Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah
ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Perjanjian
Internasional” Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita
semua dan dapat di jadikan sebagai bahan ajaran.

Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan Makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan
Makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai
segala usaha kami. Amin.

Daftar Isi

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar belakang
……………………………………………………………………. 3

2. Rumusan masalah
……………………………………………………………………. 4

3. Tujuan
……………………………………………………………………. 5

4. Manfaat
……………………………………………………………………. 5

BAB 2 ISI

A. Pengertian perjanjian internasional
…………………………………………….. 6

……. Saran ……………………………………………………………………………... 9 E. 12 BAB 3 PENUTUP 1. Tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional ……………………………….. Arti penting perjanjian internasional ……………………………………………. Kesimpulan ………………………………………………………………………. 12 G.. Kapan berlaku dan berakhirnya perjanjian internasional ……………………. Hal-hal penting dalam proses pembuatan perjanjian internasional ………… 10 F. Latar Belakang . 7 C. Daftar pustaka ……………………………………………………………………………… 16 BAB 1 PENDAHULAN A.. 15 3. Istilah-istilah yang sering digunakan dalam perjanjian internasional ………… 8 D. 15 2...B. Jenis-jenis perjanjian internasional ……………………………………………………….

akan tetapi juga untuk menertibkan. nyata sekali dengan berkembangnya penggunaan istilah yang mengindikasikan dilampauinya batas-batas tradisional dan teritorial nasional suatu negara. transnational capitalist class. Sedangkan menurut Konvensi wina Pasal 2 1969. Dalam perkembangan kehidupan bersama manusia yang cenderung semakin tidak mengenal batas negara ini. dan materinya semakin kompleks. intensitasnya semakin kuat. Perjanjian Internasional adalah hasil kesepakatan yang dibuat oleh subyek hukum internasional baik yang berbentuk bilateral. Tidak dapat dinafikan betapa batas-batas teritorial suatu negara nasional kini tidak lagi menjadi penghalang bagi berbagai aktivitas ekonomi yang semakin pesat. karena semakin banyak masalah transnasional yang memerlukan pengaturan yang jangkauannya hanya mungkin dilakukan dengan instrumen perjanjian internasional. mengatur dan memelihara hubungan antarnegara. Bentuk kehidupan yang kompleks sangat rentan untuk tejadi perselisihan. Fenomena di atas. trans-state norms. . apakah dalam instrumen tunggal atau dua atau lebih instrumen yang berkaitan dan apapun nama yang diberikan padanya. yang diatur oleh hukum internasional dan dibuat secara tertulis oleh pemerintah Republik Indonesia dengan satua atau lebih negara. Hal itu disebabkan perjanjian internasional sudah berhasil menciptakan norma-norma hukum baru yang diperlukan untuk mengatur hubungan antar negara dan antar masyarakat negara-negara yang volumenya semakin besar. Untuk menghindari agar perselisihan tidak terjadi maka masyarakat internasional harus senantiasa bertumpu pada norma atau aturan. seperti istilah transnational corporation. Persoalannya. serta menimbulkan hak dan kewajiban pada pemerintah Republik Indonesia yang bersifat hukum publik”.Kerjasama antarnegara saat ini sudah tidak dapat lagi dihindarkan.” Definisi ini kemudian dikembangkan oleh pasal 1 ayat 3 Undang-undang Republik Indonesia nomor 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri yaitu: Perjanjian Internasional adalah perjanjian dalam bentuk dan sebuitan apapun. sedangkan regional adalah perjanjian apabila yang menjadi pihak negara-negara dalam satu kawasan sedangkan multilaretal adalah perjanjian yang apabila pihaknya lebih dari dua negara atau hampir seluruh negara di dunia dan tidak terikat dalam satu kawasan tertentu. boleh jadi kesepakatan antar negaranegara dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dituangkan dalam bentuk perjanjian internasional merupakan sumber hukum yang semakin penting. Aturan tersebut tidak hanya dibuat untuk menghindari perselisihan.3 dan lain-lain. transnational practices. dan diatur oleh hukum internasional. transnational information exchange. Perwujudan kerjasama tersebut dituangkan dalam bentuk perjanjian. organisasi internasional atau subyek hukum internasional lainnya. Perjanjian Internasional (treaty) didefinisikan sebgai: “Suatu Persetujuan yang dibuat antara negara dalam bentuk tertulis. reginal maupun multilateral. Perjanjian Bilateral adalah perjanjian apabila yang menjadi pihak dua negara. the international managerial bourgoisie. Demikian pula lahan beroperasinya pekerjaan hukum yang semakin mendunia.

