You are on page 1of 1

Sindrom koroner akut (SKA) merupakan suatu masalah kardiovaskular yang

utama karena menyebabkan angka perawatan rumah sakit dan angka kematian yang
tinggi (PERKI, 2015). SKA merupakan suatu keadaan gangguan aliran darah koroner
parsial hingga total ke miokard secara akut (Rilantono, 2015).SKA dibagi berdasarkan
gambaran EKG, yaitu dengan elevasi segmen ST (ST Elevation Myocardial Infarction/
STEMI) dan tanpa elevasi segmen ST (NonST Elevation Myocardial Infarction/
NSTEMI) atau angina pektoris tidak stabil. Klasifikasi ini akan mempercepat dan
mempermudah identifikasi pasien STEMI, oklusi total arteri koroner, yang memerlukan
revaskularisasi (Rilantono, 2015).
Infark miokard sering terjadi tiba-tiba, sering kali tanpa peringatan, tetapi proses
penyakit (dikenal sebagai arterosklerosis) yang memicu serangan jantung terbentuk
perlahan-lahan dalam hitungan tahun. Plak arterosklerosis terbentuk di satu atau lebih
arteri jantung (disebut arteri koroner). Plak menyebabkan arteri menyempit dan
menghambat aliran darah sehingga oksigen dan nutrisi ke otot jantung berkurang. Jika
salah satu plak lepas, maka bekuan atau embolus dapat menyumbat aliran darah di arteri
koroner. Kondisi tersebut mengakibatkan otot jantung tidak mendapatkan suplai darah,
sehingga suplai oksigen dan nutrisi sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali ke otot
jantung (Nail et al., 2011). Keluhan timbul dengan intensitas nyeri yang dinamis sesuai
dengan derajat penyempitan yang dipengaruhi oleh derajat vasospasme dan ukuran
trombusnya. (Rilantono, 2015).
Infark miokard akut (IMA) dapat menimbulkan berbagai komplikasi antara lain
gannguan irama dan konduksi jantung, syok kardiogenik, gagal jantung, rupture jantung,
regurgitasi mitral, thrombus mural, emboli paru bahkan hingga kematian. Angka
mortalitas dan morbiditas komplikasi IMA yang ,asih tinggi dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti keterambatan mencari pengobatan, kecepatan, serta ketepatan
diagnosis dan penanganan dokter yang menangani.