You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan
bahwa angka kejadian alergi dan asma terus meningkat tajam beberapa tahun terakhir.
Tampaknya alergi merupakan kasus yang mendominasi kunjungan penderita di klinik
rawat jalan pelayanan kesehatan anak. Salah satu manifestasi penyakit alergi yang
tidak ringan adalah asma. Penyakit asma terbanyak terjadi pada anak dan berpotensi
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Alergi dapat menyerang semua
organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali. Sehingga penderita asma juga akan
mengalami gangguan pada organ tubuh lainnya.
Di samping itu banyak dilaporkan permasalahan kesehatan lain yang berkaitan
dengan asma tetapi kasusnya belum banyak terungkap. Kasus tersebut tampaknya
sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak, tetapi masih perlu
penelitian lebih jauh. Dalam tatalaksanan asma anak tidak optimal, baik dalam
diagnosis, penanganan dan pencegahannya..
Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1996, penyakit-penyakit yang
dapat menyebabkan sesak napas seperti bronchitis, emfisema, dan asma merupakan
penyebab kematian ketujuh di Indonesia. Asma yang tidak ditangani dengan baik dapat
mengganggu kualitas hidup anak berupa hambatan aktivitas 30 persen, dibanding 5
persen pada anak non-asma. Banyak kasus asma pada anak tidak terdiagnosis dini,
karena yang menonjol adalah gejala batuknya, bisa dengan atau tanpa wheezing
(mengi).
Asma adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan yang bisa
menyerang siapa saja, namun penderita paling banyak adalah para anak-anak. Menurut
KEMENKES (2008) , 100 hingga 150 juta orang di dunia menderita asma, jumlah ini
diperkirakan akan meningkat sebanyak 18.000 kasus setiap tahunnya. Setiap negara di
dunia memilki kejadian kasus asma yang berbeda-beda.
Di Asia khususnya Asia Tenggara 1 dari 4 orang yang menderita asma
mengaami masa yang tidak produktif karena tidak bekerja akibat asma. bisa
1

dibanyangkan berapa kerugian yang dialami. Menurut Miol, penderita asma 3.3%
penduduk Asia Tenggara adalah orang-orang yang menderita asma. Dimana kasus
asma banyak terjadi di Indonesia, Vietnam, Thailand, Filiphina dan singapura.
Sedangkan menurut RISKESDAS (2007) di Indonesia prevalensi penderita
asma diperkirakan masih sangat tinggi. Bedasarakan depkes persentase penderita asma
di indonesia sebesar 5,87% dari keselurahan penduduk Indonesia. Dimana masih
banyak penderita asma yang belum mendapatkan perawatan dokter.Hal itu membuat
angka kematian karena penyakit asma tergolong tinggi di Indonesia.

1.2. RUMUSAN MASALAH
 Apakah definisi dari asma bronkial?
 Apakah penyebab dari asma bronkial?
 Bagaimana tanda dan gejala dari asma bronkial?
 Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien dengan asma bronkial?

1.3 TUJUAN PENULISAN
 Untuk mengetahui definisi dari asma bronkial.
 Untuk mengetahui penyebab dari asma bronkial.
 Untuk mengetahui tanda dan gejala dari asma bronkial.
 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan asma bronkial.

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1. Definisi

2

reversibel dimana trakea dan bronchi berspon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronchial merupakan penyakit alergi yang menyebabkan spasme pada bronkiolus. karakteristik meliputi bronkospasme. 1997 ). Asma bronkhial adalah mengi berulang atau batuk persisten dalam keadaan di mana asma adalah yang paling mungkin. reversibel dimana trakea dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. 2002). hipersekresi mukosa dan perubahan inflamasi jalan napas (Campbell & Haggerty dalam Carpenito. Asma bronchial adalah penyakit inflamasi obstruktif yang ditandai oleh periode episodik spasme otot-otot polos dalam dinding saluran bronkhial (spasme bronkus). 2004).(iman somantri. Asma bronchial didefinisikan sebagai penurunan fungsi paru dan hiperesponsitas jalan napas terhadap berbagai ransang. terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi atau peradangan dan hiperresponsif. 1999). Penderita kelihatan sesak napas dan pada saat ekspirasi napasnya berbunyi wheezing (mengik) (Irfanuddin. ( Huddak & Gallo.( Smeltzer. hal ini menyebabkan obstruksi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus (Corwin. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus.5-1% dari seluruh kehamilan. (Reeves. Asma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spame akut otot polos bronkiolus. Asma bronchial adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten. asma dimanifestasikan dengan penyempitan jalan napas yang mengakibatkan dispnea. 3 . 2008). 2001 ) Asma bronkial adalah penyakit pernafasan obstruksi yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkhiolus. Insidensi asma dalam kehamilan adalah sekitar o. 2008). 2001). Asma bronkial adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel. Penderita akan mengalami kesulitan akan menghembuskan napas (ekspirasi). Asma bronkial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten. 2002). sedangkan sebab lain yang lebih jarang telah disingkirkan. batuk dan mengi ( Brunner & Suddarth. Asma adalah suatu gangguan pada saluran bronkhial dengan ciri bronkospasme periodik(kontraksi spasme pada saluran nafas). Spasme bronkus ini menyempitkan jalan napas sehingga membuat pernapasan menjadi sulit dan menimbulkan bunyi mengi (Asih & Effendy.

