BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Rabies adalah penyakit menular yang akut dari susunan saraf pusat yang dapat
menyerang hewan berdarah panas dan manusia yang disebabkan oleh virus rabies. 1
Penderita rabies sekali gejala klinis timbul biasanya diakhiri dengan kematian. Kasus
rabies di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Esser pada tahun 1884 pada seekor
kerbau, kemudian oleh Penning tahun 1889 pada seekor anjing dan oleh Eilerls de
Zhaan tahun 1889 pada manusia. Semua kasus ini terjadi di Propinsi Jawa Barat dan
setelah itu rabies terus menyebar ke daerah Indonesia lainnya.2
Rabies merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus RNA dari genus
Lyssavirus famili Rhabdoviridae, virus berbentuk seperti peluru yang bersifat
neurotropis menular dan sangat ganas1. Rabies (penyakit anjing gila) tersebar cukup
luas di Indonesia, hanya 9 propinsi yang bebas dari rabies, yaitu Bangka Belitung,
Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, NTB, Bali,
Papua Barat dan Papua. Dengan jumlah kasus gigitan yang cukup tinggi setiap
tahunnya (16.000 kasus gigitan), serta belum diketemukan obat atau cara pengobatan
untuk penderita rabies sesingga selalu berakhir dengan kematian pada hampir semua
penderita rabies baik manusia maupun hewan.1,3

1

BAB II
ANATOMI SISTEM SARAF PUSAT

2.2 Anatomi SSP

Gambar 1. Sistem saraf pusat

Otak dibagi menjadi tiga bagian yaitu otak besar, otak tengah, dan otak kecil.
Pembagian daerah ini tampak nyata hanya selama perkembangan otak pada fase
embrio. Otak pada manusia dewasa terdiri dari beberapa bagian (lobus).
Otak besar mengisi penuh bagian depan dari rongga tengkorak, dan terdiri dari
dua belahan (hemifer) besar, yaitu belahan kiri dan belahan kanan,. Setiap belahan
mengendalikan bagian tubuh yang berlawanan, yaitu belahan kiri mengatur tubuh
bagian kanan, sebaliknya belahan kanan mengatur tubuh bagian kiri. otak besar terdiri
atas dua lapisan yaitu lapisan luar (korteks) yang berisi badan neuron dan lapisan
dalam yang berisi serabut saraf yaitu dendrit dan neurit. Otak besar merupakan pusat
saraf utama, karena memiliki fungsi yang sangat penting dalam pengaturan semua
aktivitas tubuh, khususnya berkaitan dengan kepandaian (inteligensi), ingatan
(memori), kesadaran, dan pertimbangan.
otak depan manusia terdiri atas empat lobus (bagian). Lobus-lobus ini memiliki
fungsi yang beragam. Lobus frontalis berfungsi sebagai pusat berpikir; lobus
temporalis sebagai pusat pendengaran dan berbahasa; lobus oksipitalis sebagai
pusat penglihatan; dan lobus parietalis sebagai pusat sentuhan dan gerakan.

2

medula oblongata membentuk bagian bawah batang otak. bersin. Mekanisme penghantaran impuls yang terjadi pada tulang belakang yakni sebagai berikut. Jembatan Varol berisi serabut yang menghubungkan lobus kiri dan lobus kanan otak kecil. BAB III 3 . Sumsum tulang belakang memiliki fungsi penting dalam tubuh. Fungsi tersebut antara lain menghubungkan impuls dari saraf sensorik ke otak dan sebaliknya. Otak kecil berperan sebagai pusat keseimbangan. berfungsi sebagai pusat pengatur refleks fisiologis. terletak di bawah bagian belakang otak belakang. Otak tengah manusia berbentuk kecil dan tidak terlalu mencolok. otak kecil (serebelum). menghubungkan impuls dari otak ke saraf motorik. menghubungkan antara otak kecil dengan korteks otak besar. memungkinkan menjadi jalur terpendek pada gerak refleks. koordinasi kerja otot dan rangka. Otak tengah berfungsi menyampaikan impuls antara otak depan dan otak belakang. dan mata berkedip. tekanan darah. detak jantung. Selanjutnya. terdiri atas dua belahan dan permukaannya berlekuk-lekuk. Otak belakang terdiri atas tiga bagian utama yaitu: jembatan Varol (pons Varolli). suhu tubuh. terdiri atas dua belahan yang berliku-liku sangat dalam. impuls dibawa neuron motorik melalui akar ventral ke efektor untuk direspons4. misalnya pernapasan. gerak refleks seperti batuk. kemudian antara otak depan dan mata Otak belakang terletak di bawah lobus oksipital serebrum. Otak kecil. gerak alat pencernaan. Ketiga bagian otak belakang ini membentuk batang otak. rangsangan dari reseptor dibawa oleh neuron sensorik menuju sumsum tulang belakang melalui akar dorsal untuk diolah dan ditanggapi. Di dalam otak tengah terdapat bagian-bagian seperti lobus optik yang mengatur gerak bola mata dan kolikulus inferior yang mengatur pendengaran. Sumsum lanjutan. dan sumsum lanjutan (medula oblongata). koordinasi kegiatan otak.

