You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Paru-Paru Obstruksi Menahun (PPOM) merupakan suatu istilah
yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung
lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara. Ketiga
penyakit yang membentuk satu kesatuan yang ditandai dengan sebutan PPOM
adalah : Bronkhitis Kronis, Bronkiektasis dan Asma bronkial.
Perjalanan PPOM yang khas adalah panjang dimulai pada usia 20-30 tahun
dengan “batuk merokok” atau batuk pagi disertai pembentukan sedikit sputum
mukoid. Mungkin terdapat penurunan toleransi terhadap kerja fisik, tetapi
biasanya keadaan ini tidak diketahui karena berlangsung dalam jangka waktu
yang lama. Akhirnya serangan brokhitis akut makin sering timbul, terutama pada
musim dingin dan kemampuan kerja penderita berkurang, sehingga pada waktu
mencapai usia 50-60 an penderita mungkin harus mengurangi aktifitas.
Penderita dengan tipe emfisematosa yang mencolok, perjalanan penyakit
tampaknya tidak dalam jangka panjang, yaitu tanpa riwayat batuk produktif dan
dalam beberapa tahun timbul dispnea yang membuat penderita menjadi sangat
lemah. Bila timbul hiperkopnea, hipoksemia dan kor pulmonale, maka prognosis
adalah buruk dan kematian biasanya terjadi beberapa tahun sesudah timbulnya
penyakit. (Price & Wilson, 1994 : 695)

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari PPOM ?
2. Bagaimana Klasifikasi dari PPOM ?
3. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada PPOM ?

C. Tujuan pembahasan
1. Mengetahui definisi dari PPOM

1

2. Mengetahui klarifikasi dari PPOM
3. Mengetahuan asuhan keperawatan pada PPOM

BAB II
PEMBAHASAN

2

B. 2002). Definisi Bronkitis kronis didefinisikan sebagai adanya batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam satu tahun selama 2 tahun berturut-turut. Bronkitis Kronis a. Epidemiologi Di Amerika Serikat. (Bruner & Suddarth. merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus trakeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : bronchitis kronis. emfisema dan asma. bronkiektasis. (Bruner & Suddarth. Menurut National Center for Health Statistics. Istilah bronkitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor. 2002). b.A. Definisi PPOM Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( PPOK ) atau Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM) adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronis. Klasifikasi PPOM 1. PPOM merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru. kira-kira ada 14 juta orang menderita bronkitis. Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri. Lebih dari 12 juta orang 3 . emfisema paru-paru dan asthma bronchiale.

(Jazeela Fayyaz. Faktor Predisposisi Alergi. Jun 17. 4 . polusi udara dan infeksi saluran nafas atas kronik dapat memudahkan terjadinya bronkitis. mengakibatkan perubahan fungsi makrofag alveolar yang berperan penting dalam menghancurkan partikel asing termasuk bakteri. Etiologi Faktor-fakor penyebab tersering pada bronkitis kronis adalah : asap rokok (tembakau). cuaca. diantaranya : batubara. c. asap industry dan polusi udara. fungsi silia menurun dan lebih banyak lendir yang dihasilkan. Bronkitis lebih banyak terdapat pada laki-laki dibanding wanita. Karena iritasi yang konstan ini. Sebagai akibat bronkiolus dapat menjadi menyempit dan tersumbat. gas. 2009 ) d. fiber. Alveoli yang berdekatan dengan bronkiolus dapat menjadi rusak dan membentuk fibrosis. semen. e. Frekuensi bronkitis lebih banyak pada populasi dengan status ekonomi rendah dan pada kawasan industri. asap las. kemungkinan mengakibatkan emfisema dan bronkiektasis. dan lain-lain. menderita bronkitis akut pada tahun 1994. Patofisiologi Asap mengiritasi jalan nafas mengakibatkan hipersekresi lendir dan inflamasi. Pasien kemudian menjadi lebih rentan terhadap infeksi pernapasan. sama dengan 5% populasi Amerika Serikat. Data epidemiologis di Indonesia sangat minim. Pada waktunya mungkin terjadi perubahan paru yang ireversibel. DO. kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel goblet meningkat jumlahnya. Disebutkan pula bahwa bronkitis kronis dapat dipicu oleh paparan berbagai macam polusi industri dan tambang. Penyempitan bronkial lebih lanjut terjadi sebagai akibat perubahan fibrotik yang terjadi dalam jalan napas. debu. Di dunia bronkitis merupakan masalah dunia.

