You are on page 1of 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kecelakaan lalu lintas saat ini bukan hal yang jarang kita jumpai. Banyaknya

jumlah kendaraan dengan ruas jalan yang kurang memadai untuk volume kendaraan

yang besar adalah fenomena yang menjadi salah satu pemicu terjadinya banyak

kecelakaan lalu lintas di banyak kota.
Fenomena kecelakaan lalu lintas seperti belum mendapatkan perhatian

masyarakat sebagai penyebab kematian yang cukup besar. Padahal setiap tahunnya di

seluruh dunia terdapat sekitar 1,2 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas,

dan 50 juta lainnya mengalami luka-luka. Menurut World Health Organisation

(WHO), setiap hari setidaknya 3.000 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Dari jumlah tersebut setidaknya 85% terjadi di Negara dengan pendapatan rendah dan

sedang. Kecelakaan lalu lintas telah menjadi penyebab 90% cacat seumur hidup

(disability adjusted life years ). Di kawasan Asia Tenggara, lanjut World Health

Organisation (WHO), setiap jam terdapat 34 orang meninggal karena kecelakaan di

jalan raya. Tahun 2001 ada 354.000 orang meninggal karena kecelakaan di jalan dan

sekitar 6,2 juta orang dirawat di rumah sakit.(1)
Di Indonesia pada tahun 2008 diperkirakan terdapat sebanyak 36.000 orang

meninggal akibat kecelakaan di jalan raya, 19.000 orang diantaranya melibatkan

pengendara sepeda motor. Itu berarti setiap tahun kurang lebih ada sekitar 52 orang

yang meninggal dalam kecelakaan yang melibatkankan sepeda motor. Angka itu

1

menunjukkan peningkatan sebesar 73,30% dari pada angka satu tahun yang lalu.

Sementara pada tahun 2009 terjadi penurunan korban kecelakaan lalu lintas mencapai

jumlah 16.540 jiwa. Dengan kata lain, setiap hari minimal 40 orang meninggal akibat

kecelakaan lalu lintas.
SMA Negeri 5 Makassar merupakan salah satu sekolah model di Makassar,

posisinya juga sangat strategis untuk mengakses informasi yang mendukung seperti

internet dan toko buku. Perpustakaan menyediakan berbagai macam buku khususnya

buku-buku tentang pertolongan pertama pada kecelakaan lalu lintas sehingga siswa

dapat mengetahui lebih anyak tentang hal tersebut.
Salah satu ekstrakulikuler di SMA Negeri 5 Makassar adalah Palang Merah

Remaja (PMR) yang merupakan organisasi social kemanusian yang berada di bawah

naungan Palang Merah Indonesia. Kegiatan dari PMR adalah membantu pelaksanaan

upacara bendera, bakti sosial, penanganan UKS dan lain sebagainya. Dalam kegiatan

Palang Merah Remaja (PMR) di sekolahan sudah pernah mendapat pengetahuan dan

keterampilan tentang pertolongan pertama. Palang Merah Remaja SMA Negeri 5

Makassar telah mendapatkan pembelajaran tersebut.
Siswa dan siswi SMA Negeri 5 Makassar adalah seorang remaja berusia

antara 15-17 tahun, dimana usia tersebut adalah usia produktif yang merupakan asset

bangsa dikemudian hari. Sehingga mereka perlu memiliki bekal yang cukup untuk

menghadapi hal-hal yang mungkin terjadi secara tiba-tiba, seperti melakukan

pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas.
Pertolongan pertama pada kecelakaan (First aid) adalah upaya pertolongan

dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat pertolongan

yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. Berarti pertolongan tersebut bukan

2

sebagai pengobatan atau penanganan yang sempurna, tetapi hanyalah berupa

pertolongan sementara yang dilakukan oleh petugas. Pertolongan pertama pada

kecelakaan (petugas medik atau orang awam) yang pertama melihat korban. (2)
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah

adalah :
Bagaimana perbedaan tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa anggota dan

bukan anggota palang merah remaja Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Makassar

tentang pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan umum
Mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa anggota

dan bukan anggota palang merah remaja Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Makassar

tentang pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas
1.3.2. Tujuan khusus
a. Mengetahui tingkat pengetahuan siswa anggota dan bukan anggota palang

merah remaja Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Makassar tentang pertolongan

pertama pada korban kecelakaan lalu lintas
b. Menilai tingkat keterampilan siswa anggota dan bukan anggota palang merah

remaja Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Makassar tentang pertolongan

pertama pada korban kecelakaan lalu lintas
c. Menilai perbedaan tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa anggota dan

bukan anggota palang merah remaja Sekolah Menengah Atas Negeri 5

Makassar tentang pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi SMA Negeri 5 Makassar : Memberikan masukan untuk melakukan