“Perjanjian Internasional sebagai suatu subjek-subjek hukum internasional yang menimbulkan kewajiban-kewajiban yang mengikat dalam hukum internasional dapat berbentuk bilateral maupun multilateral. misalnya ada sebagian Negara atau bangsa yang melanggar dalam arti tidak mentaati aturan-aturan yang telah diputuskan sebelumnya.Menurut Pasal 38 (1) Piagam Makamah Internasional. Tahap Penjajakan: merupakan tahap awal yang dilakukan oleh kedua pihak yang berunding mengenai kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional. Asas ini disebut dengan asas pacta sunt servanda. Perjanjian Internasional merupakan salah satu sumber hukum Internasional. Subjek- subjek hukum dalam hal ini selain lembaga-lembaga internasional juga Negara- negara”. maka setiap bangsa dan Negara yang ikut dalam suatu perjanjian yang telah mereka lakukan. maka tidak mustahil bukan kedamaian atau keharmonisan yang tercipta. perjanjian Internasional yang diakui oleh pasal 38 (1) Piagam Makamah Internasional hanya perjanjian – perjanjian yang dapat membuat hukum (Law Making Treaties). harus menjunjung tinggi semua dan seluruh peraturan-peraturan atau ketentuan yang ada di dalamnya. Tegasnya mengatur perjanjian antarnegara selaku subjek hukum internasional. 1. Karena hal tersebut merupakan asas hukum perjanjian bahwa”Janji itu mengikat para pihak dan harus dilaksanakan dengan itikad baik”. “Perjanjian internasional adalah suatu persetujuan antarnegara yang menimbulkan hak dan kewajiban diantara pihak tersebut”. Dapat menjalin kerjasama antara negara kita dan negara lainnya 2. “perjanjian internasional yaitu perjanjian yang diadakan oleh dua Negara atau lebih yang bertujuan untuk mengadakan akibat-akibat hukum tertentu. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya. tetapi barangkali saling bertentangan diantara Negara-negara yang melakukan perjanjian tersebut. . Berkenaan dengan hal diatas tersebut. Dapat menaikkan nilai suatu negara di mata negara lain 3. Dapat menaikkan kualitas suatu negara dengan cara melakukan perjanjian internasional. “Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang diadakan antaranggota masyarakat bangsa-bangsa dan bertujuan untuk mengakibatkan akibat hukum tertentu”.

