Topik: Morbili

Tanggal (kasus): 11 Oktober 2016 Presentan: dr. Rio Surya Saputro
Tanggal presentasi: 14 Oktober 2016 Pendamping: dr. Yolanda Desire
Tempat Presentasi: Rumah Sakit TK IV Cijantung Kesdam Jaya
Obyek Presentasi:

Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjaun Pustaka

Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil

Deskripsi: Pasien An. SM, usia 6 tahun 8 bulan datang ke IGD RS Tk. IV Cijantung Kesdam Jaya
pada tanggal 10/10/2016 dengan keluhan demam tinggi sejak 5 hari SMRS, demam muncul
mendadak pada pagi hari dan dirasakan semakin lama semakin tinggi. Demam menurun setelah
pemberian obat penurun panas oleh ibu pasien, namun suhu tubuh kembali naik. Demam tidak disertai
dengan menggigil, kejang dan penurunan kesadaran. Orang tua pasien juga mengatakan adanya batuk
dan pilek. Batuk timbul sejak 3 hari SMRS. Batuk diserati dahak warna kekuningan yang mudah
dibatukkan tanpa disertai darah. Sesak sewaktu bernafas disangkal. Nafsu makan pasien menurun dan
pasien mengalami mual. 1 hari SMRS pasien juga mengeluhkan muncul bercak-bercak kemerahan
yang awalnya timbul di wajah, tubuh, lengan, dan kakinya yang tidak terasa gatal. Selain keluhan di
atas pasien juga mengeluhkan matanya terasa lengket saat bangun tidur sejak 1 hari SMRS dan ibu
pasien mengatakan kedua mata pasien terlihat merah.

Tujuan: Menegakkan diagnosis secara tepat melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan
penunjang, melakukan penatalaksanaan secara menyeluruh dan menstabilkan keadaan umum pasien.

Bahan-bahasan: Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit

1

Cara Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Membahas:

Data Pasien: Nama: An. SM Nomor Registrasi: 062929

Nama Rumah Sakit: Rumah Sakit TK IV Anamnesis: Terdaftar Sejak: 10/10/2016
Cijantung Kesdam Jaya Allo Anamnesis

Data utama untuk bahan diskusi:

• Diagnostik/ Gambaran Klinis:
• Demam sejak 5 hari SMRS
• Demam dirasakan timbul mendadak, terus menerus, dan semakin tinggi, demam turun bila
meminum obat penurun panas
• Batuk dan pilek sejak 3 hari SMRS
• Mata berair dan terlihat merah sejak 3 hari SMRS
• Mual sejak 3 hari SMRS dan nafsu makan pasien menurun
• Bercak kemerahan di belakang telinga, wajah, tubuh, lengan dan tungkai sejak 1 hari SMRS
• Kesadaran compos mentis, keadaan umum tampak sakit sedang. Nadi: 104x/menit, Napas:
23x/menit, Suhu: 38,3oC BB: 26 kg
• Pemeriksaan fisik:
Status Generalisata: Pada mata ditemukan lakrimasi (+) dan sekret (+), lain-lain dalam batas
normal.
Stataus Lokalisata: Bercak kemarahan di belakang telinga, wajah, tubuh, lengan, dan tungkai.

• Pemeriksaan Laboratorium: Hb: 13,4 gr%, Ht 38%, Leukosit: 6.000 /mm3), Trombosit:
243.000/mm3.

2

masa gestasi 38 minggu. PB 48cm. Riwayat persalinan partus spontan dengan berat lahir 3300. Riwayat Pengobatan: Pasien sempat diberikan obat penurun panas di rumah. 2.1. Bayi lahir sehat dan langsung menangis. Tidak ada yang mengalami keluhan serupa di lingkungan rumah dan sekolah pasien. 3. 4. 5. Riwayat Keluarga dan Lingkungan Tidak ada keluarga yang pernah mengalami penyakit serupa dengan pasien. Riwayat kejang saat demam disangkal. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Pertumbuhan gigi I : Usia 9 bulan (normal: 5-9 bulan)  Psikomotor  Tengkurap : Usia 4 bulan (normal: 3-4 bulan)  Duduk : Usia 6 bulan (normal: 6 bulan)  Berdiri : Usia 10 bulan (normal: 9-12 bulan)  Bicara : Usia 11 bulan (normal: 9-12 bulan)  Berjalan : usia 12 bulan (normal: 13 bulan) Kesan: riwayat pertumbuhan dan perkembangan pasien baik. Riwayat Kesehatan/Penyakit: Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat Persalinan Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. 6. Riwayat Imunisasi Vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur) BCG 1 bln DPT 2 bln 4 bln 6 bln 3 .

