UNMET NEED KB IUD PASCA PERSALINAN

I PENDAHULUAN

Masalah kesakitan dan kematian Ibu di Indonesia masih merupakan masalah
besar di negara ini. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
2007, angka kematian Ibu di Indonesia menunjukkan 248 per 100.000 kelahiran
hidup. Angka ini masih perlu diturunkan lagi jika melihat angka target Millenium
Development Goals (MDG’s) tahun 2015, yaitu 102 per 100.000 kelahiran hidup.1
Salah satu program untuk menurunkan Angka Kematian Ibu adalah program
Keluarga Berencana. Program Keluarga Berencana berperan dalam menurunkan
angka kematian Ibu melalui upaya pencegahan kehamilan, penundaan usia kehamilan,
dan menjarangkan kehamilan. Pemberian konseling Keluarga Berencana dan metode
kontrasepsi selama masa pasca persalinan dapat meningkatkan kesadaran Ibu untuk
menggunakan kontrasepsi. Hal ini dikarenakan pada sebagian wanita setelah
melahirkan biasanya tidak menginginkan kehamilan atau menunda kehamilan sampai
2 tahun setelah melahirkan tetapi mereka tidak menggunakan kontrasepsi (unmet
need). Unmet need adalah tidak terpenuhinya pemakaian kontrasepsi pada wanita
yang ingin mengakhiri atau menunda kehamilan sampai 24 bulan.1
Selama tahun 2000-2007, unmet need untuk kontrasepsi berkisar 13% untuk
regio Asia Tenggara dan 24% untuk Afrika. Sedangkan untuk Indonesia, berdasarkan
SDKI 2007, angka unmet need Indonesia meningkat dari 8,6% (SDKI 2002/2003)
menjadi 9,1%. Berdasarkan Riskesdas 2007, provinsi Sumatera Barat merupakan
salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai angka unmet need yang tinggi
yakni mencapai 11,2% dan pada tahun 2010 unmet need di provinsi Sumatera Barat
berada diatas standar nasional yaitu mencapai 12,4%.1

Adapun salah satu alat kontrasepsi yang termasuk dalam KB pasca-partum
adalah alat kontrasepsi yang dapat langsung dipasang pada saat 10 menit setelah
plasenta dilahirkan, yaitu IUD (Intra Uterine Device). Pemasangan alat kontrasepsi

1

ini setelah plasenta dilahirkan dirasakan menguntungkan untuk beberapa alasan
tertentu, seperti pada masa ini wanita tersebut tidak ingin hamil dan motivasinya
untuk memasang alat kontrasepsi masih tinggi. IUD ini dapat digunakan bertahun-
tahun dan ini akan menghemat biaya apalagi jika pemasangan dapat langsung
dilakukan di fasilitas kesehatan tempat Ibu melahirkan.1,2
Pemasangan IUDpost-placenta dan segera pasca persalinan direkomendasikan
karena pada masa ini serviks masih terbuka dan lunak sehingga memudahkan
pemasangan IUD dan kurang nyeri bila dibandingkan pemasangan setelah 48 jam
pasca persalinan. Insersi IUD post-placenta memiliki angka ekspulsi rata-rata 13-
16%, dan dapat hingga 9-12,5% jika dipasang oleh tenaga terlatih. Angka ekspulsi ini
lebih rendah bila dibandingkan dengan waktu pemasangan pada masa segera pasca-
persalinan (immediate postpartum), yaitu 28-37%.3 Sayangnya, pemasangan
IUDpost-placenta belum terlalu banyak digunakan karena masih kurangnya
sosialisasi mengenai hal ini dan masih adanya ketakutan pada calon akseptor
mengenai terjadinya komplikasi seperti perforasi uterus, infeksi, perdarahan, dan
nyeri.4 Padahal pemasangan pada masa ini aman, memiliki risiko kecil untuk infeksi,
sedikit perdarahan, dan angka perforasi yang rendah. Angka kehamilan yang tidak
direncanakan (unplanned pregnancy) pada pemasangan alat kontrasepsi pada masa ini
adalah 2-2,8 per 100 pemakai selama 24 bulan pemasangan IUD Copper modern.5
II UNMET NEED

Unmet Need KB didefinisikan sebagai persentase wanita kawin yang tidak
ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak
memakai alat atau cara kontrasepsi.6
Menurut Westoff unmet need adalah sebagai proporsi wanita kawin yang

dilaporkan mempunyai seluruh anak yang diinginkan maupun tidak diinginkan akan

tetapi tidak menggunakan kontrasepsi, walaupun mereka tidak terlindungi dari risiko

