ascaris Negatif Negatif .Enterobius vermicularis Negatif Negatif . Gastroenteritis akut ec bakterial infection Diagnosis Komplikasi : 1. dehidrasi ringan sedang dengan hipokalemia ringan dan hiponatremia Penatalaksanaan Rencana Terapi  IVFD RL 26 tpm  Ceftriaxone 1gr/12 jam/ iv  Ranitidin 1amp/ 8j/ iv  Ondancentron 1amp/ 8j / iv  Paracetamol 3x500mg 10 .Tricuris trichura Negatif Negatif . coli (+) Negatif Parasit & Telur Cacing .Ancylostoma Negatif Negatif Bakteri Positif 2(++) Negatif Sel Ragi Negatif Negatif Kristal Negatif Negatif Lain-lain Negatif Kesan : infeksi bakteri Assesment Diagnosis Utama : 1.

diare akut dapat dibagi menjadi diare inflamasi dan noninflamasi.000 pasien berobat ke dokter dan lebih dari 250.000 kasus. diperkirakan 8. garam. Penyebab diare akut dapat berupa infeksi ataupun noninfeksi. Secara patofisiologi. 11 . Di USA. Untuk mendiagnosis diare akut diperlukan anamnesis. Diare juga dapat terjadi pada pasien immunocompromised dan pasien yang di rawat di rumah sakit.5% merupakan pasien dewasa) yang disebabkan diare atau gastroenteritis. pemeriksaan fisik.000. lebih disenangi melalui rute oral dengan larutan yang mengandung air. BAB I PENDAHULUAN Diare akut adalah diare yang berlangsung ≤ 14 hari.000 pasien dirawat di rumah sakit tiap tahunnya (1. Diperkirakan pada orang dewasa setiap tahunnya mengalami diare akut atau gastroenteritis akut sebanyak 99.000. Diare merupakankeluhan yang sering ditemukan pada dewasa. dan pemeriksaan penunjang yang sesuai. Terapi terpenting pada diare akut adalah rehidrasi. dan gula. Berbagai patogen spesifik dapat menimbulkan diare akut. Terapi antimikrobial empiris hanya diperlukan pada keadaan khusus.

angka prevalensi diare 2-3 kali lipat lebih besar pada negara berkembang dibandingkan negara maju. Penyakit Diare merupakan penyebab kesakitan dan kematian diNegara berkembang terutama akibat dehidrasi dan berujung kepada syok.0 persen. Di Indonesia penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat. 55 % dari kejadian diare terjadi pada golongan balita dengan angka kematian diare pada balita sebesar 2.Berdasarkan data WHO.5 persen dan 7. Insiden dan period prevalence diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3. Berdasarkan data riskesdas 2013. 2013) 12 . Berdasarkan SDKI tahun 2002 didapatkan insidens diare sebesar 11 %.5 per 1000 balita. karena tingginya angka kesakitan dan angka kematian terutama pada balita. (Riskesdas.

virus. et. Kebanyakan kasus gastroenteritis bersifat infeksius.1 Definisi Gastroenteritis didefinisikan sebagai inflamasi dari membran mukosa saluran pencernaan yaitu di lambung. Gastroenteritis ditandai dengan gejala utamanya yaitu diare. intoksikasi. iskemia dan kondisi lain.2 Etiologi Menurut World Gastroenterology Organization global guidelines 2005. namun dapat juga terjadi akibat konsumsi obat-obatan dan bahan-bahan toksik. atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan dan berlangsung tidak lebih dari dua minggu (14 hari). Penularan gastroenteritis dapat melalui rute fekal-oral dari orang ke orang atau melalui air dan makanan yang terkontaminasi. Apabila diare berlangsung lebih dari 14 hari maka hal tersebut dikatakan sebagai diare kronik. Berdasarkan data Depkes RI tahun 2000. 2003). Sedangkan 10% sisanya disebabkan oleh pengobatan. 13 . Sekiranya tidak ditangani segera dapat mengakibatkan kehilangan cairan (dehidrasi) dan gangguan keseimbangan elektrolit sehingga dapat menyebabkan kematian terutama pada anak. muntah. bertambah cairan. E. al. 2. penyebab diare akut adalah Shigella. demam. disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah maupun lendir. usus halus dan atau usus besar. Pada diare akut lebih dari 90% disebabkan oleh infeksi disertai dengan mual. Salmonella. diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari tiga kali sehari. infeksi rotavirus merupakan penyebab tersering dengan persentase sekitar 40-60%.coli dan Entamoeba histolytica. parasit dan non infeksi seperti dalam tabel 1. Pada diare kronis biasanya disebabkan non infeksi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.Sedangkan pada anak. mual dan kadang disertai demam dan nyeri abdomen (Beers H. Campylobacter. etiologi diare akut dibagi menjadi 4 penyebab : bakteri. dan nyeri pada abdomen. Menurut Depkes RI (2005).Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan. muntah.

