GEROBAK MBAH GLEYOR

Ini cerita yang ada di desa saya sendiri. Tepatnya saya tinggal di salah satu rumah yang ada di
jalan Glinding. Di jalan glinding itulah, Mbah Gleyor diparkir disebelah kiri jalan, pada
tempat yang sepertinya tak dihuni.

Konon katanya tahun 80an, sedikit terbuka pintu gedegnya sehingga siapapun yang lewat,
tentu akan mengintip apa yang ada didalamnya. Saya biasanya bisa melihat itu, jika hendak
berenang di sebuah sumber air/ kolam renang tradisional yang tak jauh lokasi Mbah Gleyor.
Dan bisa dipastikan, sepulang dari mandi berenang itulah pertanyaan dan tanya demi tanya
selalu muncul. Sesampai dirumah kakek nenek, saya menanyakannya kepada siapapun yang
ada dirumah. Namanya anak kecil, nanya tidak pernah bosan dengan pertanyaan yang sama.
Kakek bertutur, bahwa yang ada dalam bangunan yang saya sebut menyeramkan itu adalah
Mbah Gleyor. Bukan makam seorang mbah – mbah (kakek kakek), tapi sebuah gerobak kayu.
Konon katanya gerobak kayu itu adalah kendaraan Bupati Kediri abad 18an. Lalu mengapa
terdampar di desa ini? Kakek menjelaskan, waktu itu sang Bupati meninggalkan pendopo-nya
di Kediri dengan mengendarai gerobak beroda kayu itu, berusaha meloloskan diri dari
kejaran tentara Belanda.

Sayangnya di sebuah tempat yang tak jauh gerobak itu diparkir, sang Bupati itu tertangkap.
Maka, gerobak kayu itu sampai kini terdapat dan diamankan di desa ini. Sambil masih
penasaran, saya terus bertanya, “ Kek, kenapa gerobak kayu itu masih disimpan dan
dirawat?”. Kakek saya menjawab, “Gerobak kayu itu diyakini menjadi bagian perjalanan
sejarah adanya desa ini. Sang Bupati yang terpaksa berhenti dan dihentikan pelariannya oleh
tentara tadi, meninggalkan nama desa kita ini”. Saya makin tidak mengerti dengan penjelasan
kakek. Ia meneruskan berkisah. Gerobak kayu Bupati Kediri, terhenti disebuah tempat yang
saat itu masih semak belukar dan hutan belantara.

Pengikutnya menyebut tempat terhentinya pelarian itu dengan menyebut istilah “KANDEG”.
Kandeg adalah bahasa Jawa untuk menyebut turunan dari kata “mandeg” yang artinya adalah
berhenti. Sedang “kandeg” artinya adalah terhenti, atau dihentikan. Kelak kata “kandeg” itu
menjadi “Kandat”. Kata “Kandat”, saya baru mengerti dan menyadarinya bahwa kata kandeg
yang berubah pengucapannya oleh kebanyakan orang itu menjadi kata “Kandat”, yang kini
menjadi nama desa tempat saya lahir. Pantas saja bila gerobak tadi dirawat oleh warga desa.
“Tapi mengapa kek, sang Bupati tadi dikejar kejar tentara Kompeni Belanda?”, saya kembali
bertanya. Kakek kembali menjelaskan bahwa, sang Bupati konon difitnah telah membunuh
seorang pimpinan pabrik gula di Kediri. Sang Bupati memang terkenal sangat sangat tidak
mau diajak kerjasama dengan Belanda sang penjajah.

Ia tidak mau menyerahkan tanah diwilayahnya untuk perkebunan tebu, demi kepentingan
pabrik gula milik Belanda. Maka ia melakukan serangkaian pembangkangan dan perlawanan.
Karena dianggap tidak kooperatif, dan terjadilah peristiwa terbunuhnya sang pimpinan pabrik

gula itu entah oleh siapa pelakunya, maka ditimpakan kepadanya, bahwa Bupati Kediri lah
yang membunuh. Karena ia merasa tidak melakukannya, maka ia melawan. Karena
persenjataan dan bala prajurit yang sangat sedikit, maka ia memilih untuk melarikan diri ke
arah selatan Kediri, dimaksudkan untuk kembali menyusun taktik untuk suatu saat melakukan
perlawanan. Malangnya, takdir berbicara lain. Ia tertangkap dan dibuang ke Manado di
Sulawesi hingga ia meninggal dan dimakamkan disana. Karenanya ia juga disebut sebagai
Kanjeng Manado.

Setidaknya, itu adalah kisah yang pernah saya dengar berulang ulang sejak kecil hingga masa
kanak-kanak di Kandat Kediri. Tak hanya cerita dari kakek, tapi juga pada orang orang sepuh
semua memiliki kisah cerita yang sama dalam menuturkannya. Saya sendiri tak pernah bisa
melihat wujud Mbah Gleyor. Sampai tahun 80an, gerobak yang dijuluki mbah gleyor itu
adanya dalam bangunan kecil sempit yang ‘menyeramkan’. Ternyata dibalik semua kisah itu
ada yang lebih menyeramkan, Bupati yang gagah berani melawan penjajah.

MBAH GLEYOR : DARI MENYERAMKAN, MISTIS, KLENIK HINGGA JADI OBYEK
WISATA
Hingga menginjak tahun 90an, saya masih melihat betapa Mbah Gleyor hampir tak ada
bedanya dengan nasib si mbah tahun 70-80an. Bangunan yang suram, kelihatan apa adanya,
dirawat oleh seorang juru kunci, seadanya pula. Hanya warga desa Kandat yang peduli
dengan nasib si Mbah Gleyor. Jangan harap pada pemerintah. Tentu tak akan berpengaruh
pada pemerintahan. Tak menghasilkan uang, malah justru membutuhkan uang sebagai dana
perawatannya.

Perlakuan yang sangat berbeda bila pemerintah merawat situs berbahan batu, misal candi dan
situs purbakala lain, yang sudah jelas juntrung sejarahnya. Mungkin anggapan pemerintah,
Mbah Gleyor dan Sang Bupati hanya sekadar legenda, tak ada artefak tertulisnya atau apapun
yang bisa jadi rujukan. Jadi untuk apa diperhatikan khusus oleh pemerintah. Toh masih
banyak persoalan penting lainnya yang harus terperhatikan, misalnya nasib rakyat jelata.
Tahun 90an itulah, untuk kali pertama saya bisa melihat langsung wujud dan bentuk Mbah
Gleyor. Dengan meminta ijin pada si juru kunci/ kuncen, atau orang yang dipercaya untuk
merawat si Mbah Gleyor.