Klasifikasi menurut materi perjanjian dimaksudkan agar tercipta kepastian hukum dan keseragaman atas bentuk pengesahan perjanjian internasional dengan undang-undang. 1. Harus dinyatakan secara formal/ resmi. Pengesahan perjanjian internasional melalui undang-undang dilakukan berdasarkan materi perjanjian dan bukan berdasarkan bentuk dan nama(nomenclature) perjanjian. Mekanisme dan prosedur pinjaman dan/atau hibah luar negeri beserta persetujuannya oleh Dewan Perwakilan Rakyat akan diatur dengan undang-undang tersendiri. Tahap Perumusan Naskah: merupakan tahap merumuskan rancangan suatu perjanjian internasional. hal ini dapat dimaklumi karena Negara merupakan subyek hokum internasional yang paling utama dan klasik. . Setiap undang-undang atau keputusan presiden tentang pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.Tahap Perundingan: merupakan tahap kedua untuk membahas substansi dan masalah2 teknis yang akan disepakati dalam perjanjian internasional. dan 2. Perjanjian antara subyek hukum internasional selain Negara satu sama lain. Dalam perundingan multilateral. c. Untuk perjanjian multilateral. Perjanjian internasional yang memerlukan pengesahan akan mulai berlaku setelah terpenuhinya prosedur pengesahan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. atau mengubah akibat hukum dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam perjanjian itu. 1. Pengesahan dengan undang-undang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. meniadakan. Perjanjian antarnegara dengan subyek hukum internasional lainnya seperti Negara dengan organisasi internasional. Dalam perundingan bilateral. proses penerimaan (acceptance/ approval) biasanya merupakan tindakan pengesahan suatu negara pihak atas perubahan perjanjian internasional. Tahap Penandatanganan: merupakan tahap akhir dalam perundingan bilateral untuk melegalisasi suatu naskah perjanjian internasional yang telah disepakati oleh kedua pihak. b. Klasifikasi perjanjian dilihat dari segi pihak-pihak yang mengadakan perjanjian yaitu: a. kesepakatan atas naskah awal hasil perundingan dapat disebut “Penerimaan” yang biasanya dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf pada naskah perjanjian internasional oleh ketua delegasi masing-masing. Bermaksud untuk membatasi. merupakan jenis perjanjian yang jumlahnya banyak. Pengesahan dengan keputusan Presiden selanjutnya diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. penandantanganan perjanjian internasional bukan merupakan pengikatan diri sebagai negara pihak. Keterikatan terhadap perjanjian Internasional (Menurut Pasal 6 Ayat 1) Tahap Pengesahan: Pengesahan suatu perjanjian internasional dilakukan berdasarkan ketetapan yang disepakati oleh para pihak. Perjanjian antar-negara. Tahap Penerimaan: merupakan tahap menerima naskah perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati oleh para pihak. (Menurut Pasal 9).

dan biasanya diadakan untuk hal-hal yang dianggap penting sehingga memerlukan persetujuan dari badan yang memiliki hak untuk mengadakan perjanjian. melainkan dilanjutkan terus menerus selama jangka waktu perjanjian itu. b. Contoh perjanjian perdagangan. a. yaitu perundingan dan kemudian penandatanganan. a. yang terbuka bagi pihak lain yang tadinya tidak turut serta dalam perjanjian. Perjanjian antarKepala Negara (head of state form) Pihak peserta dari perjanjian disebut pihak peserta agung (High Contracting State) Dalam praktek pihak yang mewakili Negara dapat diwakilkan kepada MENLU atau DUBES atau dapat juga pejabat yang ditunjuk sebagai kuasa penuh (full powers). (2) penandatanganan dan (3) ratifikasi. Perjanjian multilateral adalah perjanjian yang diadakan banyak pihak (negara) yang pada umumnya merupakan perjanjian terbuka (openverdrag) di manahal- hal yang diaturnya pun lazimnya yang menyangkut kepentingan umum yang tidak terbatas pada kepentingan pihak-pihak yang mengadakan perjanjianya tapi juga menyangkut kepentingan yang bukan peserta perjanjian itu sendiri. Dispotive treaties (perjanjian yang menentukan) yang maksud tujuannya dianggap selesai atau sudah tercapai dengan pelaksanaan perjanjian itu. Perjanjian bilateral. Perjanjian ini digolongkan pada perjanjian law making treaties atau perjanjian yang membentuk hukum. Perjanjian yang pembentukannya hanya melalui dua tahap karena memerlukan penyelesaian yang cepat. Executory treaties (perjanjian yang dilaksanakan) adalah perjanjian yang pelaksanaanya tidak sekaligus. a. b. (1) perundingan. Law making treaties merupakan perjanjian internasional yang mengandung kaidah-kaidah hukum yang dapat berlaku secara universal bagi anggota-anggota masyarakat bangsa-bangsa. Contoh: Perjanjian tapai batas. Misalnya perjanjian mengenai batas negara. a. c. pejabat yang mewakili dapat ditunjuk MENLU. oleh karena itu jenis perjanjian ini dikategorigakan sebagai sumber langsung dari hokum internasional. Contoh: Perjanjian tapai batas. Perjanjianantarnegara (inter-state form). b. DUBES atau wakil kuasa penuh.a. Perjanjian yang pembentukannya diadakan melalui tiga tahap yaitu. Seperti perjanjian perdagangan yang berjangka pendek. Dalam praktek pihak yang mewakili Negara dapat diwakilkan kepada MENLU atau DUBES atau dapat juga pejabat yang ditunjuk sebagai kuasa penuh (full powers). . yaitu suatu perjanjian yang diadakan oleh dua pihak (negara) saja dan mengatur soal-soal khusus yang menyangkut kepentingan kedua belah pihak.