Penyebab penyakit diare 2.0 persen. dengan CFR yang masih tinggi. dengan kematian 100 orang 14 . Berdasarkan SDKI tahun 2002 didapatkan insidens diare sebesar 11 %. Berdasarkan data riskesdas 2013. 55 % dari kejadian diare terjadi pada golongan balita dengan angka kematian diare pada balita sebesar 2. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare. tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk.Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi. karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang. Insiden dan period prevalence diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3.756 orang. tahun 2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk. Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5. Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik.5 persen dan 7.94%). Pada tahun 2000 IR (incidence rate) penyakit diare 301/ 1000 penduduk.3 Epidemiologi Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia. kematian 239 orang (CFR 2. Tabel 1.5 per 1000 balita.

sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang (CFR 1. tempat piknik. Baru saja menggunakan obat anti mikroba pada institusi kejiwaan dan rumah sakit. 4. Makanan atau keadaaan makanan yang tidak biasa : makanan laut dan shell fish. disebut diare osmotik. pekerja seks. 2. disebut diare sekretorik. Tabel 2. resiko infeksi HIV/AIDS. terutama yang mentah.5 Patofisiologi Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih dari patofisiologi sebagai berikut: 1) Osmolaritas intraluminal yang meninggi. 3. 3) Malabsorbsi 15 . 2. restoran fast food. negara berkembang. Homoseksual.64 %) dengan penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana yang tidak tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan.(CFR 1. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : 1.4 Faktor Resiko Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya diareakut pada seseorang.74%). kelompok perdamaian dan sering berkemah. Baru saja bepergian ke daerah tropis. Epidemiologi diare akut di negara maju dibandingkan negara berkembang 2. 2) Sekresi cairan dan elektrolit meninggi. pengguna obat intravena.

5) Motilitas dan waktu transit usus abnormal. Penyebab dari diare tipe ini antara lain karena efek enterotoksin pada infeksi Vibrio cholera. reseksi ileum (gangguang absorpsi garam empedu). 7) Inflamasi dinding usus. Defek sistem pertukaran anion/traspor elektrolit aktif di enterosit: diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif Na+. Mg(OH)2). Inflamasi dinding usus (diare inflamatorik): diare tipe ini disebabkan adanya kerusakan mukosa usus karena proses inflamasi. malabsorbsi lemak. 4) Defek sistem pertukaran anion/ transport elektrolit aktif di enterosit. malabsorpsi glukosa/galaktosa. diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus. Malabsorbsi asam empedu atau malabsorbsi lemak: diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan/produksi empedu dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati. dan efek obat laksatif (dioctyl sodium sulfosuksinat dll). malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus missal pada defisiensi disakaridase. menurunnya absorpsi. Motilitas dan waktu transit usus abnormal: diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. atau Escherichia coli. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum. pasca vagotomi. diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/ zat kimia yang hiperosmotik ( MgSO4. Penyebab gangguan motilitas antara lain: diabetes mellitus. disebut diare inflamatorik. 8) Infeksi dinding usus disebut diare infeksi. Diare sekretorik. Gangguan permeabilitas usus: diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus. sehingga terjadi produksi mukus 16 . 6) Gangguan permeabilitas usus. Diare osmotik.asam empedu. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. hipertiroid. K+. ATPase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal.

gangguan absorpsi air-elektrolit. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Patogenesis diare karena infeksi bakteri / parasit terdiri atas: 17 . Faktor penjamu adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap organisme yang dapat menimbulkan diare akut. Faktor kausal yaitu daya penetrasi yang dapat merusak sel mukosa. Bakteri non invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresikan oleh bakteri tersebut. yang disebut diare toksigenik. dan invasif (merusak mukosa). yang lalu membentuk adenosine monofosfat siklik (AMF siklik) di dinding usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida yang diikuti air. Mekanisme absorpsi ion natrium melalui mekanisme pompa natrium tidak terganggu karena itu keluarnya ion klorida diikuti ion bikarbonat. ion bikarbonat dan kation natrium dan kalium.yang berlebihan dan eksudasi air dan elektrolit ke dalam lumen. Inflamasi mukosa usus halus dapat disebabkan infeksi (disentri Shigella) atau non infeksi (kolitis ulseratif dan penyakit Crohn). Contoh diare toksigenik adalah kolera. kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan usus halus serta daya lekat kuman.6 Patogenesis Yang berperan pada terjadinya diare akut terutama karena infeksi yaitu faktor kausal (agent) dan faktor penjamu (host). Penularan gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu klien ke klien yang lainnya. motilitas usus. diare oleh bakteri dibagi atas non invasif (tidak merusak mukosa). terdiri dari faktor-faktor daya tangkis atau lingkungan internal saluran cerna yaitu keasaman lambung. Enterotoksin yang dihasilkan kuman Vibrio cholera merupakan protein yang dapat menempel pada epitel usus. Diare infeksi: infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. natrium. air. ion kalium dan ion bikarbonat dan klorida. Dari sudut kelainan usus. 2. imunitas dan juga lingkungan mikroflora usus. ion kalium dapat dikompensasi oleh meningginya absorpi ion natrium diiringi oleh air. Kompensasi ini dapat dicapai dengan pemberian larutan glukosa yang diabsorpsi secara aktif oleh dinding sel usus.

