You are on page 1of 49

Sel memiliki 2 bagian besar yaitu nukleus dan sitoplasma.

Nukleus dan sitoplasma dibatasi
oleh nuclear membrane, sedangkan sitoplasma dan cairan disekelilingnya dibatasi oleh
membran plasma. Kebanyakan, organel dari sel ditutupi oleh membran yang penyusun
terbesarnya ada protein dan lemak.

a. Membran Plasma
 Membran plasma adalah lapis ganda lipid yang ditaburi oleh protein dan sejumlah kecil
karbohidrat, dengan fungsi sawar selektif antara isi sel dan cairan ekstrasel, mengontrol
akiran zat masuk dan keluar sel
 Sebagian besar tersusun dari protein dan lemak
 Membran plasma atau plasmalema adalah lapisan pembungkus sel yang 
memiliki
struktur berupa trilaminer (tiga lapis). Struktur trilaminer ini disebut unit membran.
 Membran plasma terdiri atas lapisan fosfolipid ganda, protein, dan
rantai 
oligosakarida (membran karbohidrat)
a. Fosfolipid
 Memiliki kepala berkutub yang mengandung gugus fosfat negatif dan 2 rantai
asam lemak non polar
 Ujung polar bersifat hidrofilik, ujung nonpolar bersifat hidrofob.
 Jadi, rantai asam lemak berada di antara 2 gugus fosfolipid. Kolesterol terselip
diantara asam lemak yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur
pergerakan komponen membran.
b. Sel Membran Protein
Lapisan protein pada membran plasma antara lain:
1. protein integral: tertanam di lapisan ganda lipid, dan sebagian besar
menembus seluruh ketebalan membran (disebut juga protein transmembran)
Kebanyakan protein integral memiliki celah untuk masuknya molekul air dan
zat yang larut dalam air.
Peran lainnya adalah sebagai pembawa protein untuk transportasi substansi,
sebagai reseptor untuk zat kimia yang larut dalam air.
2. protein perifer: berada di permukaan membran.
Protein perifer sering menempel pada protein integral
Fungsi utamanya: sebagai enzim atau pengatur dari transport zat yang
melalui pori-pori sel membran.
c. Membran karbohidrat (oligosakarida)
 Kebanyakan protein integral adalah glikoprotein, atpi ada juga yang
glikolipid
 Fungsi:
 Alat komunikasi: mengandung reseptor yang mengenali dan
merespon sinyal.
 Koneksi antarsel: menciptakan suatu batas yang fleksibel, melindungi
isi sel, dan menyangga struktur sel.
 Sawar fisis: memisahkan zat yang ada di dalam dan di luar sel.
 Permeabilitas selektif: mengatur masuk dan keluarnya ion, nutrien, dan
molekul sisa
b. Mitokondria

 Mitokondria adalah badan-badan yang berbentuk batang atau oval yang dibungkus
oleh dua membran, dengan membran bagian dalam melipat-lipat menjadi krista
yang menonjol ke matriks di bagian dalam, dengan fungsi sebagai organel energi,
tempat untuk pembentukan ATP, mengandung enzim-enzim untuk siklus asam sitrat
dan rantai transportasi elektron
 Mitokondria disebut sebagai “powerhouse” dari sel.
 Tanpa mitokondria sel tidak akan dapat meng-ekstrak energi yang cukup dari nutrien
 Mitokondria terdapat pada semua area dari sitoplasma dari suatu sel
 Struktur dasar dari mitokondria sebagian besar terbentuk dari dua lapisan ganda lipid
protein: membran luar dan membran dalam.
 Bagian dalam mitokondria terisi oleh cairan matriks yang mengandung banyak enzim
untuk produksi energi
 Fungsi:
a. Alat komunikasi: mengandung reseptor yang mengenali dan merespon sinyal.
b. Koneksi antarsel: menciptakan suatu batas yang fleksibel, melindungi isi sel, dan
menyangga struktur sel.
c. Sawar fisis: memisahkan zat yang ada di dalam dan di luar sel.
d. Permeabilitas selektif: mengatur masuk dan keluarnya ion, nutrein,
c. Ribosom

 Ribosom adalah granula-granula RNA dan protein-sebagian melekat ke reticulum
endoplasma kasar, sebagian bebas di sitoplasma dengan fungsi sebagai sintesis
protein
 Struktur ribosom terdiri atas subunit besar dan kecil. Saat sintesis protein, 2 sub unit
tersebut tergabung, akan membentuk untaian polyribosome. Saat tidak, maka akan
terpisah
 Ribosom ada yang terdapat bebas di sitosol dan ada yang menempel pada 
retikulum
endoplasma kasar (REK).
 Ribosom bersifat basofilik (penyuka basa).
 Fungsi:
a. Ribosom bebas: sintesis protein yang berada di dalam sel.
b. Ribosom pada REK: sintesis protein untuk disekresikan keluar sel.
d. Nukleus: DNA dan protein khusus yang dibungkus oleh sebuah membran berlapis ganda
dengan fungsi sebagai pengaturan sel, menyimpan informasi genetic. Menyediakan kode-
kode untuk mensisntesis protein structural dan enzimatik yang menentukan sifat spesifik
sel
e. Retikulum Endoplasma: Jaringan membranosa yang luas dan kontinu, terdiri dari tubulus
berisi cairan dan kantung gepeng, sebagian ditaburi oleh ribosom, dengan fungsi sebagai
pembentukan membrane sel baru dan komponen-komponen sel lain serta pembuatan
zat-zat untuk disekresi.
f. Kompleks golgi: Kantung membranosa yang gepeng dan bertumpuk-tumpuk dengan
fungsi sebagai pusat modifikasi, pengemasan, dan distribusi protein yang baru disintesis
g. Lisosom: Kantung membranosa yang mengandung enzim-enzim hidrolitik dengan fungsi
sebagai system pencernaan sel, menghancurkan bahan yang tidak diinginkan, misalnya
benda asing dan sisa sel
h. Peroksisom: Kantung membranosa yang mengandung enzim-enzim oksidatif dengan
fungsi sebagai aktivasi detoksifikasi
i. Enzim-enzim metabolisme perantara: susunan sekuensial didalam sitoskeleton, dengan
fungsi sebagai reaksi intrasel yang melibatkan penguraian, sintesis, dan transformasi
molekul organik kecil
j. Inklusi: struktur berupa granula glikogen dan butir lemak dengan fungsi sebagai
menyimpan kelebihan nutrien.
k. Mikrotubulus: pipa-pipa berongga, langsing, panjang yang terdiri dari molekul-molekul
tubulin2 dengan fungsi sebagai mempertahankan bentuk sel asimetris,
mengkoordinasikan gerakan sel yang kompleks, memfasilitasi transportasi vesikel didalam
sel, misalnya tranportasi aksonal.juga berfungsi sebagai komponen structural dan
fungsional yang dominan pada silia dan fagela dan juga membentuk mitotic spindle
selama pembelahan sel
l. Mikrofilamen: rantai-rantai molekul aktin yang berjalan heliks, mikrofilamen yang terdiri
dari molekul myosin juga terdapat di sel-sel otot dengan fungsi sebagai:
i. berperan dominan pada kontraksi otot.membentuk perangkat kontraktil bukan-
otot, mislanya pada sel darah putih sewaktu bergerak seperti amuba
ii. Sebagai penguat mekanis untuk mikrovil
iii. meningkatkan luas permukaan untuk penyerapan di usus dan ginjal

Jaringan adalah kumpulan dari sel dengan tipe hampir sama dengan intercellular substance
yang membentuk satu structural material. Jaringan tersusun atas sel dan matriks ekstraseluler,
ada 4 macam tipe jaringan:
Matriks
Jaringan Sel Fungsi Utama
ekstraseluler
Saraf Panjang dan terpilin Tidak ada Transmisi impuls
Epitel Kumpulan sel polyhedral Sedikit Melapisi cavitas tubuh
Otot Sel kontraktil Sedang Gerak
memanjang
Ikat Terdiri dari beberapa Banyak Menyangga dan Melindungi
tipe sel Tubuh

 Parenchyma: jaringan yang memiliki fungsi spesifik pada sebuah organ
 Stroma: Jaringan ikat yang mengisi ruang, dan berfungsi juga sebagai menyangga
parenchyma tetap pada posisinya (tidak spesifik pada sebuah organ)

