You are on page 1of 17

BAB 1

KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. T
Umur : 36 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Ekor Kuning No 6, Penjaringan, Jakarta
Tgl / Jam Masuk : 11 Januari 2017 / 11.15 WIB
Status Pekerjaan : Pegawai swasta
Status Pernikahan : Menikah
Agama : Islam

B. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 11 Januari 2017 pukul 11.15 WIB

Keluhan Utama :
Gatal pada lengan kanan bawah bagian belakang sejak 2 minggu yang lalu

Keluhan Tambahan :
-

Riwayat Perjalanan Penyakit :
Pasien datang ke poli Kulit dan Kelamin RS Husada dengan keluhan gatal pada
lengan kanan bawah bagian belakang sejak 2 minggu yang lalu. Awalnya pasien hanya
mengeluhkan gatal, tetapi tidak ada kelainan didaerah gatal tersebut. Gatal dirasakan muncul
tiba-tiba, gatalnya bertambah berat saat pasien berkeringat dan terkena air, kadang gatal juga
disertai rasa panas. Karena tidak tahan, pasien sering menggaruknya.
Pada awalnya di sekitar lengan bawah kanan muncul bercak merah kecil, kemudian
semakin lama bercak tersebut semakin meluas. Bercak merah tidak dirasakan perih (-). Pasien
tidak bertukar pakaian dengan anggota keluarga lain maupun dengan orang lain.

Page 1

C. Tenggorokan: faring tidak hiperemis. mukosa hidung normal. STATUS GENERALIS Keadaan Umum : Sakit ringan Kesadaran : Compos mentis Berat Badan : 65 kg Tekanan Darah : 120 / 70 mmHg Nadi : 72x / menit.Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama Riwayat Penyakit Keluarga: Anak perempuan pasien pernah mengalami keluhan yang sama sekitar 1 tahun yang lalu dan sudah sembuh Riwayat Pengobatan: Pasien mengaku pernah menggunakan salep dactarin dan kalpanax namun tidak ada hasilnya dan tidak menggunakan lagi Riwayat Alergi: Alergi obat-obatan dan makanan disangkal Riwayat Pribadi dan Sosial: Pasien bekerja di tempat suhu yang dingin hingga mencapai minus derajat dan berangkat kerja menggunakan motor yang sering menyebabkan pasien berkeringat. pupil isokor kanan/kiri Gigi dan mulut : Karies gigi (-). liang telinga lapang. reguler Pernapasan : 20 x / menit. SI (-/-).4oC Mata : CA (-/-). tonsil T1-T1 Page 2 . sekret(-). serumen (-) Hidung: bentuk normal. mukosa mulut normal dan tidak hiperemis THT : Telinga:normotia. refleks cahaya (+/+). reguler Suhu : 36.

D. unilateral Efloresensi Primer : makula eritem serta papul di bagian tepi Warna : eritematosa pada daerah tepi lesi Batas : jelas Ukuran : plakat Jumlah : soliter Efloresensi Sekunder : erosi dan krusta Konfigurasi : Polisiklik Palpasi lesi : Suhu pada lesi normal. kulit teraba kering Page 3 . STATUS DERMATOLOGI Regio : lengan kanan bawah bagian ekstensor Distribusi : lokalisata.

unilateral Efloresensi Primer : makula eritem serta papul di bagian tepi Warna : eritematosa pada daerah tepi lesi Batas : jelas Ukuran : plakat Jumlah : soliter Page 4 . Anak perempuan pasien mengalami keluhan yang sama satu tahun yang lalu dan sudah sembuh. Pada pemeriksaan fisik. Pasien sudah memberikan salep dactarin dan kalpanax. status generalis dalam batas normal. Status dermatologikus: Regio : lengan kanan bawah bagian ekstensor Distribusi : lokalisata.E PEMERIKSAAN PENUNJANG: Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang. Awalnya pasien hanya mengeluhkan gatal tanpa ada kelainan kulit. Gatal dirasakan muncul tiba-tiba dan bertambah berat saat pasien terkena air dan berkeringat. Awalnya timbul bercak merah kecil yang semakin lama semakin membesar. RESUME Seorang laki-laki berusia 36 tahun datang dengan keluhan gatal pada lengan kanan bawah bagian ekstensor sejak 2 minggu yang lalu. Pasien tidak memiliki riwayat alergi. jika dilakukan yang dianjurkan untuk menegakkan diagnosis adalah pemeriksaan KOH F.