penyuluhan tentang kecelakaan lalu lintas agar dapat mengambil langkah-

3

Bagi Peneliti : Memberikan pengalaman nyata dalam melakukan penelitian sederhana secara ilmiah dalam rangka mengembangkan diri dalam melaksanakan fungsi sebagai mahasiswa dan hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti sendiri mengenai pengetahuan tentang pertolongan pertama pada kecelakaan lalu lintas. yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar. 2.1. 4.2. Pengertian Pertolongan pertama adalah pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera atau kecelakaan yang memerlukan pertolongan medis. 3. Berarti pertolongan tersebut bukan sebagai pengobatan atau penanganan yang sempurna. langkah yang terbaik bagi masyarakat dan selanjutnya tingkat kecelakaan bias diminimalkan.2 Pertolongan Pertama pada Kecelakaan 2. tetapi hanyalah berupa 4 . Bagi Institusi Pendidikan : Sebagai wahana untuk mengembagkan ilmu pengetahuan. Pertolongan pertama pada kecelakaan (First Aid) adalah upaya pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Sedangkan pelaku pertolongan pertama adalah penolong yang pertama kali tiba ditempat kejadian. Bagi Kepolisian dan Masyarakat : Sebagai wahana untuk meningkatkan kepedulian serta peran aktif masyarakat akan keselamatn pengguna jalan raya dan membantu menyalurkan pengetahuan kesehatan dan keterampilan kegawatdaruratan dalam kecelakaan lalu lintas.

2. Pentingnya menjauhkan dari sumber kecelakaan adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan ulang yang akan memperberat kondisi korban. Apabila kecelakaan bersifat massal. mudah dan efesien.2. b. Hindarkan sikap sok pahlawan. Menjauhkan atau menghindarkan korban dari kecelakaan berikutnya. tempat dan waktu kejadian. maupun sarana pendukung lainnya.3. Sistematika Pertolongan Pertama Secara umum urutan pertolongan pertama pada korban kecelakaan adalah sebagai berikut : a. Biasakan membuat catatan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah anda lakukakan.2. korban-korban yang mendapat luka ringan dapat dikerahkan untuk membantu dan pertolongan diutamakan diberikan kepada korban yang menderita luka paling parah tetapi masih mungkin untuk ditolong. b. Pertolongan pertama pada kecelakaan (petugas medis atau orang awam) yang melihat pertama korban. dan lain sebagainya. 5 . Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat. Tidak panik Berlakulah cekatan tetapi tetap tenang. Sebelum kita menolong korban. 2. Pergunakanlah sumberdaya yang ada baik alat. Prinsip Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Beberapa prinsip yang harus ditanamkan pada jiwa petugas P3K apabila menghadapi kecelakaan sebagai berikut : a. Pastikan anda bukan menjadi korban berikutnya Seringkali kita lengah atau kurang berfikir panjang bila kita menjumpai suatu kecelakaan. pastikan dulu apakah tempat tersebut sudah aman atau masih berbahaya. manusia. identitas korban. Buatlah perencanaan yang matang dan dipahami oleh seluruh anggota c. Catatan ini berguna bila penderita mendapat rujukan atau pertolongan tambaan oleh pihak lain 2. (2) pertolongan sementara yang dilakukan oleh petugas.

Memperhatikan pernafasan dan denyut jantung korban. baringkan telungkup dengan letak kepala lebh rendah dari bagian tubuh yang lainnya. c. Cara ini juga dilakukan untuk korban-korban yang dikhawatirkan akan tersedak muntahan. Dengan menggunakan sapu tangan atau kain yang bersih tekan tempat perdarahan kuat-kuat kemudia ikatlah saputangan tadi dengan dasi. Korban-korban ditelentangkan dengan bagian kepala lebih rendah dari pada letak anggota tubuh yang lain. atau air dalam paru-parunya. Apabila korban hendak diusung terlebih dahulu perdarahan harus dihentikan serta tulang- 6 . d. f. Kalau lokasi luka memungkinkan. Bila pernafasan penderita terhenti segera kerjakan pernafasan bantuan. Memperhatikan tanda-tanda shock. meletakkan bagian perdarahan lebih tinggi dari bagian tubuh. Korban tidak boleh dipindahkan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jelas dan keparahan cidera yang dialaminya kecuali bila tempat kecelakaan tidak memungkinkan bagi korban dibiarkan ditempat tersebut. Apabila korban muntah-muntah dalam keadaan setengah sadar. atau apapun juga agar saputangan tersebut menekan luka-luka itu. baju. Tidak memindahkan korban secara terburu-buru. Kemudian bila dilakukan secara tergesa-gesa yaiu dapat membahayakan atau memperparah kondisi korban. ikat pinggang. Keuntungan lainnya adalah penolong dapat memberikan pertolongan dengan tenang dan dapat lebih mengonsentrasikan perhatiannya pada kondisi korban yang ditolongnya. Perdarahan. e. darah. Perdarahan yang keluar pembuluh darah besar dapat membawa kematian dalam waktu 3-5 menit. Apabila penderita mengalami cedera di dda dan penderita sesak nafas (tetapi masih sadar) dalam posisi setengah duduk.