1. Jaringan Epitel
Terbagi menjadi dua:
- Epitel permukaan  melindungi bagian di bawahnya
- Epitel glandula  membentuk hampir sebagian besar kelenjar yang ada di tubuh
Ciri-ciri umum jaringan epitel:
- Selnya banyak, sedikit matriks
ekstraseluler
- Spesialisasi interseluler
- Polarisasi (apical dan basal)
- ditunjang oleh jaringan ikat
- tidak ada pembuluh darah tapi
mendapatkan nutrisi dari
jaringan ikat
- mampu regenerasi
Jenis jaringan epitel:
- Epitel Pipih Selapis (simple
squamous)
Fungsinya untuk filtrasi dan difusi dapat ditemukan di glomerulus ginjal dan alveolus
- Epitel kubus selapis (simple cuboideus)
Fungsinya sekresi dan absorbsi ditemukan di tubulus ginjal
- Epitel silindris selapis (simple columnar)
Fungsinya absorbsi dan sekresi mucus dan enzyme ditemukan di saluran lambung
dan usus
- Epitel silindris berlapis semu (Pseudostratified columnar)
Fungsinya untuk sekresi ditemukan di trachea
- Epitel pipih berlapis (stratified squamous)
Fungsinya untuk proteksi ditemukan di esophagus
- Epitel kubuh berlapis (stratified cuboidal, jarang ditemukan)
Fungsinya proteksi ditemukan di saluran pada kelenjar keringat dan kelenjar saliva
- Epitel silindris berlapis (stratified columnar, jarang ditemukan)

Fungsinya proteksi dan sekresi ditemukan di urethra
- Epitel transisi (transitional)
Fungsinya fleksibel untuk berubah bentuk sesuai kondisi, pipih dan kubus ditemukan
di vesicaurinaria
Modifikasi Jaringan Epitel
- Endothelium: Pipih dan melapisi pembuluh darah
- Mesothelium: Pipih dan melindungi bagian luar rongga badan (misal: pleura)
Epitel glandula
- Kelenjar eksokrin
Berupa lipatan, masih bagian dari epitel dan ada duktus
Fungsinya untuk sekresi keluar permukaan tubuh
Tipe: merocine, apocrine, holocrine
- Kelenjar endokrin
Kelenjar tanpa duktus, keluar melalui pembuluh darah dan merupakan bagian
terpisah dari epitel
- Kelenjar parakrin
2. Jaringan Ikat
Selnya sedikit dan memproduksi matriks ekstraseluler dan substansi dasar, banyak
matriks ekstraseluler. Sel pada jaringan ikat terbagi menjadi dua:
- Fixed cells; contoh: fibroblas, myofibroblas, adiposit.
- Wandering cells, berguna untuk imunitas; contoh: limfosit, makrofag, sel dendrit
Klasifikasi jaringan ikat
- Embrionik
a. Mesenkim
b. Mukus
- Dewasa
a. Longgar  Serabut sedikit
b. Padat  Banyak serabut
1. Beraturan, ada 2 arah serat matriks ekstraseluler
Lokasi: tendon, ligamen, dan aponeurosa
2. Tidak beraturan, arah serat matriks ekstraseluler tidak beraturan
Lokasi: dermis kulit, kapsul fibrosa
c. Terspesialisasi
1. Reticular
2. Adipose
Matriks ekstraseluler pada Jaringan Ikat
a. Fiber
1. Kolagen
2. Elastis
b. Substansi Dasar
Hidrofilik, mengisi ruang antara sel dan fiber
a. Proteoglikan
b. Multiadhesif glikoprotein
c. Glikosaminoglikan
3. Jaringan Otot
a. Otot lurik (skeletal muscle) inti sel di tepi, bentuknya silindris, berguna untuk gerakan
sadar. Letaknya di rangka
b. Otot jantung (cardiac muscle) inti sel nya di tengah, bentuknya silindris bercabang,
letaknya di jantung
c. Otot polos (smooth muscle) ini sel di tengah, bentuk gelendong, letaknya di organ
dalam.

4. Jaringan Saraf
a. Neuron: contains long processus
b. Glia:contain shorter processussupport neuron

Tujuan dilakukannya komunikasi sel adalah:
1. Mencapai tujuan yang sama
2. Homeostasis
3. Koordinasi
4. Adaptasi
5. Kelangsungan hidup
Sinyal dalam komunikasi sel dibagi menjadi 2 tipe, yaitu
a. Mechanical signal  Dapat berupa tarikan/dorongan; contoh: pembuluh darah yang
diregangkan
b. Biochemical signal  Dengan molekul kimia.
Sinyal biokimia biasanya dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar endokrin, tetapi sebenarnya semua
sel menghasilkan molekul sinyal. Contoh molekul sinyal adalah hormon dan neurotransmitter.
Sel penghasil molekul sinyal:
- Neurons - Skeletal muscle cells
- Leukocytes - Hepatocytes
- Endothelial cells - Gaster epithelial cells
- Adipocytes - Etc.
- Heart muscle cells
Local and systemic biochemical signals:
1. Autocrine
2. Paracrine
3. Endocrine
4. Secreted mi-RNA
Menurut sifat dari molekul sinyalnya, sinyal terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Hidrophobic
 Hydrophobic signaling molecules bind intracellular receptors that act as gene
regulating proteins
 Molekul dapat menembus membran sel sehingga reseptor dari sinyal berada di dalam
sel
 Apabila telah bertemu dengan reseptor, pengikatan ini bisa menjadi faktor transkripsi
yang nantinya akan menimbulkan ekspresi gen(pembentukan protein)
 Receptor yang telah berikatan dengan molekul sinyal akan masuk ke nukleus dan
berikatan dengan DNA yang akan memulai proses sintesis protein
 Contoh: NO (gas)
2. Hydrophilic
 Hydrophilic signaling molecules bind to durface receptors and induced signal
transduction
 Molekul sinyal akan berikatan dengan reseptor yang ada di membran plasma
 Sinyal awal akan diubah (signal trasduction). Extracellular signal → intracellular signal
 Reseptor
a. Gated Ion channel : mengubah potensial membran
Gated ion channel pada membran plasma akan membuka dan menutup untuk
respons terhadap pengikatan ligan atau perubahan potensial membran. Gated ion
channel merupakan pentraduksi sinyal tersimpel/termudah. Contoh: reseptor
asetilkolin
b. G-protein-coupled : aktif bila berikatan dengan GTP
Protein reseptor yang ada di membran plasma akan secara tidak langsung
mengaktifkan enzim yang menghasilkan second messenger intracellular. Contoh
proteinnya adalah GTP-binding atau G-protein. 3 komponen penting dalam G
protein-coupled receptor yaitu:
1. Membran plasma reseptor dengan tujuh segmen helical transmembran.
2. Enzim di membran plasma yang menghasilkan intrasellular second messenger
3. Guanosine nucleotide-binding receptor (G-protein), G-protein akan mengubah
GDP menjadi GTP dengan teraktivitasinya reseptor
c. Enzyme-coupled : pengaktifan enzim. Contoh: tyrosine kinase receptors:
transduksi sinyal melalui phosphorylation cascade akan mengamplifikasi sinyal.
Ketika receptor ini di berikatan dengan ligan, maka akan dihasilkan enzim yang
akan mengkatalisis pembentukan second messenger intracellular. Protein reseptor
yang memiliki area ligan-binding berada di permukaan extraseluler membran
plasma dan enzyme active site berada di sisi sitosolnya, dengan dua area tersebut
disatukan dengan single transmembran segment. Biasanya, reseptor enzyme ini
adalah sebuah protein kinase.
Dalam pelaksanaan komunikasi sel, dibutuhkan juga negative feedback dan terminasi sinyal,
berupa:
1. Inactivation
- Dephosphorylation (dengan enzim phosphatase)
- Degradation of receptor or signaling molecule (dengan lisosom)
2. Downregulation
3. Production of inhibitory protein

Fondasi ilmu dalam kedoteran:
1. Anatomi: ilmu yang memepalajari struktur makhluk hidup
2. Histologi: bagian anatomi yang mempelajari fungsi, komposisi, dan struktur halus
jaringan.
3. Fisiologi: ilmu yang mempelajari fungsi organisme hidup serta bagian-bagiannya dan
faktor fisika serta kimia dan proses yang terlibat.
4. Biokimia: unsur kimiawi dari organisme hidup dan proses vital
5. Genetika: ilmu yang mempelajari tentang keturunan/pewarisan sifat.
Sekilas sejarah anatomi:
 Salah satu ilmu kedokteran dasar tertua
 Ditulis pada papirus (3000 – 2500 SM)
 Pertama kali dipelajari secara resmi di Mesir (±500 SM)
 Hippocrates (430-377 SM) di Yunani: “the nature of the body is the beginning of medical
science”
 Aristoteles (384-322 SM) adalah orang yang pertama kali memakai istilah anatomi (ana=
ke atas; tomy=cutting,incision) anatomi = memotong atau memisahkan
Relevansi anatomi
 Tujuan klinis: mengetahui topografi (letak) bagian-bagian tubuh manusia
 Pembedahan mayat (kadaver): penting untuk memahami struktur dasar tubuh manusia
 Anatomi memiliki fokus pada proses yang dinamis karena mempelajari struktur yang
hidup
 Computer-controlled imaging techniques: menggunakan bentuk 3 dimensi sehingga
memberi gambaran yang lebih mendekati struktur tubuh, dikenal pula sebagai CT-scan
Pendekatan dalam mempelajari anatomi
 Anatomy: kerangka/struktur di mana proses/fungsi dari kehidupan terjadi
 Memahami akibat ketika struktur dan fungsi bekerja bersama-sama
 3 pendekatan utama:
1. Sistemik: mempelajari beberapa struktur organ yang saing bekerja sama membentik
suatu sistem dengan fungsi yang khusus, ex: sist. pernapasan, sist. Kardiovaskuler, etc
2. Regional: terfokus pada suatu regio/bagian tertentu, ex: regio cervicalis, regio thorax,
etc
3. Klinis (Clinical): menekankan pada aspek struktur tubuh dan fungsinya dalam praktik
kedokteran serta memegang peranan penting dalam aspek klinis.
Komposisi sistem skeletal:
a. Tulang
b. Kartilago: awal dari hampir seluruh tulang pada embrio dan masa perkembangan anak,
menyelubungi banyak permukaan sendi pada skeleton dewasa.
c. Ligamen: mengikat tulang dan tulang pada persendian (NB: tendon: mirip ligamen tapi
mengikatkan otot pada tulang)

