You are on page 1of 20

BAB I

STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN : PEMERIKSA :

No. CM : 98-08-37 Nama : Fajri Rozi Kamaris

Tanggal : 07 Februari 2017 NPM : 1102012081

Nama : Tn. S

Umur : 65 tahun PEMBIMBING

Alamat : Samarang

Pekerjaan : Petani (dr. Elfi Hendriati, SpM)

ANAMNESA :

Keluhan Utama :

Terdapat selaput pada kedua bola mata sejak 2 bulan yang lalu.

Anamnesa Khusus :

Pasien pria berusia 65 tahun datang ke Poliklinik mata RSU dr. Slamet Garut dengan
keluhan selaput pada kedua mata sejak 2 bulan SMRS. Pasien mengaku keluhan dirasakan
mula mula muncul pada mata kiri seperti selaput bewarna putih berada pada ujung mata yang
mengarah dari bagian hidung kemudian menjalar ke bola mata bagian tengah dan semakin
lama semakin menebal dan menjadi seperti benjolan dan diikuti keluhan yang sama pada
mata kanan sejak 1,5 bulan yang lalu. Keluhan disertai mata merah apabila terkena sinar
matahari pada kedua mata semakin memberat sejak 1 minggu yang lalu dan keluhan
dirasakan berkurang jika beristirahat dirumah. Keluhan juga disertai penglihatan buram sejak
2 bulan lalu, dan tidak disertai penglihatan ganda dan seperti ada asap serta riwayat trauma
pada kedua mata disangkal oleh pasien. Pasien mengaku belum pernah mengobati keluhan
pada kedua bola mata. Pasien bekerja sebagai sehari sehari sebagai petani di kebun dan tidak
pernah menggunakan kacamata pelindung maupun topi sebagai pelindung ketika beraktivitas
diluar rumah.

Anamnesa Keluarga :

Pasien mengaku tidak terdapat anggota keluarga mengalami penyakit yang sama
seperti dialami oleh pasien. Riwayat diabetes dan hipertensi di keluarga juga disangkal
pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien tidak memiliki riwayat penyakit jantung, DM, Hipertensi dan riwayat operasi
1

sebelumnya. Pasien tidak pernah menggunakan kacamata sebelumnya. Riwayat trauma dan
terkena zat kimia pada mata disangkal oleh pasien.

Riwayat Sosial Ekonomi :

Pasien bekerja sebagai petani. Pasien saat ini tinggal bersama istri dan kedua anaknya.
Kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol disangkal. Pembiayaan pengobatan pasien
menggunakan BPJS.

Riwayat Gizi :

Pasien mengaku makan dengan frekuensi dua sampai tiga kali sehari. Sehari-hari
pasien makan dengan nasi menggunakan lauk ayam atau ikan, dan menggunakan sayur.

2

Status Oftalmologis Pemeriksaan Visus dan Refraksi Visus OD OS SC 0. - ADD . - POSISI BOLA MATA Ortotropia Ortotropia GERAKAN BOLA MATA Baik ke segala arah Baik ke segala arah Pemeriksaan Eksternal 3 .PEMERIKSAAN : 1. Status Generalis Keadaan umum: Sakit Sedang Kesadaran : Compos mentis Tanda vital: TD : 120/80 mmHg Suhu: 36. - KOREKSI . - STN .2 0C Nadi : 84 x/menit RR : 20 x/menit 2.1 0.2 CC .

stocker’s line (+) mm kornea. Bulbi Membran (+) berbentuk Membran (+) berbentuk segitiga melewati limbus segitiga melewati hingga pupil limbus hingga pupil Hiperemis Hiperemis Kornea Terdapat jaringan Terdapat jaringan fibrovaskular berbentuk fibrovaskular berbentuk segitiga mengenai > 4 mm segitiga mengenai > 4 kornea. Lakrimalis Tidak Ada Kelainan Tidak Ada Kelainan Konj. stocker’s line (+) COA Sedang Sedang Pupil Bulat. Tarsalis inferior Tenang Tenang Konj. sinekia (-) sinekia (-) Lensa Jernih Jernih 4 . Tarsalis superior Tenang Tenang Konj. Coklat. Kripta (+). lagoftalmus (-) Palpebra inferior Tenang Tenang Silia Tumbuh teratur Tumbuh teratur Ap. ditengah Bulat. isokoria. OD OS Palpebra superior Tenang. Kripta (+). lagoftalmus (-) Tenang. isokoria. ditengah Diameter pupil ± 3 mm ± 3 mm Reflex cahaya  Direct + +  Indirect + + Iris Coklat.

