You are on page 1of 19

demam dengue DHF

:
No. Dukumen /SOP.UGD/

SOP No. Revisi
VII/2017
:
Tanggal Terbit :
Halaman :
UPT PUSKESMAS EDI GUNAWAN, SKM
KASUI NIP 09690603 1993021001
1. Pengertian Demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang di
tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegepty dan Aedes
albopictus yang sebelumnya telah terinfeksi oleh virus
Dengeu dari penderita DBD lainnya terutama menyerang
anak-anak, ditandai dengan panas tinggi, perdarahan dan
dapat menimbulkan kematian. Penyakit ini termasuk salah
satu penyakit yang dapat menimbulkan wabah
2. Tujuan 1. Menurunkan angka insidens kasus DBD sebesar 1/100.000
penduduk di daerah endemis.
2. Tercapainya angka bebas jentik ( ABJ ) > 95 %.
3. Tercapai nya angka kematian DBD / CFR < 1 %.
4. Daerah KLB DBD < 5 %.

3. Kebijakan 1. sk kepala puskesmas no. tentang klinis di puskesmas
kasui

4. Refrensi Keputusan mentri kesehatan republik indonesia
02.02/menkes/514/2015 praktis bagi dokter di fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama
5. Prosedur 1.POTOFISIOLOGI
F Virus dengue masuk dalam tubuh melalui gigitan nyamuk
aides dan infeksi pertama kali mungkin memberi gejala
sebagai dengue fever (df) .reaksi tubuh tubuh merupakan
reaksi yang biasa di lihat sebagai reaksi viremia seperti
deman, nyeri otot dan sendi ,sakit kepala, dengan /tanpa rash
dan linfa denopati.
Jh
TtTANDA DAN GEJALA
111. Demam
D demam terjadi secara mndadak berlangsung selama 2-7
hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah.
bersamaan dengan berlangsungnya demam, gejala gejala

PCV/ Hm = L: 35-48 % P: 34-35 % Trombosit menurun £ 100. nyeri tulang dan persendian.000/mm 3 Leucopenia.petekia dan purpura. 1. lingkungan .pendarahan ringan dan sedang.Perdarahan N perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 dan ke 3 dari demam danm pada umumnya terjadi pada kulit merupa uji torniguit yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena. meskioun pada anak yanh kurang gizi.pengendalian nyakmuk tersebut dapat di lakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat yaitu. Nilai normal : L : 150. 444. jari kaki serta sianosis sekitar mulut. Renjatan (syok) permulaan syok biasanya terjadi pada hari ketiga sejak sakit penderita yaitu tandanya gegagalan sitkulasi yaitu kulit lembab.14 detik pencegahan pencegahan penyakit dbd sangat terngantung pada pengendalian vektornya.000- 430. yaitu nyamuk aedes aegypti.000/mm3 . 10 . dingin pada ujung hidung.Hematokrit/PCV Menimgkat sama atau lebih10% Normal: pcv/HM=3X HB Nilai normal : -HB =L: 12.000- 400. nilai normal .nyeri punggung.0-16. P : 150.0-15. P:11. 333.5 g/dl .nyeri kepala dan rsa lemah 222.8G/DL. PEMERIKSAAN PENUJANG HB. klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia.terlihat pada saluran cerna bagian atas. jari tangan. kadang kadang leucositosis ringan.Hepatomegali Pada permulaan dari demam biasamya hati sidah teraba.000/mm3 .

palpasi adalah jenis pemeriksaan fisik dengan meraba klien. Grade 1 : Kesadaran kompos mentes. biologis menggunakan ikan pemakan jentik. PERIKSAAN FISIK PADA ANAK DHF Keadaan Umum: 1. ugd 4. poli umum . -pemgasapan atau ponging -pemberian bubuk abate PEMERIKSAAN FISIK Insfeksi adalah pengamatan secara seksama terhadap setatus kesehatan klien . 2. 7. Auskultasi adalah dengan cara mendengan menggunakan stetoskop. tanda-tanda vital dan nadi lemah. 3. apotik 3. pendaftaran 2. keadaan umum lemah. Unit Terkait 1. kimiawi. Grade : Keadaan 6. -pemberantasan sarang nyamuk -pengolahan sampa padat 2. perkusi adalah pemeriksaan fisik dengan jalan mengetuk jari tengah ke jari tengah untuk mengetahui normal atau tidaknya organ tubuh. 1.

