You are on page 1of 69

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anemia merupakan salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat,

baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya

sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat,

vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.

Anemia adalah suatu kondisi dimana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit

lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan

Ht < 41 % pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht <37 % pada wanita (Arif

Mansjoer,dkk. 2001).

Kebidanan komunitas merupakan suatu upaya yang dilakukan Bidan

untuk pemecahan terhadap masalah kesehatan Ibu dan anak balita dalam

keluarga dan masyarakat. Bidan sebagai unjung tombak di dalam masyarakat

tentunya ikut berperan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, maka bidan harus memiliki strategi

pelayanan kebidanan komunitas dengan memperhatikan strategi pelayanan

kebidanan, tugas, dan tanggung jawab bidan serta aspek perlindungan hukum

bagi bidan di komunitas. Bidan dalam melakukan pelayanan komunitas dapat

menggunakan pendekatan secara edukatif maupun pendekatan sosial budaya

(Pudiastuti, 2012: 19).


Tiga faktor utama penyebab kematian ibu melahirkan yakni, pendarahan,

hipertensi saat hamil atau pre eklamasi dan infeksi. Pendarahan menempati

persentase tertinggi penyebab kematian ibu (28%), anemia dan kekurangan

energi kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya

pendarahan dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu. Anemia

merupakan masalah kesehatan lain yang paling banyak ditemukan pada ibu

hamil. Menurut WHO (World Health Organization) sekitar 35-75% ibu hamil

mengalami anemia. Sedangkan di wilayah Asia sendiri khususnya Asia

Tenggara sebanyak 45% wanita mengalami anemia dari seluruh penduduk

wanita dunia (WHO, 2009).

Di Indonesia prevalensi anemia kurang lebih 50% atau 1 diantara 2 ibu

hamil di Indonesia menderita anemia yang sebagian besar karena kekurangan

zat besi. Di beberapa daerah tertentu seperti NTT dan Papua, prevalensi anemia

ibu hamil justru mencapai lebih dan 80% (Depkes RI, 2008). Di Jawa Tengah

sendiri prevalensi kejadian anemia berkisar pada angka 39,5%, bahkan untuk

beberapa kabupaten di Jawa Tengah angkanya ada yang mencapai 80%. Khusus

di Kabupaten Grobogan angka kejadian anemia sebanyak 745 orang ibu hamil

sepanjang tahun 2012 dan di Puskesmas Tanggungharjo sebanyak 34 orang ibu

hamil dan di Desa Kaliwenang sebanyak 2 orang ibu hamil (Dinas Kesehatan

Kabupaten Grobogan, 2012).

Ibu hamil anemia mempunyai risiko meninggal dalam proses persalinan

3,6 kali lebih besar dibandingkan ibu hamil yang tidak anemia terutama karena
perdarahan dan/atau sepsis. Kontribusi anemia terhadap kematian Ibu di

Indonesia diperkirakan lebih tinggi lagi yaitu mencapai 50% hingga 70%.

Dengan kata lain bahwa 50% hingga 70% kematian ibu di Indonesia

sesungguhnya dapat dicegah apabila prevalensi anemia pada ibu hamil dapat

ditekan sampai serendah-rendahnya.

Di Desa Kaliwenang salah satu keluarga yang memiliki masalah

kesehatan berkaitan dengan anemia adalah pada keluarga Tn. J, dimana istrinya

yang hamil 7 bulan mengalami anemia sedang. Selain dari masalah tersebut

masih ditemukan permasalahan lain yaitu masalah adanya pantangan makanan

bagi ibu hamil yang masih dianut akibat kurangnya pengetahuan tentang gizi.

Peran bidan dalam mengatasi permasalahan di atas sesuai dengan

kompetensi-kompetensi bidan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 900/Men.Kes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik

Bidan. Sesuai dengan kompetensi ke 8 yaitu memberikan asuhan yang

komprehensif dan bermutu bagi individu, keluarga, dan masyarakat (komunitas)

bidan harus memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya.

Dari uraian diatas penulis mengambil judul Asuhan kebidanan komunitas

dalam konteks keluarga pada keluarga Tn. J dengan masalah utama ibu hamil

anemia sedang di Desa Kaliwenang Rt 03 Rw 01 Kecamatan Tanggungharjo

Kabupaten Grobogan.
B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Memberikan asuhan kebidanan komunitas pada keluaraga Tn. J dengan

masalah utama ibu hamil anemia sedang di Desa Kaliwenang Rt 03 Rw 01

Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan.

2. Tujuan Khusus

a. Melakukan pengkajian data pada keluarga, kemudian melakukan

analisis data, perumusan masalah dan menentukan prioritas masalah.

b. Menentukan interpretasi data/diagnosa masalah pada keluarga.

c. Menentukan Identifikasi Masalah/Diagnosa Potensial pada keluarga.

d. Melakukan antisipasi masalah tindakan segera pada keluarga.

e. Menentukan rencana tindakan terhadap masalah pada keluarga.

f. Melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada keluarga.

g. Melaksanakan evaluasi asuhan kebidanan pada keluarga.

C. Metode Penulisan

Dalam mengumpulkan data yang diperlukan, penulis menggunakan metode

deskriptif yaitu menggambarkan keadaan subyek dan obyek penelitian

berdasarkan fakta yang ada, sedangkan teknik penulisan yang penulis gunakan

yaitu :

1. Wawancara

Pada proses ini penulis melakukan tanya jawab langsung dengan keluarga

Tn. J sebagai sumber data primer untuk melakukan pengkajian data.


2. Observasi Partisipant

Penulis secara langsung melakukan pengamatan terhadap obyek asuhan

yaitu keluarga Tn. J mengenai keadaan keluarga dan keadaan kehamilan

istrinya. Serta melakukan pemeriksaan fisik pada Ny. F dan mengumpulkan

data-data hasil pengamatan dan pemeriksaan.

3. Studi Dokumentasi

Penulis mengumpulkan data dari hasil pemeriksaan dan mendokumentasikan

hasil wawancara serta pemeriksaan yang telah dilakukan.

4. Studi Kepustakaan

Penulis mempelajari buku- buku dan sumber dari internet sebagai pedoman

teoritis dalam melakukan pengkajian.

5. Penyuluhan

Dalam proses ini penulis memberikan pengetahuan tentang gizi dan motivasi

pada Ny. F melalui satuan acara penyuluhan (SAP).

D. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Terdiri dari latar belakang, tujuan, ruang lingkup, manfaat dan

sistematikan penulisan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Terdiri dari konsep dasar komunitas, keluarga, tinjauan teori

prioritas masalah (anemia sedang dan gizi)


BAB III TINJAUAN KASUS

Tediri dari langkah-langkah asuhan kebidanan pada keluarga

resiko tinggi

BAB IV PEMBAHASAN

Berisi tentang tujuan yang dicapai dalam penulisan dan

permasalahan yang ada dalam penulisan (lahan dan teori)

BAB V PENUTUP

Berisi kesimpulan dan saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kebidanan Komunitas

1. Pengertian

Bidan di Indonesia adalah seorang wanita yang mendapat pendidikan

kebidanan formal dan lulus serta terdaftar di badan resmi pemerintah dan

mendapat izin serta kewenangan melakukan kegiatan praktik mandiri

(Ambarwati dan Rismintari, 2010 : 1).

Kepmenkes No. 396/Menteri/SK/III/2007 menjelaskan Kebidanan

adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari keilmuan dan seni yang

mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa

interval dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan menopouse, BBL dan

Balita, fungsi-fungsi reproduksi manusia serta memberikan bantuan atau

dukungan pada perempuan, keluarga dan komunitasnya. (Pudiastuti,2011: )

Komunitas berasal dari Communicans yang berarti kesamaan,

Communis artinya sama, publik, banyak dan community berarti masyarakat

setempat. Komunitas dapat diartikan sebagai kumpulan orang atau sistem

sosial (Saunders, 1991 dalam Pudiastuti, 2011 : 2)

Bidan komunitas adalah bidan yang bekerja melayani keluarga dan

masyarakat di wilayah tertentu. Kebidanan komunitas adalah konsep dasar

bidan dalam melayani keluarga dan masyarakat. Pelayanan kebidanan


komunitas adalah upaya yang dilakukan bidan untuk pemecahan terhadap

masalah kesehatan Ibu dan Anak balita di dalam keluarga dan masyarakat

(Ambarwati dan Rismintari, 2010 : 2).

2. Unsur-unsur kebidanan komunitas

Unsur-unsur kebidanan komunitas menurut (Ambarwati dan Rismintari

(2010 : 3-5), di antaranya adalah sebagai berikut :

a. Bidan

Kegiatan yang dilakukan bidan di komunitas meliputi :

1) Bimbingan terhadap kelompok remaja, masa perkawinan.