Sel leukosit meliputi : a. (United States National Tuberculosis Association. Asma bronchial merupakan penyakit alergi yang dipengaruhi oleh sistem imun tubuh. 1967). Leukosit berfungsi sebagai serdadu tubuh yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit/bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic Society ). saluran napas menjadi sempit dan hal ini membuat sulit bernapas. . didalam sitoplasmanya tidak terdapat granula dan intinya besar. macam leukosit yang dihasilkan dari jaringan RES dan kelenjar limfe. sel darah putih (lekosit) dan keping darah. Asma bronkial suatu penyakit yang ditandai dengan tanggap reaksi yang meningkat dari trachea dan bronkus terhadap berbagai macam rangsangan dengan manifestasi berupa kesukaran bernafas yang disebabkan oleh peyempitan yang menyeluruh dari saluran nafas. Bersama- 4 . Limfosit. meliputi : . bentuknya ada yang besar dan kecil. banyak 20-25% dan fungsinya membunuh dan memakan bakteri yang masuk ke dalam jaringan tubuh. Pada penderita asma. Agranulosit Agranulosit adalah sel leukosit yang tidak mempunyai granula didalamnya. Limfosit memproduksi antibodi. IG G Paling banyak terdapat dihasilkan di darah dihasilkan dalam jumlah besar ketika tubuh terpajan ulang ke antigen yang sama. IG M Berfungsi sebagai reseptor permukaan sel dan untuk tempat antigen melekat dan disekresikan dalam tahap-tahap awal respon. Sum-sum tulang belakang merupakan tempat produksi sel darah merah (eritrosit). yang terdiri dari : 1.

sama IG M dan IG G bertanggung jawab pada sebagian besar respon imun spesifik terhadap bakteri dan beberapa jenis virus. IG D Terdapat dipermukaan sel B. sel ini kecil dari pada eosinofil tetapi mempunyai inti yang bentuknya teratur. . 2.2. tetapi fungsi belum jelas. pernapasan dan genitourinaria serta di dalam air susu dan air mata. mempunyai inti sel yang berangkai kadang-kadang seperti terpisah-pisah. banyaknya kira-kira 24%. b. . fungsinya tidak diketahui. Granulosit. Banyaknya ½% disum-sum merah. Etiologi 5 . didalam protoplasmanya terdapat granula-granula besar. 2. yang terdiri dari :  Neotrofil atau polimor nuklear leukosit.  Basofil. banyaknya 60%-70%. lebih besar dari limfosit. disebut juga leukosit granular. Ukuran dan bentuknya hampir sama dengan neutrofil tetapi granula dalam sitoplasmanya lebih besar. IG E Mediator antibodi untuk respon alergi misalnya asma dan biduran. Inti selnya bulat atau panjang warnaya lembayung muda. IG A Terdapat dalam sekresi sistem pencernaan.  Eosinofil. protoplasmanya banyak bintik-bintik halus/granula. warna biru sedikit abu-abu mempunyai bintik-bintik sedikit kemerahan. . Monosit Terbanyak dibuat di sum-sum merah. fungsinya sebagai fagosit dan banyaknya 34% dibawah mikroskop terlihat bahwa protoplasmanya lebar.

