BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Definisi

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu

tubuh (suhu rektal lebih dari 38°C) yang disebabkan oleh suatu proses

ekstrakarnium (Soetomenggolo, 1999). Kejang demam terjadi pada 2-4% anak

berumur 6 bulan - 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam

dan bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila

anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang

didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi

yang kebetulan terjadi bersama demam (Pusponegoro et.al, 2006).

1.2 Klasifikasi

Kejang demam dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu (Pusponegoro et.al,

2006):

1. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)

Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan

umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau

klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam.

Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang

demam.

2. Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)

Kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini:

- Kejang lama > 15 menit.

- Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang

parsial.

- Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

1.3 Epidemiologi

Berdasarkan studi populasi, angka kejadian kejang demam di Amerika

Serikat dan Eropa 2–7%, sedangkan di Jepang 9–10%. Dua puluh satu persen

kejang demam durasinya kurang dari 1 jam, 57% terjadi antara 1-24 jam

berlangsungnya demam, dan 22% lebih dari 24 jam. Sekitar 30% pasien akan

mengalami kejang demam berulang dan kemudian meningkat menjadi 50% jika

kejang pertama terjadi usia kurang dari 1 tahun. Sejumlah 9–35% kejang demam

pertama kali adalah kompleks, 25% kejang demam kompleks tersebut

berkembang ke arah epilepsi (Arief, 2015).

1.4 Patofisiologi

Peningkatan temperatur dalam otak berpengaruh terhadap perubahan letupan

aktivitas neuronal. Perubahan temperatur tersebut menghasilkan sitokin yang

merupakan pirogen endogen, jumlah sitokin akan meningkat seiring kejadian

demam dan respons inflamasi akut. Respons terhadap demam biasanya

Kejang berulang dalam 24 jam . dihubungkan dengan interleukin-1 (IL-1) yang merupakan pirogen endogen atau lipopolisakarida (LPS) dinding bakteri gram negatif sebagai pirogen eksogen. sehingga terjadi kenaikan suhu tubuh. berupa serangan kejang klonik atau tonik klonik bilateral. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama. Setelah kejang berhenti. 1. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis menetap. Pirogen endogen. yakni interleukin 1ß. dan prostaglandin E2 (PGE2). interleukin-1 receptor antagonist (IL-1). akan meningkatkan eksitabilitas neuronal (glutamatergic) dan menghambat GABA- ergic. Reaksi sitokin ini mungkin melalui sel endotelial circumventricular akan menstimulus enzim cyclooxygenase-2 (COX-2) yang akan mengkatalis konversi asam arakidonat menjadi PGE2 yang kemudian menstimulus pusat termoregulasi di hipotalamus. LPS menstimulus makrofag yang akan memproduksi pro. Demam juga akan meningkatkan sintesis sitokin di hipokampus. Seringkali kejang berhenti sendiri. peningkatan eksitabilitas neuronal ini yang menimbulkan kejang (Arief. 2015). tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. IL-6.dan anti-inflamasi sitokin tumor necrosis factor-alpha (TNF-α). anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak.5 Manifestasi Klinis Umumnya kejang demam berlangsung singkat. Kejang dapat diikuti oleh hemiparesis sementara yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari.

Pungsi Lumbal Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. 2015). elektrolit.7%. atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. pucat dan sianosis sehingga menyerupai kejang demam (Soetomenggolo. 1999). 1. menggigil. Oleh karena itu. 1999). pungsi . dan sukar dibedakan dengan kejang demam. Pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan darah perifer. sering sulit menegakkan atau menyingkirkan diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Sinkop juga dapat diprovokasi oleh demam. 1.6 Diagnosis Infeksi susunan saraf pusat dapat disingkirkan dengan pemeriksaan pemeriksaan klinis dan cairan serebrospinal. dapat untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam.7 Pemeriksaan Penunjang a. ditemukan pada 16% pasien (Soetomenggolo. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium tidak rutin pada kejang demam. Kejang demam yang berlangsung lama kadang . Pada bayi.6–6.kadang diikuti hemiparesis sehingga sukar dibedakan dengan kejang karena proses intrakranial. dan gula darah (Arief. Risiko meningitis bakterialis adalah 0. Anak dengan demam tinggi dapat mengalami delirium. b.

