You are on page 1of 12

LP TEORI ASKEP PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK

)

Post By. Andy J Beech at Saturday, September 13, 2014
BAB 1
TINJAUAN TEORI
PENYAKIT JANTUNG KORONER

1.1 Tinjauan Medis
1.1.1 Pengertian PJK
Penyakit Arteri Koroner (Coronary Artery Disease) adalah penyakit yang ditandai
dengan adanya endapan lemak yang berkumpul di dalam sel yang melapisi dinding suatu
arteri koroner dan menyumbat aliran darah. Endapan lemak (ateroma atau plak) terbentuk
secara bertahap dan tersebar di percabangan besar dari kedua arteri koroner utama, yang
mengelilingi jantung dan menyediakan darah bagi jantung. Proses pembentukan ateroma ini
disebut aterosklerosis. (www.medicastore.com)
Penyakit jantung koroner/ penyakit arteri koroner (penyakit jantung artherostrofik)
merupakan suatu manifestasi khusus dan arterosclerosis pada arteri koroner. Plaque terbentuk
pada percabangan arteri yang ke arah aterion kiri, arteri koronaria kanan dan agak jarang
pada arteri sirromflex. ( DepKes : 2001)
Penyakit jantung koroner adalah suatu penyakit dimana tersumbatnya aliran pembuluh
darah koroner jantung akibat penimbunan zat lemak (arteriosclerosis) karena tidak cukupnya
suplai darah yang mengandung oksigen untuk menghidupkan jantung, maka terjadi ancaman
otot jantung yang bisa menimbulkan kematian mendadak (Ronald H. Sitorus : 2006)
PJK (Penyakit Jantung Koroner) adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan O2
miokardium dengan suplai O2 yang disebabkan oleh proses arterosklerosis yang merupakan
kelainan digeneratif (Sarwono Waspadji, 2002 ; 1991).

1.1.2 Etiologi
Penyakit jantung koroner disebabkan karena ketidak seimbangan antara kebutuhan O2 sel
otot jantung dengan masukannya. Masukan O2 untuk sel otot jantung tergantung dari O2
dalam darah dan pembuluh darah arteri koroner. Penyaluran O 2 yang kurang dari arteri
koroner akan menyebabkan kerusakan sel otot jantung. Hal ini disebabkan karena
pembentukan plak arteriosklerosis. Sebab lain dapat berupa spasme pembuluh darah atau
kelainan kongenital.

1991). 3. 2. Gaya hidup yang mempredisposisi individu ke penyakit jantung koroner adalah diet yang terlalu kaya dengan kalori. 1991). yang kemudian terpecah menjadi dua cabang besar ke bawah (arteri desendens anterior sinistra) dan melintang (arteri sirkumfleksa) sisi kiri jantung. Arteri koroner adalah pembuluh darah yang menyuplai otot jantung.1. Karena faktor resiko yang di tetapkan akhir-akhir ini tidak tampak menjelaskan keseluruhan perbedaan dalam kematian karena penyakit jantung koroner. Faktor resiko kecil dan lainnya. 1991). Dinding sisi kiri jantung disuplai dengan bagian yang lebih banyak melalui arteri koronaria utama kiri.3 Faktor resiko Faktor resiko yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner dapat di golongkan secara logis sebagai berikut: 1. Iskemia (kerusakan) yang berat dan mendadak akan menimbulkan kematian sel otot jantung yaitu disebut infark jantung akut yang irreversibel (tidak dapat sembuh kembali). Jantung menggunakan 70% sampai 80% oksigen yang dihantarkan melalui arteri koroner . lemak jenuh. Berbagai faktor resiko yang ada antara lain kontrasepsi oral. merokok sigaret dan penyalah gunaan alkohol (Kaplan & Stamler. Sifat aterogenik mencakup lipid darah. Jantung kanan dipasok seperti itu pula dari arteri koronaria .1. Jantung dapat bergerak yaitu mengembang dan menguncup disebabkan oleh karena adanya rangsangan yang berasal dari susunan syaraf otonom. maka ada kecurigaan ada faktor resiko utama yang tak diketahui benar-benar ada. Arteri koronaria muncul dari aorta dekat hulunya diventrikel kiri.genensis (Kaplan & Stamler. tekanan darah dan diabetes melitus. penambahan berat badan yang tak terkendalikan. Kebiasaan hidup atau faktor lingkungan yang tak di tentukan semaunya. organ lain hanya menggunakan rata-rata seperempat oksigen yang dihantarkan. yang mempunyai kebutuhan metabolisme tinggi terhadap oksigen dan nutrisi. 1. sebagai perbandingan. Di jantung terdapat pembuluh darah arteri koroner. garam serta oleh kelambanan fisik. kerentanan hospes. 1. kolesterol. Faktor ini bersama-sama berperan besar dalam menentuak kecepatan artero. umur dan jenis kelamin (Kaplan & Stamler. Sifat pribadi Aterogenik. Hal ini juga dapat menyebabkan gangguan fungsi jantung dengan manifestasinya adalah nyeri.4 Fisiologi Jantung merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot.