f. 2) Bronkitis kronis mukopurulen (chronic mucupurulent bronchitis). faal paru. ditandai dengan batuk berdahak yang disertai dengan sesak napas berat dan suara mengi. Untuk membedakan ketiganya didasarkan pada riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis oleh dokter disertai pemeriksaan penunjang (jika diperlukan). menyebabkan produksi mukus berlebihan. analisa gas darah. 5 . ditandai dengan batuk berdahak dan keluhan lain yang ringan. ditandai dengan batuk berdahak kental. 3) Bronkitis kronis dengan penyempitan saluran napas (chronic bronchitis with obstruction). Bronkitis kronis terbagi menjadi 3 jenis. Ditandai juga dengan peningkatan sekresi sel goblet di saluran napas kecil. purulen (berwarna kekuningan). h. Bronkitis kronik ditandai dengan hipersekresi mukus pada saluran napas besar. Sesak bersifat progresif (makin berat) saat beraktifitas. yakni radiologi (rontgen). Dahak makin banyak dan berwarna kekuningan (purulen) pada serangan akut (eksaserbasi). Kadang dapat dijumpai batuk darah. hipertropi kelenjar submukosa pada trakea dan bronki. EKG. Patogenesis Dua faktor utama yang menyebabkan bronkitis yaitu adanya zat-zat asing yang ada di dalam saluran napas dan infeksi mikrobiologi. Klasifikasi Secara klinis. sehingga akan memproduksi sputum yang berlebihan. bronki dan bronkiole. g. 2) Sesak napas. yakni : 1) Bronkitis kronis ringan (simple chronic bronchitis). Tanda dan Gejala Gejala-gejala klinis Bronkitis kronis adalah sebagai berikut : 1) Batuk dengan dahak atau batuk produktif dalam jumlah yang banyak.

Pasien harus menghentikan rokok karena menyebabkan bronkokonstriksi. melumpuhkan silia. dan ventilasi alveolar diperbaiki. untuk menghilangkan bronkopasme dan mengurangi obstruksi jalan napas. 4) Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit : dapat sedikit meningkat j. Prognosis Bila tidak ada komplikasi. peningkatan volume residual (RV). k. kapasitas paru total (TLC) normal atau sedikit meningkat. 4) Pada pemeriksaan dengan stetoskop (auskultasi) terdengar suara krok- krok terutama saat inspirasi (menarik napas) yang menggambarkan adanya dahak di saluran napas. 3) Cairan. diberikan peroral / parenteral jika bronkopasme berat adalah bagian penting dari terapi. Pengobatan Pengobatan bronkhitis kronik menurut (Brunner. 2) Terapi kortikosteroid. prognosis umumnya baik. 2001 hal 600) adalah sebagai berikut : 1) Bronkodilator. menginaktivasi surfaktan. mungkin digunakan ketika pasien tidak menunjukkan keberhasilan terhadap pengukuran yang lebih konservatif. i. yang memainkan peran penting dalam memudahkan pengembangan paru. sehingga lebih banyak oksigen di distribusikan ke seluruh bagian paru. 3) Ada kalanya terdengar suara mengi (ngik-ngik). karena hidrasi yang baik membantu untuk mengencerkan sekresi sehingga dapat dengan mudah dikeluarkan 6 . Pada bronkitis akut yang berulang dan disertai dengan merokok terus-terusan secara teratur cenderung menjadi bronkitis kronis pada waktu dewasa. Pemeriksaan Penunjang 1) Pemeriksaan analisa gas darah : hipoksia dengan hiperkapnia 2) Rontgen dada : pembesaran jantung dengan diafragma normal/mendatar 3) Pemeriksaan fungsi paru : Penurunan kapasitas vital (VC) dan volume ekspirasi kuat (FEV).