kadang . EEG dapat memperlihatkan gelombang lambat di daerah belakang yang bilateral. sering asimetris. Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. Perlambatan aktivitas EEG kurang menpunyai nilai prognostik. 2015). atau kejang demam fokal (Arief. c. tidak perlu dilakukan pungsi lumbal (Arief. misalnya pada kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun. walaupun telah dilaporkan bahwa penderita kejang demam kompleks lebih sering menunjukkan EEG abnormal. Elektroensefalografi Pemeriksaan elektroensefalografi (electroencephalography/EEG) tidak direkomendasikan karena tidak dapat memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan kemungkinan epilepsi pada pasien kejang demam. 2015).7 hari setelah kejang. EEG abnormal juga tidak dapat digunakan untuk menduga . Perlambatan ditemukan pada 88% penderita bila EEG dikerjakan pada hari kejang dan ditemukan pada 33% penderita bila EEG dilakukan 3 .kadang unilateral.lumbal dianjurkan pada:  Bayi kurang dari 12 bulan – sangat dianjurkan  Bayi antara 12-18 bulan – dianjurkan  >18 bulan – tidak rutin Bila yakin bukan meningitis secara klinis.

kemungkinan terjadinya epilepsi kemudian hari dan tidak dianjurkan pada penderita kejang demam sederhana (Soetomenggolo. Pencitraan MRI diketahui memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibandingkan CT scan. 2002):  Mencegah kejang demam berulang  Mencegah status epileptikus  Mencegah epilepsi dan / atau mental retardasi . 1999).8 Penatalaksanaan Tujuan pengobatan kejang demam pada anak adalah untuk (Melda. 2015):  Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)  Paresis nervus VI  Papiledema 1. namun belum tersedia secara luas di unit gawat darurat. d. CT scan dan MRI dapat mendeteksi perubahan fokal yang terjadi baik yang bersifat sementara maupun kejang fokal sekunder. Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti Computed Tomography scan (CT-scan) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti (Arief.

Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan. Dosis diazepam pada anak adalah 0. 4 kali sehari atau ibuprofen oral 5 . Diazepam dapat diberikan per rektal dengan dosis 5 mg bila badan kurang dari 10 kg dan 10 mg pada berat badan lebih dari 10 kg jika suhu tubuh > . pernafasan. diberikan oksigen. diberikan secara intravena pada kejang demam fase akut. jika diberikan intramuskular absorbsinya lambat. dan fungsi jantung (Soetomenggolo. tekanan darah. 2009). yaitu: 1. Awasi keadaan vital seperti kesadaran. Pemberian antipiretik (asetaminofen oral 10 . 1999). suhu.10 mg/kgBB/kali. semua pakaian dibuka dan penderita dimiringkan untuk mencegah aspirasi.15 mg/kgBB/kali.4 kali sehari) (Pudjiaji. karena diazepam mempunyai masa kerja yang singkat. kalori dan elektrolit harus diperhatikan. tetapi pemberian tersebut sering gagal pada anak yang lebih kecil (Melda.3 mg/kgBB setiap 8 jam. 2002). Keadaan dan kebutuhan cairan. Normalisasi kehidupan anak dan keluarga. Pengisapan lendir dilakukan secara teratur. Pengobatan Fase Akut Seringkali kejang berhenti sendiri. Jalan nafas harus bebas agar oksigenisasi terjamin. kalau perlu dilakukan intubasi. Pada waktu penderita sedang kejang. Suhu tubuh dapat diturunkan dengan kompres air hangat (diseka) ( Melda. Saat ini diazepam merupakan obat pilihan utama untuk kejang demam fase akut. Diazepam dapat diberikan secara intravena atau rektal. 3 . 2002).

