Presentasi Kasus

ILMU PENYAKIT MATA
SEORANG WANITA USIA 74 TAHUN DENGAN
KERATOKONJUNGTIVITIS OCULLI DEXTRA ET SINISTRA

Disusun Oleh :

Lulut Khoridatur R G99161056
Atika Iffa Syakira G99161021
Yunika Varestri AR G99161106

Pembimbing
Dr. dr. Senyum Indrakila, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Keratokonjungtivitis yang merupakan peradangan pada kornea dan
konjungtiva yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan seringkali mengalami
kekambuhan. Keratoconjungtivitis sicca digunakan ketika peradangan karena
kekeringan. Hal ini terjadi dengan 20% pasien RA. Vernal
keratokonjungtivitis "(VKC) digunakan untuk merujuk keratokonjungtivitis terjadi di
musim semi , dan biasanya dianggap karena alergen; Atopik keratokonjunctivitis
adalah salah satu manifestasi dari atopi; Epidemi keratokonjunctivitis disebabkan
oleh infeksi adenovirus; Keratokonjungtivitis limbus superior diduga disebabkan oleh
trauma mekanik (Ilyas et al., 2010).
Konjungtivitis sendiri yang merupakan peradangan pada konjungtiva
merupakan penyakit mata yang paling sering di dunia dan menyerang semua usia. 2%
dari seluruh kunjungan ke dokter adalah untuk pemeriksaan mata dengan 54% nya
adalah antara konjungtivitis atau abrasi kornea. Untuk konjungtivitis yang infeksius,
42% sampai 80% adalah bakterial, 3% chlamydial, dan 13% sampai 70% adalah
viral. Konjungtivitis viral menggambarkan hingga 50% dari seluruh konjungtivitis
akut di poli umum. konjungtivitis dapat pula bertambah parah menjadi infeksi akut
yang mengganggu penglihatan apabila telah terjadi komplikasi seperti adanya
keterlibatan kornea (Ilyas et al., 2010).
Insidensi keratokonjungtivitis relatif kecil, yaitu sekitar 0,l%--0,5% dari
pasien dengan masalah mata yang berobat, dan hanya 2% dari semua pasien yang
diperiksa di klinik mata. Hal yang perlu mendapat perhatian ialah bagaimana cara
penatalaksanaan kasus ini agar dapat mengalami penyembuhan maksimal dan
mencegah terjadinya rekurensi ataupun komplikasi yang dapat mengurangi kualitas
hidup (Vaughan et al., 2002).

2
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama : Ny. W
Umur : 74 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Sragen, Jawa Tengah
Tanggal periksa : 19 Januari 2017
No. RM : 01-36-63-78
Cara Pembayaran : BPJS

II. ANAMNESIS
A. Keluhan utama
Pandangan mata kanan dan kiri kabur.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUD Dr. Moewardi dengan
keluhan pandangan kedua mata kabur sejak seminggu yang lalu. Kabur
dirasakan terus-menerus sepanjang hari. Kedua mata merah, nrocos, blobok
dan gatal. Jika melihat cahaya, pasien mengeluh silau. Pasien juga mengeluh
pusing cekot-cekot dan merasa ngganjel pada kedua mata. Pasien tidak
merasakan adanya keluhan seperti pandangan dobel. Pasien tidak
menggunakan kacamata atau softlens.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat sakit serupa : disangkal

3
Riwayat kencing manis : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat mata merah : disangkal
Riwayat operasi mata : disangkal
Riwayat benjolan di mata : disangkal
Riwayata infeksi/iritasi mata : disangkal
Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat sakit serupa : disangkal
Riwayat kencing manis : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
E. Kesimpulan
Anamnesis

OD OS

Proses Inflamasi Inflamasi
Lokasi Konjungtiva, Kornea Konjungtiva, Kornea
Sebab Belum ditemukan Belum ditemukan
Perjalanan Akut Akut
Komplikasi Belum ditemukan Belum ditemukan

III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Kesan umum
Keadaan umum baik E4V5M6, gizi kesan cukup
T = 130/90 mmHg N = 82x/menit RR = 18x/menit S = 36,80C
B. Pemeriksaan subyektif OD OS
Visus sentralis jauh 3/60 1/300
Pinhole tidak dilakukan tidak dilakukan
Refraksi tidak dilakukan tidak dilakukan
Visus Perifer

4
Konfrontasi test tidak dilakukan tidak dilakukan
Proyeksi sinar tidak dilakukan tidak dilakukan
Persepsi Warna
Merah tidak dilakukan tidak dilakukan
Hijau tidak dilakukan tidak dilakukan
C. Pemeriksaan Obyektif
1. Sekitar mata
Tanda radang tidak ada tidak ada
Luka tidak ada tidak ada
Parut tidak ada tidak ada
Kelainan warna tidak ada tidak ada
Kelainan bentuk tidak ada tidak ada
2. Supercilium
Warna hitam hitam
Tumbuhnya normal normal
Kulit sawo matang sawo matang

Geraknya dalam batas normal dalam batas normal
3. Pasangan Bola Mata dalam Orbita
Heteroforia tidak ada tidak ada
Strabismus tidak ada tidak ada
Pseudostrabismus tidak ada tidak ada
Exophtalmus tidak ada tidak ada
Enophtalmus tidak ada tidak ada
Anopthalmus tidak ada tidak ada
4. Ukuran bola mata
Mikrophtalmus tidak ada tidak ada
Makrophtalmus tidak ada tidak ada
Ptosis bulbi tidak ada tidak ada
Atrofi bulbi tidak ada tidak ada

5
Buftalmus tidak ada tidak ada
Megalokornea tidak ada tidak ada
Mikrokornea tidak ada tidak ada
5. Gerakan Bola Mata
Temporal superior dalam batas normal dalam batas normal
Temporal inferior dalam batas normal dalam batas normal
Temporal dalam batas normal dalam batas normal
Nasal dalam batas normal dalam batas normal
Nasal superior dalam batas normal dalam batas normal
Nasal inferior dalam batas normal dalam batas normal
6. Kelopak Mata
Gerakan dalam batas normal dalam batas normal
Edema tidak ada tidak ada
Spasme ada ada
Hematom tidak ada tidak ada
Hiperemis tidak ada tidak ada
Laserasi ` tidak ada tidak ada
Tepi kelopak mata
Edema tidak ada tidak ada
Hiperemis tidak ada tidak ada
Entropion tidak ada tidak ada
Ekstropion tidak ada tidak ada
7. Sekitar saccus lakrimalis
Tanda radang tidak ada tidak ada
Benjolan tidak ada tidak ada
8. Sekitar Glandula lakrimalis
Tanda radang tidak ada tidak ada
Benjolan tidak ada tidak ada
9. Tekanan Intra Okuler
Palpasi kesan normal kesan normal

6
Tonometer Schiotz tidak dilakukan tidak dilakukan
10. Konjungtiva
Konjungtiva palpebra superior
Edema tidak ada tidak ada
Hiperemis ada ada

Sekret ada ada
Sikatrik tidak ada tidak ada
Papil tidak ada tidak ada
Konjungtiva palpebra inferior
Edema tidak ada tidak ada
Hiperemis ada ada

Sekret ada ada
Sikatrik tidak ada tidak ada
Papil tidak ada tidak ada
Konjungtiva Fornix
Edema tidak ada tidak ada
Hiperemis ada ada