karena dengan menggaruk akan memperparah lesi dan menimbulkan infeksi sekunder jika terdapat luka Medikamentosa 1. PENATALAKSANAAN Non-Medikamentosa 1. Pasien dianjurkan untuk meningkatkan kebersihan badan dan menghindari berkeringat berlebihan serta mengurangi kelembaban dari tubuh dengan mengindari pakaian yang panas dan tidak menyerap keringat (karet.Efloresensi Sekunder : erosi dan krusta Konfigurasi : polisiklik Palpasi lesi : Suhu pada lesi normal. DIAGNOSIS Diagnosis Kerja : Tinea Corporis Diagnosis Banding : Psoriasis H. PROGNOSIS Ad vitam : Bonam Ad functionam : Bonam Ad kosmetikum : Bonam Ad sanationam : Bonam J. nylon) 2. Edukasi kepada pasien untuk menghilangkan kebiasaan menggaruk dan memotong kuku jika panjang. PEMERIKSAAN LANJUTAN Melakukan kontrol kembali setelah 7 hari Page 5 . kulit teraba kering G. Griseofulvin 1 x 500 mg 2. Mikonazol 2% + Asam salisilat 3% dalam bentuk krim I.

Manifestasinya akibat infiltrasi dan proliferasinya pada stratum korneum dan tidak berkembang pada jaringan yang hidup. Tinea korporis dapat terjadi pada semua usia bisa didapatkan pada pekerja yang berhubungan dengan hewan-hewan. Ada beberapa macam variasi klinis dengan lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan kedalamannya. Page 6 . 2006). Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda yang mengandung jamur. Variasi ini akibat perbedaan imunitas hospes dan spesies dari jamur (Belson. tungkai dan gluteal. badan. PENDAHULUAN Tinea korporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai oleh baik lesi inflamasi maupun non inflamasi pada glabrous skin (kulit yang tidak berambut) seperti muka. lengan. tempat tidur hotel dan lain-lain. leher. PEMBAHASAN 1.. Tinea korporis umumnya tersebar pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak di daerah tropis (Patel. Maserasi dan oklusi kulit lipatan menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang memudahkan infeksi. misalnya handuk. lantai kamr mandi. Metabolisme dari jamur dipercaya menyebabkan efek toksik dan respon alergi. 2004).

Dermatofita termasuk kleas Fungi imperfecti. Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum diseluruh dunia dan sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis. 2012). 4. dan tungkai (Siregar. yaitu Microsporum. ETIOPATOGENESIS Dermatofita adalah jamur yang menyebabkan dermatofitosis. Tinea glabrosa. Microsporum canis merupakan organisme ketiga sekitar 14 % menyebabkan tinea korporis (Rushing. Tricophyton tonsuran merupakan dermatofit yang lebih umum menyebabkan tinea kapitis.Prevalensi tinea korporis dapat disebabkan oleh peningkatan Tricophyton tonsuran.2. EPIDEMIOLOGI Tinea korporis adalah infeksi umum yang sering terlihat pada daerah dengan iklim yang panas dan lembab. menyerang daerah kulit tak berambut pada wajah. 5. dan Epidermophyton. dan orang dengan infeksi tinea kapitis antropofilik akan berkembang menjadi tinea korporis. SINONIM Sinonim dari Tinea Korporis adalah Tinea sirsinata. Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. badan. Microsporum Trichophyton Page 7 . Trichophyton. 3. Ketiga genus ini mempunyai sifat keratofilik. lengan. 2008). DEFINISI Tinea korporis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur superfisial golongan dermatofita. yang terbagi dalam 3 genus.