dsb . SKM KASUI NIP 09690603 1993021001 1. Demam Tifoid : No. hepatosplenomegali. Bradikardia relatif 2. Dukumen /SOP. Lidah kotor.Tujuan Sebagai acuan tatalaksana penderita tifoid .UGD/ SOP No.Pengertian Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi. Kriteria Diagnosis Demam tinggi lebih dari 7 hari disertai sakit kepala . Revisi VII/2017 : Tanggal Terbit : Halaman : UPT PUSKESMAS EDI GUNAWAN. Kesadaran menurun .

diet lunak. Broncho pnemonia Pemeriksaan Penunjang . Toksis . Malaria . Infeksi karena virus + (Dengue influenza) .hk 02. Widal Terapi 1. 5. Prosedur Diagnosis Diferensial . Hb. pemberian cairan infuse RL / D 5% Penyulit : . Kebijakan Sk kepala puskesmas no.3. Refrensi Keputusan mentri kesehatan republik indonesia no. Leko. Tentang pelayanan klinis di puskesmas kasui 4. Urine lengkap .02/menkes/514/2015 tentang panduan praktis klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. chloramphenicol 2 gr/hr atau kotrimoksasol 2 x 2 tab diberikan sampai 7 hari bebas napas atau Quinolon 2. Pemeriksaan lab . Tirah baring. Ht . Diagram Alir . Diff. Perforasi usus mengakibatkan peritonitis . Perdarahan dari usus 6. Trombist.

Pada umumnya terjadi selama masa bayi dan anak-anak dan sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum serta riwayat atopi pada keluarga atau penderita.UGD/ SOP No.7. Dukumen /SOP. Revisi VII/2017 : Tanggal Terbit : Halaman : UPT PUSKESMAS EDI GUNAWAN.poli umum dermatitis numularis : No.pendataran 2. Pengertian Dermatitis Atopik (DA) adalah peradangan kulit berulang dan kronis dengan disertai gatal. Unit Terkait 1. SKM KASUI NIP 09690603 1993021001 1. .apotik 3.ugd 4.

hk 02. menjaga kebersihan di daerah popok. ketat. Menghindari stress psikis 8. farmakoterapi diberikan dengan: 1. Tujuan Tujuan dimaksudkan Prosedur ini dibuat untuk dokter dapat melakukan konseling dan edukasi kepada pasien dan keluarga dan memberikan terapi dengan baik. kotor 9. Menghindari pembersih yang mengandung antibakteri karena menginduksi resistensi b. yaitu: a. Topikal (2x sehari)  Pada lesi di kulit kepala. Untuk mengatasi keluhan.Kebijakan Sk kepala puskesmas n0.02/menkes/514/2015 . diberikan kortikosteroid topikal.i. Prosedur a. Membilas badan segera setelah selesai berenang untuk menghindari kontak klorin yang terlalu lama 7.2. Menghindari bahan pakaian terlalu tebal. tentang panduan praktis klinis bagi dokter di fasilitasi pelayanan kesehatan tingkat pertama 5. Tentang pelayanan klinis di puskesmas kasui 4. iritasi oleh kencing atau feses. dan hindari pemakaian bahan-bahan medicatedbaby oil 10.1. Menghindari pemakaian bahan kimia tambahan 6. 3. seperti: . Memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab 4. Refrensi Keputusan metri kesehatan republik indonesia no. Menemukan faktor risiko 2. Menghindari bahan-bahan yang bersifat iritan termasuk pakaian sepert wol atau bahan sintetik 3. Penatalaksanaan dilakukan dengan modifikasi gaya hidup. Pada bayi. Menjaga kebersihan bahan pakaian 5.

. KONSELING DAN EDUKASI a. Menekankan kepada seluruh anggota keluarga bahwa modifikasi gaya hidup tidak hanya berlaku pada pasien. b.1% atau mometason furoat krim 0.  Pada kasus infeksi sekunder.a.  Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi.1%). misalnya skin prick test/tes uji tusuk pada kasus dewasa. juga harus menjadi kebiasaan keluarga secara keseluruhan. atau  Loratadine 1x10 mg/ hari atau antihistamin non sedatif lainnya selama maksimal 2 minggu PEMERIKSAAN PENUNJANG LANJUTAN (BILA DIPERLUKAN) Pemeriksaan untuk menegakkan atopi. Memberikan informasi kepada keluarga bahwa prinsip pengobatan adalah menghindari gatal.1. dan menjaga hidrasi kulit.b. Penyakit bersifat kronis dan berulang sehingga perlu diberi pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk menghindari faktor risiko dan melakukan perawatan kulit secara benar.i.Desonid krim 0.1. a. Oral sistemik  Antihistamin sedatif yaitu: hidroksisin (2 x 1 tablet) selama maksimal 2 minggu. menekan proses peradangan.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonidkrim 0. dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0.i. perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.025%) selama maksimal 2 minggu.

