You are on page 1of 18

TUGAS KEPERAWATAN ANAK I

LAPORAN PENDAHULUAN CRF / GNK

Dosen Pengampu : Welas Haryati, S.Pd, S.Kep, Ns, MMR

Disusun Oleh :
1. ADE IMA NOVIKASARI (P17420210001)

2. ALFIAN SEPTIADY (P17420210003)

3. AMAN NUR JAMAN (P17420210005)

4. ANISA ERIN FH (P17420210007)

5. ASMAWATI (P17420210009)

2A

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
PRODI KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2012

LAPORAN PENDAHULUAN
CRF / GNK

A. Pengertian
1. Gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible, yang
menyebabkan kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan

Nefropati obstruktif : penyalahgunaan analgetik nefropati timbale 8. 2. gangguan pembekuan. b. keseimbangan cairan maupun elektrolit. Penyakit peradangan : glomerulonefritis 3. 1. striktur uretra. masa hidup eritrosit memendek. 2. Penyakit vaskuler hipertensif : nefrosklerosis benigna nefrosklerosis maligna stenosis arteri renalis 4. 3. (Baughman & Hackley. Gangguan jaringan penyambung : SLE Poli arteritis nodosa Sklerosis sistemik progresif 5. netroperitoneal Sal. H eritropoetin →Depresi sumsum tulang → sumsum tulang tidak mampu bereaksi terhadap proses hemolisis/perdarahan → anemia normokrom normositer.cerna. Nefropati obstruktif : Sal. Retensi toksik uremia → hemolisis sel eritrosit. Kemih bagian atas: Kalkuli. Kemih bagian bawah: Hipertrofi prostate. neoplasma. Infeksi : pielonefritis kronik 2. ulserasi mukosa sal. Kelainan Saluran cerna . Tanda dan Gejala 1. Amiloidosis 7. Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten (menetap) dan irreversible atau tidak dapat pulih kembali. Kelainan Hemopoesis. uji comb’s negative dan jumlah retikulosit normal. B. sehingga timbul gejala uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). Etiologi/penyebab Gagal ginjal kronik terjadi setelah berbagai macam penyakit yang merusak nefron ginjal. bilirubuin serum meningkat/normal. Defisiensi hormone eritropoetin Ginjal sumber ESF (Eritropoetic Stimulating Factor) → def. Sebagian besar merupakan penyakit parenkim ginjal difus dan bilateral. (Mansjoer. fibrosis. dimanifestasikan dengan anemia a. Gout. anomali congenital pada leher kandung kemih dan uretra C. Gagal ginjal kronik merupakan penyimpangan progresif fungsi ginjal yang tidak dapat pulih dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan metabolik cairan dan elektrolit mengalami kegagalan yang mengakibatkan uremia. Hiperparatiroidisme. 2000). 2000). Gangguan congenital dan herediter: Penyakit ginjal polikistik Asidosis tubuler ginjal : DM.

Neuropsikiatri 6.20% fungsi ginjal normal 3.010 E. muntah. dengan BJ 1. Neurologi → kejang otot 8. Kelainan kulit a. Stadium II : Insufisiensi ginjal -Kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam diet) -Kadar kreatinin serum meningkat -Nokturia dan poliuri (karena kegagalan pemekatan) Ada 3 derajat insufisiensi ginjal: a. Kelainan mata 4. Kelainan selaput serosa 7. tes GFR 2. c. Pankreatitis Berhubungan dengan gangguan ekskresi enzim amylase 3. Kondisi berat 2% . Stadium III: gagal ginjal stadium akhir atau uremia -kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat -ginjal sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan elektrolit -air kemih/urin isoosmotis dengan plasma.40% fungsi ginjal normal c. lesi ulserasi luas. karena sekresi cairan saliva banyak mengandung urea dan kurang menjaga kebersihan mulut. Stomatitis uremia Mukosa kering. Gatal Terutama pada klien dgn dialisis rutin karena: -toksik uremia yang kurang terdialisis -peningkatan kadar kalium phosphor -alergi bahan-bahan dalam proses HD b. Patofisiologi umum GGK . Kardiomegali D. hicthcup dikompensasi oleh flora normal usus → ammonia (NH3) → iritasi/rangsang mukosa lambung dan usus b. Kering bersisik Karena ureum meningkat menimbulkan penimbunan kristal urea di bawah kulit c. Stadium I : Penurunan cadangan ginjal -Kreatinin serum dan kadar BUN normal -Asimptomatik -Tes beban kerja pada ginjal: pemekatan kemih. Mual. a.80% fungsi ginjal dalam keadaan normal b. Kulit mudah memar 5. Ringan 40% . Sedang 15% . Patofisiologi Perjalanan umum GGK melalui 3 stadium: 1.

