STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN HIV/AIDS

I. KONSEP TEORI
A. PENGERTIAN
HIV (Human Immunodefciency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang system
kekebalan tubuh manusian dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-
sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit yang
memliliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel limfosit. Karena
berkurangmya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau
limfosit yang seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang msuk ke tubuh manusia. Pada
orang dengan system keknalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada
orang dengan system kekebalan yang terganggu (missal pada yang terinfeksi HIV) nilai CD4
semakin lama akan semakin menurun bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol) (KPA, 2007).
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan
dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare,
200 ).
AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan
dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan
dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang
terjadi ( Center for Disease Control and Prevention, 2005).

B. ETIOLOGI
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV.
Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral yang
dikenal dengan retro virus yang ditularkan oleh darah dan punya finitas yang kuat terhadap
limfosit T.
HIV adalah suatu retrovirus anggota subfamili lentivirinae (Brooks et al, 2005). Retrovirus
berdiameter 70-130 nm (Lango dan Fauci, 2005). Masa inkubasi virus ini selama sekitar 10 tahun
(Kayser et al, 2005).
Virus HIV matang memiliki bentuk hampir bulat. Selubung luarnya, atau kapsul viral, terdiri
dari lemak lapis ganda yang banyak mengandung tonjolan protein. Duri-duri ini terdiri dari dua
glikoprotein; gp120 dan gp41. Terdapat suatu protein matriks yang disebut gp17 yang mengelilingi
segmen bagian dalam membran virus. Sedangkan inti dikelilingi oleh suatu protein kapsid yang
disebut p24 (Lan, 2005).

Kriptokokosis ekstrapulmoner e. g. 2. 2005). Leukoplakial yang berambut f. Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf. Kriptosporidosis internal kronis . Penyakit inflamasi pelvis. Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized Limpanodenophaty ) c. Kategori Klinis B Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup : a. Idiopatik Trombositopenik Purpura h. Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen. Kategori Klinis A Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C. 1. Gejala konstitusional seperti panas ( 38. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut. Kandidiasis bronkus. esophagus b. Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata d. Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ ) d. e. C. b.5° C ) atau diare lebih dari 1 bulan. KLASIFIKASI Sejak 1 januari 1993. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik. Kanker serviks inpasif c. integrase dan protease yang sudah terbentuk. Angiomatosis Baksilaris b. orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS (Zuya Urahman. khusus dengan abses Tubo Varii 3. 2009).trakea / paru-paru. Di dalam kapsid terdapat dua untai RNA identik dan molekul preformed reverse transcriptase. Kategori Klinis C Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup : a. a. Reverse transcriptase adalah enzim yang mentranskripsikan RNA virus menjadi DNA setelah virus masuk ke sel sasaran (Lan.frekuen / responnya jelek terhadap terapi c.

bronchitis. reverse transkriptase. Leukoenselophaty multifokal progresiva t. maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu. mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibodi. Pneumonia Pneumocystic Cranii r. Cytomegalovirus ( bukan hati.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner o. dan limfoma primer otak n. Herpes simpleks (ulkus kronis. Pneumonia Rekuren s. atau kelenjar limfe ) g. PATOFISIOLOGI Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe. M. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4. Kompleks mycobacterium avium ( M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner ) p. Virus HIV dengan suatu enzim. Limpoma Burkit . Mycobacterium. Kebalikannya. Fungsi dari sel T4 helper adalah mengenali antigen yang asing. dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. virus HIV yang menghancurkan sel T4 helper. Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner ) k. Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan ) h.diseminata / ekstrapulmoner q. DNA ini akan disatukan kedalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. Enzim inilah yang membuat sel T4 helper tidak dapat mengenali virus HIV sebagai antigen.lien. limpa dan sumsum tulang. Septikemia salmonella yang rekuren u.pneumonitis / esofagitis ) j. dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. . Imunoblastik. menstimulasi limfosit T sitotoksit. dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi. yang akan melakukan pemograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA. spesies lain. Toksoplamosis otak v. memproduksi limfokin. Sarkoma Kaposi m. Isoproasis intestinal yang kronis l. f. Sehingga keberadaan virus HIV didalam tubuh tidak dihancurkan oleh sel T4 helper. mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan penyakit yang serius. Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV) D. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun. Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) i. Kalau fungsi sel T4 helper terganggu.