8 mg/kgBB/hari dimulai 12 jam setelah dosis awal. Mencari dan mengobati penyebab Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis. Bila kejang telah berhenti. Pemeriksaan laboratorium lain perlu dilakukan untuk mencari penyebab (Soetomenggolo. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4 . 3. 2. 38. 2002). Pada bayi kecil sering gejala meningitis tidak jelas. Jika kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10 . 2009). terutama pada penderita kejang demam pertama. 1999). sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan dan dianjurkan pada penderita berumur kurang dari 18 bulan. 50 mg untuk usia 1 bulan – 1 tahun.5°C (Pudjiaji. Pengobatan profilaksis  Profilaksis intermittent .20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit atau kurang dari 50 mg/menit. dapat diberikan luminal suntikan intramuskular dengan dosis awal 30 mg untuk neonatus. 2009). Bila diazepam tidak tersedia. pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam dan faktor resikonya (Pusponegoro. dan 75 mg untuk usia lebih dari 1 tahun (Melda. Pemberian diazepam secara rektal aman dan efektif serta dapat pula diberikan oleh orang tua di rumah.

5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis pada waktu penderita demam (Soetomenggolo. 1999).Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan . setiap penderita menunjukan suhu 38. Diazepam dapat pula diberikan secara oral dengan dosis 0.5°C atau lebih.kejang lama > 15 menit .Kejang berulang 2 kali/lebih dalam 24 jam .  Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari Pengobatan jangka panjang hanya diberikan jika kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut: .kelainan neurologi yang nyata sebelum/sesudah kejang .kejang fokal Pengobatan jangka panjang dipertimbangkan jika: . Diazepam intermittent memberikan hasil lebih baik karena penyerapannya lebih cepat. Antikonvulsan hanya diberikan pada waktu penderita demam yang cepat diketahui adanya demam pada penderita. Dapat digunakan diazepam intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg untuk penderita dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk penderita dengan berat badan lebih dari 10 kg.

Obat lain yang digunakan yaitu asam valproat.2 tahun setelah kejang berakhir. kemudian dihentikan secara bertahap selama 1 .5 mg/kgBB/hari menunjukan hasil yang bermakna untuk mencegah berulangnya kejang demam. 1999).2 bulan (Soetomenggolo. .Kejang demam ≥ 4 kali per tahun Pemberian fenobarbital 4 .40 mg/kgBB/hari.. Dosisnya 15 . Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam yang dapat menyebabkan kerusakan otak tetapi tidak dapat mencgah terjadinya epilepsi dikemudian hari. Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1 .

2.1 Identitas Pasien  Nama : An.3 Riwayat Penyakit Sekarang .00 dengan keluhan utama kejang dan demam. IR  No MR : 00096xxx  Jenis Kelamin : Perempuan  Umur : 2 tahun 11 bulan  Ruangan : Anak  Masuk rumah sakit : 16 Desember 2016  Keluar rumah sakit : 19 Desember 2016 2. Kejang baru pertama kali.2 Ilustrasi Kasus Seorang pasien anak perempuan usia 2 tahun 11 bulan masuk ke RSSN Bukittinggi melalui IGD jam 09. BAB II TINJAUAN KASUS 2.

BAB ada dan berampas.7 pg 27. GCS : 15.2 % 42-52 % MCV 74.7 Pemeriksaan Penunjang a.0-31.0 pg MCHC 36. nafas : 20x/menit.20) 137 mg/dL (10.0 g/dL . Frekuensi kejang 1 kali dengan durasi 3-5 menit. Pemeriksaan laboratorium saat di IGD Pemeriksaan Hasil Nilai Normal 432 mg/dL (9.0-99.45) Gula Darah Random 97 mg/dL (18.5 Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga pasien yang mempunyai riwayat penyakit kejang demam sebelumnya.0 fL MCH 24. didapatkan informasi bahwa pasien tidak memiliki riwayat penyakit terdahulu. Pasien juga mengalami batuk pilek dan muntah.6 Pemeriksaan Fisik di IGD Pemeriksaan fisik umum menunjukan kondisi umum : sedang. berat badan : 12.0-37. 2.9 fL 79. 2.9 kg dan suhu tubuh : 39. 2. tingkat kesadaran : CM. Kejang di rumah sejak 20 menit sebelum masuk ke rumah sakit.8-10. Pemeriksaan khusus .4 g/Dl 33. Demam selama 4 hari. nadi : 104x/menit. 2.6 g/dL 14-18 g/dL HCT 32.8 x 103/µL HGB 10.71 x 103/µL 4.00) <200 mg/dL b.4 Riwayat Penyakit Terdahulu Dari wawancara dengan keluarga pasien. Pemeriksaan darah di IGD Pemeriksaan Hasil Nilai Normal WBC 17.4 0C.