kehamilan. Sedangkan De Graff dan De Silva, berdasar pada konsep Westoff,

2

4 Wanita yang sedang hamil dan terjadinya kehamilan tersebut tidak sesuai dengan waktu yang dikehendaki dan sebelum hamil tidak menggunakan alat kontrasepsi. Unmet Need didefenisikan sebagai kelompok yang sebenarnya sudah tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kehamilannya sampai dengan 2 tahun namun tidak menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilannya.7 Unmet Need KB dapat dikategorikan dalam beberapa kategori sebagai berikut :6 1 Wanita kawin usia subur dan tidak hamil. dan kontrasepsi mantap untuk dirinya atau untuk suaminya. menyatakan tidak ingin punya anak lagi dan tidak memakai alat kontrasepsi seperti IUD. menguraikan timbulnya Unmet Need ketika wanita tidak menggunakan kontrasepsi. PIL. 2 Wanita kawin usia subur dan tidak hamil. suntik. 3 Wanita yang sedang hamil dan kehamilan tersebut tidak dikehendaki lagi serta pada waktu sebelum hamil tidak menggunakan alat kontrasepsi. menyatakan ingin menunda kehamilan berikutnya. Obat Vaginal.8 1 Umur 3 . sanggup memahami secara fisiologi yaitu tidak terlindungi dari risiko kehamilan. III FAKTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI Unmet Need 6. Implant.7. dan tidak menggunakan alat kontrasepsi sebagaimana tersebut di atas.

tetapi tidak berhubungan untuk penjarangan atau penundaan kelahiran.7 2 Pendidikan Variabel latar belakang pendidikan responden merupakan variabel yang sejak lama diteliti dan dianggap berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya Unmet Need KB. yaitu kebutuhan KB rendah pada umur muda dan tua. maka semakin rendah persentase terjadinya Unmet 4 . dan juga di Indonesia oleh Prihastuti dan Djutaharta (2004) yang menemukan bahwa kemungkinan terjadinya Unmet Need KB cenderung menurun seiring meningkatnya umur responden wanita. Dengan demikian hubungan antara umur dan kebutuhan KB berbentuk seperti huruf U terbalik.et all (1997) pada penelitian terhadap data Survei Demografi dan Kesehatan di Kyrgistan menemukan bahwa umur berhubungan dengan terjadinya Unmet Need KB untuk pembatasan kelahiran. Ahmadi dan Iranmahboob (2005) di Iran. seperti yang dilakukan oleh Westoff dan Bankole (1995) yang menemukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan ibu. Hasil penelitian Westoff dan Bankole (1995) menunjukkan adanya penurunan kebutuhan terhadap KB untuk menjarangkan kelahiran setelah mencapai usia 30 tahun dan kebutuhan KB untuk membatasi kelahiran mencapai puncaknya pada usia 35-44 tahun. Umur ditemukan signifikan pada penelitian yang dilakukan oleh Kaushik (1999) di India. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel latar belakang pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian Unmet Need KB. Weinstein Kl.6. namun kebutuhan ini tinggi pada kelompok umur paling produktif.

pendidikan memberikan pemahaman yang lebih baik bagi wanita secara psikologis dan fisiologis dalam menggunakan alat/cara KB tertentu dan akan mengurangi kemungkinan terjadinya Unmet Need KB.dengan demikian. sementara wanita yang tidak berpendidikan cenderung tidak memiliki motivasi untuk membatasi fertilitasnya. et. sehingga mereka bisa lebih mengerti mengenai alat/cara KB tertentu beserta pengaruhnya pada kesehatan.al terhadap data Survei Demografi dan Kesehatan di Nepal menemukan bahwa kejadian Unmet Need KB justru ditemukan pada responden wanita yang memiliki pendidikan tinggi karena wanita yang berpendidikan akan lebih mengerti dan menyatakan kebutuhannya terhadap alat kontrasepsi untuk memenuhi preferensi fertilitasnya. Orang yang memiliki pendidikan juga cenderung lebih mengerti tentang urgensi pembatasan kelahiran dan pembentukan keluarga yang berkualitas. Jadi. Sehingga apabila akses terhadap alat KB di tempat tersebut masih buruk.Need KB. sehingga dapat lebih menghindari kemungkinan terjadinya Unmet Need KB. Tetapi penelitian oleh Aryal. Pendidikan bisa mempengaruhi kondisi Unmet Need KB karena orang berpendidikan akan memiliki pengetahuan yang lebih tentang permasalahan kesehatan. termasuk kesehatan reproduksi.6 3 Pernah-tidaknya pakai KB 5 . peluang wanita yang berpendidikan untuk mengalami status Unmet Need KB akan lebih besar. sehingga akan mempengaruhi preferensi fertilitas mereka pada tingkat yang lebih rendah dan secara otomatis menciptakan permintaan terhadap alat/cara KB tertentu. serta manfaatnya bagi pembangunan. mereka bisa menentukan alat/cara KB yang ingin digunakan dalam ber-KB.