 Kartilago
 Membuat sistem skeletal menjadi lebih fleksibel
 Permukaannya halus, licin, gaya gesek rendah
 Avascular: tidak ada pembuluh darah /syaraf
 Tidak ada regenerasi
 3 tipe:

a. Hyaline (ex: permukaan artikulasi tulang)
b. Elastic (ex: telinga bagian eksterna, epiglotis)
c. Fibrosa ( ex: diskus intervertebralis)

 Tulang
 Dibagi menjadi os axiale dan os appendiculare
 Memberi bentuk tubuh, menyangga berat badan sekaligus menegakkan tubuh.
 Melindungi organ interna (alat dalam) terutama organ vital.
 Tempat perlekatan otot-otot dan alat gerak pasif.
 Otot melekat erat pada tulang melalui jaringan ikat yang disebut tendon.
 Penghasil sel darah tertentu/hemopoesis (ex: granulosit dan eritrosit).
 Penyimpan dan sumber cadangan mineral tertentu.
 Detoksifikasi (racun akan ditahan di dalam tulang)

 Perbedaan tulang dan kartilago:
 Tulang memiliki system kanalikuler yang menembus seluruh substansi tulang.
 Tulang memiliki jaringan pembuluh darah untuk nutrisi sel-sel tulang.
Tulang hanya dapat tumbuh secara aposisi.
 Substansi interseluler tulang selalu mengalami pengapuran.

 Klasifikasi Tulang
1. Berdasarkan bentuk: 5. Berdasar struktur:
a. Os longum (panjang/pipa) ex:
humerus, femur, metacarpal,
metatarsal
b. Os breve (pendek) ex: carpal,
tarsal
c. Os palnum (pipih) ex: scapula,
costae, sternum
d. Irregular bone, ex: vertebrae, a. Compact bone (tulang padat)
basis cranii b. Spongy/cancellous bone
2. Sesamoid bone, tulang yg melekat (tulang berongga)
pd tendon khusus, ex: patella, os 6. Berdasar pemeriksaan mikroskopik:
sesamoid pada phalanges kaki

a. Primary (woven)
bone/immature bone: jar.
tulang yang pertama kali
3. Accessory bone, biasa disebut
berkembang dalam embrio dan
extra bone, ex: os trigonum
pada perbaikan fraktur, bersifat
sementara krn akan digantikan
secondary bone, kecuali pada
sutura cranii, alveolus gigi, dan
insersi beberapa tendo

4. Heterotropic bone, terbentuk pada
soft tissue yang seharusnya tidak
ada misal pada otot, biasanya
terjadi setelah melakukan prosedur
ortopedi
b. Secondary (lamellar)
bone/mature bone: jar. tulang
yg ditemukan pada orang
dewasa

 Struktur Umum Tulang
 Periosteum: membran pelindung dengan
vasikularisasi yang memberi nutrisi pada
tulang dan melapisi permukaan luar tulang
Memiliki 2 lapis:
1. Lapisan luar: lapisan fibrosa yang
tersusun atas kolagen. Beberapa
serabut kolagen adalah lanjutan dari
tendon dan yang lain melakukan
penetrasi kedalam matriks tulang
sebagai perforating (Sharpey) fibers.
2. Lapisan dalam: lapisan osteogenic yg
tersusun dari osteoprogenitor, yaitu
sel-sel yang berpotensi membelah
secara mitosis dan berkembang
menjadi osteoblas
 Endosteum: lapisan yang membatasi
permukaan tulang bagian dalam dengan
medullary cavity, terusun atas jaringan ikat
reticular dan sel osteogenic.
 Jaringan osseous: jaringan ikat dimana matriks mengalami pengerasan yang
disebabkan oleh endapan kalsium fosfat dan mineral-mineral lain. Proses pengerasan
ini disebut mineralisasi atau kalsifikasi. (Tulang bukan substansi terkeras pada
tubuh manusia, substansi terkeras adalah email gigi.)
 Medullary cavity: rongga di dalam tulang yang berisi sumsum tulang; sumsum
merah untuk membentuk darah, sumsum kuning untuk menyimpan lipid.
 Epiphysis & diaphysis: epifisis adalah kedua bagian ujung tulang tempat proses
pertumbuhan tulang (sel-sel bertumbuh), sedangkan diafisis adalah bagian tengah
tulang yang sel-selnya sudah dewasa.
 Vasa darah, vasa limfatik, dan saraf.
 Perkembangan Tulang (Ossification)
 Intramembranous ossification (membranous bone formation):
o osteoblas berdiferensiasi langsung dari sel mesenkim dan mulai mensekresi
osteoid.
o Bertempat di kondensasi jaringan mesenkim embrional
o Sel mesenkim berkumpul dan berdiferensiasi → osteoblas memproduksi osteoid
→sel di matriks terklasifikasi menjadi osteosit → woven bone (tulang
anyaman/imatur) terbentuk → remodel woven bone →tulang pipih terbentuk
o ex: maxilla, mandibula, cranii
 Endochondral ossification (cartilaginous bone formation):
o bertempat di kartilago hyaline
o untuk formasi tulang panjang dan tulang pendek
o mesenkim → kartilago → tulang keras
o ex: humerus, femur, phalanges
 Agen-agen yang mempengaruhi kalsium dan metabolisme tulang
 Hormon:
- Calcitonin: memicu mineralisasi dan menurunkan kadar Ca2+ dalam darah pada
anak-anak, dan mencegah keropos tulang pada wanita hamil & menyusui
- Calcitriol (vit D): memicu usus menyerap Ca2+ dan fosfat, menstimulasi aktivitas
osteoklas
- Cortisol: menghambat aktivitas osteoklas, tetapi jika diekskresikan dalam jumlah
banyak bisa menyebabkan osteoporosis
- Estrogen: menstimulasi osteoblas dan mencegah keropos tulang
- Growth hormone: menstimulasi pemanjangan tulang dan proliferasi kartilago
pada lempeng epifisis

- Insuline: menstimulasi pembentukan tulang (keropos tulang yg signifikan terjadi
pada penderita diabetes mellitus yg tidak ditangani)
- PTH: meningkatkan kadar kalsium dalam darah dengan secara tidak langsung
mengaktivasi osteoklas
- Testosterone: menstimulasi osteoblas dan memicu sintesis protein
- Thyroid hormone: penting untuk pertumbuhan tulang, meningkatkan efek growth
hormone