Dag dig dug juga dada ini, ketika mulai masuk ke bangunan sederhana berupa rumah
rumahan berdinding gedeg yang sebagiannya tembok bata dan berlantai ubin. Si kuncen
mengisahkan, sebuah cerita yang hampir sama dengan yang pernah dikisahkan kakek kepada
saya puluhan tahun silam. Memasuki rumah rumahan tempat mbah gleyor, pada siang hari
kala itu sudah tak menyeramkan lagi. Malah yang terkesan adalah ‘keramat’. Bisa jadi, tahun
80-90an kala judi togel masih menjadi kegemaran masyarakat, banyak yang datang ke tempat
itu untuk mencari kode nomer buntut.

Banyak diantara mereka malah melakukan tindakan yang disebut dengan istilah ‘nepi’,
berdiam diri semalam suntuk. Sebuah anglo/perapian dengan arang dan kebulan asap
kemenyan adalah buktinya. Meski kala itu siang, aroma dan sisa sisa pembakaran kemenyan

Itu adalah gambaran yang terjadi tahun 90an awal hingga pertengahan. demikianlah yang terjadi pada mbah gleyor. Nama "gleyor" diambil dari istilah bahasa Jawa “gleyar-gleyor”. menjadi tujuan wisata. Mungkin sangat tak berharga bagi Bupati jaman sekarang. Sang Bupati berhadil ditangkap tentara Belanda dan dibuang serta diasingkan ke Manado. yang turut menggeser cara pandang masyarakat awam terhadap benda benda yang dulunya ‘dikeramatkan’ menjadi tidak demikian adanya. melainkan Imam Muhadi. Bahkan tersebutkan bahwa Ki Nala termasuk salah seorang yang ‘babad alas’ untuk . jika dibandingkan dengan tempat duduk di mobil atau andong. Kini. Ki Nala kembali ke wilayah Kandat untuk merawat gerobak sang majikan hingga akhir hayatnya. memang hanya sebuah gerobak kayu yang menjadi kendaraan bagi Bupati Kediri jaman dulu. Dibangunkan rumah rumah- an khusus sebagai pelindung untuk Mbah Gleyor. Bayangkan. tentu tidak masuk akal. sedang istri Bupati beserta anggota keluarga lainnya berhasil diamankan oleh Ki Nala. sang kusir gerobak kayu “Mbah Gleyor”. Didepannya pun berdiri sebuah mushala. masuk wilayah Kabupaten Blitar. atau berjalan dengan tidak lurus. Seiring dengan perjalanan waktu. Lalu apa kaitannya Mbah Gleyor dengan Imam Muhadi. yang berarti belak-belok. disebutkan bahwa Mbah Gleyor kendaraan yang digunakan untuk melarikan diri itu adalah kendaraan Bupati Kediri Djojohadiningrat*. banyak yang datang ke lokasi karena memang ingin mengetahui dan membuktikan sendiri kemasyuran mbah gleyor si gerobak kayu yang tetap awet meski sudah hampir berusia dua abad. petilasan mantan Bupati Kediri ini dipugar. atau setidaknya masyarakat umum yang memang ingin mengetahui keberadaan si mbah gleyor. Tahun 2000an awal. jika Bupati jaman sekarang harus menggunakan gerobak itu. tampak jauh lebih sempit. oleh Ki Nala disembunyikan di daerah Slemanan. Karena. layaknya mini pendopo. semuanya makin berubah total.dan baunya masih tercium hidung telanjang ini. Istri Bupati dan dan keluarga yang diamankan tadi. Bergeser menjadi kunjungan ‘penasaran’ khususnya bagi mereka yang minat akan kisah kisah besar dimasa lampau. Dari telisik yang pernah saya lakukan hingga 2008 lalu. Sudah tak ada lagi mereka yang datang untuk kepentingan klenik dan berbau mistis lagi. mantan Bupati Blitar yang pernah tersandung kasus korupsi. Setidaknya wisata local. persis di selatan wilayah Kandat. Semenjak sembilan puluhan akhir. Ini karena roda yang terbuat dari kayu utuh itu berputar bersama asnya. yang pernah menjabat Bupati Blitar itu? Mbah Gleyor hanya sebutan untuk gerobak kayu yang kini telah berusia hampir dua abad. Setelah upaya pengamanan keluarga Bupati Djojihadiningrat ke daerah Slemanan usai. Melihat ruang penumpang yang ada. MBAH GLEYOR : DIPUGAR MANTAN BUPATI BLITAR Mbah Gleyor. tentu pejabat sekarang lebih baik naik mobil dinas yang representative bagi jabatannya. Anehnya yang membangun rumah rumahan itu bukan pemerintah Kabupaten Kediri.

tapi ada baiknya bila Pemkab mengambil langkah konstruktif untuk mewujudkannya. didesainkan pula sebuah souvenir berupa miniatur Mbah Gleyor yang bisa dibeli oleh para pengunjung. banyak wisatawan datang ke lokasi. Jauh dari hal itu. tersebutlah kala itu tahun 1950-an. gerobak kayu ini menurut beberapa versi ditarik oleh sepasang banteng. dengan upaya promosi yang maksimal dan ekspose yang berkelanjutan disejajarkan dengan promosi potensi wisata lainnya di wilayah Kabupaten Kediri. Upaya itu bisa dengan melakukan pemugaran gerobak kayu yang mulai keropos pada banyak bagian bagiannya. sebenarnya ada sebuah ketauladanan yang di bisa dipetik bagi generasi masa kini dari kisah sang Bupati dan Mbah gleyor-nya. Mbah Matal adalah seseorang yang menjadi juru rawat/kuncen gerobak kayu.kemudian hadi tempat itu dikenal dengan sebutan Kandat. rasanya tidak-lah salah. Atau mungkin kini telah dilakukan? Terbayangkan oleh saya. agar kelak tak tertelan oleh kisah kisah baru seiring perjalanan waktu. Sementara kisah lainnya ditarik oleh sepasang kerbau jantan yang besar besar. Pun demikian. Entah mau digolongkan dalam potensi wisata apa. Apakah karena Imam Muhadi yang pernah jadi Bupati Blitar itu berasal dari Slemanan atau ada hubungan pertauatan keturunan dengan Bupati Kediri. . pula misalnya dibuat t-shirt dengan gambar utama Mbah Gleyor. Gayung bersambut. Sudah sepantasnya. tentu dengan penanganan ahli dibidangnya. Menurut keterangan yang saya himpun. mendapat perhatian dari pemerintahan dimana lokasi tersebut berada. ialah mengenai pemindahan Mbah Gleyor ke lokasi sekarang. Dikisahkan. dan terhubung dengan jalan poros utama Kediri – Blitar. lalu mereka bisa membaca beragam kisah mengenai keberadaan Mbah Gleyor dan sang bupati-nya dalam bentuk display atau selebaran. lalu ia rela membangun mini pendopo rumah rumahan untuk Mbah Gleyor? Tak ada data mengenai hal tersebut. Dulunya gerobak kayu ini berada di jalan bagian utara (sekarang jalan Watu Gede). MBAH GLEYOR : SEHARUSNYA (JADI) OBYEK WISATA Gerobak kayu yang disebut Mbah Gleyor. lalu dipindahkan ke lokasi yang sekarang diselatannya disebut dengan jalan Glindhing. demi rakyat yang dipimpinnya. upaya menuliskan kisah dengan merujuk kepada nara sumber yang sahih menjadi keharusan. semangat untuk melakukan perlawanan kepada pihak penjajah. Satu diantaranya adalah. Lalu. juga mendapat nama sebutan lain yaitu “Glinding”. namun sebenarnya bermaksud untuk menguasai. atau dibuatkan khusus buku legenda mengenai hal itu. Ada lagi sebuah kisah mengenai kemasyuran Mbah Gleyor yang hingga kini juga saya catat. manakala itu berkedok kerjasama. Keberanian dalam melakukan tindakan inilah yang seharusnya menginspirasi bagi siapa saja untuk bertindak kebajikan. Jalan desa tepat yang berada didepannya kini telah beraspal. selain segudang kisah masa lalu si Mbah Gleyor dan Bupati-nya yang menjadi konsumsi kisah turun temurun warga Kandat. Sebenarnya bukan masalah sebuah upaya eksploitasi yang dituangkan dalam beragam souvenir dan cindera mata-nya. jika kelak sudah dilakukan restorasi.

