You are on page 1of 140

1

BAB 1
PENGERTIAN DASAR TERMODINAMIKA

1.1 PENDAHULUAN

Termodinamika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang pengaruh
panas terhadap sifat zat yang berhubungan dengan perubahan energi dan kerja. Studi
tentang termodinamika banyak dimanfaatkan untuk rekayasa teknik mesin yang
biasanya berkaitan dengan produksi daya dan pada proses pemanasan serta proses
pendinginan.
Ada beberapa definisi istilah yang akan digunakan sebagai acuan untuk
pembahasan ini, antara lain:
• Proses, yaitu perubahan yang dikenakan terhadap sistem, atau merupakan
suatu transformasi dari suatu keadan ke keadaan yang lain,
• Sistem, yaitu segala sesuatu yang ada dalam pengamatan atau digunakan
untuk mengidentifikasi subyek yang akan dianalisis,
• Lingkungan adalah segala sesuatu yang di luar sistem,
• Siklus/daur ulang termodinamika, yaitu suatu urutan proses yang berawal dan
berakhir pada keadaan yang sama.
• Suatu sistem dikatakan dalam keadan mantap bila tidak satupun sifatnya yang
berubah.
• Entalpi yaitu merupakan satuan energi gabungan terdiri dari energi dalam dan
energi aliran (fluida).
Ada beberapa penggunaan sehari-hari dari termodinamika, antara lain:
• motor bakar kendaraan otomotif,
• turbin uap dan turbin gas,
• kompresor dan pompa,
• pembangkit listrik tenaga nuklir dan gas,
• sistem propulsi untuk pesawat terbang dan roket,
• sistem pembakaran bahan bakar,
• pemisahan gas dan liquid,

2

• sistem pemanasan, ventilasi dan penyegar udara, seperti :
• refrijerasi dengan kompresi dan absorpsi,
• pompa panas (heat pump),
• Sistem energi alternatif, seperti :
• bahan bakar sel,
• pembangkit tenaga matahari,
• sistem panas bumi,
• energi air laut, gelombang air laut, dan tidal,
• sistem energi angin.

1.2 PENGERTIAN TERMODINAMIKA

Termodinamika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang pengaruh
panas terhadap sifat zat yang berhubungan dengan perubahan energi dan kerja atau
termodinamika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang membahas hubungan
antara panas dan bentuk-betnuk energi lainnya.
Kata thermodynamic berasal dari bahasa Yunani, yaitu: hermo, therme atau heat
berarti panas dan dynamics atau force berarti daya (bergerak) atau gaya.
Dalam termodinamika berbagai penemuan dalam pengamatan-pengamatan
eksperimental dinyatakan dalam bentuk hukum termodinamika, yaitu hukum
termodinamika I, hukum termodinamika II, dan hukum termodinamika III, selain itu
ada hukum yang mengawali hukum termodinamika tersebut, yaitu hukum
termodinamika ke 0 (ke-enol).

1.3 SISTEM, SIKLUS, PROSES, DAN LINGKUNGAN

Sistem adalah suatu batasan yang dipakai untuk menunjukan suatu benda
(benda kerja) dalam suatu permukaan tertutup, maksudnya adalah untuk
mepermudah atau memperjelas batasan pengamatan eksperimental (penelitian) dan
untuk memisahkan benda kerja yang diteliti dengan sekelilingnya. Atau sistem
adalah segala sesuatu yang ada dalam pengamatan atau digunakan untuk
mengidentifikasi subyek yang akan dianalisis. Suatu sistem dikatakan dalam keadan
mantap bila tidak satupun sifanya yang berubah.
Siklus/daur ulang termodinamika, yaitu suatu urutan proses yang berawal dan
berakhir pada keadaan yang sama. Siklus tertutup adalah apabila massa fluida dalam

3

sistem yang ditinjau tidak ada yang masuk maupun keluar sistem, sedang siklus
terbuka adalah apabila massa fluida dalam sistem yang ditinjau ada yang masuk
maupun keluar dari sistem.

Gambar 1.1 Transfer energi dalam sistem tertutup

Gambar 1.2 Transfer energi dalam sistem terbuka

Proses, yaitu perubahan yang dikenakan terhadap sistem, atau merupakan
suatu transformasi dari suatu keadan ke keadaan yang lain.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang di luar sistem yang dapat mungkin
dapat mempengaruhi proses dalam sistem. Di luar lingkungan berarti segala sesuatu
yang di luar sistem yang dapat dianggap tidak mempengaruhi proses dalam sistem.

0. TK = tC + 273 1. TR = tF + 460 1.Nol absolut (absolute zero). tC = TK – 273. 212 . Gambar 1. 0 0 C K F R 100 .Titik didih (steam point) 0.3 tC = 5/9 ( tF – 32 ).1 tF = TR – 460. 373 . 273 . . 492 . 1.----.Titik beku (ice point) 0. Skala suhu Kelvin (K) dan skala suhu Rankine (R) disebut suhu mutlak/absolut karena dimulai dari titik 0 (enol) absolut (energi benda = 0). skala suhu Celsius (0C).----. tF = ( 180/100 ) tC + 32.----.460 .4 SKALA TEMPERATUR Ada empat jenis skala/derajad temperatur/suhu yang akan digunakan sebagai acuan dalam pembahasan ini. 32 . temperatur absolut/mutlak = T. antara lain: Skala suhu Kelvin (K). 0 . Celsius. 4 1. Temperatur/suhu = t. dan Fahrenheit.273 .4 Keterangan: tC = suhu Celsius (0C) tF = suhu Fahrenheit (0F) TK = suhu Kelvin (K) TR = suhu Rankine (R) . tF = ( 9/5) tC + 32. skala suhu Rankine (R). Rankine. 460 - .3 Hubungan skala temperatur Kelvin. 672 . dan skala suhu Fahrenheit (0F). 1.2 tC = 100/180 ( tF – 32 ).

berapa temperatur derajad 0F b) Suatu benda memiliki temperatur 300 0F berapa temperatur derajad 0C c) Suatu benda memiliki temperatur 300 K. Hitung dan tentukan konversi derajad skala temperatur berikut: a) Suatu benda memiliki temperatur 300 0C.5 HUKUM TERMODINAMIKA KE 0 (KE-NOL Hukum termodinamika ke 0 (ke-nol) bila dua benda masing-masing dalam keadaan kesetimbangan termik dengan benda yang ke tiga menunjukan suhu yang sama. tidak adanya pergerakan molekuler suatu zat bila mencapai kondisi suhu 00K ( 0 K ) atau 00R ( 0 R ).T Maka temperatur T pada persamaan di atas harus menggunakan skala derajad absolut 0 K atau 0R [ K.T v = V/m. berapa temperatur derajad 0C . sehingga p. maka benda tersebut tidak ada pergerakan molekuler sama sekali (benda abadi). 1. Hal ini sebagai prinsip dasar pengukuran temperatur (kerja kalori-meter) dan perpindahan panas. persamaan keadaan gas ideal untuk satuan massa adalah sebagai berikut: p.7 CONTOH – CONTOH SOAL 1.6 HUKUM TERMODINAMIKA III Hukum termodinamika III (ke-tiga) bila temperatur benda mencapai temperatur nol absolut.V = m. Dalam penerapanya adalah bila dua benda atau lebih digabung/dicampur maka benda yang memiliki temperatur lebih tinggi panasnya akan berpindah ke benda yang temperaturnya lebih rendah sampai terjadi kesetimbangan termik. maka kedua benda tersebut memenuhi hukum termodinamika ke 0. dan sebagai dasar untuk perhitungan hubungan panas dan kerja pada suatu zat.R. Hukum termodinamika III merupakan keabadian suatu zat. 5 1. R ] 1. Dalam penerapanya sebagai dasar persamaan keadaan suatu zat/benda (0K) temperatur absolut. Misal untuk dasar teori kinitis molekuler.v = R. berapa temperatur derajad 0F d) Suatu benda memiliki temperatur 600 R.

. panas jenis. cl ( t2 – t3 ) = ( mk . selanjutnya logam campuran dimasukkan dalam air dan temperatur campuran menunjukan 38 0C. 0. t1 = 27 0C Logam camp. t2 = ( mk .7 Kalorimeter. ck + ma . tF = ( 180/100 ) tC ) + 32 = ( 9/5) 300 + 32 0 tF = 572 F 0 b) tF = 300 F.6 ml . t. ca ) t1 + ml .6 0F TR = 80. logam campuran massa 42 gram dipanaskan pada temperatur 98 0C. ca ) ( t3 – t1 ) cl = ( mk .00 ) ( 38 – 27 ) / 42 ( 98 – 38 ) cl = 0. ca + ml . ck = 0. panas jenis. c . ck + ma .0C. ck + ma . ck + ma . tC = TK – 273 = 300 – 273 = 27 0C tF = ( 9/5) 27 + 32 = 80.093 cal/gr.6 + 460 = 540. cl .5 Energi panas sebelum dicampur = Energi panas setelah dicampur ( mk . Berapa panas jenis dari logam campuran ?.255 cal/gr.6 0F d) TR = 600 R. ma = 50 gr . berapa temperatur derajad R Penyelesaian: a) tC = 300 0C. t1 = 27 0C Air.093 cal/gr. ml = 42 gr. 6 e) Suatu benda memiliki temperatur 300 K. 1.6 R. tF = TR – 460 = 600 – 460 = 140 0F tC = 5/9 ( 140 – 32 ) 60 0C = 60 0C e) TK = 300 K. t2 = 98 0C Temperatur campuran. 1.0C. cl = ?. 2. ca = 1. Q = m . tC = 100/180 ( tF – 32 ) = 5/9 ( 300 – 32 ) 0 tC = 148. mk = 90 gr. ca ) ( t3 – t1 ) / ml ( t2 – t3 ) 1.0C. Penyelesaian: Energi panas.093 + 50 .89 C c) TK = 300 K.. diketahui data sebagai berikut: Sebuah kalorimeter terbuat dari tembaga ( ck = 0. tC = TK – 273 = 300 – 273 = 27 0C tF = ( 9/5) 27 + 32 = 80.00 cal/gr. cl ) t3 1. panas jenis. Suatu percobaan kalorimeter untuk menentukan panas jenis suatu zat padat.0C ) massa 90 gram diisi air 50 gram temperatur 27 0C. t3 = 38 0C cl = ( 90 .

Proses.000 1.77 [kg. 77)(9.81 m/s2.81)(300) = = 0. m = 0. • Pengertian tentang Sistem. maka T = 300 K R = 29. dan Lingkungan • Konversi antara skala suhu Kelvin (K).5 kg.K] Grafitasi bumi. serta konstanta gas 29.5(29.77 [kg. anda diharapkan: 1. tekanan 120 kPa. Proses. Diketahui suatu udara (gas ideal) yang terdapat pada suatu sistem dalam piston dan silinder dengan massa 0. Siklus.V = m.R .8 p 0. Æ 1 Pa = 1 N/m2. g = 9.8 RANGKUMAN Dalam bab pengertian termodinamika ini telah dibahas tentang: • Pengertian tentang termodinamika. p. 2.365 m3 120.m/kg. dan Lingkungan . Dapat menjelaskan pengertian termodinamika. m. 7 3.9 PENUTUP Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal-soal latihan. dan suhu 27 K.T V = 1. Dengan rumus persamaan keadaan gas ideal.K] Ditanya volume gas tersebut. skala suhu Celsius (0C). dan skala suhu Fahrenheit (0F) • Hukum termodinamika ke 0 • Hukum termodinamika ke-tiga.m/kg. Penyelesaian: p = 120 kPA = 120.T maka.000 Pa. Siklus. skala suhu Rankine (R). 1.R.5 kg t = 27 0C Æ sesuai dengan hukum termodinamika III harus diubah ke suhu absolut (derajad Kelvine). Dapat menjelaskan pengertian Sistem.

10 SOAL – SOAL LATIHAN 1. Dapat meng-konversi antara skala suhu Kelvin (K). skala suhu Rankine (R).093 cal/gr. massa 0. selanjutnya logam campuran dimasukkan dalam air dan temperatur campuran menunjukan 37 0C.3 m3. berapa temperatur derajad R 2. Dapat memberikan contoh penerapan Hukum termodinamika ke 0 5.K] Ditanya tekanan gas tersebut [ kPa ] ?. 3.0C ) dipanaskan pada temperatur 98 0C. Hitung dan tentukan konversi derajad skala temperatur berikut: f) Suatu benda memiliki temperatur 98 0C. dan skala suhu Fahrenheit (0F) 4. Berapa panas jenis dari logam campuran tersebut ?. diketahui data sebagai berikut: Sebuah kalorimeter terbuat dari tembaga ( ck = 0.10 cal/gr. logam besi campuran massa 36 gram ( cl = 0. Suatu percobaan kalorimeter untuk menentukan panas jenis suatu zat padat. Berapa panas jenis dari cairan tersebut ?. berapa temperatur derajad 0C j) Suatu benda memiliki temperatur 400 K.0C ) massa 46 gram diisi dengan cairan 90 gram temperatur 29 0C. . skala suhu Celsius (0C). 8 3.m/kg. serta konstanta gas 29. dan suhu 27 K. Suatu percobaan kalorimeter untuk menentukan panas jenis suatu zat padat.5 kg. selanjutnya logam campuran dimasukkan dalam air dan temperatur campuran 36 0C. Diketahui suatu udara (gas ideal) yang terdapat pada suatu sistem dalam piston dan silinder dengan volume 0. berapa temperatur derajad 0F g) Suatu benda memiliki temperatur 210 0F berapa temperatur derajad 0C h) Suatu benda memiliki temperatur 400 K.77 [kg. logam campuran massa 36 gram dipanaskan pada temperatur 98 0C.093 cal/gr. 1. berapa temperatur derajad 0F i) Suatu benda memiliki temperatur 760 R. Dapat memberikan contoh penerapan Hukum termodinamika ke-tiga. 4. diketahui data sebagai berikut: Sebuah kalorimeter terbuat dari tembaga ( ck = 0.0C ) massa 46 gram diisi air 90 gram temperatur 29 0C. .

tekanan. yaitu sifat-sifat ekstensif dan intensif.: Sifat ekstensif Suatu sifat dikatakan ekstensif bila nilainya untuk seluruh sistem merupakan penjumlahan dari seluruh bagian yang ada yang merupakan bagian dari sistem tersebut. enersi. dan • massa dan enersi sebagai suatu sistem berinteraksi dengan lingkungannya.1 PENDAHULUAN Persamaan keadaan dalam termodinamika adalah persamaan yang membahas suatu benda (substansi) dengan menganggap benda tersebut dalam keadaan tidak dalam proses atau dalam keadaan diam (dalam satu kondisi). dan suhu. Ada dua sifat termodinamika yang dipengaruhi oleh tekanan p. suhu T. Kalau proses persamaan keadaan adalah persamaan yang membahas suatu benda (substansi) dalam keadaan proses atau dalam keadaan setelah proses (dalam dua kondisi atau lebih). • dapat berubah karena waktu. Contoh dari suatu sifat ekstensi adalah massa. Sifat merupakan suatu karakteristik makroskopis dari suatu sistem. volume. Sifat intensif Berbeda dengan ekstensif. Ciri-ciri sifat ekstensif adalah: • bergantung kepada besar dan ukuran dari sistem. sifat intensif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: . massa. volume V. volume dan energi dari suatu substrans1. Sifat-sifat termodinamika dari suatu substansi. 9 BAB 2 PERSAMAAN KEADAAN DAN PERUBAHAN KEADAAN GAS IDEAL 2. untuk menjelaskan suatu sistem dan memperkirakan perilaku substansi dibutuhkan pengetahuan tentang sifat- sifat dari susbtansi tersebut dan bagaimana hubungan dari sifat-sifat tersebut. seperti. dan massa m.

Berbeda dengan suhu. tekanan dan suhu dari suatu substan1. Jadi massa dan volume bersifat ekstensif. dimana v = V/m maka persamaan keadaan zat hanya tergantung pada sifat zat itu sendiri. Untuk memperjelas sifat tersebut akan diberikan suatu ilustrasi perbedan antara sifat ekstensif dan intensif.1) volume V diganti dengan volume jenis v. 10 • nilainya tidak bergantung dari besar dan ukuran dari sistemnya dan bisa bervariasi dari suatu tempat ke tempat yang lain di dalam sistem setiap saat. sedangkan suhu bersifat intensif. karena masing-masing bagian dari benda tersebut mempunyai suhu yang sama. Variabel keadaan p. V. karen adpat diukur secara langsung. dan T dengan massa m disebut persamaan keadaan suatu zat. suhu benda tersebut bukan merupakan penjumlahan suhu dari masing-masing bagiannya. dan T dari suatu zat dipengaruhi oleh sifat zat itu sendiri. Maka massa dari benda tersebut merupakan penjumlahan massa dari masing-masing bagiannya. Bentuk persamaan keadaan menjadi: . Persamaan ini secara matematika ditulis: F ( p.1 Bila pada persamaan (2.2 PERSAMAAN KEADAAN GAS IDEAL Dalam termodinamika. Bila tenaga ikat molekul-molekulnya dapat diabaikan begitu saja maka bersifat gas riel. Contoh dari suatu sifat intensif adalah volume spesifik. Hubungan variabel keadaan p. Hubungan variabel keadaan p. • tidak bersifat aditif. V. yaitu dengan memperhatikan suatu benda dengan suhu yang sama. Hal ini disebabkan karena sifat-sifat dari gas ideal hanya berbeda sedikit dari sifat-sifat gas yang sesungguhnya. 2. dan T ini biasa disebut variabel keadaan sederhana. Gas ideal (gas sempurna) adalah gas dimana tenaga ikat molekul-molekulnya dapat diabaikan. V. kemudian benda tersebut dipecah menjadi dua bagian. demikian juga volume dari benda tersebut merupakan penjumlahan volume dari masing-masing bagiannya. m ) = 0 2. V. gas yang dipergunakan sebagai benda kerja (working substance) umumnya semuanya dianggap bersifat sebagai gas ideal. Jadi setiap gas yang tenaga ikat molekul-molekulnya dapat diabaikan tergolong dalam gas ideal. T.

Tabel 2.23 .V = m.25 Argon (A) 29.76 Methana (CH4) 16.26 Zat asam (02) 32.R.89 Athylene (C2H4) 28.964 29.T 2.0K ] Udara (tanpa CO2) 28.016 30. 0R ] Hubungan konstanta gas dengan konstanta gas universal : R = Ro/M 2.T 2.50 Helium (He) 4.0K ] M = berat molekul gas [ kg / kg-mole ].002 212.016 420. Untuk dasar teori kinitis molekuler.5 dimana : Ro = konstanta gas universal = 8314.m / kg. v.0K ] T = suhu absolut gas [ 0K.0 Amoniak (NH3) 17.3 v = V/m. sehingga p. M konstanta gas R G a s [ kg / kg-mole ] [ kg. Berat molekul dan konstanta gas ideal Berat Molekul.m / m2 ] v = volume jenis gas [ m3 / kg.25 Zat air (H2) 2.000 26.1.v = R.m / kg.m / kg-mole.944 21.0K ] = 848 [ kg. 11 F ( p.031 49.4 dimana : p = tekanan absolut [ N.9 [ N. T) = 0 2.7 Zat lemas (N2) 28.011 19.m / kg-mole.0K ].054 30.77 Dioksid arang (CO2) 44.2 Untuk zat-zat yang berbeda sifatnya akan terdapat persamaan keadaan yang berbeda.m ] V = volume gas sebenarnya [ m3 ] m = massa gas [ kg ] R = konstanta gas [ N. [ kg. persamaan keadaan gas ideal untuk satuan massa adalah sebagai berikut: p.m / kg.043 52.

maka p. 2.k.3 PERUBAHAN KEADAAN GAS IDEAL Pada gas ideal terdapat empat macam perubahan keadaan istimewa. Harga-harga konstanta gas R pada tabel ini dibuat dalam satuan M. proses volume konstan.V p ..3. 12 Untuk lebih mudah mengetahui harga-harga R untuk beberapa gas-gas yang umum dipakai. lihat tabel 2.V = m. sehingga T p1. Hal ini dimaksudkan agar pemilihan dalam satuan sesuai dengan satuan R yang tertulis di atas..1 Perubahan Keadaan dengan Proses Temperatur Konstan (Isothermal) Gambar 2. yaitu perubahan keadaan dengan .s. Contoh proses isothermal . dan proses adiabatic...1.R. proses tekanan konstan.V1 p .V = 2 2 = .T Æ m dan R dalam keadaan konstan. proses temperatur konstan.. Diagram p – V pada proses isothermal Gambar 2.R = konstan.= n n T1 T2 Tn 2.1.2.V = m. p.

3. dalam proses p1. sehingga : = 2 2 Æ T1 = T2. 13 Suatu proses pada kondisi 1 ke kondisi 2 dan kondisi 2 ke kondisi 1.3 Perubahan Keadaan dengan Proses Tekanan Konstan (Isobarik).6 2.V1 p . T1 T2 maka : p1.3. sehingga : = 2 2 Æ V1 = V2 T1 T2 p1 p = 2 2.V1 = p2.3.V proses kondisi temperatur konstan T1 = T2. Suatu proses pada kondisi 1 ke kondisi 2.4.2 Perubahan Keadaan dengan Proses Volume Konstan (Isovometric) Suatu proses pada kondisi 1 ke kondisi 2 dan kondisi 2 ke kondisi 1. dalam proses kondisi tekanan .V kondisi volume konstan V1 = V2.V1 p .V2 2. Contoh proses isochoris 2.7 T1 T2 Gambar 2. dalam p1. Diagram p – V pada proses isochoris Gambar 2.

Kejadian ini didapat pada motor-motor yang perputar dengan cepat. Diagram p – V pada proses isobarik Gambar 2. Kerja yang dilakukan gas dalam silinder hanya sebagai hasil perubahan energi sendiri.3. maka T1 T2 V1 V2 = 2. Persamaan Keadaan Gas Van Der Waals dan Gas Beattlie . Pada proses adiabatic gas atau fluida dalam sistem tidak menerima dan tidak mengeluarka panas. hal ini karena tenaga ikat molekul- molekulnya tidak dapat diabaikan begitu saja. sehingga : = 2 2 Æ p1 = p2. Proses adiabatic akan dibicarakan pada bab V. Contoh proses isobarik 2.4 Perubahan Keadaan dengan Proses Adiabatic.V1 p .T. Dalam hal ini silinder (sistem) diisolasi.Bridgeman.8 T1 T2 Gambar 2. 14 p1.6.v tidak sama dengan R. 2.V konstan p1 = p2.5 Persamaan Keadaan Gas Riel. Seorang yang bernama Van Der Waals membuat rumus dengan memperhatikan tenaga ikat molekul-molekul gas sebagai . Pada gas-gas real p.3.5.

dan V – T pada proses persamaan keadaan Proses isothermal Proses Isometric Proses isobaric Jenis Diagram p1. p – T.V2 p1 /T1 = p2 /T2 V1 /T1 = V2 /T2 p p p Diagram p–V 0 V 0 V 0 V p p p Diagram p–T 0 T 0 T 0 T V V V Diagram V–T 0 T 0 T 0 T 2.V1 = p2.314 J/mol K. serta konstanta gas universal adalah 8.314 J/mol K.2 Diagram p – V. dan suhu 360 K. persamaan gas-gas riel tersebut tidak dibicarakan v2 dalam buku ini. . tekanan 120 kPa. Diketahui suatu gas ideal yang terdapat pada suatu sistem piston dan silinder dengan jumlah mol adalah 4 mol.4 CONTOH – CONTOH SOAL 1. maka. Tabel 2.000 Pa n = 4 mol T = 360 K Ro = 8. Penyelesaian: p = 120 kPA = 120. 15 a berikut : ( p + ) (v – b) = R. Ditanya : Berapa volume gas tersebut.T.