diare disebabkan oleh kerusaan dinding usus berupa nekrosis 18 . Shigella. Bakteri yang merusak antara lain Enteroinvasive E. C. sehingga meningkatkan kadar adenosine 3’. Perbedaan diare inflamasi dengan non inflamasi Diare karena bakteri/parasit invasive (enterovasif). Salmonella.Coli (EIEC). ion bikarbonat.coli (ETEC)dan C.5’-siklik monofosfat (siklik AMP)dalam sel yang menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam lumen usus yang diikuti oleh air. Enterotoksin ini menyebabkan kegiatan berlebihan nikotinamid adenine dinukleotid pada dinding sel usus.cholerae Eltor. V. Enterotoxigenic E. Bakteri yang tidak merusak mukosa misal V. Cholerae eltor mengeluarkan toksin yang terikat pada mukosa usus halus 15-30 menit sesudah diproduksi vibrio. Yersinia. kation natrium dan kalium. Perfringens. Tabel 3.perfrinen tipe C. Diare karena bakteri non invasif (enterotoksigenik).

histolitika dan G. tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Kuman Salmonella yang sering menyebabkan diare yaitu S.dan ulserasi. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Penyebab parasit yang sering yaitu E. enterriditis. Sifat diarenya sekretorik eksudatif. Pasien yang kekurangan cairan akan merasa haus. turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. paratyphi B. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung. berat badan berkurang. mata cekung. Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul). S. Pasien mulai gelisah. akral dingin dan kadang-kadang sianosis. choleraesuis.lambia. muka pucat. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Walau demikian infeksi kuman-kuman ini dapat juga bermanifestasi sebagai diare koleformis. Cairan diare dapat tercampur lender dan darah. S. Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit). Styphimurium. tulang pipi tampak lebih menonjol. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut. 19 . lidah kering.

Dalam menganamnesis pasien diare akut perlu ditanyakan mengenai onset.7 Manifestasi Klinis dan Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis. Feses dapat mengandung darah atau mukus. Adanya demam merupakan temuan diagnostik yang penting karena menandakan adanya infeksi bakteri invasif virus enterik. difficile dan E. pemeriksaan fisik dan pemeriksaaan penunjang. serta bukan infeksi virus atau bakteri yang melepaskan enterotoksin. serta kuantitas dan karakteristik feses. infeksi EHEC bila tidak terdapat leukosit pada feses. Adanya feses yang berdarah mengarahkan kemungkinan infeksi oleh patogen invasif dan yang melepaskan sitotoksin. lama gejala. Muntah sering terjadi pada diare yang disebabkan oleh infeksi virus atau toksin bakteri misalnya S. frekuensi. Tabel 4. Tenesmus merupakan penanda dari diare inflamasi. C. Korelasi patogenesis dan gejala diare 2. atau suatu patogen sitotoksik seperti. Walaupun demikian. histolytica. aureus. tidaklah mudah untuk mengenali patogen spesifik 20 .

Untuk mengidentifikasi penyebab diare diperlukan juga data tambahan mengenai masa inkubasi. Campylobacter. riwayat perawatan. Terdapat banyak spesies Vibrio yang menimbulkan diare di negara- negara berkembang. Gejala yang timbul lebih dari 16-72 jam mengarahkan infeksi oleh virus. V. Berbagai patogen spesifik dapat menimbulkan diare akut. Organisme ini termasuk koloni patogen klasik. Cyclospora. Vibrio cholerae dapat menimbulkan diare noninflamasi. parahemolyticus. Muntah biasa terjadi. masing-masing sebesar 37. serta risiko terinfeksi HIV. riwayat perjalanan sebelumnya. Vibrio. ke-4. 3.penyebab diare hanya berdasarkan gambaran klinisnya semata karena beberapa patogen dapat menunjukkan gambaran klinis yang sama. syok hipovolemik dan kematian dapat terjadi dalam 12-18 jam sesudah pertama kali timbul gejala. jernih. atau Cryptosporidium. Vibrio nonkolera. penggunaan antibiotik dalam 2 bulan terakhir. seperti berikut ini: 1. Waktu timbulnya gejala setelah paparan terhadap makanan yang dicurigai juga dapat mengarahkan penyebab infeksi.1%. Tanpa rehidrasi yang cepat dan adekuat. Giardia. Feses biasanya encer. V. seperti Vibrio parahemolyticus juga dapat menyebabkan diare. Norovirus. atau kontaminasi bakterial dari makanan oleh enterotoxigenic/enterohemorrhagic E. tetapi jarang terdapat demam. Yersinia. 7. Gejala yang timbul dalam waktu <6 jam kemungkinan disebabkan oleh toksin bakteri Staphylococcus aureus atau Bacillus cereus. 2. risiko pekerjaan. dan ke-7 dari diare yang dirawat di rumah sakit di Indonesia. Gejala yang timbul sesudah 6-24 jam kemungkinan disebabkan oleh toksin bakteri Clostridium perfringens atau Bacillus cereus.35. Berikut ini akan dibahas secara garis besar : Vibrio. dan 2. Shigella. V. Shigella. cholerae non-O1 merupakan penyebab tersering pertama. terutama bila muntah merupakan gejala yang paling prominen. Shigella merupakan penyebab klasik diare inflamasi atau disentri dan penyebab ke-2 tersering penyakit yang ditularkan melalui makanan 21 .4%. disertai bercak- bercak mukus. cholerae O1. binatang peliharaan. dan V. Salmonella. coli. cholerae serogrup O1 dan O139 dapat menyebabkan deplesi volume yang cepat dan berat. riwayat mengkonsumsi makanan tertentu.