percaya atau tidak. Bukankah. bisa dijadikan instropeksi diri bagi peyelenggara pemerintahan untuk melayani masyarakatnya dengan baik. masyarakat desa dan kecamatan Kandat menumpukan pada pemerintah Kabupaten-nya. tetap saja tidak mau bergerak. . merawat dan meneladani kisah perjalanan sang bupati ini sama halnya sebuah perbuatan baik? Pengakuan memang mahal harganya. Mbah Gleyor makin terperhatikan dan bisa diawetkan. Saya hanya berharap. Akhir cerita. sebuah kuasa Gusti Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Upaya pemindahan telah dilakukan dengan menggunakan dua ekor kerbau. maka jika pemkab Kediri mampu menyiapkan team ahli untuk melakukan telisik lebih mendalam mengenai kisah legenda Mbah Gleyor dan Bupati-nya. jalan bekas yang dilewati Mbah Gleyor hingga kini tidak ditumbuhi rumput. gerobak kayu bisa bergeser. Saya telah melihatnya sendiri. Anehnya lagi. Siapa yang melakukan? Sudah barang tentu. hikmah kisah yang terkandung dalam perjalanan kisahnya sendiri. namun herannya tak semeterpun. menjadi sebuah pembelajaran di masa datang bagi generasi penerus. Moment hari jadi. Subhanallah. 25 Maret 2011 adalah hari jadi Kabupaten Kediri ke 1207. sangatlah bijak. MBAH GLEYOR & HARI JADI KABUPATEN KEDIRI Kemarin. mbah matal sendiri menarik gerobak itu dengan dibantu sang istri. Dibantu dengan didorong oleh beberapa orang warga desa.Ia berfirasat agar gerobak itu dipindahkan ke lokasi sekarang. justru bisa melakukannya.

.

Perkonomian dikuasai oleh Belanda dan diperlakukan pajak yang tinggi. bagian kepalanya itulah. dia merampok harta para pejabat Belanda. Ada yang menyebutkan bahwa kyai Gentiri tidak lain adalah Ki Boncolono yang bagian tubuhnya dimakamkan di Bukit Maskumambang. Adapun kisah Ki Boncolono dari penuturan warga merupakan tokoh legenda yang dimana hidup di jaman penjajahan Belanda. maka para konglomerat bersekongkol untuk menamatkan riwayat Maling Gentiri. Dipuncak bukit Maskumambang selain makamnya Ki Boncolono terdapat juga dua buah makam lagi yaitu makamnya Tumenggung Mojoroto dan . Akhirnya setelah membuat rencana dengan bantuan pendekar pribumi. Sebelum dia hidup lagi. Mereka memberi tahu bahwa Ki Boncolono harus dipenggal. tubuhnya dipotong jadi dua.tubuh pencuri budiman itu lalu dipotong-potong dan dikubur terpisah di beberapa tempat. KI BONCOLONO (Lost Hero From Kediri) Maling Gentiri merupakan sosok tokoh yang disukai oleh kalangan orang miskin. Belanda merasa geram dan marah. Bagian bawahnya di kubur di bukit Maskumambang. Akhirnya Ki Boncolono tertangkap dan dibunuh. Kota Kediri. Menurut kisahnya Maling Gentiri memiliki Ilmu Ajian Pancasona (mirip kisah Rahwana dan kisah dalam Angling Darma versi televisi swasta). Mereka berupaya sekuat tenaga agar Maling Gentiri bisa diakhiri. Hasil buminya selalu dirampas jika tidak mau bayar pajak . Hasilnya dia bagikan kepada rakyat jelata. Dia marah melihat kelakuan Belanda tersebut akan ketidak adilannya. desa Banjaran. Dengan usaha yang selalu gagal. karena Maling Gentiri berkali-kali tertangkap. Biarpun ditembak dibunuh dan diapapun juga Ki Boncolono tidak bisa mati. dia bisa hidup lagi ketika tubuhnya menyentuh tanah. Ketika Maling Gentiri tertangkap untuk kesekian kalinya. Belanda akhirnya putus asa dan mengadakan sayembara dengan hadiah yang sangat besar untuk menangkap atau membunuh Ki Boncolono. yang terletak di dekat mall Sri Ratu.yang diyakini dikubur di lapangan Ringin Sirah. Setiap terkepung. Untuk makan saja mereka harus membeli kepada Belanda. kepala dan tubuhnya harus terpisah dan dikuburkan pada tempat yang terpisahkan oleh sungai. Kalau bukit Maskumambang terletak di barat sungai Brantas.Merekapun menjadikan Maling Gentiri sebagai buronan nomor satu di wilayah Kediri dan sekitarnya. Ki Boncolono hanya merapatkan diri pada salah satu tiang atau tembok atau pohon dan hilanglah dia. Masyarakat Kediri hidup dalam kemiskinan dan ketertindasan. Beberapa orang yang tahu kelemahan ilmu Ki Boncolono mendatangai Belanda. Ilmu ini sebuah ilmu kadigdayan yang memungkinkan pemiliknya hidup kembali meski berkali-kali dibunuh.akhirnya menemukan titik kelemahan sang pendekar. namun dibenci para konglomerat jaman dulu. Tetapi dengan kesaktian Maling Gentiri membuat para konglomerat kewalahan dan putus asa. segala upaya mereka lakukan untuk meringkus Ki Boncolono. Dengan kesaktiannya dibantu oleh Tumenggung Mojoroto dan Tumenggung Poncolono beserta murid-muridnya yang tentu saja sakti-sakti.asal raganya tetap menyatu dan darahnya tidak menyentuh tanah. Kediri. Sedangkan bagian atasnya (kepalanya) di kubur di "Ringin Sirah". Tetapi usahanya selalu gagal. Hal ini lah menggugah hati Ki Boncolono. Belanda melaksanakannya dengan cermat.tidak pernah bisa dihabisi. maka Ringin Sirah terletak di timur sungai Brantas.