 Growth Factors (Faktor Pertumbuhan)
Setidaknya 12 substansi mirip hormon yang dihasilkan oleh tulang itu sendiri yang
dapat menstimulasi sel-sel tulang di sekitarnya, meningkatkan sintesis kolagen,
menstimulasi pertumbuhan lempeng epifisis, dll
 Vitamins
- Vitamin A: Meningkatkan sintesis glikosaminoglikan (chondroitin sulfat)
- Vitamin C: Meningkatkan pertumbuhan tulang dan perbaikan fraktur tulang
- Vitamin D: Secara umum berperan sebagai hormon (lihat cartisol)
Ada 2 tipe tulang berdasarkan strukturnya:
 Compact bone (tulang padat): struktur tulang
yang padat, tersusun sistem-sistem Havers
(osteon) yang membentuk kolom, bagian luar
tulang kompak dilindungi oleh periosteum
 Spongy/cancellous bone (tulang berongga):
struktur tulang yang berongga, osteon
berbentuk trabekular dengan banyak rongga
tempat sumsum tulang dan vasa darah, setiap
trabekular dilindungi endosteum.
Struktur tulang:
 Lapisan penutup
1. Periosteum: lapisan luar merupakan jaringan ikat padat dengan vasa darah, serabut
kolagen, dan fibroblast. Serat kolagen (serat Sharpey) penetrasi ke dalam matriks
tulang dan melekatkan periosteum pada tulang. Lapisan dalam adalah lapisan selular
yang berisi bone lining cell, osteoblast, dan osteoprogenitor.
2. Endosteum: lapisan yang menutup trabekular yang menjorok ke kavitas sumsum
tulang. Lebih tipis dari periosteum, endosteum juga memiliki osteprogenitor,
osteoblast, dan bone lining cell.
 Jaringan tulang
1. Bone lamella
o Lamella circumferential externa: lamella yang membatasi tulang kompak
bagian luar
o Lamella circumferential interna: lamella yang membatasi tulang kompak bagian
dalam
o Osteon/sistem Havers: sistem yang terdiri atas lamella konsentris, osteosit
dengan kanalikulinya, dan kanal havers di pusatnya
o Lamella interstisial: lamella yang mengisi ruang antar osteon
2. Matriks tulang
Mengandung kalsium hydroxyapatite, bicarbonat, citrat magnesium, potassium,
sodium ion, calcium phosphate, serabut kolagen tipe I, pteroglican, glicoprotein
(osteonectin), osteocalcin.
3. Sel-sel tulang
o Osteoblast: menyintesis komponen organik matriks; terdiri atas serabut kolagen
tipe I, proteoglycans, dan beberapa glycoprotein; mengikat ion Ca2+ (fungsi ini
dipengaruhi PTH)
o Osteoclast: sel besar bernukleus banyak; berperan dalam resorpsi matriks pada
remodelling tulang; berasal dari deretan sel monosit makrofag; berada di lakuna
Howship
o Osteocyte: osteoblast yang terperangkap dalam matriks hasil sekresinya sendiri;
berada dalam rongga bernama lakuna; berbentuk pipih, RE sedikit, golgi kecil;
mempunyai kanalikuli untuk homeostasis dan komunikasi dengan sel lain;
berfungsi untuk maintain matriks tulang
o Osteoprogenitor: merupakan sel mesenchimal primitive yang menghasilkan
osteoblast selama pertumbuhan tulang dan osteosit pada permukaan dalam
jaringan tulang.
Bone Growth
 Intramembranous Ossification (prenatal)  Maxilla, mandibula, tempurung kepala.

o 1. Sel mesenkim memproduksi
fibrous CT framework untuk proses o 3. Osteoid terakumulasi di antara
osifikasi. vasa-vasa darah membentuk
o Beberapa sel mesenkim trabekular dari tulang anyam
berdiferensiasi menjadi osteoblast (woven bone)
di pusat osifikasi o Sel mesenkim luar berdiferensiasi
o Osteoblast sekresi matriks tulang menjadi periosteum
& osteoid

o 2. Osteoid termineralisasi & o 4. Trabekular osteoid bagian luar
terkalsifikasi menebal & terosifikasi menjadi
o Osteoblast yang terperangkap tulang kompak.
menjadi osteosit. o Trabekular osteoid bagian dalam
tidak menebal dan menjadi tulang
spons berongga (diploë). Rongga
ini nantinya diisi sumsum tulang
merah.
 Endochondral ossification

o 1. Osteoblast membentuk bone
collar di bagian dalam periosteum
o 4. Terbentuk pusat osifikasi
sekunder di epifisis
o Osteoclast membuat medullary
cavity, tulang spons melebur

o 2. Kartilago di pusat osifikasi
menulang dan membentuk rongga
o Bone collar menjaga kestabilan
saat proses kavitasi (pembuatan
rongga)
o Kartilago bagian ujung bertambah
panjang o 5. Tulang mengalami osifikasi
seluruhnya
o Hyalin hanya tersisa di ujung
epifisis dan perbatasan epifisis –
diafisis, untuk membentuk
lempeng epifisis.

o 3. Vasa darah & limfa, saraf,
sumsum tulang, osteoblast,
osteoclast (periosteal bud)
memasuki rongga tsb membentuk
tulang spons
o Resting zone: terdiri dari kartilago
hyalin dan kondrosit
o Growth (proliferation) zone:
kartilago bermitosis dengan cepat;
pemanjangan tulang
o Hypertrophic zone: pemanjangan
dan perbesaran kondrosit
o Calcification zone: matriks
kartilago terkalsifikasi dan sel-sel
mati membentuk ujung runcing
o Ossification zone: kartilago
runcing tsb berubah bentuk
menjadi tulang spons, menjadi
medullary cavity ataupun tulang
kompak nantinya semasa tulang
bertumbuh

Pemanjangan tulang akan berhenti di akhir masa pertumbuhan. Kondrosit berhenti
melakukan mitosis dan diafisis & epifisis melebur menjadi satu. Pada wanita, lempeng epifisis
melebur pada usia 18 tahun dan laki-laki pada umur 21 tahun meskipun ada faktor-faktor
penentu yang bisa mengubah masa akhir pertumbuhan setiap individu.

 Anthropos: manusia + Metry: pengukuran
 It is an essential:
a. Growth studies
b. Nutritional status assessment
c. Constitutional medicine
d. Human engineering
e. Motor performance (sport medicine)
 Pengukuran:
a. Mass (weight): berat badan
b. Lengths and heights: secara vertikal
c. Breadths or widths
d. Depths: diukur dari sagittal (dari samping)
e. Circumferences or girths: contoh lingkar kepala, pinggang
f. Curvatures or arcs: dengan pitameter  untuk ergonomi
g. Soft tissue measurements (skin folds)
 Catatan tambahan
a. Badan: vertex - plantar
b. Tubuh: suprasternalis - symphision
c. Lebar bahu: biacromiale
d. Lengan atas: acromion (A) - radiale
e. Lengan bawah: radiale (R) - stylion
f. Tangan: stylion (Sty) - ductilion (DA)
g. Lebar tangan: jari 2-5
h. Tungkai atas: trochanterior – tibiale (T)
i. Tungkai bawah: tibiale – sphyrion (Sphy)
j. Kaki: sphyrion - plantar
k. Lebar kaki: jari 1-5
l. Lebar panggul: biilliocristale
m. Panjang muka total: trichion - gnation
n. Panjang muka atas: trichion - nasion
o. Panjang muka bawah: nasion (N) – gnation (GN)
p. Lebar muka atas: bizygomation
q. Lebar muka bawah: bigonion
r. Tinggi kepala: vertex (V) - tragion
s. Panjang kepala: glabella - opistocranion (Op)
t. Lebar kepala: bieuryon (Eu)
 Yang harus diperhatikan dalam anthropometry:
a. Alat sudah divalidasi
b. Tinggi dan berat (telanjang/baju standard)
c. Titik anatomis
d. Pengukuran dengan bagian kiri tubuh
e. The sliding/spreading calipers
f. Subject position
g. Series of subject
h. Satuan pengukur an yang sama
 Alat anthropometry:

 Pengukuran yang biasanya dipakai
dalam bidang kedokteran:
a. Ukuran seluruh tubuh (tinggi dan
berat)
b. Tinggi duduk (untuk memperkirakan tinggi ekstremitas bawah)
c. Lebar tubuh (indikasi kesehatan)
d. Lingkar badan
e. Skinfold thicknees (jaringan adiposa subkutane)
f. Lingkar kepala
 Pada Somatotype terdapat 3 komponen yaitu:
1. Komponen 1: Endomorphy (kegemukan) | Endoderm  endomorphy  fatness
Pada masa perkembangan, lapisan endoderm yang akan membentuk jaringan lebih
berkembang, sehingga akan cenderung gemuk.
2. Komponen 2: Mesomorphy (Ideal) | Mesoderm  mesomorphy  musculoskeletal
Pada masa perkembangan, pembentukan muskuloskeletal akan lebih berkembang,
sehingga orang tersebut akan cenderung ideal.
3. Komponen 3: Ectomorphy (Kurus) | Ectoderm  ectomorphy  linearity
Pada masa perkembangan, lapisan ectoderm yang akan membentuk kulit, saraf, dan
darah akan lebih berkembang, sehingga orang tersebut akan cenderung kurus. (otot
dan tulang kecil)
 Heath Carter method
Ex: 2.3-5.4-3.0 (Somatotype rating)
 2.3: Endomorphy rating
 5.4: Mesomorphy rating
1
 3.0: Ectomorphy rating 2
3
 Range of competent rating
Endomorphy : one half-16
Mesomorphy : one half-12
Ectomorphy : one half-9
 10 anthropometric dimension (yang akan kita lakukan dalam praktikum)
a. Tinggi f. Medial calf skin fold
b. Berat g. Biepicondylar breadth of humerus
c. Triceps skin fold h. Biepicondylar breadth of femur
d. Subscapular skin fold i. Upper arm circumference
e. Supraspinal skin fold j. Calf circumference
 Penamaan somatotype
a. 1-7-1: Extreme mesomorphy
7-1-1: Extreme endomorph
1-1-7: Extreme ectomorph
b. 5.4-2.1-6.0: Endo-ectomorph (ada 2 komponen yang besar, dengan selisih lebih dari
0.5 maka komponen yang lebih kecil dapat disingkat kemudian diikuti komponen yang
lebih besar)
c. 3.0-3.4-4: Ideal center
d. 2.2-2.3-5.4: balance ectomorph (nilai 2 komponen yang paling kecil tidak lebih dari 0.5)
e. 5.4-5.7-2.4: endomorph mesomorphy (dapat dibalik, dengan syarat tidak selisih tidak
lebih dari 0.5)
f. 4.1-5.4-2.3: endomorphic mesomorph (komponen yang lebih kecil dapat ditulis
dengan menambahkan –ic kemudian diikuti dengan komponen yang lebih besar bila
selisi lebih dari 0.5)