5 Faktor-faktor resiko :merokok. Oksigen diperlukan oleh sel-sel miokardial. (Smeltzer.1. kolesterol tinggi Arteriosklerosis Spasme arteri koroner Penurunan suplai O2 Iskemia miokard Perubahan reversibel sel danjaringan Peningkatan asam laktat pH sel menurun penurunan kontraktilitas penurunan cardiac output Keterangan : Penyakit jantung koroner dan micardiail infark merupakan respons iskemik dari miokardium yang di sebabkan oleh penyempitan arteri koronaria secara permanen atau tidak permanen. suplai darah tidak dapat mencukupi terhadap tuntutan yang terjadi. 2001 : 721) 1. . Banyaknya oksigen yang di perlukan untuk kerja jantung di sebut sebagai Myocardial Oxygen Cunsumption (MVO2). Pada jantung yang mengalami obstruksi aliran darah miocardial. obesitas. yang dinyatakan oleh percepatan jantung. Keadaan adanya obstruksi letal maupun sebagian dapat menyebabkan anoksia dan suatu kondisi menyerupai glikolisis aerobic berupaya memenuhi kebutuhan oksigen. Tidak seperti arteri lain arteri koronaria diperfusi selama diastolik. kontraksi miocardial dan tekanan pada dinding jantung. Jantung yang normal dapat dengan mudah menyesuaikan terhadap peningkatan tuntutan tekanan oksigen dangan menambah percepatan dan kontraksi untuk menekan volume darah ke sekat-sekat jantung. dextra. untuk metabolisme aerob di mana Adenosine Triphospate di bebaskan untuk energi jantung pada saat istirahat membutuhakn 70 % oksigen.

1. trigliserida meningkat 1. 1. Tiga menifestasi dari iskemi miocardial adalah angina pectoris. Mengatasi iskemia 1) Medikamentosa Obat-obat yang diberikan : nitrat (N) propandol. lengan kanan dan punggung) dapat disebabkan oleh angina pectoris stabil (APS). Kekuatan kontraksi menurun. gerakan dinding segmen iskemik menjadi hipokinetik.7 Pemeriksaan penunjang 1.kes. EKG : gelombang T terbalik. elevasi segmen ST 2. Perasaan melayang dan pingsan 4.6 Manifestasi klinik 1. Sesak nafas 3. angina pectoris tak stabil atau IMA 2. Penimbunan asam laktat merupakan akibat dari glikolisis aerobik yang dapat sebagai predisposisi terjadinya disritmia dan kegagalan jantung. Hipokromia dan asidosis laktat mengganggu fungsi ventrikel. Pemeriksaan radiologi : pembesaran ventrikel ST 3. Kelanjutan dan iskemia tergantung pada obstruksi pada arteri koronaria (permanen atau semntara). lokasi serta ukurannya. preinfarksi angina. Nyeri dada yang khas (seperti ditekan benda berat dan menjalar keleher.8 Penatalaksanaan Tindakan yang dilakukan : 1. pengurangan cardiac out put.1. Kegagalan ventrikel kiri menyebabkan penurunan stroke volume. peningkatan ventrikel kiri pada saat tekanan akhir diastole dan tekanan desakan pada arteri pulmonalis serta tanda-tanda kegagalan jantung. penyempitan arteri koronarius sementara. Echocardiografi 4.1. pindalol. 1993). dan miocardial infark atau obstruksi permanen pada arteri koronari (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Dep. antagonis calsium (Ca A) 2) Revaskularisasi Hal ini dilaksanakan dengan cara : . Pemeriksaan Lab : kolesterol. Ditemukan bising jantung dan pembesaran jantung 1.

