You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan daerah tropis yang sesuai untuk perkembangan berbagai macam
jenis parasit misalnya cacing. Hingga saat ini kasus kecacingan pada manusia di Indonesia
masih cukup tinggi. Salah satu kelompok cacing usus yag prevalensinya masih cukup tinggi
adalah Soil Transmitted Helminth. Termasuk dalam kelompok ini adalah Ascaris
lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis, Ancylostoma duodenale dan
Necator americanus.1
Soil Transmitted Helmith pada hewan yang dapat menimbulkan penyakit pada
manusia adalah Ancylostoma braziliensis, Ancylostoma caninum yang dapat menyebabkan
cutaneous larva migrans serta Toxocara canis dan Toxocara cati yang dapat menyebabkan
visceral larva migrans.2
Cutaneus Larva Migrans (CML) merupakan penyakit infeksi kulit yang banyak
ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini pertama kali diperkenalkan oleh Lee
pada tahun 1874. Cutaneus larva migrans adalah kelainan kulit yang khas berupa garis lurus
atau berkelok-kelok, dapat dijumpai pada kaki, bokong atau perut disebabkan oleh invasi
larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing. Cutaneous larva migrans disebut
juga creeping eruption, creeping verminous dermatitis, dermatosis linearis migrans,
sandworm disease atau strongyloidiasis.
Penyakit ini lebih sering dijumpai pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa.
Penyebab utama CLM adalah larva yang berasal dari cacing tambang binatang anjing dan
kucing, yaitu Ancylostoma brazillense dan Ancylostoma caninum. Faktor resiko utama
penyakit ini adalah kontak dengan tanah lembab dan berpasir yang terkontaminasi dengan
kotoran anjing atau kucing.1,2
Reaksi yang timbul pada kulit berupa papul yang diikuti dengan bentuk khas yakni
lesi linier atau berkelok-kelok (snakelike appearance) yang sangat gatal , menonjol dengan
lebar 2 mm sampai 4 mm, panjang 2 mm sampai 2 cm dari porte d’entree dan berwarna
kemerahan. Adanya lesi papul yang eritematosa menunjukkan larva berada dikulit selama
beberapa jam atau hari.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yaitu berupa
kelainan kulit seperti benang lurus atau berkelok-kelok yang menonjol dan terdapat papul
atau vesikel diatasnya. Penatalaksanaan dimaksudkan untuk mempercepat penyembuhan dan

1

3 2 . karena itu penting sekali memakai alas kaki dan menghindari kontak langsung bagian tubuh dengan tanah. Pencegahan dilakukan dengan pemberantasan cacing pada anjing dan kucing.mengurangi rasa gatal pada penderita. Morbiditas dihubungkan dengan pruritus hebat dan kemungkinan adanya infeksi bakterial sekunder. Kebanyakan kasus CLM dapat sembuh sendiri atau tanpa pengobatan dan tanpa diikuti efek samping jangka panjang. Larva cacing umumnya menginfeksi tubuh melalui kulit kaki yang tidak terlindungi. Terapi pilihan saat ini adalah dengan obat antihelmintes baik topikal maupun sistemik.

misalnya seperti pada dracunculiasis.2.4%. Ancylostoma braziliense endemik pada anjing dan kucing. yaitu Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. menunjukkan prevalensi CLM pada anak-anak selama musim hujan berkisar 9. Brazil. skabies. Teluk Meksiko. distribusi CLM mencerminkan distribusi geografi Ancylostoma braziliense. sering ditemukan di sepanjang Pantai Atlantik Amerika Utara bagian tenggara. CLM terjadi secara sporadis atau dalam bentuk epidemi yang kecil. Epidemiologi 3. sedikit menimbul. 3 . Sebagian besar kasus yang dilaporkan adalah wisatawan yang sering berkunjung ke daerah pantai. Perbedaannya adalah. ataupun onchocerciasis. dan Hindia Barat. Penyakit ini sering muncul pada daerah dimana anjing dan kucing tidak diberikan antihelmintes secara teratur.3 2. dan kemerahan yang bermigrasi dalam pola yang tidak teratur. Secara geografis. schistosomiasis.2. Laut Karibia. Kasus sporadis biasanya berhubungan dengan kondisi iklim yang tidak umum seperti musim semi atau hujan yang memanjang. terutama di daerah yang lembab dan terdapat pesisir pasir. Selandia Baru. India. seperti Brazil. penyakit ini sebagian besar terjadi di negara bagian tenggara. loiasis. dan Amerika Serikat. Cutaneous Larva Migrans Cutaneous larva migrans (CLM) merupakan kelainan kulit dengan peradangan yang berbentuk linear atau berkelok-kelok. terutama Florida. Di Amerika Serikat. Penyakit yang menimbulkan gejala berupa creeping eruption tapi tidak disebabkan oleh parasit non-larva tidak disebut sebagai CLM. Inggris. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Creeping eruption secara klinis diartikan sebagai lesi yang linear atau serpiginius. Selama beberapa dekade. tetapi dapat juga ditemukan secara sporadik di negara bagian lain. istilah CLM dan creeping eruption sering disamaartikan. CLM menggambarkan sindrom. Di daerah perkumuhan di Timur Laut Brazil. Sebuah studi di Manaus. menimbul dan progresif. Prancis. CLM endemik di masyarakat kurang mampu di negara berkembang. Di negara-negara berpenghasilan tinggi. Kasus CLM telah di laporkan di Jerman. disebabkan oleh invasi cacing tambang yang berasal dari kucing dan anjing. didapati lebih dari 4% dari keseluruhan populasi dan 15% pada anak-anak menderita CLM.4 CLM terjadi di seluruh daerah tropis dan subtropis di dunia.1. sedangkan creeping eruption menggambarkan gejala klinis.

