You are on page 1of 18

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Oktober 2016

FKIK Universitas Tadulako
Rumah Sakit Undata

UJIAN KASUS

“SKIZOFRENIA PARANOID”

Nama : Nur Safriyanti
Stambuk : N 111 16 037
Penguji : dr. Dewi Suryani Angjaya , Sp.KJ

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016
Laporan Kasus
Identitas Pasien
Nama : Ny. K

Parigi Status pernikahan : Janda Pendidikanterakhir : SD Pekerjaan : IRT Agama : Islam Tanggal pemeriksaan : 01 Oktober 2016 I. akibat bisikan tersebut pasien pernah berjalan kaki dari malakosa sampai ke Poso karena merasa ada yang 1 . suka berbicara sendiri dan susah tidur sejak ± 1 minggu yang lalu. b. Keluhan Utama : Mengamuk. Ia juga merasa kepalanya berlubang karena dibelah dan ada tali yang mengikat kepalanya dari langit. Semenjak itu pasien kembali sering berbicara sendiri dan kadang mengamuk sehingga keluarga pasien membawanya ke rumah sakit. Pasien pernah di rawat di RSD Madani dengan keluhan yang sama pada tahun 2014. gelisah. Pada awalnya pasien melihat seorang yang sedang diobati oleh dukun dikampungnya dengan memberikan segelas air. Seringkali pasien mendengar bisikan-bisikan yang terus menerus terngiang ditelinganya berupa bisikan seseorang yang ingin mengejarnya dan juga melihat ada sosok keluarganya yang berdiri disekitar pasien. Jeniskelamin : Perempuan Usia : 35Tahun Alamat : Malakosa. namun tiba-tiba pasien mengatakan bahwa jangan meminum air tersebut. hanya dokter yang mampu mengobati. Riwayat Penyakit Anamnesis (Autoanamnesis): a. dimana pasien sering mendengar ada bisikan-bisikan yang mengejar terus menerus. tangan kanannya seperti terkena pacul. Riwayat Penyakit Sekarang: Keluhan dan gejala: Pasien datang dibawa oleh ibu pasien karena mengamuk. itu bohong.

Pada tahun 2016 pasien kembali masuk dengan keluhan yang sama. Berupa mendengar adanya bisikan-bisikan yang terus menerus mengikutinya dan melihat adanya sosok keluarganya disekitar pasien. dan ada kabar bahwa ia telah memiliki wanita lain. Setalah keadaan pasien membaik Ia kembali datang pada tahun 2015 untuk kedua kalinya masuk rumah sakit. Hendaya/disfungsi :  Hendaya Sosial (+)  Hendaya Pekerjaan (+)  Hendaya Penggunaan Waktu Senggang (+) Faktor stresor psikososial : Saat ini faktor stresor psikososial yang mempengaruhi pasien adalah suami pasien yang masih dicintainya. mengikutinya. Riwayat Kehidupan Sebelumnya Riwayat Penyakit Dahulu : 2 . kemudian dibawa ke rumah sakit. sampai keluarga merasa keadaan pasien menggangggu lingkungan sekitarnya. namun sudah bercerai pada tahun 2014. Pasien memperoleh pengobatan selama di rumah sakit. c. Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis sebelumnya. Setelah kejadian itu respon keluarga belum langsung membawanya ke rumah sakit. Pada tahun 2014 dan 2015 pasien pernah dirawat di RSD Madani dengan keluhan yang sama. Pasien tidak pernah kontrol setelah keluar RS Madani dan 1 tahun terakhir pasien mengalami putus obat.