2. Pedoman Pertolongan Pertama pada Korban. a. Usahakan menghubungi pihak medis dan pihak berwajib e. Tujuan Pertolongan Pertama pada Korban. Jenis-jenis Kecelakaan dan Penanganannya.2.2. Perlu diingat bahwa pertolongan pertama hanyalah sebagai life saving dan mengurangi kecacatan. Tindakan P3K yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cacat atau penderitaan dan bahkan menyelamatkan korban dari kematian. tulang yang patah dibidai. Mencegah infeksi d. Segera mentransportasikan korban ke sentral pengobatan. atau rumah sakit. Setelah dilakukan pertolongan pada korban setelah evakuasi korban ke sentral pengobatan. puskesmas. yaitu : a. Mencegah kematian b. 2. Pedoman P3K adalah PATUT. Serahkan keputusan tindakan selanjutnya kepada dokter atau tenaga medis yang berkompoten. tetapi bila tindakan P3K dilakukan tidak baik malah bias memperburuk akibat kesalahan bahhkan membunuh korban. Tindakan P3K 2.5. Tandai tempat kejadian d. 2. Penolong aman b. Dalam mengusung korban usahakanlah supaya kepala korban tetap terlindung dan perhatikan jangan sampai saluran pernafasannya tersumbat oleh kotoran atau muntahan. g. 7 .4. Mencegah cacat yang lebih berat c.6. Amankan korban c. bukan terapi. Mengurangi rasa sakit atau rasa takut.

Atasi shock bila ada h. Luka lecet b. a. Luka Yaitu suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan secara tiba-tiba karena kekerasan atau injury. Amputasi Cara pengamatan pada luka : a. Baringkan bila kondisi parah g. Memar c. Luka sayat d. Terbukanya kulit b. Luka robek f. Berikan antiseptic e. Bersihkan daerah sekitar luka c. Rasa nyeri 2) Macam-macam luka dan penanganannya Luka terbuka Luka tertutup a. Pastikan daerah luka terlihat b. Avulsi (sobek) i. Berikan penutup luka dan balut f. Rujuk ke rumah sakit 8 . Control perdarahan bila ada d. Karena himpitan e. 1) Gejala a. Beberapa keadaan terputusnya kontinuitas jaringan secara tiba-tiba karena kekerasan atau injury. Perdarahan c. Luka tusuk h. Cedera remuk g.

Ciri-ciri patah tulang adalah bagian yang 9 . Selanjutnya lakukan balutan yang ketat diatas kasa tadi dan bawa ke fasilitas kesehatan. telinga. Pedarahan tidak kelihatan keluar.b. kepala. Patah tulang (fraktur) Patah tulang adalah retak atau putusnya tulang dan berhubungan antara tulang secara sebagian atau seluruhnya. dan mulut). dan lainnya. lalu tempat luka ditekan sampai perdarahan berhenti. misalnya perdarahan dalam perut. sehingga tidak dapat ditaksir volume darah yang sudah terkuras. rongga dada. Perdarahan 1) Perdarahan keluar Perdarahan keluar adalah perdarahan yang kelihatan mengalir keluar dari luka dari permukaan kulit. Bila kasa basah boleh diganti lagi dengan yang baru. 2) Perdarahan kedalam Perdarahan kedalam adalah perdarahan yang bersumber dari luka atau kerusakan dari pembuluh darah yang terletak dalam tubuh. c. Lakukan tekanan pada tempat dimana pangkal arteri berada (antara luka dengan jantung) diatas tulang atau bagian tubuh yang keras. b) Menekan langsung pada tempat tertentu. Tindakan P3K pada perdarahan keluar : a) Letakkan kain kasa steril atau kain bersih di atas luka. Tanda perdarahan juga tidak begitu jelas. kecuali perdarahan pada rongga kepala (darah keluar dari hidung.

dengan ciri-ciri terjadi perubahan bentuk. tulang menonjol keluar serta berhubungan dengan udara luar 2) Patah tulang tertutup. kulit kebiru-biruan. 10 . karena bila penanganannya tidak benar malah memperberat patah tulangnya. 3) Gejala dan cara penanganan patah tulang adalah sebagai: a) Gejala (1) Perubahan bentuk (2) Nyeri bila ditekan dan kaku (3) Bengkak (4) Terdengar atau terasa pada tulang yang retak atau patah (5) Ada memar (jika tertutup) (6) Terjadi perdarahan (juka terbuka) (7) Jenisnya (8) Terbuka (terlihat jaringan luka) (9) Tertutup. b) Cara penanganan patah tulang secara umum adalah : (1) Harus hati-hati. bentuk bagian tersebut berlainan dengan bentuk biasanya dan sekitar luka bengkak kebiru-biruan. Patah tulang terbagi menjadi dua yaitu : 1) Patah tulang terbuka. dengan ciri-ciri terjadi luka dan perdarahan. dan apabila ditekan terasa nyeri.patah tidak bias digerakkan. rasa sakit bertambah bila tersentuh.

