Astrid Safira Idham

 Klasik

 Kartu Lipat

 Majalah

 Mozaik

 Bilah Sisi

 Cuplikan

 Kronologis

1.

Apr

2

LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROTEKNIK PEMBUATAN
PREPARAT MELINTANG DENGAN
METODE PARAFIN

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROTEKNIK TUMBUHAN

PERCOBAAN I

PEMBUATAN PREPARAT MELINTANG DENGAN METODE PARAFIN

NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM

NIM : H411 13 341

KELOMPOK : VII (TUJUH) A

HARI/TANGGAL : RABU / 04 MARET 2015

ASISTEN : NURUL QALBY

LABORATORIUM BOTANI

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2015

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumbuhan terdiri atas kumpulan sel-sel, yang mempunyai asal, fungsi serta

struktur yang sama dan disebut jaringan. Berdasarkan sifatnya, ada dua macam jaringan

yang menyusun tubuh tumbuhan, yaitu jaringan muda dan jaringan dewasa. Jaringan

muda mempunyai sifat membelah, sehingga mempunyai fungsi menambah panjang akar

maupun batang, karena biasanya terdapat pada bagian ujung. Pertumbuhan yang diawali

oleh jaringan-jaringan yang letaknya di bagian ujung dikenal sebagai pertumbuhan

primer, dan semua jaringan yang terbentuk jaringan primer. Tumbuhan monokotil

melengkapi daur hidupnya hanya dengan pertumbuhan pimer saja, tetapi tumbuhan

dikotil batang dan akar dapat mempertebal diri melalui proses yang disebut pertumbuhan

sekunder (Sumardi, Pudjoarinto, 2002).

Sel tumbuhan mempunyai bentuk, ukuran dan struktur yang bervariasi. Struktur

sel rumit, namun demikian semua sel mempunyai persamaan dalam beberapa segi dasar.

Jaringan yang menyusun tumbuh-tumbuhan terdiri dari jaringan muda dan dewasa.

Jaringan-jaringan ini dapat ditemukan pada bagian akar, batang dan daun tumbuhan.

Jaringan ini dapat dilihat dengan membuat suatu preparat penampang dari bagian-bagian

tumbuhan (Sugiharto, 1989).

Mikroteknik secara umum didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari metode

pembuatan preparat mikroskopis, baik preparat hewan maupun tumbuhan, menganalisis

preparat mikroskopis dan melakukan mikrometri, serta membahas manfaat preparat bagi

perkembangan keilmuan dan dukungan terhadap kehidupan manusia. Sedangkan

mikroteknik tumbuhan merupakan teknik dalam pembuatan preparat mikroskopis

tumbuhan (Arimurti, 2001). Berdasarkan hal ini, maka dilakukanlah percobaan

pembuatan preparat dengan menggunakan metode parafin.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan preparat pada

akar tanaman jagung Zea mays dengan metode parafin.

1.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan mengenai pembuatan preparat dengan metode parafin, dilaksanakan

pada hari Rabu, 04 Maret 2015, pukul 14.00 - 17.00 WITA yang bertempat di

Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.

sedangkan membran sitoplasma yang asli. Preparat ini menggunakan medium air atau bahan kimia yang mudah menguap. Preparat semipermanen menggunakan media gliserin dan mampu bertahan . Preparat berdasarkan sifat ketahanannya dapat dibedakan menjadi preparat sementara (preparat basah). Jaringan tumbuhan berbeda dengan jaringan hewan dalam satu hal penting yaitu bahwa setiap sel tumbuhan terbungkus yang cukup tangguh yang terutama terdiri dari selulosa. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bentuk kehidupan yang paling sederhana suatu organisme dapat terdiri dari satu sel. yang sesuai dengan membran luar pada sel hewan berada sedikit di sebelah dalam (Sugiharto. Preparat sementara bersifat tidak tahan lama dan biasanya hanya untuk sekali pengamatan. 1989). yang dalam hal ini berkaitan dengan derajat pengayuan (lignifikasinya). preparat semipermanen (1/2 awetan) dan preparat permanen (awetan). 1989). Kelompok-kelompok sel-sel tersebut dikenal dengan jaringan (Sugiharto. Membran tersebut berasal dari sel. Setiap organisme hidup ataupun hasil pertumbuhannya merupakan suatu sumber yang penting sebagai bahan mikroteknik. Tingkat kekerasan jaringan tumbuhan pada umumnya ditentukan oleh tingkat pertumbuhannya. Tubuh tumbuhan secara morfologi terdiri atas unit sel yang dilindungi oleh dinding. Sel-sel dalam tubuh tumbuhan terdapat dalam kelompok yang secara struktural dan fungsional berbeda dengan kelompok sel yang lain. dan masing-masing sel dengan mengadakan kesatuan dengan adanya substansi antar sel.

karena hampir semua jaringan dapat dipotong dengan metode ini. Preparat permanen atau preparat awetan merupakan preparat yang diawetkan menggunakan balsam. Selain diletakkan pada kaca preparat. baik pada tumbuhan ataupun pada hewan (Sugiharto. Pada umumnya untuk melihat jaringan atau organ ini dilakukan dengan bantuan mikroskop. 1989). Mikroteknik atau teknik histologi ini akan dipelajari ilmu atau seni untuk mempersiapkan organ. Sehingga preparat permanen dapat bertahan beberapa lama (Arimurti. Metode parafin saat ini banyak digunakan. spesimen tadi umumnya dilindungi dengan kaca penutup. Kebaikan-kebaikan metoda ini . lactophenol atau senyawa lain sebagai agen mountingnya. Pembuatan preparat dengan metode parafin adalah metode yang paling umum digunakan untuk pembuatan preparat permanen. jaringan atau bagian yang lainnya untuk dapat diamati dan dipelajari dengan lebih teliti. Pengamatan secara mikroskopis dari suatu jaringan dalam berbagai kondisi dan berbagai elemen jaringan dapat diamati atau diteliti melalui preparat permanen yang dibuat dengan metode parafin. 2001).untuk sekitar seminggu penyimpanan. Metode parafin termasuk metode sayatan yang banyak digunakan. gliserin jelly. 1989). Suatu spesimen mikroteknik dapat merupakan sebagian ataupun keseluruhan dari struktur yang ditetapkan. karena hampir semua macam jaringan dapat dipotong dengan baik bila menggunakan metoda ini. karena struktur jaringan secara terperinci pada dasarnya terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. yaitu sepotong kaca yang sangat tipis ataupun plastik yang tembus pandangan yang direkatkan di atas specimen (Sugiharto.

dehidrasi. tebal irisan rata-rata diatas 10 mikron. Dalam pembuatan preparat utuh diupayakan permanen atau awet agar sewaktu-waktu dapat diamati kembali. 2011) : 1. perembesan dan pengeblokan parafin serta pewarnaan. diantaranya adalah larutan FAA (Formaldehyde Acetic-acid Alcohol). mengerut dan mudah patah. bila menggunakan metode ini. Dengan adanya preparat utuh maka dapat diamati bagian-bagian jaringan dan jenis sel yang ada dalam satu preparat. Keberhasilan pembuatan preparat permanen ini tergantung pada lima tahap yang utama yaitu fiksasi. perembesan parafin yang bagus dan zat warna yang akan digunakan menentukan keberhasilan preparat irisan (Imron. Larutan fiksatif yang dipilih. Irisan-irisan yang bersifat seri dapat dikerjakan dengan mudah bila menggunakan metode ini. Namun metode parafin juga memiliki kelemahan yaitu jaringan menjadi keras. Irisan utuh suatu spesimen sangat bermanfaat bagi studi pembelajaran. Metode parafin merupakan cara pembuatan sediaan dengan menggunakan paraffin sebagai media penanaman (embedding). penjernihan. Dengan metoda beku. Pematian dan fiksasi Banyak larutan yang dapat digunakan untuk fiksasi. Prosedurnya jauh lebih cepat dibandingkan dengan metode seloidin. Jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakaan. dengan komposisi sebagai berikut: 50% . Langkah-langkah dalam pembuatan sediaan tersebut adalah (Rindi. tapi dengan metode parafin tebal irisan dapat mencapai rata-rata 6 mikron. 2008). 2008).adalah irisan yang dihasilkan jauh lebih tipis dari pada menggunakan metoda beku atau metoda seloidin. Sebagian besar enzim- enzim akan larut dengan metode ini (Imron.

kemudian tekanlah seluruh kotak kedalam air sampai parafin membeku. 4. Penyayatan Potong balok parafin menjadi balok-balok kecil yang masing-masing mengandung sebuah bahan. atau 70% etilalkohol 90 cc. Lama fiksasi dalam FAA bagi bahan yang kecil atau tipis minimum 12 jam sedangkan untuk bahan yang besar atau tebal 24 jam. Perhatikan bahwa sisi .5 cm segera dimasukkan ke dalam larutan FAA dengan perbandingan 1: 20 (bahan 1/20 volume FAA). letakkan kotak kertas dalam air dingin. 3. kemudian sebelum parafin membeku masukkan bahan. Penanaman (Embedding) Buat kotak keras yang agak tebal dengan ukuran kira-kira 5 X 2. tidak boleh lebih delapan potong didalam vial. Setelah bahan dipotong kira-kira 0. Asam asetat glacial 5 cc Formalin 40 % 5 cc. Jumlah larutan dipakai hannya tepat menutupi bahan. Lakukan hal itu beberapa kali sehingga balok parafin menempel dengan kuat pada balok kayu. Permukaan dari balok parafin yang telah ditempelkan sebaiknya empat persegi atu bujur sangkar. Penempelan dilakukan dengan mencairkan sebagian balok parafin dengan jarum yang telah dipanasi. kemudian meletakkan balok parafin pada kayu. 2. Baru setelah itu parafin dapat dikeluarkan dari kotaknya. Setelah parafin membeku dan bahan tidak bergoyang. lalu isi dengan paraffin keras yang cair dalam vial tadi. Balok-balok parafin itu ditempelkan pada balok kayu menurut arah sayatan yang dikehendaki. atau dapat juga dimasukkan kedalam freezer sampai seluruh parafin sama sekali membeku. Pencucian Pencucian dilakukan 2 kali dalam waktu 3 jam dengan akohol 50%.5 X 2 cm (panjang X lebar X tinggi). Atur bahan tersebut dalam kotak kertas dengan menggunakan jarum yang dipanaskan dengan lampu alcohol atau spritus dan beri label. Biarkan permukaan parafin membeku.

Pita parafin hasil sayatan disimpan pada kotak karton atau baki preparat. yaitu (Imron. Pada waktu pemutar mikrotom dijalankan.  Irisan-irisan yang bersifat seri dapat dikerjakan dengan mudah bila menggunakan metode ini. Peganglah sayatan-sayatan parafin yang berbentuk pita itu dengan kuas halus. Bahan yang ada dalam balok parafin disayat dengan mikrotom putar (rotary microtome). . horizontal harus benar-benar sejajar. Pasang pisau pada mikrotom. kelebihan dari metode ini adalah :  Irisan yang dihasilkan jauh lebih tipis dari pada menggunakan metoda beku atau metoda seloidin. Sebaiknya pemotongan dilakukan di ruangan ber-AC. Sebelum dipotong balok yang telah ditempeli bahan dan pisau didinginkan dahulu dengan air dingin (kulkas). karena hampir semua macam jaringan dapat dipotong dengan baik bila menggunakan metoda ini. Terdapat kelebihan dan kekurangan dalam pembuatan preparat dengan menggunakan metode parafin diantaranya. Kelebihan Metode parafin sekarang banyak digunakan. tebal irisan rata-rata diatas 10 mikron.  Prosedurnya jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan metode lainnya. Aturlah tebal sayatan (biasanya antara 6-15 mikron) dengan memutar skrup pada sisi kanan mikrotom. Balok kayu yang telah ditempel dengan balok parafin dipasang pada pemegang yang terdapat pada mikrotom. Dengan metoda beku. bahan dalam parafin yang telah diletakkan pada pemegang bergerak naik turun dan maju kedepan. sehingga suhu parafin sama dengan suhu pisau. 2008) : A.  Tebal irisan dapat mencapai rata-rata 6 mikron.

Kekurangan Metode paraffin juga memiliki kelemahan yaitu :  Jaringan tumbuhan menjadi keras mengerut dan mudah patah.B. bila menggunakan metode ini.  Sebagian besar enzim-enzim akan larut dengan metode ini. .  Jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakaan.

BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Alat Percobaan

Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu pipet tetes, botol sampel, gelas

ukur, objek glass, deck glass, silet, dan pinset.

3.2 Bahan Percobaan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu Jagung Zea mays, aquadest,

alkohol, formalin, asam asetat glasial, parafin, dan xylol.

3.3 Prosedur Kerja

1. Fiksasi FAA selama 30 menit, fiksasi ini bertujuan untuk mengawetkan semua

struktur sel sehingga sedapat mungkin berada dalam keadaan sama atau hampir sama

dengan pada waktu masih hidup.
2. Pencucian dengan aquadest sebanyak 3 kali selama beberapa menit.

3. Dilakukan dehidrasi dengan alkohol bertingkat 70%, 80%, 90%, dan 96% masing-

masing 5 menit. Dehidrasi ini bertujuan untuk menarik air keluar dari jaringan dan

akan digantikan dengan alkohol
4. Dealkoholisasi dengan menggunakan alkohol-xylol perbandingan 3:1, 1:1, 1:3

masing-masing 10 menit. Dealkoholisasi ini bertujuan untuk menarik alkohol keluar

dari jaringan dan digantikan dengan xylol.
5. Dilakukan penjernihan dengan menggunakan xylol murni. Penjernihan ini dilakukan

sebanyak 2 kali yaitu xylol murni I 5 menit dan xylol murni II 5 menit. Penjernihan

ini dilakukan untuk menarik sisa alkohol yang masih terdapat dalam jaringan.
6. Infiltrasi terbagi atas infiltrasi I dan II. Infiltrasi I dilakukan dengan menggunakan

xylol-parafin dengan perbandingan 1:9 kemudian dilakukan infiltrasi II yaitu dengan

menggunakan parafin murni selama 30 detik. Infiltrasi ini bertujuan untuk

mengganti campuran xylol/parafin dengan parafin murni.
7. Setelah itu dilakukan penanaman/embedding menggunakan parafin yang padat.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
a. Gambar Penampang melintang Pada Akar Jagung Zea mays

GAMBAR
KETERANGAN
(Penampang melintang Pada Akar Jagung Zea mays)

5
4
3 1. Epidermis
2 2. Kortex
1 3. Floem
4. Endodermis
5. Xylem

b. Gambar tahapan kerja pada pembuatan preparat dengan metode parafin

2 Rumus Perhitungan Jumlah Larutan 1.75= 16.75 mL Banyak aquadesh yang digunakan = 100 – 93.33 mL Banyak aquadesh yang digunakan = 100 – 83.25 mL Perbandingan alkohol xylol Alkohol-xylol 3:1 Alkohol yang digunakan 7.5 ml Alkohol-xylol 1:1 Alkohol yang digunakan 5 ml dan xylol yang digunakan 5 ml Alkohol-xylol 1:3 Alkohol yang digunakan 2.2 Pembahasan .5 ml dan xylol yang digunakan 7.5 m 4.4.M2 V1 x 96 = 100 x 70 96V1 = 7000 V1 = 7000/96 = 72.M2= V1 x 96 = 100 x 80 96V1 = 8000 V1 = 8000/96 = 83. Rumus Pengenceran : V1.5 ml dan xylol yang digunakan 2.M1 = V2.91 mL Banyak aquadesh yang digunakan = 100 – 72.67 mL Pengenceran 90 % V1 x 96 = 100 x 90 96V1 = 9000 V1 = 9000/96 = 93.M1 = V2.1.M1 = V2.33 = 16.91 = 27.M2 Pengenceran 70 % V1.09 mL Pengenceran 80 % V1.

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui tahapan-tahapan pembuatan preparat akar jagung Zea mays dengan menggunakan metode parafin. baik pada tumbuhan ataupun pada hewan. 90 %. baik preparat hewan maupun tumbuhan. Mikroteknik secara umum didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari metode pembuatan preparat mikroskopis. Pengamatan secara mikroskopis dari suatu jaringan dalam berbagai kondisi dan berbagai elemen jaringan dapat diamati atau diteliti melalui preparat permanen yang dibuat dengan metode parafin. Metode parafin termasuk metode sayatan yang banyak digunakan. Pemberian alkohol bertingkat dari konsentrasi rendah hingga konsentrasi tinggi bertujuan . hingga 96 %. Pembuatan preparat dengan metode parafin adalah metode yang paling umum digunakan untuk pembuatan preparat permanen. 80 %. tahapan selanjutnya yaitu pencucian dan dehisdrasi. Metode parafin merupakan cara pembuatan sediaan dengan menggunakan paraffin sebagai media penanaman (embedding). Akar jagung Zea mays terlebih dahulu dipotong secara melintang dengan ukuran 2 mm. Pada tahapan dehidrasi ini diberikan alkohol bertingkat dari 70 %. Tahapan selanjutnya yaitu dilakukan fiksasi selama 20 menit. Fiksasi pada tahapan ini bertujuan untuk mengawetkan semua struktur sel sehingga sedapat mungkin berada dalam keadaan sama atau hampir sama dengan pada waktu masih hidup. yang dimana tiap tingkatan alkohol dilakukan dehidrasi selama 5 menit. Setelah akar jagung Zea mays difiksasi. karena hampir semua jaringan dapat dipotong dengan metode ini. Sebenarnya berdasarkan literatur fiksasi pada akar jagung Zea mays dilakukan minimal 24 jam tetapi karena waktu yang tidak memadai dan tujuan awal hanya ingin mengetahui tahapan dalam pembuatan preparat dengan metode parafin ini maka waktu yang digunakan yaiutu 30 menit.

Setelah infiltrasi dilakukan penanaman .agar selnya tidak lisis atau rusak. Sama halnya dengan dehidrasi pada tahapan dealkoholisasi ini dilakukan dari volume alkohol yang terbanyak.M2. Penjernihan ini dilakukan 2x yaitu xylol 1 dan 2 selama 5 menit.M1 = V2. Infiltrasi ini terbagi atas 2 yaitu dengan menggunakan xylox-parafin dengan 1:9 dan dengan menggunakan parafin murni. 1:3. Seperti halnya pada fiksasi tadi. Hal tersebut bertujuan agar sel atau jaringan tidak rusak. Tahapan dehidrasi ini bertujuan untuk menarik air keluar yang berada dalam jaringan untuk digantikan dengan alkohol. Selain itu penjernihan dilakukan dengan menggunakan xylol murni karena alkohol tidak dapat berikatan atau bercampur dengan parafin maka digantikan dengan xylol yang dapat berikatan dengan parafain melalui proses dealkoholisasi dan penjernihan Tahapan selanjutnya yaitu infiltrasi. Penjernihan bertujuan untuk memebersihkan sisa-sisa alkohol yang masih terdapat dalam jaringan. lama penjerihan menggunakan xylol murni berdasarkan literatur yaitu 30 menit. Hal tersebut dilakukan karena xylol yang mampu berikatan dengan parafin sedangkan alkohol tidak. Sama halnya dengan tahapan sebelumnya. Alkohol bertingkat didapatkan melalui pengenceran dengan rumus V1. Dealkoholisasi ini bertujuan untuk menarik keluar alkohol yang berada dalam jaringan untuk digantikan oleh xylol. Selanjutnya yaitu penjernihan dengan menggunakan xylol murni. 1:1. berdasarkan literatur dehidrasi ini minimal dilakukan 30 menit tipa tingkatan alkohol. Tahapan selanjutnya yaitu dealkoholisasi dengan menggunakan alkohol-xylol perbandingan 3:1. Infiltrasi berdasarkan literatur dilakukan selama 24 jam. Tiap perbandingan alkoho-xylol dilakukan selama 10 menit tetapi berdasarkan literatur minimal dilakukan 30 menit. Infiltrasi ini dlakukan untuk menggantikan xylol dengan parafin murni.

dealkoholisasi. 5. dan penanaman/embedding. BAB V PENUTUP 5. fiksasi. Embedding dilakukan dengan menggunakan parafin yang padat. pencucian dan dehidrasi. berdasarkan literatur tahapan pembuatan preparat dengan metode parafin ini setelah embedding yaitu pengirisan dengan mikrotom dilanjutkan dengan perekatan menggunakan campuran gliseri/albumin ayng ditambahkan dengan air kemudian setelah itu dilakukan pewarnaan menggunakan safranin 1% dalam aquades. Tetapi.1 Kesimpulan Setelah melakukan percobaan mengenai pembuatan preparat melintang dengan menggunakan metode parafin dapat diketahui cara pembuatan preparat yaitu dimulai dengan pemotongan akar jagung Zea mays. Dalam percobaan ini tahapan yang dilakukan hanya sampai embedding/penanaman karena tidak terdapatnya mikrotom yang dapat digunakan pada tahap pengirisan. . penjernihan.atau biasa juga disebut dengan embedding.2 Saran Sebaiknya disediakan alat-alat laboratorium yang lebih memadai dan lengkap serta tahapan yang ada di dalam percobaan ini dilakukan dengan maksimal agar praktikum dapat berjalan dengan baik. infiltrasi.