dan di lapangan itu terdapat pohon beringin dengan ukuran cukup besar (sampai sekarang ini pohon beringinnya masih ada dan bisa dilihat). Tepatnya di sebelah selatan Kediri Mall/Sri Ratu. hingga akhirnya dia meninggal dan dimakamkan di Ds. Semoga bisa menjadi panutan di masa kini. di jaman penjajahan Belanda. Kecamatan Ponggok. maka Kediri juga sosok Pahlawan "Robin Hood" yang terkenal karena kesaktiannya dan suka menolong orang lemah. Hasil buminya selalu dirampas jika tidak mau bayar pajak . Untuk makan saja mereka harus membeli kepada Belanda. Daerah Blora. Bila kamu pernah mengunjungi Kota Kediri.terkait legenda Ringin Sirah. Kecamatan Jepon. Hal ini mengingatkan akan kisah dari Sunan Kalijaga sebelum menjadi Wali. Kisah Maling Gentiri (Ki Boncolono) ini di Kalangan Masyarakat Dukuh Kawedusan. Hasilnya dia bagikan kepada rakyat jelata. Hal ini menggugah hati Ki Boncolono. Dimana telah menjarah pangan di Kadipaten Tuban.makamnya Tumenggung Poncolono. dia merampok harta para pejabat Belanda. Dia marah melihat kelakuan para meneer. lapangan tersebut oleh warga Kota Kediri sering disebut Lapangan Joyoboyo). Joyoboyo. Kabupaten Blitar disebut dengan Maling Aguno(Sakti) saja yang juga memiliki sifat kearifan terhadap masyarakat yang lemah. . ketidak adilan telah mengusik hati Ki Boncolono. dia ditakuti tapi juga dikagumi dan senantiasa ditunggu tunggu kedatangannya.Jl. Kisahnya bahwa Gentiri adalah putra dari Kyai Ageng Pancuran yang saat hidupnya mempunyai kesaktian tinggi. Bukan tanpa sebab kawasan itu bernama Ringin Sirah. Kecamatan Jepon. Dahulu kala. Hayam Wuruk . Kalau di Cina ada Wong Fei Hung. Dengan perjalanan sejarah yang panjang akhirnya Maling Gentiri sadar dan semua perbuatan yang melanggar hukum dia tinggalkan. Kontan namanya menjadi harum di kalangan masyarakat. tempat ayahnya berkuasa guna untuk dibagikan kepada masyarakat yang lemah dan membutuhkan dan Kisah dari Si Pitung dari Batavia Mungkin banyak anak Kediri yang tidak mengetahuinya. Padahal itu hasil jerih payah mereka sendiri. lapangan itu memang terkait erat dengan sebuah kisah tentang "sirah" atau kepala. Sungguh mulia. pasti pernah melintasi kawasan Ringin Sirah. Kawasan ini terletak di pusat kota. Di lokasi ini. Jawa Tengah. suka menolong kepada oorang yang sedang kesusahan. orang yang tidak mampu dan sebagainya. persis di depan Joyoboyo Trade Centre. persis di perempatan Jl. Maling Gentiri dijuluki Ratu Adil yang dianggap sebagai tokoh yang suka mengentaskan rakyat dari kemiskinan. Hal ini tidak berbeda juga dalam kisah masayarakat di Desa Kawengan. Akhirnya Gentiri suka mencuri (maling) namun bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain yang sedang kesusahan. terdapat sebuah lapangan yang cukup luas (kini. Dengan kesaktiannya dibantu oleh Tumenggung Mojoroto dan Tumenggung Poncolono beserta murid-muridnya yang tentu saja sakti-sakti. Kawengan. Meski berada dipusat keramaian. namun lapangan ini menyimpan sebuah misteri . Perekonomian dikuasai oleh Belanda dan diperlakukan pajak yang tidak masuk akal. Masyarakat Kediri hidup dalam kemiskinan dan ketertindasan. Desa Kawedusan. karena menurut keyakinan turun- temurun warga kota maupun warga kabupaten Kediri.

Singkat cerita. Maklumlah saja. Para konglomerat berupaya sekuat tenaga menangkap hidup-hidup atau mati Maling Gentiri. melainkan hasilnya dibagikan pada warga miskin. tidak pernah bisa dibunuh/mati. Maling Gentiri memang sosok maling budiman di zaman Kediri kuno. tetapi kawasan itu tetap dikeramatkan oleh sebagian warga Kediri dan menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Ia merampok harta orang kaya. bukan semata-mata demi kepentingannya sendiri. Tentunya kiprah Maling Gentiri ini disukai oleh orang miskin dan dibenci orang kaya (konglomerat) waktu itu. sedangkan Sirah adalah kepala manusia. Maling Gentiri memiliki aji pancasona. di lapangan itulah makam seorang tokoh legendaris Kediri berjuluk "Maling Gentiri". Sampai sekarang ini pun. sebuah ilmu kadigdayan yang memungkinkan pemiliknya hidup kembali meski berkali-kali dibunuh. Sehingga meski telah bersentuhan dengan suasana modern lingkungan sekitarnya. Tapi karir Maling Gentiri dibidang mencuri. . yang diyakini warga Kediri dikubur di kawasan Lapangan Joyoboyo dibawah pohon beringin. tubuh pencuri budiman itu lalu dipotong-potong dan dikubur terpisah di beberapa tempat untuk menghindari dia hidup kembali. akhirnya menemukan titik kelemahan sang pendekar. Maling Gentiri merupakan tokoh pencuri yang memiliki kesaktian "sundul langit" alias sakti mandraguna. Merekapun menjadikan Maling Gentiri sebagai buronan yang paling dicari. para konglomerat yang ingin menamatkan riwayat Maling Gentiri. Karena meskipun Maling Gentiri berkali-kali tertangkap. kawasan itu masih dipercaya sebagai kawasan yang "wingit" (angker). Menurut cerita "wong tuwo-tuwo mbiyen" (orang tua-tua dahulu). Dan bagian kepalanya itulah. lalu diberikan pada orang "kere" (miskin). dengan syarat raganya tetap menyatu dan darahnya tidak menyentuh tanah. Akan tetapi kesaktian Maling Gentiri membuat para konglomerat itu "keder" (takut). Ketika Maling Gentiri tertangkap untuk kesekian kalinya. Sehingga kawasan ini disebut Ringinsirah. Ringin berarti Pohon Beringin.

.