ditemukan hubungan yang signifikan antara Unmet Need KB dan status bekerja dari wanita. Westoff (2006) juga menentukan besarnya angka persentase kejadian Unmet Need KB pada orang yang belum pernah menggunakan KB dan orang yang tidak berniat untuk menggunakan KB di masa depan. sehingga hal ini akan semakin mengurangi peluang terjadinya Unmet Need KB. Pada penelitian yang dilakukan oleh Prihastuti dan Djutaharta (2004) terhadap data SDKI tahun 2002-2003 ditemukan secara signifikan bahwa kejadian Unmet Need KB lebih cenderung terjadi pada wanita yang belum pernah menggunakan KB sama sekali daripada wanita yang sudah pernah atau masih menggunakan KB.6 4 Pekerjaan Wanita Pada penelitian yang dilakukan oleh Prihastuti dan Djutaharta yang diterbitkan oleh Litbang BKKBN tahun 2004. sehingga menyebabkan mereka memberi perhatian lebih terhadap pemakaian alat/cara KB 6 . Hal ini terjadi karena wanita yang bekerja akan lebih memiliki kepentingan untuk membatasi dan mengatur kehamilan atau kelahiran yang dia inginkan karena hal ini akan mempengaruhi karier dan pekerjaan mereka. dimana di daerah perkotaan wanita yang bekerja memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mengalami kejadian Unmet Need KB. Pengalaman menggunakan KB akan membuat wanita lebih mengerti dan dapat menentukan tindakan yang tepat bagi dirinya dalam mengatasi permasalahan kesehatan reproduksi dan untuk memenuhi keinginanya dalam preferensi fertilitas.

8 7 . Ketika pendapatan seseorang naik.6 5 Status Ekonomi Dalam penelitian yang dilakukan oleh Prihastuti dan Djutaharta di Indonesia tahun 2004 juga diperoleh kesimpulan bahwa responden yang berada ditingkat kesejahteraan menengah hingga teratas memiliki kemungkinan lebih kecil mengalami kejadian Unmet Need KB dibandingkan mereka yang hidup pada tingkat menengah kebawah dan terbawah. terjadi peningkatan kejadian Unmet Need KB. seperti Latvia. Klizjing juga menyatakan bahwa kejadian Unmet Need KB berhubungan dengan faktor ekonomi karena di Negara-Negara yang mengalami transisi dan pergolakan ekonomi. Variabel yang sejenis dan lebih sering digunakan untuk melihat hubungannya dengan kejadian Unmet Need KB adalah variabel pendapatan atau penghasilan yang memiliki fungsi sama.tertentu yang selanjutnya dapat memperkecil kemungkinan kejadian Unmet Need KB.6. Lithuania dan Bulgaria. maka daya belinya juga akan naik dan kesejahteraannya secara otomatis juga akan naik.7. yaitu untuk melihat kesejahteraan dan daya beli yang dimiliki oleh responden. sehingga tingkat Unmet Need KB yang terjadi di Negara tersebut lebih tinggi dibandingkan Negara-Negara Eropa lainnya yang tidak mengalami pergolakan ekonomi. Penelitian yang dilakukan Hamid pada tahun 2002 menemukan bahwa pendapatan akan berbanding terbalik dengan peluang status Unmet Need KB.

juga tidak akan dijadikan prioritas yang penting dalam pola konsumsi yang dijalankannya. dan daya beli yang rendah akan lebih mungkin bagi mereka mengalami kejadian Unmet Need KB karena mereka hanya akan menjadikan kebutuhan mereka terhadap alat KB sebagai prioritas kesekian untuk dipenuhi dengan keterbatasan anggaran konsumsi yang dimiliki. Sehingga bagi rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan. Dalam sebuah rumah tangga. sehingga ruang geraknya tidak lagi terbatas pada urusan rumah tangga.8 8 . terutama barang bukan makanan. tetapi juga untuk aktualisasi diri.6 6 Dukungan suami Pada masa sekarang seorang wanita berkarier sudah merupakan suatu hal yang biasa. karena terlalu banyak yang masih harus dikerjakan sementara dirinya juga merasa lelah sesudah bekerja. sebagai prioritas terakhir. Seorang wanita ingin lebih maju. sesuai dengan tuntutan jaman.6. pendapatan. Kurangnya dukungan suami membuat peran karier tidak optimal. Wanita berkarier tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. rumah tangga akan menjadi kebutuhan sekunder dan tersier. pendapatan yang mereka miliki akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan yang paling primer yaitu makanan. tetapi mulai masuk kewilayah yang lebih luas.6. Termasuk di dalamnya adalah kebutuhan terhadap alat KB yang membutuhkan biaya atau ongkos untuk memperolehnya.8 Dalam hal ini dukungan suami merupakan faktor yang penting bagi wanita dalam berkarier. sehingga pendapatan yang mereka miliki tidak terlalu besar.

