BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Usia anak adalah periode yang sangat menentukan kualitas seorang
manusia dewasa nantinya. Saat ini masih terdapat perbedaan dalam penentuan
usia anak. Menurut UU no 20 tahun 2002 tentang Perlindungan anak dan
WHO yang dikatakan masuk usia anak adalah sebelum usia 18 tahun dan
yang belum menikah. American Academic of Pediatric tahun 1998
memberikan rekomendasi yang lain tentang batasan usia anak yaitu mulai
dari fetus (janin) hingga usia 21 tahun. Batas usia anak tersebut ditentukan
berdasarkan pertumbuhan fisik dan psikososial, perkembangan anak, dan
karakteristik kesehatannya. Usia anak sekolah dibagi dalam usia prasekolah,
usia sekolah, remaja, awal usia dewasa hingga mencapai tahap proses
perkembangan sudah lengkap.
Anak usia sekolah baik tingkat pra sekolah, Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama dan Sekolah menengah Atas adalah suatu masa usia anak
yang sangat berbeda dengan usia dewasa. Di dalam periode ini didapatkan
banyak permasalahan kesehatan yang sangat menentukan kualitas anak di
kemudian hari. Masalah kesehatan tersebut meliputi kesehatan umum,
gangguan perkembangan, gangguan perilaku dan gangguan belajar.
Permasalahan kesehatan tersebut pada umumnya akan menghambat
pencapaian prestasi pada peserta didik di sekolah. Sayangnya permasalahan
tersebut kurang begitu diperhatikan baik oleh orang tua atau para klinisi serta
profesional kesehatan lainnya. Pada umumnya mereka masih banyak
memprioritaskan kesehatan anak balita.

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan
masalah, diantaranya:
1. Bagaimana karakteristik anak usia sekolah ?
2. Apa saja masalah yang timbul pada masa anak usia sekolah ?
3. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kesehatan anak ?
4. Apa yang dimaksud Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) ?
5. Bagaimana konseling yang benar dan tepat ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui karakteristik anak usia sekolah
2. Untuk mengetahui masalah-masalah yang timbul pada anak usia sekolah
3. Untuk mengetahui faktor-fakor yang mempengaruhi kesehatan anak
4. Untuk mengetahui definisi dari Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
5. Untuk mengetahui cara konseling yang benar dan tepat

D. Manfaat

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini,
yaitu:
1. Manfaat bagi penulis:
Agar penulis dapat memberikan pengetahuan kepada orang lain tentang
masalah yang timbul pada anak usia sekolah dan juga penyelesaiannya.
2. Manfaat bagi pembaca:
Agar pembaca dapat mengetahui tentang masalah yang timbul pada anak
usia sekolah dan juga penyelesaiannya

BAB II
ISI

A. Karakteristik Anak Usia Sekolah

2
Anak usia sekolah adalah anak dengan usia 6 sampai 12 tahun.
Periode ini sering disebut juga dengan periode laten, karena individu sepintas
hanya menunjukkan pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek mental
yang berarti. Ketrampilan baru yang dikembangkan selama periode ini
mengarah pada sikap industri (ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas,
semangat, kerajinan, dsb), serta berada di dalam konteks sosial. Bila individu
gagal menempatkan diri secara normal dalam konteks sosial, ia akan
merasakan ketidakmampuan dan rendah diri.
Hal yang khas pada masa anak-anak adalah perangsangan oleh hormon
kelamin sangat kecil dan memang kadar estrogen serta gonadotropin sangat
rendah. Oleh sebab itu alat genital pada masa ini tidak memperlihatkan
pertumbuhan yang berarti hingga permulaan pubertas. Pada masa kanak-
kanak, pengaruh hipofisis terutama terlihat dalam pertumbuhan badan. Pada
masa ini sudah tampak perbedaan antara laki-laki dan perempuan, terutama
dalam tingkah laku, tetapi pada perbedaan ini ditentukan oleh lingkungan dan
pendidikan.
Karakteristik anak usia sekolah bisa dilihat berdasarkan
1. Perkembangan fisik
Perkembangan fisik atau jasmani anak sangat berbeda satu sama
lain, sekalipun anak-anak tersebut usianya relative sama, bahkan dalam
kondisi ekonomi yang relative sama pula. Sedangkan pertumbuhan anak-
anak berbeda ras juga menunjukkan perbedaan yang menyolok. Hal ini
antara lain disebabkan perbedaan gizi, lingkungan, perlakuan orang tua
terhadap anak, kebiasaan hidup dan lain-lain. Nutrisi dan kesehatan amat
mempengaruhi perkembangan fisik anak. Kekurangan nutrisi dapat
menyebabkan pertumbuhan anak menjadi lamban, kurang berdaya dan
tidak aktif. Sebaliknya anak yang memperoleh makanan yang bergizi,
lingkungan yang menunjang, perlakuan orang tua serta kebiasaan hidup
yang baik akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak. Olah
raga juga merupakan faktor penting pada pertumbuhan fisik anak. Anak
yang kurang berolah raga atau tidak aktif sering kali menderita
kegemukan atau kelebihan berat badan yang dapat mengganggu gerak
dan kesehatan anak.