atau apabila terjadi infeksi opurtunistik. maka system imun seluler makin lemah secara progresif. kanker atau dimensia AIDS. Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Menurunya jumlah sel T4. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah. Selama waktu ini. . Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini. gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul. jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah. 2-3 tahun setelah infeksi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun.

positif ? Invasi kuman patogen Flora normal patogen Reaksi psikologis Organ target Manifestasi oral Manifestasi saraf Gastrointestinal Respiratori Dermatologi Sensori Lesi mulut Kompleks Ensepalopati akut Diare Hepatitis Disfungsi Penyakit Infek Gatal. PATHWAYS Menyerang T Limfosit. sel saraf. Gangguan demensia biliari anorektal si nyeri penglihatan dan pendengaran Cairan berkurang Nutrisi inadekuat Gangguan rasa nyaman : Gangguan rasa nyaman : Tidak efektif pol napas Gangguan body imageapas Tidak efektfi bersihan Gangguan mobilisasi Gangguan pola BAB Aktivitas intolerans Cairan berkurang Nutrisi inadekuat jalan napas hipertermi Gangguan sensori nyeri nyeri . E. Virus HIV Merusak seluler monosit. makrofag. limfosit B Immunocompromise HIV. sepsis.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. dan bercak merah ditubuh. mikrobakterial. Sel T limfosit Penurunan jumlah total d. 2. Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa. limpanodenopathy. yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC).F. atipikal : 1. MANIFESTASI KLINIS Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. nyeri sendi. infeksi lain termasuk menibgitis. keringat dimalam hari. tapi bukan merupakan diagnose b. Serologis a. 2. diare. lesu mengantuk. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam. Tes blot western Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV) c. diare. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif. Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap. 3. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat. sakit kepala. Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik. cytomegalovirus. Tes antibody serum Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. G. sakit leher. penurunan berat badan. dan lesi oral. Hasil tes positif. Tes Laboratorium Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. keletihan ruam kulit. kandidiasis. Sel T4 helper Indikator system imun (jumlah <200> . neuropati. dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan. pertambahan kognitif. radang kelenjar getah bening.

Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA) Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). Ig M yang normal atau mendekati normal h. Tes Antibodi Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). atau bisa sampai 6 – 12 bulan. terutama Ig A. P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) ) Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi g. Reaksi rantai polymerase Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler. CT Scan otak. MRI. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi. i. EMG (pemeriksaan saraf). T8 ( sel supresor sitopatik ) Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4) mengindikasikan supresi imun. Western Blot Assay . CMV mungkin positif. yaitu : a. 3. b. Tes PHS Pembungkus hepatitis B dan antibody. Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif. f. Kadar Ig Meningkat. sifilis. e. Tapi antibody ternyata tidak efektif. Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji – kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru 4. maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Ig G. kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic. Tes tersebut. ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Neurologis EEG.