Virus berbentuk seperti peluru berukuran 180 x 75 µm. 3. single stranded RNA. Epidemiologi Di Indonesia sampai dengan tahun 2009. kucing dan kera1.2. Definisi Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies dan ditularkan melalui gigitan hewan menular rabies. Etiologi Virus rabies termasuk famili rhabdovirus yang mempunyai diameter 80-180 nm.911 kasus gigitan yang mendapat VAR dan sebanyak 15 orang meninggal dengan gejala klinis rabies yang berasal dari kabupaten Badung dan Tabanan. selubung virus terdiri dari lipid. PEMBAHASAN 3.3. disebabkan oleh virus RNA dari genus Lyssavirus famili Rhabdoviridae virus berbentuk seperti peluru yang bersifat neurotropis menular dan sangat ganas1. Kasus kemudian menyebar ke kabupaten lainnya. NTT. protein matriks dan glikoprotein. Rabies merupakan penyakit zoonosis yang terpenting di Indonesia.5 Virus rabies termasuk golongan virus RNA. DI Yogyakarta. Sulawesi Utara. Provinsi Bali yang semula bebas rabies dilaporkan terjadi kematian karena rabies di Kabupaten Badung. DKI Jakarta.1.2 .4.1. Jawa Timur.3 3. dan 4 .3 Pada bulan November 2008. Virus rabies inaktif pada pemanasan. kasus rabies ditemukan di 24 provinsi di Indonesia. Jawa Tengah. Kepulauan Riau. terutama anjing. Hanya 9 provinsi yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas yaitu Provinsi Bangka Belitung. terdiri dari kombinasi nukleo-protein yang berbentuk koil heliks yang tersususn dari fosfoprotein dan polimerasi RNA. Papua dan Papua Barat. dengan Provinsi Sulawesi Selatan. NTB. Lampung dan Sumatera Barat merupakan daerah endemis tinggi. Sampai dengan bulan Oktober 2009 telah dilaporkan 10. Rabies ditularkan pada manusia melalui gigitan hewan yang menderita rabies. pada temperatur 560 C waktu paruh kurang dari satu menit. Rabies pada manusia merupakan penyakit radang susunan saraf pusat yang fatal. apabila keadaan beku atau dalam keadaan tidak adanya karbondioksida. Virus ini dapat tahan pada suhu 40°C selama beberapa minggu.

Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan.2. Infeksi melalui inhalasi virus sangat jarang ditemukan. serigala. Gambar 2. Virus menjadi tidak aktif bila terpapar sinar matahari. Patogenesis Patogenesis Rabies adalah penyakit zoonosis dimana manusia terinfeksi melalui jilatan atau gigitan hewan yang terjangkit rabies seperti anjing. musang.4.pada kondisi lembab pada temperatur 370 C dapat bertahan beberapa jam. Rhabdovirus Sampai saat ini sudah dikenal 7 genotip Lyssavirus dimana genotip 1 merupakan penyebab rabies yang paling banyak di dunia. Virus masuk melalui kulit yang terluka atau melalui mukosa utuh seperti konjungtiva mata. solusi jodium1. etanol 45%. atau transplantasi kornea. mulut.sinar ultraviolet. kelelawar. sabun. Virus juga akan mati dengan deterjen. kera. pengeringan. kemudian bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukkan perubahan-perubahan fungsinya5. 5 .6. anus. raccoon. pemanasan 1 jam selama 50 menit. genitalia eksterna. 4. kucing. maka selama 2 minggu virus tetap tinggal pada tempat masuk. Virus ini bersifat labil dan tidak viable bila berada diluar inang1.

Gambar 3. tergantung jumlah virus yang masuk. Pada gigitan di kepala. jauh dekatnya lokasi gigitan ke sistem saraf pusat. 6 . mulai dari 7 hari sampai lebih dari 1 tahun. Patogenesis rabies Masa inkubasi virus rabies sangat bervariasi. berat dan luasnya kerusakan jaringan tempat gigitan. rata-rata 1-2 bulan. persarafan daerah luka gigitan dan sistem kekebalan tubuh.