3. Kontaktan. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga menderita penyakit alergi. yaitu: a. infeksi dan sebagainya. dan polusi.2000). alergen. dan debu. yang masuk melalui saluran pernapasan. dan jam tangan. metabolisme kimia. bakteri. b. musim kemarau. kegiatan Jasmani. Contoh: makanan dan obat- obatan. Penderita Asma sangat peka terhadap rangsangan Imunologi maupun Nonimunologi karena sifat tersebut maka rangsangan Asma bisa terjadi akibat berbagai rangsangan baik fisik. Contoh: debu. infeksi (terutama saluran napas bagian atas) iritan. Sampai saat ini penyebab Asma Bronchial belum diketahui dengan pasti. serbuk bunga. yang masuk melalui mulut. Belum diketahui. Kadang--kadang serangan berhubungan dengan musim. Karena adanya bakat alergi ini. namun suatu hal yang sering kali terjadi pada semua penderita Asma Adalah FenomenaI Hiperaktivitas Bronkus. penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. spora jamur. yang masuk melalui kontak dengan kulit. Hal ini berhubungan dengan arah angin. Genetik Yang diturunkan adalah bakat alergi meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya. Ingestan. faktor-faktor tersebut adalah: 1. Faktor penyebab yang sering menimbulkan Asma perlu diketahui dan dapat mungkin dihindarkan. Inhalan. Alergen Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis. bulu binatang. Refluks Gastroesofagus dan Psikis. logam. musim bunga. Faktor pencetus adalah alergen. 2. Contoh: perhiasan. Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. seperti musim hujan. c. (Arief Mansjoer. 6 . cuaca . serbuk bunga.

b) Asma Idiopatik atau Non alergik 7 . pabrik asbes. industri tekstil. Lingkungan kerja. Lingkungan kerja mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. amarah. Klasifikasi Asma sering dicirikan sebagai alergik. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan. 6. 8. Penderita diberikan motivasi untuk menyelesaikan masalah pribadinya karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.3. 10. binatang. 2. 5. non alergik atau gabungan. Iritasi seperti asap. polisi lalu lintas. 9. 7. idiopatik. Infeksi saluran napas terutama yang disebabkan oleh virus. Olah raga/aktivitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. bau-bauan dan polutan. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. yaitu: a) Asma Alergik Asma alergik disebabkan oleh alergen atau alergen-alergen yang dikenal (mis: serbuk sari. Pasien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat keluarga yang alergik dan riwayat masa lalu ekzema atau rhinitis alergik. Stress Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus asma dan memperberat serangan asma yang sudah ada. dan jamur) kebanyakan alergen terdapat diudara dan musiman. Emosi dan lain-lain seperti refleks. 4. Obat-obatan.

dan obstruksi aliran udara. penghangatan. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik maupun bentuk idiopatik atau non alergik 2. latihan. Individu yang mengalami asma mungkin memiliki respons Ig E yang sensitif berlebihan terhadap suatu alergen atau sel-sel mast nya terlalu mudah mengalami degranulasi. Akibat granulasi tersebut. reaksi peradangan hipersensitif dapat mencetuskan suatu serangan. seperti comman cold. emosi dan polutan lingkungan yang dapat mencetuskan rangsangan. Faktor-faktor.4. Apabila respons histaminnya berlebihan. seperti aspirin dan agen anti-inflamasi (non-steroid). maka dapat timbul spasme asmatik. Pada respons alergi di saluran napas. edema. Apakah kejadian pencetus dari suatu serangan asma adalah infeksi virus. Asma idiopatik atau nonalergik tidak ada hubungan dengan alergen spesifik. Serangan asma idiopatik atau non alergik menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkitis kronis dan emfisema. Olah raga juga dapat berlaku sebagai suatu iritan karena terjadi aliran udara keluar masuk paru dalam jumlah besar dan cepat. atau pembersihan 8 . Patofisiologi Patofisiologi asma tampaknya melibatkan suatu hiperesponsivitas reaksi peradangan. c) Asma Gabungan Asma gabungan adalah asma yang paling umum. maka juga akan terjadi kongesti dan pembengkakkan ruang intestisium paru. Di manapun letak hipersensitivitas respons peradangan tersebut. antagonis beta-adrenergik dan agen sulfit (pengawet makanan) juga dapat menjadi faktor pencetus dari asma idiopatik ini. pembentukan mukus. hasil akhirnya adalah bronkospasme. infeksi traktus respiratorius. Udara ini belum mendapat pelembaban (humidifikasi). Karena histamin juga meransang pembentukan mukus dan meningkatkan permeabilitas kapiler. pewarna rambut. Histamin menyebabkan kontriksi otot polos bronkiolus. Beberapa agen farmakologi. debu. histamin dilepaskan. antibodi IgE berikatan dengan alergen dan menyebabkan granulasi sel mast. atau iritan alergi.