dermatofitosis pada dagu dan jenggot. 5. arkuata yang merupakan penamaan deskriptif morfologis.Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur dan keringat sehingga mengganggu fungsi barier stratum korneum. Epidermophyton KLASIFIKASI Berdasarkan lokasi lesinya. Tinea unguium. dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala. 2. dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki. tinea aksilaris yang juga menunjukkan daerah kelainan  Tinea sirsinata. Tinea barbe. benda-benda seperti pakaian. alat-alat dan lain-lain. Dermatofitosis bukanlah patogen endogen. dermatofitosispada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea di atas. yang berarti dermaotfitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh karena telah diobati dengan steroid topikal kuat. 2003). 4. Transmisi dermatofit kemanusia dapat melalui 3 sumber masing-masing memberikan gambaran tipikal. Tinea kapitis. Tinea pedis et manum. Tinea korporis. dermatofitosis pada kaki dan tangan. dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah. Infeksi dimulai dengan terjadinya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya dalam jaringan keratin yang Page 8 . Infeksi dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan individu atau hewan yang terinfeksi. Karena dermatofit tidak memiliki virulensi secara khusus dan khas hanya menginvasi bagian luar stratum korneum dari kulit (Sobera. sekitar anus. yaitu:  Tinea imbrikata: dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris dan disebabkan Trichophyton concentricum  Tinea favosa atau favus: dermatofitosis yang terutama disebabkan oleh Trichophyton schoenleini yang secara klinis berbentuk skutula dan berbau seperti tikus (mousy odor)  Tinea fasialis. Tinea kruris. dermatofitosis pada daerah genitokrural. bokong. dermatofitosis dibagi menjadi: 1. 3. 6. Pada akhir-akhir ini dikenal nama tinea incognito. Selain 6 bentuk tinea diatas masih dikenal istilah yang mempunyai arti khusus yang dapat dianggap sebagai sinonim tinea korporis.

Limfosit T melakukan proliferasi dan bermigrasi ke tempat yang terinfeksi untuk menyerang jamur. sphingosin yang diproduksi oleh keratinosit. 2003). Hifa ini memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam jaringan epidermis dan merusak keratinosit. 3. Penetrasi melalui ataupun di antara sel Setelah terjadi perlekatan spora harus berkembang dan menembus stratum korneum pada kecepatan yang lebih cepat daripada proses deskuamasi. Segera jamur hilang dan lesi secara spontan menjadi sembuh (Sobera. Penetrasi juga dibantu oleh sekresi proteinase lipase dan enzim mucinolitik yang juga menyediakan nutrisi untuk jamur. 2003). suhu. dimana bagian aktif akan meningkatkan proses proliferasi sel epidermis dan menghasilkan skuama. Respon terhadap infeksi. Setelah masa perkembangannya (inkubasi) sekitar 1-3 minggu respon jaringan terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut ringworm. Pertahanan baru muncul ketika jamur mencapai lapisan terdalam epidermis (Sobera. Kondisi ini akan menciptakan bagian tepi aktif untuk berkembang dan bagian pusat akan bersih. 2003). Pada saat ini. Page 9 . lesi tiba-tiba menjadi inflamasi dan barier epidermal menjadi permaebel terhadap transferin dan sel-sel yang bermigrasi. Dan asam lemak yang diproduksi oleh kelenjar sebasea bersifat fungistatik (Sobera. Infeksi dermatofita melibatkan 3 langkah utama: 1. Reaksi hipersensitivitas tipe IV atau DelayedType Hypersensitivity(DHT) memainkan peran yang sangat penting dalam melawan dermatifita. 2. Perlekatan ke keratinosit Jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk bisa melekat pada jaringan keratin di antaranya sinar UV. Infeksi menghasilkan sedikit eritema dan skuama yang dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit.mati. kelembaban.pada pasien yang belum pernah terinfeksi dermatofita sebelumnya inflamasi menyebabkan inflamasi minimal dan trichopitin test hasilnya negatif. Dihipotesakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh sel langerhans epidermis dan dipresentasikan oleh limfosit T di nodus limfe. Perkembangan respon host Derajat inflamasi dipengaruhi oleh status imun pasien dan organisme yang terlibat. yang menginvasi bagian perifer kulit. kompetisi dengan flora normal lain. Fungal mannan di dalam dinding sel dermatofita juga bisa menurunkan kecepatan proliferasi keratinosit. Trauma dan maserasi juga membantu penetrasi jamur ke jaringan.

Pitiriasis rosea. skuama. Bentuk dengan tanda radang yang lebih nyata. gatal lama kelamaan meluas. karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang.Kelainan klinis yang dapat dilihat dari tinea korporis adalah lesi bulat atau lonjong. sementara yang di tepi lebih aktif (tanda peradangan lebih jelas) yang sering disebut dengan central healing. polisiklis.Kelainan kulit yang tampak pada tinea kruris pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas yang simetris pada lipat paha kiri dan kanan. 8. lebih sering dilihat pada anak-anak daripada orang dewasa karena umumnya mereka mendapat infeksi baru pertama kali.Mula-mula sebagai bercak eritematosa. Tepi lesi aktif (peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya). pubis. Dalam hal ini disebut tinea korporis et kruris atau sebaliknya tinea kruris et korporis. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama- sama dengan kelainan pada sela paha. 2006). dan dermatitis seboroik. dapat bersifat akut atau menahun. sifilis stadium II tipe makulopapular. ekstremitas. GEJALA KLINIS Predileksi tinea ini adalah di daerah leher. dan badan.Pada tinea korporis yang menahun. dan gatal bertambah apabila berkeringat. Anamnesa Dari anamnesa didapatkan rasa gatal yang sangat mengganggu. ditutupi skuama dan kadang-kadang dengan banyak vasikel kecil-kecil. tanda radang mendadak biasanya tidak terlihat lagi. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan: 1. Eliminasi dermatofit dilakukan oleh sistem pertahanan tubuh (imunitas) seluler (Rushing. terutama pada kulit yang lembab Page 10 . Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain. berbatas tegas terdiri atas eritema. bokong dan perut bawah. 7. 6. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik.Bila penyakit ini menjadi menahun. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan. maka timbul lesi sehingga lesi bertambah meluas. kadang-kadang dengan vesikel dan papul di tepi. DIAGNOSA BANDING Tinea korporis dapat didiagnosa banding dengan dermatitis kontak. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan.Keluhan sering bertambah sewaktu tidur sehingga digaruk-garuk dan timbul erosi dan infeksi sekunder. Karena gatal dan digaruk. dapat meliputi skrotum. bahkan sampai paha. gluteal. Psoriasis vulgaris. dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik.

2. dengan formula yang spesifik (misalnya untuk kuku dan mukosa) dan mempunyai manfaat tambahan untuk kelainan yang biasa menyertai infeksi jamur (misalnya antiinflamasi. asam benzoat 6 % dalam petrolatum. tinea imbrikata dan tinea korporis. kelaian endokrin yang lain. Umum o Meningkatkan kebersihan badan o Mengurangi kelembaban dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang panas dan tidak menyerap keringat o Menghindari sumber penularan o Faktor-faktor predisposisi lain seperti diabetes mellitus. Obat topikal yang diperuntukkan pada infeksi dermatofita berdasarkan mekanisme kerjanya meliputi : 1. 2. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan. keratolitik dan antibakteri). leukemia. dikatakan efektif bagi tinea pedis dan asam undesilenat krim dan bedak 3 %. harus dikontrol. misalnya Cestallani paint (solusio carbol fuchsin) dapat digunakan untuk kasus tinea kruris dan kandidosis intertriginosa. Asam salisilat berkhasiat fungisid terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3 6 Page 11 . Selain itu juga dapat dindikasikan untuk tinea unguium. mempunyai formula yang beragam. Khusus  Topikal Menurut Kuswadji dan Widaty (2001) obat antijamur topikal yang ideal adalah obat yang aktif pada konsentrasi sangat rendah. Bahan kimia antiseptik Mempunyai sifat antibakteri dan antijamur ringan serta bersifat mengeringkan. 2. Asam salisilat pada konsentrasi rendah (1 2 %) berefek keratoplastik. Bahan keratolitik Yaitu bahan yang meningkatkan eksfoliasi stratum korneum. 9. konsentrasi tinggi (3 20 %) berefek keratolitik dan dipakai pada keadaan dermatosis yang hiperkeratotik dan pada konsentrasi sangat tinggi (40 %) dipakai untuk kelainan-kelainan yang dalam. Gejala klinis yang khas 3. PENATALAKSANAAN 1. efek samping minimal atau bahkan tidak ada. Yang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium Agar Dekstrosa Sabouraud. Misalnya salep Whitefield mengandung asam salisilat 3 %. Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan laboratorium Pada kerokan kulit dengan KOH 10-20% bila positif memperlihatkan elemen jamur berupa hifa panjang dan artrospora (hifa yang bercabang) yang khas pada infeksi dermatofita.

Tinea pedis dioleskan 4 kali sehari dalam bentuk krim 1 % atau 2 kali sehari dalam bentuk gel 1 %. Penderita tinea korporis dewasa maupun anak-anak cukup dioleskan 4 kali sehari pada sekitar lesi selama 2 minggu dalam bentuk krim 1 %. 3. Naftitin merupakan obat antijamur berspektrum luas dan derivat allilamin yang sintetis. penyebab kematian sel jamur. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak (>12 tahun) diberikan olesan sebanyak 2 kali sehari dalam bentuk krim 4. Page 12 . Asam benzoat mempunyai sifat antiseptik terutama fungisidal. tinea unguium dan tinea korporis. Asam salisilat tidak dapat dikombinasikan dengan seng oksida karena akan terbentuk garam sengsalisilat yang tidak aktif. Golongan benzilamin Butenafin merupakan obat anti jamur baru. Penelitian menemukan bahwa obat ini efektif dan tertoleransi dengan baik oleh anak-anak. Asam undesilenat dalam bentuk cairan dapat digunakan pada tinea unguium. Dapat menurunkan ergosterol yang menghambat pertumbuhan sel jamur. gel atau solusio 1 %. termasuk golongan benzilamin yang bersifat fungisidik terhadap dermatofit. Tersedia dalam bentuk krim. Butenafin bekerja pada stadium yang lebih dini dalam alur metabolisme sehingga menyebabkan terjadinya akumulasi skualen dan kematian sel jamur. Terbinafin dioleskan 4 kali sehari pada penderita tinea kruris dan tinea korporis baik dewasa maupun anak-anak dalam waktu 1 4 minggu. seperti Trichophyton mentagrophytes. Penderita tinea korporis dewasa dan anak-anak (> 12 tahun) dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 minggu dalam bentuk krim 1 %. Salep Whitefield dapat juga berguna untuk pengobatan topikal pada tinea kruris.% dalam salep. Allilamin memiliki efektivitas klinis yang tinggi dengan angka kesembuhan berkisar 70 100 %. Terbinafin merupakan derivat allilamin yang sintetis yang menghambat epoksidase skualen. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak (> 12 tahun) dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. sebuah enzim penting dalam biosintesis sterol pada jamur yang menghasilkan defisiensi ergosterol. Tinea kruris 4 kali sehari selama 2 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. selain itu berkhasiat bakteriostasis lemah. Golongan allilamin Golongan ini bekerja dengan menghambat enzim epoksidase skualen pada proses pembentukan ergosterol membran sel jamur. Pada konsentrasi 1 % memiliki daya antiinflamasi. Microsporum canis dan Trichophyton rubrum yang menyebabkan infeksi-infeksi tinea. Sifat fungisidik butenafin menyebabkan masa pengobatan yang pendek dengan angka kesembuhan yang tinggi dan angka kekambuhan yang rendah.

bedak kocok ataupun bedak. suatu unsur penting untuk integritas membran sel. tetapi satu dari empat atom klor diganti oleh atom H.Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak (> 12 tahun) dioleskan sebanyak 2 kali sehari selama 1 minggu atau 4 kali sehari selama 2 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. Ketokonazol Ketokonazol adalah fungistatikum imidazol pertama yang digunakan per oral (1981). Lebih aktif dan efektif terhadap dermatofit biasa dan kandida daripada fungistatika lainnya. Spektrum kerjanya mirip dengan mikonazol dan meliputi banyak fungi patogen. Ekonazol Ekonazol adalah derivat mikonazol. Spektrum kerjanya lebih kurang sama. Golongan imidazol Umumnya senyawa imidazol ini berkhasiat fungistatis dan pada dosis tinggi bekerja fungisid terhadap fungi tertentu. zat ini juga berdaya bakteriostatis terhadap kuman Gram positif. Mikonazol Derivat mikonazol ini berkhasiat fungisid kuat dengan spektrum kerja lebar sekali. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak diberikan sebanyak 2 kali sehari selama 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. Penderita tinea korporis dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 minggu dalam bentuk krim 2 % d. Imidazol memiliki efektivitas klinis yang tinggi dengan angka kesembuhan berkisar 70 100 %. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak diberikan sebanyak 2 kali sehari selama 4 minggu dalam bentuk krim 2 %. Zat juga bekerja bakterisid pada dosis terapi terhadap sejumlah kuman Gram positif kecuali basil-basil Doderlein yang terdapat dalam vagina. solusio ataupun bedak kocok c. Golongan imidazol meliputi : a. maka cukup ditaburkan 2 kali sehari selama 2 4 minggu b. Mekanisme kerjanya dengan menghambat sintesis ergosterol. Pada konsentrasi tinggi. Jika menggunakan bedak. hanya lebih aktif terhadap Page 13 . Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 2 kali atau 4 kali sehari selama 2 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. sedangkan pada anak-anak tidak tersedia. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak diberikan sebanyak 2 kali sehari selama 2 6 minggu dalam bentuk krim 2 % atau bedak kocok. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 2 kali atau 4 kali sehari selama 2 4 minggu dalam bentuk krim 2 %. 5. Penderita tinea pedis dan tinea korporis dewasa diberikan sebanyak 2 kali sehari selama 2 6 minggu dalam bentuk krim 1 % atau solusio. Klotrimazol Derivat imidazol ini memiliki spektrum fungistatis yang relatif lebih sempit daripada mikonazol.

yaitu terhadap membran plasma sel jamur. Walaupun struktur kimianya berbeda dengan zat-zat imidazol. 6. Siklopiroks Senyawa hidroksipiridon ini berspektrum luas.Aspergillus. Titik tangkapnya berhubungan dengan metabolisme sintesis RNA dan protein. Bifonazol bermanfaat pada pengobatan tinea unguium dalam bentuk losio atau krim yang dikombinasikan bersama urea 40%. Sulkonazol Sulkonazol merupakan obat jamur yang memiliki spektrum luas. Diindikasikan untuk tinea pedis dengan dioleskan 2 kali sehari baik dewasa maupun anak-anak (> 12 tahun). h. Sertakonazol Bentuk krim sertakonazol nitrat merupakan antijamur yang aktif melawan Trichophyton rubrum. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kematian sel jamur. tetapi mekanisme kerjanya diperkirakan sama. g. sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Oksikonazol Oksikonazol merupakan obat jamur yang memiliki spetrum luas. lagi pula bekerja bakteriostatis lemah. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak (> 12 tahun) dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 4 minggu dalam bentuk krim 1 % atau solusio. Golongan lainnya a. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 4 minggu dalam bentuk krim 1 % atau bedak kocok. mengganggu permeabilitas dinding sel jamur sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Senyawa ini berkhasiat fungisid terhadap Candida albican dan Trichophyton rubrum. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 2 kali atau 4 kali sehari selama 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. e. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 minggu dalam bentuk krim 1 %. Bifonazol Bifonazol merupakan derivat imidazol yang berkhasiat terhadap beberapa jenis jamur dan ragi yang patogen terhadap manusia serta terhadap beberapa kuman Gram positif. f. Obat ini efektif untuk infeksi kutaneus. Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kebocoran komponen sel. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 2 kali atau 4 kali sehari dalam bentuk krim 1 %. fungistatis terhadap Malassezia furfur (panu). Mungkin juga mekanisme kerjanya berdasarkan perintah transpor dari asam-asam amino dan ion-ion melalui membran Page 14 .