Suhu : 370C .Batuk pilek . 2.9 Terapi/tindakan di IGD Terapi yang diberikan di IGD pada tanggal 16 Desember 2016  O2 2 l/mnt  IVFD KaEN 1B + KCl 10 meq/kolf  Paracetamol syr 3x1 cth  Puyer batuk 3x1 bungkus (Prednison 4 mg + Ambroxol 6 mg + CTM 1.BB : 12 kg .10 Follow Up HARI RAWATAN 17/12/2016 18/12/2016 19/12/2016 .Demam (-) .Suhu : 360C .BB : 12 kg .Batuk pilek .KU : Sedang. sadar .8 Diagnosa Kejang demam simpleks.2.Kejang 1x dengan .Demam sejak 4 hari . sadar O . sadar .Demam (-) S .KU : Sedang.BB : 12 kg .2 mg)  Puyer Diazepam 2 mg 3x1 bungkus  Injeksi phenobarbital 75 mg  Injeksi Cefotaxime 2 x 600 mg 2.KU : Sedang.Kejang (-) durasi 5 menit .Kejang (-) .Batuk pilek .Suhu : 360C A Kejang demam simpleks Kejang demam simpleks Perbaikan .

Puyer Batuk 3x1 bks CTM 1.Puyer Batuk 3x1 bks .Cefixime 60 mg 2x1 .Diazepam 3x2 mg Ambroxol 6 mg .Injeksi Cefotaxime . Pasien demam sejak 4 hari yang lalu disertai batuk pilek.Paracetamol 3x1 cth .5 menit.2 mg CTM 1.Injeksi Cefotaxime bungkus 2x600 mg 2x600 mg . Frekuensi kejang 1 kali.Paracetamol 3x1 cth P Periksa urin dan feses Periksa urin dan feses rutin rutin BAB III PEMBAHASAN Seorang pasien anak perempuan berusia 2 tahun11 bulan dengan berat badan 12 kg diantar oleh orang tuanya ke Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi melalui IGD pada tanggal 16 Desember 2016 sekitar pukul 09.Diazepam 2 mg 3x1 Ambroxol 6 mg Ambroxol 6 mg tablet CTM 1.IVFD KaEN 1B + KCl . mencret 2 kali dan berampas di pagi hari sebelum masuk rumah sakit .Paracetamol 3x1 cth . durasi ± 3 .Diazepam 3x2 mg .IVFD KaEN 1B + KCl Pasien pulang dengan obat 10 meq/kolf 8gtt/menit 10 meq/kolf 8gtt/menit yang diberikan : .Puyer Batuk 3x1 bks .2 mg Prednison 4 mg Prednison 4 mg .2 mg . .00 WIB dengan keluhan utama kejang sejak 20 menit sebelum masuk rumah sakit.

Paracetamol diberikan untuk menurunkan demam pasien dimana suhu tubuh pasien 39. pukul 18. Hb 10.00 GDR 97 mg/dL. atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah usia 3 tahun atau dosis 7. diazepam 2 mg 3x1. Pemberian IVFD KaEn IB + KCL 10 mEq 8 tetes/menit berfungsi untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit pasien. Hasil pemeriksaan gula darah random pukul 09. Terapi yang diterima pasien saat di IGD berupaO2 2 L/menit.5 menit. Sedangkan obat yang dapat diberikan pada saat pasien di rumah adalah diazepam rektal.45 GDR 137 mg/dL.0. denyut nadi 104 kali/menit.3 . dosis tersebut sesuai dengan rentang dosis yang diperbolehkan.6 g/dL. pernafasan 20 kali/menit.710 /µL.4 ºC. phenobarbital injeksi 75 mg secara i.75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Dosis diazepam rektal adalah 0. trombosit 418.lahan dengan kecepatan 1 . 2009). leukosit 17. Pasien didiagnosa kejang demam simpleks. Dosis diazepam intravena adalah 0.5 mg/kg perlahan . puyer batuk pilek (prednisone 4 mg. dosis pemberian paracetamol untuk anak adalah 10 .15 mg/kgBB/kali 4 kali sehari dengan penggunaan maksimal 4 gram/hari (Pudjiadi. dengan dosis maksimal 20 mg. . pilihan utama untuk penatalaksanaan kejang demam bila pasien datang dalam keadaan kejang adalah diazepam intravena atau intrarektal. paracetamol sirup 3x1 cth.2 mg/menit atau dalam waktu 3 .IVFD KaEn I B + KCL 10 mEq diberikan secara intra vena 8 tetes/menit. Dosis yang diterima pasien 3x120 mg.2 mg).m. pukul 10. Hasil pemeriksaan fisik di IGD menunjukkan suhu tubuh 39.5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun.20 adalah 432 mg/dL.000/µL.4°C.5 . CTM 1. cefotaxime 2x600 mg.0. ambroxol 6 mg.