Pasien lahir cukup bulan dengan imunisasi tidak dilakukan. tepatnya pada tahun 2014 dan 2015. Pasien mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Pasien tidak mengikuti sekolah TK. Pasien tidak pernah mengkonsumsi alcohol. Hal ini menyebabkan bapak kandung pasien memukuli pasien dan tidak mengizinkan pasien untuk melanjutkan sekolahnya. kejang dan sakit berat. Riwayat gangguan psikiatri . namun yang mendapat hukuman hanya pasien sendiri. Tidak ada gangguan atau penyakit yang diderita oleh ibunya saat mengandung hingga melahirkan Ny. Pasien tidak pernah mengalami trauma. Riwayat penggunaan zat psikoaktif . Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun) Pasien mendapatkan ASI dari ibunya. . Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun) Pasien tumbuh normal dan bergaul seperti anak-anak biasa. trauma atau infeksi pada masa ini. pertumbuhan dan perkembangan sesuai umur. Riwayat Kehidupan pribadi Riwayat Prenatal dan Perinatal Pasien lahir normal dirumah dengan bantuan dukun beranak. masuk SD pada usia 7 tahun dan berhenti sekolah saat duduk dibangku kelas 3 SD karena pernah mendapat hukuman berupa dijemur oleh gurunya setelah menonton di bioskop bersama teman-temannya. obat-obatan ataupun rokok. Pasien pernah mengalami gangguan psikiatri sebelumnya.K. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun) 3 . d. tidak ada riwayat kejang.

Setelah pasien putus sekolah. Hubungan dengan suami kurang baik karena pasien sering dipukuli oleh suaminya jika tidak diberikan uang. e. Hubungan suami dengan keluarga pasien juga kurang baik. Masa Dewasa Pasien menikah pada tahun 2004. namun mantan suaminya sering meminta uang kepada pasien. jika tidak diberikan ia marah dan memukuli pasien beberapa kali. Pasien mempunyai hubungan yang baik dengan saudara dan kedua orang tuanya. Pasien sempat mengalami keguguran hingga dua kali selama perkawinan. Riwayat kehidupan keluarga Pasien merupakan anak ke 3 dari 8 bersaudara terdiri dari 1 orang laki-laki dan 7 orang perempuan. Mantan suami pasien bekerja sebagai petani. Situasi Sekarang Setelah cerai pada tahun 2012 pasien tinggal di rumah kedua orang tuanya bersama saudara-saudaranya serta keponakan pasien. Dimana bapak dari Ny. setelah 8 tahun menikah pasien belum memiliki anak. f. Satu orang laki-laki dan satu orang perempuan telah meninggal dunia. Pada tahun 2012 pasien berpisah dengan suaminya (cerai). Tidak ada riwayat penyakit di dalam keluarga. Selama ini pasien selalu bekerja untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti sandang dan pangannya. Pasien merupakan anak yang sangat rajin dan penurut kepada kedua orang tua. Pasien menikah pada usia 23 tahun yakni pada tahun 2004 dan pisah dengan suaminya pada tahun 2012.Pasien memiliki hubungan yang baik dengan tetangga dan lingkungan sekitar. Pekerjaan yang dilakukan oleh pasien beragam. menyabit sawah dan lain-lain. pasien pernah bekerja membuat kopra. pasien selalu menemani bapaknya untuk mencari ikan dilaut.K adalah seorang nelayan. 4 .

Persepsi Pasien Tentang Diri Dan Kehidupannya Pasien merasa perlu mendapatkan pertolongan medis dengan keluhan yang ia rasakan sekarang. Kemampuan menolong diri sendiri: baik d. g. Pembicaraan: bicara spontan. Pengetahuan umum dan kecerdasan : Pengetahuan umum sesuai dengan tingkat pendidikannya . intonasi rendah dan gaya berbicara monoton . menggunakan daster ungu dan kerudung bunga-bunga. Gangguan Persepsi 5 . II. dan orang: baik . tempat. Fungsi Intelektual (kognitif) . Deskripsi Umum . Keadaan Afektif . Kesadaran: komposmentis . . berkulit sawo matang. Perilaku dan aktivitas psikomotor: Tenang . tampak sehat dan perawatan diri baik. Sikap terhadap pemeriksa: kooperatif b. menengah dan pendek: baik . Bakat kreatif : - . Taraf Pendidikan. Mood : Sedih . Empati : Tidak dapat dirabarasakan c. Daya ingat jangka panjang baik. Penampilan: seorang perempuan tampak sesuai umur. Daya konsentrasi: baik . Afek : Tumpul . Pikiran abstrak: terganggu . Orientasi waktu. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL a.