2) Pemeliharaa kesehatan ibu hamil, nifas, masa interval (antara dua

persalinan) dalam keluarga.

3) Pertolongan persalinan di rumah.

4) Tindakan pertolongan pertama pada kasus kebidanan dengan resiko

tinggi di keluarga.

5) Pengobatan keluarga sesuai dengan kewenangan.

6) Pemeliharaan kesehatan kelompok wanita dengan gangguan

reproduksi.

7) Pemeliharaan kesehatan anak balita.

b. Pelayanan kebidanan

Pelayanan kebidanan adalah segala aktivitas yang dilakukan oleh

bidan untuk segala menyelamatkan pasien dari gangguan kesehatan.

Tujuan pelayanan kebidanan komunitas adalah meningkatnya kesehatan


ibu dan anak balita di dalam keluarga sehingga terwujud keluarga sehat

dan sejahtera di dalam komunitas. Kegiatan pelayanan komunitas,

meliputi :

1) Penyuluhan dan nasehat tentang kesehatan.

2) Pemeliharaan kesehatan ibu dan balita.

3) Pengobatan sederhana bagi ibu dan balita.

4) Perbaikan gizi keluarga.

5) Imunisasi ibu dan anak.

6) Pertolongan persalinan di rumah.

7) Pelayanan KB.

c. Sasaran pelayanan kebidanan komunitas

Dalam komunitas terdapat kumpulan dari individu yang membentuk

keluarga atau kelompok masyarakat. Sasaran utama adalah ibu dan anak

dalam keluarga. Menurut Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang

kesehatan, yang dimaksud keluarga adalah suami, istri, anak dan

anggota keluarga lainnya.

d. Lingkungan

Lingkungan fisik yang kurang sehat menimbulkan penyakit pada

masyarakat. Lingkungan sosial berkaitan dengan adat istiadat dalam

memberikan pelayanan yang diupayakan tidak bertentangan dengan

kebiasaan, adat, kepercayaan dan agama di masyarakat. Lingkungan


flora dan fauna berhubungan dengan penghijauan, pemanfaatan

pekarangan dengan tanaman yang bergizi.

e. Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)

Bidan dituntut untuk selalu mengembangkan kemampuannya agar

tidak ketinggalan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi di bidang

kesehatan.

B. Keluarga

1. Pengertian keluarga

a. Departemem Kesehatan RI (1998)

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari atas

keluarga atau kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan

tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling

ketergantungan

b. Salvicoon G Bailon dan Aracellis Maglaya (1998)

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung dalam hubungan

darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam

satu rumah tangga berinteraksi satu sama lain dalam peranannya masing-

masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.


Dari dua pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga tersebut:

merupakan

1) Unit terkecil masyarakat


2) Terdiri dua orang atau lebih
3) Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah
4) Hidup dalam satu rumah tangga
5) Dibawah asuhan seseorang kepada keluarga
6) Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing menciptakan

dan mempertahankan kebudayaan.

2. Struktur Keluarga

Struktur keluarga bermacam-macam diantaranya adalah :

a. Patrilineal

Keluarga yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi

dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah

b. Matrilineal

Keluarga yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi

dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu

c. Matrilokal

Sepasang suami istri yang tinggal bersama-sama keluarga sedarah istri

d. Patrilokal

Sepasang suami istri yang tinggal bersama-sama keluarga sedarah istri


e. Hubungan Kawinan

Hubungan suami istri sebagai dasar bagian pembinaan keluarga dari

beberapa sanak saudara yang menjadi keluarga karena adanya hubungan

dengan suami atau istri.

3. Fungsi Pokok Keluarga

Fungsi pokok keluarga menuruit peraturan pemerintah no. 21 tahun

1994 dan undang-undang nomer 10 tahun 1992), secara fungsi keluarga

adalah sebagai berikut :

a. Fungsi Keagamaan

1) Membina norma ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh

anggota keluarga.

2) Menerjemahkan agama kedalam tingkah laku hidup sehari-hari

kepada seluruh anggota keluarga.

3) Memberikan contoh konkrit dalam hidup sehari-hari dalam

pengalaman dari ajaran agama.

4) Melengkapi dan menambah proses kegiatan belajar anak tentang

keagamaan yang kurang diperolehnya disekolah atau masyarakat.

5) Membina rasa, sikap, dan praktek kehidupan keluarga beragama

sebagai fondasi menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.


b. Fungsi Budaya

1) Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk meneruskan

norma-norma dan budaya masyarakat dan bangsa yang ingin

dipertahankan.

2) Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk menyaring

norma dan budaya asing yang tidak sesuai.

3) Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga yang anggotanya

mencari pemecahan masalah dari berbagai pengaruh negatif globalisasi

dunia.

4) Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga yang anggotanya

dapat berperilaku yang baik sesuai dengan norma bangsa indonesia

dalam menghadapi tantangan globalisasi.

5) Membina budaya keluarga yang sesuai, selaras, dan seimbang dengan

budaya masyarakat atau bangsa untuk menjunjung terwujudnya norma

keluarga kecil, bahagia, sejahtera.

c. Fungsi Cinta Kasih


1) Menumbuh kembangkan potensi kasih sayang yang telah ada

antar anggota keluarga dalam simbol-simbol nyata secara obtimal dan

terus-menerus.

2) Membina tingkah laku saling menyayangi baik antar anggota

keluarga secara kuantitatif dan kualitatif.

3) Membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan

ukhrowi dalam keluarga secara serasi, selaras dan seimbang.

4) Mambina, rasa, sikap dan praktik hidup keluarga yang mampu

memberikan dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju

keluarga kecil bahagia sejahtera.

d. Fungsi Perlindungan

1) Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak

aman timbul dari dalam maupun dari luar keluarga.

2) Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai

bentuk ancaman dan tantangan yang datang dari luar.

3) Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai

modal menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.

e. Fungsi Reproduksi
1) Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat

baik bagi anggota keluarga maupun bagi keluarga sekitarnya.

2) Memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembentukkan keluarga

dalam hal usia, pendewasaan fisik maupun mental.

3) Mengamalkan kaidah-kaidah reprodusi sehat, baik yang berkaitan dengan

waktu melahirkan, jarak antar 2 anak dan jumlah ideal anak yang

diinginkan dalam keluarga.

4) Mengembangkan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang

konduktif menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.

f. Fungsi Sosial

1) Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai

wahana pendidikan dan sosialisasi anak pertama dan utama.

2) Menyadari, merencanakan dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai

pusat tempat anak mencari pemecahan dari berbagai konflik dan

permasalahan yang dijumpainya baik dilingkungan sekolah maupun

masyarakat.

3) Membina proses pendidikan dan sosialisasi anak tentang hal-hal yang

diperlukan untuk meningkatkan kematangan dan kedewasaan (fisik dan


mental), yang tidak, kurang diberikan oleh lingkungan sekolah maupun

masyarakat.

4) Membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga

sehingga tidak saja bermanfaat positif bagi anak, tetapi juga bagi orang tua

dalam rangka perkembangan dan kematangan hidup bersama menuju

keluarga kecil bahagia sejahtera.

g. Fungsi Ekonomi

1) Melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun di dalam lingkungan

keluarga dalam rangka menompang kelangsungan dan perkembangan

kehidupan keluarga.

2) Mengelola ekonomi keluarga sehimgga terjadi keserasian, keselarasan, dan

keseimbangan antara pemasukkan dan pengeluaran keluarga.

3) Mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua di luar rumah dan

perhatiaannya terhadap anggota keluarga berjalan secara serasi, selaras dan

seimbang.

4) Membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal untuk

mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.


h. Fungsi Pelestarian Lingkungan.

1) Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkungan interna

keluarga.

2) Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkungan eksterna

keluarga.

3) Membina kesadaran, sikap dan praktik pelestarian lingkungan serasi,

selaras, dan seimbang antara lingkungan keluarga dengan lingkungan hidup

masyarakat sekitarnya.

Membina kesadaran, sikap dan praktik pelestarian lingkungan hidup

sebagai pola hidup keluarga menuju keluarga kecil bahagia sejahtera (Menurut UU

No. 10 tahun 1992 jo PP No. 21 tahun 1994 dalam setiadi, 2008).


Ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya, adalah :

a. ASIH adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan

terhadap anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan

berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.

b. ASUH adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan keperawatan anak agar

kesehatannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka

anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.


c. ASAH adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi

manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya

(Effendy, 1998 dalam setiadi, 2008).