85 mOsml (= konsentrasi plasma) ↓ poliuri. beban solute dan reabsorbsi p nefron. nokturia nefron tidak dapat lagi mengkompensasi dgn tepat terhadap kelebihan dan kekurangan Na atau ai Toksik Uremik . namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal” Jumlah nefron turun secara progresif ↓ Ginjal melakukan adaptasi (kompensasi) -sisa nefron mengalami hipertropi -peningkatan kecepatan filtrasi. Hipotesis Bricker (hipotesis nefron yang utuh) “Bila nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur.010 atau 2. meskipun GFR untuk seluruh massa nefron menurun di bawah normal ↓ Kehilangan cairan dan elektrolit dpt dipertahankan ↓ Jk 75% massa nefron hancur Kecepatan filtrasi dan bebab solute bagi tiap nefron meningkat ↓ Keseimbangan glomerulus dan tubulus tidak dapat dipertahankan ↓ Fleksibilitas proses ekskresi & konversi solute &air ↓ Sedikit perubahan pada diit mengakibatkan keseimbangan terganggu ↓ Hilangnya kemampuan memekatkan/mengencerkan kemih BJ 1.

Gagal ginjal tahap akhir ↓ ↓GFR Kreatinin ↑ Prod. Met. Tertimbun ↑ phosphate serum Dalam darah ↓ kalsium serum Sekresi parathormon Tubuh tdk berespon dgn N Kalsium di tulang ↓ Met.pa tulang/osteodistrofi ginjal .aktif vit D↓ Perub. Prot.

mual. kedutan otot. konstipasi dan diare. alergi bahan-bahan dalam proses dialisis. f. sacrum). tidak mampu berkonsentrasi. karena adanya penimbunan kristal urea di kulit. nafas berbau amonia. kuku tipis dan rapuh. d. b. rambut tipis dan kasar. edema periorbital.2 Pathway Keperawatan F. disorientasi. ekimosis. gagal jantung kongestif dan edema pulmonal (akibat cairan berlebih). ulserasi dan perdarahan pada mulut. Manifestasi Klinis Menurut Price dan Wilson (2006). lengan. Smeltzer dan Bare (2002) menyebutkan bahwa menifestasi klinis gagal ginjal mencakup beberapa system. . c. udem paru dan efusi pleura. mengkilat. warna kulit abuabu. Sumber: Doengoes (2000). Pernafasan Hiperventilasi asidosis. dan perikarditis (akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksin uremik). Mata Mata merah dan fundus hipertensif. konfusi. Gastrointestinal Anoreksia. Terutama pada klien dengan dialisis rutin karena toksik uremia yang kurang terdialisis. pembesaran vena leher. Selain itu juga kulit bersisik. muntah. pitting udema (kaki. perdarahan pada saluran GI. kejang. kelemahan pada tungkai. e. antara lain : a. cegukan. dan perubahan perilaku. Neuromuskuler Perubahan tingkat kesadaran. rasa panas pada telapak kaki. Integument Rasa gatal yang parah (pruritus). peningkatan kadar kalium phosphor. Kardiovaskuler : Hipertensi (akibat cairan dan natrium dari aktivasi system renin angiotensin-aldosteron). Price & Wilson (2006) Skema 2.