Ilusi : (-) . halusinasi visual (+) berupa sosok keluarga yang sering muncul disekitar pasien. . Preokupasi : Pasien memikirkan mantan suaminya b. Taraf Dapat Dipercaya: 6 . Arus Pikiran a. Proses Berpikir . Pengendalian Impuls : Baik g. Produktivitas : Meluas b. Derealisasi : (-) e. Depersonalisasi :(+). Tilikan Derajat 6 (Pasien menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai motivasi untuk mencapai perbaikan). Isi Pikiran a. Gangguan isi pikir : Delusi pasivitas (+) pasien merasa pasrah terhadap kekuatan yang datang dari luar. . . i. Daya Nilai . Hendaya berbahasa : Tidak ada . pasien merasa kepalanya seperti berlubang karena dibelah. Norma Sosial : Terganggu . Halusinasi : Halusinasi auditori (+) berupa seperti suara bisikan-bisikan yang terus menerus terdengar ditelinganya . Uji Daya Nilai : Kurang . Kontinuitas : Asosiasi longgar c. Penilaian Realitas : Kurang h. f.

Dapat dipercaya. bunyi tambahan (-)  Abdomen o Inspeksi : Massa (-). lien (-) o Palpasi : Nyeri tekan (-)  Neurologis o Kesadaran : Compos mentis dengan GCS 15 (E4V5M6) o Nervus Cranial : Dalam batas normal o Refleks Fisiologi : Normal o Refleks Patologis :- 7 . Pembesaran hepar (-). dalam batas normal o Auskultasi : Peristaltik usus (+) o Perkusi : Bunyi timpani di 4 kuadran. III. Pergerakan dada bilateral o Perkusi : Paru (Sonor). PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT Pemeriksaan Fisik : Status Internus  Tekanan Darah : 110/70 mmHg  Denyut Nadi : 80 kali/menit  Suhu : 37. bunyi pekak o Auskultasi : Paru (Bronkovesikuler) dan Jantung (S1 dan S2. Batas jantung normal.5°C  Pernapasan : 18 kali/menit  Anemis : (-)/(-)  Ikterus : (-)/(-)  Sianosis : (-)/(-)  Thorax o Inspeksi : Respirasi dada simetris/bilateral o Palpasi : Massa (-).

8 . . Keadaan ini menimbulkan distress bagi pasien dan keluarganya. Pada gangguan persepsi didapatkan adanya halusinasi auditorik (+). Perilaku dan aktivitas psikomotor pasien selama wawancara adalah tenang.IV. Axis I  Berdasarkan autoanamnesa didapatkan adanya gejala klinis yang bermakna berupa halusinasi auditorik dan halusinasi visual dan adanya delusi pasivitas. Pasien adalah pasien berulang yang pernah dirawat beberapa kali pada tahun 2014 dan 2015. . .  Pada pasien ditemukan hendaya dalam menilai realita.sehingga pasien didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa Psikotik. Sehingga diagnosis gangguan mental dapat disingkirkan dan didiagnosa Gangguan Jiwa Psikotik Non Organik. Pasien seringkali mendengar suara bisikan-bisikan yang terus menerus terdengar telinganya dan melihat sosok keluarganya disekitar pasien. keserasien serasi. Mood terlihat sedih. sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami Gangguan Jiwa. Pembicaraan spontan. berbicara sendiri. afek tumpul. serta menimbulkan disabilitas dalam sosial dan pekerjaan dalam menilai realita. tilikan derajat VI. DIAGNOSIS MULTIAXIAL a. dan susah tidur. menjawab sesuai dengan pertanyaan namun jawaban yang diberikan tidak masuk diakal. V. merasa gelisah. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA . Pasien datang dibawa oleh ibu pasien karena mengamuk.  Pada riwayat penyakit sebelumnya dan pemeriksaan status interna dan neurologis tidak ditemukan adanya kelainan yang mengindikasi gangguan medis umum yang menimbulkan gangguan fungsi otak serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita pasien ini. halusinasi visual (+) dan pada gangguan isi pikir didapatkan delusi (+).