4. Peranan Keluarga

Peran adalah sesuatu yang diharapkan secara normative dari seorang dalam

situasi sosial tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan. Peran keluarga

adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seorang dalam konteks

keluarga. Jadi peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku

interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan

situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola

perilaku dari keluarga, kelompok, dan masyarakat.


Dalam UU kesehatan nomer 23 tahun 1992 pasal 5 menyebutkan setiap

orang berkuwajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan

derajad kesehatan perorangan, keluarga, dan lingkungan. Dari pasal diatas jelas

bahwa keluarga berkewajiban menciptakan dan memelihara kesehatan dalam

upaya meningkatkan tingkat derajat kesehatan yang optimal.

Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing antara lain adalah

a. Ayah
Ayah sebagai pemimpin keluarga mempunyai peran pencari nafkah,

pendidikan, pelindung/ pengayom, pemberi rasa aman bagi setiap anggota

sebagai keluarga dan juga anggota masyarakat kelompok sosial tertentu.

b. Ibu

Ibu sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidikan anak-

anak, pelindung keluarga dan juga sebagai pencari nafkah tambahan keluarga

dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok tertentu.

c. Anak

Anak berperan sebagai pelaku psikososial sesuai dengan perkembangan

fisik, mental, sosial dan spiritual.

B. Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Keluarga

1. Pengertian

Manajemen keluarga adalah metode kerja profesi yang menggunakan

langkah-langkah pemecahan masalah yang merupakan alur kerja dari

pengorganisasian. Pemikiran dari langkah dari suatu urutan yang logis yang

menguntungkan baik bagi bidan atau pasien

2. Tujuan

a. Untuk mengetahui masalah pada keluarga


b. Mempermudah bidan dalam melakukan identifikasi dan pemecahan

masalah

3. Langkah-langkah Asuhan Kebidanan Komunitas menurut Dermawan (2012 :

249-266)

a. Pengkajian (assessment)

Merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan sistematis

terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisa sehingga masalah

kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat. Baik individu keluarga atau

kelompok yang masyarakat bermasalah fisiologis, psikologis, sosial

ekonomi, maupun spiritual dapat ditentukan (Dermawan, 2012 : 249).

1) Pengumpulan data

Cara yang digunakan adalah :

a) Wawancara

b) Pengamatan

c) Studi dokumentasi

d) Pemeriksaan fisik

2) Data yang dikumpulkan adalah :


a) Identitas keluarga

b) Riwayat kesehatan keluarga baik yang sedang dialami maupun

yang pernah dialami

c) Anggota keluarga

d) Jarak antara lokasi dengan fasilitas kesehatan masyarakat yang ada

e) Keadaan keluarga, meliputi :

(1) Biologis

(2) Psikologis

(3) Sosial

(4) Kultural

(5) Spiritual

(6) Lingkungan

(7) Dan data penunjang lainnya

b. Analisa data
Ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam melihat

perkembangan kesehatan keluarga, yaitu :

1) Keadaan kesehatan yang normal dan setiap anggota keluarga, meliputi :

a) Keadaan kesehatan fisik, mental, sosial anggota keluarga

b) Keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga

c) Kadaan gizi anggota keluarga

d) Status imunisasi anggota keluarga

e) Kehamilan dan keluarga berencana

2) Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan, meliputi :

a) Rumah meliputi : ventilasi, penerangan, kebersihan, kontruksi, luas

rumah dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga dan

sebagainya.

b) Sumber air minum

c) Jamban keluarga

d) Tempat pembungan air limbah

e) Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya

3) Karakteristik
a) Sifat-sifat keluarga

b) Dinamika dalam keluarga

c) Komunikasi dalam keluarga

d) Interaksi antar anggota keluarga

e) Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan anggota

keluarga

f) Kebiasaan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga

c. Perumusan masalah

Perumusan masalah kesehatan dan keperawatan keluaraga yang

diambil didasarkan kepada penganalisa praktik lapangan yang didasarkan

kepada analisa konsep, prinsip, teori dan standar yang dapat dijadikan acuan

dalam menganalisa sebelum mengambil keputusan tentang masalah

kesehatan dan keperawatan keluarga. Disamping melalui diskusi-diskusi

diantara perawat dengan mempertimbangkan situasi dan sumberdaya yang

ada pada keluarga.

d. Tipologi masalah kesehatan dan asuhan kebidanan keluarga (setiadi,2008:

53).
Ada 3 kelompok masalah besar, yaitu :

1) Ancaman kesehatan, adalah kadaan keadaan yang dapat

memungkinkan terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegagalan dalam

mencapai potensi kesehatan. yang termasuk dalam acaman kesehatan

adalah :

a) Penyakit keturunan, seperti asma bronkiale, diabetes militus, dsb.

b) Keluarga/anggota keluarga yang menderita penyakit menular, seperti

TBC, gonore, hepatitis dsb.

c) Jumlah anggota keluarga terlalu besar dan tidak sesuai dengan

kemampuan dan sumber daya keluarga. Seperti anak terlalu banyak

sedangkan penghasilan keluarga kecil.

d) Resiko terjadi kecelakaan dalam keluarga, misalnya benda tajam

diletakkan sembarang, tangga rumah terlalu curam.

e) Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing-masing anggota

keluarga.

f) Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan stress. Antara lain :

(1) Hubungan keluarga yang kurang harmonis

(2) Hubungan orang tua dan anak tegang


(3) Orang tua tidak dewasa

(4) Sanitasi lingkungan buruk, diantaranya : kebisingan, populasi

udara, ventilasi dan penerangan kurang baik dsb.

(5) Kebiasaan-biasaan yang merugikan kesehatan :

Minuman keras, merokok, makan obat tanpa resep, personal hygiene

kurang.

(6) Sifat dan kepribadian yang melekat

(7) Memaikan peranan yang tidak sesuai , misalnya anak wanita

memainkan peranan ibu karena meninggal.

(8) Imunisasi kurang lengkap

2) Kurang /tidak sehat adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan. Yang

termasuk didalamnya adalah :

a) Keadaan sakit, sebelum atau sesudah didiagnosa.

b) Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak

sesuai dengan pertumbuhan normal.

3) Situasi krisis adalah saat-saat yang banyak menuntut individu atau keluarga

dalam menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga.

Yang termasuk dalam situasi krisis adalah :


a) perkawinan

b) kehamilan

c) persalinan

d) masa nifas

e) menjadi orang tua

f) bayi baru lahir

g) abortus

h) anak masuk sekolah

i) anak remaja

j) kehilangan pekerjaan dsb

Ketidak mampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas kesehatan dan

keperawatan

1) ketidak sanggupan mengenal masalah kesehatan keluarga disebabkan karena :

a) kurang pengetahuan/ketidaktahuan fakta

b) rasa takut akibat masalah yang diketahui.

c) Sikap dan falsafah.


2) Ketidak sanggupan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan tindakan

yang tepat, disebabkan karena :

a) Tidak memahami mengenai sifat,berat dan luasnya masalah.

b) Masalah kesehatan tidak begitu menonjol.

c) Keluarga tidak sanggup memecahkan masalah karena kurangnya

pengetahuan, kurangnya sumber daya keluarga.

d) Ketidak cocokan pendapat dari anggota-anggota keluarga.

e) Tidak tahu tentang fasilitas kesehatan yang ada.

f) Takut dari akibat tindakan.

g) Fasilitas kesehatan tidak terjangkau.

h) Kesalahan informasi terhadap tindakan yang diharapkan.

3) Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit, disebabkan karena :

a) Tidak mengetahui keadaan penyakit, misalnya sifat, penyebab,

penyebaran, perjalanan penyakit, gejala dan perawatannyaserta

pertumbuhan dan perkembangan anak.

b) Tidak mengetahui tentang perkembangan perawatan yang dibutuhkan.

c) Kurang atau tidak ada fasilitas yang diperlukan untuk perawatan.


d) Sikap dan pandangan hidup.

e) Perilaku yang mementingkan diri pribadi.

4) Ketidak sanggupan memelihara lingkungan rumah yang dapat

mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga,

disebabkan karena :

a) Sumber-sumber keluarga tidak cukup, diantaranya keuangan, tanggung

jawab/wewenang, keadaan fisik rumah yang tidak memenuhi syarat.

b) Kurang dapat melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan

lingkungan rumah.

c) Ketidaktahuapentingnya sanitasi lingkungan.