5. jari tangan 40 hari. kaki. dan kemungkinan kaku kuduk. meliputi demam. hipotalamus dan batang otak. 5.6. contohnya gigitan pada jari dan alat kelamin akan mempunyai masa inkubasi yang lebih cepat. melainkan tergantung dari luasnya persarafan pada tiap bagian tubuh. kedua bentuk ini dapat terjadi baik pada manusia maupun pada hewan. ginjal.paling rendah bila gigitan ditungkai dan kaki4. dan gangguan saluran napas atas serta traktus gastrointestinal. dan parestesi atau nyeri di dekat daerah gigitan. Masa inkubasi 20 sampai 90 hari setelah digigit.5. seperti kelenjar ludah. sakit kepala.6 Pada rabies dengan bentuk mengamuk titik berat gejala terlihat pada rasa ingin memberontak. Beberapa studi menyatakan bahwa masa inkubasi tidak ditentukan dari jarak saraf yang ditempuh.7 Gejala prodormal umumnya berlangsung empat sampai sepuluh hari. gigitan di tungkai. Dengan demikian virus menyerang hampir tiap organ dan jaringan didalam tubuh.7 Gejala neurologis awal dapat berupa perubahan ringan kepribadian dan kognisi. 5.gigitan di lengan. Nyeri 7 . Tingkat infeksi dari kematian paling tinggi pada gigitan daerah wajah. tangan. Gejala Klinis Masa inkubasi rabies pada beberapa kasus berlangsung sangat panjang sehingga penyakit ini digolongkan ke dalam penyakit slow virus. Gejala dari fase neurologis ini dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu mengamuk/furios (atau ensefalitik) dan paralitik (atau dumb). hiperaktif. Sesampainya di otak virus kemudian memperbanyak diri dan menyebar luas dalam semua bagian neuron.5 Gejala awal rabies menyerupai infeksi virus sistemik lain. gigitan di badan rata-rata 45 hari5. kelakuan liar. menengah pada gigitan daerah lengan dan tangan. jari kaki 60 hari. dan sebagainya5.muka dan leher 30 hari.5. Setelah memperbanyak diri dalam neuron-neuron sentral. virus kemudian ke arah perifer dalam serabut saraf eferen dan pada saraf volunter maupun saraf otonom. terutama predileksi terhadap sel-sel sistem limbik. malaise. dan berkembang biak dalam jaringan. Perbedaan masa inkubasi ini disebabkan oleh luas persarafan yang berbeda-beda pada setiap bagian tubuh.

Stadium Lamanya (% kasus) Manifestasi klinis inkubasi  < 30 hari Tidak ada (25%)  30-90 hari (50%)  90 hari-1 tahun (20%)  >1 tahun (5%) Prodromal 2-10 hari Parestesia (nyeri pada luka gigitan). 8 . hiperaktivitas. malaise. agitasi. demam. terutama mononuklear. Gejala yang sering timbul biasanya adalah gejala saraf kranial. anoreksia. Suara menjadi serak. Penderita biasa bertahan pada fase ini selama 2 minggu. Perjalanan Penderita Rabies1.5 Tabel 1.5 Pasien dengan rabies paralitik. tidak mengalami hidrofobia. dan kejang.5 Fase neurologik akut berlangsung 2-10 hari. Gejala meningeal (sakit kepala. terutama pada rabies silent.menelan dan suara serak terjadi karena spasme laring. Gejala yang patognomonik ialah hidrofobia. Bila cairan serebrospinal abnormal menunjukkan pleositosis ringan. dengan kemungkinan terjadi perburukan status mental ke dalam koma. Meningismus merupakan kelainan yang sering muncul. 5 Cairan serebrospinal tampak abnormal pada sebagian kecil penderita. aerofobia.5 Pemeriksaan neurologik pada rabies tidaklah seragam. menyerupai polineuropati inflamasi akut (Sindrom Guillain-Barre). nyeri kepala. latargi. mual dan muntah. atau kuadriparesis simetris. kekakuan leher) dapat menonjol walapun kesadarannya normal. Gejala awal bentuk iniberupa ascending paralysis. terutama kelumpuhan otot palatum dan pita suara. Refleks bervariasi dari hiperaktif sampai tidak ada dan dapat pula timbul gejala involunter.

sindroma 2-7 hari abnormalitas ADH Paralisis flaksid  Rabies paralitik/ paralytic rabies (20% kasus) Koma 0-14 hari Automatic instability. inkoordinasi. selain 9 . kejang. hipotensi. Rabies paralitik dapat salah didiagnosis dengan sindrom Guillane-Barre. hidrofobia. Diagnosis Apabila penderita punya riwayat digigit binatang. Neorulogik akut  Rabies mengamuk/ 2-7 hari Halusinasi. kesemutan pada daerah yang digigit serta hidrofobia maka diagnosis klinis rabies tidak sukar untuk dibuat. hipoksia. disfungsi saraf otonom. ansietas. aritmia dan henti jantung 3. furious rabies ( 80% tingkah laku aneh. henti nafas. aerofobia. bingung. rhabdomiolisis. tetapi trismus bukan gejala dari rabies. apnea. takut. delirium. hiperaktif. menggigit. disfungsi pituitari. poliomielitis atau ensefalomielitis pasca vaksinasi rabies. disfagia. kasus) agitasi. afasia. depresi. hipersalivasi. Pemeriksaan neurologik yang seksama dan analisis cairan serebrospinal akan membantu menyingkirkan diagnosis ini. hiperventilasi. hipotermia/ hipertermia. spasme faring. hipoventilasi. Spasme tetanus dapat membingungkan.6.