Protein tersebut disebut protein virus p24. kerusakan kemampuan motorik.hipotensi sistemik. kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf. H. Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV) c. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV) 3. Neurologik a. Oral Lesi Karena kandidia. kelemahan. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler. c. Diare karena bakteri dan virus. gingivitis. anoreksia.penurunan berat badan. malabsorbsi. karena reaksi terapeutik. Indirect Immunoflouresence Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas. Enselophaty akut. demam. KOMPLIKASI 1. dan dehidrasi. d. tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah. keletihan dan cacat. d. demam. pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS. hipoglikemia. b. pertumbuhan cepat flora normal. malaise. sarcoma Kaposi. Gastrointestinal a. disfasia. hipoksia. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA ) Mendeteksi protein dari pada antibody. HPV oral. pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV – 1. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV) Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. limpoma. total / parsial. e. penurunan berat badan. paralise. Dengan efek. Dengan efek : sakit kepala. meningitis / ensefalitis. herpes simplek. berefek perubahan kepribadian.nutrisi. . leukoplakia oral. dan isolasi social. peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV).dehidrasi. 2. ketidakseimbangan elektrolit. dan maranik endokarditis. dan sarcoma kaposi.

dan strongyloides dengan efek nafas pendek. 4. 6. Hepatitis karena bakteri dan virus. dengan efek inflamasi sulit dan sakit. Sensorik a. pneumococcus. reaksi otot. nyeri. dermatitis karena xerosis.nasokomial. limpoma. Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan b. atau sepsis. Pengendalian Infeksi Opurtunistik Bertujuan menghilangkan.jarum tato. 5.gatal. batuk. .sarcoma Kaposi. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya. virus influenza. Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster. obat illegal. 3. Dengan anoreksia. 5. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula. PENATALAKSANAAN Belum ada penyembuhan untuk AIDS. mengendalikan. dan sebagainya. 4. lesi scabies/tuma. maka pengendaliannya yaitu: 1. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis. b. c. mual muntah. nyeri rectal. nyeri abdomen. gatal-gatal dan siare.demam atritis.rasa terbakar. Respirasi Infeksi karena Pneumocystic Carinii. 2. bisa dilakukan dengan : 1. kehilangan pendengaran dengan efek nyeri I. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media. cytomegalovirus. alkoholik. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi.gagal nafas. ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi. ikterik. jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV). keletihan. Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). dan pemulihan infeksi opurtunistik.infeksi skunder dan sepsis. dan dekobitus dengan efek nyeri. Tidak bertukar jarum suntik. hipoksia. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.

maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS. Diedoxycytidine d. alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.gizi yang kurang. karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV). AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3 3. Terapi AZT (Azidotimidin) Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS. Recombinant CD 4 dapat larut 4. obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. b. makan-makanan sehat. Obat-obat ini adalah : a. a. Vaksin dan Rekonstruksi Virus Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon.2. Terapi Antiviral Baru Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Menghindari infeksi lain. Ribavirin c. hindari stress. Didanosine b. Sekarang. .

sering dengan atau tanpa kram abdominal. dan sebagainya.takut.intoleran activity.cemas. perpanjangan pengisian kapiler. aplasia timik. pucat / sianosis. Eliminasi Gejala : Diare intermitten. rasa terbakar saat miksi . PENGKAJIAN 1. putus asa. b.perubahan pola tidur. menurunnya volume nadi perifer. Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T ) Terapiradiasi. respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD. Kerusakan imunitas humoral (Antibodi) Limfositik leukemia kronis. atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. hipogamaglobulemia congenital. Pada lansia.menarik diri. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes: a. kortikosteroid.mieloma. perdarahan lama pada cedera. Riwayat Penyakit Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. d. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. disfungsi timik congenital. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif) a. globulin anti limfosit. anemia aplastik. protein – liosing enteropati (peradangan usus) 2. b. Tanda : Mengingkari. c. Diabetes meilitus. Tanda : Kelemahan otot. limpoma.depresi.progresi malaise. penuaan. defisiens inutrisi. Sirkulasi Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia). Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. terus – menerus. Aktivitas / Istirahat Gejala : Mudah lelah. marah. mengingkari doagnosa. Integritas dan Ego Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan mengkuatirkan penampilan. keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. menurunnya massa otot. frekuensi Jantun dan pernafasan ). nyeri panggul. Tanda : Perubahan TD postural. kanker adalah beberapa penyakit yang kronis.KONSEP DASAR ASKEP A.