apotik 3. Unit Terkait 1. Bila terdapat efek samping. Bila diperlukan skin prick test/tes uji tusuk d. Pemantauan efek samping kortikosteroid. c.poli umum calaneus larva migran . b. Dermatitis atopik luas. sepanjang waktu. KRITERIA RUJUKAN a. Diagram Alir 7. kortikosteroid dihentikan. Bila gejala tidak membaik dengan pengobatan standar selama 4 minggu e. Dermatitis atopik rekalsitran atau dependent steroid c. TINDAK LANJUT a.a.pendaftaran 2.i. Diperlukan pengobatan pemeliharaan setelah fase akut teratasi. Pengobatan pemeliharaan dengan kortikosteroid topikal jangka panjang (1 kali sehari) dan penggunaan krim pelembab 2 x sehari. Pengobatan pemeliharaan dapat diberikan selama maksimal 4 minggu. dan berat b.ugd 4. Bila kelainan rekalsitran atau meluas sampai eritroderma 6.1.

fenol. LANGKAH – LANGKAH PENCEGAHAN . Prosedur PENATALAKSANAAN Modalitas topikal seperti spray etilklorida.hk 02. telah dilakukan de-worming atau pemberantasan cacing pada anjing dan kucing. : No. Kebijakan Sk kepala puskesmas no. Larva cacing umumnya menginfeksi tubuh melalui kulit kaki yang tidak terlindungi. dan menghindari kontak langsung bagian tubuh manapun dengan tanah 6. Refrensi Keputusan mentri kesehatan republik indonesia no. dan terbukti mengurangi secara signifikan insiden penyakit ini5 . Awalnya ditemukan pada daerah – daerah tropikal dan subtropikal beriklim hangat.UGD/ SOP No. dietiklcarbamazine dan antimony jugatidak berhasil. Diagram Alir . Revisi VII/2017 : Tanggal Terbit : Halaman : UPT PUSKESMAS EDI GUNAWAN. Dukumen /SOP. SKM KASUI NIP 09690603 1993021001 1. nitrogen cair. Terapi pilihan saat ini adalah dengan preparat antihelmintes baik topikal maupun sistemik2. piperazine citrate. 2. karena larva sering tidak lolos atau tidak mati. Di Amerika serikat.02/menkes/514/2015 tentang panduan prektis klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama 5. karena itu penting sekali memakai alas kaki. dan elektrokauter umumnya tidak berhasil sempurna. Tentang pelayanan klinis di puskesmas kasui 4. penyakit ini tidak lagi dikhususkan pada daerah – daerah tersebut2. saat ini karena kemudahan transportasi keseluruh bagian dunia. Demikian pula kemoterapi dengan klorokuin. CO2 snow. Pengertian Cutaneus Larva Migran (CLM) adalah penyakit infeksi kulit parasit yang sudah dikenal sejak tahun 18741. Tujuan 3.

pendaftaran 2.ugd 4.apotik 3. Unit Terkait 1.poli umum .7.

misalnya hidroksisilin HCl. 6. Bila kulit kering.hk 02. glukokortikoid. Secara topikal lesi dapat diobati dengan obat antiinflamasi. diberi pelembab atau emolien. Revisi VII/2017 : Tanggal Terbit : Halaman : UPT PUSKESMAS EDI GUNAWAN. papul. Unit Terkait 1.poli umum . skuama. Prosedur Sedapat-dapatnya mencari penyebab atau faktor yang memprovokasi. Dukumen /SOP.UGD/ SOP No. yang menimbulkan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema. sebaiknya dikompres dahulu misalnya dengan larutan permanganas kalikus 1:10. takrolimus. Tentang pelayanan klinis di puskesmas kasui 4. dalam jangka pendek. misalnya preparat ter. Refrensi Keputusan mentri kesehatan republik indonesia no.ugd 4. Kortikosteroid sistemik hanya diberikan pada kasus yang berat dan refrakter.000. Tujuan 3. vesikel.apotik 3. dermatitis numularis : No. SKM KASUI NIP 09690603 1993021001 1. diberikan antibiotik secara sistemik.pendaftaran 2. atau pimekrolimus. Bila lesi masih eksudatif. Kalau ditemukan infeksi bakterial. Kebijakan Sk kepala puskesmas no. Pengertian Dermatitis merupakan peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen. 2. edema. Pruritus dapat diobati dengan antihistamin golongan H1. Diagram Alir 7. likenifikasi) dan keluhan gatal yang cenderung residif dan menjadi kronis.02/menkes/514/2015 tentang panduan praktis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama 5.