4) Riwayat kesehatan masa lalu Keluarga yang menderita riwayat hipertensi. (1) Pemakaian trombolitik. 3) Riwayat penyakit masa lalu Riwayat hipertensi. kelemahan. penyakit jantung. Melakukan pencegahan secara sekunder (1) Obat-obat pencegahan yang sering dipakai adalah aspirin (A) dengan dosis 375 mg. 160 mg sampai 80 mg. sesak nafas. muntah.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan 1. riwayat merokok. meningkat pada frekuensi/irama dan gangguan kedalaman. riwayat penyakit jantung. biasanya pada PJK akut seperti IJA (2) Prosedur invasif (PI) non operatif (3) Operasi (coronary artery surgeny CAS) 2. kegemukan 5) Pola aktivitas sehari-hari Banyak makan makanan yang mengandung lemak tinggi. Dosis lebih rendah juga bisa efektif. kebiasaan merokok.2. minum alkohol serta serta tidak rutin dalam melakukan aktivitas olahraga. pola hidup yang tidak sehat. Anamnesa 1) Biodata Terjadi tiga kali lebih sering pada pria dibanding wanita. 2) Keluhan utama Nyeri dada yang berat. nyeri kepala yang hebat. Pemeriksaan fisik 1) Breating (B1 = pernafasan) Dispnea dengan atau tanpa aktivitas aktivitas. batuk produktif. 2) Bleeding (B2 = kardiovaskuler) Riwayat hipertensi. 1. Tanda : distres pernafasan. (2) Dahulu dipakai antikoagulan oral (OAK) tapi sekarang sudah ditinggalkan karena terbukti tak bermanfaat. mual. 6) Keadaan umum pasien Keadaan umum lemah dan dapat membaik.1 Pengkajian 1. . merokok pengguna alkohol. 2. kegemukan.

3) Tinggikan kepala tempat tidur bila klien sesak R/ Memudahkan pertukaran gas untuk menurunkan hipoksia. muntah. 5) Bowel (B5 = pencernaan) Tanda : mual. 2) Kaji dan catat respon pasien R/ Memberikan informasi tentang kemajuan penyakit. tekanan darah normal.2. dingin. nadi 80-100 x/menit Kriteria hasil : 1) Menyatakan nyeri hilang atau tak ada. perubahan berat badan 6) Bone (B6 = tulang-otot-integumen) Hipotensi postural. 2) Menunjukkan postur tubuh rileks. S4 lambat atau murmur sistolik transien lambat (disfungsi otot papilaris) mungkin ada saat nyeri. penurunan turgor kulit. pola bicara. anuria poliuria sampai hematuria. takipnea. meningkat atau menurun. oliguria. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miocard Tujuan : Nyeri dada berkurang wajah rileks respirasi 12-24x/menit. kehilangan nafsu makan. disritmia. R/ Nyeri dan penurunan curah jantung dapat merangsang saraf simpati untuk mengeluarkan norep rinoprin yang meningkatkan kemajuan penyakit. orientassi. 3) Brain (B3 = persarafan) Perubahan status mental. 4) Pantau irama jantung R/ Pasien mengalami peningkatan diatrimia yang mengancam hidup secara akut yang terjadi terhadap respon ischemia . Kulit atau membran mukosa lembab. afek. pucat pada adanya vasokontriksi. Tanda : disuria. proses pikir Tanda : nyeri kepala yang hebat 4) Blader (B4 = perkemihan) Gangguan ginjal saat ini atau sebelumnya. Bunyi jantung mungkin normal .Tanda : takikardia. kemampuan istirahat / tidur dengan cukup. frekuensi jantung meningkat. Intervensi keperawatan: 1) Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat jika terjadi nyeri dada. 1.2 Rencana Asuhan Keperawatan 1.

R/ Distritmia yang mengancam hidup dapat terjadi sehubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit. R/ Kulit hangat. gagal jantung / syok 2) Pantau / catat disritmia jantung observasi respon pasien terhadap distritmia. merah muda dan nadi kuat adalah indikator umum curah jantung adekuat 5) Ukur / catat pemasukan. R/ Berguna dalam menentukan kebutuhan cairan atau mengidentifikasi kelebihan cairan yang dapat mempengaruhi curah jantung / konsumsi . R/ Obat golongan nitrat mempunyai efek cepat vasodilatasi beta bloken menurunkan kerja miokard. 2. R/ Dapat mengindikasikan penurunan aliran darah atau oksigenasi serebral sebagai akibat penurunan curah jantung 4) Catat suhu kulit / warna. 5) Pantau tanda vital tiap lima menit R/ Tekanan darah dapat meningkatkan secara dini sehubungan dengan rangsangan simpatis 6) Pertahankan lingkungan nyaman dan tenang R/ Stress mental / emosi meningkatkan kerja miokard 7) Berikan O2 sesuai indikasi R/ Meningkatkan sediaan O2 untuk kebutuhan miokard 8) Berikan obat golongan nitrat dan beta bloker. R/ Hipotensi dapat terjadi akibat kekurangan cairan. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan inotropik akibat iscemia miokard. distritmia. pengeluaran dan keseimbangan cairan. contoh penurunan TD. dan kualitas / kesamaan nadi perifer. iskemia miokardia. atau gangguan pada konduksi elektrikal jantung 3) Observasi perubahan status mental / orientasi / gerakan atau refleks tubuh. Tujuan : Klien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas Kriteria hasil : 1) frekwensi jantung stabil (80-100 x/mnt) 2) nafas normal (16-24 x/mnt) 3) produksi urine baik (sesuai dengan intake) 4) ekstremitas pasien hangat Tekanan darah dalam batas normal (90/60 .140/90 mmHg)Intervensi : 1) Pantau / catat kecenderungan frekuensi jantung dan TD khususnya mencatat hipotensi. gangguan frekuensi /irama dan konduksi elektrikal.

contoh ditiazem (cardizem). R/ Meningkatkan oksigenasi maksimal. area baru bersih. 2) Menunjukkan reekspansi lengkap dengan tak ada pneumotorak / hemotorak. tanda vital sebelum / selama / setelah aktivitas. contohnya atenolol. alat dalam memperbaiki iskemia jantung dan disritmia 11) Berikan obat sesuai indikasi : . Bantu aktivitas perawatan diri. nadolol. nifedipin (procardia) R / meskipun berbeda pada bentuk kerjanya. R/ Tehnik relaksasi bertujuan untuk mempengaruhi fungsi jantung 10) Berikan O2 tambahan sesuai indikasi. R/ Latihan teratur merangsang sirkulasi / tonus kardiovaskuler berlebihan 8) Evaluasi adanya / derajat cemas / emosi R/ Reaksi emosi berlebihan dapat mempengaruhi tanda vital dan tahanan vaskuler sistemik serta mempengaruhi fungsi jantung 9) Dorong penggunaan tehnik relaksasi contoh napas dalam. propanolol R / obat ini menurunkan kerja jantung dengan menurunkan frekuensi jantung dan TD sistolik. yang menurunkan kerja jantung. aktivitas senggang. terjadinya disritmia. Intervensi : 1) Evaluasi frekuensi pernapasan dan kedalaman. 6) Jadwal istirahat / periode tidur tanpa gangguan. R/ Mencegah kelemahan / terlalu lelah dan stress kardiovaskuler berlebihan 7) Pantau program aktivitas. catat respons pasien. sehingga menurunkan TD dan kerja jantung. R/ Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi abnormal dapat mencegah komplikasi . Kriteria hasil : 1) Mempertahankan pola napas normal / efektif bebas sianosis dan tanda / gejala lain dari hipoksia dengan bunyi nafas sama secara bilateral.Penyekat saluran kalsium. penyekat saluran kalsium berperan penting dalam mencegah dan menghilangkan iskemia pencetus spasme arteri koroner dan menurunkan tahanan vaskuler. 3. .Penyekat beta. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan ventilasi (nyeri/kelemahan otot) Tujuan : 1) Respirasi 12-24x/menit 2) TD (110/60-120/80) mmHg 3) Tidak ada sianosis dan pernafasan cuping hidung.

letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler. R/ Krekels atau ronki dapat menunjukkan kaumulasi cairan atau obstruksi jalan napas parsial 3) Observasi karakter batuk dan produksi sputum. R/ Udara atau cairan pada area pleural mencegah ekspansi lengkap 4) Lihat kulit dan membran mukosa untuk adanya sianosis. R/ Memudahkan gerakan dada dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan nyeri insisi 8) Catat respons terhadap (latihan napas dalam atau pengobatan pernapasan. gunakan alat bantu (meniup botol) dan batuk sesuai indikasi. R/ Sianosis menunjukkan kondisi hipoksia sehubungan dengan gagak jantung komplikasi paru 5) Tinggikan kepala tempat tidur. R/ Catat keefektifan terapi atau kebutuhan untuk intervensi lebih agresif 9) Berikan tambahan O2 dengan kanula atau masker sesuai indikasi. Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. R/ Merangsang fungsi pernapasan / ekspansi paru 6) Dorong pasien berpartipasi / bertanggung jawab selama latihan napas dalam. catat area yang menurun/tak ada bunyi napas dan adanya bunyi tambahan contoh krekels atau ronki. R/ Membantu reekspasi / mempertahankan potensi jalan napas kecil khususnya setelah melepaskan selang dada 7) Beri obat analgesik sebelum pengobatan pernapasan sesuai indikasi. catat bunyi napas. batuk / produksi sputum. R/ Meningkatkan pengiriman O2 ke paru untuk kebutuhan sirkusi khususnya pada gangguan ventilasi 4. adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard Tujuan : setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas Kriteria hasil : 1) Tekanan darah dalam batas normal 2) Nadi dalam batas normal (80-100x/mnt) . 2) Auskultasi bunyi nafas.

tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien. 3) Dorong keluarga dan teman untuk menggangap pasien seperti sebelumnya. 2) Tingkatakan ekspresi perasaan dan takut. 3) Irama dalam batas normal 4) Tidak adanya angina Intervensi dan Rasional : 1) Catat irama jantung. . respon patofisiologis. contoh tes stress. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan ansietas/cemas pasien berkurang/ hilang Kriteria Hasil : 1) Menyatakan kesadaran perasaan ansietas dan cara sehat sesuai 2) Melaporkan ansietas menurun sampai tingkat yang dapat diatasi 3) Menyatakan masalah tentang efek penyakit pada pola hidup. R/ perasaan tidak diekspresikan dapat menimbulakan kekacauan internal dan efek gambaran diri. ancaman terhadap konsep diri (gangguan citra/kemampuan). contoh menolak. tekanan darah dan nadi sebelum. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi. depresi dan marah. R/ menurunkan cemas dan takut terhadap diagnosa dan prognosis. 4) Beritahu pasien program medis yang telah dibuat untuk menurunkan/membatasi serangan akan datang dan meningkatkan stabilitas jantung. R/ untuk menghindari peningkatan kerja jantung 4) Jelaskan pada pasien tentang tahap. posisi dalam keluarga dan masyarakat 4) Menunjukkan strategi koping efektif/ketrampilan pemecahan masalah Intervensi : 1) Jelaskan tujuan tes dan prosedur. R/ mengindikasikan kerja jantung 2) Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu. selama dan sesudah melakukan aktivitas. R/ menghindari kerja jantung yang tiba-tiba berat 5. R/ mengurangi beban kerja jantung 3) Anjurkan pada pasien agar tidak “ngeden” pada saat buang air besar. R/ meyakinkan pasien bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak berubah.

Rencana Asuhan Keperawatan. Pencegahan Penyakit Jantung Koroner. Evaluasi 1. Jakarta : EGC Mardiono Masetio. C. Diagnosa Keperawatan. Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Krdiovaskuler. Lynda Juall. Alice C. untuk meningkatkan kepercayaan pada program medis dan mengintregasikan kemampuan dalam persepsi diri. Perawatan Medikal Bedah II. Bandung : Ikatan Almuni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Doengoes. Norman M. Jakarta : Gaya baru Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. 1999. tranquilizer sesuai indikasi. Long. 2001. Nyeri dada berkurang wajah rileks respirasi 12-24x/menit. Tidak ada sianosis dan pernafasan cuping hidung 4. 1996. Jakarta: departemen Kesehatan. R/ mungkin diperlukan untuk mambantu pasien rileks sampai secara fisik mampu untuk membuat strategi koping adekuat. 2001. 2001. nadi 80-100 x/menit 2. R / mendorong pasien untuk mengontrol tes gejala. 5) Berikan sedatif. Many Frances Moorhouse.. Setelah dilakukan tindakan keperawatan ansietas/cemas pasien berkurang/ hilang DAFTAR PUSTAKA Barbara. Jakarta : EGC Kaplan.Jakarta : Balai Penerbit FKUI . Carpenito. Setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas 5. Marilyn E. gisser. 1991. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Sjaifoellah Noer. Edisi III. Jakarta: Balai penerbit buku kedokteran EGC. 1996. Edisi Ketiga. Klien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas 3. Buku Ajar Kardiologi.

Smeltzer.medicastore. Suzanne C. Edisi 8. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC . 2004. Penyakit Jantung Koroner. 2001.com . www.