R.T = dT V T m.5 lt T1 = (37 + 273) = 3100K . maka: pdV = m.5 liter dengan temperatur mula-mula 370C. Penyelesaian: Persamaan keadaan gas ideal : p.V Æ m.V V T dV dT Maka: = V T 00C = 2730K Æ T = 2730K.R.314)(361) = = 0.dT dV p. Ditanya : turunkan pernyataan tersebut dari persamaan keadaan gas ideal.V = m. 273 3. tentukan temperatur akhir dari udara tersebut? Penyelesaian: V1 = 2 lt V2 = 3. dT = 10C = 10K (kenaikan temperatur 10C = kenaikan temperatur10K). Udara dalam silinder dibuat pada tekanan konstan. Hukum Gay Lussac-Charles menyatakan bahwa pada tekanan konstan volume 1 suatu massa akan bertambah dari volumenya pada 00C bila temperaturnya 273 dinaikkan tiap-tiap 1 derajad Celsius.T dV dT Æ = p. dV dT 1 = = V T 273 Jadi : 1 ∆V = V.V p.1 m3 120.R. 16 nRo T V = p 4(8. Bila volume udara bertambah dari 2 liter menjadi 3.000 2.R.T Æ = 1.R.T Pada p konstan. m.

a) isothermal. dan suhu 320 K.50K = 269. • Dan contoh-contoh perhitungan. 2.6 PENUTUP Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal-soal latihan.3. tentukan temperatur akhir dari udara tersebut? . Dapat menjelaskan pengertian tentang persamaan keadaan gas ideal 2.5 T2 = = 542. Perubahan keadaan isovolumetrik d. dan d) adiabatik. 17 V1 V T .314 J/mol K. Diketahui suatu gas ideal yang terdapat pada suatu sistem piston dan silinder dengan jumlah mol adalah 8 mol. 2.7 SOAL – SOAL LATIHAN 1. Udara dalam silinder dibuat pada tekanan konstan. 2. anda diharapkan: 1. tekanan 150 kPa. b) isobarik. serta konstanta gas universal adalah 8.V = 2 Æ T2 = 1 2 T1 T2 V1 310.50C 2 2. Bila volume udara bertambah dari 12 liter menjadi 20 liter dengan temperatur mula-mula 420C. c) isovolumetrik. Perubahan keadaan isothermal b.5 RANGKUMAN Dalam bab persamaan keadaan dan perubahan persamaan gas ideal ini telah dibahas tentang: • Persamaan keadaan gas ideal • Perubahan persamaan gas ideal : a. Mampu menghitung perubahan persamaan keadaan gas ideal antara lain. Perubahan keadaan isobarik c. Dapat menjelaskan pengertian tentang perubahan persamaan keadaan gas ideal 3. Perubahan keadaan adiabatik.

Pada temperatur tetap 360C. Tentukan tekanannya. a. dan diagram V – T. 18 3. kemudian gas dikompresikan pada tekanan konstan (isobarik) hingga volumenya kembali ke volume mula-mula. diagram p – T. 4. Suatu silinder tertutup. Suatu gas ideal terdiri dari 2 kg-mol. Gas dipanaskan pada volume konstan (isovolumetrik) sehingga tekanannya menjadi dua kali dari tekanan mula-mula. Berapa massa gas oxygen dalam silinder tersebut [kg] b. mula-mula tekanan 2 atm dan volume 40 liter. c. Gambarlah proses terebut pada diagram p – V. berapa kg-mol dapat dikeluarkan dari silinder sebelum tekanan turun menjadi 2 atm. Bila gas oxygen dianggap sebagai gas ideal. volumenya 2 liter berisi gas oxygen (O2) pada temperatur 360C pada tekanan 6 atm. dan tentukan temperatur pada akhir proses isometrik di atas. bila temperatur dinaikkan menjadi 3000C. .

1 PENDAHULUAN Hukum Termodinamika Pertama juga dikatakan sebagai Hukum Kekekalan Energi. Aspek dasar dari konsep energi adalah kelestarian energi. apabila ada dua buah benda yang bergerak saling bertabrakan dan kemudian kedua benda tersebut berhenti. Panas dan energi dalam ada dua hal yang sangat berbeda sekali. dan • Energi didisipasikan ke dalam bentuk panas. energi kinetik kedua benda yang bertabrakan tersebut dikonversikan menjadi energi dalam. Apakah yang terjadi dengan berbagai energinya (misalnya. Pernyataan pertama hanya tepat apabila diterapkan terhadap energi mekanik. yaitu bahwa energi suatu sistem yang tertutup/diisolasi adalah konstan. energi hanya mengalami perubahan bentuk ke energi yang lain. yaitu: • Energi yang dihasilkan telah hilang. Energi dalam ini tidak nampak secara jelas. seperti: • Motor bakar • Roket • Pesawat terbang • Pembangkit listrik tenaga gas. Tidak ada energi yang hilang. dan • Sistem pemanas. dan prinsip-prinsip termodinamika terdapat pada berbagai sistem. tetapi akan jelas karena adanya peningkatan suhu dari kedua benda tersebut. Sebagai contoh. energi kinetik)? Ada dua pernyataan. Sebagai hasil tabrakan. energi yang dikaitkan dengan berbagai gerakan dan gaya mikroskopik adalah energi dalam bukan panas. diesel. Pernyataan kedua dapat menjadi benar dengan mengganti panas ke energi dalam. dan uap • Sistem pendinginan udara. . Termodinamika merupakan salah satu cabang terpenting pada ilmu pengetahuan tentang energi. 19 BAB 3 HUKUM TERMODINAMIKA I (PERTAMA) 3.

5 kJ Wpiston = ?. hingga ketika baru saja selesai bertabrakan pada saat kedua benda tersebut dalam keadaan diam.6 kJ/kg Wdis = . dapat dipertukarkan dan dapat dituliskan dengan persamaan sebagai berikut: dE = dQ – dW 3. 3. energi awal dari sistem tersebut adalah: .1). Maka.9 kJ/kg U2 = 2659.1 dengan. 20 Untuk memahami salah satu atau beberapa sistem tersebut di atas diperlukan pemahaman tentang termodinamika. kekekalan energi dapat dinyatakan secara aljabar dengan melihat dua buah benda. Gambar 3. yang saling bertabrakan (lihat Gambar 2. dan dengan melakukan pengamatan selama periode sesaat sebelum tabrakan. dE =dEk + dEp + dU dEk = m (V22 – V12) dEp = mg (z2 – z1) dengan. Massa fluida 5 kg Q = + 80 kJ U1 = 2709.1 Gambar benda saling bertabrakan. (z2 – z1) = selisih potensial. yang dinotasikan dengan 1. Sebagai ilustrasi. yaitu a dan b. (V22 – V12) = pertambahan kecepatan.18.2 DIFINISI HUKUM TERMODINAMIKA I Dapat dikatakan bahwa energi total dari suatu sistem dan lingkungan yang diperhatikan secara bersamaan.

maka energi sistem tidak boleh berubah. dE = dEk + dEp + dU dan.5 di dalam persoalan-persoalan termodinamika. maka sistem tersebut akan berekspansi dan melakukan kerja sebesr dW. cair maupun gas).2.4 = (Ua2 + Ub2) – (Ua1 + Ub1) = (Ua2 – Ua1) – (Ub2 – Ub1) E2-E1 = ½ ma (Va1)2 + ½ mb (Vb1)2 Sumber energi yang utama di dunia ini merupakan energi panas yang didapatkan dari hasil pembakaran bahan bakar (baik padat. dQ = dW + dU persamaan di atas dikenal dengan prinsip konservasi energi dari suatu sistem atau dikenal dengan perumusan matematis hukum termodinamika pertama. 3. dengan. dan dEp = mg (z2 – z1) ≈ 0 sehingga. yaitu: . maka dEk = m (V22 – V12) ≈ 0. energi kinetik dan energi potensial relatif sangat kecil sehingga dianggap mendekati nol. sebagian diubah menjadi energi dalam dan jumlah energi (energi kinetik dan energi potensial). dQ – dW = dU + dEk + dEp dQ = dW + dEk + dEp + dU 3. Perlu ditekankan bahwa perumusan matematis hukum termodinamika pertama mengandung tiga pendapat yang berkaitan. dapat memberi besarnya peningkatan total energi dalam sistem menjadi: E2-E1 = U2 – U1 3.3.2 2 2 = ½ ma (Va1) + mb (Vb1) + Ua1 + Ub1 Energi akhir sistem adalah: E2 = Ua2 + Ub2 3. 21 E1 = Ea1 + Eb1 . Bila suatu sistem yang merupakan suatu proses diberikan sejumlah panas dQ.3 Karena sistem tertutup. dan 3. jadi: Energi awal sistem = energei akhir sistem E1 = E2 Substitusi persamaan 3. Dan dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut: dQ – dW = dE .

setelah proses berlangsung.2). Untuk kondisi yang ideal. 2 C B A 1 Gambar 3. Pada ireversibel. . Pada reversibel. kemudian proses kembali dari keadaan 2 ke 1 melalui lintasan A lagi. setelah proses berlangsung (lihat Gambar 3. kemudian proses kembali dari keadaan 2 ke 1 melalui lintasan C. 22 • keberadaan fungsi energi dalam • prinsip kekekalan energi • panas sebagai energi dalam perindahan yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu. yaitu: a. 3. proses yang berlangsung dan keadan 1 ke 2 melalui lintasan A atau B. Proses reversibel merupakan salah satu proses yang dapat berlangsung secara sempurna atau proses ini sangat sulit terjadi. proses yang berlangsung dari keadaan 1 ke 2 melalui lintasan A. hampir seluruh proses adalah ireversibel.3 PROSES IRREVERSIBEL Suatu siklus yang dikatakan ireversibel bila sistem dan lingkungan tidak dapat dikembalikan ke keadaan awalnya. dan b. Ada dua macam proses yang dikenal pada termodinamika.2 Proses reversibel dan irreversibel.4 PROSES REVERSIBEL Suatu proses yang dikatakan reversibel bila sistem dan lingkungan dapat dikembalikan ke keadaan awalnya. proses reversibel. maka banyak proses termodinamika menggunakan proses reversibel. proses irreversibel 3.

• proses reversibel pada suhu konstan (isotermik). • proses reversibel pada tekanan konstan (isobarik). • proses reversibel politropis. yaitu: • proses reversibel pada volume konstan (isovolumetrik). dan • proses reversibel adiabatis 3.3 Proses reversibel dan reversibel. Macam proses reversibel.1 Proses Revesibel pada Volume Konstan (Isovolumetrik) Pada proses ini berlangsung dari keadaan 1 ke keadaan 2 pada volume konstan (V1 = V2) dan berlangsung dari tekanan p1 ke tekanan p2 Kerja yang dihasilkan pada proses ini adalah: Gambar 3. 23 2 C B A 1 Gambar 3.4.4 Diagram p – V pada proses volume konstan 2 W12 = ∫ 1 pdV V1 = V2 (volume konstan) didapat: W12 = pV |12 .

24 W12 = p (V2-V1) W12 =0 3.5 Diagram p – V pada proses tekanan konstan 3. 2 W12 = ∫ 1 pδV c pV =c p= V V2 p p1 V 1 = p1V2 = c = 1 V1 p2 . maka didapatkan kerja yang berlangsung dari keadaan 1 ke keadaan 2.2 Proses Revesibel pada Tekanan Konstan (Isobarik) Pada proses ini berlangsung dari keadaan 1 ke keadaan 2 pada tekanan konstan (p1 = p2) dan berlangsung dari volume V1 ke V2 Dengan cara yang sama.4. maka didapatkan kerja yang berlangsung dari keadaan 1 ke keadaan 2 dan dari keadaan 2 ke keadaan 1.7 Gambar 3.4. didapat: ∫ 2 W12 = pδV 1 p1 = p2 (tekanan sama) didapat: W12 = p V |12 = p1 (V2 – V1) W12 = p2 (V2 – V1) 3.3 Proses Reversibel pada Temperatur Konstan (Isotermal) Pada cara yang sama.6 3.

4.4 Proses Reversibel Politropik Pada proses ini berlangsung dari keadaan 1 ke 2 pada entropi konstan (s1 = s2). yang mengikuti rumus pVn = c Dengan cara yang sama.6 Diagram p – V pada proses temperatur konstan 3. p 2V2− n +1 − p1V1nV1− n +1 W12 = − n +1 p1V1 − p 2V2 W12 = 3. maka didapat: 2 δV ∫ = c∫ 2 W12 = pδV W12 1 1 Vn 2 n c ⎡ V − n +1 ⎤ pV =cÆp n =c ⎢ ⎥ V ⎣ − n + 1⎦ 1 c − n +1 − n +1 p1V1 = p1V2n = (V2 − V1 ) − n +1 sehingga.8 p2 p2 Gambar 3.9 n −1 . 25 2 δV V2 W12 = c∫ = c In 1 V V1 V2 V2 = p1V1 In = p2V2 In V1 V1 p1 p1 = p1V1 In = p2V2 In 3.

∫ 2 W12 = pδV 1 c pVk =cÆp= Vk atau. 3.4. p1V1k = p2V2k sehingga. yang mengikuti rumus pvk = c (lihat Gambar 3.5 Proses Reversibe Isentropik (Entropi Konstan) Pada proses ini berlangsung dari keadaan 1 ke 2 pada entropi konstan (s1 = s2).7 Diagram p – V pada proses politropik indek n. 26 Gambar 3.7). 2 δV W12 = c ∫ 1 Vk 2 ⎡ V − k +1 ⎤ =c ⎢ ⎥ ⎣ − k + 1⎦ 1 c = (V2− k +1 − V1− k +1 ) − k +1 dan didapat: p 2V2k V2− k +1 − p1V1k V1− k +1 W12 = − k +1 p 2V2 − p1V1 W12 = − k +1 .

maka haruslah ada penurunan energi dari lingkungan. . jadi.5 KERJA Suatu sistem bersama dengan lingkungannya membentuk suatu sistem yang diisolasi.6 Hubungan Khusus pada Proses Gas Ideal Ada beberapa hubungan khusus antara sifat-sifat gas ideal antara tekanan.10 − k +1 3.4. apabila terdapa pertambahan energi terhadap sistem tersebut. yang sama besarnya (dengan pertambahan energi tersebut) agar kekekalan/kelestarian energi tetap dipertahankan. suhu. p ( k −1) =c Tk 1 v 2 p1 k = 1 v1 p2 k ( k −1) T1 ⎡ p1 ⎤ k =⎢ ⎥ T2 ⎣ p 2 ⎦ Tvk-1 = c k p1 ⎡ v 2 ⎤ vT =⎢ ⎥ = 2 1 p 2 ⎣ c1 ⎦ v1T2 k −1 T1 ⎡ v 2 ⎤ =⎢ ⎥ T2 ⎣ c1 ⎦ p ( n −1) =c Tn ( n −1) T1 ⎡ p1 ⎤ n =⎢ ⎥ T2 ⎣ p 2 ⎦ Tvn-1 = c n −1 T1 ⎡V2 ⎤ =⎢ ⎥ T2 ⎣ V1 ⎦ 3. dan volume pada proses politropik dan proses isentropik. 27 p1V1 − p 2V2 W12 = 3.

Selama proses. Perpindahan Energi sebagai kerja Kerja W yang dikenakan terhadap sistem. dW = p A dx . menunjukkan kerja yang dihasilkan sistem W < 0. 28 Jadi. kerja selalu merepresentasikan sebagai pertukaran energi antara sistem dan lingkungan. A adalah luas penampang piston.8) yang berisi gas (atau liquida) dimana gas bisa berekspansi. sedangkan kerja merupakan salah satu dari berbagai mekanisme bagi perpindahan energi tersebut.11 Tanda konvensi dan notasi Pada termodinamika teknik seringkali tanda sangat berpengaruh pada peralatan/mesin. Definisi Kerja Menurut definisi dalam mekanik. atau dihasilkan sistem merupakan hasil kali dari gaya F dengan perubahan jarak dx. interaksi dapat dipandang sebagai proses perpindahan energi. menjukkan kerja yang dikenakan kepada sistem Kerja ekspansi Bila suatu kerja yang dihasilkan dari suatu sistem yang tertutup yang terdiri dari piston dan silinder (lihat Gambar 3. maka tekanan gas akan mendesak piston. Tanpa konvensional yang akan digunakan di sini adalah sebagai berikut: W > 0. besernya perpindahan energi ke dalam sistem sebagai kerja (kerja yang dilakukan terhadap sistem) yang dikaitkan dengan perubahan posisi zat yang sangat kecil (infinitesimal) di dalamnya. pA =F dan A dx = dV maka.12 bila. maka kerja yang dihasilkan oleh sistem tersebut adalah: dW = p A dx 3. seperti pada motor bakar dan turbin yang menghasilkan kerja. Dan dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut: 2 W = ∫ 1 F dx 3. dan dx adalah perubahan jarak. Pada termodinamika. Bila p adalah tekanan yang terjadi pada permukaan antara gas dan piston.

13 W |12 = p V |12 Sehingga proses reversibel pada tekanan konstan akan didapat: W12 = p (V2 – V1) . 3. 3. 29 Gambar 3.8 Proses diagam p – V tekanan konstan dan pada umumnya bila persamaan di atas diintegralkan.14 . didapat persamaan sebagai berikut: 2 2 2 ∫1 d = ∫ 1 F dx = ∫ 1 p dV .

besarnya panas spesifik pada tekanan konstan (cp) dinyatakan dengan sejumlah panas yang dimasukkan ke dalam sistemuntuk menaikkan suhu sebesar dT dan sistem dipanaskan secara reversibel pada tekanan konstan.16 ⎣ dT ⎦ bila kerja mendekati nol.15 ⎣ dT ⎦ dengan. Sehingga persamaan 2.27 menjadi: ⎡ dU ⎤ cv = ⎢ 3.19 ⎣ dT ⎦ karena p adalah konstan. Dari sini dapat didefinisikan secara umum tentang panas spesifik sebagai berikut: Besarnya panas spesifik berbanding lurus dengan pertambahan panas yang terjadi dan berbanding terbalik dengan pertambahan suhu yang terjadi pada sistem tersebut.6.6. x = menunjukkan proses adalah reversibel dan lintasan proses telah tertentu. Pada proses reversibel. atau ⎡ dQ ⎤ Cx = ⎢ ⎥x 3. maka dQ = dH.1 Panas Spesifik pada Volume Konstan Pada sistem tertutup. maka memungkinkan adanya hubungan antara panas terhadap sifat dari sistemnya. maka persamaan 2. Sehingga persamaan 2. dan persamaan 2.30 menjadi: . besarnya panas spesifik pada volume konstan (cv) dinyatakan dengan sejumlah panas yang dimasukkan ke dalam sistem untuk menaikkan suhu sebesar dT dan sistem dipanaskan pada volume konstan.17 ⎣ dT ⎥⎦ v atau dU = cvdT 3.26 menjadi: ⎡ dQ ⎤ cp = ⎢ ⎥p 3.2 Panas Spesifik pada Tekanan Konstan pada sistem tertutup.18 3.26 menjadi: ⎡ dQ ⎤ cv = ⎢ ⎥v 3. 3. 30 3.6 PANAS SPESIFIK Jumlah panas yang harus dimasukkan ke dalam sistem tertutup tergantung pada macam prosesnya (proses reversibel atau ireversibel). dimana lintasan yang terjadi adalah spesifik.

dan suhu pada 27 0C. Diketahui suatu gas ideal yang terdapat pada suatu sistem piston dan silinder dengan tekanan awal sebesar 3 bar dengan volume awal ekspansi sebesar 0. Penyelesaian: p = 120 kPA = 120.7 CONTOH – CONTOH SOAL 5. tekanan 120 kPa.20 ⎣ dT ⎥⎦ p atau dH = cp dT 3. Ditanya volume gas tersebut. sedangkan tekanan akhir sebesar 1 bar dengan volume akhir ekspansi sebesar 0. Ditanya kerja yang dihasilkan dari gas tersebut.314 J/mol K.2 m3.000 N/m2.000 6.4157 m3 120.6. serta konstanta gas universal adalah 8.3 Perbandingan Panas Spesifik (k) Besarnya perbandingan panas spesifik k. n = 20 mol t = 27 0C Æ T = 300 K Ro = 8.21 cv 3. Diketahui suatu gas ideal yang terdapat pada suatu sistem piston dan silinder dengan jumlah mol adalah 20 mol. 31 ⎡ dH ⎤ cp = ⎢ 3.314)(300) = = 0. maka. adalah perbandingan antara panas spesifik pada tekanan konstan dan spesifik pada volume konstan. Dan dapat dituliskan sebagai berikut: cp k = 3.314 J/mol K. nRo T V = p 20(8.05 m3. Penyelesaian: .

Dan kerja yang dihasilkan dari baling-baling sebesar 18.5 kJ.000 Pa V1 = 0. ke keadaan 2 dengan energi dalam spesifik sebesar u2 = 2659.000)(0.05) = 5. Diketahui pula bahwa tidak ada perubahan energi kinetik dan potensial dari sistem. 7.18.9) . dengan energi dalam spesifik (per satuan massa) sebesar u1 = 2709. Q–W = dU + dEk + dEp = m(u2 – u1) + 0 + 0 dengan.9 kJ/kg. Pertanyaan : besar perubahan energi sebagai kerja pada piston.6 kJ/kg maka. Penyelesaian: dEk ≈0 dEp ≈0 m = 5kg u1 = 2709.000 J.2) – (300. W = Wpist + Wbb sehingga. Selama proses ekspansi berlangsung.6 kJ/kg. selama proses ekspansi.05 m3 p2 = 1 bar = 100.2 m3 Maka.000)(0. Uap tersebut berekspansi dari keadaan 1. Wpist = Q – Wbb – m(u2 – u1) = (+ 80) – (. ada perpindahan energi yang dimasukkan ke dalam sistem sebesar 80 kJ.5) – (5)(2569. Diketahui uap air yang berada di dalam suatu sistem piston dan silinder dengan massa sebesar 5 kg.9 kJ/kg u2 = 2659. m(u2 – u1) = Q – (Wpist + Wbb) atau.6 – 2709. W12 = p2V2 – p1V1 = (100. 32 p1 = 3 bar = 300.000 Pa V2 = 0.

5) = 350 kJ Besarnya perubahan energi sebagai kerja yang dikenakan terhadap piston adalah 350 kJ. 33 = (+ 80) – (. Dapat menjelaskan pengertian kerja dan macam-macamnya. a va1 vb1 b Gambat 3.16. 3.9 PENUTUP Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal-soal latihan. telah dibahas tentang: • Hukum termodinamika pertama.251. anda diharapkan: 1.9 Sistem baling-baling. Dapat menjelaskan pengertian hukum termodinamika pertama 2. dan silinder. 3. 4. Dapat memberikan contoh penerapan Hukum termodinamika pertama. Dapat menjelaskan pengertian panas spesifik 5. • Panas spesifik 3. piston.5) – (. . Dapat menjelaskan pengertian gas ideal. • Proses reversibel pada volume konstan • Proses reversibel pada tekanan konstan • Proses reversibel pada temperatur konstan • Proses reversibel politropik • Proses reversibel isentropik (entropi konstan) • Kerja.8 RANGKUMAN Pada bab hukum termodinamika ini.