Sekret tidak ada tidak ada
Sikatrik tidak ada tidak ada
Konjungtiva Bulbi
Pterigium tidak ada tidak ada
Edema tidak ada tidak ada
Hiperemis ada ada
Sekret ada ada
Injeksi konjungtiva ada ada
Injeksi siliar ada ada
Laserasi tidak ada tidak ada
Subconjunctival ada ada

7
Bleeding
Caruncula dan Plika Semilunaris
Oedem tidak ada tidak ada
Hiperemis tidak ada tidak ada

Sikatrik tidak ada tidak ada
11. Sklera
Warna putih putih
Penonjolan tidak ada tidak ada
12. Kornea
Ukuran 12 mm 12 mm
Limbus Infiltrat (+), defek epitel (+) Infiltrat (+), defek epitel (+)
Permukaan rata, mengkilat rata, mengkilat
Sensibilitas normal normal
Keratoskop (Placido) tidak dilakukan tidak dilakukan
Fluoresin Test tidak dilakukan tidak dilakukan
Arcus senilis (-) (-)
13. Kamera Okuli Anterior
Isi jernih jernih
Kedalaman dalam dalam
14. Iris
Warna coklat coklat
Bentuk bulat bulat

Sinekia tidak ada tidak ada

15. Pupil
Ukuran 3 mm 3 mm
Bentuk bulat bulat
Tempat sentral sentral
Reflek direk (+) (+)

8
Reflek indirek (+) (+)
Reflek konvergensi baik baik
16. Lensa
Ada/tidak ada ada
Kejernihan jernih keruh
Letak sentral sentral
Shadow test tidak tampak bayangan tidak tampak bayangan
17. Corpus vitreum
Reflek Fundus (+) cemerlang (+) kurang cemerlang

IV. KESIMPULAN PEMERIKSAAN

OD OS
Visus Sentralis Jauh 3/60 1/300
Pinhole tidak dilakukan tidak dilakukan
Sekitar mata dalam batas normal dalam batas normal
Supercilium dalam batas normal dalam batas normal
Pasangan bola mata
dalam batas normal dalam batas normal
dalam orbita
Ukuran bola mata dalam batas normal dalam batas normal
Gerakan bola mata dalam batas normal dalam batas normal
Kelopak mata spasme spasme
Sekitar saccus lakrimalis dalam batas normal dalam batas normal
Sekitar glandula
dalam batas normal dalam batas normal
lakrimalis
Tekanan Intra Okuler kesan normal kesan normal
Konjungtiva palpebra hiperemis, sekret hiperemis, sekret
Konjungtiva forniks hiperemis hiperemis
hiperemis, sekret, injeksi hiperemis, sekret, injeksi
Konjungtiva bulbi
konjungtiva, injeksi siliar konjungtiva, injeksi siliar
Sklera dalam batas normal dalam batas normal
Kornea Infiltrat (+), defek epitel (+) Infiltrat (+), defek epitel (+)
Camera oculi anterior dalam batas normal dalam batas normal
Iris dalam batas normal dalam batas normal
Pupil dalam batas normal dalam batas normal
Lensa dalam batas normal keruh
Corpus vitreum RF (+) cemerlang RF (+) kurang cemerlang

9
V. GAMBAR KLINIS

Oculli Dextra et Sinistra

Oculli Dextra

10
Oculli Sinistra

VI. DIAGNOSIS BANDING

1. ODS Keratokonjungtivitis bakterial
2. ODS Keratokonjungtivitis viral
3. ODS Konjungtivitis bakterial

VII. DIAGNOSIS
ODS Keratokonjungtivitis bakterial

VIII. TERAPI
Non Medikamentosa:
 Menjaga kebersihan dan kelembaban mata.
 Kompres mata dengan air hangat.
 Memakai pelindung (kacamata) agar terhindar dari paparan debu dan sinar
ultraviolet.

Medikamentosa
- Cendo Cenfresh ED 1 tetes tiap jam ODS
- LFX ED 1 tetes tiap 3 jam ODS
- Doxycycline tab 2 x 100 mg setelah makan
- Na diclofenak tab 2 x 50 mg setelah makan

IX. PROGNOSIS

11
OD OS
Ad vitam bonam bonam
Ad sanam bonam bonam
Ad fungsionam bonam bonam
Ad kosmetikum bonam bonam

12
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konjungtiva
1. Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersatu dengan
kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di
limbus. Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan
melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat
ke posterior (di forniks superior dan inferior) dan membungkus episklera dan
menjadi konjungtiva bulbaris. Konjugtiva bulbaris melekat longgar ke septum
orbita di forniks dan melipat berkali-kali. Lipatan ini memungkinkan bola mata
bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik (Snell, 2006).
Konjungtiva di vaskularisasi oleh arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama banyak
vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk jaring-
jaring vaskuler konjungtiva yang sangat banyak. Pembuluh limfe konjungtiva
tersusun didalam lapisan superfisial dan profundus dan bergabung dengan
pembuluh limfe palpebra membentuk pleksus limfatikus. Konjungtiva menerima
persarafan dari percabangan nervus trigeminus yaitu nervus oftalmikus. Saraf ini
memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit (Snell, 2006).

13
Gambar 1. Anatomi konjungtiva dilihat dari lapisan konjungtiva
2. Histologi Konjungtiva (Snell, 2006)
Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan epitel
silinder bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat
limbus, di atas karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi
ke lopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa. Sel-sel epitel sup erfisial
mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresikan mukus
(Snell, 2006).
Mukus mendorong inti sel goblet ke tepidan diperlukan untuk dispersi
lapisan airmata secara merata di seluruh prekornea. Stroma konjungtiva
dibagi menjadi satu lapisan adenoid dan satu lapisan fibrosa. Lapisan
adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat mengandung
struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan fibrosa
tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus.
Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan wolfring) yang struktur dan
fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak didalam stroma. Sebagian besar

14
kelenjar Krause berada di forniks atas dan sedikit ada di forniks bawah.
Kelenjar wolfring terletak di tepi atas tarsus atas (Snell, 2006).
3. Pasokan darah, limfe dan Persarafan
Arteri – arteri konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama dengan banyak
vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk
jaring- jaring vaskuler konjungtiva yang banyak sekali.
Pembuluh limfe konjungtiva terusun dalam lapisan superfisial dan lapisan
profundus dan bersambung dengan pembuluh limfe kelopak mata hingga
membentuk pleksus limfatikus yang kaya. Konjungtiva menerima persarafan
dari percabangan (oftalmik) pertama nervus V. Saraf ini hanya relatif sedikit
mempunyai serat nyeri (Duke-Elder, 1965).

Gambar 2. Vaskularisasi Konjungtiva (Duke-
Elder, 1965).

B. Kornea
1. Anatomi Kornea
Kornea (bahasa latin, cornum = seperti tanduk) merupakan selaput bening,
bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapisan jaringan yang
menutup bola mata sebelah depan. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus,

15
lekuk melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skleralis (Ilyas et al.,
2010).
Kornea memiliki diameter horizontal 11-12 mm dan berkurang menjadi 9-11
mm secara vertikal oleh adanya limbus. Kornea dewasa rata-rata mempunyai
tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 mm di tepi. Kornea memiliki tiga fungsi
utama yaitu :

a. Sebagai media refraksi cahaya terutama antara udara dengan
lapisan air mata prekornea.
b. Transmisi cahaya dengan minimal distorsi, penghamburan dan
absorbsi.
c. Sebagai struktur penyokong dan proteksi bola mata tanpa
mengganggu penampilan optikal.
(Ilyas et al., 2010; Wilson, 2008)

Gambar 3. anatomi mata (kiri) dan penampang kornea (kanan) (Medscape, 2010).