yaitu : a) Manusia 1) Apabila satu penderita (a) Dipondong : untuk korban ringan dan anak-anak (b) Digendong : untuk korban sadar dan tidak terlalu 11 .2. Prinsip evakuasi a) Dilakukan jika mutlak perlu b) Menggunakan teknik yang baik dan benar c) Penolong harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta memiliki semangat untuk menyelamatkan korban dari bahaya lebih besar atau bahkan kematian. (3) Perhatikan kalau korban shock. 2. (2) Jangan sekali-kali menggerakkan atau mengangkut korban sebelum bidai terpasang. b. Ada dua macam alat pengangkutan. namun hal tersebut sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi (medan.7. (5) Menutup dengan kain kasa steril bila patah tulang terbuka. Alat pengangkutan korban Dalam melaksanakan proses evakuasi korban ada beberapa cara atau alat bantu. (3) a. atau perdarahan atasi dulu. (6) Memasang bidai atau pembalutan. Evakuasi korban Evakuasi korban adalah salah satu tahapan dalam Pertolongan Pertama yaitu untuk memindahkan korban ke lingkungan yang aman dan nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut. (4) Mencegah terjadinya infeksi dengan menaburkan antiseptik. kondisi korban ketersediaan alat).

perdarahan. berat serta tidak patah tulang (c) Dipapah : untuk korban tanpa luka di bahu atas (d) Dipanggul/digendong (e) Merayap posisi miring b) Apabila dua orang penderita Maka pengangkutnya tergantung cidera penderita tersebut dan diharapkan bila korban tidak perlu diangkut berbaring dan tidak boleh untuk mengangkut korban patah tulang leher atau tulang panggung. patah tulang dan gangguan persendian. luka. (b) Menyiapkan personil untuk pengawasan pasien selama proses evakuasi 12 . 1) Dipondong : tangan lepas dan tangan berpegangan 2) Model membawa balok 3) Model membawa kereta c) Alat bantu 1) Tandu permanen 2) Tandu darurat 3) Kain keras/ponco/jaket lengan panjang 4) Tali/webbing 5) Persiapan (a) Kondisi korban memungkinkan untuk dipindah atau tidak berdasarkan penilaian kondisi dari keadaan respirasi.

penciuman.2. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang. yaitu indera penglihatan. yaitu: a. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. tahu ini merupakan 13 . (c) Menemukan lintasan evakuasi serta tahu arah dan tempat akhir korban diangkut (d) Memilih alat (e) Selama pengangkutan jangan ada bagian tubuh yang berjuntai atau badan penderita yang tidak dalam posisi benar. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.2 Tingkatan Pengetahuan Ada 6 (enam) tingkatan pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia. hidung. pendengaran.1 Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. 2.2 Pengetahuan 2. Oleh sebab itu.2. atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata. dan lain sebagainya). rasa dan raba. (3) 2.(4) Pengetahuan merupakan penginderaan manusia. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. telinga.

prinsip. tingkat pengetahuan yang paling rendah. dan sebagainya. dan masih ada kaitannya satu sama lain. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Misalnya. meramalkan. rumus. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. menyebutkan contoh. memisahkan. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. tetapi masih di dalam satu struktur organisasi. menguraikan. dapat 14 . mengelompokkan. b. Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. e. d. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. menyatakan dan sebagainya. dapat menyusun. menyimpulkan. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. mendefinisikan. metode. c. membedakan. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja. seperti dapat menggambarkan (membuat bagan).

harus diikuti dengan tanpa keraguan. f.3 Sumber-Sumber Pengetahuan a. guru. Sumber pertama yaitu kepercayaan berdasarkan tradisi. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri. (4) 2. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. adat dan agama. Apa pun yang mereka katakan benar atau salah. adalah berupa nilai-nilai warisan nenek moyang. b. dan sebagainya. orang yang dituakan. ulama. Jadi. baik atau buruk. Karena. Sumber kedua yaitu pengetahuan yang berdasarkan pada otoritas kesaksian orang lain. kebanyakan orang telah mempercayai mereka sebagai orang-orang yang cukup berpengalaman dan berpengetahuan lebih luas dan benar. dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. Di dalam norma dan kaidah itu terkandung pengetahuan yang kebenarannya boleh jadi tidak dapat dibuktikan secara rasional dan empiris. dengan percaya secara bulat. Boleh jadi sumber 15 . atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. tetapi sulit dikritik untuk diubah begitu saja. juga masih diwarnai oleh kepercayaan. pada umumnya diikuti dan dijalankan dengan patuh tanpa kritik. dapat menyesuaikan. Sumber ini biasanya berbentuk norma-norma dan kaidah-kaidah baku yang berlaku di dalam kehidupan sehari- hari. Pihak-pihak pemegang otoritas kebenaran pengetahuan yang dapat dipercayai adalah orangtua. dan indah atau jelek. Pengetahuan yang bersumber dari kepercayaan cenderung bersifat tetap (mapan) tetapi subjektif. dapat meringkas.2. merencanakan.