Tanda : Bengkak sendi. batuk. k. Tanda : Perubahan status mental. herpes genetalia l.penurunan rentan gerak. isolasi. warna. Tanda : Perubahan interaksi m. adanya trauma AIDS. sesak pada dada. Interaksi Sosial Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis. timbulnya nodul.dan karakteristik urine. disfagia Tanda : Turgor kulit buruk. hemiparesis.perubahan jumlah. j. Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah. kesehatan gigi dan gusi yang buruk.nyeri dada pleuritis. kelemahan otot.luka.luka perianal / abses. Penyuluhan / Pembelajaran . kesepian. penggunaan pil pencegah kehamilan. h. distress pernapasan. napas pendek progresif. i. Tanda : Takipnea. sakit kepala. e. lesi atau abses rectal. rasa terbakar. tekanan umum. nyeri kelenjar. transfuse darah. kurang perawatan diri. Hygiene Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS Tanda : Penampilan tidak rapi. menurunya kekuatan umum. tremor. adanya sputum. kejang. kerusakan status indera. pincang. lesi rongga mulut. Neurosensori Gejala : Pusing. perubahan bunyi napas. perubahan status mental. nyeri tekan abdominal. Pernafasan Gejala : ISK sering atau menetap. refleks tidak normal.nyeri tekan. berkeringat malam. edema. f. Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri umum / local. mual muntah. Tanda : Perubahan integritas kulit. ide paranoid. Seksualitas Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi. Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia. tremor. pelebaran kelenjar limfe. Tanda : Kehamilan. kejang. terbakar. perubahan penglihatan. pingsan. demam berulang. penyakit defisiensi imun. g.perianal. sakit kepala. diare pekat dan sering. Keamanan Gejala : Riwayat jatuh. menurunnya libido. ansietas.

malnutrisi. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV. merokok. alkoholik B. d. meningkatnya kebutuhan metabolic. penyalahgunaan obat-obatan IV. malnutrisi dan pola hidup yang beresiko. adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan. pertukaran oksigen. b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. dan menurunnya absorbsi zat gizi. prilaku seks beresiko tinggi. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai . e. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan. kelelahan. c. Diare berhubungan dengan infeksi GI f. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Gejala : Kegagalan dalam perawatan.