Pemilihan jenis antibiotika (pilihan pertama. Bronkiektasis berarti suatu dilatasi yang tak dapat pulih lagi dari 7 . Digunakan manakala penderita bronkitis kronis mengalami eksaserbasi oleh infeksi kuman (H. muntahan. aspirasi benda asing.(Bruner & Suddarth). Pneumoniae. atau benda-benda dari saluran pernapasan atas. 2. dan tekanan akibat tumor. 2) Sedapat mungkin menghindari paparan faktor-faktor pencetus. Influenzae. istirahat dalam jumlah yang cukup. (Soeparman & Sarwono. S. Definisi Bronkiektasis adalah dilatasi bronki dan bronkiolus kronis yang mungkin disebabkan oleh berbagai kondisi. dan pembesaran nodus limfe. 4) Oksigenasi (terapi oksigen) 5) Obat-obat bronkodilator dan mukolitik agar dahak mudah dikeluarkan. yakni memberikan pemahaman kepada penderita untuk mengenali gejala dan faktor-faktor pencetus kekambuhan bronkitis kronis. 3) Rehabilitasi medik untuk mengoptimalkan fungsi pernapasan dan mencegah kekambuhan. pembuluh darah yang berdilatasi. termasuk infeksi paru dan obstruksi bronkus. M. Bronkiektasis a. makan makanan bergizi. Penatalasanaan 1) Edukasi. kedua dan seterusnya) dilakukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan. Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus. 1999). l. 6) Antibiotika. dengan membatukkannya. diantaranya dengan olah raga sesuai usia dan kemampuan. Catarrhalis).

Bronkiektasis adalah dilatasi permanent abnormal dari salah satu atau lebih cabang-cabang bronkus yang besar (Barbara E. c. Epidemiologi Di negera barat. Etiologi 1) Infeksi 2) Kelainan herideter atau kelainan konginetal 3) Faktor mekanis yang mempermudah timbulnya infeksi 4) Penderita sering mempunyai riwayat pneumoni sebagai komplikasi campak. 1997). biasanya kelainan imunologi berupa kekurangan globulin gamma atau 8 . Faktor Predisposisi Faktor predisposisi terjadinya bronkiektasis dapat dibagi menjadi tiga. bahkan dapat merupakan kelainan kongenital. d. yaitu: 1) Kekurangan mekanisme pertahanan yang didapat atau kongenital. Di Indonesia belum ada laporan tentang angka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. atau penyakit menular lainnya semasa kanak- kanak. 1998). kekerapan bronkiektasis diperkirakan sebanyak 1. batuk rejan.3 % di antara populasi. b. atau massa (misalnya neoplasma) yang menghambat lumen bronchial dengan obstruksi (Hudak & Gallo. aspirasi benda asing. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti sesudah dapat ditekannya frekuensi kasus-kasus infeksi paru dengan pengobatan memakai antibiotik. Penyakit ini dapat diderita mulai sejak anak-anak. Kenyataannya penyakit ini cukup sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki maupun wanita. bronchial yang disebabkan oleh episode pnemonitis berulang dan memanjang.

menyebabkan kehilangan struktur pendukungnya dan menghasilkan sputum yang kental yang akhirnya dapat menyumbat bronki. Apabila bronkiektasis timbul kongenital. kekurangan kartilago bronkus. menyerang lobus atau segmen paru. setiap tuba yang berdilatasi sebenarnya adalah abses paru. patogenesisnya tidak diketahui. patogenesisnya diduga melalui beberapa mekanisme. Ada beberapa faktor yang diduga ikut 9 . penurunan ventilasi dan peningkatan rasio volume residual terhadap kapasitas paru total. sindrom kartagener. 3) Penyakit paru primer seperti tumor paru. Patofisiologi Bronkiektasis Infeksi merusak dinding bronkial. Pada bronkiektasis yang didapat. Bronkiektasis biasanya setempat. benda asing. Lobus yang paling bawah lebih sering terkena. Jaringan parut atau fibrosis akibat reaksi inflamasi menggantikan jaringan paru yang berfungsi. yang eksudatnya mengalir bebas melalui bronkus. 2) Kelainan struktur kongenital seperti fibrosis kistik. f. Patogenesis Patogenesis bronkiektaksis tergantung penyebabnya. Pada waktunya pasien mengalami insufisiensi pernapasan dengan penurunan kapasitas vital. Dinding bronkial menjadi teregang secara permanen akibat batuk hebat. dan kifoskoliosis kongenital. atau tuberkulosis paru. e. Infeksi meluas ke jaringan peribronkial sehingga dalam kasus bronkiektasis sakular. kelainan imunitas selular atau kekurangan alfa-1antitripsin. Retensi sekresi dan obstruksi yang diakibatkannya pada akhirnya menyebabkan alveoli di sebelah distal obstruksi mengalami kolaps (ateletaksis). Terjadi kerusakan campuran gas yang diinspirasi (ketidakseimbangan ventilasi-perfusi) dan hipoksemia. diduga erat hubungannya dengan genetik serta faktor pertumbuhan dan perkembangan fetus dalam kandungan.