menghindari keterlambatan dalam mencari pertolongan medis. menghindari kekerasan terhadap perempuan. Budaya patrilineal yang menjadikan pria sebagai kepala keluarga yang masih banyak dianut sebagian besar pola keluarga di dunia menjadikan preferensi suami terhadap fertilitas dan pandangan serta pengetahuannya terhadap program KB akan sangat berpengaruh terhadap keputusan di dalam keluarga untuk mmenggunakan alat atau cara KB tertentu. kurangnya pemahaman terhadap alat/cara KB. takut akan efek samping. masalah social budaya. dan di dalam keluarga secara umum. mencegah penularan penyakit menular seksual. membantu perawatan ibu dan bayi setelah persalinan.8 9 . Kejadian Unmet Need KB seringkali terjadi ketika suami tidak mendukung terhadap penggunaan alat/cara KB tertentu yang diakibatkan adanya perbedaan fertilitas. Peran suami dalam KB antara lain sebagai peserta Keluarga Berencana dan mendukung pasangan menggunakan alat kontrasepsi. Sehingga di dalam beberapa penelitian.6 Dukungan suami merupakan salah satu variabel sosial budaya yang sangat berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi bagi kaum wanita sebagai istri secara khusus.6. menjadi ayah yang bertanggung jawab. Sedang dalam kesehatan reproduksi. dan berbagai faktor lainnya. variable penolakan atau persetujuan dari suami terbukti berpengaruh terhadap kejadian Unmet Need KB dalam rumah tangga. antara lain membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatan ibu hamil. serta tidak bias gender dalam menafsirkan kaidah agama. merencanakan persalinan aman oleh tenaga medis.

Komunikasi tatap muka antara suami-istri merupakan jembatan dalam proses penerimaan dan kelangsungan pemakaian kontrasepsi. Tidak adanya diskusi mungkin merupakan cerminan kurangnya minat pribadi. begitupula dengan penelitian yang dilakukan oleh Litbang BKKBN di Indonesia pada tahun 2004. atau sikap tabu dalam membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan aspek seksual.6 Temuan menunjukkan bahwa 58% wanita mendiskusikan KB dengan pasangannya paling sedikit 1 kali selama setahun terakhir. Pembicaraan antara suami dan istri mengenai KB tidak selalu menjadi persyaratan dalam pemakaian KB. Casterline dan koleganya pada penelitian yang dilakukan di Filipina juga menemukan kesimpulan yang sama mengenai hubungan antara penerimaan suami terhadap KB dan kejadian Unmet Need KB.6 Kaushik dalam penelitiannya di India menunjukkan bahwa penerimaan suami terhadap KB berpengaruh signifikan terhadap kejadian Unmet Need KB. sementara hanya 22% pria berstatus kawin melaporkan hal yang sama (SDKI 2007). Sebagai gambaran 58% wanita membicarakan KB dengan suaminya.6 7 Jumlah Anak Hidup 10 . Hal ini menunjukkan bahwa wanita lebih sering berdiskusi mengenai KB dengan suaminya. Dan 42% wanita berstatus kawin tidak pernah membicarakan tentang KB dengan pasangannya. penolakan terhadap suatu persoalan. namun tidak adanya diskusi tersebut dapat menjadi halangan terhadap pemakaian KB.

disini perlu dilihat dua kemungkinan situasi yang dapat mengakibatkan terjadinya Unmet Need KB yaitu apakah kebutuhan KB untuk menjarangkan kelahiran ataukah kebutuhan KB untuk membatasi kelahiran (tidak menginginkan anak lagi).10 11 . Semakin besar jumlah anak masih hidup yang sudah dimiliki. Jumlah anak hidup sangat berpengaruh terhadap kejadian Unmet Need KB.9. Jumlah anak hidup adalah jumlah anak yang dimiliki oleh pasangan usia subur (PUS). Kedua kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh pertimbangan antara jumlah anak yang sudah dimiliki dengan preferensi fertilitas yang diinginkan oleh pasangan tersebut.7 IV IUD (Intrauterine Device) atau AKDR IUD (intrauterine device) atau disebut juga AKDR merupakan kepanjangan dari alat kontrasepsi dalam rahim.6. Hubungan antara Unmet Need KB dan jumlah anak hidup sangat dipengaruhi oleh preferensi fertilitas dari pasangan. sehingga semakin besar peluang munculnya keinginan untuk menjarangkan kelahiran atau membatasi kelahiran dan begitu pula peluang terjadinya Unmet Need KB bagi wanita tersebut. Dengan demikian. dengan tidak memperhitungkan berapa kali wanita tersebut melahirkan anak. Kita pernah mengenal program insersi AKDR postpartum dimana pasien mendapat insersi AKDR pasca persalinan.7 Prihastuti da Djutaharta tahun 2004 terhadap data SDKI di Indonesia juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jumlah anak hidup dengan kejadian Unmet Need KB. AKDR merupakan metode kontrasepsi reversibel. maka akan semakin besar kemungkinan preferensi fertilitas yang diinginkan sudah terpenuhi. Program tersebut tidak pernah dikembangkan lagi.6.