halusinai visual dan delusi pasivitas. sehingga pasien memerlukan psikoterapi. Axis III Tidak ada diagnosis Axis III. dan pemeriksaan status mental didapatkan adanya halusinasi auditorik. autoanamnesis. Axis IV Masalah dengan Primary Support Group (Keluarga) e. Aksis V GAF Scale 70-61 beberapa kesulitan dalam bekerja. 9 . sehingga menimbulkan gejala psikis. 2. sehingga memenuhi diagnosis Skizofrenia (F20). halusinasi visual dan delusi pasivitas yang perlangsungan gejalanya lebih dari 1 bulan. Organobiologik Terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga pasien memerlukan psikofarmaka. berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III) diagnosis diarahkan pada Skizofrenia Paranoid (F20.2) c. Axis II Dari anamnesis tidak didapatkan bahwa pasien terdapat tanda-tanda gangguan kepribadian. b. namun secara umum dapat berfungsi cukup baik. Pada pasien ini ditemukan halusinasi auditorik yang menonjol serta halusinasi visual di mana pasien melihat sosok keluarganya disekitarnya. Psikologik Ditemukan adanya hendaya berupa halusinasi auditorik. VI.0). sehingga dikatakan tidak ada diagnosis Axis II (Z 03.  Dari alloanamnesis. DAFTAR PROBLEM 1. d.

. perceraian. FOLLOW UP Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakit serta menilai efektifitas pengobatan yang diberikan dan kemungkinan munculnya efek samping obat yang diberikan. . RENCANA TERAPI a. VII. Ventilasi Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan isi pikirannya sehingga pasien merasa lega. . sehingga tercipta dukungan moril dan lingkungan yang kondusif sehingga membantu proses penyembuhan pasien. Psikoterapi . VIII. IX. Suportif Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya agar pasien memahami kondisi dirinya dan memahami cara menghadapinya. diazepam 5 mg. 10 . b. serta tetap memotivasi pasien agar tetap minum obat secara teratur. Faktor Pendukung : Keinginan pasien yang ingin sembuh. Faktor Penghambat : Lingkungan keluarga. PROGNOSIS Dubia at Bonam . Sosioterapi Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang terdekat pasien tentang gangguan yang dialami oleh pasien. Farmakoterapi Antipsikotikatipikal : Risperidon 2 mg.

d) Penyingkiran skizofektif dan gangguan mood: Gangguan skizoafektif dan mood dengan gambaran psikotik dikesampingkan karena : (1) tidak ada 11 . tanda-tanda gangguan dapat bermanifestasi hanya sebagai gejala-gejala negatif saja atau lebih dari atau=2 dari gejala-gejala dalam kriteria A dalam bentuk yang lebih ringan (seperti kepercayaan–kepercayaan ganjil. Pembicaraan yang janggal (mis. akademik atau okupasi lainnya) seperti pekerjaan. PEMBAHASAN Kriteria Diagnostik Menurut DSM-IV Menurut DSM-IV-TR: Kriteria Diagnostik Skizofrenia a) Gejala-gejala yang khas : 2 atau lebih dari gejala berikut yang bermakna dalam periode 1 bulan (atau kurang jika berhasil diterapi): 1. fase prodormal atau residual ini. Selama berlangsung. Hanya satu dari kriteria A yang diperlukan jika waham-nya janggal atau jika halusinasinya berupa suara yang terus menerus mengomentari tingkah laku atau pikiran yang bersangkutan atau berisi 2 (atau lebih) suara-suara yang saling bercakap-cakap. Waham.alogia. 3. b) Disfungsi sosial atau pekerjaan: 1 atau lebih dari area fungsional utama menunjukkan penurunan nyata di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset dalam suatu rentang waktu yang bermakna sejak onset gangguan (atau bila onset pada masa anak-anak atau remaja terdapat kegagalan pencapaian tingkat interpersonal. Perilaku janggal atau katatonik 5.X. pengalaman perseptual yang tidak biasa). 4. Periode 6 bulan ini meliputi 1 bulan gejala-gejala fase aktif yang memenuhi kriteria A (atau kurang bila berhasil diterapi) dan dapat juga mencakup fase prodromal atau residual. Sering derailment atau incohorensia).abulia). Halusinasi. c) Durasi: tanda-tanda gangguan terus berlanjut dan menetap sedikitnya 6 bulan. hubungan interpersonal atau perawatan diri. 2. Adanya gejala negatif (spt afek datar.