dianjurkan ke rumah sakit.3 mg/kg BB setiap 8 jam. Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari. Dosis pemberian cefotaxime adalah 50 . Dosis diazepam oral 0.5 mg/kg/hari. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0. dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. dimulai 12 jam setelah dosis awal. Berdasarkan perhitungan dosis. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10- 20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit.3-0.200 mg/kgBB perhari. berdasarkan perhitungan dosis. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang.710/µL. Dosis yang diterima pasien 3x2 mg. Tinginya kadar leukosit menandakan adanya infeksi. diazepam yang diberikan berada dalam rentang aman digunakan. setelah di bangsal anak pemberian phenobarbital dihentikan. Pasien kejang 20 menit sebelum masuk rumah sakit di IGD pasien menerima injeksi phenobarbital 75 mg pada pukul 10. phenobarbital yang diberikan berada dalam rentang aman digunakan.5 mg/kg. Pemberian diazepam oral diindikasikan untuk menurunkan resiko berulangnya kejang demam. pemberian phenobarbital untuk menurunkan resiko berulangnya kejang demam.00. Di IGD pasien mendapat terapi cefotaxime 2 x 600 mg. Berdasarkan perhitungan . Pemberian cefotaxime sudah tepat karena pemeriksaan laboratorium pasien menunjukkan kadar leukosit tinggi yaitu 17. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif. Dosis phenobarbital yaitu 4 .

penggunaannya bila demam. Dosis ambroxol yang digunakan dalam dosis aman digunakan. cefotaxime yang diberikan berada dalam rentang aman digunakan.5 mg 3 kali sehari. Berdasarkan perhitungan dosis.2 mg dan ambroxol 3x sehari. Diazepam 3x2mg. dengan maksimal 6 mg/hari. Dosis pemberian cefixime adalah 10mg/kg BB dalam 2 dosis. Pada tanggal 17 Desember pemberian cefotaxime dihentikan dan digantikan dengan pemberian cefalosforin oral yaitu cefixime 60 mg 2 kali sehari. Pada tanggal 19 juni 2016. dengan membawa obat pulang yaitu cefixime 2x60 mg. dilihat dosis yang digunakan pasien tidak melibihi dosis penggunaan per harinya. dan puyer batuk 3x1 bungkus.dosis. pasien juga mendapatkan obat puyer yang berisi CTM (Chlorphenyramin maleat) 1. cefixime yang diberikan berada dalam rentang aman digunakan. dosis penggunaan CTM untuk anak yang berusia 2-5 tahun 1 mg tiap 4-6 jam. pasien diizinkan pulang dalam keadaan membaik. . Dari IGD. penggunaanya bila kejang. penggunaan cefixime 2 kali sehari tiap 12 jam dan harus dihabiskan. Dosis ambroxol untuk anak umur 2 – 5 tahun7. paracetamol sirup 3x1 sendok teh.

Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali 4. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus dingat adanya efek samping 5. Memberitahukan cara penanganan kejang 3. 2.obatan yang diterima pasien serta cara penyimpanannya. Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik. BAB IV EDUKASI PADA ORANG TUA 1. Memberikan informasi tentang indikasi dan cara pemakaian dari obat . .