Mencegah pasien terpapar oleh berhubungan komplikasinya dengan 2. kram perut (Metamucil) sesuai order pelan. Berikan ointment A intestinal . dengan nyeri tenggorokan dan kebutuhan tubuh protein yang adekuat 2. Atur agen diare feses lunak dan warna antimotilitas dan psilium Mengurangi motilitas usus. 4. yang dapat terpapar HIV. terhadap lingkungan yang pengobatan patogen. 3. adanya dengan kriteriaa kontak 2. yang normal. penting lainnya. Gunakan darah dan infeksi pasien dan tim cairan tubuh precaution nonopportunisitik kesehatan tidak bial merawat pasien. tim orang penting lainnya memerlukan informasikan ini pasien) kesehatan metode mencegah berhubungan memperhatikan transmisi HIV dan kuman Mencegah transimisi infeksi HIV dengan infeksi universal precautions patogen lainnya. Diare berhubungan Pasien merasa nyaman 1. Monitor kemampuan Intake menurun dihubungkan kurang dari intake kalori dan mengunyah dan menelan. 4. Kaji konsistensi dan Mendeteksi adanya darah dalam dengan infeksi GI dan mengnontrol diare. Monitor tanda-tanda Untuk pengobatan dini infeksi infeksi oportunistik dan infeksi baru. emperburuk perforasi pada hilang. Rencanakan diet sesuai dengan keinginan pasien kebutuhan muntah dikontrol. Berikan bantuan malnutrisi. imunosupresi. lab tindakan invasif. INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa Perencanaan Keperawatan Keperawatan Tujuan dan criteria Intervensi Rasional hasil Resiko tinggi Pasien akan bebas 1. perawatan yang pasien Ekstra istirahat perlu jika karena kelelahan. terinfeksi patogen lain perlu. metaboliknya dengan sesuai order Meyakinkan bahwa makanan meningkatnya kriteria mual dan 4. ke orang lain HIV. intake mulut berhubungan untuk memenuhi dan ouput Menentukan data dasar dengan intake yang kebutuhan 3. protein dalam batas n ormal. Kumpulkan spesimen Mempertahankan kadar darah untuk tes lab sesuai order. sendiri tidak mampu meningkatkan kebutuhan 3. Monitor BB. menurunnya serum albumin dan absorbsi zat gizi. Atur antiemetik Mengurangi muntah kurang. tanda vital tindakan. tanda infeksi baru. Cuci malnutrisi dan pola tidak ada infeksi tangan sebelum meberikan Mencegah bertambahnya infeksi hidup yang oportunis. dengan fisiologis terhadap dengan kelemahan. 3. frekuensi feses dan feses komplikasi minimal adanya darah. dan takikardi selama 2. Jadwalkan perawatan metabolik pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat. Anjurkan pasien tidak ada luka atau metoda mencegah terpapar Meyakinkan diagnosis akurat dan eksudat. dengan pasien dan orang metabolic. beresiko. tidak Gunakan masker bila ditransmisikan. Atur pemberian antiinfeksi sesuai order Resiko tinggi Infeksi HIV tidak 1. aseptik pada setiap rumah sakit. C. Monitor respon Respon bervariasi dari hari ke hari berhubungan dalam kegiatan. dan pasien makan TKTP. Gunakan teknik kuman patogen yang diperoleh di dengan kriteria tak ada tanda. Intolerans aktivitas Pasien berpartisipasi 1. BB mendekati seperti sebelum sakit. dalam batas normal. Auskultasi bunyi usus Hipermotiliti mumnya dengan lunak. dengan kriteria perut 2. Anjurkan pasien atau Pasien dan keluarga mau dan infeksi (kontak ditransmisikan. seperti TBC. kriteria bebas dyspnea aktivitas Mengurangi kebutuhan energi pertukaran oksigen. aktivitas. yang terapeutik 5. Perubahan nutrisi Pasien mempunyai 1. tidak tegang.

Ajarkan kepada transmisi melalui kontak kriteria pasien dan keluaraga tentang penyakit sederhana. dengan cara yang konstruktif . keluarga berinteraksi dan transmisinya. dengan cemas suport sistem dan 2. kebutuhannya dengan 3. Kaji koping keluarga Memulai suatu hubungan dalam koping keluarga penting lain terhadap sakit pasein dan bekerja secara konstruktif dengan berhubungan mempertahankan perawatannya keluarga. Biarkan keluarga Mereka tak menyadari bahwa tentang keadaan adaptasi terhadap mengungkapkana perasaan mereka berbicara secara bebas yang orang perubahan akan secara verbal Menghilangkan kecemasan tentang dicintai. dan D. vaselin atau zinc Untuk menghilangkan distensi oside Tidak efektif Keluarga atau orang 1.

Jakarta : EGC. 2000. Jakarta: EGC Fauci. 2005. dkk. Zein. 2007.. Anthony S. Lynda Juall. 2006. 1-44. 2004. Philadephia : Nanda Internasional Smeltzer. 2005. Bare. . Arif. H. Kapita selekta Kedokteran. Nanda. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 3. Nursing Diagnosis Definition and Classification 2005-2006. Medan: USU press. Clifford.. dan Lane. Human Immunodeficiency Virus Disease: AIDS and Related Disorders Masjoer. Umar. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Marylin E. 100 Pertanyaan Seputar HIV/AIDS Yang Perlu Anda Ketahui. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan. Diagnosa Kperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. 2002. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. Suzanne C & Brenda G. Jakarta : EGC Doengos.