dan banyaknya unmeet need (8. Bagi indonesia dengan kesulitan hidup yang cukup tinggi (30% miskin). Alat ini memiliki panjang 36 mm dan diameter 32 mm. Hanya sebagian kecil (3-8%) ibu yang menginginkan anak lagi. karena tidak mempengaruhi pemberian air susu ibu (ASI).6%) maka teknologi ini perlu di tawarkan. Pada bagian bawah tangkai vertikal untuk mencegah terjadinya penetrasi servikal. yaituAKDR dengan tembaga disekeliling gagangnya sepertiCuT 380A danAKDRdengan silinder yang mengandung progestogen seperti MirenaR. kerangka dari plastik yang flesibel yang berbentuk huruf T diselubungi oleh kawat halus yang terbuat dari tembaga (cu). Kecil. Sebuah lubang kecil terdapat pada tangkai vertikalnya dekat pertemuan dengan kedua lengan horizontalnya yang 12 .Insersi AKDR selama masa ini merupakan metode yang ideal untuk beberapa wanita. Pasien hendaknya mendapat konseling insersi AKDR postplasenta sebelum persalinan. Teknik ini cukup aman. Masa post plasenta merupakan masa dimana wanita memiliki motivasi tinggi dan merupakan metode efektif dimana anak dapat dirawat dengan pikiran yang relaks tanpa adanya kecemasan untuk hamil. Dengan adanya cara yang relatif baru yaitu InsersiAKDR postplasenta mempunyai harapan dan kesempatan bagi banyak ibu yang tak ingin hamil lagi.11. yaitu:ovulasi setelah kehamilan tidak dapat diprediksi dan AKDR merupakan kontrasepsi yang dapat langsung berguna saat masa nifas.9.12 V JENIS AKDR Ada dua jenis AKDR.13 CuT 380A merupakan alat AKDR yang direkomendasikan oleh WHO dengan bentuk seperti T terbuat dari polyethylene densitas rendah dengan barium sulfat ditambahkan untuk opasitas X-ray.10 Insersi AKDR sebagai kontrasepsi telah direkomendasikan oleh WHO sebagai metode yang aman dan efektif.9.. Hal ini mempunyai beberapa alasan untuk dilakukan.10 Insersi AKDR postplasenta paling baik dilakukan dalam waktu 10 menit setelah kelahiran plasenta sampai dengan 48 jam setelah persalinan.

Mekanisme primernya adalah membuat mucus servikal menjadi tebal yang mengganggu aktifitas dari sperma dan mengubah cairan 13 . dan aktivitas endometrium yang menyebabkan fagositosis sperma dan mengganggu migrasi sperma.Dua benang monofilamen melekat pada tangan vertikal. Setiap sisi tersebut memiliki permukaan 35mm2.13.CuT 380Adapat bertahan hingga 10 tahun. meskipun beberapa teori mengatakan merupakan suatu aktivitas spermisidal.AKDR tembaga15 Levonorgestrel-releasing intrauterine device atau AKDR LNG-20 memiliki bentuk seperti T dengan tabung di tangan vertikalnya yang mengeluarkan progestin levonorgestrel tiap harinya.Dua benang monofilamen melekat pada tangan vertikalnya.14 Mekanisme kerjaAKDR ini masih belum diketahui secara pasti. Kawat tembaga dengan permukaan 310 mm2 berikatan disekitar tangkai vertikal dan mengandung 380 mm2 tembaga.13 Gambar 1.AKDR memiliki sisi tembaga pada kedua tangan horizontal.Perbedaan AKDR ini dengan CuT 380A adalah AKDR LNG-20 dapat bertahan hingga 5 tahun.bertindak sebagai jangkar untuk kawat tembaga. mengganggu perkembangan ovum.

Pemasang memegang AKDR dengan jari telunjuk dan jari tengah kemudian dipasang secara perlahan-lahan melalui vagina dan serviks. Dipasang dengan tangan secara langsung Setelah plasenta dilahirkan.1 kehamilan per 100 wanita pada tahun pertama dan angka kumulatif kehamilan menjadi 0. Angka kehamilan sekitar 0.AKDR hormonal16 VI CARA PEMASANGAN AKDR Jika dalam kondisi post plasenta pemasangan AKDR dapat dilakukan langsung dengan menggunakan tangan ataupun dengan inserter atau aplikator yang tersedia. Tangan 14 . yaitu :17.13 Gambar 2.AKDR ini menyebabkan anovulasi sekitar 10-15% siklus dan mengganggu karakteristik dari endometrium untuk menurunkan implantasi.18 1.uterotubal sehingga mengganggu migrasi sperma.7 kehamilan per 100 wanita setelah 5 tahun.Pemasangan AKDR dalam 10 menit setelah plasenta lahir dapat dilakukan dengan 3 cara. pemasang melakukan kembali toilet vulva dan mengganti sarung tangan dengan yang baru. sementara itu tangan yang lain melakukan penekanan pada abdomen bagian bawah dan mencengkeram uterus untuk memastikan AKDR dipasang di tengah-tengah yaitu di fundus uterus.