5) ketidakmampuan menggunakan sumber di masyarakat guna memelihara

kesehatan, disebabkan karena :

a) Tidak tahu bahwa fasilitas kesehatan itu ada.

b) Tidak memahami keuntungan yang diperoleh.

c) Pengalaman kurang baik dari petugas kesehatan.

d) Tidak terjangkau fasilitas yang diperlukan.

e) Tidak adanya fasilitas yang diperlukan.


e. Diagnosa Kebidanan Pada Tingkat Keluarga

Diagnosa adalah pernyataan tentang faktor-faktor yang mempertahankan

respon/tanggapan yang tidak sehat dan menghalangi perubahan yang

diharapkan (Dermawan, 2012 : 257).

f. Prioritas Masalah

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prioritas masalah adalah sebagai

berikut :

1) Tidak mungkin masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang

ditemukan dalam keluarga dapat diatasi sekaligus.

2) Perlu mempertimbangkan masalah-masalah yang dapat mengancam

kehidupan keluarga seperti masalah penyakit.

3) Perlu mempertimbangkan respons dan perhatian keluarga terhadap

asuhan keperawatan yang akan diberikan.

4) Keterlibatan keluarga dalam memecahkan masalah yang mereka

hadapi.

5) Sumber daya keluarga yang dapat menunjang pemecahan masalah

kesehatan /perawatan keluarga.

6) Pengetahuan dan kebudayaan keluarga.


Skala prioritas dalam menyusun masalah kesehatan keluarga untuk dapat

menentukan prioritas kesehatan dan keperawatan perlu disusun skala proritas

seperti berikut ini :

KRITERIA NILAI BOBOT

Sifat masalah 1
Skala :
Ancama kesehatan 2
Tidak/Kurang sehat 3
Krisis 1
Kemungkinan masalah dapat dicegah 2
Skala :
Dengan mudah 2
Hanya sebagian 1
Tidak dapat 0
Potensi masalah untuk diubah 1
Skala :
Tinggi 3
Cukup 2
Rendah 1
Menonjolkan masalah 1
Skala :
Masalah berat harus ditangani 2
Masalah yang tidak perlu segera 1
0
ditangani
Masalah tidak dirasakan

Sumber : Setiadi, 2008 : 58


Skoring :
Tentukan skor untuk setiap kriteria
Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan bobot
Skor
xBobot
Angkatertinggi
Jumlah skor untuk semua criteria
Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot

g. Perencanaan Asuhan Kebidanan Komunitas


Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses

keperawatan keluarga yang meliputi penentuan tujuan perawatan (jangka

panjang/pendek), penetapan standar, dan kriteria serta menentukan

perencanaan untuk mengatasi masalah keluarga (Dermawan, 2012 : 260).

1) Tujuan

a) Tujuan jangka panjang menekankan pada perubahan perilaku dan

mengarah pada kemampuan mandiri.

b) Tujuan jangka pendek, ditekankan pada keadaan yang bisa dicapai

setiap harinya yang dihubungkan dengan keadaan yang

mengancam kehidupan.

2) Kriteria dan standar

a) Berfokus pada keluarga, outcomes harus ditunjukan kepada

keadaan keluarga apa yang harus dilakukan keluarga, kapan, dan

sejauh mana tindakan akan dilaksanakan.

b) Singkat dan jelas, untuk memudahkan perawat dalam

mengidentifikasikan tujuan dan rencana tindakan.

c) Dapat diobservasi dan diukur tanpa hasil yang dapat proses

keperawatan tidak dapat diselesaikan.


d) Realistik, ini harus disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang

tersedia dirumah.

h. Implementasi/Tindakan Asuhan Kebidanan Komunitas

Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan dan perwujudan dari

rencana asuhan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi,

2008 : 60).

i. Evaluasi Asuhan Kebidanan Komunitas

Evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana tentang

kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tahap

evaluasi adalah sebagai berikut :

i) Evaluasi berjalan (sumatif)

Evaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisian formal

catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang

dialami oleh keluarga.


ii) Evaluasi akhir
Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan

antara tujuan yang akan dicapai. Bila terdapat kesenjangan diantara

keduanya, mungkin semua tahap dalam proses asuhan perlu ditinjau

kembali, agar didapat data-data, masalah atau rencana yang perlu

dimodifikasi (Ambarwati dan Rismintari, 2009 : 75).


C. Tinjauan Teori Tipologi Masalah

1. Anemia pada Kehamilan

a. Pengertian

Anemia pada kehamilan adalah kondisi ibu dengan dengan kadar

hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar < 10,5

gr pada trimester II (Soebroto, 2009 : 12).

b. Macam-macam anemia selama kehamilan

1) Anemia Defisiensi Besi

Penyebab tersering anemia selama kehamilan dan masa nifas

adalah defisiensi besi dan kehilangan darah akut. Tidak jarang

keduanya saling berkaitan erat, karena pengeluaran darah yang

berlebihan diserta hilangnya besi hemoglobin dan terkurasnya

simpanan besi pada suatu kehamilan dapat menjadi penyebab

penting anemia defisiensi besi pada kehamilan berikutnya. Status

gizi yang kurang sering berkaitan dengan anemia defisiensi besi

(Subroto, 2009 : 15). Pada gestasi biasa dengan satu janin,

kebutuhan ibu akan besi yang dipicu oleh kehamilannya rata-rata

mendekati 800 mg, bila tersedia, untuk ekspansi massa hemoglobin

ibu sekitar 200 mg atau lebih keluar melalui usus, urin dan kulit.

Jumlah total ini 1000 mg jelas melebihi cadangan besi pada

sebagian besar wanita. Kecuali apabila perbedaan antara jumlah

cadangan besi ibu dan kebutuhan besi selama kehamilan normal


yang disebutkan diatas dikompensasi oleh penyerapan besi dari

saluran cerna, akan terjadi anemia defisiensi besi.

Dengan meningkatnya volume darah yang relatif pesat selama

trimester kedua, maka kekurangan besi sering bermanifestasi

sebagai penurunan tajam konsentrasi hemoglobin. Walaupun pada

trimester ketiga laju peningkatan volume darah tidak terlalu besar,

kebutuhan akan besi tetap meningkat karena peningkatan massa

hemoglobin ibu berlanjut dan banyak besi yang sekarang disalurkan

kepada janin. Karena jumlah besi tidak jauh berbeda dari jumlah

yang secara normal dialihkan, neonatus dari ibu dengan anemia

berat tidak menderita anemia defisiensi besi (Arisman, 2007).

2) Anemia akibat perdarahan akut

Pada awal kehamilan, anemia akibat perdarahan sering terjadi

pada kasus-kasus abortus, kehamilan ektopik, dan mola hidatidosa.

Perdarahan masih membutuhkan terapi segera untuk memulihkan

dan mempertahankan perfusi di organ-organ vital walaupun jumlah

darah yang diganti umumnya tidak mengatasi difisit hemoglobin

akibat perdarahan secara tuntas, secara umum apabila hipovolemia

yang berbahaya telah teratasi dan hemostasis tercapai, anemia yang

tersisa seyogyanya diterapi dengan besi. Untuk wanita dengan

anemia sedang yang hemoglobinnya lebih dari 7 g/dl, kondisinya

stabil, tidak lagi menghadapi kemungkinan perdarahan serius, dapat


berobat jalan tanpa memperlihatkan keluhan, dan tidak demam,

terapi besi selama setidaknya 3 bulan merupakan terapi terbaik

dibandingkan dengan transfusi darah (Sarwono, 2005 ).

c. Klasifikasi anemia berdasarkan tingkatannya, yaitu :

Pembagian anemia berdasarkan tingkatannya dapat digolongkan

sebagai berikut : Hb > 11 gr % tidak anemia, Hb 9-10,9 gr % anemia

ringan, Hb 7-8,9 gr % anemia sedang, Hb < 7 gr % anemia berat

(Manuaba, 2009 : 92)

d. Penyebab Anemia Kehamilan

Penyebab anemia kehamilan menurut Gultom (2005), adalah

sebagai berikut :

1) Kurangnya mengkonsumsi makanan kaya zat besi, terutama yang

berasal dari sumber hewani yang mudah diserap.

2) Kekurangan zat besi karena kebutuhan yang meningkat seperti pada

kehamialn

3) Kehilangan zat besi yang berlebihan pada pendarahan termasuk

haid yang berlebihan, sering melahirkan dengan jarak yang dekat.