Sebuah penelitian pada wisatawan international yang baru meninggalkan Brazil bagian Timur Laut di bandara menunjukkan bahwa semua wisatawan yang menderita CLM telah mengunjungi pantai selama liburannya. Sierra Leone). Larva filariform dari cacing tersebut apabila kontak dengan kulit manusia. b) Cuaca atau iklim lingkungan Ada variasi musiman yang berbeda pada kejadian CLM.Uruguay. Faktor perilaku Adapun faktor perilaku yang mempengaruhi kejadian CLM antara lain : a) Kebiasaan tidak menggunakan alas kaki Adanya bagian tubuh yang berkontak langsung dengan tanah yang terkontaminasi akan mengakibatkan larva dapat melakukan penetrasi ke kulit sehingga menyebabkan CLM. Afrika (Afrika Selatan. Telur tersebut dapat berkembang menjadi stadium larva yang infektif (filariform) pada tanah dan pasir yang terkontaminasi. Selain itu.3. b) Pengobatan teratur terhadap anjing dan kucing Penyebab utama CLM adalah larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing. dengan puncak kejadian selama musim hujan. dan Asia. Penyakit ini tidak muncul setelah terpapar pantai yang tidak terdapat Ancylostoma braziliense. dapat menembus kulit dan menyebabkan CLM. c) Berlibur ke daerah tropis atau pesisir pantai Kondisi biogeografis yang hangat dan lembab menyebabkan banyak terdapat larva penyebab penyakit ini di daerah tropis. kebiasaan wisatawan untuk berjalan di pesisir pantai tanpa menggunakan sandal dan berjemur di pasir tanpa menggunakan alas menyebabkan banyaknya laporan kejadian CLM dari wisatawan yang baru berlibur ke pantai. Tinja anjing dan kucing yang terinfeksi dapat mengandung telur cacing Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. 2. Perawatan rutin anjing dan kucing. Faktor lingkungan Adapun faktor lingkungan yang mempengaruhi kejadian CLM antara lain : a) Keberadaan anjing dan kucing Anjing dan kucing merupakan hospes definitif dari cacing Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum.4 1. Australia. Republik Kongo. Somalia. Faktor Risiko 2. Telur dan larva bertahan lebih lama di tanah yang basah 4 . termasuk de-worming secara teratur dapat mengurangi pencemaran lingkungan oleh telur dan larva cacing tambang. misalnya Pantai Pasifik Amerika Serikat dan Meksiko. 2.

