You are on page 1of 6

PRAKTIKUM FARMASETIKA SEDIAAN STERIL

PRAFORMULASI

I. TINJAUAN FARMAKOLOGI BAHAN OBAT
Indikasi : pengobatan dan pencegahan defisiensi vitamin C dengan gejala sariawan,
pendarahan dan peradangan pada gusi, mengembalikan daya tahan tubuh.
Famakokinetik : mudah diabsorbsi melalui daluran cerna, didistribusi luas keseluruh
tubuh, kadar tertinggi terdapat dalam kelenjar dan terendah dalam otot dan jaringan
lemak, ekskresi melalui urin, dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi
jika kadar dalam darah melewati ambang rangsang ginjal.
Efek samping obat : pusing, mual, sakit kepala, insomnia, gangguan GIT (diare,
keram abdominal, kembung)
Peringatan : retensi natrium, pembentukan batu ginjal
Interaksi Obat : warfarin, aspirin, Fluphenazine

II. TINJAUAN SIFAT FISIKOKIMIA BAHAN OBAT
1. Rumus molekul : C6H8O6
2. Bobot Molekul : 176,13
3. Rumus Bangun :

4. Data kelarutan dalam berbagai pelarut :
FI IV  mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam
etanol, tidak larut dalam kloroform, dalam eter dan dalam benzene.
Martindale  larut dalam 3 bagian air, larut dalam 40 bagian alcohol, tidak larut
dala kloroform, eter dan benzene.
5. Data stabilitas :
Terhadap pH : 6,0 – 6,5
Terhadap cahaya : tidak stabil
Terhadap oksigen : tidak stabil
Terhadap suhu : tidak stabil pada suhu tinggi maksimal 1000C
Terhadap udara : mudah teroksidasi
6. Inkompaktibiltas :
Proses oksidasi dikatalis oleh atom besi dan tembaga, inkompaktible dengan
NaHCO3
7. Data lain:

FORMULASI YANG DIRENCANAKAN Vitamin C 3000 mg NaHCO3 1. Bentuk sediaan vial 4. Melebur pada suhu ± 1900C III. Zat aktif mudah teroksidasi 2. Ditambah oksidant FORMULASI 1. Dimaintain pHnya 5. BENTUK SEDIAAN. Pengatasan yang dilakukan 1. DOSIS DAN CARA PEMBERIAN Bentuk dan volume sediaan yang dibuat : Bentuk sediaan  vial pada volume 5 ml sebanyak 3 buah Rute pemberian : IV. dalam larutan cepat teroksidaso. Multiple dose  ditamabah dengan pengawet 4. Oleh pengaruh cahaya lambat laun berwarna gelap. Dalam larutan mudah teroksidasi b. Zat aktif tidak tahan dengan pemanasan 3.01% Aqua pro injeksi ad 1ml 2. Vial berwarna gelap 2. Sterilisasi filtrasi dan aseptis 3. Dalam keadaan kering stabil diudara. Permasalahan formulasi 1. MACAM-MACAM FORMULASI (Tuliskan formulasi yang Saudara Ketahui dan Tuliskan literaturnya ) Injeksi Asam Askorbat (formularium Nasional hal 9) Acidum ascorbicum 100 mg Natrii subcarbonas 48 mg Thiocarbamidum 12 mg Aqua pro injeksi ad 1 ml Injeksi Asam Askorbat (MARTINDALE) yang dipilih Vitamin C 100 mg NaHCO3 4. Pemerian : hablur/ serbuk putih atau agak kuning. IM Dosis : 100 mg/ ml a. Rentang pH sempit 5. kelarutan.8 % Benzalkonium klorida 0.44 g Benzalkonium klorida 3 ml Aqua pro injeksi ad 5 ml Tuliskan fungsi. pH stabilitas dan cara sterilisasi dari masing – masing komponen .

Cara Nama Bahan Fungsi Kelarutan pH stabilitas Sterilisasi Vitamin C Zat aktif 1 : 3 (air) 6 – 6. Di adkan dengan aqua pro injeksi 30 ml 9. 4 ad homogen 6. Timbang benzalkonium klorida di beaker glass lain dilarutkan dengan aqua pro injeksi ad larut 4.5 ml 30 ml Vitamin C  100 mg 1 ml x 30 ml 100mg ×30 ml x= =3000 mg 1ml 4. Timbang NaHCO3 di beaker glass dan dilarutkan dengan aqua pro injeksi ad larut 3.5 Filtrasi NaHCO3 1: 40 ( alcohol) Dapar Mudah larut 6 Filtrasi Benzalkonium klorida Pengawet dalam air 6 Filtrasi Aqua pro Mudah larut Pelarut 6 Filtrasi injeksi (dari cara sterilisasi tersebut simpulkan cara sterilisasi sediaan yang saudara buat ) CARA STERILISASI SEDIAAN : aseptis dan filtrasi PELAKSANAAN I. 2 ke no.8 ¿ ×30 ml=1. Timbang vitamin C di beaker glass lain aqua pro injeksi ad larut 5. Spuit diisi sebanyak 5.1 II.01 ¿ x 30 ml=3 ml 0. Cek pH pH 7 8. Masukkan no. Masukkan ke vial secara perlahan agar membran tidak bocor . PERHITUNGAN VOLUME DAN BERAT Vial volume 5 ml sebanyak 3 buah Volume = ( 3 + 2 ) x (5 + 0. Masukkan no. Menyiapkan alat  untuk dimasukkan ke ruang LAF 2. 3 ke campuran ke no 5 ad homogeny dan ditambah air ad 25 ml 7.44 g NaHCO3 100 Benzalkonium klorida  di laboratorium konsentrasi yang tersedia 0.01 % 0. CARA KERJA 1.3 ml dan dipasang filter holder 10.3 = 26.3) = 5 x 5.

Spuit injeksi 10 ml 1 . Spatel logam . Pipet . 1 Oven 180 30 4. untuk meminimalkan adanya mikroorganisme dalam sediaan yang kami buat sehingga dalam praktikum kali ini kami harus bekerja secara aseptic dan teknis aseptis pula. . Vial . Sterilisasi ( 0C ) (menit) 1. Tutup vial . Pinset . Beaker glass 50 ml 3 Oven 180 30 5. - 8. 3 Oven 180 30 10. 2 Oven 180 30 3. ALAT DAN WADAH YANG DIGUNAKAN DAN CARA STERILISASINYA No Cara Suhu Waktu Nama Wadah Ukuran Jumlah . pengeringan.III. 1 Autoklaf 121 15 2. Oleh karena itu. 1 Autoklaf 121 - PEMBAHASAN Sediaan steril merupakan bentuk sediaan yang bebas dari mikroorganisme hidup. Teknis aseptic yang kami maksud adalah mulai dari penyiapan alat atau wadah yang akan digunankan (pencucian alat yang terbuat dari gelas. Filter holder . 3 Oven 180 30 9. . Gelas ukur 50 ml 1 Autoklaf 121 15 7. Batang pengaduk . 1 Oven 180 30 6. baik bentuk vegetatif maupun spora dengan cara sterilisasi atau dengan mencampur aseptis. aluminium dan karet.

sampai sterilisasi wadah atau alat dan sediaan yang telah jadi. Proses akhir yang kami lakukan adalah memasukkan ke wadah vial dengan cara mengambil larutan ke dalam spuit sebanyak 5. Pada proses peracikan sediaan. Selain itu sediaan yang diminta dalam bentuk vial yang mengindikasikan dalam multiple dose sehingga perlu adanya penambahan pengawet guna menghindari kontaminan. Bahan aktif yang kami gunakan pada praktikum kali ini adalah Vitamin C dimana zat aktifnya lebih mudah teroksidasi sehingga seharusnya dalam pngerjaannya ditambah dengan antioksidan. NaHCO3 (1. Sedangkan bekerja secara aseptic yang kami maksud adalah kami dalam membuat sediaan steril yaitu sediaan Vitamin C dalam vial benar . Diameter pada membrane kami adalah 13 mm dimana yang . dilakukan suatu uji tekanan titik gelembung ( Bubble Point Test ). Zat aktif juga mempunyai rentang pH yang sempit sehingga perlu adanya memaintain pH. Pada proses pemasukkan ke vial. benzalkonium klorida (3 ml) dan disiapkan aqua pro injeksi sebanyak 3 ml. tata cara memasuki ruang steril dan sikap pada saat membuat sediaan Vitamin C. pH pada sediaan yang kami dapat adalah pH 7. Setelah pencampuran dilakukan dilakukan verfikasi pH dimana pH awal yang kami dapatkan adalah 8 sehingga perlu adanya penurunan pH karena dalam literature pH standar injeksi vitamin C antara 6 – 6. Selain itu. pengerjaan sediaan di ruang kelas. Pada praktikum yang kami lakukan. pemasukkannya dilakuka secara perlahan – lahan agar membrane filter holder tidak bocor dan menghindari adanya kontaminan serta memaksimalkan jaminan sterilitasnya. tangan yang kami sterilkan lebih dahulu. akan tetapi karena di laboratorium bahan antioksidan tidak ada sehingga penambahan antioksidan tidak dilakukan. Setelah sediaan yang kami buat selesai.3 ml dan selanjutnya dipasang filter holder untuk proses sterilisasi. pertama yang kami lakukan adalah menimbang keseluruhan mulai dari vitamin C ( 3 gram). zat aktif tidak tahan dengan pemanasan atau tidak stabil pada suhu tinggi maksimal ± 1000C sehingga jenis sterilisasinya adalah filtrasi dan pengerjaannya dilakukan dalam LAF (Laminar Air Flow).44 g). Uji tekanan titik gelembung dilakukan untuk mengetahui integritas dari pasangan penyaringan.pembungkusan). Hal ini dikarenakan untuk memaksimalkan jaminan sterilitas dan bahan yang kami mempunyai jaminan sterilitas rendah karena proses sterilitasnya jenis filtrasi.benar aseptis seperti: dari jas praktikum yang kami gunakan.5 yaitu dengan sedikit penambahan HCl beberapa tetes dan atas persetujuan dosen pembimbing. pH sediaan akhir yang kami dapat adalah 7.

8 ml.6 ml. Setelah pngujian yang kami lakukan. .mempunyai ukuran pori 0. kami mendapat volume 0. Hal ini menunjukkan bahwa membrane pada proses filtrasi tidak bocor sehingga jaminan sterilitas atau tidak adanya kontaminan cukup tinggi.2 µm dan ukuran volume pada spuit yang ditandai dengan pengeluaran gelembung pada beaker glass yang berisi air adalah kurang dari 0.