4) Pemecahan eritrosit terlalu cepat (hemolisis)

e. Etiologi Anemia dalam Kehamilan

Menurut Prawiroharjo (2009 : 435), etiologi anemia defisiensi besi

pada kehamilan, yaitu :

1) Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah


2) Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma

3) Kurangnya zat besi dalam makanan

4) Kebutuhan zat besi meningkat

5) Gangguan pencernaan dan absorbs

f. Gejala

Gejala-gejala yang Muncul pada Anemia Menurut Indoglobal, (2007)

gejala-gejala yang sering muncul pada anemia :

1) 5 L (letih, lelah, lemah, lesu dan lunglai)

2) Nafsu makanan penurun atau anoreksia

3) Sakit kepala

4) Konsentrasi menurun

5) Pandangan berkunang-kunang terutama bila bangkit dari duduk

6) Nafas pendek (pada anemia yang parah)

Pada pemeriksaan didapat gejala anemia :

1) Kulit pucat

2) Kuku-kuku jari pucat

3) Rambut rapuh (pada anemia yang parah)

g. Pengaruh Anemia terhadap Kehamilan

Menurut Manuaba, (2010) Pengaruh Anemia terhadap kehamilan,

adalah :

1) Bahaya selama kehamilan :

a) Abortus
b) Partus prematuritas

c) Phambatan tumbuh kembang janin dalam rahim

d) Mudah terjadi infeksi

e) Ancaman dekompensasi kordis (Hb <6 g%)

f) Mola hidatidosa

g) Hiperemesis gravidarum,

h) Perdarahan antepartum

i) Ketuban pecah dini (KPD)

2) Bagi hasil konsepsi anemia dalam kehamilan memberi pengaruh

kurang baik, seperti :

a) Kematian mudigah

b) Kematian perinatal

c) Prematuritas

d) Dapat terjadi cacat bawaan

e) Cadangan besi kurang

h. Cara Pencegahan Anemia

Menurut Herlina, (2007) Cara mencegah anemia adalah :

1) Meningkatkan konsumsi zat besi terutama dari sumber hewani yang

mudah diserap.

2) Minum 1 tablet tambah darah setiap hari bagi ibu hamil minimal 1

tablet selama kehamilan.


3) Mengantur jarak kelahiran dengan menjadi peserta keluarga

berencana (KB).

2. Pantangan makanan pada Ibu Hamil

Adat istiadat merupakan wujud nyata dari akar budaya masyarakat. Dalam

masyarakat Indonesia terdapat kebiasaan adat istiadat yang biasanya

dilakukan selama berlangsungnya kehamilan dan kebiasaan adat-istiadat

tersebut masih berlaku sampai saat ini. Faktor sosial budaya yang

berpengaruh terhadap kehamilan berkaitan dengan gizi pada ibu hamil,

diantaranya :

a. Ibu hamil harus makan dua kali lipat.

Ibu hamil harus makan dua kali lipat dimaksudkan agar janin yang

dikandung juga ikut makan sehingga kondisi janin dapat terjaga

kesehatannya. Tetapi menurut kenyataan, kehamilan merupakan keadaan

dimana ada bakal anak manusia yang tumbuh dan berkembang di dalam

tubuh ibu. Karena ada makhluk lain yang akan tumbuh dan berkembang,

otomatis dibutuhkan pasokan nutrisi yang lebih banyak. Tambahan

kalori yang melebihi kebutuhan selama masa kehamilan tidak

dianjurkan karena dapat menyebabkan peningkatan berat badan pada ibu

dan janinnya sehingga dikhawatirkan dapat berdampak pada kesehatan

ibu dan janin. Sementara pada janin, kenaikan berat badan ibu yang

berlebihan belum tentu berpengaruh pada kenaikan berat badan janin

(Romauli, 2011 : 126-127).


b. Ibu hamil tidak boleh makan nanas, pisang ambon, dan duren.

Mengkonsumsi buah-buahan jenis nanas, pisang ambon, dan duren

sebenarnya tidak menimbulkan pengaruh buruk pada ibu hamil dan

janinnya. Tentunya, bila dikonsumsi dalam jumlah yang tidak

berlebihan. Konsumsi banyak pisang ambon menyebabkan

meningkatnya lendir di vagina yang mungkin akan menganggu dan

merepotkan. Sedangkan konsumsi banyak nanas akan merangsang asam

lambung berproduksi lebih tinggi, yang dapat mengganggu kesehatan

lambung.

c. Minum air es membuat janin besar

Minum air es tidak meningkatkan berat badan janin maupun ibunya.

Hanya biasanya ibu hamil akan minum air es disertai sirup yang

mempunyai kadar gula tinggi. Kandungan karbohidrat sederhana yang

sering dikonsumsi ini akan meningkatkan berat badan ibu dan janinnya.

Sebenarnya adanya kebiasaan ini memberikan peringatan pada ibu

hamil agar tidak terlalu banyak mengkonsumsi terlalu banyak air es

karena dikhawatirkan akan mengalami gangguan tenggorokan atau

batuk pilek dan kegemukan karena banyak mengkonsumsi gula

(Romauli, 2011 : 128).

d. Ibu tidak boleh makan daging kambing

Ibu hamil tidak boleh makan daging kambing karena dianggap dapat

membahayakan janin. Daging kambing mengandung kadar purin atau


lemak jenuh tinggi yang mempengaruhi metabolism asam urat, yang

berbahaya bagi penderita kolesterol atau jantung. Tetapi, bila tidak

mempunyai riwayat tersebut, ibu hamil boleh saja mengkonsumsi

daging kambing. Tentu saja dengan jumlah yang secukupnya.

e. Ibu tidak boleh makan telur

Mungkin di daerah lain tidak ada larangan seperti ini. Tapi di daerah

Jawa, apalagi ibu saya penganut adat Jawa kental, melarang saya makan

telur karena nanti membuat janin di dalam perut terus gelisah dan terus

bergerak sehingga membuat ibu tidak bisa tidur. Faktanya, telur sangat

baik bagi ibu dan janin karena mengandung protein yang sangat

dibutuhkan untuk pertumbuhan janin. Telur juga bermanfaat untuk

pertumbuhan otak. Larangan ini jelas mitos (Hermawan, 2012).


BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada tanggal 12 November 2013 dirumah Tn. J Desa

Kaliwenang Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan.

I. Data Subyektif

a. Identitas Keluarga

1. Nama kepala keluarga : Tn.J


2. Umur : 37 Th
3. Pendidikan : SMP
4. Pekerjaan : Dagang
5. Alamat : Desa Kaliwenang Kecamatan Tanggungharjo
6. Komposisi anggota Keluarga :

No Nama JK Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Ket


1 Tn. J L 37 Islam SMP Kuli Bangunan Suami

2 Ny. F P 36 Islam SMP IRT Istri

3 An. S L 11 Islam SMP Pelajar Anak

4 An. E P 6 Islam SD Pelajar Anak

Genogram
Keterangan :

= Ayah
= Ibu
= Anak laki-laki
= Tinggal satu rumah

7. Tipe Keluarga : Nuclear family Dikeluarga Tn.N merupakan nuclear

family yang terdiri dari keluarga inti yaitu ayah, ibu dan anak.

8. Suku Bangsa :Keluarga ini berasal dari suku Jawa.

9. Agama :Seluruh anggota keluarga menganut agama Islam dan memiliki

pandangan yang sama dalam praktik keyakinan beragama. Anggota

keluarga aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan seperti tahlilan

yang dilaksanakan setiap hari kamis satu kali dalam seminggu.

10. Aktivitas Rekreasi Keluarga :Keluarga jarang sekali rekreasi, biasanya

yang sering rekreasi adalah adik. Sedangkan jika suami di rumah,

biasanya mengajak istri pergi jalan-jalan ke pusat kota.

Kebiasaan sehari-hari

a. Aktifitas keluarga

Suami : bekerja sebagai Pedagang


Istri : bekerja sebagai buruh

Anak S : Sekolah SMP dan bermain

Anak E : Sekolah SD dan bermain

b. Kebiasaan tidur

Suami : tidur siang jarang, tidur malam 7-8 jam per hari

Isteri : tidur siang 1-2 jam, tidur malam 7-8 jam per hari

Anak S : tidur siang 1-2 jam, tidur malam 8-10 jam per hari

Anak E : tidur siang 1-2 jam, tidur malam 7-8 jam per hari

c. Kebiasaan makan dan minum

Ayah, ibu: makan 3x sehari, menu : nasi, lauk, sayur,kadang buah.

Minum 6 8 gelas/hari

Anak : makan 3x sehari, menu : nasi, lauk, sayur, kadang buah

dengan porsi kecil. Minum 4 gelas/hari air putih

d. Pola eliminasi

Ayah, ibu : BAB 1x sehari, BAK 4 5 x sehari

Anak : BAB 1 2 x sehari, BAK 5 7 x sehari

e. Personal hygiene

Mandi 2x/sehari, gosok gigi 2x sehari. Jumlah sikat gigi sesuai

dengan jumlah anggota keluarga.

Keramas 2 3 x seminggu, ganti baju 2x sehari

f. Pola hubungan seksual

Suami isteri melakukan hubungan seksual 2x seminggu


11. Keadaan Ekonomi keluarga

Penghasilan keluarga jika dikumpulkan rata-rata sebulan

adalah 2.100.000,- (tidak tentu/jika ayah dan suami bekerja).