dan 7. Jenis-jenis perjanjian internasional! C. Bagamanakah tahap-tahap dalam pembutan hubugan internasional? 5. 2. Untuk mengetahui Bagamanakah tahap-tahap dalam pembutan hubugan internasional. Memahami secara luas dan mendalam tentang tahap-tahap dalam pembutan hubugan internasional. 4. Untuk mengetahui Jenis-jenis perjanjian internasional. 4. Berlaku dan Berakhirnya perjanjian internasional! 7. MANFAAT 1. hal-hal penting dalam proses pembuatan perjanjian internasional! 6. Untuk mengetahui hal-hal penting dalam proses pembuatan perjanjian internasional.B. Untuk mengetahui Berlaku dan Berakhirnya perjanjian internasional. 3. Untuk mengetahui apa pengertin hubungan internasional. RUMUSAN MASALAH 1. Arti penting perjanjian internasional! 3. 3. 6. Untuk mengetahui bagamanakah tahap-tahap dalam pembutan hubugan internasional. 2. D. 5. Apa pengertian perjanjian internasional? 2. . Untuk mengetahui istilah-istilah apa sajakah yang digunakan dalam perjnjian intrnasonal. Memahami secara luas dan mendalam tentang bagamanakah tahap-tahap dalam pembutan hubugan internasional. TUJUAN 1. Memahami secara luas dan mendalam tentang apa pengertin hubungan internasional. Istilah-istilah apa sajakah yang digunakan dalam perjanjian internasonal? 4. Memahami secara luas dan mendalam tentang istilah-istilah apa sajakah yang digunakan dalam perjnjian intrnasonal.

serta Tahta Suci dengan negara. Pengertian yang dikemukakan oleh G Schwarzenberger yaitu 3. SH.5. organisasi internasional dengan organisasi internasional lain. negara dengan organisasi internasional. Hal ini tentu saja dapat dimengerti karena para ahli tersebut mendefinisikan perjanjian internasional berdasarkan sudut pandang masing-masing. dan 7. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian yang dikemukakan oleh Oppenheim Lauterpacht yaitu 4. Memahami secara luas dan mendalam tentang Berlaku dan Berakhirnya perjanjian internasional. Contoh perjanjian internasional adalah perjanjian yang dibuat oleh negara dengan negara lain. Memahami secara luas dan mendalam tentang hal-hal penting dalam proses pembuatan perjanjian internasional. Pengertian yang dikemukakan oleh Mohctar Kusumaatmadja. terdapat sedikit perbedaan namun pada prinsipnya mengandung dan memiliki tujuan yang sama. PENGERTIAN PERJANJIAN INTERNASIONAL Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan oleh subjek-subjek hukum internasional dan bertujuan untuk melahirkan akibat-akibat hukum tertentu. . yaitu Berdasarkan pengertian diatas. akan dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli hukum internasional. 6. Definisi dari Konvensi Wina tahun 1969. kita menemukan keanekaragaman pengertian. Untuk lebih jelasnya. yaitu 2. Bila bertitik tolak pada pendapat para ahli mengenai pengertian perjanjian internasional. Memahami secara luas dan mendalam tentang Jenis-jenis perjanjian internasional. antara lain : 1.