Kornea memiliki lima lapisan, berikut adalah susunan lapisan dari anterior ke
posterior:
1) Epitel

16
 Tebal 50 um, terdiri atas lima lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal, dan sel gepeng.
 Sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan
menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng. Sel
basal berkaitan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di
depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat
pengaliran air, elektrolit dan glukosa sehingga berfungsi sebagai barier.
 Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila
terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.
 Epitel berasal dari ektoderm permukan
2) Membran bowman
 Terlihat di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen
yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari lapisan depan
stroma.
 Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi
3) Stroma
 Terdiri atas lamela yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di
bagian perifer serat kolagen ini bercabang; waktu yang diperlukan untuk
membentuk kembali serat kolagen dapat mencapai 15 bulan. Keratosis
merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas yang terletak di
antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan
serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
4) Membran desment
 Membran aselular; merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel
endotel dan merupakan membran basalnya.
 Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, tebal 40 um.
5) Endotel

17
 Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, tebal 20-40 um.
Endotel melekat pada membran desment melalui hemidesmosom dan
zonula akluden.
(Ilyas et al., 2010).
Kornea dipersyarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf
siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V saraf siliar longus berjalan suprakoroid,
masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran bowman melepaskan
selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel di persyarafi sampai pada kedua lapis
terdepan tanpa ada akhir syaraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan
di daerah limbus. Daya regenerasi syaraf sesudah dipotong di daerah limbus
terjadi dalam waktu 3 bulan. Kornea bersifat avaskular, mendapat nutrisi secara
difusa dari humor aquos dan dari tepi kapiler. Bagian sentral kornea menerima
oksigen secara tidak langsung dari udara, melalui oksigen yang larut dalam
lapisan air mata, sedangkan bagian perifer, menerima oksigen secara difusa dari
pembuluh darah siliaris anterior. Trauma atau penyakit yang merusak endotel
akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi
endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak memiliki daya regenerasi.
Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri
pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. Transparansi kornea
disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitas dan detrugensi (Ilyas et
al., 2010).
2. Fisiologi kornea
Lapisan epitel merupakan sawar yang efisien terhadap masuknya
mikroorganisme ke dalam kornea. Cedera pada epitel mengakibatkan stroma dan
membran bowman mudah terkena infeksi, seperti bakteri, amuba dan jamur.
Kortikosteroid lokal maupun sistemik akan mengubah reaksi imun hospes
dengan berbagai cara dan memungkinkan terjadi infeksi oportunistik (Vaughan et
al., 2002).
Kornea memiliki banyak serabut nyeri sehingga lesi kornea dapat
menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit diperhebat oleh gesekan
palpebra (terutama palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh.

18
Lesi kornea pada umumnya dapat mengaburkan penglihatan terutama pada lesi di
tengah kornea. Fotofobia kornea terjadi akibat kontraksi dari iris yang meradang.
Dilatasi pembuluh darah iris merupakan fenomena refleks yang disebabkan oleh
iritasi pada ujung saraf kornea. Meskipun mata berair dan fotofobia umumnya
menyertai penyakit kornea namun kotoran mata hanya terjadi pada ulkus bakteri
purulenta (Vaughan et al., 2002).

C. Keratitis
1. Definisi
Keratitis adalah suatu kondisi dimana kornea bagian depan mata
menjadi meradang. Kondisi ini sering ditandai dengan rasa sakit dan
gangguan penglihatan. Keratitis dapat terjadi pada setiap kelompok usia
dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin.

Gambar 4. Keratitis (Medscape, 2010)
2. Etiologi
Penyebab keratitis bermacam-macam, seperti infeksi bakteri, virus
maupun jamur (virus herpes simpleks merupakan penyebab tersering),
kekeringan kornea, pajanan cahaya yang terlalu terang, benda asing, reaksi
alergi terhadap kosmetik, debu, polusi atau bahan iritan lainnya,
kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik
(Vaughan et al., 2002).
3. Gejala dan Tanda Keratitis

19
a. Gejala keratitis
 Mata terasa sakit
 Gangguan penglihatan
 Trias keratitis (lakrimasi, fotofobia dan blefarospasme)

b. Tanda keratitis
 Infiltrat (berisi infiltrat sel radang, kejernihan kornea berkurang,
terjadi supurasi dan ulkus)
 Neovaskularisasi (superfisial bentuk bercabang-cabang, profunda
berbentuk lurus seperti sisir)
 Injeksi perikornea
 Kongesti jaringan yang lebih dalam (iridosiklitis yang dapat disertai
hipopion)
(Ilyas et al., 2010; Vaughan et al., 2002).
4. Stadium Perjalanan Keratitis
a. Stadium infiltrasi
Infiltrasi epitel stroma, sel epitel rusak, edema, nekrosis lokal.
Hanya stadium 1 yang terjadi pada keratitis, sedangkan stadium 2 dan
3 terjadi pada keratitis lanjut seperti pada ulkus kornea. Gejala
objektif pada stadium ini selalu ada dengan batas kabur, disertai
tanda radang, warna keabu-abuan dan injeksi perikorneal (Mansjoer,
2001).

b. Stadium regresi
Ulkus disertai infiltrasi di sekitarnya, vaskularisasi meningkat
dengan tes flouresensi positif (Mansjoer, 2001).
c. Stadium sikatrik
Pada stadium ini terjadi epitelisasi, ulkus menutup, terdapat
jaringan sikatrik dengan warna kornea kabur. Tanpa disertai tanda
keratitis, batas jelas, tanpa tanda radang, warna keputihan dan tanpa
injeksi perikorneal (Mansjoer, 2001).
5. Klasifikasi Keratitis
a. Klasifikasi keratitis berdasarkan lokasi (Mansjoer, 2001)

20
1) Keratitis superfisialis
a) Keratitis pungtata superfisialis
Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang
dapat disebabkan oleh berbagai infeksi virus (virus herpes
simpleks, herpes zoster dan vaksinia). Keratitis pungtata
biasanya bilateral dan berjalan kronik tanpa terlihat gejala-
gejala konjungtiva ataupun tanda akut yang biasanya terjadi
pada dewasa muda. Terdapat infiltrat halus bertitik-titik pada
permukaan kornea, dan pada pemeriksaan flouresensi terlihat
cacat halus kornea superfisial berwarna hijau.