5 Mpa.5 kg. Ditanya kerja yang dihasilkan dari sistem tersebut. Diketahui suatu gas ideal yang terdapat pada suatu sistem piston dan silinder dengan jumlah mola adalah 4 mol.44. Diketahui suatu gas ideal yang terdapat pada suatu sistem piston dan silinder volume awal kompresi sebesar 0.05 m3. Ditanya kerja yang dihasilkan dari gas tersebut. serta konstanta gas universal adalah 8. Diketahui uap air yang berada di dalam suatu sistem piston dan silinder dengan massa sebesar 0.09 m3 menjadi volume akhir sebesar 0. Ditanya volume gas tersebut. Dan kerja yang dihasilkan dari baling-baling dari turbin uap sebesar 25 kJ. ada perpindahan energi yang dimasukkan ke dalam sistem sebesar 100 kJ. Hubungan antara tekanan dan volume selama proses berlangsung adalah p = 14 V + 2. 4. dan suhu padpa 300 K.314 J/mol K.2 m3.10 SOAL – SOAL LATIHAN : 1. tekanan pada 0. sedangkan tekanan awal sebesar 1. 2. ke keadaan 2 dengan energi dalam spesifik sebesar u2 = 2400 kJ/kg.2 bar dengan volume awal ekspansi sebesar 0. Selama proses ekspansi berlangsung. .03 m3. Diketahui pula bahwa tidak ada perubahan energi kinetik dan potensial dari sistem. Ditanya besar perubahan energi sebagai kerja pada piston selama proses ekspansi. Uap tersebut berekspansi dari keadaan 1. Diketahui suatu gas ideal yang terdapat pada suatu sistem piston dan silinder dengan tekanan awal sebesar 12 bar dengan volume awal ekspansi sebesar 0. dengan satuan dari volume adalah m2 dan tekanan adalah bar. 34 3. dengan energi dalam spesifik (per satuan massa) sebesar u1 = 2500 kJ/kg. 3.

dapat diharapkan adanya terjadinya perpindahan energi dari roda gila ke molekul gas. Pada awalnya roda gila dan gas dalam keadaan yang dingin.1. dengan berlalunya waktu. keseimbangan energi yang terjadi adalah: UA = UB (U + EK)A = U 4. Pada keadaan A. Suatu benda yang jatuh akan bertambah panas jika dihentikan saat membentur tanah.1 Energi awal = Energi akhir b. 35 BAB 4 HUKUM TERMODINAMIKA II (KE-DUA) 4. Gambar 3. Keseimbangan energi yang terjadi pada kedua proses tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. tetapi belum pernah ada kejadian suatu benda yang mendingin melompat ke atas. Sebaliknya pada keadaan B. sebuah roda gila yang diselubungi gas yang ditempatkan di dalam suatu ruang yang terisolasi (adiabatik). keseimbangan energi yang terjadi adalah: UB = UA UB = (U + EK) 4. Dari hukum termodinamika I ini pula dapat diketahui bahwa panas dapat diubah menjadi kerja dan sebaliknya. kemudian roda gila berputar.1 PENDAHULUAN Pada hukum termodinamika I banyak digunakan untuk mengamati dan menentukan tipe energi yang didapat dari suatu proses.2 Energi awal = Energi akhir . kemungkinan dan kemustahilan kelangsungan suatu proses belum dapat diungkapkan. dan sistem dibiarkan beberapa saat. Dengan menggunakan hukum termodinamika I. Pada keadaan B. maka sistem akan berubah ke keadaan A. melalui berbagai tabrakan di antara molekul-molekul gas dengan roda. sehingga perputaran roda gila diperlambat dan gas mulai berputar di dalam ruang yang terisolasi tersebut. pada awalnya roda gila diam sedangkan gas di sekitarnya bersuhu tinggi. memperlihatkan tentang penjajagan hukum termodinamika II. hukum termodinamika I tidak mampu menujukkan arah dari perubawah waktu. pada keadaan A.

4.1 terpenuhi. .3. Padahal kedua proses tersebut jelas tidak akan pernah dapat berlangsung. Entropi adalah sifat suatu substansi yang mengukur derajat keacakan atau ketidakteraturan pada tingkat mikroskopik. bahwa entropi selalu diproduksi oleh semua proses. sistem dingin Tingkat keadaan B: Roda gila diam. tetapi prinsip kekekalan energi tidak mengungkapkan mengenai kemustahilan terjadinya proses tersebut. apakah perubahan tersebut revesibel atau ireversibel. maka demikian pula persamaan 4. dikenal dengan hukum termodinamika ke 3. Berkaitan dengan produksi entropi adalah hilangnya kemampuan untuk melakukan kerja berguna. jadi jika persamaan 4. Energi menurun ke bentuk yang kurang berguna atau dikenal dengan penurunan daya guna energi.2 ENTROPI Entropi adalah suatu keadaan yang alamiah. Pada hukum termodinamika II memberi batasan-batasan tentang arah yang dijalani suatu proses yang sekaligus memberikan kriteria apakah proses tersebut reversibel atau ireversibel.1 Tingkat keadaan Kemampuan untuk membedakan proses yang tidak mungkin terjadi dari berbagai proses yang mungkin berlangsung secara alamiah tentulah diperlukan untuk kesempurnaan suatu teori prediktif tentang alam yang mapan.1 dan persamaan 4.2 adalah sama. Tingkat keadaan A: Roda gila berputar. 36 Persamaan 4. sistim panas Gambar 4. Gagasan yang menyatakan dapatnya energi diproduksi tetapi tidak pernah dapat dibinasakan. Hukum termodinamika I tidak dapat menjelaskan tentang arah dan perubahan proses tersebut berlangsung.

besarnya entropi adalah: dQ ∫ T <0 4. besarnya produksi entropi adalah sama dengan perubahan entropi yang terkandung di dalam sistem tersebut. maka sistem dan sekitarnya selalu bertautan dalam perubahan entropi.8 4. bila temperatur energi sistem = temperatur sekeliling dianggap energi sistem dianggap tidak mungkin dapat . maksudnya adalah bahwa proses energi sistem diperhitungkan sampai temperaturnya = temperatur sekeliling. hubungan ini dapat ditulis dengan: dStotal = dSsistem + dSlingkungan > = 0 4. Untuk proses reversibel dan ireversibel. maka lingkungan turut mengalami perubahan entropi akibat hubungan energi tersebut. sedangkan Tanda = untuk proses reversibel Untuk sistem tertutup. Dan dapat dirumuskan sebagai berikut: dQ dS = ∫ T <=0 4. 37 Untuk sembarang sistem terisolasi.6 dengan Tanda > untuk proses ireversibel. Bila sistem mengalami perubahan entropi.7 dan dStotal = dSsistem > = 0 4. sesuatu yang memeriksa (mengukur) potensi kerja didasarkan pada keadaan sekitar/sekelilingnya. Jumlah perubahan entropi sistem dan lingkungan disebut perubahan entropi keseluruhan.5 Prinsip pertambahan entropi Bila sistem dan lingkungan mempunyai hubungan energi.3 Untuk proses reversibel. sehingga besarnya: dSsistem = 0 4.3 EXERGY (EKSERGI) Exergy. besarnya entropi adalah: dQ ∫ T =0 4.4 Untuk proses ireversibel. maka tidak ada hubungan energi dengan lingkungan.

Kerja maksimal dari suatu mesin kalor dapat diperoleh dari proses kerja siklus Carnot.9 Wmak Keterangan : Qk = Energi panas keluar sistem [kJ/s] Qin = Energi panas masuk sistem [kJ/s] Wak = Kerja keluar sistem [kW] Wmak = Kerja maksimum dari sistem [kW] ηC = Efisiensi siklus Carnot ηE = Efisiensi sesuai dengan Exergy. Exergy. persamaannya sebagai berikut : TR ηC = 1 − TT Wmak = Qin . dan bila temperatur sistem > (lebih besar dari) temperatur sekeliling dianggap masih berpotensi dapat dimanfaatkan menjadi kerja. Qin TT Sistem / Siklus daya Wak TR Qk Gambar 4.ηC Wak ηE = x100% 4. inti dari pernyataan adalah apakah mungkin dalam suatu mesin yang ideal sejumlah panas seluruhnya diubah menjadi kerja. efisiensi didasarkan pada kerja yang dihasilkan sistem dibagi dengan kerja maksimal yang mungkin dihasilkan sistem. 38 dimanfaatkan lagi.4 PERNYATAAN HUKUM TERMODINAMIKA II Ada beberapa alternatif pernyataan pada hukum termodinamika II ini.2 Siklus dasar mesin kalor 4. atau berapa besar prosentase panas yang .

maka masing-masing akan menyimpan energi di masing-masing siklus. . Pada pernyataan ini bila perpindahan panas terjadi dari benda yang bersuhu rendah ke benda yang bersuhu tinggi.10 ∑q m = ∑w + ∑w m k ∑q m atau. yang motor listriknya membutuhkan kerja yang didapat dari luar sistem. Tetapi pada hukum termodinamika II hanya ada dua pernyataan yang sering digunakan pada persoalan rekayasa. Apabila sistem beroperasi dengan siklus termodinamika. Pernyataan Kelvin-Planck ini secara aplikasi dapat diperlihatkan pada formula berikut ini.2 Pernyataan Kelvin-Planck Menurut Michael J. 4. Moran pernyataan Clausius untuk hukum termodinamika II ini adalah: Bahwa tidak mungkin untuk setiap sistem yang beroperasi dalam satu siklus dengan hanya melakukan perpindahan energi dari benda yang bersuhu rendah ke benda yang bersuhu lebih tinggi.1 Pernyataan Clausius Menurut Michael J. Contohnya adalah pada mesin pendingin. Moran pernyataan Clausius untuk hukum termodinamika II ini adalah: Bahwa tidak mungkin untuk setiap sistem yang beroperasi dalam satu siklus termodinamika dengan mengirimkan sejumlah kerja ke lingkungan sebesar panas yang diambil. maka akan muncul akibat sampingan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa setiap sistem cenderung berubah dari keadaan yang teratur menjadi tidak teratur.4. 4. 39 diubah menjadi kerja dalam suatu mesin ideal. yaitu pernyataan Clausius dan pernyataan Kelvin-Planck.4. Besarnya efisiensi teoritis dari suatu siklus termodinamika adalah berbanding lurus dengan jumlah kerja bersih dengan panas yang dipindahkan ke dalam sistem atau η= ∑w 4.

Dengan memperhatikan suatu sistem kombinasi pada Gambar 4. η = 1+ ∑q k 4.12 ∑q m QR =1+ 4. Ilustrasi yang dipakai untuk mendemonstrasikan keseimbangan pernyataan Clausius dan Kelvin-Planck dapat dilihat pada Gambar 4. tetapi hal ini tidak mungkin terjadi. karena panas selalu dipindahkan dari satu sumber yang bersuhu tinggi ke sumber yang bersuhu lebih rendah atau sebaliknya dengan bantuan energi yang .2 dimana terdapat sumber panas (yang bersuhu lebih tinggi) dan sumber dingin (yang bersuhu lebih rendah).11 ∑q m atau. Pada sistem ini terdapat perpindahan panas dari sumber panas ke sumber dingin dan juga menghasilkan sejumlah kerja (banyak digunakan pada siklus daya ideal). Gambar 4.3 Ilustrasi Clausius dan Kelvin-Planck Pada kondisi yang ideal besarnya QT = W + W’.14 TT Besarnya harga efisiensi diantara 0 sampai dengan 1. 40 η= ∑q + ∑q m k 4.2.13 QT TR =1− 4. Sebagian kerja digunakan untuk memindahkan energi dari sumber dingin ke sumber panas pada bagian sistem yang lain pada sistem kombinasi ini (banyak digunakan pada siklus pendingin).

3597123 = + 0. Pada Gambar tersebut memperlihatkan bahwa sebagian energi panas diubah menjadi kerja dan sebagian dipindahkan ke sumber yang lebih rendah. Penyelesaian: TT = 553 K TR = 278 K QT = -100 kJ QR = 100 kJ Q bila.3597123 kJ/K TR 278 sehingga. 41 dimasukkan dari luar. 4.1808318 kJ/K TT 553 QR + 100 dan dS T = = = +0. Diketahui panas yang dipindhkan dari suatu sumber panas pada suhu 553 K ke sumber panas yang lebih rendah bersuhu 278 K.1788804 kJ/K atau. dS total = dS T + dS R = −0. Suatu mesin kalor sumber panas (source) 1200 K pada aliran energi panas 500 kJ/s.1808318 + 0. berapa besar perubahan entropi total selama proses berlangsung. dS T = = = −0. Hitunglah besar tenaga reversibel dan irreversibel dari aliran proses tersebut. tenaga yang dihasilkan mesin kalor 180 kW. Pada sistem tersebut diperlihatkan bahwa sebagian panas yang diubah menjadi kerja digunakan untuk memindahkan panas dari sumber yang bersuhu rendah ke sumber yang bersuhu tinggi.17889 kJ/K 2. panas yang terbuang 300 K (panas sekeliling 300 K).5 CONTOH – CONTOH SOAL 1. ⎡ T − TR ⎤ ⎡ 553 − 278 ⎤ dS total = QR ⎢ T ⎥ = 100 ⎢ ⎣ TT xTR ⎦ ⎣ 553 − 270 ⎥⎦ = + 0. Jika pasan yang dipindahkan sebesar 100 kJ (yang diterima sama dengan yang dipindahkan). . dS = T QT − 100 maka.

42 Penyelesaian: Tout Wrev = ηth rev. dengan data sebagai berikut: • fluida kerja adalah gas ideal • tekanan awal ekspansi adalah 50 bar • temperatur awal ekspansi adalah 1323°c • volume awal ekspansi adalah 50.000) = 700.75 = 75 % TT 1200 K Wout − shaft 180 ηak = x100% = x100% = 36 % Win 500 Wak 180 ηE = x100% = x100% = 48 % Wmak 375 3. Diketahui suatu motor bakar torak. Qin Tinput 300 K = (1 − ) . TR 300 K ηC = 1 − = (1 − ) = 0. Proses 1. Volume akhir ekspansi V2 = r v V1 = (14)(50.000 mm3 • gas berekspansi dengan perbandingan volume sebesar 14 • proses adiabatik isentropik • perbandingan panas spesifik adalah 1. 500 kW = 375 kW.000 mm3 .25 • konstanta gas universal sebesar 300 j/kg k Ditanya: a) Kerja total dan kerja spesifik b) Panas total dan panas spesifik Penyelesaian: a. Wmak = Win – Wapkir Wmak = 500 – 375 = 125 kW.2 Ekspansi adiabatik isentropik 1. Energi yang tidak dapat dimanfaatkan. Qin = (1 − ) . 1200 K Energi yang hilang adalah = Wrev – Wout-shaft = 375 – 180 = 195 kW.

Tekanan akhir ekspansi (p2) p2 = ⎛ 1 ⎞ ⎜⎜ k ⎟⎟ p 1 ⎝ rv ⎠ = (1/141. 43 2.25-1) = 1200 joule/kg K 3.25 − 1 = 483.0268) = 0. Suhu akhir ekspansi (T2) T2 = ⎛ 1 ⎞ ⎜⎜ k − 1 ⎟⎟ T 1 ⎝ rv ⎠ = (1/14(1. Massa fluida kerja p1v1 m = RT1 (50)(10 5 )[ N / m 2 ](50000)(10 −9 )[m 3 ] = RT1 = 5.846333 bar 4.1571 K 6.25-1))(1600) = 827. .2515764 J b.25) 50 = 1.208333 10-4 kg 5. Kerja total dan kerja spesifik (w12 dan W12) p1v1 − p 2 v 2 W12 = k −1 (50)(10 5 )(50000)(10 −9 ) − (1. Konstanta panas pada volume konstan (cv) cv = R/(k-1) = 300/(1.0268 J/kg Kerja total.846333)(10 5 )(14 x50000)(10 −9 ) = 1.208333 10-4) (483. W12 = mw12 = (5. maka panas spesifik dan panas total (q12 dan Q12) adalah sama dengan 0. Panas spesifik dan panas total (q12 dan Q12) Karena prosesnya adalah adiabatik.

dengan data sebagai berikut: • fluida kerja gas ideal • tekanan awal ekspansi adalah 15 bar • volume awal ekspansi adalah 50. Tekanan akhir ekspansi (p2) p1V1 p2 = V2 15 × 50000 = = 3 bar 250000 3. Volume akhir ekspansi pada suhu konstan V2 = rv V1 = (5) (50000) = 250. Kerja total dan kerja spesifik (w12 dan W12) Kerja spesifik: V2 W12 = p1V1 In V1 . Kerja total dan kerja spesifik b. 44 4.2 ekspansi pada suhu konstan 1. Panas total dan panas spesifik Penyelesaian: a. Proses 1.000 mm3 2. Massa fluida kerja p1v1 m = RT1 (50)(10 5 )[ N / m 2 ](50000)(10 −9 )[m 3 ] = (300)[ J / kgK ](800)[ K ] = 3.125 10-4 kg 4.000 mm3 • suhu awal ekspansi adalah 800 K • gas berekspansi dengan perbandingan volume sebesar 5 • proses suhu konstan • konstanta gas khusus sebesar 300 J/kg k Ditanya: a. Dikethaui: suatu motor bakar torak. Suhu akhir ekspansi (T2) T2 = T1 = 800 K 5.

Diketahui suatu motor bakar torak.125 10-4) (515. Volume akhir ekspansi Im7. Konstanta panas pada volume konstan (cv) cv = R/(n-) . 5.000 mm3 2. V2 = rvV1 = (14)(50000) = 700.020. 45 (250000)(10 −9 ) = (15)(105)(50000)(10-9) In (50000)(10 −9 ) = 515.25 • konstanta gas universal sebesar 300 J/kg k Ditanya: Kerja total dan kerja spesifik Penyelesaian: Proses 1. maka panas spesifik (q12) dan panas total (Q12) sama dengan nol. dengan data sebagai berikut: • fluida kerja gas ideal • tekanan awal ekspansi adalah 50 bar • temperatur awal ekspansi adalah 1323 C • volume awal ekspansi adalah 50.020 J/kg Kerja total: Q12 = mq12 = (3.2 ekspansi politropik 1.000 mm3 • gas berekspansi dengan perbandingan volume sebesar 14 • proses politropik • perbandingan panas spesifik adalah 1.16) = 160.9438 J b. Panas spesifik dan panas total (q12 dan Q12) dq cv = dT dq = cvdT karena isotermal.

25 − 1 = 483.208333 10-4) (483. Sistem tersebut merupakan suatu siklus yang .25)50 = 1. Massa fluida kerja ⎛ pV ⎞ m = ⎜⎜ 1 1 ⎟⎟ ⎝ RT1 ⎠ (50)(10 5 )[ N / m 2 ](50000)(10 −9 )[m 3 ] = (300)[ J / kgK ](1600)[ K ] = 5. 46 = 300/(1.0268 J/kg Kerja total.1571 K 6. Sebuah sistem yang beroperasi pada suatu siklus gaya ideal tertentu yang menghasilkan kerja sebesar 410 kJ. Kerja total dan kerja spesifik (w12 dan W12) Kerja spesifik.846333 bar 4. Tekanan akhir ekspansi (p2) ⎛ 1 ⎞ p2 = ⎜⎜ n ⎟⎟ p1 ⎝ rv ⎠ = (1/141. W12 = mw12 = (5.846333)(10 )(14 x50000)(10 ) 5 5 1. Suhu akhir ekspansi (T2) ⎛ 1 ⎞ T2 = ⎜⎜ n −1 ⎟⎟T1 ⎝ rv ⎠ = (1/14(1.208333 10-4 kg 5.0268) = 0.25-1))(1600) = 827. sedangkan besarnya energi yang dimasukkan ke dalam sistem adalah 1000 kJ. p1v1 − p 2 v 2 W12 = n −1 −9 −9 = (50)(10 )(50000)(10 ) − (1.25-1) = 1200 joule/kg K 3.2515764 J 6.

. TR 300 η = 1− = = 0. Hitung besarnya efisiensi Qk = Qm – Wk = 1000 – 410 dan η = 1+ ∑Q k = 590 = 0. Skema sistem tersebut Qm = 1000 kJ TT = 500 K V Siklus daya Wk = 410 kJ TR = 300 K V Qk Gambar 4. telah dibahas tentang: • Entropi. dan • Efisiensi.4 Sistem masukan-keluaran b. • Exsergy • Pernyataan-pernyataan tentang hukum termodinamika II.6 RANGKUMAN Pada bab hukum termodinamika II ini.40 = 40% TT 500 4. 47 menerima panas dari sumber yang bersuhu 500 K dan dipindahkan ke suatu sumber yang bersuhu 300 K. Besarnya efisiensi Penyelesaian: a. dan b.41 = 41% ∑Q m 1000 atau. Ditanya: a. Skema sistem tersebut.

• tekanan awal kompresi adalah 1 bar. • konstanta gas khusus sebesar 270 j/kg k. Dapat menjelaskan pengertian tentang efisiensi. Ditanya: a. dengan data sebagai berikut: • Fluida kerja gas ideal. • volume awal kompresi adalah 250. • proses adiabatik isentropik. • temperatur awal kompresi adalah 27°c.7 PENUTUP Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal-soal latihan. Panas total dan panas spesifik 3. 4.8 SOAL – SOAL LATIHAN : 1. Dapat menjelaskan pengertian entropi 2. Diagram p-V dan T-s b. Dapat menjelaskan pengertian tentang hukum termodinamika II 5. Diketahui suatu motor bakar torak.000 mm3 • gas ditempatkan dengan perbandingan volume sebesar 14. Dapat memberikan contoh penerapan Hukum termodinamika II 6. Diketahui panas yang dipindahkan dari suatu sumber panas pada suhu 500 K ke sumber panas yang lebih rendah bersuhu 300 K. Dapat menjelaskan pengertian kerja 3. 48 4.4. • tekanan awal kompresi adalah 20 bar. Diketahui suatu motor bakar torak. anda diharapkan: 1. 2. . Jka panas yang dipindahkan sebesar 200 kJ (yang diterima sama dengan yang dipindahkan). • perbandingan panas spesifik adalah 1. Dapat menjelaskan pengertian proses reversibel dan ireversibel 4. Kerja total dan kerja spesifik c. berapa besar perubahan entropi total selama proses berlangsung. dengan data sebagai berikut: • fluida kerja gas ideal.

4. Diagram p-V dan T-s b. Panas total dan panas spesifik 5.000 mm3 • gas ditempatkan dengan perbandingan volume sebesar 8 • proses politropik • perbandingan panas spesifik adalah 1. dengan data sebagai berikut: • fluida kerja gas ideal. Diketahui suatu sistem piston dan silinder. Kerja total dan kerja spesifik c. Ditanya: a. 49 • temperatur awal kompresi adalah 850 K • volume awal kompresi adalah 50.000 mm3 • gas ditempatkan dengan perbandingan volume sebesar 3 • proses tekanan konstan • perbandingan panas spesifik adalah 1.1 bar. Panas total dan panas spesifik 4.25 • konstanta gas universal sebesar 300 J/kg K. Diagram p-V dan T-s b.000 mm3 • gas ditempatkan dengan perbandingan volume sebesar 8 • proses suhu konstan • perbandingan panas spesifik adalah 1. • temperatur awal kompresi adalah 300 K • volume awal kompresi adalah 200.4. dengan data sebagai berikut: • fluida kerja gas ideal • tekanan awal kompresi adalah 1. • konstanta gas khusus sebesar 300 J/kg K.2 bar • temperatur awal kompresi adalah 20°C • volume awal kompresi adalah 250. • konstanta gas khusus sebesar 300 j/kg k. Diketahui suatu motor bakar torak. • tekanan awal kompresi adalah 1. Kerja total dan kerja spesifik c. Ditanya: a. .

Sebuah sistem yang beroperasi pada suatu siklus daya ideal tertentu yang menghasilkan kerja sebesar 600 kJ. 50 Ditanya: a. sedangkan besarnya energi yang dimasukkan ke dalam sistem adalah 1000 kJ. Ditanya: a. . Skema sistem tersebut. Besarnya efisiensi. Sistem tersebut merupakan suatu siklus yang menerima panas dari sumber yang bersuhu 500 K dan dipindahkan ke suatu sumber yang bersuhu 200 K. dan b. Kerja total dan kerja spesifik c. Diagram p-V dan T-s b. Panas total dan panas spesifik 6.

51 BAB 5 SIKLUS-SIKLUS DAYA IDEAL 5. • Proses 2 – 3: proses kompresi yang berlangsung secara adiabatik (tidak ada panas yang dipindahkan ke dalam sistem maupun yang dikeluarkan dari sistem) dan udara serta bahan bakar dimanfaatkan secara adiabatik.2 SIKLUS CARNOT UDARA SRANDAR Siklus Carnot adalah suatu siklus dengan proses reversibel yang didefinisikan oleh dua proses isotermal dan dua proses isentropik. • Proses 3 – 3: proses ekspansi yang berlangsung secara isotermal (pada suhu konstan). Proses pada siklus Carnot Ada beberapa prose yang berlangsung pada siklus Carnot ini. • Siklus Diesel. Pada proses ini terjadi pembuangan gas hasil pembakaran pada suhu konstan. secara praktis sulit untuk diaplikasikan.1 PENDAHULUAN Pada siklus daya ideal ini akan dibahas mengenai enam macam siklus yang seringkali didapatkan dalam termodinamika. • Siklus Dual (siklus kombinasi). • Siklus Brayton. yaitu: • Siklus Carnot. yaitu: • Proses 1 – 2: yaitu proses kompresi yang berlangsung secara isotermal (suhu konstan). . Walaupun demikian. Pada proses ini terjadi pemasukan panas pada suhu konstan. • Siklus Otto. Siklus Carnot ini merupakan suatu siklus motor bakar yang mempunyai efisiensi tertinggi (secara ideal). Hal tersebut di atas akan dibahas satu per satu seperti bagian berikut ini 5.