3
Orang tua harus selalu memperhatikan berbagai macam penyakit
yang sering kali di derita anak, misalnya berkaitan dengan kesehatan
penglihatan (mata), gigi, panas, dan lain-lain. Oleh karena itu orang tua
selalu memperhatikan kebutuhan utama anak, antara lain kebutuhan gizi,
kesehatan dan kebugaran jasmani yang dapat dilakukan setiap hari
sekalipun sederhana.

2. Perkembangan psikososial
Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah
dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat
mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah
mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan
kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan
kemampuannya dalam mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka
dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara,
memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang
dan waktu.

3. Perkembangan kesehatan
Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan kesehatan anak
juga terus berkembang. Pertahanan tubuh yang sudah baik membuat ia
kebal dengan penyakit. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan menentukan
kesehatan mereka. Seperti mencuci tangan sebelum makan, menggosok
gigi sebelum tidur dan lain-lain. Oleh karena itu peran orang tua untuk
membimbing anak-anak pada kebiasaan-kebiasaan yang benar sangat
menentukan kesehatan anak tersebut.

4
B. Masalah yang Timbul pada Masa Anak Usia Sekolah
Secara epidemiologis penyebaran penyakit berbasis lingkungan di
kalangan anak sekolah di Indonesia masih tinggi. Kasus infeksi seperti
demam berdarah dengue, diare, cacingan, infeksi saluran pernapasan akut
akibat buruknya sanitasi dan keamanan pangan.Selain itu risiko gangguan
kesehatan pada anak akibat pencemaran lingkungan dari berbagai proses
kegiatan pembangunan makin meningkat. Seperti makin meluasnya gangguan
akibat paparan asap, emisi gas buang sarana transportasi, kebisingan, limbah
industri dan rumah tangga serta gangguan kesehatan akibat bencana. Selain
lingkungan, masalah yang harus diperhatikan adalah membentuk perilaku
sehat pada anak sekolah.
Permasalahan perilaku kesehatan pada anak usia TK dan SD biasanya
berkaitan dengan kebersihan perorangan dan lingkungan seperti gosok gigi
yang baik dan benar, kebiasaan cuci tangan pakai sabun, kebersihan diri.
Permasalahan lain yang belum begitu diperhatikan adalah masalah gangguan
perkembangan dan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perkembangan dan
perilaku pada anak sekolah sangat bervariatif. Bila tidak dikenali dan
ditangani sejak dini, gangguan ini akan mempengaruhi prestasi belajar dan
masa depan anak.
Beberapa penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah adalah
sebagai berikut
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan
nyamuk Aedes aegipty atau Aedes albopictus berkelamin betina. Biasanya
penyakit ini mewabah ketika pergantian musim dari penghujan ke kemarau
atau sebaliknya. DBD cukup banyak diderita anak, serta terdiri dari 4
derajat, yakni derajat I (demam disertai gejala tidak khas), derajat II kedua
(derajat I disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain), derajat
III (sirkulasi gagal, sehingga nadi pun cepat), serta derajat IV (syok berat
dan nadi tidak teraba).

Pertolongan pertama pada penderita DBD adalah sebagai berikut
a. Memberikan minum sebanyak mungkin
b. Kompres agar panasnya turun
c. Memberikan obat penurun panas

5
d. Jika dalam waktu 3 hari demam tidak turun atau malah naik segera
bawa ke rumah sakit atau puskesmas terdekat
e. Jika tidak bisa minum atau muntah terus menerus, kesadaran menurun
atau hilang maka harus dirawat di rumah sakit.

2. Cacar air
Di Indonesia, cacar air terjadi sepanjang tahun, terbanyak pada
peralihan musim kemarau ke musim penghujan. Sangat mudah menular
dan paling banyak dialami anak usia 5 – 9 tahun. Seumur hidup, orang
hanya terkena cacar air sebanyak 1 kali. Jika terkena untuk kedua kalinya,
ini berarti ia terkena herpes zoster. Cacar bisa dicegah dengan memberikan
imunisasi cacar.