1) Penghasilan ayah sebulan = Rp. 1.000.000, (tidak tentu)

2) Penghasilan Ibu sebulan = Rp. 500.000,-

II. Riwayat dan Tahap perkembangan keluarga

12. Tahap perkembangan keluarga saat ini :


Keluarga ini mempuyai 2 anak yang berusia 12 tahun dan 6 tahun

berarti keluarga ini pada tahap keluarga anak pra remaja. Tahap

perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, tahap yang belum

terpenuhi adalah anak pra remaja sebentar lagi mamasuki usia sekolah

SMP. Tugas perkembangan saat ini:


a. Mensosialisasikan anak yang pertama meningkatkan prestasi sekolah

dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya


b. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
c. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.

13. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi:


Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua. Anak

meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan

teman sebaya.
14. Riwayat keluarga inti

Ini merupakan kehamilan ketiga ibu dengan suaminya yang sudah

menikah selama 13 tahun. Saat ini ibu hamil 7 bulan, 2 kali berkunjung

ke bidan dengan status imunisasi TT sudah 2x.


15. Riwayat keluarga sebelumnya.

Keluaraga sebelumnya tidak pernah memiliki penyakit menular dan

menurun. Dalam satu rumah tidak ada yang memiliki penyakit menular

maupun penyakit serius seperti DM, asma, jantung dsb

III. Lingkungan
16. Karakteristik rumah.
a. Status rumah.
Status keluarga merupakan Tn. J penduduk asli dan sudah menikah

13 tahun dan tetap tinggal di rumah tersebut jenis bangunan semi

permanen.
Denah rumah

II

Keterangan
III : III

I
I : Kamar IIImandi dan sumur
IV

II : Ruang tamu
V dan keluarga

III : Kamar tidur

IV : Dapur

V : WC

: Jendela

Perincian denah rumah Tinggal di rumah sendiri, dinding permanen tembok,

ukuran rumah 10x10m2, lantai plester, atap genting, ventilasi berupa pintu dan

jendela, keadaan ventilasi belum memenuhi syarat kesehatan, penerangan

dengan listrik menpunyai TV. Pembagian ruangan adalah 2 kamar tidur dengan
kondisi rapi,1 ruang tamu,1 ruang makan, 1 dapur,dan kamar mandikondisi

sudah rapi,di halaman banyak tanaman toga dan sayur-mayur.


a. Keadaan umum sanitasi rumah
Keadaan bersih dan trapi.
b. Kebiasaan keluarga dalam perawatan rumah
Pembagian tugas bagi anggota keluarga dalam membersihkan rumah sehari-

hari sudah baik karena neneknya yang selalu membersihkan rumahnya.


c. Sistem pembuangan sampah.
Sampah rumah tangga di buang di tempat sampah setelah terkumpul

kemudian di bakar.

d. Sistem drainase.
Keluarga menggunakan mesin pompa untuk mengambil air dari sumur.
e. Penggunaan jamban.
Jamban yang di gunakan adalah jenis leher angsa, septitang, dan jarak dari

sumur kurang lebih 50 meter.


f. Kondisi air.
Kondisi air dalam keadaan bersih tidak berbau, tidak terasa, dan tidak

berwarna.
g. Persepsi keluarga mengenai masalah kesehatan yang berkaitan dengan

lingkungan.
Keluarga Tn. J sudah menjaga kesehatan lingkungan untuk mencegah

timbulnya penyakit.
17. Karakteristik tetangga dan komunitas.
Karakteristik tetangga dan masyarakat di lingkungan sekitar keluarga sebagian

besar merupakan kelompok sosial ekonomi menengah. Rumah di lingkungan

sekitar rata-rata merupakan semi permanen. Pada siang hari tetangga

melakukan aktifitas masing-masing sebagai petani, sedangkan hubungan

keluarga dengan tetangga sekitar tampak baik.


18. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn. J tinggal di daerah tersebut sejak 16 tahun,alat transportasi yang

di gunakan adalah sepeda motor.

19. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat


Keluarga Tn. J berinteraksi dengan baik dengan tetangga mengikuti

perkumpulan yang ada di dusun. Ny. F aktif dalam pertemuan PKK dan RT.

Anak bermain dan berinteraksi dengan teman sebaya.


20. Sistem pendukung keluarga.

Keluarga tidak memiliki Jamkesmas

IV. Struktur Keluarga


21. Pola komunikasi keluarga.
Pola hubungan komunikasi keluarga Tn. J tampak baik, untuk menyelesaikan

masalah dalam keluarga dengan musyawarah.


22. Struktur kekuatan keluarga.
Di dalam keluarga yang paling berperan dalam pengambilan keputusan

terhadap segala masalah terutama masalah kesehatan adalah Tn. J dengan tidak

mengesampingkan pendapat anggota keluarga lain.


23. Struktur peran.
Tn. J selaku kepala keluarga bertanggung jawab dalam mengatur rumah

tangganya serta memiliki peran sebagai penyedia (pencari nafkah), pendidik,

pelindung dan pemberi rasa aman memelihara hubungan keluarga memenuhi

kebutuhan efektif pasangan, peran seksual, peran sosial sebagai anggota

masyarakat dan lingkungan. Ny. F sebagai ibu atau istri memiliki peran sebagai

pengurus rumah tangga, pendidik anak, pelindung, membantu mencari nafkah

tambahan, menjaga hubungan keluarga, memenuhi kebutuhan efektif pasangan,

peran seksual, peran sosial sebagai anggota masyarakat dan lingkungan. Anak
sebagai anak memiliki tugas melaksanakan peran psikososial sesuai

perkembangan fisik, mental,sosial, dan spiritual. Baik Tn. J maupun anggota

keluarga yang lain menerima dan mampu menjalankan tugas dan peran masing-

masing dengan baik. Tetapi terdapat kendala pada peran Tn. J tidak mampu

menjelaskan tentang masalah yang di hadapi.


24. Nilai dan norma budaya.
Ny. F mengatakan peraturan yang berlaku didalam keluarga Tn. J jika keluar

rumah harus berpamitan dulu pada anggota keluarga yang ada dirumah jika hal

itu tidak dilakukan maka keluarga akan mencari keberadaanya.

V. Fungsi keluarga
25. Fungsi Afektif.
Saat dikaji semua anggota keluarga saling menyayangi satu sama lain, saling

menjaga dan menghormati. Karena itu Tn. J dan Ny. F selalu berusaha untuk

mendidik anaknya agar selalu menghormati orang yang dirasa lebih tua dan

menyayangi orang yang sebaya atau lebih kecil.


26. Fungsi sosialisasi.
Keluarga Tn. J mengatakan bahwa cara menanamkan hubungan interaksi sosial

pada anaknya dengan tetangga dan masyarakat yaitu membiarkan anaknya

bermain dengan teman sebaya dan tetap memantau dan membimbing anaknya

dalam aktifitas sehari-hari. Baik didalam rumah, di sekolah dan di

lingkungannya. Ny. F juga rajin mengikuti pertemuan PKK, arisan dan tahlilan

di daerahnya
27. Fungsi perawatan kesehatan .

a. Dengan jarak 150 m dari rumah, ibu memeriksakan kehamilan ke bidan

desa.
b. Bila ada keluarga yang sakit dibawa ke Puskesmas

VI. Stress dan koping keluarga


28. Stresor jangka pendek .
Keluarga Tn. J dengan istri yang hamil 7 bulan dengan keluhan nyeri kepala

dan mata berkunang-kunang.


29. Kemampuan keluarga merespon terhadap masalah
Keluarga memandang masalah sebagai cobaan yang harus di usahakan dan

diselesaikan sesuai kemampuan yang dimiliki. Tn. J mengatakan sekarang ini

yang menjadi masalah adalah peran suami dalam memberikan dukungan

kepada istrinya dalam menghadapi masa kehamilanya.


30. Strategi koping yang di gunakan
Keluarga dalam menghadapi masalah biasanya membicarakan dengan anggota

keluarga yang lain dan saling meminta pendapat.

Pemanfaatan fasilitas kesehatan

Bila ada anggota keluarga yang sakit biasanya periksa di bidan dan Puskesmas.

31. Strategi adaptasi disfungsional


Keluarga mampu beradaptasi dengan masalah yang sedang dialami yaitu

memberi dukungan dan nasehat kepada istrinya dalam menghadapi

masalah kehamilanya.

32. Pemeriksaan fisik

a. Data Subyektif

1) Biodata

Nama : Ny. F.

Umur : 26 tahun

Agama : Islam
Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Suku/bangsa : Jawa/Indonesia

Alamat : RT. 3/RW. III Ds. Kaliwenang

2) Keluhan utama

Ibu mengatakan kepala sering pusing dan mata berkunang kunang.