Gambar 5. Keratitis pungtata superfisialis (Mansjoer, 2001).
b) Keratitis pungtata sub epitel
Keratitis yang berkumpul di daerah bowman. Pada
keratitis ini biasanya bilateral dan berjalan kronik tanpa terlihat
kelainan konjungtiva ataupun tanda akut.
c) Keratitis profunda
Bentuk klinik dari keratitis profunda yaitu keratitis
interstitialis atau keratitis sifilis kongenital dan keratitis
sklerotikans.
2)
Keratitis interstitial
Keratitis ini merupakan keratitis non supuratif profunda
disertai neovaskularisasi (disebut keratitis parenkimatosa). Keratitis
terjadi pada lapisan kornea yang lebih dalam, akibat reaksi alergi
atau infeksi Spirochaeta ke dalam stroma kornea. Gejala yang ada
yaitu fotofobia, lakrimasi dan penurunan visus. Keluhan akan
bertahan seumur hidup dengan seluruh kornea keruh sehingga iris
sukar dilihat. Terdapat injeksi siliar dengan sebukan pembuluh

21
darah ke dalam sehingga memberikan gambaran merah kusam atau
salmon patch
3) Keratitis marginal
Tipe keratitis dengan tepi kornea yang sejajar dengan limus.
Terdapat hasil reaksi eksotoksin Staphilococcus dan dinding
protein dengan penyimpangan kompleks antigen-antibodi.
b.
Klasifikasi keratitis berdasarkan penyebab (Mansjoer, 2001)
1)
Keratitis bakterial
Spesies bakteri yang dapat menyebabkan keratitis yaitu
Staphilococcus, Streptococus, Pseudomonas dan
Enterobactericeae.
2) Keratitis jamur
Spesies jamur yang dapat menyebabkan keratitis yaitu
Fusarium, Curvularia dan Cephalocheparium. Keluhan
muncul setelah 3 sampai 5 hari paska ruda paksa oleh ranting
pohon. Pada mata akan terlihat infiltrat dengan hifa dan satelit
bila terletak pada stroma, disertai cincin endotel dan hipopion.
3) Keratitis virus
Keratitis Herpes simpleks, dibagi dalam 2 bentuk yaitu:
- Keratitis dendritik, merupakan keratitis superfisialis yang
membentuk infiltrat pada permukaan kornea berbentuk
cabang, manifestasi ringan dengan sensibilitas kornea yang
hipoestesi.
- Keratitis diskomorfik, membentuk kekeruhan infiltrasi
bulat dan lonjong di dalam jaringan kornea. Termasuk
keratitis profunda superfisial.
- Keratitis Herpes Zoster, gambaran pada ganglion Gaseri V,
bila cabang oftalmik yang terkena akan terlihat gejala
herpes zoster pada mata tanpa melampaui garis meridian
kepala.

c. Klasifikasi keratitis berdasarkan bentuk (Mansjoer, 2001)
1) Keratitis dismorfik
2) Keratitis Dimmer/numularis

22
3) Keratitis Filamentosa
d. Klasifikasi keratitis berdasarkan cara infeksi (Mansjoer, 2001)
1) Eksogen, akibat trauma
2) Jaringan sekitar, akibat trauma atau komplikasi konjungtivitis
3) Endogen, akibat alergi atau imunologi
e. Klasifikasi Keratitis yang lain (Mansjoer, 2001)
1) Keratitis alergika – keratokonjungtivitis flikten
2) Keratokonjungtivitis epidemi
3) Keratitis fasikularis
4) Keratokonjungtivitis vernal
5) Keratitis langoftalmus
6) Keratitis neuroparalitik

6. Diagnosa Banding
Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
serta pemeriksaan penunjang seperti kultur biopsi kornea untuk
menemukan bentuk penyebab (Ilyas et al., 2010).
Diagnosa banding keratitis yaitu galukoma akut dan uveitis akut (Vaughan
et al., 2002).

7. Penatalaksanaan
Primer
- Salep mata/tetes mata kloramfenikol (0,5%-1%) 6 X 1 atau tetrasiklin
3x1
- Jangan gunakan antibotik steroid
- Rujuk bila visus menurun setelah 3 hari terapi, tampak lesi putih di
mata
Sekunder
- Acycloir 5x1 (jika ulkus dendrtitik, geografik dan stroma)

23
- Jika pada pemeriksaan gram terdapat gram (+) atau (-) diberi tetes
mata golongan aminoglikosida
- Jika kerokan kornea didapatkan hifa (KOH+) diberi tetes mata
Natamisin 5% 3x1
- Siklopegik bila ada peningkatan TIO
- Pemeriksaan gula darah puasa 2 jam pos pandrial.
- Pasien keratitis disarankan menggunakan penutup mata untuk
melindungi mata dari cahaya serta benda yang dapat mengotori mata
(Mansjoer, 2001; Vaughan et al., 2002).
8. Komplikasi
- Ulkus kornea
- Perforasi kornea
(Vaughan et al., 2002).
9. Prognosa
Prognosa keratits bergantung pada luasnya jaringan parut yang terjadi
pada kornea dan penanganan awal dapat mencegah kerusakan mata
permanen (Vaughan et al., 2002).

D. KONJUNGTIVITIS
1. Definisi
Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada
konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi
bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata.
Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah
dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa
jenis Konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang
memerlukan pengobatan (Ventocilla, 2012).
Konjungtivitis dapat mengenai pada usia bayi maupun dewasa.
Konjungtivitis pada bayi baru lahir, bisa mendapatkan infeksi gonokokus pada

24
konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Karena itu setiap bayi
baru lahir mendapatkan tetes mata (biasanya perak nitrat, povidin iodin) atau
salep antibiotik (misalnya eritromisin) untuk membunuh bakteri yang bisa
menyebabkan konjungtivitis gonokokal. Pada usia dewasa bisa mendapatkan
konjungtivitis melalui hubungan seksual (misalnya jika cairan semen yang
terinfeksi masuk ke dalam mata). Biasanya konjungtivitis hanya menyerang
satu mata. Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi
merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa terbentuk ulkus kornea, abses,
perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis gonokokal
bisa diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik
(Ventocilla, 2012).
2. Tanda Konjungtivitis
Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores
atau panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Tanda penting
konjungtivitis adalah hiperemia, epifora, eksudasi, pseudoptosis, hipertrofi
papiler, kemosis (edem stroma konjungtiva), folikel (hipertrofi lapis limfoid
stroma), pseudomembranosa dan membran, granuloma, dan adenopati
preaurikuler (Ventocilla, 2012).
3. Klasifikasi konjuntivitis
a. Konjungtivitis bakteri
Konjungtivitis bakteri akut disebabkan oleh streptococcus,
Corynebacterium diphtherica, pseudomonas, neisseria dan haemophilus.
Gambaran klinis berupa konjungtivitis mukopurulen dan purulen. Pada
kasus akut dapat juga menjadi kronis. Konjungtivitis bakteri ditandai
hiperemi konjungtiva, edema kelopak, papil dan kornea yang jernih
(Vaughan et al., 2002).
Pada konjungtivitis yang disebabkan gonorrea, infeksi yang terjadi
lebih berat, radang konjungtiva lebih berat dan disertai sekret purulen.
Pada neonatus infeksi terjadi saat berada pada jalan lahir, ditularkan oleh