Persetujuan ini harus dilegalisi oleh wakil-wakil yang berkuasa penuh (full powers). 5. 6. sebagai berikut. dan tidak memerlukan ratifikasi. Persetujuan (Agreement). 9. Proses verbal tidak diratifikasi. Perjanjian ini mancakup bidang politik dan bidang ekonomi. 1. 4. 7. yaitu persetujuan formal yang bersifat multilateral dan tidak berurusan dengan kebijaksanaan tingkat tinggi (high policy). ringkasan-ringkasan. yaitu dokumen untuk mencatat persetujuan internasional yang bersifat sementara sampai berhasil diwujudkan persetujuan yang lebih permanen. Konvensi (Convention). Protocol yaitu persetujuan tidak resmi dan pada umumnya tidak dibuat oleh kepala Negara. yaitu himpunan peraturan yang ditetapkan oleh persetujuan internasional mengenai pekerjaan maupun kesatuan-kesatuan tertentu. 8. yang mengatur masalah-masalah tambahan seperti penafsiran klausual-klausual tertentu. sistematis. Dapat menumbuhkan rasa persahabatandan saling pengertian antar bangsa di dunia. yaitu perjanjian internasional yang berbentuk traktat dan dokumen tidak resmi. Deklarasi (Declaration). . yaitu perjanjian yang lebih bersifat teknis atau administrative. Traktat (treaty). ISTILAH-ISTILAH YANG SERING DIGUNAKAN DALAM PERJANJIAN INTERNASIONAL Istlah-istilah yang sring digunakan dalam perjanjian internasional diantaranya. 3. C. atau kesimpulan-kesimpulan konferensi diplomatic. yaitu istilah yang digunakan untuk transaksi- transaksi yang sifatnya sementara. Piagam (Statute). Proses Verbal yaitu catatan-catatan. seperti pengawasan internasional yang mencakup tentang minyak atau tentang lembaga-lembaga internasional. terinci. Agreement tidak diratifikasi karena sifatnya tidak resmi trakta dan konvensi. yaitu perjanjian paling formal yang merupakan persetujuan dua negara atau lebih. 2.B. Perikatan (Arrangement). Modus Vivendi. atau catatan-catatan suatu permufakatan. Perikatan tidak seresmi traktat dan konvensi. ARTI PENTING PERJANJIAN INTERNASIONAL Perjanjian internasional dapat dikatakan penting karena : 4.

Bila tidak ada persetujuan atau ketentuan. yaitu Anggaran Dasar Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Charter. Telah tercapai tujuan dari perjanjian internasional tersebut . namun utusan yang turut diundang. Ketentuan Penutup (Final Act). Berlakunya Perjanjian Internasional Perjanjian internasional berlaku pada saat peristiwa ini : 1. HAL-HAL PENTING DALAM PROSES PEMBUATAN PERJANJIAN INTERNASIONAL Hal-hal Penting Dalam Proses Pembuatan Perjanjian Internasional Unsur-unsur yang penting dalam persyaratan adalah: F. Mochtar Kusumaatramadja. yaitu traktat yang dapat bersifat resmi dan tidak resmi. TAHAP-TAHAP PEMBUATAN PERJANJIAN INTERNASIONAL Menurut Undang-Undang nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Pakta (Fact). KAPAN BERLAKU DAN BERAKHIRNYA PERJANJIAN INTERNASIONAL a. Convenant. 14. 13. yaitu perjanjian yang lebih khusus dan membutuhkan ratifikasi. perjanjian mulai berlaku segera setelah persetujuan diikiat dan dinyatakan oleh semua negara perunding. misalnya Atlantic Charter. yaitu metode tidak resmi yang biasanya dilakukan oleh wakil-wakil militer atau wakil-wakil negara yang bersifat multilateral. b. yaitu ringkasan hasil konvensi yang menyebutkan negara peserta. 11. Pakta Warsawa. Dr. Ketentuan Umum (General Act). D. Contoh.H.. 12. 1. Berakhirnya Perjanjian Internasioanl Prof. 2. tahap-tahap Perjanjian Internasional (proses pembuatan perjanjian Internasional) adalah sebagai berikut : E.10. serta masalah yang disetujui konvensi dan tidak memerlukan ratifikasi. S. Pertukaran nota ini dapat menimbulkan kewajiban diantara mereka yang terikat. dalam bukunya Pengantar Hukum Internasional mengatakan bahawa suatau perjanjian berakhir karena hal-hal berikut. Pertukaran Nota. 15. yaitu istilah yang dipakai dalam perjanjian internasional untuk pendirian badan yang melakukan fungsi administratif. Mulai berlaku sejak tanggal ditentukannya atau menurut yang disetujui oleh negara perunding.