Tahapan-tahapan pemasangan:  Masukkan spekulum ke dalam vagina. Gambar 4. dengan benang AKDR menjauh dari forsep. segera dilakukan perbaikan posisi dengan memasang kembali AKDR.  AKDR dijepit pada bagian lengan vertikalnya. Cara pemasangan AKDR Post Partum dengan tangan18 2. sementara lengan horizontal AKDR sedikit di luar cincin.  Jepit AKDR dalam kemasan dengan forsep plasenta Kelly atau forsep cincin panjang.  Jepit sisi anterior serviks dengan forsep cincin. 15 . pemasang dikeluarkan perlahan-lahan dari vagina. bersihkan serviks dan dinding vagina dengan cairan antiseptik. Dipasang dengan ring forceps Prosedur pemasangan dengan AKDR menggunakan ring forceps hampir sama dengan pemasangan dengan menggunakan tangan secara langsung akan tetapi AKDR diposisikan dengan menggunakan ring forceps. Hal ini akan membantu pelepasan AKDR pada fundus dan menurunkan risiko AKDR ikut tercabut keluar ketika mengeluarkan forsep. bukan dengan tangan.Jika AKDR ikut tertarik keluar saat tangan pemasang dikeluarkan dari vagina atau AKDR belum terpasang di tempat yang seharusnya.  Tempatkan AKDR pada lengkung dalam forsep Kelly (bukan lengkung luar).

benang AKDR dapat terlihat keluar dari ostiumserviks.  Dengan tangan pada abdomen. Perlu diingat bahwa segmen bawah uterus dapat berkontraksi.  Lepaskan dan keluarkan forsep yang menjepitserviks. tarik forsep sedikit dan arahkan ulang forsep lebih anterior ke arah dinding abdomen. jika uterus berkontraksi dengan baik dan ukurannya kecil. putar forsep 450 ke arah kanan. 16 .  Terkadang. ini menunjukkan AKDR tidak mencapai fundus.  Tangan yang memegang forsep untuk menjepitserviks dipindahkan ke Abdomen pada bagian puncak fundus uteri. maka benang dapat terlihat. untuk menempatkan AKDR secara horizontal setinggi mungkin pada fundus  Buka jepitan forsep untuk melepas AKDR  Secara perlahan keluarkan forsep dari rongga uterus.  Pada tahap ini. menyusuri dinding lateral uterus hingga forsep ditarik keluar  Secara lembut. Bila uterus berukuran besar. dan oleh karena itu mungkin perlu diberikan sedikit tekanan untuk mendorong AKDR masuk hingga fundus. stabilisasi uterus dengan dengan melakukan penekanan ke arah bawah melalui dinding abdomen. buka introitus vagina dengan dua jari dan lihat bagian dalam vagina. Masukkan forsep yang menjepitAKDR melalui vagina dan serviks secara tegak lurus terhadap bidang punggung ibu.  Jika terdapat tahanan. pertahankan forsep dalam keadaan sedikit terbuka dan merapat ke sisi uterus. lepaskan AKDR dan lakukan pemasangan ulang dengan forsep steril dan AKDR yang baru agar tercapai posisi yang benar. Jika ini yang terjadi. tidak perlu melakukan hal apapun. Hal ini untuk mencegah uterus bergerak ke atas pada saat forsep yang menjepit AKDR didorong masuk ke dalam uterus. Pada situasi ini.  Masukkan forsep yang menjepit AKDR dengan gerakan yang lembut ke arah atas menuju fundus (diarahkan ke umbilikus).

Teknik Pemasangan Transsesarea Setelah persalinan dengan seksio sesarea:  Masase uterus hingga perdarahan berkurang. VII MEKANISME KERJA Mekanisme kerja AKDR dapat diklasifikasikan menjadi dua. memperlambat atau mempercepat transpor ovum melalui tuba falopi. pastikan tidak ada jaringan tertinggal dalam rongga uterus.  Tempatkan AKDR pada fundus uteri secara manual atau menggunakan instrumen. endometrium dan tuba. dan merusak atau menghancurkan ovum sebelum fertilisasi. Jangan keluarkan benang melalui serviks karena meningkatkan resiko infeksi. yaitu pre dan postfertilisasi.  Sebelum menjahit insisi uterus. Mekanisme prefertilisasi yang meliputi penghambatan migrasi sperma dan viabilitas pada serviks. tempatkan benang pada segmen bawah uterus dekat ostiumserviks internal. Cara pemasangan AKDR Post Partum dengan alat18 3. Gambar 5.Mekanisme post fertilisasi yang terjadi meliputi perlambatan atau 17 .

Sehingga memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus. makrofag.19 Mekanisme prefertilisasi dan postfertilisasi tidak beroperasi secara bersamaan. dan lain-lain.20 Perubahan secara biokimia pada mukus di serviks terjadi pada semua tipe AKDR. walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi. Tingginya reaksi inflamasi di endometrium pada pemakaian AKDR tembaga menunjukkan bahwa AKDRCuT 380A memiliki efek spermisidal yang tinggi pada endometrial. Pada studi in vitro didapatkan bahwa ion-ion tembaga menghambat motilitas sperma tetapi tidak mempengaruhi kapasitas fertilisasi.19. 69% siklus ovulatori memiliki mukus servikal yang baik untuk transpor sperma. Pada 18 .19 AKDR dapat menyebabkan timbulnya reaksi radang lokal yang non-spesifik didalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu. maka muncullah sel-sel inflamasi seperti leukosit PMN. sel mononuklear dan sel plasma yang dapat mengakibatkan lisisnya spermatozoa/ovum dan blastocyst. Pada studi tentang penggunaan AKDRLNG-20 jangka panjang. Mekanisme postfertilisasi terjadi hanya jika mekanisme prefertilisasi tidak mencegah fertilisasi. hal itu tidak cukup untuk mencapai efisiensi AKDR dalam mencegah kehamilan. Progestin oral maupun sistemik diketahui dapat merubah mukus servikal dan secara teoritis seharusnya menghambat transpor sperma melalui serviks. Oleh karena reaksi radang itu. Sebaliknya. Munculnya leukosit PMN. Secara kontras pada mukus servikal. AKDRCuT 380A meningkatkan konsentrasi tembaga secara substansial pada mukus servikal dan hal ini menghambat motilitas sperma. makrofag. Meskipun mekanisme prefertilisasi terjadi pada sebagian besar siklus. merusak atau menghancurkan embrio awal sebelum mencapai uterus dan mencegah terjadinya implantasi. terdapat bukti yang menunjukkan adanya perubahan endometrial yang cenderungbersifat spermisidal.percepatan pergerakan embrio awal melalui tuba falopi. menghambat migrasi sperma melalui endometrium yang mana terjadi pada semua tipe AKDR. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu.