25
ibu yang menderita penyakit GO. Pada orang dewasa penularan melalui
hubungan seksual (Vaughan et al., 2002).
Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bakteri tergantung dari
temuan agen mikrobiologisnya. Sambil menunggu hasil laboratorium,
dapat diberikan antibiotik topikal. Setelah hasil laboratorium diperoleh,
dapat diberikan terapi sistemik (Vaughan et al., 2002).
b. Konjungtivitis virus
1) Demam faringokonjungtival
Demam faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3-400C,
sakit tenggorokan dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua
mata. Folikuler sering pada kedua konjungtiva dan mukosa faring.
Mata merah dan berair sering terjadi. Limfadenopati preaurikuler
yang tidak nyeri tekan khas ditemukan pada demam
faringokonjungtival (Ilyas et al., 2010).
Penyakit ini berjalan akut dengan gejala hiperemi konjungtiva,
folikel konjungtiva, sekret serous, fotofobia, kelopak bengkak dengan
pseudomembran (Kanski, 1999).
Pengobatan spesifik tidak diperlukan karena dapat sembuh
sendiri. Biasanya hanya diberi antibiotik dan terapi simtomatik
(Ventocilla, 2012).
2) Keratokonjungtivitis epidemi
Penyakit ini disebabkan oleh adenovirus 8 dan 19. Menyerang
pada kedua mata. Tahap awal infeksi pasien merasa nyeri sedang dan
mengeluarkan air mata diikuti 5-14 hari kemudian merasa fotofobia,
keratitis epitel dan kekeruhan sub epitel. Pada penyakit ini khas
ditemukan nodus preaurikuler yang nyeri tekan. Fase akut ditandai
edema palpebra, kemosis dan hiperemi konjungtiva. Dapat juga
terbentuk pseudomembran dan diikuti simblefaron (Vaughan et al.,
2002; Ventocilla, 2012).

26
Konjungtivitis epidemi berlangsung paling lama 3-4 minggu.
Kekeruhan kornea ditemukan ditengah kornea dan menetap berbulan-
bulan namun dapat sembuh sempurna. Pada orang dewasa terbatas di
luar mata. Namun pada anak-anak dapat ditemukan gejala infeksi
seperti demam, diare, otitis media (Al-Ghozi, 2002).
Terapi spesifik belum ada, namun dapat dikompres untuk
mengurangi gejala. Kortikosteroid sebaiknya dihindari. Antibiotik
diberikan hanya bila terjadi infeksi sekunder (Hall dan Shilio, 2005).
3) Konjungtivitis virus herpes simpleks
Biasanya dijumpai pada anak-anak. Ditandai hiperemi, iritasi,
sekret mukoid, nyeri dan fotofobia ringan. Pada kornea tampak lesi
epitelial yang membentuk ulkus yang bercabang banyak (dendritik).
Vesikel herpes muncul pada palpebra dan disertai oedema yang berat.
Nodus preaurikuler nyeri bila ditekan. Diagnosis pasti dengan
ditemukannya sel raksasa pada pengecatan Giemsa, kultur virus dan
sel inklusi intranuklear (Scott, 2013).
Pengobatan yang sesuai dengan kompres dingin. Pengobatan
saat ini yang biasa diberikan adalah asiklovir 400 mg/hari selama 5
hari. Steroid sebaiknya dihindari karena memperburuk infeksi herpes
(Ilyas et al., 2010; Vaughana et al., 2002).
c. Konjungtivitis Chlamydia
Konjungtivitis chlamydia juga disebut trakoma, disebabkan oleh
Chlamydia trakomatis. Dapat menyerang segala umur tapi biasanya pada
anak muda dan anak-anak. Cara penularan melalui kontak langsung
dengan penderita. Inkubasinya berkisar selama 5-14 hari (Vaughan et al.,
2002).
Pada pewarnaan giemsa terlihat sel polimorfonukleat, tetapi juga
dapat ditemukan sel plasma, sel leber dan sel folikel (limfoblas). Sel
leber dapat menyokong diagnosa trakoma, tetapi sel limfoblas adalah
tanda diagnosa yang penting bagi trakoma (Vaughan et al., 2002).

27
Pasien biasanya mengeluhkan fotofobia, mata gatal dan berair.
Penyakit ini mempunyai 4 stadium:
1) Stadium insipien
Terdapat hipertrofi dengan folikel kecil-kecil pada konjungtiva
palpebra superior, yang memperlihatkan penebalan dan kongesti
pembuluh darah konjungtiva. Sekret jernih dan sedikit bila tidak
ada infeksi sekunder. Kelainan kornea jarang didapatkan.
2) Stadium established
Terdapat hipertrofi papiler dan folikel yang matang dan besar pada
konjungtiva palpebra superior. Dapat ditemukan pannus
konjungtiva (pembuluh darah yang terletak di daerah limbus atas
dengan infiltrat) yang jelas. Terdapat hipertrofi papil yang berat
seolah-olah mengalahkan gambaran folikel pada konjungtiva
superior.
3) Stadium parut
Terdapat parut pada konjungtiva palpebra superior yang terlihat
sebagai garis putih halus sejajar margo palpebra. Parut pada limbus
kornea disebut lengkungan herbert. Gambaran papil mulai
berkurang.
4) Stadium sembuh
Pembentukan parut sempurna pada konjungtiva palpebra superior
sehingga menyebabkan perubahan bentuk tarsus yang dapat
mengakibatkan enteropion dan trikiasis.
(Ilyas et al., 2010; Kanski, 1999).
Pengobatan trakoma adalah dengan tetrasiklin salep mata, 2-4 kali
sehari selama 3-4 minggu. Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan
menjaga higienie (Vaughan et al., 2002).
d. Konjungtivitis Alergi
1) Konjungtivitis vernalis

28
Disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai
kedua mata dan bersifat rekuren. Pada kedua mata ditemukan papil
besar dengan permukaan rata pada konjungtiva palpebra, rasa gatal
yang berat, sekret gelatin berisi eosinofil, pada kornea terdapat
keratitis, neovaskularisasi dan tukak indolen. Pada tipe limbal
terdapat benjolan pada daerah limbus dan bercak Horner Trantas
berwarna keputihan yang terdapat di dalam benjolan.
Penyakit ini mengenai pada usia muda dan insidensi pada laki-
laki sama dengan perempuan. Dua bentuk utama berupa:
Bentuk Palpebra
Terutama mengenai konjungtiva palpebra superior. Terdapat
pertumbuhan papil yang besar (Cobble stone) yang diliputi sekret
mukoid. Konjungtiva palpebra inferior edema dan hiperemi,
kelainan kornea lebih berat dari bentuk limbal. Papil tampak sebagai
tonjolan bersegi banyak dengan permukaan yang rata dengan kapiler
ditengahnya (Al-Ghozi, 2002; Mc Kinley Health Center, 2006).
Bentuk Limbal
Hipertrofi papil pada limbus superior dapat membentuk
jaringan hiperplastik gelatin, dengan Trantas dot yang merupakan
degenerasi epitel kornea atau oesinofil pada bagian epitel limbus
kornea, terbentuk pannus dengan sedikit eosinophil (Hall dan Shilio,
2005).
Penyakit ini biasanya sembuh sendiri tanpa diobati. Dapat
diberi kompres dingin, natrium bikarbonat dan vasokonstriktor. Bila
terdapat tukak kornea dapat diberi antibiotik untuk mencegah infeksi
sdekunder disertai siklopegik (Vaughan et al., 2002; Scott, 2013).
2) Konjungtivitis flikten (Ilyas et al., 2010)
Merupakan konjungtivitis nodular yang disebabkan reaksi
alergi tipe IV terhadap tuberkuloprotein, stafilokokus,
limfogranuloma venerea, leismaniasis, infeksi parasit. Terdapat