3) Riwayat Perkawinan

Ibu menikah pada usia 23 tahun, menikah 1 x dengan suami

sekarang.

4) Riwayat Kesehatan

a) Dulu ibu tidak pernah menderita penyakit menular dan

keturunan seperti DM, hipertensi dan asma.

b) Sekarang ibu tidak sedang menderita penyakit apapun.

c) Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit menular.

5) Riwayat Kebidanan

Menarche : 14 tahun

Lama : 7 hari

Siklus : teratur

Jumlah : 2x ganti pembalut

Warna : Merah segar

Dismenorhoe : (-)

HPHT : 22-6-2012
HPL : 29-3-2013

Hamil ke : Hamil pertama usia kehamilan 7 bulan

6) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas masa lalu

Hamil pertama kali

7) Riwayat kehamilan sekarang

ANC : 2 x di bidan desa

TT : 2 kali, pada umur kehamilan 12 minggu dan 20

minggu

Keluhan :

Trimester I : Mual dan muntah pada pagi hari

Trimester II : -

Trimester III : Ibu kadang merasakan perutnya kenceng-

kenceng

Kebiasaan :

Minum tablet Fe : Ibu jarang mengkonsumsi tablet Fe, karena

sering merasa mual dan ingin muntah serta tidak jarang merasa eneg

Minum alkohol : -

Minum jamu : -

Merokok : -

Obat-obatan bebas : -

2) Riwayat KB

Ibu pernah menggunakan alat kontrasepsi suntik.


b. Data Obyektif

1) Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : Lemah

Kesadaran : Composmentis.

TD : 110/70 mmHg

Nadi : 88 x/menit

Suhu : 360 C

BB : 43kg.

Tinggi badan : 150 cm.

Hb : 8,4 gr%

2) Pemeriksaan Fisik

Rambut : Bersih, hitam, lurus, tidak mudah rontok.

Mata : Conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Kepala : Bentuk mesocephal.

Hidung : Tidak ada sekret.

Telinga : Tidak ada serumen.

Lidah : Bersih.

Gigi : Tidak ada caries dentis

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid.

Dada : Simetris.

Abdomen : Tidak ada pembesaran hati dan lien.


Ekstremitas : Tidak oedem

3) Status Obstetrikus

1) Palpasi

Leopold I : Pertengahan pusat - procesus xyphoideus

Leopold II : Bagian kiri teraba bagian terkecil janin.

Bagian kanan punggung janin (PUKA)

Leopold III : Bagian terbawah teraba kepala.

Leopold IV : Bagian terbawah janin belum masuk PAP

(konvergen)

2) Auskultasi : DJJ (+) irama teratur, frekuensi 12-12-12

3) Perkusi : Reflek patella +/+

b. Tn.J

Kepala : mesocephale, kulit dan rambut bersih

Muka : tidak oedem, tidak pucat

Mata : conjunctiva tidak anemis, slera tidak ikterik

Hidung : tidak ada polip

Telinga : simetris, tidak ada oma/omp

Gigi mulut : tidak stomatitis, tidak ada caries

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid

Dada : tidak ada intraksi intercosta

Abdomen : tidak ada pembesaran hepar dan lien

Genetalia : tidak dilakukan


Ekstremitas : simetris, tidak ada oedem, tidak ada varices

TTV : TD : 120/80 mmHg S : 365oC

N : 80 x/menit RR : 20 x/mnt

c. Pemeriksaan An. S

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : compos mentis

Status Present

Kepala : mesocephale, kulit dan rambut bersih

Muka : tidak oedem, tidak pucat

Mata : sklera tidak ikterik

Hidung : tidak ada polip

Telinga : simetris, tidak ada oma/omp

Gigi mulut : tidak stomatitis, tidak ada caries

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid

Dada : tidak ada intraksi intercosta

Abdomen : tidak ada nyeri tekan

Genetalia : bersih

Ekstremitas : tidak oedem simetris

TTV : N : 92 x/mnt RR : 26 x/mnt

S : 365oC

d. Pemeriksaan An. E

Keadaan Umum : Baik


Kesadaran : compos mentis

Status Present

Kepala : mesocephale, kulit dan rambut bersih

Muka : tidak oedem, tidak pucat

Mata : sklera tidak ikterik

Hidung : tidak ada polip

Telinga : simetris, tidak ada oma/omp

Gigi mulut : tidak stomatitis, tidak ada caries

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid

Dada : tidak ada intraksi intercosta

Abdomen : tidak ada nyeri tekan

Genetalia : bersih

Ekstremitas : tidak oedem simetris

TTV : N : 92 x/mnt RR : 26 x/mnt

S : 365oC

VII. Harapan keluarga terhadap Asuhan Kebidanan Keluarga


Harapan keluarga dari masalah kesehatan diatas agar keluarga tahu bahwa

Ibu hamil mengalami anemia adalah tanggung jawab anggota keluarga

dan keluarga mau mengikuti anjuran yang diberikan Bidan

Sabtu, 16 november 2013

Heny Handayani
I. Analisa Data

Masalah kesehatan terutama kesehatan ibu hamil yang dialami oleh keluarga

Tn. J. disebabkan faktor ketidaktahuan tentang anemia dan ketidaktahuan ibu

terhadap makanan bergizi yang baik untuk ibu hamil. Hal yang berpengaruh

terhadap hal ini adalah adanya adat istiadat yang masih dianut oleh keluarga

akibat rendahnya pendidikan keluarga. Sebagai bidan langkah awal dalam

mengatasi permasalah yang dialami oleh keluarga Tn. J adalah memberikan

pendidikan kesehatan tentang anemia dan gizi bagi ibu hamil dan memotivasi

keluarga untuk berupaya memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan menyarankan

untuk mengabaikan pantangan makanan.

J. Perumusan Masalah

No Data Masalah
1 a. Tidak mengkonsumsi tablet besi Anemia dalam kehamilan

yang diberikan oleh bidan


b. Keadaan umum : lemah

c. Hb : 8,4%
2 a. Makan sesuai menu yang ada di Kurangnya pengetahuan

rumah tentang gizi

b. Masih percaya pada mitos dengan

melakukan pantangan makanan

K. Prioritas Masalah

a. Anemia dalam kehamilan

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran


1 Sifat masalah 1/3 X 1 1/3 Anemia sedang dapat
- Krisis
berbahaya bagi

kehamilan ibu, tidak

hanya itu kondisi janin

dalam kandunganpun

terancam dapat

menimbulkan abortus

dan masalah lain


2 Kemungkinan 1/2 X 2 1 Pemberian pendidikan

masalah dapat kesehatan tentang

diubah anemia adalah langkah


- Cukup
awal dan memotivasi ibu

untuk mengkonsumsi
tablet Fe sesuai aturan

akan membantu

mengatasi masalah

anemia yang dialami

oleh ibu
3 Potensi masalah 3/3 X 1 1 Keluarga ingin ibu hamil

untuk dapat sehat karena ini

dicegah kehamilan pertama yang


- Tinggi
dinanti oleh seluruh

keluarga
4 Menonjolnya 2/2 X 1 1 Kondisi Ny. W harus

masalah betul-betul disehatkan


- Masalah

dirasakan dan

harus segera

diatasi
Total Skor 3 1/3

b. Kurangnya pengetahuan tentang gizi

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran


1 Sifat masalah 2/3 X 1 2/3 Pengetahuan yang kurang

- Ancaman menyebabkan keluarga

kesehatan masih menjalankan mitos

yang salah tentang


masalah gizi dan tidak

mampu mengelola gizi

yang baik bagi ibu hamil


2 Kemungkinan 1/2 X 2 1 Memberikan pendidikan

masalah dapat kesehatan tentang

diubah kesehatan dengan metode

- sebagian yang tepat akan

meningkat pengetahuan

keluarga tentang gizi ibu

hamil
3 Potensi masalah 3/3 X 1 1 Dengan memberikan

untuk dapat pengertian tentang

dicegah masalah gizi keluarga

- Tinggi akan termotivasi untuk

segera memperbaiki pola

konsumsi gizinya
4 Menonjolnya 0/2 X 1 0 Keluarga tidak menyadari

masalah adanya masalah

- Masalah

dirasakan dan

harus ditangani
Total skor 2 2/3
Berdasarkan pembobotan masalah diatas maka urutan prioritas masalah

kesehatan dan keperawatan pada keluarga Tn. J. dapat disusun sebagai

berikut :

a. Prioritas I : Anemia pada kehamilan

b. Prioritas II : Kurangnya pengetahuan tentang gizi.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengkajian Data

Pengkajian adalah tahap awal dari proses asuhan kebidanan komunitas

dimana bidan mulai mengumpulkan informasi tentang keluarga yang dibinanya.