ditengah Bulat. Pemeriksaan Slit Lamp & Biomicroscopy OD OS Silia Tumbuh teratur Tumbuh teratur Konjungtiva Membran (+) berbentuk Membran (+) berbentuk segitiga melewati limbus segitiga melewati limbus hingga pupil hingga pupil Hiperemis Hiperemis Kornea Terdapat jaringan fibrovaskular Terdapat jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga mengenai berbentuk segitiga mengenai > 4 mm kornea. > 4 mm kornea. sinekia (-) Coklat.6 mmHg 5. Keluhan berawal pada mata kiri 5 .5 = 14. Kripta (+).5/5. sinekia (-) Lensa Jernih Jernih Pemeriksaan TIO OD OS Tonometri Schiotz 6/5. Slamet Garut dengan keluhan selaput pada kedua mata sejak 2 bulan SMRS. isokoria. Kripta (+).5 = 15. isokoria. stocker’s line (+) stocker’s line (+) COA Sedang Sedang Pupil Bulat.9 mmHg Palpasi Normal perpalpasi Normal perpalpasi Pemeriksaan Autorefraktometri OD OS Refraktometri Sulit dinilai Sulit dinilai RESUME : Pasien pria berusia 65 tahun datang ke Poliklinik mata RSU dr. ditengah Iris Coklat.

5 bulan yang lalu. Keluhan disertai mata merah apabila terkena sinar matahari pada kedua mata semakin memberat sejak 1 minggu yang lalu dan keluhan dirasakan berkurang jika beristirahat dirumah.2 Konjungtiva bulbi Hiperemis. stocker’s line (+) segitiga mengenai > 4 mm kornea.5/5.seperti selaput bewarna putih dari bagian hidung kemudian menjalar ke bola mata bagian tengah dan semakin lama semakin menebal dan menjadi seperti benjolan dan diikuti keluhan yang sama pada mata kanan sejak 1.Operasi eksisi Pterigium Occuli Sinistra + konjungtiva graft Occuli Sinistra  Edukasi 6 . stocker’s line (+) Tonometri 6/5. OD OS Visus 0. Membran + berbentuk Hiperemis. Pemeriksaan Histologi RENCANA TERAPI :  Medikamentosa  Cendo Xitrol ED 6 x gtt II ODS  Cefadroxil 500 mg 2 x tab I  Asam mefenamat 500 mg 3 x tab I  Non Medikamentosa . Keluhan juga disertai penglihatan buram sejak 2 bulan lalu.9 mmHg DIAGNOSIS KERJA : Pterigium Grade IV ODS RENCANA PEMERIKSAAN : .1 0. Membran + segitiga melewati limbus hingga berbentuk segitiga melewati pupil limbus hingga pupil Kornea Terdapat jaringan fibrovaskular Terdapat jaringan berbentuk segitiga mengenai > 4 fibrovaskular berbentuk mm kornea.6 mmHg 5.5 = 15. Pasien kebiasaan bekerja sebagai sehari sehari sebagai petani di kebun.5 = 14.

. Lindungi mata yang terkena pterigium dari sinar matahari. Prevalensi juga tinggi di daerah yang berdebu dan kering.2. Pterigium berasal dari bahasa Yunani. Penyakit ini biasanya terdapat pada pasien yang tinggal pada iklim tropis akibat paparan sinar ultraviolet menyebabkan kekeringan yang kronik pada mata. Peningkatan prevalensi pterigium antara orang di 7 . tetapi lebih banyak di daerah dengan iklim yang panas dan kering.2.1. Laki-laki mempunyai risiko empat kali lipat dibandingan dengan perempuan. Usia pasien tersering muncul pada dekade kedua dan ketiga dari kehidupan dengan insidensi tertinggi terjadi dalam rentang usia 20-49 tahun. debu dan udara kering dengan kacamata pelindung PROGNOSIS : Quo ad vitam : Ad bonam Quo ad functionam : Dubia Ad bonam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Definisi Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva bulbi yang dapat mencapai limbus hingga kornea bersifat degeneratif dan invasif.2 2.2. yaitu pteron yang artinya wing atau sayap. Pterigium 2. Epidemiologi Pterigium tersebar di seluruh dunia. Kejadian berulang lebih sering muncul pada usia muda. terlebih dengan riwayat paparan lingkungan di luar rumah yang lebih sering diakui oleh pasien laki- laki.1.4 Penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan variasi geografis dalam insiden.2. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke kornea berbentuk segitiga dengan pundak di bagian sentral atau di daerah kornea. dengan negara-negara yang lebih dekat dengan garis katulistiwa yang menunjukkan tingkat yang lebih tinggi terjadinya pterigium.

tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia. karena lebih sering terjadi pada orang yang tinggal di daerah beriklim panas. radang.7. Epitel dapat normal.2. sel-sel bermigrasi dan angiogenesis.2. Etiologi Etiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma.7 2. Pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva pada fisura interpalpebralis disebabkan oleh karena kelainan tear film bisa menimbulkan pertumbuhan fibroblastik baru merupakan salah satu teori.7 Faktor resiko yang mempengaruhi pterigium adalah lingkungan yakni radiasi UV matahari. Namun. Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. dan degenerasi. 3.7 b.. dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu. Patofisiologi Ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor suppressor gene pada limbal basal stem cell. daerah angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya.3. Faktor lain Iritasi kronik atau inflamasi yang terjadi pada area limbus atau perifer kornea merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya limbal defisiensi. daerah kering. Jaringan subkonjungtiva terjadi degenerasi elastic dan proliferasi jaringan granulasi vaskular di bawah epitelium yang akhirnya menembus kornea terdapat pada lapisan membran bowman oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular. dan faktor herediter. transforming growth factor-beta overproduksi dan menimbulkan kolagenase meningkat. waktu di luar ruangan.3. Faktor Genetik Berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga dengan pterigium. iritasi kronik dari bahan tertentu di udara.7 a.5 2. Tingginya insiden pterigium pada daerah dingin. dan virus papiloma juga diduga sebagai penyebab dari pterigium. Radiasi Ultraviolet Paparan sinar matahari.daerah khatulistiwa adalah akibat dari radiasi ultraviolet. inflamasi. Sinar ultraviolet diabsorbsi kornea dan konjungtiva mengakibatkan kerusakan sel dan proliferasi sel. dry eyes. sering dengan inflamasi ringan. dan saat ini merupakan teori baru patogenesis dari pterigium.3. Debu. 3.4. kelembaban yang rendah.8 8 .7 c. penggunaan kacamata dan topi mempengaruhi resiko terjadinya pterigium. Tanpa apoptosis.6. iklim kering mendukung teori ini. kemungkinan diturunkan secara autosomal dominan. maka gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap matahari (ultraviolet).

Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. β-catenin berperan penting dalam patogenesis pterigium. pertumbuhan banyak lebih baik pada media yang mengandung serum dengan konsentrasi rendah dibanding dengan fibroblas konjungtiva normal. Kemungkinan akibat sinar ultraviolet terjadi kerusakan stem cell di daerah interpalpebra.9 Pemisahan fibroblas dari jaringan pterigium menunjukkan perubahan fenotif. Berdasarkan perjalanan penyakit 9 . Hal ini menunjukkan pada pterigium terlibat pertumbuhan EPCs (Endothelial Progenitor Cells) dan hipoksia okular yang merupakan faktor pencetus neovaskularisasi dengan mengambil EPCs yang berasal dari sumsum tulang melalui produksi sitokin lokal dan sistemik. Lapisan fibroblas pada bagian pterigium menunjukkan proliferasi sel yang berlebihan.11 2.7. Pemisahan sel-sel epitel pterigium menunjukkan epitel dikelilingi sel-sel fibroblas yang aktif. mengubah bentuk dan fibroblas pterigium bereaksi terhadap TGF-β (transforming growth factor-β) berbeda dengan jaringan konjungtiva normal. TNF-α (tumor necrosis factor-α) dan IGF II. Klasifikasi Klasifikasi pterigium dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu: a. Sirkulasi CD 4+ MNCs dan c-kit+ MNCs meningkat pada pterigium dibanding dengan konjungtiva normal.10. Pada keadaan defisiensi limbal ada pertumbuhan konjungtiva ke kornea.8. Sitokin lokal dan sistemik. dan pertumbuhan jaringan fibrotik. Sel epitel meluas ke stroma pada α-SMA/ vimentin dan cytokeratin 14. Kesimpulannya bahwa epitel mesencymal transition terlibat dalam patogenesis pterigium. β-catenin meningkat pada pterigium dan PFC (pterigial fibroblast) dibandingkan pada konjungtiva normal.8 Secara histopatologi dengan menggunakan mikroskop elektron menunjukkan proliferasi fibrotik yang menyimpang di bawah epitel pterigium. VEGF (Vascular endothelial growth Factor) dan SCF (Stem Cell Factor) pada pterigium meningkat.9 Dengan menggunakan anterior segmen fluorescein agiografi ditemukan peningkatan area nonperfusi dan penambahan pembuluh darah di nasal limbus selama fase awal pterigium. Pada fibroblas pterigium menunjukkan matrix metalloproteinase. invasi ke stroma kornea dan terjadi fibrovaskular dan inflamasi. penumpukan β-catenin di intranuklear dan limphoid factor-1 meningkat pada epitel pterigium.8. SP (substance P). vaskularisasi. di mana matrix tersebut adalah matrix ekstraseluler yang berfungsi untuk jaringan yang rusak. kerusakan membran basement. Tanda ini juga ditemukan pada pterigium dan karena itu banyak penelitian menunjukkan bahwa perigium merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi localized interpalpebral limbal stem cell.5. penyenbuhan luka. Hal ini menjelaskan bahwa pterigium cenderung terus tumbuh.2. dengan epitel meluas ke stroma. inflamasi kronis. karakteristik dari E-cadherin. bFGF (basic fibroblast growth factor) yang berlebihan. berhubungan dengan CD 34+ dan C kit+ MNC.