29
kumpulan sel leukosit netrofil dikelilingi sel limfosit, makrofag, dan
kadang sel datia berinti banyak. Flikten merupakan infiltrasi seluler
subepitel yang terutama terdiri atas sel limfosit.
Biasanya terlihat unilateral dan kadang mengenai kedua mata.
Di konjungtiva terlihat sebagai bintik putih dikelilingi daerah
hiperemi. Gejalanya adalah mata berair, iritasi dengan rasa sakit,
fotofobia ringan hingga berat. Bila kornea ikut terkena akan terjadi
silau dan blefarospasme.
Penyakit ini dapat sembuh dalam 2 minggu dan dapat kambuh,
dan bila terkena kornea keadaan akan lebih berat. Pengobatannya
adalah steroid topikal dan midriatik bila ada penyulit.
e. Konjungtivitis kimia atau iritan
Asap, asam, alkali, angin dan hampir semua substansi iritan yang
masuk ke saccus konjungtiva dapat menimbulkan konjungtivitis.
Beberapa iritan umum adalah pupuk, sabun, deodoran, spray rambut,
berbagai asam dan alkali. Di daerah tertentu, asap dan kabut dapat
menyebabkan konjungtivitis ringan (Vaughan et al., 2002; Ventocilla,
2012).
Pada luka karena asam, asam mengubah sifat protein jaringan dan
berefek langsung. Alkali tidak mengubah sifat protein dan cenderung
cepat menyusup dan menetap dalam jaringan konjungtiva, merusak
selama berjam-jam atau berhari-hari. Perlekatan konjungtiva bulbi dan
palpebra dan leukoma kornea lebih besar terjadi bila penyebabnya alkali.
Gejala utamanya adalah rasa sakit, pelebaran pembuluh darah, fotofobia
dan blefarospasme (Ilyas et al., 2000).
Pembilasan segera dan menyeluruh pada saccus konjungtiva dengan
air atau larutan fisiologis. Dapat juga diberi kompres dingin selama 20
menit setiap jam, atropin 2 kali sehari,bila perlu beri analgetik sistemik.
Parut kornea mungkin memerlukan transpalantasi kornea, simblefaron
memerlukan bedah plastik. Luka bakar berat pada konjungtiva dan

30
kornea prognosis buruk meskipun di bedah. Namun bila ditangani segera
prognosisnya lebih baik (Kanski, 1999; Al-Ghozi, 2002).

E. KERATOKONJUNGTIVITIS
1. Definisi
Keratokonjungtivitis adalah peradangan ("-itis") dari kornea dan
konjungtiva. Ketika hanya kornea yang meradang, hal itu disebut keratitis,
ketika hanya konjungtiva yang meradang, hal itu disebut konjungtivitis (Ilyas
et al, 2010; Vaughan et al., 2002).
2. Klasifikasi
 Keratokonjunctivitis sicca digunakan ketika peradangan karena
kekeringan. ("Sicca" berarti "kering" dalam konteks medis.) Hal ini terjadi
dengan 20% pasien RA.
 Istilah "Vernal keratokonjunctivitis" (VKC) digunakan untuk merujuk
keratokonjungtivitis terjadi di musim semi, dan biasanya dianggap
karena alergen.
 Atopik keratokonjunctivitis adalah salah satu manifestasi dari atopi.
 Epidemi keratokonjunctivitis disebabkan oleh adenovirus infeksi.
 Keratokonjungtivitis limbus superior diduga disebabkan oleh trauma
mekanik.
(Ilyas et al, 2010; Vaughan et al., 2002)
3. Etiologi
Konjungtivitis dapat diakibatkan oleh virus, bakteri, fungal, parasit,
toksik, chlamydia, kimia dan agen alergik. Konjungtivitis viral lebih sering
terjadi daripada konjungtivitis bakterial. Insidensi konjungtivitis meningkat
pada awal musim semi. Etiologi konjungtivitis dapat diketahui berdasarkan
klinis pasien. Pada tingkat seluler terdapat infiltrat seluler dan eksudat pada
konjungtiva. Etiologi keratitis superfisial antara lain adalah infeksi (bakteri,
viral, dan fungal), degeneratif (dry eye, defek neurotropik atau berhubungan

31
dengan penyakit sistemik), toksik dan alergi. Morfologi dan distribusi lesi
pada kornea dapat membantu mengetahui penyebab keratitis. Ada beberapa
penyebab potensial keratokonjungtivitis yaitu kekeringan, infeksi virus,
manifestasi dari atopi atau allergen maupun trauma mekanik (Ilyas et al, 2010;
Vaughan et al., 2002).
4. Patofisiologi
Konjungtivitis alergika disebabkan oleh respon imun tipe 1 terhadap
alergen. Alergen terikat dengan sel mast dan reaksi silang terhadap IgE terjadi,
menyebabkan degranulasi dari sel mast dan permulaan dari reaksi bertingkat
dari peradangan. Hal ini menyebabkan pelepasan histamin dari sel mast, juga
mediator lain termasuk triptase, kimase, heparin, kondroitin sulfat,
prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien. histamin dan bradikinin dengan
segera menstimulasi nosiseptor, menyebabkan rasa gatal, peningkatan
permeabilitas vaskuler, vasodilatasi, kemerahan, dan injeksi konjungtiva
(Vaughan et al., 2002).
Konjungtivitis infeksi timbul sebagai akibat penurunan daya imun
penjamu dan kontaminasi eksternal. Patogen yang infeksius dapat menginvasi
dari tempat yang berdekatan atau dari jalur aliran darah dan bereplikasi di
dalam sel mukosa konjungtiva. Kedua infeksi bakterial dan viral memulai
reaksi bertingkat dari peradangan leukosit atau limfositik meyebabkan
penarikan sel darah merah atau putih ke area tersebut. Sel darah putih ini
mencapai permukaan konjungtiva dan berakumulasi di sana dengan berpindah
secara mudahnya melewati kapiler yang berdilatasi dan tinggi permeabilitas
(American Academy of Ophthalmology, 2003).
Pertahanan tubuh primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang
menutupi konjungtiva. Rusaknya lapisan ini memudahkan untuk terjadinya
infeksi. Pertahanan sekunder adalah sistem imunologi (tear-film
immunoglobulin dan lisozyme) yang merangsang lakrimasi (American
Academy of Ophthalmology, 2003).
5. Manifestasi Klinis dan Diagnosis

32
a. Keratokonjungtivitis Sicca
Keratokonjungtivitis sicca ditandai oleh hyperemia konjungtiva
bulbaris (terutama pada aperture palpebral) dan gejala-gejala iritasi yang
jauh lebih berat daripada tanda-tanda peradangannya yang ringan.
Keadaan ini sering berawal sebagai konjungtivitis ringan dengan secret
mukoid. Lesi-lesi epitel bebercak muncul di kornea, lebih banyak di
belahan bawahnya, dan mungkin tampak filament-filamen. Nyeri makin
terasa menjelang malam hari, tetapi hilang atau hanya ringan di pagi hari.
Film air mata berkurang dan sering mengandung berkas mucus (Vaughan
et al., 2002).
b. Keratokonjungtivitis Vernal
Pasien umumnya mengeluh sangat gatal dengan kotoran mata berserat-
serat. Biasanya terdapat riwayat alergi di keluarganya (hay fever, asma,
atau eksim), dan terkadang disertai riwayat alergi pasien itu sendiri.
Konjungtiva tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak papilla halus
di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva palpebralis superior sering
menampilkan papilla raksasa mirip batu kali. Setiap papil raksasa
berbentuk polygonal, dengan atap rata dan mengandung berkas kapiler.
Mungkin terdapat kotoran mata berserabut dan pseudomembran fibranosa
(tanda Maxwell-Lyons). Pada beberapa kasus terutama pada orang negro
turunan Afrika, lesi paling mencolok terdapat di limbus, yaitu
pembengkakan gelatinosa (papillae). Sebuah pseudogerontoxon (kabut
serupa-busur) sering terlihat pada kornea dekat papilla limbus. Bintik-
bintik Tranta adalah bintik-bintik putih yang terlihat di limbus pada
beberapa pasien dengan fase aktif keratokonjungtivitis vernal. Mungkin
terbentuk ulkus kornea superfisial (perisai) (lonjong dan terletak di
superior) yang dapat berakibat parut ringan di kornea. Keratitis epithelial
difus yang khas sering kali terlihat (Vaughan et al., 2002).
c. Keratokonjungtivitis Atopik