. Andri (22 th) salah satu pengunjung dari Pasuruan bersama 8 temannya mengatakan bahwa sangat senang dan berkesan dengan acara Ritual Sesaji Kelud yang diselenggarakan oleh warga Kediri. Sebagaimana dibacakan oleh Bp. Pasuruan. tidak hanya warga sekitar Kabupaten Kediri saja. Selanjutnya dengan ungkapan rasa syukur tersebut akan diberikan perlindungan dan keselamatan dari segala mara bahaya serta diberikan kenikmatan dan kemakmuran oleh Allah SWT. Kegiatan ini merupakan suatu bentuk kearifan budaya lokal yang bercermin pada salah satu Legenda Kediri yaitu tentang Putri Raja Kediri nan cantik jelita bernama Dewi Kilisuci. "Saya datang bersama teman-teman sangat menikmati acara Ritual yang dilaksanakan warga Kediri. Selain itu kesakralan ritual ditambah dengan iring-iringan putri Kediri nan cantik menambah semangat pengunjung untuk datang lagi kesini" Tambah Andri Bu Sri Supatmi (62 th) pengunjung yang berasal dari Bojonegoro beserta keluarga mengatakan sangat senang dan terkesan dengan Rutual Kelud ini. Namun pada kenyataannya niat tersebut justru membawanya pada kematian yang tragis. Dengan ritual tersebut saat ini kami mengetahui Legenda Gunung Kelud yang menjadi kebanggaan warga Kediri. Ujar Ngaseri Pengunjung yang menyaksikan Ritual Sesaji Gunung Kelud yang sudah dikemas dalam Agenda Festival Kelud ini. namun juga berasal dari luar daerah seperti Tulungagung. RITUAL SESAJI GUNUNG KELUD Ritual Sesaji Gunung Kelud adalah agenda tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat desa yang berada di sekitar lereng Gunung Kelud. Sutikno pada Prosesi Ritual Sesaji Gunung Kelud Tahun 2015 yang dilaksanakan pada hari Sabtu Legi (24/10) di Parkir Atas Gunung Kelud. Dikisahkan dalam legenda tersebut bahwa Mahesasuro dengan daya kesaktiannya berniat mempersunting Dewi Kilisuci. Probolinggo dan kota lainnya. sekitar bulan Januari sampai Maret akan musim Buah Durian Kelud. Surabaya. Jombang. Blitar. Legenda ini memberikan gambaran kepada kita harus selalu mawas diri serta menjauhkan diri dari sifat keangkara-murkaan. Tambah Supatmi. Nganjuk. Ketua Panitia Ritual Sesaji Gunung Kelud yang juga sebagai Camat Ngancar Bapak Ngaseri mengatakan bahwa Ritual Sesaji Gunung merupakan adat istiadat atau budaya turun temurun dari nenek moyang warga Kelud yang harus dilestarikan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya pada awalnya takut tapi setelah sampai di Gunung Kelud yang sangat indah dan meriahnya acara ritual maka ketakutan itu hilang berganti senang dan gembira" Ujar Bu Supatmi Insya Allah saya akan datang lagi kesini mengajak keluarga lain yang belum pernah menyaksikan keindahan Kelud ini. Bahkan menurut informasi penjual buah Nanas Kelud yang rasanya manis di Gunung Kelud tadi. Malang.

. SMA se-Kabupaten Kediri. Sampurno. Di Jembatan Gladak ini para sesepuh dan pinisepuh melakukan do’a bersama sebelum menyantap hidangan bersama masyarakat yang mengikuti Ritual Sesaji Gunung Kelud. SMP. ditebing sebelah kanan atas. namun sejak Pukul 07. sehingga dengan demikian dapat berimplikasi pada peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar Lereng Kelud dan Masyarakat Kabupaten Kediri pada umumnya. para pelaku ritual dan masyarakat sekitar yang ingin mengikuti dan menyaksikan Ritual Sesaji Gunung Kelud. Polres Kediri. Kepala Desa se-Kecamatan Ngancar beserta jajarannya. Drs.Do'a secara berurutan disampaikan oleh Bp. Acara Ritual Sesaji Gunung Kelud ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri beserta jajarannya. Kepala UPTD SD. Ujar Sampurno Prosesi terakhir Ritual Sesaji Gunung Kelud dilakukan dengan membawa seluruh sesajian menuju ke atas Gunung Kelud dengan berjalan sekitar 2 Km sampai di Jembatan Gladak oleh sesepuh dan pinisepuh warga Gunung Kelud yang diikuti seluruh pengiring. Jaiz dari agama Islam dan Ibu Istikomurti dari Kristen. Pada dasarnya semua mendo'akan agar Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan keselamatan dan barokah serta kemakmuran bagi seluruh warga Kelud dan sekitarnya. Inu Kirana Kabupaten Kediri dan masyarakat sekitar. Kawah Gunung Kelud. (Kominfo). Ritual Sesaji Gunung Kelud merupakan salah satu agenda dalam rangkaian Acara Festival Kelud 2016.00 WIB. 22 Oktober 2016. Ritual Sesaji Gunung Kelud dilaksanakan pada Hari Sabtu.30 WIB. Bp. start di area parkir atas Gunung Kelud dan finish di area proyek. sejak Pukul 08. Plt. Tokoh Masyarakat Desa Sugihwaras dan sekitarnya. RW. Namun diharapkan justru dapat menjadikan peningkatan kunjungan wisata di Gunung Kelud.30 WIB. Kapolsek Ngancar beserta staf. Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar. sampai dengan Pukul 10. Satpol PP Kabupaten Kediri. Danramil Ngancar beserta staf. RT. sudah berdatangan di area parkir atas Gunung Kelud. Abdulah yang mewakili dari komunitas dari Kejawen. MM. Walaupun acara baru dimulai Pukul 08.00 WIB. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri dalam sambutannya mengatakan bahwa sinergisitas antara Ritual Sesaji Gunung Kelud yang dikemas dalam Festival Kelud diharapkan tidak mengurangi kesakralan sebuah tradisi. Muspika Kecamatan Ngancar.

30 WIB. Dalam sambutannya Ngaseri. dengan tujuan agar acara ini bisa berjalan dengan lancar.MM. “Kami sadar bahwa kami bisa hidup di lereng Gunung Kelud in. Ngancar.i merupakan anugerah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa.MM menyampaikan. “Rasa syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan nikmat. merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun yang bertepatan dengan Bulan Suro”. “Kegiatan ritual sesaji Gunung Kelud ini merupakan kegiatan tahunan yang bertujuan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan warisan leluhur. SH. Ritual Sesaji merupakan semangat gotong-royong. sudah sepatutnya kami mensyukurinya dengan cara dan upaya kami. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ngaseri. Tepat Pukul 08. Kegiatan Ritual Sesaji Gunung Kelud yang merupakan hajat masyarakat atau Warga Kecamatan Ngancar. SH. Acara dimulai dengan pembukaan membaca Surat Al-Fatihah (untuk muslim) dan untuk non muslim sesuai dengan agama kepercayaan masing-masing. persatuan. Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar. keberkahan hasil bumi dan hasil usaha kami yang tidak lepas dari takdirNya kepada kami di sekitaran Gunung Kelud.Pra acara Ritual Sesaji Gunung Kelud diisi dengan pentas Tari Gambyong. serta dalam upaya pelestarian Upacara Adat Gunung Kelud”. kebersamaan warga . oleh Siswi SLTPN 1. pembawa acara memulai acara Ritual Sesaji Gunung Kelud.