Komposisi tulang (Matrix):
a. Anorganik: 60% dari matrix tulang, kebanyakan tersusun dari calcium hydroxyapatite
[Ca10(PO4)6(OH) 2] dan CaCO3, citrate, F, Mg, Na, Mn (tidak murni)
b. Organik: 40% dari matrix tulang, kebanyakan tersusun dari kolagen tipe I, Osteopintin,
dan protein lainnya.
Fungsi tulang:
a. Menopang berat tubuh
b. Melindungi organ dalam, misalnya: Costa melindungi Hepar,Cor,dll dan Cranium
melindungi Encephalon
c. Tempat terjadi Hematopoesis
d. Cadangan mineral
Perkembangan osteoblas dan osteoklas

(GH: growth hormone, IGF: insulin like growth factors, PTH: parathyroid hormon)

 Penambahan Asam pada tulang akan berakibat larutnya hidroksiapatit tulang yang
menyebabkan terjadi cekungan pada tulang.
 Naiknya produksi hormon seks sangat penting untuk penambahan massa tulang
 Resiko penurunan massa
tulang akan tinggi pada:
1. Wanita menjelang dan
dalam masa menopause:
Karena kekurangan hormon
estrogen yang harusnya
merangsang osteoblas dan
menghambat osteoklas
2. Hypogonadism: penjelasan
sama seperti poin 1.
3. Kondisi patologis tertentu
4. Penggunaan obat steroid
dan anti-epileptik
 Hal diatas menyebabkan berkurangnya massa tulang dan meningkatnya resiko patah
tulang.
Hormon/Vitamin yang terlibat dalam metabolisme tulang:
 Oestrogen/androgen/GH
 pencernaan  meningkatkan absorbsi
 tulang  menurunkan reabsorbsi
 Glucocorticoids
 pencernaan  menurunkan absorbsi
 tulang  meningkatkan resorpsi/menurunkan pembentukan
 Thyroxine
 menstimulasi resorpsi
 Kalsitonin
 Meningkat ketika serum Ca >2.25mmol/L
 Organ Target:
 Tulang  menurunkan resorpsi
 Kidney  menaikkan eksresi Ca & phosphate
 Vitamin D (cholecalciferol, calcitriol)
 Membantu sintesis osteokalsin
 Kekurangan vitamin D:
 Memburuknya Mineralisasi matriks tulang
 Meningkatnya Resiko fraktur dan kekurangan massa tulang
 Defisiensi Calcitriol  Kekurangan mineralisasi rangka  rickets in Children 
osteomalacia in adults
Metabolisme Unsur-Unsur Tulang
 Kalsium
 Konsumsi perhari yang disarankan: 1000 mg
 Konsentrasi di plasma: 2.2-2.6mmol/L
 Dieksresi: Di Ginjal: - 2.5-10mmol/24 hrs
 Diatur PTH dan vitamin D
 Fosfat
 Kosentrasi plasmik 0.9-1.3 mmol/L
 Absorbsi: Sistem pencernaan (Kolon)
 Eksresi: Ginjal
 Regulasi: PTH
 Magnesium:
 Terlibat dalam homeostasis kalsium dan pembentukan hidroksiapatit
 Kekurangan Mg -> Keabnormalan struktur tulang
 Mengurangi Keasaman darah bersama K
 Potassium
 K2CO3 mengurangi eksresi Ca
 Mengurangi resorpsi tulang
 Zinc: Untuk kerja Alkalin Pospatase dan IGF -1
 Chromium: Untuk Kerja PTH
Sendi adalah sambungan antar tulang. Sendi dibedakan menjadi:
a. Menurut kemampuan geraknya
 Synarthrosis: Tidak bisa digerakan sama sekali
 Amfiarthrosis: Bisa digerakan sedikit
 Diartrhrosis: Bisa digerakan bebas
b. Menurut jaringan yang menghubungkannya
 Articulatio Fibrosa:
 Tidak ada cairan synovial
 Dihubungkan oleh fibrous connective tissue yang mengandung banyak collagen
fiber
 Articulatio Cartilaginea:
 Tidak ada cairan synovial
 Dihubungkan oleh cartilage, umumnya hyaline cartilage
 Articulatio Synovialis: Dilingkupi oleh cairan synovial yang dibungkus fibrous
connective tissue

Art. Fibrous

Gomphosis
Sutura Syndesmosis
(dentoalveolar)

a) Tipe synarthrosis a) Tipe amphiarthrosis a) Tipe synarthrosis
b) Saat bayi, sutura bersifat b) Terdiri dari fibrous b) Jika bergerak ->
amphiarthrosis connective tissue, pertanda patologycal
c) Terdiri dari lapisan tipis fibrous lebih padat dari proccess
connective tissue sutura c) Peg-like dengan
d) Penulangan saat dewasa: socketnya
Synostosis d) Ligamentum
Contoh: Interosseus
e) Hanya terdapat di kepala, penghubung:
membrane, syn.
Cranium Ligamentum
tibiofibularis
periodentale

Contoh: Sutura coronaria, sutura
sagittalis Contoh: Syndesmosis
dentoalveolar
(Sutura coronaria)
(Syn. dentoalveolar)
(Syn. Tibiofibularis)

Art. Cartilaginea

Synchondrosis (Art. cartilaginea primer) Symphisis (Art. cartilaginea sekunder)

a) Tipe synarthrosis a) Tipe amphiarthrosis
b) Hyaline cartilage b) Fibrous cartilage
c) Kartilago mengalami synostosis
menjadi keras
Contoh: Symphisis pubis (membantu
Contoh: Synchondrosis sternocostal 1,
kelahiran + hormone relaxin), symphisis
synchondrosis sphenooccipital (clivus),
manubriosternalis, discus intervertebralis
epiphyseal plate

Art. Sinovialis

a) Tipe diartrosis
b) Articular capsule:
Umum:
a. Fibrous connective tissue: bagian paling luar membran synovial
b. Membran synovial: sekresi asam hialuronat, menyalurkan nutrisi untuk hyaline
cartilage
c. Cairan synovial
d. Hyaline cartilage: mencegah
gesekan antartulang
Tambahan

a. Ligamen
b. Bursa: bantalan untuk
mengurangi gesekan
c. Articular discs atau menisci:
fibrous cartilage,
mengklopkan antar 2 tulang

d. Articular fat pads
Axis: uniaxial, biaxial, multiaxial

 Axis transversal: fleksi, ekstensi
 Axis longitudinal: endorotasi, eksorotasi
 Axis sagittal: abduksi, adduksi

Berdasarkan bentuk permukaan

Articulatio Contoh Fungsi

Articulatio Plana (uniaxial)  Art. acromioclavicular Gliding / sliding
 Permukaan datar  Art. sternoclavicularis movement
 Art. intercarpalia
 Art. intermetacarpalia
 Art. carpometacarpalia
 Art. tarsal
 Art. sacroiliaca
Articulatio Gynglymus (uniaxial)  Art. humeroulnaris Flexi dan ekstensi
 Bentuk engsel  Art. interphalangea
Articulatio Throcoidea (uniaxial)  Art. radioulnar Rotasi (pivot)
 Permukaan mirip roda proximal/distal
 *Tidak bisa 360 derajat karena ada  Art. atlantoaxial
ligament
Articulatio Sellaris (biaxial)  Art. carpometacarpalis 1
 Permukaan sedal/ pelana

Articulatio Satu condylus  Art.humeroradialis Fleksi-ekstensi
Condyloidea (biaxial)
Abduksi-adduksi
 Permukaan
condylus (kedua gerakan tsb
dengan fossa membentuk gerakan
sirkumduksi)

Dua condylus  Art. femorotibialis Fleksi-ekstensi
(uniaxial)  Art. atlantooccipital
Articulatio Ellipsoidea (biaxial)  Art.
 Dataran sendi elips metacarpophalangea
*Biasanya disamakan dengan Art.  Art. radiocarpal
condyloidea satu condylus
Articulatio Spheroidea (multiaxial)  Art. humeri Gerakan hampir
 Bentuk bola dan mangkuk  Art. coxae kesemua arah
Gerakan-gerakan pada sendi