Demam tidak 4 .. Bab 47. Jilid Kedua. 17th Ed. Dorland. namun suhu tubuh kembali naik.. Buku Ajar Infeksi dan Penyakit Tropis. Soepardi H. Daftar Pustaka: 1.. Bab II. SM 6 tahun 8 bulan datang ke IGD RS Tk. Kapita Selekta Kedokteran. 2002.Edisi 29. Demam muncul mendadak pada pagi hari dan dirasakan semakin lama semakin tinggi. Media Aeskulapius. Subyektif: Pasien An. Hal 72-76 5. No 2.Jakarta. “Pengaruh Suplementasi Vitamin A terhadap Campak” dalam Sari Pediatri. Edisi Ketiga. Hal 624-28 7. Vol 2. Edisi Kelima. IV Cijantung Kesdam Jaya pada tanggal 10/10/2016 dengan keluhan demam tinggi sejak 5 hari SMRS. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Agustus 2000. Jakarta. Jakarta. Hay Jr. Arsyad E. 2000. POLIO Lahir 2 bln 4 bln 6 bln CAMPAK 9 bln HEPATITIS B Lahir 1 bln 6 bln Kesan: Sudah mendapatkan imunisasi dasar sesuai jadwal tetapi tidak mendapatkan imunisasi ulangan. William W. Demam menurun setelah pemberian antipiretik oleh ibu pasien. Lange Medical Books. P1163-65 3. Iskandar N..Kamus Kedokteran Dorland.Hal:2306 2. Bab 21. Buku Kuliah Ilmu Anak 2. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI. USA. Zakiudin. Mansjoer A. Currrent Pediatric Diagnotic and Treatment. Hal 417-18 4. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok – Kepala Leher.Penerbit Buku Kedokteran EGC.. Munasir.. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 6. Jakarta Hal 125-141 Hasil Pembelajaran: • Penegakkan diagnosis Morbili • Tatalaksana Morbili Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio: 1.

namun setelah beberapa saat suhu tubuh kembali naik. mata sering berair dan terlihat merah. kejang dan penurunan kesadaran. Sesak sewaktu bernafas disangkal. Pemeriksaan Laboratorium: Hb: 13. lengan. bercak kemerahan pada kulit. Selain keluhan di atas pasien juga mengeluhkan matanya terasa lengket saat bangun tidur sejak 1 hari SMRS dan ibu pasien mengatakan kedua mata pasien terlihat merah. Ht 38%. dan kakinya yang tidak terasa gatal.000 /mm3). Nadi: 104x/menit. SM usia 6 tahun 8 bulan mengalami demam tinggi sejak 5 hari SMRS. Demam muncul mendadak dan dirasakan semakin lama semakin tinggi. dan keluhan pada mata berupa mata merah dan keluarnya sekret dari mata. 3. Nafsu makan pasien menurun dan pasien mengalami mual. lengan. Leukosit: 6. Objektif: Kesadaran compos mentis. Stataus Lokalisata: Bercak kemarahan di belakang telinga. Trombosit: 243. Suhu: 38. diikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas. 2. Batuk timbul sejak 3 hari SMRS. Orang tua pasien mengatakan ada batuk yang menyertai demam. Napas: 23x/menit. Asessment (penalaran klinis): Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan An. lain-lain dalam batas normal. tubuh. Hal tersebut di atas dapat disebabkan karena infeksi morbili yang memiliki gejala khas seperti apa yang dikeluhkan pasien. Demam menurun setelah pemberian antipiretik oleh ibu pasien. yaitu diawali dari belakang 5 .3oC Pemeriksaan fisik: Status Generalisata: Pada mata ditemukan lakrimasi (+) dan sekret (+). 1 hari SMRS pasien juga mengeluhkan muncul bercak-bercak kemerahan yang awalnya timbul di wajah.4 gr%. keadaan umum tampak sakit sedang. wajah.000/mm3. Batuk diserati dahak warna kekuningan yang mudah dibatukkan tanpa disertai darah. dan tungkai. lengan dan tungkai. disertai dengan menggigil. tubuh. yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam beberapa hari. batuk. Keluhan yang dialami pasien disusul oleh munculnya bercak bercak kemerahan 1 hari SMRS pada hampir seluruh tubuh yang diawali dari wajah. Pada kasus diatas dapat disimpulkan bahwa pasien memiliki keluhan demam. Bersamaan dengan demam juga dikeluhkan adanya batuk pilek. tubuh.

Terbentuk fokus infeksi dan terjadi respon imun berupa peradangan epitel sehingga terjadi demam tinggi sesuai dengan keluhan pasien pada kasus ini yaitu demam sejak 5 hari SMRS yang terjadi terus menerus dan semakin lama dirasakan semakin meningkat.  Pengobatan: • Terapi Medikamentosa:  IVFD Ringer Laktat 20 tpm (macro)  Vitamin A 1 x 200. saluran napas dan konjungtiva sesuai dengan keluhan pasien pada kasus ini yaitu adanya batuk pilek dan mata merah disertai sekret lengket. Plan:  Diagnosis: Morbili dengan komplikasi Bronkopneumonia. 4. dan sel jaringan limforetikuler seperti limpa. serta memberikan informasi mengenai penyakit yang diderita pasien. dapat disimpulkan bahwa diagnosis yang paling mungkin pada pasien tersebut adalah Morbili. Berdasarkan pembahasan permasalahan-permasalahn yang didapatkan pada kasus di atas. kulit.O)  Isoprinosine syrup 2 x C 1 (P.000 U (P. dada.O)  Gentamicin eye drop 3 x gtt 1 (ED)  Salicyl Talk (Topikal)  Pendidikan: Edukasi kepada pasien dan keluarga untuk bekerja sama dengan dokter dalam proses penyembuhan dan pemulihan. dan usus. tubuh. Virus masuk ke dalam limfatik lokal. saluran napas. Bercak kemerahan di kulit sejak 1 hari SMRS pada pasien ini mengindikasikan bahwa daya tahan tubuh pasien sudah menurun dan terjadi delayed hypersensitivity terhadap antigen virus.O)  Ambroxol syrup 3 x C 1 (P. virus masuk ke pembuluh darah kemudian menyebar ke permukaan epitel orofaring. 5-6 hari setelah infeksi awal. kelenjar getah bening regional. Morbili merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus morbili golongan paramyxovirus yang penularannya terjadi secara droplet melalui udara. konjungtiva. telinga kemudian menyebar ke muka. Fokus infeksi di epitel orofaring. 6 .O)  Ottopan syrup 3 x C 2 (P. lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan mengelupas.