9 . bradikinin. yaitu dikeluarkannya histamin. Senyawa sulfat yang secara luas digunakan sebagai agen sanitasi dan pengawet dalam industri makanan dan farmasi juga dapat menimbulkan obstruksi jalan napas pada pasien. Oleh karena itu beta-adrenergik harus dihindarkan pada pasien asma. Antagonis beta-adrenergik merupakan hal yang biasanya menyebabkan obstruksi jalan napas pada pasien asma demikian juga dengan pasien lain dengan peningkatan reaktivitas jalan napas. Faktor penyebab yang telah disebutkan diatas ditambah dengan sebab internal akan mengakibatkan timbulnya reaksi anti gen dan antibodi. Sekresi zat-zat tersebut menimbulkan tiga gejala seperti berkontraksinya otot polos. dan anafilatoksin. Reasi tersebut mengakibatnya dikeluarkannya substansi alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan. peningktan permeabilitas kapiler dan peningkatan sekresi mukus.dari partikel-partikel debu secara adekuat sehingga dapat mencetuskan serangan asma.

WOC Spasme otot bronchus Sumbatan Mukus Edema Inflamasi dinding bronchus Obstruksi saluran napas Alveoli tertutup Mk : Tak efektif bersihan jalan napas (bronchospasme) Hipoksemia Mk : gangguan pertukaran gas Penyempitan jalan napas Asidosis metabolik Peningkatan kerja pernapasan MK : Kurang pengetahuan Peningkatan kebutuhan Penurunan masukan oral oksigen Hiperventilasi Mk : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Retensi CO2 tubuh. Asidosis respiratorik 10 .

Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing. takikardia. . 4. Manifestasi Klinis Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat Hiperaktivitas Bronkus. Bising Mengi (wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop. sering pada malam hari. Dapat disertai batuk dengan sputum kental atau sulit dikeluarkan. Gambaran klinis pasien yang menderita asma: a. Sesak napas parah dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing. Sianosis. 3. Gejala-gejala Asma antara lain: 1. batuk paroksimal karena iritasi dan batuk kering. b. 2. Gambaran psikososial adalah cemas. stadium I Waktu terjadinya edema dinding bronchus. Batuk Produktif. sesak dan anoreksia. Stadium Asma : 1. 2. gelisah dan pulsus paradoksus.5. Gambaran subjektif adalah pasien mengeluhkan sulit dalam bernapas. sputum yang kental dan mengumpul merupakan benda asing yang merangsang batuk . . Obstruksi jalan napas dapat Reversibel secara spontan maupun dengan pengobatan. Bernapas dengan menggunakan otot-otot napas tambahan. mudah tersinggung dan kurangnya pengetahuan pasien terhadap penyakitnya. . Stadium II 11 . Gambaran objektif yang ditangkap adalah kondisi pasien dalam keadaan seperti ini: .2. . Sesak Napas. Napas atau dada seperti tertekan. takut. c.

stadium ini sangat berbahaya karena sering disangka ada perbaikan pernafasan dangkal tidak teratur dan frekuensi nafas menjadi tinggi. Pencegahan : 1. Mulai terasa sesak nafas berusaha bernafas lebih dalam. 2. Gagal napas : ketidak mampuan sistem untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2) eliminasi karbon dioksida 4. 5. Komplikasi Adapun Komplikasi penyakit Asma Bronchial yang mungkin timbul adalah sebagai berikut: 1. Istirahat yang cukup 12 . 3. Pneumothoraks : terdapatnya udara pada rongga pleura yang menyebabkan kolapsnya paru. Bronkhitis atau radang paru-paru : Kondisi di mana lapisan bagian dalam dari saluran pernapasan di paru-paru yang kecil (bronchiolis) mengalami bengkak. Hipoksemia : tubuh kekurangan oksigen (Arief Mansjoer. 3. Aliran darah sangat sedikit sehingga suara nafas hampir tigdak terdengar. otot nafas tambah turun bekerja terdapat retraksi supra sternal epigastrium. Stadium III Obstruksi / spasme bronchus lebih berat. Banyak makanan yang bergizi 3. Menghindari penyebab asma 2. ekspirasi memanjang dan ada whezing . Sekresi bronchus bertambah batuk dengan dahak jernih dan berbusa pada stadium ini. Emfisema : penyakit saluran pernapasan yang berdiri sesak napas terus menerus yang menghebat pada waktu pengeluaran tenaga dan sering kali dengan perasaan letih atau baha latinnya paru-paru basah 6.1999).6. Atelektasis : pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara atau akibat pernapasan yang sangat dangkal 2.