lokasi atau tidaknya komplikasi. Mekanisme kejadiannya sangat rumit. Gambaran Klinis Bronkiektasis merupakan penyakit yang sering dijumpai pada usia muda. Tanda dan Gejala Bronkiektasis 1) Batuk produktif menahun. mukos lapisan tengah. (2) infeksi pada bronkus atau paru. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa infeksi pada bronkus atau paru. (dalam gelas transparan → 3 lapis buihlapisan atas. (3) adanya beberapa penyakit tertentu seperti fibrosis paru. 69 % penderita berumur kurang dari 20 tahun. i. asthmatic pulmonary eosinophilia dan (4) faktor intrinsik dalam bronkus atau paru. Permulaannya didahului adanya infeksi bakterial. kemudian timbul bronkiektasis. terus menerus atau berulang 2) Batuk darah 3) Eksaserebasi akut disertai panas 4) Dahak mukoid. Gejala tergantung dari luas berat. mukopurulen atau purulen. antara lain: (1) obstruksi bronkus. g. 60% dari penderita gejalanya timbul sejak umur kurang dari 10 tahun. Gejala dimulai sejak masa kanak-kanak. nanah dan debris lapisan bawah) 5) Ronchi basah local dan menetap 10 . diduga melalui dua mekanisme dasar. Mula-mula karena adanya infeksi pada bronkus atau paru. berperan. Klasifikasi Berdasarkan atas bronkografi dan patologi bronkietasis dapat dibagi menjadi 3 yaitu : 1) Bronkiektasis silindris 2) Bronkiektasis Fusiform 3) Bronkiektasis kistik atau sakular h. Patogenesis pada kebanyakan bronkiektasis yang didapat. akan diikuti proses destruksi dinding bronkus daerah infeksi dan kemudian timbul bronkiektasis.

k. Pencegahan 1) Imunisasi campak dan pertusis pada masa kanak-kanak membantu menurunkan angka kejadian bronkiektasis 2) Vaksin influenza berkala membantu mencegah kerusakan bronkus oleh virus flu. 7) Masuknya benda asing ke saluran pernapasan dapat dicegah dengan : . Pengobatan 1) Pengobatan Konseratif 11 . 6) Sianosis dan ditemukan jari-jari tabuh pada 30-50 % kasus j. bisa mencegah kerusakan bronkus yang akan menyebabkan terjadinya bronkiektasis. 4) Pengobatan dengan imunoglobulin pada sindroma kekurangan imunoglobulin mencegah infeksi berulang yang telah mengalami komplikasi.Mencari pengobatan medis untuk gejala neurologis (seperti penurunan kesadaran) atau gejala saluran pencernaan (seperti regurgitasi atau batuk setelah makan).Menghindari kelebihan dosis obat dan alkohol . 5) Penggunaan anti peradangan yang tepat (seperti kortikosteroid). 9) Bronkoskopi dapat digunakan untuk menemukan dan mengobati penyumbatan bronkus sebelum timbulnya kerusakan yang berat. Vaksin pneumokok membantu mencegah komplikasi berat dari pneumonnia pneumokok. 8) Tetes minyak atau tetes mineral untuk mulut atau hidung jangan digunakan menjelang tidur karena dapat masuk ke dalam paru.Memperhatikan apa yang dimasukkan anak ke dalam mulutnya . 6) Menghindari udara beracun. terutama pada penderita bronkopneumonia alergika aspergilosis. asap (termasuk asap rokok) dan serbuk yang berbahaya (seperti bedak atausilika) juga mencegah bronkiektasis atau mengurangi beratnya penyakit. 3) Minum antibiotik dini saat infeksi juga mencegah bronkiektasis atau memburuknya penyakit.

Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat bagi pasien . dan ronki (44%) adalah petunjuk diagnosis m. lapisan tengah adalah sereus dan lapisan bawah terdiri dari pus atau sel-sel rusak. Sputum yang berbau busuk menunjukkan infeksi oleh kuman anaerob. Pemeriksaan darah tepi menunjukkan hasil dalam batas normal. Pengobatan hemoptisis misalnya dengan obat hemostatik . Kemotrapi pada bronkiektasis . kecuali pada kasus lanjut. wheezing (34%). demikian pula dengan pemeriksaan urin dan EKG. misalnya dengan pemberian antibiotic Pengelolaan khusus . Pemeriksaan Penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium Sputum biasanya berlapis tiga. Lapisan atas terdiri dari busa. Mengontrol infeksi saluran napas. Drainase secret dengan bronkoskopi Pengobatan simtomatik . Pemeriksaan Fisik Ditemukan suara nafas tambahan pada pemeriksaan fisik dada. Memperbaiki drainase secret bronkus . Pengelolaan umum. Pengobatan obstruksi bronkus misalnya dengan obat bronkodilator . Pengobatan demam dengan pemberian antibiotic dan antipiretik 2) Pengobatan Pembedahan Tujuan pembedahan adalah untuk mengangkut (reseksi) semen atau lobus yang terkena. Pengobatan hipoksia dengan pemberian oksigen . 2) Pemeriksaan Radiologi 12 . termasuk crackles (70%). meliputi : . l.

atau amoksisilin) selama 5 – 7 hari pemberian 2) Fisioterapi dada dan drainage postural dengan teknik ekspirasi paksa untuk mengeluarkan secret 3) Bronkodilator 4) Aerosal dengan garam faali atau beta agonis 13 . Kotrimoksasol. Pemeriksaan Diagnostik 1) Pemeriksaan sputum → biakan kuman dan jamur 2) Toraks foto AP → Normal pada bronchiectase ringan. Foto thoraks normal tidak menyingkirkan kemungkinan penyakit ini. kadang-kadang ada gambaran sarang tawon serta kistik yang berdiameter sampai 2 cm dan kadang-kadang terdapat garis-garis batas permukaan udara-cairan n. p. prognosis baik. lokasi dan luasnya kelainan. Prognosis Tergantung penyebab. Pada yang berat tampak tram track (2 garis sejajar menyerupai rel → pada bronchiectase kistik tampak rongga kistik diameter 3 cm kadang tampak air-fluid level atau nodul ( bila isinya penuh) 3) Bronchografi dengan bahan kontras → tampak silindris. varikosa atau kistik (sakuler) 4) Tes faal paru VC dan Tes kepekaan antibiotic o. Penatalaksanaan Penatalaksanaan meliputi : 1) Pengendalian infeksi akut maupun kronik → pemberian antibiotic dengan spekrum luas (Ampisilin. Biasanya didapatkan corakkan paru menjadi lebih kasar dan batas- batas corakkan menjadi kabur. daerah yang terkena corakkan tampak mengelompok. Dengan antibiotik dan hygiene saluran nafas.

pekerjaan. Insiden penyakit asma dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain : umur pasien. Dengan demikian perlu kiranya difikirkan tentang pola asuhan keperawatan yang mampu memenuhi keterbatasan fungsi tersebut tanpa menambah beban emosional klien akibat tindakan perawat baik selama serangan. Tingkat emosi yang labil dan adanya kecenderungan untuk menolak saran-saran pada upaya mengeleminasi perilaku yang mendukung kesehatannya. dan fungsi klien dalam keluarga tersebut. kegiatan aktivitas yang berat. hal-6. maupun setelah seranagn sehinnga klien terhindar dari kekambuhan dan dapat berfungsi secara optimal. kurang tidur. Berbagai maslah yang ditimbulkan pada penyakit asma tergantung pada usia . kelelahan. (Sundaru H. Asma Asma merupakan suatu penyakit yang dapat mengenai pada anak-anak hingga dewasa dengan serangan yang sangat menakutkan tanpa mengenal waktu yang selalu membawa penderitaan bagi pasien dan asma dapat timbul karena kecemasan. 5) Hidrasi yang adekuat untuk mencegah secret menjadi kental dan dilengkapi dengan alat pelembab serta nebulizer untuk melembabkan secret 6) Cortikosteroid bila ada bronchospasme yang hebat 3. bunga. jenis kelamin. obat-obatan dan alergen. 1995). 14 . diperkirakan 5%-20% bayi dan anak-anak menderita asma 2%-10%. Pada serangan asma pasien mengalami keterbatasan fungsi tersebut dalam memenuhi segala kebutuhan dasarnya. merupakan salah satu respon psikologis pasien asma. Penelitian yang pernah dilakukan di beberapa tempat diperkirakan 2-5% menderita asma. infeksi pernapasan. bakat alergi. Tingginya angka kekambuhan pada penderita asma sering memberikan dampak pada psikologis dan biologis pasien. keturunan. lingkungan dan faktor psikologi. Di negara-negara yang telah maju penelitiannya.