Campylobacter jejuni merupakan penyebab tersering ke-6 dari diare yang dirawat di rumah sakit di Indonesia. Gejala salmonellosis umumnya berupa diare noninflamasi. Campylobacter juga dapat menimbulkan sindrom Guillain-Barré. dysenteriae. Meskipun jarang. infeksi enterohemorrhagic E. Akan tetapi. Di Indonesia. Akan tetapi. Hewan merupakan reservoir utama bagi kuman ini.2% merupakan S. Dari keseluruhan Shigella spp tersebut. Di Indonesia. Salmonella. Organisme ini dapat menimbulkan watery ataupun bloody diarrhea. Infeksi S. S. flexneri akan menimbulkan gejala disentri dan diare persisten. Infeksi Shigella dapat menimbulkan komplikasi hemolytic-uremic syndrome (HUS) dan thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP). coli O157:H7 lebih sering terjadi di negara-negara industri. dan Amerika Tengah. sehingga dapat menimbulkan epidemi diare berdarah (bloody diarrhea) dengan case fatality rate yang tinggi di Asia. Infeksi S. serta sampai saat ini masih menjadi problem utama di pusat perawatan harian atau institusi.8% merupakan S. dapat juga berupa diare inflamatif atau disentri (bloody diarrhea). Escherichia coli diarrheogenic. Afrika. termasuk E. Shigella spp merupakan penyebab tersering ke-2 dari diare yang dirawat di rumah sakit. 15. yakni sebesar 3.3%. Salmonellosis merupakan penyebab utama foodborne disease di Amerika Serikat. Bayi dan orang tua paling rentan terinfeksi.(foodborne disease) di Amerika Serikat. 82.7%. Enterotoxigenic E. sonnei adalah yang teringan. coli diarrheogenic dapat menimbulkan penyakit di negara-negara berkembang. Semua jenis E. yakni sebesar 17. dysenteriae tipe 1 (Sd1) menghasilkan toksin Shiga. Paling sering terjadi di negara-negara industri. flexneri. Terdapat lebih dari 2000 serotype Salmonella dan semuanya patogenik bagi manusia. coli (ETEC) dapat menimbulkan 22 .6%.0% adalah S. yakni sebesar 27. Campylobacter. sonnei. Infeksi asimtomatik sering terjadi di negara-negara berkembang akibat kontak erat dengan hewan ternak. Paling sering terjadi di negara- negara berkembang. Salmonella spp merupakan penyebab tersering ke-3 dari diare yang dirawat di rumah sakit. dan 2. Hanya dibutuhkan 10 kuman untuk menginisiasi timbulnya penyakit ini dan penyebaran dari orang ke orang amat mudah terjadi. coli (EHEC).

coronavirus. laboratorium juga tidak secara rutin mengidentifikasi nonserogroup O157:H7 EHEC yang sama manifestasi klinisnya dengan serogrup O157:H7. Kolitis hemoragik berat dengan HUS dilaporkan terjadi pada 6–8% pasien. Parasit. Berbagai virus dapat menimbulkan diare akut pada manusia. human calicivirus. Virus. seperti verotoksin (Shiga-like toxin) yang menyebabkan bloody diarrhea. coli (EPEC) jarang menyerang orang dewasa. EHEC dapat memproduksi suatu sitotoksin. di antaranya rotavirus. Hampir semua anak-anak di negara-negara industri dan negara-negara berkembang telah terinfeksi pada usia 3–5 tahun. enteric adenovirus. Enterohemorrhagic E. Rotavirus sering menimbulkan diare pada bayi. namun relatif jarang pada anak-anak dan dewasa karena telah mempunyai antibodi protektif. Tidak mudah untuk mengidentifikasi kuman ini karena media agar MacConkey- Sorbitol untuk membiakannya tidak tersedia di semua laboratorium. Selain itu. kecuali 23 . Sapovirus lebih sering mengenai anak-anak. coli (EHEC). Rotavirus dapat menimbulkan gastroenteritis berat. coli (EHEC) dapat menimbulkan bloody diarrhea. Enteropathogenic E. Enterohemorrhagic E. akan tetapi lebih sering pada anak-anak. dan herpes simplex virus.diare pada wisatawan. Beberapa serotype adenovirus juga dapat menimbulkan diare akut. Sebelumnya dinamakan “Norwalk-like virus” dan “Sapporo-like virus”. merupakan penyebab tersering kolitis infektif di negara-negara industri. parasit jarang menjadi penyebab diare akut. biasanya disertai demam. terutama Escherichia coli 0157:H7. astrovirus. Virus merupakan merupakan penyebab utama diare akut di negara- negara industri. cytomegalovirus. coli (EAggEC) dapat menimbulkan diare persisten pada pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV). Berbagai spesies protozoa dan cacing dapat menimbulkan diare akut. dan Enteroaggregative E. terdiri dari norovirus dan sapovirus. Enteroinvasive E. coli (EIEC) dapat menimbulkan diare lendir dan berdarah. Di negara-negara maju. EHEC dapat menimbulkan komplikasi HUS dan TTP. Human calicivirus (HuCV) termasuk ke dalam famili Caliciviridae. Norovirus merupakan penyebab tersering kejadian luar biasa gastroenteritis pada semua kelompok umur.