4. BAB III 13 . Hindari stress 5. Obat-obatan. Periksa kesehatan secara teratur 6.

ekspansi. jenis kelamin. Penurunan kesadaran. adanya peningkatan diameter anteroposterior. dan tanggal pengkajian. dan taaktil fremitus normal. baru saja menjalani rawat inap. intubasi. alamat. penyakit paru yang mendasari.  Pekusi 14 . Anamnesis Identitas meliputi nama. umur. retraksi otot-otot interkostalis. . Pengkajian Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien asma bronkial meliputi : . tanggal masuk.  Palpasi Pada palpasi biasanya kesimetrisan. . dan peningkatan suhu tubuh/demam. batuk. tirah baring berkepanjangan. dan frekuensi pernapasan.1. ASUHAN KEPERAWATAN 3. sifat dan irama pernapasan. pendidikan. agama. Inspeksi dada terutama untuk melihat bentuk dan kesimetrisan. Riwayat Usia. merokok. Pemeriksaan Fisik o B1 ( Breathing)  Inspeksi Pada klien asma terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan serta penggunaan obat bantu pernapasan. keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dengan pneumonia untuk meminta pertolongan kesehatan adalah sesak napas. Anamnesis yang meliputi. penurunan imun.

karena hal tersebut merupakan tanda awal dari syok. tingkat kesadaran perlu dikaji. o B5 ( Bowel) Perlu juga dikaji tentang bentuk. Oleh karena itu. serta kecemasan yang dialami klien. Pada klien dengan sesak nafas. diperlukan pemeriksaan GCS. perawat perlu memonitor ada tidaknya oliguria. hal ini karena terjadi ipnea saat makan. dan tanda-tanda infeksi. sangat potensial terjadi kekuranagan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah. untuk menentukan tingkat kesadaran klien apakah compass mentis. o B4 (Bladder) Pengukuran volume output urine perlu dilakukan karena berkaitan dengan intake cairan. atau koma. o B6 ( Bone) 15 . Pengkajian tentang status nutrisi klien meliputi jumlah. dan CRT o B3 (Brain) Pada saat inspeksi. nyeri. laju metabolism. dan kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya. tekanan darah. o B2 ( Blood) Perawat perlu memonitor dampak asma pada status kardiovaskuler meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi. dengan bunyi nafas tambahan utama wheezing pada akhir ekspirasi. Di samping itu. frekuensi. somnolen.  Auskultasi Terdapat suara vesikuler yang meningkatdisertaidengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari 3 kali inspirasi. turgo. mengingat hal-hal tersebut juga dapat merangsang serangan asma.