suatu nilai yang biasanya tidak dapat dicapai dengan tindakan imunisasi.8 Diagnostik laboratorium kini dapat dilakukan sebelum penderita meninggal. Rabies dapat pula didiagnostik pada penderita yang kebal terhadap rabies dan ditandaia dengan adanya kenaikan titer setelah awitan timbul dan diperkuat dengan kadar titer yang nilainya >1:5. Histologi : dapat ditemukan tanda patognomonik berupa badan Negri (badan inklusi dalam sitoplasma eosinofil) pada sel neuron. Hasil analisis gas darah yang normal tanpa perubahan tingkah laku mendukung diagnosis pseudorabies. tetapi adanya perubahan hilangnya sensori akan menyingkirkan rabies. Virus dapat ditemukan dengan uji antibodi fluoresens pada sediaan apus sel epitel kornea atau sayatan kulit dari kulit pada batas rambut. itu hidrofobia bukan merupakan gejala tetanus.000. 4. disebabkan kornea dan folikel rambut kaya akan persarafan. badan negri dan virus banyak ditemukan pada sel saraf (neuron) sedangkan kelenjar ludah dapat mengandung antigen dan virus tetapi badan negri tidak selalu dapat 10 . Pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dikerjakan: 1. Botolimus dapat pula menyebabkan paralisis. Diagnostik serologi juga mungkin dilakukan apabila penderita hidup setelah masa akut. terutama pada kasus yang divaksinasi dan pasien yang dapat bertahan hidup setelah lebih dari 2 minggu. Urinalisis : dapat ditemukan albuminuria dan sedikit leukosit. Kadar yang tinggi pada susunan saraf pusat karakteristik menunjukkan perjalanan akhir ensefalitis rabies5. Hasil uji yang positif disebabkan oleh karena adanya virus yang bermograsi kebawah daro otak ke susunan saraf. Darah rutin : dapat ditemukan peningkatan leukosit (8000 – 13000/mm) dan penurunan hemoglobin serta hematokrit. Antibodi semacam ini dapat dideteksi in-vitro secara cepat dengan menggunakan fluoresens antibodi rapid fluorescent focus-inhibition test (RFIT) atau plaque-reduction neutralization test (PRNT). 2. akan tampak kenaikan yang cepat titer virus neutralizing antibody yang akan muncul 6-10 hari setelah awitan gejala. Antigen. Pada pasien yang tidak diberikan pengobatan pencegahan setelah digigit. 3.5. Mikrobiologi : Kultur virus rabies dari air liur penderita dalam waktu 2 minggu setelah onset.

yang merupakan gold standar untuk diagnosis rabies adalah pemeriksaan dengan tehnik fluorescent antibody (FA). Gambar 4. Deteksi nukleokapsid dengan ELISA merupakan tes yang cepat dan juga dapat digunakan maupun dilakukan pada survei epidemiologi. hipotensi. Komplikasi Berbagai komplikasi dapat terjadi pada penderita rabies dan biasanya timbul pada fase koma. Reverse-Transcription Polymerase Chain Reaction (RTPCR) dalam saliva. 6. misalnya hamster.7.3. ditemukan pada kelenjar ludah anjing. sindroma abnormalitas hormon anti diuretik (SAHAD). kelaianan pada hipotalamus berupa diabetes insipidus. Namun. cortex cerbri dan cerebellum. Bila negri body tidak ditemukan. disfungsi otonomik yang menyebabkan hipertensi. Adanya kontaminasi pada specimen dapat mengganggu pemeriksaan dan khususnya untuk ”isolasi virus” pengiriman harus dilakukan sedemikian rupa sehingga kelestarian hidup virus dalam specimen tetap terjamin sampai ke laboratorium. tikus (mice) atau kelinci (rabbits). 11 . Komplikasi neurologik dapat berupa peningkatan tekanan intra-kranial. Serologi : DFA Testing and RT-PCR melaluii biopsy kulit. preparat pada gelas objek dan kelenjar ludah. badan Negri pada sel neuron 5. Bahan pemeriksaan dapat berupa seluruh kepala. otak. pada pemeriksaan laboratorium. supensi otak (hippocampus) atau kelenjar ludah sub maksiler diinokulasikan intrakranial pada hewan coba (suckling animals). dapat ditemukan monositosis sedangkan protein dan glukosa dalam batas normal.8 3. Cairan serebrospinal : Rabies Virus–Specific Antibodies dalam serum dan LCS (Rapid fluorescent focus inhibition test/RFFIT). hippocampus.

bisa menggunakan sabun/deterjen. transverse myelitis. Lalu dikeringkan dgn kain/tissue bersih dan dapat ditambahkan antiseptik betadin ataupun alkohol 70%. sedangkan hipoventilasi dan depresi pernafasan terjadi pada fase neurologik akut. Berikut ini beberapa langkah-langkah penanganan luka gigitan: Segera luka dibersihkan. poliomielitis atau ensefalitis post vaksinasi. 1. 3. khususnya bila terjadi didaerah endemis atau orang yang mengalami gigitan binatang pada daerah endemis rabies. adanya trismus. Tatalaksana Penanganan luka gigitan hewan penular rabies setiap ada kasus gigitan hewan penular rabies (anjing. 3. cairan serebrospinal biasanya normal dan tidak terdapat hidrofobia. japanese ensefalitis. dehidrasi dan gangguan otonomik1. status mental normal. Tetanus dapat dibedakan dengan rabies melalui masa inkubasinya yang pendek. Hipotensi terjadi gagal jantung kongestif.9. Pada stadium prodromal sering terjadi komplikasi hiperventilasi dan alkalosis respiratorik. Diagnosa Banding Rabies harus dipikirkan pada semua penderita dengan gejala neurologik. aritmia dan henti jantung. hipertermia/ hipotermia. herpes simpleks ensefalitis. psikiatrik atau laringofaringeal yang tak bisa dijelaskan. dibilas dgn air bersih mengalir 5-10 menit. 12 . Kejang dapat lokal maupun generalisata dan sering bersamaan dengan aritmia dan gangguan respirasi. Rabies paralitik dapat dikelirukan dengan sindroma guillain barre. Ensefalitis dapat dibedakan dengan metode pemeriksaan virus dan tidak dijumpai hidrofobia. kekakuan otot yang persisten dengan spasme.8. kera) harus ditangani dengan tepat dan sesegera mungkin. kucing.