 Pseudopterigium : disebabkan oleh terbentuknya suatu pita yang apexnya menempel pada kornea terbentuk oleh suatu proses inflamasi akut seperti luka bakar kimia. opaque): pembuluh darah tidak jelas 2. sedikit vaskular. T2 (intermediate): pembuluh darah episkleral sebagian terlihat 3). dan trauma 10 . T1 (atrofi): pembuluh darah episkleral jelas terlihat 2). Berdasarkan luas pterigium 1). Regresif pterigium: tipis. Progresif pterigium: tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari pterigium) 2). T3 (fleshy. ulkus kornea (marginal). 1). atrofi. Derajat II : jika sudah melewati limbus tetapi tidak melebihi dari 2 mm melewati kornea 3). Derajat I : jika hanya terbatas pada limbus kornea 2). Berdasarkan pemeriksaan pembuluh darah dengan slitlamp 1).2. Derajat III : jika telah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggir pupil mata dalam keadaan cahaya (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4 mm) 4).6. Manifestasi klinik Tanda :  Biasanya penyakit ini bersifat asimptomatik  Iritasi dan rasa seperti ada butiran karena efek dellen  Gangguan kosmetika  Inflamasi yang bersifat intermitten  Mengganggu axis dari penglihatan dan dapat menyebabkan astigma Gejala :  Tipe I : meluas kurang dari 2mm hingga ke kornea  Tipe II : meluas hingga 4mm ke kornea  Tipe III : meluas lebih dari 4mm dan mengganggu axis penglihatan. Derajat IV : jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan8 c. b. Akhirnya menjadi bentuk membran tetapi tidak pernah hilang.

Riwayat pekerjaan juga sangat perlu ditanyakan untuk mengetahui kecenderungan pasien terpapar sinar matahari.1.7.2. pterygium Selaingejala berdasarkan sebagai tipedata I.3 Pterigium umumnya asimptomatis atau akan memberikan keluhan berupa mata sering berair dan tampak merah dan mungkin menimbulkan astigmatisma yang memberikan keluhan gangguan penglihatan. gatal.2. Pterigium lebih sering pada kelompok usia 20-30 tahun dan jenis kelamin laki-laki.1 Gambar sangat perlu untuk gambaran ditanyakan.3 Pemeriksaan Fisik 11 . Biasanya penderita mengeluhkan adanya sesuatu yang tumbuh di kornea dan khawatir akan adanya keganasan atau alasan kosmetik. Keluhan subjektif dapat berupa rasa panas. Diagnosa Anamnesis Identitas pasien2. administrasi dan data awal pasien. Pada kasus berat dapat menimbulkan diplopia. tipe IIItertentu juga sangat perlu dan Pseudopterigium untuk akibat lukamengetahui bakar faktor resiko pterigium. ada yang mengganjal. identitas tipe II.