bilirubin serum meningkat/ normal. h. Pemeriksaan penurunan fungsi ginjal -ureum kreatinin -asam urat serum b. osteoitisfibrosa dan foot drop. Pemeriksaan Penunjang 1. impotensi. Urinarius Nokturia. poliuria dan proteinuria. Laboratorium a. hormon eritropoetin . 2) Defisiensi hormone eritropoetin Ginjal cumber ESF (Eritropoetic Stimulating Factor)  def. osteomalasia. j. Identifikasi perjalanan penyakit . Kelainan hemopoesis : timbul anemia yang terjadi karena : 1) Retensi toksik uremia  hemolisis sel eritrosit. gangguan pembekuan. G. i. Reproduksi Penurunan libido. ulserasi mukosa saluran cerna. uji comb's negative dan jumlah retikulosit normal. kekuatan otot hilang. masa hidup eritrosit memendek.g. Identifikasi etiologi gagal ginjal -analisis urin rutin -mikrobiologi urin -kimia darah -elektrolit -imunodiagnosis c. infertilitas dan atrofi testikuler. Komplikasi -Hipertensi -hiperkalemia -anemia -asidosis metabolic -osteodistropi ginjal -sepsis -neuropati perifer -hiperuremia H. amenore. Musculoskeletal Kram otot. Depresi sumsum tulang  sumsum tulang tidak mampu bereaksi terhadap proses hemolisis/ perdarahan  anemia normokrom normositer. fraktur tulang. osteosklerosis.

85 X CCT -hemopoesis : Hb. transfuse. Manajemen Terapi GGK Terapi konservatif Penyakit ginjal terminal Dialisis HD di RS.85 pria = 0. -progresifitas penurunan fungsi ginjal -ureum kreatinin. CAPD Transplantasi ginjal  Penatalaksanaan konservatif Pengaturan diet protein. cairan  Terapi simptomatik Suplemen alkali. Rumah. anti hipertensi .T4 -pemeriksaan lain: infark miokard 2. factor pembekuan -elektrolit -endokrin : PTH dan T3. natrium. Etiologi GGK dan terminal -Foto polos abdomen -USG -Nefrotogram -Pielografi retrograde -Pielografi antegrade -mictuating Cysto Urography (MCU) b. trobosit. Diagnostik a. Diagnosis pemburuk fungsi ginjal -retogram -USG I. obat-obat local&sistemik. fibrinogen. kalium. klearens kreatinin test CCT = (140 – umur ) X BB (kg) 72 X kreatinin serum wanita = 0.

Apakah pasien mengalami gejala anoreksia. 2. Apakah pasien sering terpajan pada toksik misal obat atau racun yang ada di lingkungan ? 4. transplantasi. rasa lelah. kelemahan otot. Adakah riwayat diabetes dalam keluarga ? 3. CAPD. Klasifikasi GGK atau CKD (Cronic Kidney Disease) : Stage Gbran kerusakan ginjal GFR (ml/min/1. Apakah pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi lama atau berat ? 2. malaise. muntah. dan penurunan rentang gerak. J. Pemeriksaan fisik 1. Apakah pasien pernah atau sedang mengkonsumsi obat antibiotik nefrotosik ? 5. kehilangan tonus. Sejak kapan keluhan-keluhan tersebut dirasakan ? b. penurunan frekuensi urin dan oliguria ? 7. Wawancara 1. mual. gangguan tidur. Apakah pasien merasakan nyeri panggul dan sakit kepala ? 6. PENGKAJIAN Menurut Doengoes (2000) hal-hal yang perlu dikaji meliputi : a. Aktivitas atau istirahat Menunjukkan adanya kelelahan. Terapi pengganti HD. sesak nafas. Sirkulasi .73 m2) 1 Normal atau elevated GFR ≥ 90 2 Mild decrease in GFR 60-89 3 Moderate decrease in GFR 30-59 4 Severe decrease in GFR 15-29 5 Requires dialysis ≤ 15 KONSEP DASAR KEPERAWATAN A.