Gambar 5. Gas hasil pembakaran berekspansi secara isentropik dan pada proses ini terjadi langkah kerja. Keempat proses tersebut dapat diperlihatkan pada Gambar 5. Gambar 5.2 Diagram p – V pada siklus Carnot. . 52 • Proses 4 – 1: proses ekspansi yang berlangsung secara isentropik.1.1 Sistem kerja mesin kalor pada siklus Carnot.

T4 = T3 . δu = δq .1 v3 Q34 = panas total = kerja total v4 Q34 = + mRT3 In v = W34 5. 4 RT q34 = +∫ δv = w34 3 v = + RT3 In v |34 v4 q34 = + RT3 In v 5.2: Kompresi isotermal (suhu konstan) • Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem.2 v3 • Parameter akhir proses Pv = RT T3 = T4 maka.δw δq = 0. karena T3 = T4 maka. δq = +δw δw = +pδv RT pv = RT Æ p = v sehingga. p3v3 = p4v4 Kerja bersih (Wnet) Wnet = w41 + w12 + w23 + w34 v2 v = − cv (T1 − T4 ) + RT1 In − c v (T3 − T2 ) + RT3 In 4 v1 v3 dengan. 53 Persamaan yang digunakan Proses 1 .

6 • Suhu akhir kompresi TVk-1 = c T4V4k-1 = T1V1k-1 k −1 T1 ⎡V ⎤ = ⎢ 4⎥ T4 ⎣ V1 ⎦ T1 k −1 = rv T4 • Tekanan akhir kompresi pV k =c k k p 4V4 = p1V1 k p1 ⎡V ⎤ = ⎢ 4⎥ p4 ⎣ V1 ⎦ p1 k = rv p4 .3 v1 v3 v2 = R (T1 − T3 ) In 5. δu = -δw 1 w41 = − ∫ δu 4 = -cv T |14 w41 = -cv (T1 – T4) 5. 54 T1 = T2 v2 v Wnet = RT1 In + RT3 In 4 5.5 W41 = Kerja total W41 = -m cv (T1 – T4) 5.δw δq = 0 (proses adiabatik) maka.4 v1 Proses 2 – 3: kompresi reversibel adiabatik (isentropik) • Kerja spesifik δu = δq .

δw δq = 0 (proses adiabatik) . 55 atau p k −1 =c Tk ( k −1) / k T1 ⎡p ⎤ = ⎢ 4⎥ T4 ⎣ p1 ⎦ Proses 3 – 4: ekspansi isotermal (suhu konstan) • Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem. karena T1 = T2 maka. 2 RT q12 = +∫ δv = w12 1 v = + RT1 In v |12 v2 q12 = + RT1 In v v1 Q12 = panas total = kerja total v2 Q12 = + RT1 In v = +W12 v1 • Parameter akhir proses Pv = RT T1 = T2 maka. p1v1 = p2v2 proses 4 – 1 : Ekspansi reversibel adiabatik (isentropik) • Kerja spesifik δu = δq . δu = δq .δw δq = 0. δq = +δw δw = +pδv RT pv = RT Æ p = v sehingga.

δu = -δw 3 w23 = − ∫ δu 2 = -cv T |32 w23 = -cv (T3 – T2) 5.7 W23 = Kerja total W23 = -m cv (T3 – T2) 5.8 • Suhu akhir proses TVk-1 = c T2V2k-1 = T3V3k-1 k −1 T2 ⎡V ⎤ = ⎢ 3⎥ T3 ⎣ V2 ⎦ T2 k −1 = rv T3 • Tekanan akhir proses pV k =c k k p 2V2 = p3V3 k p2 ⎡V ⎤ = ⎢ 3⎥ p3 ⎣ V2 ⎦ p2 k = rv p3 atau p k −1 =c Tk ( k −1) / k T2 ⎡p ⎤ = ⎢ 2⎥ T3 ⎣ p3 ⎦ Efisiensi termal siklus wnet η = ∑ qm . 56 maka.

Udara dan bahan bakar dimanpatkan secara isentropik. • Proses 1-0 yaitu proses pengeluaran gas hasil pembakaran dari dalam silinder secara isobarik (tekanan konstan) . agar proses dapat berlangsung dengan lebih sempurna.9 T1 atau 1 η = 1− k −1 5.3 SIKLUS OTTO UDARA STANDAR Siklus Otto merupakan siklus motor bakar yang banyak digunakan untuk motor bakar dengan bahan bakar bensin. Untuk proses pembakaran dapat digunakan busi pijar. 57 v2 R(T1 − T3 ) In v1 = v2 + RT1 In v1 (T1 − T3 ) = T1 T3 = 1− 5. • Proses 1-2 yaitu proses kompresi yang berlangsung secara isentropik dimana seluruh katup isap dan katup buang dalam keadaan tertutup. Dimana gas hasil pembakaran berekspansi secara isentropik dan juga disebut langkah kerja. Hingga akhir proses ekspansi. • Proses 3-4 yaitu proses ekspansi yang berlangsung secara isentropik.10 rv 5. katup isap dan buang tetap tertutup. Proses pada siklus Otto Ada beberapa proses yang berlangsung pada siklus Otto ini. • Proses 2-3 yaitu proses pembakaran yang berlangsung secara isovolumetrik (volume konstan). yaitu: • Proses 0-1 yaitu pembukaan katup isap dan pengisapan campuran udara-bahan bakar ke dalam silinder. Pada proses ini terjadi pengapian campuran bahan bakar dan udara oleh busi. Pada akhir proses ini diumpamakan bahwa tekanan di dalam silinder sama dengan tekanan atmosfir. • Proses 4-1 yaitu proses pembukaan katup buang yang berlangsung secara isovolumetrik (volume konstan).

58 Ke-empat proses tersebut dapat diperlihatkan pada Gambar 5.2 Gambar 5. Gambar 5.4 Diagram p-V dari Siklus Otto Gambar 5. Persamaan yang digunakan • Kerja spesifik u = q-w .3 Langah-langkah mesin-reciprocating dari siklus Otto.5 Mesin-reciprocating 2 langkah dari siklus Otto.

13 • Tekanan akhir kompresi pV k =c k k p1V1 = p 2V2 k p2 ⎡V ⎤ = ⎢ 1⎥ p1 ⎣ V2 ⎦ p1 k = rv p4 k p2 = rv p1 5.15 T2 ⎣ p2 ⎦ .12 • Suhu akhir kompresi TVk-1 = c k-1 T1V1 = T2V2k-1 k −1 T2 ⎡V ⎤ = ⎢ 1⎥ T1 ⎣ V2 ⎦ T2 k −1 = rv T1 k −1 T2 = rv T1 5. 59 q = 0 (proses adiabatik) maka.14 atau p k −1 =c Tk ( k −1) / k T1 ⎡p ⎤ = ⎢ 1⎥ 5.δw 2 2 ∫ δw 1 = − ∫ δu 1 w12 = -cv T |12 w12 = -cv (T2 – T1) 5.11 W12 = Kerja total W12 = -m cv (T2 – T1) 5. δu = δq .

16 Q23 = Panas total Q23 = m cv (T3 – T2) 5.19 dan. δu = . 60 Proses 2-3: Pembakaran pada volume konstan (Iso-volumetrik) a. δq = δu + δw 3 3 ∫ δq 2 = ∫ δu 2 q23 = (u3 – u2) q23 = cv (T3 – T2) 5.δw δq = 0 (proses adiabatik) maka. p 2T3 = p3T2 T3 = T2 T3 = rp T2 k −1 T3 = rp rv T1 5. Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem.17 Parameter akhir proses pv = RT v2 = v3 maka. δu = δq - δw = 0 (v2 = v3) maka. W34 = Kerja total .δw 4 2 ∫ δw 3 = − ∫ δu 3 w34 = -cv T |34 w34 = -cv (T4 – T3) 5.18 Proses 3-4: Ekspansi isentropik • Kerja spesifik δu = δq .

61

W34 = -m cv (T4 – T3) 5.20

• Suhu akhir proses
TVk-1 = c
k-1
T3V3 = T4V4k-1
k −1
T3 ⎡V ⎤
= ⎢ 4⎥
T2 ⎣ V3 ⎦
T3 k −1
= rv
T2

⎡ 1 ⎤ k −1
T4 = ⎢ k −1 ⎥ rp rv T1
⎣⎢ v ⎦⎥
r

T4 = rp T1 5.21

• Tekanan akhir proses
pV k =c
k k
p3V3 = p 4V4
k
p3 ⎡V ⎤
= ⎢ 4⎥
p4 ⎣ V3 ⎦
p3 k
= rv
p4
k
p2 = rv p1 5.22
atau
p k −1
=c
Tk
( k −1) / k
T3 ⎡v ⎤
= ⎢ 4⎥ 5.23
T4 ⎣ v3 ⎦

Proses 4-1: Pembuangan gas hasil pembakaran pada volume konstan (iso-
volumetrik)
• Panas spesifik yang masuk ke luar sistem.
δu = δq - δw
δq = 0 (v3 – v4)
maka,

62

δq = δu
maka,
δq = δu
1 1
∫ δq
4
= ∫ δu
4

q41 = cv T |14
q41 = cv (T1 – T4) 5.24
Q41 = Panas total
Q41 = m cv (T1 – T4) 5.25
• Parameter akhir proses
pv = RT
v5 = v1
maka,
p 4T1 = p1T4
k
p4 = rp p1 5.26

Kerja bersih (Wnet)
Wnet = w12 + w23 + w34 + w41

= − cv (T2 − T1 ) + 0 + cv (T4 − T3 ) + 0

= − cv (T2 − T1 ) + cv (T4 − T3 ) 5.27

Efisiensi termal siklus
wnet
η = 5.28
q 23

c v (T3 − T2 ) − cv (T4 − T1 )
η =
c v (T3 − T2 )

cv (T4 − T1 )
= 1−
c v (T3 − T2 )

(T4 − T1 )
= 1− 5.29
(T3 − T2 )
dengan,
T2 k −1 T2 T
= rv = 3
T1 T1 T4
atau,

63

T3 k −1 T3 T
= rv = 4
T4 T2 T1

T3 T
+1−1 = 4
T2 T1

(T3 − T2 ) (T4 − T1 )
=
T2 T1

(T3 − T2 ) T2
=
(T4 − T1 ) T1
sehingga,
1
η = 1− k −1
5.30
rv

5.4 SIKLUS DIESEL UDARA STANDAR

Siklus Diesel merupakan siklus motor bakar yang mempunyai efisiensi paling
rendah, karena tekanan maksimum yang dihasilkan relatif lebih tinggi, untuk
konstruksinya dibuat lebih kokoh yang juga dimanfaatkan untuk menahan
goncangan.
Pada Siklus Diesel yang dikompresi udara saja dan pada puncak kompresi
bahan bakar diinjeksikan ke dalam silinder yang berisi udara bertekanan tinggi
sehingga terjadi proses pembakaran dimana gas hasil pembakaran berekspansi secara
isentropik, hal ini disebut langkah kerja.

Proses-proses pada siklus Diesel

Gambar 5.6 Diagram p-V dari Siklus Diesel

• Proses 1-2: proses kompresi yang berlangsung secara isentropik dimana seluruh katup isap dan katup buang dalam keadaan tertutup. katup-katup isap dan buang tetap tertutup. • Proses 3-4: proses ekspansi yang berlangsung secara isentropik. Dimana gas hasil pembakaran berekspansi secara isentropik dan juga disebut langkah kerja. Udara dan bahan bakar dimanfaatkan secara isentropik. • Proses 4-1: yaitu proses pembukaan katup buang yang berlangsung secara isovolumetrik (volume konstan).31 W12 = Kerja total W12 = -m cv (T2 – T1) 5. δu = . Pada akhir proses ini diumpamakan bahwa tekanan di dalam silinder sama dengan tekanan atmosfir. Pada proses ini bahan bakar diinjeksikan ke dalam silinder yang berisi udara bertekanan tinggi. sehingga terjadi proses pembakaran.32 • Suhu akhir kompresi . Hingga akhir proses ekspansi. Persamaan yang digunakan Proses 1-2: Kompresi isentropik (reversibel dan adiabatik) Kerja spesifik • Kerja spesifik δu = δq . 64 Ada beberapa proses yang berlangsung pada siklus Diesel ini. • Proses 1-0: proses pengeluaran gas hasil pembakaran dari dalam silinder secara isobarik (tekanan konstan). yaitu: • Proses 0-1: pembukaan katup isap dan pengisapan udara ke dalam silinder. • Proses 2-3: proses pembakaran yang berlangsung secara isobarik (tekanan konstan).δw 2 2 ∫1 δw = − ∫ δu 1 w12 = -cv T |12 w12 = -cv (T2 – T1) 5.δw δq = 0 (proses adiabatik) maka.

34 atau p k −1 =c Tk ( k −1) / k T1 ⎡p ⎤ = ⎢ 1⎥ 5.w δq = δu + δw 3 3 3 ∫ δq 2 = ∫ δu + ∫ δw 2 2 maka.35 T2 ⎣ p2 ⎦ Proses 2-3: Pembakaran pada tekanan konstan (Iso-barik) Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem δu = δq . q23 = u |32 + w |32 = (u3 – u2) + (p3v3 – p2v2) = u3 + p3v3 – u2– p2v2 = (u3 + p3v3) – (u2 + p2v2) = h3 – h2 .33 • Tekanan akhir kompresi pV k =c k k p1V1 = p 2V2 k p2 ⎡V ⎤ = ⎢ 1⎥ p1 ⎣ V2 ⎦ p1 k = rv p4 k p2 = rv p1 5. 65 TVk-1 = c k-1 T1V1 = T2V2k-1 k −1 T2 ⎡V ⎤ = ⎢ 1⎥ T1 ⎣ V2 ⎦ T2 k −1 = rv T1 k −1 T2 = rp T1 5.

rc = cut off ratio Proses 3-4: Ekspansi isentropik • Kerja spesifik δu = δq .δw δw = . 66 q23 = cv (T3 – T2) 5. v 2T3 = v3T2 V3 T3 = T2 V2 T3 = rc T2 k −1 T3 = rc rv T1 5.36 Q23 = Panas total Q23 = m cp (T3 – T2) 5.40 • Suhu akhir proses TVk-1 = c T3V3k-1 = T4V4k-1 k −1 T3 ⎡V ⎤ = ⎢ 4⎥ T4 ⎣ V3 ⎦ . δu = .δu w34 = -cv T w34 = -cv (T4 – T3) 5.37 Parameter akhir proses pv = RT p2 = p3 maka.δw δq = 0 (proses adiabatik) maka.38 dengan.39 w34 = Kerja total w34 = -m cv (T4 – T3) 5.

67 k −1 ⎡V V ⎤ = ⎢ 4 2⎥ ⎣ V3 V2 ⎦ k −1 T3 rv = k −1 T4 rc ⎡ r k −1 ⎤ k −1 T4 = ⎢ c k −1 ⎥ rc rv T1 ⎣⎢ rv ⎦⎥ T4 = rcT1 5. δu = δq .45 .41 • Tekanan akhir proses pV k =c k k p3V3 = p 4V4 k p3 ⎡V ⎤ = ⎢ 4⎥ p4 ⎣ V3 ⎦ k p3 ⎡r ⎤ = ⎢ c⎥ 5. karena v3 = v4 maka.δw δq = 0. δq = δu ∫ δq ∫ δu 1 1 = 4 4 q41 = cv T |14 q41 = cv (T1 – T4) 5.43 T4 ⎣ p3 ⎦ Proses 4-1: Pembuangan secara iso-volumetrik (volume konstan) • Panas spesifik yang masuk ke luar sistem.44 Q41 = Panas total Q41 = m cv (T1 – T4) 5.42 p4 ⎣ rv ⎦ atau p k −1 =c Tk ( k −1) / k T3 ⎡p ⎤ = ⎢ 4⎥ 5.

p 4T1 = p1T4 5.5 SIKLUS TEKANAN TERBATAS (KOMBINASI/DUAL) Siklus dual ini merupakan suatu siklus motor bakar yang paling mempunyai efisiensi relatif tinggi. 5.46 Kerja bersih (Wnet) Wnet = w12 + w23 + w34 + w41 = − cv (T2 − T1 ) + ( p3 v3 − p 2 v 2 ) − cv (T4 − T3 ) + 0 = − cv (T2 − T1 ) + R(T3 − T2 ) + cv (T4 − T3 ) 5.48 k (T3 − T2 ) T1 (rck T1 − T1 ) = 1− k −1 k −1 k (rc rv T1 − rv T1 ) T1 (rck − 1) = 1− k −1 krv T1 (rc − 1) (rck − 1) = 1− k −1 5. 68 • Parameter akhir proses pv = RT v4 = v1 maka.59 krv (rc − 1) 5. .47 Efisiensi termal siklus wnet η = q 23 c p (T3 − T2 ) + c p (T1 − T4 ) η = c p (T3 − T2 ) c p (T3 − T2 ) − c p (T4 − T1 ) = c p (T3 − T2 ) cv (T4 − T1 ) = 1− c v (T3 − T2 ) (T4 − T1 ) = 1− . Karena proses pembakaran berlangsung melalui dua tahap.

69 yaitu pada volume konstan dan berlanjut pada tekanan konstan. .7 Diagram p-V dari siklus dual. • Proses 5-1: proses pengeluaran panas yang berlangsung secara isovolumetrik (volume konstan). Pada proses ini terjadi pemasukan panas pada tekanan konstan yang merupakan pemasukan panas lanjutan dari proses isovolumetrik. • Proses 1-2: proses kompresi yang berlangsung secara isentropik yang seluruh katup isap dan katup buang dalam keadaan tertutup. yaitu: • Proses 0-1: pemasukan udara ke dalam ruang bakar. Ada beberapa proses yang berlangsung pada siklus Dual ini. • Proses 3-4: proses pembakaran yang berlangsung secara isobarik (tekanan konstan). • Proses 2-3: proses pembakaran yang berlangsung secara isovolumetrik (volume konstan). • Proses 4-5: proses ekspansi yang berlangsung secara isentropik. Gas hasil pembakaran berekspansi secara isentropik dan juga disebut langkah kerja. untuk konstruksinya dibuat lebih kokoh yang juga dimanfaatkan untuk menahan goncangan. Pada proses ini terjadi pemasukan panas pada volume konstan. Udara dan bahan bakar dimanfaatkan secara isentropik. Suhu maksimum pada siklus ini relatif lebih tinggi. Proses-proses pada siklus dual Gambar 5. Pada proses ini terjadi pembuangan panas sehingga suhu fluida kerja menjadi T1.

pada proses ini gas hasil pembakaran dari dalam silinder didorong ke luar silinder oleh torak.δw 2 2 ∫ δw 1 = ∫ δu 1 w12 = -cv T |12 w12 = -cv (T2 – T1) W12 = Kerja total W12 = -m cv (T2 – T1) 5. Ke-empat proses tersebut dapat diperlihatkan pada Gambar 5.62 atau . Persamaan yang digunakan Proses 1-2: Kompresi isentropis a.61 Tekanan akhir kompresi pV k =c k k p1V1 = p 2V2 k p2 ⎡V ⎤ = ⎢ 1⎥ p1 ⎣ V2 ⎦ p1 k = rv p4 k p2 = rv p1 5.δw δq = 0 (proses adiabatik) maka. 70 • Proses 1-0: proses pengeluaran. δu = .60 Suhu akhir kompresi TVk-1 = c k-1 T1V1 = T2V2k-1 k −1 T2 ⎡V ⎤ = ⎢ 1⎥ T1 ⎣ V2 ⎦ k −1 T2 = rp T1 5.4. Kerja spesifik δu = δq .

δw δw = 0. p 2T3 = p3T2 k −1 T3 = rp rv T1 5.δw δq = δq + δw 4 4 4 ∫ δq 3 = ∫ δu + ∫ δw 3 3 |34 q = |34 u + |34 w q34 = (u4 – u3) + (p4v4 – p3v3) = u4 + p4v4 – u3– p3v3 = (u4 + p4v4) – (u3 + p3v3) .65 Parameter akhir proses pv = RT v2 = v3 maka. karena (v2 = v3) maka.63 T2 ⎣ p2 ⎦ Proses 2-3: Pembakaran secara iso-volumetrik (volume konstan) Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem δu = δq . 71 p k −1 =c Tk ( k −1) / k T1 ⎡p ⎤ = ⎢ 1⎥ 5.64 Q23 = Panas total Q23 = m cv (T3 – T2) 5. δq = δu 3 3 ∫ δq 2 = ∫ δu 2 q23 = cv T |32 q23 = cv (T3 – T2) 5.66 Proses 3-4: Pembakaran secara iso-barik (tekanan konstan) Kerja spesifik δu = δq .

68 Parameter akhir proses pv = RT p4 = p3 maka. v 4T3 = v3T4 V4 T4 = T3 V3 T4 = rc T3 k −1 T4 = rc rp T1 5.δw δq = 0.69 Proses 4-5: Ekspansi isentropik Kerja spesifik δu = δq .m cv (T5 – T4) 5.67 Q34 = Panas total Q34 = m cp (T4 – T3) 5. 5. 72 = h4 – h3 q34 = cp (T4 – T3) .70 W45 = Kerja total W45 = .cv (T5 – T4) 5.71 Suhu akhir proses TVk-1 = c T5V5k-1 = T4V4k-1 k −1 T5 ⎡V ⎤ = ⎢ 4⎥ T4 ⎣V5 ⎦ k −1 ⎡V V ⎤ = ⎢ 4 3⎥ ⎣V5 V3 ⎦ .cv T |54 w45 = . (proses adiabatik) maka. δq = -δw 5 5 ∫ δw 4 = − ∫ δu 4 w45 = .

karena v1 = v2 maka.73 rv atau p k −1 =c Tk ( k −1) / k T5 ⎡p ⎤ = ⎢ 5⎥ 5. 73 k −1 T5 rc = k −1 T4 rv k −1 ⎡r ⎤ k −1 T5 = ⎢ c⎥ rc rp rv T1 ⎣ rv ⎦ k T5 = rc rp T1 5.72 Tekanan akhir proses k pv =c k k p5V5 = p 4V4 k p5 ⎡V ⎤ = ⎢ 4⎥ p4 ⎣V5 ⎦ k ⎡v v ⎤ = ⎢ 4 3⎥ ⎣ v5 v3 ⎦ k rc = k 5.75 .δw δw = 0.74 T4 ⎣ p4 ⎦ Proses 5-1: Pengeluaran panas secara isovolumetrik (volume konstan) Panas spesifik yang masuk ke luar sistem. δq = δu ∫ δq 1 ∫ δu 1 = 5 5 q51 = cv T |15 q51 = cv (T1 – T5) 5. δu = δq .

Arah dari perpindahan energi dapat dilihat sesuai dengan arah panah. .6. 74 Q51 = Panas total Q51 = m cv (T1 – T5) 5.77 Kerja bersih (Wnet) Wnet = w12 + w23 + w34 + w45 + w51 = − cv (T2 − T1 ) + 0 − R(T4 − T3 ) + cv (T5 − T4 ) + 0 = − cv (T2 − T1 ) − R (T4 − T3 ) + cv (T5 − T4 ) 5.78 Efisiensi termal siklus wnet w + w23 + w34 + w45 + w51 η = = 12 qm q 23 + q34 cv (T3 − T2 ) + c p (T4 − T1 ) + cv (T1 − T5 ) η = cv (T3 − T2 ) + c p (T4 − T3 ) cv (T5 − T1 ) = 1− cv (T3 − T2 ) + c p (T4 − T3 ) (rck r p T1 − T1 ) η = 1− k −1 ( rp c v + T1 − rvk −1 ) + k (rc rp rvk −1T1 − rp rvk −1T1 ) T1 (rck rp − 1) = 1− k −1 rv T1 (rp − 1) + krp rvk −1T1 (rc − 1) 1 ⎡ (rp rck − 1) ⎤ η = − k −1 ⎢ ⎥ 5. p5T1 = p1T5 5.76 Parameter akhir proses pv = RT v5 = v1 maka.79 rv ⎣⎢ (rp − 1) + krp (rc − 1) ⎥⎦ 5.6 SIKLUS BRAYTON UDARA STANDAR Diagram dari siklus Brayton dengan udara standar dapat dilihat pada Gambar 5.