Pada asuhan kebidanan keluarga Tn. J pengkajian data dilakukan dengan proses

wawancara, pengamatan, pemeriksaan terhadap tanda-tanda vital. Pada langkah

ini penulis tidak menemukan hambatan apapun karena semua anggota keluarga

sangat kooperatif. Dari data yang terkumpul diperoleh rumusan masalah yaitu

adanya Ny. F ibu hamil usia 36 tahun dengan usia kehamilan 7 bulan anemia

sedang dan kurangnya pengetahuan keluarga tentang gizi.

B. Interpretasi Data

Diagnosa kebidanan keluarga adalah keputusan tentang respon keluarga

tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi

untuk mencapai tujuan asuhan kebidanan keluarga sesuai kewenangan bidan.

Tahap langkah ini adalah :

1. Kurangnya pengetahuan tentang gizi

Diagnosa :

Data subyektif :

1) Sasaran (istri) menyatakan makan 3x sehari, porsi satu piring (terkadang

tidak habis)
2) Sasaran (istri) menyatakan makan dengan menu yang ada seperti nasi,

lauk (tahu, tempe), ikan (jarang) dan sayur.

3) Ny. F menyatakan masih percaya pada mitos berpendapat bahwa hamil

tidak boleh mengkonsumsi telur.

2. Anemia pada kehamilan

Ny. F usia 36 tahun, hamil ketiga dengan usia kehamilan 7 bulan mengalami

anemia sedang

a. Data subyektif :

1) Sasaran (istri) menyatakan jang mengkonsumsi tablet besi yang

diberikan kepadanya oleh bidan dengan alasan eneg dan terasa mual

pingin muntah.

2) Sasaran (istri) menyatakan sering mengalami pusing dan mata

berkunang-kunang.

b. Data obyektif :

Keadaan umum : Lemah

Tekanan darah: 110/70 mmHg

Hb : 8,4 gr%

C. Diagnosa Masalah Potensial

Pada teori diidentifikasi diagnosa dan masalah potensial dari diagnosa dan

masalah yang telah teridentifikasi. Melihat permasalahan yang telah ditemukan

penulis dalam pengkajian data dan telah dilakukan interpretasi data. Penulis

menemukan diagnosai masalah potensial yaitu Masalah pengetahuan yang


kurang tentang gizi akan semakin memperburuk kondisi anemia pada kehamilan

yang dialami oleh Ny. F

Pada proses ini penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan

praktik di lapangan dimana penulis telah menentukan identifikasi

diagnose/masalah potensial sesuai diagnose dan masalah yang telah

teridentifikasi.

D. Antisipasi Diagnosa Masalah Potensial

Antisipasi digunakan untuk identifikasi kebutuhan yang memerlukan

penanganan segera. Dari identifikasi diagnosa/masalah potensial yang ada maka

antisipasi/kebutuhan tindakan segera yang harus dilakukan penulis adalah

memberikan pendidikan kesehatan akan membantu meningkatkan pengetahuan

tentang gizi dan meminta ibu mengkonsumsi tablet besi serta membawa ke

Puskesmas untuk memperoleh pemeriksaan lebih lanjut..

E. Intervensi

Perencanaan adalah bagian dari fase pengoranisasian dalam proses asuhan

kebidanan keluarga yang akan diberikan kepada keluarga intensif/resiko tinggi.

Adapun penetapan intervensi disesuaikan dengan kriteria dan standar yang ada

yaitu berfokus pada keluarga, singkat dan jelas, dapat diobservasi dan diukur

serta realistik. Sesuai kriteria dan standar intervensi yang diberikan kepada

keluarga Tn. J. sebagian besar berfokus pada anjuran atau saran dan pemberian

pendidikan kesehatan dan paling utama adalah membawa Ny. F ke Puskesmas

untuk memperoleh pemeriksaan lebih lanjut mengenai kondisi kehamilannya.


F. Implementasi

Pengelolaan dan perwujudan dari rencana (intervensi) yang telah disusun.

Langkah disesuaikan dengan teori yang ada, yang mengacu pada langkah

intervensi. Dimana pada langka ini bidan memberikan pendidikan kesehatan

tentang gizi dan anemia kehamilan, memberikan motivasi untuk menyediakan

gizi yang baik baik keluarga terutama ibu hamil, memotivasi ibu hamil untuk

mengkonsumsi tablet besi dan membawa Ny. F ke Puskesmas.

G. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana tentang

keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hasil asuhan kebidanan diperoleh

bahwa semua tindakan dapat dilaksanakan dengan lancar berkat antusiasme dan

kerjasama yang baik dari keluarga Tn. J, bahwa keluarga Tn. A. akan

melaksanakan semua anjuran bidan dan mengerti semua pendidikan kesehatan

yang diberikan.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pengkajian data Keluarga Tn. J ditemukan masalah gizi dan Ny. F. ibu hamil

dengan anemia sedang.


2. Interpretasi data yaitu kurang pengetahuan tentang gizi dan Ny. F. ibu hamil

dengan anemia sedang.


3. Diagnosa potensial diperoleh masalah Tn. J, kurang pengetahuan tentang

gizi dan Ny. F. ibu hamil dengan anemia sedang.


4. Antisipasi diagnosa masalah potensial yaitu pemberian pendidikan kesehatan

tentang gizi dan Ny. F. ibu hamil dengan anemia sedang.


5. Intervensi yang diberikan difokuskan dengan pemberian anjuran atau saran

kepada keluarga Tn. J, pemberian pendidikan kesehatan tentang gizi,

memberikan tablet Fe dan memotivasi menyediakan gizi bagi keluarga

khususnya ibu hamil serta membawa Ny. F ke Puskesmas.


6. Implementasi yaitu memberikan pendidikan kesehatan tentang gizi,

memberikan tablet Fe dan memotivasi menyediakan gizi bagi keluarga

khususnya ibu hamil.


7. Evaluasi dilakukan dengan hasil keluarga mengerti dengan penyuluhan

kesehatan yang diberikan dan melaksanakan anjuran yang diberikan.

B. Saran

1. Bagi Bidan Setempat


Dapat digunakan untuk menambah wawasan, kajian dan literatur petugas

kesehatan setempat dalam memberikan dan meningkatkan pelayanan yang

bermutu bagi masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan

masyarakat dan untuk memberikan penyuluhan.

2. Bagi Masyarakat

Sebagai sumber informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan

serta memperluas pola pikir dan sudut pandang masyarakat khususnya

tentang perawatan pada kehamilan dengan anemia sedang.


DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Eny Retna dan Rismintari, Y. Sriati. 2010. Asuhan Kebidanan

Komunitas, plus contoh Askeb. Yogyakata : Numed

Andarmoyo, Sulistyo. 2012. Keperawatan Keluarga, Konsep Teori, Proses dan

Praktik Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu

Ambarwati, Eny Retna dan Rismintari, Y. Sriati. 2010. Asuhan Kebidanan

Komunitas, plus contoh Askeb. Yogyakata : Numed

Andarmoyo, Sulistyo. 2012. Keperawatan Keluarga, Konsep Teori, Proses dan

Praktik Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu

Depkes RI. 2008. Riskesda.(Riset Kesehatan Dasar) 2007. Jakarta : Badan Penelitian

dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI tahun 2007

Dermawan, Deden. 2012. Buku Ajar Keperawatan Komunitas. Yogyakarta : Gosyen

Publishing

Depkes RI. 2010. Kecenderungan Masalah Gizi dan Tantangan di Masa Datang.

Jakarta.

Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2010. Laporan Riskesda Jawa Tengah.

Jhonson dab Leny, R. 2010. Keperawatan Keluarga Plus Contoh Askep Keluarga.

Yogyakarta : Numed
Manuaba, I Gde. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, edisi 2. Jakarta :

EGC

Manuaba Ida Bagus Gde. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga

Berencana, Edisi Revisi. Jakarta : EGC.

Notoatmodjo, Soekidjo. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT

Rineka Cipta.

Pudiastuti, Ratna Dewi. 2012. Buku Ajar Kebidanan Komunitas teori dan aplikasi

dilengkapi contoh Askeb. Yogyakarta : Numed

Saifuddin Abdul Bari, dkk, 2008. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.

Jakarta : JNPKKR-POGI, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Setiadi. 2008. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Jakarta : Graha Ilmu

Soebroto, Ikhsan. 2009. Cara Mudah Mengatasi Problem Anemia. Yogyakarta :

Bangkit

WHO. 2009. Anemia Testing in Population-Based Surveys. Geneva

Winkjosastro Hanifa. 2008. Ilmu Kebidanan, Edisi 3, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo.