You are on page 1of 8

A.

PENGERTIAN
Hyaline Membrane Disease (HMD) atau disebut juga Respiratory
DistressSyndrome (RDS) merupakan hasil dari ketidakmaturan dari paru-paru
dimanaterjadi gangguan pertukaran gas. Berdasarkan perkiraan 30% dari
kematianneonatus diakibatkan oleh HMD atau komplikasi yang dihasilkannya.
Pada penyakit ini, terjadi karena kekurangan pembentukan ataupengeluaran
surfaktan sebuah kimiawi paru-paru. Surfaktan merupakan suatucampuran lipoprotein
aktif dengan permukaan yang melapisi alveoli danmencegah alveoli kolaps pada akhir
ekspirasi.
Secara klinis bayi dengan HMD menunjukkan takipnea ( >60 kali/menit),
pernapasan cuping hidung, retraksi interkosta dan subkosta, expiratory grunting
(merintih) dalam beberapa jam pertama kehidupan. Tanda-tanda klinis lain,seperti,
hipoksemia dan polisitema. Tanda-tanda lain RDS meliputi hipoksemia,hiperkabia, dan
asidosis respiratory atau asidosis campuran.

B. ETIOLOGI
1. Prematuritas dengan paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32
minggu) dan tidak adanya, gangguan atau defisiensi surfactant.
2. Bayi prematur yang lahir dengan operasi Caesar, Karena dadanya tidak
mengalami kompresi oleh jalan lahir sehingga menghambat
pengeluaran cairan dari dalam paru.
3. Penurunan suplay oksigen saat janin atau saat kelahiran pada bayi matur
atau prematur.

C. TANDA DAN GEJALA
1. Dispnoe Berat
2. Penurunan Compliance Paru
3. Pernapasan yang dangkal dan cepat pada mulanya yang menyebabkan
alkalosis respiratorik karena ( CO2 ) karbondioksida banyak terbang.
4. Peningkatan kecepatan penapasan.
5. Nafasnya pendek dan ketika menghembuskan nafas terdengar suara
ngorok.
6. Kulit kehitaman akibat hipoksia
7. Retraksi antargia atau dada setiap kali bernapas
8. Napas cuping hidung
9. Takipnea ( > 60x/mnt)

PATHWAY .D.

Darah. . 4. Kalsium serum ( untuk meningkatkan hipokalsemia ). 2. Sumber : Mansjoer . PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Urine dan glukosa darah ( untuk mengetahui hipoglikemia ). 2010 E. Analisis gas darah ( menentukan PH serum ). 3.

Pemberian Oksigen. 7. 9. pH 7. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Seri Rontgen Dada : untuk melihat densitas atelektasis dan elevasi diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar.Surfaktan ini disemprotkan ke dalam trakea dengan dosis 60 mg/KgBB. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder 2. 4. Metilksantin ( teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik 8.tetapi bisa juga berbentuk surfakatan buatan ). PaO2 ( tes untuk hipoksia ) kurang dari 50 mmHg. Antibiotik diberikan selama bayi mendapatkan cairan intravena sampai gejala gangguan nafas tidak ditemukan lagi.4. Analisa Gas Darah. meningkat sebagai hasil dari release potassium dari sel alveolar yang rusak. PaCO2 kurang dari 60 mmHg. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan cairan paru.94%. . Surfaktan artifisial yang dibuat dari dipalmitoilfosfatidilkolin dan fosfatidilgliserol dengan perbandingan 7 : 3. Pemberian Surfaktan Buatan.31 – 7.Bayi tersebut diberi surfaktan artifisial sebanyak 25 mg dosis tunggal dengan menyemprotkan ke dalam trakea penderita.000 U/KgBB/hari) atau ampicilin (100 mg/KgBB/hari) dengan gentamisin (3-5 mg/KgBB/hari). surfaktan eksogen adalah derivate dari sumber alami misalnya manusia ( di dapat dari cairan amnion atau paru sapi. 11. Level Potasium. Berdasar atas penelitian Fujiwara (1980) dan Morley (1981). Antibiotik diberikan adalah yang mempunyai spektrum luas penisilin (50. 5. 6. F. Fenobarbital 6. saturasi oksigen 92% . Bronchogram udara untuk menentukan ventilasi jalan nafas. 10. Vitamin E untuk menurunkan produksi radikal bebas oksigen 7. 9. 3. 5. 8. Level pottasium.000 U-100. Setiap penderita PMH perlu mendapat antibiotika untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian 1. G. 12. Pemeriksaan fisik Inspeksi Kaji adanya sianosis. penurunan suhu tubuh. Oksigen mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap bayi baru lahir. pemberian O2 sebaiknya diikuti dengan : a) Pemeriksaan tekanan O2 arterial (PaO2) secara teratur. Riwayat persalinan Prematur. takipnea. prognosis lebih buruk § Kadar bilirubin lebih tinggi dibandingkan bila dibandingkan dengan bayi normal dengan berat badan sama . umur kehamilan 5. Pemberian O2 yang terlalu banyak dapat menimbulkan komplikasi yang tidak diinginkan seperti fibrosis paru. 13. kerusakan retina (retrolental fibroplasta) dan lain-lain. O2 dapat diberikan sampai gejala cyanosis menghilang. b) Konsentrasi O2 yang diberikan harus dijaga agar cukup untuk mempertahankan tekanan PaO2 antara 80 – 100 mmHg. Riwayat penyakit keluarga Riwayat maternal Stress fetal atau intrapartus menderita penyakit seperti DM 4. Identitas 2. 3. penggunaan otot aksesoris pernapasan Palpasi Frekuensi nadi kurang dari normal (bradikardi) Auskultasi Penurunan suara pernapasan 6. c) Bila fasilitas untuk pemeriksaan tekanan gas arterial tidak ada. Riwayat penyakit sekarang Kaji tanda dan gejala klinis. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Radiologik Foto rontgen paru Pemeriksaan Laboratorium § Kadar asam laktat dalam darah meningkat dan bila kadarnya lebih dari 45%. Untuk mencegah timbulnya komplikasi ini.