mual. Resiko tinggi terhadap perubahan mukosa oral berhubungan dengan penurunan saliva. penglihatan kabur. keletihan. kedutan. Eliminasi Penurunan frekuensi urin. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. mual dan muntah. nyeri ulu hati. nafas pendek. pucat. 2. pernafasan kusmaul. hipertensi. Pernafasan Takipneu. retensi. diare atau konstipasi. distensi abdomen. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnnya informasi. Palpitasi. nyeri dada. kerja miokardial dan tekanan vaskuler sistemi. demam. pembatasan cairan. takut. 6. ansietas. Nutrisi Anoreksia. marah. kesemutan pada ekstremitas bawah. 6. batuk produktif dengan sputum merah encer (udema paru) 8. 4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi. edema. kejang. Integritas ego Menunjukkan perilaku menolak. mudah terangsang. Keamanan atau kulit Pruritis. ulserasi gusi. 5. perubahan turgor. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidak seimbangan cairan dan elektrolit. oliguria. 5. disritmia jantung. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan anemia.nadi lemah dan halus. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya edema dan tirah baring lama. dispneu. Neurosensori Sakit kepala. diet berlebih dan retensi cairan dan natrium. 7. anuria. kembung. B. petekie. dkk (2000) dan Smeltzer dan Bare (2002) diagnosa yang muncul pada penderita gagal ginjal kronik antara lain: 1. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Doengoes. edema jaringan. . 4. 3. produk sampah prosedur dialisa. 3. Kelebihan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan urine. muntah. pembatasan diet dan perubahan membran mulut. 7.

Tujuan: mempertahankan berat badan ideal tanpa kelebihan cairan. diet berlebih dan retensi cairan natrium. Rasional : Oral hygiene mengurangi kekeringan membrane mukosa mulut. g. Kriteria evaluasi: . Rasional: Dengan mengetahui input cairan. Rasional: Dengan pembatasan cairan sesuai dengan kebutuhan akan terdapat keseimbangan antara pemasukan dan keluaran. medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan oral dan intravena. turgor kulit normal dan tidak ada edema. sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi. Menunjukan tanda-tanda vital normal Intervensi: a. Rasional: Pengkajian merupakan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi. dkk (2000). Diagnosa II . e. 2. BB stabil/ ideal . Jelaskan pada pasien dan keluarga. Rasional: Kenyamanan pasien meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan diet. Tingkatkan dan dorong oral hygiene yang sesuai dengan kebutuhan. Identifikasi sumber input cairan. Menunjukan turgor kulit normal tanpa edema . d. b. Bantu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan. TTV. Smeltzer dan Bare (2001) pada pasien gagal ginjal kronik sesuai dengan prioritas diagnosa keperawatan adalah: 1. keseimbahgan masukan dan keluaran. Diagnosa I Kelebihan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan ginjal untuk mengeluarkan urine. Batasi masukan cairan sesuai dengan kebutuhan. Kaji status cairan: timbang BB setiap hari. rasional pembatasan masukan cairan. INTERVENSI Fokus intervensi menurut Dongoes. C. c. f. Rasional: Pemahaman meningkatkan kerjasama klien dan kelurga dalam pembatasan cairan. Kolaborasi medis untuk pemberian obat antideuretik (Lasik) sesuai kebutuhan tubuh. Rasional: Dengan pemberian antidiuretik akan membantu ginjal mengeluarkan cairan yang berlebih. makanan.

b. Kaji status nutrisi : perubahan BB. diet yang tidak menyenangkan bagi klien. c. BUN. hitung kalori. produk susu dan daging. f. e. d. pengukuran antropometri. Rasional: Protein yang lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk penyembuhan dan pertumbuhan. Rasional: Dengan mengetahui status nutrisi akan dapat memberikan diit yang tepat kepada pasien. pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa mulut. muntah. Melaporkan peningkatan nafsu makan . Kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi: anoreksia. depresi.3 gr / dl) Intervensi: a. Lakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diit yang tepat (diit rendah garam). Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Rasional: Dengan penimbangan BB setiap hari dapat diketahui peningkatan retensi cairan / edema. Rasional : Pemberian diit yang tepat akan membantu kerja ginjal dan tidak menambah beban kerja ginjal. Badan tidak lemah . kadar albumin plasma dalam batas normal (3. Rasional: Pola diet dahulu dan sekarang dapat dipertimbangkan dalam penyusunan menu. Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi / tercukupi dengan adekuat. Diagnosa III . kurang pemahaman pembatasan diet. Menunjukan turgor kulit yang normal tanpa edema. BB ideal . 3. dan kadar besi). Tingkatkan pemasukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi misalnya telur. Rasional: Dengan mengetahui faktor penghambat dapat dilakukan tindakan penanganan seperti pemberian antasid.5-5. Timbang BB secara harian. makanan kesukaan. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan. g. Rasional: Faktor yang tidak menyenangkan yang berperan dalam menimbulkan anoreksia dihilangkan. mual. kreatinin. stomatitis. nilai laboratorium (elektrolit serum. h. Rasional: Mendorong peningkatan masukan. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas diet. Kaji pola diit pasien: riwayat diet. Kriteria evaluasi: .