dan yang berubah-ubah. Dengan mata. tetapi persoalannya terletak pada sejauh mana orang-orang itu bisa dipercaya. sangat bersifat spiritual. objektif dan pasti. d. lingkup kemampuannya melebihi panca indera. Jika kesaksiannya adalah kebohongan. hal ini akan membahayakan kehidupan manusia dan masyarakat itu sendiri. akal pikiran memiliki sifat lebih rohani. yang satu persatu. maka akal pikiran mampu menangkap hal-hal yang metafisis. tetapi tidak berubah-ubah. lidah. yang seragam dan yang bersifat tetap. telinga. tidak berubah-ubah. Sumber ini berupa gerak hati yang paling dalam. pengetahuan ini mengandung kebenaran. Bagi manusia. serta yang bersifat tetap. universal. Oleh sebab itu. Singkatnya. Sumber keempat yaitu akal pikiran. Sumber ketiga yaitu pengalaman indriawi. spiritual. orang bisa menyaksikan secara langsung dan bisa pula melakukan kegiatan hidup. c. sejauh mana kesaksian pengetahuannya itu merupakan hasil pemikiran dan pengalaman yang telah teruji kebenarannya. akal pikiran senantiasa bersikap meragukan kebenaran pengetahuan indriawi sebagai pengetahuan semu dan menyesatkan. pengalaman indriawi adalah alat vital penyelenggaraan kebutuhan hidup sehari-hari. dan kulit. yang menembus batas-batas fisis sampai pada hal-hal yang bersifat metafisis. Karena itu. akal pikiran cenderung memberikan pengetahuan yang lebih umum. Berbeda dengan panca indera. Lebih dari itu. Kalau panca indera hanya mampu menangkap hal-hal yang fisis menurut sisi tertentu. e. melampaui ambang batas ketinggian akal pikiran dan kedalaman pengalaman. Pengetahuan yang bersumber dari intuisi 16 . Jadi. Sumber kelima yaitu intuisi. hidung. abstrak.

(4) 2. hanya berlaku secara personal belaka. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman 17 . Artinya. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. (5) 2. pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang makin semakin baik pula pengetahuanya. atau pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.5 Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Pendidikan Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh. b. tanpa melalui sentuhan indera maupun olahan akal pikiran.4 Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Dengan demikian. merupakan pengalaman batin yang bersifat langsung.2. maka ia berada di dalam pengetahuan yang intuitif. Karena itu tidak bisa berlaku umum. pengetahuan intuitif ini kebenarannya tidak dapat diuji baik menurut ukuran pengalaman indriawi maupun akal pikiran. Pengalaman Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan.2. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan pengetahuan. Ketika dengan serta-merta seseorang memutuskan untuk berbuat atau tidak berbuat dengan tanpa alasan yang jelas. antara lain : a.

” “Keterampilan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan. Dari uraian ini maka dapat kita simpulkan bahwa bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya.3.3 Keterampilan 2. c. bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun juga mengemukakan bahwa memang daya ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur. radio atau surat kabar maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. Pengertian Keterampilan Keterampilan merupakan kemampuan yang penting didalam kehidupan sehari-hari maupun didalam pendidikan jasmani. (6) 2. yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu. d. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV. akan tetapi pada umur tertentu.1. “Keterampilan adalah tindakan yang memerlukan aktivitas gerak dan harus dipelajari agar supaya mendapatkan bentuk yang benar.” Pendapat senada dikemukakan yang mengatakan bahwa keterampilan bisa diartikan sebagai kemampuan untuk tugas-tugas tertentu dengan baik. Semakin baik 18 . Usia Makin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik. akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang. Informasi Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang.

penguasaan keterampilan. Analisis e. Keterampilan merupakan perwujudan dari kualitas koordinasi dan kontrol tubuh dalam melakukan gerakan tertentu dengan baik.5 Kerangka konsep e. Baca buku . Evakuasi korban Anggota PMR Tingkat Variabel Keterampil Bukan Pengetahu perancu : an P3K anggota PMR an P3K 1. Jenis-jenis kecelakaan dan penanganannya 2. maka pelaksanaannya akan semakin efisien untuk melakukan gerakan keterampilan.4 Kerangka Teori Pengetahuan secara kognitif dibagi menjadi : a. maka pelaksanaannya akan semakin efiesien. Sintesis Pengetahuan anggota dan bukan anggota PMR f. Pedoman P3K d. Internet 3. Aplikasi d. Prinsip pertolongan P3K b. Sistematika pertolongan P3K c. Memahami c. evaluasi tentang P3K Keterampilan anggota dan bukan anggota PMR tentang : a. Media cetak 19 2. (7) 2. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan adalah kemampuan untuk melakukan gerak secara efektif dan efisien. Semakin baik penguasaan keterampilan. Tahu b.