 Fleksi: gerakan menekuk atau  Endorotasi: gerakan mengelilingi
mengurangi sudut antar bagian aksis panjang menuju ke dalam
tubuh  Exorotasi: gerakan mengelilingi
 Ekstensi: pelurusan atau penambahan aksis panjang menuju ke luar
sudut  Sirkumduksi: gerakan memutar
 Oposisi  Elevasi: mengangkat
 Reposisi  Depresi: menurunkan
 Pronasi: gerakan telapak tangan  Eversi: gerakan kaki ke lateral
menghadap posterior  Inversi: gerakan kaki ke medial
 Supinasi: gerakan telapak tangan  Protrusi: gerakan ke depan
menghadap anterior  Retrusi: gerakan ke posterior
 Protraksi: gerakan ke depan bahu
 Abduksi: gerakan menjauhi bidang  Retraksi: gerakan ke belakang bahu
tengah  Dorsofleksi: gerakan gelang kaki
 Adduksi: gerakan mendekati bidang keatas
tengah  Plantarfleksi: gerakan gelang kaki
ke bawah

(Extensi-fleksi) (Oposisi-reposisi) (Supinasi-pronasi)

(Abduksi-adduksi)
(Endorotasi-eksorotasi)

(Eversi-inversi)
(Elevasi-depresi)
(Sirkumduksi)
(Protrusi-retrusi)

(Protraksi-retraksi)

(Dorsofleksi-plantarflesi)

Contoh-contoh articulation:

 Articulatio globoidea, spheroidea (gelang bahu)
 Articulatio cubiti (siku): humero-ulnaris & humeroradialis + articulatio radioulnaris
proximalis
 Art. Sacroiliaca: Antara sacrum dan iliaca coxae
o Art. plana: berguna untuk transfer berat badan
 Articulatio coxae: Caput femuris dan asetabulum
o Fovea capitis femoris: tempat pelekatan ligamentum capitis femoris (salah
satu contoh ligament dalam sendi)
 Articulatio genu (lutut): femoro-patellaris & femorotibialis + articulatio tibiofibularis
proximalis
o Pada saat fleksi – sedikit rotasi
o Meniscus medialis & lateralis: Fibrous cartilage untuk meratakan permukaan
sendi
o Ligamentum cruciatum anterior & posterior: Berguna untuk mencegah
hiperekstensi. Rentan sobek
 Articulatio talocruralis (ankle joint)
Articulatio subtarsalis
Articulatio metatarsophalangea
Articulatio interphalangea
 Ankle joint (talocruralis) & Subtalar joint
o Dorsofleksi & plantarfleksi
o Eversi & inversi

Endokrinologi (endo: di dalam; crine: kelenjar; logy: ilmu) adalah cabang biologi yang
mempelajari tentang kelenjar endokrin, penyakit yang berkenaan pada kelenjar endokrin,
serta zat hasil sekresi yang disebut hormon. Hormon adalah chemical messenger (penyampai
pesan kimia) yang jumlahnya sedikit, tidak pernah banyak, dan dihasilkan oleh sekelompok
jaringan tertentu dalam tubuh. Kuantitas hormon di luar batas normal menyebabkan dampak
signifikan di dalam tubuh.

Sistem endokrin merupakan regulator utama kondisi tubuh bersama-sama dengan
sistem saraf. Sistem endokrin telah dimiliki sebelum zygote terbentuk (spermatozoa dan
oosit sudah memiliki sistem endokrin). Kelenjar endokrin di dalam tubuh menghasilkan
hormon-hormon tertentu yang dibutuhkan tubuh untuk homeostasis.
Sistem Saraf Sistem Endokrin
Respons terhadap rangsang cepat Respons terhadap rangsang lambat (produksi
hormon tercepat adalah hormone adrenalin
yakni 1 menit)
Pembawa impuls adalah neuron Pembawa impuls adalah aliran darah

Responsnya langsung terhadap rangsang dari Responnya tidak langsung terhadap rangsang
luar dari dalam
[Contoh kasus adalah pada fenomena terkejut: sistem saraf mengaktivasi simpatis dan sistem
endokrin meningkatkan hormon adrenalin. Keduanya berjalan beriringan. Adrenalin
terdegradasi (dalam waktu yang lama) kemudian diambil alih oleh hormon kortisol untuk
aktivasi hormon lain.]

Sejarah Endokrinologi
Claude 1872 Menyadari eksistensi perubahan kondisi internal tubuh
Bernard disebabkan oleh koordinasi dan komunikasi sel-sel penyusun
tubuh

Brown- 1889 Mengekstraksi testis hewan dan menyuntikkannya pada tubuh
Séquard manusia yang berakibat meningkatnya kekuatan, kecerdasan, dan
potensi seksual manusia tersebut.

Murray 1891 Penyembuhan myxoedema dengan ekstrak tiroid
Oliver dan 1894 Ujicoba epinephrine pada penderita hypotensi: Menyuntikkan
Schaefer ekstraksi gliserin dari medulla ginjal sapi pada manusia (anaknya)
dan mengobservasi kontraksi dinding arteri yang menyebabkan
menyempitnya radius pembuluh arteri. (serem ya,jangan ditiru .__.)

[Pengujicobaan ini melanggar bioetik kedokteran. Pada jaman ini,
analisis dan observasi dokter harus evidence-based. Praktik ini
hanya boleh dilakukan pada hewan yang sesuai karakternya
dengan manusia, e.g: testis manusia diganti testis tikus (testis
tikus memiliki karakter mendekati testis manusia)]
Bayliss dan 1903 Penemuan secretin
Starling
Bouin dan 1904 Menjelaskan peran sel Leydig pada diferensiasi fenotip laki-laki.
Ancel Memberikan istilah ‘hormon’ yang berarti ‘menyenangkan’ pada
senyawa regulator tubuh yang dihasilkan oleh sel-sel tertentu
MacCallum 1909 Menemukan hubungan kelenjar paratiroid dan metabolisme
dan Voetlin kalsium
Artur Biedl 1910 Penerbitan textbook endokrinologi yang melibatkan 8500
referensi

Farmi dan Von 1913 Penyembuhan diabetes insipidus dengan ekstrak pituitary
Den Velden posterior
Evans dan 1921 Mengemukakan hormon pertumbuhan
Long
Banting dan 1922 Penemuan insulin
Best
Doisy, E.A 1936 Pengenalan endokrinologi yang meliputi:
 Identifikasi sel-sel produsen hormon
 Pengembangan bioassay untuk identifikasi hormon
 Penyiapan ekstrak aktif untuk dimurnikan dengan
menggunakan bioassay yang tepat
 Isolasi dan identifikasi struktur serta sintesis hormone

[sintesis hormon telah diaplikasikan pada banyak hal, e.g: obat
jerawat di kulit dan ventolin untuk asma. Obat-obat sintesis ini
merupakan bahan kimia dengan bentuk reseptor mirip dengan
reseptor hormon yang sesuai] (wah,keren kan:3)

Fungsi Sistem Endokrin:
a. Kelenjar endokrin
 Menghasilkan hormone. Kelenjar utama endokrin yaitu hypothalamus dan
hypophysis
b. Hormon:
 Melakukan homeostasis.
Hormon yang bekerja pada sel target tertentu bertujuan untuk mencapai stabilitas
kondisi internal tubuh (lingkungan biokimia yang optimal untuk metabolisme tubuh).
Proses mencapai status quo (normal/stabil) ini disebut dengan homeostasis.
 Mengintegrasi dan mengatur pertumbuhan dan perkembangan
 Mengontrol proses reproduksi seksual (termasuk gametogenesis, fertilisasi, dan
pertumbuhan fetus)

Hormon terbagi menjadi 4 jenis berdasarkan pengaruhnya:
 Hormone sistemik
 Hormone local e.g kholesistokinin dan gastrin
 Hormone major
 Hormone minor e.g ANUP (Atrial Natriuretic Peptide) yang dihasilkan oleh atrium
jantung
Berdasarkan arah sekresinya, kelenjar dibagi menjadi 2, yakni:
a. Kelenjar Endokrin
 Kelenjar tertutup dan dikelilingi oleh pembuluh darah
 Hasil sekresinya digunakan kembali oleh tubuh
 Contoh: kelenjar paratiroid menghasilkan sekret berupa hormon tiroid
b. Kelenjar Eksokrin
 Kelenjar terbuka
 Hasil sekresinya tidak digunakan kembali oleh tubuh
 Contoh: glandula sudorifera menghasilkan sekret berupa keringat

(jadi bedanya endokrin dan eksokrin itu kalo endokrin jalur ke permukaan kulitnya uda
terputus, kalo eksokrin belom, jadi endokrin sekresi ke darah deh, istilahnya karena diputusin
nyari pelampiasan deh:P)

Berdasarkan target cellnya, kelenjar dibagi menjadi 3, yakni:
a. Kelenjar Endokrin
 Target selnya berada jauh dari kelenjar penghasil hormone
 Contoh: hormon tiroid
b. Kelenjar Parakrin
 Target selnya berada di sekitar kelenjar penghasil hormone
 Contoh: hormon steroid kelamin dalam ovarium
c. Kelenjar Autokrin
 Target selnya merupakan sel penghasil hormone itu sendiri
 Contoh: prostaglandin (contoh sel mandiri:3)
(C) AUTOCRINE

Mekanisme umpan balik homeostasis:
a. Umpan balik negatif terjadi ketika laju produksi hormon menurun karena konsentrasi
produk pada tubuh meningkat. Umpan balik negatif mengontrol laju produksi untuk
menghindari akumulasi produk.
b. Umpan balik positif terjadi ketika laju produksi hormone meningkat karena konsentrasi
produk pada tubuh menurun. Laju proses akan terus bertambah sebagai umpan balik
positif selama substrat pembentuk hormon tersedia dan produk hormon tidak terpakai
oleh proses metabolisme tubuh lainnya.