3. Tipes atau tifoid
Komplikasi yang paling ditakuti adalah perlubangan pada usus,
peradangan usus, dan gangguan otak. Juga, meski tipes bisa disembuhkan
dengan antibiotika, resistensi terhadap antibiotika generasi pertama banyak
dijumpai.

4. Campak
Menyebar dengan mudah melalui saluran napas. Ada beberapa
komplikasi yang bisa dialami anak, yakni infeksi telinga, radang paru
(pneumonia), dan gangguan saraf kelak.

5. Diare
Penularannya dengan 4F yaitu finger, food, feces, dan fly. Dan,
penanganan terpenting adalah rehidrasi (pemberian cairan yang
mengandung elektrolit yang bertujuan menggantikan air dan elektrolit
yang hilang akibat diare). Terjadinya diare disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya masuknya mikroorganisme yang masuk ke dalam
saluran pencernaan, kegagalan melakukan absorpsi, faktor makanan dan
faktor psikologis.

6. Flu Singapur (Hand Foot and Mouth disease)
Penyebab yang paling sering adalah Coxsackie A16. Sangat
menular dan sering terjadi di musim kemarau. Selain itu, banyak
menyerang anak-anak hingga usia 10 tahun.

6
7. Radang tenggorok
Ada banyak gejala yang sering menyertai radang tenggorok. Gejala
lain yang sering menyertainya batuk dan pilek. Batuk merupakan salah
satu mekanisme pertahanan saluran napas, yakni dengan membuang lendir,
benda asing, dll.

7
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Anak
1. Faktor kesehatan
Faktor kesehatan ini merupakan faktor utama yang dapat
menentukan status kesehatan anak secara umum. Faktor ini ditentukan
oleh status kesehatan anak itu sendiri, status gizi dan kondisi sanitasi.
2. Faktor kebudayaan
Pengaruh budaya juga sangat menentukan status kesehatan anak,
dimana terdapat keterkaitan secara langsung antara budaya dengan
pengetahuan. Budaya di masyarakat dapat juga menimbulkan kesehatan
anak, misalnya terdapat beberapa budaya di masyarakat yang dianggap
baik oleh masyarakat padahal budaya tersebut justru menurunkan
kesehatan anak. Sebagai contoh anak yang badannya panas akan dibawa
ke dukun dengan keyakinan terjadi kesurupan/kemasukan barang gaib,
anak pascaoperasi dilarang makan daging ayam karena daging ayam
dianggap dapat menambah nyeri yang ada pada luka operasi dan
beranggapan bahwa luka tersebut sulit sembuh.
3. Faktor keluarga
Faktor keluarga dapat menentukan keberhasilan perbaikan status
kesehatan anak. Pengaruh keluarga pada masa pertumbuhan dan
perkembangan anak sangat besar melalui pola hubungan anak dan keluarga
serta nilai-nilai yang ditanamkan. Peningkatan status kesehatan anak juga
terkait langsung dengan peran dan fungsi keluarga terhadap anaknya,
seperti membesarkan anak, memberikan dan menyediakan makanan,
melindungi kesehatan, memberikan perlindungan secara psikologis,
menanamkan nilai budaya yang baik, mempersiapkan pendidikan anak.
(Berhrman, 2000)

8
D. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
1. Pengertian UKS

Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, UKS adalah
upaya membina dan mengembangkan kebiasaan hidup sehat yang
dilakukan secara terpadu melalui program pendidikan dan pelayanan
kesehatan di sekolah, perguruan agama serta usaha-usaha yang dilakukan
dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan kesehatan dilingkungan
sekolah.

Menurut Departemen Kesehatan, UKS adalah usaha kesehatan
masyarakat yang dijalankan di sekolah-sekolah dengan anak didik beserta
lingkungan hidupnya sebagai sasaran utama.

Jadi UKS merupakan wahana untuk meningkatkan kemampuan
hidup sehat dan selanjutnya membentuk perilaku hidup sehat, yang pada
gilirannya menghasilkan derajat kesehatan yang optimal.

2. Tujuan UKS
a. Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan
peserta didik serta menciptakan lingkungan sehat sehingga
memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang harmonis
dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
b. Tujuan Khusus
1) Menurunkan angka kesakitan anak sekolah
2) Meningkatkan kesehatan peserta didik baik fisik, mental maupun
sosial
3) Agar peserta didik memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan
untuk melaksanakan prinsip-prinsip hidup sehat serta berpartisipasi
aktif dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah
4) Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan di sekolah
5) Meningkatkandayatangkaldandayahayatterhadappengaruhburuknar
kotika, rokok, alkoholdanobat-obatanberbahayalainnya.