infeksi saluran nafas atas. tungau debu rumah. misalnya debu rumah . baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan. beberapa makanan laut dan sebagainya. c.a. 2) Infeksi saluran napas Infeksi saluran napas terutama oleh bakteri influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering menimbulkan asma bronkiale. b. 1991) 15 . Faktor Pencetus Faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan asma bronkiale atau sering disebut sebagai faktor pencetus adalah : 1) Alergen Alergen adalah zat-zat tertentu bila dihisap atau dimakan dapat menimbulkan serangan asma . Macam – Macam : 1) Ekstrinsic faktor allergen : eksternal agent / atopic asma 2) Instrinsic / non dimungkinkan oleh beberapa penyebab sulit di identifikasi atopic asma penyebab : common cold. Asma bronchiale menurut Americans Thoracic Society dikutip dari Barata Wijaya (1990) adalah suatu penyakit denagn ciri mendekatnya respons thrakea dan bronkhus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya berubah-ubah. Definisi Menurut Croccket (1997) Asma bronkiale didefinisikan sebagai salah satu penyakit dari sistem pernapasan yang meliputi peradangan dari jalan napas dan gejala-gejala bronkhopaaasma yang bersifat reversibel. stress dll. (Sundaru. spora jamur. bulu binatang. Diperkirakan 2/3 pasien asma dewasa serangan asmanya ditimbulkan oleh infeksi saluran napas. serpih kilit kucing.

asam klorida. kodein dan sebagainya. asap rokok. Enzim bakteri sublitis. 16 . ( Yunus. beta blocker. asap yang mengandung hasil pembakaran sulfur dioksida dan oksida foto kemikal. Toluen diisosianat. Hal ini lebih menonjol pada wanita dan ank-anak. sulfur dioksida. karena banyak orang yang mendapat Stress psikologik tetapi tidak menjadi penderita asma bronkiale. 6) Polusi udara Pasien asma sangat peka terhadap udara debu. Amoniak. Garam platina dan Ampisilin. Beberapa zat yang didapat di tempat pekerjaan yang dapat mencetuskan serangan asma seperti : Bulu dan serpih binatang. 7) Lingkungan kerja Diperkirakan 2-15% pasien asma bronkhiale pencetusnya adalah lingkungan kerja(Sundaru H. serangan asma karena kegiatan jasmani terjadi setelah olahraga atau aktivitas fisik yang cukup berat dan jarang serangan timbul beberapa jam setelah olahraga.3) Stress psikologik Stress psikologik bukan berarti penyebab asma tetapi sebagai pencetus asma.1994) 4) Olahraga / kegiatan jasmani yang berat Sebagian penderita asama bronkiale akan mendapatkan asma apabila melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan. Faktor ini berperan mencetuskan serangan asma terutama pada orang yang agak labil kepribadiannnya. Debu kapas. serta bau yang tajam. Debu kopi dan teh. Lari cepat dan bersepeda paling mudah menimbulkan serangan asma . 1991). Debu gandum dan padi-padian. /kendaraan. asap pabrik. klorin. 5) Obat-obatan Beberapa pasien asma bronkiale sensitif atau alergi terhadap obat tertentu seperti penicilin .salisilat.

Riwayat kesehatan a. Keluhan Utama Keluhan utama klien adalah sesak nafas. Tujuan dari pengkajian ini adalah sebagai gambaran tentang keadaan klien yang memungkinkan bagi perawat untuk merencanakan asuhan keperawatan. pendidikan. Pengkajian Pengkajian merupakan langkah awal dan dasar dalam asuhan keperawatan secara keseluruhan. pekerjaan. Apakah klien merasakan sesak nafas. Data biografi Data dasar adalah merupakan identitas klien yang meliputi nama. b. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. suku bangsa. ada batuk dan lain-lain 17 . alamat dan lain-lain. 2. status perkawinan. Adapun data yang di dapat dari hasil pengkajian adalah : 1. setelah terpapar oleh allergen atau factor lain yang mencetuskan serangan PPOM. Riwayat kesehatan sekarang Berupa keadaan saat mulai sakit sampai dilakukan pengkajian. agama. jenis kelamin. umur.