3. genetalia. Lakukan eksplorasi pada luka. 5. Dosis dan cara pemberian sesudah digigit (Post Exposure Treatment).9%. kepala.14 dan hari ke-28 . leher).10 Dosis dengan cara pemberian Vaksin dan Serum Anti Rabies adalah sebagai berikut : 1. selain VAR juga diberi SAR. terhadap luka resiko rendah diberi VAR saja.3. 4. tetapi tidak ada luka.5 ml dalam syringe. maka diberikan VAR atau diberikan kombinasi VAR dan SAR apabila kontak dengan air liur pada luka berbahaya. 3. Indikasi pemberian vaksin Indikasi pemberian vaksin antara lain5: 13 . ekskoriasi). Yang termasuk luka yang tidak berbahaya adalah jilatan pada kulit luka. Yang termasuk luka berbahaya adalah jilatan/luka pada mukosa.7. kalau luka terlalu lebar bisa dilakukan penjahitan secara longgar dgn menggunakan benang non absorbable. Luka yg ada jangan dijahit. dan dipasang drain. Dapat dikombinasikan dgn antibiotik. badan dan kaki. luka pada jari tangan/kaki.2.1. tidak ada kontak. luka diatas daerah bahu (muka. untuk mencegah adanya infeksi kuman atau bakteri yg lain. atau dgn H 2O2 3%. Pemberian vaksin rabies. kontak tak langsung. Untuk kontak (dengan air liur atau saliva hewan tersangka/hewan rabies atau penderita rabies). Kemasan : Vaksin terdiri dari vaksin kering dalam vial dan pelarut sebanyak 0. Tidak ada pembedaan dosis untuk anak-anak dan dewasa.5 ml IM pada hari 1. luka kecil disekitar tangan. Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) disertai Serum Anti Rabies (SAR) : Bila ada indikasi pengobatan. 0. lakukan pembersihan dgn NaCl 0. garukan atau lecet (erosi. maka tidak perlu diberikan pengobatan VAR maupun SAR.9. Sedangkan apabila kontak dengan air luir pada kulit luka yang tidak berbahaya. luka yang lebar/dalam dan luka yang banyak (multipel). Dosis dan Cara Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) Purified Vero Rabies Vaccine (PVRV). Terhadap luka resiko tinggi. Cara pemberian : disuntikkan secara intra muskuler (im) di daerah deltoideus (anak– anak di daerah paha).

Indikasi pemberian vaksin No Jenis Gigitan Luka Keadaan Hewan yang Menggigit Pengobatan yang Pada Waktu Observasi Dianjurkan Menggigit selama 10 hari 1 Kontak tetapi tidak Sehat Sehat Tidak perlu ada luka diberikan Kontak tak pengobatan langsung. kaki Tersangka gila Sehat Segera berikan vaksinasi.Tabel 2. luka kecil di sekitar tangan. tidak ada kontak 2 Jilatan pada kulit Gila. badan. Sehat Rabies sehat Tidak perlu luka garukan atau vaksinasi lecet. Hentikan vaksinasi tersebut apabila ternyata hewan yang tersangka masih sehat setelah 5 hariobservasi Gila Segera diberikan vaksin secara lengkap Hewan liar Vaksin anti rabies atau hewan secara lengkap yang gila danhewan tidak dapat diobservasi 3 Jilatan pada mukosa. 14 . Mencurigakan Serum + vaksinasi.

luka parah (multiple) atau gila atau Hentikan atau luka di muka. kaki. Indikasi Pemberian VAR dan SAR Bila Tersentuh Air Liur Penderita Rabies No Kejadian Penderita pada Pengobatan yang Dianjurkan Waktu Kejadian 1 Kontak air liur Positif rabies Tak perlu diberikan vaksin anti tetapi tak ada luka rabies atau kontak langsung 2 Kontak air liur pada Positif rabies Segera diberikan vaksin. jika hewannya pengobatanjika kepala. selaput lendir dan daerah yang banyak persarafannya. ujung jari. 15 . dan kulit yang luka dan diberikan serum kalau luka di selaput lendir daerah berbahaya. jari. seperti : di atas bahu. jari tidak dapat sehat selama 5 hari tangan atau leher diobservasi Tabel 3.

