You are on page 1of 6

1.

Pengertian
DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang terdapat pada anak
dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang membiasanya
memburuk setelah dua hari pertama. Dengue shock syndrome ialah penyakit
DBD yang disertai renjatan (Arif Mansjoer, 1999).

2. Etiologi
Virus dengue dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus
sebagai vektor ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut. Masa inkubasi
dengue antara 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari (Arif Mansjoer, 1999).

3. Klasifikasi
a. Derajat I (ringan), terdapat demam mendadak selama 2-7 hari disertai gejala
klinis lain dengan manifestasi perdarahan teringan, yaitu uji turniket positif.
b. Derajat II (sedang), ditemukan pula perdarahan kulit dan manifestasi
perdarahan lain (petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi,
hematemesis dan melena).
c. Derajat III, ditemukan tanda-tanda dini renjatan (dengan nadi dan tekanan
darah yang tak terukur dan akral dingin)
d. Derajat IV, terdapat DSS dengan nadi dan tekanan darah yang tak terukur,
akral dingin.

Pathway Virus Dengue Viremia Hiperthermi Hepatomegali Depresi sumsum tulang Permeabilitas kapiler meningkat . 4.Muntah Kehilangan cairan Perubahan nutrisi kurang hipovolemia Resiko efusi fluera ansietas dari kebutuhan pendarah hemokonsentrasi Resiko syok an hipovolemi a Resti kekurangan volume cairan Perubahan perfusi jaringan perifer syok kematian .Anoreksia manifestasi perdarahan .

seperti anoreksia. 3. 4) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkanhipoproteinemia. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus. persendian dan kepala. Test turniket positif 7. malaise. Kenaikan nilai Ht/hemokonsentrasi. Demam akut. Defisit volume cairan tubuh b. nyeri pada punggung. 6. yang tetap tinggi selama 2-7 hari. Tirah baring 2. adalah: 1. yaitu sedikitnya 20%. tekanan darah. Manifestasi perdarahan.d peningkatan permeabilitas dinding plasma . Demam disertai gejala tidak spesifik. hematemesis dan melena. Makanan lunak dan bila belum nafsu makan diberi minum 1. Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis yang buruk. Medikamentosa yang bersifat simtomatis. Pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan: 1. air dengan gula. dan pernapasan tiap jam.000/mm3) 2) Hemoglobin meningkat > 20 %.d proses penyakit (viremia) 2. suhu. Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan DBD tanpa penyulit adalah: 1. 5. Peningkatan suhu tubuh b. Dengan/tanpa renjatan. 2. 3) Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat). Pemasangan infus dan dipertahankan selama 12-48 jam setelah renjatan diatasi. 4. Diagnosa Keperawatan 1. 8. serta Hb dan Ht tiap 4-6 jam pada hari pertama selanjutnya tiap 24 jam.5. atau sirop) atau air tawar ditambah garam. epistaksis. 3. Kriteria Klinis Kriteria klinis DBD menurut WHO 1986. perdarahan gusi. 2. kemudian turun secara lisis. purpura. seperti uji turniket positif. petekie. tulang. nadi. Observasi keadaan umum.5-2 liter dalam 24 jam (susu. ekimosis. Pemeriksaan Penunjang Darah lengkap: 1) Trombositopenia (100.

Risiko terjadinya syok hipovolemik b.d peningkatan permeabilitas dinding plasma Intervensi: 1. Rencana Asuhan Keperawatan 1. 3. kering menunjukkan dehidrasi. R/ Hipovolemia dapat dimanisfestasikan oleh hipotensi dan takikardi 2. pengisian kapiler. Pantau masukan dan pengeluaran cairan . 4. muntah. kurang dari kebutuhan tubuh b. Peningkatan suhu tubuh b. catat adanya perubahan tanda vital. Kolaborasi pemberian antipiretik R/ Menurunkan suhu tubuh yang meningkat 7. 5. tensi.d mual. Defisit cairan kurang dari kebutuhan tubuh b. Anjurkan pasien untuk banyak minum (2. Kaji saat timbulnya demam R/ Untuk mengidentifikasi pola demam pasien 2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi.5 liter/24 jam) R/ Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. nadi. anoreksia 4. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter R/ Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi 2. Kaji nadi perifer.d kurangnya volume cairan tubuh 9. turgor kulit dan membran mukosa R/ merupakan indikator dari dehidrasi 4. Berikan kompres hangat R/ Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yangmempercepat penurunan suhu tubuh. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal R/ Pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh 6. Pantau tanda-tanda vital. Kaji suhu warna kulit dan kelembabannya R/ demam dengan kulit kemerahan. Observasi tanda vital (suhu. pernafasan) setiap 3 jam R/ tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien 3.d proses penyakit (viremia) Intervensi: 1. 3.

nadi tidak teratur. tanda-tanda vital. muntah dan distensi lambung. 5. muntah. R/ Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan. R/ Kekurangan cairan dan elektrolit menimbulkan muntah sehingga kekurangan cairan dan elektrolit 6. Observasi adanya kelelahan yang meningkat. anoreksia Intervensi: 1. peningkatan BB. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi. R/ Untuk menentukan intervensi berikutnya. Berikan makanan yang mudah ditelan/lunak R/ Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan. 2. Identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki yang sesuai dengan program diet. kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang 4. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual. R/ Mempertahankan volume sirkulasi. 5. 7. Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung. R/ Memberi perkiraan akan cairan pengganti. R/ Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam pencernaan makan. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh pasien R/ Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik . fungsi ginjal. Berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa. Berikan makanan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering R/ Asupan nutrisi klien sedikit demi sedikit terpenuhi 3. dan program pengobatan. Observasi keadaan umam klien. R/ Mempercepat proses penyembuhan untuk memenuhi kebutuhan cairan 3. 8. BB klien. Catat hal-hal seperti mual. Catat jumlah porsi makanan yang dihabiskan oleh klien tiap hari R/ Untuk mengetahui pemenuhan nutrisi pasien 6. edema.

R/ Pemberian obat antimual dapat mengurangi rasa mual sehingga kebutuhan nutrisi pasien tercukupi 4. Rencana Asuhan Keperawatan. 1999.2000. FKUI: Media Aesculapius. Observasi TTV tiap 2-3 jam. DAFTAR PUSTAKA Doenges. Monitor keadaan umum pasien R/ Memantau kondisi pasien selama perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat ditangani. dkk. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti mual. Monitor tanda perdarahan R/ Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik 4. Cek hemoglobin. . Jakarta: EGC. Memberikan informasi kepada keluarga untuk memahami nutrisi pasien 8. 7. Kapita selekta Kedokteran. hematokrit. trombosit R/ Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien 5. Marilynn E. 2. Berikan transfusi sesuai program dokter R/ Untuk mengganti volume darah serta komponen darah yang hilang. dkk.d kurangnya volume cairan tubuh Intervensi: 1. Ajarkan pasien dan libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan sesuai indikasi R/ Meningkatkan rasa keterlibatannya. Mansjoer. R/ Tanda vital normal menandakan keadaan umum baik 3. Risiko terjadinya syok hipovolemik b. Arif.