2. Orang yang pekerjaannya sering kontak dengan tanah atau pasir tersebut dapat meningkatkan risiko terinfeksi larva CLM. pemburu. Hal ini disebabkan karena anak pada usia tersebut masih jarang menggunakan alas kaki saat keluar rumah.5%) penduduk dengan tingkat pendidikan rendah menderita CLM. Penyebab lain yang juga memungkinkan yaitu larva dari serangga seperti Hypoderma dan Gasterophilus. dibandingkan di tanah yang kering dan dapat tersebar secara luas oleh hujan yang deras. didapati 34 dari 760 (4. nelayan. 3. Pada keadaan lingkungan yang lembab dan hangat.0001). Di Asia 5 . c) Tingkat pendidikan Suatu penelitian tentang prevalensi dan faktor risiko CLM di Brazil menunjukkan.5%) orang menderita CLM. b) Pekerjaan Larva infektif penyebab CLM terdapat pada tanah atau pasir yang lembab. Faktor demografis Adapun faktor demografis yang mempengaruhi kejadian CLM antara lain : a) Usia CLM paling sering terkena pada anak berusia ≤ 4 tahun. Larva filariform inilah yang akan melakukan penetrasi ke kulit dan menyebabkan CLM. Selain itu. c) Tinggal di daerah dengan keadaan pasir atau tanah yang lembab Telur Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum dikeluarkan bersama tinja anjing dan kucing. sedangkan pada penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi. dari 1114 penduduk pedesaan. Etiologi 5 Penyebab utama CLM adalah larva cacing tambang dari kucing dan anjing (Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum) dan Strongyloides. didapati 23 dari 354 (6. iklim yang lembab juga mengakibatkan peningkatan infeksi cacing tambang di anjing dan kucing sehingga pada akhirnya meningkatkan jumlah tinja yang terkontaminasi dan risiko infeksi pada manusia. tukang kebun. penambang pasir dan pekerjaan lain yang sering kontak dengan tanah atau pasir. Pekerjaan yang memiliki risiko teinfeksi larva penyebab CLM diantaranya petani.4. Pada penelitian tersebut juga didapatkan bahwa usia merupakan faktor demografis yang hubungannya paling signifikan dengan kejadian CLM (p<0. telur akan menetas menjadi larva rabditiform dan kemudian menjadi larva filariform yang infektif.

Pada beberapa kasus ditemukan Echinococcus.1 Ancylostoma canninum 6 .5 Ancylostoma caninum mempunyai tiga pasang gigi. Gambar 2.000 telur setiap harinya. Di epidermis. sedangkan gigi sebelah medial sangat kecil.Timur. 2. larva Ancylostoma caninum dapat melakukan penetrasi yang lebih dalam dan menimbulkan gejala klinis yang lain seperti enteritis eosinofilik. Lucilia caesar. larva Ancylostoma brazilense akan bermigrasi dan menyebabkan CLM selama beberapa minggu sebelum larva tersebut mati. Gigi sebelah lateral lebih besar. Selain itu. Cacing betina berukuran 6-9 mm dan cacing jantan berukuran 5-8 mm. Dermatobia maxiales. pada Ancylostoma braziliense juga terdapat sepasang gigi segitiga di dasar bukal kapsul. CLM umumnya disebabkan oleh Gnasthostoma sp.000 butir setiap hari.5. Di sisi lain. Morfologi 4. Panjang cacing jantan dewasa Ancylostoma caninum berukuran 11-13 mm dengan bursa kopulatriks dan cacing betina dewasa berukuran 14-21 mm. tetapi kapsul bukalnya memanjang dan berisi dua pasang gigi sentral. pada babi dan kucing. Cacing betina dapat mengeluarkan telur 4. Morfologi Ancylostoma braziliense mirip dengan Ancylostoma caninum. Cacing betina meletakkan rata-rata 16.

Larva mencapai usus kecil. Pada kontak dengan pejamu hewan (anjing dan kucing). Larva infektif ini dapat bertahan selama 3 sampai 4 minggu dikondisi lingkungan yang sesuai.5 Telur keluar bersama tinja pada kondisi yang menguntungkan (lembab.2 Ancylostoma brazilienze Gambar 2. larva menetas dalam 1-2 hari. Cacing dewasa hidup 7 . Larva rabditiform tumbuh di tinja dan/atau tanah. hangat. larva menembus kulit dan dibawa melalui pembuluh darah menuju jantung dan paru-paru. naik ke bronkiolus menuju ke faring dan tertelan. Gambar 2. Siklus Hidup 4.3 Larva filariform cacing tambang 2. Setelah itu. Larva kemudian menembus alveoli.6. kemudian tinggal dan tumbuh menjadi dewasa. dan tempat yang teduh). dan menjadi larva filariform (larva stadium tiga) yang infektif setelah 5 sampai 10 hari.