Cyclospora dan Microsporidium merupakan patogen usus kecil. diare nosokomial lebih sering disebabkan oleh 24 . Penyakit ini dapat menambah lama perawatan di rumah sakit pada orang dewasa sampai >1 minggu. namun dapat sembuh sendiri pada pasien dengan hitung CD4 >150 sel/mm3 sama seperti pada individu dengan fungsi imun yang normal. Diare pada pasien immunocompromise. Diare Nosokomial. Individu dengan penyakit immunocompromise. Prevalensi diare akibat berbagai patogen tersebut pada pasien AIDS dilaporkan terus menurun dengan semakin luasnya pemberian terapi antiretroviral. Shigella spp. Salmonella enteritidis.pada wisatawan. Dehidrasi pada diare akibat infeksi Microsporidium biasanya lebih ringan dibandingkan pada diare yang disebabkan oleh Cryptosporidium. Entamoeba histolytica. Herpes simplex. Patogen yang paling sering dijumpai adalah Cryptosporidium parvum. walaupun diare masih sering dijumpai pada kelompok pasien tersebut. Gejala inflamasi. Campylobacter. dan banyak flatus biasa dijumpai. Diare dilaporkan terjadi pada 60% dari pasien dengan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) di negara-negara industri dan 95% pasien AIDS di negara-negara berkembang. dan pada usia lanjut sampai >1 bulan. pada pasien HIV dengan fungsi imun yang lebih buruk terjadi penyakit yang lebih berat dan tidak dapat mengalami remisi. dan Adenovirus. Diare nosokomial dapat disebabkan oleh infeksi ataupun noninfeksi. Mycobacterium avium complex. Gambaran klinis diare yang disebabkan oleh Cyclospora khas dengan lamanya yang rerata >3 minggu. seperti perut kembung. atau infeksi HIV berisiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi yang disebabkan oleh patogen usus dibandingkan individu sehat. Insiden dan mortalitas tertinggi dijumpai kelompok pasien yang berusia >70 tahun. Microsporidium. Microsporidium jarang menyebabkan diare pada pejamu yang immunocompetent. Akan tetapi. disertai rasa letih dan lemah yang kuat. Diare nosokomial didefinisikan sebagai penyakit diare dengan onset >72 jam sesudah masuk rumah sakit. seperti limfoma. Cytomegalovirus. transplantasi sumsum tulang. Giardia intestinalis. dan Cyclospora cayetanensis paling sering menimbulkan diare akut pada anak-anak. Isospora belli. Cyclospora. kram. Infeksi oleh Cryptosporidium tampil sebagai penyakit diare dengan dehidrasi berat. Sebaliknya. Cryptosporidium parvum.

penyebab noninfeksi yang multipel. difficile juga dapat timbul pada pasien-pasien yang mendapat kemoterapi. Gejala klinis diare berdasarkan sumber infeksi (Source: WHO guideline practice guidelines) Berdasarkan Kliegman. Sebagian besar pasien mengalami gejala selagi masih memakai antibiotik. Kolitis pseudomembranosa berkisar dari diare ringan- sedang hingga kolitis berat. difficile. akan tetapi penyebab tersering adalah golongan penisilin berspektrum luas. Organisme ini juga menjadi penyebab dari 20% diare tanpa kolitis akibat pemakaian antibiotik. Tabel 3. seperti penggunaan tube feeding atau obat- obatan yang dapat menimbulkan diare. dinyatakan bahwa berdasarkan banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit dari tubuh. cephalosporin. diare dapat dibagi menjadi : ü Diare tanpa dehidrasi Pada tingkat diare ini penderita tidak mengalami dehidrasi karena frekuensi diare masih dalam batas toleransi dan belum ada tanda-tanda dehidrasi. dan clindamycin. Sebenarnya semua antibiotik telah dihubungkan dengan infeksi C.Kolitis pseudomembranosa hampir selalu disebabkan oleh C. 25 . Marcdante dan Jenson (2006). Infeksi C. difficile. Penyebab infeksi tersering adalah Clostridium difficile. tetapi diare dapat juga baru timbul 1-3 minggu sesudah antibiotik dihentikan.