75 Proses-proses pada siklus Brayton Gambar 5. Udara dimanfaatkan sehingga tekanan dan suhu meningkat. dimana udara dari keadaan 1 dari lingkungan masuk ke dalam kompresor. • Proses 2-3: proses pembakaran yang berlangsung secara isobarik. Sebagian energi digunakan untuk memutar kompresor dan .9 Diagram p – V dari siklus Brayton Ada beberapa proses yang berlangsung pada siklus Brayton ini. • Proses 3-4: yaitu proses ekspansi secara isentropik. dimana udara yang keluar dari kompresor masuk ke dalam ruang bakar dan terjadi proses pembakaran pada tekanan konstan. yaitu: • Proses 1-2: proses kompresi secara isentropik.8 Skema siklus Brayton (siklus turbin gas) Gambar 5. udara dan bahan bakar yang dibakar di dalam ruang bakar berubah menjadi gas hasil pembakaran mempunyai tekanan dan suhu yang tinggi dan dapat digunakan untuk menggerakkan sudu- sudut dari turbin gas.

δw δq = 0 (proses adiabatik) maka. 5. δu = δw 2 2 ∫1 δw = − ∫ δu 1 w |12 = cv T |12 w12 = -cv (T2 – T1) 5. Proses ini biasanya disebut langkah kerja.8 DAN 5.82 Proses 2-3: Pembakaran secara isobarik (tekanan konstan) Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem δu = δq . • Proses 4-1: yaitu proses isobarik. yaitu proses pembuangan gas hasil pembakaran pada tekanan konstan.δw atau δq = δu – δw . 76 sisanya lagi dapat diubah menjadi energi lain (misalnya: energi kinetik atau energi mekanik).80 W12 = Kerja total W12 = -m cv (T2 – T1) . Ke-empat proses tersebut dapat diperlihatkan pada Gambar 5.9 Persamaan yang digunakan Proses 1-2: Kompresi isentropik Kerja spesifik δu = δq .81 Suhu akhir kompresi ( k −1) / k ⎡ p⎤ ⎢⎣ T ⎥⎦ = c ( k −1) / k T2 ⎡p ⎤ = ⎢ 2⎥ T1 ⎣ p1 ⎦ T2 ( k −1) / k = rp T1 ( k −1) / k T2 = rp 5.

δw 4 4 ∫3 δw = ∫ δu 3 w |34 = -cv T |34 w34 = -cv (T4 – T3) 5.87 w34 = Kerja total w34 = -m cv (T4 – T3) 5. 5.86 Proses 3-4: Ekspansi secara isentropik Kerja spesifik δu = δq . v 2T3 = v3T2 5. δu = .88 Suhu akhir ekspansi ( k −1) / k ⎡P⎤ ⎢⎣ T ⎥⎦ = c ( k −1) / k T4 ⎡P ⎤ = ⎢ 4⎥ T3 ⎣ P3 ⎦ .δw δq = 0 (proses adiabatik) maka.84 Parameter akhir proses pv = RT p2 = p3 .85 maka. 77 3 3 3 ∫ δq 2 = ∫ δu + ∫ δw 2 2 q |32 = u |32 + w |32 = (u3 – u2) + (p3v3 – p2v2) = u3 + p3v3 – u2– p2v2 = (u3 + p3v3) – (u2 + p2v2) = h3 – h2 q23 = cv (T3 – T2) 5.83 Q23 = Panas total Q23 = m cp (T3 – T2) 5.

δw δq = δu – δw 1 1 1 ∫ δq 4 = ∫ δu + ∫ δw 4 4 q |14 = u |14 + w |14 = (u1 – u4) + (p1v1 – p4v4) = u1 + p1v1 – u4– p4v4 = (u1 + p1v1) – (u4 + p4v4) = h1 – h4 q41 = cv (T1 – T4) 5.91 Parameter akhir proses pv = RT p1 = p4 maka. 5.90 Q41 = Panas total Q41 = m cv (T1 – T4) .89 rp Proses 4-1: Isobarik (pembuangan gas hasil pembakaran) Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem. v1T4 = v 4T1 5.92 Kerja bersih (Wnet) Wnet = w12 + w34 = c p (T2 − T1 ) − c p (T4 − T3 ) 5. 5.93 Efisiensi termal wnet ∑q η = = ∑ qm ∑ qm q 23 − q 41 η = q 23 . 78 T4 1 = ( k −1) / k T3 rp 1 T4 = ( k −1) / k T3. δu = δq .

Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Carnot dengan udara sebagai fluida kerjanya. maka tentukan efisiensi dari siklus. T3 ( k −1) / k T3 T = rp = 4 T4 T2 T1 T3 T +1−1 = 4 T2 T1 T3 T −1 = 4 −1 T2 T1 (T3 − T2 ) T2 ( k −1) / k = = rp (T4 − T1 ) T1 atau.7 CONTOH – CONTOH SOAL 1.1 Mpa.95 rp rp 5.94 (T3 − T2 ) dengan. T2 ( k −1) / k T2 T = rp = 3 T1 T1 T4 atau. dan panas yang dibuang dari fluida kerja pada suhu 300 K serta tekanan 0. Penyelesaian: R = 0.27 kJ/kg K . Panas yang dipindahkan ke fluida kerja pada suhu 1200 K. Diasumsikan bahwa konstanta gas universal adalah 0. 79 c p (T3 − T2 ) + c p (T4 − T3 ) = c p (T3 − T2 ) c p (T4 − T1 ) = 1− c p (T3 − T2 ) (T4 − T1 ) = 1− 5.270 kJ/kg K dan perbandingan panas spesifik adalah 1. 1−1 1 η = ( k −1) / k = 1− ( k −1) / k 5. (T4 − T1 ) T1 1 = = ( k −1) / k (T3 − T2 ) T2 rp sehingga.4.

Diasumsikan bahwa konstanta gas khusus adalah 0. R = 0.97 kgK ⎥ (300 K ) v1 = ⎣ ⎦ = 0.4 p1 = 0.1.4. k = 1. p1 = 0.75 kJ/kg K k − 1 1. 80 k = 1.3 kJ/kg K. Penyelesaian: Proses 1-2: Kompresi isentropik (reversibel dan adiabatik) Suhu akhir proses. dan tekanan minimum dari siklus adalah 0. Suhu udara masuk adalah 27°C.861 m3/kg 0.4 .4 − 1 ( Ro / M )T1 v1 = p1 ⎡ 8314 Nm ⎤ ⎢ 28. ( k −1) T1 ⎡ v2 ⎤ = ⎢ ⎥ T2 ⎣ v1 ⎦ T2 = rvk-1T1 = 12. Perbandingan kompresi adalah sebesar 12.3 cv = = = 0. Suhu maksimum yang dapat dicapai adalah 1200°C.75 = 75% 2. maka tentukan efisiensi dari siklus.1 Mpa.4-1 300 . T3 η = 1− T2 300 = 1− 1200 = 0.1 Mpa T3 = T4 = 300 K T1 = T2 = 1200 K maka.861m 5 N / m 2 sehingga. rv = 12 R 0.3 kJ/kg K dan perbandingan panas spesifik adalah 1. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Otto dengan udara sebagai fluida kerjanya.1 Mpa T1 = (27 + 273) K = 300 K.

T3 1473 rp = = T2 810.576 K Tekanan akhir proses k p1 ⎡ v2 ⎤ = ⎢ ⎥ p2 ⎣ v1 ⎦ v2 = rvkp1 = 121.75 (810.576) = 498.932 kJ/kg Proses 2-3: Pembakaran secara isovolumetrik (volume konstan) Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem q23 = cv(T3 – T2) = 0.75 (1473 – 810.576 Perbandingan tekanan T3 = rpT2 atau. 81 = 810.576 = 1.0.242 Mpa Kerja spesifik yang masuk ke dalam sistem w12 = .1 = 3.42303)(1473) = = 5.8172 Proses 3-4: Ekspansi isentropik Suhu akhir proses ⎡ 1 ⎤ k −1 T4 = ⎢ k −1 ⎥ = rp rv T 1 ⎣⎢ rv ⎦⎥ .8181 kJ/kg Parameter akhir proses p2T3 = p3T2 p 2T3 p3 = T2 (32.457.4 0.892 Mpa 810.576 – 300) = .cv(T2 – T1) = .

874 kJ/kg Tekanan akir proses p3 p4 = k rv 58.932 + ) + 695. q41 = cv(T1 – T4) = 0.867 joule/kg Kerja bersih (Wnet) Wnet = w12+ w23+ w34+ w41 = -457.75 (545.cv(T4 – T3) = 0.92 = 121.87 + 0 = 237.1817 Mpa Proses 4-1: Pembuangan gas hasil pembakaran secara isovolumetrik (volume konstan) Panas spesifik yang ke luar sistem. 82 T4 = rpT1 = (1.168 K Kerja spesifik w34 = . 1 η = 1− k −1 rv .98% atau.168 – 1473) = .876 = 1− 496. 4 = 0.695.168) = -183.8172)(300) = 545.75 (300 – 545.938 joule/kg Esifiensi termal ∑q q +q η = = 23 41 ∑ qm q 23 183.82 = 62.

4-1 0.7165 kJ/kg.4 maka. Panas yang dipindahkan ke fluida kerja per siklus adalah 1800 kJ/kg.7165 kJ/kg K.0031 ⎡ 8314 Nm ⎤ ⎢ 28.1 Mpa.2) .4 x 0.2 = 828. cp = 1.0.2 K ) v1 = ⎣ ⎦ = 0.7165 (828. T2 = rvk-1T1 = 141.287 kJ/kg K. dan perbandingan panas spesifik adalah 1.97 kgK ⎥ (300.2 K rv = 14.023 Mpa Kerja spesifik yang masuk w12 = . 83 1 = 1− 1. panas spesifik volume konstan adalah 0.4. k = 1. p1 = 0.cv(T2 – T1) = . 4 −1 12 = 62.219 K Tekanan akhir proses p2 = rvkp1 = 141. Diasumsikan bahwa konstanta gas khusus adalah 0.7165 = 1.287 kJ/kg K. cv = 0. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Diesel dengan udara sebagai fluida kerjanya.4-1 288.1 = 4.98% 3. maka tentukan efisiensi dari siklus.2 K. T1 = 288. sedangkan tekanan minimum dari siklus adalah 0. Penyelesaian: Proses 1-2 : Kompresi isentropik Suhu akhir proses kompresi R = 0.219 – 288.827 m3/kg 5 2 10 N / m dan.1 Mpa. Perbandingan kompresi adalah sebesar 14. Panas yang dibuang dari fluida kerja pada suhu 288.

84

= - 386,923 kJ/kg

Proses 2-3: Pembakaran pada tekanan konstan (iso-barik)
Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem.
q23 = cp(T3 – T2)
1800 = 1,0031 (T3 – 828,219)
Suhu akhir proses
(1800 − (1,0031x828,219))
T3 =
1,0031
= 955,218 K

Proses 2-3: Pembakaran pada tekanan konstan (iso-barik)
Cut off ratio
T3 = rcT2
maka,
T3
rc =
T2
966,218
=
T 828,219
= 1,166
Tekanan akhir proses
p3 = p2 = 4,023 Mpa
proses 3-4: Ekspansi isentropik
Suhu akhir proses
T4 = rckT1
= 1,1661,4-1 x 288,2
= 357,332 K
Kerja spesifik
w34 = - cv(T4 – T3)
= - 0,7165 (357,332 – 966,218)
= 436,266 kJ/kg
Tekanan akhir proses
k
⎡r ⎤
p4 = ⎢ c ⎥ p3
⎣ rv ⎦

85

1, 4
⎡1,166 ⎤
= ⎢⎣ 14 ⎥⎦ x 4,023 = 0,1239 Mpa

Proses 4-1: Pembuangan secara iso-volumetrik (volume konstan)
Panas spesifik yang masuk ke luar sistem
q41 = cv(T1 – T4)
= 0,7165 (288,2 – 357,332)
= - 49,533 kJ/kg
Kerja bersih (Wnet)
Wnet = w12 + w23 + w34 + w41

= − cv (T2 − T1 ) + ( p3 v3 − p 2 v 2 ) − cv (T4 − T3 ) + 0

= − cv (T2 − T1 ) + R (T3 − T2 ) + cv (T4 − T3 )

= - 0,7165 (828,219 – 288,2) + 8,314(966,218 – 828,219) +
0,7165 (966,218 – 357,332)
= 1196,666 kJ/kg
Efisiensi termal siklus
Q41
η = 1+
Q23

(T4 − T1 )
= 1−
k (T3 − T2 )
(T 357,332 − 288,2)
=
1,4(966,218 − 828,219)
= 0,6421 = 64,21%
atau,
(rc k − 1)
η = 1− k −1
krv (rc − 1)

(1,1661, 4 −1 − 1)
= 1−
1,4 x141, 4 −1 (1,166 − 1)
= 0,6408 = 64,08%

4. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus tekanan terbatas (dual)
dengan udara sebagai fluida kerjanya. Suhu udara masuk ruang bakar adalah
27°C, sedangkan tekanan minimum dari siklus adalah 0,1 Mpa. Perbandingan

86

kompresi adalah sebesar 12, dan perbandingan tekanan adalah 1,2 dan cut off
ratio adalah 2.
Diasumsikan bahwa konstanta gas khusus adalah 0,3 kJ/kg K dan eksponen
adiabatis adalah 1,4.
Pertanyaan:
a. Tentukan parameter yang belum diketahui.
b. Hitunglah kerja spesifik.
c. Hitunglah panas spesifik.
d. Hitunglah efisiensi dari siklus.
Penyelesaian:

Parameter yang diketahui:
R = 0,3 kJ/kg K; k = 1,4; p1 = 0,1 Mpa
T1 = (27+273) K = 300 K; rv = 12
rp = 1,2; rc = 2
Panas spesifik pada tekanan konstan dan volume konstan:
R 0,3
cv = = = 0,75 kJ/kg K
k − 1 1,4 − 1
cp
k = → c p = 1,4 × 0,75 = 1,05 kJ/kg
cv

( Ro / M )T1
v1 =
p1

⎡ 8314 Nm ⎤
⎢ 28,97 kgK ⎥ (300 K )
v1 = ⎣ ⎦ = 0,861 m3/kg
10 5 N / m 2

Proses 1-2: Kompresi isentropik
Parameter akhir proses
Suhu akhir proses
T2 = rvk-1T1
= 121,4-1 300 = 810,576 K
Kerja spesifik masuk
w12 = cv (T2 − T1 )

= 0,75(810,576 – 300) = - 382,932 kJ/kg
Panas spesifik

242303 = 3.89 Mpa Kerja spesifik w23 = 0 (volume konstan) Panas spesifik yang masuk ke dalam sistem q23 = cv (T3 − T2 ) = 0.4-1 x 300 = 972.325 kJ/kg Panas spesifik w34 = q34 = 1021.2 x 121.691) = 1021.691 K Tekanan akhir proses p3 = rpp2 = 1. 87 q12 = 0 (adiabatik) Proses 2-3: Pemasukan panas secara isovolumetrik (volume konstan) Parameter akhir proses Suhu akhir proses T3 = rprvk-1T1 = 1.75 (972.4 x 1.325 kJ/kg Proses 4-5: Ekspansi isentropik Parameter akhir proses Suhu akhir proses T5 = rckrpT1 = 2 1.89 Mpa Suhu akhir proses T4 = rcrpk-1T1 = 2 x 1.4-1 x 300 = 1945.2 x 121.045 K Tekanan akhir proses .382 – 972.58625 kJ/kg Proses 3-4: Pemasukan panas secara isobarik (tekanan konstan) Parameter akhir proses Tekanan akhir proses p4 = p3 = 3.2 x 3.691 – 810.382 K Kerja spesifik w34 = c p (T4 − T3 ) = 1.2 x 300 = 950.05 (1945.576) = 121.

. Laju volume aliran udara sebesar 5 m3/detk.75 (950.045 – 1945.325 + 746. Perbandingan tekanan adalah sebesar 10.75 (300 – 950.89 = 0.325 + 0 − 487.586 + 1021.5734 = 57. Suhu maksimum yang dapat dicapai adalah 1400 K.0.895 kJ/kg Efisiensi termal ∑ q q12 + q 23 + q 34 + q 45 + q 51 η = = qm q 23 + q 34 0 + 121.1 Mpa.34% 5.cv (T5 − T4 ) = .533 kJ/kg Kerja bersih (Wnet) Wnet = w12 + w23 + w34 + w45 + w51 = -382.382) = 746.502 + 0 = 1384.3166 Mpa ⎣ ⎦ Kerja spesifik w45 = .932 + 0 + 1021.325 = 0. Suhu udara masuk kompresor adalah 300 K. dengan tekanan adalah 0. Diketahui suatu sistem pembangkit daya ideal yang mengikuti siklus Brayton dengan udara sebagai fluida kerjanya.586 + 1021. 88 ⎡ rc k ⎤ p5 = ⎢ k ⎥ p4 ⎢⎣ rv ⎥⎦ ⎡2⎤ = ⎢12 ⎥ x 3.583 = 121.045) = -487.502 kJ/kg Panas spesifik q45 = 0 (adiabatik) Proses 5-1: Pembuangan gas hasil pembakaran secara isovolumetrik (volume konstan) Kerja spesifik w51 = 0 (volume konstan) Panas spesifik yang masuk ke luar sistem q51 = cv (T1 − T5 ) = 0.

dan pr1 = 1. banyak digunakan tabel sifat gas dari udara standar yang dapat dilihat pada Tabel A-13 (lihat lampiran). 89 Ditanya: a.86 Dengan tabel A-13.4 – 808. pr2 = pr1rp = 1. Bila suhu T1 = 300 K. Penyelesaian: Pada metode ini.19 kJ/kg. Rasio kerja balik (The back work ratio/bwr). dan dengan menggunakan tabel A-13 didapat: h1 = 300. dan dengan menggunakan tabel A-13 didapat: h3 = 1515.7 kJ/kg Sehingga. didapat: h2 = 579.19 = 279.56854 % Kerja bersih (Wnet) .9 kJ/kg Kerja spesifik pada kompresor wk = (h2 – h1) = 579.386 Sehingga. wK bwr = wT = 39.4 kJ/kg. Kerja bersih dan. Efisiensi termal.05 dengan tabel A-13 didapat: h4 = 808. b.5 pr4 = pr3/rp = 450.5/10 = 45. Kerja spesifik pada turbin gas. maka harus menghitung terlebih dahulu kerja spesifik turbin gas dan kerja spesifik kompresor.5 kJ/kg Rasio kerja balik (bwr) Untuk menghitung “bwr”.386 x 10 = 13.9 kJ/kg Bila suhu T3 = 1400 K.5 = 706. dan pr3 = 450. wT = (h3 – h4) = 1515. c.9 – 300.

807473 kg/detik sehingga.8 RANGKUMAN Pada bab siklus-siklus daya ideal ini telah dibahas mengenai enam macam siklus yang seringkali didapatkan dalam termodinamika.807473 (706.9 – 279. 90 Untuk menghitung kerja bersih.66435 % 5. maka harus menghitung terlebih dahulu laju massa aliran fluida m.7) = 2481 kW Efisiensi termal wnet η = qm [( h3 − h4 ) − (h2 − h1 ) = ∑ qm = 45. AV = the voluetric flow rate = 5 m3/detik R’ = konstanta gas khusus = 8314 J/kg K maka. yaitu : • Siklus Carnot . adalah ( AV ) × p1 m = v1 ( AV ) × p1 m = R' T1 M dengan.97 = 5. Wnet = m(wT – wK) = m(h3 – h4) – (h2 – h1) = 5. 5[m 3 / det]x100[103N / m 2 ] m = 8314[kJ / kgK ] × 300[ K ] 26.

Suhu udara masuk adalah 27 0C.4. Perbandingan kompresi. maka tentukan efisiensi dari siklus. 3. perbandingan kompresi adalah sebesar 12. Dapat menjelaskan tentang siklus Otto. Dapat menjelaskan tentang siklus Carnot 2. anda diharapkan: 1. 5.10 SOAL – SOAL LATIHAN 1.4 Ditanyakan : a. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Carnot dengan udara sebagai fluida kerjanya. Diasumsikan bahwa konstanta gas khusus adalah 0.4.3 kJ/kg K dan perbandingan panas spesifik adalah 1. 3. Dan perbandingan kompresi adalah 12:1.11 MPa. • Siklus Diesel. . Dapat menjelaskan tentang siklus Brayton. • Siklus Brayton 5. Suhu yang dipindahkan ke fluida kerja pada suhu 1200 0C. Diketahui suatu motor baker yang mengikuti siklus Otto dengan udara sebagai fluida kerjanya.3 kJ/ kg K dan perbandingan panas spesifik adalah 1. dan suhu yang dibuang dari fluida kerja pada suhu 27 0C. 2. Dapat menjelaskan tentang siklus Diesel 4. Diasumsikan bahwa konstanta gas khusus adalah 0. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Carnot dengan udara sebagai fluida kerjanya. • Siklus Dual. Dapat menjelaskan pengertian tentang siklus Dual (kombinasi) 5.9 PENUTUP Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal-soal latihan. Efisiensi termal dari siklus. 91 • Siklus Otto. dan tekanan minimum dari siklus adalah 0. Diasumsikan bahwa konstanta gas universal adalah 0. Suhu maksimum yang dapat dicapai adalah 1100 0C.3 kJ/kg K dan perbandingan panas spesifik adalah 1. b.

287 kJ/kg K.1 Mpa. Perbandingan kompresi adalah sebesar 14. Volume awal kompresi adalah 0. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Diesel dengan udara sebagai fluida kerjanya. Suhu maksimum dari siklus adalah 1800 K. diasumsikan bahwa konstanta gas khusus adalah 0.4.4. Parameter lain dan siklus. Ditanya : a. panas spesifik volume konstan adalah 0. Parameter lain dan siklus. dan perbandingan panas spesifik adalah 1. Efisiensi termal dari siklus. 7. b. Kerja spesifik dan panas spesifik. panas spesifik volume konstan adalah 0.016 m3.287 kJ/kg K. Diasumsikan bahwa konstanta gas khusus adalah 0. 92 Ditanya : Efisiensi termal dari siklus. dan perbandingan panas spesifik adalah 1. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Otto dengan udara sebagai fluida kerjanya. Efisiensi termal dari siklus. c.7165 kJ/kg. Perbandingan kompresi adalah sebesar 14. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Diesel dengan udara sebagai fulida kerjanya. sedangkan tekanan minimum dari siklus adalah 0. 5.7165 kJ/kg. 4. Suhu udara masuk ruang bakar adalah 27°C. Ditanya: a. b. Diasumsikan bahwa konstanta gas khusus adalah 0. Kerja spesifik dan kerja total. d. sedangkan tekanan . sedangkan tekanan minimum dari siklus adalah 0. suhu awal kompresi adalah 300 K. c. Perbandingan kompresi adalah sebesar 14.27 kJ/kg K dan perbandingan panas spesifik adalah 1. Suhu awal kompresi adalah 300 K.1 MPa. pertanyaan : Berapa besar efisiensi termal.4. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Dual dengan udara sebagai fluida kerjanya. 6. Panas spesifik dan panas total. Suhu maksimum dari siklus adalah 1800 K.

4. b. Kerja spesifik dan kerja total. Diketahui suatu sistem pembangkit daya ideal yang mengikuti siklus Brayton dengan udara sebagai fluida kerjanya.3 kJ/kg K dan perbandingan panas spesifik adalah 1. Suhu udara masuk kompresor adalah 30°C. Parameter yang belum diketahui. suhu maksimum dari siklus adalah 1600 K. 9. Diasumsikan bahwa konstanta gas universal adalah 0. Diketahui suatu sistem pembangkit daya ideal yang mengikuti siklus Brayton dengan udara sebagai fluida kerjanya. Perbandingan kompresi adalah sebesar 12.3 kJ/kg K dan eksponen adiabatis adalah 1. Ditanya: b.2. Suhu udara masuk ruang bakar adalah 27°C. d Panas spesifik. c. Kerja spesifik dan panas. Efisiensi termal dari siklus.1 Mpa. dan perbandingan tekanan adalah 1. Panas spesifik dan panas total. Kerja spesifik. c. Perbandingan tekanan adalah sebesar 10. 8. dengan tekanan adalah 0. Efisiensi termal dari siklus. d. Diketahui suatu motor bakar yang mengikuti siklus Dual dengan udara sebagai fluida kerjanya.67. c.020 m3. 93 minimum dari siklus adalah 0.1 Mpa. 10.2. dan perbandingan tekanan adalah 1. Ditanya: a. sedangkan tekanan minimum dari siklus adalah 0. Volume awal kompresi adalah 0. Suhu udara masuk kompresor adalah 30°C. Diasumsikan bahwa konstanta gas universal adalah 0. Efisiensi siklus. Perbandingan kompresi adalah sebesar 12. Parameter yang belum diketahui. b. Diasumsikan bahwa konstanta gas khusus adalah 0.1 Mpa. Parameter lain dan siklus. .4. Ditanya: b.3 kJ/kg K dan eksponen adiabatis adalah 1. suhu maksimum dari siklus adalah 1600 K. Suhu maksimum yang dapat dicapai adalah 1800 K. c.