Biasanya digunakan dalam waktu 2 4 minggu. Solusio siklopiroks telah dilaporkan dapat berpenetrasi melalui semua lapisan kuku pada kasus tinea unguium namun memiliki efikasi yang rendah sehingga perlu kombinasi dengan obat antijamur oral. Hal tersebut juga berlaku pada penderita tinea kruris dan tinea kapitis. Tersedia dalam bentuk krim 1 %. . Tolnaftat dapat diindikasikan pada pengobatan topikal untuk tinea korporis dan tinea unguium. jika tidak ada perbaikan setelah 4 minggu maka perlu dievaluasi lagi. sedangkan anak-anak 10-25 mg/kgBB sehari. atauitrakonazol 100-200 mg/hari selama 2-4 Page 15 . Pityrosporum. Pengobatan pada tinea unguium sangat memerlukan kombinasi dengan obat antijamur oral terutama generasi baru seperti itrakonazol dan terbinafin. solusio dan bedak. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak (> 10 tahun) dioleskan sebanyak 2 kali sehari dalam bentuk krim 1 %. perasaan terbakar dan iritasi kulit.Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa. Pengobatan tinea manus pada prinsipnya sama dengan pengobatan yang dilakukan pada tinea pedis. b. Tolnaftat Tonaftat termasuk golongan tiokarbonat dan merupakan antijamur yang sangat efektif terhadap dermatofitosis dan infeksi Pityrosporum orbiculare tetapi tidak terhadap Candida. Kadang-kadang terjadi sensitasi dengan timbulnya gatal- gatal. Trichophyton dan Candida. Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat epoksidasi skualen pada membran sel jamur. karena jika hanya mengandalkan obat topikal saja maka daya penetrasi terhadap kuku sangat terbatas sehingga tidak efektif. c. Pada kasus yang resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan derivat azol yang juga fungistatik seperti ketokonazol 200 mg per hari selama 2-4 minggu pada pagi hari setelah makan. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 3 kali sehari.sel. Biasanya digunakan 2 kali sehari selama 2 4 minggu dan dilanjutkan 2 minggu setelah gejala klinis hilang. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 2 kali sehari. Lama pemberian griseofulvin pada tinea korporis adalah 3-4 minggu. Daya kerjanya diperkuat bila dibuat ester oalmin.  Sistemik . diberikan bila lesi luas atau bila dengan pengobatan topikal tidak ada perbaikan. Siklopiroks khusus digunakan secara dermal. Haloprogin Haloprogin berkhasiat fungisid terhadap Epidermophyton. Tersedia dalam bentuk krim 1 % dan solusio. Contoh nama merk dagang obat tolnaftat adalah tinactin.

2. dan kadang-kadang papul atau vesikel di bagian tepi. Kelainan kulit biasanya berupa lesi bulat berbatas tegas terdiri atas eritema.5 mg – 250 mg sehari bergantung pada berat badan. . 10. Penatalaksanaan tinea corporis yang utama adalah menghindarkan pasien dari berkeringat berlebihan dan menjaga kelembaban kulit tubuh serta menghindari kebiasaan menggaruk. terbinafin 250 mg/hari selama 1-2 minggu. menyerang daerah kulit tak berambut pada wajah. skuama. flukonazol 150 mg 1x/mgg selama 2-4 minggu. Dan low-potency kortikosteroid jangka pendek hanya pada keadaan tertentu (masih dalam penelitian). Terbinafin yang bersifat fungisidal juga dapat diberikan sebagai pengganti greosulfin selama 2-3 minggu dosisnya 62. KESIMPULAN 1. Terapi farmakologis yang diberikan berupa anti jamur dan antihistamin serta obat topikal. Tinea corporis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur superfisial golongan dermatofita. badan. . Page 16 . PROGNOSIS Tinea korporis mempunyai prognosa baik dengan pengobatan yang adekuat dan kelembaban dan kebersihan kulit yang selalu dijaga. minggu atau 200 mg/hari selama 1 minggu. Antibiotika diberikan bila terdapat infeksi sekunder. dan tungkai. Dapat terlihat erosi dan krusta akibat garukan. lengan.

2008. Budimulja U. Verma S and Heffernan MP. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. p. Superficialis Fungal Infection: Dermatophyta. 2. 5th ed.2000 3.. 1808-18. Jack L. Hamzah M. Inc. (Online) (http://emedicine. Hipokrates. 4th ed. Tinea korporis. Harahap M. Cetakan I. Tinea Corporis. p.316- 319. editor. 2014. 2010. 89-105. Kapita Selekta Kedokteran. New York: The McGraw-Hill Companies. Paller AS. Fitspatricks’s Dermatology In General Medicine.In:Wolff K. Lesher.medscape. Jakarta: Media Aesculapius. 7th ed. Goldsmith LA. 5. Mikosis. Katz SI. DAFTAR PUSTAKA 1. Aisah S. Page 17 .com/article/1091473-overview ) 4. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 2009. p. Jakarta. Mansjoer A. Gilchrest BA. In: Djuanda A. editor. Leffell DJ.