33
Pasien dermatitis atopic (eksim) sering kali juga menderita
keratokonjungtivitis atopic. Tanda dan gejalanya adalah sensasi terbakar,
pemgeluaran secret mukoid, merah dan fotofobia. Tepian palpebranya
eritematosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu. Terdapat papilla-
papila halus, tetapi papilla raksasa kurang nyata dibandingkan pada
keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering terdapat di tarsus inferior –
berbeda dengan papilla raksasa keratokonjungtivitis vernal yang berada
di tarsus superior (Vaughan et al., 2002).
Tanda-tanda kornea yang berat muncul pada perjalanan lanjut penyakit
setelah eksaserbasi konjungtivitis terjadi berulang kali. Timbul keratitis
perifer superfisial yang diikuti dengan vaskularisasi. Pada kasus yang
berat, seluruh kornea tampak kabur dan mengalami vaskularisasi,
ketajaman penglihatan pun menurun. Biasanya ada riwayat alergi (hay
fever, asma, atau eksim) pada pasien atau keluarganya. Seperti
dermatitisnya, keratokonjungtivitis atopic berlangsung berlarut-larut dan
sering mengalami eksaserbasi dan remisi. Seperti keratokonjungtivitis
vernal, penyakit ini cenderung kurang aktif pada pasien setelah berusia
50 tahun (Vaughan et al., 2002).
d. Keratokonjungtivitas Epidemi
Keratokonjungtivitas epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering
pada satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada
awalnya, terdapat injeksi konjungtiva, nyeri sedang dan berair mata;
dalam 5-14 hari kan diikuti oleh fotofobia, keratitis epithelial dan
kekeruhan subepitel yang bulat. Sensasi kornea normal dan terdapat
nodus preaurikular dengan nyeri tekan khas. Edema palpebral, kemosis
dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut, dengan folikel dan
perdarahan konjungtiva yang sering muncul dalam 48 jam. Dapat
terbentuk pseudomembarn (sesekali membrane sejati) dan mungkin
disertai, atau diikuti, parut datar atau pembentukan simblefaron (Vaughan
et al., 2002).

34
Konjungtivitisnya berlangsung paling lama 3-4 minggu. kekeruhan
subepitel terutama terfokus di pusat kornea, biasanya tidak pernah ke
tepian; menetap berbulan-bulan, tetapi sembuh tanpa parut.
Keratokonjungtivitis epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian
luar mata, tetapi pada anak-anak mungkin terdapat gejala-gejala sistemik
infeksi virus, seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare
(Vaughan et al., 2002).
e. Keratokonjungtivitas Limbus Superior
Keratkonjungtivitas limbus superior umumnya bilateral dan terbatas
pada tarsus superior dan limbus superior. Keluhan utamanya adalah iritasi
dan hyperemia. Tanda-tandanya adalah hipertrofi papilar tarsus superior,
kemerahan pada konjungtiva bulbari superior, penebalan dan kreatinisasi
limbus superior, keratitis epithelial, filament superior yang rekuren, dan
mikropannus superior (Vaughan et al., 2002).
Pemeriksaan mata awal termasuk pengukuran ketajaman visus, pemeriksaan
eksternal dan slit-lamp biomikroskopi. Pemeriksaan eksternal harus mencakup
elemen berikut ini:
 Limfadenopati regional, terutama sekali preaurikuler
 Kulit: tanda-tanda rosacea, eksema, seborrhea
 Kelainan kelopak mata dan adneksa: pembengkakan, perubahan warna,
malposisi, kelemahan, ulserasi, nodul, ekimosis, keganasan
 Konjungtiva: bentuk injeksi, perdarahan subkonjungtiva, kemosis,
perubahan sikatrikal, simblepharon, massa, secret
(Vaughan et al., 2002).
Slit-lamp biomikroskopi harus mencakup pemeriksaan yang hati-hati terhadap:
 Margo palpebra: inflamasi, ulserasi, sekret, nodul atau vesikel, sisa kulit
berwarna darah, keratinisasi
 Bulu mata: kerontokan bulu mata, kerak kulit, ketombe, telur kutu
 Punctum lacrimal dan canaliculi: penonjolan, secret

35
 Konjungtiva tarsal dan forniks: Adanya papila, folikel dan ukurannya;
perubahan sikatrikal, termasuk penonjolan ke dalam dan simblepharon;
membran dan psudomembran, ulserasi, perdarahan, benda asing, massa,
kelemahan palpebral
 Konjungtiva bulbar/limbus: folikel, edema, nodul, kemosis, kelemahan,
papila, ulserasi, luka, flikten, perdarahan, benda asing, keratinisasi
 Kornea: Defek epithelial, keratopati punctata dan keratitis dendritik,
filament, ulserasi, infiltrasi, termasuk infiltrat subepitelial dan flikten,
vaskularisasi, keratik presipitat
 Bilik mata depan: rekasi inflamasi, sinekia, defek transiluminasi
 Corak pewarnaan: konjungtiva dan kornea
(Vaughan et al., 2002).

Gambar 6. Keratokonjungtivitis epidemika dan Keratokonjungtivitis alergi (Vaughan
et al., 2002).

36
Gambar 7. Keratokonjungtivitis limbus superior dan Keratokonjungtivitis vernalis
(Vaughan et al., 2002).
6. Diagnosis Banding (Vaughan et al., 2002)

Gejala subyektif Glaukoma Uveitis Keratitis K.Bakteri K.Virus K.Alergi
dan obyektif akut akut
PenurunanVisus +++ +/++ +++ - - -
Nyeri ++/+++ ++ ++ - - -
Fotofobia + +++ +++ - - -
Halo ++ - - - - -
Eksudat - - -/++ +++ ++ +
Gatal - - - - - ++
Demam - - - - -/++ -
Injeksi siliar + ++ +++ - - -
Injeksi konjungtiva ++ ++ ++ +++ ++ +
Kekeruhan kornea +++ - +/++ - -/+ -
Kelainan pupil Midriasis Miosis Normal/ N N N
nonrekatif iregular miosis
Kedalaman COA Dangkal N N N N N
Tekanan intraokular Tinggi Rendah N N N N

Sekret - + + ++/+++ ++ +
Kelenjar - - - - + -
preaurikular

7. Penatalaksanaan
Masing-masing jenis konjungtiva memberikan gejala klinis yang
berbeda. Penatalaksanaan keratokonjungtivitis tergantung pada berat
ringannya gejala klinik. Pada kasus ringan sampai sedang, cukup diberikan
obat tetes mata tergantung jenis penyebabnya seperti pada
keratokonjungtivitis akibat alergi dapat diberikan anti histamin topikal dan
dapat ditambahkan vasokontriktor, kemudian dilanjutkan dengan stabilasator