antara lain sebagai brikut. 5. Klasifikasi perjanjian dilihat dari proses atau tahap pembentukannya. Treaty contracts (perjanjian yang bersifat kontrak) dimaksudkan perjanjian ini mengikat pihak-pihak yang mengadakan perjanjian-perjanjian. Adanya unsur Kesalahan (error) pada saat perjanjian itu di buat. b. karena berbagai alasan. Bertentangan dengan suatu kaidah dasar hukum internasioonal umum. Perjanjian ini juga sering ditunjuk MENLU atau DUBES atau juga wakil berkuasa penuh. 1. 3. c. Pihak perjanjian ini tetap disebut contracting state walau pun perjanjian itu dinamakan inter govermental. Klasifikasi perjanjian dilihat dari pihak yang membuatnya. Legal effect daritreaty contract ini hanya menyangkut pihak-pihak yang mengadakannya Dan tertutup bagi pihak ketiga. JENIS-JENIS PERJANJIAN INTERNASIONAL Perjanjian internasional sebagai sumber hukum formal dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 2. 6. Klasifikasi perjanjian dilihat dari segi strukturnya. Masa berlaku perjanjian internasional tersebut telah habis. G. 3.2. 3. Adanya persetujuan dari para peserta untuk mengakhiri perjanjian itu. Klasifikasiperjanjiandilihatdarisifatpelaksananya. b. Negara peserta atau wakil kuasa penuh melanggar ketentuan-ketentuan hukum internasionalnya. Oleh karena itu treaty contact tidak melahirkan aturan-aturan hukum yang berlaku umum sehingga tidak dapat . Pembatalan Perjanjian Internasional Berdasarkan Konvensi Wina Tahun 1969 . 4. suatu perjanjian internasional dapat batal. 2. Perjanjian antarPemerintah (inter-Goverment form). Klasifikasi perjanjian ditinjau dari bentuknya.

organisasi internasional dengan organisasi internasional lain. BAB III PENUTUP A. SARAN Penyusun menyadari bahwa penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan. negara dengan organisasi internasional.dikategoikan sebagai perjanjian yang membentuk hukum. Tetapi treaty contact dapat menjadi kaidah-kaidah yang berlaku umum apabila sudah menjadi hokum kebiasaan Internaional. KESIMPULAN Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan oleh subjek-subjek hukum internasional dan bertujuan untuk melahirkan akibat-akibat hukum tertentu. serta Tahta Suci dengan negara. B. disimpulkan bahwa perjanjian internasional adalah perjanjian yang dilakukan oleh subjek-subjek hukum internasional dan mempunyai tujuan untuk melahirkan akibat-akibat hukum tertentu.Berdasarkan beberapa pengertian tersebut. yaitu negara-negara dalam melaksanakan hubungan atau kerjasamanya membuat perjanjian internasional. C. DAFTAR PUSTAKA . dengan senang hati dan terbuka dari penulis menerima kritik dan saran dari pembaca. Akhir kata penyusun makalah mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya dan untuk diterapkan dalam kehidupan sehar-hari. Kerjasama internasional secara hukum diwujudkan dalam bentuk perjanjian internasional. Contoh perjanjian internasional adalah perjanjian yang dibuat oleh negara dengan negara lain. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun akan perbaikan makalah kami ini.

JawahirThontowidanPranotoIskandar. HukumInternasionalKontemporer.Nugraha.2011.. PengantarHukumInternasional. Bandung: Alumni 2003. Bandung: RefikaUtama 2006.G. Starke. Bandung: 1968 . J. Putra. Jakarta: SinarGrafika Sam Suhaidi.Pendidikan Kewarganegaraan. PengantarHukumInternasional.Surakarta: Putra Nugraha MochtarKusumaatmadja.