cell anak:0.5m vaccine Subkutan l 2.7.7.1ml brain 1 ml setelah vaccine suntikan pertama Purifie 2 suntikan @0.7.14.2.30. Cara pemberian VAR tanpa SAR Sesudah Digigit Tipe Suntikan Dosis Cara Suntika Dosis Ulangan Cara K Vaksin Dasar Pemberian n Pemberia Ulangan n Hari ke- Sucklin 11.30 7 x suntikan Dewasa:0. g Dewasa: 15. Cara pemberian Vaksin Anti Rabies untuk pencegahan sebelum digigit No Tipe Suntikan Dosis Cara Suntikan Keterangan 16 .hari ke- Intramuskula 2 0. Tabel 3. anak:0. dan r 21dengan 6 x suntikan hari ke- 0.3. Imunisasi Pencegahan Tabel 4.2.da n 90 @0.25ml 1 mouse 2ml anak: Sub kutan dan 90 Intrakutan setiap hari .5ml Intramuskula Human r dewasa:1 diploid 3 ml.5 ml d vero sekaligus di rabies regio deltoid vaccine kanan& kiri.

Untuk luka resiko rendah diberi VAR saja. dan kaki.25 Intrakutan 1 tahun Anak:<3tahun mouse suntikan.5ml Intramuskular 1tahun Sama untuk vero suntikan semua umur rabies interval vaccine 1 bulan 3 Human 2x Dewasa:@1 1 tahun Anak < 3 tahun ½ diploid suntikan ml. Kategori 3: jilatan atau luka pada mukosa.kepala. badan. maka gunakan VAR dan SAR 17 . ml brain interval vaccine 3 minggu 2 Purified 2x @0. vaksin Dasar Pemberian Ulangan 1 Suckling 3x dewasa@0. Kategori 1: menyentuh. . luka yang lebar/dalam dan luka yang banyak (multiple)/ atau ada kontak dengan kelelawar. Kategori 2: termasuk luka yang tidak berbahaya adalah jilatan pada kulit luka. apabila anamnesis dapat dipercaya.5ml vaccine 1 bulan Rekomendasi WHO mengenai pencegahan rabies tergantung adanya kontak:3 . . garukan. luka kecil disekitar tangan. genitalia. anak@ dosis cell interval 0. atau lecet (erosi ekskoriasi).luka pada jari tangan/ kaki.leher). memberi makan hewan atau jilatan hewan pada kulit yang intak karena tidak terpapar tidak perlu profilaksis. luka diatas daerah bahu (muka.

kera dan hewan sebangsanya di daerah bebas rabies. Pencegahan Primer11 1. kucing. Tidak memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing. Gambar 5.8. Pencegahan Rabies a. 18 . 2. Penatalaksanaan penyakit rabies terlihat pada gambar berikut7.

6. Mengurangi jumlah populasi anjing liar atan anjing tak bertuan dengan jalan pembunuhan dan pencegahan perkembangbiakan. tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran. Anjing yang hendak dibawa keluar halaman harus diikat dengan rantai tidak lebih dari 2 meter dan moncongnya harus menggunakan berangus (beronsong). Mengawasi dengan ketat lalu lintas anjing. kucing yang telah divaksinasi. 11. Anjing peliharaan. maka harus diambil spesimen untuk dikirimkan ke laboratorium terdekat untuk diagnosa. harus didaftarkan ke Kantor Kepala Desa/Kelurahan atau Petugas Dinas Peternakan setempat. kera atau hewan sebangsanya yang masuk tanpa izin ke daerah bebas rabies. 9. b. kucing. kucing. Setelah itu pergi secepatnya ke Puskesmas atau Dokter yang terdekat untuk mendapatkan pengobatan11 19 . 5. 8. Pencegahan Sekunder Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko tertularnya rabies adalah mencuci luka gigitan dengan sabun atau dengan deterjen selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. kera dan hewan sebangsanya yang bertempat sehalaman dengan hewan tersangka rabies. 4. 10. Menangkap dan melaksanakan observasi hewan tersangka menderita rabies. 3. anjing. Anjing harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih dari 2 meter. 70% populasi yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus. 7. selama 10 sampai 14 hari. 2. Pemberian tanda bukti atau pening terhadap setiap kera. Memusnahkan anjing. kucing dan kera. terhadap hewan yang mati selama observasi atau yang dibunuh. Melaksanakan vaksinasi terhadap setiap anjing. Membakar dan menanam bangkai hewan yang mati karena rabies sekurang- kurangnya 1 meter. Kemudian luka diberi alkohol 70% atau Yodium tincture. Dilarang melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies kedaerah- daerah bebas rabies.