. Bogor. Diakses pada tanggal 7 Maret 2015. 2001. Membuat Preparat Organ. Daniswara. http://cyber- biology. dan Pudjoarinto. A.prak mikroteknik Universitas Brawijaya. Imron. pukul 17. DAFTAR PUSTAKA Arimurti. A. Laporan Praktikum Mikroteknik.com.blogspot. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor.00 WITA. Diposkan 2nd April 2016 oleh Astrid Safira Idham 0 Tambahkan komentar . pukul 17. Universitas Hasanuddin. Rindi. Struktur Perkembangan Tumbuhan. Mikroteknik. Tamyis. Fakultas Pertanian. Makassar. Diakses pada tanggal 7 Maret 2015. Pembuatan Preparat Jaringan Tumbuhan dengan Metode Parafin. http://wararindi. UGM. Yogyakarta. Sugiharto. Lap. 2008. Sumardi. 2004. I. 1989..com .00 WITA. 2011.blogspot.

DAN DAUN TUMBUHAN MONOKOTIL DAN DIKOTIL LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK TUMBUHAN PERCOBAAN IV PEMBUATAN PREPARAT MELINTANG AKAR. BATANG. DAN DAUN TUMBUHAN MONOKOTIL DAN DIKOTIL NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM NIM : H411 13 341 KELOMPOK : VII (TUJUH) A . BATANG.2. Mar 31 LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK PEMBUATAN PREPARAT MELINTANG AKAR.

HARI/TANGGAL : SELASA/21 APRIL 2015 ASISTEN : NURUL QALBY LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR .

Pengamatan dan penelaahan tersebut umumnya menggunakan bantuan mikroskop karena pada objek yang akan diamati dan ditelaah memiliki ukuran yang mikrokopis yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. metode dalam mikroteknik. dinamai demikian karena kotiledonnya (keping atau daun biji) hanya ada satu dan dikotil. sejauh ini angiosperma merupakan kelompok tumbuhan yang paling beraneka ragam dan paling luas. diantaranya metode geser. Sekitar 275. 2015 BAB I PENDAHULUAN I. Mikroteknik merupakan suatu ilmu atau seni mempersiapkan organ. jaringan atau bagian dari suatu jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. 2008). Para ahli membagi angiosperma menjadi dua kelas yaitu dikotil dan monokotil. Teknik-teknik pada pembelajarannya mengacu pada cara preparat itu sendiri dibuat. Masing-masing kelompok tumbuhan tersebut memiliki ciri khusus yang .000 spesies yang telah diketahui.1 Latar Belakang Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan preparat dan sediaan mikroskopis pada umumnya disebut sebagai mikroteknik. yang memiliki dua kotiledon. metode gilas dan squash atau pejetan (Fathiyawati.

3. Adapun beberapa perbedaan tersebut terletak pada struktur anatomi daun.menjadi ciri khas yang membedakan anggota dari masing-masing kelompok tersebut. 2.3 Waktu dan Tempat Percobaan Percobaan Pembuatan Preparat Melintang Tumbuhan Monokotil dan Dikotil dilaksanakan selama 3 hari. Berdasarkan uraian tersebut. batang maupun akar dari masing-masing kelompok tumbuhan angiosperma tersebut (Campbell. 7 April 2015. I.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari dilakukannya percobaan ini yaitu : 1. 14 April 2015. II. 2003). Sedangkan percobaan pembuatan preparat melintang serta epidermis atas dan bawah daun dilaksanakan pada . untuk menambah pengetahuan dan melatih keterampilan mengenai pembuatan preparat tumbuhan monokotil dan dikotil maka dilakukan praktikum ini. Untuk mengetahui perbedaan anatomi akar tumbuhan dikotil dan monokotil berdasarkan preparat melintang yang diamati. Untuk mengetahui perbedaan anatomi batang tumbuhan dikotil dan monokotil berdasarkan preparat melintang yang diamati. Percobaan untuk pembuatan preparat melintang batang dilaksanakan pada hari Selasa. Percobaan untuk pembuatan preparat melintang akar dilaksanakan pada hari Selasa. Untuk mengetahui perbedaan anatomi daun tumbuhan dikotil dan monokotil berdasarkan preparat melintang yang diamati.

Tipe berkas pengangkut pada batang monokotil kolateral tertutup sedangkan batang dikotil memiliki . Jurusan Biologi. Universitas Hasanuddin.00 .hari Selasa. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tumbuhan angiosperma dikelompokkan menjadi tumbuhan dikotil dan monokotil.17.00 WITA yang bertempat di Laboratorium Biologi Dasar. Pada batang dikotil berkas pengangkutnya tersusun rapi sedangkan monokotilnya tersebar. Makassar. Berbeda halnya dengan berkas pembuluh pada akar dikotil maupun monokotil yang sama-sama tersusun rapi dalam endodermis. 21 April 2015. Kedua subcalassis dari tumbuhan Angiospermae ini memiliki perbedaan dan ciri khusus. pukul 14. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Mulai dari akar. Masing-masing kelompok tumbuhan tersebut memiliki ciri khusus yang menjadi ciri khas yang membedakan anggota dari masing-masing kelompok tersebut. daun. terletak berselang-seling struktur . Yang paling jelas mencolok adalah perbedaan dalam susunan pembuluh xilem dan floem. maka dengan sendirinya akar juga tidak memiliki buku-buku tempat melekatnya daun. Secara morfologi. berkas pembuluh pada tumbuhan dikotil terlihat lebih teratur. 2006). Adapun beberapa perbedaan tersebut terletak pada struktur anatomi daun. hingga organ reproduksinya. 2011). Pada akar susunan xilem dan floem tidak terletak berkumpul dalam berkas tetapi terpisah. batang maupun akar dari masing-masing kelompok tumbuhan angiosperma tersebut (Nugroho. Dapat diketahui bahwa perbedaan yang paling mencolok antara tumbuhan monokotil dan dikotil terletak pada berkas pembuluh.tipe kolateral terbuka karena adanya kambium sebagai penghubung berkas pengangkutnya (Mulyani. sedangkan berkas pembuluh pada tumbuhan monokotil terlihat tidak teratur (Sutrian. Terdapat perbedaan baik secara morfologi maupun secara anatomi antara akar dan batang. Tumbuhan monokotil dan dikotil memiliki struktur anatomi organ yang berbeda- beda. akar tidak memiliki daun. Angiosperma tersebut dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yakni kelompok monokotil yaitu tumbuhan berkeping satu dan dikotil yaitu tumbuhan berkeping dua. Pada subdivisio angiosperma terdapat anggota tumbuhan dalam jumlah yang sangat melimpah. Pada batang susunan pembuluh xilem dan floem terletak dalam berkas pembuluh kolateral atau ampivasal. batang. 2005). Secara anatomi terdapat perbedaan antara akar dan batang.

Ujung akar dilindungi oleh tudung akar terhadap kerusakan mekanis. 2011). korteks dan silinder pusat (Ningsih. Ada 3 daerah utama yang berperan penting pada daerah pematangan. Struktur dan perkembangan akar dalam banyak hal mirip dengan pertumbuhan pada batang. Pada waktu akar menembus partikel-partikel yang ada didalam tanah. Jika pada batang ada pertumbuhan primer dan sekunder begitupun dengan akar. dan epidermis. korteks. yaitu : silinder pembuluh. Sedangkan pertumbuhan sekunder pada akar dikotil terdapat cambium yang menyebabkan pembesaran diameter (Pujianti. Ditengah-tengah . Pertumbuhan primer pada akar dikotil menyebabkan akar tersebut tumbuh memanjang masuk kedalam tanah. 2012). 2011). Pada jaringan muda tumbuhan dikotil perkembangan akar melibatkan perkembangan sel-sel yang khusus dan tidak terdiferensiasi menjadi sel-sel matang serta sel-sel khusus yang memainkan berbagai peranan dalam kegiatan-kegiatan akar. baik epidermis akar maupun tudung akar berasal dari lapisan paling luar sel-sel meristem ujung (Pujianti. Pertumbuhan primer pada akar tergantung pada akar bagian ujung dimana bagian itu dikelilingi oleh sel yang berbentuk tudung dan dinamakan tudung akar. Pada kebanyakan tumbuhan dikotil.anatomi akar dapat dibedakan menjadi epidermis.

cambium itu diperluas secara lateral karena diferensiasi inisial cambium didalam perisikel sekeliling ujung jejaring xylem dan juga mulai membentuk tenunan sekunder. Pada kebanyakan dikotil. Cambium akan membentuk xylem sekunder dan floem sekunder keluar. Sedangkan sel-sel floem primer berserakan dalam kelompok diantara jejaring tadi. pertama timbul cambium di dalam parenkim diantara jejaring xylem primer dan didalam floem primer. atau bisa disebut akar cabang. Kemudian. Apabila pertumbuhan sekunder dimulai.akar terdapat silinder pembuluh yang dibangun oleh jaringan pembuluh bersama-sama parenkim. dan . 2011). Sedangkan sel-sel floem berfungsi menyalurkan bahan makanan. kambium pembuluh berbentuk pita yang jumlahnya tergantung tipe akar. 2011). Pada akar diark terdapat dua pita. Sel-sel xylem primer pada tumbuhan dikotil membentuk jejari yang berpusat ditengah-tengah dan berjumlah 2-4. Pertumbuhan sekunder dijumpai di khas pada akar Gymnospermae dan Dicotyledoneae. pada akar triark terdapat akar tiga pita. Akar Monocotyledoneae biasanya tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Kemudian cambium membentuk daerah melingkar didalamnya terdapat xylem sekunder yang secara menyeluruh menyelubungi xylem primer. Pertumbuhan sekunder bersifat khas bagi akar-akar tumbuhan dikotil. sel-sel yang tepat ditengahnya akan berkembang menjadi xylem (Pujianti. Pada awalnya. Floem primer dan endodermis biasanya hancur karena tekanan tenunan yang tumbuh didalamnya (Pujianti. Sel-sel xylem yang berdinding tebal berfungsi menyalurkan air dan mineral. Akar sekunder adalah akar yang tumbuh dari akar lain.

keaktifan kambium pembuluh dan felogen terus terjadi sepanjang tahun. Pertumbuhan sekunder pada berbagai tumbuhan Dikotil menerna berbeda (Pujianti. . Perkembangan akar. Kambium menghasilkan xilem dan floem dengan membelah perinkin dan antiklin sehingga lingkaran akar bertambah besar (Pujianti. Selanjutnya. Pembuluh ini juga mengandung serabut dan sel parenkim. Pada akar tumbuhan menahun (perennial). serabut. kambium melengkapi lingkaran dengan xilem sebagai pusatnya. Peningkatan ketebalan jaringan pembuluh dan perisiklus menekan korteks ke arah luar sehingga korteks menjadi pecah. Gabus merupakan turunan felogen yang berfungsi sebagai jaringan pelindung. Pembentukan periderm mengikuti pertumbuhan pembuluh sekunder. dan sel parenklim. dan pada akar poliark membentuk segi banyak. Kambium berbatasan dengan permukaan dalam floem yang berfungsi membentuk xilem sekunder ke arah dalam dan fleom sekunder ke arah luar. Floem berisi pembuluh dengan sel pengiring. Penampang melintang kambium pada perkembangan awal berbentuk oval. Sel perisiklus terus membelah secara perinkin dan antiklin. Pembelahan perinklin menyebabkan peningkatan jumlah lapisan perisiklus. Sel perisiklus yang terdapat di luar daerah xilem juga menjadi aktif seperti kambium.seterusnya. pembuluh yang tua akan rusak. pada akar diark. seperti halnya pada batang. Pada tumbuhan Dikotil menerna. Felogen di luar perisiklus akan membentuk felem ke arah luar dan feloderm ke arah dalam. misalnya pada Medicago sativa. Floem akan menyatu dengan parenkim di dalam periderm kecuali apabila terrdapat serabut. 2011). Floem di bagian luar hanya berisi serabut dan parenkim. 2011). juga akan membentuk ritidom. segi tiga pada akar triark. xilem sekunder terdiri atas pembuluh dengan penebalan dinding menganak tangga dan memata jala.

Jaringan pembuluh pada batang bisa berasal dari unting-unting prokambium yang terpisah satu sama lain atau berasal dari satu silinder prokambium (Mulyani. Anatomi batang dipengaruhi oleh daun-daun yang terdapat padanya serta terbentuk secara eksogen. . Protofloem akhirnya terdesak dan tidak terlihat lagi (Nugroho. korteks dan jaringan pembuluh pada bagian tengah. Penelitian pada kayu Plantanus menunjukkan bahwa kayu dan akar secara filogenetik lebih primitif daripada batang (Pujianti. 2005). Bila dibanding dengan akar. Pendewasaan dari kedua jaringan tersebut terjadi di antara jaringan-jaringan dengan sel-sel yang sedang aktif memanjang. maka anatomi batang berbeda dengan anatomi akar. Namun. Seperti pada akar. takaran unsur dengan dinding sekunder berlignin lebih kecil dibandingkan pada kayu dan kulit kayu. di jaringan pembuluh biasanya mempunyai banyak sel dengan dinding sekunder yang mengandung lignin. Akar Gymnospermae mempunyai tipe tumbuhan sekunder yang sama dengan akar tumbuhan Dicotyledoneae. Pada pertumbuhan selanjutnya terjadi diferensiasi xilem dan floem xilem sehingga terdapatlah berkas-berkas ikatan pembuluh atau silinder jaringan pembuluh. Protofloem maupun protoxilem berdiferensiasi dalam bagian tumbuhan yang belum selesai pertumbuhannya. Pada akar. penampang melintang batang menunjukkan pula adanya jaringan seperti epidermis. terdapat perbedaan histologi antara akar dan batang. Elemen tapis memanjang pula dan segera kehilangan fungsinya. 2011). Pada akar tumbuhan berkayu. tetapi proporsi jaringan parenkim lebih besar. 2006).

b. apabila seluruh prokambium terdiferensiasi semua maka ikatan pembuluh seperti itu disebut ikatan pembuluh tertutup. Ikatan pembuluh radial. Jaringan-jaringan yang terdapat pada batang tumbuhan adalah sebagai berikut (Pujianti. d. Dracaena sp. Pada saat pembentukan ikatan pembuluh. Tipe ikatan pembuluh ini terdapat pada akar. 2011): . Tipe- tipe ikatan pembuluh dapat dibedakan berdasarkan susunan floem dan xilem adalah sebagai berikut (Mulyani. di sebelah luar xilem terdapat berkas floem yang terbentuk dari luar ke dalam. Ikatan pembuluh kosentris : 1.. Amfikribal yaitu ikatan kosentris dengan xilem dikelilingi floem yang terdapat pada tumbuhan Pteridophyta. kelompok protoxilem berdampingan dengan kelompok protofloem dalam suatu lingkaran. 2. misalnya Cordyline sp. Tipe ini banyak terdapat pada tumbuhan. 2006): a. Amfivasal yaitu ikatan kosentris dengan floem di tengah dikelilingi oleh xilem. Ikatan pembuluh bikolateral yaitu di sebelah luar maupun sebelah dalam dari xilem terdapat berkas floem. Ikatan pembuluh kolateral yaitu tipe ketika xilem terbentuk secara endarch. c. Tetapi apabila pada ikatan pembuluh masih terdapat sisa prokambium yang kemudian terdiferensiasi menjadi kambium pembuluh maka disebut ikatan pembuluh terbuka.

Epidermis. epidermis pada daun tersusun rapat dan dilapisi kutikula yang mengurangi hilangnya air karena transpirasi. terdiri dari parenkim. 3. sebagian besar di tengah korteks. Stoma didapati di kedua belah sisi daun tetapi umumnya di sisi sebelah bawah didapati lebih banyak stoma. Sel-selnya masih hidup dan mampu bermitosis. Bagian tengah empulur sering hancur dan bagian tepi sel-selnya kecil. Pada bagian tepi korteks sering terdapat lapisan-lapisan kolenkim atau serat-serat.1. semua daun memiliki komposisi jaringan yang sama yaitu epidermis. biasanya terdiri dari satu lapisan sel serta memiliki stomata dan bermacam- macam rambut. Terlepas dari bentuk maupun ukuran. Pada daun . merupakan bagian tengah terdiri dari parenkim yang mungkin mengandung kloroplas. Seperti halnya pada batang. 2. Empulur. Namun demikian perbedaan sering tidak begitu nyata. Variasi struktur daun Angiospermae sedikit banyak ada hubungannya dengan habitatnya dan dapat dipakai sebagai ciri tipe ekologi tumbuhan tersebut. seperti mesofit (tumbuhan yang hidup di tempat tidak terlampau basah atau terlampau kering). 2003). daun-daun sering memperlihatkan ciri kombinasi dari berbagai tipe ekologi. hidrofit (tumbuhan hidup di air) dan xerofit (tumbuhan yang hidup di tempat yang kering atau kekurangan air). mesofil dan berkas pembuluh (tulang daun) (Campbell. Ruang antar selnya sangat jelas. 4. biasanya berupa silinder antara korteks dan empulur misalnya pada Gymnospermae dan dikotil atau berupa ikatan-ikatan pembuluh yang terpisah satu dengan lainnya. Jaringan pembuluh. Korteks.

. Sel buliform diduga berfungsi untuk mengatur. 2006). Pada tempat lekukan ini sering juga didapati rambut-rambut epidermis. sedangkan daun-daun yang ada di dalam air tanpa stoma sama sekali. disebut seludang berkas pembuluh (Mulyani. Rambut-rambut epidermis yang lebat mengurangi hilangnya air dari daun (Mulyani. Hal ini umumnya terdapat pada daun Graminae. Seluruh mesofil terdiri dari sel-sel yang hampir sama bentuknya. menggulung dan membuka kembali daun apabila kekeringan. terbenam ke dalam permukaan daun. 2006). Pada sejumlah besar tumbuhan xerofit. stoma berada di tempat lekukan.hidrofit yang daunnya mengapung dipermukaan air. Mesofil pada daun jagung tidak mengalami diferensiasi menjadi jaringan bunga karang dan jaringan palisade. stoma didapati di sisi sebelah atas saja. Terdapat satu lapis deretan sel parenkim berdinding tipis mengelilingi berkas pembuluh. Rambut epidermis atau trikoma sering juga didapati di kedua belah sisi daun. Pada penampang melintang Zea mays ukuran epidermis besar pada epidermis yang adaksial sering didapati sel buliform.

DAFTAR PUSTAKA .

Laporan Praktikum Anatomi Tumbuhan (akar. Diakses pada tanggal 18 April 2015. Erlangga. Hartanto.. dan daun). Fathiyawati. Reece. dkk. 2005. 2011. R. L. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. . Uji Toksisitas Ekstrak Daun Ficus racemosa terhadap Artemia salina Leach dan Profil Kromatografi Lapis Tipis. Penebar Swadaya..Campbell. http://www.com. Pujianti. 2012. Nurlaela. batang. Mulyani. Rineka Cipta. Ningsih. Universitas Muhammadiyah press. 2003. N. Anatomi Tumbuhan. Sutrian. Jakarta. Jakarta. Y. Kendari Nugroho.scribd.. Universitas Holuoleo. Yogyakarta. 2008. S. pada pukul 21. 2011. Kanisius. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan. Anatomi Tumbuhan. Jakarta. 2006.40 WITA. Biologi jilid 1 Edisi kedelapan. Surakarta.

batang. III. Menyiapkan alat dan bahan. pensil.2 Bahan Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah akar.3 Prosedur Kerja III. gliserin. dan label. mikroskop. dan deck glass. kuteks bening. empulur batang ubi kayu Mannihot uttilissima.1 Pembuatan Preparat Melintang Akar Jagung dan Gandarusa Prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah: 1. .3. selotip.1 Alat Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah silet. aquades. III. BAB III METODE PERCOBAAN III. mikroskop. objeck glass. daun dari Jagung Zea mays dan Gandarusa Justicia gendarussa.

Meletakkan hasil irisan pada objeck glass. Memberi label pada preparat dan disimpan ditempat yang baik dan aman. 3. lalu ditutup dengan deck glass. 2. 6. Mengirirs bahan akar dari tumbuhan Jagung Zea mays atau Gandarusa Justicia gendarussa dengan silet secara melintang setipis mungkin dengan bantuan empulur dari batang ubi kayu. III.2 Pembuatan Preparat Melintang Batang Jagung dan Gandarusa Prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah: 1. Mengamati preparat di bawah mikroskop dengan mengatur cahaya. dan perbesaran sehingga mendapatkan gambaran anatomis dari organ tumbuhan. Mengoleskan di sekitar deck glass kuteks bening untuk mencegah adanya kontak dari luar dan agar preparat awet dan melekat. dan perbesaran sehingga mendapatkan gambaran anatomis dari organ tumbuhan. Mengiris bahan batang dari tumbuhan Jagung Zea mays atau Gandarusa Justicia gendarussa) dengan silet secara melintang setipis mungkin dengan bantuan empulur dari batang ubi kayu. Mengamati preparat di bawah mikroskop dengan mengatur cahaya. diteteskan air secukupnya. Memberi label pada preparat dan disimpan ditempat yang baik dan aman. lalu ditutup dengan deck glass.3 Pembuatan Preparat Melintang Daun Jagung dan Gandarusa Prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah: . 4. diteteskan air secukupnya. 5. titik fokus. Mengoleskan di sekitar deck glass kuteks bening untuk mencegah adanya kontak dari luar dan agar preparat awet dan melekat.3. titik fokus. 4. Menyiapkan alat dan bahan. Meletakkan hasil irisan pada objeck glass.3. 6.2. 3. 5. III.