37
sel mast. Pada kasus yang berat dapat dikombinasi dalam pengobatannya
ataupun dilakukan pembedahan (Ilyas et al., 2010;Vaughan et al., 2002).
Pada konjungtivitis virus yang merupakan “self limiting disease”
penanganan yang diberikan bersifat simtomatik serta dapat pula diberikan
antibiotic tetes mata (chloramfenikol) untuk mencegah infeksi bakteri
sekunder. Steroid tetes mata dapat diberikan jika terdapat lesi epithelial
kornea, namun pemberian steroid hanya berdasarkan pengawasan dokter
spesialis mata karena bahaya efek sampingnya cukup besar bila digunakan
berkepanjangan, antara lain infeksi fungal sekunder, katarak maupun
glaucoma (Scott, 2013).
Penanganan primer keratokonjungtivitis epidemika ialah dengan
kompres dingin dan menggunakan tetes mata astrigen. Agen antivirus tidak
efektif. Antibiotic topical bermanfaat untuk mencegah infeksi sekunder.
Steroid topical 3 kali sehari akan menghambat terjadinya infiltrate kornea
subepitel atau jika terdapat kekeruhan pada kornea yang mengakibatkan
penurunan visus yang berat, namun pemakaian berkepanjangan akan
mengakibatkan sakit mata yang berkelanjutan. Pemakaian steroid harus di
tapering off setelah pemakaian lebih dari 1 minggu (Ilyas et al., 2010).
Penanganan konjungtivitis bakteri ialah dengan antibiotika topical
tetes mata (misalnya kloramfenikol) yang harus diberikan setiap 2 jam dalam
24 jam pertama untuk mempercepat proses penyembuhan, kemudian
dikurangi menjadi setiap empat jam pada hari berikutnya. Penggunaan salep
mata pada malam hari akan mengurangi kekakuan pada kelopak mata di pagi
hari. Antibiotik lainnya yang dapat dipilih untuk gram negative ialah
tobramisin, gentamisin dan polimiksin; sedangkan untuk gram positif
icefazolin, vancomysin dan basitrasin (Vaughan et al., 2002).
Penanganan infeksi jamur ialah dengan natamisin 5 % setiap 1-2 jam
saat bangun, atau dapat pula diberikan pilihan antijamur lainnya yaitu
mikonazol, amfoterisin, nistatin dan lain-lain. Penanganan
keratokonjungtivitis sicca tergantung pada penyebabnya. Pemberian air mata

38
buatan bila kurang adalah komponen air, pemberian lensa kontak apabila
komponen mucus yang berkurang, dan penutupan punctum lakrima bila
terjadi penguapan yang berlebihan (Ilyas et al., 2010).
8. Komplikasi
Kebanyakan konjungtivitis dapat sembuh sendiri, namun apabila
konjungtivitis tidak memperoleh penanganan yang adekuat maka dapat
menyebabkan komplikasi:
a. Blefaritis marginal hingga krusta akibat konjungtivitis akibat
staphilococcus
b. Jaringan parut pada konjungtiva akibat konjungtivitis chlamidia pada
orang dewasa yang tidak diobati adekuat
c. Keratitis punctata akibat konjungtivitis viral
d. Keratokonus (perubahan bentuk kornea berupa penipisan kornea
sehingga bentuknya menyerupai kerucut) akibat konjungtivitis alergi.
e. Ulserasi kornea marginal, perforasi kornea hingga endoftalmitis dapat
terjadi pada infeksi N. gonorrhoeae, N. kochii, N. meningitidis, H.
aegypticus, S. aureus dan M. catarrhalis.
f. Pneumonia terjadi 10-20 % pada bayi yang mengalami konjungtivitis
chlamydia
g. Meningitis dan septikemia akibat konjungtivitis yang diakibatkan
meningococcus
(Ilyas et al., 2010).

9. Prognosis
Prognosis pada kasus keratokonjungtivitis tergantung pada berat
ringannya gejala klinis yang dirasakan pasien, namun umumnya baik terutama
pada kasus yang tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada kornea (Vaughan et
al., 2002).

39
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi, pasien didiagnosa
dengan ODS Keratokonjungtivitis. Pada kasus ini diberikan penatalaksanaan
medikamentosa Cendo Cenfresh ED 1 tetes tiap jam ODS, LFX ED 1 tetes tiap 3
jam ODS, Doxycycline tab 2 x 100 mg setelah makan, dan Na diclofenak tab 2 x
50 mg setelah makan. Penatalaksanaan non-medikamentosa yaitu edukasi kepada
pasien tentang penyakit dan pengobatannya.

B. Saran
- Menjaga kebersihan dan kelembaban mata.
- Kompres mata dengan air hangat.
- Memakai pelindung (kacamata) gar terhindar dari paparan debu dan sinar
ultraviolet.
- Kontrol 1 minggu kemudian untuk evaluasi pengobatan.
- Follow up pemeriksaan visus sebaiknya dilakukan setelah pasien sembuh
untuk mengetahu ada tidaknya kelainan refraksi ataupun kekeruhan pada lensa
di kedua mata.

40
DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghozi M (2002). Konjungtivitis, dalam Buku ajar oftalmologi. Yogyakarta:
FKUMY; pp: 54-9
American Academy of Ophthalmology (2003). Preferred practice pattern:
conjunctivitis, 2nd ed. San Francisco, CA: American Academy of
Ophthalmology.
Anatomy of Eye (2010). www.medscape.com, diakses tanggal 30 Januari 2017

Duke-Elder S. Conjunctival diseases. In: System of Ophthalmology. Diseases of the
Outer Eye. London: Henry Kimpton; 1965;VIII: 34–39.
Hall A, Shilio B (2005). Vernal keratoconjunctivitis. Community Eye Health; pp:
18(53): 76-78
Ilyas S, Sukardi I, Harmani B, Sudiro SH, Gondowiardjo TD (2000). Prosedur
Diagnostik dan Penatalaksanaan Pengobatan di Sub Bagian Kornea, Lensa,
dan Bedah Refraktif. Jakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata FKUI. p23-31
Ilyas, S, Mailangkay HHB, Taim H, Saman R, Simarwata M., Widodo PS (eds)
(2010). Ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran.
Jakarta: Sagung Seto
Kanski JJ. Clinical Ophtalmology. 4th ed. Oxford: Butterworth-Heinemann; 1999.
Halaman 657-9
Keratitis (2010). www.medscape.com, diakses tanggal 30 Januari 2017
Mansjoer A (2001). Kapita Selekta Edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media Aesculapius FKUI
Mc Kinley Health Center (2006). Conjunctivitis. http://www.mckinley.vive.edu
Opthalmology of Evaluation (2010). www.medscape.com, diakses tanggal 30 Januari
2017.
Scott IU (2013). Viral conjunctivitis. http://emedicine.medscape.com/article/1191370-
overview.
Snell R S (2006). Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. 6 ed. Jakarta: EGC. p.
684-879.
Vaughan DG (2002). Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta.

41
Ventocilla M (2012). Allergic conjunctivitis.
http://emedicine.medscape.com/article/1191467-overview

42