Tajam penglihatan dapat normal atau menurun.5. Pterigium dibagi menjadi tiga bagian yaitu: body. Kira-kira 90% pterigium terletak di daerah nasal. dan bagian belakang disebut cap. Subepitelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan membentuk batas pinggir pterigium.Tidak ada Tidak ada (tidak ada pulau Funchs head. Bagian segitiga yang meninggu pada pterigium dengan dasarnya ke arah limbus disebut body. apex (head). Perluasan pterigium dapat sampai medial dan lateral limbus sehingga menutupi visual axis. Deposit besi dapat dijumpai pada bagian epitel kornea anterior dari kepala pterigium (stoker’s line). menyebabkan penglihatan kabur. body) (bercak kelabu) Histopatologi Epitel ireguler Degenerasi Perlengketan dan degenerasi hialin jaringan 12 . Gangguan penglihatan terjadi ketika pterigium mencapai pupil atau menyebabkan kornea astigmatisme pada tahap regresif. cap. Pterigium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fisura interpalpebralis. bagian atasnya disebut apex.3.7 Pembeda Pterigium Pinguekula Pseudopterigium Definisi Jaringan Benjolan pada Perlengketan fibrovaskular konjungtiva konjungtiba bulbi konjungtiva bulbi dengan kornea yang bulbi berbentuk cacat segitiga Warna Putih Putih-kuning Putih kekuningan kekuningan keabu-abuan Letak Celah kelopak Celah kelopak Pada daerah bagian nasal mata terutama konjungtiva yang atau temporal bagian nasal terdekat dengan yang meluas ke proses kornea arah kornea sebelumnya ♂:♀ ♂>♀ ♂=♀ ♂=♀ Progresif Sedang Tidak Tidak Reaksi Tidak ada Tidak ada Ada kerusakan permukaan kornea sebelumnya Pembuluh Lebih menonjol Menonjol Normal darah konjungtiva Sonde Tidak dapat Tidak dapat Dapat diselipkan di diselipkan diselipkan bawah lesi karena tidak melekat pada limbus Puncak Ada pulau.1. dan cap.

dkk. hialin dalam submukosa stromanya konjungtiva Tabel 1.8 Lebih dari setengah pasien yang dioperasi pterigium dengan teknik simple surgical removal akan mengalami rekuren. Konjungtiva normal ini biasaya akan sembuh normal dan tidak memiliki kecenderungan unuk menyebabkan pterigium rekuren. Lindungi mata yang terkena pterigium dari sinar matahari. kauter sering digunakan untuk mengontrol perdarahan.Jakarta:Widya Medika.. mengupayakan komplikasi seminimal mungkin.2. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan. Diagnosis banding pterigium (dikutip dari Vaughan. debu dan udara kering dengan kacamata pelindung. namun tidak perlu memisahkan jaringan tenon secara berlebihan di daerah medial. Oftalmologi Umum. terutama pada pasien yang masih muda. sedangkan tindakan bedah dilakukan pada pterygium yang melebihi derajat 2. angka kekambuhan yang rendah. 2 Indikasi untuk eksisi pterigium adalah ketidaknyamanan yang menetap termasuk gangguan penglihatan. Edisi 14.8. Jakarta: Sagung Seto) 2. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang rekuren.2000. Sidarta Ilyas. Tatalaksana Prinsip penanganan pterigium dibagi 2.6. Dimana pterigium yang dibuang digantikan dengan konjungtiva normal yang belum terpapar sinar UV (misalnya konjungtiva yang secara normal berada di belakang kelopak mata atas). Suatu teknik yang dapat menurunkan tingkat rekurensi hingga 5% adalah conjunctival autograft (Gambar 4). Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara kosmetik.111. Pengobatan tidak diperlukan karena bersifat rekuren. Daniel G. mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat.12 Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium. Riordan Eva-Paul. Teknik bedah yang sering digunakan untuk mengangkat pterigium adalah dengan menggunakan pisau yang datar untuk mendiseksi pterigium ke arah limbus. pertumbuhan yang progresif menuju tengah kornea atau visual axis dan adanya gangguan pergerakan bola mata. Ilmu Penyakit Mata edisi ke-2. Setelah dieksisi. 2002. Walaupun memisahkan pterigium dengan bare sclera ke arah bawah pada limbus lebih disukai. Bila pterigium meradang dapat diberikan steroid serta obat tetes airmata buatan. yaitu cukup dengan pemberian obat-obatan jika pterygium masih derajat 1 dan 2. Asbury Taylor. ukuran pterigium >3-4 mm.hal 5-6. Eksisi pterigium bertujuan untuk mencapai keadaan normal yaitu gambaran permukaan bola mata yang licin. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus 13 . karena kadang-kadang dapat timbul perdarahan oleh karena trauma tidak disengaja di daerah jaringan otot. Tindakan bedah juga dipertimbangkan pada pterigium derajat 1 atau 2 yang telah mengalami gangguan penglihatan.10 Indikasi Operasi pterigium 1.