Definisi Campak measles atau rubeola adalah penyakit virus yang disebabkan oleh virus campak.  Konsultasi: Konsultasi dengan dokter Spesialis Anak. Penyakit ini memiliki gejala klinis khas yaitu terdiri dari 3 stadium yang masing-masing mempunyai ciri khusus: (1) stadium masa tunas berlangsung kira-kira 10-12 hari. Penyakit ini sangat infeksius dan umumnya menyerang anak-anak. TINJAUAN PUSTAKA A. (2) stadium prodromal dengan gejala pilek dan batuk yang meningkat dan ditemukan enantem pada mukosa pipi (bercak Koplik). faring dan peradangan mukosa konjungtiva. dan (3) stadium akhir dengan keluarnya ruam mulai dari 7 .

Campak merupakan penyakit endemis.77%). Etiologi Virus campak berada disekret nosofaring dan didalam darah. Pada selubung luar seringkali terdapat tonjolan pendek. Di Indonesia penyakit campak sudah dikenal sejak lama. minimal 4 minggu disimpan dalam temperature 35°C. C. Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperature kamar. selanjutnya ruam menjadi menghitam dan mengelupas. Epidemiologi Di Indonesia. dibungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein. Bahkan ada usaha dari masyarakat untuk mempercepat keluarnya ruam. lengan dan kaki. menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) campak menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0. Bentuk Virus Virus campak termasuk golongan paramyxovirus berbentuk bulat dengan tepi yang kasar dan bergaris tengah 140 nm. yang dapat menyebabkan kematian. B. minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam. perut atau usus. 15 minggu didalam pengawetan beku. Salah-satu protein yang berada di selubung luar berfungsi sebagai hemaglutinin. dan beberapa hari pada suhu 0°C. terutama di negara sedang berkembang. virus tidak aktif pada pH rendah. terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA) – yang merupakan struktur heliks nukleoprotein dari myxovirus. 8 . Hal ini diyakini akan menyebabkan anak sesak nafas atau diare.belakang telinga menyebar ke muka. Di dalamnya terdapat nukleokapsid yang berbentuk bulat lonjong. Ada kepercayaan bahwa penyakit campak akan berbahaya bila ruam tidak keluar pada kulit sebab ruam akan muncul di dalam rongga tubuh lain seperti dalam tenggorokan. Di masa lampau campak dianggap sebagai suatu hal yang harus dialami setiap anak. badan. Ada anggapan bahwa semakin banyak ruam yang keluar semakin baik. sehingga anak yang terkena campak tidak perlu diobati. paru.7%) dan tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak usia 1-4 tahun (0. Ruam timbul didahului dengan suhu badan yang meningkat. mereka beranggapan bahwa penyakit campak dapat sembuh sendiri bila ruam sudah keluar.

01% betapropiacetone . Penambahan tripsin akan mempercepat hilangnya potensi antigenik. Virus campak juga sensitif terhadap 0. virus ini hanya mampu bertahan selama 2 minggu. virus ini menjadi tidak efektif setelah 5 hari. berdasarkan penemuan laboratorik dan epidemiologik. Pada suhu kamar. Struktur antigenik Virus campak menunjukkan antigenitas yang homogen. dapat hidup selama 5 bulan. tetapi tetap tidak kehilangan antigenitasnya. Infeksi dengan virus campak merangsang pembentukan neutralizing antibody. dan dapat dengan mudah dihancurkan oleh sinar ultraviolet. Tetapi bila tanpa media protein. complement fixing antibody dan haemaglutinine inhibition antibody. Sedangkan dalam formalin 1/4.5 tahun. Pada temperatur kamar ia akan kehilangan 60% sifat infektivitasnya setelah 3-5 hari. keberadaannya tidak kekal. Pada suhu -700C dengan media protein ia dapat hidup selama 5. Sebaliknya virus ini mampu bertahan dalam keadaan dingin. virus ini akan mati dalam 20% ether setelah 10 menit dan dalam 50% aseton setelah 30 menit.pada suhu 370C dalam 2 jam. Oleh karena selubungnya terdiri dari lemak maka virus campak termasuk mikroorganisme yang bersifat ether labile.Ketahanan Virus Virus campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi. pada suhu 370C waktu paruh usianya 2 jam. ia akan kehilangan sifat infektivitasnya namun tetap memiliki antigenitas penuh. Apabila berada di luar tubuh manusia.000. sedangkan pada suhu 560C hanya satu jam. sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4-60C. 9 .