Suhu maksimum yang dapat dicapai adalah 1400°C. dan c. Efisiensi termal. . b. Perbandingan tekanan adalah sebesar 10. 94 dengan tekanan adalah 0. Ditanya: a. Rasio kerja balik (the back work ratio/bwr).125 Mpa. Laju volume aliran udara sebesar 6 m3/detik. Kerja bersih.

merupakan penerapan dari sistem pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). pada sistem Rankine terdapat peralatan.1). diberikan suatu contoh dari sejumlah air dengan massa 1 (satu) kg. turbin uap. sedangkan tekanannya dikontrol dengan manometer (lihat Gambar 4. kondenser dan peralatan yang lainya. Setelah proses penguapan berlangsung dengan lengkap. Selanjutnya uap tersebut dipergunakan untuk menggerakan turbin uap. Kondisi air pada saat penguapan. Kemudian suhu dinaikkan sampai garis uap jenuh. Cara kerja dari siklus ini adalah sebagai berikut air yang berasal dari sumber atau hasil kondensasi di kondenser dipompakan masuk ke dalam ketel uap yang berfungsi untuk mengubah fasa cair menjadi fasa uap dengan tekanan dan suhu yang relatif . cairan jenuh dan pada akhir penguapan. Suhu air dikontrol dengan termometer. dan uap dikenal dengan uap panas lanjut. hasil dari pemanasan lanjut akan menaikkan tekanan p.1 PENDAHULUAN Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang sifat-sifat uap. suhu T tetap konstan dan volume spesifik v secara kontinyu akan meningkat secara cepat. yang berada dalam sebuah tabung. suhu T. Siklus Rankine adalah siklus air-uap. sistem ini biasa disebut dengan siklus Rankine. yang dikenal dengan nama pengupan. dinamakan jenuh kering. super- heater. maka suhu T akan meningkat demikian pula volume spesifiknya. Di antara kedua kondisi ini. dikatakan sebagai suatu keadaan yang terdapat campuran antara cairan dan uap. seperti pompa air pengisi boiler (ketel uap). kemudian ditutup dengan massa tutup diabaikan. yang lebih dikenal dengan nama uapa basah. dan volume V. 95 BAB 6 SIFAT-SIFAT UAP DAN SIKLUS RANKINE 6. merupakan salah satu model di dalam siklus termodinamika yang banyak digunakan pada siklus sistem pembangkit tenaga uap. maka zaat air tersebut akan menguap dan berubah fasanya dari fasa cair ke fasa uap. Apabila selama terjadinya perubahan fasa. Secara perlahan-lahan tabung zat cair tersebut dipanaskan.

dan e) Kondensor. Mampu menghitung perubahan energi pada peralatan yang ada dalam siklus Rankine antara lain.2 KUALITAS UAP Untuk mengamati dan menghitung besarnya kualitas uap dari sejumlah air yang dipanaskan dapat digunakan grafik dan tabel uap. 6. dan uap panas lanjut. 96 tinggi. pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan termasuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTB) yang memanfaatkan uap panas yang keluar dari bumi. Putaran ini dapat dihubungkan langsung dengan generator listrik dan diharapkan dapat menghasilkan listrik yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegunaan. b) Boiler. d) Tuebin uap. c) Super-heater. dalam siklus ideal maupun aktual. Siklus kembali seperti semula secara terus menerus dapat merupakan siklus tertup.1 Pemanasan air menjadi uap. T V 1 kg H2O P Q masuk Gambar 6. Uap berasal dari turbin uap dimasukkan ke dalam kondensor untuk diubah fasanya menjadi air. fasa uap jenuh. . a) Pompa. diharapkan maha siswa dapat : 1.2. Mampu menentukan besar energi (entalpi) yang terkandung dari air dan uap pada kondisi fasa air-jenuh. proses pemanasan air menjadi uap dapat dilihat pada gambar 6. kemudian air ini dipompakan kembali ke dalam boiler.1. Uap ini kemudian dimasukkan/diekspansi ke dalam turbin uap dan menggerakkan sudut-sudut uap sehingga menghasilkan putaran. Dalam penerapan aktualisasi di industri. Setelah mempelajari materi ini. 2. dan gambar 6. siklus Rangkine akan mendasari proses-proses peralatan yang menggunkan uap.

Daerah cairan sub-cooled. Daerah uap basah berada di antara garis cair jenuh dan garis uap jenuh. Daerah uap super heated yang temperaturnya lebih tinggi daripada uap jenuh ada di sebelah kanan dari garis uap jenuh. refrigeran ada pada tingkat keadaan uap jenuh kering. yang temperaturnya lebih rendah daripada cairan jenuh. 1. 3. Garis ini menyatakan tingkat keadaan dimana cairan air mulai menguap. Garis uap jenuh dan garis cair jenuh bertemu pada titik kritis. untuk membedakan tingkat keadaan cairan yaitu. dan uap super heated. terletakdi bagian sebelah kiri garis cair jenuh. Garis cair jenuh Garis cair jenuh adalah bagian garis lengkung mulai dari sebelah kiri bawah sampai kanan atas. Daerah uap basah. 97 Diagram Mollier dapat menunjukkan kwalitas dari uap. yang terdiri dari campuran fasa cair dan uap. Diagram Mollier dibagi menjadi tiga bagian. sehingga dapat menyatakan hubungan antara tekanan (P) pada ordinat dan entalpi (h) pada absis dari siklus Rankine. uap basah. Gambar 6. cairan sub-cooled. 2. Pada garis uap jenuh. oleh garis cair jenuh dan garis uap jenuh. Garis uap jenuh Garis uap jenuh adalah garis sebelah kanan dari garis lengkung. Tekanan (p) . terletak di sebelah kanan garis cair jenuh. Garis cair jenuh juga menyatakan adanya hubungan antara temperatur jenuh dengan tekanan yang bersangkutan.2 Diagram Mollier.

4. dapat ditentukan besarnya volume spesifik dari suatu keadaan (misalnya titik P). 7. Besarnya entropi yang bersangkutan dinyatakan dengan angka pada garis tersebut. dan arahnya sedikit miring ke atas. maka besarnya volume spesifik di titik P adalah sebagai berikut: vp = (1-x)vf + xvg 6.2 = vf + x (vg – vf) = vf + xvfg 6. dalam daerah uap basah garis isothermal adalah horizontal berhimpit dengan garis isobar. Entalpi (h) Entalpi dinyatakan sebagai absis. dimana titik P bisa terletak pada garis uap jenuh. 8. 98 Tekanan dinyatakan pada ordinat. dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: Massa uap jenuh x = ---------------------------------------------------. oleh karena itu garis isoentalpi adalah garis vertikal. Entropi (s) Garis entropi yang menghubungkan titik-titik keadaan dengan entropi yang sama merupakan garis miring dari kiri bawah ke kanan atas. Dari sini dapat ditentukan besarnya kualitas uap.1 Massa campuran uap jenuh dan air jenuh Bila ketahui bahwa titik P terdiri x bagian uap jenuh dan (1-x) bagian cairan jenuh. Dibawah garis uap jenuh dari diagram p-V-T. 6. Garis isobar menghubungkan titik-titik keadaan yang bertekanan sama. yaitu garis horizontal. 5. Volume spesifik (υ) Garis isokhorik (iso-volume) spesifik menghubungkan titik-titik keadaan dengan volume spesifik yang sama. Pada garis ini ditunjukkan besarnya derajat kekeringan. sedangkan di dalam daerah super heated garis isothermal agak melengkung menuju arah kanan bawah.3 . Temperatur (T) Di dalam daerah cair. garis isothermal adalah vertikal. Derajat kekeringan (x) Garis-garis derajat kekeringan merupakan garis-garis bagi dari garis-garis datar antara garis cair jenuh dan garis uap jenuh.x 100% 6.

8 = hf + x (hg – hf) hp = hf + x hfg 6. hp = enthalpi spesifik di titik P = (1 – x) hf + x hg 6.9 dengan: vfg = (vg – vf) 6. 99 dan vp − v f x = 6.5 v fg dengan cara yang sama.4 (v g − v f ) atau vp − vf x = 6.7 dan. .12 Untuk mencari besaran sifat-sifat zat air dan uap air dapat digunakan diagram dan tabel uap.11 hfg = (hg – hf) 6.10 ufg = (ug – uf) 6.6 = uf + x (ug – uf) up = uf + x ufg 6. didapat up = energi dalam spesifik di titik P = (1 – x) uf + x ug 6.

Gambar 6. 2. Air keluar dari kondensor dalam keadaaan fasa cair-jenuh. (b) diagram p – h. Disetiap proses dianggap tidak ada energi yang hilang.4 Diagram siklus Rankine ideal. (a) diagram T – s .3 Skema siklus Rankine ideal Gambar 6. Tidak ada penurunan tekanan di dalam kondensor. Pompa dan turbin uap bekerja secara isentropik ∆ S = 0 (konstan) 3. super heater. 4. . bila proses di dalam sistem dapat dianggap berjalan sebagai berikut: 1. dan disepanjang saluran (pipa) penghubung alat. 100 6. Siklus Rankine dapat dianggap berjalan ideal.3 SIKLUS RANKINE IDEAL Yang dimaksud siklus ideal disini adalah suatu proses yang terjadi di dalam sistem dianggap tidak mengalami adanya kerugian (energi yang hilang) atau proses dianggap berjalan dengan sempurna.

Uap yang keluar dari turbin uap masuk ke dalam kondensor pada keadaan 5. dan uap yang berasal dari ketel uap dan super heater keluar pada keadaan 4. mempunyai tekanan dan suhu yang relatif tinggi.17 q34 = panas spesifik yang dipindahkan dari sumber energi ke fluida kerja yang masuk ke dalam super heater.15 q23 = panas spesifik yang dipindahkan dari sumber energi ke fluida kerja yang masuk ke dalam ketel uap. q23 = h3 – h2 6. dan air kondensat meninggalkan kondenser pada keadaan 1 dipompakan dari kondenser masuk ke dalam ketel uap. maka besarnya . Air dipompakan ke dalam ketel uap untuk dipanaskan agar berubah fasanya menjadi fasa uap. Pada ketel uap dimasukkan sejumlah panas dari luar (dengan proses pembakaran). yang besarnya sebagai berikut: Q23 = panas total yang dipindahkan dari sumber energi ke fluida kerja yang masuk ke dalam ketel uap. Q34 = m (h4 – h3) 6. Dengan tanpa memperhatikan perpindahan panas yang terjadi ke lingkungan. W12 = m (h2 – h1) 6. 101 Prinsip kerja dan perpindahan panas pada siklus Rankine adalah sebagai berikut: • Proses 1-2: proses kompresi secara isentropik di dalam pompa. q34 = h4 – h3 6.16 Q34 = panas total yang dipindahkan dari sumber energi ke fluida kerja yang masuk ke dalam super heater. pada suhu dan tekanan yang relatif rendah. w12 = (h2 – h1) 6.13 w12 = energi spesifik yang digunakan untuk mempompakan air dari kondensor yang dimasukkan ke dalam ketel uap.18 • Proses 4-5: proses ekspansi pada isentropik dari fluida kerja. dan diekspansi ke dalam turbin uap untuk menghasilkan kerja. Besarnya kerja yang digunakan adalah sebagai berikut: W12 = energi yang digunakan untuk mempompakan air dari kondensor yang dimasukkan ke dalam ketel uap. Q23 = m (h3 – h2) 6.14 • Proses2-3-4: proses perpindahan panas ke fluida kerja yang mengalir pada tekanan konstan dalam ketel uap.

Qcv = panas yang dipindahkan ke volume atur. 102 keseimbangan energi terhadap volume atur pada turbin uap adalah sebagai berikut: 0 = Qcv – WTU + E = Qcv – WTU + m [(h4 – h5) + EK + EP] dimana. = 0 EK = energi kinetik = 0 EP = energi potensial = 0 m = massa fluida yang mengalir sehingga WTU = kerja total pada Turbin uap WTU = m (h4 – h5) 6.(h5 – h1) 6.21 • Untuk menghitung besarnya efisiensi dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara. Q51 = m (h5 – h1) q51 = laju perpindahan energi panas spesifik dari fluida kerja ke air pendingin q51 = . . wTU = kerja spesifik pada Turbin uap w12 = (h4 – h5) 6. yaitu: wnet w η = = netto 6.20 • Proses 5-1: proses perpindahan panas dari fluida kerja yang mengalir pada tekanan konstan melalui kondensor. sehingga besar perpindahan panas yang terjadi adalah Q51 = laju perpindahan energi panas total dari fluida kerja ke air pendingin.22 ∑ q m ∑ Qm jika dibagi dengan massa fluida kerja didapat.19 atau. Perpindahan panas terjadi dari uap air masuk ke dalam air pendingin yang mengalir dari aliran yang terpisah. Uap terkondensasi dan suhu dari air pendingin meningkat.

103 wnet w η = = netto ∑ qm ∑ qm 6. S5 > S4 2. S2 > S1 3.24 q51 (h − h ) η = 1+ =1− 5 1 q234 (h4 − h2 ) 6. dan disepanjang saluran (pipa) penghubung alat.25 • Rasio kerja balik (“The back work ratio”) parameter lain yang perlu diperhatikan adalah “bwr”. Besarnya adalah sebagai berikut: W12 bwr = 6. (h2 − h1 ) bwr = 6. setiap proses konversi energi tentunya ada energi yang hilang (proses dianggap berjalan tidak ideal atau tidak sempurna). Pompa bekerja tidak secara isentropik ∆ S > 0. Turbin uap bekerja tidak secara isentropik ∆ S > 0. super heater.26 W234 jika dibagi dengan massa fluida terja didapat.4 SIKLUS RANKINE AKTUAL Yang dimaksud siklus aktual disini adalah suatu proses yang terjadi di dalam sistem atau proses di dalam sistem di perhitungkan adanya kerugian energi atau mengalami adanya kerugian. disebabkan adanya sebagai berikut: 1. w12 bwr = 6. yang didefinisikan sebagai perbandingan antara kerja pompa (sisi masukan) terhadap kerja turbin uap (sisi keluaran). Terjadi penurunan tekanan di dalam kondensor. .27 w234 atau. Silus Rankine tidak berjalan ideal atau tidak sempurna.23 w45 − w12 (h4 − h5 ) − ( h2 − h1 ) = = q234 (h4 − h2 ) 6.28 (h5 − h4 ) 6.

104 4. Dengan menggunakan diagram T-s.5 CONTOH – CONTOH SOAL 1. pompa. kualitas uap dan volume spesifik pada titik potong antara suhu dan entropi spesifik. Diketahui air yang diuapkan sampai dengan suhu 140°C dengan entropi spesifik 5 J/gram K. carilah besarnya entalpi spesifik. turbin uap. Disetiap proses. boiler. Gambar 6. Penyelesaian: Dengan menggunakan diagram T-s dan suhu 140°C dan entropi spesifik sebesar 5 J/gram K.5 Skema siklus Rankine aktual Gambar 6. didapat: .6 Diagram siklus Rankine aktual diagram T – s 6. dan kondensor mengalami ada energi yang hilang. super heater.

kondisinya terdiri dadri uap air dan air. Dengan menggunakan tabel uap air. Penyelesaian: Dengan menggunakan tabel uap air pada suhu 102°C dan dengan interpolasi didapat: Metoda interpolasi: Ditanyakan besarnya vfx.0435 + (1.09593 bar.0435)⎜ ⎟ ⎝ 110 − 100 ⎠ = 1. carilah besarnya volume spesifik pada cairan jenuh dan uap jenuh. Dengan menggunakan tabel . Diketahui air yang diuapkan sampai mencapai suhu 45°C.0797 cm3/gram • pada uap jenuh = 508. Diketahui air yang diuapkan sampai dengan suhu 140°C.0516 dan persamaan untuk interpolasi adalah sebagai berikut: ⎛ T − T1 ⎞ vfx = v f 1 + (v f 2 − v f 1 )⎜⎜ x ⎟⎟ ⎝ T2 − T1 ⎠ ⎛ 102 − 100 ⎞ vfx = 1. 105 • entalpi spesifik = 1930 J/gram. carilah besarnya volume spesifik pada cairan jenuh dan uap jenuh.9 cm3/gram 3. • kualitas uap = 62.5% • volume spesifik = 300 cm3/gram 2. Diketahui air yang diuapkan sampai dengan suhu 102°C.04152 cm3/gram 4. Penyelesaian: • volume spesifik • pada cairan jenuh = 1. dan tekanan sebesar 0.0435 Vfx ? 1. Dengan menggunakan tabel uap air. bila parameter lain diketahui: T1 Tx T2 Vf1 Vfx Vf2 100 102 110 1.0516 − 1.

60)(15258) = 9155. Turbin Uap. Gambar 6.1 ). d).0099) + (0. Siklus ideal : . Boiler.0099 cm3/gram • pada uap jenuh = vg = 15258 cm3/gram maka. c). dan e). 106 uap air. carilah besarnya volume spesifik di suatu titik P yang mempunyai kualitas uap sebesar 60%? Penyelesaian: Dengan menggunakan tabel uap air pada suhu 45°C. vp = (1 – 0. didapat: • volume spesifik • pada cairan jenuh = vf = 1.7 Skema siklus Rankine ideal Penyelesaian: Asumsi : 1. Suatu siklus Rankine ideal ( seperti pada gambar 14. a). Hitung dan tentukan perubahan energi yang terjadi (kJ/kg) pada. Super Heater.Air keluar kondensor dan air masuk pompa pada kondisi air jenuh .Uap keluar boiler pada kondisi uap jenuh . Pompa.20396 cm3/gram 5. di super heater uap jenuh dipanaskan hingga temperatur 400 0C.60)(1. b). Pompa menekan air jenuh dari tekanan 150 kPa absolut menjadi 3000 kPa absolut. Kondensor.

0 ) ( kJ/kg ) = 470. t4 = 400 0C a).0 ( kJ/kg ). qSH = Perubahan energi yang terjadi dalam boiler ( kJ/kg ) qSH = h4 – h3 Æ dari tabel uap panas lanjut p2 = 3000 kPa dan t4 = 400 0C Æ h4 = 3230.4336 ) / 5.K ) Æ dari tabel uap jenuh p1 = 150 kPa Æ sf = 1.data : . Data. maka ∆ S = 0 Æ s5 = s4 = sX Æ dari tabel uap panas lanjut p2 = 3000 kPa dan t4 = 400 0C Æ s4 = 6.K ).K ) sfg = 5.001053 (m3/kg ) dari tabel uap jenuh p1 = 150 kPa.9212 ( kJ/kg.Tidak ada penurunan tekanan disepanjang saluran alat 2.9 – 2804. wT = Perubahan energi yang terjadi akibat kerja pada turbin ( kJ/kg ) wT = h4 – h5 Æ siklus yang terjadi ideal.7 ( kJ/kg ) d).9212 – 1. wp = Perubahan energi yang terjadi akibat tekanan dari pompa ( kJ/kg ) wp = v1 ( p2 – p1 ) Æ dari tabel uap jenuh p1 = 150 kPa. hf = 467.Tekanan air keluar dari pompa.5 (kJ/kg ) Æ X = ( sX – sf ) / sfg = ( 6.Turbin dan pompa bekerja secara isentropik. b).11 ( kJ/kg ) hfg = 2226. hf Æ h1 = 467. ∆ S = 0 (konstan) .2 ) ( kJ/kg ) = 426.4336 ( kJ/kg.2 – 470.Temperatur uap panas lanjut keluar Super heater .11 ( kJ/kg ) wp = 0.11 + 3.11 ) ( kJ/kg ) = 2334. vf Æ v1 = 0. 107 . hg Æ h3 = 2804. p2 = 3000 kPa absolut . p1 = 150 kPa absolut .001053 (m3/kg ) ( 3000 – 150 ) ( kPa ) Æ 1 kPa = 1 kN/m2 = 1 kJ/m3.09 ( kJ/kg ) c). = 3.7897 .11 ( kJ/kg ) qboiler = ( 2804.Tekanan air sebelum masuk ke pompa.2 ( kJ/kg ) Æ h2 = h1 + wp = ( 467.9 ( kJ/kg ) qSH = ( 3230. qboiler = Perubahan energi yang terjadi dalam boiler ( kJ/kg ) qboiler = h3 – h2 Æ dari tabel uap jenuh p2 = 150 kPa.7897 ( kJ/kg.

108

X = 0,9478.
h5 = hX = hf + X.hfg = ( 467,11 + 0,9478 . 2226,5 ) ( kJ/kg )
h5 = hX = 2577,38 ( kJ/kg )

wT = ( 3230,9 – 2577,38 ) ( kJ/kg )
= 653,52 ( kJ/kg ).

e). qkond = Perubahan energi yang terjadi dalam kondensor ( kJ/kg )
qkond = h5 – h1 = ( 2577,38 – 467,11 ) ( kJ/kg )
= 2110,52 ( kJ/kg ).

6. Suatu siklus Rankine ideal ( seperti pada gambar 14.2 ). Pompa menekan air
jenuh dari tekanan 175 kPa absolut menjadi 6000 kPa absolut, di super heater uap
jenuh dipanaskan hingga temperatur 400 0C, sistem dapat memproduksi uap 120
kg/menit. Hitung dan tentukan perubahan energi yang terjadi ( kW ) pada; a).
Pompa, b). Boiler, c). Super Heater, d). Turbin Uap, e). Kondensor, f). Efisiensi
turbin, dan g). Cek dengan keseimbangan energi sistem.
Penyelesaian:
Asumsi :
1. Siklus ideal : - Air keluar kondensor dan air masuk pompa pada kondisi air
jenuh
- Uap keluar boiler pada kondisi uap jenuh
- Turbin dan pompa bekerja secara isentropik, ∆ S = 0 (konstan)
- Tidak ada penurunan tekanan disepanjang saluran antar alat
2. Data- data : - Tekanan air sebelum masuk ke pompa, p1 = 175 kPa absolut
- Tekanan air keluar dari pompa, p2 = 6000 kPa absolut
- Temperatur uap panas lanjut keluar Super heater ,t4 = 400 0C
- Massa uap yang mengalir, M = 120 kg/menit = 2 kg/s

109

Gambar 6.8 Skema siklus Rankine kerja turbin uap tidak ideal

a). Wp = Perubahan energi yang terjadi akibat tekanan dari pompa ( kW )
Wp = M . v1 ( p2 – p1 )
Æ dari tabel uap jenuh p1 = 175 kPa, vf Æ v1 = 0,001057 (m3/kg )
dari tabel uap jenuh p1 = 175 kPa, hf Æ h1 = 486,99 ( kJ/kg )
Wp = 2 ( kg/s ) 0,001057 (m3/kg ) ( 6000 – 175 ) ( kPa )
= 12,30 ( kW ).

b). Qboiler = Perubahan energi yang terjadi dalam boiler ( kW )
Qboiler = M ( h3 – h2 )
Æ dari tabel uap jenuh p2 = 175 kPa, hg Æ h3 = 2784,3 ( kJ/kg )
Æ h2 = h1 + wp = (486,99 + 6,15 ) ( kJ/kg ) = 493,14 ( kJ/kg )
Qboiler = 2 ( kg/s ) (2784,3 – 493,14) ( kJ/kg )
= 4582,32 ( kW )

c). QSH = Perubahan energi yang terjadi dalam boiler ( kW )
QSH = M ( h4 – h3 )
Æ dari tabel uap panas lanjut p2 = 3000 kPa dan t4 = 400 0C
Æ h4 = 3177,2 ( kJ/kg )
QSH = 2 ( kg/s ) (3177,2 – 2784,3) ( kJ/kg )
= 785,80 ( kW )

d). WT = Perubahan energi yang terjadi akibat kerja pada turbin ( kW )

110

WT = M ( h4 – h5 )
Æ siklus yang terjadi ideal, maka ∆ S = 0 Æ s5 = s4 = sX
Æ dari tabel uap panas lanjut p2 = 6000 kPa dan t4 = 400 0C
Æ s4 = 6,5408 ( kJ/kg.K )
Æ dari tabel uap jenuh p1 = 175 kPa Æ sf = 1,4849 ( kJ/kg.K
),
sfg = 5,6868 ( kJ/kg.K ), hf = 486,99 ( kJ/kg ) hfg = 2213,6
(kJ/kg )
Æ X = ( sX – sf ) / sfg = (6,5408 – 1,4849) / 5,6868
X = 0,8890.
h5 = hX = hf + X.hfg = (486,99 + 0,8890. 2213,6) ( kJ/kg )
h5 = hX = 2454,88 ( kJ/kg )

WT = 2 ( kg/s ) ( 3177,2 – 2454,88 ) ( kJ/kg )
= 1444,64 ( kW ).
e). Qkond = Perubahan energi yang terjadi dalam kondensor ( kW )
Qkond = M ( h5 – h1 ) = 2 ( kg/s ) ( 2454,88 – 486,99 ) ( kJ/kg )
= 3935,78 ( kW ).
f). η T = Efisiensi turbin ( % )
η T = ( wT / h4 ) 100 % = ( 722,32 / 3177,2 ) ( 100 % )
= 22,73 %.
g). Keseimbangan energi sistem, Energi masuk sistem = Energi keluar sistem
Wp + Qboiler + QSH = WT + Qkond
12,30 + 4582,32 + 785,80 = 1444,64 + 3935,78
5380,42 = 5380,42.