diantara 2.5 persen untuk kekambuhan pterygia. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil 3. dan dijahit di atas sclera yang telah di eksisi pterygium tersebut. Teknik Bare Sclera Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium. biasanya dari konjungtiva bulbar superotemporal. sementara memungkinkan sclera untuk epitelisasi. Prosedur ini melibatkan pengambilan autograft. Sebuah keuntungan dari teknik ini selama autograft konjungtiva adalah pelestarian bulbar konjungtiva. sebagian besar peneliti telah menyatakan bahwa itu adalah membran amnion berisi faktor penting untuk menghambat peradangan dan fibrosis dan epithelialisai. Tingkat kekambuhan tinggi. Lemfibrin juga telah digunakan dalam autografts konjungtiva. Meskipun keuntungkan dari penggunaan membran amnion ini belum teridentifikasi.1 2.6 Teknik Pembedahan Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah kekambuhan. 2. Terlepas dari teknik yang digunakan. antara 24 persen dan 89 persen.1 Terapi Tambahan 14 .1 1. dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma menghadap ke bawah. tingkat kekambuhan sangat beragam pada studi yang ada. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah. Cangkok Membran Amnion Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan pterigium. terutama untuk penderita wanita. Hirst. eksisi pterigium adalah langkah pertama untuk perbaikan. berair dan silau karena astigmatismus 4.1 3. LawrenceW. Banyak dokter mata lebih memilih untuk memisahkan ujung pterigium dari kornea yang mendasarinya. MBBS. Komplikasi jarang terjadi. manipulasi minimal jaringan dan orientasi akurat dari grafttersebut. jaringan parut yang minimal dan halus dari permukaan kornea. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan lem fibrin untuk membantu cangkok membran amnion menempel jaringan episcleral dibawahnya. Sayangnya. Keuntungan termasuk epithelisasi yang lebih cepat. Kosmetik.7 persen untuk pterygia primer dan setinggi 37. Banyak teknik bedah telah digunakan. dan untuk hasil yang optimal ditekankan pentingnya pembedahan secara hati-hati jaringan Tenon's dari graft konjungtiva dan penerima. dari Australia merekomendasikan menggunakan sayatan besar untuk eksisi pterygium dan telah dilaporkan angka kekambuhan sangat rendah dengan teknik ini. Teknik Autograft Konjungtiva Memiliki tingkat kekambuhan dilaporkan serendah 2 persen dan setinggi 40 persen pada beberapa studi prospektif. telah didokumentasikan dalam berbagai laporan. dibuktikan dengan pertumbuhan fibrovascular di limbus ke kornea. Membran Amnion biasanya ditempatkan di atas sklera .6 persen dan 10. meskipun tidak ada yang diterima secara universal karena tingkat kekambuhan yang variabel.

efek buruk dari radiasi termasuk nekrosis scleral .1% : 4x1 tetes/hari kemudian tappering off sampai 6minggu. Dua bentuk MMC saat ini digunakan: aplikasi intraoperative MMC langsung ke sclera setelah eksisi pterygium. endophthalmitis dan pembentukan katarak. Tingkat kekambuhan tinggi yang terkait dengan operasi terus menjadi masalah. dikombinasikan dengan pemberian: 1. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan MMC hanya intraoperatif untuk mengurangi toksisitas.1 Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi. dan ini telah mendorong dokter untuk tidak merekomendasikan terhadap penggunaannya.04% (o. 4. Sinar Beta.6 15 . Efeknya mirip dengan iradiasi beta. bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0. karena menghambat mitosis pada sel-sel dengan cepat dari pterygium. dosis minimal yang aman dan efektif belum ditentukan.1 MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena kemampuannya untuk menghambat fibroblas. dan terapi medis demikian terapi tambahan telah dimasukkan ke dalam pengelolaan pterygia. 3.1 Beta iradiasi juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan.4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari. dan penggunaan obat tetes mata MMC topikal setelah operasi. namun ada komplikasi dari terapi tersebut. dan steroidselama 1 minggu. Namun. diberikan bersamaan dengan salep mata dexamethasone. meskipun tidak ada data yang jelas dari angka kekambuhan yang tersedia. diberikan bersamaan dengan salep antibiotik Chloramphenicol. Namun. Mitomycin C 0.02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5 hari. Studi telah menunjukkan bahwa tingkat rekurensi telah jatuh cukup dengan penambahan terapi ini. 2. Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1 tetes/ 3 jam selama 6minggu. Mitomycin C 0.