Patogenesis 4 Telur pada tinja menetas di permukaan tanah dalam waktu 1 hari dan berkembang menjadi larva infektif tahap ketiga setelah sekitar 1 minggu. Larva dapat bertahan hidup selama beberapa bulan jika tidak terkena matahari langsung dan berada dalam lingkungan yang hangat dan lembab. Kemudian jika terjadi kenaikan suhu. Pada sebagian besar spesies. maka larva akan mencari pejamunya.4 Siklus hidup cacing tambang 2. Manusia juga dapat terinfeksi dengan cara larva filariform menembus kulit. 8 . larva merayap di sekitar kulit untuk tempat penetrasi yang sesuai.7. Beberapa larva ditemukan di jaringan dan menjadi sumber infeksi bagi anak anjing melalui transmammary atau transplasenta. Setelah menempel pada manusia. Beberapa larva dapat bertahan pada jaringan yang lebih dalam setelah bermigrasi di kulit. Larva infektif mengeluarkan protease dan hialuronidase agar dapat bermigrasi di kulit manusia. larva menembus ke lapisan korneum epidermis. Akhirnya.dalam lumen usus kecil dan menempel di dinding usus. Gambar 2. larva tidak dapat berkembang lebih lanjut di tubuh manusia dan bermigrasi tanpa tujuan di epidermis.

serpiginosa. 9 . lesi-lesi ini akan lebih sulit untuk diidentifikasi. hanya ditandai dengan rasa gatal dan nodul-nodul. CLM biasanya ditemukan pada bagian tubuh yang berkontak langsung dengan tanah atau pasir. Mula-mula akan timbul papul. tangan. Pada hewan. papul merah ini menjalar seperti benang berkelok-kelok. Beberapa jam kemudian. jika digaruk dapat menimbulkan infeksi sekunder. Lesi berbentuk linear atau berkelok-kelok mulai muncul 5 hari setelah infeksi. infiltrat pulmonar migratori. dan peningkatan kadar imunoglobulin E. dan berwarna kemerahan. bokong. menimbul. Rasa gatal yang timbul terutama terasa pada malam hari.8. Pada CLM. tergantung pada tingkat keparahan infeksi. larva tidak memiliki enzim kolagenase yang cukup untuk menembus membran basal dan menyerang dermis. yang kemudian akan menjadi vesikel yang sangat gatal setelah 24 jam. Gejala Klinis 3. Lesi tidak hanya berada di tempat penetrasi. namun kondisi ini jarang ditemui. Pada manusia. mencapai panjang beberapa sentimeter. larva mampu menembus dermis dan melengkapi siklus hidupnya dengan berkembang biak di organ dalam. Hal ini disebabkan larva dapat bergerak secara bebas sepanjang waktu. sehingga larva tersebut tidak dapat melanjutkan perkembangan siklus hidupnya. diikuti dengan munculnya papul-papul setelah 10 menit. plantar. dan membentuk terowongan (burrow). Pada kondisi sistemik. yakni lesi berbentuk linear atau berkelok-kelok. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari. Perkembangan selanjutnya. polisiklik. kemudian diikuti bentuk yang khas. lesi berpindah ataupun bertambah beberapa milimeter perhari dengan lebar sekitar 3 milimeter. 2. Akibatnya. larva bermigrasi melalui jaringan subkutan membentuk terowongan yang menjalar dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada stadium yang lebih lanjut. Umumnya. gejala yang muncul antara lain eosinofilia perifer (sindroma Loeffler). menimbul dengan diameter 2-3 mm. selamanya larva terjebak di jaringan kulit penderita hingga masa hidup dari cacing ini berakhir.Selanjutnya. anus.4 Pada saat larva masuk ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas di tempat larva melakukan penetrasi. bercak awal mulai digantikan oleh papul kemerahan. dan paha. Tempat predileksi antara lain di tungkai. Papul-papul kemudian bergabung membentuk erupsi eritematopapular. didapati gejala mulai muncul beberapa menit setelah tusukan. Pada infeksi percobaan dengan 50 larva. dapat dijumpai lesi tunggal atau lesi multipel.