Keuntungan pemasangan AKDR postplasenta meliputi tingginya motivasi ibu. Resiko terjadinya ekspulsi jika diinsersi 48 jam setelah kelahiran. Selain dikarenakan aman dan efektif.24  Langsung dapat diakses oleh ibu yang melahirkan di pelayanan kesehatan  Ibu memiliki motivasi yang tinggi  Efektif dan tidak berefek pada ibu menyusui  Efektif untuk pemakaian kontrasepsi jangka panjang  Resiko perforasi lebih rendah  Perdarahan yang terjadi minimal  Hanya memerlukan 1 kali pertemuan untuk pemasangan dan kontrol yang minimal setelah 3 hingga 6 minggu setelah pemasangan.22 19 . konseling. (kecuali terdapat masalah/komplikasi)  Reversibel dan ekonomis  Dapat dikeluarkan kapanpun pasien inginkan. insersi post plasenta berhubungan dengan rendahnya angka terjadinya ekspulsi dibandingkan insersi post plasenta tertunda. atrofi dan desidualisasi kelenjar dapat menghambat survival dari sperma.11 Keuntungan pemasangan AKDRpost plasenta:22.21.11. waktu insersi mempengaruhi resiko terjadinya ekspulsi.19 VIII KEUNTUNGAN Waktu insersi. Idealnya insersi post plasenta seharusnya dilakukan dalam waktu 10 menit setelah postplasenta atau hingga 48 jam kelahiran plasenta.AKDRLNG-20. dan pelatihan dari paramedis merupakan faktor yang penting pada insersi AKDR post plasenta. Pemasangan AKDR post plasenta pada saat operasi sesar memiliki angka ekspulsi yang lebih rendah dibandingkan insersi pervaginam postplasenta. IX KETERBATASAN Dalam hal ini.22 InsersiAKDRCuT 380A post plasenta direkomendasikan pada ibu menyusui dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui.

khususnya pada primigravida sebagai calon peserta aktif KB. Selain itu umur. pendapatan. diperlukan konseling dan penyuluhan oleh tenaga medis terlatih dalam menjamin kesahihan dan kejelasan informasi yang diterima oleh peserta KB mengenai IUD PP. kegagalan alat kontrasepsi sebelumnya. Untuk itu. Konseling. informasi. dan edukasi mengenai IUD PP ini juga harus diberikan sejak antenatal care. dan teknik pemasangannya. Disamping itu. tenaga kesehatan yang memasang. Dengan meningkatnya 20 .25 X KESIMPULAN Kejadian unmet need KB berhubungan dengan kehamilan yang tidak diinginkan dan tidak menggunakan KB. sebaiknya ditangguhkan sampai 6-8 minggu post partum. Waktu pemasangan dalam 10 menit setelah keluarnya plasenta memungkinkan angka ekspulsinya lebih kecil ditambah dengan ketersediaan tenaga kesehatan yang terlatih (dokter atau bidan) dan teknik pemasangan sampai ke fundus juga dapat meminimalisir kegagalan pemasangan.22 Bila pemasangan AKDR post plasenta tidak dilakukan dalam waktu seminggu setelah bersalin. tingkat pendidikan memengaruhi tingkat minat terhadap IUD PP. tingkat pengetahuan dan dukungan suami juga dipengaruhi oleh sumber informasi. Dapat disimpulkan bahwa umur. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan seseorang. bahaya perforasi atau ekspulsi lebih besar. jumlah anak merupakan variabel yang dapat meningkatkan terjadinya kejadian unmet need KB yang dapat berisiko terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. karena jika pemasangan AKDR dilakukan antara minggu kedua dan minggu keenam setelah partus. Angka keberhasilannya ditentukan oleh waktu pemasangan.