pungkas Ngaseri mengakhiri sambutannya. “Dengan berpedoman pada nilai-nilai budaya tanpa mengurangi kesakralan dan tradisi agar mampu meningkatkan sektor kepariwisataan daerah. Acara dilanjutkan dengan serah terima “tongkat sakti” dari Camat Ngancar kepada Mbah Ronggo dan serah terima “cok bakal” dari Camat Ngancar kepada Pinisepuh Gunung Kelud. . Setelah sambutan dari Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar. juga sebagai icon penghasil nanas terbesar di Kabupaten Kediri dan di Jawa Timur”. dilanjutkan dengan Pentas Tari Robyong dari Siswi SLTPN 1 Ngancar. namun pada kenyataannya ia justru membawanya dalam kematian yang tragis”. untuk mensyukuri karunia yang telah diberikan Tuhan kepada kita”. Kegiatan ini kita lanjutkan besok (Minggu. Dalam sambutannya. Kemudian doa bersama yang dipimpin oleh masing-masing tokoh agama dan kepercayaan yang hadir. pungkas Gembong Prajitno. 23 Oktober 2016. sebagai wujud rasa syukur bahwa Masyarakat Kabupaten Kediri yang berada di lereng Gunung Kelud. “Untuk itu saya berterimakasih kepada seluruh pihak yang hadir dan mendukung kegiatan ini. berawal dari Legenda Dewi Kilisuci dengan Maeso Suro. yang berimplementasi pada peningkatan ekonomi masyarakat khususnya masyarakat di sekitar lereng Gunung Kelud”. Gembong Prajitno menyampaikan. Dikisahkan dalam legenda tersebut bahwa Maeso Suro akan mempersunting Dewi Kilisuci. diringi tembang macapat. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Gembong Prajitno. red) yaitu Festival Nanas. “Kekuatan Ritual Sesaji Gunung Kelud.dalam memaknai Gunung Kelud sebagai bagian dari kehidupan Masyarakat Kabupaten Kediri”. Ritual Sesaji Gunung Kelud merupakan perlambang rasa syukur kita kepada Ilahi Robbi. Kegiatan ini juga untuk menunjukkan kearifan lokal. “Legenda ini memberikan gambaran kepada kita agar selalu bersikap mawas diri serta menjauhkan sifat keangkara-murkaan seperti sikap yang Dewi Kilisuci lakukan. selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri.

Masyarakat/warga Hindu. rombongan 9 desa. Yang ke kawah perwakilan dari pinisepuh yang kami tugaskan dibeberapa titik untuk tempat ritual”. mengatakan. Terkait dengan budaya dan sebagainya sebagai penguat. bahwa budaya sekitar kita ini kita bangkitkan. Harapan saya kita ini berada diperadaban Gunung Kelud dan peradaban budaya. Ditempat terpisah Awak Beritamadani. RT. menemui Mbah Suparlan. Ngaseri. Sesampainya di bok glodak.15 WIB.co. kelapa hijau maksudnya untuk sesaji. Putri tandu ini merupakan perlambang dari Dewi Kilisuci. Sesepuh Paguyuban Gunung Kelud. Kedepan ini terus kita laksanakan dengan harapan bahwa semua aspek masyarakat mengedepankan budaya harus kita lestarikan. dayang. Untuk prosesi mulai dari area parkir atas Gunung Kelud ke bok glodak sampai kawah. prajurit.Tepat Pukul 09.id. Kabupaten Kediri. Sedangkan rombongan dari Desa Sugihwaras. Gunung Kelud mempunyai nilai budaya yang tinggi. Tujuan diadakan ritual ini untuk meminta keselamatan dan tolak balak kepada Tuhan Yang Maha Kuasa”. Desa Sempu dan Desa Babadan membawa tumpeng robyong yang berasal dari hasil bumi. . karena setiap apapun yang ada di negeri ini kita berfikir bahwa Kelud mempunyai andil besar terkait dengan prosesi. baru masyarakat umum. semua peserta ritual berjalan beriringan menuju bok glodak depan jembatan atas arah pintu masuk area proyek Gunung Kelud dengan urutan barisan: Putri tandu. Saat dikonfirmasi Awak Beritamadani. “Ritual Sesaji ini event tahunan. “Perlengkapan ritual antara lain ndas wedhus kendit (kepala kambing kendit) untuk tolak balak. RW. tumpeng robyong dibagi bersama ke pengunjung. SH. Sebelum menjadi putri tandu. Kepala Desa Sugihwaras. Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar. jaranan.id. kita kembangkan bahwa melalui budaya kita menjadi penguat bangsa. Pinisepuh. Mbah Parlan menyampaikan. harus melalui seleksi dan harus menjalankan ritual puasa selama 40 hari.co. Tokoh Masyarakat Desa Sugihwaras. Desa Ngancar. MM. selaku Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar.

langsung turun hujan lebat. Semoga masyarakat yang berada di lereng Gunung Kelud pada khususnya dan umumnya Masyarakat Kabupaten Kediri. rasa. Marilah kita bersama- sama bersinergi menjaga kearifan lokal untuk melestarikan budaya bangsa. sebagai Pinisepuh Paguyuban Gunung Kelud. selaku Penunggu Kawah Gunung kelud. kebahagiaan. Dalam ritualnya. ketentraman dan jauh dari mara bahaya selama-lamanya. Setelah selesai mengadakan ritual. Tepat selesai Acara Ritual Sesaji Gunung Kelud. cipta dan karsa. dilarung ke dalam Kawah Gunung Kelud. . Semoga bisa bersatu antara. gemah ripah loh jinawi (diberikan rizqi yang berlimpah ruah). Sesepuh Paguyuban Gunung Kelud memerintahkan kepada Dul. Mbah Suparlan meminta keselamatan. diberi keselamatan. untuk melarung semua perlengkapan ritual termasuk kepala kambing kendit.Di atas Bibir Kawah Gunung Kelud diadakan Ritual Sesaji khusus yang dipimpin oleh Mbah Suparlan. ketentraman.

.