6. 3. Berikan terapi oksigen sesuai indikasi. BB turun. Gangguan pertukaran gas b. IX. Kolaborasi pemberian terapi obat bronchodilator. membrane mukosa. Observasi pola napas.§ Kadar PaO2 menurun § Kadar PaCO2 meningkat § pH darah menurun 7. turgor kulit jelek.d pengendapan membrane hialin di alveolus 1. Kolaborasi pemberian oksigen. Kaji TTV. Rasional: mengetahui keadaan umum bayi 3. 2. Rasional: menambah pengetahuan keluarga. Tempatkan bayi pada tempat yang hangat. Pola fungsi kesehatan 1) Pola nutrisi . Rasional: Obat Bronchodilator berfungsi untuk membuka broncus guna memudahkan dalam pertukaran udara. Sesak nafas. Observasi TTV. Berikan penjelasan kepada keluarga tentang penyebab sesak napas yang dialami pasien. Rasional: mempertahankan PaO2 . . kulit kering dan kehilangan lemak. kuku. RENCANA KEPERAWATAN DAN RASIONAL 1. Rasional: mempertahankan suhu tubuh 5. DIAGNOSA KEPERAWATAN. Rasional: melihat adanya sianosis. Rasional: perubahan vital signs merupakan indikasi derajat keparahan dan status kesehatan umum.metabolik. 2. Rasional: mengetahui frekuensi napas 2. Observasi warna kulit. 4) Pola tidur dan istirahat sulit tidur. Rasional: memudahkan paru-paru berkembang saat ekspansi 4. Atur posisi tubuh semi ekstensi. 2) Pola eliminasi Perubahan karakteristik feses dan urine 3) Pola aktifitas – latihan.d imatur paru atau dinding dada dan difisiensi cairan surfaktan 1. Rasional: Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran. Ketidakefektifan pola napas b. 7.

Rasional: mencegah terjadinya kekurangan cairan. Rasional: mengtahui reflek hisap. Rasional: menambah pengetahauan keluarga. Rasional: Catatan intake dan output cairan penting untuk menentukan ketidakseimbangan cairan sebagai dasar untuk penggantian cairan.d reflek menghisap lemah 1. Rasional: mempertahankan kebutuhan cairan tubuh 3. Rasional: untuk mencegah kelebihan atau kekurangan cairan. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b. . Rasional: Peningkatan tingkat sodium dan potassium mengindikasikan terjadinya dehidrasi dan potensial ketidakseimbangan elektrolit. Rasional: mengetahui tanda dehidrasi 2. Minitor intake dan output cairan. Jelaskan kepada keluarga alasan pemberian oksigen dan tindakan lainnya. Rasional: asap rokok dpt memperburuk keadaan bayi. Berikan minum sesuai jadwal. Informasikan kepada keluarga untuk tidak merokok dlm ruangan. Berikan penjelasan kepada keluarga mengenai status gizi dan pentingnya untuk memenuhi kebutuhan gizi. Rasional: Hipoksemia dapat menjadi berat selama edema paru 5. Rasional: untuk menggantikan kalori yang tidak didapat oleh oral. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi. Beri minum sesuai jadwal. Pertahankan tetesan infus secara stabil. Lakukan pemeriksaan sodium dan potassium setiap 12 atau 24 jam. 4. Berikan cairan melalui IVFD. 5. 6. Kaji kesiapan bayi untuk minum. 4. 6. 3.d kehilangan cairan sensible dan insensibel 1. Kaji turgor kulit. Timbang berat badan. 2. Rasional: mengetahui status nutrisi. glukosa 10%. Rasional: menambah pengetahuan keluarga. Resiko kekurangan volume cairan b. 5. Kolaborasi pemantauan GDA. Rasional: memberikan nutrisi tambahan tambahan melalui oral 4.4. 6. Rasional: pemberian nutrisi dilakukan dengan perhitungan yang tepat. Pertahankan pemberian cairan IVFD. 3.

Tarwoto & Wartonah. Edisi 3. Suriadi & Rita. Resiko gangguan termoregulasi: hipotermi b. Jakarta: EGC. Penyakit Tropik Anak. 5. Atur suhu incubator. Pantau selalu suhu tubuh.H. Berikan pakaian yang hangat dan kering. . Rasional: menjaga bayi tetap hangat. Susilaningrum. REFERENSI Potter & Perry. (2005). Rampengan T. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak Untuk Perawat dan Bidan. N. Asuhan Keperawatan Pada Anak edisi 2. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Y. (2006). Jakarta: EGC. Jakarta: Salemba Medika. Rasional: memonitor perkembangan suhu tubuh bayi. Rasional: mencegah terjadinya hipotermi. Berikan penjelasan kepada keluarga tentang pentingnya memenuhi kebutuhan cairan bayi. 2. Jakarta: Salemba Medika. Jakarta: Penebar swadaya. (2005). 7. 3.d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit 1. (2007). Tempatkan bayi pada tempat yang hangat. H. 4. Rasional: menjaga kestabilan suhu tubuh. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Rasional: menambah pengetahuan keluarga.