kesadarannya menurun dan juga masa pengisian kapiler sangat memanjang (≥ 3 detik) dengan kulit yang dingin dan pucat. hipotensi dan tekanan nadi yang menyebar. tekanan darah. berat badan. denyut nadi. ü Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%) Pada keadaan ini. Kualitas bising usus dan ada tidaknya distensi abdomen serta nyeri tekan dapatmembantu klinisi dalam menentukan etiologi. kelopak mata cekung. tekanan nadi masih normal atau takikardia yang minimum dan pemeriksaan fisik dalam batas normal. serta kulit yang dingin dan lembab. kadang- kadang muntah. mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung. Pemeriksaan abdomen merupakan sesuatu yang sangat penting pada kasus diare. hipotensi postural/ortostatik. lidah kering. mata dan ubun-ubun besar menjadi sangat cekung. ü Diaredengan dehidrasi berat (>10%) Pada keadaan ini. penderita akan mengalami takikardi. temperatur. frekuensi nafas. kelopak mata. kencing sudah mulai berkurang. turgor kulit berkurang. selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.Tanda-tanda peritonitis juga perlu dicari karena merupakan petunjuk adanya infeksi oleh patogen enterik invasif. kencing yang kurang atau langsung tidak ada. tidak ada penghasilan urin. terasa haus. tidak ada produksi air mata. perlu dicari tanda-tanda dehidrasi dan kontraksi volume ekstraseluler. aktifitas sudah mulai menurun. air mata berkurang dan masa pengisian kapiler memanjang (≥ 2 detik) dengan kulit yang dingin yang dingin dan pucat. Pada pemeriksaan fisik perlu dinilai keadaan umum. nafsu makan menurun. kesadaran. penderita sudah banyak kehilangan cairan dari tubuh dan biasanya pada keadaan ini penderita mengalami takikardi dengan pulsasi yang melemah. irritabilitas atau lesu. 26 . seperti denyut nadi >90 kali/menit dan lemah. tidak mampu minum dan keadaannya mulai apatis. turgor kulit. ü Diare dengan dehidrasi ringan (3%-5%) Pada tingkat diare ini penderita mengalami diare 3 kali atau lebih. serta mukosa lidah. Selain itu.

Pada pasien yang mengalami dehidrasi. Akan tetapi. terutama pada infeksi bakteri yang ivasif ke mukosa akan memperlihatkan leukosistosis dengan tingakat blast yang lebih tinggi. Pasien dengan kecurigaan infeksi virus biasanya akan memperlihatkan jumlam dan hitung leukosit yang normal atau limfositosis. saat ini pemeriksaan enzyme linked immunosorbent assays (ELISA) dari feses untuk toksin A telah mempersingkat waktu untuk mendiagnosis infeksi C. toksisitas atau diare yang berlangsung selama beberapa hari.Kultur tinja untuk memastikan kausa diare namun pemeriksaan ini biasanya hanya dikerjakan pada pasien diare > 72 jam. Pemeriksaan tinja dilakukan unuk melihat adanya leukosit pada tinja yang kemungkinanan mengarahkan kepada infeksi bakteri. Mendiagnosis infeksi C. diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah tepi lengkap. pemeriksaan ini dapat digunakan untuk: 1. difficile dan menemukan pseudomembran pada pasien yang toksik sambil menunggu hasil pemeriksaan kultur jaringan. Namun.Akan tetapi. diare akut setelah perawatan di rumah sakit. 2. Pada infeksi bakteri. dan pasien dengan imunocompromised.Pada pasien yang mendapatkan pengobatan antibiotik dalam 3 bulan terakhir atau yang mengalami diare di rumah sakit sebaiknya dilakukan pemeriksaan tinja untuk pengukuran toksin Clostridium difficile. feses lengkap dan terkadang ELISA untuk mendeteksi giardiasis dan tes serologi amebiasis serta x-ray abdomen. Membedakan inflammatory bowel disease dari diare akibat infeksi. Pemeriksaan ureum dan creatinin diperiksa untuk menilai adanya kekurangan volume cairan dan mineral pada tubuh. adanya telur cacingdan parasit dewasa dengan hasil meta- analisis tentang pemeriksaan ini menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas hanya sebesar 70% dan 50%. ureum dan creatinin. kadar elektrolit. adanya darah samar dan leukosit pada feses mendukung diagnosis diare akibat infeksi bakteri. difficile dan mengurangi kebutuhan pemeriksaan endoskopi pada kasus-kasus tersebut.Pemeriksaan lain seperti endoskopi umumnya tidak dibutuhkan dalam mendiagnosis diare akut. Neutropenia dapat timbul pada infeksi salmonella. 27 .