Pengertian Dermatitis Atopik (DA) adalah peradangan kulit berulang dan kronis dengan disertai gatal. SKM KASUI NIP 09690603 1993021001 1. 3.02/menkes/514/2015 tentang panduan praktis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama 5. Memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab 4. Revisi VII/2017 : Tanggal Terbit : Halaman : UPT PUSKESMAS EDI GUNAWAN. Dukumen /SOP. Menemukan faktor risiko 2. Prosedur . Kebijakan Sk kepala puskesmas no. Penatalaksanaan dilakukan dengan modifikasi gaya hidup.i. tentang klinis di puskesmas kasui 4. 2. Pada umumnya terjadi selama masa bayi dan anak-anak dan sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum serta riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Tujuan Tujuan Prosedur ini dibuat dimaksudkan untuk dokter dapat melakukan konseling dan edukasi kepada pasien dan keluarga dan memberikan terapi dengan baik. Menghindari bahan-bahan yang bersifat iritan termasuk pakaian sepert wol atau bahan sintetik 3. dermatitis atopik kecuali recalitan : No.1. Refrensi Keputusan mentri kesehatan republik indonesia 02.UGD/ SOP No. yaitu: a. Menjaga kebersihan bahan pakaian .

Unit Terkait 1.pendaftaran 2. Diagram Alir 7. Menghindari pembersih yang mengandung antibakteri karena menginduksi resistensi b. Untuk mengatasi keluhan.  Pada kasus infeksi sekunder. dan hindari pemakaian bahan-bahan medicatedbaby oil 10. Menghindari pemakaian bahan kimia tambahan 6. Topikal (2x sehari)  Pada lesi di kulit kepala. Pada bayi. farmakoterapi diberikan dengan: 1. kotor 9. atau  Loratadine 1x10 mg/ hari atau antihistamin non sedatif lainnya selama maksimal 2 minggu 6.1% atau mometason furoat krim 0. seperti: Desonid krim 0. ketat. 5. Menghindari bahan pakaian terlalu tebal. Oral sistemik  Antihistamin sedatif yaitu: hidroksisin (2 x 1 tablet) selama maksimal 2 minggu.025%) selama maksimal 2 minggu.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonidkrim 0.1%). iritasi oleh kencing atau feses.apotik . dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0. perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.  Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi. Membilas badan segera setelah selesai berenang untuk menghindari kontak klorin yang terlalu lama 7. Menghindari stress psikis 8. diberikan kortikosteroid topikal. menjaga kebersihan di daerah popok.

Revisi VII/2017 : Tanggal Terbit : Halaman : UPT PUSKESMAS EDI GUNAWAN. Prosedur Tanda patognomosis 1.menentukan penatalaksanaan komprehensif [plan] 3. 3. 2.poli umum Dermatitis seboroik : No.ugd 4. Dukumen /SOP. Pengertian Dermatitis seboroik [ds] merupakan istilah yang di gunakan untuk segolongan kelain kulit yang di dasari oleh faktor konstusi [predileksi di tempat-tempat kelenjar sebum].mencegah komplikasi 4. Diagnosis banding .papul sampai plak eritema 2. tentang pelayanan klinis di puskesmas kasui 4.Kebijakan sk kepala puskesmas no.Tujuan 1. SKM KASUI NIP 09690603 1993021001 1.menentukan kriteria rujukan 3. penegakan diagnosis [assessment] 2. dermatitis seboroik berhungan erat dengan keaktifan glandula sebasea.skuama berminyak agak kekuningan 3.UGD/ SOP No.02/menkes/514/2015 tentang panduan praktis klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama 5. Refrensi Keputusan mentri kesehatan republik indonesia no.hk 02.berbatas tidak tegas Diagnosis klinis Diagnosis di tegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisisk.