hanya pada 8 (20%) dari 40 orang didapatkan eosinofilia.10. 2. terowongan yang terbentuk tidak sepanjang pada CLM. Namun. berjalan tanpa alas kaki di pantai atau aktivitas lainnya di daerah tropis. apabila dilihat dari bentuknya yang polisiklik. Pada stadium awal. Hal ini disebabkan karena ujung anterior lesi tidak selalu menunjukkan tempat dimana larva berada. penyakit ini sering disalahartikan sebagai dermatofitosis. lesi pada CLM berupa papul. Pada skabies. Gambar 2. Namun. peningkatan kadar eosinofil dapat mengindikasikan perpindahan larva cacing ke visceral. namun sensitivitas metode ini belum diketahui. namun tidak spesifik. tetapi ini termasuk komplikasi yang jarang terjadi. Dalam sebuah penelitian di Jerman pada wisatawan dengan CLM. Diagnosis 4. biopsi tidak diperlukan.9. Sekarang ini. Bila invasi larva yang multipel timbul serentak.5 Diagnosis CLM ditegakkan berdasarkan gejala klinisnya yang khas dan disertai dengan riwayat berjemur. CLM yang disebabkan oleh Ancylostoma caninum dapat dideteksi dengan ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay). lesi berupa papul-papul sering menyerupai herpes zoster stadium awal. Pada pemeriksaan lab. karena itu sering diduga dengan insects bite. CLM harus dibedakan dengan skabies. 10 . Prosedur invasif jarang digunakan untuk mengindentifikasi parasit pada CLM. eosinofilia mungkin ditemukan. mikroskop epiluminesens telah digunakan untuk memvisualisasikan pergerakan larva.5 Gambaran klinis CLM 2. Diagnosis Banding 4 Jika ditinjau dari terowongan yang ada.

5 Obat pilihan utama pada CLM adalah ivermectin. dengan angka kesembuhan mencapai 92-100%. Namun. dan ganglion kista serpiginius. dan keram usus. Jika diperlukan.11. Oral albendazol (400 mg setiap hari) yang diberikan selama 5-7 hari menunjukkan tingkat kesembuhan yang sangat baik. Ivermectin dan albendazol tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan menyusui. Ivermectin dan albendazol adalah 11 . dermatitis fotoalergi. penggunaan tiabendazol secara oral tidak direkomendasikan. Penggunaan tiabendazol secara topikal pada lesi dengan konsentrasi 10-15% tiga kali sehari selama 5-7 hari terbukti memiliki efektivitas yang sama dengan pengguaan ivermectin secara oral. Pengobatan 4. Selain itu. tinea korporis. dapat dilakukan pendekatan alternatif dengan dosis awal albendazol dan mengulangi pengobatan. dosis kedua biasanya dapat memberikan kesembuhan. Dosis tunggal ivermectin lebih efektif daripada dosis tunggal albendazol. pengobatan off-label pada anak-anak dan ibu hamil sudah pernah dilakukan dengan tanpa adanya laporan kejadian merugikan yang signifikan. Kondisi lain yang bukan berasal dari parasit yang menyerupai CLM adalah tumbuhnya rambut secara horizontal di kulit. tetapi memerlukan kepatuhan pasien yang baik. tiabendazol yang diberikan secara oral memiliki toleransi yang buruk. penggunaan tiabendazol secara oral sering menimbul efek samping berupa pusing. mual muntah. 2. Ivermectin kontradiksi pada anak-anak dengan berat kurang dari 15 kg atau berumur kurang dari 5 tahun dan pada ibu hamil atau wanita menyusui. myasis. Tiabendazol topikal terbatas pada lesi multipel yang luas dan tidak dapat digunakan pada folikulitis. Pada wanita hamil hanya diperbolehkan pemberian antihistain sistemik untuk menghentikan gatal. Karena penggunaan ivermectin dan albendazol secara oral menunjukkan hasil yang baik. albendazol dengan regimen tiga hari biasanya lebih direkomendasikan. Dalam hal kegagalan pengobatan. loiasis. Angka kesembuhan dengan dosis tunggal berkisar 77% sampai 100%. Namun. Tiabendazol (50 mg per kg berat badan selama 2-4 hari) telah digunakan secara luas sejak laporan mengenai efikasinya pada tahun 1963. Penggunaan secara topikal didapati tidak memiliki efek samping. Karena dosis tunggal albendazol memiliki efikasi yang rendah. tetapi pengobatan berulang dengan albendazol dapat dilakukan sebagai alternatif yang baik di negara-negara dimana ivermectin tidak tersedia. Diagnosis banding yang lain antara lain dermatitis kontak alergi. Dosis tunggal (200 μg/kg berat badan) dapat membunuh larva secara efektif dan menghilangkan rasa gatal dengan cepat. schistosomiasis.