6 Hipotesis Penelitian 1. Hipotesis 1 H0 : Tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan antara anggota PMR dengan bukan anggota PMR tentang pertolongan pertama korban kecelakaan lalu lintas.2. HA : Ada perbedaan tingkat pengetahuan antara anggota PMR dengan bukan anggota PMR tentang pertolongan pertama korban kecelakaan lalu lintas. 2. HA : Ada perbedaan tingkat pengetahuan antara anggota PMR dengan bukan anggota PMR tentang pertolongan pertama korban kecelakaan lalu lintas. Hipotesis 2 H0 : Tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan antara anggota PMR dengan bukan anggota PMR tentang pertolongan pertama korban kecelakaan lalu lintas. 20 .

Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah analitik observasional yaitu penelitian diarahkan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi bagaimana dan mengapa fenomena itu terjadi. 21 . Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014. Penelitian Cross Sectional adalah suatu penelitian belah lintang dimana antara variabel bebas dan veriabel terikat diukur pada waktu yang bersamaan. BAB III METODE PENELITIAN 3.3. 3. Populasi dan Teknik Sampel a. dimana sebagai kelompok eksperimen dan control didapatkan populasi sebanyak 1017 siswa. (9) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 5 Makassar.2. Pemilihan lokasi penelitian tersebut adalah lokasi yang bertempat di Jalan Taman Makam Pahlawan Tello Baru yang termasuk jalan ramai. Pada penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Cross Sectional. (8) 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Peneltian ini dilakukan di SMA Negeri 5. Populasi adalah wilayah generelisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. dan adanya kasus kecelakaan yang membutuhkan pertolongan pada korban kecelakaan oleh siswa di SMA Negeri 5 Makassar.

(3) Mendapat izin dari guru Siswa anggota PMR (1) Bersedia menjadi responden (2) Merupakan siswa anggota PMR di SMA Negeri 5 Makassar yang telah aktif mengikuti pelatihan PMR selama minimal 6 bulan (3) Mendapat izin dari guru. dan tenaga. Kriteria sampel Adapun kriteria yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a) Kriteria Inklusi Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti. (10) Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang ditelti. Bila populasi besar. karena keterbatasan waktu. (11) Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah : 22 . biaya. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Siswa bukan anggota PMR (1) Bersedia menjadi responden (2) Merupakan siswa dan siswi di SMA Negeri 5 Makassar yang aktif. b) Kriteria Eksklusi Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang tidak memenuhi kriteria inklusi. (11) Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel. untuk itu maka dilakukan pengambilan sampel. (6) Secara spesifik metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive random sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan yang dibuat oleh peneliti. maka tidak mungkin peneliti meneliti keseluruhan individu atau objek dalam populasi.b.

a. b. karena adanya variabel bebas. Variable Penelitian a.4. Tingkat Pengetahuan terhadap Definisi P3K 1) Definisi operasional : Pengetahuan sampel terhadap upaya pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. 3. Berdasarkan kriteria tersebut maka jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 100 siswa yang terdiri dari 50 orang siswa anggota PMR dan 50 orang siswa bukan anggota PMR. (1) Siswa yang tidak mengikuti kegiatan secara penuh dalam hal ini anggota palang merah remaja yang tidak aktif mengikuti pelatihan PMR selama minimal 6 bulan. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 3. Variable bebas (independent) Variabel bebas atau vaiabel independent adalah variabel yang menjadi sebeb (12) timbulnya atau berubahnya variable dependent (terikat). 2) Alat ukur : Menggunakan Skala Guttman 3) Nilai ukur : Nilai 1 = Jawaban benar Nilai 0 = Jawaban salah 4) Hasil ukur : 23 . Variable terikat (dependent) Variabel terikat atau dependent adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat.5. 3. Tingkat pengetahuan terhadap Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Lalulintas. Variabel independent dalam penelitian ini adalah pengetahuan siswa anggota dan bukan anggota Palang Merah Remaja tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. (12) Variabel terikat (dependent) dalam penelitian ini adalah keterampilan tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Lalu Litas.

dan waktu kejadian. mudah dan efisien.100 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. identitas korban. Tingkat Pengetahuan terhadap Prinsip P3K 1) Definisi operasional : Pengetahuan sampel terhadap prinsip P3K yang meliputi : Pastikan anda bukan menjadi korban berikutnya. atau c) Tingkat pengetahuan Kurang bila ≤ 55 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar.75 % dari sampel yang menjawab benar. b. Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat. Biasakan membuat catatan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah anda lakukan. tempat. atau b) Tingkat pengetahuan Cukup bila 56 %. 5) Kriteria objektif a) Tingkat pengetahuan Baik bila 76 % . 2) Alat ukur : Menggunakan kuesioner 3) Skala ukur : Menggunakan Skala Guttman 4) Nilai ukur : Nilai 1 = Jawaban benar Nilai 0 = Jawaban salah 5) Hasil ukur : 6) Kriteria objektif a) Tingkat pengetahuan Baik bila 76 % .100 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. atau b) Tingkat pengetahuan Cukup bila 56 %. atau 24 .75 % dari sampel yang menjawab benar.