Pterygium removed. (d). (b). diplopia. vitreous hemorrhage atau retinal detachment  Penggunaan mytomicin C post dapat menyebabkan ectasia atau melting pada sklera dan kornea  Komplikasi yang terbanyak pada eksisi pterigium adalah rekuren pterigium post operasi. Rasa tidak nyaman pada hari pertama postoperasi dapat ditoleransi. scar pada rektus medial dapat menyebabkan diplopia. distorsi dan penglihatan sentral berkurang.11.Graft outlined. Komplikasi Pterigium dapat menyebabkan komplikasi seperti scar (jaringan parut) pada konjungtiva dan kornea.11 16 . conjungtiva graft longgar. kebanyakan pasien setelah 24 jam postop dapat beraktivitas kembali. yaitu:  Infeksi. Dapat dikurangi dengan teknik conjungtiva autograft atau amnion graft.baysideeyes. (e).com. scar kornea.9.12 Komplikasi post eksisi pterigium. Prosedur Conjunctiva Autograft.Leaving bare area.2. (a).11 2.au diakses 10 Februari 2017) 2.Graft sutured into place (diambil dari www.2. (c).  Komplikasi yang jarang adalah malignant degenerasi pada jaringan epitel di atas pterigium. Pasien dengan rekuren pterigium dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan autograft atau transplantasi membran amnion.10. Gambar 4. Prognosis Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. dan komplikasi yang jarang termasuk perforasi bola mata.Pterygium. reaksi benang. Simple eksisi mempunyai tingkat rekuren yang tinggi kira-kira 50-80 %.

Slamet Garut dengan keluhan selaput pada kedua mata sejak 2 bulan SMRS.1 0. Keluhan juga disertai penglihatan buram sejak 2 bulan lalu. Pemeriksaan Oftalmologi OD OS Visus 0. Pasien kebiasaan bekerja sebagai sehari sehari sebagai petani di kebun. Keluhan disertai mata merah apabila terkena sinar matahari pada kedua mata semakin memberat sejak 1 minggu yang lalu dan keluhan dirasakan berkurang jika beristirahat dirumah.2 17 . BAB III PEMBAHASAN Pembahasan di dalam kasus ini antara lain: 1 Mengapa pada pasien ini didiagnosa sebagai pasien dengan pterigium grade IV? 2 Bagaimana penatalaksanaan pada pasien ini? 3 Bagaimana prognosis pada pasien ini? 1 Mengapa pada pasien ini didiagnosa sebagai pasien pterigium grade IV? Anamnesis : Pasien pria berusia 65 tahun datang ke Poliklinik mata RSU dr. Keluhan berawal pada mata kiri seperti selaput bewarna putih dari bagian hidung kemudian menjalar ke bola mata bagian tengah dan semakin lama semakin menebal dan menjadi seperti benjolan dan diikuti keluhan yang sama pada mata kanan sejak 1.5 bulan yang lalu.

Cefadroxil 500mg 2 x tab I Cefadroxil merupakan golongan antibiotik Cefalosporin generasi I.5 = 15.6 mmHg 5. iridosiklitis. Bagaimanakah penatalaksanaan pada pasien ini? Untuk penatalaksanaan pada pasien dengan diagnosis pterigium grade IV dapat dilakukan dengan 2 cara. Neomisina 3. ditengah Iris Coklat. Kortikosteroid mempunyai efek antiinflamasi atau menekan peradangan. Staphylococcus aureus (termasuk penghasil enzim penisilinase). Cendo xitrol tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipersensitivitas dari salah satu komponen obat. isokoria. Escherichia coli. infeksi mata yang disebabkan jamur atau virus. Proteus mirabilis.5/5. Cendo Xitrol adalah obat tetes mata yang mengandung kombinasi obat kortikosteroid (Dexametason) dan antibiotik (Neomisin dan Polimisin). pasien tuberkulosis mata. Mempunyai indikasi sebagai pencegahan infeksi setelah operasi mata.9 mmHg 1. obat antiradang permukaan kornea atau keratitis superfisialis. Moraxella 18 .5 mg dan Polimiksin 6000 IU.Asam Mefenamat 500mg 3 x tab I Cendo Xitrol Eye Drop 6 x gtt II OD Komposisi: Tiap 1 ml Cendo Xitrol Eye Drops mengandung Deksametason 0. Membran + berbentuk Hiperemis. yaitu: a Medikamentosa . isokoria. Cefadroxil bersifat bakterisid dengan jalan menghambat sintesa dinding sel bakteri.Konjungtiva bulbi Hiperemis. ditengah Bulat. Cefadroxil termasuk dalam antibiotik spektrum luas. Kripta (+) Coklat. Membran + segitiga melewati limbus hingga berbentuk segitiga melewati pupil limbus hingga pupil Kornea Terdapat jaringan fibrovaskular Terdapat jaringan berbentuk segitiga mengenai > 4 fibrovaskular berbentuk mm kornea.Cendo Xitrol ED 6 x gtt II OD . blefaritis dan lain-lain. stocker’s line (+) segitiga mengenai > 4 mm kornea. Cefadroxil aktif terhadap Streptococcus beta-hemolytic. Klebsiella sp.Cefadroxil 500 mg 2 x tab I . skleritis.5 = 14. stocker’s line (+) COA Sulit dinilai Sedang Pupil Bulat. kripta + Lensa Jernih Jernih Tonometri 6/5.1%. Sedangkan Neomisin dan Polimisin mempunyai efek antibakterial. Streptococcus pneumoniae.