Penggunaan otot-otot aksesori pernafasan (retraksi sternum. pengangkatan bahu waktu bernafas) c. dan akhirnya batuk produktif. d. susah bernafas. daya konsentrasi. Pernafasan cuping hidung. Riwayat kesehatan keluarga Apakah keluarga klien ada yang memiliki penyakit terutama penyakit pernafasan. Takhikardi b. Peningkatan frekuensi pernafasan. d. perpendekan periode inspirasi. mekanisme koping. Tensi meningkat c. sosialisasi. Pemeriksaan fisik Sistem pernafasan a. e. kering. 4. Adanya mengi yang terdengar tanpa stetoskop. kepekaan terhadap lingkung. Sistem kardiovaskuler a. Bunyi nafas : wheezing. Riwayat kesehatan dahulu Apakah klien sebelumnya pernah sakit seperti yang dialami saat ini dan klien pernah dirawat juga sebelumnya dan juga apakah klien pernah menjalani operasi dan penyakit apa yang sering diderita klien. karakter. c. keadaan emosional. pemanjangan ekspirasi. f. Batuk keras. Pulsus paradoksus (penurunan tekanan darah > 10 mmHg pada waktu inspirasi) 18 . Riwayat kesehatan lingkungan Bagaimana kebersihan dan kemungkinan bahaya di tempat tinggal klien 3. persepsi terhadap penyakit. Keadaan psikososis Meliputi suasana hati. e. perkembangan mental. b.

Diaforesis Psikososial a. Defisit perawatan diri b. obatan yang digunakan. Ketidak efektifan bersihan jalan napas b. lendir. Ketidak efektifan pola nafas b.d. Sianosis e. Gas darah arteri : penurunan PaO2 dan PaCO2 namun selanjutnya PaCO2 meningkat sesuai dengan meningkatnya tekanan jalan nafas. gangguan suplai oksigen (Marilynn E. panik. Doenges 1999 : 158).d.d. 19 . peningkatan sekresi. Nyeri (akut) b. sosialisasi mayarakat. pola nutrisi. B. 5. takut menderita.d keletihan sekunder akibat peningkatan upaya pernapasan dan ingufiensi. Dehidrasi f. napas pendek. pola personal hygine diwaktu sehat dan sakit serta pola pekerjaan. pola kebiasaan tambahan seperti merokok. d. Program dokter meliputi diit. Kebiasaan sehari-hari Mulai dari aktifitas sehari-hari. pola komunikasi keluarga. 606 : 1. Kerusakan pertukaran gas b. Tes kulit : untuk menentukan jenis allergen. minum alkohol. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang kemungkinan muncul. menurut Brunner 2001. Faal paru : menurunnya FEVI. b. gelisah. 4. Hasil pemeriksaan diagnostik a. 2001 : 601) 3. Smeltze dkk.d proses patokfisiologi penyakit paru obtruksi menahun. 2. 6. bronkokonstruksi dan iritan jalan nafas (Suzanne C. spritual serta harapan klien terhadap perawat. pola rekreasi. c. 5. pola minum. bronkokonstriksi. Darah : kadar IgE meningkat dan eosinophil meningkat. penurunan mekanisme venntilasi dan oksigensi. Peningkatan ansietas : takut mati. dan obat-obatan. pola istirahat tidur. d. ventilasi dan oksigenasi. 7. pola eliminasi.

Klien melaporan penurunan dispnea. Berikan oksigen sesuai indikasi (1–2 lt/mnt via nasal kanul) (Donna.685) R : Oksigen akan memperbaiki hipoksemia b. Kolaborasi dengan Tim dokter dalam memberikan bronkodilator R : Bronkodilator mendilatasi jalan napas 2. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan napas pendek. Intervensi Keperawatan 1. hipoksimia. 6. dan ketidak mampuan untuk bekerja. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen. Tujuan : Klien akan menunjukkan perbaikan pola pernapasan dalam waktu 24 jam 20 .1995.d. Intruksikan klien untuk batuk efektif R : Membersihkan jalan napas dari sputum c. bronkokonstruksi dan iritan jalan napas. C.d keletihan.Klien mampu batuk efektif. 7. kurang sosialisasi. tingkat aktivitas rendah. ansietas. . lendir. Tujuan : Klien akan memperlihatkan perbaikan pertukaran gas dalam waktu 24 jam Kriteria hasil : . dan pola pernapasan tidak efektif. Koping individu tidak efektif b. Dkk. depresi. Intervensi : a. Intoleransi aktivitas b.