4. Perlu dikaji pula tentang aktivitas keseharian klien seperti olahraga. pemeriksaan sitologik untuk menyingkirkan malignansi yang mendasar atau gangguan alergik. mengelupas atau bersisik. kelembapan. dan aktivitas lainnya. . 9. Perlu dikaji pula tentang bagaimana tidur dan istirahat klien yang meliputi berapa lama klien tidur dan istirahat. 3. Dikaji adanya edema ekstermitas. Bronkhodilator. dan kusam. PH sedang. serta berapa besar akibat kelelahan yang dialami klien. AGD: PaO2 menurun. eksim. Rontgen dada: Temuan normal selama periode remisi. tremor. 5. Adanya wheezing. TLC: Kadang meningkat. Sputum: Kultur untuk menentukan adanya infeksi. 6. pruritus. 2. Pemeriksaan fungsi pulmonari saat aktivitas juga mungkin dilakukan untuk mengevaluasi toleransi terhadap aktivitas pada mereka yang diketahui penyakit pulmonari proregsif. kelainan pigmentasi. Pada rambut dikaji warna rambut. Pada integument perlu dikaji adanya permukaan yang kasar. mis. Aktivitas fisik juga dapat menjadi faktor pencetus asma yang disebut dengan execise induced asma. turgor kulit. kelembapan. 8. Volume residual: Meningkat. PaCO2 menurun. Pemeriksaan Diagnostik 1. dan tanda-tanda infeksi pada ekstremitas karena dapat merangsang serangan asma. dan adanya bekas atau tanda urtikaria atau dermatitis. bekerja. dan ortopnea dapat memengaruhi pola tidur dan istarahat klien. Kapasitas respirasi: Meningkat. Uji fungsi paru: Dilakukan untuk menentukan apakah abnormalitas fungsi bersifat obstruktif atau reatriktif. HSD dan hitung banding: Eosinofil meningkat. FEV/FVC: Rasio volume ekspiratori kuat terhadap kapasitas vital kuat menurun. perdarahan. kering. mengindentifikasi patogen. untuk memperkirakan tingkat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi. 16 . 7. sesak.

Diagnosa Keperawatan. penurunan energi / kelemahan Hasil yang diharapkan :  Pernapasan kembali efektif antara inspirasi dengan ekspirasi  Produksi sputum menurun/hilang  Jalan napas kembali normal/tidak ada menunjukkan adanya sputum dan bronkospasme 17 . Ketidakefektifan jalan napas berhubungan dengan bronkospasme. dan Rasional 1. sekresi kental. EKG: Penyimpangan aksis kanan. 3. peningkatan produksi sekret. 10. tebal. Intervensi. sekresi tertahan.2. gelompang P memuncak.

yang dapat mentriger episode akut berikan kelembaban ruangan yang tepat Kelembaban menghilangkan dan memobilisasi sekret dan meningkatkan transpor oksigen 2. kerusakan alveoli. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen. penerimaan atau selama stress / adanya mis: peninggian kepala tempat tidur proses infeksi atau duduk pada sandaran tempat tidur Peninggian kepala tempat tidur Pertahankan posisi lingkungan mempermudah fungsi pernapasan dengan minimun. mis: mengi.INTERVENSI RASIONAL Auskultasi bunyi napas. mis: debu. ada bunyi napas catat rasio inspirasi / ekspirasi Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada Kaji pasien untuk posisi yang nyaman. 18 . K 2. catat adanya Beberapa derajat spasme bronkus terjadi bunyi napas. ronki dengan onstruksi jalan napas dan dapat / tidak dapat dimanifestasikan adanya bunyi napas adventisus. asap dan bulu menggunakan gravitasi bantal berhubungan dengan kondisi individu Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan Berikan oksigen lembab. Hasil yang diharapkan :  Kebutuhan oksigen dapat terpenuhi. krekels. bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi atau tidak Keji / pantau frekuensi pernapasan. cairan IV.

INTERVENSI RASIONAL Kaji status pernapasann dengan Takipnea adalah mekanisme sering. catat peningkatan kompensasi untuk hipoksemia dan frekuensi / upaya pernapasan peningkatan upaya pernapasan dapat atau perubahan pola napas menunjukkan derajat hipoksimea Kaji frekuensi. produksi sputum dan anoreksia. Jalan napas kecil.  Sesak napas yang diderita klien berkurang/kembali normal. napas bibir dan napas untuk menurunkan kolaps jalan ketidak mampuan bicara / napas. mual / muntah Hasil yang diharapkan : o Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan klien o Mual/muntah berkurang/hilang 19 . Kental. kedalaman Pengiriman oksigen dapat diperbaiki pernapasan. efek samping obat. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea. pengisapan dibutuhkan bila batuk tidak Awasi tingkat kesadaran / status efektif mental selidiki adanya perubahan Gelisah dan ansietas adalah manifestasi utama pada hipoksia – GDA memburuk disertai bingung / samnolen menunjukan disfungsi serebral tang berhubungan dengan hipoksemia 3.  Gangguan pertukaran gas dapat diatasi dengan terjadinya keseimbangan antara suplai oksigen dan pengeluaran karbon dioksida. tebal dan banyaknya sekret pengisapan bila di indikasikan adalah sumber utama gangguan pertukaran gas. kelemahan. dispnea dan kerja napas berbincang Dorong mengeluarkan sputum. catat penggunaan dengan posisi duduk tinggi dan latihan otot eksesoris.