Episode tunggal dengan remisi penuh . Episodik tanpa gejala-gejala residual interepisode. f) Hubungan dengan suatu gangguan perkembangan pervasif: Jika terdapat riwayat autistik atau gangguan pervasif lainnya maka tambahan diagnosa skizofernia hanya dibuat bila juga terdapat delusi atau halusinasi yang menonjol dalam waktu sedikitnya 1 bulan (atau kurang jika berhasil diterapi). Kontinyu (gejala-gejala psikosis jelas ada sepanjang periode observasi) juga tentukan jika disertai gejala-gejala negatif yang menonjol. . mania atau campuran keduanya yang terjadi bersamaan dengan gejala-gelala fase aktif. Preokupasi dengan 1 atau lebih waham atau sering berhalusinasi auditorik. . e) Penyingkiran kondisi medis dan zat: Gangguan ini bukan disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (seperti obat-obatan medikasi atau yang disalah gunakan) atau oleh suatu kondisi medis umum. Tipe PARANOID Suatu tipe skizofrenia yg memenuhi kriteria: a. episode depresi. . 12 . juga tentukan jika disertai gejala- gejala negatif yang menonjol. Pola lainnya atau yang tidak ditentukan. b. Gejala2 berikut tidak menonjol: pembicaraan atau perilaku yang janggal atau katatonik atau afek datar atau inappropriate. Episode tunggal dengan remisi parsial. hanya dipakai setelah minimal 1 tahun berlalu semenjak onset dari gejala-gejala fase aktif pertama): . Episodik dengan gejala-gejala residual inter episode (episode ditandai dengan keadaan kekambuhan dari gejala-gejala psikosis) juga tentukan jika disertai gejala-gejala negatif yang menonjol. . Klasifikasi berdasarkan perjalanannya (longitudinal. (2) jika episode mood terjadi intra fase aktif maka perlangsungannya relatif singkat dibanding periode fase aktif dan residual.

Waham terdapat hamper setiap jenis. hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin. Hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafrenia paranoid berdasarkan PPDGJ-III  Memenuhi criteria umum diagnosis skizofrenia  Halusinasi dan atau waham harus menonjol a. halusinasi visual mungkin ada tapi jarang menonjol c.  Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas: a. atau bunyi tawa (laughing). -gangguan afektif dorongan kehendak dan pembicaraan serta gejala katatonik secara relative tidak nyata/ tidak menonjol. waham dipengaruhi (delusion of passivity).Kriteria diagnostik Menurut PPDGJ III Gejala skizofrenia paranoid adalah memenuhi gejala skizofrenia dengan halusinasi dan atau waham yang menonjol. dan keyakinan dikejar-kejar beraneka ragam. Pada pasien ini dapat ditemukan adanya halusinasi auditorik dan visual yang menonjol disertai adanya waham sehingga memenuhi criteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid. bermanifestasi dalam gejala: penurunan kemampuan bekerja. Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau member perintah atau halusinasi auditorik tampa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling). tetapi waham dikendalikan (delution of control). adalah yang paling khas. mendengung (humming). b. ataupun disertai ide-ide berlebihan (over. atau bersifat sexual. apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas. atau lain-lain perasaan tubuh. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja. atau apabila terjadi 13 .valued ideas) yang menetap.