Jika sebelumnya Ki Sungging Murbengkara hanya diberi tugas untuk melukis saja. Ki Sungging Murbengkara tidak mengetahui bahwa ada seekor lalat hijau yang sebelumnya telah hinggap dicat hitam kemudian terbang dan hinggap kembali digambar permaisuri raja yang dilukisnya. Pada saat melukis permaisuri ini ternyata ada rasa kegembiraan yang meluap-luap dibenak Ki Sungging Murbengkara sehingga membuat sedikit keteledoran dalam penyelesaian lukisannya. Ki Sungging Murbengkara diberi tugas untuk melukis permaisuri raja. Akhirnya Ki Sungging Murbengkara yang masih berpegangan pada layang-layang putus talinya ini diterbangkan angin hingga jatuh jauh di Negeri Cina. Sementara alat pahat yang digunakan Ki Sungging juga terlempar ke arah barat laut jauh hingga jatuh dibelakang Gunung Wilis di Jepara. ketika patung permaisuri dalam kondisi setengah jadi. Sampai pada suatu ketika. Ki Adi Luwih Sungging Murbengkara Legenda Kecamatan Ngadiluwih Alkisah pada suatu masa. namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. hiduplah seorang seniman didaerah Ngadiluwih. Kabupaten Kediri bernama Ki Adi Luwih atau lebih dikenal sebagai Ki Sungging Murbengkara yang cukup terkenal. Ki Sungging Murbengkara sangat bergembira atas tugas yang diamanatkan kepadanya dan segera memenuhi permintaan sang raja untuk melukis permaisuri raja. Dia mulai mengerjakan tugasnya secara cermat sehingga berhasil menyelesaikan lukisannya secara sempurna. selanjutnya patung tersebut ditemukan masyarakat Bali. sehingga masyarakat diwilayah inipun menjadi pandai dibidang seni ukir. Sang raja menghukum Ki Sungging untuk membuat patung permaisuri di udara. emosi sang raja yang telah memuncak membuatnya gelap mata dan secara tiba- tiba sang raja memotong tali layang-layang yang digunakan oleh Ki Sungging Murbengkara untuk memahat di udara. Konon. Keteledoran Ki Sungging Murbengkara ini berujung pada keputusan Raja untuk menghukumnya. Ki Sungging Murbengkara menyanggupi permintaan Raja. tepat pada bagian paha sehingga mengesankan gambar tersebut adalah gambar tahi lalat. dengan kesaktiannya ia terbang dengan menggunakan layang-layang dan mulai membuat patung permaisuri di udara. maka tugas berikutnya lebih berat yakni membuat patung dengan gambar sang permaisuri lagi di udara. keahliannya dibidang seni ini terdengar oleh telinga raja sehingga sang raja berinisiatif mengundangnya untuk menguji keahlian seni yang dimilikinya. . patung setengah jadi yang telah ia buat terlempar ke arah tenggara hingga Pulau Bali. Gambar yang dihasilkannya sangat mirip dengan yang asli. Ketika menyelesaikan penggambaran rambut. Mengetahui lukisan tersebut. sang Raja murka karena mengira Ki Sungging telah melihat permaisurinya telanjang. masyarakat Bali tersebut dikenal juga sebagai ahli membuat patung. ini sebagai akibat kecerobohannya tersebut. Hingga sekarang.

tepat pada bagian paha sehingga mengesankan gambar tersebut adalah gambar tahi lalat. Ki Sungging Murbengkara tidak mengetahui bahwa ada seekor lalat hijau yang sebelumnya telah hinggap dicat hitam kemudian terbang dan hinggap kembali digambar permaisuri raja yang dilukisnya. Keteledoran Ki Sungging Murbengkara ini berujung pada keputusan Raja untuk menghukumnya. hiduplah seorang seniman didaerah Ngadiluwih. Ki Sungging Murbengkara menyanggupi permintaan Raja. ketika patung permaisuri dalam kondisi setengah jadi. Ketika menyelesaikan penggambaran rambut. masyarakat Bali tersebut dikenal juga sebagai ahli membuat patung. Jika sebelumnya Ki Sungging Murbengkara hanya diberi tugas untuk melukis saja. Dia mulai mengerjakan tugasnya secara cermat sehingga berhasil menyelesaikan lukisannya secara sempurna. sang Raja murka karena mengira Ki Sungging telah melihat permaisurinya telanjang. Pada saat melukis permaisuri ini ternyata ada rasa kegembiraan yang meluap-luap dibenak Ki Sungging Murbengkara sehingga membuat sedikit keteledoran dalam penyelesaian lukisannya. Akhirnya Ki Sungging Murbengkara yang masih berpegangan pada layang-layang putus talinya ini diterbangkan angin hingga jatuh jauh di Negeri Cina. Mengetahui lukisan tersebut. maka tugas berikutnya lebih berat yakni membuat patung dengan gambar sang permaisuri lagi di udara. Hingga sekarang. Konon. . selanjutnya patung tersebut ditemukan masyarakat Bali. Sampai pada suatu ketika. dengan kesaktiannya ia terbang dengan menggunakan layang-layang dan mulai membuat patung permaisuri di udara. Ki Sungging Murbengkara diberi tugas untuk melukis permaisuri raja.Alkisah pada suatu masa. patung setengah jadi yang telah ia buat terlempar ke arah tenggara hingga Pulau Bali. ini sebagai akibat kecerobohannya tersebut. sehingga masyarakat diwilayah inipun menjadi pandai dibidang seni ukir. Ki Sungging Murbengkara sangat bergembira atas tugas yang diamanatkan kepadanya dan segera memenuhi permintaan sang raja untuk melukis permaisuri raja. Sementara alat pahat yang digunakan Ki Sungging juga terlempar ke arah barat laut jauh hingga jatuh dibelakang Gunung Wilis di Jepara. Kabupaten Kediri bernama Ki Adi Luwih atau lebih dikenal sebagai Ki Sungging Murbengkara yang cukup terkenal. Gambar yang dihasilkannya sangat mirip dengan yang asli. namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Sang raja menghukum Ki Sungging untuk membuat patung permaisuri di udara. emosi sang raja yang telah memuncak membuatnya gelap mata dan secara tiba- tiba sang raja memotong tali layang-layang yang digunakan oleh Ki Sungging Murbengkara untuk memahat di udara. keahliannya dibidang seni ini terdengar oleh telinga raja sehingga sang raja berinisiatif mengundangnya untuk menguji keahlian seni yang dimilikinya.

.