3. Kegiatan UKS

a. Kegiatan umum UKS disebut dengan Trias UKS, yang terdiri dari :

9
1) Pendidikan kesehatan
2) Pelayanan kesehatan
3) Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat

b. Kegiatan-kegiatan UKS

1) Pemeriksaan kesehatan, meliputi gigi dan mulut, mata telinga dan
tenggorokan, kulit dan rambut, dsb
2) Pemeriksaan perkembangan kecerdasan
3) Pemberian imunisasi
4) Penemuan kasus-kasus dini
5) Pengobatan sederhana
6) Pertolongan pertama
7) Rujukan bila menemukan kasus yang tidak dapat ditanggulangi di
sekolah

10
E. Konseling
1. Fungsi utama konseling
a. Fungsi Fasilitasi, fungsi ini diberikan kepada anak usia sekolah agar
dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan kesehatan secara
optimal.
b. Fungsi Pengembangan, fungsi ini bertujuan untuk memberikan
lingkungan belajar yang kondusif bagi konseli.

2. Tujuan utama konseling untuk anak usia sekolah
Konseling merupakan suatu proses interaksi atau pemberian
bantuan dari konselor kepada konseli, baik secara langsung atau tidak
langsung, secara individu atau kelompok untuk membantu individu dalam
rangka mencapai perkembangan yang optimal. Dari usia SD sampai
dewasa, individu/remaja harus mampu mencapai tugas-tugas
perkembangan pada setiap jenjang yang ditempuh. Jadi tujuan konseling
adalah membantu individu dalam rangka mencapai perkembangan yang
optimal.

3. Tahap-tahap dalam layanan konseling untuk anak usia sekolah
Proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu
a. Tahap awal (tahap mendefinisikan masalah)
b. Tahap inti (tahap kerja)
c. Tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan)

4. Beberapa upaya peran guru dalam memberikan pendidikan kesehatan pada
anak usia sekolah:
a. Mengajak cuci tangan dengan bersih dan benar.
b. Membiasakan untuk menggosok gigi secara rutin, pagi sesudah makan,
sore setelah mandi, malam sebelum tidur.

c. Menjaga kebersihan lingkungan, misalnya : membuang sampah pada
tempatnya.
d. Membiasakan mengkonsumsi makanan yang bergizi, agar asupan
nutrisi dapat terpenuhi.

5. Peran Tenaga Kesehatan dalam Membina Anak Usia Sekolah
a. Monitor perkembangan awal masa kanak-kanak, perujukan bila ada
indikasi

11
b. Pendidik dalam tindakan pertolongan pertama dan kedaruratan
c. Penyedia imunisasi
d. Konselor pada nutrisi dan latihan
e. Pendidik dalam isu pemecahan masalah mengenai kebiasaan kesehatan
f. Pendidik tentang higiene perawatan gigi
g. Konselor pada keamanan lingkungan di rumah
h. Memberikan konseling kepada ibu-ibu guru tentang kesehatan, hal ini
bertujuan agar guru dapat menyampaikan kepada anak didiknya tentang
apa yang diketahuinya tentang kesehatan.
i. Mengadakan kerja sama dengan perangkat desa untuk mengadakan
konseling kepada ibu-ibu PKK/arisan, agar ibu-ibu dapat menjaga
kesehatan anaknya.

12
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Anak usia sekolah adalah anak umur 6 tahun sampai 12 tahun dimana
perkembangan psikologisnya sedang berkembang pesat sedangkan
perkembangan fisiknya belum terlihat. Untuk itu peran orang tua dalam hal
ini sangat besar. Orang tualah yang mempunyai tanggung jawab untuk
membantu anak-anak melewati masa ini dengan baik. Selain orang tua juga
dibutuhkan lingkungan yang mendukung si anak. Dalam bidang kesehatan
pun si anak mulai rentan terkena suatu penyakit seperti DBD, tifus, cacar, flu,
radang tenggorokan dan lain lain. Oleh karena itu pola hidup sehat harus
mulai diterapkan pada si kecil agar dia terbiasa.
Konseling yang dilakukan untuk anak usia sekolah bekerjasama
dengan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan guru BK efektif dilakukan.
Banyak masalah di sekolah yang mungkin orang tua tidak tahu sehingga dari
pihak sekolah pun menyediakan layanan konseling untuk anak-anak
bermasalah.

2. Saran

Demikian makalah ini dibuat, penulis sadar bahwa dalam makalah ini
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran agar makalah ini bisa lebih baik lagi.

13