7. Suatu siklus Rankine ( seperti pada gambar 14.3 ), soal seperti pada contoh soal
14.2. Pompa menekan air jenuh dari tekanan 175 kPa absolut menjadi 6000 kPa
absolut, di super heater uap jenuh dipanaskan hingga temperatur 400 0C, sistem
dapat memproduksi uap 120 kg/menit. Penambahan data sebagai berikut;
efisiensi overall pompa 84 %, efisiensi overall boiler 85 %, efisiensi overall super
heater 88 %, entropi uap keluar turbin bertambah 1 % dari saat masuk, dan
efisiensi overall kondensor 92 %. Hitung dan tentukan besar energi yang
diperlukan atau energi yang dihasilkan ( kW ) pada; a). Pompa, b). Boiler, c).

p1 = 175 kPa absolut . Efisiensi turbin. WPakt. t4 = 400 0C . hf Æ h1 = 486. = Besar energi yang diperlukan untuk menggerakan pompa ( kW ) WPakt. Cek dengan keseimbangan energi sistem. e).data : .30 ( kW ). vf Æ v1 = 0. = Wp / ηPompa Wp = M . 111 Super Heater. Turbin Uap. Qboiler = Besar energi yang diperlukan untuk memanaskan boiler ( kW ) Qboiler akt = Qboiler / η Boiler Qboiler = M ( h3 – h2 ) Æ dari tabel uap jenuh p2 = 175 kPa.64 ( kW ) b). Kondensor. Gambar 6.Tekanan air sebelum masuk ke pompa.9 Skema siklus Rankine aktual Asumsi : Data. v1 ( p2 – p1 ) Æ dari tabel uap jenuh p1 = 175 kPa. = 12. = 120 kg/menit = 2 kg/s a). f). d). hg Æ h3 = 2784.3 ( kJ/kg ) . dan g).30 ( kW ) / 0. WPakt.84 = 14.Tekanan air keluar dari pompa.Temperatur uap panas lanjut keluar Super heater. p2 = 6000 kPa absolut .Massa uap yang diproduksi/mengalir.001057 (m3/kg ) ( 6000 – 175 ) ( kPa ) = 12.001057 (m3/kg ) dari tabel uap jenuh p1 = 175 kPa.99 ( kJ/kg ) Wp = 2 ( kg/s ) 0.

9005 . d).K ) Æ dari tabel uap jenuh p1 = 175 kPa Æ sf = 1. maka ∆ S > 0 Æ sX = s5 = s4 + 0. WT akt = Besar energi yang dihasilkan turbin ( kW ) WT akt = WT .15 ) ( kJ/kg ) = 493.01 .9005 h5 = hX = hf + X. e).4849) / 5.4849 ( kJ/kg.5408 + 0.32 ( kW ) / 0.85 = 5390.14 ( kJ/kg ) Qboiler = 2 ( kg/s ) (2784.88 = 892. 2213. s4 Æ dari tabel uap panas lanjut p2 = 6000 kPa dan t4 = 400 0C Æ s4 = 6. c).K ).K ) sX = 6. Qkond akt.3) ( kJ/kg ) = 785. sfg = 5.96 ( kW ).33 ) ( kJ/kg ) = 1393.99 ( kJ/kg ) hfg = 2213.6868 ( kJ/kg.95 ( kW ).99 + 0.32 ( kW ) Qboiler akt = 4582.K ).hfg = (486. = QSH / η SH QSH = M ( h4 – h3 ) Æ dari tabel uap panas lanjut p2 = 3000 kPa dan t4 = 400 0C Æ h4 = 3177.33 ( kJ/kg ) WT = 2 ( kg/s ) ( 3177. = Besar energi yang diperlukan kondensor ( kW ) .6062 ( kJ/kg.6868 X = 0. = 785.2 – 2480.3 – 493.6062 – 1. QSH = Besar energi yang diperlukan untuk memanaskan super heater ( kW ) QSH akt.74 ( kW ).5408 = 6. 6. hf = 486.80 ( kW ) / 0.99 + 6.5408 ( kJ/kg.6) ( kJ/kg ) h5 = hX = 2480. η T WT = M ( h4 – h5 ) Æ siklus tidak ideal.2 ( kJ/kg ) QSH = 2 ( kg/s ) (3177.2 – 2784.6 (kJ/kg ) Æ X = ( sX – sf ) / sfg = (66.14) ( kJ/kg ) = 4582.80 ( kW ) QSH akt. 112 Æ h2 = h1 + wp = (486.01 .

21.33 – 486.99 ) ( kJ/kg ) = 3986.96 + 892.93 %.95 = 1393.35 6.2 ) ( kJ/kg )} ( 100 % ) = 21. + Qboiler + QSH akt. g).64 2. seperti tabel berikut: Siklus Ideal Siklus Aktual No.64 + 5390.68 ( kW ). Energi losses sistem 0 571.35 6298.80 892.68 ( kW ) . Perbandingan hasil jawaban antara siklus ideal dengan siklus aktual.09 = 571.55 = 5727.73 %. 113 Qkond akt. Energi untuk memanaskan Super heater 785. Efisiensi Tubin uap 22. = Qkond .92 = 4333. Energi untuk memanaskan Boiler 4582. Energi untuk menggerakan Pompa 12. Qkond akt.93 %.78 4333.96 3.32 5390. η T = Efisiensi turbin ( % ) η T = ( wT / h4 ) 100 % = 1393.64 1393.46 ( kW ) h).46 . Energi masuk sistem = Energi keluar sistem WPakt.74 + 4333.30 14.η kond Qkond = M ( h5 – h1 ) = 2 ( kg/s ) (2480. Keseimbangan energi sistem. = 3986. f).35 ( kW ). 0. Energi yang dihasilkan Turbin uap 1444. 14.95 4. = WT akt + Qkond akt. Alat / Komponen ( kW ) ( kW ) 1.09 Besar energi yang hilang ( QLosses ) = Energi masuk sistem .Energi keluar sistem QLosses = 6298.74 ( kW ) / {( 2 kg ) ( 3177. 7.74 5. Energi untuk melepas panas Kondensor 3935.55 – 5727.

dan uap panas lanjut. b) Boiler. Mampu menentukan besar energi (entalpi) yang terkandung dari air dan uap (kualitas uap) pada kondisi fasa air-jenuh. 6. fasa uap jenuh. 6. dalam siklus ideal maupun aktual. d) Tuebin uap. . Dapat menjelaskan perbedaan siklus Rankine ideal dengan aktual 7. anda diharapkan: 4. 114 6. c) Super-heater.7 PENUTUP Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal-soal latihan. a) Pompa. Mampu menghitung perubahan energi pada peralatan yang ada dalam siklus Rankine antara lain. Dapat menjelaskan pengertian tentang uap jenuh dan uap panas lanjut 5. dan e) Kondensor.6 RANGKUMAN Dalam bab sifat-sifat uap dan siklus Rankine ini telah dibahas tentang: • Proses air menjadi uap • Kualitas uap • Uap jenuh dan uap panas lanjut • Siklus Rankine aktual • Siklus Rankine ideal • Contoh-contoh perhitungan mengenai tabel dan kualitas uap • Contoh-contoh perhitungan pada sistem siklus Rankine.

volume spesifik dari uap. b. maka carilah parameter-parameter yang belum diketahui (lihat Tabel 6. volume spesifik. ? 5 200 ? ? 35 .8 SOAL –SOAL LATIHAN 1. Dengan menggunakan T-s diagram (diagram suhu-entropi). ? 7 ? 8 ? . Tabel 6. ? 6 ? 5 ? 55 . Parameter yang lain dari uap pada tekanan 25 bar dan suhu 275°C. 115 6. Entalpi spesifik dari uap pada tekanan 20 bar dan suhu 325°C. Parameter Soal Volume Entalpi Suhu Entropi. Enersi dalam spesifik dari cairan jenuh pada tekanan 23 bar. bila diketahui kualitas uap adalah 80% pada tekanan 21 bar. h. carilah besarnya: a. f.5 ? . Entalpi spesifik dari uap pada tekanan 15 bar dan suhu 300°C. Volume dari uap pada tekanan 16 bar dan suhu 400°C. kualitats uap. 2400 Catatan: 1) Parameter yang dicari (contoh hitungan) ? Yang ditanyakan 2. ? 3 100 2 ? ? .1 Suhu. 40 ? 9 ? 5 ? ? . . Volume spesifik dari uap air kering pada tekanan 21 bar. d. e. entropi. 2000 10 ? 6 ? ? . 10 ? 8 ? 6. entalpi spesifik dari uap.9°C. tekanan dan entalpi spesifik. bila diketahui kualitas uap adalah 70% pada tekanan 22 bar. c. sp Kualitas Tekanan nomor spesfiik spesifik °C Jg-1 oK-1 Cm3g-1 % Bar Jg-1 1 100 6 14001) 781) . Dengan menggunakan tabel uap dan/atau diagram uap.1). ? 4 200 ? ? 55 . g. i. 21501) 2 100 5 ? ? . Parameter yang lain dari uap pada tekanan 25 bar dan suhu 223.

045 *) 1673**) .29 [kJ/kg].75 [kJ/kg].26 [kJ/kg]}. Hitung dan tentukan perubahan energi yang terjadi (kJ/kg) pada. b) Boiler.5 - 9 102 ? ? . sp Volume spesfiik Kualitas Tekanan Volume Suhu nomor spesifik di °C Jg-1 oK-1 Cm3g-1 % Bar titik P 1 100 1. 1. Parameter Soal Entropi. Jawaban : { a) 4. b) 2306.. dan f) Kondensor. 7. ? - 3 107 ? ? . c) Super heater. Dengan menggunakan tabel uap dan/atau diagram uap. dan tekanan. d) 0. beriku ini. carilah besaran pada Tabel 6.2.88842. kualitas uap. c) 282. 116 3. pompa menekan air dari tekanan 175 kPa abs. ? - 11 297 ? ? .57 [kJ/kg]. ? - 4 140 ? ? 60 ? vp = ? 5 140 ? ? 70 ? vp = ? 6 140 ? ? 65 ? vp = ? 7 ? ? ? . e) Turbin uap. d) Fraksi kekeringan uap (kualitas uap).5 - 8 ? ? ? . Menjadi 4500 kPa abs. a) Pompa. di super heater uap jenuh dipanaskan hingga temperatur 4000C.. Suhu. volume spesifik. 5.014 - 2 102 ? ? .35 [kJ/kg]. f) 1957. Suatu siklus Rankine ideal. 1.2. Menjadi 5000 kPa abs. Tabel 6. masaa uap yang mengalir 90 kg/menit. di super heater uap jenuh dipanaskan hingga temperatur 3500C. e) 636. Hitung dan tentukan perubahan . pompa menekan air dari tekanan 125 kPa abs. ? - 12 145 ? ? 60 ? vp = ? 13 142 ? ? 70 ? vp = ? 14 147 ? ? 65 ? vp = ? Catatan: *) dan **) parameter yang dicari (contoh hitungan) ? yang ditanyakan 4. ? - 10 217 ? ? . Suatu siklus Rankine ideal.

895 [kW]. e) 3036. d) 0. g) keseimbangan energi sistem.075 [kW]. di super heater uap jenuh dipanaskan hingga temperatur 4000C. f) 1998. dan h) hasil jawaban bandingkan dengan hasil jawaban soal nomor 6 (proses siklus ideal).8648. e) 752. Jawaban : { a) 3.65 [kW]. b) Boiler. di super heater uap jenuh dipanaskan hingga temperatur 4000C. pompa menekan air dari tekanan 100 kPa abs. a) Pompa. Menjadi 6000 kPa abs. Suatu siklus Rankine aktual. c) 684. Jawaban : { a) 8. d) Turbin uap. efisiensi overall kondensor 92%.15 [kW]. a) Pompa. masaa uap yang mengalir 90 kg/menit. d) 372. entropi uap keluar turbin bertambah 1% dari saat masuk. dan e) Kondensor. Menjadi 6000 kPa abs. c) Super heater. 117 energi yang terjadi (kJ/kg) pada. c) 602. e) 1007.66 [kW]. b) 3517. d) Turbin uap. b) Boiler. c) Super heater.97 [kW]}.47% }. masaa uap yang mengalir 30 kg/menit.36 [kW]}. c) Super heater. efisiensi overall super heater 88%.65 [kW]. entropi uap keluar turbin bertambah 1% dari saat masuk. b) 1388. d) Turbin uap.. f) 23. d) 1090. c) 196.845 [kW]. a) Pompa.20 [kW]. masaa uap yang mengalir 30 kg/menit. efisiensi turbin uap. 6. pompa menekan air dari tekanan 125 kPa abs. d) Turbin uap.. 8. Suatu siklus Rankine aktual. c) Super heater. d) 0. dan e) Kondensor.335 [kW]. Hitung dan tentukan perubahan energi yang terjadi (kJ/kg) pada. b) 4396. c) 223. efisiensi overall boiler 80%. Menjadi 5000 kPa abs.41 [kW]. b) Boiler.63 [kW]. efisiensi overall super heater 88%. Hitung dan tentukan perubahan energi yang terjadi (kJ/kg) pada. Jawaban : { a) 3. b) Boiler. e) 403.8920.. dan g) keseimbangan energi sistem?.1 [kW]. 7. f) 22.76% }. pompa menekan air dari tekanan 100 kPa abs. Hitung dan tentukan perubahan energi yang terjadi (kJ/kg) pada. efisiensi overall kondensor 92%.34 [kW]. efisiensi overall pompa 86%. Suatu siklus Rankine ideal. a) Pompa. efisiensi turbin uap. efisiensi overall boiler 85%. dan e) Kondensor. b) 1180. f) 976.45 [kW]. .02 [kW].9 [kW]. di super heater uap jenuh dipanaskan hingga temperatur 4000C.51 [kW]. efisiensi overall pompa 84%.32 [kW]. dan e) Kondensor. Jawaban : { a) 7.

sisi dingin dan sisi panas. dan 3. Dalam buku ini akan membahas sistem refrigerasi dengan prinsip Sistem kompresi (pemampatan). yaitu: 1. dan produksi es balok. Sistem siklus Brayaton. Sistem absorpsi. 2. dan air panas tersebut dimanfaatkan untuk keperluan tertentu. Mesin pompa kalor (Heat Pump) adalah mesin yang memanfaatkan energi bersuhu panas dari sistem refrigerasi di dalam kondensor dengan cara menyerap panas dari refrigerasi yang mengalir di dalam kondensor sehingga fluida (air atau udara) menjadi lebih panas. Sistem kompresi (pemanfaatan). Sistem refrigerasi sebenasrnya dapat dimanfaatkan dua sisi.1 PENDAHULUAN Sistem refrigerasi banyak dimanfaatkan dalam kehidupan manusia sehari- hari. di sisi yang panas untuk pencairan gas alam. Mesin AC adalah mesin yang memanfaatkan energi bersuhu dingin dari sistem refrigerasi di dalam evaporator dengan cara menyerap panas benda-benda yang ada disekelilingnya sehingga benda-benda tersebut menjadi lebih dingin dan atau menyerap panas dari udara yang lewat di dalamnya sehingga udara menjadi lebih dingin dan udara tersebut dimanfaatkan. misal untuk keperluan mandi air hangat. 118 BAB 7 SISTEM REFRIGERASI 7. Aplikasi sistem refrigerasi dalam dunia industri adalah untuk pemisahan udara untuk mendapatkan oksigen cair atau nitrogen cair. antara lain untuk pengawetan makanan (daging atau sayur-sayuran) seperti ini biasa disebut mesin refrigerator. Ada tiga prinsip dalam refrijerasi. . dan untuk penyegaran udara (Air Conditioning/AC) seperti ini biasa disebut mesin pendingin atau mesin AC. dan bila yang dimanfaatkan udara (khususnya bagi warga masyarakat di negara yang cuanya dingin) dapat digunakan untuk menghangatkan ruangan.

Bila pada temperatur rendah dimanfaatkan disebut mesin pendingin / pengkondisian udara (Air Conditioning/AC) dan bila pada temperatur tinggi mesin pemanas / pompa kalor (Heat Pump). • Dapat mengaplikasikan formula yang berkaitan dengan sistem refrigerasi. • Mampu menjelaskan pengertian tentang sistem mesin pendingin (AC). • Dapat mengaplikasikan kondisi udara ke diagram psikrometri. . anda diharapkan dapat: • Mampu menjelaskan pengertian tentang sistem refrigerasi. 119 Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal-soal latihan.1 Sistem Thermodinamika pada mesin refrigerasi Refrigerasi merupakan suatu proses yang memanfaatkan energi untuk mencapai temperatur di bawah temperatur sekitar (pendinginan). 7. Penyegaran udara atau air conditioning (AC) merupakan aplikasi dari refrigerasi. yang dapat didefinisikan sebagai “suatu proses mendinginkan udara sehingga dapat mencapai temperatur dan kelembaban yang sesuai dengan yang dipersyaratkan terhadap kondisi udara dari suatu ruangan tertentu”.2 Siklus Refrigerasi Suatu sistem diberikan kerja serta sistem tersebut secara siklus dapat menyerap panas pada temperatur rendah (temperatur lingkungan sekitar) dan melepaskan panas pada temperatur yang lebih tinggi. Temperatur Tinggi Qout Win Sistem Qin Temperatur Rendah Gambar 7. • Dapat mengaplikasikan formula yang berkaitan dengan sistem mesin AC.

120 Gambar 7. b. Mesin refrigerasi dalam meningkatkan koefisien prestasi mesin. Kondensor udara yang digunakan merupakan jenis force draught condenser. . Dengan adanya perbedaan tekanan antara sisi tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah. Kompresor bekerja membuat perbedaan tekanan dengan cara menghisap refrigeran yang bertekanan dan bertemperatur rendah. bertugas mensirkulasikan (menghisap dan menekan) refrigeran yang harus mengalir dalam unit sistem. kondensor. Laju perpindahan kalor yang dibutuhkan di dalam kondensor merupakan fungsi dari kapasitas refrigeran. refrigeran dapat mengalir dari satu bagian ke bagian lain dari sistem. Kondensor Kondensor merupakan alat penukar kalor yang berfungsi untuk mengembunkan gas refrigeran dari kompresor menggunakan media pendingin udara atau air. Kompresor Kompresor berperan sebagai tenaga penggerak dalam sistem refrigerasi.2 Siklus sistem refrigerasi sebagai mesin AC. Mesin refrigerator (AC) mempunyai beberapa komponen utama yaitu kompresor. dan pipa kapiler. yang sangat berpengaruh adalah bagaimana proses pemindahan kalor di dalam kondensor. Kompresor yang digunakan adalah kompresor scroll. Fungsi komponen tersebut sebagai berikut: a. kemudian refrigeran yang sudah berupa gas tersebut dimampatkan atau dikompresi sehingga tekanan dan temperatur refrigeran naik. istilah yang sering digunakan untuk mengkaitkan antara laju alir kalor di kondensor dan dalam evaporator disebut Rasio Pelepasan Kalor (KPK). evaporator.

121 yaitu dimana pelaksanaan perpindahan panasnya dilakukan dengan aliran udara yang dipaksakan dengan memakai kipas udara (fan). Diagram Mollier pada Refrigerasi Dalam diagram Mollier. Gambar 7. proses siklus refrigerasi ideal yang melibatkan penguapan. Dengan adanya perpindahan panas ini. Sedangkan.3 Siklus ideal sistem refrigerasi. Evaporator Evaporator menyerap panas dari udara lingkungan dan mendinginkan udara tersebut. Air yang disalurkan melalui pipa bagian luar. dan ekspansi dapat digambarkan seperti pada gambar berikut. Refrigeran berupa gas bertekanan . yaitu kondensor yang terdiri dari dua pipa yang dibentuk sedemikian rupa sehingga pipa yang satu berada dalam pipa yang lainnya. Katup Ekspansi atau Pipa Kapiler Pipa kapiler adalah pengatur refrigeran. Proses 1 – 2 : Kompresi Pada proses 1 – 2 refrigeran mengalami kompresi oleh kompresor. d. sehingga mengalami tekanan dan temperatur refrigeran naik. refrigeran akan mengalami penguapan pada evaporator. Pipa kapiler berfungsi untuk menurunkan tekanan dan temperatur refrigeran cair yang berasal dari kondensor menuju evaporator. kondensor air yang digunakan adalah jenis pipa ganda (Tube and Tube). Evaporator ini terbuat dari plat. hal ini dikarenakan adanya perpindahan panas antara udara lingkungan dan refrigeran yang mengalir dalam evaporator. c. pengembunan. kompresi. sementara refrigeran di dalam pipa bagian dalam. serta jumlah refrigeran yang mengalir diatur sesuai dengan kebutuhan evaporator.

sehingga terjadi pada garis entropi konstan. Proses ekspansi yaitu penurunan tekanan pada entalpi konstan.3. yang terjadi pada waktu refrigeran melalui pipa kapiler dinyatakan berlangsung sepanjang garis arah vertikal (iso-entalpi). Sehingga siklus refrigerasi ideal yang terlukis pada diagram Mollier akan berbeda dengan siklus sebenarnya (aktual). Terjadi peristiwa perpindahan panas pada bagian ini. Dalam proses refrigerasi. dianggap tidak terjadi kerugian tekanan karena gesekan atau sebab lainnya. evaporator akan menyerap panas dari luar atau lingkungan. Proses 3 – 4 : Ekspansi Pada proses 3 – 4 terjadi ekspansi pada refrigeran oleh pipa kapiler. Refrigeran berupa cairan bertekanan tinggi setelah mengalami ekspansi akan menjadi cairan bertekanan dan bertemperatur rendah. 2. Coefficient of Performance Coefficient of Performance (COP) merupakan suatu koefisien yang menunjukkan perubahan energi yang terjadi pada fluida kerja (refrigeran). Proses kompresi di dalam kompresor dapat dianggap adiabatik reversibel (isentropik). Proses 4 – 1 : Penguapan Pada proses 4 – 1 refrigeran yang memiliki temperatur rendah dilewatkan ke evaporator. Kenaikan dan penurunan entalpi adalah sama dengan jumlah kalor yang dimasukkan dan jumlah kalor yang dilepaskan oleh refrigeran. Dalam proses refrigerasi. Proses 2 – 3 : Kondensasi Pada proses 2 – 3 refrigeran yang berupa gas bertekanan tinggi dari kompresor akan didinginkan di kondensor. sehingga refrigeran akan mengalami perubahan fasa dari cairan bertekanan rendah menjadi gas bertekanan rendah. Sehingga entalpi sebelum dan sesudah ekspansi adalah sama. sehingga akan terjadi perubahan fasa pada refrigeran dari gas bertekanan tinggi menjadi cairan bertekanan tinggi. dan perpindahan kalor antara refrigeran dengan air terjadi pada kondensor. Proses tekanan konstan yang terjadi pada pengembunan refrigeran di kondensor dilukiskan dengan garis-garis horizontal. COP pendingin didefinisikan sebagai perbandingan besarnya Refrigeration Effect (RE) terhadap kerja kompressor yang dinyatakan dalam persamaan berikut : . Kerja yang dilakukan oleh kompressor adalah sama dengan kenaikan entalpi refrigeran antara sisi masuk dan sisi keluar kompressor. Terjadi peristiwa perpindahan panas pada bagian ini. perpindahan kalor antara refrigeran dengan lingkungan terjadi pada evaporator. 122 rendah akan menjadi gas bertekanan tinggi.