3. jamban yang representatif..2 Rehidrasi Hal utama yang perlu ditangani pada pasien gastroenteritis adalah dehidrasi.8. terdapat 3 cara yang dapat dilakukan untuk mencegah diare trutama pada anak yaitu: 1. 2.8 Penatalaksanaan Dalam penanganan diare terdapat beberapa komponen yang harus diperhatikan. Tetaplah memberikan ASI walaupun anak anda menderita diare. Susuilah atau beri ASI anak anda selama mungkin. Mendiagnosis adanya infeksi oportunistik (seperti.8. BAB yang cair serta menurunkankebutuhan pasien akan pemberian 28 . 3. obat antidiare dan antibiotika.1 Pencegahan Menurut dinas kesehatan tahun 2004. Mendiagnosis adanya iskemia pada pasien kolitis yang dicurigai namun diagnosisnya masih belum jelas sesudah pemeriksaan klinis dan radiologis. mencuci tangan dengan sabun antiseptik akan mengurangi insiden penyakit diare. 2. rehidrasi. Dengan adanya URO dapat menurunkan biaya dan meningkatkan efikasi terapi gastroenteritis akut. Kebanyakan kasus gastroenteritis yang menyebabkan kematian adalah disebabkan hidrasi yang tidak ditangani secepatnya (Burkhart M. Minumlah air yang direbus hingga mendidih dan makanan yang sudah dimasak hingga matang. 2. 2. 4. 1999). menyediakan sanitas dasar yang sehat seperti air bersih. Upaya Rehidrasi Oral (URO) merupakan cara administrasi cairan secara oral untuk mencegah atau mengkoreksi dehidrasi yang merupakan komplikasi diare. disamping makanan lainnya yang dapat diberikan sesuai dengan umur si kecil agar jika anak sudah besar memiliki daya taha tubuh yang kuat. Oralit dengan osmolaritas yang rendah berhubungan dengan penurunan gejala muntah. cytomegalovirus) pada pasien immunocompromise. diantaranya: pencegahan. diet. Selain hal di atas.

Metode Daldiyono berdasarkan skor Tabel 5. Dehidrasi Ringan : 5% x BB (kg) . Cairan URS-WHO juga direkomendasikan sebagai cairan rehidrasi pada dewasa dan anak dengan kolera. Skor penilaian Klinis Dehidrasi Klinis Skor Rasa haus/muntah 1 Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg 1 Tekanan darah sistolik < 60 mmHg 2 Frekuensi nadi > 120 kali/menit 1 Kesadaran apati 1 Kesadaran somnolen. Terdapat beberapa macam perhitungan kehilangan cairan. Dehidrasi berat : 10% x BB (kg) 3.cairan secara intravena dibandingkan dengan oralit standar. BJ plasma dengan rumus : 2. diantaranya: 1. Dehidrasi Sedang: 8% x BB (kg) . Prinsip dalam menentukan jumlah cairan harus disesuaikan dengan jumlah cairan yang keluar dari tubuh. spoor atau 2 koma Frekuensi napas > 30 kali/menit 1 Facies cholerica 2 Vox cholerica 2 Turgor kulit menurun 1 Washer woman’s hand 1 Ekstremitas dingin 1 Sianosis 2 Umur 50-60 tahun -1 Umur > 60 tahun -2 29 . Metode Pierce berdasarkan klinis . Dalam memberikan URO pada pasien harus dinilai terlebih dahulu derajat dehidrasi pasien.