10.5.sementara sambil menunggu hasil dari rumah observasi hewan. Dari tahun 1857 sampai tahun 1972 dari kepustakaan dilaporkan 10 pasien sembuh dari rabies namun sejak tahun 1972 hingga sekrang belum ada pasien rabies yang dilaporkan hidup. Apabila hewan yang dimaksud ternyata menderita rabies berdasarkan pemeriksaan klinis atau laboratorium dari Dinas Perternakan. setiap orang digigit oleh hewan tersangka rabies atau digigit oleh anjing di daerah endemic rabies harus sedini mungkin mendapat pertolongan setelah terjadinya gigitan sampai dapat dibuktikan bahwa tidak benar adanya infeksi rabies. Prognosis Kematian oleh infeksi virus rabies boleh dikatakan 100% bila virus sudah mencapai sistem saraf. 20 . Resiko yang dihadapi oleh orang yang mengidap rabies sangat besar. kondisi. c.7. Oleh karena itu.11 3. atau gangguan sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatan intensif yang mencakup pembatasan terhadap ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi. Pencegahan Tersier Tujuan dari tiga tahapan pencegahan adalah membatasi atau menghalangi perkembangan ketidakmampuan. maka orang yang digigit atau dijilat tersebut harus segera mendapatkan pengobatan khusus (Pasteur Treatment) di Unit Kesehatan yang mempunyai fasilitas pengobatan Anti Rabies dengan lengkap. Prognosis rabies selalu fatal karena sekali gejal rabies telah tampak hampir selalu kematian terjadi pada 2-3 hari sesudahnya sebagai akibat gagal napas/ henti jantung ataupun paralisis generalisata.

Keluarga langsung membantu dengan memukul anjing yang lalu kabur dan tidak diketahui nasibnya.5 tahun.5 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Suku Bangsa : Indonesia Alamat : Seorang pasien perempuan berumur 4. BAB III LAPORAN KASUS Identitas : Nama :R No. sakit kepala. mual dan muntah pada pasien disangkal. Keluarga tidak melihat detail ciri-ciri anjing yang menggigit pasien. dengan berat badan 18 kg. Keluarga melihat bahwa anjing langsung datang dan pasien sebelumnya sama sekali tidak mengganggu anjing tersebut. datang ke IGD RSUD Solok pada tanggal 9 Juni 2016. Pasien Segera dibawa ke Rumah Sakit. Riwayat penyakit dahulu : Riwayat digigit anjing sebelumnya tidak ada Pasien belum pernah mendapatkan VAR (Vaksin Anti Rabies) sebelumnya 21 . Pasien sedang bermain-main dihalaman rumahnya ketika tiba-tiba datang anjing liar langsung menggigit betis sebalah kanan pasien. Gejala demam. MR : Umur : 4. Anamnesa Keluhan utama ( alloanamnesis ibu pasien ) Di gigit anjing di betis kaki kanan sejak 30 menit sebelum datang ke Rumah Sakit Riwayat penyakit sekarang : Setengah jam sebelum datang ke Rumah Sakit pasien digigit anjing di betis kaki kanannya.

Pasien langsung menangis. Riwayat Tumbuh Kembang 22 . Keluarga pasien mengaku dilingkungan tempat tingggalnya sering melihat anjingnya berkeliaran. Riwayat Nutrisi Pasien mendapat ASI eksklusif selama ± 6 bulan. Merokok dan minum alkohol saat kehamilan disangkal. tidak ada warga dilingkungan tempat tinggal pasien yang memelihara anjing. Riwayat kehamilan Pasien merupakan anak ke dua dari dua bersaudara. berat badan dan panajang badan ibu pasien tidak ingat. Pasien lahir dengan persalinan normal. Tidak ada keluhan atau sakit selama kehamilan. Pasien lahir cukup bulan. Pasien minum susu juga tidak rutin hanya jika pasien mau terkadang ± 3 kali/ minggu.sayur dan lauk. Ibu pasien juga tidak mengkonsumsi obat0obatan maupun jamu. Riwayat Kelahiran Pasien lahir di bidan. namun keluarga tidak mengetahui apakah ada tetangga di sekitar rumah yang pernah digigit anjing atau tidak. Sepengetahuan keluarga. nenek dan satu kakak pasien. Sehari-hari pasien makan 3 kali/hari dengan selingan buah tidak rutin terkadang 2 kali/minggu. Makanan pasien sehari-hari adalah nasi . 1 porsi makanan adalah 1 piring kecil. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat serupa ( digigit anjing) dalam keluarga disangkal Riwayat Lingkungan Pasien tinggal bersama kedua orangtuanya. Ibu pasien rajin memriksakan kehamilannya ke bidan sebulan sekali. tidak biru atau kuning. Pasien mulai diberikan makanan lunak pada usia 6 bulan.

rhonki -/. tidak terdapat penggunaan otot bantu nafas Palpasi : taktil fremitus sama kiri dan kanan Perkusi : sonor/sonor Auskultasi : vesikuler. tidak ikterik 23 . Pemeriksaan fisik Keadaan umum : tampak sakit sedang Kesadaran : compos mentis Tekanan darah : 90/60 mmHg Nadi : 90 x/menit.Pasien tumbuh normal selayaknya anak seumurannya. bising tidak ada Abdomen Inspeksi : datar. adekuat pada ke empat ekstremitas Nafas : 24 x/menit Suhu : 36.. Pasien imunisasi di Puskesmas. sklera ikterik -/- Telinga: dalam batas normal Hidung : dalam batas normal Mulut : bibir dan mukosa lembab Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening Thorak Paru Inspeksi : simetris kiri dan kanan . Riwayat Imunisasi Berdasarkan keterangan ibu pasien. teratur. konjungtiva anemis -/-. distensi (-). imunisasi dasar pasien lengkap. thril tidak ada Perkusi : batas jantung dalam batas normal Auskultasi : reguler.5oC BB : 18 kg TB : 106 cm bb ideal : 17 kg Status gizi : 18/17 x 100= 106 % ( gizi baik) Kebutuhan kalori = 1400 kkal/ hari Kepala Ukuran : normocephal Mata : pupil isokor. wheezing -/- Jantung Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat Palpasi : iktus kordis teraba di sejajar linea mid clavikularis sinistra RIC V.