Pasien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. b. Kaji aktivitas yang menimbulkan keletihan. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat. produk sampah prosedur dialisa. 4. . Kriteria evaluasi : . kerja miokardial dan tekanan vaskuler sistemik. Rasional : Meningkatkan aktivitas ringan / sedang dan memperbaiki harga diri c. Rasional: Imobilisasi dapat meningkatkan reabsorbsi kalsium dan tulang. keletihan. retensi. Anjurkan untuk istirahat setelah dialisa. Identifikasi faktor yang dapat mendukung pasien untuk toleransi terhadap aktifitas. Rasional : Mendorong aktivitas dan latihan dalam batas-batas yang dapat ditoleransi dan istirahat yang adekuat. Curah jantung dalam batas normal dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal. depresi. . retensi produk sampah. Berpartisipasi dalam beraktivitas perawatan mandiri own emi: Intervensi: a. Tujuan: Curah jantung dalam batas normal. . e. Rasional : Menyediakan informasi tentang kegiatan pasien yang menyebabkan keletihan. bantu jika keletihan. . ketidak seimbangan cairan dan elektrolit. Kriteria evaluasi: . Rasional : Istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialisa karena tindakan ini sangat melelahkan bagi pasien. Melakukan aktivitas dan istirahat secara bergantian . Kaji jadwal pasien sehari untuk menghindari imobilisasi dan kelelahan . Tidak cepat lelah. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi. . d. Nadi kapiler kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan anemia. Diagnosa IV Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidak seimbangan cairan dan elektrolit. anemia. Tujuan: Pasien dapat mandiri.

Kolaborasi medis untuk pemberian anti hipertensi. kerusakan membrane vasikuler suhu dan turgor. d. berbaring dan berdiri. Diagnosa V Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya edema. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit. renin angiostensin. Rasional: Dengan kulit kering menurunkan iritasi dermal dan resiko kerusakan kulit. c. frekuensi jantung tidak teratur. Intervensi: a. Mempertahankan integritas kulit yang baik . Tujuan: kerusakan integriatas kulit tidak terjadi. Rasional: Takikardi. Selidiki keluhan nyeri dada. Kaji kulit dari kemerahan. d. 5. beratnya (skala 0-10) Rasional: Hipertensi dan gagal jantung kongestif kronis dapat kurang lebih pada pasien gagal ginjal kronik dengan dialisis mengalami perikarditis. b. Rasional:Menurunkan / menghindari resiko cidera dermal akibat garukan kuku. . Rasional : Adanya dehidrasi/ hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan. Anjurkan pasien untuk mempertahankan kuku tetap pendek. Kaji adanya / derajat hipertensi: awasi tekanan darah. perhatikan lokasi. b. Menunjukan perilaku untuk mencegah kerusakan kulit. Rasional: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada system aldosteron. c. Rasional: Kelelahan dapat menyertai gagal ginjal kongestif juga anemia. mengi dan edema menunjukan gagal ginjal. potensial resiko efusi takikardial / tamponade. rasional: Mengidentifikasi secara dini terjadinya edema dan kerusakan jaringan. kerusakan yang menimbulkan dekubitus / infeksi. Kriteria evaluasi : . takipnea. Rasional : Menandakan area sirkulasi buruk. Jaga kulit tetap bersih dan kering. Rasional : Dengan menurunkan tekanan darah dapat mengurangi kerja jantung dan mencegah resiko terjadinya infrak miokard. . e. Inspeksi area terhadap edema. Kaji auskultasi bunyi jantung dan paru. dispnea. Intervensi : a. perhatikan postural. contoh: duduk. e. Kaji tingkat aktivitas respons terhadap aktivitas.