(sekian catatan endokrinologinya~ selamat belajar!:D)
REGIO AXIOAPPENDICULAR ANTERIOR
Otot Origo Insersio Fungsi
Stabilisasi scapula
Thorax: mengangkat
Processus
m. pectoralis minor Costa 3 - 5 sternum dan costae
coracoideus
bagian atas
(membantu inspirasi)

Junction costa 1 Permukaan inferior
m. subclavius dan cartilage 1/3 medial Depressi clavicula
costa 1 clavicula

Permukaan
anterior margo
Costa 1- 8 Protraksi scapula, rotasi
m. serratus anterior medial scapula,
(external surface) scapula
angulus superior et
inferior scapula

REGIO AXIOAPPENDICULAR POSTERIOR
Otot Origo Insersio Fungsi
Pars Descendens
1/3 medial nuchal
elevates scapula; pars
line superior;
m. trapezius 1/3 lateral ascendens depressi
protuberantia
clavicula; acromion scapula; and pars
occipitalis externa;
dan spina scapula media (atau semua
lig. Nuchal; proc.
SUPERFICIAL

pars bersama2) retraksi
Spniosus C7 – C12
scapula
Proc. Spinosus VT
7 - 12, fascia
Extensi/retroversi,
m. latissimus thoracolumbar, Floor of Sulcus
adduksi, dan
dorsi crista illiaca, 3 – 4 intertubercularis
endorotasi art.humeri
costa paling
bawah
Bagian atas margo
m. levator Proc transverses medial scapula,
Elevasi scapula
scapulae VC1 -4 angulus superior
scapula
PROFUNDA

Minor: medial end
m. Minor: lig. nuchal; spina scapula Retraksi scapula dan
rhomboideus proc. spinosus C7 Major: margo rotasi utk depressi
minor et - T1 Major: proc. medial scapula cavitas glenoidalis ; fix
major Spinosus T2-T5 hingga angulus scapula ke thoracic wall
inferior scapula
REGIO SCAPULOHUMERAL
Otot Origo Insersio Fungsi
Pars clavicularis:
1/3 acromial Pars anterior: fleksi dan
clavicula Pars endorotasi art. humeri
acromial: Tuberositas Pars media: abduksi art
m. deltoideus
acromion Pars deltoidea humeri 15 – 90o Pars
spinalis: pinggir posterior: extensi dan
bawah spina eksorotasi art. humeri
scapula

Crista tuberculi
Angulus inferior minor (sebelah Adduksi dan
m. teres major
scapula medial m. endorotasi art. humeri
lattisimus dorsi)

m. Fossa Inisiasi abduksi art
Tuberculum majus
supraspinatus supraspinata humeri (0-15o)

m.
Fossa infraspinata Tuberculum majus Eksorotasi art. humeri
ROTAOR CUFF

infraspinatus

Margo lateral
m. teres minor (bagian inferior) Tuberculum majus Eksorotasi art. humeri
scapula

m. Endorotasi, adduksi,
Fossa subscapular Tuberculum minus
subscapularis endorotasi art. humeri
REGIO BRACHIUM
Otot Origo Insersio Fungsi
Caput brevis: proc
coracoideus Supinasi forearm,
m. biceps brachii Caput longum: Tuberositas radii dalam posisi suppinasi
tuberculum dapat flexi art cubiti
supraglenoidalis

½ distal facies Proc. Coronoideus
Fleksi art cubiti pada
m. brachialis anterior corpus dan tuberositas
semua posisi
humeri ulnae

Membantu fleksi dan
Facies medial os adduksi art. humeri,
m. coracobrachialis Proc. coracoideus
humeri menahan dislokasi
bahu

Caput longum:
tuberculum
infraglenoidalis
Caput lateral:
facies posterior
humeri, diatas
m. triceps brachii olecranon Extensi art. cubiti
sulcus nervi
radialis Caput
medial: facies
posterior,
dibawah sulcus
nervi radialis

Lateral surface
Epicondylus olecranon dan pars Membantu triceps
m. anconeus
lateral humeri superior ulna (bag extensi art. cubiti
posteriornya)

REGIO ANTEBRACHIUM ANTERIOR
Otot Origo Insersio Fungsi
m. pronator Pronasi, fleksi art.
SUPERFICIAL

teres Epicondylus Cubiti

m. flexor carpi medialis Fleksi, abduksi wrist
radialis joint
m. palmaris Aponeurosis
Fleksi wrist joint
longus palmaris

m. flexor carpi Fleksi, adduksi wrist
ulnaris joint
INTERMEDIA

m. flexor fleksi art.
Corpus phalanges
digitorum Interphalanges
2-5
superficialis proximal 2-5

m.flexor
Fleksi art.
digitorum
Interphalanges distal
profunda
PROFUNDA

m. flexor Adduksi, oposisi art.
pollicis longus Carpometacarpal 1

m. pronator
Pronasi art. radioulnar
quadratus

REGIO ANTEBRACHIUM POSTERIOR
Otot Fungsi
m. extensor carpi radialis brevis Extensi dan abduksi wrist joint

m. extensor carpi radialis longus ekstensi, abduksi wrist joint

m. extensor carpi ulnaris Extensi, adduksi wrist joint

m. brachioradialis Fleksi art. Cubiti

Extensi wrist joint, art. Metacarpophalanges
m. extensor digitorum
2-5, art. Interphalanges 2-5

Extensi art. Metacarpophalanges 2, art.
m. extensor indicis
Interphalanges 2

Extensi metacarpophalanges 5, art.
m. extensor digiti minimi
Interphalanges 5

m. flexor carpi ulnaris Fleksi, adduksi wrist joint

Extensi, abduksi wrist joint, ekstensi reposisi
m. abductor pollicis longus
art. Carpometacarpal 1

Abduksi, reposisi art. Carpometacarpal 1,
m. extensor pollicis brevis
ekstensi art. Metacarpophalanges 1
Adduksi, reposisi art. Carpometacarpal 1,
m. extensor pollicis longus
ekstensi art. Metacarpophalanges 1

m. supinator Supinasi art. Radioulnaris

REGIO MANUS
Otot Fungsi
m. flexor pollicis brevis Fleksi art. Metacarpophalanges 1