Untuk menurunkan resiko 3 Diazepam Tablet 3x2 mg berulangnya kejang demam.1 Terapi yang diberikan Terapi yang diberikan pada pasien Bentuk No Nama obat Dosis Indikasi Sediaan Untuk memenuhi kebutuhan 1. Ka EN 1B + KCl Infus 8 tetes/min cairan dan elektrolit pasien bila elektrolit pasien belum diketahui. Antibiotik untuk infeksi saluran 4 Cefotaxime Injeksi 2x600 mg pernafasan atas. BAB V ANALISA DRUG RELATED PROBLEMS 5. . Untuk menurunkan resiko 2 Phenobarbital Injeksi 1x75 mg berulangnya kejang demam.

Terapi tanpa indikasi .2 mg Untuk mengobati alergi Untuk mengencerkan sekret pada 8 Ambroxol Tablet 3x6 mg saluran pernafasan 5. Tidak ada indikasi yang tidak - diterapi diterapi pada pasien ini. Dosis yang diberikan sudah - Cukup Dosis berlebih . Tidak ada terapi yang - diberikan tanpa indikasi Dosis kurang . Dosis sesusai dengan dosis - untuk anak .2 Drug Related Problems Jenis DRP DRP Keterangan Rekomendasi Indikasi yang tidak . Antibiotik untuk infeksi saluran 5 Cefixime Kapsul 2x60 mg pernafasan atas 6 Paracetamol Sirup 3x5 ml Untuk menurunkan panas/demam 7 CTM Tablet 3x1.

Interaksi obat .Paracetamol: Hepatotoksik jika pemakaian jangka panjang . Tidak ada interaksi antara - obat yang didapat pasien. . Pilihan obat tidak . peripheral .Gagal mendapatkan V Pasien diresepkan dokter obat Diganti Obat dengan metil prednison 4 mg 3x sehari. dan agresif. Pilihan obat yang diberikan - Tepat sudah tepat ESO .Diazepam: ataksia. pemarah. . - paru.Phenobarbital : kelainan watak. mengantuk.KaEN 1B : Edema otak. Tidak terjadi duplikasi terapi - . Duplikasi terapi . dan hipotoni. yaitu iritabel hireaktif. tetapi tidak mendapatkan prednisolon prednison karena ketersediaan prednison di rumah sakit.

1 Kesimpulan Berdaasarkan hasil diagnosa pasien an. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan terhadap pasien. hal ini dilihat dari gejala. Tetap bersama pasien selama kejang 3. Disarankan kepada orang tua untuk tetap tenang dan tidak panik bila pasien kejang 2. Waspada jika pasien demam dan berikan obat penurun panas jika demam tidak turun segera periksakan ke dokter . BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. yang terlihat dari keadaan pasien yang ada perbaikan dari hari kehari rawatan.2 Saran 1. keluhan. 6. IR mengalami penyakit kejang demam simpleks. Untuk terapi yang dilakukan sudah tepat.

Melda Deliana.Ismael S. CDK-232/Vol.2009.Penerbit IDAI.. penyunting. . Ismael S. Tata Laksana Kejang Demam Pada Anak. Sari Pedriatri. Pudjiadi HA.Vol. Dalam : Soetomenggolo TS. Penatalaksanaan Kejang Demam.. Pedoman Pelayanan Medis.244-51. 2006. 2015.Widodo DP. DAFTAR PUSTAKA Arief RF..2. Buku Ajar Neurologi Anak. Jakarta: BP IDAI.. Jakarta. Jakarta Soetomenggolo TS. No. Edisi ke-1. Hegar B. 1999.4.42 No. Idris SN. Penerbit IDAI...h. Kejang Demam. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Handryastuti S. Konsensus Penatalaksaan Kejang Demam. Harmoniati DE.Ikatan Dokter Anak Indonesia. September 2002: 59-62. Pusponegoro HD. Gandapurta PE. 2015..9.

Lampiran 1. CTM) 5. Puyer Batuk Serbuk 3x1 bks √ √ √ √ √ √ √ √ √ (Prednison. Cefotaxime Injeksi 2x600 mg √ √ 2. Diazepam Tablet 3x2 mg √ √ √ √ √ √ √ √ √ 3. Pemakaian Obat Bentuk 16/12/16 17/12/16 18/12/16 19/12/16 No. Ambroxol. KaEN 1B +KCl Infus 13 tetes √ √ √ √ √ √ √ √ √ 10 meq/kolf /menit 2. Phenobarbital Injeksi 1x75 mg √ . Paracetamol Syrup 3x1 cth √ √ √ √ √ √ √ √ √ 4. Nama Obat Dosis Sediaan P S M P S M P S M P S M 1.