hidup tak bertujuan. setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus berulang.  Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku pribadi (personal behaviour). dan stupor.bermanifestasi sebagai hilangnya minat. posisi tubuh tertentu (posturing). sikap larut dalam diri sendir (self absorbed atitude). salah satunya adalah risperidon. d. biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial. mutisme. 14 . yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan. Gejala-gejala "negatif". Perilaku katatonik. maka dapat diberikan obat antipsikotik atipikal atau generasi kedua. atau fleksibilitas cerea. c.  Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih. telah merevolusi penanganan skizofrenia. Untuk mengatasi susah tidur pasien dapat diberikan obat golongan benzodiazepine seperti diazepam. Obat antipsikotik mencakup dua kelas utama: antagonis reseptor dopamine (klorpromazin. tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika. atau neologisme. bicara yang jarang. Farmakoterapi Pengobatan antipsikotik yang diperkenalkan awal tahun 1950an. b.tidak berbuat sesuatu. seperti sikap sangat apatis. Penatalaksanaan 1. Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation). dan penarikan diri secara sosial. seperti keadaan gaduh gelisah (excitement). negativisme. dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar. haloperidol) dan antagonis serotonin dopamine (risperidon dan klozapin). Oleh karena pasien menunjukan gejala negative yang dominan.

dilanjutkan dengan masa tapering off selama 1-2 minggu. apatis). Spektrum klinis benzodiazepin meliputi efek anti-anxietas. dan “Serotonin 5 Ht2 Receptors”. . Obat antipsikosis atipikal berafinitas terhadap “Dopamine D2 Receptors”. rectal tube : anak <10 kg/bb : 5 mg. Benzodiazepin Merupakan pilihan obat pertama. pasif. perilaku yang sangat terbatas dan cenderung menyendiri (abulia). Risperidon Risperidon merupakan antipsikotik atipikal yang digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala negatif yang dominan.  Diazepam/Chlordiazepoxide : “broad spectrum”. . premedikasi tindakan operatif. sesuai kebutuhan untuk premedikasi tindakan operatif. Diagnosis Banding Berdasarkan gejala yang ditimbulkan oleh pasien yakni adanya halusinasia uditorik dan visual yang muncul secara terus dan perlangsungannya sudah lebih 15 . terhambat). gangguan proses pikir (lambata. anak > 10 kg/bb : 10 mg  Nitrazepam/Flurazepam : dosis anti-anxietas dan anti-insomnia berdekatan (non dose related). oral : 2-3 x 2-5 mg/hari.  Midazolam : onset cepat dan kerja singkat.Pemberian benzodiazepin dimulai dengan dosis terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respons terapi. isi pikiran yang streotip dan tidak ada inisiatif. Dosis anjuran. lebih efektif sebagai anti-anxietas. injeksi : 5-10 mg (im/iv). gangguan hubungan sosial (menarik diri. lorazepam. clobazam : dosis anti-anxietas dan anti- insomnia berjauhan (dose related).  Bromazepam. respon emosi minimal). yaitu : gangguan perasaan (afek tumpul.Penggunaan sediaan dengan waktu paruh menengah dan dosis terbagi dapat mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan. antikonvulsan. Lama pengobatan rata-rata adalah 2-6 minggu. lebih efektif sebagai anti-insomnia. anti-insomnia.

afek yang menumpul. c. Gejala negative dari skizofrenia yang menonjol. depresi kronis atau instituionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negative tersebut. kemiskinan dalam kuantitas. perawatan diri dan kinerja social yang buruk. kontak mata. d. misalnya perlambatan psikomotorik. persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua: a. Tidak terdapat demensia atau penyakit/gangguan otak organic lain. komunikasi non verbal yang buruk. modulasi suara dan posisi tubuh. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negative dan skizofrenia.dari 1 tahun. atau isi pembicaraan. kemudian pasien merupakan pasien berulang yang sebelumnya telah didiagnosis skizofrenia. aktifitas menurun. Skizofrenia residual Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan. seperti dalam ekspresi muka. sikap pasif dan ketiadaan inisiatif. b. Sedikitnya ada riwayat satu periode psikotik yang jelas di masa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia. maka beberapa ganguan yang menjadi diagnosis banding dari pasien adalah sebagai berikut: 1. 16 .

Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi Ketiga. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta: EGC 3. 2010. Jakarta: Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. Maslim R (ed). 2001. Utama H (ed). Sadock V A. 2013. PT Nuh Jaya 2.Diagnosis Gangguan Jiwa. Maslim. R. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. Rujukan Ringkas PPDGJ- III. Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua. Kaplan & Sadock. 4. Sadock B J.Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta : FK Unika Atmajaya 17 .