m. abductor pollicis brevis
THENAR

m. adductor pollicis

m. opponens pollicis Oposisi art. Metacarpophalanges 1

m. flexor digiti minimi brevis Fleksor jari 5
HYPOTHEN

m. opponens digiti minimi Oposisi jari 5
AR

m. extensor digiti minimi Extensi dan abduksi jari 5

m. lumbricales Fleksi art. Metacarpophalanges dan extensi
art. Interphalanges

m. interossei palmaris Adduksi phalanges

m. interossei dorsalis Abduksi phalanges

Tambahan:
1. Tabatiere anatomicum
Bagian lateral: abduktor pollicis longus (paling lateral); ekstensor pollicis brevis
Bagian medial: extensor pollicis longus
2. Ekstensor pollicis longus dan abduktor pollicis brevis letaknya menyilangi m. Flexor carpi
radialis
3. M. Lumbricales letaknya di antara tendon, sedangkan m. Interossei etaknya di antara os
metacarpal
4. Jaringan ikat yang letaknya di dekat pergelangan tangan = retinakulum. Ada 2:
retinakulum musculorum fleksorum (anterior), retinakulum musculorum ekstensorum
(posterior)
1. Preparat Flat Bone (Tulang Tengkorak)
sayatan melintang/transversal
 Pewarnaan Hematoxyline-Eosin
(HE)
 Untuk pewarnaan dengan HE, maka
jaringan tulang akan di dekalsifikasi
dahulu
 Tujuan pewarnaan dengan HE
adalah melihat struktur sel-sel
penyusun tulang
 Dapat melihat struktur compact bone dan spongy bone
Compact bone: diatas dan bawah
Spongy bone: ditengah
 Dengan perbesaran kuat, maka
struktur yang dapat dilihat adalah
1. Bone matrix
2. Osteoblas
 biasanya ada di perifer
matrix dengan bentuk sel
cuboid hingga columnar
 berjejer rapat
 tidak terkurung oleh lakuna
 sitoplasmanya bersifat basofilik
 berfungsi untuk sintesis komponen penyusun matrix tulang
(bila di perifer matrix terdapat sel-sel yang menyerupai osteoblas tetapi memiliki
bentuk sel pipih, maka itu adalah sel osteoprogenitor. Sel osteoprogenitor adalah
sel pembentuk osteoblas)
3. Osteosit
 terdapat di dalam lakuna
 terperangkap dalam matrix
 sitoplasmanya bersifat asidofilik
 Catatan: osteoklas tidak dapat diamati
2. Preparat Compact bone-transverse section (Preparat gosok)
 Tujuan preparasi hanya digosok
adalah untuk memperlihatkan
susunan osteon, lamellae dan
kanal-kanal disekitarnya
 Perbesaran lemah
 Lamela Sirkumferens externa
(luar): berada tepat di bawah
periosteum
 Lamela Osteoni (Lamela
Konsentris): mengitari Haversian
canal
 Lamela Interstitial: berada
diantara osteon
 Lamela Sirkumferens interna
(dalam): berada di perbatasan
tulang kompak dan tulang spons
 Perbesaran kuat
 Osteon
 Lacuna ossea: ketika masih
hidup, sel osteosit ditemukan di
dalam lacuna ossea (harus
menjawab lacuna ossea, karena
ada lacuna cartilagea)
 Canaliculi ossei: celah-celah
silindris halus yang menerobos
matriks. Fungsinya adalag
menghubungkan osteosit satu
dengan lainnya untuk pertukaran zat dan komunikasi sel. Struktur yang mengisi
canaliculi ossei adalah Processus cytoplasma osteocyte
 Haversian canal: berisi pembulu darah, pembuluh limfa, dan saraf.
 Volkmann’s canal: menghubungkan antar haversian canal.
(Catatan: bila dalam pemotongan transversal, haversian canal merupakan titik ditengah
lakuna, sedangkan volkmann’s canal akan terlihat memanjang. Sedangkan pada
pemotongan longitudinal, haversian canal akan terlihat memanjang, sedangkan
volkmann’s canal akan terlihat seperti titik-titik.)

3. Preparat Synovial Joint- Longitudinal section
 Pewarnaan hematoxylin-eosin (HE)
 Perbesaran lemah:
 Epiphysis: Berisi spongy bone. Bila dalam praktikum, terlihat titik-titik ungu yang
banyak. Titik-titik ungu itu adalah prekursor sel darah.
 Diaphysis
 Articular cartilage: Jenis kartilagonya adalah kartilago hialin
 Epiphyseal cartilago
 Articular cavity
 Membran synovial
Membran synovial terdiri dari 2 sel, yaitu synoviocyte dan fibroblas. Synoviocyte
berada di tepi sedangkan fibroblas berada di tengah. Synoviocytes disebut epitel-
like, tetapi tidak memiliki lamina basal. Synoviocytes akan menghasilkan asam
hialuronat yang merupakan jenis glikosaminoglikan yang banyak terdapat di
cairan synovial.
 Ligamen (Fibrous capsule): Terdiri dari banyak serat kolagen.

 Perbesaran kuat
 Synovial membran dan
pembuluh darahnya
 Synoviocytes
 Serabut kolagen
 Articularis cartilago
 Chondrocytes: berada di dalam lacuna cartilagea
 Trabecular bone
 Epiphyseal plate: Tempat pertumbuhan tulang (pemanjangan tulang).
Peralatan pemeriksaan fisik:
1. Inspeksi
 Lampu kecil (senter)
 Kaca pembesar
 Oto-opthalmoskop
 Nasal illuminator
 Vaginal speculum
 Pita pengukur
 Kartu penilai ketajaman mata (snellen chart)
 Pengukur waktu
 Termometer
 Penimbang berat badan (tadi dipakai)
 Pengukur tinggi badan (tadi dipakai)
2. Palpasi
 Cotton bud
 Kain kasa
 Sarung tangan (tapi waktu skills lab tadi ga pake sarung tangan)
 Gel pelumas
3. Perkusi
 Reflex hammer (waktu skills lab tadi pake jari tangan)
4. Auskultasi
 Stetoskop (waktu skills lab tadi dipakai)
 Sphygmomanometer
 Garpu tala: 128 Hz dan 512 Hz
 Penghitung waktu

Prosedur pemeriksaan pasien:
1. Persiapan alat dan baca rekam medis pasien (cmiiw)
2. Perkenalan:
 Selamat datang, dengan ibu/bapak/nona/anak …… ya?
 Perkenalkan saya dr. (type your name here) dokter jaga di sini,
 Ada yang bisa saya bantu?
 Untuk keperluan apa?
 (Inform concern lisan) Jadi nanti saya akan memeriksa badan bapak/ibu, nanti
mungkin perlu membuka baju sedikit untuk keperluan diagnosis, dan mungkin nanti
bapak/ibu akan merasa sedikit kurang nyaman, apakah bapak/ibu bersedia?
 Ukur BB, TB (sambil lihat kondisi umumnya)
3. Wawancancara keluhan (anamnesis)
Bila pertanyaan tepat bisa 80% sdh tau kondisi penyakit pasien (kerangka pola pikir
dalam menentukan kemungkinan semacam hipotesis)
4. Sebelum memeriksa, ulangi ringkasan keluhan pasien secara umum
5. Pemeriksaan fisik, duduk / berbaring, dokter di kanan pasien
6. Buat rangkuman pemeriksaan
7. Edukasi tentang penyakit yang diderita dan negosiasi rencana ke depan
8. Buat surat resep, surat penunjang, surat rujukan (bila sakit), atau buat surat keterangan
sehat (tergantung maksud kedatangan pasien)
9. Penutup
 Tanyakan pasien apa ada yg ingin ditanyakan lagi
 Jabat tangan terima kasih

Jenis pertanyaan saat anamnesis:
1. Open question: dokter memancing pasien u/ menjelaskan keluhannya
2. Closed question: dokter member pertanyaan to the point ttg penyakit / keluhan pasien
(yes/no question)

Pemeriksaan fisik:
1. INSPEKSI (melihat) *o*
Pemeriksaan dengan observasi secara seksama sejak pasien memasuki ruangan.
 Hal yang diinspeksi:
 Penampilan
 Status gizi
 Karakter tubuh
 Kondisi tubuh
2. PALPASI (meraba) ~(^.^)~
Dengan gunakan sensasi tactile (ujung jari) untuk mengetahui kondisi suatu organ.
 Hal yang dipalpasi:
 Denyut nadi
 Lymph node
 Permukaan tubuh (halus/kasar,rata/ tidak, keras /lunak, temperatur(dorsum
manus))
 Info yang ingin didapat: sensivitas rasa sakit, tekanan otot, dan massa (tumor)
 Tangan digosok dulu supaya hangat
 Jari yang digunakan:
 Jempol + telunjuk  tentukan ukuran (SIZE)
 Jari II-V  tentukan keberadaan (LOCATION)
 Jari II-III  raba denyutan (PULSE)
 Palmar manus (telapak)  rasakan getaran (VIBRATION)
3. PERKUSI (mengetuk) “tuk tuk”
Periksa dengan jari tangan:
 D. tertius sinistra (j. tengah kiri) hiperekstensi di permukaan yg diperkusi
 Ketuk sendi interphalangeal yg lebih proximal 2x dengan jari tengah dextra (rileks
dan ringan). Periksa dada dan perut. Jenis bunyi:
 Resonansi (sonor) [sangat nyaring bergema (ada banyak ruangan)]: paru-paru
normal
 Tympani [nyaring mirip drum]: udara di lambung usus normal
 Redup (dullness)[lembut mirip gedebuk]: hepar, kandung kemih, uterus
kandungan
 Hiperresonansi: paru-paru hiperinflasi (emfisema)
 Flatness: otot
4. AUSKULTASI (dengan stetoskop)
Pemeriksaan fisik dengan dengarkan bunyi dari bantuan stetoskop. Bunyi yang di dengar:
jantung, trakea, paru-paru, usus pembuluh nadi.
 Earpiece posisi runcing menghadap anterior
 Sesuaikan posisi bell/ membran
 Hangatkan bel/ membrane
 Permukaan stetoskop:
 Membran (berselaput luas)
Transmisikan bunyi frekuensi tertinggi & saring yg frekuensi rendah
 Bell (bentuk corong)
Transmisikan bunyi frekuensi terendah
 Untuk periksa abdomen bisa dengan bel dan diafragma stetoskop.
 Jenis suara:
 Napas  frekuensi tinggi, sisi membrane (pada spatium intercosta inspirasi lebih
kencang daripada ekspirasi, trachea inspirasi lebih kencang daripada ekspirasi)
 Denyut  frekuensi rendah, gunakan sisi bell pada daerah jantung, nadi (aorta,
arteri renal, arteri inguinal)
 Peristaltik  area abdomen dengan sisi membran

(Semangat belajar ya teman-teman semua! Maaf banget ya kalau HSC edisi perdana ini
ngaret banget dari waktu yang seharusnya.) ~~~\( ^o^)/