.

seorang raja termasyur di Kediri. hingga jauh di pedalaman yakni di Daha. karena Sang Jayabaya menolaknya. yang memang unik karena dwarapala ini berwujud raseksi (perempuan). Tak ketinggalan kemajuan teknologi pertanian. Kecamatan Pagu. kotaraja Kerajaan Kediri. Fakta adalah benar bahwa saat Jayabaya berkuasa di Kediri. Sayangnya. Legenda Totok Kerot dan Sri Aji Jayabaya Kediri merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang memiliki banyak peninggalan bersejarah. Tetapi masyarakat modern seakan enggan mengenang kejayaan Panjalu atau Kediri dari sisi faktual yang ada. Selanjutnya patung Putri Lodaya dikenal sebagai Patung Totok Kerot. Salah satu peninggalan bersejarahnya adalah Arca Totok Kerot yang terletak di Desa Bulupasar. Legenda menuturkan adanya seorang penguasa putri sakti dan cantik rupawan berada di daerah Lodaya. tidak berwujud raksasa (laki-laki) sebagaimana umumnya dwarapala dimasa kuno. Murka Jayabaya terlontar sebagai kutukan sehingga Putri Lodaya berubah wujud menjadi patung raksasa. Sebut saja namanya Putri Lodaya. Kabupaten Kediri. Kediri di masa Jayabaya lebih dikenang lewat berbagai mitos yang berkembang mewarnai kepopulerannya. Namun tampaknya keinginan itu tidak kesampaian. Kebanyakan. Cerita mistis berkembang meliputi keberadaan Totok Kerot. Menurut cerita rakyat. Putri Lodaya mengumpat serta memaki Prabu Jayabaya. arca Totok Kerot berasal dari seorang putri. Sebut saja Dwarapala Totok Kerot. militer serta kelautan. Selain itu. Sang Putri berkeinginan untuk menjadi 'garwa padmi' atau permaisuri utama dari Prabu Sri Aji Jayabaya. Mereka yang mengetahui asal usul Totok Kerot memiliki versi cerita yang berbeda-beda. Dikirimlah pasukan Lodaya untuk memerangi Kediri. karena angkatan perang Kediri yang kuat dan tersohor jelas bukan tandingan tentara Lodaya. kerajaan besar bercorak agraris telah tumbuh menjadi pesaing dari kerajaan corak maritim Sriwijaya di Sumatra. Totok Kerot merupakan sebuah nama patung dwarapala (penjaga gapura) peninggalan dari masa Kerajaan Panjalu atau Kediri. Masa Jayabaya terutama diwarnai kemajuan bidang kesusastraan dengan munculnya berbagai novel serta puisi versi klasik. terletak di Kabupaten Blitar di masa sekarang. Saat dihadapkan sebagai tawanan didepan raja. Putri Lodaya mengalami kekalahan. Cinta tak terbalas Totok Kerot sendiri. sebagaimana lazim dialamatkan kepada banyak peninggalan arkeologi di Indonesia. faktor tidak adanya bukti tertulis tentang asal-usul Arca Totok Kerot juga merupakan salah satu faktor penyebab kurang dikenalnya sejarah Arca Totok Kerot. penguasa Jawa Timur bagian selatan. Penolakan itu membuat Putri Lodaya berang. Kemakmuran Kediri banyak diceritakan pelaut-pelaut dari Tiongkok. Rupanya Sang Putri terlalu gegabah. Jayabaya juga lebih banyak dikenal lewat ‘Jangka . yang mencatat ramainya jalur dagang dari muara Sungai Brantas di Jung Galuh (Surabaya). yakni Sang Aji Jayabaya juga tak luput dari mitos-mitos yang sebenarnya cukup sulit dibuktikan kebenarannya. hanya sedikit dari masyarakat Kediri yang mengetahui sejarah Arca Totok Kerot. Hal ini disinyalir karena kurang baiknya fasilitas yang terdapat di sekitar Arca Totok Kero. sehingga masyarakat enggan untuk mengetahui lebih dalam cerita asal usulnya.

ataupun Kresnayana. Cucunya. sebagaimana cerita- cerita tentang Jayabaya dan Kerajaan Panjalu/Kediri lainnya.Jayabaya’. Tetapi tidak ditemukan prasasti atau berita menulis bahwa Jangka Jayabayaditulis pada masa Kediri. berlokasi di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Gatotkacasraya. Lagi-lagi.” Perkataan Raja Jayabaya pun menjadi kenyataan. Pada zaman dahulu. Totok Kerot memberitahukan maksud kedatangannya. “Mungkin sekarang kau tidak bisa menjadi permaisuriku. Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap budaya dan sejarah asli Kediri merupakan penyebab kurang baiknya fasilitas yang terdapat di sekitar Arca Totok Kerot. macam Bharatayudha (dinukil dari Mahabharata India). . tidak sebagaimana lazimnya dwarapala lain yang berwujud raksasa laki . Totok Kerot meminta untuk dipertemukan dengan Raja Jayabaya. banyak ditulis kakawin-kakawin yang kemudian tak lekang oleh jaman. Tulisan yang berisi Jangka Jayabaya sebagaimana diketahui. Pagu. Di saat ajal akan menjemputnya. Akan tetapi. kisah serta riwayat yang sampai ke masa modern. lebih bersifat dongeng semata. Totok Kerot adalah penjelmaan dari seorang raksasa perempuan yang ingin dinikahi oleh Raja Jayabaya. Tidak pula tentang bangunan besar apa yang dijaga oleh Totok Kerot pada masa itu sehingga harus diwujudkan oleh penjaga wujud yang tak lazim. masyarakat menganggapnya akan membuat kekacauan di Kediri. Menurut cerita. yakni raksasa perempuan. pada waktu lampau. Untuk mengabadikan kisah ini. pastilah ada pemberitaan jelas dari jaman tersebut.laki. Hariwangsa. Raja Jayabaya memerintahkan rakyatnya untuk membuat Arca Totok Kerot. memiliki seorang istri yang merupakan anak dari raksasa. Benar adanya pada masa Jayabaya bertahta di Daha. Raja Jayabaya yang mengetahui hal ini mengatakan. Raja Airlangga. beristirahat dari tugasnya menjaga bangunan penting pada masa kejayaan Kerajaan Kediri. Masyarakat pun mencoba membunuhnya dengan melempari batu. Totok Kerot di masa modern tinggal damai di pinggiran areal persawahan. Kediri. tidak ada bukti bahwa Jayabaya memang pernah menulis ataupun mengucap ramalan-ramalan itu. tidak ada yang mengabadikan kisah Arca Totok Kerot sehingga banyak versi yang berkembang dari mulut ke mulut tentang asal-usul arca tersebut. Tempat Sang Jayabaya menghabiskan hari tuanya tersebut sesekali masih dikunjungi para wisatawan. tetapi di masa yang akan datang reinkarnasi dari diriku akan menikahimu. terutama di tempat bekas semadi Sang Prabu. Jika memang kitab semacam itu pernah ditulis oleh Sang Prabu Jayabaya. Ketika Raja Jayabaya datang. Sementara itu Dwarapala Totok Kerot menetap di tempat yang jauh lebih sepi. baru muncul ratusan tahun setelah Kediri tenggelam dari politik Nusantara. yakni ingin menjadi permaisuri Raja Jayabaya. beberapa kilometer dari Desa Menang yakni di Desa Bulupasar. karena dia bukan manusia dan wajahnya yang buruk rupa. Uniknya pula. dimana tak dapat diceritakan mengapa dipilih dwarapala berwujud raseksi. yang banyak diyakini mengandung ramalan tentang nasib bangsa Indonesia. Nasib yang sama dialami Totok Kerot. Sisa dari kejayaan Kediri di masa Jayabaya masihlah dapat disaksikan.