3. Mengiris bahan daun dari tumbuhan Jagung Zea mays atau Gandarusa Justicia gendarussa) dengan silet secara melintang setipis mungkin dengan bantuan empulur dari batang ubi kayu. Mengoleskan di sekitar deck glass kuteks bening untuk mencegah adanya kontak dari luar dan agar preparat awet dan melekat. diteteskan air secukupnya. 4. 3. dan perbesaran sehingga mendapatkan gambaran anatomis dari organ tumbuhan. titik fokus. Menyiapkan alat dan bahan. lalu ditutup dengan deck glass. 6. 2. Mengolesi permukaan daun dari tumbuhan Jagung Zea mays atau Gandarusa Justicia gendarussa) dengan kuteks bening setipis mungkin dan tunggu hingga mengering. 5. Memberi label pada preparat dan disimpan ditempat yang baik dan aman. Menarik selotip kemudian tempelkan pada objek glass. Menggunting selotip bening secukupnya kemudian rekatkan pada bagian epidermis atas dan bawah daun yang telah diberi kuteks. Menyiapkan alat dan bahan. dan perbesaran sehingga mendapatkan gambaran anatomis dari organ tumbuhan. Meletakkan hasil irisan pada objeck glass. III. Memberi label pada preparat dan disimpan ditempat yang baik dan aman. 2. Mengamati preparat di bawah mikroskop dengan mengatur cahaya. titik fokus. 4. . 5. Mengamati preparat di bawah mikroskop dengan mengatur cahaya.4 Pembuatan Preparat Epidermis Daun Jagung dan Gandarusa Prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah: 1.1. 3.

1 Hasil IV.1. Parenkim 3. Korteks 5. Epidermis . Xilem 2.1 Penampang Melintang Akar 1. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV. Floem 4. Akar Jagung Zea mays Keterangan : 1.

.

2. L Keterangan : 1. Korteks . Epidermis 2. Akar Gandarusa Justicia gandarussa. Korteks 5. Floem 4. Parenkim 3.

1.2 Penampang Melintang Batang 1. Batang Jagung Zea mays Keterangan : 1. Xylem 4. Jaringan Dasar 2.IV. Epidermis 3. Floem .

Xylem 3. L Keterangan : 1.Batang Gandarusa Justicia gandarussa. Floem 4. Epidermis 2. Korteks 5. Kambium .

3 Penampang Melintang Daun .IV.1.

Stomata . Sel kipas 4. Xilem 2. Daun Jagung Zea mays Keterangan : 1. floem 3.1.

Xylem 3. Epidermis .2. Stomata 2. Daun Gandarusa Justicia gandarussa L Keterangan : 1. Floem 4.

4 Pengamatan Stomata .1.IV.

Daun Jagung Zea mays Atas Bawah Keterangan : 1.1. Daun Gandarusa Justicia gandarussa .L . Stomata / mulut daun 2.

Stomata / Mulut daun IV. Atas Bawah Keterangan : 1.2 Pembahasan .

berkas pembuluh. xylem primer dan sekunder. sedangkan batang dikotil mengadakan pertumbuhan sekunder oleh aktivitas kambium.2. Pada pertumbuhan sekunder akar dikotil memiliki kambium vaskular dan kambium gabus.2. korteks. sedangkan akar monokotil kekurangan kambium. korteks. sedangkan pada batang dikotil letaknya tersusun dalam lingkaran. empulur. empulur. yang berasal dari sel-sel perisikel dan jaringan penghubung.floem.IV.2 Batang Monokotil dan Dikotil Pada pengamatan preparat melintang batang. maka dapat dibedakan antara batang monokotil dan dikotil yaitu batang monokotil terdiri atas epidermis. sedangkan akar gandarusa Justicia gendarrussa atau akar dikotil memiliki dua fase pertumbuhan. batang monokotil tidak mengalami pertumbuhan sekunder sehingga tidak memiliki kambium. xylem. Selain itu. sklerenkim. sedangkan akar dikotil memiliki empulur yang sangat kecil dibandingkan dengan empulur monokotil atau tidak memiliki empulur.1 Akar Monokotil dan Dikotil Pada pengamatan akar yang telah dilakukan. terlihat bahwa akar jagung Zea mays atau akar monokotil tidak memiliki pertumbuhan sekunder. . sedangkan batang dikotil terdiri atas epidermis. floem primer dan sekunder dan kambium. Selanjutnya berkas pengangkutan (xylem dan floem) pada batang monokotil tersebar tidak beraturan. Akar monokotil memiliki empulur yang selalu berada di tengah. dan berkas pembuluh. IV.

Pada tumbuhan dikotil sistem jaringan dasar (mesofil) dapat dibedakan atas jaringan pagar dan bunga karang. ada kambium di antara xilem dan floem. tidak demikian halnya pada monokotil khususnya famili Graminae. Sistem berkas pembuluh . tidak ada kambium vaskular sehingga tidak dapat membesar. dan pohon Nenas seberang Agave sp. IV.2. batas antara korteks dan stele umumnya tidak jelas. dapat dibedakan antara daerah korteks dan empulur. Pada batang Monokotil. mempunyai kambium vaskular sehingga dapat membesar. Meskipun demikian. empulur tidak dapat dibedakan di daerah korteks. epidermis terdiri dari satu lapis sel. Tidak adanya kambium pada monokotil menyebabkan batang Monokotil tidak dapat tumbuh membesar. tidak memiliki jari-jari empulur. Pada batang pula berkas pengangkut xilem dan floem tersusun melingkar pada tumbuhan dikotil dan tersebar pada tumbuhan monokotil. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya di antaraxilem dan floem tidak ditemukan kambium. Pada batang Dikotil yang bercabang-cabang. pembuluh angkut teratur. Pada batang monokotil yang tidak bercabang-cabang. punya jari- jari empulur. pembuluh angkutnya (xilem-floem) tersebar. ada Monokotil yang dapat mengadakan pertumbuhan menebal sekunder.3 Daun Monokotil dan Dikotil Pada pengamatan preparat melintang daun dapat dilihat bahwa sistem jaringan dasar pada daun monokotil dan dikotil dapat dibedakan. misalnya pada pohon Hanjuang Cordyline sp.dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder.

Pada batang dikotil berkas pembuluh tersusun secara teratur. Selain itu. Pada akar dikotil.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka diperoleh : 1. Adapun tipe stomatanya diasit. rapi tanpa adanya sel buliformis. Pada daun dikotil.terdiri atas xilem dan floem yang terdapat pada tulang daun. variasi epidermisnya berbentuk sel kipas dengan stomata kriptofor dan modifikasi epidermis berupa trikoma serta . 3. diantara xylem dan floemnya terdapat kambium dan terdapat pemisah anatara korteks dan stele berupa endodermis. Pada akar monokotil tidak terbentuk kambium serta tidak ada pemisah yang jelas antara korteks dan stele. BAB V PENUTUP V. 2. Pada monokotil berkas pembuluh angkutnya tersusun tersebar dan tidak terdapat kambium serta pembatas korteks dan stele tidak jelas. pada tumbuhan dikotil. mesofilnya tersusun rapat. Pada daun monokotil. Sedangkan pada tumbuhan monokotil susunan jaringan mesofil sedikit lebih kurang teratur dibandingkan susunan mesofil pada daun tumbuhan dikotil. sel epidermisnya memiliki variasi berupa litosit yang sistolit. serta korteks dan stele terdapat sekat pemisah. terbentuk kambium.

Sel parenkimnya berupa jaringan bunga karang atau spon. Sep 27 LAPORAN BIOKIMIA PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP KEAKTIFAN SUATU ENZIM LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA . Berkas pembuluhnya radial. V.2 Saran Sebaiknya sebelum membuat preparat terlebih dahulu dijelaskan secara detail perbedaan tumbuhan monokotil dan dikotil secara anatomi. sel penutupnya berbentuk seperti halter yang bagian ujungnya membesar dan berdinding tipis. tersusun berderet sejajar. Diposkan 31st March 2016 oleh Astrid Safira Idham 0 Tambahkan komentar 3. agar praktikan dapat mendapatkan preparat yang jelas dan benar. Adapun tipe stomatanya. pada permukannya tidak terdapat lapisan zat lilin.

PERCOBAAN VI PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP KEAKTIFAN SUATU ENZIM NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM NIM : H41113341 KELOMPOK/KELAS : IV (EMPAT) / C HARI/TANGGAL PERCOBAAN : KAMIS / 4 DESEMBER 2014 ASISTEN : NURUL FEBRIANI PUTRI .

LABORATORIUM BIOKIMIA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014 BAB I PENDAHULUAN .

1.1 Latar Belakang
Seluruh reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel memerlukan

jasa enzim, enzim disintesis di dalam sel, namun aktivitasnya tidak

selalu di dalam sel. Berbagai reaksi kimia yang dikendalikan oleh

enzim antara lain respirasi, pertumbuhan, perkembangan, kontraksi

otot, fotosintesis, pencernaan, fiksasi nitrogen, pembentukan urin, dan

lain-lain (Salisbury, 1995).

Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai
katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem biologis. Hampir
setiap reaksi kimia di dalam sistem biologis dikatalisis oleh enzim.
Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat
diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsi dari sel tersebut (Poedjiadi,
1994).

Enzim bekerja dengan cara menempel pada permukaan molekul

zat-zat yang bereaksi dan dengan demikian mempercepat proses

reaksi. Percepatan terjadi karena enzim menurunkan energi

pengaktifan yang dengan sendirinya akan mempermudah terjadinya

reaksi. Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap

jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau

reaksi kimia (Gunam dkk, 2011).

Enzim bekerja pada kisaran suhu tertentu. Suhu rendah

mendekati titik beku tidak merusak enzim, namun enzim tidak dapat

bekerja. Dengan kenaikan suhu lingkungan, enzim mulai bekerja

sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu. Bila suhu

ditingkatkan terus, jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena

mengalami denaturasi. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai

puncaknya pada suhu optimum. Berdasarkan teori tersebut, maka

dilakukanlah percobaan ini untuk mengaplikasikan, membuktikan dan

menguji kebenaran dari teori tersebut agar dapat lebih mudah untuk

dipahami dan dipelajari.

1.2 Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk memahami dan

mempelajari pengaruh temperatur terhadap aktivitas kerja enzim.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan kali ini adalah untuk mengetahui suhu

optimum dari aktivitas enzim amilase yang terdapat dalam saliva.

1.3 Prinsip Percobaan

Menentukan keaktifan dari enzim amilase berdasarkan waktu
penguraian amilum menjadi glukosa pada berbagai temperatur dan
diuji dengan iodin pada interval waktu tertentu sampai warna biru
yang terbentuk berubah menjadi bening.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Enzim

Enzim adalah satu atau beberapa gugus polipeptida (protein)
yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses
reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Enzim bekerja
dengan cara menempel pada permukaan molekul zat-zat yang
bereaksi dan dengan demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan
terjadi karena enzim menurunkan energi pengaktifan yang dengan
sendirinya akan mempermudah terjadinya reaksi. Sebagian besar
enzim bekerja secara khas, artinya setiap jenis enzim hanya dapat
bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini
disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap.
Sebagai contoh, enzim α-amilase hanya dapat digunakan pada
perombakan pati menjadi glukosa (Gunam dkk, 2011).

Fungsi suatu enzim adalah sebagai katalis untuk proses biokimia

yang terjadi di dalam maupun di luar sel. Suatu enzim dapat

mempercepat reaksi 108 sampai 1011 kali lebih cepat daripada apabila

reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. Jadi enzim dapat berfungsi

sebagai katalis yang sangat efisien, disamping itu mempunyai derajat

kekhasan yang sangat tinggi. Seperti juga katalis lainnya, maka enzim

dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi kimia. Reaksi kimia ada

yang membutuhkan energi (endergonik) dan ada pula yang

menghasilkan energi atau mengeluarkan energi (eksergonik). Dengan

adanya katalis atau enzim, harga energi aktivasi diperkecil atau

diturunkan. Dengan demikian akan dapat memudahkan atau

mempercepat terjadinya suatu reaksi (Poedjiadi, 1994).

Enzim mempunyai sifat-sifat sebagai berikut (Salisbury, 1995):

b. Termolabil, mudah rusak, bila dipanasi lebih dari suhu 60 ºC, karena

enzim tersusun dari protein yang mempunyai sifat thermolabil.

c. Merupakan senyawa protein sehingga sifat protein tetap melekat

pada enzim.

d. Dibutuhkan dalam jumlah sedikit, sebagai biokatalisator, reaksinya

sangat cepat dan dapat digunakan berulang-ulang.

e. Bekerjanya ada yang di dalam sel (endoenzim) dan di luar sel

(ektoenzim), contoh ektoenzim: amilase, maltase.

lipase

f. Umumnya enzim bekerja mengkatalisis reaksi satu arah,
meskipun ada

c. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu. karena bagian yang aktif (permukaan tempat melekatnya substrat) hanya setangkup dengan permukaan substrat tertentu. Lemak + H2O Asam lemak + Gliserol g. Bekerjanya spesifik. Umumnya enzim tak dapat bekerja tanpa adanya suatu zat non protein tambahan yang disebut kofaktor. Faktor-faktor lain yang juga dapat mempengaruhi kerja enzim adalah sebagai berikut (Poedjiadi.juga yang mengkatalisis reaksi dua arah. Konsentrasi enzim Seperti pada katalis lain. contoh : lipase. kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim. h. walaupun konsentrasi substrat diperbesar. 1994) : a. b. pada batas tertentu tidak terjadi kecepatan reaksi. kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Akan tetapi. Konsentrasi substrat Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi. Suhu . enzim bersifat spesifik. mengkatalisis pembentukan dan penguraian lemak.

farmasi dan kedokteran terbukti memberikan manfaat dan keuntungan yang luar biasa bagi manusia. .8 dan arginase yang mempunyai pH optimum 10.0. Pemanfaatan enzim sebagai katalisator reaksi-reaksi biologi dalam bidang industry pertanian termasuk pangan. d. Di samping itu.0. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah umumnya enzim menjadi non aktif secara irreversibel karena menjadi denaturasi protein. misalnya peptin yang kisaran pHnya 1. 2011). karena enzim adalah suatu protein maka kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi dan bagian aktif enzim akan terganggu sehingga konsentrasi dan kecepatan enzim berkurang. e. Pengaruh Inhibitor Hambatan atau inhibisi suatu reaksi akan berpengaruh terhadap penggabungan substrat pada bagian aktif yang mengalami hambatan. Oleh karena reaksi kimia itu dapat dipengaruhi suhu maka reaksi menggunakan katalis enzim dapat dipengaruhi oleh suhu. yang lazimnya berkisar antara pH 4. Pengaruh pH Umumnya enzim efektifitas maksimum pada pH optimum. Teknologi pemanfaatan enzim berkembang dengan sangat pesat dan mendapat prioritas untuk dikembangkan di Indonesia (Gunam dkk.5-8. Tetapi ada beberapa enzim yang kisaran pHnya sempit.

2 Enzim amilase Dalam tubuh manusia terdapat bermacam-macam proses biokimia dan tiap proses menggunakan katalis enzim tertentu. Dengan kata lain. Sebagai contoh enzim yang menguraikan urea (substrat) dinamakan urease (Poedjiadi. 1982). Untuk membedakannya maka setiap enzim diberi nama. Pertama. dengan penambahan “ase” dibelakangnya. Kedua (dan yang penting). yaitu pada sebagian besar tumbuhan. 2. Amilum atau dalam bahasa sehari- hari disebut pati terdapat pada umbi. enzim tak berubah oleh reaksi yang dikatalisnya. . walaupun dapat mempercepat reaksi. tetapi akhirnya jumlah produk tetap sama dengan produk yang diperoleh tanpa enzim (Lehninger. enzim memiliki dua sifat lain sebagai katalis sejati. enzim dapat membantu mempercepat pembentukan produk.3 Amilum (Pati) Amilum sebagai polisakarida yang terdapat banyak di alam. batang dan biji-bijian. 1994). Selain mampu meningkatkan reaksi. daun. enzim tidak mengubah kedudukan normal dari kesetimbangan kimia. Substrat adalah senyawa yang bereaksi dengan bantuan enzim. Secara umum nama tiap enzim disesuaikan dengan nama substratnya.2.

1994). Oleh enzim amilase. Dalam ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh pankreas terdapat amilase yang bekerja terhadap amilum yang terdapat dalam makanan kita. juga digunakan sebagai bahan baku dalam pabrik tapioka (Poedjiadi.Batang pohon sagu mengandung pati yang setelah dikeluarkan dapat dijadikan bahan makanan rakyat di daerah Maluku. 1994). sebab ketela pohon tersebut selain dapat digunakan sebagai makanan sumber karbohidrat. Amilum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa. Umbi yang terdapat pada ubi jalar atau akar pada ketela pohon atau singkong mengandung pati yang cukup banyak. amilum diubah menjadi maltosa dalam bentuk maltosa (Poedjiadi. Amilum terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer dari glukosa. . Hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan enzim amilase. yaitu amilosa (kira-kira 20-28 %) dan sisanya amilopektin.

BAB III METODE PERCOBAAN .

plat tetes. Tabung kedua yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva encer ditempatkan pada suhu kamar (25 oC). pipet skala 1 mL. 3.5 mL saliva encer. kompor listrik. Kemudian disiapkan pula 4 tabung reaksi lain dan masing-masing diisi dengan 0. inkubator.5 mL larutan pati (amilum) 1 %.01 M. 3. stopwatch. gelas ukur 10 mL. sikat tabung.3. akuades. Tabung ketiga yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva encer dimasukkan dalam inkubator (38 oC). saliva 1 mL (enzim amilase). Tabung keempat yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva . 3 Prosedur Percobaan Sebanyak 4 buah tabung reaksi disiapkan dan masing-masing diisi dengan 2. 1 Bahan Percobaan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan pati (amilum) 1 %. rak tabung reaksi. 2 Alat Percobaan Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini diantaranya ialah tabung reaksi. iodin 0. Tabung pertama yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva encer dimasukkan dalam air es (0 oC). pipet tetes. tissue roll dan es batu. dan gegep.

diambil contoh dari masing-masing larutan dan diteteskan pada plat tetes kemudian ditetesi iodin 0. Semua tabung dibiarkan selama 5 menit dan kemudian pada masing-masing tabung yang berisi larutan pati dan saliva paa suhu yang sama di campurkan.01 M sebanyak 1 tetes. o encer dimasukkan dalam penangas air (100 C). Ulangi setiap interval 5 menit sampai larutan menjadi bening. Pada setiap interval 5 menit. .

1 Tabel pengaruh temperatur terhadap aktivitas enzim amilase Warna Waktu Tabung I Tabung II Tabung III Tabung IV (menit) ( 0oC) (25 ºC) (38 ºC) (100 ºC) 5 +++ +++ +++ +++ 10 +++ +++ +++ +++ . BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil pengamatan 4.1.

05 4.3 Grafik .04 100 ºC 20 0.1.02 38 ºC 25 0.1. = Bening 4.2 Tabel waktu laju perubahan warna terhadap nilai 1/t Temperatur Waktu (t) 1/t 0ºC 30 0. ++ 35 - Keterangan: +++ = Biru tua ++ = Biru muda . 15 +++ +++ +++ ++ 20 ++ +++ ++ - 25 ++ +++ - 30 .03 25 ºC 35 0.

4.2 Reaksi Reaksi dari percobaan ini adalah : .

Tabung pertama yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva encer dimasukkan dalam air es (0 oC).4. Tabung kedua yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva encer ditempatkan .3 Pembahasan Pada percobaan ini akan ditentukan suhu optimum dari enzim amilase.

tabung III (38 oC) mengalami perubahan pada menit ke 25. Pada interval 5 menit. tabung II (25 oC) mengalami perubahan menjadi bening pada menit ke 35. namun enzim-enzim itu tidak binasa. diambil contoh masing-masing larutan dan diteteskan pada plat tetes kemudian ditetesi iodin 0.pada suhu kamar (25 oC). Tabung keempat yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva o encer dimasukkan dalam penangas air (100 C). Berdasarkan tabel pengamatan diperoleh hasil yaitu keempat tabung yang mengalami perubahan warrna menjadi bening yaitu tabung I suhu (0 oC) mengalami perubahan menjadi bening pada menit ke 30. Berdasarkan teori dapat diketahui bahwa enzim amilase dapat bekerja secara optimum pada suhu 38-40 oC. Ulangi setiap interval 5 menit sampai larutan menjadi bening. Tabung ketiga yang berisi larutan pati dan tabung yang berisi saliva encer dimasukkan dalam inkubator (38 oC). selanjutnya yang terjadi pada tabung IV yang dimasukkan ke dalam penangas air (suhu 100 oC) mengalami perubahan warna pada menit ke 20. Jika dikembalikan kepada temperatur yang biasa. Kebanyakan enzim tidak menunjukkan kegiatan lagi. maka kegiatan enzim pulih kembali seperti . jikalau temperatur turun sampai sekitar 0 o C. Semua tabung dibiarkan selama 5 menit dan kemudian pada masing-masing tabung yang berisi larutan pati dan saliva paa suhu yang sama di campurkan.01 M sebanyak 1 tetes.

enzim dapat bekerja tetapi memerlukan waktu yang sangat lama. pada suhu 100 oC. Oleh karena itu seharusnya larutan ini tidak bereaksi karena enzim kurang reaktif bahkan sudah mulai rusak karena pada suhu yang sangat tinggi. Selain itu. 38 oC. . Sebaliknya. pada suhu 25 oC. temperatur jika lebih dari 40 oC dapat mengalami kerusakan struktur pada suatu larutan. akibat pemanasan jauh lebih buruk daripada akibat pendinginan.sebelum mengalami pendinginan titik beku. enzim dapat mengalami denaturasi yang menyebabkan bagian aktif enzim terganggu dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun menurun. o hal ini jika suhu berada di bawah 38 C suhu tersebut dapat menghidrolisis secara lambat. dari hasil percobaan merupakan uji yang tercepat bereaksi hal ini dikarenakan suhu pada air yang di panaskan mungkin tidak mencapai 100 oC. Seharusnya pada suhu 0 oC aktivitas enzim menurun dengan kata lain sangat lambat hal ini disebabkan karena pada suhu ini enzim membeku sehingga pusat aktif dari enzim tidak bekerja. Pada percobaan ini digunakan perlakuan suhu yang berbeda- beda yaitu pada suhu 0 oC. dan 100 oC. kemudian pada suhu 38- o 40 C kerja amilase untuk menghidrolisis amilum menjadi satuan glukosa menjadi lebih cepat bereaksi. 25 oC.

serta dimohon agar disetiap meja disediakan larutan dan alat yang lengkap agar praktikan tidak perlu lagi ke meja lain untuk mengambil alat atau larutan.2 Saran 5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. 5.2.1 Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan.1 Saran untuk Laboratorium Sebaiknya larutan yang mulai kurang atau habis ditambah agar praktikan tidak kesulitan dalam mengambil larutan dari botol. maka dapat disimpulkan bahwa suhu optimum untuk enzim amilase adalah 100 0C. .

php/BIO/artic le/download/596/411. serta sudah sangat jelas dalam memberikan pengarahan tentang percobaan pengaruh suhu terhadap aktivitas suatu enzim DAFTAR PUSTAKA Gunam. diakses pada tanggal 7 Desember 2014.ac. halaman 55-61.2. dkk.2 Saran untuk Percobaan Percobaan yang telah dilakukan sudah cukup baik dan praktikan mengerti dalam mengerjakannya.5.3 Saran untuk Asisten Asisten sudah sangat baik dalam mendampingi praktikan. 2011. . walaupun ada beberapa bagian yang mengalami kesalahan. Ida Bagus Wayan. 5. http://ojs. Pengaruh Perlakuan Delignifikasi Dengan Larutan NaOH dan Konsentrasi Substrat Jerami Padi Terhadap produksi Enzim Selulase Dari Aspergillus niger NRRLA-II264 (online). Jurnal Biologi XIV (1).id/index.unud. pada pukul 21.00 WITA.2.

Jakarta. A. Salisbury. Universitas Indonesia Press.L. Fisiologi Tumbuhan Jilid III. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. F.W.. C. . 1994. Jakarta. Dasar-Dasar Biokimia. 1997.. Institut Teknologi Bandung.. Poedjiadi. Erlangga. Lehninger. A. 1995. dan Ross. Bandung.

LEMBAR PENGESAHAN .

16 Desember 2014 Asisten Praktikan . Makassar.

H41113341 Lampiran 2 Foto Hasil Percobaan .NURUL FEBRIANI PUTRI ASTRID SAFIRA IDHAM NIM. H31110266 NIM.

.

.

.

Masing-masing tabung ditambahkan saliva encer 0.Lampiran 1. 4 buah tabung reaksi masing-masing diisi 2. Pada interval 5 menit. Setelah 5 menit. diambil larutan masing-masing tabung dan ditempatkan pada plat tetes yang berisi iodin 0. tabung II pada temperatur suhu kamar 25 0C. dan tabung IV pada penangas air 100 0C . tabung III pada inkubator 38 0C. Bagan Kerja Pengaruh Temperatur terhadap Aktivitas Enzim .5 mL . masing-masing tabung ditambahkan 1 tetes saliva encer .01 M . Tabung I dicelupkan dalam air es.5 mL .

4 buah tabung reaksi diisi dengan saliva encer 1 mL . tabung II pada temperatur suhu kamar 25 0C. dan tabung IV pada penangas air 100 0C . Tabung I dicelupkan dalam air es. - Hasil Tentukan kecepatan penguraian pada masing-masing contoh . tabung III pada inkubator 38 0C.

Diposkan 27th September 2015 oleh Astrid Safira Idham 1 Lihat komentar 4.01 M sebanyak 1 tetes - Hasil Tentukan kecepatan penguraian pada masing-masing contoh. Pada interval 5 menit. Setelah 5 menit. . diambil contoh dari masing-masing tabung dan dites pada plat tetes. Sep 27 LAPORAN BIOKIMIA PENGARUH pH TERHADAP KEAKTIFAN SUATU ENZIM . masing-masing tabung ditambahkan 1 tetes saliva encer . dan ditetesi dengan iodin 0.

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PENGARUH pH TERHADAP KEAKTIFAN SUATU ENZIM NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM NIM : H41113341 HARI/TANGGAL : KAMIS / 6 NOVEMBER 2014 KELOMPOK : IV (EMPAT) C ASISTEN : SUKMAWATI USMAN .

LABORATORIUM BIOKIMIA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014 .

. BAB I PENDAHULUAN 1. penggabungan kembali hasil uraian untuk membentuk persediaan makanan tubuh serta banyak reaksi lain yang apabila dilakukan di dalam laboratorium membutuhkan keahlian khusus serta waktu yang lama. penguraian yang terdapat dalam makanan kita. sebab di dalamnya terjadi reaksi yang beraneka ragam. Reaksi atau proses kimia yang berlangsung dengan baik dalam tubuh kita ini dimungkinkan karena adanya suatu katalis yang sangat berperan yaitu enzim (Lehninger. Bagian kecil ini disebut bagian aktif enzim. Aktifitas katalitik enzim juga ditentukan oleh struktur tiga dimensi molekul enzim tersebut (Lehninger. 1997).1 Latar Belakang Tubuh manusia merupakan laboratorium yang sangat rumit. penggunaan hasil hasil uraian untuk memperoleh enrgi. Suatu bagian yang sangat kecil dari suatu molekul besar adalah protein enzim yang berperan mengkatalisis suatu reaksi. Suatu molekul substrat berkaitan dengan bagian enzim melalui suatu mekanisme khusus dan selektif dalam hubungan yang disebut lock and key theory. 1997).

1997). disamping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh pH terhadap aktivitas enzim amilase.2. 1.2 Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini adalah menentukan pH optimum dari enzim amilase. Seperti katalisis yang lain. maka enzim menurunkan energi aktifitas reaksi kimia yaitu hanya akan bekerja pada satu reaksi saja (Lehninger. Enzim dapat berfungsi sebagai katalisis yang efisien. Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap enzim yaitu dengan prinsip penambahan iodin sebagai indikator yang memberi warna biru yang akan berubah menjadi bening.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1. 1. Enzim adalah protein yang memiliki fungsi sebagai katalisis untuk proses biokimia yang berlangsung di dalam maupun diluar sel.2. maka dilakukanlah percobaan ini.3 Prinsip Percobaan . 1.

4 Manfaat Manfaat dari dibuatnya laporan ini adalah agar praktikan dapat mengaplikasikan apa yang telah dipraktikumkan di laboratorium tentang pengaruh pH terhadap enzim. 1. Prinsip dari percobaan ini ialah menentukan keaktifan dari enzim amilase berdasarkan waktu penguraian amilum menjadi glukosa pada berbagai pH dengan penambahan iodin sebagai indikator yang memberi warna biru yang akan berubah menjadi bening. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Enzim adalah protein yang memiliki fungsi sebagai katalisis untuk proses biokimia yang berlangsung di dalam maupun diluar sel. . serta melalui laporan ini praktikan dapat berbagi info tentang bagaimana pengaruh pH terhadap enzim.

Sedangkan protein enzim saja tanpa bagian non protein besifat non aktif disebut apo-enzim. menghasilkan suatu hubungan yang harmonis di antara sejumlah . 1997): 1. 2.Enzim dapat berfungsi sebagai katalisis yang efisien. maka enzim dapat menurunkan energi aktifitas suatu reaksi kimia yang lain yaitu ia hanya akan bekerja pada satu reaksi saja (Lehninger. Melalui aktifitasnya sistem enzim terkoordinasi dengan baik. Diantara sejumlah enzim yang berpartisipasi di dalam metabolisme. yang dapat mengenali berbagai isyarat metabolik dan mengubah kecepatan katalitiknya sesuai dengan isyarat yang diterima. Tegangan dan berubahnya ikatan oleh dorongan penempatan enzim. 3. Seperti katalisis yang lain. 1997). Letak dan orientasi substrat dalam hubungannya dengan gugus katalik. Enzim yang lengkap dan aktif. terdapat sekelompok khusus yang dikenal sebagai enzim pengatur. terdiri dari beberapa bagian protein dan ko-faktor atau enzim disebut holo-enzim. disamping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi. Ada empat faktor utama yang dapat mempercepat reaksi kimia yang dikatalis oleh beberapa enzim yaitu (Lehninger. Katalis umum asam-basa dan katalis kovalen.

1990). yang diperlukan untuk menunjang kehidupan (Lehninger. Pada beberapa enzim. Enzim yang strukturnya sempurna dan aktif mengkatalisis. bersama-sama dengan koenzim atau gugus logamnya disebut holoenzim. walaupun dapat mempercepat reaksi. Selain mampu meningkatkan reaksi. enzim dapat membantu mempercepat pembentukan produk. Enzim dapat mempercepat reaksi kimia. Enzim menyusun sebagian besar dari protein total dalam sel. 1997). Pertama. Kofaktor mungkin suatu molekul anorganik seperti ion Fe2+. enzim tidak mengubah kedudukan normal dari kesetimbangan kimia. Oleh karena itu.000 jenis molekul enzim dan sejumlah besar molekul dari tiap jenis. enzim adalah katalis.aktifitas metabolik yang berbeda. sedangkan protein lain tak dapat. Suatu sel dapat memuat 3. Dengan kata lain. Koenzim dan ion logam bersifat stabil sewaktu pemanasan. Beberapa enzim hanya terdiri dari polipeptida dan tidak mengandung gugus kimiawi selain residu asam amino. sedangkan bagian protein enzim akan terdenaturasi oleh pemanasan (Lehninger. tetapi pada enzim lain senyawa ini terikat kuat. tetapi akhirnya jumlah produk tetap sama diperoleh (Lehninger. mempunyai berat molekul yang berkisar dari kira-kira 12. .000 sampai lebih dari 1 juta. 1997). enzim memiliki dua sifat lain sebagai katalis sejati. seperti protein lain. atau terikat secara permanen yang dalam hal ini disebut gugus prostetik. Mn2+ atau Zn2+ atau mungkin juga suatu molekul anorganik kompleks yang disebut koenzim. koenzim atau ion logam hanya terikat secara lemah atau dalam waktu sementara pada protein. Kedua (dan yang penting). Akan tetapi enzim lain memerlukan tambahan komponen kimia bagi aktivitasnya komponen ini disebut kofaktor. enzim berukuran amat besar dibandingkan dengan substrat atau gugus fungsional targetnya. Enzim. enzim tak berubah oleh reaksi yang dikatalisnya. Oleh karena itu. Beberapa enzim membutuhkan baik koenzim maupun satu atau lebih ion logam bagi aktivitasnya.

sedangkan pada suhu yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan menurun. kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. 2. Akan tetapi pada batas konsentrasi tertentu. karena enzim adalah suatu protein. Pengaruh pH (Derajat keasaman) Enzim dapat berbentuk ion positif. Konsentrasi Enzim Seperti pada katalis lain. Konsentrasi Substrat Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi enzim yang tetap. Suhu Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat. Disamping itu. 4. Dengan demikian perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap efektivitas bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim substrat. kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim. maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. pH rendah atau pH tinggi dapat pula menyebabkan terjadinya proses denaturasi dan ini akan mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim. ion negatif atau ion bermuatan ganda (zwitter ion). Faktor–faktor yang mempengaruhi kerja enzim yaitu: 1. maka pertambahan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi. 3. Pengaruh Inhibitor . Apabila terjadi proses denaturasi. Disamping pengaruh terhadap struktur ion pada enzim. 5. Keadaan ini telah diterangkan oleh Michaelis– Menten dengan hipotesis mereka tentang terjadinya kompleks enzim substrat. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu. tidak terjadi kenaikan kecepatan reaksi walaupun konsentrasi substrat diperbesar. Menurut Poedjiadi (1994). Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi dapat menaikkan kecepatan reaksi.

Hambatan tidak reversibel pada umumnya disebabkan oleh terjadinya proses destruksi atau modifikasi sebuah gugus fungsi atau lebih yang terdapat pada molekul enzim. semakin besar volume enzim yang ditambahkan maka semakin besar konversi yang diperoleh. Hambatan yang dilakukan oleh inhibitor dapat berupa hambatan tidak reversibel.6% (v/v) dalam waktu 72 jam. Profil akifitas pH enzim menggambarkan pH pada saat gugus pemberi atau penerima proton yang penting pada sisi katalitik enzim berada dalam tingkat ionisasi yang diinginkan. Hal ini disebabkan lama waktu reaksi semakin besar konversi yang diperoleh sehingga kontak antara substrat (Cahyani. Suatu enzim memiliki suatu ciri yang khas. Hambatan reversibel dapat berupa hambatan bersaing atau hambatan tidak bersaing. 1992). 2013). Diketahui bahwa volume enzim yang paling efektif untuk mengubah karbohidrat menjadi glukosa dengan bahan slurry umbi gadung adalah 0. . pH optimum enzim tidak perlu sama dengan pH lingkungan normalnya. yaitu pH yang menyebabkan aktifitas maksimum. dengan pH yang mungkin sedikit berada diatas atau di bawah pH optimum. Hal ini sesuai dengan Risnoyatiningsih (2011). Aktifitas katalitik enzim di dalam sel mungkin diatur sebagian oleh perubahan pada pH medium lingkungan (Winarno.

6. larutan buffer (pH 8. 6. 6. inkubator. Setelah itu. dan 5.8. pipet tetes. saliva encer (1 : 9). akuades dan tissue roll.2. Dimasukkan semua tabung ke dalam inkubator selama ± 5 menit. 6.0. 6. NaCl 0. rak tabung. gelas ukur 10 mL.4. 3. sikat tabung dan gegep. 6. 7.4 diasamkan dengan 5 tetes asam asetat. Kemudian ke dalam larutan buffer ini ditambahkan 2 mL larutan kanji 1 %. BAB III METODE PERCOBAAN 3. 6.8. asam asetat.4. Tabung yang berisi larutan pH 8 dan pH 7.1 M. 7.4. pipet skala 1 mL.0.4. stopwatch. 7. 3. kemudian .01 M.1 M. 7. semua tabung ditambahkan ± 10 tetes iodin.2. 7 buah tabung reaksi disiapkan dan masing-masing diisi dengan 5 mL larutan buffer berturut-turut pH 8. iodin 0.4).2 Alat Percobaan Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi.4.1 Bahan Percobaan Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan kanji 1 %. 1 mL NaCl 0. 6.0 dan 5. 3 Prosedur percobaan Saliva sebanyak 1 mL diencerkan dengan 9 mL akuades.

8 pH 6.0 pH 7.1. Kemudian diperhatikan perubahan warna yang terjadi tiap interval 5 menit. Setelah itu. Selanjutnya dibuat grafik pH versus kebalikan waktu (1/t) dan dari grafik tersebut ditentukan pH optimumnya.4 5 +++ +++ +++ ++++ ++++ ++++ ++++ 10 ++ +++ +++ +++ ++++ ++++ ++++ 15 ++ ++ +++ +++ ++++ ++++ ++++ 20 + ++ +++ +++ ++++ +++ +++ 25 + ++ +++ ++ ++++ +++ +++ 30 + ++ ++ ++ +++ +++ +++ Keterangan : ++++ : biru tua +++ : biru . Dicatat perubahan dan waktu yang dibutuhkan.4 pH 7.2 pH 6. semua tabung dimasukkan ke dalam inkubator.1 Tabel Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim Amilase Waktu Warna (menit ) pH 8.0 pH 5. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. ditambahkan 1 mL saliva encer (1 : 9).0 pH 6.1 Hasil 4.

03 6.0 30 0.03 6.04 6.1.2 Tabel Pengaruh pH Terhadap Kebalikan Waktu (1/t) pH Waktu (t) (Menit) 1/t (Menit) 8.05 4.06 7.1.8 25 0.0 20 0.4 20 0.05 7.2 Reaksi .05 5.++ : biru muda + : bening 4.0 20 0.2 30 0.3 Grafik Pengaruh pH Vs Kebalikan Waktu 4.4 15 0.

larutan NaCl 0.4. 7. 6. 6. Tabung reaksi yang berisi larutan buffer dengan pH berbeda-beda ditambahkan larutan albumin. akan ditentukan pH optimum dari enzim amilase.3 Pembahasan Pada percobaan ini. Digunakan beberapa macam pH yang berbeda-beda agar dapat ditentukan pada pH berapa enzim bekerja dengan baik (pH Optimum). Masing- masing tabung reaksi diisi dengan larutan buffer fosfat pada pH yang berbeda-beda yaitu 8. Saliva yang merupakan enzim amilase akan menghidrolisis pati menjadi dekstrin kemudian maltosa .8.0.4. Penambahan NaCl bertujuan sebagai pengaktif kerja enzim dan pati atau amilum dimana pati ini merupakan substrat yang akan bereaksi dengan iodium membentuk kompleks biru. dan 5.2. 6. 7.1 M dan saliva encer yang merupakan enzim amilase.4.

0.8. Tentunya hal ini sesuai dengan teori dimana pH optimum suatu enzim agar dapat bekerja dengan baik yakni berkisar antara 5.2. Selanjutnya ke dalam tabung-tabung ini ditambahkan dengan larutan iodium sebagai indikator yang akan bereaksi dengan amilum membentuk kompleks biru keunguan yang ditandai dengan perubahan warna dari bening menjadi biru.4 dari warna biru paling pekat sekali menjadi biru pekat sekali. dan 6. Pada tabung reaksi yang berisi larutan buffer dengan pH 8 dan pH 7. biru muda kemudian bening pada menit ke-30. Perubahan warna pH 7 dan 7.4 ditambahkan asam asetat (CH3COOH) dengan tujuan untuk mengasamkan larutan tersebut karena enzim tidak dapat bekerja pada pH basa. .2.4-7.(disakarida) dan terhidrolisis lagi menjadi 2 molekul glukosa secara enzimatis. terlihat bahwa pH optimum dari enzim amilase adalah pada pH 6. Dari pengamatan terlihat bahwa yang mengalami perubahan warna yang cepat yaitu pH 7 dan 7.8.4 kemudian disusul oleh pH 8. Tabung yang berisi larutan tersebut ditempatkan pada inkubator bersuhu 38 °C selama 30 menit dan pengamatan dilakukan pada tiap interval waktu 5 menit. 6. Berdasarkan grafik yang diperoleh.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan. 5.4 – 7. . maka dapat disimpulkan bahwa pH optimum untuk enzim amilase adalah pH 5.2 Saran Sebaiknya larutan yang mulai kurang di laboratoirum ditambah agar praktikan tidak kesulitan dalam praktikum. sedangkan sesuai teori adalah dengan pH 5.8 dan 5.4. serta sebaiknya peralatan yang ada di laoratorium lebih dilengkapi dan diperbanyak.4.

...G. F. 3 (1).. . UI-Press. 1994. Pengaruh Volume Enzim Terhadap Kadar Alkohol dan Nilai Kalor Dari Bioetanol Berbahan Baku Umbi Gadung (Dioscorea hipsida Dennst). Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. dan Fardiaz. Penerbit Angkasa. 1997. Makassar. Erlangga.L.. 1992. Bandung. A.. Jakarta. Dasar-dasar Biokimia. Lehninger. Winarno. DAFTAR PUSTAKA Cahyani A. Poedjiadi. A. 2013. Jakarta. Biofermentasi dan Biosintesa Protein. 61-66.

.

LAMPIRAN I BAGAN KERJA .

dan1 mL NaCl 0. diamati perubahan warna yang terjadi sampai menjadi bening. . Tambahkan 2 mL larutan amilum 1%.4 .8 . Disiapkan 7 tabung reaksi.4 diasamkan dengan 2 tetes asam asetat sebelum penambahan iodine. 7. . 5. .0 dan pH 7. - Hasil Setiap interval 5 menit. Tabung yang berisi larutan pH 8.0 . foto sebagai waktu awal (0 menit). . . Diencerkan 1 mL saliva dengan mencampurkannya dengan 9 mL aquades. . 7.4. Ditambahkan iodine sebanyak 10 tetes. untuk mengurangi kebasaannya.1 M kedalam tabung. 5. Ditambahkan 1 mL saliva encer kedalam semua tabung. . Jalankan stopwatch. Dimasukkan ke dalam inkubator dengansuhu 38 oCselama 5 menit. 6.8. . 6. masing-masing tabung diisi larutan buffer berturut-turut 8. .0 . masukkan kedalam incubator.0 .

LEMBAR PENGESAHAN .

15 Desember 2014 ASISTEN PRAKTIKAN (SUKMAWATI USMAN) (ASTRID SAFIRA IDHAM) LAMPIRAN 2 . Makassar.

Sep 27 LAPORAN BIOKIMIA PENETAPAN KESEGARAN SUSU LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PENETAPAN KESEGARAN SUSU NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM NIM : H41113341 KELOMPOK : IV (EMPAT) . FOTO Diposkan 27th September 2015 oleh Astrid Safira Idham 0 Tambahkan komentar 5.

HARI/TANGGAL PERCOBAAN : KAMIS/27 NOVEMBER 2014 ASISTEN : RISKA .

salah satunya yaitu dari susu segar. LABORATORIUM BIOKIMIA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014 BAB I PENDAHULUAN I. Hal tersebut bisa diperoleh dari berbagai makanan yang dikonsumsi oleh manusia.1 Latar Belakang Manusia membutuhkan berbagai macam gizi untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Susu adalah salah satu sumber penting yang banyak mengandung protein protein. riboflavin dan kalsium serta memberikan . Susu segar adalah air susu yang tidak dikurangi atau ditambah apapun yang diperoleh dari perahan sapi yang sehat secara kontinyu dan sekaligus sempurna (Resnawati. 2010).

segera dibawa ke kamar susu. . kemudian disaring. oleh sebab itu perlu mendapat perawatan secara khusus.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari cara penetapan kesegaran susu dengan menggunakan uji metilen biru sebagai indikator.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1. barulah ditakar. Sesudah air susu disaring. I. Sebagian vitamin C dan tiamin susu rusak oleh pemasakan (Resnawati. Namun susu bukanlah merupakan makanan sempurna bagi manusia karena susu relatif kekurangan zat besi. Setelah itu air susu diperah. Pada pemasakan yang lebih lama mungkin terjadi karamelisasi laktosa.sejumlah penting vitamin B dan vitamin A. vitamin C dan vitamin D. Susu merupakan bahan makanan yang mudah rusak.2. Hal ini dilakukan untuk mengetahui jumlah produksi. Susu mengandung suatu enzim yang mengkatalisis oksidasi macam-macam aldehid menjadi asam. Penyaringan itupun perlu dilakukan dengan segera guna menghindari agar jangan sampai kuman-kuman yang hinggap pada kotoran di dalam air susu mendapat kesempatan untuk berkembang-biak lebih lanjut. Kemudian air susu dari beberapa ekor sapi tersebut dicampur perlahan-lahan sampai menjadi campuran air susu yang homogen. 2010).

1.2. penambahan formaldehid atau air dan mengidentifikasi dengan metilen biru sehingga enzim schardinger yang terdapat dalam susu mengkatalisis oksidasi formaldehid menjadi asam-asam dalam suasana anaerob yang terlihat dari perubahan warna dari biru menjadi putih.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah : 1. . 2.3 Prinsip Percobaan Menentukan kesegaran susu dengan mereaksikan susu segar dengan perlakuan pemanasan. Menentukan pengaruh pemanasan terhadap kesegaran susu. Menentukan pengaruh penambahan formaldehid terhadap kesegaran susu. 1.

lemak. kerbau. 1987). misalnya sapi. karbohidrat (laktosa) dan beberapa zat lain. Susu dari asal katanya adalah cairan yang tak tembus cahaya yang dihasilkan oleh kelenjar susu dan terdiri atas air. 1992). BAB II TINJAUAN PUSTAKA Susu adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar susu (mammae). . protein susu (kasein). baik dari binatang maupun dari buah dada seorang ibu. Air susu ibu biasa dikenal dengan ASI sedangkan air susu hewan atau susu tiruan sebagai pengganti susu ibu disebut Pengganti Air Susu Ibu atau PASI pada umumnya adalah air susu dari berbagai binatang ternak. Susu emulsi lemak dalam air dengan kasein sebagai zat pengemulsi/emulgator (Lehninger. kambning da nada pula yang menggunakan air susu unta atau kuda (Sediaoetama.

Susu merupakan bahan baku dari semua produk yang mengandung bahan yang beraroma atau rasa susu. dan (v) memiliki cita rasa normal (Resnawati. Faktor-faktor ini merupakan keadaan yang . Susu segar adalah susu hasil pemerahan yang tidak dikurangi atau ditambahkan bahan apapun dari pemerahan susu sapi yang sehat. (ii) bebas dari zat-zat berbahaya ataupun toksin seperti insektisida. hal ini disebabkan karena susu mempunyai kandungan air yang tinggi. (iii) tidak tersemar oleh debu dan kotoran. Kriteria untuk air susu sapi yang baik setidak-tidaknya memenuhi hal-hal berikut ini : (i) bebas dari bakteri patogen. Susu merupakan bahan pangan yang bernilai gizi tinggi yang dikenal sebagai bahan yang tidak tahan lama dan mudah rusak (perishable food). pH yang mendekati normal dan kandungan nutrientnya yang tinggi. Jika dipandang dari segi gizi. 2010). dimana susu merupakan satu-satunya sumber makanan pemberi kehidupan segera sesudah lahir (Lehninger. 1995). Susu sebagian besar digunakan sebagai suatu produk pangan. susu merupakan satu-satunya bahan makanan yang hampir sempurna dan merupakan makanan alamiah yang tidak saja bagi hewan yang menyusui juga untuk manusia. (iv) zat gizi tidak menyimpang dari codex air susu.

2010) : 1. Air susu yang normal atau sehat mempunyai sifat-sifat tertentu yang dapat dilihat dari (Resnawati. Suatu enzim dapat mempercepat 108 sampai 1011 kali lebih cepat daripada apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis yang sangat efisien. di samping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi (poedjiadi. 2010). Warna air susu yang kemerah-merahan memberi dugaan bahwa air susu tersebut . Dalam protein yang ada pada susu terdapat enzim. Secara umum nama tiap enzim disesuaikan dengan nama substratnya. cocok untuk pertumbuhan optimum mikroorganisme (Resnawati. Air susu yang berwarna agak merah atau biru. terlalu encer seperti air adalah susu yang tidak normal. 2006). 2006). yang dapat bereaksi dengan zat lain. Dalam tubuh manusia terjadi bermacam- macam proses biokimia dan tiap proses menggunakan katalis enzim tertentu. Untuk membedakannya maka tiap enzim diberi nama. dengan penambahan ‘ase’ di belakangnya (poedjiadi. Fungsi suatu enzim adalah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi dalam sel maupun di luar sel. Warna Warna air susu yang sehat adalah putih kekuning-kekuningan dan tidak tembus cahaya.

Warna kebiruan menunjukkan bahwa air susu telah dicampur air terlampau banyak. Air susu yang masih segar dan murni rasanya enak. Bau dan rasa Air susu yang masih segar dan murni memiliki bau yang khas. pahit. atau mungkin agak masam. Air susu yang rasanya asin. terlalu lama disimpan. Semakin tinggi kadar bahan keringnya maka akan semakin tinggi pula berat jenisnya dan demikian sebaliknya. Rasa hambar berarti air susu itu banyak dicampuri air. Susunan air susu itu sendiri Dalam hal ini yang menentukan ialah kadar bahan keringnya. berasal dari sapi yang menderita Mastitis. 2. 3. bergumpal. sedikit manis dan agak berlemak. Berat jenis Berat jenis pada air susu sangat dipengaruhi oleh: a. menunjukkan bahwa susu itu sudah mulai rusak. Air susu yang berbau busuk menunjukkan bahwa air susu sudah rusak sama sekali. b. Bau yang asam menunjukkan bahwa air susu sudah basi. Sedang susu yang berlendir. menandakan bahwa air susu tersebut sudah rusak. Temperatur .

Staphylococcus aureus 1x101 cfu/mL. Susu merupakan salah satu bahan pangan yang kaya akan zat gizi. Kandungan protein. Dan sebaliknya. Salmonella negatif. di Indonesia berat jenis air susu itu ditetapkan pada temperatur 25o (suhu kamar). Susu yang rusak derajat keasamannya akan meningkat. Air susu akan mengembang pada suhu yang semakin tinggi. koliform < 1x101 cfu/mL. Escherichia coli negatif. Secara alami. susu mengandung mikroorganisme kurang dari 5x103 per mL jika diperah dengan cara yang benar dan berasal dari sapi yang sehat (Suwito. lipid.80 menyebabkan mikroorganisme mudah tumbuh dalam susu. batas cemaran mikroba dalam susu segar adalah Total Plate Count (TPC) < 3x104 cfu/mL. Beberapa bakteri seperti Listeria monocytogenes. 4. Oleh karena itu.5 SH. glukosa. per satuan volume air susu pun mengembang pula menjadi menjadi ringan. Derajat keasaman o Susu yang normal derajat keasamannya sekitar 4 – 7. garam mineral. Camphylobacter . dan vitamin dengan pH sekitar 6. dan Streptococcus group B negatif. 2010). air susu akan menjadi padat sehingga per kesatuan volume akan menjadi lebih berat. Berdasarkan SNI 01-6366-2000. dengan pendinginan.

dilaporkan mengontaminasi susu dengan prevalensi kecil (Suwito. Ada 3 komponen dalam air susu yang mempengaruhi mutu susu dalam pengolahan antara lain (Setiawati dan Rahayu. laktoglobin dan laktaalbumin yang dihasilkan dari proses sedimentasi. Penyerapan laktosa dalam dinding usus dapat merangsang penyerapan kalsium. Protein Komponen protein susu antara kasein. Laktosa Laktosa merupakan karbohidrat yang digunakan untuk pembuatan bahan makanan bayi. fosfor dan mineral lain yang disebabkan karena kenaikan daya serap (permeabilitas) dinding sel.jejuni. Koagulasi protein susu yang disebabkan kontaminasi susu dengan bakteri-bakteri . E. dan Salmonella sp. 1992) : a. c. 2010). coli. vitamin-vitamin dan asam-asam lemak esensial. Lemak susu menentukan rasa. bau dan tekstur air susu. Lemak susu Lemak susu mempunyai nilai gizi yang tinggi karena jumlah kalori yang dikandungnya. b.

Selain itu bekerja pula enzim yang disebut Schardinger enzyme (Suwito. kemudian diamati waktu yang dibutuhkan oleh bakteri dalam susu tersebut untuk melakukan aktifitas yang dapat mengakibatkan perubahan warna zat tersebut. kasein . semakin cepat terjadinya perubahan warna zat tersebut. baik yang terlarut dalam air maupun terdispersi dalam bentuk koloid. Susu segar adalah susu murni. Uji metilen biru didasarkan pada kemampuan bakteri dalam susu untuk tumbuh dan menggunakan oksigen terlarut. Pada uji ini akan ditambahkan sejumlah zat yang biru ke dalam susu. dan tidak ada penambahan bahan pengawet. industri cat yang larut dalam air dan industri plastik. lemak (3. sehingga menyebabkan perubahan penurunan kegiatan oksidasi-reduksi dari campuran tersebut.merupakan hal yang tidak dikehendaki karena menyebabkan rusaknya air susu. Sistem koloid tersebut bersifat kompleks. Uji metilen biru dapat memberikan gambaran perkiraan jumlah bakteri yang terdapat dalam susu. Semakin tinggi jumlah bakteri dalam susu tersebut.8%). 2010). tidak mengalami pemanasan. tetapi pada dasarnya merupakan emulsi lemak dalam air susu.8%). Susu tersusun dari berbagai nutrien.25%). Susu sapi segar mengandung air (87. Kasein susu digunakan unutk pembuatan lem. Maka akibatnya metilen biru yang ditambahkan akan tereduksi menjadi putih metilen. laktosa (4.

es batu. pipet skala 2 mL. Selain itu perlu kita tahu bahwa susu juga mengandung vitamin. larutan metilen biru 0. kertas label. 3. dan tissue roll.1 Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah susu segar.02%. BAB III METODE PERCOBAAN 3. akuades. vaselin.65%). albumin (0. gegep.(2.2 Alat Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung Thunberg. sitrat. penangas air dan inkubator.3 Prosedur Kerja . dan garam-garaman (0. 3. larutan formaldehid 0.7%). 2010). dan enzim (Suwito.5%. pipet tetes. gelas kimia 500 mL.8%). rak tabung reaksi.

Tiga buah tabung Thunberg diisi dengan 5 mL susu pada setiap tabung kemudian tabung pertama dipanaskan dalam penangas air dan didihkan selama 1 menit atau sampai mendidih. Selanjutnya sebanyak 1 tetes Mb 0. Lalu dinding tutup tabung diolesi dengan vaselin lalu ditempatkan pada tempatnya sehingga lubang pada tutup tersebut tepat pada pipa samping. lalu pemanasan diteruskan dalam inkubator. sedangkan pada tabung ketiga dipipet 1 mL akuades. Ketiga tabung ditempatkan dalam inkubator dengan suhu 40 ºC selama 5 menit. Sebanyak 1 mL formaldehid 0. Kemudian isi tabung dengan isi yang berada dalam tutup dicampurkan. Perubahan yang terjadi diamati setiap 5 menit sampai terlihat perbedaan warna yang cukup signifikan pada setiap tabung.5 % dipipet ke bagian dalam tutup tabung Thunberg pada tabung pertama dan kedua.02 % ditambahkan pada setiap tabung. Sedangkan pada tabung kedua dan ketiga tidak diadakan pemanasan. . Setelah itu ketiga tabung divakumkan dengan tabung tetap dalam air es (putar terlebih dahulu tutup tabung sebelum dilepaskan dari pompa).

.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Tabel 1. Tabel hasil pengamatan penetapan kesegaran susu Waktu Tabung I Tabung II Tabung III (menit) 5 ++++ ++++ ++++ 10 +++ +++ +++ 15 ++ ++ + + 20 + + + 25 + _ − 30 + _ _ Keterangan: .

Tabung I : Susu dipanaskan + metilen blue + formaldehid Tabung II : Susu + metilen blue + formaldehid Tabung III : Susu + metilen blue + akuades +++++ : Sangat biru ++++ : Biru +++ : Agak biru muda ++ : Biru muda + : Agak putih kebiruan .2 Reaksi Adapun reaksi yang terjadi pada percobaan ini yaitu : Redoks : . : Putih 4.

3 Pembahasan Pada percobaan ini di berikan Mb (Metilen Biru). tutupnya diberi larutan formaldehid sedangkan pada tabung III diberi air suling (akuades). Pada tabung I dan II. Percobaan ini. dilakukan pemanasan terlebih dahulu untuk mengamati pengaruh pemanasan terhadap keaktifan enzim.4. digunakan tiga tabung Thunberg. Uji metilen Biru didasarkan pada kemampuan bakteri dalam susu untuk tumbuh dan menggunakan oksigen yang terlarut sehingga menurunkan oksidasi reduksi dari campuran tersebut sehingga mengakibatkan metilen biru yang ditambahkan akan tereduksi menjadi warna putih yang sebelumnya warna biru. Hal ini dilakukan untuk membandingkan kerja enzim pada substrat yang berbeda. . Kemudian pada tabung I.

tidak mengalami perubahan warna hingga menit ke-30 karena kemungkinan enzim tidak bekerja sehingga tidak menghasilkan perubahan. Pengolesan vaselin pada tepi tabung dilakukan untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung melalui celah-celah dan pemvakuman tabung dengan cara menghisap udara dalam tabung bertujuan untuk meminimalkan udara dalam tabung karena enzim Schardinger dalam susu bekerja dalam suasana anaerob. Pada tabung I yang diberi formaldehid dan dipanaskan terlebih dahulu. . Pada tabung II yang diberi formaldehid terjadi perubahan warna. Selanjutnya mengalami perubahan warna pada menit ke-15 yaitu menjadi warna agak biru muda dan setelah itu tidak mengalami lagi perubahan hingga ke menit terakhir (menit ke-30). Dan mengalami perubahan pada menit ke-10 yaitu menjadi warna biru. ketiga tabung tersebut divakumkan untuk menghilangkan udara pada tabung. yaitu suhu optimum yang sesuai dengan suhu tubuh dari hewan atau mamalia sekitar 40 oC – 50 oC. Setelah itu tabung-tabung yang telah tertutup dimasukkan ke dalam inkubator bersuhu 40 oC selama 5 menit agar suasana dalam ketiga tabung sama pada suhu dimana enzim bekerja. Selanjutnya.

Namun menurut teori tabung yang seharusnya mengalami perubahan dari biru tereduksi menjadi putih adalah tabung II. . Hal ini terjadi karena kemungkinan adanya kesalahan pada pencampuran larutan atau bisa saja kadar asam laktat pada susu tersebut tidak normal. Pada tabung III yang diberi akuades cepat mengalami peruabahan karena metilen biru akseptor hidrogen dari asam akan tereduksi menjadi putih. Dari larutan yang awalnya berwarna sangat biru dari setiap 5 menit mengalami perubahan hingga menjadi warna sangat putih kebiruan.

.

1 Kesimpulan Berdasarkan percobaan ini dapat ditarik kesimpulan. agar praktikan tidak kesulitan dalam mengambilnya dari botol larutan. Enzim pada susu dapat mengkatalisis oksidasi formaldehid dengan berubahnya warna pada metilen biru dari biru menjadi putih. Saran untuk lab. BAB V PENUTUP 5. 5. . 2.2 Saran Sebaiknya asisten membantu praktikan dalam mereaksikan zat yang akan dipraktikumkan. yaitu: 1. dimohon agar larutan yang ada di lab ditambah bila mulai habis. Pemanasan yang tinggi dapat merusak enzim yang terdapat dalam susu. Percobaan ini sangat bermanfaat. karena dapat diaplikasikan di kehidupan sehari-hari.

LEMBAR PENGESAHAN .

.

Makassar. 18 Desember 2014 Asisten Praktikan (RISKA) (ASTRID SAFIRA IDHAM) Lampiran 1 Bagan Kerja Penetapan Kesegaran Susu Tabung III Tabung II Tabung I .

5 % penutupnya 1  Tutup tabung dioleskan mLFormaldehid 0.02 %  Diteteskan 1 tetes Mb  Dimasukkan kedalam 0.02 % penutupnya 1  Dimasukkan kedalam mLFormaldehid 0.5 % dengan vaselin  Tutup tabung dioleskan  Didinginkan dalam es dengan vaselin selama 5 menit .  Dimasukkan 5 mL susu  Diteteskan 1 tetes Mb 0.02 %  Dimasukkan kedalam penutupnya 1 mL akuades  Tutup tabung dioleskan dengan vaselin  Didinginkan dalam es selama 5 menit  Dimasukkan 5 mL susu  Dimasukkan 5 mL susu  Dipanaskan dengan  Diteteskan 1 tetes Mb penangas hingga mendidih 0.

aaaaa .

 Dimasukkan kedalam inkubator dengan suhu 40oC selama 5 menit  Dikeluarkan dan larutan di penutupdicampurkan ke dalam tabung  Dikocok dan dihomogenkan  Dimasukkan kembali ke dalam inkubator  Diperhatikan perubahan warnanya setiap 5menit selama 30 menit Data .

2006.deptan. Resnawati. H. S. Bakteri yang Sering Mencemari Susu. DAFTAR PUSTAKA Lehninger. 2010. 2010.litbang. Jakarta.go. Erlangga.. UI Press. Jakarta..id.. Soediatami. Dasar-Dasar Biokimia. A. (diakses pada tanggal 30 November 2014. 1992. Kualitas Susu pada Berbagai Pengolahan dan Penyimpanan (online). Poedjiadi A. Direktorat Jenderal Peternakan. (online).go. . Suwito. 1995. (diakses pada tanggal 30 November 2014. pada pukul 23. D.pdf). W. T. Buku Tehnik Dan Pengembangan Peternakan. litbang..30 WITA). Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi jilid II.. (http://peternakan. (http:// pustaka. Setiawati. Dian Rakyat. dan Rahayu. Jakarta. Dasar-Dasar Biokimia Edisi Revisi. 1987.30 WITA). pada pukul 23. A. deptan. Jakarta.id/fullteks/lokakarya/loksp08- 70..

Diposkan 27th September 2015 oleh Astrid Safira Idham 1 Lihat komentar 6. Sep 27 LAPORAN BIOKIMIA PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI ASAM AMINO LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI ASAM AMINO NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM .

NIM : H41113341 HARI/TANGGAL : KAMIS / 30 OKTOBER 2014 KELOMPOK : IV (EMPAT) C ASISTEN : AFMI PURWANTI .

Akan tetapi. diantaranya adalah dengan melalui tes ninhydrin. LABORATORIUM BIOKIMIA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asam amino merupakan monomer yang menyusun polimer-polimer pada protein. selain uji spesifik berdasarkan ciri . gugus amino. dan sebagainya. Ketiga gugus ini dapat diidentifikasi melalui uji spesifik. dan gugus rantai samping. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa secara umum ada tiga gugus yang reaktif pada asam amino yaitu gugus karboksil.

Pada kromatografi lapis tipis.2 Maksud dan Tujuan 1. dimana setiap jenis asam amino mempunyai koefisien partisi tertentu untuk pasangan pelarut tertentu. Untuk memperoleh pemisahan asam amino yang baik. asam amino dapat pula diidentifikasi bahkan dipisahkan dengan beberapa metode.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui cara pemisahan dan identifikasi asam amino dalam suatu sampel dengan menggunakan metode kromatografi. yang digunakan sebagai fasa stasioner adalah suatu lembaran tipis silika gel. Oleh karena itu melalui percobaan ini akan dilakukan pengidentifikasian asam amino dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Perbandingan kecepatan perpindahan komponen dengan permukaan fasa mobile merupakan dasar untuk mengidentifikasi komponen-komponen yang dipisahkan. dapat digunakan dua fase pelarut. 1.khas reaksi kimianya. salah satunya adalah melalui kromatografi lapis tipis (KLT). Pemisahan asam amino dengan metode ini didasari oleh kemampuan suatu jenis asam amino yang terlarut dalam suatu campuran pelarut tertentu pada fasa stasioner atau yang lazim disebut sebagai fasa diam. . dimana bila suatu zat terlarut yang terdistribusi dalam dua pelarut dengan volume yang sama dan tidak saling bercampur sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut di dalam kedua pelarut seimbang.2.

2.3 Prinsip percobaan Pemisahan asam amino secara kromatografi menggunakan KLT atau plat kromatografi lapis tipis yang fase gerakannya dengan menggunakan eluen yang terdiri atas campuran n-butanol. Menentukan nilai Rf dari asam amino (arginin. BAB II .2. 1. histidin) dan sampel.1. glisin. Identifikasi dilakukan dengan membandingkan jarak noda yang dihasilkan setelah penyemprotan dengan larutan ninhidrin. asam asetat dan air. Mengidentifikasi asam amino dari larutan sampel melalui metode kromatografi lapis tipis. Setelah itu membandingkan nilai Rf dari asam amino.2 Tujuan Percobaan Tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu : 1.

Dengan demikian. Pada asam amino. gugus amino berada pada atom karbon α. Artinya. Kecuali glisin. Asam amino yang diperoleh dari larutan hidrolisis protein adalah asam amino α. Asam amino tidak hanya berperan sebagai bahan bangunan protein. 2013). semua asam amino α kecuali glisin bersifat aktif optis (Lehninger. dengan R = H. gugus amino terikat pada atom karbon yang berdekatan dengan gugus karboksil (C-α) atau dapat dikatakan juga bahwa gugus amina dan gugus karboksil dalam asam amino terikat pada atom karbon yang sama (Tim Dosen Kimia. yaitu disebelah gugus karboksil. asam amino α memiliki pusat stereogenik pada karbon α. TINJAUAN PUSTAKA Asam amino yang merupakan monomer (satuan pembentuk) protein amino adalah suatu senyawa yang mempunyai dua gugus fungsi yaitu gugus amino dan gugus karboksil. 1982). Terosin merupakan materi pemula bagi biosintesis dari pigmen kulit melanin (Tim Dosen Kimia. Triptofan merupakan pelopor bagi suatu kelompok senyawa penting dalam biokimia system syaraf. tetapi juga merupakan sumber daya kimia bagi banyak senyawa yang membutuhkan nitrogen. Beberapa asam amino tidak dapat disintesis dalam tubuh manusia oleh karenanya asam-asam amino tertentu harus diperoleh secara langsung dari makanan atau minuman . 2013). Misalnya glisin diperlukan untuk biosintyesis gugus heme dari hemoglobin.

glisina. Lisin. 1988). meleleh pada suhu 233 °C) dan kelarutannya dalam pelarut organik relatif rendah). sedangkan gugus karboksil kehilangan protonnya dan hadir sebagai ion karboksilat. Gugus amino diprotonasi dan hadir sebagai ion amonium. Analisis asam amino dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode. Treonin. Isolensin. Metionin. Lensin.yang dikenal sebagai asam amino esensial. Asam amino bersifat amfoterik. Argini dan Fenilalanin Sangat dibutuhkan oleh bayi yang dalam pertumbuhan (Tim Dosen Kimia. dimana suatu zat terlarut yang terdistribusi dalam dua pelarut dengan volume yang sama dan tidak saling bercampur sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut didalam kedua pelarut seimbang (Soedjiadi. artinya berperilaku sebagai asam dan mendonasikan proton . aseton dan kloroform. Triptofan. Valin. salah satu diantaranya kromatografi lapis tipis. 2013). Struktur dipolar ini konsisten dengan sifat asam amino yang seperti garam. Histidin. 1994). Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik non polar seperti pada eter. Pemisahan asam amino dengan metode ini didasari oleh kemampuan suatu jenis asam amino yang terlarut dalam suatu campuran pelarut tertentu pada fase stationer. Finilalanin. Tergolong sebagai asam amino esensial adalah : Arginin. Asam karboksilat alifatik maupun aromatik yang terdiri atas beberapa atom karbon umumya kurang larut dalam air tetapi larut dalampelarut organik (Poedjiadi. Asam amino dengan satu gugus amino dan satu gugus karboksil lebih baik digambarkan sebagai struktur ion dipolar. yang memiliki titik leleh yang agak tinggi (bahkan yang paling sederhana.

fosfoprotein. dan kedua protein terkonjugasi. 1994). atau dapat juga berperilaku sebagai basa dan menerima proton dari asam kuat. ialah pertama. lipoprotein. Protein yang ditemukan kadang-kadang berkonjugasi dengan makromolekul atau mikromolekul seperti lipid. protein sederhana. 1994). Dengan cara ini diperoleh campuran bermacam- macam asam amino dan untuk menentukan jenis asam amino maupun kuantitas masing- masing asam amino perlu diadakan pemisahan antara asam-asam amino tersebut (Poedjiadi. baik menggunakan enzim maupun asam. Protein yang diperlukan organisme dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan utama. flavoprotein dan glikoprotein. 2003). yaitu protein yang dalam hidrolisis tidak hanya menghasilkan asam amino. Pada umumnya asam amino diperoleh sebagai hasil hidrolisis protein. Dengan cara ini diperoleh campuran bermacam- macam asam amino dan untuk menentukan jenis asam amino maupun kuantitas masing- masing asam amino perlu diadakan pemisahan antara asam-asam amino tersebut (Poedjiadi. Perilaku ini dinyatakan dalam kesetimbangan berikut untuk asam amino dengan satu gugus amino dan satu gugus karboksil (Hart. 1994). yaitu protein yang apabila terhidrolisis hanya menghasilkan asam amino. metaloprotein. tetapi menghasilkan juga komponen organik ataupun komponen anorganik yang disebut “gugus prosthetic” (Poedjiadi.pada basa kuat. . Protein terkonjugasi yang dikenal antara lain nukleoprotein. baik menggunakan enzim maupun asam. polisakarida dan mungkin fosfat. Pada umumnya asam amino diperoleh sebagai hasil hidrolisis protein.

Kromatografi Gas Cair (KGC) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) (Meronda. botol semprot. Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan terutama dilakukan dengan menggunakan salah satu dari empat teknik kromatografi atau gabungan teknik tersebut. .1 Bahan Percobaan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan eluen (larutan n- butanol.5 µL) microsyringe dan gelas ukur. dan sampel). larutan ninhidrin 2 % dan larutan asam amino (asparagin. tirosin. 2009). 3. pipa kapiler (0. Keempat teknik kromatografi itu adalah : Kromatografi Kertas (KKt). larutan asam asetat dan air = 25 : 6 : 26 v/v ). Kromatografi Lapis Tipis (KLT). BAB III METODE PERCOBAAN 3. chamber. inkubator.2 Alat Percobaan Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah plat KLT (Kromatografi lapis tipis).

Noda yang timbul diberi lingkaran dengan pensil. tetapi totolan larutan asam amino tidak boleh tercelup ke dalam larutan eluen. Lalu. Selanjutnya. Elusi dihentikan setelah eluen menempuh jarak yang telah ditentukan sebelumnya yaitu garis ditandai dengan pensil. Kemudian sebuah plat KLT dibuat garis dengan pensil sejauh 1 cm pada bagian bawah plat dan 1 cm dari tepi atas plat. tirosin. plat KLT dimasukkan ke dalam inkubator selama beberapa menit. . asam asetat. dan air dengan perbandingan 25 : 6 : 26 v/v. Setelah itu.3. Dengan hati-hati. plat KLT dimasukkan ke dalam chamber yang sudah jenuh dengan larutan eluen.3 Prosedur Percobaan Eluen dibuat dengan cara dicampurkan n-butanol. kertas disemprot dengan larutan ninhidrin 2 % kemudian dikeringkan di dalam inkubator kurang lebih pada suhu 60 oC selama beberapa menit. Kemudian larutan eluen dimasukkan ke dalam chamber dan ditutup rapat dengan selotip hingga chamber jenuh dengan larutan eluen. Plat KLT dikeluarkan dari chamber lalu dikeringkan dalam inkubator. Diukur jarak dari tempat totolan sampai ke noda yang terpisah. kurang lebih selama beberapa menit. dan larutan sampel) dengan menggunakan pipa kapiler dengan jarak yang sama. plat KLT ditotolkan larutan asam amino (asparagin. Dihitung Rf dari setiap noda.

.

616 Sampel 6 3.I Hasil Tabel 1.7 0. Data Hasil Pengamatan Noda Jarak eluen Jarak noda (cm) Rf (cm) Asparagin . - Tirosin 6 3.8 0. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut : Rf = jarak noda dari tempat penotolan jarak yang ditempuh pelarut .633 Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan asam amino yang melibatkan pemisahan terhadap campuran berdasarkan perbedaan-perbedaan tertentu yang dimiliki oleh senyawanya. .

Setelah absorben diangkat dari eluen. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memotong plat KLT sesuai keperluan. Setelah itu memberi tanda pada plat KLT menggunakan pensil sebagai batas 0. kemudian dikeringkan pada suhu kamar dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin. Adapun dipilih campuran dari bahan tersebut karena memiliki perbedaan kepolaran dengan urutan kepolaran yaitu air > n-butanol > asam asetat. Beberapa asam amino yang digunakan adalah alanin. plat KLT yang telah ditotoli beberapa larutan tadi dimasukan ke dalam chamber yang berisi larutan eluen (campuran air. glisin. lalu mengaktifkannya dengan cara dimasukkan ke dalam oven pada suhu ± 60 o C selama ± 15 menit. Pada percobaan ini proses elusi berjalan lambat.7 cm sehingga diperoleh Rf = 0616. Berdasarkan hasil pengamatan setelah plat disemprot dengan ninhidrin 2% diperoleh hasil yaitu pada noda tirosin. jarak eluennya 6 cm. Setelah itu. proses elusi berakhir (eluen sampai pada base line) kurang lebih 20 menit. Pada noda tirosin. dan larutan sampel. Campuran ini berfungsi agar setiap asam amino dengan gugus yang berbeda dapat diidentifikasi. tirosin. jarak eluennya 6 cm. jarak nodanya 3. Penggunaan pensil disini adalah agar tidak terjadi perembesan tinta pada plat KLT. Langkah selanjutnya menotoli plat dengan asparagin.8 . jarak nodanya 3.5 cm antara larutan yang satu dengan yang lainnya dan beri garis 1 cm pada bagian atas plat dan 1 cm pada bagian bawah plat. asam aspartat dan asam amino sampel X. asam asetat. dan n-butanol). Pada percobaan pemisahan dan identifikasi asam amino ini dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dan dilakukan perhitungan nilai dengan menggunakan rumus Rf di atas.

dapat diambil hipotesa bahwa larutan sampel adalah tirosin atau senyawa asam amino yang mempunyai gugus fungsi yang mirip dengan tirosin. Sep 27 PENDUGAAN POPULASI SATWA LIAR DAN ANALISIS HABITAT SATWA LIAR Diposkan 27th September 2015 oleh Astrid Safira Idham 0 Tambahkan komentar 8. Sedangkan pada sampel asparagine tidak muncul noda. hal ini mungkin diakibatkan kesalahan atau kurangnya ketelitian praktikan dalam melakukan prosedur kerja. Sep .633. Diposkan 27th September 2015 oleh Astrid Safira Idham 0 Tambahkan komentar 7. Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa larutan sampel memiliki Rf yang hampir sama dengan tirosin. cm sehingga diperoleh Rf = 0.

Pada tanaman. tumbuhan mengonversi karbondioksida dari atmosfer menjadi karbohidrat.27 LAPORAN BIOKIMIA KARBOHIDRAT BAB I PENDAHULUAN 1. terutama selulosa.1 Latar Belakang Karbohidrat merupakan salah satu senyawa organik makromolekul alam yang banyak ditemukan dalam tanaman maupun hewan. pati. Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi manusia. Karbohidrat terdapat dalam semua tumbuhan dan hewan dan penting bagi kehidupan. Lewat fotosintesis. 2013). Selulosa ialah blok pembangun pada dinding sel yang kaku dan jaringan kayu dalam tumbuhan. dan gula. sedangkan pati ialah bentuk cadangan utama dari . karbohidrat dibentuk melalui reaksi antara karbon dioksida dan molekul air dengan bantuan sinar matahari dalam proses fotosintesis pada sel tanaman yang berklorofil (Tim Dosen Kimia.

1 Maksud Percobaan Maksud percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari lebih jauh mengenai isolasi starch dari umbi kentang dan reaksi antara amilum dengan iodida dalam berbagai keadaan (asam. Di ialam karbohidrat merupakan hasil sintesa dari molekul CO 2 dan H2O dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil) yang dikenal dengan proses fotosintesis. 1. dalam percobaan ini akan dilakukan percobaan isolasi kanji (starch) pada umbi kentang dan menguji larutan amilum dalam larutan iodine dalam berbagai keadaan (asam. Karbohidrat adalah senyawa polimer dari monosakarida dengan rumus molekul Cn(H2O)n.2. Berdasarkan hal tersebut. 1.karbohidrat untuk nantinya digunakan sebagai makanan atau sumber energy (Saifuddin.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1. Menentukan kadar amilum pada umbi kentang dengan metode isolasi starch . 2010). basa. Komponen karbohidrat dalam bahan makanan telah tersusun dalam kadarnya masing-masing. Karbohidrat ini merupakan sumber energi atau makronutrien utama bagi makhluk hidup (Campbell dan Reece. dan netral).2.2 Tujuan Percobaan Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah : 1. basa. 2011). dan netral).

1.1 Isolasi Starch dari kentang Penentuan kadar kanji pada umbi kentang dengan mengisolasi berdasarkan prinsip homogenasi.3 Prinsip Percobaan 1. penyaringan suspensi dan dekantasi beberapa kali dengan menggunakan pelarut air dan etanol untuk mendapatkan endapan murni yang berupa amilum. basa. kemudian melihat perubahan warna menjadi biru. Larutan yang mengalami perubahan warna kemudian dipanaskan dan mengalami perubahan warna menjadi bening dan kembali menjadi biru setelah didinginkan.2. basa dan netral.3.2 Uji Iodida dalam Starch Mereaksikan amilum dengan iodida dengan menambahkan pereaksi yang bersifat asam.3. Menentukan reaksi dan perubahan warna untuk uji iodida pada starch dalam suasana asam. 1. dan netral. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .

. Dua macam karbohidrat. Pada tanaman. Karbohidrat juga bagian penting dalam koenzim. Pada hewan tingkat tinggi. karbohidrat dibentuk melalui reaksi antara karbon dioksida dan molekul air dengan bantuan sinar matahari dalam proses fotosintesis pada sel tanaman yang berklorofil (Tim Dosen Kimia. Reaksi fotosintesis: CO2 n + nH2O (CH2O)n + O2 Pati adalah polisakarida yang merupakan kelompok utama penyimpanan karbohidrat yang digunakan sebagai sumber makanan atau energy. antibiotika. Sedangkan selulosa adalah polisakarida yang menjadi komponen utama karbohidrat pada tumbuhan. glukosa adalah komponen yang paling penting dan glukosa merupakan karbohidrat sederhana yang paling banyak diperlukan dalam tubuh manusia. kulit kerang dan dinding sel bakteri (Tim Dosen Kimia. yaitu D-ribosa dan 2- deoksiribosa adalah merupakan penyusun kerangka inti molekul genetic DNA dan RNA. 2013). 2013). tulang rawan. Karbohidrat merupakan salah satu senyawa organic makromolekul alam yang banyak ditemukan dalam tanaman maupun hewan. tulang rawan.

Karbohidrat merupakan persenyawaan antara karbon. hal ini karena beberapa senyawa yang mempunyai rumus empiris seperti karbohidrat. hydrogen dan oksigen yang terdapat dalam alam dengan rumus empiris yaitu Cn(H2O)n. Gugus-gugus fungsi itulah yang menentukan sifat senyawa tersebut. tetapi bukan karbohidrat (Tim Dosen Kimia. sehingga disebut karbohidrat. Karbohidrat yang paling sederhana adalah monosakarida. Melihat SENyawa rumus empiris tersebut. 2013). monosakarida. Dari rumus struktur akan terlihat bahwa ada gugus fungsi penting yang terdapat pada molekul karbihidrat yaitu gugus karbonil (aldehid dan keton). . Berdasarkan gugus yang ada pada molekul karbohidrat dapat didefinisikan sebagai polihidroksialdehida dan polihidroksiketon atau senyawa yang menghasilkannya pada proses hidrolisis. Istilah sakaridaberasal dari bahasa latin (saccharum = gula) dan mengacu pada rasa manis senyawa karbohidrat sederhana. 2013). Berdasarkan hasil hidrolisis dan strukturnya maka karbohidrat dibagi atas tiga golongan besar yaitu. dan poligosakarida. maka senhyawa ini pernah diduga sebagai “hidrat dari karbon”. Karbohidrat (carbohydrate) mencakup gula sekaligus polimer- polimer gula. Sejak tahun 1880 telah disadari bahwa gagasan “hidrat dari karbon” merupakan gagasan yang tidak benar. oligosakarida. Hasil hidrolisis dari ketiga kelas utama karbohidrat saling berkaitan (Tim Dosen Kimia.

misalnya. Glukosa (C6H12O6). yakni gula yang terdapat didalam susu (Campbell dan Reece. gula dapat merupakan aldose (gula aldehida) atau ketosa (gula keton). yang mana kedua monomernya adalah glukosa dan fruktosa. 2010). kita dapat melihat ciri khas gula. dari kata Yunani monos. . contoh gula disakarida yang lain adalah laktosa. Disakarida yang paling umum adalah sukrosa atau gula pasir. dan sacchar. sedangkan fruktosa. molekul ini memiliki gugus karbonil (>C=O) dan banyak gugus hidroksil (-OH). memiliki posisi sentral dalam kimia kehidupan. merupakan aldosa. isomer struktur dari glukosa. monosakarida yang paling umum. Monosakarida (monosaccaharide. gula) umumnya memiliki rumus molekul yang merupakan kelipatan unit CH 2O. Tumbuhan umumnya mentranspor karbohidrat dari daun ke akar dan organ nonfotosintetik lain dalam bentuk sukrosa. Bergantung pada lokasi gugus karbonil. adalah ketosa (Campbell dan Reece. Disakarida (disasccharide) terdiri dari dua monosakarida yang digabungkan oleh tautan glikosidik (glycosidic linkage). Dalam struktur glukosa. ikatan kovalen yang terbentuk antara dua monosakarida melalui reaksi dehidrasi.Glukosa.dikenal juga sebagai gula sederhana. 2010). tunggal.

Kandungan karbohidrat pada tumbuhan berbeda-beda. karena glukosa merupakan bahan bakar seluler utama. Beberapa polisakarida berperan sebagai materi simpanan. sebagai granula di dalam struktur selular yang dikenal sebagai plastid. contohnya seperti pada rumput laut. 2012). polimer dari monomer-monomer glukosa. Sebagai bahan penghancur amilum akan pecah dari bahan pengikat dan menyebabkan pembengkakan dari beberapa . Menyintesis pati memungkinkan tumbuhan menimbun kelebihan glukosa. bahan pengikat.. pati merepresentasikan energy yang disimpan. Amilum merupakan salah satu bentuk bahan tambahan dalam pembuatan tablet sebagai bahan pengisi. Kandungan karbohidrat pada rumput laut umumnya berbentuk serat yang tidak bisa dicerna oleh enzim pencernaan manusia. yang dihidrolisis apabila dibutuhkan untuk menyediakan gula bagi sel. sehingga hanya memberikan sedikit asupan kalori dan cocok digunakan sebagai makanan diet (Santi dkk. Tumbuhan menyimpan pati (starch). polimer dengan beberapa ratus hingga beberapa ribu monosakarida yang digabungkan oleh tautan glioksidik. bahan penghancur. yang mencakup kloroplas. Gula nantinya dapat ditarik kembali dari tempat penyimpanan karbohidrat melalui hidrolisis. Tumbuhan maupun hewan menyimpan gula untuk digunakan nanti dalam bentuk polisakarida simpanan. yang memutus ikatan antara monomer-monomer glukosa (Campbell dan Reece. Polisakarida (polysaccharide) merupakan makromolekul. 2010).

Sebagai bahan penstabil e. yaitu. GC/Gas Cromatography. 2011). Sebagai bahan pengisi dan pembentuk d. Sebagai sumber serat Pengujian kadar karbohidrat dapat dilakukan dengan dua (2) macam cara. farmasi maupun dalam kehidupan manusia sehari-hari. pertama menggunakan reaksi pembentukan warna dan yang kedua menggunakan prinsip kromatografi (TLC/Thin Layer Cromatograpgy. Pati tidak larut dalam air dan dalam analisis pati. Sedikitnya ada tujuh (7) macam reaksi pembentukan warna (Saifuddin. HPLC/High Performance Liquid Cromatography). Salah satu contohnya adalah tanaman kentang (Mariyani. Di indonesia terdapat bermacam- macam tanaman yang mengandung amilum yang mungkin dapat digunakan sebagai bahan tambahan. 2012). Sebagai sumber kalori atau energi b. Sebagai bahan pemanis dan pengawet c. 2011) : a. Ada banyak fungsi dari karbohidrat dalam penerapannya di industri pangan.komponen penyusun sehingga sebagian tablet akan hancur. . Sebagai sumber flavor (karamel) f. Diantara fungsi dan kegunaan itu ialah (Saifuddin. Hasil hidrolisis pati/amilum adalah glukosa. Dikarenakan efisiensi pengujian. memberikan warna biru dengan iodium. pada umumnya untuk pengujian secara kualitatif hanya digunakan prinsip yang pertama yaitu adanya pembentukan warna sebagai dasar penentuan kandungan karbohidrat dalam suatu bahan.

Keadaan pohon dari suatu sampel sangat berhubungan dengan kandungan pati yang dihasilkan sampel karena faktor pohon yang masih berproduksi dapat menghasilkan pati di dalam batang pohon. produktivitas kandungan pati pada pohon akan menurun. dkk.Warna biru yang dihasilkan diperkirakan adalah hasil dari ikatan kompleks antara amilum dengan iodin. Pati sagu disebut juga poliglukosa.Hidrolisis pati akan terjadi pada pemanasan dengan asam encer dimana berturut-turut akan dibentuk amilosa yang memberi warna biru dengan iodium. Penambahan iodium akan terbentuk kompleks pati dan iodium kompleks ini dapat mengendap yang kemudian dapat ditentukan dengan mengukur konsentrasi warna biru yang terbentuk dengan menggunakan spektrofotometer.Reaksi positifnya ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru. 2012). Sewaktu didinginkan warna biru akan muncul kembali (Manatar. Metode ini digunakan untuk memisahkan amilum atau pati yang terkandung dalam larutan tersebut. Sewaktu amilum yang telah ditetesi iodin kemudian dipanaskan. dkk. Fungsi pati atau amilim selain sebagai tempat cadangan makanan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penghancur pada tablet. (Manatar. Kandungan pati pada suatu tanaman berhubungan dengan keadaan tanaman itu sendiri. karena unit monomernya glukosa. 2012). warna yang dihasilkan sebagai hasil dari reaksi yang positif akan menghilang. 2012). amilopektin yang memberi warna merah dengan iodium (Manatar. sedangkan untuk pohon yang sudah tidak berproduksi. dkk.. Bahan penghancur ditambahkan untuk memudahkan pecahnya atau hancurnya tablet ketika terjadi kontak dengan cairan .

Amilum jagung berupa serbuk halus. memiliki luas permukaan yang besar. Amilum jagung mengandung 28% amilosa dan 72% amilopektin (Wicaksono. dkk. 2008). . Amilum jagung mudah diperoleh dan harganya terjangkau. amilum merupakan salah satu bahan penghancur yang paling sering digunakan karena murah dan mudah didapat (Mariyani. sehingga tablet yang kontak dengan cairan saluran pencernaan mengembang dan menyebabkan tablet menjadi pecah dan hancur. 2012). Amilum alami bersifat adhesif sehingga sifat alirnya kurang baik. dkk. Hal ini dikarenakan amilosa mampu menyerap air sehingga mempengaruhi proses pengembangan amilum.saluran pencernaan. Oleh karena itu diperlukan modifikasi untuk kelemahan dari amilum jagung alami tersebut. Salah satu cara modifikasi amilum yaitu pregelatinasi (Mariyani. 2012). Diantara beberapa bahan penghancur. Salah satu amilum yang dapat digunakan sebagai bahan penghancur yaitu amilum jagung. Kemampuan amilum sebagai bahan penghancur dipengaruhi oleh amilosa dalam amilum.

kertas saring. BAB III METODE PERCOBAAN III.1 Bahan Percobaan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu umbi kentang. larutan HCl 6 M. etanol 95%. . larutan amilum 1% dalam air. kertas label dan tissue roll. larutan iod 0. larutan NaOH 6 M.01 M. akuades.

pisau. Endapan yang terbentuk didekantasi lagi dengan 50 mL air. Starch tersebut dikeringkan dalam inkubator selama beberapa menit dan setelah kering ditimbang. ditambahkan lagi 50 mL air dan dibiarkan mengendap. Campuran tersebut disaring dengan kain kasa dan cairannya ditampung dalam gelas piala sedangkan residunya dibuang. blender. kain putih. Pekerjaan dekantasi dilakukan dengan air 50 mL kemudian terakhir didekantasi dengan dengan 25 mL etanol 95% disaring dengan kertas saring. gelas piala 250 mL.3 Prosedur Kerja III. dan oven.3.1 Isolasi Starch dari kentang Umbi kentang yang akan digunakan dikupas. corong.2 Alat Percobaan Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu. neraca Ohauss. pipet tetes. III.3. batang pengaduk.III. dicuci dan ditimbang sebanyak 75 gram lalu dihomogenasikan dengan 100 mL air dalam blender selama ± 1 menit sehingga terbentuk suspensi. Setelah terbentuk endapan. tabung reaksi.2 Uji Iodida untuk Starch . III. erlenmeyer 250 mL. gelas ukur 100 mL.

01 M. Diamati warna yang terbentuk. Dipipet 3 mL amilum ke dalam masing-masing tabung reaksi. Disiapkan 3 tabung reaksi. Pada tabung reaksi I ditambahkan 2 tetes air. dan tabung reaksi III ditambahkan dengan 2 tetes NaOH 6 M. Kemudian larutan didinginkan dalam air es dan diamati perubahan warna yang terjadi. tabung reaksi II ditambahkan 2 tetes HCl 6 M. Masing-masing tabung ditambahkan 1 tetes iod 0. Kemudian dilanjutkan dengan pemanasan dan diamati warna yang terbentuk. .

Berat amilum setelah kering dan sebelum dikurangi kertas saring = 3.3 gram. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Amilum dalam suspensi alkohol berwarna = agak putih keruh. f.9 gram e. Berat contoh (kentang) = 75 gram.2 Uji Iodida Tabung I Tabung II Tabung III Perubahan (Aquades) (NaOH) (HCl) .1 Isolasi Starch dari Kentang a.1 Hasil 4.2 % 4. b.1. Berat kertas saring yaitu 0. Kadar amilum dalam contoh (kentang) x 100% = x 100% = 3. Kentang setelah diblender akan terjadi suspensi kental berwarna krem.1. setelah kering berwarna putih menyerupai serbuk. d. Berat amilum setelah kering dan setelah dikurangi kertas saring = 2. g.4 gram. c.

01 Keruh Keruh Keruh M Warna setelah dipanaskan Keruh Keruh Bening Warna setelah didinginkan keruh Keruh Bening 4. Reaksi Reaksi yang terjadi pada uji iodida ini adalah sebagai berikut: a. Reaksi amilum + H2O + I2 . Warna sebelum ditambahkan Iod Keruh Keruh Keruh 0.01 M Warna setelah ditambahkan Iod 0.2.

b. Reaksi Amilum + HCl + I2 .

.

c. Reaksi Amilum + NaoH + I2

4.3 Pembahasan

4.3.1 Isolasi Kanji (Starch) dari Kentang

Pada percobaan ini akan ditentukan kadar amilum dalam kentang. Kentang yang

mula-mula dihomogenkan dengan air dalam blender sehingga terbentuk suspensi dan

disaring untuk memisahkan filtrat dari residu. Penyaringan dilakukan dengan kain kasa

tipis agar tidak mudah robek dan penyaringan berlangsung lebih cepat. Cairan keruh

didekantasi sebanyak 2 kali dengan akuades. Fungsi dekantasi adalah untuk memisahkan

filtrat dengan residu atau memurnikan karena air dapat mengikat kotoran dan melarutkan

zat-zat dalam sampel. Setelah itu didekantasi dengan etanol 95%. Etanol berfungsi untuk

melarutkan bahan-bahan organik yang tidak larut dalam air dan agar filtrat yang tersisa

hanya amilum saja. Hasil dekantasi terakhir disaring dengan kertas saring dan

dikeringkan dalam inkubator sehingga diperoleh tepung amilum yang kering dan

ditimbang. Hasil yang didapat adalah 2,4 gram dan kadar amilum yang terdapat pada

kentang adalah 3,2 %. Hal ini membuktikan bahwa kentang mengandung amilum.

4.3.2 Uji Iodida untuk Starch

Tabung I, pada suasana netral, apabila amilum ditambahkan dengan air maka

tidak terjadi perubahan yaitu larutan berwarna Keruh. Pada saat ditambahkan dengan

larutan iod 0,01 M larutan larutan tetap berwarna Keruh. Kemudian saat dipanaskan

larutan tetap menjadi Keruh dan setelah didinginkan tetap berwarna Keruh. Hal ini

membuktikan bahwa antara air dan amilum tidak terjadi reaksi.

Tabung II pada suasana asam, larutan amilum ditambah HCL diperoleh larutan

berwarna Keruh. Setelah ditambahkan Iod 0,01 warnanya tetap keruh. Dengan

pemanasan, seharusnya terjadi perubahan warna menjadi warna biru yang kemudian

larutan biru tersebut hilang dan menjadi bening. Hal ini karena ikatan semu antara iod

dan amilum mudah putus dengan pemanasan serta terjadi penguraian iod pelepasan iod

dari amilum. Dan setelah didinginkan terjadi perubahan yaitu kembali menjadi warna

biru bening. Hal ini membuktikan bahwa terbentuknya kembali ikatan antara iod dan

amilum, namun pada percobaan yang dilaksanakan tidak terjadi perubahan warna.

Tabung III pada suasana basa, yaitu dengan menggunakan NaOH tidak terjadi

perubahan warna yaitu larutan bening. Sehingga tidak dilakukan pemanasan lagi seperti

pada tabung II. Hal ini menunjukkan bahwa dalam suasana basa tidak terjadi reaksi.

Walaupun seharusnya amilum bereaksi pada kondisi asam. karena ini seringkali menyulitkan praktikan dalam mengambil larutan dari botol yang mulai habis. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kadar kanji (starch) dalam sampel umbi kentang 75 gram adalah 3.2 %. Amilum tidak bereaksi baik pada suasana netral.2 Saran Sebaiknya larutan kimia yang ada di lab rutin dicek dan ditambah bila berkurang. .1 Kesimpulan Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa: 1. asam atau pun basa. 2. 5.

DAFTAR PUSTAKA Campbell. Neil. 2010. Biologi edisi kedelapan jilid I. Erlangga. Reece. . Jane B. Jakarta.

(diakses pada tanggal 26 QQQQOktober 2014. (online) http://food4healthy.E. Mariyani. R. 2011. LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KARBOHIDRAT NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM NIM : H41113341 .00 WITA). 2012. Eka IndAH Setiawan. pada pukul 15. dan Max. Jurnal Akuatika. Pengaruh Konsentrasi Amilum Jagung Pregelatinasi Sebagai Bahan Penghancur Terhadap Sifat Fisik Tablet Vitamin E Untuk Anjing. Tim Dosen Kimia.30 WITA). Cok.Manatar. Vol. Umar. 2012...R. (online).com /2008/10/11/analisis-karbohidrat/. Julius. Analisis Kandungan Pati dalam Batang Tanaman Aren (Arenga pinnata).. Komposisi Kimia dan Profil Polosakarida Rumput Laut Hijau. J.30 WITA). Istri Sri Arisanti. pada pukul 14. Santi dkk.J. 3(2).12 (2). P. (diakses pada tanggal 26 Oktober 2014. Makassar. 2013. Saifuddin. Komang Ayu. 106. (diakses pada tanggal 26 Oktober 2014. pada pukul 14. Kimia Organik. Jurnal Ilmiah Sains. Analisis Karbohidrat. (online). UPT Mata Kuliah Umum Universitas Hasanuddin. QQQQwordpress. 2012..

KELOMPOK : IV (EMPAT) HARI/TANGGAL : KAMIS / 23 OKTOBER 2014 ASISTEN : RISKA LABORATORIUM BIOKIMIA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR .

2014 LEMBAR PENGESAHAN .

Makassar. 5 Desember 2014 Asisten Praktikan (RISKA) (ASTRID SAFIRA IDHAM) LAMPIRAN I BAGAN KERJA .

Bagan Kerja Uji Iodida untuk Amilum Tabung III Tabung II Tabung I Dimasukkan 3 mL amilum Ditambahkan 2 tetes HCl 6 M Ditambahkan beberapa tetes Iod 0. Ditambahkan beberapa tetes Iod 0. diamati perubahan warna Data Dimasukkan 3 mL amilum  Ditambahkan 2 tetes NaOH 6 M Ditambahkan beberapa tetes Iod 0.01 M Dimasukkan 3 mL amilum Ditambahkan 2 tetes air. Bagan Kerja Isolasi Starch Dari Kentang Data 2. diamati perubahan warna Dinginkan.01 M Diamati perubahan warna Dipanaskan. 1.01 M .

.

Isolasi Strach 2 1 4 3 6 5 .LAMPIRAN 2 FOTO a.

Setelah air dari endapan dibuang. . Amilum kemudian ditimbang 8. Endapan atau amilum yang telah jadi. larutan tersebut diberi 50 ml air lalu diendapkan. kering dan tertutup. kemudian ditunggu hingga mengendap 4. Setelah dihomogenesasikan dan di blender. 7 8 Keterangan : 1. 6. Endapan tadi kemudian diberi 50 ml ethanol 95%. terlihat endapan di dasar gelas. dan endapan disaring dengan menggunakan kertas saring. 2. 5. 3. Endapan yang tertinggal di kertas saring kemudian dikeringkan. 7. Ethanol kemudian dibuang. Amilum yang telah jadi kemudian disimpan di wadah yang bersih.

Mar 8 PENGARUH POLUSI DOMESTIK TERHADAP KUALITAS AIR LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM PENGARUH POLUSI DOMESTIK TERHADAP KUALITAS AIR NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM NIM : H41113341 KELOMPOK : II ( DUA ) B . Diposkan 27th September 2015 oleh Astrid Safira Idham 0 Tambahkan komentar 9.

lingkungan tersebut berada dalam . Jika komponen biotik berada dalam komposisi yang proporsional antara tingkat trofik dengan komponen abiotik yang mendukung kehidupan komponen biotik. : SELASA/ 15 APRIL 2014 ASISTEN : ANWAR AHMAD SHOLEH LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDIN MAKASSAR 2014 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Lingkungan terdiri dari komponen biotik dan abiotik. HARI/TANGGAL PERC.

1995).keseimbangan atau stabil. Konsekuensinya adalah beban badan air yang selama ini dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga menjadi semakin berat. misalnya dengan mengukur tingkat kejernihan. 2013 ). pH. Polusi domestik atau pencemaran akibat aktivitas rumah tangga berupa sampah sisa makanan. artinya lingkungan menjadi tidak seimbang jika terjadi perubahan yang melebihi daya dukung dan daya lentingnya ( Umar. . dengan peningkatan kandungan rata-rata 50% . Ada bermacam-macam cara untuk menentukan adanya polusi air. termasuk terganggunya komponen lain seperti saluran air. Keseimbangan lingkungan dapat menjadi rusak. Meningkatnya aktivitas manusia di rumah tangga menyebabkan semakin besarnya volume limbah yang dihasilkan dari waktu ke waktu. 2008). suhu. bahan-bahan ini merupakan bahan yang mudah diuraikan oleh mikroba dalam air. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil perkembangan budaya digunakan untuk mengembangkan berbagai industri yang dapat memenuhi kebutuhan manusia (Whardana. Kebutuhan ini akan menjadi semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. kandungan oksigen oleh mikroba dan proses kimia lainnya untuk menguraikan bahan organik dalam air tadi. biota perairan dan sumber air penduduk. Upaya pemenuhan kebutuhan menusia dipengaruhi oleh perkembangan budaya. Kegiatan manusia mengubah lingkungan dilakukan karena adanya kebutuhan hidup. Volume limbah rumah tangga meningkat 5 juta m3 pertahun. sabun. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya pencemaran yang banyak menimbulkan kerugian bagi manusia dan lingkungan (Yusuf. deterjen dan tinja.

. 2. sehingga pemanfaatannya dapat terganggu. Pencemaran air dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial. Keadaan ini akan menyebabkan oksigen terlarut dalam air pada kondisi yang kritis.2 Tujuan Percobaan Tujuan yang akan dicapai pada percobaan ini adalah : 1. maka dilakukanlah percobaan ini untuk menentukan kualitas air dari beberapa sumber yang berbeda dengan menggunakan indikator metil merah. Mengenalkan dan melatih keterampilan mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan pencemaran lingkungan. Yang terakhir biasanya BOD karena semakin tinggi aktivitas mikroba menguraikan bahan organik maka makin cepat kandungan oksigen dalam air habis (Supriyanti. 2007). I. . BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pencemaran air adalah penambahan unsur atau organisme laut kedalam air. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh polusi domestik terhadap kualitas air. dengan menggunakan methylen merah. karena adanya gangguan oleh adanya zat-zat beracun atau muatan bahan organik yang berlebih. 2005). atau merusak kadar kimia air (Salmin. Untuk mengetahui kualitas air dari beberapa sumber yang berbeda.

pada dasarnya bahan pencemar air dapat dikelompokkan menjadi: 1. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. misalnya sampah industri makanan. sampah industri gula . Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Menurut Setiawan (2011). terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik. 1995). yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air (Suryani. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat. minyak. Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau. 2011). Air yang aman adalah air yang sesuai dengan kriteria bagi peruntukan air tersebut. badai. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Air limbah tersebut memiliki efek termal. nutrien dan padatan. Sampah yang dalam proses penguraiannya memerlukan oksigen yaitu sampah yang mengandung senyawa organik. toksin organik. Misalnya kriteria air yang dapat diminum secara langsung (air kualitas A) mempunyai kriteria yang berbeda dengan air yang dapat digunakan untuk air baku air minum (kualitas B) atau air kualitas C untuk keperluan perikanan dan peternakan dan air kualitas D untuk keperluan pertanian serta usaha perkotaan. industri dan pembangkit tenaga air (Whardana. gempa bumi dan lain-lain juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi. hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. sungai. lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia.

Bahan pencemar ini berasal dari limbah rumah tangga. serat sintetis. sampah rumah tangga (sisa-sisa makanan). Hal ini . limbah industri dan limbah minyak. limbah rumah sakit atau dari kotoran hewan/manusia. 2. Selain itu akan mengganggu ekosistem air. Bahan pencemar senyawa anorganik/mineral misalnya logam-logam berat seperti merkuri (Hg). Selain itu proses penguraian sampah yang mengandung protein (hewani/nabati) akan menghasilkan gas H2S yang berbau busuk. types) atau penyakit kulit. Bahan pencemar ini tidak dapat dimusnahkan oleh mikroorganisme. maka perairan (sumber air) tersebut akan kekurangan oksigen. 4. garam-garam anorganik. hati. karena kadar oksigen dan sinar matahari berkurang. 3. sehingga apabila sampah-sampah tersbut terdapat dalam air. Bahan pencemar berupa logam-logam berat yang masuk ke dalam tubuh biasanya melalui makanan dan dapat tertimbun dalam organ-organ tubuh seperti ginjal. tembaga (Cu). tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati. kotoran manusia dan kotoran hewan. ikan-ikan dan organisme dalam air akan mati kekurangan oksigen. herbisida. kadmium (Cd). polimer seperti plastik. sehingga akan menggunung dimana-mana dan dapat mengganggu kehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. yaitu bahan pencemar yang mengandung virus dan bakteri misal bakteri coli yang dapat menyebabkan penyakit saluran pencernaan (disentri. Bahan pencemar berupa makanan tumbuh-tumbuhan seperti senyawa nitrat. Timah hitam (pb). Bahan pencemar penyebab terjadinya penyakit. sehingga air tidak layak untuk diminum atau untuk mandi. tebu. 5. kolera. senyawa fosfat dapat menyebabkan tumbuhnya alga (ganggang) dengan pesat sehingga menutupi permukaan air. deterjen. Untuk proses penguraian sampahsampah tersebut memerlukan banyak oksigen. Bahan pencemar organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yaitu senyawa organik berasal dari pestisida. mematikan ikan dan organisme dalam air. limpa saluran pencernaan lainnya sehingga mengganggu fungsi organ tubuh tersebut. diare.

yakni suatu kondisi yang mengakibatkan kurangnya oksigen dan mendorong terjadinya kehidupan organisme anaerob. Suatu sumber air dikatakan tercemar tidak hanya karena tercampur dengan bahan pencemar. Menurut Yusuf (2008). Limbah Industri meliputi bahan organik dan bahan anorganik. menyebabkan timbulnya penyakit. Limbah pertanian berupa obat insektisida. sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu. Sebagai contoh suatu sumber air yang mengandung logam berat atau mengandung bakteri penyakit masih dapat digunakan untuk kebutuhan industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. masih kuatnya pemikiran dan anggapan sebagian besar masyarakat bahwa pembuangan limbah rumah tangga secara langsung ke lingkungan tidak akan menimbulkan dampak . menyebabkan banjir. akan tetapi tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (keperluan air minum. memasak. 2. bahan anorganik. limbah cair rumah tangga belum terjangkau oleh teknologi pengolahan limbah. Pada berbagai tempat di tanah air. bisa mematikan biota air. Limbah rumah tangga yaitu bahan organik. bahan biologis. akan tetapi apabila air tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan tertentu. Pencemaran air terjadi apabila dalam air terdapat berbagai macam zat atau kondisi (misal Panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air yang telah ditentukan. Penangkapan ikan dengan menggunakan racun seperti potasium. Selain biaya yang mahal dan penerapan yang sulit. pupuk yang menyebabkan eutrofikasi. disebabkan oksigen dan sinar matahari yang diperlukan organisme dalam air (kehidupan akuatik) terhalangi dan tidak dapat masuk ke dalam air. 4. mandi dan mencuci) (Sugiharto. 3. 1987). sumber pencemaran air dapat meliputi sebagai berikut: 1. menyebabkan biota air mati.

yang serius. Dalam kondisi demikian, diperlukan suatu sistem pengolahan limbah rumah

tangga yang selain murah dan mudah diterapkan, juga dapat memberi hasil yang optimal

dalam mengolah dan mengendalikan limbah rumah tangga sehingga dampaknya terhadap

lingkungan dapat dikurangi (Yusuf, 2008).

Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji berdasarkan

parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-

undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor :

115 Tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter

ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis. Parameter fisik menyatakan

kondisi fisik air atau keberadaan bahan yang dapat diamati secara visual/kasat mata. Yang

termasuk dalam parameter fisik ini adalah kekeruhan, kandungan partikel/padatan, warna,

rasa, bau, suhu, dan sebagainya. Parameter kimia menyatakan kandungan unsur/senyawa

kimia dalam air, seperti kandungan oksigen, bahan organik (dinyatakan dengan BOD,

COD, TOC), mineral atau logam, derajat keasaman, nutrient/hara, kesadahan, dan

sebagainya.Parameter mikrobiologis menyatakan kandungan mikroorganisme dalam air,

seperti bakteri, virus, dan mikroba pathogen lainnya.Berdasarkan hasil pengukuran atau

pengujian, air sungai dapat dinyatakan dalam kondisi baik atau cemar. Sebagai acuan

dalam menyatakan kondisi tersebut adalah baku mutu air, sebagaimana diatur dalam

Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 (Soendjojo, 1990).

Oksigen sangat dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan dan proses

metabolisme. Dalam perairan oksigen berperan dalam proses oksidasi den reduksi bahan

kimia menjadi senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrien yang sangat dibutuhkan

organisme perairan. Sumber utama oksigen diperairan berasal dari proses difusi udara

bebas dan hasil proses fotosintesis. Untuk mengetahui kualitas suatu perairan, parameter

oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biokimia (BOD) memegang peranan

penting. Prinsip penentuannya bisa dilakukan dengan cara titrasi iodometri atau langsung

dengan alat DO meter. Suatu perairan yang tingkat pencemarannya rendah dan bisa

dikatagorikan sebagai perairan yang baik, maka kadar oksigen terlarutnya (DO) > 5 ppm

dan kadar oksigen biokimianya (BOD) berkisar 0 - 10 ppm (Salmin, 2005).

Yang dimaksud adalah oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari

udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk

yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk

mikroorganisme seperti bakteri. Apabila sungai menjadi tempat pembuangan limbah yang

mengandung bahan organik, sebagian besar oksigen terlarut digunakan bakteri aerob

untuk mengoksidasi karbon dan nitrogen dalam bahan organik menjadi karbondioksida

dan air. Sehingga kadar oksigen terlarut akan berkurang dengan cepat dan akibatnya

hewan-hewan seperti ikan, udang dan kerang akan mati (Sugiharto, 1987).

Polusi domestik atau polusi akibat aktivitas rumah tangga yang dapat berupa

sampah, sisa makanan, sabun, deterjen, dan bahan tinja, di mana bahan ini mudah

diuraikan oleh mikroba air dengan menggunakan oksigen terlarut dalam air. Derajat

pencemaran suatu perairan dapat diketahui dengan bermacam-macam cara, misalnya

berdasarkan: kejernihan air, kandungan O2 terlarut, kebutuhan O2 oleh mikroba (BOD =

Biological Oxygen Demand), dan proses kimiawi lainnya dalam penguraian bahan

organik di dalam air (Umar, 2013).

BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah botol sampel, pipet tetes,

plastik elastis, dan karet gelang.

III.2 Bahan

Bahan yang diperlukan untuk percobaan ini adalah metil merah, air laut jam 12

malam, air laut jam 6 pagi, air selokan, air sungai, air kolam, air sumur, air PAM, dan air

danau UNHAS .

III.3 Metode Kerja

Langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam percobaan ini sebagai berikut:

1. Botol sampel disiapkan sebanyak 8 buah diberi label A, B, C, D, E, F, G, dan H.
2. Kemudian masing-masing botol diisi dengan urutan secara hati-hati dengan urutan A diisi

air laut jam 12 malam, B diisi air laut jam 6 pagi, C diisi air selokan, D diisi air sungai, E

diisi air kolam, F diisi air sumur, G diisi air PAM, dan H diisi air danau UNHAS. Botol

diisi air secara hati-hati, jangan sampai terkocok ataupun ada gelembung.

3. Sebelum ditutup, ke dalam botol A, B, C, D, E, F, G, dan H masing-masing ditambahkan

dengan metil merah dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 50 tetes.
4. Kemudian botol tersebut ditutup dengan menggunakan plastik elastis, usahakan jangan

ada gelembung udara dalam botol.
5. Botol-botol tersebut kemudian diletakkan di tempat terbuka selama 5 hari dan diamati

setiap 24 jam.
6. Data hasil pengamatan dicatat dan dibuat laporan hasil pengamatan.

+ + Keterangan : 1. + + 4 + ++ -. . . - 3 + + . = Kuning 3. + + 5 + ++ -. + = Jernih kekuningan 4. air kolam. . . . air selokan. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV. ++ = Jernih 5.2 Pembahasan Pada percobaan ini digunakan 8 jenis air yang berbeda yakni air laut jam 12 malam. . air laut jam 6 pagi. Air Laut Air Laut Air Air Air Air Air Air malam pagi (B) selokan Sungai Kolam Sumur PAM Danau (A) (C) (D) (E) (F) (G) (H) 1 . . . . +++ = Jernih sekali IV. - 2 + + . ++ ++ . 1 Hasil Percobaan Tabel Pengamatan terhadap Beberapa Jenis Air yang Berbeda Hari ke. air sungai. dan air . . = Merah 2. . air PAM. -. ++ +++ . air sumur. + + .

danau yang diuji dengan metiten merah. polusi dalam air tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme yang mana dalam proses penguraiannya itu akan menghasilkan CO2 sehingga kadar CO2 dalam air meningkat. dimana hasil yang diperoleh warna kuning dari metilen merah tidak mengalami perubahan warna hal ini berarti bahwa air tersebut tergolong agak asam disebabkan karena warna airnya tidak berubah jadi jernih berarti kandungan CO2 dalam air tersebut masih cukup tinggi. air selokan berwarna merah. hal ini berarti kandungan CO2 dalam air tersebut sangat tinggi karena diakibatkan banyaknya polusi dalam air tersebut baik berupa yang organik maupun yang bukan. Semakin merah air berarti semakin asam airnya yang menunjukkan bahwa semakin tercemar air tersebut karena tingginya kadar asam disebabkan oleh tingginya kadar CO 2. air laut jam 6 pagi tidak berwarna atau jernih. air sumur berwarna kuning.4 dan berwarna kuning diatas 6. air sungai tidak berwarna atau jernih. dan air danau berwarna jernih kekuningan namun agak keruh. sedangkan bila airnya berwarna kuning berarti kandungan CO2-nya kurang. air kolam jernih sekali. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama 5 hari diperoleh hasil dimana air laut jam 12 malam berwarna jernih kekuningan.2. air PAM berwarna jernih kekuningan. Lalu golongan tercemar sedang yakni air sumur. Berdasarkan hasil yang diperoleh kita dapat menggolongkan tingkat pencemaran air tersebut. Metilen merah merupakan indikator asam basa dengan warna merah pH dibawah 4. dengan tingkat pencemaran yang tinggi (tercemar berat) adalah air selokan dibuktikan dengan berubahnya metilen merah dari yang semula berwarna kuning menjadi berwarna merah. Golongan kurang .

hal ini berarti kandungan polutan dalam air tersebut masih kurang terutama pada air kolam yang merupakan air yang paling jernih diantara semuanya. Golongan yang tidak tercemar termasuk didalammnya air kolam. adanya perbedaan yang diperoleh antara air laut malam dan pagi disebabkan karena adanya pasang surut air laut yang memungkinkan kandungan polutan. air sungai dan air laut pagi.tercemar adalah air laut malam. dimana airnya berubah menjadi berwarna jernih agak kekuningan berarti kandungan CO2 dalam air tersebut sedikit. dimana metilen merah yang semula berwarna kuning berubah menjadi jernih atau tidak berwarna. . air PAM dan air danau. kadar garam dan mikroorganisme yang terdapat dalam kedua air tersebut berbeda.

Dari kedelapan sampel yang digunakan. V. dimana air ini dapat merubah metilen merah menjadi jernih.1 Kesimpulan Dari hasil pengambilan sampel dan pengujian dengan menggunakan indikator Metil Merah pada 8 jenis air yang berbeda. yang memiliki kualitas air yang paling bagus adalah air kolam. dan yang tergolong sangat tercemar adalah air selokan yang ditandai berubahnya metilen merah yang semula berwarna kuning menjadi warna merah berarti kadar keasamannya meningkat dan CO2 nya meningkat.2 Saran Saran mengenai percobaan ini sebaiknya peralatan yang disediakan oleh lab dilengkapi dan bila ada fasilitas lab yang rusak harap segera diperbaiki agar praktikum dapat berjalan dengan lancar dan efisien . Untuk menguji kualitas air dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan menggunakan botol dan metilen merah sebagai indikator. BAB V PENUTUP V. maka dapat disimpulkan bahwa : 1. 2.

Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen (BOD) sebagai Indikator Menentukan Kualitas Perairan.com. Universitas Indonesia Press.. Jakarta. Dampak Pencemaran Lingkungan. 1987. Bogor.21 WITA. Universitas Gadjah Mada. Umar. Setiawan. 1995. Universitas Terbuka. M. Pengertian dan Sumber Pencemaran Perairan. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. Jurusan Biologi Universitas Hasanuddin. Whardana. Jakarta. H. Ekologi Lanjutan. http://riasuryani. D. Yogyakarta.. 2008. Pencemaran Air. http://hasansetiawan.com.35 WITA. Institut Pertanian Bogor. Depdikbud. Makassar. PolusiDomestik. Gramedia. Pengaruh Polusi Domestik Terhadap Air. 2011. . 1990..blogspot. Diakses pada 2 maret 2014 pukul 19. 2013.blogspot. 2007. Jakarta. R. W. 2005. DAFTAR PUSTAKA Salmin... Yusuf. Supriyanti. Suryani. M. Pengelolaan air limbah. Sugiharto. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. 2011. Soendjojo. Diakses pada 2 maret 2014 pukul 19.

PERCOBAAN : SELASA 4 MARET 2014 . Diposkan 8th March 2015 oleh Astrid Safira Idham 0 Tambahkan komentar 10. Jan 18 LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM PERCOBAAN 1 PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM NIM : H41113341 KELOMPOK : II (DUA) B HARI/TGL.

ASISTEN : ANWAR : AHMAD SOLEH LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014 BAB I .

Sebagai salah satu ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. yang merupakan pengaruh dari akibat terjadinya pertumbuhan dan perkembangan. morfogenesis.Sebagai contoh makhluk hidup yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan adalah manusia.1996).berat badan dan umur.Perkembangan meliputi tiga proses yaitu. differensiasi. PENDAHULUAN I. (Sacharin. Pertumbuhan dan perkembangan memiliki kaitan yang sangat erat antara satu sama lainnya dengan seluruh makhluk hidup yang ada di bumi.Pertumbuhan dan perkembangan keduanya bersifat irreversible (tidak dapat balik). . Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui hubungan korelasi antara tinggi badan.1 Latar Belakang Setiap makhluk hidup pasti akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan.Kemudian data dari hasil pengukuran tersebut akan diolah dengan menggunakan dasar-dasar statistika. sedangkan perkembangan merupakan bertambahnya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh. kematangan atau kedewasaan dalam belajar atau peningkatan kemahiran dalam penggunaan tubuh pada organisme yang bersifat kualitatif (tidak dapat dinyatakan dalam angka). Pertumbuhan merupakan bertambahnya jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif (dapat dinyatakan dalam angka) dapat diukur atau suatu peningkatan dalam berat atau ukuran dari seluruh atau sebagian dari organisme. dan pertumbuhan.maka sebagai sampelnya diambil beberapa orang mahasiswa untuk diukur berat dan tingginya.

Universitas Hasanuddin. 2. Mengenalkan dan melatih mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan parameter fisik dalam lingkungan.00 WITA.I. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. I. 4 Marer 2014 pukul 14.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah : 1. Untuk mengetahui apakah ada hubungan korelasi antara tinggi badan. Makassar.3 Waktu dan Tempat Praktikum Percobaan dengan judul pertumbuhan dan perkembangan ini dilaksanakan pada hari Selasa.Bertempat di Laboratorium Ilmu Lingkungan dan Kelautan. .00 – 17. dan umur dari sampel mahasiswa yang diukur. berat badan.

1557). genesis = awal) yakni perubahan struktur kehidupan.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Dalam kamus bahasa Inggris.Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai “the progressive development of an organism”(kemajuan perkembangan suatu organisme).Batasan ini mengandung pengertian morfogenesis (morpho = bentuk. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.Perkataan pertumbuhan sebagai kata benda “growth” sudah lama tercatat dalam kamus bahasa Inggris (Oxford English Dictionary.salah satu pengertian prtumbuhan adalah “proses” (suatu rangkaian tindakan atau perubahan sistematis atau spesifik yang diarahkan kepada suatu akhir) yang dilalui tanaman untuk meningkatkan ukurannya dengan menggunakan faktor-faktor lingkungan yang dibutuhkan.Pertumbuhan adalah proses perubahan biologis yang terjadi pada .

makhluk hidup yang meliputi perubahan ukuran berupa pertambahan tinggi. Gen Gen adalah faktor keturunan yang diwariskan oleh orang tua.Pertumbuhan bersifat kuantitatif . Perkembangan bersifat kwalitatif.Gen akan mengendalikan dan menentukan pola dasar pertumbuhan dan perkembangan suatu organisme. Sitompul. artinya tidak berubah kembali ke asal. Hormon . besar dan berat.Alat yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan pada tanaman disebut auksanometer ( busur tumbuh ).(S.Pertumbuhan juga bersifat ireversibel. misalnya warna kulit. artinya tidak dapat diukur.M. karena makhluk hidup yang sudah mengalami pertumbuhan tidak akan mengecil kembali. Perkembangan lebih dilihat sebagai proses pembentukan jaringan dan organ sehingga individu mempunyai bentuk morfologi yang khas. tulang. b.Perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan atau tingkat yang lebih sempurna pada makhluk hidup. otot dll. artinya dapat diukur dan dilihat langsung.2 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup yaitu : a.Tumbuhan dan hewan dikatakan dewasa apabila sudah dapat berkembang biak ( bereproduksi).1995) II.

d. Fungsi nutrisi diantanya adalah sebagai bahan pembangun tubuh makhluk hidup. makanannya berupa zat dan mineral (unsur hara) yang terkandung di dalam tanah. Jika organisme kekurangan hormon ini akan kerdil dan jika kelebihan akan tumbuh tinggi. Tujuan reaksi kimia untuk menghasilkan energi. dan mineral. Hormon yang paling berpengaruh adalah hormon pertumbuhan (somatotrof). sedangkan orang yang kurang melakukan kegiatan fisik ototnya akan melemah. Tumbuhan akan mengalami gangguan pertumbuhan (abnormal) jika kekurangan zat dan mineral (unsur hara). e. memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Aktivitas Aktivitas akan mempengaruhi struktur tulang dan otot. Pada tumbuhan. karbohidrat. Makanan/Nutrisi Fungsi utama makanan adalah sebagai pembangun tubuh dan sumber energi. Protein merupakan bahan pembangun sel-sel tubuh. . c. lemak. Air Air sebagai pelarut dan alat terjadinya reaksi kimia dalam tubuh. Protein adalah zat makanan yang paling banyak berperan dalam pertumbuhan. vitamin. membentuk sel- sel yang baru.Hormon dihasilkan kelenjar endikron. Orang yang banyak kegitan fisik ototnya akan bagus. Nutrisi bagi sebagian besar hewan dan manusia dapat berupa protein.

Suhu Setiap makhluk hidup memiliki batas toleransi pada suhu. tanah dan udara yang lembab berepengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman. reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. fotosintesis. h. suatu species tumbuhan mengalami pertumbuhan dan perkembangan dengan baik. Hali ini karena air yang dapat diserap tanaman lebih banyak dan lebih sedikit air yang diuapkan sehingga menyebabkan pembentangan sel-sel. penguapan (transpirasi) dan pernapasan (respirasi). Dengan demikian sel-sel tanaman akan lebih cepat mencapai ukuran yang maksimum. Jika suhu lingkungan terlalu dingin atau terlalu panas.f. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti. Faktor-faktor lingkungan tersebut di atas yang mempengaruhi pertumbuhan dan . maka makhluk hidup tidak dapat tumbuh dan berkembang sempurna. Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang. Pada suhu yang optimum. g. Kekurangan vitamin D akan berakibat terkena penyakit rakitis. Suhu udara mempengaruhi semua kegiatan tumbuhan yang berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan seperti penyerapan air. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22°C sampai dengan 37°C. Cahaya matahari Cahaya matahari mampu mengunah prpvitamin D menjadi vitamin D untuk pertumbuhan tulang. Setiap species tumbuhan umumnya memiliki suhu optimum yang berbeda-beda. Kelembapan Sampai batas-batas tertentu.

4 Korelasi Pengukuran Dalam pengolahan data tidak satu pun tata kerja statistik yang membuka sedemikian banyaknya jalan bagi para sains secara umum dan pada ekologi khususnya. (Anonym.2009) II. Pertumbuhan determinan : pertumbuhan organisme yang akan berhenti tumbuh setelah mencapai ukuran tertentu. Pertumbuhan allomentrik : variasi pertumbuhan relatif pada berbagai bagian tubuh yang membantu memberi bentuk organisme. c.2009) II.(Anonym.kita seyogyanya tidak dapat mengatur sebuah variabel dengan mengatur .3 Macam – macam Pertumbuhan Pertumbuhan terbagi menjadi tiga macam yaitu : a.ini umumnya ciri khas pada hewan. tetapi merupakan satu kesatuan yang saling berinteraksi dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan intermediat : pertumbuhan organisme yang terus bertumbuh selama masih hidup.Suatu koefisien korelasi adalah sebuah angka yang menyatakan sampai seberapa jauh dua hal yang berhubungan dan seberapa jauh variasi-variasi dalam sebuah pengukuran searah dengan variasi-variasi yang lain.pdf .ini umumnya ciri khas pada tumbuhan.Dan bilamana hubungan sebab akibat dilibatkan tanpa pengetahuan kovariansi.pada mana semua bidang ekologi terletak.seperti pada korelasi.pdf . b.Tanpa pengetahuan tentang bagaimana sebuah variabel bervariasi dalam hubungan yang lain tidak mungkin membuat prediksi (pendugaan) yang benar. Faktor-faktor tersebut tidak bekerja sendiri-sendiri. perkembangan tanaman bersifat kompleks.

Setiap koefisien korelasi yang bukan nol dan secara statistik tidak nyata menyatakan derajat hubungan antara dua variabel.Michael . kalkulator.Karena percobaan – percobaan biologi dan ekologi bersifat kuantitatif.1 Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu timbangan badan. meteran.mereka melibatkan hakikat hubungan dari dua variabel yang berbeda.Koefisien korelasi adalah sebuah indeks tingkat hubungan antara dua variabel yang saling bersinambungan.yang lain.Korelasi adalah selalu relatif terhadap situasi dimana itu tercapai. .dan alat tulis menulis.dan seyogyanya diintepretasikan dalam lingkungan dan sangat jarang dalam arti yang absolut.(P.Itu tidak menyatakan suatu hubungan.1995) BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.

menghitung rata- rata. Mengukur tinggi badan mahasiswa pada dinding yang telah disesuaikan dengan skala pada meteran. III. 3. Mengelah data dari sampel mahasiswa dengan mengacu pada perhitungan atau rumus-rumus yang telah diberikan oleh asisten sebagai berikut. . kemudian mencatat hasilnya. 2.M. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Mentabulasikan data yang telah diperoleh dalam bentuk tabel. kertas grafik dan mahasiswa sebagai sampel percobaan.Universitas Gadjah Mada Press.dan interval tinggi serta berat badan. .F.kemudian mencatat hasilnya. DAFTAR PUSTAKA Sacharin Rosa M. Jakarta : EGC Sitompul.nilai varian.S.1995. 4.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu .modus. III. Menimbang berat badan mahasiswa secara satu persatu. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.dan juga menanyakan umur dari sampel praktikum.hubungan korelasi dengan rumus person product moment. (1996).Yogyakarta.3 Prosedur Kerja Cara kerja dari percobaan ini adalah : 1.Bambang Guritno.

academia.Michael . .5 Maret 2014.edu/3684780/laporan_akhir_laboratorium_perkembangan_t umbuhan (diakses pada hari Rabu.pada pukul 23.Erlangga.pada pukul 23.pdf (diakses pada hari Rabu.com/2009/06/microsoft-word-pertum-dan- perkem3.files. http://www.00 WITA) http://fren4ever.wordpress.5 Maret 2014.Jakarta.1995.00 WITA) .Metode Statistik dalam Penelitian Ekologi.P.

Diberdayakan oleh Blogger. Diposkan 18th January 2015 oleh Astrid Safira Idham 0 Tambahkan komentar Memuat Template Tampilan Dinamis. .