Penularan campak terjadi secara droplet melalui udara. turut aktif membelah. Virus masuk kedalam limfatik lokal. Keberadaan imunoglobulin kelas IgM menunjukkan pertanda baru terkena infeksi atau baru mendapatkan vaksinasi. dengan sedikit virus yang infeksius sudah menimbulkan infeksi pada seseorang. sejak 1-2 hari sebelum timbul gelajala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Disini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dimulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa. kemudian mencapai kelenjar getah bening regional. D.Imunoglobulin kelas IgM dan IgG distimulasi oleh infeksi campak. penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Sel mononuclear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak (sel warthin). bebas maupun berhubungan dengan sel mononuclear. muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari setelah infeksi dan mencapai titer tertinggi setelah 21 hari. Ditempat awal infeksi. Kemudian IgM menghilang dengan cepat sedangkan IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terus terukur. Patogenesis Penularannya sangat efektif. Daya efektivitas vaksin virus campak yang hidup dibandingkan dengan virus campak yang mati adalah adnya IgA sekretori yang hanya dapat ditimbulkan oleh vaksin virus campak hidup. Antibodi IgA sekretori dapat dideteksi dari sekret nasal dan terdapat di seluruh saluran nafas. 10 . sedangkan IgG menunjukkan bahwa pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. sedangkan limfoseit-T (termasuk T-helper) yang rentan terhadap infeksi.

kulit. konjungtiva. focus infeksi yang berada di epitel saluran nafas dan konjungtiva. akan menyebabkan timbulnya nekrosis pada satu sampai dua lapis sel. saluran nafas. kandung kemih dan usus. Sumber: journal. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis dari 11 . Pada hari ke 9-10. terbentuklah focus infeksi yaitu ketika virus masuk kedalam pembuluh daran dan menyebar ke permukaan eptel orofaring.org Gambaran kejaidan awal dijaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap. tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal.frontiersin.

Selanjutnya daya tahan tubuh menurun. Penelitian dengan imunofuoresens dan histologic menunjukan adanya antigen campak dan diduga terjadi suatu reaksi arthus. muncul ruam makulopapular pada hari ke 14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi pada kulit. Kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami setisit sel-T. E. Sebagai akibat respons delayed hypersensitivity terhadap antigen virus.sistem saluran nafas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. Dalam keadaan tertentu pneumonia juga dapat terjadi. Vesikel tampak secara mikroskopik diepidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh dikulit. anak tampak sakit berat dan tampak suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik. yang dapat menjadi tanda pasti untuk menegakkan diagnosis. Respons imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada sistem slauran pernafasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi. Manifestasi Klinis 12 . Daerah epitel yang nekrotik dinasofaring dan saluran pernafasan memberiksn kesempatan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia. selain itu campak dapat menyebabkan gizi kurang. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. otitis media dan lain-lain.

Manifestasi klinis dari morbili yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam beberapa hari. Muncul 1 – 2 hari sebelum timbulnya ruam dan menghilang dengan cepat yaitu sekitar 12-18 jam kemudian. Koplik spot adalah suatu bintik putih keabuan sebesar butiran pasir dengan areola tipis berwarna kemerahan dan biasanya bersifat hemoragik. Pada akhir masa prodromal. Garis tersebut akan menghilang bila seluruh bagian konjungtiva telah terkena radang Koplik spot yang merupakan tanda patognomonik untuk campak muncul pada hari ke- 10±1 infeksi. dinding posterior faring biasanya menjadi hiperemis dan penderita akan mengeluhkan nyeri tenggorokkan. Garis melintang kemerahan yang terdapat pada konjungtuva dapat menjadi penunjang diagnosis pada stadium prodromal. yaitu diawali dari belakang telinga kemudian menyebar ke muka. Stadium prodromal Manifestasi klinis campak biasanya baru mulai tampak pada stadium prodromal yang berlangsung selama 2 hingga 4 hari. Biasanya terdiri dari gejala klinik khas berupa batuk. Inflamasi konjungtiva dan fotofobia dapat menjadi petunjuk sebelum munculnya bercak Koplik. juga di bagian tengah bibir bawah dan karunkula lakrimalis. dada. Tersering ditemukan pada mukosa bukal di depan gigi geraham bawah tetapi dapat juga ditemukan pada bagian lain dari rongga mulut seperti palatum. Walaupun pada masa ini terjadi viremia dan reaksi imunologi yang ekstensif. Stadium erupsi 13 . diikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas. lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan mengelupas merupakan manifestasi yang sangat berkaitan untuk dapat menegakkan diagnosis morbilli. tubuh. Manifestasi klinis tersebut muncul secara bertahap sesuai dengan perjalanan penyakit morbili yang dibagi menjadi 4 stadium. juga demam. pilek dan konjungtivitis. yaitu: Stadium inkubasi Masa inkubasi campak berlangsung kira-kira 10 hari (8 hingga 12 hari). penderita tidak menampakkan gejala sakit.

yaitu diawali dari belakang telingan kemudian menyebar kemuka. yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggidalam beberapa hari. seluruh tangan. 14 . ruam akan muncul sekitar hari ke-14 infeksi yaitu pada saat stadium erupsi. Pada stadium prodromal dapat ditemukan sel raksasa berinti banyak dari apusan mukosa hidung. ruam dapat muncul hingga menutupi seluruh bagian kulit. paha dan terakhir kaki. lengan atas dan dada bagian atas pada 24 jam pertama. Ruam pertama kali muncul sebagai makula yang tidak terlalu tampak jelas di lateral atas leher. yaitu sekitar hari ke-2 atau 3 munculnya ruam. Pada infeksi campak yang berat. F. Saat ruam mulai menghilang akan tampak berwarna kecokelatan yang tidak memudar bila ditekan. Beratnya penyakit berbanding lurus dengan gambaran ruam yang muncul. abdomen. Saat ruam muncul di kaki. leher. Ruam muncul pada saat puncak gejala gangguan pernafasan dan saat suhu berkisar 39. Pada campak yang tipikal. Serum antibodi dari virus campak dapat dilihat dengan pemeriksaan Hemagglutination-inhibition (HI). Pemeriksaan laboratorium jarang dilakukan. dan garis batas rambut. Kemudian ruam menjadi makulopapular dan menyebar ke seluruh wajah. Kemudian ruam akan menjalar ke punggung. Seiring dengan masa penyembuhan maka muncullah deskuamasi kecokelatan pada area konfluensi. 1983).5˚C. lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan mengelupas. Diagnosis Diagnosis campak biasanya cukup ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang sangat berkaitan. ruam pada wajah akan menghilang diikuti oleh bagian tubuh lainnya sesuai dengan urutan munculnya (Phillips. Pada stadium prodmoral dapat ditemukan anantema dimukusa pipi yang merupakan tanda patognomonis campak (bercak koplik). complement fixation (CF). Wajah penderita juga menjadi bengkak sehingga sulit dikenali (Phillips. diikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas. Saat awal ruam muncul akan tampak berwarna kemerahan yang akan tampak memutih dengan penekanan. dada. belakang telinga. 1983). tubuh. termasuk telapak tangan dan kaki.

Serum IgM merupakan tes yang berguna pada saat munculnya ruam. Sebagai contoh. peningkatan ringan jumlah limfosit sedangkan kadar glukosa normal (Phillips. Tidak semua kasus manifestasinya sama dan jelas. jumlah sel darah putih cenderung menurun. pipi. G. sedangkan serum IgG akan menetap kadarnya seumur hidup. dan pada pemeriksaan serologi didapatkan igM spesifik. 1983). Pemeriksaan HI dilakukan dengan menggunakan dua sampel yaitu serum akut pada masa prodromal dan serum sekunder pada 7 – 10 hari setelah pengambilan sampel serum akut. eksantema subitum dan infeksi stafilokokus. pasien yang mengidap gizi kurang. dapat disimpulkan bahwa diagnosis campak dapat ditegakan secara klinis. diagnosis bandung lainya adalah rubella. Campak yang bermanifestasi tidak khas disebut campak atipikal. Roseola infantum. 2004). hemolysin inhibition. demam skarlatina. Hasil dikatakan positif bila terdapat peningkatan titer sebanyak 4x atau lebih (Cherry. Gejala yang timbul tidak seberat campak.neutralization. Rubella. seperti pada pemeriksaan sistologik ditemukan sel raksasa pada jaringan mukosa hidung. serologi IgM-IgG. Pada Roseola infantum. Serum IgM akan menurun dalam waktu sekitar 9 minggu. 2. Jadi. Meskipun demikian menentukan diagnosis perlu ditunjang data epidenmiologi. ELISA. immune precipitation. ruamnya dapat sampai berdarah dan mengelupas atau bahkan pasien sudah meninggal sebelum ruam timbul. Pungsi lumbal dilakukan bila terdapat penyulit encephalitis dan didapatkan peningkatan protein. sedangkan pemeriksaan penunjang sekedar membantu. Diagnosis Banding Diagnosis banding morbili diantaranya : 1. ruam muncul saat demam telah menghilang. 15 . ruam akibat obat-obatan. Ruam berwarna merah muda dan timbul lebih cepat dari campak. Pada kasus gizi kurang juga dapat terjadi diare yang berkelanjutan. dan fluorescent antibody (FA). Pada pemeriksaan darah tepi.

Stadium prodromal akan menjadi lebih pendek. Tumbelaka. Hal tersebut dapat diakibatkan riwayat penggunaan serum globulin maupun pada anak usia kurang dari 9 bulan karena masih terdapatnya antibodi campak transplasental dari ibu. Ditandai dengan gejala penyakit yang lebih ringan. mialgia. 4. hiperestesia. pilek dan demam lebih ringan. nyeri dada dan rasa lemah. rasa lemah maupun paresthesia. Pada campak atipikal dapat muncul efusi pleura. Ruam dapat berbentuk vesikel dan terasa gatal. Ruam yang muncul sama dengan infeksi campak klasik. batuk non- produktif. difus terutama di abdomen. sesak nafas. Demam skarlatina. muntah.6˚C) dan biasanya sakit kepala. tetapi tidak bersifat konfluens. Ruam sedikit berwarna kekuningan. Didapatkan riwayat penggunaan obat tidak lama sebelum ruam muncul dan biasanya tidak disertai gejala prodromal. hepatosplenomegali. Dua atau tiga hari setelah onset penyakit muncullah ruam yang dimulai dari distal ekstremitas dan menyebar ke arah kepala. Ruam bersifat papular. 2002). Bercak Koplik jarang ditemui. Campak atipikal Didefinisikan sebagai sindroma klinik yang muncul pada orang yang sebelumnya telah kebal akibat terpajan pada infeksi campak alamiah. Diagnosis dari campak atipikal dapat ditegakkan melalui tes 16 . Batuk. Campak yang termodifikasi Penyakit campak yang termodifikasi muncul pada orang yang hanya memiliki setengah daya tahan terhadap campak. 2004).5˚C sampai 40. namun dapat juga tidak muncul sama sekali. Biasanya muncul pada orang yang telah mendapat vaksin dari virus campak yang dimatikan Masa inkubasi dari campak atipikal sama seperti pada campak yang tipikal yaitu sekitar 7 hingga 14 hari. Bercak Koplik lebih sedikit dan kurang jelas. terlihat jelas pada pergelangan tangan dan kaki serta terdapat juga pada telapak tangan dan kaki. Stadium prodromal ditandai dengan demam tinggi yang mendadak (39. Alergi obat. 3. Pada beberapa orang. Tanda patognomonik berupa lidah berwarna merah stroberi serta tonsilitis eksudativa atau membranosa (Alan R. infeksi campak yang termodifikasi ini dapat tidak memberikan gejala apapun (Cherry. Bisa juga didapatkan gejala nyeri perut.

H. apabila disebabkan oleh virus. umumnya pada puncak demam saat ruam keluar. sianosis dan stridor. Ditandai dengan batuk. dapat diduga adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang telah dirusak oleh virus. sesak. di hari ke-10 infeksi titer jarang melebihi 1:160 (Cherry. Laringitis akut Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas. penyulit pneumonia bakteri biasa terjadi dan dapat menjadi fatal bila tidak diberi antibiotik. d. dan adanya ronki basah halus. meningkatnya frekuensi nafas. Apabila suhu tidak juga turun pada saat yang diharapkan dan gejala saluran nafas masih terus berlangsung. gejala pneumonia akan menghilang. Di negara sedang berkembang dimana malnutrisi masih menjadi masalah.serologis. Komplikasi a. Kejang demam Kejang dapat timbul pada periode demam. c. yang bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya. Ensefalitis 17 . 2004). Pada saat suhu turun. Ditandai dengan distres pernafasan. kecuali batuk yang masih dapat berlanjut sampai beberapa hari lagi. Ketika demam turun keadaan akan membaik dan gejala akan menghilang. CF dan titer HI biasanya kurang dari 1:5. Gambaran infiltrat pada foto toraks dan adanya leukositosis dapat mempertegas diagnosis. b. Pada campak yang tipikal. Bronkopneumonia Dapat disebabkan oleh virus campak maupun akibat invasi bakteri. Pada hari ke-10 infeksi kedua titer akan meningkat mencapai 1:1280 atau lebih. Kejang dalam hal ini diklasifikasikan sebagai kejang demam. Bila sampel serum awal diambil sebelum atau pada saat onset ruam.

peningkatan protein ringan. Keluhan nyeri kepala. Laboratorium menunjukkan peningkatan globulin dalam cairan serebrospinal. f. Jika terjadi invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang rusak karena invasi virus akan terjadi otitis media purulenta.000 kasus campak. Terjadinya ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus campak ke dalam otak. twitching. g. Pemeriksaan cairan serebrospinal menunjukkan pleositosis ringan. disorientasi juga dapat ditemukan.2 per 100. dengan mortalitas antara 30-40%. Otitis media Invasi virus ke dalam telinga tengah umumnya terjadi pada campak. Dapat pula timbul enteropati yang menyebabkan kehilangan protein (protein losing enteropathy). kejang umumnya bersifat mioklonik. h. koma dan iritabel. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang sebelumnya pernah menderita campak adalah 0.Merupakan penyulit neurologik yang paling sering terjadi. Gendang telinga biasanya hiperemis pada fase prodromal dan stadium erupsi. Gejala ensefalitis dapat berupa kejang. dengan masa inkubasi rata- rata 7 tahun. frekuensi nafas meningkat. Enteritis Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret pada fase prodromal. Rata-rata jangka waktu timbulnya gejala sampai meninggal antara 6-9 bulan. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam 1. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus. letargi. dengan predominan sel mononuklear. sedangkan kadar glukosa dalam batas normal e.000 infeksi campak. Risiko terjadi SSPE lebih besar pada usia yang lebih muda.6-2. Dapat pula terjadi mastoiditis. antibodi terhadap campak dalam serum (CF dan HAI) meningkat (1:1280). biasanya terjadi pada hari ke-4-7 setelah timbulnya ruam. Gejala SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku dan intelektual yang progresif. SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis) Subacute sclerosing panencephalitis merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat yang jarang disebabkan oleh infeksi virus campak yang persisten. Konjungtivitis 18 . diikuti oleh inkoordinasi motorik. Tidak ada terapi untuk SSPE.

Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. kontraksi prematur aurikel dan perpanjangan interval A-V. Gangguan gizi sampai kwasiorkhor r. Virus campak atau antigennya dapat dideteksi pada lesi konjungtiva pada hari-hari pertama sakit. Adenitis servikal k. Aktivasi tuberculosis n. Dirumah sakit pasien campak dirawat dibangsal isolasi sistem pernafasan. Penatalaksanaan Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. yang ditandai dengan adanya mata merah. Perubahan tersebut bersifat sementara dan tidak atau hanya sedikit mempunyai arti klinis. partus prematurus dan kelainan kongenital pada bayi m. dan antikonvulsan bila diperlukan. Pada ibu hamil dapat terjadi abortus. Dapat pula timbul ulkus kornea. Anak harus diberikan cukup cairan dan kalori. sedangkan pengobatan bersifat sistomatik. i.Pada hampir semua kasus campak terjadi konjungtivitis. j. ekspektoran. Emfisema subkutan p. Sedangkan pada campak dengan penyulit. lakrimasi dan fotofobia. Apendisitis q. Sistem kardiovaskular Pada EKG dapat ditemukan kelainan berupa perubahan pada gelombang T. pembengkakan kelopak mata. antitusif. Purpura trombositopenik dan non-trombositopenik l. Konjungtivitis dapat memburuk dengan terjadinya hipopion dan pan-oftalmitis hingga menyebabkan kebutaan. pasien perlu dirawat inap. Pneumomediastinal o. dengan pemberian antipiretik. Infeksi piogenik pada kulit I. diperlukan perbaikan keadan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan diet 19 .

20 . Indikasi Rawat Jalan:  Tidak ada tanda dehidrasi  Tidak ditemukan adanya penyulit seperti konjungtivitis. enteritis. melindungi struktur dan fungsi poliribosom. bronkopneumonia. Penggunaan Vitamin A pada morbili sampai saat ini masih dilakukan. meningkatkan respon imun.100 mg/kg berat badan per hari terbagi dalam 4 .000 IU peroral diberikan satu kali. apabila terdapat malnutrisi dialanjutkan 1500 IU tiap hari. meningkatkan sintesa protein dan nukleoprotein. menghalangi pemindahan genetika virus ke poliribosom sel tubuh dan menghentikan multiplikasi virus sehingga diharapkan dapat mempersingkat masa sakit. Dosis penggunaan vitamin A pada kasus morbili untuk bayi usia 6-11 bulan 100. ensefalopati Indikasi Rawat Inap :  Hiperpireksia (>39 oC)  Dehidrasi  Kejang  Asupan oral sulit  Adanya komplikasi Indikasi pulang:  Bebas demam 1 x 24 jam  Tidak ada dehidrasi  Asupan oral baik Penggunaan Antivirus pada morbili sampai saat ini terbukti masih memiliki manfaat yang cukup berpengaruh. Manfaat dari vitamin A pada kasus morbili adalah untuk menghambat replikasi virus. otitis media. Pilihan antivirus untuk anak seperti Isoprinosin yang memiliki kandungan Methisoprinol dengan dosis umum pada anak 50 .000 IU/hari PO 2 dosis dan usia diatas 1 tahun 200.000 IU/hari PO 2 dosis. Vitamin A 100.6 dosis dengan lama pengobatan 4 – 10 hari dan diteruskan selama 2 hari setelah gejala hilang terbukti memiliki manfaat sebagai Antivirus nonspesifik dan berspektrum luas.yang memadai. dan mempercepat proses reepitelisasi.

yaitu :  Bronkopneumonia 21 . Dakriosistitis. dinaikkan 2 tetes setiap jam untuk infeksi berat. gonococus. Penggunaan antibiotik untuk konjungtivitis pada kasus morbili didasarkan pada penegakkan diagnosis apakah konjungtivitis yang terjadi merupakan komplikasi dari infeksi sekunder berupa konjungtivitis bakterialis atau konjungtivitis akibat virus morbili yang menginvasi ke konjungtiva. Indikasi penggunaan Gentamisin adalah untuk kasus Konjungtivitis. streptokokus. Terikatnya aminoglikosid pada ribosom ini mempercepat transpor aminoglikosid ke dalam sel. Gentamisin. Blefaritis. maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi penyulit yang timbul. Kloramfenikol. diikuti dengan kerusakan membran sitoplasma. Pada kasus morbili. Beberapa antibiotik yang dapat menjadi pilihan untuk kasus konjungtivitis bakterialis adalah Tetrasiklin. Keratitis. Tobramisin. Yang diduga terjadi adalah miss reading kode genetik yang mengakibatkan terganggunya sintesis protein. Apabila terdapat penyulit. Konjungtivitis bakterialis yang terjadi akibat infeksi sekunder tersering disebabkan oleh bakteri stapilococus. Keratokonjungtivitis. dan disusul kematian sel. Selain itu Gentamicin juga merupakan golongan Glikoaminosida yang terbukti memiliki sifat bakterisidal cepat. Blefarokonjunctivitis. Gentamisin diberikan dengan dosis Tetes mata 1-2 tetes setiap 2-4 jam. Meibomianitis akut. pemilihan Gentamisin didasarkan pada masih rendahnya angka kejadian reaksi alergi yang timbul akibat penggunaan Gentamisin. Episkleritis akut. Ulkus Kornea. chlamydia.

Sebaliknya. yaitu (1) vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan (tipe edmonstone B ) dan (2) vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berda dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminium). Antibiotic diberikan sampai tiga hari demam reda. Pada tahun 1963 telah dibuat 2 macam vaksin campak. Gangguan reaksi delayed hypersensitivity disebabkan oleh sel limfosit –T yang teganggu fungsinya. Diberikan antibiotic ampisilin 100 mg/kgBB/ hari intravena dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis. Pencegahan Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. J. maka uji tuberculin dilakukan setelah anak sehat kembali (3-4 minggu kemudian) oleh karena uji tuberculin negative biasanya negative (anergi) pada saat anak menderita campak. Pemberian cairan intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis + dehidrasi  Otitis media Seringkali disebabkan oleh karena infeksi sekunder. vaksin campak yang 22 . disamping pemberian kortikosteroid. Perlu dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah. Program imunisasi campak secra luas baru dikembangkan pelkasanaannya pada tahun 1982. sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat peroral.  Enteritis Pada keadaan berat anak mudah jatuh dalam dehidrasi. Apabila dicurigai infeksi spesifik. Sejak tahun 1967 vaksin yang berasal dari virus campak yang telah dimatikan tidak digunakan lagi oleh karena efek proteksinya hanya bersifat sementara dan dapat menimbulkan gejala atypical measleas yang hebat. sehingga perlu diberikan antibiotic kotrimoksazol-sulfametokzasol (TMP 4 mg/kgBB/hari didalam dua dosis)  Ensefalopati Perlu reduksi jumlah pemberian cairan hingga ¾ kebutuhan untuk menurangi edema otak.

vaksin polio oral. dikembangkan dari edmonstone strain Schawarz (1965) dan kemudian menjadi strain Moraten (1968) dengan mengembang biakan virusnya pada embrio ayam. vaksin difteriatetanus dan lain-lain. yaitu peningkatan respons imun atau sebaliknya. Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1. Intransal dan cara inokulasi konjungtifa sampai sekarang masih terus dilakuakan penyelidikan untuk mengetahui efektifitas pemberian vaksin edmonstone B yang dilemahkan. Salah satu indicator pengaruh vaksin terhadap proteksi adalah penurunan angka kejadian sakit kasus cempak sesudah pelaksanaan program imunisasi. Sebaliknya pada pemberian vaksin edmonstone Zagreb secara aerosol didapatkan respons antibody yang baik walaupun pada anak dibawah usia 9 bulan. Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa kombinasi tersebutpada umumnya aman dan tetap efektif. Efek proteksi dari vaksin campak diukur dengan berbagain macam cara. Seperti yang ditemukan oleh Schwarz (1975). Dalam hal demikian ada 2 kemungkinan yang mungkin terjasdi. oleh peneliti tidak ditemukan.berasal dari virus hidup yang dilemahkan. menunggu respons imun. walaupun dari data yang terbatas dilaporkan bahwa pemberian secara intramuscular tampaknya mempunyai efektifitas yang sama dengan subkutan. Sayangnya pemberian aerosol ini sulit dan kurang praktis. sedangkan geometric mean titer-nya sama tinggi dengan yang didapatkan pada pemberian vaksin tunggal. Kombinasi beberapa vaksin dalam semprit atau secara stimulant dibeberapa tempat pada waktu yang sama sering digunakan untuk menyederhanakan prosedur dan mengurangi biaya. Vaksin campak sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubella dan parotitis epidemika yang dilemahkan. Cara pemberian yang dianjurkan adalah subkutan. Vaksin Edmonstone Zagreb merupakan hasil biakan human diploid cell yang dapat digunakan secara inhalasi atau aerosol dengan hasil yang memuaskan. Dikatan bahwa pada kombinasi dengan virus mati tidak didapatkan penurunan respons imun akan tetapi virus hirup dapat saling mempengaruhi.5 ml. Laporan mengenai reaksi yang lebih baik karena pemakaian vaksin yang dikombinasikan dibandingkan dengan vaksin tunggal.000 TCID-50 atau sebanyak 0. serokonversi dapat terjadi antara 97-100 %. tetapi dalam hal vaksin hidup. pemberian dengan 20 TCID-50 saja mungkin sudah dapat memberikan hasil yang baik. 23 .

Hasil ini harus didukung dengan data serokonversi. Prognosis  Campak merupakan penyakit self limiting sehingga bila tanpa disertai dengan penyulit maka prognosisnya baik. Kegagalan vaksinasi perlu dibedakan antara kegagalan primer dan sekunder. K. Efektivitasnya vaksin dapat dihitung dengan memakai pendekatan kasus dan control. Proteksi dapat dicatat dengan memeriksa respons imun dan manifestasi klinis yang timbul akibat pemberian imunisasi dengan virus vaksin yang tidak ganas. Krugman. sedangkan dimasyarakat sekitarnya tingkat penularan yang tinggi masih dijumpai. yaitu membandingkan proporsi kasus dan control yang sudah diimunisasi. Perhitungan ini sangat bermanfaat apabila angk cakupan imunisasi campak sangat tinggi. Dari data yang benar. Metode lain untuk mengukur efek proteksi dari vaksin campak ialah membandingkan angka kejadian sakit pada kelmpok anak yang sudah diimunisasi dan mengukur efektifitaS. Kegagalan sekunder dapat terjadi karena potensi vaksin yang kurang kuat sehingga respons imun yang terjadi tidak adekuat dan tidak cukup memberikan perlindungan pada bayi terhadap serangan campak secra alami. Hasil pengamatan tersebut sesuai dengan hasil nilai secara nasional di Amerika serikat maupun Negara lainnya yang sudah melaksanakan program imunisasi campak secra meluas. efektivitas vaksin adalah sebesar 90- 95% atau lebih. Akibat setiap pemberian imunisasi akan menyebabkan respons imun anamnestic pada kasus yang tidak menunjukan gejala klinis dari penyakitnya. Dikatakan primer apabila tidak terjadi serokonversi setelah diimunisasi dan sekunder apabila tidak ada proteksi setelah terjadi serokonversi ialah : (A) adanya antibody yang dibawa sejak lahir yang dapat menetralisir virus vaksin campak yang masuk. Jika proposi kasus campak pada kelompok yang sudah diimunisasi masih tetap tinggiberarti bahwa vaksinya yang kurang baik. yaitu lebih dari 95%. Baik pada anak dengan keadaan umum yang baik. (B) vaksinnya yang rusak (C) akibat pemberian imunoglobulin yang diberikan bersama-sama. dkk mencatat bahwa sebagian besar kasus campak dari suatu populasi kelompok anak sekolah akan menghilang setelah program imunisasi berjalan lancar. tetapi 24 .

prognosis buruk bila keadaan umum buruk. anak yang sedang menderita penyakit kronis atau bila ada komplikasi.  Pada anak yang sehat. mortalitas jarang terjadi kecuali pada pasien immunocompromised (HIV) atau pada malnutrisi. mortalitas tertinggi didapat pada anak berusia dibawah 2 tahun. 25 . terutama defisiensi vitamin A.