d. Segera mentransportasikan korban ke sentral pengobatan. c) Tingkat pengetahuan Kurang bila ≤ 55 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar.100 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. c. atau c) Tingkat pengetahuan Kurang bila ≤ 55 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. Tingkat Pengetahuan terhadap Sistematika P3K 1) Definisi operasional : Pengetahuan sampel terhadap sistematika P3K yang meliputi : Tidak panik. Memperhatikan tanda-tanda shock. 2) Alat ukur : Menggunakan kuesioner 3) Skala ukur : Menggunakan Skala Guttman 4) Nilai ukur : Nilai 1 = Jawaban benar Nilai 0 = Jawaban salah 5) Hasil ukur : 6) Kriteria objektif : a) Tingkat pengetahuan Baik bila 76 % . Memperhatikan pernafasan dan denyut jantung.75 % dari sampel yang menjawab benar. Perdarahan. Tingkat Pengetahuan terhadap Tujuan P3K 1) Definisi operasional : 25 . Menjauhkan atau menghindarkan korban dari kecelakaan berikutnya. Tidak memindahkan korban secara terburu-buru. atau b) Tingkat pengetahuan Cukup bila 56 %.

Tingkat Pengetahuan terhadap Pedoman P3K 1) Definisi operasional : Pengetahuan sampel terhadap pedoman P3K yang meliputi : Penolong aman. atau b) Tingkat pengetahuan Cukup bila 56 %. Tindakan P3K 2) Alat ukur : Menggunakan kuesioner 3) Skala ukur : Menggunakan Skala Guttman 4) Nilai ukur : Nilai 1 = Jawaban benar Nilai 0 = Jawaban salah 5) Hasil ukur : 26 . Tandai tempat kejadian. Mengurangi rasa sakit dan rasa takut. Mencegah cacat yang lebih berat.100 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. e. atau c) Tingkat pengetahuan Kurang bila ≤ 55 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. Pengetahuan sampel terhadap tujuan P3K yang meliputi : Mencegah kematian. 2) Alat ukur : Menggunakan kuesioner 3) Skala ukur : Menggunakan Skala Guttman 4) Nilai ukur : Nilai 1 = Jawaban benar Nilai 2 = Jawaban salah 5) Hasil ukur : 6) Kriteria objektif : a) Tingkat pengetahuan Baik bila 76 % . Mencegah infeksi. Amankan korban.75 % dari sampel yang menjawab benar. Usahakan menghubungi pihak medis dan pihak berwajib.

jangan sekali-kali menggerakkan korban sebelum bidai terpasang. Tingkat pengetahuan terhadap Jenis-jenis Kecelakaan dan Penanganannya 1) Definisi operasional : Pengetahuan sampel terhadap jenis-jenis luka dan penanganannya yang meliputi : a) Luka penanganannya : pastikan daerah luka terlihat. baringkan bila kondisi parah. rujuk ke rumah sakit. perhatikan kalau korban shock atau ada perdarahan. atau b) Tingkat pengetahuan Cukup bila 56 %. menekan langsung pada perdarahan. atasi shock bila ada. atau c) Tingkat pengetahuan Kurang bila ≤ 55 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. b) Perdarahan meliputi perdarahan keluar yang penanganannya : letakkan kain kasa steril atau kain bersih di atas luka kemudian tempat luka ditekan sampai perdarahan berhenti. berikan penutup luka dan balut. c) Patah tulang penanganannya : harus hati-hati. Perdarahan kedalam penanganannya berdasarkan sumer perdarahan. f. 6) Kriteria objektif : a) Tingkat pengetahuan Baik bila 76 % .75 % dari sampel yang menjawab benar. kontrol perdarahan. mencegah terjadinya infeksi 27 . berikan antiseptik.100 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. bersihkan daerah sekitar luka.

Tingkat Pengetahuan terhadap Evakuasi Korban 1) Definisi operasional : Pengetahuan sampel terhadap evakuasi korban yang meliputi : Prinsip evakuasi dan alat pengangkut korban. g. atau c) Tingkat pengetahuan Kurang bila ≤ 55 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. atau 28 .100 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar. atau b) Tingkat pengetahuan Cukup bila 56 %. memasang bidai atau pembalut. menutup dengan kain kasa steril jika patah tulang terbuka. atau b) Tingkat pengetahuan Cukup bila 56 %. dengan menaburkan antiseptik. 2) Alat ukur : Menggunakan kuesioner 3) Skala ukur : Menggunakan Skala Guttman 4) Nilai ukur : Nilai 1 = Jawaban benar Nilai 0 = Jawaban salah 5) Hasil ukur : 6) Kriteria objektif : a) Tingkat pengetahuan Baik bila 76 % . 2) Alat ukur : Menggunakan kuesioner 3) Skala ukur : Menggunakan Skala Guttman 4) Nilai ukur : Nilai 1 = Jawaban benar Nilai 0 = Jawaban salah 5) Hasil ukur : 6) Kriteria objektif : a) Tingkat pengetahuan Baik bila 76 % .100 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar.75 % dari sampel yang menjawab benar.75 % dari sampel yang menjawab benar.