Sedangkan dehidrasi ringan/sedang dapat diterapi dengan pemberian URO secara oral atau melalui selang nasogastrik (NGT). c. Pemberian makanan sebaiknya diberikan setelah 4 jam URO atau cairan intravena.3 Diet Pasien dengan gastroenteritis akut dianjurkan minum-minuman sari buah.kecuali pasien muntah hebat. Loperamide merupakan agen pilihan pertama (pada dewasa 4-6 mg/hari. penggunakan obat initidak memiliki manfaat secara klinis. Dua jam pertama (tahap rehidrasi awal) : jumlah total kebutuhan cairan menurut BJ atau Daldiyono diberikan langsung agar tercapai rehidrasi optimal secepat mungkin. makanan yang mudah dicerna seperti pisang. nasi dan sup. maka hanya diberikan cairan peroral (sebanyak mungkin sedikit demi sedikit). Pada anak. Obat ini merupakan derivat opioid yang tidak adiktif dan memiliki efek samping paling kecil dibandingkan dengan tinktur maupun difenoksilat-atropin.4 Obat Antidiare Penggunaan obat antidiare tidak membunuh kausa dari diare. Pada kasus diare sedang/berat pasien sebaiknya diberikan cairan secara intravena.8. Satu jam berikutnya (tahap 2) pemberian diberikan atas kehilangan cairan selama 2 jam tahap rehidrasi awal. Bila tidak terjadi syok atau skor Daldiyono < 3 dapat diganti cairan per oral. 2. Bila skor kurang dari 3 dan tidak terdapat tanda syok. dan 2-4 mg/hari pada anak > 8 tahun). Obat ini bekerja dengan cara menginhibisi pengeluaran 30 . Beberapa obat yang dapat digunakan diantaranya: Antimotilitas. Pemberian cairan rehidrasi terbagi atas: a. teh. Obat ini merupakan pilihan pertama pada diare pada traveler dengan dehidrasi ringan sedang tanpa gejala klinis yang mengarah ke diare invasif. Minuman berkafein dan alkohol harus dhindarkan karena akan meningkatkan motilitas dan sekresi usus. b. Susu sapi harus dihindarkan karena adanya defisiensi laktase transien yang disebabkan oleh infeksi vrus dan bakteri. 2. Bila skor lebih atau sama dengan 3 disertai syok maka diberikan cairan secara intravena.8. Jam berikutnya pemberian cairan berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja dan IWL.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang bila diberikan dalam jumlah yang adekuat akan menguntungkan bagi kesehatan pejamu. Enterococcus faecium. arang aktif . Lactobacillus GG. dan attapulgite bekrja dengan cara mengabsorbsi air dan senyawa dari larutan dan kemngkinan mengikat bahan yang berpotensi toksik pada usus. Bifidobacterium bifidum. Terdapat beberapa spesies yang telah diteliti dan digunakan sebagai probiotik.acetilkolin melalui reseptor opioid prasinaps di usus sehingga mengakibatkan penurunan peristaltik usus dan efek memiliki antisecretory yang ringan. mual dan nyeri abdomen diare pada traveler. Lactobacillus casei. Agen seperti kaolin-pectin. 31 . Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dosis yang tepat. Racecadotril merupakan enkepalinase inhibitor (nonopiat) dengan aktivitas antisekresi yang telah mendapatkan lisensi diberbagai negara diberikan dengan dosis 3 x 100mg terutama pada diare anak dan kolera dewasa.Sebaiknya dihindari penggunaannya pada bloody/mucoid diarrhea atau suspek inflamasi (dengan demam).Bistmuth subsalicylate bisa menurunkan pengeluaran BAB pada anak atau gejala seperti diare. Streptococcus thermophilus. Adsorbent. Menurut WHO efikasi pengobatan diare dengan agen ini masih diragukan. Bistmuth subsalisilat 30 ml atau 2 tablet tiap 30 menit sebanyak 8 dosis bermanfaat pada beberapa pasien. Probiotik akan berkompetisi dengan bakteri patogen pada tempat menempelnya bakteri di mukosa usus dan memodulasi sistem imun pejamu. Probiotik. Antisekretory. Berbagai penelitian menunjukkan manfaat probiotik dalam pengobatan diare infeksi dan diare akibat pemberian antibiotik. yakni Lactobacillus bulgaricus. Bifidobacterium longum. jangka waktu pemberian serta bentuk sediaan yang ideal agar probiotik yang diberikan dapat efektif sesuai dengan yang diharapkan. Yang umum digunakan adalah kelompok laktobasilus dan bifidobakteria. Lactobacillus acidophilus. Nyeri abdomen hebat yang mengarahkan suatu diare inflamatif termasuk kontraindikasi untuk pemberian loperamide. dan Saccharomyces boulardi.

5 Antibiotika Kebanyakan pasien memiliki gejala penyakit yang ringan. Pathogen spesifik yang harus diobati adalah Vibro cholera. atau erotromisin 250-500 mg 4 x/hari selama 7 hari diberikan bagi yang dicurigai giardiasis. terdapat darah samar atauleukosit pada feses). Untuk turis tertentu yang berpergian ke daerah resiko tinggi. kuinolon (misal siprofloksasin 500 mg/hari) dapat dipakai sebagai profilaktik yang memberikan perlindungan sekitar 90%. Yersinia. dan Aeromonas species. Obat pilihan yaitu kuinolon (siprofloksasin 500 mg 2 x/hari selama 5-7 hari). tetapi bila diberikan secara parenteral. sifilis. Shigella. tetracyclin (doksisiklin 2 x 100 mg) pada kecurigaan kolera. Clostridium difficile. 32 .2. Obat profilaktik lain termasuk trimetropim-sulfametoksazol dan bismuth subsalisilat. parasit. Obat ini baik terhadap bakteri pathogen invarsif termasuk Campylobacter. Pathogen yang mungkin di obati termasuk Vibro non kolera. 160/800 mg/hari. Metronidazol intravena diberikan pada pasien yang tidak dapat mentoleransi pemberian per oral. sehingga pengobatan empiris tidak dianjurkan pada semua pasien diare. dan bila gejala lebih lama pada infeksi aeromonas. Pengobatan empiric diindikasikan pada pasien-pasien yang diduga mengalami infeksi bakteri invasive (feses berdarah/mucoid. Obat antimikroba dapat dilihat pada Tabel 4. serta pada amebiasis dapat digunakan tetraciclin atau metronidazole.8. Plesiomonas dan E coli enteropathologenic. dan Camphylobacter. self limited disease karena virus atau bakteri noninvasif. traveler’s diarrhea. klamidiosis. dan infeksi karena penyakit seksual (gonorrhea. and herpes simpleks). Yersinia. Vankomisin merupakan obat alternative. Salmonella. Obat pilihan bagi diare karena Clostridium difficile yaitu metonidazol oral 25-500 mg 4 x/hari selama 7-10 hari. diare turis (traveler’s diarrhea) atau imunosupresif. Sebagai alternative yaitu kotrimoksazol (trimetropin/sulfametoksazol).

Penggunaan antibiotika dalam terapi diare (dosis dewasa).Tabel 4. Sumber: PAPDI 33 .