2. Endrinaldi. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Unmet Need KB Pasca-Salin IUD post-placenta di Kamar Rawat Pasca- bersalin RSUP DR. Stanwood NL. Lopez LM. Utami Sari Handayani. The Cochrane Library 2010. Van Vliet HAAM. M. Schulz KF. Djamil periode Januari-Maret 2013. Immediate post-partum insertion of intrauterine devices (Review). 21 .arus informasi yang diterima. Grimes DA. DAFTAR PUSTAKA 1. Issue 5. Desmiwati. diharapkan IUD PP akan semakin diminati sebagai kontrasepsi yang aman dan efektif.

Gilliam M.scribd.ac.usu. USAID. Subirman. 1992. O’Hanley K. Available : https://www. The ACQUIRE project : The postpartum intrauterine device.org/files/pubs/acquire-digital- archive/10. Unmet Need KB. Contraception.pdf 9.id/files/Semnas %202013/FAKTOR_YANG_BERHUBUNGAN_DENGAN_UNMET_NEED_K B_PADA_PASANGAN_USIA_SUBUR_PUS_DI_WILAYAH_KERJA_PUSKE SMAS_TEMINDUNG_TAHUN_2013. Faktor-faktor yang berhubungan dengan UnmetNed KB pada pasangan usia subur (PUS) di wilayah kerja Puskesmas temindung Tahun 2013.science direct. Baldwin Susie.0_training_curricula_and_materials/10.pdf 8. Eds Gibbs et Al. Douglas H. Ch.2_resources/ppiud_ph _ complete_ updated. 10th Edition.com /science/article/pii /001078249290057Z 6. In The Handbook of Contraception.32 22 . In Danforth’s Obstetrics and Gynecology.3.id/bitstream/123456789/41284/4/Chapter%20II. 5. Intrauterine Devices: Comparison of the Copper T Intrauterine Device With the Levonorgestrel Intrauterine System.ac.com/doc/91124108/Unmet-Need-KB 7. Chen Angela Y.pdf 4. Available: http://repository.engenderhealth. novita. Novi.129. Contraception. Riska.146. Available: http://www. 45 (4): 351-61.unej. Huber. participant Handbook. a training course for service providers. A Guide for Practical Management: 2006. Postpartum IUDs : Keys for success. Available:http://fkm. Memmel L.Available:http://www. Lippincott Williams & Wilkins: 2008. Ismail AB. 2008. Daud Tambaru. Tinjauan Pustaka Keluarga Berencana.

September: 2012. Kabadi YM. Hal. Am J Obstetric Gynecology: 2002. P 432-435 23 . Birth Control Options for Women-Intrauterine Devices: 2013. Post Placental Insertion of Intrauterine Contraceptive Device. Available in http://www. Research Article: Enhancing Contraceptive Usage By Post- Placental Intrauterine Contraceptive Devices (PPIUCD) Insertion With Evaluation Od Safety. Pemasangan AKDR Pasca Salin: 2014. WHO/UNFPA TCU 380 A Intrauterine Device specification.1(1):26-32 11. Chandrawati.com/ency/408/guides/0000915. Stanford JB. 187: 1699-708 20.healthcentral. EFFICACY. Elsevier. WHO. N. Qureshi S. JNPK-KR: 2008 18. Bradford Clinic Obstetrics & Gynecology. Curtis KM. In Eds: Edmonds KA.edukia.10. Mikolajczyk RT. Review Article: Intrauterine Device Insertion during The Postpartum Period. DeCherney et al. Contraception. 10th Edition. Reviews: Mechanisms of action of intrauterine devices: Update and estimation of postfertilization effects. Indian J Med Res 136. Glasier A. Indian J Med Res: 2012 September. 12. Buku Panduan Peserta Pelatihan Klinik APN.bradfordclinic.Available in http://www. Health Central. P.com/home/bradford_clinic-contraception.php 17. 7th Edition. and Expulsion. Contraception. Post-placental intrauterine device insertion- A five year experience at a tertiary care center in north India. Contraception: 2013. 136(3): 370–37. In: The TCU 380 A Intrauterine Contraceptive Device : Specification. International Journal of Reproduction. Kittur S. Obstetrics and Gynecology: 2012 Dec.html 16. Contraception. Suri V.org 19. 14. Contraception 80: 2009. P 309-310 21. 36. Shukla M. McGraw-Hill Companies: 2006. Available in http://www. Prequalification and Guidelines for Procurement: 2010.17 15.Dewhurts’s Textbook of Obstetrics &Gynaecology. Ch. Kapp. In: Current Diagnosis and Treatments in Obstetrics and Gynecology. Blackwell Publishing: 2007. 327-336) 13.

24. 17 No. Grimes et al. Obstetric Gynecology: 2010. 549-554 23. Immediate post-partum insertion of intrauterine devices: a Cochrane review. Ilmu Kandungan Edisi Kedua. Advantages and Disadvantages. In Participants Guide: Intrauterine Devices (AKDRs). Jakarta. WiknjosatroHanifa. A Randomized Controlled Trial: Postplacental or Delayed Insertion of the Levonorgestrel Intrauterine Device after Vaginal Delivery. P 10 25.22. PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: 2009. 116 (5): 1079-1087. Chen at al. Pathfinder International: 2008. Hal 561 24 . Solter C. Human ReproductionVol.3: 2002 pp.