Tingkat Keterampilan Pertolongan Pertama pada Korban Kecelakaan Lalulintas 1) Alat ukur : Menggunakan daftar tilik 2) Skala ukur : Menggunakan Skala Likert 3) Nilai ukur : Nilai 5 = Keterampilan Sangat Tepat Nilai 4 = Keterampilan Tepat Nilai 3 = Keterampilan Kurang Tepat Nilai 1 = Keterampilan Tidak Tepat Nilai 0 = Keterampilan Sangat Tepat 4) Kriteria objektif Skor tertinggi : 15 x 5 = 75 Skor terendah : 15 x 1 = 15 Mi = ½ ( skor tertinggi + skor terendah ) = ½ (75 + 15) = 45 Sdi = 1/6 (skor tertinggi + skor terendah) = 16 (75 + 15) = 15 Baik = Mi +Soi ≤ M ≤ Mi + 3.0 Sdi = 45 – 15 ≤ M ≤ 45 + 15 = 30 ≤ M ≤ 60 Kurang= Mi – 3Sdi ≤ M ≤ Mi . Angket atau Kuesioner Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data melalui formulir- formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada 29 .0 Sdi = 45 + 15 ≤ M ≤ 45 + 45 = 60 ≤ M ≤ 90 Cukup = Mi .15 = 0 ≤ M ≤ 30 3.Soi ≤ M ≤ Mi + 3. 4. Instrument Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk proses pengumpulan data dalam penelitian ini adalah : a.Sdi = 45 – 3(15) ≤ M ≤ 45 .6. c) Tingkat pengetahuan Kurang bila ≤ 55 % dari sampel yang mampu menjawab dengan benar.

Usaha ini dilakukan untuk melihat secara langsung terhadap kenyataan yang sebenarnya terjadi pada obyek penelitian. Setelah mendapat persetujuan dari sekolahan tempat penelitian tersebut. Penelitian ini menggunakan angket atau kuesioner. Anonimily (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan. Teknik Pengelolaan Data 30 . kemudian peneliti melakukan penelitian dengan tidak melupakan masalah etika.7. c. seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan (13) dan informasi yang diperlukan oleh peneliti. daftar pertanyaan dibuat secara berstruktur dengan bentuk pertanyaan pilihan berganda (multiple choice questions) dan pertanyaan terbuka (open question) b.8. b. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian. peneliti telah mendapat rekomendasi dari institusi untuk mengajukan permohonan izin kepada institusi atau lembaga tempat penelitian yaitu SMA Negeri 5 Makassar. 3. Inform concent Lembar persetujuan diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian. Observasi Suatu pengamatan langsung terhadap obyek penelitian. bila subyek menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak subyek. 3. Confidentiality (kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai penelitian. yang meliputi : a. peneliti tidak mencantumkan nama responden dalam lembar kuesioner tetap memberikan kode dalam kuesioner tersebut.

pada tahap ini dilakukan pengecekan kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak. dengan memberikan kode pada setiap data berdasarkan klasifikasi yang ada untuk memudahkan dalam analisis data. digunakan pada data kuantitatif atau data kualitatif . meliputi : a) Variabel bebas : Pengetahuan P3K b) Variabel terikat : Keterampilan P3K 2) Analisis Bivariat Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan/berkorelasi. 3) Processing. Agar analisis menghasilkan informasi yang benar. yaitu memindahkan isi data atau memproses isi data atau entry data dengan menggunakan statistik computer. 2) Coding. ada empat tahapan dalam mengelola data : a. Data yang sudah terkumpul selanjtnya diolah dengan menggunakan system komputerisasi. 4) Cleaning. (15) Analisis data adalah analisis statistik. mengorganisasikan ke dalam suatu pola. Analisis data Analisis data adalah proses mengatur urutan data. kategori dan satuan uraian dasar. (14) b. Pengelola data 1) Editing adalah memeriksa data dengan cara melihat kembali hasil pengumpulan data untuk menghindari kesalahan data. (11) Analisis data yang akan digunakan adalah sebagai berikut 1) Analisis Univariat Analisa dimaksudkan untuk tujuan menyampaikan variabel bebas. Analisis bivariat dalam penelitian ini berfungsi untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan dan keterampilan antara anggota PMR dengan bukan anggota PMR tentang pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas yang dilakukan 31 . Pada umumnya analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan presentasi dari tiap variabel.

dengan uji perbandingan (UJI Z) dengan interpretasi hasil p value < 0. sehingga H0 ditolak berarti ada perbedaan antara tingkat pengetahuan dan keterampilan anggota dan bukan anggota PMR tentang pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas.05. Analisis bivariat ini menggunakan SPSS 20. 32 .

DAFTAR PUSTAKA 33 .