12. keterbatasan finansial mengakibatkan sulitnya masyarakat untuk memberikan pengobatan yang teratur terhadap anjing dan kucing. terutama untuk anak-anak. pada masyarakat yang kurang mampu. ketiga cara tersebut sulit karena sulit untuk mengetahui secara pasti dimana larva berada. Lesi tanpa komplikasi yang tidak diobati akan sembuh dalam 4-8 minggu. Pada akhirnya. Wisatawan disarankan untuk menggunakan alas kaki saat berjalan di pantai dan menggunakan kursi saat berjemur. 12 . Akan tetapi. dapat juga dilakukan dengan menggunakan nitrogen liquid dan penyemprotan kloretil sepanjang lesi. Di samping itu. Akan tetapi. Pencegahan 6.gabungan yang menjanjikan untuk penggunaan topikal. Cara terapi lain ialah dengan cryotherapy yakni menggunakan CO2 snow (dry ice) dengan penekanan selama 45 detik sampai 1 menit. Saat menjemur pastikan handuk atau pakaian tidak menyentuh tanah . 2. larva akan mati di epidermis setelah beberapa minggu atau bulan. antropologis medis. dokter hewan. Sehingga pada akhirnya. dua hari berturut-turut. Menutup lubang-lubang pasir dengan plastik dan mencegah binatang untuk defekasi di lubang tersebut .7 Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian CLM antara lain: . namun data efikasi untuk penggunaan ini masih terbatas. Hewan dilarang untuk berada di wilayah pantai ataupun taman bermain . cara ini dapat menimbulkan nyeri dan ulkus. Infeksi sekunder harus ditangani dengan antiobiotik topikal. tetapi pengobatan farmakologi dapat memperpendek perjalanan penyakit. Melakukan pengobatan secara teratur terhadap anjing dan kucing dengan antihelmintik . Pengobatan dengan cara ini sudah lama ditinggalkan. pemberantasan cacing tambang pada binatang hanya bisa dilakukan dengan cara melakukan pengontrolan yang terintegrasi antara pihak kesehatan masyarakat. dan masyarakat. Hal ini disebabkan karena larva tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya pada manusia. Selain itu. 2. Prognosis 5 CLM termasuk ke dalam golongan penyakit self-limiting.13. Mencegah bagian tubuh untuk berkontak langsung dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi .

menimbul dan progresif disebabkan oleh infeksi cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing. Proses patogenesis dari Cutaneus Larva Migrans sendiri berasal dari kontak langsung kulit manusia dengan larva cacing 13 . BAB III KESIMPULAN Cutaneus Larva Migrans adalah kelainan kulit yang merupakan peradangan berbentuk linier atau berkelok-kelok .

Beberapa atau banyak lesi bisa saja terjadi. Larva-larva tersebut akan bergerak beberapa milimeter per hari. DAFTAR PUSTAKA 1. Creeping Eruption dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima. tergantung dari banyaknya larva yang mempenetrasi kedalam kulit.M. anus dan paha. Pengobatan penyakit ini terutama dapat kita berikan agen-agen anti helminthes dengan pilihan terapi utama adalah albendazole 400 mg selama 5-7 hari dan dapat juga diberikan nitrogen liquid selain itu cara beku dengan menyemprotkan chloretyl sepanjang lesi. Philadelpia. 2011.D. dengan lesi berbentuk seperti terowongan dengan lebar sekitar 2-3 mm berisi cairan serous. Hookworm Diseases in Andrew’s Diseases of the Skin Clinical Dermatology 11th ed. Jakarta:FKUI.G & Elston. sedikit timbul. lengan kaki bagian bawah. 14 . linier. USA: Saunders Elseviers. Pada pemeriksaan akan ditemukan makula berbentuk serpiginosa. Diagnosis dari Cutaneus Larva Migrans sendiri ditegakkan dari gejala klinis yang ditemukan pada pasien. 2011. Berger.. D.. Aisah S.hookworm. 2. Larva cacing tersebut paling banyak didapat pada daerah lembab dan hangat dan sering ditemukan pada daerah beriklim tropis. James W. T. Gejala klinis paling banyak didapatkan pada telapak kaki.

2010. New York: McGraw-Hill. 2006. 15 . Dalam: Sudoyo AW. 4. Pohan H. Wolff K. editor. Vega-Lopez F. 7. Edisi ke-4. Penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah. Setiati S. Hay R. 2009 Helminthic Infection in Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine.3. Simadibrata M. Aisah S. 8th ed. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 2013. Parasitic Worms and Protozoa in Rook’s Textbook of Dermatology 8th ed. Aisah S.E. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. Edisi ke-6. Setiyohadi B. Creeping Eruption. 2010. editor. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Wilson M. Johnson RA. UK: Willey-Blackwell. Dalam: Djuanda A. Saavedra AP. New York: Mc Graw Hill Education. Chichester. 5. 6. Caurnes E. Alwi I. Cutaneous Larva Migrans in Fitzpatrik’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology 7 eds.J. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Hamzah M.