Batuk dan sputum berkurang atau hilang. . . . Atur posisi semi fowler atau fowler tiap 2 jam sekali R : Meningkatkan ekspansi paru lebih baik d.Ekspansi dada simetris Intervensi a. Ketidak efektifan bersihkan jalan napas berhubungan dengan bronkokonstruksi. Bantu klien untuk melakukan batuk efektif and napas dalam.Klien mengatakan sesak napas berkurang atau hilang. Anjurkan minum hangat 2x sehari R : Membantu mengencerkan spucum sehingga mudah untuk dikeluarkan c.Klien mampu batuk efektif. b. f. batuk tidak efektif dan infeksi bronkopulmonal. Dkk. Berikan oksigen sesuai indikasi maksimal (1–2 lt/mnt via nasal kanul) (Donna. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian expectorant (ventolin) R : Membantu mengencerkan sekret sehingga mudah untuk dikeluarkan 3. Tujuan : Klien memperlihatkan keefektifan bersihan jalan napas dalam waktu 24 jam Kriteria hasil : . e. peningkatan produksi lendir.Klien mampu memperagakan batuk efektif 21 . Bantu klien untuk melakukan batuk efektif and napas dalam R : Meningkatkan gerakan sekret ke jalan napas sehingga mudah untuk dikeluarkan. Kriteria hasil : .1995. R : Meningkatkan gerakan sekret ke jalan napas sehingga mudah untuk dikeluarkan.685) R : Pemberian oksigen mengurangi beban kerja otot pernapasan dan memperbaiki hipoksia.

22 . Ajarkan dan berikan latihan napas dalam R : Tehnik ini akan membantu memperbaiki ventilasi dan untuk menghasilkan sekresi tanpa menyebabkan sesak napas dan keletihan c. R : Dengan expectoran akan sangat membantu mengencerkan sputum sehingga mudah untuk dikeluarkan. Berikan pasien 6-8 gelas cairan / hari kecuali terdapat kor pulmonal R : Hidrasi sitemik menjaga sekresi tetap lembab dan memudahkan ubtuk pengeluaran. Atur posisi klien semi fowler atau fowler tiap 2 jam sekali R : Meningkatkan ekspansi paru lebih baik b.. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian obat expectoran (contoh : ventolin ) untuk melancarkan pengeluaran sputum. Cairan harus diberikan dengan kewaspadaan jika terdapat gagal jantung sebelah kanan.Batuk berkurang .Sputum encer dan dapat dikeluarkan Intervensi a. d.

BAB IV PENUTUP A. Ras. Penanganan terhadap komplikasi yang timbul. Infeksi paru berulang. Tindakan ”Rehabilitasi” B. Umur. Polusi udara. Mengatasi Bronkospasme. Kesimpulan PPOM adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan saluran nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa waktu. Saran 23 . Memberantas infeksi. Pengobatan oksigen. Membersihkan sekresi Sputum. Faktor resiko dari PPOM adalah : merokok sigaret yang berlangsung lama. Defisiensi alfa-1 antitripsin. PPOM terdiri dari kumpulan tiga penyakit yaitu Bronkitis kronik. Bronkiektasis dan Asma. Jenis kelamin. Defisiensi anti oksidan Penatalaksanaan pada penderita PPOM : Meniadakan faktor etiologi dan presipitasi. Pengobatan Simtomatik.

nursingbegin.Bedah. 1990.wordpress. Jakarta: FK UI. G. Volume 1. www.blogspot.wordpress. diakses tgl 26 Juni http://harnawatiaj.com/2010/01/pengkajian-diagnosa keperawatan.google.html http://harnawatiaj. Jakarta : EGC. http://www.html. Asma Bronkhiale dalam Soeparman Ilmu Penyakit Dalam jilid II.com http://nersgoeng. 2002.com/2008/04/04/asuhan-keperawatan-asthma/ Suddarth dan Brunner.K. Suzanne C. Smelzter. Jakarta: EGC.com/200/8/03/27/askep-bronkitis/ http://download-askep. Buku Ajar Medikal. 2001. DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja. edisi 8.com/2009/05/asuhan keperawatan-ppok. Keperawatan Medikal Bedah.com 24 .blogspot.