lakukan pembersihan dgn NaCl 0.7. nyeri tekan (+). b. d. 0. dan dipasang drain.9%. reflek fisiologis ++/++ . untuk mencegah adanya infeksi kuman atau bakteri yg lain. Perdarahan (+). dasar jaringan. dibilas dgn air bersih mengalir 5-10 menit.14 dan hari ke-28 . reflek fisiologi ++/++ . Pemberian vaksin rabies. eksplorasi pada luka.3. lien tidak teraba. c. pus (-) Pemeriksaan penunjang Tidak diperiksa pemeriksaan penunjang Diagnosa kerja Vulnus laseratum regio tibia posterior dextra Penatalaksanaan a. reflek patologis --/-- Genitalia : tidak terdapat kelainan Status Lokalis Pada regio betis kaki kanan terdapat vulnus laseratum berjumlah dua. Segera luka dibersihkan. nyeri tekan pada epigastrium (-) Perkusi : timpani Auskultasi : bising usus ada 4 x/menit Ekstremitas Atas : akral hangat . reflek patologis --/-- Bawah : akral hangat. eritema (+). edema (+). menggunakan sabun/deterjen.5 ml IM pada hari 1. e. masing-masing berukuran 3 x ½ x ½ cm dan 2x ½ x ½ cm. dikombinasikan dgn antibiotik. Lalu dikeringkan dgn kain/tissue bersih dan dapat ditambahkan antiseptik betadin ataupun alkohol 70%.Palpasi : hepar tidak teraba. 24 . atau dgn H 2O2 3%. tidak tampak edema. Lakukan penjahitan secara longgar dgn menggunakan benang non absorbable.

dkk. dan gangguan saluran napas atas serta traktus gastrointestinal. DAFTAR PUSTAKA 1. Sudoyo . Aru. Penatalaksanaan awal apabila digigit oleh hewan yang terinfeksi rabies adalah pembersihan luka dari ludah yang mengandung virus rabies. Jakarta: Interna Phublishing. malaise. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam” Edisi 5 jilid 3. meliputi demam. 2. “Rabies. 3. sakit kepala. BAB IV KESIMPULAN 1.W. 2009. Gejala neurologis awal dapat berupa perubahan ringan kepribadian dan kognisi. Gejala awal rabies menyerupai infeksi virus sistemik lain. Rabies adalah penyakit menular yang akut dari susunan syaraf pusat yang dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia yang disebabkan oleh virus rabies yang sebagian besar terdapat pada anjing yang sudah terkena rabies. dan parestesi atau nyeri di dekat daerah gigitan. 2924-2930 25 . h.

. “Penyakit Rabies Dan Penatalaksanaannya”. h.id/index. Dian Rakyat.id/downloads/Petunjuk%20Rabies.. Waldo E. 7. Depkes RI.html 4. Nelson Ilmu Kesehatan Anak” Edisi 15 Jilid 2. bagian mikrobiologi universitas katolik indonesia atma jaya.usu. Priguna Sidharta.depkes. 213-224. 21(1) : 43-47.pdf. 9.id/index. 2000. 2005. Diunduh dari: www. 2000.id. Anatomi Sistem Saraf. 11. 1145-1148. Rabies Penyakit Mematikan.repository. Identifikasi Virus Rabies Diadaptasi pada Kultur Sel Neuroblastoma dengan Indirect Sandwich – ELISA dan direct- FAT. Suwarno. Diunduh dari: www. Petunjuk Pemberantasan Rabies di Indonesia. 2009. 2009. 2008.pdf 5. Nelson. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Media Kedokteran Hewan. Mahar Mardjono. Diunduh dari: www. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis Edisi 2. Depkes RI. 2005 8. h. Bag Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Rabies.. kunadi tanzil. Petunjuk Perencanaan dan Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Tersangka/Rabies di Indonesia. “Rabies. Repository usu. “Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak” Edisi ke 3. 3. 10. Journal.ac./chapter II-27.go. Neurologi Klinis Dasar.depkes. RS Dr. Gradana.. Jakarta.go. Jakarta: EGC. Volume 1 Nomor 1 Mei 2014 26 . Herry. 6. Depkes RI. Diunduh dari: www.depkes. hasan Sadikin Bandung: Bagian Ilmu kesehatan Anak Universitas Padjajaran . 2000.2.go./405-rabies-penyakit-mematikan. 2002.