h2 : Besarnya entalpi pada sisi keluar kompressor [kJ/kg].8 Wk (h2 − h1 ) Sedangkan COP pemanas didefinisikan sebagai perbandingan besarnya Heat Rejected (HR) terhadap kerja kompressor. yang dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut : HR (h − h3 ) COP pemanas = = 2 7. = 1 7. h3 : Besarnya entalpi pada sisi keluar kondensor [kJ/kg].3 HR = m(h3 – h2) 7. h4 : Besarnya entalpi pada sisi masuk evaporator [kJ/kg].725 ( Stuecker. 123 Wk = h2 – h1 7.1 Wk = m (h2 – h1) 7.6 RE = m (h1 – h4) 7. 1996: 230 – 233 ).5 q41 = h1 – h4 7. Wk : Perubahan atau pertambahan entalpi akibat kerja kompressor [kW]. karena di dalam pipa kapiler refrigeran tidak melakukan kerja.7 COP pendingin = RE (h − h4 ) . Proses pertukaran kalor di dalam kondensor antara fluida yang medinginkan dengan fluida yang didinginkan refrigeran selisih temperaturnya 2 0C. 21 ).4 h3 = h4 7. dalam perencanaan dapat diambil antara 2 0C sampai 5 0C dalam penelitian ini diambil 40C ( Instruction Manual. HR = q23 : Besarnya kuantitas panas yang dilepas per kilogram massa refrigeran pada kondensor [kJ/kg].65 sampai dengan 0.9 Wk (h2 − h1 ) Dimana : RE = q41 : Besarnya kuantitas panas yang diterima per kilogram massa refrigeran pada evaporator [kJ/kg]. berdasarkan inilah akan digunakan untuk . h1 : Besarnya entalpi pada sisi masuk kompressor [kJ/kg]. Beberapa penelitian menentukan besarnya KPK antara 0. 1987: 11. dibanding dengan laju pelepasan kalor di evaporator (kW). h4 = h3. Besarnya KPK sama dengan laju pelepasan kalor di kondensor (kW).2 q23 = h3 – h2 7.

untuk menentukan besar energi panas yang dapat dimanfaatkan secara aktual (secara optimal) bila hasilnya > secara teori Æ dalam kapasitas data penelitian tertentu. 7.3 Siklus Refrigerasi Aktual Dalam kondisi sebenarnya )siklus refrigerasi aktual) biasanya tidak berjalan secara ideal.4 Siklus aktual (garis putus-putus) sistem refrigerasi . kondensor. Gambar 7. dan di dalam sepanjang pipa penghubung • Fluida kerja (refrigerasi) keluar dari kondensor tidak dalam kondisi cair jenuh • Fluida kerja (refrigerasi) keluar dari evaporator tidak dalam kondisi cair jenuh. 124 menentukan besar energi panas yang dapat dimanfaatkan secara teori. Faktor-faktor yang menyebabkan siklus refrigerasi tidak ideal adalah : • Kompresor bekerja tidak secara isentropik • Terjadi penurunan tekanan aliran di dalam evaporator.

125 7.4 Mesin AC Dapat Dimanfaatkan Untuk Pemanas Air Gambar 7.5 Foto mesin AC jenis split yang dimanfaakan untuk pemanas air Gambar 7.6 Siklus sistem refrigerasi yang dimanfaakan untuk pemanas air .

Air Conditioning (AC) 8. Ada sifat yang istimewa pada fluida kerja ini antara lain: mempunyai titik beku yang relatif lebih rendah dari suhu yang terendah dari siklus (T4). Kondensor Air 2. dan titik kritis relatif lebih tinggi dibandingkan suhu di kondensor (T3). Temperatur Switch panas.7 Skematik unit alat pengujian tampak depan Keterangan gambar: 1. Pipa Kapiler 5. 7. Tangki Penampung Air 6. Kondensor Udara 3. 126 Gambar 7. Katup 4. Beberapa contoh refrijeran adalah: • Refrijeran 12 (R – 12) = Freon 12 = CCl2F2 = Dichlorodifluoromethane • Refrijeran 22 = R-22 . Indikator Suhu 11. Thermostat 9. Indikator Tekanan 10. Rangka Besi 7.5 Refrigerant Fluida kerja pada siklus refrigerasi dikenal dengan refrijeran atau sering disingkat dengan R-. dan harganya berkisar -50°C.

8 Grafik p – h dari R – 12. . Gambar 7. = HC290 (propane+) = CH3CH2CH3 Gambar 7. 127 • Refrijeran 717 = R-717 = ammonia • Refrijeran 290 = R-290 = Hydrocarbone (HC) jenis propane.9 Grafik p – h dari R – 22.

oleh karena bagan yang memuat sifat-sifat psikrometrik sudah tersedia. yang mempunyai arti penting di dalam bidang teknik pengkondisian udara. Bagan psikrometrik (psychrometric chart). maka kita akan memusatkan perhatian pada pengembangan sebuah bagan. tetapi pada proses yang lain kadang air perlu ditambahkan. Gambar 7.11 Hubungan temperatur dan kandungan uap air pada psikrometrik . tetapi merupakan campuran antara udara dan uap air. kandungan air sengaja disingkirkan dari udara. 128 7.6 Psikrometrik dan Pengkondisian Udara Psikrometri merupakan kajian tentang sifat-sifat campuran udara dan uap air. Pada beberapa proses pengkondisian udara. lihat gambar 8.6. karena udara atmosfir tidak kering betul.10 Diagram psikrometrik Gambar 7.

12 Skema aliran udara pada sistem pengkondisian Udara. Diketahui suatu siklus refrigerasi yang mengikuti sistem kompresi uap ideal dengan data berikut: • suhu refrigeran keluar evaporator adalah -20°c. s2 = s1 ( isentropik ) h2 = 376.0 kJ/kg h4 = h3 h4 = 238. dan e. • fluida kerja adalah R-12.5 kJ/kg. Kerja spesifik kompresor d. Koefisien prestasi refrijerasi (COPRE). Ditanya: a.5 kJ/kg. Efek Pemanasan (HR) c.200C Æ hg h1 = 342. Gambar 7. Efek Refrijerasi (RE). Efek Refrijerasi (Refrigerant Effeck. • suhu refrigeran keluar kondensor adalah 40°c.7 kJ/kg. b. RE) RE = h1 – h4 . 129 Pengkondisian Udara pada bangunan-bangunan komersial dan non-komersial dianjurkan untuk mengendalikan masuknya udara luar (make-up air) dan udara dalam ruangan (return air). T3 = 400C Æ hf h3 = 238. a. Koefisien prestasi pemanas (COPHR) Penyelesaian: Dari grafik dan tabel didapat: T4 = T1 = . 7. Berikut skema aliran udara pada sistem pengkondisian Udara. 1.7 Contoh-Contoh Soal.

0 – 342. Diketahui suatu siklus refrigerasi yang mengikuti sistem kompresi uap ideal dengan data berikut: • suhu refrigeran keluar evaporator adalah -20°c.2 = 33. . Efek Refrijerasi (RE). • fluida kerja adalah R-12.0 – 238. 130 = 342.13 2.2 kJ/kg b. Koefisien prestasi refrijerasi (COPRE) q 41 RE COPRE = = wkomp wkomp h1 − h4 = h2 − h1 104.7 = 33.7 – 238.5 = 33. HR) HR = h2 – h3 = 376.3 = 3. Koefisien prestasi pemanas (COPHR) q 41 RE COPHR = = wkomp wkomp h2 − h3 = h2 − h1 137.5 kJ/kg c. Kerja spesifik kompresor (wkomp) wkomp = h2 – h1 = 376.5 = 137. Efek Refrijerasi (Heat Rejected.13 e. Ditanya: a.5 = 104. • suhu refrigeran keluar kondensor adalah 40°c.3 kJ/kg d.3 = 4.

0 kJ/kg h4 = h3 h4 = 238. RE) RE = h1 – h4 = 342.7 – 238. T3 = 400C Æ hf h3 = 238.5 kJ/kg c.7 kJ/kg.2 = 33. Koefisien prestasi refrijerasi (COPRE) q 41 RE COPRE = = wkomp wkomp h1 − h4 = h2 − h1 104. Koefisien prestasi refrijerasi (COPRE).5 kJ/kg. Kerja spesifik kompresor (wkomp) wkomp = h2 – h1 = 376. 131 b.3 kJ/kg d. HR) HR = h2 – h3 = 376. s2 = s1 ( isentropik ) h2 = 376. Efek Refrijerasi (Refrigerant Effeck.5 = 137.0 – 238. Efek Refrijerasi (Heat Rejected.0 – 342. Koefisien prestasi pemanas (COPHR) Penyelesaian: Dari grafik dan tabel didapat: T4 = T1 = . Kerja spesifik kompresor d.3 = 3. dan e.5 = 104.13 e. a.5 kJ/kg. Efek Pemanasan (HR) c. Koefisien prestasi pemanas (COPHR) q 41 RE COPHR = = wkomp wkomp .2 kJ/kg b.200C Æ hg h1 = 342.7 = 33.

13 3.10°C • fluida kerja adalah R-12 • laju aliran massa dari fluida kerja = 0. 132 h2 − h3 = h2 − h1 137.5 – (349. Kerja kompresor Wkomp = m(h3 – h2) = (0.7 kJ/kg h4 = 238.0 kJ/kg h3 = 385.0 kJ/kg Efek HE : h4 – h5 = h2 – h1 h5 = h4 – ( h2 – h1 ) h5 = 238.3 = 4. Koefisien performasi untuk pemanas (COPHR) Penyelesaian: h1 = 342.5 = 33.288 kW . HR) d.008)[kg/detik]( 385.2 kJ/kg a. h6 = h5 = 232.0 – 349.008 kg/detik Ditanya: a.0 – 342.2 kJ/kg.5 kJ/kg h2 = 349.0)[kJ/kg][1kW/1kJ/detik] = 0. Kerja kompresor b.20°C • suhu refrigeran masuk kompresor adalah . Koefisien performasi untuk pendingin (COPRE) e.7) h5 = 232. Diketahui suatu siklus refrigerasi ideal menggunakan alat penukar kalor yang mengikuti sistem kompresi uap aktual dengan data sebagai berikut: • suhu refrigeran keluar kondensor adalah 40°C • suhu refrigeran keluar evaporator adalah . Efek pemanasan (Heat Rejected. RE) c. Eek refrigerasi (Refrigerant Effeck.

0 – 238.2) = (385.7 – 232.07 e. qpendingin [kJ/kg] b. diketahui kondisi temperatur udara masuk ke evaporator tdb = 32 0C dan twb = 26 0C saat keluar dari evaporator tdb = 21 0C dan twb = 16 0C. Koefisien performasi untuk pemanas (COPHR) COPHR = HR / RE h3 − h4 = h3 − h2 (385 − 238. 133 b.2) [kg/detik][kJ/kg] = 0.0 − 349. Tentukan besar pendinginan udara.008) ( 342. HR) qm = m(h3 – h4) Q34 = HR = (0. Koefisien performasi untuk pendingin (COPRE) qm COPRE = = RE / Wk wkomp h1 − h6 = h3 − h2 (342. Efek Refrigerasi (RE) qm = m(h1 – h6) Q61 = RE = (0. Dalam pengkondisian udara.5 [kJ/kg] .5 [kJ/kg] hu2 = 44.0 − 349.008) (385. y [gr/kg udara].88 kW c.7 − 232. Besar uap air dari udara yang mengembun.07 4.0) = 4. efek pemanasan (Heat Rejected.0) = 3.5) = (385.5) [kg/detik][kJ/kg] = 1. Penyelesaian: Dari grafik psikrometrik didapat: hu1 = 80.172 kW d. Ditanya: a.

5 – 44. Perhitungannya sebagai berikut: • Data temperatur Tin Komp = 12°C Tin kond udara = 30°C Tout Komp = 91°C Tout kond udara = 16°C • Perhitungan tekanan ⎛ 60 ⎞ Pin komp = 60 psi Æ⎜ ⎟ + 1 = 5.39 kPa ⎝ 14. dilakukan perhitungan yang dapat membantu dalam menjelaskan kondisi sistem pemanas air pada mesin refrigerator.6259 bar abs = 1562.(mesin dioperasikan) b.3 [gr/kg udara] a.7 ⎠ ⎛ 230 ⎞ Pin kond air = 230 psi Æ⎜ ⎟ + 1 = 16.6463 bar abs = 1664.59 kPa ⎝ 14. R-22) yang dimanfaakan untuk pemanas air pengujian Dari data yang telah didapat. y = y1 – y2 = 18. qpendingin = hu1 . Dari suatu hasil penelitian sebagai berikut.16 kPa ⎝ 14.6939 bar abs = 569.7 ⎠ ⎛ 215 ⎞ Pout kond air = 215 psi Æ⎜ ⎟ + 1 = 15.43 kJ/kg ⎝ 14 ⎠ 1 h3 = h4 = 240 − × 20 = 237.29 kJ/kg ⎝ 14 ⎠ ⎛1⎞ h2 = 460 + ⎜ ⎟ × 20 = 461.63 kPa ⎝ 14. a.0816 bar abs = 508. 134 y1 = 18. Diambil satu data yang digunakan untuk perhitungan dalam satu tabel data pengujian.7 ⎠ • Perhitungan enthalpi ⎛4⎞ h1 = 420 − ⎜ ⎟ × 20 = 414.3 = 9. Data pengujian refrigerasi menggunakan unit sesudah modifikasi tanggal 24 Agustus 2007.8 – 9. pada menit ke 60. Data diambil dari mesin AC jenis split (siklus sistem refrigerasi aktual.5 [gr/kg udara] 5.86 kJ/kg 14 .5 = 36 [kJ/kg] b.7 ⎠ ⎛ 69 ⎞ Pin Evap = 69 psi Æ⎜ ⎟ + 1 = 5.8 [gr/kg udara] y2 = 9.hu2 = 80.

29) 223.50 kPa ⎝ 14.86 223.57 kJ/kg c.5 kJ/kg Qair = m × Cp × ∆T = 39 kg .5 kJ/kg hu1 = 85 kJ/kg hu2 = 47.7 ⎠ .32 kJ • Perhitungan Keseimbangan Energi (h2 − h3 ) = (h1 − h4 ) + (h2 − h1 ) (461. 4.2653 bar abs = 1426.57 kJ/kg = (176.86) + (461.57 COPpemanas = = 2 = = = 4.850 bar abs = 358.86 176.57 kJ/kg = 223.86) = (414.43 COPpendingin = = 1 = = = 3.14 HR h − h3 461. Perhitungannya sebagai berikut: • Perhitungan temperatur Tin Komp = 16°C Tin kond udara = 23°C Tout Komp = 103°C Tout kond udara = 17°C • Perhitungan tekanan ⎛ 38 ⎞ Pin komp = 38 psi Æ⎜ ⎟ + 1 = 3.43 + 47.29 − 237.53 kPa ⎝ 14. pada menit ke 60.43 − 414.43 − 414.5 Twb = 27°C Twb = 17°C = 37.74 Wk h2 − h1 461. 135 • Perhitungan Coefficient of Performanc ( COP) RE h − h4 414.43 − 237. (60 − 31) = 4725.14) kJ/kg 223.14 • Perhitungan kalor yang diserap serta yang dilepaskan Udara masuk Udara keluar Qudara = hu1 − hu 2 Tdb = 31°C Tdb = 18°C = 85 – 47.43 − 414.29 47.29 − 237.7 ⎠ ⎛ 195 ⎞ Pin kond air = 195 psi Æ⎜ ⎟ + 1 = 14.74 Wk h2 − h1 461.178 kJ/kg°K .43 − 237. Data pengujian refrigerasi menggunakan unit sebelum Modifikasi tanggal 24 Agustus 2007.29 47.

5 − 64. 136 ⎛ 115 ⎞ Pout kond air = 115 psi Æ⎜ ⎟ + 1 = 8.57 COPpendingin = = 1 = = = 3.5 h3 = h4 = 220 + × 20 = 225 kJ/kg 14 • Perhitungan Coefficient of Performance (COP) RE h − h4 418.0187 kJ/s .57 + 54.86 − 418.29) kJ/kg 247.2 watt – 654. AC modifikasi = 673.86 − 225) = (418.57 Wk h2 − h1 472.57 − 225) + (472.57 − 225 193.7 ⎠ • Perhitungan enthalpi ⎛1⎞ h1 = 420 − ⎜ ⎟ × 20 = 418.5 kJ/kg hu2 = 64.57 ) 247.7 watt = 0.5 watt = 18.8231 bar abs = 882.57 54.86 kJ/kg = 247.86 − 418.5 Twb = 28°C Twb = 22°C = 25 kJ/kg hu1 = 89.5 kJ/kg • Perhitungan Keseimbangan Energi (h2 − h9 ) = (h1 − h4 ) + (h2 − h1 ) (472.31 kPa ⎝ 14.9252 bar abs = 392.57 kJ/kg ⎝ 14 ⎠ ⎛5⎞ h2 = 480 − ⎜ ⎟ × 20 = 472.86 COPpemanas = = 2 = = = 4.86 − 418.86 kJ/kg • Perhitungan Daya kompresor ∆Daya kompresor = Daya komp.7 ⎠ ⎛ 43 ⎞ Pin Evap = 43 psi Æ⎜ ⎟ + 1 = 3. AC standar – Daya komp.86 − 225 247.57 54.57 Wk h2 − h1 472.52 kPa ⎝ 14.29 • Perhitungan kalor yang diserap serta yang dilepaskan Udara masuk Udara keluar Qudara = hu1 − hu 2 Tdb = 31°C Tdb = 23°C = 89.86 kJ/kg ⎝ 14 ⎠ 3.29 HR h − h9 472.86 kJ/kg = 193.

9 33.29 32.57 3.8 Rangkuman Pada bab ini telah dibahas tentang: • Siklus refrigerasi dengan saistem kompresi (pemampatan) • Siklus refrigerasi dengan alat penukar kalor • Siklus Refrigerasi ideal dan Aktual • Refrigerant • Kerja kompresor (WK) • Efek refrijerasi (RE) • Efek pemanasan (HR) • Koefisien performansi (COP).66 52.57 3.29 37.85 37.73 47.57 29.57 28.57 3.29 25 4.5 30 4.43 33. Mampu menjelaskan pengertian tentang sistem refrigerasi.14 29 4.66 3.5 60 4.79 51.56 54.66 3.68 47. 137 = 11.8 3.55 3.86 33 80 4. 7.73 3.5 4. • Diagram psikrometrik.29 25 4.5 20 4. Perbandingan COP hasil pengujian tanggal 24 Agustus 2007 Refrigerasi Refrigerasi Waktu Unit Sebelum Modifikasi Unit Sesudah Modifikasi [Menit] COP COP Wk Qudara COP COP Wk Qudara HR RE [kJ/kg] [kJ/kg] HR RE [kJ/kg] [kJ/kg] 10 4.5 90 4.79 3.98 47.74 47.74 52.9 PENUTUP Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal-soal latihan.67 47.55 49.6 3.57 29.5 50 4.65 3.68 3.58 48.85 29.14 37.86 20.43 30 4.65 52.57 54.6 48.5 70 4.66 52.1.5 4.57 48.67 3.98 3.58 3.22 kJ Tabel 8.5 40 4.57 28. anda diharapkan: 8. .86 23 4.56 3.74 3.8 51.5 4.5 4.5 7.57 54.74 3.

11. Efek Pemanasan (HR) [ kJ/kg ] c. Dapat mengaplikasikan formula yang berkaitan dengan sistem refrigerasi. b. dan e. Koefisien prestasi pemanas (COPHR) 3. suhu refrigeran keluar kondensor adalah 40°c. Kerja spesifik kompresor (Wk) [ kJ/kg ] d. • Laju aliran massa dari fluida kerja = 3 kg/menit. Koefisien prestasi refrijerasi (COPRE). . Ditanya: a. suhu refrigeran keluar evaporator adalah -10°c. • Suhu di kondensor adalah 38°C.10 Soal-Soal Latihan: 1. Kerja spesifik kompresor (Wk) [ kW ] d. Koefisien prestasi pemanas (COPHR) 2. Ditanya: a. 12. Diketahui suatu siklus refrigerasi ( R-12 ) yang mengikuti sistem kompresi uap ideal dengan data berikut: a. yaitu PT Arian Es Utama. Efek Refrijerasi (RE) [ kW ] b. Efek Pemanasan (HR) [ kW ] c. Koefisien prestasi refrijerasi (COPRE). 138 9. Efek Refrijerasi (RE) [ kJ/kg ] b. mempunyai suatu sistem peralatan pembuatan es balok dengan menggunakan sistem refrijerasi kompresi uap ideal dengan data sebagai berikut: • Suhu di evaporator adalah 12°C. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan es balok. dan e. Diketahui suatu siklus refrigerasi (R-22) yang mengikuti sistem kompresi uap ideal dengan data berikut: • Suhu di evaporator adalah 0°C. 7. Dapat mengaplikasikan formula yang berkaitan dengan sistem mesin AC. Dapat mengaplikasikan kondisi udara ke diagram psikrometri. Mampu menjelaskan pengertian tentang sistem mesin pendingin (AC) 10.

tekanan 1700 kPa abs. refrigeran keluar kondensor suhu 40°C. refrigeran keluar evaporator suhu -10°C. Kerja spesifik kompresor (Wk) [ kJ/kg ] f. Efek Pemanasan (HR) [ kW ] c. f. Kerja spesifik kompresor (Wk) [ kJ/kg ] . • Laju aliran massa dari fluida kerja = 2 kg/menit. i. Ditanya: a. refrigeran keluar kompresor suhu 105°C. Diketahui suatu siklus refrigerasi aktual ( R-22 ) yang mengikuti sistem kompresi uap dengan data berikut: g. Diketahui suatu siklus refrigerasi aktual ( R-12 ) yang mengikuti sistem kompresi uap dengan data berikut: c. refrigeran keluar kondensor suhu -5°C.8 Mpa. Efek Refrijerasi (RE) [ kJ/kg ] b. tekanan 1800 kPa abs. h. tekanan 1100 kPa abs. refrigeran keluar evaporator suhu 0°C. refrigeran keluar kondensor suhu 40°C. tekanan 300 kPa abs. tekanan 400 kPa abs. Efek Refrijerasi (RE) [ kW ] b. Efek Pemanasan (HR) [ kJ/kg ] c. refrigeran keluar kondensor suhu 5°C. 139 • Tekanan keluar dari kompresor adalah 1. Ditanya: a. refrigeran keluar kompresor suhu 90°C. Kerja spesifik kompresor (Wk) [ kW ] d. j. Koefisien prestasi refrijerasi (COPRE). e. Koefisien prestasi pemanas (COPHR) 4. Efek Refrijerasi (RE) [ kJ/kg ] b. Koefisien prestasi refrijerasi (COPRE). Efek Pemanasan (HR) [ kJ/kg ] c. d. • Fluida kerja adalah R-22. Ditanya: a. Koefisien prestasi pemanas (COPHR) 5. dan e. dan g. tekanan 900 kPa abs.

Koefisien prestasi refrijerasi (COPRE). Kelembaban relative udara keluar-masuk evaporator d. Volume jenis udara keluar-masuk evaporator c. 6. Besar uap air dari udara yang mengembun. . Dalam pengkondisian udara. Ditanya: a. Tentukan besar pendinginan udara. Koefisien prestasi pemanas (COPHR). 140 d. diketahui kondisi temperatur udara masuk ke evaporator tdb = 32 0C dan twb = 26 0C saat keluar dari evaporator tdb = 21 0C dan twb = 16 0C. qpendingin [kJ/kg] b. y [gr/kg udara]. dan e.