6. Cefixime Kapsul 2x60 mg √ √ √ √ .

Sterilitas sediaan injeksi b. Kompatibilitas obat 4. Stabilitas sediaan injeksi 13. Lain-lain b. Kelebihan (over dose) 12. Dosis obat 11. Makanan/minum . Winda Kode Hari dan No. Interval pemberian 15. Interaksi obat: 17. Tidak ada indikasi 9. Kepatuhan 8. Kesalahan penulisan resep a. tetapi tidak mendapatkan prednison 2016 karena ketersediaan prednison di rumah sakit. Lembaran pengkajian Obat Lembaran pengkajian Obat Nama : An. Kode Masalah : 1. Jumat/ 16 15 Pasien diresepkan dokter obat prednison 4 mg Diganti dengan metil prednisolon - Desember 3x sehari. IR No. Resep 2. Ada indikasi. Hasil Lab a. Buku Injeksi 3. Indikasi c. Cara/waktu pemberian 6. Duplikasi terapi a.Kekurangan (under dose) 14. Rute Pemberian Obat mendapatkan obat 7. Lama pemberian 16. Ketersediaan obat/kegagalan 5. Rizkha. Tesa. Kontra Indikasi a.tidak ada terapi 10. Ketidaksesuaian RM dengan : c. Pemilihan Obat b. ESO/ ADR/ Alergi b. Obat 18. Y Umur : 2 Tahun 11 Bulan BB : 12 kg TB : cm Ruangan anak/kelas II Farmasis: Indra. DMK :00050xxx Dokter :dr. Masal Uraian Masalah Rekomendasi/ Saran Tindak Lanjut Tanggal ah 1.Lampiran 2.

5mg/kgBB/hari Perhitungan= 12kg x (0. max 4 gram/hari Perhitungan = 12 kg x (10-15 mg/kgBB) = 120 .3-0.3 – 0. Cefotaxime Bobot badan: 12 kg Dosis literatur:50-200 mg/kgBB/hari Perhitungan= 12x (50-200mg/kgBB/hari)= 600 mg.Lampiran 3.5 mg/kgBB/hari)= 3. .6mg/ hari Dosis yang dipakai= 3x2 mg = 6 mg/ hari (dosis yang diberikan sudah tepat) 3. dosis tepat) 2. Diazepam Bobot badan : 12 kg Dosis literatur: 0.6mg . Perhitungan Dosis 1.2400 mg/hari Dosis yang dipakai= 2x600 mg= 1200mg/hari (Dosis yang diberikan sesuai dengan dosis yang disarankan).180 mg/kali 4 kali sehari Dosis yang di pakai = 3x 120 mg (dosis tidak melewati dosis maksimum pemakaian untuk sehari. Paracetamol syrup (120mg/ 5ml) Bobot badan: 12 kg Dosis literatur: 10-15 mg/kgBB/kali 4 kali sehari. Phenobarbital Bobot badan : 12 kg Dosis literatur: 75 mg untuk anak dengan umur diatas 1 tahun Dosis yang dipakai= 1x75 mg (dosis yang dipakai sudah tepat) 4.

CTM Bobot badan : 12 kg Dosis literatur: 1 mg untuk anak dengan umur 2-5 tahun.2 mg=3. Maksimal 6 mg/hari Dosis yang dipakai= 3x1. 7.5 mg/kali 3 kali sehari untuk anak dengan umur 2-5 tahun Dosis yang dipakai= 3x6 mg= 18 mg/ hari (Dosis yang diberikan masih dalam rentang dosis yang disarankan). dosis tepat) 6.6 mg/hari (Dosis yang diberikan masih dalam rentang dosis yang disarankan). . Ambroxol Bobot badan : 12 kg Dosis literatur: 7. Cefixime Bobot badan : 12 kg Dosis literatur: 10mg/kgBB/hari 2xsehari Perhitungan= 12kg x 10mg/kgBB/hari = 120mg/hari Dosis yang dipakai= 2x60 mg = 120mg/hari (dosis tidak melewati dosis maksimum pemakaian untuk sehari.5.