Berpartisipasi dalam program pengobatan. Rasional : Perawatan mulut menyejukan. . Kolaborasi medis untuk pemberian anti histamine. Menyatakan pemahaman kondisi/ proses penyakit dan pengobatan. Mengidentifikasi / melakukan intervensi khusus oral hygiene untuk meningkatkan kesehatan mukosa oral. Kriteria evaluasi : . Berikan perawatan mulut. Rasional : Bahan ini dapat mengiritasi mukosa dan mempengaruhi efek mengerikan dan ketidaknyamanan. Inspeksi rongga mulut. Tujuan: menyatakan pemahaman kondisi/ proses penyakit dan pengobatan. . Diagnosa VI Resiko tinggi terhadap perubahan mukosa oral berhubungan dengan penurunan saliva. ulserasi dan leukapia. Rasional : Dapat diberikan untuk menghilangkan gatal. Menunjukan/ melakukan perubahan pola hidup yang perlu. perhatikan kelembaban. karekterisitik saliva adanya inflamasi. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. Anjurkan pasien untuk menghentikan merokok dan menghindari produk pencuci mulut. Intervensi : . melumasi dan membantu menyegarkan rasa mulut yang sering terjadi karena uremia dan keterbatasan masukan oral. Anjurkan hygiene gigi yang baik setelah makan dan sebelum tidur. d. pembatasan cairan. lemon / gliserin yang mengandung alkohol. Rasional: Memberi kesempatan untuk intervensi segera dan mencegah infeksi. Mempertahankan membrane mukosa tetap bersih. Kriteria Evaluasi : . Intervensi: a. 6. c. . 7. Tujuan: Mukosa oral tetap lembab. e. Diagnosa VII Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi. Rasional : Menurunkan pertumbuhan bakteri dan potensial infeksi. b.

b. 3. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. 2. d. .5-5.3 gr/ dl). c. . Rasional: Dengan pendidikan kesehatan pasien secara leluasa dapat mengekspresikan ketidaktahuannya disamping dengan waktu yang sudah direncanakan. Kaji tingkat pengetahuan pasien. Rasional: Memberikan data dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi. D. Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penangan yang mengetahui hidupnya. 4. Nadi kapiler kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler. e. . BB ideal. . kadar albumin plasma dalam batas normal (3. Diagnosa III . . Diagnosa IV . Menunjukan turgor kulit yang normal tanpa edema. BB stabil/ ideal. . Lakukan pendidikan/ penyuluhan kesehatan. . Diskusikan masalah nutrisi Rasional: Metabolik yang terakumulasi dalam darah menurunkan hampir secara keseluruhan dari metabolisme protein bila fungsi ginjal menurun protein mungkin dibatasi proporsinya. EVALUASI 1. Menunjukan turgor kulit normal tanpa edema. Menunjukan tanda-tanda vital normal. Melaporkan peningkatan nafsu makan. . Curah jantung dalam batas normal dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal. Berpartisipasi dalam beraktivitas perawatan mandiri. Rasional : Pasien belajar menerima diagnosis dan konsekuensinya. Rasional : Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat penyakit. Melakukan aktivitas dan istirahat secara bergantian . Diagnosa I . Badan tidak lemah. Diagnosa II . . a. Jelaskan fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal kronik sesuai sesuai dengan tingkat pemahaman dan kesiapan klien.

Mempertahankan membrane mukosa tetap bersih. Tidak cepat lelah. . . Menunjukan/ melakukan perubahan pola hidup yang perlu. Diagnosa VII . Mengidentifikasi/ melakukan intervensi khusus oral hygiene untuk meningkatkan kesehatan mukosa oral. Mempertahankan integritas kulit yang baik. Berpartisipasi dalam program pengobatan DAFTAR PUSTAKA . 6. Menyatakan pemahaman kondisi/ proses penyakit dan pengobatan. . . . 7. Menunjukan perilaku untuk mencegah kerusakan kulit. 5. Diagnosa VI . Diagnosa V .

Frederic. edisi 8 volume 2.com. first Edition. fifth Edition . Philadelphia USA Price. 2004. 2002. Jakarta ongard. Sylvia A and Willson. EGC. Paramount Publishing Bussiness and Group. Jakarta www. Care Diagnosis and Treatment. 1996. Current Critical. Elsevierhealth. 1996. S. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Us. Los Angeles McCloskey. Edisi empat. Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006. USA alph & Rosenberg. Mosby. 2003. Lorraine M. Sue. Nursing Diagnosis: for guide to Palnning care. darryl. 1994.runner & Suddarth. Nursing Interventions Classification (NIC). Y. EGC. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses penyakit.