dan gejala kolitis pseudomembran. diare. Chandra DW et al. reaksi hipersensitifnseperti ruam kulit. 2. 3.l.catarrhalis. Quo ad functionam : dubia ad bonam Quo ad functionam adalah dubia ad bonam karena setelah dilakukan operasi eksisi pterigium pasien mengalami perbaikan tajam penglihatan. 2008. dan tepi dari konjungtiva yang terbuka dijahit bersama-sama. Fungsi organ penglihatan terutama kornea tidak seperti orang normal yang jernih dikarenakan kemungkinan terjadi sikatriks kornea pasca operasi eksisi. Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. 2. Dilakukan simple closure dikarenakan lapang konjungtiva yang terlihat tidak memungkinkan untuk dijadikan transplantasi akibat pasien yang sulit untuk membuka mata dengan lebar sehingga autograft conjunctiva tidak dapat dilaksanakan. b Pembedahan . seperti mual. gatal-gatal dan reaksi anafilaksis.: Elsevier. Obat ini diberikan bersamaan saat makan. Kanski JJ. Asam mefenamat 500mg 3x tab I Komposisi : NSAID Indikasi: Inflamasi pasca operasi segala kondisi. Bagaimanakah prognosis pada pasien ini? Quo ad vitam : ad bonam Quo ad Vitam adalah ad bonam karena pada pasien tidak ditemukannya penyakit mata lain maupun penyakit sistemik yang menyertai keluhan pasien dan pasien masih dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa. mencegah inflamasi bernanah. muntah. Kanski's clinical ophthalmology: a systematic approach. 2016. Sidarta Ilyas. DAFTAR PUSTAKA 1. Effectiveness of subconjunctival mitomycin-C compared with 19 . Efek samping yang akan muncul diantaranya gangguan saluran pencernaan. Eksisi dilakukan sampai batas limbus. Jakarta: FK UI. Eksisi pterigium dan Simple Closure Eksisi dilakukan guna menghilangkan jaringan fibrovaskular yang menutupi kornea sehingga penglihatan terganggu. s. Bowling B.

6.nih. D Gondhowiardjo Tjahjono.2000. Singapore. 2009. Oftalmologi Umum. Jakarta: Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. Jakarta. Jerome P Fisher.com/article/1192527-followup 12.au/eye- specialists/pterygium. 2007-2008. 2007. Riordan Eva-Paul.htm 20 . Buku Pedoman Kesehatan Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas. Pterygium: Panduan Manajemen Klinis Perdami. 1984. 2002. Basic and Clinical Science Course section 8 External Disease and Cornea.gov/pmc/articles/PMC1771435/ 5. Farook M. Asbury Taylor. Wijaya D.nlm. New Age International Limited Publisher. CV Ondo. Volume 39. p: 344&405 8. K. Hamurwono GD..Jakarta:Widya Medika. 7. subconjunctival triamcinolon acetonide on the recurrence of progresive primary pterygium which underwent Mc Reynolds method. 10. New Delhi. Koh D. 4. Khurana A. severity and risk factors. Edisi 14.Saunders Elsevier. p: 56-58 11. Pterygium. 2005. Vaughan. Berkala llmu Kedokteran. Chapter 20. available at: http://emedicine. No. Soekraningsih. 86(12): 1341–1346.2.baysideeyes. Pterygium in Indonesia: prevalence.hal 5-6.medscape. Pterygium clinical Ophtalmology – An Asian Perspective. 2006. Fourth Edition. Avaiable at: http://www. p:207-214. British Journal of Ophthalmology. Gazzard G. 4. American Academy of Ophtalmology. 9.ncbi. Daniel G. Saw S-M. Simanjuntak WS Gilbert. Chapter 3. et all. Desember 2007: 186-19. Pterygium and Pingueculum available at: http://www.com. Nainggolan SH. Community Ophtalmology in Comprehensive Ophtalmologu. T H Tan Donald et all.