. di berikan shampo ketokonazol 2%. kandidosis [pada lipat paha dan perineal.eritema bewarna merah cerah berbatas tegas dengan lesi satelit disekitarnya].pada lesi di badan diberikan kortikosteroit topikal . lesi bisa meluas menjadi penyakit leiner atau eritroderma. Dewasa. tanda auspitz. . ugd 4. loratadin 1 x 10 mg selama maksimal 2 minggu Kriteria rujukan. a. 2.pada lesi di kulit kepala bayi diberikan asam salisilat 3% dalam minyak kelapa atau vehikulum yang larut air atau kompres minyak kelapa hangat 1 kali sahari selama beberapa hari. dilanjutkan dengan krim hidrokortison 1% atau lotion selama beberapa hari. atau pemakaian preparat [ liquor carbonis detergent] 2-5 % kali seminggu selama 2-3 kali seminggu selama 5-15 menit per hari. Komplikasi Pada anak. misalnya stres emosional dan kurang tidur . pasien diminta untuk memperhatikan faktor predisposisi terjadinya keluhan. otitis eksterna. a. topikal bayi. 6. klorfeniramin melaet 3 x 4 mg per hari selama 2 minggu.05 % [catatan . desonid krim 0.025%] selama maksimal 2 minggu. Prosiasis [skuamanya berlapis-lapis. . Penatalaksanaan komprehensif [plan] Penatalaksanaan 1. pendaftaran 2. Pasien dirujuk apabila tidak ada perbaikan dengan pengobatan standar. bila tidak tersedia dapat di gunakan fluosinolon asetonid krim 0. . skuama tebal. otomikosis.seperti mika].diet juga di sarankan untuk mengkonsumsi makanan rendah lemak. zink pirition [shampo anti ketombe]. . antihistamin non sedatif yaitu. Oral sistemik.poli umum . Unit Terkait 1. antihistamin sedatif yaitu. . pada lesi di kulit kepala. Diagram Alir 7. apotik 3. farmakoterapi dilakukan dengan.

menentukan penatalaksaan konprehensif [plan] 3. deterjen. misalnya bahan pelarut.02/menkes/514/2015 tentang panduan praktis klinis bagi dokter di . minyak pelumas. alkali. Pengertian Dermatitis kontak iritan [dki] adalah reaksi peradangan kulit non imunologik. hk 02. tentang pelayanan klinis di puskesmas kasui. 4. dki dapat dialami oleh semua orang tanpa memandang usia. Tujuan 1.menentukan kriteria rujukan 3. Dukumen /SOP. jenis kelamin. 2. penegakan diagnosis [assessment] 2. Kebijakan Sk kepala puskesmas no. Refrensi Keputusan mentri kesehatan republik indonesia no. penyebab munculnya dermatitis jenis ini adalah bahan yang bersifat iritan. dan serbuk kayu yang biasanya berhungan dengan pekerjaan. Dermatitis kontak iritan : No. kerusakan kulit terjadi secara langsung tanpa didahului oleh proses sensitisasi. Revisi VII/2017 : Tanggal Terbit : Halaman : UPT PUSKESMAS EDI GUNAWAN.UGD/ SOP No. SKM KASUI NIP 09690603 1993021001 1.mencegah komplikasi 4. dan ras.

tergantung pada kondisi akut kronis. Unit Terkait 1.orang yang terpajan oleh bahan iritan. Diagram Alir 7. tergantung pada sifat iritan. kadang . selengkapnya dapat dilihat pada bagian klasifikasi. dan terbakar. pasien bekerja sebangai tukang cuci.montir. penata rambut 4.sedangkan iritan lemah memberikan gejala kronis.kadang di ikuti oleh rasa pedih. ditemukan pada orang . Faktor predisposisi Pekerjaan atau paparan seseorang terhadap suatu yang bersifat iritan . poli umum . gejala yang umum dikeluhkan adalah perasaan gatal dan timbulnya bercak kemerahan pada daerah yang terkena kontak bahan iritan. riwayat kontak dengan bahan irtan pada waktu tertentu 3. 2. Pemeriksaan penunjang Tidak di perlukan 6. kuli bangunan. juru masak . fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Faktor resiko 1. 5. riwayat dermatitis atopik Pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana [objective] Pemeriksasan fisik Tanda patognomonis Tanda yang dapat diobservasi sama seperti dermatitis pada umumnya. Prosedur Hasial anamnesis [subjektif] Keluhan Keluhan di kulit dapat beragam. pendaftaran 2. panas. apotik 3. iritan kuat memberikan gejala akut. ugd 4.

Kebijakan 11. Diagram Alir 14. Unit Terkait . Pengertian 9. Dukumen : SOP No. Prosedur 13. Tujuan 10. Refrensi 12. SKM KASUI NIP 09690603 1993021001 8. No. Revisi : : Tanggal Terbit Halaman : UPT PUSKESMAS TTD Kepala Puskesmas EDI GUNAWAN.