buang sekret. beri waktu khusus Rasa tidak enak. Penatalaksanaan a. diajarkan cara 20 . produksi kesulitan makanan evaluasi berat sputum dan obat badan Auskultasi bunyi usus Penurunan / hipoaktif bising usus menunjukan penurunan motilitas gaster dan konstipasi Berikan perawatan oral sering. Pengobatan Non Farmakologi a) Penyuluhan. bau. o Nafsu makan klien meningkat INTERVENSI RASIONAL Kaji kebiasaan diet. Penyuluhan ini ditujukan untuk peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit asma sehingga klien secara sadar menghindari faktor- faktor pencetus. menggunakan obat secara benar dan berkonsultasi pada tim kesehatan. masukan Pasien distress pernapasan akut sering makanan saat ini. Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asma yang ada pada lingkungannya. dan penampilan adalah pencegahan utama terhadap nafsu makan dan dapat mual / muntah Hindari makanan yang sangat panas dengan kesulitan bernapas atau sangat dingin Suhu ekstrem dapat mencetuskan/ Timbang berat badan sesuai indikasi meningkatkan spasme batuk Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori menyusun tujuan berat badan dan evalusi 3.3. catat derajat anoreksia karena dispnea. b) Menghindari faktor pencetus.

dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. metrapel) . b) Metilxantin. Ini dapat dilakukan dengan postural drainase . Jika agonis beta dan metilxantin tidak memberikan respon yang baik. bekerja sangat cepat. Kromolin merupakan obat pencegah asma khususnya untuk anak-anak. dan jarak antara semprotan pertama kedua adalah 10 menit. menghindari dan mengurangi faktor pencetus termasuk intake cairan yang cukup bagi klien. c) Kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol dengan dosis 4 x semprot tiap hari. Pemberian steroid dalam jangka yang lama mempunyai efek samping. dosis dewasa diberikan 125 – 200 mg 4 x sehari. maka klien yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat. diberikan sebanyak 3 – 4 x semprot. Dosis Iputropioum Bromide diberikan 1-2 kapsul 4 x sehari . c) Fisioterapi. d) Kromolin dan Iputropioum bromide (atroven) . perkusi . Obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan. harus diberikan Kortikosteroid . b. Golongan metilxantin adalah aminofilin dan teofilin. Bentuknya aerosol. dan fibrasi dada. 21 . Pengobatan Farmakologi a) Agonis Beta : metaproterenol (alupent.

Sedangkan asuhan keperawatan yang dapat dilakukan atau diterapkan meliputi : . Memberikan intervensi dan penatalaksanaan yang sesuai dengan dignosa atau masalah keperawatan yang ada. dsb.1. serta bising mengi. Namun. Adapun tanda dan gejala yang dialami oleh pasien asma bronkial adalah sesak napas. Kesimpulan Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa asma bronkial adalah penyakit inflamasi obstruktif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkiolus. batuk produktif. Menentukan diagnosa dari pengkajian yang telah dilakukan oleh perwat. . cuaca. ada beberapa faktor pencetus yang ikut berperan dalam timbulnya penyakit ini. BAB IV PENUTUP 4. alergen. 22 . Pengkajian . yaitu genetik. Sampai saat ini penyebab dari asma bronkial belum diketahui.

Jakarta. EGC Soeparman.(1993). Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Asih & Effendy. FKUI Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”. Jakarta. Jakarta. Heru Sundaru (2001). L. (2008). M. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. Jakatra. Buku ajar keperawatan medikal bedah.(2002). S & Wilson. BalaiPenerbit FKUI.J.(2007). (1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. Jakarta: Media Aesculapius 23 . Rencana asuhan & Dokumentasi keperawatan. EGC Corwin. Jakarta : EGC. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3.(1999). EGC Brunner & Suddarth. Jakarta. Arif dkk. Jakarta : EGC Price.E. Ilmu penyakit dalam. Mansjoer. KMB-Klien dengan gangguan sistem pernapasan. EGC Carpenito.(2004). Buku saku patofisiologi.

Muttaqin. (2008). Asuhan Keperwatan Pada Klien Gangguan Sistem Pernafasan Edisi 24 . Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika Somantri. Arif.2009. Irman.